Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut WHO, rumah merupakan struktur fisik atau bangunan untuk
tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan
rokhani serta keadaan sosialnya baik untuk kesehatan keluarga dan individu
(Alamsyah, D 2013). Undang Undang Nomor 1 Tahun 2011 menyatakan
bahwa rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal
yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat
penghuninya, serta aset bagi pemiliknya.
Dalam kenyataan di lapangan laju pertumbuhan penduduk yang pesat
dan arus urbanisasi di negara sedang berkembang menyebabkan masalah
perumahan memerlukan pemecahan dan penanganan yang segera diatasi.
Masalah yang dihadapi dalam pembangunan perumahan di daerah perkotaan
adalah luas lahan yang semakin menyempit, harga tanah dan material
bangunan yang dari waktu ke waktu semakin bertambah mahal, serta
kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Kondisi semacam itu akan
mempengaruhi kuantitas dan kualitas perumahan, bahkan sering
menumbuhkan pemukiman kumuh dan dipedesaan banyak dijumpai rumah
yang tidak memenuhi syarat kesehatan, seperti tingkat pencahayaan, suhu,
kelembaban, ventilasi, dan kepadatan hunian.
Berdasarkan Permenkes No.1077 tahun 2011 tentang kualitas ruang
udara, rumah harus dilengkapi dengan ventilasi minimum 10% dari luas lantai
dengan sistem ventilasi silang, untuk suhu dalam rumah sekitar 180C -300C,
sedangkan untuk pencahayaan minimal 60 Lux, dan untuk kelembaban normal
antara 40% - 60%. Kelembaban yang terlalu tinggi menyebabkan suburnya
pertumbuhan mikroorganisme, hal ini merupakan indikator rumah sehat. Di
dalam rumah struktur bangunan antara lain, ventilasi yang tidak memenuhi
syarat kesehatan, kepadatan penghuni, sedangkan untuk kualitas udara yang
di luar rumah antara lain debu dan kelembaban yang berlebihan. Penyebab
penyakit Inspeksi Saluran Pernapasan Akut ( ISPA) diantaranya adalah
rendahnya kualitas udara baik di dalam rumah maupun di luar rumah.
(Bappenas 2017)

1
2

William Winardi dkk (2015), dalam Penelitiannya tentang “Hubungan


Antara Kondisi Lingkungan Rumah Dengan Kejadian Penyakit ISPA”
menunjukkan bahwa dari 56 responden yang memiliki ventilasi kamar tidak
memenuhi syarat luas ventilasi kamar anak diketahui sebesar 54,5%
responden menderita ISPA, sedangkan 9,1% tidak menderita ISPA. Data juga
menunjukkan bahwa dari 32 responden yang memiliki ventilasi kamar
memenuhi syarat dengan kategori ventilasi >10% dari luas lantai kamar anak
adalah sebesar 17,0% menderita ISPA, sedangkan 19,3% tidak menderita
ISPA.
Hingga saat ini kejadian penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
(ISPA) masih merupakan penyakit peringkat pertama dari 10 penyakit
terbanyak di Indonesia (Bappenas 2017). Penderita Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA) di Jawa Timur khususnya di Kabupaten Sidoarjo
pada Tahun 2016 sebanyak 194.757 orang, sedangkan di Kabupaten
Sidoarjo untuk Wilayah Puskesmas Kepadangan jumlah penderita ISPA
sebanyak 9974 penderita (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, 2016).
Di Wilayah Puskesmas Kepadangan data sekunder tentang rumah
sehat, menunjukkan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan karena
kurangnya luas ventilasi, lembab dan pencahayaan kurang sebesar 41 %
rumah.
Dari data diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang
STUDI TENTANG KONDISI FISIK RUMAH PENDERITA INFEKSI
SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) DI WILAYAH PUSKESMAS
KEPADANGAN KABUPATEN SIDOARJO.

B. Identifiksai dan Batasan Masalah


1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Kepadangan
menyatakan ISPA merupakan 10 penyakit tertinggi di wilayah Puskesmas
Kepadangan, Tahun 2016 berjumah 9774 penderita ISPA. Hal tersebut
dipengaruhi karena kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat seperti
ventilasi, pencahayaan kurang, lembab dan padat penghuni dengan jumlah
41% rumah
3

2. Batasan Masalah
Batasan masalah penelitian meliputi kondisi fisik rumah yang terdiri
dari ventilasi, pencahayaan, suhu kelembaban,dan kepadatan penghuni
kamar.

C. Rumusan Masalah
Bagaimanakah gambaran kondisi fisik rumah penderita Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Wilayah Puskesmas Kepadangan
Kabupaten Sidoarjo.

D. Tujuan Penelitian.
1. Tujuan Umum.
Untuk mengetahui gambaran kondisi fisik rumah penderita Infeksi
Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Wilayah Puskesmas Kepadangan
Kabupaten Sidoarjo.
2. Tujuan Khusus.
a. Mengukur ventilasi rumah penderita ISPA
b. Mengukur kepadatan penghuni kamar rumah Penderita ISPA
c. Mengukur pencahayaan rumah penderita ISPA
d. Mengukur suhu dan kelembaban rumah penderita ISPA
e. Menggambarkan kondisi fisik rumah penderita ISPA.

E. Manfaat Penelitian.
1. Bagi Puskesmas.
Sebagai informasi dan masukan tentang kondisi rumah penderita ISPA di
Wilayah Puskesmas Kepadangan agar dapat diusahakan Program
Pencegahan dan penanggulangannya bagi Masyarakat.
2. Bagi Masyarakat.
Memberi Informasi kepada Masyarakat mengenai gambaran kondisi fisik
rumah penderita ISPA
3. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman secara langsung
dalam pelaksanaan penelitian