Anda di halaman 1dari 5

Akhir-akhir hari ini penulis banyak merenung ketika membuat Tanda Salib.

Terbesit ketika membuat


Tanda Salib, apa sih yang sebenarnya sedang penulis lakukan ini. Penulis teringat tentang
pengalaman masa lalu :

1. Ketika mau makan pangsit mie di pinggir jalan,ada perasaan risih ketika berdoa dengan
menggunakan tanda salib di depan orang-orang umum. Penulis merasa ketika membuat tanda salib
(menggerakkan tangan ke dahi-ke dada-ke pundak kiri-ke pundak kanan) mengundang perhatian
banyak orang.

2. Ketika akan berdoa makan, tak sadar tanda salib dan doa singkat yang isinya sudah dihafal setiap
hari merupakan sebuah refleks dan rutinitas belaka.

3. Ketika di gereja, membuat tanda salib saat masuk mengambil air suci, sebelum duduk dibangku,
duduk dan kemudian berdoa sambil berlutut, memulai ibadah, sebelum dan sesudah menerima
komuni, berkat penutup.

4. Bahkan parahnya tanda salib yang sering penulis lakukan mungkin durasinya tidak sampai 2 detik
(seperti orang yang mau menangkap lalat :D)

5. Proporsi Tanda Salib yang penulis bikin, apabila ditarik garis antara dahi ke dada serta pundak kiri
ke pundak kanan, malah mirip seperti salib terbalik.

1. PENDAHULUAN
2. TUJUAN
3. DI MANA HARUS MULAI? -Di dalam Tanda Salib-
4. MAKNA DARI TANDA SALIB
5. KAPAN TANDA SALIB MULAI DIGUNAKAN?
6. DISKUSI
7. KESIMPULAN
8. REFERENSI

1. PENDAHULUAN
Madonna, penyanyi yang pernah kondang, sering tampil dengan salib besar di dada. Selain Madonna,
banyak orang lain juga senang menggunakan Tanda Salib. Dalam Piala Dunia yang lalu, banyak
pemain sepak bola membuat Tanda Salib saat memasuki lapangan atau saat memasukkan gol ke
gawang lawan.
Yang hebat, para bandit di Sisilia, juga membuat Tanda Salib sebelum mereka memulai aksinya
merampok bank. [1]

So, apakah Tanda Salib hanya sebuah kebiasaan? Hanya sebuah ritual keagamaan saja?

Apakah Yesus ketika sebelum berdoa dan sebelum pelayanan juga membuat Tanda Salib?

Apa makna Tanda Salib bagi kita?

2. TUJUAN Tulisan ini dibuat bertujuan untuk membagikan makna dan pentingnya Tanda Salib yang
penulis dan pembaca lakukan setiap harinya. Sehingga kita semua yang membuat Tanda Salib dapat
meresapi apa makna dibaliknya dan bangga untuk membuatnya sebelum dan setelah berdoa setiap
harinya.
3. DI MANA HARUS MULAI? -Di dalam Tanda Salib- [2]
Di dunia ini, pada umumnya, bagaimana manusia [umat beriman] dapat mencapai puncak yang
sedemikian tinggi? Barangkali cara terbaik untuk memulainya adalah dengan merenungkan sesuatu
yang dipelajari paling awal oleh setiap orang Katolik ketika masih kanak-kanak, yakni bagaimana
membuat tanda salib. Kita melaksanakan ibadat yang sederhana ini dengan mengakui Allah
sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus, sambil membuat tanda salib pada diri kita dengan tangan
kanan.
Nah, dengan ini Anda telah mencapainya, seluruh injil dirangkum dalam sekitar 3 detik.

Dengan Tanda Salib, kita mengakui misteri tertinggi dan terkudus tentang Allah, Tritunggal
Mahakudus, sambil mengakui apa yang dilakukan Yesus Kristus di Kalvari demi keselamatan kita.

Inilah hal pokok yang kita kenangkan setiap kali kita membuat Tanda Salib, yakni: kita diangkat
menjadi Anak-anak Allah dan dimasukkan kita ke dalam keluarga ilahi Kristus, yakni Gereja. Inilah jati
diri kita.

Kelihatannya sangat sederhana, pada tahap tertentu. Sebagai kesimpulan akhir, dengan satu tindakan
sederhana [Tanda Salib] ini seluruh teologi dapat dirangkum menjadi suatu usaha yang ditopang oleh
teolog untuk membuka khazanah kebenaran yang amat luas. Maka, tanda salib lebih dari sekedar
ritual.

4. MAKNA DARI TANDA SALIB [3]

“Demi Nama Bapa” (di dahi)

Hal ini menandakan bahwa Allah Bapa merencanakan, menciptakan dan menyelenggarakan segala
sesuatunya. Otak adalah pusat segalanya. Otak tempat kita berpikir, tempat kita merencanakan.
Bapa merencanakan Putra-Nya untuk datang ke dunia sebagai penyelamat yang menyelamatkan umat
manusia. Dan Bapalah yang menyelenggarakan segala karya dan hidup Yesus. Oleh karena itu kita
melanjutkan dengan:

“Dan Putra”

Di sini sering terjadi kesalahan karena banyak yang melakukan di dada (horizontal dengan Roh
Kudus). Yang benar adalah di pusar, karena tali pusar adalah tali kehidupan, tali yang menyambung
antara ibu dan anak di sinilah janin mendapat makan dan mendapat curahan kehidupan. Dan Yesus
lahir sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia dan karya-Nya itu dimulai dari sejak kita masih
berupa janin. Kita semua tahu bahwa Yesus kemudian harus meninggalkan dunia untuk kembali
kepada Bapa-Nya.

“Dan Roh Kudus” (horizontal di dada)

Bapa sangat mencintai kita dan terus berusaha menyelenggarakan hidup kita sebaik-baiknya, maka
Bapa mengirim Roh Kudus-Nya agar tetap mendampingi, melindungi, dan menjaga kita, sehingga kita
akan senantiasa mengundang dan menghadirkan Allah Tri Tunggal kita dalam setiap kehidupan, untuk
senantiasa menjagai kita sampai kedatangan Allah Putra kembali.
Dengan Tanda Salib tubuh kita telah dimeterai dan disucikan oleh Allah. Dalam segala kegiatan kita:
sewaktu kita tidur, kita belajar, kita bekerja, kita melakukan pelayanan, kita makan, kita susah, kita
senang, kita tertawa, kita menangis. Jika kita membuat Tanda Salib itu berarti kita mengundang Allah
Tri Tunggal untuk menjaga, melindungi kita sehingga kita tidak melakukan hal-hal yang tidak sesuai
dengan kehendak Bapa.

Tanda salib juga merupakan tanda persatuan kita dengan sesama umat Katolik, misalnya jika kita
makan di rumah makan, kemudian melihat ada orang membuat Tanda Salib, kita pasti bilang : Oh,
orang itu orang Katolik, dia saudara saya yang seiman.
5. KAPAN TANDA SALIB MULAI DIGUNAKAN? [4]
Para Bapa Gereja awali menegaskan penggunaan Tanda Salib. Tertulianus (wafat 250)
menggambarkan kebiasaan membuat Tanda salib: “Dalam segala kegiatan dan gerakan, setiap kali
kami datang maupun pergi, saat mengenakan sepatu, saat mandi, saat makan, saat menyalakan lilin,
saat berbaring, saat duduk, dalam segala apapun yang kami lakukan, kami menandai dahi kami
dengan Tanda Salib” (De corona, 30).
St. Sirilus dari Yerusalem (wafat tahun 386) dalam Pengajaran Katekesenya menyatakan, “Jadi,
marilah kita tanpa malu-malu mengakui Yang Tersalib. Jadikan Salib sebagai meterai kita, yang dibuat
dengan mantap menggunakan jari-jari di dahi kita dan dalam segala kesempatan; atas roti yang kita
makan dan cawan yang kita minum, saat kita datang dan saat kita pergi; sebelum kita tidur, saat kita
berbaring dan saat kita terjaga; saat kita bepergian, dan saat kita beristirahat” (Katekese, 13). Lama-
kelamaan, Tanda Salib dimasukkan dalam berbagai tindakan dalam Misa, misalnya menandai diri tiga
kali di dahi, bibir dan hati saat Injil hendak dibacakan atau saat menyampaikan berkat dan saat
menandai roti dan anggur persembahan yang dimulai sekitar abad kesembilan.
Cara resmi paling awal dalam membuat Tanda Salib muncul sekitar tahun 400-an, yaitu saat
munculnya bidaah Monophysite yang menyangkal adanya dua kodrat dalam pribadi ilahi Kristus, dan
dengan demikian menyangkal persekutuan Tritunggal Mahakudus. Tanda Salib dibuat dari dahi ke
dada, dan kemudian dari bahu kanan ke bahu kiri. Ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah ditangkupkan
sebagai lambang Tritunggal Mahakudus – Bapa, Putra dan Roh Kudus. Di samping itu, ketiga jari
ditangkupkan sedemikian rupa hingga melambangkan singkatan Yunani I X C (Iesus Christus Soter,
Yesus Kristus Juruselamat): jari telunjuk yang lurus melambangkan I; jari tengah saling bersilangan
dengan ibu jari melambangkan X; dan jari tengah yang bengkok melambangkan C. Jari manis dan jari
kelingking dilipat ke arah telapak tangan, melambangkan kesatuan kodrat manusia dan kodrat ilahi,
kehendak manusia dan kehendak ilahi dalam pribadi Kristus. Cara membuat Tanda Salib seperti ini
umum dilakukan di kalangan seluruh Gereja hingga sekitar abad keduabelas, tetapi hingga sekarang
masih tetap dipraktekkan dalam Gereja-gereja Katolik Ritus Timur dan Gereja-gereja Orthodox.
Suatu instruksi dari Paus Inosensius III (1198 – 1216) membuktikan adanya tradisi praktek
tersebut, sekaligus menunjukkan adanya perubahan dalam praktek Gereja Katolik Ritus Latin, “Tanda
Salib dibuat dengan tiga jari, sebab penandaan diri tersebut dilakukan sembari menyerukan Tritunggal
Mahakudus…. Beginilah cara melakukannya: dari atas ke bawah, dan dari kanan ke kiri, sebab Kristus
turun dari surga ke bumi, dan dari Yahudi (kanan) Ia menyampaikannya kepada kaum kafir (kiri).”
Sembari memperhatikan kebiasaan membuat Tanda Salib dari bahu kanan ke bahu kiri, yang
dilakukan baik oleh gereja-gereja barat maupun timur, Paus Inosensius melanjutkan, “Namun
demikian, yang lain, membuat Tanda Salib dari kiri ke kanan, sebab dari sengsara (kiri) kita harus
beralih menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus beralih dari mati menuju hidup, dan dari
Tempat Penantian menuju Firdaus. [Sebagian imam] melakukannya dengan cara ini, sehingga mereka
dan umat menandai diri mereka dengan cara yang sama. Kalian dapat dengan mudah
membuktikannya – bayangkan imam menghadap umat untuk menyampaikan berkat – ketika kami
membuat Tanda Salib atas umat, kami melakukannya dari kiri ke kanan…

” Karenanya, sejak saat itu umat beriman mulai meniru imam dalam menyampaikan berkat, dari bahu
kiri ke bahu kanan dengan tangan terbuka. Lama-kelamaan, praktek ini menjadi cara yang biasa
digunakan dalam Gereja Barat.

Dalam karya klasik, “Upacara-upacara Ritus Romawi” tulisan Adrian Fortescue dan J. B. O’Connell,
Tanda Salib dibuat dengan cara berikut: “Letakkanlah tangan kiri dengan telapak terbuka di bawah
dada. Tangan kanan terbuka juga. Pada saat menyerukan Patris [Bapa] angkatlah tangan kanan dan
sentuhkan kening; saat menyerukan Filii [Putra], sentuhlah dada agak ke bawah, tetapi di atas tangan
kiri; saat menyerukan Spiritus Sancti [Roh Kudus], sentuhlah bahu kiri dan kanan; saat menyerukan
Amin, tangkupkan kedua tangan jika perlu.” Meskipun praktek ini telah berkembang dari bentuk
asalnya dan kini masih dipraktekkan dalam Ritus Timur, tetapi telah menjadi praktek yang biasa
dilakukan pula dalam Gereja Ritus Latin selama beberapa abad.

Tak peduli bagaimana orang secara teknis membuat Tanda Salib, gerakan haruslah dilakukan dengan
khidmat dan saleh. Umat beriman haruslah menyadari kehadiran Tritunggal Mahakudus, dogma inti
yang menjadikan orang-orang Kristen sebagai “Kristen”. Juga, umat beriman haruslah ingat bahwa
Salib adalah tanda keselamatan kita: Yesus Kristus, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia,
yang mempersembahkan kurban sempurna bagi penebusan dosa-dosa kita di atas altar
salib. Tindakan sederhana namun mendalam ini membuat setiap orang beriman sadar akan
betapa besar kasih Allah bagi kita, kasih yang lebih kuat daripada maut dan akan janji-janji
kehidupan abadi. Demi alasan-alasan yang tepat, indulgensi sebagian diberikan kepada
mereka yang menandari dirinya dengan Tanda Salib dengan khidmat, sambil menyerukan,
“Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus” (Enchirdion of Indulgences, No. 55). Oleh
sebab itu, marilah setiap kita membuat Tanda Salib dengan benar dan khidmad serta tidak
dengan sembarangan ataupun ceroboh.
6. DISKUSI [5]

T : Apakah dari awal pada murid Yesus juga membuat Tanda Salib seperti kita?

J : Mungkin tidak

T : Apakah saat Yesus mengajar doa pada waktu Ia berkarya di dunia dimulai dan diakhiri juga
dengan Tanda Salib?

J : Tidak. Karena Dia belum disalib ketika masih hidup.

T : Sejak kapan orang Katolik membuat Tanda Salib sebagai awal dan penutup doa?

J : [Lihat bab 5] Penggunaan Tanda Salib seperti yang ditegaskan oleh beberapa Bapa Gereja awal
seperti Tertulianus (wafat 250) dan St. Sirilus dari Yerusalem (wafat tahun 386), Cara resmi
paling awal dalam membuat Tanda Salib muncul sekitar tahun 400-an.
7. KESIMPULAN
Berbanggalah bagi teman-teman yang diawal dan penutup doa selalu menggunakan Tanda Slib.
Menurut Scott Hann, dengan menggunakan Tanda Salib, maka seluruh injil dapat dirangkum menjadi
3 detik. Dengan memahami betapa luar biasanya ini, marilah kita menghayati ketika membuat Tanda
Salib.

Sebagai penutup penulis mengutip pernyataan St. Cyprianus dari Carthage yang hidup pada abad
ketiga. [6]

“Di dalam Tanda Salib ini ada keselamatan bagi semua orang yang menandainya pada dahi mereka”

(bdk. Wahyu 7:3; 14:1)