Anda di halaman 1dari 15

Isalin Silvanny Homer

D4/102014155*
*Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Alamat Korespondensi :
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta 11510
Email:sparklingukridian155@gmail.com
No Hp 981248872244

Pendahuluan
Kejadian luarbiasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatknya kejadian kesakitan dan atau
kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
Wabah adalah berjangkitnya suatu penyakit menular dalam bermasyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebih dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan
daerah serta dapat menimbulkan malapetaka.
Petusis (Whooping cough/batuk rejan/batuk seratus hari) adalah penyakit menular pada saluran
pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Borderella Pertusis. Didunia terjadi sekitar 30 sampai 50
juta kasus per tahun,dan menyebabkan kematian pada 300.0000 kasus (data dari WHO). Penyakit
ini biasanya terjadi pada anak dibawah 1 tahun, Sembilan puluh persen kasis ini terjadi di negara
berkembang. Serangan pertusis yang pertama tidak selalu memberikan kekebalan penuh. Jika
terjadi serangan pertusis kedua,biasanya bersifat ringan dan tidak selalu dikenali sebagai pertusis.
Di Indonesia, angka kesakitan yang disebabkan pertusis dari tahun 2010-2012 berdasarkan laporan
STP ( Surveilans Terpadu Penyakit) rata-rata insiden kumulatif 2,45 per 100.000 penduduk. Bila
dilihat dari data tersebut. Kasus pertusis terjadi pada semua golongan umur, namun kasus tersebar
hampir merata pada usia balita (1-4 tahun) hingga dewasa (45-54 tahun ). Kasus terbanyak
dijumpai pada golongan umur 1-4 tahun.
Pada skenario 2 diketahui bahwa Dokter Mega berkerja di sebuah Puskesmas Kecamatan
Berpenduduk 25.000 jiwa, Minggu ini ia dikejutkan dengan meningkatkanya kasus yang mirip
dengan pertussis pada anak-anak balita. Laporan hasil program imunisasi dasar DPT ternyata telah
mencapai 80%. Ia bermaksud untuk mengadakan penyelidikan epidemiologis atas peristiwa
tersebut.Apakah benar kejadian tersebut adalah KLB pertusis.
Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB)

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau
kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. 1
Wabah adalah berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya
meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu
serta dapat menimbulkan malapetaka.1

Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa (KLB) mengacu pada Keputusan Dirjen PPM&PLP No. 451-
I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB.
Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar biasa bila terdapat unsur:2

 Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal.
 Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut
menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).
 Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka
rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
 Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
 Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan > 2 kali dibandingkan
angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya.
 CFR suatu penyakit dalam satu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50 % atau lebih
dibanding CFR periode sebelumnya.
 Proporsional Rate penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan > 2 kali
dibandingkan periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya.
 Beberapa penyakit khusus, seperti kolera dan DHF/DSS: 1) Setiap peningkatan kasus dari
periode sebelumnya (pada daerah endemis); 2) Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana
pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang
bersangkutan.
 Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita, seperti keracunan makanan dan
keracunan pestisida.
KLB penyakit masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan jatuhnya
korban kesakitan dan kematian yang besar sehingga perlu diantisipasi dan dicegah penyebarannya
dengan tepat dan cepat. Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan
yang cepat dan tepat, perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang
memperbesar risiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan
kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB, dan oleh karena itu perlu diatur dalam pedoman
Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD-KLB).

Penyelidikan Epidemiologi

Epidemiologi adalah cabang ilmu yang mempelajari distribusi kejadian kesakitan dan
kematian, serta faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi kejadiannya pada kelompok dan
masyarakat.3 Penyelidikan epidemiologi (PE) adalah rangkaian kegiatan untuk mengetahui suatu
kejadian baik sedang berlangsung maupun yang telah terjadi, sifatnya penelitian, melalui
pengumpulan data primer dan sekunder, pengolahan dan analisa data, membuat kesimpulan dan
rekomendasi dalam bentuk laporan. Pengertian istilah-istilah dalam penyelidikan epidemiologi
KLB/wabah, antara lain:

1. Infektifitas adalah kemampuan unsur penyebab masuk dan berkembang biak, dapat dianggap
dengan menghitung jumlah minimal dari unsur penyebab untuk menimbulkan infeksi terhadap
50% pejamu spesies sama. Dipengaruhi oleh sifat penyebab, cara penularan, sumber
penularan, serta faktor pejamu seperti umur, sex dll.
2. Patogenesitas adalah kemampuan yang dimiliki oleh bibit penyakit untuk membuat orang
menjadi sakit, atau untuk membuat sekelompok penduduk yang terinfeksi menjadi sakit.4
Patogenesitas sangat dipengaruhi oleh infektivitas, sehingga penghitungannya mengunakan
formulasi yang sama dengan infektifitas (patogenesitas = infektifitas).
Dengan tingkatan penyakit berdasarkan gejala dibagi menjadi: A = tanpa gejala, B =
penyakit ringan, C = penyakit sedang, D = Penyakit Berat, dan E = Mati. Maka, infektifitas
= patogenesitas dapat dihitung yaitu (B+C+D+E / A+B+C+D+E) artinya kasus infeksi dibagi
dengan jumlah yang terkena infeksi. Pengertian patogenestias = infektifitas adalah 50%
pejamu spesies yang sama. Misalnya, dalam suatu kelompok penyelidikan (individu-individu
dalam suatu kelompok) telah memiliki gejala yang sama diatas 50 % dari jumlah individu
dalam suatu kelompok) maka dapat dipastikan bahwa kelompok masyarakat dalam suatu
penyelidikan epidemiologi sudah dapat diketahui unsur penyebabnya alias sudah dapat ditetap
diagnosa epidemiologi komunitasnya.

3. Virulensi adalah nilai proporsi penderita dengan gejala klinis yang berat (D+E) terhadap
seluruh penderita dengan gejala klinis yang jelas (B+C+D+E). Virulensi dipengaruhi oleh
dosis, cara masuk/penularan, faktor pejamu.
4. Reservoir adalah organisme hidup atau mati (misalnya tanah) dimana penyebab infeksi
biasanya hidup dan berkembang biak. Reservoir dapat berupa manusia, binatang, tumbuhan
serta lingkungan lainnya. Reservoir merupakan pusat penyakit menular, karena merupakan
komponen utama dari lingkaran penularan dan sekaligus sebagai sumber penularan.
5. Bentuk KLB/Wabah didasarkan pada cara penularan dalam kelompok masyarakat.

Gambar 1. Betuk KLB/Wabah yang didasarkan pada cara penularan dalam kelompok
masyarakat

Sumber: http://arali2008.wordpress.com/2012/05/13/pentingnya-penyelidikan-epidemiologi-
klbwabah/

6. Kasus adalah mereka dimana suatu agen infektif telah masuk dan tinggal dalam tubuh mereka
dan telah ada gejala infeksi.
7. Karier adalah mereka yang menyimpan agen infektif di dalam tubuhnya. Menurut jenis dibagi
menjadi: tanpa gejala (misalnya polio, hepatitis), karier dalam penyembuhan (contoh:
diphteriae), dan karier kronik (contoh: tifus).
Terdapat macam-macam penyelidikan epidemiologi, yaitu epidemiologi observasional
(dimana peneliti hanya mengamati dan tidak melakukan intervensi) dan epidemiologi
eksperimental (pembuktian bahwa suatu faktor sebagai penyebab terjadinya suatu keluaran
penyakit dengan diuji kebenarannya di laboratorium).4 Epidemiologi observasional dibagi menjadi
dua, yaitu untuk menjelaskan masalah kesehatan digunakan pendekatan epidemiologi deskriptif,
sedangkan untuk mencari faktor penyebab digunakan pendekatan epidemiologi analitik.3
Epidemiologi deskriptif adalah bagian dari ilmu epidemiologi yang mempelajari distribusi
penyakit atau masalah di dalam masyarakat berdasarkan orang (person), tempat kejadian (place),
dan waktu kejadiannya (time).3 Di dalam epidemiologi deskriptif dijelaskan suatu kejadian
berdasarkan karakteristik masyarakat yang terkena (who), daerah-daerah tempat kejadian (where),
kapan, berapa lama, atau bagaimana kecenderungan suatu kejadian ditinjau dari aspek waktu
timbulnya kejadian (when). Epidemiologi analitik berkaitan dengan upaya epidemiologi untuk
menganalisis faktor risiko dan faktor penyebab (determinan) masalah kesehatan.

Kegiatan penyelidikan epidemiologi dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu:

a. Tahap Survei pendahuluan:


 Menegakan diagnosa.
 Memastikan adanya KLB.
 Membuat hipotesa mengenai penyebab, cara penyebaran, dan faktor yang
mempengaruhinya.
b. Tahap pengumpulan data:
 Identifikasi kasus ke dalam variabel epidemiologi (orang, tempat, waktu).
 Tentukan agen penyebab, cara penyebaran, dan faktor yang mempengaruhinya.
 Menentukan kelompok yang rentan atau beresiko.
c. Tahap pengolahan data:
 Lakukan pengolahan data menurut variabel epidemiologi, ukuran epidemiologi: ukuran
frekuensi (proporsi, rate, ratio, mean, median, dan modus), ukuran morbiditas (incidence
rate, point prevalence rate, periode prevalence rate), dan ukuran mortalitas (crude death
rate, infant mortality rate, perinatal mortality rate, neonatal mortality rate, post neonatal
mortality rate, angka kematian bayi, cause spesific mortality rate, maternal mortality rate,
case fatality rate, proportional mortality rate), dan nilai statistik (mean, median mode,
dan deviasi).
 Lakukan analisa data kemudian bandingkan nilai-nilai tersebut dengan kejadian atau nilai-
nilai yang sudah ada.
 Buat intepretasi hasil analisa.
 Buat laporan hasil penyelidikan epidemiologi.
d. Tentukan tindakan penanggulangan dan pencegahannya:
 Tindakan penanggulangan, terdiri dari pengobatan penderita dan isolasi kasus.
 Tindakan pencegahan, terdiri dari surveilans yang ketat, perbaikan mutu lingkungan,
proteksi diri, dan perbaikan status kesehatan masyarakat.

Penyelidikan epidemiologi berkaitan dengan input, proses, output, dan efek. Input berkaitan
dengan jenis dan sumber data. Data yang dibutuhkan dapat dikelompokkan menjadi:

 Data umum, meliputi jumlah penduduk, jumlah kelahiran, kesakitan, kematian, luas wilayah,
mata pencaharian, dan sebagainya. Pada kasus 2, data umum diperoleh dari monografi
Kecamatan
 Data penduduk sasaran yang disesuaikan dengan program yang dibina. Pada kasus campak,
sasaran program imunisasi campak adalah balita. Pada kasus diare, sasaran program kesehatan
lingkungan adalah wilayah Kecamatan Bojong Gede.
 Data sumber daya berupa sarana, dana, dan tenaga.
 Data cakupan program adalah jumlah penduduk yang mendapat pelayanan di wilayah kerja
Puskesmas.

Setelah data dikumpulkan, data tersebut diolah dan dianalisa. Hal ini disebut proses. Di tingkat
pelaksana program (misalnya di Puskesmas), pengolahan data hanya dilakukan sampai dengan
analisis data sesuai dengan kegiatan program pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di tempat
tersebut. Untuk program pelayanan kesehatan terpadu, cakupan yang dihitung, antara lain:

 Cakupan KIA dianalisis melalui perhitungan jumlah kunjungan baru ibu hamil, ibu menyusui,
bayi, dan anak balita dibagi dengan jumlah ibu hamil, ibu menyusui, bayi, atau anak balita
sebagai penduduk sasaran.
 Cakupan gizi berupa hasil bagi antara jumlah balita yang datang dan ditimbang (D) dengan
jumlah semua balita yang ada di wilayah kerja posyandu (S). Selain perhitungan D/S tersebut,
masih ada perhitungan lain yang dapat dipakai untuk menghitung cakupan gizi. Hasil D/S ini
dipakai untuk menilai tingkat partisipasi masyarakat. Rumus perhitungan: Cakupan Gizi =
(Jumlah D : Jumlah S) x 100%
 Cakupan imunisasi adalah hasil pencapaian kegiatan imunisasi (bagian program P2M),
dengan membandingkan jumlah penduduk yang telah diberikan imunisasi DPT1, polio 3,
campak, BCG, dan TT2 dengan jumlah masing-masing penduduk sasaran imunisasi.
Penduduk sasaran untuk imunisasi TT adalah ibu hamil atau wanita usia subur (WUS), dan
penduduk sasaran untuk imunisasi dasar adalah bayi yang berumur 3 – 12 bulan. Berdasarkan
kasus 2, hasil cakupan imunisasi untuk DPT memenuhi stratifikasi Puskesmas 1987, yaitu 80
%. Contoh analisis cakupan kegiatan imunisasi DPT didistribusikan berdasarkan tempat
(bagaimana penyebaran cakupan imunisasi DPT di tiap-tiap desa di wilayah kerja
puskesmas?),waktu (bagaimana penilaian hasil cakupan setiap bulan, trivulan, atau enam
bulan? Kapan terjadi penurunan hasil cakupan atau kapan cakupan yang terendah?), dan orang
(kelompok penduduk yang mana cakupan imunisasinya rendah). Hal ini dapat dilihat dari latar
belakang perkerjaan, pendidikan penduduk (sosial ekonomi) disuatu wilayah atau yang lainya.
Rumus perhitungan :
o Cakupan Imunisasi TT = (Jumlah bumil yang mendapat TT : Jumlah semua bumil)
x 100%
o Cakupan Imunisasi Dasar = (Jumlah bayi yang diimunisasi : Jumlah semua bayi) x
100%
o Cakupan Imunisasi Campak = (Jumlah bayi yang diimunisasi campak : Jumlah semua
bayi) x 100%.

Pertusis

Pertusis atau Whoping Cough (dalam Bahasa inggris), di Indonesia lebih dikenal sebagai batuk
rejan adalah satu penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan. Di dunia terjadi sekitar
30-50 juta kasus per tahun, dan menyebabkan kematian pada 300.000 kasus (data dari WHO).
Penyakit ini biasanya terjadi pada anak berusia di bawah 1 tahun. 90 persen kasus ini terjadi
dinegara berkembang. Serangan pertussis yang pertama tidak selalu memberikan kekebalan penuh.
Jika terjadi serangan pertusis kedua, biasanya bersifat ringan dan tidak selalu dikenali sebagai
pertusis.

1. Penyebab penyakit
Penyebab dari pertusis adalah Bordetella pertussis, yang merupakan suatu coccobacillus
gram negative yang bersifat fastidious (sulit dibiak). Selain itu terdapat B. parapertusis
yang juga bisa menyebabkan penyakit yang mirip pertusis namun tidak terlalu berbahaya
seperti pertusis.

2. Distribusi penyakit
Penyakit ini sering menyerang anak-anak (khususnya usia dini) tersebar di seluruh dunia,
tidak tergantung etnis, cuaca ataupun lokasi geografis. Terjadi penurunan yang nyata dari
angka kesakitan pertusis selama empat decade terakhir, terutama pada masyarakat dimana
program imunisasi berjalan dengan baik serta tersedia pelayanan kesehatan yang cukup
dan gizi yang baik. Pada anak yang lebih besar, remaja dan dewasa pertusis sering kali
tidak dikenali karena gejalanya sering kali tidak khas.
3. Reservoir
Reservoir pertusis sampai sekarang manusia dianggap sebagai satu-satunya hospes
(pejamu).
4. Cara-cara penularan
Penularan terutama melalui kontak langsung dengan discharge selaput lendir saluran
pernapasan dari orang yang terinfeksi lewat udara kepada orang yang rentan, kemungkinan
juga penularan terjadi melalui percikan ludah.
Pada stadium catarrhal pertusis sangat menular dengan angka serangan sekunder
mencapai 90% pada orang-orang yang tidak imun. Penderita yang tidak diobati bisa
menularkan selama 3 minggu atau lebih sejak mulai timbulnya gejala pertusis meskipun
setelah stadium catarrhal potensi penularan menurun. Sedangkan penderita yang
mendapatkan pengobatan antibiotika yang efektif masih bisa menularkan hingga 5 hari
sejak pengobatan dimulai.
Pertusis jarang menjadi pembawa kronis (Chronic carrier).
Remaja dan dewasa merupakan sumber transmisi pertusis yang bermakna kepada bayi
5. Masa inkubasi
Masa inkubasi pertusis umumnya 9-10 hari (dengan kisaran 6-20 hari).
Pertusis yang berat terjadi pada bayi muda yang belum pernah diberi imunisasi. Setelah
masa inkubasi 7-10 hari, anak timbul demam, biasanya disertai batuk dan keluar cairan
hidung yang secara klinik sulit dibedakan dari batuk dan pilek biasa. Pada minggu ke-2,
timbul batuk paroksismal yang dapat dikenali sebagai pertusis. Batuk dapat berlanjut
sampai 3 bulan atau lebih. Anak infeksius selama 2 minggu sampai 3 bulan setelah
terjadinya penyakit. Gejala timbul pada umumnya dalam waktu 9-10 hari setelah terinfeksi.

6. Masa penularan
Penularan pertusis pada stadium kataral awal sebelum stadium paroxysmal sangat tinggi.
Selanjutnya tingkat penularannya secara bertahap menurun dan dapat diabaikan dalam
waktu 3 minggu untuk kontak bukan serumah, walaupun batuk spasmodic yang disertai
“whoop” masih tetap ada. Untuk kepentingan penanggulangan, stadium menular diperluas
dari awal stadium kataral sampai dengan 3 minggu setelah munculnya batuk paroxysmal
yang khas pada penderita yang tidak mendapatkan terapi antibiotika.
7.Gambaran Klinis
Bakteri menginfeksi lapisan tenggorokan, trakea dan saluran pernapasan sehingga
pembentukan lendir semakin banyak. Pada awalnya lendir encer, tetapi kemudian menjadi
kental dan lengket.
Infeksi berlangsung selama 6 minggu, dan berkembang melalui 3 tahapan :
a. Tahap kataral (mulai terjadi secara bertahap dalam waktu 9-10 hari setelah terinfeksi)
gejalanya menyerupai flu ringan; bersin-bersin, mata berair, nafsu makan berkurang,
lesu, batuk (pada awalnya hanya timbul di malam hari kemudian terjadi sepanjang
hari).
b. Tahap paroksismal (mulai timbul dalam waktu 10-14 hari setelah timbulnya gejala
awal). Batuk 5-15 kali diikuti dengan menghirup nafas dalam dengan nada tinggi
(whooping). Setelah beberapa kali bernafas normal, batuk kembali terjadi diakhiri
dengan menghirup nafas bernada tinggi lagi. Batuk bisa disertai pengeluaran sejumlah
besar lendir yang biasanya ditelan oleh bayi/anak-anak atau tampak sebagai gelembung
udara di hidungnya. Batuk atau lendir yang kental sering merangsang terjadinya
muntah. Serangan batuk bisa diakhiri oleh penurunan kesadaran yang bersifat
sementara. Pada bayi, apneu (henti nafas) dan tersedak lebih sering terjadi
dibandingkan dengan tarikan nafas yang bernada tinggi.
c. Tahap konvalesen (mulai terjadi dalam waktu 4-6 minggu setelah gejala awal). Batuk
semakin berkurang, muntah juga berkurang, anak tampak merasa lebih baik. Kadang
batuk terjadi selama berbulan-bulan, biasanya akibat iritasi saluran pernafasan.

Komplikasi dari pertusis yang pernah dilaporkan adalah bronchopneumonia, kejang,


ensepalopati.
Angka kematian di Negara berkembang diperkirakan sebesar 4% pada anak kurang dari
1 tahun dan 1% pada anak umur 1-4 tahun.

8. Diagnosis
Tanda diagnostik yang paling berguna:
 Batuk paroksismal diikuti suara whoop saat inspirasi, sering disertai muntah
 Perdarahan subkonjungtiva
 Anak tidak atau belum lengkap diimunisasi terhadap pertusis
 Bayi muda mungkin tidak disertai whoop, akan tetapi batuk yang diikuti oleh
berhentinya napas atau sianosis, atau napas berhenti tanpa batuk
 Periksa anak untuk tanda pneumonia dan tanyakan tentang kejang.
Diagnosis etiologis ditegakkan berdasarkan ditemukannya B.pertusis dari specimen
nasofaring yang diambil selama fase kataral atau paroksimal awal. Selain itu pemeriksaan
penunjang bisa dilakukan dengan :
- Pemeriksaan darah lengkap (terjadi peningkatan jumlah sel darah putih yang ditandai
dengan sejumlah besar limfosit)
- Pemeriksaan serologis untuk Bordetella pertussis dengan ELISA
- PCR (Polymerase Chain Reaction)

9. Pengobatan
 Antibiotika
- Pengobatan dengan antibiotika jenis makrolid misalnya eritromisin, azithromisin,
clarithromisin, akan mencegah atau meringankan gejala klinis pertusis bila diberikan
selama masa inkubasi atau stadium kataral awal.1.Eritromisin dengan dosis 50
mg/kgbb/hari dibagi dalam 4 dosis.Obat ini dapat menghilangkan Bordetella pertusis
dari nasofaring dalam 2-7 hari (rata rata 3-4 hari) dengan demikian memperpendek
kemungkinan penyebaran infeksi. Eritromisisn juga menyembuhkan pertusis bila
diberikan dalam stadium kataralis, mencegah dan menyembuhkan pneumonia, oleh
karena itu sangat penting untuk pengobatan pertusis untuk bayi muda.
2.Ampisilin dengan dosis 100 mg/kgbb/hari, dibagi dalam 4 dosis.
- 3.lain lain : rovamisin, kotromoksazol, kloramfenikol dan tetrasiklin
- Bila diberikan pada fase paroksimal obat antibiotika tidak akan mengubah perjalanan
klinis penyakit tapi bisa menghilangkan bakteri dari nasofaring sehingga mengurangi
penularan
• Imunoglobulin
Belum ada penyesuaian faham mengenai pemberian immunoglobulin pada stadium
kataralis.
• Ekspektoransia dan mukolitik
• Kodein diberikan bila terdapat batuk batuk yang hebat sekali.
• Luminal sebagai sedative.
• Oksigen bila terjadi distress pernapasan baik akut maupun kronik.
• Terapi suportif : atasi dehidrasi, berikan nutrisi
• Betameatsol dan salbutamol untuk mencegah obstruksi bronkus, mengurangi batuk
paroksimal, mengurangi lama whoop.

10. Komplikasi

 Pneumonia
Merupakan komplikasi tersering dari pertusis yang disebabkan oleh infeksi
sekunder bakteri atau akibat aspirasi muntahan.
Tanda yang menunjukkan pneumonia bila didapatkan napas cepat di antara
episode batuk, demam dan terjadinya distres pernapasan secara cepat.
 Kejang
Hal ini bisa disebabkan oleh anoksia sehubungan dengan serangan apnu atau
sianotik, atau ensefalopati akibat pelepasan toksin.
Jika kejang tidak berhenti dalam 2 menit, beri antikonvulsan
 Gizi kurang
Anak dengan pertusis dapat mengalami gizi kurang yang disebabkan oleh
berkurangnya asupan makanan dan sering muntah.
Cegah gizi kurang dengan asupan makanan adekuat, seperti yang dijelaskan pada
perawatan penunjang.
 Perdarahan dan hernia
Perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis sering terjadi pada pertusis. Tidak ada
terapi khusus.
Hernia umbilikalis atau inguinalis dapat terjadi akibat batuk yang kuat. Tidak perlu
dilakukan tindakan khusus kecuali terjadi obstruksi saluran pencernaan, tetapi rujuk
anak untuk evaluasi bedah setelah fase akut.

Epidemiologi

Penyakit endemis yang sering menyerang anak-anak (khususnya usia dini) tersebar di seluruh
dunia, tidak tergantung etnis, cuaca ataupun lokasi geografis. KLB terjadi secara periodik. Sekitar
80% kematian terjadi pada anak-anak berumur dibawah 1 tahun, dan 70% terjadi pada anak
berumur dibawah 6 bulan. Case Fatality Rate (CFR) di bawah 1% pada bayi dibawah 6 bulan.
Angka kesakitan sedikt lebih tinggi pada wanita dewasa dibanding pria. Pada kelompok
masyarakat yang tidak diimunisasi, khususnya mereka dengan kondisi dasar kurang gizi dan
infeksi ganda pada saluran pencernaan dan pernapasan, pertusis dapat menjadi penyakit yang
mematikan pada bayi dan anak-anak. Pneumonia merupakan sebab kematian yang paling sering.
Encephalopathy yang fatal, hypoxia dan inisiasi karena muntah yang berulang kadang-kadang
dapat terjadi.

Aspek Imunisasi
Imunisasi untuk pencegahan penyakit pertusis diberikan dalam kombinasi dengan antigen penyakit
lain berupa DPT-HB-Hib yang mencakup 5 penyakit (pentavalen) yaitu Dipteri, Pertusis, Tetanus,
Hepatitis B, dan Haemofilus Influenzae tipe B. Imunisasi yang diberikan merupakan imunisasi
rutin yang dilaksanakan secara terus menerus sesuai jadwal dan diberikan pada bayi usia < 1 tahun
dan diberikan booster pada anak usia 18 bulan.

Anak-anak yang tidak diimunisasi umumnya rentan terhadap infeksi. Tidak ada imunitas
transplacental pada bayi. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak. Angka insidensi penyakit
yang dilaporkan tertinggi pada anak umur dibawah 5 tahun. Kasus yang ringan atau kasus atypic
yang tidak terdeteksi terjadi pada semua kelompok umur. Setelah infeksi pertusis alami akan
terbentuk antibodi pada 80-85% penderita. Infeksi alami tidak memberikan perlindungan jangka
panjang terhadap pertusis, dan dapat terjadi serangan kedua (diantaranya disebabkan oleh B.
parapertussis).

Vaksin pertusis (dalam kombinasi dengan dipteri dan tetanus) telah menjadi bagian dari perluasan
program imunisasi WHO (expanded program on immunization) sejak diperkenalkan tahun 1974,
dan pada tahun 2008 sekitar 82% bayi di dunia telah mendapat 3 dosis vaksin pertusis, dan berhasil
mencegah 687.000 kematian.
Selama beberapa dekade program vaksinasi pertusis telah berhasil mencegah penyakit pertusis
yang parah diseluruh dunia. Terdapat 2 macam vaksin pertusis yaitu :
1. Vaksin whole-cell (wP) yang berasal dari organisme B. pertusis yang
dimatikan.
2. Vaksin acellular(aP) yang berasal dari komponen tertentu bakteri yang
dimurnikan.

Reaksi lokal imunisasi pertusis cenderung meningkat sesuai dengan bertambahnya umur dan
jumlah suntikan. Karenanya vaksin yang mengandung pertusis tidak direkomendasikan untuk
remaja atau dewasa. Berdasarkan rekomendasi dari ITAGI, pemberian vaksin pertusis whole-cell
dibatasi sampai dengan usia 3 tahun. Program imunisasi di Indonesia memberikan imunisasi
pertusis dalam kombinasi dengan difteri, tetanus, Hepatitis B dan Haemofilus influenzae tipe b
(pentavalen) yang diberikan sebanyak 3 kali pada umur 2,3, 4 bulan dan booster pada usia 18
bulan.
Penyelidikan Epidemiologi dan Upaya Penanggulangan
Penyelidikan epidemiologi dilakukan terhadap kasus-kasus yang dilaporkan dari rumah sakit,
puskesmas maupun laporan masyarakat. Penyelidikan lapangan dilakukan untuk mengidentifikasi
kemungkinan adanya kasus lain, terutama pada kelompok rentan. Laporan dini memungkinkan
dilakukan penanggulangan KLB yang lebih baik.
b. Isolasi: Untuk kasus yang diketahui dengan pasti dilakukan isolasi. Untuk tersangka kasus
segera dipindahkan dari lingkungan anak-anak kecil dan bayi disekitarnya, khususnya dari bayi
yang belum diimunisasi, sampai dengan penderita tersebut diberi paling sedikit 5 hari dari 14 hari
dosis antibiotika yang harus diberikan. Kasus tersangka yang tidak mendapatkan antibiotika harus
diisolasi paling sedikit selama 3 minggu.
c. Disinfeksi serentak: Disinfeksi dilakukan terhadap sekret dari hidung dan tenggorokan, serta
barang-barang yang dipakai penderita. Pembersihan menyeluruh.
d. Karantina: Lakukan karantina terhadap kontak yang tidak pernah diimunisasi atau yang tidak
diimunisasi lengkap. Larangan tersebut berlaku sampai dengan 21 hari sejak terpajan dengan
penderita atau sampai dengan saat penderita dan kontak sudah menerima antibiotika minimal 5
hari dari 14 hari yang diharuskan.
e. Perlindungan terhadap kontak: Pemberian imunisasi aktif kepada kontak untuk melindungi
terhadap infeksi setelah terpajan dengan penderita juga tidak efektif.

Kontak yang berusia dibawah 7 tahun dan yang belum mendapatkan 4 dosis DPT- HB atau yang
tidak mendapat DPT dalam 3 tahun terakhir harus segera diberikan suntikan satu dosis setelah
terpapar. Dianjurkan pemberian erythromycin selama 14 hari bagi anggota keluarga dan kontak
dekat tanpa memandang status imunisasi dan umur.
f. Lakukan Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: Lakukan pencarian kasus secara dini,
cari juga kasus yang tidak dilaporkan dan kasus-kasus atipik. Oleh karena bayi-bayi dan anak tidak
diimunisasi mempunyai risiko tertular.
g. Pengobatan spesifik: Pengobatan dengan erythromycin memperpendek masa penularan, namun
tidak mengurangi gejala kecuali bila diberikan selama masa inkubasi, pada stadium kataral atau
awal stadium paroxysmal.
Sistem Kewaspadaan Dini KLB
a. Lakukan penyuluhan kepada masyarakat, khususnya kepada orang tua bayi, tentang bahaya
pertusis dan manfaat memberikan imunisasi mulai usia 2 bulan dan mengikuti jadwal pemberian
imunisasi yang dianjurkan.
b. Pada kejadian luar biasa, dipertimbangkan untuk memberikan perlindungan kepada petugas
kesehatan yang terpajan dengan kasus pertusis yaitu dengan memberikan erythromycin selama 14
hari.
c. Lakukan pencarian kasus yang tidak terdeteksi dan yang tidak dilaporkan untuk melindungi
anak-anak usia prasekolah dari paparan dan agar dapat diberikan perlindungan yang adekuat bagi
anak-anak usia di bawah 7 tahun yang terpapar. Akselerasi pemberian imunisasi dengan dosis
pertama diberikan pada umur 4-6 minggu, dan dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4
minggu, mungkin diperlukan; bagi anak-anak yang imunisasinya belum lengkap, sebaiknya
dilengkapi.

Surveilans