Anda di halaman 1dari 104

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Praktek PKK II

Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran

yang sangat penting dalam upaya mempercapat peningkatan derajat kesehatan

masarakat Indonesia. Rumah sakit memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat

berat. Di satu sisi rumah sakit di tuntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu

yang dapat memuaskan konsumennya dan bertugas sebagai institusi yang berperan

penting dalam pelayanan kesehatan masyarakat yang merupakan salah satu misi yang

harus dijalankan oleh suatu rumah sakit.

Selain sebagai tempat pelayanan kesehatan Rumah Sakit juga bisa di jadikan

sebagai tempat pendidikan dan sebagai tempat penelitian bagi para mahasiswa dan

para penelitilainnya. Rumah Sakit berperan penting dalam pengembangan ilmu

pengetahuan karena di Rumah Sakit terdapat berbagai macam sumber ilmu yang

dapat dilihat secara nyata. Praktek kerja lapangan merupakan suatu kegiatan yang

memiliki peran penting di dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan di dalam

pelaksanaan pendidikan tidak hanya teori yang memegang peranan utama tapi juga

kegiatan praktek lapangan.

1
Dalam kegiatan praktek lapangan, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk

mengaplikasikan secara nyata seluruh teori yang telah di dapat selama masa

perkuliahan guna mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia kerja yang

sesungguhnya. Sehingga mahasiswa akan dapat memiliki gambaran yang jelas

mengenai ilmu yang didapat selama masa perkuliahan dan dapat mengasah skill atau

kemampuan praktek mahasiswa.

Praktek kerja lapangan pada dasarnya merupakan kegiatan belajar di lapangan

yang melibatkan mahasiswa secara aktif si dalam prosesnya. Kegiatan praktek kerja

lapangan merupakan kegiatan ekstrakurikuler terstruktur berupa kegiatan praktek

kerja lapangan bagi mahasiswa Program Studi Diploma III Kebidanan Fakultas

Kesehatan dan MIPA UMSB di rumah sakit, baik dirumah sakit umum, rumah sakit

swasta, rumah sakit khusus, rumah sakit pemerintah dan rumah sakit BUMN.

Dari penjelasan diatas penulis merasa bahwa praktek kerja lapangan sangat

besar manfaatnya. Penulis dapat mengamati dan merasakan bagaimana keadaan kerja

dan masalah- masalah yang terjadi dalam pelaksanaan kegiatan pada bagian-bagian

dimana mahasiswa di tempatkan. Hal ini lah yang melatarbelakangi penulis dalam

penyusunan laporan magang ini.

B. Ruang Lingkup Praktek

Pada praktek magang kali ini mahasiswa melakukan praktek pada 4

ruangan.

2
Ruanga tersebut adalah :

1. Ruangan : Kebidanan Rawatan / PK

Tanggal : 30 Januari s/d 14 Februari 2018

2. Ruangan : Poli Kebidanan

Tanggal : 15 Februari s/d 22 Februari 2018

C. Tujuan Praktek Lapangan

1. TujuanUmum

Tujuan umum dari pelaksanaan praktek magang adalah untuk

mempersiapakan lulusan Diploma III kebidanan agar mempunyai pengetahuan

dan keterampilan tentang manajemen Kebidanan di RS Muhammadiyah Bandung

khususnya diruangan Kebidanan Rawatan.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengenali aktivitas

nyata pada dunia kerja sehingga mampu menambah pengalaman,

penegetahuan kerja dan keterampilan praktek serta kerja sama tim dalam

lingkungan kerja.

b. Memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengaktualisasikan diri

dalam berprilaku professional dadalam lingkungan kerja.

c. Memperoleh masukan bagi penyempurnaan kurikulum yang sesuai dengan

kebutuhan lapanagan kerja di bidang masing-masing.

3
D. Manfaat Praktek Lapangan

1. Bagi Mahasiswa

a. Medapatkan pengalaman dan keterampilan dibidang kebidanan di rumah

sakit.

b. Dapat melihat dan mengamati secara langsung kondisi kerja yang terjadi

di rumah sakit.

c. Mendapatkan pengalaman dan pemecahan masalah tentang kebidanan di

rumah sakit.

2. Bagi Rumah Sakit

a. Mahasiswa dapat membantu pekerjaan yang dilakukan diruangan

Kebidanan di rumah sakit.

b. Dapat menciptakan kerja sama yang saling menguntungkan dan

bermanfaat di rumah sakit dengan fakultas kesehatan dan MIPA UMSB

Bukittinggi.

3. Bagi Program Studi

a. Mendapatkan masukan yang berguna untuk menyempurnakan kurikulum

yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.

b. Terbinanya jaringan kerjasama yang saling menguntungkan dalam upaya

meninggkatkan pendidikan

4
BAB II

GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH BANDUNG

A. Identitas Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung

Rumah Sakit Muhammadiyah


No Nama :
Bandung
1 Alamat Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 53
2 Kelas Rumah Sakit Kelas C
3 Status Kepemilikan 18 November 1968
4 Status Rumah Sakit PW. Muhammadiyah Jawa Barat
5 Jumlah Tepat Tidur PW. Muhammadiyah Jawa Barat
6 Jumlah Jenis Pelayanan Akreditasi Paripurna
7 Jumlah Jenis Spesialistik 178 TT
8 Jumlah Pegawai 530 orang
a. Berdasarkan Formulasi
9
Ketenagaan  11 orang
 Tenaga Medis (dokter)  268 orang
 Paramedis Perawatan  116 orang

5
 Paramedis Non Perawatan  135 orang
 Tenaga Non Medis
b. Berdasarkan Status Ketenagaan
 Pegawai Tetap  486 orang
 Calon Pegawai  25 orang
 Tenaga Harian Lepas  19 orang

B. Sejarah rumah sakit

Pada tahun 1965 sebelum Muktamar Muhammadiyah ke-36 diselenggarakan,

Gubernur Propinsi Jawa Barat, Bapak Mayjen Masjhudi meminta kepada Pimpinan

Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat agar segera memprakarsai berdirinya sebuah

RumahSakit Islam di Bandung, alasannya karena atas dasar tuntutan masyarakat Jawa

Barat dan sudah ada 5 Yayasan yang akan mendirikan Rumah Sakit Islam, tetapi

tidak terwujud.

Sebagai tindak lanjut dari keinginan tersebut, maka pada Muktamar

Muhammadiyah ke-36 yang dilaksanakan pada bulan Juli 1965 di Bandung,

dihasilkan suatu keputusan antara lain agar di setiap Propinsi di seluruh Indonesia

dibangun sebuah Rumah Sakit Muhammadiyah, Sekolah Perawat dan Sekolah Bidan.

Terdorong atas rasa tanggung jawab dan keprihatinan ummat Islam di

Bandung, khususnya Muhammadiyah dengan melihat kenyataan di Bandung ini

hanya ada 5 buah RS Swasta milik non muslim. Niat ini kemudian disampaikan

dalam sebuah rapat pleno pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan’ Aisyiyah tahun

1967 dan Rapat Kerja Majlis Pendidikan dan KesejahteraanUmmat (PKU), agar di

6
Bandung segera didirikan RS. Muhammadiyah, yang kemudian disetujui untuk

segera didirikan.

Langkah awal segera dilakukan dalam menentukan titik lokasi didirikannya

RS. Islam Muhammadiyah, yaitu dengan meminta saran kepada Walikota Kotamadya

Bandung, Bapak E. Sukarna Widjaya dan Kepala Dinas, Bapak Dr. Uton Muchtar

Rafe’i, MPH, bahwa RS. Muhammadiyah harus dibangun di Wilayah Karees, yang

setelah dianalisa ternyata sesuai dengan rencana pengembangan kota, karena di

wilayah-wilayah lain pelayanan telah terpenuhi.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah saat itu mengadakan musyawarah dengan

Pimpinan Muhammadiyah Daerah Priangan, Pimpinan Muhammadiyah Cabang

Bandung Lama, Bagian PKU Cabang, Pimpinan ‘Aisyiyah Cabang Bandung Lama

dan dari musyawarah tersebut dihasilkan suatu keputusan, bahwa lokasi gedung Panti

Asuhan Taman Harapan Muhammadiyah dan Asrama Putri ‘Aisyiyah setuju ditukar

amal usahanya dengan RS. Islam Muhammadiyah.

Sesuai dengan Berita Acara serah terima gedung No. 130-47/13 tertanggal 1

September 1967, maka Panti Asuhan Taman Harapan Muhammadiyah yang semula

terletak di Jl. Banteng No. 53 dipindahkan ke Jl. Nilem No. 9 (Bekas Poliklinik

Bersalin Muhammadiyah Cabang Lengkong), sedangkan Asrama Putri ‘Aisyiyah

dipindah ke Asrama Muslihat Jl. Buah batu Bandung.

7
Alasan didirikannya RS. Islam Muhammadiyah di bekas lokasi Panti Asuhan

tersebut adalah :

a. Biaya tidak banyak, hanya perbaikan lokal, dan kamar-kamar.

b. Perijinan dari Departemen Sosial sudah lama.

c. Dukungan masyarakat dan keluarga Muhammadiyah yang ada.

d. Fasilitas air dan listrik sudah mencukupi.

e. Pemerintah Kotamadya Bandung akan mudah memberiijin.

f. Bapak Gubernur dan Walikota sudah diberikan laporannya dan setuju.

g. Usaha dan kerja terbatas untuk pengadaan peralatan dan renovasi kecil

saja

Saatnya untuk membuktikan kepada masyarakat dan pemerintah, bahwa

Muhammadiyah mampu mendirikan rumah sakit dan berusaha membentuk sebuah

rumah sakit yang disesuaikan dengan kemampuan situasi dan kondisi fisik bangunan.

Untuk mewujudkan keinginan mendirikan Rumah Sakit Islam tersebut, maka

dibentuklah Panitia Pelaksana Pembangunan yang terdiri dari :

1. H. AdangAffandi (Ketua dan Usaha Dana).

2. Abu Bakrin (Ketua I, Urusan Pembangunan Fisikdan Logistik).

3. Dr. Uton Muchtar Rafe’I, MPH (Ketua II, UrusanMedis dan Perijinan).

4. H. Asikin Sanhadji (Sekretaris/merangkap urusan perijinan dan usaha dana).

5. H.M. Musa (Bendahara).

6. Dr. Sachron Fadjar (AnggotaUrusanMedis).

8
7. H. Ahmad Wiratmadja (AnggotaUrusan Dana).

8. H. SulaemanFaruq (Publikasi)

Sedangkan rencana renovasinya dipimpin oleh Ketua II yang diserahkan

kepada Sdr. Tengku Z. Abidin dibantu oleh para mahasiswa ITB dan Himpunan

Mahasiswa Islam dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang dilaksanakan pada

bulan Juni 1968.

Akhirnya pada hari Sabtu, tanggal 17 Nopember 1968 bertepatan dengan

tanggal 27 Sya’ban 1338 H Rumah Sakit Islam Muhammadiyah dibuka secara resmi

oleh Gubernur Jawa Barat Mayjen Masjhudi dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah,

Bapak HM. Yunus Anis, dan dinyatakan mulai beroperasi pada tanggal 18 Nopember

1968, dibawah langsung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat.

C. Geografi

Letak Rumah Sakit Muhammadiyah sangat strategis, berada di pinggir jalan

raya , Rumah Sakit Muhammadiyah masukdalam wilayah kecamatan Lengkong,

kelurahan turangga, tepatnya di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 53, Bandung.

Batas wilayah Rumah Sakit Muhammadiyah adalah :

 Sebelah utara --------- Kecamatan Sumur Bandung.

 Sebelah Selatan --------- Kecamatan Regol.

 Sebelah Barat --------- Kecamatan Astana Anyar.

 Sebelah Timur --------- Kecamatan Marga Cinta.

9
Batas-batas RS Kompetitor terhadap Rumah Sakit Muhammadiyah adalah :

 Selatan : - RS.Imanuel.

- RS Al – Ikhsan.

 Barat : - RS. Kebon Jati.

- RS. Cibabat.

 Utara : - RS. Hasan Sadikin.

- RS.Bungsu.

- RS.Advent.

 Timur : - RS. Santo Yusuf.

- RS. Al – Islam.

D. Demografi

Wilayah cakupan Rumah Sakit Muhammadiyah meliputi seluruh kecamatan

di Kota dan Kabupaten Bandung . Dari jumlah penduduk Kota Bandung pada tahun

2015sebanyak 2.378.627 Jiwa, yang datang untuk mendapatkan pelayanan di Rumah

Sakit Muhammadiyah sebagian besar berasal dari kecamatan Lengkong (23,8%),

Batu nunggal (10,9%), Regol (8,9%) dan Marga Cinta (7,9%) dan 26 % berasal dari

kecamatan lainnya.

E. Visi, Misi, dan Moto

a. Visi

“ Rumah Sakit Islam unggulan tingkat Jawa Barat tahun 2018 “

10
b. Misi

1. Meningkatkan kualitas pelayanan, profesionalisme SDI yang

islami, kualitas sarana dan prasarana, kerjasama dan kemitraan

dengan pemangku kepentingan dan pelayanan berbasis IT

2. Meningkatkan syiar dakwah islam amar ma’ruf nahyi munkar

c. Motto

“Melayani Dengan Nurani”

F. RSMB NILAI :

R : Rahmatan lil’alamin.

S : Salam, senyum, sapa, sopan dan santun.

M : Maslahat untuk semua.

B : Berkemajuan.

G. Tujuan

1. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

2. Meningkatkan pelayanan yang berdaya saing dengan berbasis IT.

3. Mewujudkan profesionalisme SDI yang islami untuk meningkatkan mutu

pelayanan

4. Meningkatkan mutu pelayanan melalui peningkatan sarana dan prasarana.

5. Mengoptimalkan pengelolaan program JKN melalui peningkatan kemitraan

dengan pemangku kepentingan.

6. Meningkatkan promosi rumah sakit melalui Syi’ar Dakwah Islam.

11
H. Struktur Organisasi Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung 2014 - 2018

BADAN
PELAKSANA
HARIAN

DIREKTUR

WADIR YANDIK & WADIR UMUM,


KEPERAWATAN KEUANGAN & SDI

MANAJER MANAJER MANAJER MANAJER MANAJER


MANAJER MANAJER KEUA-
PELAYAN PENUNJANG KEPERAWAT SDI &
UMUM LOGISTIK NGAN &
AN MEDIK MEDIK AN BINROH
AKUNTANSI

I. Tugas dan Susunan Organisas

1. Tugas

Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung mempunyai tugas melaksanakan

penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah dibidang pelayanan

kesehatan, khususnya pelayanan rumah sakit.

2. Susunan organisasi

1) Badan Pelaksana Harian (BPH).

2) Direktur.

12
3) Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan.

4) Wakil Direktur Keuangan, Umum dan SDI.

5) Manager.

6) Kepala Seksi/Kepala Unit.

7) Kepala Satuan Pemeriksaan Intern (SPI).

8) Kepala Humas dan Legal.

9) Ketua Komite Medik.

10) Ketua Komite Keperawatan .

11) Ketua Komite Mutu RS

J. Struktur Organisasi Rumah Sakit dan Deskripsi Tugas

1) Struktur Organisasi

Berdasarkan Surat Keputusan Badan Pelaksana Harian (BPH) RS

Muhammadiyah Bandung nomor 10/KEP/II.6.AU/B/2014 tentang

Pengesahan Struktur dan Pedoman Organisasi Rumah Sakit Muhammadiyah

Bandung, yang diberlakukan oleh Surat Keputusan Direktur RS

Muhammadiyah Bandung nomor 25/KEP/II.6.AU/D/2014 tentang

Pemberlakuan Susunan Struktur dan Pedoman Kerja Organisasi di

Lingkungan Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung, Gambaran Struktur

Organisasi terbagi menjadi 4 (empat) bagian :

1. Bagian pertama menggambarkan tentang kedudukan BPH terhadap

direktur, wakil direktur dan para manager.

13
2. Bagian kedua menggambarkan tentang kedudukan BPH terhadap

direktur, beberapa komite di rumah sakit, SPI, Humas Legal, SIM RS

dan Pemasaran.

3. Bagian ketiga menggambarkan tentang kedudukan wadir yanmed dan

keperawatan terhadap para manager dan para kepala seksi / unit

dibawahnya.

4. Bagian keempat menggambarkan tentang kedudukan wadir umum,

keuangan dan SDI terhadap para manager dan para kepala seksi / unit

di bawahnya.

2) Deskripsi Tugas

1. Badan Pelaksana Harian (BPH)

a. Badan Pelaksana Harian (BPH) adalah Badan yang dibentuk

sebagai kepanjangan tangan Majelis dalam melaksanakan tugas-

tugas penyelengaraan amal usaha kesehatan.

b. BPH merupakan Badan Pengawas sebagaimana diatur dalam

Undang-undang No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit.

c. Susunan Pengurus BPH RS. Muhammadiyah Bandung ditetapkan

berdasarkan SK PP Muhammadiyah.

d. Ketentuan tentang Badan Pelaksana Harian (BPH) telah diatur dan

ditetapkan berdasarkan Ketentuan Majelis Pembina Kesehatan

14
Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah No.

01/KTN/I.6/H/2012.

2. Direktur

a. Direktur adalah pimpinan tetinggi di Rumah Sakit Muhammadiyah

Bandung yang mempunyai tugas pokok menjabarkan Visi dan Misi

Rumah Sakit ke dalam rencana strategis rumah sakit, kebijakan dan

program kerja rumah sakit yang meliputi pengelolaan,

pengorganisasian, pembinaan, pengkordinasian, pengawasan dan

evaluasi pelaksanaan tugas rumah sakit sesuai ketetapan Badan

Pelaksana Harian serta peraturan perundang-undangan yang berlaku

serta mengacu pada visi misi dan rencana strategis Badan Pelaksana

Harian.

b. Direktur membawahi langsung unit-unit kerja yang tidak termasuk

dalam lingkup tugas para Wakil Direktur yang terdiri dari :

- Satuan Pemeriksaan Internal

- Humas dan Legal

- Sstem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM RS)

- Komite Medik

- Komite Keperawatan

- Komite Mutu RS

- Pemasaran

15
3. Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan

a. Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan mempunyai tugas

pokok membantu tugas Direktur dalam pengkajian bahan kebijakan,

memimpin, mengatur, membina, mengendalikan dan

mengkoordinasikan fungsi pelayanan Medik dan Keperawatan, dan

Penunjang Medik sesuai ketetapan Badan pengurus dan peraturan

perundang-undangan yang belaku yang mengacu pada Ketentuan

Peraturan, visi misi Badan Pelaksana Harian Rumah Sakit dan

rencana strategis rumah sakit atau Direktur.

b. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya tersebut Wakil Direktur

Pelayanan Medik dan Keperawatan membawahi beberapa unit kerja

terdiri dari :

- Manajer Pelayanan Medik

- Manajer Penunjang Medik

- Manager Keperawatan

c. Wakil Direktur Medik dan Keperawatan bertanggung jawab kepada

Direktur.

4. Wakil Direktur Umum, Keuangan dan Sumber Daya Insani (SDI)

a. Wakil Direktur Umum, Keuangan dan SDI mempunyai tugas pokok

membantu tugas-tugas Direktur dalam pengkajian bahan kebijakan,

memimpin, mengatur, membina, mengendalikan dan

16
mengkoordinasikan fungsi pelayanan Umum, Logistik, Akuntansi

dan Keuangan, manajemen SDI dan Pengembangan Dakwah serta

Pembinaan Rohani sesuai ketetapan Badan pengurus dan peraturan

perundang-undangan yang berlaku yang mengacu pada ketentuan

Badan Peraturan, visi misi Badan Pelaksana Harian Rumah Sakit

dan rencana strategis rumah sakit atau Direktur.

b. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya tersebut Wakil Direktur

Umum, Keuangan dan SDI membawahi langsung :

- Manager Umum.

- Manager Logistik.

- Manager Keuangan.

- Manager SDI dan BINROH.

5. Manager

Manager dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada

wakil direktur. Manager yang bertanggung jawab kepada Wakil

Direktur Umum, Keuangan dan SDI adalah :

a. Manager Umum

Manager Umum mempunyai tugas membantu Wakil Direktur

Umum, Keuangan dan SDI dalam melasnakan fungsi utamanya

mengkoordinasikan kegiatan pelayanan di bidang Administrasi

17
Umum, Pemeliharaan Sarana Fisik, Mekanikal Elektrikal, dan

Kesehatan Lingkungan dan Linen.

Manager Umum dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab

kepada Wakil Direktur Umum, Keuangan dan SDI. Manager Umum

dalam melaksanakan tugasnya tersebut membawahi langsung :

1) Kepala Seksi Administrasi Umum.

2) Kepala Seksi Mekanikal Elektrikal.

3) Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan dan Linen.

4) Kepala Seksi Pemeliharaan Sarana Fisik.

b.Manager Logistik

Manager Logistik mempunyai tugas membantu Wakil Direktur

Umum, Keuangan dan SDI dalam melaksanakan fungsi utamanya

mengkoordinasikan kegiatan pelayanan di bidang pengelolaan dan

pengembangan fungsi logistik yang meliputi logistik medik dan

logistik non medik yang mengacu pada Standar Prosedur Operasional

atau Pedoman Pengadaan Barang dan Jasa BP Rumah Sakit serta

sasaran strategis Direktur Umum, Keuangan dan SDI.

Manager Logistik dalam melaksanakan tugasnya bertanggung

jawab kepada Wakil Direktur Umum, Keuangan dan SDI.

18
Manager Logistik dalam melaksnakan tugasnya tersebut

membawahi langsung :

1) Kepala Seksi Logistik Medik.

2) Kepala Seksi Logistik Non Medik.

c. Manager Keuangan dan Akuntansi

Manager Keuangan dan Akuntansi mempunyai tugas

membantu Wakil Direktur Umum, Keuangan dan SDI dalam

melaksanakan fungsi utamanya mengkoordinasikan kegiatan pelayanan

di bidang Akuntansi Keuangan, Perbendaharaan, Akuntansi

Manajemen, Anggaran dan Perpajakan yang mengacu pada kebijakan

Akuntansi dan kode rekening Badan Pelaksana Harian Rumah Sakit

dan Standar Operasional Prosedur yang berlaku serta sasaran strategis

Wakil Direktur Umum, Keuangan dan SDI.

Manager Keuangan dan Akuntansi dalam melaksanakan

tugasnya bertanggung jawab kepada Wakil Direktur Umum, Keuangan

dan SDI.

Manager Keuangan dan Akuntansi dalam melaksanakan

tugasnya tersebut membawahi langsung :

3) Kepala Seksi Akuntansi.

4) Kepala Seksi Perbendaharaan.

5) Kepala Seksi Anggaran dan Perpajakan.

19
d. Manager Sumber Daya Insani (SDI) dan Pembinaan Rohani

(BINROH)

Manager Sumber Daya Insani (SDI) dan Pembinaan Rohani

(BINROH) mempunyai tugas membantu Wakil Direktur Umum,

Keuangan dan SDI dalam melaksanakan fungsi utamanya

mengkoordinasikan kegiatan pelayanan pegawai, pengembangan

pegawai, pendidikan dan latihan serta mengkoordinasikan kegiatan

pelayanan pembinaan rohani, dan PHIWM yang mengacu kepada

kebijakan SDI atau peraturan yang ditetapkan oleh Badan

Pelaksanan Harian Rumah Sakit, dan peraturan ketenagakerjaan

serta sasaran strategis Wakil Direktur Umum, Keuangan dan SDI.

Manager Sumber Daya Insani (SDI) dan Pembinaan Rohani

(BINROH) dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab

kepada Wakil Direktur Umum, Keuangan dan SDI.

Manager Sumber Daya Insani (SDI ) dan Pembinaan Rohani

(BINROH) dalam melaksanakan tugasnya tersebut membawahi

langsung :

1) Kepala Seksi Pelayanan Pegawai.

2) Kepala Seksi Pengembangan Pegawai dan Diklat.

3) Kepala Seksi Pembinaan Rohani

20
Manager yang bertanggung jawab kepada Wakil Direktur

Pelayanan Medik dan Keperawatan adalah :

a. Manager Pelayanan Medik

Manajer Pelayanan Medik mempunyai tugas membantu

wakil direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan dalam

melaksanakan fungsi utamanya mengkoordinasikan seluruh

kebutuhan pelayanan medik ada Unit Rawat Jalan, Gawat Darurat,

Hemodialisa, Rehabilitasi Medik, Rawat Inap, Kamar Bedah, ICU

dan CSSD.

Manajer Pelayanan Medik dalam melaksanakan tugasnya

bertanggung jawab kepada Wakil Direktur Pelayanan Medik dan

Keperawatan. Dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut Manager

Pelayanan Medik membawahi :

1) Kepala Unit Rawat Jalan.

2) Kepala Unit Gawat Darurat.

3) Kepala Unit Hemodialisa.

4) Kepala Unit Rehabilitasi Medik.

5) Kepala Unit Rawat Inap.

6) Kepala Unit Kamar Bedah.

7) Kepala Unit ICU.

8) Kepala Unit CSSD.

21
b. Manager Penunjang Medik

Manager Penunjang Medik mempunyai tugas

membantu wakil direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan

dalam melaksanakan fungsi utamanya mengelola, mengendalikan,

mengkoordinasikan dan mengembangkan keggiatan penunjang

medic, meliputi Unit Farmasi, Laboratorium dan Pelayanan Darah,

Diagnostik, Gizi dan rekam Medik.

Manager Penunjang Medik dalam melaksnakan

tugasnya bertanggung jawab kepada Wakil Direktur Pelayanan

Medik dan Keperawatan. Dalam melaksanakan tugas-tugas

tersebut Manager Penunjang Medik membawahi :

1) Kepala Unit Farmasi.

2) Kepala Unit Laboratorium dan Pelayanan Darah.

3) Kepala Unit Diagnostik.

4) Kepala Unit Gizi.

5) Kepala unit Rekam Medik.

c. Manager Keperawatan

Manager Keperawatan mempunyai tugas membantu wakil

direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan dalam melaksanakan

fungsi utamanya mengelola, mengendalikan dan mengembangkan

pelayanan rawat inap serta menyusun rencana kebutuhan tenaga

22
keperawatan baik jumlah maupun kualifikasinya yang mengacu

pada asuhan keperawatan, standar pelayanan rawat inap rumah

sakit, dan sasaran strategis direktur pelayanan medic dan

Keperawatan.

Dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada

Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan. Dalam

melaksanakan tugas-tugas tersebut Manager Keperawatan

membawahi :

1) Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan.

2) Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Sumber Daya

Perawat.

3) Supervisor.

4) Koordinator CI ( Clinical Instructure ).

6. Kepala Seksi / Kepala Unit

Yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur :

a. Kepala Seksi Sistem Informasi Rumah Sakit

Kepala Seksi Sistem Informasi Rumah Sakit mempunyai tugas

membantu Direktur mengelola dan mengembangkan Sistem

Informasi Rumah Sakit yang meliputi pemeliharaan,

pengembangan Hardware, Software dan jaringan internal Rumah

sakit, penyimpanan dan pemeliharaan data informasi rumah sakit

23
dan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan unit kerja di rumah

sakit, yang mengacu pada kebijakan system informasi rumah

sakit.

Kepala Seksi system iformasi Rumah Sakit dalam

melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Direktur.

Kepala Sistem Informasi Rumah Sakit membawahi staf software,

staf hardware dan jaringan.

b. Kepala Pemasaran

Kepala Pemasaran mempunyai tugas membantu Direktur

dalam mengelola kegiatan pemasran dan pencitraan rumah sakit,

yang meliputi : Pelayanan front office dan informasi bagi pasien

di rumah sakit, Pelaksanaan kegiatan publikasi dan penerbitan,

dan memberikan masukan untuk perbaikan citra rumah sakit.

Kepala Pemasaran dalam melaksanakan tugasnya bertanggung

jawab kepada Direktur. Kepala Pemasaran membawahi :

1) Koordinator Operator Telepon.

2) Penanggung jawab customer service dan pencitraan.

3) Staff pemasaran.

Yang bertanggung jawab kepada Manager Pelayanan Medik :

24
a. Kepala Unit Rawat Jalan

Kepala Unit Rawat Jalan, mempunyai tugas membantu

Manager Pelayanan Medik dalam melaksanakan fungsi

utamanya melakukan kegiatan pelayanan rawat jalan yang

terdiri dari beberapa poliklinik dalam berbagi disiplin ilmu

kedokteran klinis.

Kepala Unit Rawat Jalan dalam melaksnakan tugasnya

bertanggung jawab kepada Manager Pelayanan Medik. Kepala

Unit Rawat jalan membawahi langsung kepada ruangan

poliklinik.

b. Kepala Unit Gawat Darurat

Kepala Unit Gawat Darurat mempunyai tugas membantu

Manager Pelayanan Medik dalam melaksanakan fungsi

utamanya mengelola, mengkoordinir, dan melakukan supervise

serta mengawasi pelaksanaan Pelayanan Unit Gawat baik

pelayanan Medik dan pelayanan perawatan di Unit Pelayanan

Gawat Darurat termasuk penyimpanan alat-alat dan obat-

obatan yang diperlukan sesuai kebutuhan pasien di Rumah

Sakit, dan sasaran strategis Manager Pelayanan Medik.

Kepala Unit Gawat Darurat dalam melaksanakan tugasnya

bertanggung jawab langsung keada Manager Pelayanan Medik.

25
Kepala Unit Gawat darurat membawahi langsung kepala

ruangan UGD dan Dokter jaga UGD.

c. Kepala Unit Hemodialisa

Kepala Unit Hemodialisa, mempunyai tugas membantu

Manager Pelayanan Medik dalam melaksanakan fungsi

utamanya mengelola, mengkoordinir, melaksnakan serta

menyelenggarakan pelayanan hemodialisa dan Continous

Ambulatory Peritonial Dialise (CAPD) di rumah sakit

termasuk penyimpanan alat-alat serta bahan-bahan kimia dan

obat-obatan yang diperlukan sesuai kebutuhan yang mengacu

pada asuhan keperawatan, standar pelayanan rumah sakit, dan

sasaran strategis Manager Peayanan Medik.

Kepala Unit Hemodialisa dalam melaksanakan tugasnya

bertanggung jawab langsung kepada Manager Pelayanan.

Kepala Unit Hemodialisa membawahi langsung kepala

ruangan hemodialisa.

d. Kepala Unit Rehabilitasi Medik

Kepala Unit Rehabilitasi Medik mempunyai tugas

membantu Manager Pelayana Medik dalam melaksanakan

fungsi utamanya mengelola, mengkoordinir, dan melakukan

supervise serta mengawasi pelaksanaan Pelayanan Medik

26
Khusus yang meliputi Fisioterapi, Ocupacy Terapi (OT) dan

Terapi WIcara (TW) sesuai kebutuhan pasien Rumah Sakit

termasuk penyimpanan alat-alat dan obat-obatan yang

diperlukan mengacu pada Standar Pelayanan Klinik Rumah

Sakit, dan sasaran strategis Manager Pelayanan Medik.

Kepala Unit Rehabilitasi Medik dalam melaksanakan

tugasnya bertanggung jawab langsung kepada Manager

Penunjang Medik. Kepala Unit Rehabilitasi Medik

membawahi langsung kepala ruangan Rehabilitasi Medik.

e. Kepala Unit Rawat Inap

Kepala Unit Rawat Inap, mempunyai tugas membantu

Manager Pelayanan Medik dalam melaksanakan fungsi

utamanya mengelola, mengkoordinir, dan melakukan supervise

serta mengawasi pelaksanaan pelayanan rawat inap bagi pasien

rumah sakit yang meliputi seluruh ruangan perawatan sesuai

kebutuhan pasien rumah sakit termasuk penyimpanan alat-alat

dan obat-obatan yang diperlukan mengacu pada standar

Pelayanan Klinik Rumah Sakit, dan sasran strategis Manager

Pelayanan Medik.

Kepala Unit Rawat Inap dalam melaksanakan tugasnya

bertanggung jawab kepada Manager Pelayanan Medik. Kepala

27
Unit Rawat Inap membawahi langsung kepala-kepala ruangan

rawat inap.

f. Kepala Unit Kamar Bedah

Kepala Unit Kamar Bedah mempunyai tugas mambant

Manager Pelayanan Medik dalam melaksnakan fungsi

utamanya mengelola, mengkoordinir, melaksanakan serta

menyelenggarakan pelayanan Bedah di rumah sakit termasuk

penyimpanan alat-alat serta bahan-bahan kimia dan obat-

obatan yang diperlukan sesuai kebutuhan pasien yang mengacu

pada asuhan keperawatan, standar pelayana medic rumah sakit,

dan sasaran strategis Manager Pelayanan Medik.

Kepala Unit Kamar Bedah dalam melaksanakan tugasnya

bertanggung jawab langsung kepada Manager Pelayanan

Medik. Kepala Unit Kamar Bedah membawahi langsung

kepala ruangan kamar bedah.

g. Kepala Unit Perawatan Intensif

Kepala Unit Perawatan mempunyai tugas membantu

Manajer Pelayanan Medik dalam melaksanakan fungsi

utamanya mengelola, mengkoordinir, melaksanakan serta

menyelenggarakan pelayanan pasien di ICU rumah sakit

termasuk penyimpanan alat-alat dan obat-obatan yang

28
diperlukan sesuai kebutuhan pasien yang mengacu pada asuhan

keperawatan, standar Pelayanan Medik rumah sakit, dan

sasaran strategis Manager Pelayanan Medik.

Kepala Unit Perawatan Intensive dalam melaksanakan

tugasnya bertanggung jawab langsung kepada Manager

Pelayanan Medik. Kepala Unit Perawatan Intensive

membawahi langsung Kepala Ruangan ICU.

h. Kepala Unit Kamar CSSD

Kepala Unit CSSD mempunyai tugas membantu Manager

Pelayanan Medik dalam melaksanakan fungsi utamanya

mengelola, mengkoordinasi dan mengawasi kegiatan

pelaksanaan pelayanan CSSD untuk memenuhi kebutuhan unit

lain di lingkungan rumah sakit yang mengacu pada standar

Departemen Kesehatan dan sasaran strategis Manager

Pelayanan Medik.

Kepala Unit CSSD dalam melaksanakan tugasnya

bertanggung jawab langsung kepada Manager Pelayanan

Medik. Kepala Unit Kamar CSSD membawahi langsung

coordinator CSSD.

29
Yang bertanggung jawab kepada Manager Penunjang Medika.

a. Kepala Unit Farmasi

Kepala Unit Farmasi, mempunyai tugas membantu Manager

Penunjang Medik dalam melaksanakan fungsi utamanya melakukan

kegiatan peracikan, penyimpanan dan penyaluran obat-obatan, bahan

kimia, penyimpanan dan penyaluran alat-alat kesehatan.

Kepala Unit Farmasi dalam melaksanakan tugasnya bertanggung

jawab langsung kepada Manager Penunjang Medik. Kepala Unit

Farmasi membawahi apoteker meliputi :

1) Koordinator pengelolaan perbekalan farmasi.

2) Koordinator pelayanan Farmasi klinik dan peningkatan mutu.

3) Koordinator distribusi.

b. Kepala Unit Laboratorium dan Pelayanan Darah

Kepala Unit Laboratorium dan Pelayanan Darah mempunyai

tugas membantu Manager Penunjang Medik dalam melaksanakan

fungsi utamanya mengelola, mengkoordinir, dan mengawasi serta

melakukan supervisi pada pelaksanaan pelayanan bagi pasien rumah

sakit yang meliputi pemeriksaan imunologi klinik, kimia klinik dan

hematologi khusus, kimia umum, mikrobiologi dan imunologi

umum, hematologi, urine umum, dan mengelola pelayanan

kebutuhan darah di rumah sakit yang mengacu pada standar

30
pelayanan laboratorium rumah sakit dan sasaran strategis Manager

Penunjang Medik.

Kepala Unit Laboratorium dan Pelayanan Darah dalam

melaksanakan tugasnya bertanggung jawab langsung kepada

Manager Penunjang Medik. Kepala Unit Laboratorium dan

Pelayanan Darah membawahi langsung:

(a) Koordinator Patologi Klinik dan Patologi Anatomi.

(b) Koordinator Pelayanan Darah.

c. Kepala Unit Diagnostik

Kepala Unit Diagnostik, mempunyai tugas menbantu Manager

Penunjang Medik dalam melaksanakan fungsi utamanya

mengkoordinir, mengawasi dan mengembangkan pelayanan uji

medik termasuk di dalamnya pekerjaan administrasi, pengendalian

kebutuhan bahan dan kesiapan fasilitas dan peralatan pada

Pelayanan Diagnostik yang mengacu pada standar pelayanan rumah

sakit dan sasaran strategis Manager Penunjang Medik.

Kepala Unit Diagnostik dalam melaksanakan tugasnya

bertanggung jawab langsung kepada Manager Penunjang Medik.

Kepala Unit Diagnostik membawahi langsung penanggung jawab

radiologi, penanggung jawab CT-Scan dan penanggung jawab USG.

31
d. Unit Kepala Gizi

Kepala Unit Gizi mempunyai tugas membantu Manager

Penunjang Medik dalam melaksanakan fungsi utamanya mengelola

dan mengembangkan fungsi penunjang Gizi rumah sakit dan

penyediaan makanan bagi pasien yang meliputi pelayanan produksi

makanan, pelayanan gizi rawat inap dan rawat jalan yang mengacu

pada pelayanan gizi rumah sakit serta sasaran strategis Manager

Penunjang Medik.

Kepala Unit Gizi dalam melaksanakan tugasnya bertanggung

jawab langsung kepada Manager Penunjang Medik. Kepala Unit

Gizi membawahi langsung :

(a) Koordinator pengelolaan dan distribusi makanan.

(b) Koordinator asuhan gizi pasien rawat inap.

(c) Koordinator litbang dan konsultasi gizi.

e. Kepala Unit Rekam Medik

Kepala Unit Rekam Medik mempunyai tugas membantu

Manager Penunjang Medik dalam melaksanakan fungsi utamanya

mengelola dan mengembangkan fungsi penunjang Rekam Medik di

rumah sakit meliputi Administrasi pendaftaran dan penyimpanan data

pasien, pengolahan data dan penyusunan laporan untuk memenuhi

kebutuhan pelayanan medic dan pasien dengan mengacu pada standar

32
pelayanan rekam medic dan sasaran strategis Manager Penunjang

Medik.

Kepala Unit Rekam Medik dalam melaksanakan tugasnya

bertanggung jawab langsung kepada Manager Penunjang Medik.

Kepala Unit Rekam Medik membawahi Langsung :

1) Koordinator Administrasi Rawat Jalan.

2) Koordinator Administrasi Rawat Inap.

3) Koordinator BPJS.

Yang bertanggung jawab kepada Manager Keperawatan :

a. Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan

Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan mempunyai tugas

membantu Manager Keperawatan dalam melaksanakan fungsi

utamanya mengelola, mengkoordinir, dan melakukan supervise serta

mengawasi pelaksanaan pelayanan keperawatan baggi pasien rumah

sakit yang mengacu pada standar asuhan keperawatan dan sasaran

strategis Manager Keperawatan.

Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan dalam melaksanakan

tugasnya bertanggung jawab langsung kepada Manager Perawatan.

Kepala Seksi Pelayanan keperawatan membawahi langsung

staf pelaksana asuhan keperawatan.

33
b. Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Sumber Daya Perawat

Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Sumber Daya Perawat

mempunyai tugas membantu Manager Keperawatan dalam

melaksanakan fungsi utamanya melakukan kegiatan monitoring,

pengawasan dan evaluasi kinerja perawat termasuk kelengkapan

sarana dan prasarana keperawatan.

Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Sumber Daya Perawat

dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab langsung kepada

Manager Perawatan.

Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Sumber Daya Perawat

membawahi langsung staf pelaksana monitoring dan evaluasi sumber

daya perawat.

c. Supervisor

Supervisor bertugas membantu Manager Keperawatan

melaksanakan pengawasan, bimbingan dan bertanggung jawab

terhadap kelancaran pelayanan keperawatan pada waktu sore,

malam dan hari libur dengan wewenangnya mengatur, memobilisasi

dan melemburkan tenaga keperawatan bila perlu serta

menyelesaikan masalah pelayanan asuhan keperawatan.

34
Supervisor dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab

langsung kepada Manager Keperawatan. Supervisor tidak memiliki

bawahan langsung

d. Koordinator Clinical Instructure (CI)

Koordinator CI bertugas mengatur, mengendalikan dan

mengkoordinir pelaksanaan program bimbingan dan pembinaan

tenaga keperawatan dan mahasiswa keperawatan di seluruh unit

ruangan perawatan baik berupa asuhan keperawatan maupun etik

keperawatan.

Koordinator CI dalam melaksanakan tugasnya bertanggung

jawab langsung kepada Manager Keperawatan. Koordinator CI

membawahi langsung seluruh CI di unit-unit perawatan baik rawat

jalan maupun rawat inap.

Yang bertanggung jawab kepada Manager Umum :

a. Kepala Seksi Administrasi Umum

Kepala Seksi Administrasi Umum mempunyai tugas

membantu Manager Umum dalam melaksanakan fungsi utamanya

mengelola manajemen perkantoran yang meliputi kesekretariatan

(surat menyurat), menyimpan arsip dan dokumen penting Rumah

Sakit, pengelolaan kendaraan operasional, Keamanan dan

perparkiran.

35
Kepala Seksi Administrasi Umum dalam melaksnakan

tugasnya bertanggung jawab kepada Manager Umum.

Kepala Seksi Administrasi Umum dalam melaksanakan

tugasnya tersebut membawahi langsung :

1) Koordinator Keamanan dan Perparkiran.

2) Koordinator Kendaraan Operasional.

3) Staf Pelaksana.

b. Kepala Seksi Mekanikal Elektrikal

Kepala Seksi Mekanikan Elektrikal mempunyai tugas membantu

Manager Umum dalam melaksanakan fungsi utamanya mengelola

kegiatan pemeliharaan peralatan mekanik dan elektrik di rumah

sakkit yang meliputi alat-alat medic, mesin-mesin untuk perawatan

pasien, gas medic, AC, jaringan air, listrik dan alat komunikasi, yang

mengacu pada standar operasional prosedur dan program kerja.

Kepala Seksi Mekanikal Elektrikal dalam melaksanakan tugansya

bertanggung jawab kepada Manajer Umum.

c. Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan dan Linen

Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan dan Linen mempunyai

tugas membantu Mnager Umum dalam melaksanakan fungsi

utamanya mengelola kegiatan pemeliharaan kesehatan lingkungan

di rumah sakit yang meliputi pemeliharaan kebersihan, taman dan

36
lingkungan, pengelolaan linen, limbah, sanitasi air bersih, dan

pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan yang mengacu pada

standar operasional prosedur dan program kerja.

d. Kepala Seksi Pemeliharaan Sarana Fisik

Kepala Seksi Pemeliharaan Sarana Fisik mempunyai tugas

membantu Manager Umum dalam melaksanakan fungsi utamanya

mengelola kegiatan pemeliharaan sarana penunjang fisik di rumah

sakit yang meliputi sarana fisik dan konstruksi bangunan yang

mengacu pada standar operasional prosedur dan program kerja.

Kepala Seksi Pemeliharaan Sarana Fisik dalam melaksanakan

tugasnya bertanggung jawab kepada Manager Umum. Kepala

Seksi Pemeliharaan Sarana Fisik membawahi langsung penangung

jabar fisik bangunan.

Yang bertanggung jawab kepada Manager Logistik :

a. Kepala Seksi Logistik Medik

Kepala Seksi Logistik Medik mempunyai tugas membantu

Manager Logistik, dalam melaksanakan fungsi utamanya mengelola

kegiatan pengadaan, penyediaan atau penyimpanan dan distribusi

yang meliputi sediaan farmasi, alat kesehatan, barang reagensia, gas

medic, bahan kimia, bahan radiologi dan bahan nutrisi yang

mengacu kepada standaroperasional prosedur dan program kerja.

37
Kepala Seksi Logistik Medik dalam melaksnakan tugasnya

bertanggung jawab kepada Manager Logistik. Kepala Seksi Logistik

Medik membawahi langsung staf atau pelaksana.

b. Kepala Seksi Logistik Non Medik

Kepala Seksi Logistik Non Medik mempunyai tugas

membantu Manager Logistik dalam melaksanakan fungsi utamanya

mengelola kegiatana pengadaan, penyediaan atau penyimpanan dan

distribusi yang meliputi rutin rumah tangga, alat tulis kantor, suku

cadang, material bangunan, listrik dan investasi alat rumah tangga

yang mengacu kepada standar operasional prosedur dan program

kerja.

Yang bertanggung jawab kepada Manager Keuangan dan Akuntansi :

a. Kepala Seksi Akuntansi

Kepala Seksi Akuntansi mempunyai tugas membantu Manager

Keuangan dan Akuntansi dalam melaksanakan fungsi utamanya

mengelola kegiatan akuntansi keuangan yang meliputi :

a) Verifikasi dan validasi transaksi penerimaan dan pengeluaran kas

dan star kas.

b) Verifikasi dan validasi transaksi piutang.

c) Verifikasi dan validasi transaksi memorial dan posting.

38
d) Administrasi asset tetap, asset tidak berwujud dan penyusutan atau

amortisasi.

e) Proses penyusunan laporan keuangan.

f) Mengelola laporan akuntansi pertanggung jawaban, analisis

investasi, analisis biaya, evaluasi dan pengembangan system

akuntasi dan laporan akuntansi manajemen yang mengacu kepada

Standar Operasional Prosedur yang berlaku serta program kerja.

b. Kepala Seksi Perbendaharaan

Kepala Seksi Perbendaharaan mempunyai tugas membantu

Manager Keuangan dan Akuntansi, dalam melaksanakan fungsi

utamanya mengelola fungsi perbendaharaan rumah sakit yang

meliputi :

a) Bersama-sama dengan Kepala Seksi Anggaran dan

Perpajakan merencanakan angaaran dan proyeksi cash flow

bulanan. Mengelola penerimaan, penyimpanan, pengeluaran

uang, pemberdayaan uang tersimpan, pemantauan

ketersediaan modal kerja rutin dan penagihanyang efektif

yang mengacu kepada Standar Operasional Produser yang

berlaku serta program kerja.

39
b) Kepala Seksi Perbendaharaan dalam melaksanakan tugasnya

bertanggung jawab kepada Manager Keuangan dan

Akuntansi.

c) Kepala Seksi Perbendaharaan membawahi :

(a) Penanggung jawab Penagihan Piutang Umum.

(b) Penanggung jawab Penagihan Piutang Kontraktor.

(c) Penanggung jawab Bendahara Penerima.

(d) Penanggung jawab Bendahara Pengeluaran.

(e) Staf Pelaksana.

c. Kepala Seksi Anggaran dan Perpajakan

Kepala Seksi Anggaran dan Perpajakan mempunyai tugas

membantu Manager Keuanga dan Akuntansi dalam melaksanakan

fungsi utamanya :

(1) Bersama-sama Kepala Seksi Perbendaharaan merencanakan

dan mengelola kegiatan anggaran yang meliputi

pengendalian anggaran dan biaya yang terdiri dari proses

penyusunan anggaran, monitoring pelaksana anggaran dan

evaluasi pelaksanaan anggaran.

(2) Mengelola kegiatan perpajakanyang meliputi pelaksanaan

perhitungan dan pengurusan perpajakan, untuk memenuhi

40
kewajiban rumah sait dan pihak eksternal.Standar

Operasional Prosedur yang berlaku serta program kerja.

Yang bertanggung jawab kepada Manager SDI dan Binroh

a. Kepala Seksi Pelayanan Pegawai

Kepala Seksi Pelayanan Pegawai mempunyai tugas

membantu Manager Sumber Daya Insani (SDI) dan Pembinaan

Rohani (BINROH) dalam melaksanakan fungsi utamanya

mengkoordinasikan kegiatan pelayanan pegawai yang meliputi :

1.) Pemberian gaji, tunjangan, insentif dan benefit-benefit lainnya.

Pemeliharaan data pegawai.

2.) Penyampaian informasi dari rumah sakit kepada pegawai.

3.) Pengelolaan hubungan Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

4.) Pengelolaan jaminan pengobatan pegawai.

5.) Pengelolaan administrasi kepegawaian.

Yang mengacu pada Perjanjian Kerja Bersama (PKB),

peraturan ketenagakerjaan, ketentuang yang berlaku serta program

kerja Bagian SDI.

Kepala Seksi Pelayanan Pegawai dalam melaksanakan

tugasnya bertanggung jawab langsung kepada Manager Sumber

Daya Insani (SDI) dan Pembinaan Rohani (BINROH).

Kepala Seksi pelayanan pegawai membawahi langsung :

41
a.) Penanggung jawab gaji, tunjangann, insentif dan benefit-

benefit lainnya.

b.) Penanggung jawab administrasi kepegawaian.

c.) Staf atau pelaksana.

b. Kepala Seksi Pengembangan Pegawai dan Diklat

Kepala Seksi Pengembangan Pegawai dan Diklat mempunyai

tugas membantu Manager Sumber Daya Insani (SDI) dan

Pembinaan Rohani (BINROH) dalam melaksanakan fungsi

utamanya mengelola dari kegiatan pengembangan dan pendidikan

serta pelatihan yang meliputi :

a.) Pemberian masukan untuk pengembangan sistem-sistem

manajemen SDI (seperti recruitment dan seleksi,

pengembangan karir, pengembangan kompetensi, imbal jasa

dll) dan mengkoordinir implementasinya.

b.) Koordinasi penyusunan rencana tenaga kerja.

c.) Koordinasi pelaksanaan rekruitmen orientasi, seleksi dan

penempatan pegawai.

d.) Koordinasi pemantauan dan pengelolaan kinerja pegawai

(termasuk dalam hal motivasi dan disiplin).

e.) Koordinasi pemantauan tingkat kesesuaian kompetensi

pegawai.

42
f.) Menyusun materi dan jadwal standar kurikulum diklat untuk

pegawai.

Yang mengacu pada kebijakan SDI, PKB, peraturan

ketenagakerjaan dan ketentuan yang berlaku serta program kerja

Bagian SDI daan BINROH.

Kepala Seksi Pengembangan Pegawai dan Diklat dalam

melaksanakan tugasnya bertanggung jawab langsung kepada

Manager Sumber Daya Insani(SDI) dan Pembinaan Rohani

(BINROH).

Kepala Seksi Pengembangan Pegawai dan Diklat membawahi

langsung : Penanggung jawab Absensi dan Rekruitmen Pegawai,

Penanggung jawab Diklat.

c. Kepala Seksi BINROH

Kepala Seksi BINROH mempunyai tugas membantu Manager

Sumber Daya Insani (SDI) dan Pembinaan Rohani (BINROH) dalam

melaksanakan fungsi utamanya mengkoordinasikan kegiatan

pelayanan pembinaan rohani yang meliputi :

(a) Pembinaan Rohani pasien dan keluarga pasien.

(b) Pembinaan agama bagi pegawai sesuai Pedoman Hidup Islami

Warga Muhammadiyah (PHIWM).

(c) Koordinasi dengan Tim Pengelolaan ZIS.

43
(d) Pengelola Badan Ta’mir Masjid RS. Muhammadiyah Bandung.

(e) Pelaksanaan Dakwah untuk masyarakat luas.

7. Kepala Satuan Pemeriksaan Intern (SPI)

a. Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) mempunyai tugas membantu

Direktur, fungsi utamanya mengawasi dan mengendalikan

pelaksanaan kegiatan pemeriksaan internal rumah sakit agar

memenuhi ketentuan yang berlaku dalam aspek penggunaan

keuangan rumah sakit, penerapan prosedur, dan kaidah manajemen

yang efektif dan islami, pemenuhan persyaratan akreditasi rumah

sakit, pemenuhan peraturan-peraturan pemerintah yang terkait

dengan rumah sakit.

b. Kepala Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) dalam melaksanakan

tugasnya bertanggung jawab kepada Direktur.

c. Kepala Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) membawahi :

Tenaga Fungsional Pemeriksa Intern Pelayanan Rawat Jalan, Rawat

Inap dan Penunjang.

Tenaga Fungsional Pemeriksa Intern Keuangan, Umum dan SDI.

1. Kepala Humas dan Legal

a. Kepala Humas dan Legal mempunyai tugas membantu Direktur,

fungsi utamanya melakukan hubungan dengan pihak ketiga dan

intern Rumah Sakit dalam mengendalikan pelaksanaan kegiatan

44
operasional di rumah sakit agar memenuhi ketentuan yang berlaku

dalam aspek :

(1) Menjalin hubungan luas dengan pihak-pihak eksternal yang

akan melakukan kerjasama dengan Rumah Sakit.

(2) Meningkatkan hubungan silaturahmi dan kerjasama dengan

memperluas jaringan kesehatan baik dengan pemerintah

maupun dengan masyarakat / instansi lainnya.

(3) Meningkatkan hubungan kerjasama antar unit kerja dan

mendistribusikan informasi kegiatan dan perkembangan intern

Rumah Sakit.

(4) Membuat dan menganalisa aspek hokum pada kerjasama yang

dilakukan Rumah Sakit dengan pihak lain.

(5) Melakukan advokasi dan bantuan hokum bagi Rumah Sakit

dan Tenaga Kerja yang mengalami tuntutan hokum.

(6) Melakukan kerjasama dengan pihak eksternal, menyusun dan

mengevaluasi MOU yang diperlukan.

(7) Melakukan publikasi atas aktivitas Rumah Sakit.

(8) Menjadi juru bicara Rumah Sakit dalam pemberian informasi

atau penerangan mengenai kasus-kasus khusus di Rumah Sakit

dengan didampingi oleh Kepala Seksi Pemasaran dan

Pencitraan.

45
(9) Mengurus perijinan Rumah Sakit.

(10) Mengkoordinir penyelesaian keluhan pelanggan yang

berpotensi hokum.

(11) Memberikan masukan, membuat pedoman dan melakukan

pemantauan untuk memastikan kesesuaian hukum dari

seluruh kegiatan di Rumah Sakit.

b. Kepala Humas dan Legal dalam melaksanakan tugasnya

bertanggung jawab kepada Direktur.

c. Kepala Humas dan Legal membawahi staf Humas, staf legal

drafter, staf legal officer.

2. Komite Medik

a. Komite medik adalah perangkat rumah sakit bertugas untuk

menerapkan tata kelola klinis yang baik (Good clinical

governance) dengan fungsi utamanya melakukan mekanisme

kredensial penjagaan mutu profesi medic, dan pemeliharaan etika

dan disiplin profesi medic.

b. Komite medik membawahi sub komite kredensial, sub komite

mutu, sub komite etik dan disiplin.

c. Pembentukan Komite Medik dilakukan oleh Direksi.

46
3. Komite Keperawatan

a. Komite Keperawatan bertugas membantu Direksi, fungsi

utamanya memberi masukan kepada Direktur Rumah Sakit dalam

hal Rumusan kebijakan, kode etik, dan strandar profesi

keperawatan yang berlaku di rumah sakit, Proses kredensial

penerimaan perawat di rumah sakit, Pertimbangan terhadap

masalah-masalah atau kejadian-kejadian khusus di rumah

sakityang terkait dengan perawat dan pengembangan profesi serta

system keperawatan di rumah sakit, yang mengacu pada peraturan

perundang-undangan dan ketetapan Badan Pelaksana Harian

Rumah Sakit.

b. Anggota Komite Keperawatan dari tenaga professional

keperawatan dan bidan secara ex-pfficio.

c. Pembentukan Komite Keperawatan dilakukan oleh Direksi.

4. Komite Mutu RS

a. Komite Peningkatan Mutu Rumah Sakit merupakan kelompok

kerja bertugas membantu direktur dalam fungsi utamanya

mengelola dan mengkoordinir pelaksanaan program

pengembangan manajemen mutu dan mengkoordinir kegiatan

penelitian untuk pengembangan rumah sakit serta mengawasi dan

mengendalikan pelaksanaan kegiatan operasional rumah sakit agar

47
memenuhi ketentuan yang berlaku dalam aspek pengendalian

infeksi rumah sakit, keselamatan kesehatan kerja dan

penanggulangan bencana di rumah sakit dan keselamatan pasien

yang mengacu pada standar operasional prosedur dan ketentuan

peraturan yang berlaku serta sasaran strategis Direktur.

b. Ketua Peningkatan Mutu Rumah sakit dalam melaksanakan

tugasnya bertanggung jawab kepada Direktur.

c. Komite Peningkatan Mutu Rumah Sakit membawahi :

(1) Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi (PPI).

(2) Keselamatan Pasien.

(3) Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

K. Jenis Pelayanan Rumah Sakit

1. Pelayanan Rawat Jalan.

2. Pelayanan Rawat Inap.

3. Pelayanan Gawat Darurat.

4. Pelayanan Rawat Intensif.

5. Pelayanan Rehabilitasi Medik.

6. Pelayanan Operasi.

7. Pelayanan Farmasi.

8. Pelayanan Radiologi.

9. Pelayanan USG, CT Scan, EKG, dll.

48
10. Pelayanan Laboratorium ( Anatomi dan Klinik)

11. Pelayanan Gizi.

12. Pelayanan Rohani.

13. Pelayanan ODS.

14. Pelayanan Hemodialisa.

15. Penyuluhan Kesehatan Di Rumah Sakit.

16. Pelayanan Keluarga Berencana.

17. Pelayanan ODHA.

18. Poli DOTS.

19. Pelayanan Home Care.

20. Spesialis Bedah.

21. Spesialis Obsetry dan Ginekologi.

22. Spesialis Kesehatan Anak.

23. Spesialis Penyakit Dalam.

24. Spesialis Mata.

25. Spesialis THT.

26. Spesialis Syaraf.

27. Spesialis Paru.

28. Spesialis Jiwa.

29. Spesialis Bedah Syaraf.

30. Spesialis Bedah Urologi.

49
31. Spesialis Bedah Oncologi.

32. Spesialis Rheomatologi

33. Spesialis Jantung.

34. Spesialis Patologi Klinik.

35. Spesialis Endokrin.

36. Spesialis Rehabilatasi Medik.

50
BAB III

PENATALAKSANAAN

A. Struktur Organisasi Ruangan Kebidanan Rawatan

MANAJER
KEPERAWATAN

KA UNIT
RAWAT INAP
KASIE MONEY KASIE YANKEP

KEPALA RUANGAN

CLINICAL
INSTRUKTUR

KATIM I KATIM II
PAMLOG PAMLOG

ANGGOTA
ANGGOTA

PRAKARYA KESEHATAN

51
B. Ruang Lingkup

Ruang lingkup Kebidanan Rawatan yaitu: ibu hamil dengan patologi, ibu post

partus, ibu masa nifas, ibu post SC, ibu post kuretase dan ibu dengan patologi

kebidanan.

C. Alur Penatalaksanaan di Ruangan Kebidanan Rawatan

Pasien
datang

IGD

LABOR loket

RM

Kb
tindakan

Kb rawatan

kassa

Pasien

pulang

52
Alur Penatalaksanaan di Ruangan Kebidanan Rawatan

1. Pasien Datang

2. Masuk IGD :

a. Ke pelayanan penunjang seperti laboratorium jika ada pemeriksaan

laboratorium, ke radiologi untuk Rontgen atau ke Fisioterapi.

b. Salah satu keluarga mendaftar diloket

3. Ke Rekam Medik untuk mendapatkan status

4. Kebidanan tindakan

5. Kebidanan Rawatan

6. Kassa

7. Pasien pulang.

D. Penatalaksanaan Kasus

1. Tinjauan umum tentang Kehamilan


a) Pengertian Kehamilan

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan

didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum

dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat

fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam

waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender

Internasional (Sarwono, 2014).

53
Kehamilan merupakan suatu proses yang alamiah dan fisiologis.

Setiap wanita yang memiliki organ reproduksi sehat, yang telah mengalami

menstruasi, dan melakukan hubungan seksual dengan seorang pria yang organ

reproduksinya sehat sangat besar kemungkinannya akan mengalami

kehamilan (Mandriwati, 2012).

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya

hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari

hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi menjadi 3 triwulan, triwulan

pertama dimulaisejak 0-3 bulan, triwulan kedua dari 4-6 bulan, triwulan

ketiga dari 7-9 bulan (Pudiastuti, 2012).

b) Klasifikasi kehamilan

Menurut Manuaba (2007), klasifikasi kehamilan meliputi :

(a) Kehamilan trimester 1 : 0 sampai 14 minggu .

(b) Kehamilan trimester II : 14 sampai 28 minggu .

(c) Kehamilan trimester III : 28 sampai 40 minggu.

c) Proses kehamilan

Menurut Wiknjosastro (2006), proses kehamilan merupakan mata

rantai yang berkesinambungan yang terdiri atas :

a) Ovulasi adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi oleh sistem

hormon yang kompleks.

54
b) Terjadinya migrasi spermatozoa dan ovum dengan gerak aktif tuba yang

memiliki fibriae, maka ovum diangkap dan menuju uterus, sedangkan

spermatozoa masuk kedalam alat genetalia menuju tuba fallopi.

c) Konsepsi dan pertumbuhan zigot adalah pertemuan inti ovum dengan inti

spermatozoa.

d) Nidasi (implantasi) pada uterus adalah proses penempelan hasil konsepsi di

dalam endometrium.

e) Pembentukan plasenta.

f) Tumbuh kembang hasil konsepsi hingga aterm.

d) Tanda-tanda Kehamilan

1) Tanda-tanda kemungkinan hamil

Tanda-tanda kemungkinan hamil menurut Wiknjosastro (2007), adalah :

a) Amenorhoe, (tidak dapat haid) gejala ini penting karena wanita

hamil tidak dapat haid lagi.

b) Nause (enek) dan emesis (Mual), enek terjadi umumnya pada

bulan-bulan pertama kehamilan disertai kadang-kadang oleh emesis

sering terjadi di pagi hari.

c) Sering buang air kecil.

d) Rasa tergelitik, nyeri tekan, pembengkakan pada payudara.

e) Perubahan warna pada jaringan vagina dan servik.

55
f) Areola berwarna lebih gelap dan kelenjar-kelenjar di sekitar puting

menjadi menonjol.

g) Mengidam, sering terjadi pada bulan pertama tetapi menghilang

dengan makin tuanya kehamilan.

h) Pembesaran rahim dan perut.

i) Kontraksi sebentar-sebentar terasa nyeri.

2) Tanda-tanda tidak pasti kehamilan

Menurut Wiknjosastro (2007), tanda-tanda pasti hamil, yaitu :

a) Rahim membesar sesuai dengan tuanya kehamilan.

b) Tanda hegar, perlunaan pada daerah segmen bawah uterus.

c) Tanda chadwick, vagina livid, terjadi kira-kira minggu ke-6.

d) Tanda piscaseck, uterus membesar kesalah satu jurusan.

e) Tanda Braxton hicks, uterus berkontraksi bila dirangsang. Tanda ini

khas untuk uterus pada kehamilan.

f) Suhu basal, meningkat terus antara 37,20 – 37,80 C.

g) Tes kehamilan, yang banyak dipakai adalah pemeriksaan hormone

korionik gonadotropin (HCG dalam urin).

3) Tanda-tanda pasti kehamilan

Tanda-tanda pasti hamil menurut Wiknjosastro (2006), yaitu :

a) Gambaran janin atau kantong gestasi pada ultrasonografi.

56
b) Detak jantung janin didengarkan menggunakan stetoskop leenex dan

dilihat melalui gambaran USG.

c) Gerakan janin terasa melalui dinding perut.

e) Komplikasi kehamilan

Menurut Wiknjosastro (2007), komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu

hamil adalah :

1) Keguguran (aborsi spontan) dan kelahiran mati. Keguguran adalah

kehilangan janin karena penyebab alami sebelum usia kehamilan mencapai

20 minggu, sedangkan kelahiran mati (stillbirth) kehilangan janin karena

penyebab alami pada usia kehamilan mencapai lebih dari 20 minggu.

2) Kehamilan ektopik (kehamilan diluar kandungan) kehamilan di mana janin

berkembang diluar rahim yaitu di dalam tuba falopi (saluran telur), kanalis

servikalis (saluran leher rahim) dan rongga panggul maupun rongga perut.

3) Anemia, keadaan di mana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin

(protein pengangkut O2) kurang dari normal. Selama hamil volume darah

bertambah sehingga penurunan konsentrasi sel darah merah dan

hemoglobin yang sifatnya mencegah adalah normal.

4) Abrupsio plasenta dan plasenta previa. Abrupsio plasenta adalah

pelepasan plasenta yang berada dalam posisi normal pada dinding rahim

sebelum waktunya yang terjadi pada saat kehamilan. Sedangkan plasenta

previa di mana plasenta yang tertanam di atas atau di dekat servik (leher

57
rahim) pada rahim bagian bawah. Di dalam rahim plasenta bisa menutupi

lubang serviks secara keseluruhan atau sebagian. Plasenta previa biasanya

terjadi pada wanita yang telah hamil lebih dari satu kali atau wanita yang

memiliki kelainan rahim misalnya fibroid.

5) Hiperemesis gravidarium salah satu komplikasi kehamilan di mana mual

dan muntah yang berlebihan selama masa hamil yang dapat menyebabkan

dehidrasi dan kelaparan.

6) Pre-eklamsi merupakan tekanan darah tinggi yang disertai dengan

proteinuria (protein dalam air kemih) atau edema (penimbunan cairan)

yang terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama

setelah persalinan.

2. Tinjauan Umum tentang Abortus

1. Pengertian Abortus

Abortus adalah terancamnya atau keluarnya buah kehamilan baik

sebagian ataupun keseluruhan pada umur kehamilan lewat dari 20 minggu.

Kematian janin dalam rahim disebut Intra Uterine Fetal Death (IUFD), yakni

kematian yang terjadi saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu atau pada

trimester kedua dan atau yang beratnya 500 gram. Jika terjadi pada trimester

pertama disebut keguguran atau abortus (Setiawati, 2013).

58
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan akibat faktor tertentu atau

sebelum kehamilan tersebut berusia 20 minggu atau buah kehamilan belum

mampu untuk hidup diluar kandungan (Yulaikha Lily, 2015).

2. Macam-macam Abortus

dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:

a. Abortus Spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran): merupakan ±20 %

dari semua abortus. Abortus spontan adalah setiap kehamilan yang

berakhir secara spontan sebelum janin dapat bertahan. WHO

mendefinisikan sebagai embrio atau janin seberat 500 gram atau kurang,

yang biasanya sesuai dengan usia janin (usia kehamilan) dari 20 hingga 22

minggu atau kurang. Abortus spontan terjadi pada sekitar 15%-20% dari

seluruh kehamilan yang diakui, dan biasanya terjadi sebelum usia

kehamilan memasuki minggu ke-13 (Fauziyah, 2012).

Gejala abortus spontan adalah kram dan pengeluaran darah dari

jalan lahir adalah gejala yang paling umum terjadi pada abortus spontan.

Kram dan pendarahan vagina yang mungkin tejadi sangat ringan, sedang,

atau bahkan berat. Tidak ada pola tertentu untuk berapa lama gejala akan

berlangsung. Selain itu gejala lain yang menyertai abortus spontan yaitu

nyeri perut bagian bawah, nyeri pada punggung, pembukaan leher rahim

dan pengeluaran janin dari dalam rahim.

59
Berdasarkan gambaran klinisnya, abortus dibagi menjadi:

1) Abortus Imminiens (keguguran mengancam). Abortus ini baru

mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya. Pada

abortus ini terjadinya pendarahan uterus pada kehamilan sebelum usia

kehamilan 20 minggu, janin masih dalam uterus, tanpa adanya dilatasi

serviks. Diagnosisnya terjadi pendarahan melalui ostium uteri

eksternum disertai mual, uterus membesar sebesar tuanya kehamilan.

Serviks belum membuka, dan tes kehamilan positif.

2) Abortus incipiens (keguguran berlangsung). Abortus ini sudah

berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi. Pada abortus ini peristiwa

peradangan uterus pada kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu

dengan adanya dilatasi serviks. Diagnosisnya rasa mulas menjadi lebih

sering dan kuat, pendarahan bertambah.

3) Abortus incompletes (keguguran tidak lengkap). Sebagian dari buah

kehamilan telah dilahirkan tapi sebagian (biasanya jaringan plasenta)

masih tertinggal di dalam rahim. Pada abortus ini pengeluaran sebagian

janin pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa

tertinggal dalam uterus. Pada pemeriksaan vaginal, servikalis terbuka

dan jaringan dapat diraba dalam kavun uteri atau kadang-kadang sudah

menonjol dari ostium uteri eksternum. Pendarahan tidak akan berhenti

sebelum sisa janin dikeluarkan, dapat menyebabkan syok.

60
4) Abortus komplit (keguguran lengkap). Seluruh buah kehamilan telah

dilahirkan dengan lengkap. Pada abortus ini, ditemukan pendarahan

sedikit, ostium uteri telah menutup, uterus sudah mengecil dan tidak

memerlukan pengobatan khusus, apabila penderita anemia perlu diberi

sulfat ferrosus atau transfusi (Fauziyah, 2012).

5) Missed Abortion (keguguran tertunda) ialah keadaan dimana janin telah

mati sebelum minggu ke-22. Pada abortus ini, apabila buah kehamilan

yang tertahan dalam rahim selama 8 minggu atau lebih. Sekitar

kematian janin kadang-kadang ada perdarahan sedikit sehingga

menimbulkan gambaran abortus imminiens (Sulistyawati, 2013).

6) Abortus habitualis (keguguran berulang-ulang), ialah abortus yang

telah berulang dan berturut-turut terjadi: sekurang-kurangnya 3X

berturut-turut.

7) Abortus infeksiosus, abortus septic Abortus infeksiosus ialah abortus

yang disertai infeksi pada alat genetalia.Abortus septik ialah abortus

yang disertai penyebaran infeksi pada peredaran darah tubuh (Sarwono,

2014).

b. Abortus Provocatus (disengaja, digugurkan): 80 % dari semua abortus

dibagi atas 2 yaitu:

61
1) Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeuticus.

Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeuticus ialah

pengguguran kehamilan biasanya dengan alat-alat dengan alasan bahwa

kehamilan membahayakan membawa maut bagi ibu, misalnya karena ibu

berpenyakit beratmisalnya: penyakit jantung, hypertensi essentialis, carcino

ma dari serviks.

2) Abortus Provocatus criminalis

Abortus buatan kriminal (abortus propocatus criminalis) adalah

pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang sah atau oleh orang yang

tidak berwenang dan dilarang oleh hukum (Feryanto,2014).

Abortus provocatus criminalis adalah pengguguran kehamilan tanpa

alasan medis yang sah dan dilarang oleh hukum. Abortus provokatus dapat

dilakukan dengan pemberian prostaglanding atau curettage dengan

penyedotan (Vacum) atau dengan sendok kuret (Pudiastusi, 2012).

3. Etiologi

Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi

terdapat beberapa faktor sebagai berikut:

Ada beberapa faktor-faktor penyebab abortus adalah

a. Faktor pertumbuhan hasil konsespi. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi

dapat menyebabkan kematian janin dan cacat bawaan yang menyebabkan

62
hasil konsepsi dikeluarkan. Gangguan pertumbuhan hasil konsepsi dapat

terjadi karena :

1) Faktor kromosom. Gangguan terjadi sejak semula pertemuan

kromosom termasuk kromosom seks.

2) Faktor lingkungan endometrium

a. Endometrium yang belum siap untuk menerima implantasi hasil

konsepsi.

b. Gizi ibu kurang karena anemia atau jarak kehamilan terlalu pendek.

3) Pengaruh luar.

a. Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil

konsepsi.

b. Hasil konsepsi berpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan

pertumbuhan hasil konsepsi terganggu.

b. Kelainan pada plasenta

1) Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga plasenta tidak

dapat berfungsi. Gangguan pembuluh dara plasenta diantaranya diabetes

mellitus.

2) Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran dara plasenta sehingga

menimbulkan keguguran.

63
c. Penyakit ibu.

Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin

dalam kandungan melalui plasenta.

1) Penyakit infeksi seperti pneumonia, tifus abdominalis, malaria dan sifilis

2) Anemia ibu melalui gangguan nutrisi dan gangguan peredaran O2 menuju

sirkulasi retroplasenter.

3) Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal. Penyakit hati,

dan penyakit diabetes mellitus kelainan yang terdapat dalam rahim.

Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai

keadaan abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus arkuatus, uterus septus,

retroplefsia uteri, serviks inkompeten, bekas operasi pada serviks (kolisasi,

amputasi, serviks), robekan serviks postpartum (Manuaba, Ida Ayu

Candranita dkk, 2013).

4. Patofisiologi

Pada awal abortus, terjadi pendarahan dalam desidua basalis kemudian

diikuti oleh nekrosi jaringan sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil

konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya sehingga merupakan benda asing

dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk

mengeluarkan isinya.Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, hasil konsepsi itu

biasanya dikeluarkan seluruhnya karena vili korialis belum menembus desidua

secara mendalam.

64
Pada kehamilan antara 8 dan 14 minggu, vili korinalis menembus

desidua lebih dalam dan umumnya plasenta tidak dilepaskan dengan sempurna

sehingga dapat menyebabkan banyak pendarahan. Pada kehamilan 14 minggu

ke atas, umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin,

disusul setelah beberapa waktu kemudian adalah plasenta. Pendarahan tidak

banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap. Peristiwa abortus ini

menyerupai persalinan dalam bentuk miniatur (Yulaikha, 2015).

5. Diagnosis Abortus

Sebagai seorang bidan pada kasus perdarahan awal kehamilan yang

harus dilakukan adalah memastikan arah kemungkinan keabnormalan yang

terjadi berdasarkan hasil tanda dan gejala yang ditemukan, yaitu melalui.

1) Anamnesa

1. Usia kehamilan ibu (kurang dari 20 minggu).

2. Adanya kram perut atau mules daerah atas sympisis,

nyeri pinggang akibat kontraksi uterus.

3. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan

keluarnya jaringan hasil konsepsi.

2) Pemeriksaan fisik

Hasil pemeriksaan fisik di dapat:

1) Biasanya keadaan umum (KU) tampak lemah.

2) Tekanan darah normal atau menurun.

65
3) Denyut nadi normal, cepat atau kecil dan lambat.

4) Suhu badan normal atau meningkat.

5) Pembesaran uterus sesuai atau lebih kecil dar]i usia

kehamilan.

3) Pemeriksaan ginekologi

Hasil pemeriksaan ginekologi didapat:

Inspeksi vulva untuk menilai perdarahan pervaginam

dengan atau tanpa jaringan hasil konsepsi.

1. Pemeriksaan pembukaan serviks.

2. Inspekulo menilai ada/tidaknya perdarahan dari cavum

uteri, ostium uteri terbuka atau tertutu, ada atau tidaknya

jaringan di ostium.

3. Vagina Toucher (VT) menilai portio masih terbuka atau

sudah tertutup teraba atau tidak jaringan dalam cavum

uteri, tidak nyeri adneksa, kavum doglas tidak nyeri.

4) Pemeriksaan penunjang dengan ultrasonografi (USG) oleh

dokter (Irianti, 2014).

6. Tatalaksana umum

Klasifikasi Abortus dan Penanganannya:

Sebelum penanganan sesuai klasifikasinya, abortus memiliki

penanganan secara umum antara lain:

66
a. Lakukan penilaian secara cepat mengenai keadaan umum ibu termasuk

tanda-tanda vital (nadi, tekann darah, pernapasan, suhu).

b. Pemeriksaan tanda-tanda syok (akral dingin,pucat, takikardi, tekanan

sistolik <90 mmHg). Jika terdapat syok, lakukan tatalaksana awal syok.

Jika tidak terlihat tanda-tanda syok, tetap fikirkan kemungkinan tersebut

saat penolong melakukan evaluasi mengenai kondisi ibu karena

kondisinya dapat memburuk dengan cepat.

c. Bila terdapat tanda-tanda sepsis atau dugaan abortus dengan komplikasi,

berikut kombinasi antibiotika sampai ibu bebas demam untuk 48 jam:

1. Ampisilin 2 g lV/IM kemudian 1 g diberikan setiap 6 jam.

2. Gentamicin 5 mg/kgBB IV setiap 24 jam

3. Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam

d. Segerah rujuk ibu ke rumah sakit.

e. Semua ibu yang mengalami abortus perlu mendapat dukungan emosional

dan kongseling kontrasepsi pasca keguguran.

f. Lakukan tatalaksana selanjutnya sesuai jenis abortus (WHO, 2013).

1. Abortus imminiens adalah Penangananya:

a. Berbaring, cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan

sehingga rangsang mekanik berkurang.

b. Pemberian hormon progesteron

c. Pemeriksa ultrasonografi (USG).

67
2. Abortus Insipiens adalah pengeluaran janin dengan kuret vakum atau cunan

ovum, disusul dengan kerokan. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu bahaya

peforasi pada kerokan lebih besar, maka sebaiknya proses abortus dipercepat

dengan pemberian infus oksitosin. Sebaliknya secara digital dan kerokan bila

sisa plasenta tertinggal bahaya peforasinya kecil.

3. Abortus inkomplit adalah begitu keadaan hemodinamik pasien sudah dinilai

dan pengobatan dimulai, jaringan yang tertahan harus diangkat atau

perdarahan akan terus berlangsung. Oksitosik (oksitosin 10 IU/500ml larutan

dekstrosa 5% dalam larutan RL IV dengan kecepatan kira-kira 125 ml/jam)

akan membuat uterus berkontraksi, membatasi perdarahan, membantu

pengeluaran bekuan darah atau jaringan dan mengurangi kemungkinan

perforasi uterus selama dilatasi dan kuretase.

4. Abortus komplit dan abortus tertunda (missed Abortion) Penganan terbaru

missed abortion adalah induksi persalinan dengan supositoria prostaglandin

E2, jika perlu dengan oksitosin IV (C.Benson, 2013).

7. Komplikasi pada Abortus

Komplikasi yang terjadi pada abortus yang di sebabkan oleh abortus

kriminalis dan abortus spontan adalah sebagai berikut:

a. Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil

konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena

68
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak di berikan pada

waktunya.

b. Infeksi kadang-kadang sampai terjadi sepsis, infeksi dari tuba dapat

menimbulkan kemandulan.

c. Faal ginjal rusak disebabkan karena infeksi infeksi dan syok. Pada pasien

dengan abortus diurese selalu harus diperhatikan. Pengobatan ialah dengan

pembatasan cairan dengan pengobatan infeksi.

d. Syok bakteril: terjadi syok yang berat rupa-rupanya oleh toksin-toksin.

Pengobatannya ialah dengan pemberian antibiotika, cairan, corticosteroid

dan heparin.

e. Perforasi: ini terjadi karena curratage atau karena abortus kriminalis

(Pudiastuti,2012).

3. Tinjauan khusus tentangAbortus Inkomplit

1. Pengertian Abortus Inkomplit

Abortus inkomplit (keguguran tidak lengkap) adalah pengeluaran

sebagian janin pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa

tertinggal dalam uterus. Pada pemeriksaan vaginal, servikalis terbuka dan

jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol

dari ostium uteri eksternum. Pendarahan tidak akan berhenti sebelum sisa

janin dikeluarkan, dapat menyebabkan syok (Irianti, 2012).

69
2. Tanda-tanda Abortus Inkomplit

a. Setelah tejadi abortus dengan pengeluaran jaringan, pendarahan berlangsung

terus.

b. Sering cervix tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang

dianggap corpus allieum, maka uterus akan berusaha mengeluarkannya

dengan mengadakan kontraksi. Tetapi kalau keadaan ini dibiarkan lama

cerviksakan menutup kembali (Pudiastuti, 2012).

3. Diagnosis

1) Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis.

2) Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat.

3) Terjadi infeksi ditandai suhu tinggi.

4) Dapat terjadi degenerasi ganas.

5) Pada pemeriksaan dijumpai gambaran:

1) Kanalis servikalis terbuka

2) Dapat diraba jaringan dalam rahim.

3) Lakukan pemeriksaan bimanual: ukuran uterus, dilatasi, nyeri tekan,

penipisan serviks, serta kondisi ketuban.

4) Jika hasil pemeriksaan negatif, lakukan pemeriksaan denyut jantung

janin untuk menentukan kelangsungan hidup janin dan tenangkan

keadaan ibu.

70
5) Jika perdarahan terus berlanjut, khususnya jika ditemui uterus lebih

besar dari yang harusnya mungkin menunjukkan kehamilan ganda atau

molahidatidosa.

6) Jika perdarahan berhenti, lakukan asuhan antenatal seperti biasa dan

lakukan penilaian jika terjadi perdarahan lagi.

7) Konsultasi dan rujuk ke dokter spesialis jika terjadi perdarahan hebat,

kram meningkat atau hasil pemeriksaan menunjukkan hasil abnormal

(Yulaikhah, 2015:79-80).

4. Penanganan Abortus Inkomplit

Persiapan Sebelum Tindakan

1. Pasien

a. cairan dan selang infus sudah terpasang, perut bawah dan lipat paha

sudah dibersihkan dengan air dan sabun.

b. Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi kardiopulmoner.

c. Siapkan kain alas bokong dan penutup perut bawah.

d. Medikamentosa

1. Analgetika (pethidin 1-2 mg/kg BB, ketamin HCI 0,5 mg/kg BB,

tramadol 1-2 mg/kg BB)

2. Sedatifa (diazepan 10 mg)

3. Atropin sulfat 0,25-0,50 mg/kg

e. Larutan antiseptik (povidon iodin 10%).

71
f. Oksigen dengan regulator.

g. Instrumen :

1) Cunam tampon: 1

2) Klem ovum (foersters/fenster clemp) lurus : 2

3) Sendok kuret pasca persalinan : 1

4) Spekulum sim’s atau L dan kateter karet : 2 dan 1

5) Tabung ml dan jarum suntik no 23 (sekali pakai) : 2

2. Penolong (operator dan asisten)

1) Baju kamar tindakan, apron, masker dan kacamata pelindung : 3 set

2) Sarung tangan DTT/steril : 4 pasang

3) Alas kaki (sepatu atau boot karet) : 3 pasang

4) Instrumen :

a. Lampu sorot : 1

b. Mangkok logam : 2

c. Penampung udara dan jaringan : 1

· Tindakan Umum :

a. Instruksikan asisten untuk memberikan analgetik.sedative dan

b. Bila penderita tidak berkemih, lakukan kateterisasi (lihat prosedur

kateteresasi).

c. Setelah kandung kemih dikosongkan, lakukan pemeriksaan bimanual.

Tentukan besar uterus dan bukaan serviks.

72
d. Bersihkan dan lakukan dekontaminasi sarung tangan dengan larutan klorin

0,5%.

e. Pakai sarung tangan DTT/steril yang baru.

f. Pasang spekulum sim’s atau L, masukkan bilahnya secara vertikal kemudian

putar ke bawah.

g. Pasang spekulum sim’s berikutnya dengan jalan memasukkan bilahnya

secara vertikal kemudian putar dan tarik ke atas sehingga porsio tampak

dengan jelas.

h. Minta asisten untuk memegang spekulum atas dan bawah, pertahankan pada

posisinya semula.

i. Dengan cunam tampon, ambil kapas yang telah dibasahi dengan larutan

antiseptik, kemudian bersihkan lumen vagina dan poriso. Buang kapas

tersebut dalam tempat sampah yang tersedia, kembalikan cunam ke tempat

semula.

j. Ambil klem ovum yang lurus, jepit bagian atas porsio (perbatasan antara

kuadran atas kiri dan kanan atau pada jam 12).

k. Setelah porsio terpegang baik, lepaskan spekulum atas.

l. Pegang gagang cunam dengan tangan kiri, ambil sendok kuret pasca

persalinan dengan tangan kanan, pegang diantara ibu jari dan telunjuk

(gagang sendok berada pada telapak tangan), kemudian masukkan hingga

menyentuh fundus.

73
m. Minta asisten untuk memegang klem ovum, letakkan telapak tangan pada

bagian atas fundus uteri (sehingga penolong dapat merasakan tersentuhnya

fundus oleh ujung sendok kuret).

n. Memasukkan lengkung sendok kuret sesuai engan lengkung cavum uteri

kemudian laukan pengerokan dinding uterus bagian depan searah dengan

jarum jam, secara sistematis.

o. Masukkan ujung sendok sesuai dengan cavum lengkung uteri setelah sampai

fundus, kemudian putar 180 derajat, lalau bersihkan dinding belakang uterus.

Kemudian keluarkan jaringan yang ada.

p. Kembalikan sendok kuret ke tempat semula, gagang klem ovum dipegang

kembali oleh operator.

q. Ambil kapas (dibasahi larutan antiseptik) dengan cunam tampon, bersihkan

darah dan jaringan pada lumen vagina.

r. Lepaskan jepitan klem ovum pada porsio.

s. Lepaskan spekulum bawah.

t. Lepaskan kain penutup perut bawah, alas bokong dan sarung kaki masukkan

ke dalam wadah yang berisi larutan klorin 0,5%.

u. Dekontaminasi

v. Cuci Tangan Sebelum Pasca tindakan

w. Perawatan Pasca tindakan

74
5. Komplikasi abortus inkomplit

a. Perdarahan

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa

hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena

perdarahan dapat terjadi apabil pertolongan tidak diberikan pada waktunya

b. Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus

pada posisi hiperretrofleksi. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadi

perforasi, laparatomi harus segerah di lakukan untuk menentukan luasnya

perlukaan pada uterus dan apakah ada perlukaan alat-alat lain.

c. Infeksi

Infeksi dalam uterus dan sekitarnya dapat terjadi disetiap abortus,

tetapi biasanya ditemukan pada abortus inkomplit dan lebih sering pada

abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan

antisepsis.

d. Syok

Syok pada abortus biasa terjadi karena perdarahan dan karena

infeksi berat.

e. Kematian

Abortus berkontribusi terhadap kematian ibu sekitar 15%.Data

tersebut sering kali tersembunyi di balik data kematian ibu akibat

75
perdarahan. Data lapangan menunjukkan bahwa sekitar 60% -70%

kematian ibu disebabkan oleh perdarahan , dan sekitar 60% kematian

akibat perdarahan tersebut, atau sekitar 35-40% dari seluruh kematian ibu,

disebabkan oleh perdarahan postpartum. Sekitar 15-20% kematian

disebabkan oleh perdarahan (Irianti, 2014).

76
4. Tinjauan Kasus

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY “R” G1P0A0

GRAVIDA 7-8 MINGGU DENGAN ABORTUS INKOMPLIT

DI RS MUHAMMADIYAH BANDUNG

Hari / Tanggal : Minggu / 11 Februari 2018

Pukul : 23.45 wib

RM : 708976

A. PENGKAJIAN DATA

1. DATA SUBJEKTIF

a. Identitas

Nama : NY” R” Nama : TN”R”

Umur : 25 Tahun Umur : 26 Tahun

Suku : Sunda Suku : Sunda

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SI Pendidikan : SI

Pekerjaan : Karyawan RSMB Pekerjaan : Swasta

77
Alamat : Jl.cihaurkuku no 59 Alamat : Jl.cihaurkuku no 59

b. Keluhan Utama

Ibu mengatakan hamil 7-8 mengeluh perdarahan sejak taggal 7 februari

2018 flek coklat , perdarahan banyak sejak tanggal 9 februari 2018,

mules-mules pada perut.

c. Riwayat Obsetrik

a) Menstruasi

Menarchea : 12 tahun.

Siklus : 28 hari.

Lamanya : 6-7 hari.

Banyak : 2 x ganti pembalut.

Teratur : ya.

Warna : merah kehitaman.

Desminorea : tidak ada.

b) Riwayat Perkawinan

Status perkawinan : sah.

Umur menikah istri : 25 tahun

Umur menikah suami : 26 tahun.

Usia perkawinan : 3 bulan

c) Riwayat kontrasepsi

Jenis : Tidak ada

78
Lama pemakaian : Tidak ada

Keluhan : Tidak ada.

Alasan diperhentikan : Tidak ada

d) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

N Kehamilan Persalinan Nifas

o UK tempat Komplikasi Th Jenis JK BB PB laktasi lochea

partus

1 Ini

e) Riwayat kehamilan sekarang

HPHT : 13– 12 – 2017

TP : 20 – 09 – 2018

ANC :

Kunjungan : 1x

Keluhan : mual dan muntah

Anjuran : makan sedikit tapi sering.

f) Riwayat penyakit

Riwayat penyakit sistemik : Tidak ada

Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada

Riwayat penyakit menahun : Tidak ada

79
Riwayat keturunan kembar : Tidak ada

d. Kebiasaan sehari-hari

a) Nutrisi

Makan : 2-3x sehari

Makan terakhir jam : 18.00 wib

Minum : 6-8 gelas sehari

Minum terakhir jam : 22.30 wib

b) Eliminasi

BAB : 1 x sehari

BAB terakhir jam : kemaren siang

BAK : 5-6 x sehari

BAK terakhir jam : 19.30

c) Istrirahat

Siang : Tidak ada

Malam : 7-8 jam

d) Seksualitas

Sebelum hamil :-

Saat hamil :-

e) Personal hygiene

Mandi : 2x/ hari

Gosok gigi : 2x/ hari

80
Ganti pakaian luar : 2x/ hari

Ganti pakaian dalam : 2x/ hari

f) Psikologis, social, budaya dan spiritual

Psikologis : ekspresi wajah ibu tampak cemas

Sosial : hubungan Ibu dengan keluaraga, suami baik.

Budaya : ibu tidak memiliki kebiasaan buruk bagi kehamilan.

Spiritual : ibu rajin shalat

2. DATA OBJECTIF

1) Pemeriksaan fisik

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Composmetis

TTV : TD :110/70 mmhg S: 36,7 0C

N : 78 x/menit P:20 x/menit

BB sebelum hamil : 50 kg

BB saat hamil : 52 kg

Tinggi badan : 150cm

LILA : 24 cm

2) Pemeriksaan Sistematis

a. Kepala

a) Rambut : hitam, bersih, tidak ada ketombe.

b) Muka : bersih, tidak ada oedema, dan tidak ada closma

81
c) Mata : cunjongtiva merah muda, sclera putih.

d) Hidung : normal, bersih, tidak ada sekret

e) Telinga : simetris kiri-kanan, tidak ada secret.

f) Mulut : besih, gigi tidak ada caries, gusi tidak berdarah

b. Leher

a) Kelenjer gondok : tidak ada pembesaran.

b) Tumor : tidak teraba benjolan tumor.

c) Kelenjer limfe : tidak ada pembesaran

c. Dada dan Axilla

a) Mamae

Pembeseran : fisiologis

Tumor : tidak ada tumor

Simetri : simetris kiri-kanan

Aerolla : hiperpigmentasi

Putting : menonjol

b) Axilla

Benjolan : tidak ada

Nyeri : tidak ada

d. Ekstremitas

Odema : tidak ada

Varises : tidak ada

82
Reflek patella : +/+

Ektremitas atas : terpasang cairan infuse RL dengan 20 tts.

e. Abdomen

Bekas luka SC : tidak ada

Linea : alba

Strie : tidak ada

f. Palpasi

Leopold I : TFU 1 jari diatas simfisis

Leopold II :-

Leopold III :-

Leopold IV :-

g. Auskultasi

DJJ

Frekuensi :-

Teratur :-

h. Genetalia

Varises : tidak ada

Kelenjer bartoloni : tidak ada

Oedema : tidak ada

3) Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan labor

83
HB : 11.2 gr/dl

Leokosit : 9.900 sel/mm3

Trombosit :294.000 sel/mm3

Hematokrit : 34 %

Gol. Darah :A

CT : 2 menit 00 detik

BT : 5 menit 30 detik

B. INTERPRESTASI DATA

a. Diagnose

Ibu G1P0A0 usia kehamilan 7-8 minggu dengan abortus inkomplit .

b. Masalah

Ibu mengatakan merasakan nyeri di perut bagian bawah

c. Kebutuhan

a) Memberikan informasi kepada ibu.

b) Memberikan konseling

c) Memberikan motivasi dan dukungan mental kepada ibu tentang

keadaan kehamilannya.

d) Memberikan informasi tentang tindakan kuretase.

e) Menberikan Informed consent untuk pelaksanaan tindakan kuretase.

f) Anjurkan ibu untuk istirahat.

g) Persiapan pelaksanaan tindakan kuretase

84
h) Anjurkan pada ibu untuk meningkatkan kebersihan diri dengan dengan

mengganti doek atau pembalut setiap kali penuh.

i) Penatalaksanaan pemberian obat analgetik dan antibiotic.

j) Obsevasi KU ibu dan perdarahan

C. IDENTIFIKASI MASALAH DAN DIAGNOSA POTENSIAL

Potensial terjadinya abortus komplit

D. TINDAKAN SEGERA / ANTISIPASI

Kolaborasi dengan dokter SPOG

E. PERENCANAAN

a) Beritahu ibu hasil pemeriksaan kepada ibu .

b) Berikan konseling kepada ibu tentang nyeri perut yang dialaminya dan

perdarahan ibu sekarng.

c) Berikan motivasi dan dukungan kepada ibu

d) Menjelaskan informasi tentang pelaksanaan kuretase.

e) Menjelaskan Informed consent untuk pelaksanaan tindakan kuretase.

f) Menganjurkan ibu untuk istirahat

g) Persiapan pelaksanaan tindakan kuretase

h) Anjurkan pada ibu untuk meningkatkan kebersihan diri dengan dengan

mengganti doek atau pembalut setiap kali penuh.

i) Penatalaksanaan pemberian obat analgetik dan antibiotic.

j) Obsevasi KU ibu dan perdarahan .

85
F. PELAKSANAAN

a) Pada jam 23.45 wib memberitahukan ibu hasil pemeriksaan dan

menjelaskan tentang keadaan yang dialaminya sekarang.

KU : Baik

Kesadaran : Composmetis

TTV TD : 110/70 mmhg S: 36,7 0C

N : 78 x/i P: 20 x/i

Sudah terpasang infuse RL di ruang IGD

b) Berikan penjelasan tentang penyebab nyeri pada perut bagian bawah yang

dirasakan oleh ibu. agar ibu dapat mengerti bahwa nyeri yang dirasakan

akibat dari kontraksi uterus sehingga ibu dapat menerima keadaannya

sebagai hal yang fisiologis. Pada abortus inkomplit sering serviks terbuka

karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda

asing (corpus alienum). Oleh itu, uterus akan berusaha mengeluarkannya

dengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri (Feryanto,

2014).

c) Memberikan motivasi kepada pasien

d) Jelaskan pada klien/keluarga tentang pentingnya dilakukan kuret, jika

klien setuju maka akan dilakukan tindakan kuretase pada tanggal 12

februari 2017, pukul 09.45 wib

86
e) Informed consent untuk pelaksanaan tindakan kuretase. Sebagai

pernyataan persetujuan dari ibu/keluarga untuk tindakan dan sebagai

perlindungan hukum bagi dokter dan bidan dalam melakukan tindakan.

f) Anjurkan ibu untuk istirahat.

g) Melakukan persiapan pelaksanaan tindakan kuretasi yakni berupa

persiapan alat, penolong dan persiapan pasien

a) Persiapan alat kuret

1) Handscoen 2 pasang

2) Kain kasa secukupnya

3) Spekulum anterior dan posterior

4) Tenakulum

5) Sonde uterus

6) Kuret tajam dan kuret tumpul

7) Kapas DTT

8) Larutan betadin

9) Anderpet

10) Com kecil

b) Persiapan penolong

1) Celemek

2) Sepatu boot

c) Persiapan alat-alat lain

87
1) Tempat darah

2) Tempat sampah

3) Larutan klorin

4) Lampu sorot

5) Tabung oksigen

d) Persiapan pasien

h) Anjurkan pada ibu untuk meningkatkan kebersihan diri dengan dengan

mengganti doek atau pembalut setiap kali basa. Dengan menjaga

kebersihan diri akan memberi rasa nyaman dan mencegah berkembannya

kuman pathogen penyebab infeksi.

i) Penatalaksanaan pemberian obat

1. Amoxilin 3x1

2. Asam mefenamat 3x1

3. Metergin 3x1

j) Mengobservasi KU ibu

G. EVALUASI

Jam : 00.00 wib

a) Ibu sudah mengertahui tentang keadaanya.

b) Ibu mengerti dengan apa yang diinformasikan

c) Ibu sudah mendapatkan motivasi

88
d) Ibu dan suami mengerti dan setuju, maka akan dilakukan tindakan

kuretase.

e) Suami setuju dan telah menandatangani persetujuan tindakan kuret,

rencana kuret tanggal 12 februari 2018 pukul 09.45 wib.

f) Ibu sudah istirahat.

g) Telah dilakukan tindakan kuretase

h) Ibu mengerti dan melakukannya.

i) Ibu sudah mendapatkan injeksi.

1. Amoxilin 3x1

2. Asam mefenamat 3x1

3. Metergin 3x1

j) Keadaan ibu baik ditandai dengan tanda-tanda vital dalam batas normal

TD : 110/ 70 mmHg

P : 20x/ menit

N : 78x/ menit

S : 36,7 0C

89
DATA PERKEMBANGAN I

Tanggal : 12 februari 2018 Pukul : 09.45 WIB

S : Data Subyektif

1. Ibu mengatakan bahwa keadaannya mulai membaik

2. Ibu merasa masih ada darah yang keluar dari jalan lahir dan perut masih terasa

nyeri.

3. Klien bisa beristirahat dengan baik.

O : Data Obyektif

1. Post kuret abortus inkomplit

2. Ekspresi wajah tampak tenang dan cerah

3. Keadaan umum ibu baik

a. Tekanan darah : 110/70 mmHg

b. Nadi : 72 x/menit

c. Suhu : 36.4ºC

d. Respirasi : 20 x/menit .

4. Tampak masih ada sedikit pengeluaran darah dari vagina

5. Masih ada sedikit nyeri tekan pada perut bagian bawah.

6. Pemberian obat-obat dilanjutkan berdasarkan instruksi dokter

90
1.Amoxilin 3x1

2.Asam mefenamat 3x1

3.Metergin 3x1

A : Assesment

Post kuret abortus inkomplit hari pertama dengan nyeri perut bagian bawah

P : Planning

Tanggal : 12 februari 2018 Pukul 10.30 WIB

1. Menganjurkan pada ibu untuk istrahat yang banyak

2. Menganjurkan pada ibu untuk menjaga kebersihannya

3. Menganjurkan pada ibu untuk makan-makanan yang bergizi

4. Observasi perdarahan dan TTV

a. Tampak pengeluaran darah sedikit

b. TTV

TD : 110/70 mmHg

N : 72x/menit

P : 20x/menit

S : 36,4 0C

5. Mengingatkan pada ibu untuk teratur minum obat.

a. Amoxilin 3x1

b. Asam mefenamat 3 x 1

91
c. Metergin 3x1

Evaluasi

Tanggal : 12 februari 2018 pukul : 12.00 WIB

1. Ibu bersedia melakukannya.

2. Ibu bersedia tetap menjaga kebersihannya

3. Ibu mengerti dan bersedia melakukannya.

4. Ovservasi pemantauan sudah dilakukan.

5. Ibu sudah minum obat.

92
5.SOP Abortus Inkomplit

a. Patway abortus inkomplit diruangan kebidanan

93
Alur Penatalaksanaan Abortus Inkomplit Di Ruangan Kebidanan

Nyeri di perut Darah yang keluar dari vagina

Abortus Inkomplit

Sisa konseptus yang bertahan

Perdarahan yang terus menerus

Dilakukan tindakan kuretase

Terapi obat

Amoxilin 3x1

Asam mefenamat 3x1

Metergin 3x1

Penuhi Kebutuhan Nutrisi Penuhi Kebutuhan Cairan

KU

TTV

Pemeriksaan Fisik

94
b. SAP Abortus Inkomplit

1) Tujuan Umum

Setelah mengikuti proses belajar mengajar Asuhan Kebidanan Persalinan,

mahasiswa diharapkan mampu memahami Abortus Inkomplit.

2) Tujuan Intuksional Khusus

Setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar ini mahasiswa diharapkan

mampu :

a) Menjelaskan pengertian abortus inkomplit.

b) Menjelaskan tanda- tanda abortus inkomplit.

c) Menyebutkan diagnose a bortus inkomplit.

d) Menyebutkan komplikasi abortus inkomplit.

e) Menyebutkan penatalaksanaan abortus inkomplit.

3) Materi (Terlampir)

Materi yang disampaikan :

a) Pengertian Abortus Inkomplit.

b) Tanda-tanda Abortus Inkomplit.

c) Diagnosis Abortus Inkomplit.

d) Komplikasi Abortus Inkomplit.

e) Penatalaksanaan Abortus Inkomplit.

95
c. SOP Abortus Inkomplit

Standar Operasional Prosedur Hiperemesis Gravidarum

No.kode : Ditetapkan oleh


kepala Direktur
Terbitan : Rumah sakit
SOP No. resmi :

Tgl. Mulai berlaku :


Dr. Hj. Tety H
Halaman :
Rahim, Sp. THT-KL,
M.Kes, MH.kes

1. Pengertian Abortus Inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi


telah keluar darim kavum uteri masih ada yang tertinggal
2. Tujuan Sebagai pedoman untuk mendeteksi dini kemungkinan
terjadinya abortus inkomplit pada ibu hamil yang
berakibatkan terjadinya kematian pada janin.
3. Kebijakan Kepmenkes 528/MENKES/SK/IX/2008
4. Refernsi 1. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi 2013
2. Buku Obstetri Patologi 2012
3. Buku Asuhan Kebidanan Patologis 2014

5. Alat dan bahan APD


Kuret Set
Lampu sorot
Oksigen
Monitor tensi
Tempat sampah infeksius
6. Keterampilan 1. Dokter
petugas 2. Bidan
7. Instruksi kerja a) Instruksikan dokter anatesisi untuk memberikan

96
analgetik sedative

b) Pakai sarung tangan DTT/steril yang baru.

c) Pasangkan andervet di bawah bokong pasien

d) Bersihkan vagina pasien labia mayora dan labia

minora dengan betadin

e) Pasang spekulum sim’s atau L, masukkan bilahnya

secara vertikal kemudian tarik ke bawah.

f) Pasang spekulum sim’s berikutnya dengan jalan

memasukkan bilahnya secara vertikal kemudian tarik

ke atas sehingga porsio tampak dengan jelas.

g) Minta asisten untuk memegang spekulum bawah,

pertahankan pada posisinya.

h) Dengan cunam tampon, ambil kapas yang telah

dibasahi dengan larutan brtadin, kemudian bersihkan

lumen vagina dan poriso. Buang kapas tersebut dalam

tempat sampah yang tersedia, kembalikan cunam ke

tempat semula.

i) Ambil klem ovum yang lurus, jepit bagian atas porsio

(perbatasan antara kuadran atas kiri dan kanan atau

pada jam 12).

j) Pegang gagang cunam dengan tangan kiri, ambil

97
sendok kuret pasca persalinan dengan tangan kanan,

pegang diantara ibu jari dan telunjuk (gagang sendok

berada pada telapak tangan), kemudian masukkan

hingga menyentuh fundus.

k) Memasukkan lengkung sendok kuret sesuai engan

lengkung cavum uteri kemudian laukan pengerokan

dinding uterus bagian depan searah dengan jarum jam,

secara sistematis.

l) Masukkan ujung sendok sesuai dengan cavum

lengkung uteri setelah sampai fundus, kemudian putar

180 derajat, lalau bersihkan dinding belakang uterus.

Kemudian keluarkan jaringan yang ada.

m) Kembalikan sendok kuret ke tempat semula, gagang

klem ovum dipegang kembali oleh operator.

n) Ambil kapas (dibasahi larutan betadin) dengan cunam

tampon, bersihkan darah dan jaringan pada lumen

vagina.

o) Lepaskan jepitan klem ovum pada porsio.

p) Lepaskan spekulum bawah.

q) Lepaskan kain penutup perut bawah, alas bokong dan

sarung kaki masukkan ke dalam wadah yang berisi

98
larutan klorin 0,5%.

r) Dekontaminasi

s) Cuci Tangan Sebelum Pasca tindakan

t) Perawatan Pasca tindakan

6. Pembahasan prosedur kerja

Pada Kasus Abartus Inkomplit Uterus teori tidak di temukan kesenjangan

maupun perbedaan dengan Abortus Inkompit di rumah sakit bagian

kebidanan. Dimana di teori dijelaskan dengan baik, bahwa keadaan Abortus

Inkomplit perlu dilakukan pemantauan TTV Terapi Obat, nutrisi dan cairan

serta dikuretase. Namun hal itu sama dengan yang dilakukan oleh Pihak

rumah sakit dengan teori untuk penanganan Abortus Inkomplit. Apa bila tidak

dilakukan kuretase pada ny R maka akan terjadi perdarahan yang berlanjut

serta dapat terjadi resiko infeksi pada ny R.

99
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis mengambil suatu kesimpulan dari studi kasus yang

berjudul Asuhan Kebidanan pada Ny. R G1P0A0 Gravida 7-8 Minggu Dengan

Abortus Inkomplit di RS Muhammadiyah Bandung, yaitu :

1. Pengkajian diperoleh data Ny.R perdarahan sejak taggal 7 februari 2018 flek

coklat , perdarahan banyak sejak tanggal 9 februari 2018, mules-mules pada

perut. Data objektif didapati perdarahan pervaginam darah berwarna merah

gelap. Sedangkan pada data pemeriksaan penunjang didapatkan hasil

pemeriksaan USG yang menunjukkan masih ada tersisanya janin didalam

rahim dan data pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar haemoglobin 11,2

gr/dl.

2. Interpretasi data meliputi diagnosis kebidanan yaitu Ny. R G1P0A0 usia

kehamilan 7-8 minggu dengan abortus inkomplit. Masalah yang dihadapi

adalah cemas dengan keadaan yang dialaminya. Kebutuhan Ny. R adalah

pemberian informasi mengenai kondisi ibu,memberikan konseling, serta

memberikan support mental pada ibu untuk mengurangi rasa cemas, pola

istirahat, personal hygiene dan tirah baring.

3. Diagnosa potensial yaitu Potensial terjadinya abortus komplit.

100
4. Tindakan segera yaitu dilakukan kolaborasi dengan dokter SPoG untuk

dilakukan kuretase.

5. Rencana asuhan meliputi informasikan hasil pemeriksaan, observasi KU, TTV

dan perdarahan pervaginam, kolaborasi dengan dokter SpOG berupa

pemberian terapi, berikan support mental dan motivasi dan tirah baring.

6. Pelaksanaan asuhan mengacu pada perencanaan yang telah ditetapkan. Hasil

akhir dari asuhan yang telah diberikan dapat tercapai sesuai dengan harapan,

yaitu ibu mendapat asuhan, terapi, serta tindakan curretase untuk mengatasi

keluhannya.

7. Evaluasi yang didapat setelah diberikan asuhan kebidanan selama 2 hari pada

Ny.R adalah keadaan umum baik, kesadaran composmentis, vital sign: TD :

110/70 mmHg, N : 72 x/menit, R : 20 x/menit, S : 36,4 0C.

8. Pada kasus Ny.R G1P0A0 dengan Abortus Inkomplit penulis menemukan

adanya kesenjangan antara teori dan kasus yang ada di lahan praktik.

9. Dari kesenjangan tersebut maka alternatif pemecahan masalahnya adalah

sebagai tenaga kesehatan dalam melakukan pemeriksaan fisik seharusnya

dilakukan secara menyeluruh.

101
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Rumah sakit Muhammadiyah Bandung memegang peran yang sangat

penting dalam kegiatan pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut. Segala

hal yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan yang terbaik guna

tercapainya kepuasan pasien selalu ditingkatkan oleh Rumah Sakit

Muhammadiyah Bandung pada bagian Kebidanan Rawatan. Seluruh yang ada

dibagian ini melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan memberikan

pelayanan kepada pegawai dan pasien yang datang ke rumah sakit tanpa

membeda-bedakan suku, kaya atau miskin.

Memberikan pelayanan yang ramah santun dan islami merupakan visi

dari Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung. Sehingga dalam pelaksanaannya

seluruh staf dan kepala ruangan selalu berusaha melakukan kegiatan dengan

baik sehingga tercapainya tujuan organisasi.

102
B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis dapat memberikan saran bagi:

1. Instansi pelayanan kesehatan Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung

diharapkan lebih meningkatkan pemberian asuhan secara komprehensif, tepat

dan profesional untuk meningkatkan mutu pelayanan sehingga pasien merasa

aman dan nyaman.

2. Pada Kasus ini diharapkan dapat menambah wawasan dan sebagai masukan

dalam meningkatkan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan Abortus

Inkomplit.

103
DAFTAR PUSTAKA

Adil,Ferdinand. 2012. Kajian yuridis tentang pengguguran kandungan karena alasan

kesehatan ibu menurut pasal 299 KUH Pidana. Jakarta : Lex Crimen

Al-Djufri, Shaleh Muhammad. 2015. Aborsi dalam Perspektif Kedokteran dan

Hukum Islam..Makassar

Andriza. 2013. hubungan Umur dengan Paritas Ibu Hamil dengan Kejadian Abortus

Inkomplit di Rumah sakit Muhammadiya Palembang 2013. Jurnal Harapan Bangsa

Vol.1 No. 1, Juli 2013.

C.Benson Ralph dan Martin L.Pernoll. 2013. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi.

Jakarta: EGC.

Fauziah, Yulia. 2012. Obstetri Patologi. Yogyakart: Nuha Medika.

Feryanto Achmad dan Padlun. 2014. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta: Salemba

Medika.

104