Anda di halaman 1dari 10

Epidemiologi Penyakit Menular Pertusis

Kelompok D1
Ema Febianti Siskanondang M / 102012411
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl.Arjuna Utara no.6 Jakarta Barat 11510. Tlp 5666952
emamanalu@gmail.com

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, sebelum ditemukannya
vaksin, angka kejadian dan kematian akibat menderita pertusis cukup tinggi. Ternyata 80 %
anak – anak di bawah umur 5 (lima) tahun pernah terserang penyakit pertusis, sedangkan
untuk orang dewasa sekitar 20 % dari jumlah penduduk total.1
Pertusis (batuk rejan) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri
“Bordetella Pertussis”. Penyakit yang dalam Bahasa Inggris disebut “whooping cough”
adalah suatu penyakit yang menular yang ditularkan melalui udara. Gejala awal mirip dengan
infeksi saluran napas lainnya seperti pilek dengan lendir cair dan jernih, mata merah dan
berair, batuk ringan dan demam ringan. Pada stadium ini, kuman paling mudah menular.
Setelah 1 – 2 minggu, timbullah stadium kedua dimana frekuensi dan derajat batuk
bertambah. Stadium penyembuhan terjadi 2 – 4 minggu kemudian namun batuk bisa menetap
hingga lebih dari 1 (satu) bulan. Selain menyerang anak – anak, batuk pertusis juga
menyerang bayi di bawah 1 (satu) tahun. Namun dengan digalakkannya vaksinasi untuk
pertusis, angka kematian bisa ditekan dan seiring dengan semakin berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi diharapkan pertusis tidak diketemukan lagi meskipun ada
kasusnya namun tidak signifikan.
Mengingat pentingnya pembekalan pengetahuan dan pemahaman masyarakat
pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya maka disusunlah makalah Penyakit yang
Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yang berjudul “Pertusis”.1,2

1
PEMBAHASAN

A. Definisi Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Imunisasi adalah suatu
tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh
manusia. Kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan
mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka menghadapi serangan kuman tertentu,
namun kebal atau resisten terhadap suatu penyakit belum tentu kebal terhadap penyakit lain.2
Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari kuman atau virus yang menjadi
penyebab penyakit, namun telah dilemahkan atau dimatikan atau diambil sebagian atau
mungkin tiruan dari kuman penyebab penyakit yang secara sengaja dimasukkan ke dalam
tubuh seseorang atau kelompok orang dengan tujuan merangsang timbulnya zat antipenyakit
tertentu pada orang – orang tersebut.3
Tujuan imunisasi adalah memberikan kekebalan kepada bayi, anak dan ibu hamil
dengan maksud menurunkan angka angka kematian dan kesakitan (mortalitas dan morbiditas)
serta mencegah atau menghindari terjadinya akibat buruk lebih lanjut terhadap sekelompok
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

B. Definisi Pertusis
Pertusis adalah infeksi saluran pernafasan akut yang disebabkan oleh Bordetella
Pertussis.
Pertusis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh bordetella pertussis,
nama lain penyakit ini adalah Tussis Quinta, whooping cough, batuk rejan.
Pertusis adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular
dengan ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodik dan
paroksismal disertai nada yang meninggi. Istilah pertusis (batuk kuat) pertama kali
diperkenalkan oleh Sydenham pada tahun 1670, dimana istilah ini lebih disukai dari “batuk
rejan (whooping cough)”. Selain itu sebutan untuk pertusis di Cina adalah “batuk 100 hari”.
Penyakit ini menimbulkan serangan batuk panjang yang bertubi - tubi, berakhir
dengan inspirasi berbising dan juga dengan suara pernapasan dalam bernada tinggi atau
melengking.4

2
C. Etiologi Pertusis

Bordetella pertusis adalah satu-satunya penyebab pertusis yaitu bakteri gram negatif,
tidak bergerak,dan ditemukan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring dan
ditanamkan pada media agar Bordet-Gengou.
Adapun ciri-ciri organisme ini antara lain:
1. Berbentuk batang (coccobacilus).
2. Tidak dapat bergerak.
3. Bersifat gram negatif.
4. Tidak berspora, mempunyai kapsul.
5. Mati pada suhu 55ºC selama ½ jam dan tahan pada suhu rendah (0º- 10ºC).
6. Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar metakromatik.
7. Tidak sensitif terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn tetapi resisten terhadap
penicillin.
Bordetella pertusis menghasilkan toksin dan substansi yang mengiritasi permukaan sel,
menyebabkan batuk dan limfositosis yang nyata. Kemudian mungkin terjadi nekrosis bagian
epitelium dan infiltrasi polimorfonuklear dengan inflamasi peribronkhial dan pneumonia
interstitial.3,4

D. Faktor Risiko
1. Bayi atau anak – anak yang tidak mendapat imunisasi.
2. Orang dewasa dengan kekebalan menurun.
3. Orang yang tinggal di rumah yang sama dengan penderita pertusis.

E. Manifestasi Klinis
Masa tunas 7-14 hari. Penyakit ini dapat berlangsung selama 6 minggu atau lebih dan terbagi
dalam 3 stadium:
1. Stadium kataralis (1-2 minggu)
Menyerupai gejala ISPA : rinore dengan lender cair, jernih, terdapat injeksi konjungtiva,
lakrimasi, batuk ringan iritatif kering dan intermiten, panas tidak begitu tinggi dan droplet
sangat infeksius.
Batuk yang timbul mula-mula malam hari, siang hari menjadi semakin hebat, sekret pun
banyak dan menjadi kental dan lengket.
2. Stadium paroksismal atau spasmodic 2-4 minggu
Frekuensi derajat batuk bertambah 5-10 kali pengulangan batuk kuat, selama ekspirasi
diikuti usaha inspirasi massif yang mendadak sehingga menimbulkan bunyi melengking

3
(whoop) oleh karena udara yang dihisap melalui glottis yang menyempit. Muka merah,
sianosis, mata menonjol, lidah menjulur, lakrimasi, salivasi, pete3kia di wajah, muntah
setelah batuk paroksimal, apatis, penurunan berat badan, batuk mudah dibangkitkan oleh
stress emosional dan aktivitas fisik. Anak-anak dapat terberak-berak dan terkencing-
kencing. Kadang-kadang pada penyakit yang berat tampak pula perdarahan
subkonjungtiva dan epistaksis.
3. Stadium konvalesensi
Whoop mulai berangsur-angsur menurun dan hilang 2-3 minggu kemudian tetapi pada
beberapa pasien akan timbul batuk paroksimal kembali.3,4

F. EPIDEMIOLOGI
Pertusis merupakan salah satu penyakit yang paling menular yang dapat menimbulkan
attack rate 80% sampai 100% pada penduduk yang rentan. Sampai saat ini manusia
merupakan satu-satunya host.

Pertusis adalah penyakit endemik. Di Amerika Serikat antara tahun 1932 sampai tahun
1989 telah terjadi 1.188 kali puncak epidemi pertusis. Penyebaran penyakit ini terdapat di
seluruh udara, dapat menyerang semua golongan umur, yang terbanyak adalah anak umur
di bawah 1 tahun. Makin muda usianya makin berbahaya penyakitnya, lebih sering
menyerang anak perempuan daripada laki-laki. Di Amerika Serikat + 35% penyakit
terjadi pada usia kurang dari 6 bulan, termasuk bayi yang berumur 3 bulan. Sekitar 45%
penyakit terjadi pada usia kurang dari 1 tahun dan 66% pada usia kurang dari 5 tahun.
Kematian dan jumlah kasus yang dirawat tertinggi terjadi pada usia 6 bulan pertama
kehidupan.

Antibodi dari ibu (transplansenta) selama kehamilan tidak cukup untuk mencegah
pertusis pada bayi baru lahir. Pertusis yang berat pada neonatus dapat ditularkan dari ibu
dengan gejala pertusis ringan. Kematian sangat menurun setelah diketahui bahwa dengan
pengobatan Eritromisin dapat menurunkan tingkat penularan pertusis, karena biakan
nasofaring akan negatif setelah 5 hari pengobatan.1

G. SURVEILENS
Tujuan Surveilans data Surveilans yang dikumpulkan melalui penyelidikan kasus bisa
digunakan untuk menilai beban penyakit dan memonitor perubahan epidemilogi sejalan
dengan waktu. Data Surveilens bisa digunakan untuk mengarahkan kebijakan dan
menyusun starategi penanggulangan. Tujuan umum melakukan deteksi dini dan
mengetahui gambaran epidemiologi untuk pengendalian penyakit pertusis. Tujuan khusus
terlaksananya pengumpulan data berdasarkan waktu,tempat dan orang. Terdeteksinya
kasus pertusis secara dini,terlaksananya penyelidikan epidemiologi setiap KLB pertusis

4
dan konfirmasi laboratorium,terlaksananya analisa data pertusis dan konfirmasi
laboratorium,terlaksananya analisa data pertusis berdasarkan variabel epidemiologi yang
meliputi waktu,tempat kejadian dan orang disetiap tingkat administrasi kesehatan sebagai
bahan monitoring dampak program imunisasi pertusis.
Kegiatan surveilens pertusis di tingkat puskesmas: 1. penemuan kasus – Setiap penderita
dengan batuk lebih dari 2 minggu yang datang ke puskesmas harus dicari gejala
tambahan dan ditentukan apakah memenuhi kriteria klinis pertusis. – bila penderita
datang dengan batuk yang kurang dari 2 minggu diupayakan untuk dimonitor perjalanan
penyakitnya serta dicari gejala tambahan pertusis lainnya. – bila kasus memenuhi kriteria
klinis pertusis,catat dalam format laporan pertusis dan lakukan penyelidikan
epidemiologi untuk mencari kasus tambahan. – bila memenuhi kriteria KLB maka
dilakukan penyelidikan KLB 2. Pengambilan Spesimen Kasus pertusis dapat juga
didiagnosa secara laboratoris dengan mengambil sampel berupa hapus tenggorok.
Pencatatan dan pelaporan Puskesmas mencatat setiap kasus pertusis ke dalam format list
pertusis dan dilaporkan ke dinas kesehatan kab/kota setiap bulan.
Kegiatan Surveilens di Rumah Sakit ( Surveilens Aktif ) . 1. penemuan kasus Surveilens
aktif RS bertujuab ubtuk menemukan kasus pertusis yang berobat ke rumah sakit baik
langsung maupun rujukan dari fasilitas kesehatan lain. surveilens pertusis di RS
dilakukan secara aktif oleh petugas surveilens Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan
petugas surveilens rumah sakit yang diintegrasikan dengan surveilens AFP dan PD3I
lainnya. 2. pengambilan spesimen kasus pertusis dapat juga didiagnosa secara laboratoris
dengan mengambil sampel berupa hapus tenggorok. 3. pencatatan dan pelaporan kasus
yang terjadi di Rumah Sakit di laporkan ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota oleh petugas
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota 1 penemuan kasus setiap minggu petugas dinas
kesehatan kabupaten/kota mengunjungi rumah sakit di wilayah kerjanya untuk mencari
dan menemukan secara aktif kasus pertusis.

H. Cara Penularan
Cara penularan pertusis, melalui:
1. Droplet infection (air borne).
2. Kontak tidak langsung dari alat-alat yang terkontaminasi
Penyakit ini dapat ditularkan penderita kepada orang lain melalui percikan-percikan ludah
penderita pada saat batuk dan bersin. Dapat pula melalui sapu tangan, handuk dan alat-alat
makan yang dicemari kuman-kuman penyakit tersebut.
Tanpa dilakukan perawatan, orang yang menderita pertusis dapat menularkannya kepada
orang lain selama sampai 3 minggu setelah batuk dimulai.

5
I. Pemeriksaan Laboratorium
Ada beberapa cara pemeriksaan penyakit pertusis di laboratorium yaitu:
1. Spesimen
Pencucian nasal dengan larutan saline adalah spesimen yang dipilih. Usapan / swab
nasofaring atau droplet yang dikeluarkan dari batuk ke dalam “cawan batuk” yang
dipegang di depan mulut pasien selama batuk paroksimal kadang-kadang digunakan
tetapi tidak sebagus pencucian nasal dengan larutan saline,
2. Uji Antibodi Flouresens (FA) Langsung
Reagen FA dapat digunakan untuk memeriksa usapan nasofaring. Walaupun demikian
hasil positif palsu dan negatif palsu dapat terjadi. Sensitivitasnya sekitar 50%. Uji FA
paling berguna dalam mengidentifikasi Bordetella Pertusis setelah biakan pada media
solid
3. Biakan
Cairan hasil pencucian nasal dengan saline dibiakkan pada agar medium solid. Antibiotik
di dalam media cenderung untuk menghambat flora respirasi yang lain tetapi
memungkinkan pertumbuhan Bordetella Pertusis. Organisme diidentifikasi dengan
pewarnaan immunofluoresens atau dengan aglutinasi slide menggunakan antiserum
spesifik.
4. Reaksi Rantai Polimerase
PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah metode yang paling sensitif untuk
mendiagnosis pertusis. Primer untuk Bordetella Pertusis harus tercakup. Jika
memungkinkan, uji PCR harus dapat menggantikan biakan dan uji flouresens antibodi
langsung.
5. Serologi
Uji serologi pada pasien mempunyai peran yang tidak begitu penting dalam membuat
diagnosis karena peningkatan aglutinasi atau presipitasi antibodi tidak terjadi sampai
minggu ketiga perjalanan penyakit. Serum tunggal dengan titer antibodi yang tinggi dapat
berguna dalam mendiagnosis penyakit batuk lama, satu dari durasi beberapa minggu.5

J. Pengobatan
1. Antibiotika
a. Eritromisin dengan dosis 50 mg/kgbb/hari dibagi dalam 4 dosis.
Obat ini dapat menghilangkan Bordetella pertusis dari nasofaring dalam 2-7 hari
(rata-rata 3-4 hari) dengan demikian memperpendek kemungkinan penyebaran
infeksi. Eritromisin juga bisa menyembuhkan pertusis bila diberikan pada stadium
kataralis, mencegah dan menyembuhkan pneumonia. Oleh karena itu sangat penting
untuk pengobatan pertusis untuk bayi muda.

6
b. Ampisilin dengan dosis 100mg/kgbb/hari, dibagi menjadi 4 dosis.
c. Lain-lain : rovamisin, kotromoksazol, kloramfenikol dan tetrasiklin.
2. Terapi suportif : terutama menghindarkan faktor-faktor yang menimbulkan serangan
batuk, mengatur hidrasi dan nutrisi .
3. Oksigen diberikan pada distres pernapasan akut/kronik.
4. Penghisapan lendir terutama pada bayi dengan pneumonia dan distres pernapasan.
5. Betametason dan salbutamol (albuterol) dapat mengurangi batuk paroksismal yang berat.5

K. Upaya Pencegahan
1. Pencegahan yang dilakukan secara aktif dan pasif:
a. Secara aktif
1) Dengan pemberian imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan (DPT
tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan jarak 4-8 minggu. DPT-1
deberikan pada umur 2 bulan, DPT-2 pada umur 4 bulan dan DPT-3 pada umur 6
bulan. Ulangan DPT-4 diberikan 1 tahun setelah DPT-3 yaitu pada umur 18-24
bulan, DPT-5 pada saat masuk sekolah umur 5 tahun.
Pada umur 5 tahun harus diberikan penguat ulangan DPT untuk meningkatkan
cakupan imunisasi ulangan, vaksinasi DPT diberikan pada awal sekolah dasar
dalam program bulan imunisasi anak sekolah (BIAS). Beberapa penelitian
menyatakan bahwa vaksinasi pertusis sudah dapat diberikan pada umur 1 bulan
dengan hasil yang baik sedangkan waktu epidemi dapat diberikan lebih awal lagi
pada umur 2-4 minggu.
Kontra indikasi pemberian vaksin pertusis :
1. Panas yang lebih dari 38 derajat celcius.
2. Riwayat kejang
3. Reaksi berlebihan setelah imunisasi DPT sebelumnya, misalnya suhu tinggi
dengan kejang, penurunan kesadaran, syok atau reaksi anafilaktik lainnya.
2) Tenaga kesehatan sebagai edukator
Melakukan penyuluhan kepada masyarakat khususnya kepada orang tua yang
mempunyai bayi tentang bahaya pertusis dan manfaat imunisasi bagi bayi.
b. Secara pasif
Secara pasif pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan kemopropilaksis,
ternyata eritromisin dapat mencegah terjadinya pertussis untuk sementara waktu.
2. Pencegahan penyebarluasan penyakit, dilakukan dengan cara :
a. Isolasi : mencegah kontak dengan individu yang terinfeksi, diutamakan bagi bayi
dan anak usia muda, sampai pasien setidaknya mendapatkan antibiotik sekurang-

7
kurangnya 5 hari dari 14 hari pemberian secara lengkap. Atau 3 minggu setelah
batuk paroksimal reda bilamana pasien tidak mendapatkan antibiotik.
b. Karantina : kasus kontak erat terhadap kasus yang berusia <7 tahun, tidak
diimunisasi, atau imunisasi tidak lengkap, tidak boleh berada di tempat publik selama
14 hari atau setidaknya mendapat antibiotik selama 5 hari dari 14 hari pemberian
secara lengkap.
c. Disinfeksi : direkomendasikan untuk melakukan pada alat atau ruangan yang
terkontaminasi sekret pernapasan dari pasien pertusis.5

8
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pertusis adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular
dengan ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodic dan
paroksimal disertai nada yang meninggi.
2. Penyakitpertusis disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis.
3. Penyakit pertusis dapat dicegah dengan cara pemberian imunisasi DPT.

B. Saran
Imunisasi sangat penting diberikan pada bayi karena dapat meningkatkan daya tahan tubuh
terhadap PD3I, jadi sebaiknya bayi harus diberikan Lima Imunisasi Dasar Lengkap (LIDL)
tanpa ada yang terlewat.

9
DAFTAR PUSTAKA

1. Behram, klieman & Nelson. 2014. ”Ilmu Kesehatan Anak”. Jakarta : EGC

2. Mansjoer, Arif. 2014. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. Jakarta : Media

Aesculapius

3. Soedarmo, SSP., Garna, H., Hadinegoro SRS., Satari HI. 2015. Pertusis.
Dalam: Buku Ajar Infeksi dan Peiatri Tropis Edisi 2. Jakarta: Balai penerbit
IDAI. hal.331-336.
4. Brooks, GF., Butel, JS., Ornston, LN. 2015. Bordetella. Dalam: Mikrobiologi
Kedokteran. Jakarta: EGC. hal 268-270.
5. Long, SS. 2013. Pertusis. Dalam: Wahab AS (Editor). Ilmu Kesehatan Anak
Nelson Volume 2 Edisi 15. Jakarta: EGC. hal.960-965.

20

10