Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kematian janin dalam rahim disebut Intra Uterin Fetal Death (IUFD)

menurut WHO dan American collage of obstetrican and gynecologis, janin

yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gram atau lebih pada usia

kehamilan 20 minggu atau lebih. Penyebab kematian janin dalam kandungan,

dapat dikarenakan oleh beberapa faktor salah satunya ialah Umur ibu , paritas,

kadar haemoglobin, gemeli, status gizi ibu hamil, factor genetic, kelainan

congenital, lilitan tali pusat, hipertensi, preeklamsi/eklamsi, perdarahan,

kelainan kongenital, posterm, infeksi saat hamil, diabetes militus, penyakit

rhesus. (SDKI, 2012)

Kematian Janin Dalam Kandungan (IUFD) = intra uterine fetal death)

sebagai kematian konsepsi sebelum keluar secara lengkap (complete expulsion)

atau ekstraksi dari ibu, tanpa memandang tua kehamilan. dengan berat badan

500 gram atau lebih dengan usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Kematian

janin merupakan hasil akhir dari gangguan pertumbuhan janin, gawat janin,

atau infeksi (Nugroho, 2014).

Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia Angka

Kematian Neonatal 19/1000 kelahiran hidup. (KEMENKES RI, 2012)

Sedangkan penyebab kematian neonatal secara umum, yaitu kematian janin

dalam rahim (31,3 %), aspiksia atau ganguan pernafasan (20,4 %), dan

premature (18,7%). (Rikesdas, 2007). Angka kematian neonatal di Jawa barat

1
pada Tahun 2012 diketahui bahwa jumlah janin yang mengalami IUFD di Jawa

Barat setiap tahunnya antara 19,2 % ( Depkes, 2012 ).

Menurut data World Health Organization (WHO), pada tahun 2015

Angka kematian janin di dunia di perkirakan sekitar 3,82 - 22,14 juta jiwa.

Kematian Janin dalam rahim termasuk dalam masalah perinatal dan merupakan

indikator kesehatan yang saat ini sangat sensitif karena berhubungan dengan

kesehatan ibu dan anak. Angka kematian perinatal menyumbang sekitar 77%

dari kematian neonatal, dimana kematian neonatal menyumbang 58% dari total

kematian bayi (World Health Organization, 2015)

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah IUFD adalah

melakukan Antenatal care secara teratur, istirahat yang cukup dan

memperhatikan gizi dan makan yang di konsumsi. untuk mengurangi jumlah

kematian neonatal, perlu adanya intervensi dari tingkat masyarakat, tingkat

pelayanan dasar, dan tingkat rujukan. Di tingkat masyarakat misalnya dengan

pemeriksaan kehamilan secara teratur, dan penggunaan buku KIA. Dalam hal

ini, tentu perlu adanya pendampingan atau instruksi khusus dari tenaga medis.

Upaya inovatif yang saat ini dilakukan pemerintah adalah dengan adanya

program Jaminan Persalinan (Jampersal), pendampingan tata kelola klinis dan

penguatan rujukan, serta pendampingan untuk meningkatkan kompetensi

dokter, bidan, dan perawat.

2
B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada ibu Ny. “R”

G4P2A1H2 UK 32-33 Minggu dengan IUFD di RS Muhammadiyah

Bandung.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian ibu hamil “R” G 4P2A1H2 usia kehamilan

32-33 minggu dengan IUFD di RS Muhammadiyah Bandung.

b. Mampu menganalisa dan menginterpretasikan untuk menentukan

diagnosa aktual pada ibu hamil “R” G4P2A1H2 usia kehamilan 32-33

minggu dengan IUFD di RS Muhammdiyah Bandung.

c. Mampu mengantisipasi kemungkinan timbulnya diagnosa/ masalah

potensial pada ibu hamil “R” G4P2A1H2 usia kehamilan 32-33 minggu

dengan IUFD di RS Muhammadiyah Bandung.

d. Mampu melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi pada ibu hamil

“R” G4P2A1H2 usia kehamilan 32-33 minggu dengan IUFD di RS

Muhammadiyah Bandung.

e. Mampu mengintervensikan tindakan asuhan kebidanan yang telah

disusun pada ibu hamil “R” G4P2A1H2 usia kehamilan 32-33 minggu

dengan IUFD di RS Muhammadiyah Bandung.

f. Mampu mengimplementasikan secara langsung dari rencana tindakan

yang telah disusun pada ibu hamil “R” G 4P2A1H2 usia kehamilan 32-33

minggu dengan IUFD di RS Muhammadiyah.

3
g. Mampu mengevaluasi efektifitas tindakan yang telah dilaksanakan pada

ibu hamil “R” G4P2A1H2 usia kehamilan 32-33 minggu dengan IUFD di

RS Muhammadiyah Bandung.

4
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian IUFD

Kematian Janin Dalam Kandungan (IUFD) = intra uterine fetal death)

sebagai kematian konsepsi sebelum keluar secara lengkap (complete expulsion)

atau ekstraksi dari ibu, tanpa memandang tua kehamilan. dengan berat badan

500 gram atau lebih dengan usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Kematian

janin merupakan hasil akhir dari gangguan pertumbuhan janin, gawat janin,

atau infeksi (Nugroho, 2014).

IUFD atau stilbirth adalah kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati

yang telah mencapai umur kehamilan 28 minggu (atau berat badan lahir lebih

atau sama dengan 1000gr). IUFD adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda

kehidupan janin dalam kandungan. Kematian janin dalam kandungan (KJDK)

atau intra uterine fetal deadth (IUFD). Kematian janin dapat terjadi dan

biasanya berakhir dengan abortus. Bila hasil konsepsi yang sudah mati tidak

dikeluarkan dan tetap tinggal dalam rahim disebut missed abortion. Sesudah 20

minggu biasanya ibu telah merasakan gerakan janin sejak kehamilan 20

minggu. Apabila wanita tidak merasakan gerakan janin dapat disangka terjadi

kematian dalam rahim.

B. Etiologi IUFD

Penyebab IUFD antara lain:

1. Faktor plasenta

a. Kelainan Tali Pusat

5
b. Solusio plasenta

c. Plasenta previa

d. Ketuban Pecah Dini

2. Faktor ibu

a. Diabetes mellitus

b. Preeklampsi dan eklampsi

c. Nefritis kronis

d. Polihidramnion dan oligohidramnion

e. Shipilis

f. Penyakit jantung

g. Hipertensi

h. Penyakit paru atau TBC

i. AIDS

3. Faktor intrapartum

a. Perdarahan antepartum

b. Partus lama

c. Anastesi

d. Partus macet

e. Persalinan sungsang

f. Obat-obatan

4. Faktor janin

a. Prematuritas

b. Postmaturitas

6
c. Kelainan bawaan

d. Perdarahan otak

Kecuali itu, ada berbagai penyebab yang bisa mengakibatkan kematian

janin di kandungan, diantaranya:

1) Ketidakcocokan rhesus darah ibu dengan janin

Akan timbul masalah bila ibu memiliki rhesus negatif, sementara

bapak rhesus positif. Sehingga anak akan mengikuti yang dominan,

menjadi rhesus positif. Akibatnya antara ibu dan janin mengalami

ketidakcocokan rhesus. Ketidakcocokan ini akan mempengaruhi kondisi

janin tersebut. Misalnya, dapat terjadi hidrops fetalis (reaksi imunologis

yang menimbulkan gambaran klinis pada janin, antara lain pembengkakan

pada perut akibat terbentuknya cairan berlebih dalam rongga perut (asites),

pembengkakan kulit janin, penumpukan cairan di dalam rongga dada atau

rongga jantung, dan lain-lain.

2) Ketidakcocokan golongan darah antara ibu dan janin.

Terutama pada golongan darah A,B,O. “Yang kerap terjadi antara

golongan darah anak A atau B dengan ibu bergolongan O atau sebaliknya.”

Sebab, pada saat masih dalam kandungan, darah ibu dan janin akan saling

mengalir lewat plasenta. Bila darah janin tidak cocok dengan darah

ibunya, maka ibu akan membentuk zat antibodinya.

7
3) Gerakan janin berlebihan

Gerakan bayi dalam rahim yang sangat berlebihan, terutama jika

terjadi gerakan satu arah saja. karena gerakannya berlebihan, terlebih satu

arah saja, maka tali pusat yang menghubungkan janin dengan ibu akan

terpelintir. Kalau tali pusat terpelintir, maka pembuluh darah yang

mengalirkan plasenta ke bayi jadi tersumbat.

4) Berbagai penyakit pada ibu hamil

Salah satu contohnya preeklampsia dan diabetes. Itulah mengapa

pada ibu hamil perlu dilakukan cardiotopografi (CTG) untuk melihat

kesejahteraan janin dalam rahim.

5) Kelainan kromosom

Bisa disebut penyakit bawaan, misalnya, kelainan genetik berat

trisomy. Kematian janin akibat kelainan genetik biasanya baru terdeteksi

saat kematian sudah terjadi, yaitu dari otopsi bayi.

6) Trauma saat hamil

Trauma bisa mengakibatkan terjadi solusio plasenta. Trauma

terjadi, misalnya, karena benturan pada perut, karena kecelakaan atau

pemukulan. Benturan ini bisa mengenai pembuluh darah di plasenta,

sehingga timbul perdarahan di plasenta.

7) Infeksi materna

Ibu hamil sebaiknya menghindari berbagai infeksi, seperti infeksi

akibat bakteri maupun virus. Demam tinggi pada ibu hamil bisa

menyebabkan janin mati.

8
8) Kelainan bawaan bayi

Kelainan bawaan pada bayi sendiri, seperti jantung atau paru-paru,

bisa mengakibatkan kematian di kandungan.

C. Patofisiologi

Janin bisa juga mati di dalam kandungan (IFUD) karena beberapa

faktor antara lain gangguan gizi dan anemia dalam kehamilan, hal tersebut

menjadi berbahaya karena suplai makanan yang di konsumsi ibu tidak

mencukupi kebutuhan janin. Serta anemia, karena anemia disebabkan

kekurangan Fe maka dampak pada janin adalah irefersibel. Kerja organ – organ

maupu aliran darah janin tidak seimbang dengan pertumbuhan janin.

D. Manifestasi Klinik

1. DJJ tidak terdengar

2. Uterus tidak membesar, fundus uteri turun

3. Pergerakan anak tidak teraba lagi

4. Palpasi anak tidak jelas

5. Reaksi biologis menjadi negative, setelah anak mati kurang lebih 10 hari

6. Pada rongen dapat dilihat adanya

7. tulang-tulang tengkorak tutup menutupi

8. tulang punggung janin sangat melengkung

9. hiperekstensi kepala tulang leher janin

10. ada gelembung-gelembung gas pada badan janin

11. bila janin yang mati tertahan 5 minggu atau lebih, kemungkinan

Hypofibrinogenemia 25%

9
E. Klasifikasi

Kematian janin dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu :

1. golongan I : kematian sebelum masa kehamilan mencapai 20 minggu

penuh

2. golongan II : kematian sesudah ibu hamil 20-28 minggu

3. golongan III : kematian sesudah masa kehamilan > 28 minggu (late fetal

death)

4. golongan IV : kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga

golongan diatas.

F. Faktor Resiko

1. Status sosial ekonomi rendah

2. Tingkat pendidikan Ibu yang rendah

3. Usia Ibu > 30 tahun atau < 20 tahun

4. Pertama dan partus kelima atau lebih

5. Kehamilan tanpa pengawasan antenatal

6. Kehamilan tenpa riwayat pengawasan kesehatan Ibu yang inadekuat

7. Riwayat kehamilan dengan komplikasi medic atau Obstetrik.

8. Faktor ibu (High Risk Mothers)

9. Tinggi dan BB ibu tidak proporsional

10. Kehamilan di luar perkawinan

11. Ganggguan gizi dan anemia dalam kehamilan

10
12. Ibu dengan riwayat kehamilan / persalinan sebelumnya tidak baik

seperti bayi lahir mati

13. Riwayat inkompatibilitas darah janin dan ibu

a. Faktor Bayi (High Risk Infants)

1. Bayi dengan infeksi antepartum dan kelainan congenital

2. Bayi dengan diagnosa IUGR (Intra Uterine Growth Retardation)

3. Bayi dalam keluarga yang mempunyai problema social

b. Faktor yang berhubungan dengan kehamilan

1. Abrupsio plasenta

2. Plasenta previa

3. Pre eklamsi / eklamsi

4. Polihidramnion

5. Inkompatibilitas golongan darah

6. Kehamilan lama

7. Kehamilan ganda

8. Infeksi

9. Diabetes

10. Genitourinaria

G. Diagnosa dan Diagnosa Banding

1. Anamnesis

Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari, atau gerakan janin

sangat berkurang. Ibu merasakan perutnya tidak bertambah besar, bahkan

bertambah kecil atau kehamilan tidak seperti biasanya. Atau wanita

11
belakangan ini merasakan perutnya sering menjadi keras dan merasakan

sakit seperti mau melahirkan.

2. Inspeksi

Tidak terlihat gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat terlihat terutama

pada ibu yang kurus.

3. Palpasi

Tinggi fundus lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan, tidak teraba

gerakanan janin. Dengan palpasi yang teliti, dapat dirasakan adanya

krepitasi pada tulang kepala janin.

4. Auskultasi

Baik memamakai setetoskop monoral maupun dengan dopler tidak

terdengar terdengar DJJ.

5. Reaksi kehamilan

Reaksi kehamilan baru negatif setelah beberapa minggu janin mati dalam

kandungan.

6. Rontgen Foto Abdomen

Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah besar janin

Tanda Nojosk : adanya angulasi yang tajam tulang belakang janin.

Tanda Gerhard : adanya hiperekstensi kepala tulang leher janin

Tanda Spalding : overlaping tulang-tulang kepala (sutura) janin

Disintegrasi tulang janin bila ibu berdiri tegak

12
Kepala janin kelihatan seperti kantong berisi benda padat

Gejala dan tanda yang Gejala dan tanda yang Kemungkinan diagnosa
selalu ada kadang-kadang ada
1. Syok, uterus 1. Solusio plasenta
tegang/kaku,
gawat janin atau 2. Ruptur Uteri
DJJ tidak
3. Gawat janin
terdengar
2. Syok, perut 4. Kematian janin
kembung/cairan
bebas intra
1. Gerakan janin abdominal,
berkurang atau hilang, kontraksi uterus
timbul atau menetap, abnormal,
perdarahan abdomen nyeri,
pervaginam sesudah bagian-bagian
hamil 22 minggu janin teraba,
2. Gerakan janin dan denyut nadi Ibu
DJJ tidak ada, cepat
perdarahan, nyeri 3. Cairan ketuban
perut hebat bercampur
3. Gerakan janin mekonium
berkurang atau hilang 4. Tanda-tanda
DJJ abnormal (< 100 kehamilan
x/menit atau > 180 berhenti, TFU
x/menit) berkurang,
4. Gerakan janin atau pembesaran
DJJ hilang uterus berkurang

H. Penatalaksanaan

Terapi

Selama menunggu diagnosa pasti, ibu akan mengalami syok dan ketakutan

memikirkan bahwa bayinya telah meninggal. Pada tahap ini bidan berperan

sebagai motivator untuk meningkatkan kesiapan mental ibu dalam menerima

segala kemungkinan yang ada.

13
Diagnosa pasti dapat ditegakkan dengan berkolaborasi dengan dokter

spesialis kebidanan melalui hasil USG dan rongen foto abdomen, maka bidan

seharusnya melakukan rujukan.

Menunggu persalinan spontan biasanya aman, tetapi penelitian oleh

Radestad et al 2013 memperlihatkan bahwa dianjurkan untuk menginduksi

sesegera mungkin setelah diagnosis kematian in utero. Mereka menemukan

hubungan kuat antara menunggu lebih dari 24 jam sebelum permulaan persalinan

dengan gejala kecemasan. Maka sering dilakukan terminasi kehamilan.

1. Pengakhiran kehamilan jika ukuran uterus tidak lebih dari 12 minggu

kehamilan.

Persiapan:

a) Keadaan memungkinkan yaitu Hb > 10 gr%, tekanan darah baik.

b) Dilakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu:pemeriksaan trombosit,

fibrinogen, waktu pembekuan, waktu perdarahan, dan waktu protombin.

Tindakan:

a. Kuretasi vakum

b. Kuretase tajam

c. Dilatasi dan kuretasi tajam.

2. Pengakhiran kehamilan jika ukuran uterus lebih dari 12 minggu sampai 20

minggu.

Misoprostol 200 mg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam

sesudah pemberian pertama. Pemasangan batang laminaria 12 jam

sebelumnya. Kombinasi pematangan batang laminaria dengan misoprostol

14
atau pemberian tetes oksitosin 10 IU dalam 500 cc dekstrose 5% mulai 20

tetes per menit sampai maksimal 60 tetes per menit. Catatan: dilakukan

kuretase bila masih terdapat jaringan.

3. Pengakhiran kehamilan jika lebih dari 20 – 28 minggu.

Misoprostol 100 mg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam

sesudah pemberian pertama. Pemasangan batang laminaria selama 12 jam.

Pemberian tetes oksitosin 5 IU dalam dekstrose 5% mulai 20 tetes per

menit sampai maksimal 60 tetes per menit. Kombinasi cara pertama dan

ketiga untuk janin hidup maupun janin mati. Kombinasi cara kedua dan

ketiga untuk janin mati. Catatan: dilakukakan histerotomi bila upaya

melairkan pervaginam dianggap tidak berhasil atau atas indikasi ibu,

dengan sepengetahuan konsulen.

4. Pengakhiran kehamilan jika lebih dari 28 minggu kehamilan

Misoprostol 50 mg intravaginal, yang dapat diulangi 1 kali 6 jam

sesudah pemberian pertama. Pemasangan metrolisa 100 cc 12 jam sebelum

induksi untuk pematangan serviks (tidak efektif bila dilakukan pada KPD).

Pemberian tetes oksitosin 5 IU dalam dekstrose 5% mulai 20 tetes per

menit sampai maksimal 60 tetes untuk primi dan multigravida, 40 tetes

untuk grande multigravida sebanyak 2 labu. Kombinasi ketiga cara diatas.

Catatan: dilakukan SC bila upaya melahirkan pervaginam tidak berhasil,

atau bila didapatkan indikasi ibu maupun janin untuk menyelesaikan

persalinan.

5. Periksa ulangan (follow up)

15
Dilakukan kunjungan rumah pada hari ke 2, 6, 14, atau 40 hari.

Dilakukan pemeriksaan nifas seperti biasa. Mengkaji ulang tentang

keadaan psikologis, keadaan laktasi (penghentian ASI), dan penggunaan

alat kontrasepsi.

I. Dampak

Kematian janin dalam kandungan 3-4 minggu, biasanya tidak

membahayakan ibu. Setelah lewat 4 minggu maka kemungkinan terjadinya

kelainan darah (hipo-fibrinogenemia) akan lebih besar karena itu pemeriksaan

pembekuan darah harus dilakukan setiap minggu setelah diagnosis ditegakkan.

Bila terjadi fibrinogenemia., bahayanya adalah perdarahan post partum. Terapinya

adalah dengan pemberian darah segar atau fibrinogen.

Dampak lainnya yaitu, Trauma emosional yang berat menjadi bila antara

kematian janin dan persalinan cukup lama, dapat terjadi infeksi bila ketuban

pecah, dapat terjadi koagulopati bila kematian janin berlangsung lebih dari 2

minggu.

J. Jenis – Jenis Persalinan Untuk Janin Mati

1. Pertolongan persalinan dengan perforasi kronioklasi

Perforasi kronioklasi merupakan tindakan beruntun yang dilakukan

pada bayi yang meninggal di dalam kandunagan untuk memperkecil kepala

janin dengan perforation dan selanjutnya menarik kepala janin (dengan

kranioklasi) tindakan ini dapat dilakukan pada letak kepala oleh letak

sungsang dengan kesulitan persalinan kepala. Dngan kemajuan pengawasan

antenatal yang baik dan system rujukan ke tempat yang lebih baik, maka

16
tindakan proferasi dan kraioklasi sudah jarang dilakukan. Bahaya tindakan

proferasi dan kraniioklasi adalah perdarahan infeki, trauma jalan lahir dan

yang paling berat ruptira uteri( pecah robeknya jalan lahir).

2. Pertolongan persalinan dengn dekapitasi

Letak lintang mempunyai dan merupakan kedudukan yang sulit untuk

dapat lahir normal pervaginam. Gegagalan pertolongan pada letak lintang

menyebabkan kematian janin, oleh karena itu kematian janin tidak layak

dilkukan dengan seksio sesaria kecuali pada keadaan khusus seperti

plasenta previa totalis, kesempitan panggul absolute. Perslinan di lakukan

dengan jalan dekapitasi yaitu dengan memotong leher janin sehingga badan

dan kepala janin dapat di lahirkan.

3. Pertolongan persalinan dengan eviserasi

Eviserasi adalah tindakan operasi dengan mengeluarkan lebih dahulu

isi perut dan paru (dada) sehingga volume janin kecil untuk selanjutnya di

lahirkan.

Eviserasi adalah operasi berat yang berbahaya karena bekerja di ruang

sempit untuk memperkecil volume janin bahaya yang selalu mengancam

adalah perdarahan,infeksi dan trauma jalan lahir dengan pengawasan

antalnatal yang baik, situasi kehamilan dengan letek lintang selalu dapat di

atasi dengan versi luar atau seksio sesaria.

4. Pertolongan persalinan dengan kleidotomi

Kleidotomi adalah memotong tulang klavikula (tulang selangka)

sehingga volume bahu mengecil untuk dapat melahirkan bahu. Kleidotomi

17
masih dapat dilakukan pada anak hidup, bila diperlukan pada keadaan

gangguan persalinan bahu pada anak yang besar.

BAB III

TINJAUAN KASUS

18
A. PENGKAJIAN DATA

Hari/tanggal pengkajian : 11-02-2018

Jam : 11.05 WIB

Tempat : RS Muhammadiyah Bandung

Tanggal MRS : 11-02-2018

No. Reg : 708976

A. Data Subyektif

1. Biodata

Nama : Ny. R Nama Suami : Tn. D

Umur : 37 tahun Umur : 38 tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Buruh Pabrik Pekerjaan :Satpam

Alamat : jl.tubagus Alamat : jl.tubagus

2. Keluhan Utama

Saat MRS : Ibu mengatakan hamil 8 bulan, dan sudah 2minggu yang lalu,

gerakan janinnya tidak dirasakan lagi.

Saat pengkajian : Ibu mengatakan terasa kenceng-kenceng pada perutnya,

dan belum mengeluarkan cairan maupun darah.

3. Riwayat kesehatan yang lalu

19
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular seperti penyakit

kuning, TBC; Menurun seperti darah tinggi, kencing manis; menahun

seperti jantung dan tidak pernah menderita penyakit yang berhubungan

dengan alat reproduksinya seperti tumor, kanker, penyakit menular seksual

seperti kencing nananh, sifilis.

4. Riwayat kesehatan sekarang

Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit menular seperti penyakit

kuning, TBC; Menurun seperti darah tinggi, kencing manis; menahun

seperti jantung dan tidak pernah menderita penyakit yang berhubungan

dengan alat reproduksinya seperti tumor, kanker, penyakit menular seksual

seperti kencing nananh, sifilis.

5. Riwayat kesehatan keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang pernah atau sedang

menderita penyakit menular seperti penyakit kuning, TBC; Menurun

seperti darah tinggi, kencing manis; menahun seperti jantung dan tidak

pernah menderita penyakit yang berhubungan dengan alat reproduksinya

seperti tumor, kanker, penyakit menular seksual seperti kencing nananh,

sifilis.

6. Riwayat perkawinan

Nikah : 1 kali

Usia pertama menikah : 27 tahun

Lama kawin baru hamil : 1 tahun

Jumlah anak :2

20
Usia anak terkecil : 2 tahun

7. Riwayat menstruasi

Menarche : 12 tahun

Siklus : 28 hari, teratur tiap bulan

Lama : ± 6-7 hari

Banyak : 2-3 softek/hari

Dismenorhea : Tidak ada

Flour albus : Tidak ad

HPHT : 24-06-2017

TP : 01-03-2018

8. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas lalu

Kehamilan Persalinan Nifas


Umur
no Penolo Komplik J Lakta Komplika
ANC Tahun Keha BB PB
ng asi K si si
milan
1 Abortus
2012 Tidak P
2 Ada Aterm Dokter 3200 48 Baik Baik
ada
2015 Tidak P
3 Ada Aterm Dokter 3000 49 Baik Baik
ada
4 Ini

9. KB : Ibu mengatakan pernah ber KB IUD 5 tahun.

10. Riwayat kehamilan sekarag

a. TM I : Ibu mengatakan tidak memeriksakan kehamilannya. Ibu tidak

mengeluh apa-apa.

b. TM II : Ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya ke bidan 1X. Ibu

tidak mengeluh apa-apa. Ibu mendapatkan tablet penambah darah,

vitamin, penyuluhan tentang nutrisi yaitu tetap makan-makanan yang

21
bergizi yang memenuhi komposisi nasi, lauk pauk, sayur, buah dan minum

air putih yang banyak serta penyuluhan tentang tanda-tanda bahaya dalam

kehamilan. Ibu mersakan gerakan anak pertama pada usia kehamilan 4

bulan.

c. TM III : Ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya ke bidan 1X. Ibu

mengeluh gerakan janinya berkurang. Ibu dianjurkan untuk periksa

kerumah sakit.

11. Pola kebiasaan sehari-hari

Pola Sebelum MRS Saat MRS


Nutrisi - Makan 3 x/hari, porsi sedang- Makan 3 x/hari, porsi sedang

(1entong nasi, 2 potong daging, 1(1entong nasi, 2 potong daging,

potong tempe, sayur 1 mangkok, 11 potong tempe, sayur 1

potong buah) dihabiskan. mangkok, 1 potong buah)

- Minum ± 7-8 gelas/hari (air putihdihabiskan.

dan teh, terkadang susu) Minum ± 7-8 gelas/hari (air

putih dan teh, terkadang susu)

Istirahat - Tidur siang ± 2-3Ibu tidak bisa tidur karena

jam/hari(13.00-15.00 WIB) sering timbul kontraksi.

- Tidur malam ± 7-8 jam/hari

(21.00-05.00 WIB).Dan terbangun

ketika ibu mau BAK


Aktivitas Ibu mengerjakan semua pekerjaanIbu hanya berbaring di tempat

rumah tangga seperti masak,tidur.

22
menyapu dan mengurus keperluan

suami, serta bekerja sebagai buruh

pabrik.
Eliminasi - BAB 1 x/hari tiap pagiIbu mengatakan belum BAB

konsistensi lunak, warna kuning,BAK 7-8x/hari.

tidak ada keluhan.

- BAK 5-6 x/hari, warna kuning

jernih, bau khas.


Personal - Mandi 2 x /hari, gosok gigi, ganti Ibu hanya diseka.

Hygiene pakaian tiap 2 kali, keramas 3-4

x /minggu.

12. Data Psikososial

a. Psikologis

Ibu mengatakan merasa khawatir dengan keadaan bayi dan dirinya. Ibu

berharap persalinannya berjalan normal dan bayi lahir dengan selamat.

b. Sosial

Ibu mengatakan tinggal serumah dengan suami dan ibunya,

hubungannya dengan suami dan keluarga dan tetangga harmonis.

Keluarga mendukung kehamilannya

13. Data Sosial Budaya

Ibu mengatakan di lingkungan keluarga dan masyarakatnya masih

menganut budaya jawa seperti upacara selamatan 3 bulanan dan 7 bulanan.

14. Data Spiritual

23
Ibu mengatakan beragam Islam, taat beribadah dan tidak percaya tahayul

serta selalu berdoa agar persalinannya berjalan normal dan bayinya

selamat.

B. Data Obyektif

1) Pemeriksaan umum

Keadaan umum : baik

Kesadaran : composmentis

TTV / TD : 120 / 70 mmHg

Nadi : 80 x / menit

Suhu : 36.9 0C

RR : 24 x / menit

BB sebelum hamil : 68 kg

BB sekarang : 86 Kg

TB : 162 cm

LilA : 25 cm

HPHT : 24-06-2017

TP : 01-03-2018

UK : 32-33 minggu

2) Pemeriksaan fisik

a. Inspeksi

a. Kepala : bersih, tidak tampak ketombe, tidak ada lesi, pertumbuhan

rambut merata, warna hitam, lurus, tidak rontok.

b. Wajah : simetris, tidak tampak oedema, tidak ada kloasma

24
gravidarum, menyeringai ketika ada kontraksi

c. Mata : simetris, conjungtiva merah mudah, sklera putih.

d. Hidung : bersih, tidak ada polip, tidak ada secret, tidak ada

pernafasan cuping hidung.

e. Mulut :mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis, tidak labioskisis

dan palatokisis, tidak ada caries gigi, tidak ada gigi palsu.

f. Leher : tidak tampak pembesaran kelenjar tyroid dan bendungan

vena jugularis.

g. Dada / payudara : simetris, bersih, puting susu menojol, hiperpigmentasi

areola mamae, colostrum -/-

h. Abdomen : tampak tegang, terdapat linea nigra, tidak ada luka bekas

SC, pembesaran sesuai dengan umur kehamilan.

i. Genetalia : bersih, pertumbuhan pubis merata, tidak tampak odema,

tidak ada condiloma acuminata, tidak tampak varises,

tidak ada pembesaran kelenjar skene dan bartholini.

j. Anus : bersih, tidak tampak hemeroid, anus belum membuka.

k. Ekstremitas atas : simetris, pergerakan normal, tidak tampak odema tidak

ada sindaktil, polidaktil, terpasang infus NS drip

Oxytocin 20 unit pada tangan sebelah kanan dengan

kecepatan 28 tpm.

l. Ekstremitas bawah : simetris, pergerakan normal, odema -/-, tidak ada

varises, tidak ada sindaktil dan polidaktil.

b. Palpasi

25
a. Kepala : tidak ada nyeri tekan, tidak teraba benjolan

abnormal.

b. Lehe : tidak ada pembesar kelenjar tyroid dan vena

jugularis.

c. Payudara : tidak teraba benjolan abnormal, tidak ada nyeri

tekan colostrum belum keluar -/-

d. Abdomen

1. Leopod I : TFU 3 jari di atas pusat (20 cm),

teraba bulat, keras dan tidak melenting.

2. Leopod II : Teraba keras memanjang datar

seperti papan disebelah kanan perut ibu dan teraba

bagian kecil janin sebelah kiri perut ibu.

3. Leopod III : Teraba bulat, lunak, melenting dan

tidak bisa digoyangkan

4. Leopod IV : bokong masuk 2/5 bagian.

5. TBJ : (32-12) x 155 = 1470 gram

6. His : 4 x 10 menit “45”

c. Auskultasi

Dada : tidak terdengar ronchi, wheezing.

Djj :-

d. Perkusi

Reflek patella : +/+

3) Pemeriksaan dalam

26
tanggal : 13-02-2018

jam : 22.30 WIB

VT

Pembukan : 10 cm

Ketuban : jernih

Molage : Normal

Hodge :3

4. Pemeriksaan penunjang

USG : DJJ (-), gerak janin (-), uterus mengecil

Lab (Darah Lengkap):

Jenis Hasil Harga normal


Leukosit 10.800 /µl N : 3500 - 10.000
Hemoglobin 11,1 mg/dl N : 11,0 - 16,5
Hematokrit 32,1 % N : 35,0 - 50,0
Trombosit 178.000 N :150000 – 3390000
BT 1`00” N : 1-3
CT 6`30” N : 1-7

B. INTERPRETASI DATA

a. Diagnosa : ibu G4 P2 A1 usia kehamilan 32-33 minggu , infartus kala

II dengan IUFD

b. Data Dasar

Ibu mengatakan ini kehamilan ke empat

Keadaan umum : Baik

TTV, TD : 120/70

N : 80x/ menit

P : 24x/ menit

27
S : 36.9 0C

c. Data Khusus

DJJ :-

HIS :

Durasi : 4 x 10 menit

Frek : 45 dtk

Intensitas : kuat

Tanda-tanda persalinan

a) dorongan ingin meneran

b) tekanan pada anus

c) perinium menonjol

d) vulva membuka

e) pumbukaan 10 cm

f) penurunan kepala 0/5

Kebutuhan :

1. Lakukan pendekatan pada klien

2. Infomarsikan hasil pemeriksaan

3. Kolaborasi dengan Dr SPoG

4. Inform consent mengenai tindakan yang akan dilakukan

5. Melakukan tindakan segera

C. IDENTIFIKASI MASALAH DAN DIAGNOSA POTENSIAL

Potensial terjadi infeksi dan terjadi koagulasi

28
D. IDENTIFIKASI MASALAH, TINDAKAN SEGERA, KOLABORASI

DAN RUJUKAN

Kolaborasi dengan dokter SPoG

E. PERENCANAAN

Kala II

Tanggal : 13 Februari 2018

Pukul : 22.30 WIB

1. Lakukan pendekatan pada klien.

agar pasien lebih kooperatif, dan memudahkan dalam menjalankan

tindakan.

2. Jelaskan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan.

3. Lakukan Kolaborasi dengan dokter

4. Lakukan Inform consent mengenai tindakan yang akan dilakukan

5. Melakukan tindakan segera

F. PELAKSANAAN

Kala II

Tanggal : 13-02-2018

Jam : 22.30 WIB

1. Melakukan pendekatan pada klien, agar pasien lebih kooperatif, dan

memudahkan dalam menjalankan tindakan dengan memperkenalkan diri,

memberitahu maksud dan tujuan tindakan yang akan dilakukan pada ibu.

2. Menjelaskan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan, supaya ibu mengetahui

akan keadaannya, yaitu bahwa janin dalam kandungan ibu telah meninggal

29
yang ditandai dengan tidak adanya gerakan janin yang dirasakan oleh ibu

dan tidak tedengarnya DJJ saat pemeriksaan berlangsung.

3. Melakukan kolaborasi dengan Dr SPoG

4. Memberitahu ibu dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan agar

janin sesegera mungkin dilahirkan

5. Memberi dukungan mental kepada ibu dan keluarga agar ibu dan keluarga

sabar dan dapat menerima keadaan yang terjadi. Memberi dukungan dan

pendampingan pada ibu untuk tetap tabah dan menyerahkan segalanya pada

yang lebih berkuasa, yaitu Tuhan. Ibu mengatakan sudah dapat menerima

kematian bayinya dan mengatakan ikhlas atas hal tersebut.

G. EVALUASI

Kala II

Tanggal : 13-02-2018

Jam : 22.30 WIB

S : Ibu mengatakan perutnya kenceng-kenceng, keluar cairan, ingin meneran

dan rasanya ingin BAB.

a. dorongan ingin meneran

b. tekanan pada anus

c. perinium menonjol

d. vulva membuka

30
e. pumbukaan 10 cm

f. penurunan kepala 0/5

A : G4 P2 A1 inpartu kala II debgan IUFD.

P :

a. Pasien ditidurkan dalam posisi litotomi.

b. Antiseptik vulva dan sekitarnya dengan betadin.

c. kemih dikosongkan dengan kateter lalu dilepaskan.

d. Operator berdiri didepan vulva dan melakukan VT, pembukaan lengkap.

e. Ketika timbul his, ibu disuruh mengejan dengan merangkul kedua pangkal

paha. Pada waktu bokong membuka vulva,disuntikkan oxytocin.

f. Saat bokong lahir, bokong dicengkram secara brach (kedua ibu jari

operator sejajar sumbu panjangdan jari-jari lain memegang punggung).

g. Pada setiap his, ibu disuruh mengejan. Pada waktu his, pusat lahir dengan

tampak meregang. Tali pusat dikendorkan terlebih dahulu.

h. Operator melakukan hiperlordosis pada badan janin (punggung janin

didekatkan ke punggung ibu, dan perut janin didekatkan ke perut ibu).

Operator melakukan gerakan ini tanpa tarikan. Bersamaan dengan

hiperlordosis, seorang asisten melakukan klisteler.

i. Dengan gerakan hiperlordosis, berturut-turut lahir tali pusat, perut, bahu,

lengan, dahi, mulut, dan akhirnya seluruh kepala. Lahirnya bayi

perempuan mati, dengan berat badan 1470 gr dan panjang badan 40 cm,

AS 0/0 pada jam 22.30 dalam keadaan mati.

31
j. Tali pusat di klem di dua tempat, 5 cm dan 10 cm diatas perut bayi dan

dipotong ditengah-tengahnya.

Kala III

Tanggal : 13-02-2018

Jam : 22.40 WIB

S : Ibu mengatakan perutnya terasa mules-mules.

O :

a. tali pusat ada di depan vulva.ada semburan darah di introitus vagina

b. uterus globuler atau keras

c. TFU setinggi pusat

d. Bayi lahir jam 22.30 WIB jenis kelamin perempuan BB 1470 gram, PB

40cm, dalam keadaan mati.

A : P2 A1 post partum normal dengan IUFD.

P :

a. Plasenta dilahirkan secara PTT (Penegangan Tali pusat Terkendali),

berat 500 gr, diameter 20 cm, panjang 30 cm.

b. Eksplorasi jalan lahir, serviks, vagina.

Kala IV

Tanggal : 13-02-2018

Jam : 22.50 WIB

S : Ibu mengatakan perutnya terasa mules-mules.

O :

32
a. plasenta lahir jam 22.40 WIB

b. keadaan umum : Baik

c. kesadaran : composmentis

d. TTV TD : 120/80 mmHg

Nadi : 80x/menit

Suhu : 365 ºC

e. UC keras

f. perdarahan ± 200 cc

g. lochea rubra

h. kandung kencing kosong

A : P2 A1 kala IV

P :

1. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan

pervaginam.

a. Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan.

b. Setiap 30 menit pada 1jam kedua pasca persalinan.

2. Mengajari ibu kontraksi yang baik yaitu perutnya keras dan terasa

mules. Jika lembek menganjurkan ibu untuk menggosok-gosoknya.

3. Mengevaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah ± 200 cc.

4. Memeriksa nadi ibu, kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam

pertama dan setiap 30 menit selama 1 jam kedua pasca persalinan.

33
5. Menyeka ibu dengan air DDT dan bantu ibu memakai baju bersih.

6. Memastikan ibu merasa nyaman.

7. Melengkapi partograf

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan yang ada, maka berikut kesimpulan yang dapat

diambil, Intra Uterin Fetal Death (IUFD) adalah kematian janin dalam

kehamilan sebelum terjadi proses persalinan pada usia kehamilan 32-33

minggu ke atas atau BB janin lebih dari 1000 gram ( Kamus istilah

kebidanan). Etiologi IUFD yaitu faktor ibu (High Risk Mothers),faktor janin

34
(High Risk Infants), faktor yang berhubungan dengan kehamilan, faktor tali

pusat. Penatalaksanaan IUFD yaitu terdiri dari manajemen saat IUFD terjadi

dan menejemen setelah persalinan.

B. Saran

Sebagai petugas kesehatan kita hendaknya meningkatkan peran bidan

pada fungsi sebagai pelaksana kebidanan, lebih meningkatkan kemampuan

serta keterampilan yang dimiliki agar dengan mudah dan tepat dalam

mendiagnosa serta menentukan tatalaksana dalam pananganan IUFD.

DAFTAR PUSTAKA

Aifuddin, Abdul Bari. 2009. IlmuKebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo

Cunninghum, Gary. 2013. Obstetri Williams. Jakarta: EGC.

L., K. Varney, helen. 2006. Buku ajar asuhan kebidanan. Jakarta : EGC(3

Nugroho, Taufan. 2012. Patologi Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika.

Wiknjosastro, dkk, 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

35
36