Anda di halaman 1dari 62

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebutuhan akan transaksi ekonomi pada masa sekarang ini

cukup tinggi. Salah satu penyedia layanan jasa transaksi ekonomi

adalah bank. Makin maraknya persaingan di dunia perbankan,

menyebabkan berbagai strategi dilakukan oleh pihak bank dalam

rangka menarik minat masyarakat untuk menjadikan nasabahnya.

Penyedia layanan jasa transaksi ekonomi seperti bank semakin

berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan yang baik kepada

masyarakat.

Produk bank yang sangat banyak dibutuhkan masyarakat adalah

kredit. Masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya terutama yang

berkaitan dengan pengembangan usahanya memerlukan dana

tambahan untuk usahanya agar lebih berkembang. Pemberian kredit

yang diberikan oleh bank kepada nasabah dimaksudkan untuk

memperoleh keuntungan, dalam usahanya bank tidak hanya

menyalurkan kredit saja tetapi juga berinvestasi pada kegiatan lain

seperti penyertaan modal pada sebuah perusahaan dibidang

keuangan. Aktivitas kredit bank yang berkualitas dan sehat

memberikan pendapatan operasional terbesar bagi bank jika

dibandingkan dengan aktivitas lainnya seperti penyediaan layanan.

Oleh karena itu untuk meningkatkan pendapatan dan menjaga


2

kelangsungan bank maka pemberian kredit merupakan aktivitas yang

secara terus menerus dilakukan.

Kredit dalam dunia perbankan syariah disebut dengan

pembiayaan (financing) yaitu pendanaan yang diberikan oleh suatu

pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah

direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata

lain pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk

mendukung investasi yang telah direncanakan. Mengalokasikan dana

pembiayaan, tentunya tidak luput dari risiko yang akan dihadapi.

Semakin besar jumlah pembiayaan yang diberikan maka risiko yang

ditimbulkan akan semakin tinggi pula. Risiko yang akan dihadapi oleh

bank diantaranya berupa tidak lancarnya pembayaran pembiayaan

atau dengan kata lain pembiayaan bermasalah sehingga mengganggu

kinerja bank.

Menurut sifat penggunaannya, pembiayaan dapat dibagi menjadi

dua yaitu pembiayaan produktif dan konsumtif. Pembiayaan produktif

menurut keperluannya dapat dibagi menjadi, yang pertama

pembiayaan modal kerja yaitu, pembiayaan untuk memenuhi

peningkatan kebutuhan produksi atau perdagangan. Kedua

pembiayaan investasi yaitu, pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan

barang-barang modal.

Salah satu bentuk pertanggungjawaban sosial Bank Syariah

adalah memberikan pembiayaan modal kerja kepada pelaku usaha.

Lembaga keuangan syariah yang menyediakan pinjaman modal kerja


3

salah satunya adalah Bank Panin Dubai Syariah cabang Makassar.

Bank Panin Dubai Syariah dalam memberikan pembiayaan modal

kerja memiliki peran yang baik apabila dilaksanakan sesuai dengan

prosedur yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur,

memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha.

Pembiayaan yang diberikan kepada nasabah tidak akan lepas

dari resiko pembiayaan macet (Non Performing Financing) yang pada

akhirnya dapat mempengaruhi kinerja pada bank syariah tersebut.

Pada tahun 2017 bank Panin Dubai Syariah mengalami penurunan

kualitas pembiayaan. Di mana pada Kuartal III 2017 rasio pembiayaan

bermasalah atau Non Performing Finance (NPF) melonjak menjadi

4,46 % (gross) dari 2,87 % di September 2016 (infobanknews.com).

Ada beberapa faktor yang dianggap mempengaruhi pembiayaan

menjadi bermasalah, yaitu usaha nasabah menurun, nasabah tidak

menyampaikan informasi secara keseluruhan kepada pihak bank,

rendahnya nilai jaminan nasabah, usaha nasabah terkena musibah,

nasabah tidak mempunyai itikad baik untuk membayar atau

mengembalikan pinjamannya, kurang ketelitian pihak bank dalam

melakukan analisis pada nasabah.

Bank Panin Dubai Syariah cabang Makassar dalam memberian

pembiayaan modal kerja tidak selalu sesuai dengan pengajuan yang

calon nasabah ajukan, ada beberapa nasabah yang mengajukan

pembiayaan, salah satunya nasabah tersebut mengajukan

pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan modal kerjanya, namun


4

nasabah hanya diberikan pencairan pembiayaan sebagian dari

pengajuannya, hal ini dikarenakan pihak bank terlebih dahulu

menganalisis kelayakan calon nasabah dengan beberapa faktor, salah

satunya dengan menggunakan prinsip 6C yaitu character, capacity,

capital, collateral, condition, dan constraint. Character adalah sifat

atau karakter nasabah pengambil pinjaman. Capacity adalah

kemampuan nasabah untuk menjalankan usaha dan mengembalikan

pinjaman yang diambil. Capital adalah besarnya modal yang

diperlukan peminjam. Collateral adalah jaminan yang telah dimiliki

yang diberikan peminjam kepada bank. Condition adalah keadaan

usaha atau nasabah prospek atau tidak. Constraint adalah batasan

dan hambatan yang tidak memungkinkan suatu bisnis untuk

dilaksanakan pada tempat tertentu.

Analisis pembiayaan 6C sangat diperlukan, ini penting karena

untuk mengetahui keadaan suatu calon nasabah, apakah memang

benar-benar dapat dipercaya dan mempunyai suatu i‟tikad baik untuk

mengendalikan pembiayaannya serta untuk memberikan keyakinan

kepada pihak bank bahwa dana yang disalurkan akan kembali sesuai

dengan waktu yang telah disepakati antara pihak bank syariah dan

calon nasabah.

Selain terpenuhinya semua prosedur yang ada, dapat dikatakan

bahwa prinsip 6C berperan apabila pembiayaan tersebut dapat

kembali sesuai waktu yang ditetapkan dengan kesepakatan yang

ditentukan maka pemberian pembiayaan akan tercapai, sehingga


5

pembiayaan yang diberikan tidak mengandung risiko pembiayaan

macet atau bermasalah. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik

untuk mengadakan penelitian dan penyusunan skripsi dengan judul:

”Pemberian Pembiayaan Modal Kerja Dengan Menggunakan

Prinsip 6C Di Bank Panin Dubai Syariah Cabang Makassar”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini, yaitu

1. Bagaimana analisis pemberian pembiayaan modal kerja

dengan menggunakan prinsip 6C di Bank Panin Dubai Syariah

cabang Makassar?

2. Dari keenam prinsip tersebut, prinsip manakah yang paling di

utamakan dalam pemberian pembiayaan modal kerja di Bank

Panin Dubai Syariah cabang Makassar?

1.3 Tujuan penelitian

1. Untuk mengetahui analisis pemberian pembiayaan modal kerja

dengan menggunakan prinsip 6C di Bank Panin Dubai Syariah

cabang Makassar.

2. Untuk mengetahui prinsip manakah yang paling diutamakan

dalam pemberian pembiayaan modal kerja di Bank Panin Dubai

Syariah cabang Makassar


6

1.4 Keguanaan Penelitian

1.4.1 Keguanaan Teoritis

Keguanaan secara teoritis sebagai masukan atas

sumbangsih pemikiran bagi perkembangan pertumbuhan

terutama tentang perkembangan ekonomi di masa yang akan

datang.

1.4.2 Kegunaan Praktis

Kegunaan praktis dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Bagi Peneliti

Dengan mengadakan penelitian ini diharapkan dapat

menambah wawasan dan pengetahuan di bidang perbankan

khususnya mengenai pemberian pembiayaan modal kerja

prinsip syariah.

b. Bagi Bank Panin Dubai Syariah Cabang Makassar

penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan positif

bagi penerapan kebijakan mengenai pemberian pembiayaan

modal kerja di Bank Panin Dubai Syariah cabang Makassar

c. Bagi Pihak Lain

Hasil penelitian ini diharapakan mampu memberikan

manfaat bagi peneliti lainnya yang akan melakukan atau

melanjutkan penelitian ini, serta dapat memberikan manfaat

bagi pembaca.
7

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Konsep dan Teori

2.1.1 Pengertian Bank

Bank merupakan suatu bentuk badan usaha yang bergerak di

bidang finansial yang berfungsi sebagai intermediasi keuangan

dengan menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya

kembali ke masyarkat.

Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari

masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali

kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk

lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Kasmir

(2014:14).

Bank adalah badan usaha yang kekayaannya terutama dalam

bentuk aset keuangan (financial aset) serta bermotifkan profit dan

juga sosial, jadi bukan hanya mencari keuntungan saja. Hasibuan

(2011:2)

Bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk memuaskan

kebutuhan kredit, baik dengan alat-alat pembayaran sendiri atau

dengan uang yang diperolehnya dari orang lain maupun dengan jalan

memperedarkan alat-alat penukar dan tempat uang giral. Abdullah

dan Francis,(2012:2)
8

Bank adalah suatu jenis lembaga keuangan yang melaksanakan

berbagai macam jasa, seperti memberikan pinjaman, mengedarkan

mata uang, pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai

tempat penyimpanan benda-benda berharga, membiayai usaha-usaha

perusahaan dan lain-lain”. Abdurahman (2012:2)

Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya

memberikan kredit aau pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu

lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya,

disesuaikan dengan prinsip-pnsip syariah. Sudarsono (2012:29)

Bank Syariah adalah bank dengan pola bagi hasil yang

merupakan landasan utama dalam segala operasinya, baik dalam

produk pendanaan, pembiayaan, maupun dalam produk-produk

lainnya. Ascarya (2007:2)

2.1.2 Pengertian Modal Kerja

Modal kerja merupakan modal yang digunakan untuk melakukan

kegiatan operasi perusahaan. Modal kerja diartikan sebagai investasi yang

ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva jangka pendek, seperti kas,

bank, surat-surat berharga,piutang,persediaan dan aktiva lancar. Kasmir

(2014:250)

Modal kerja yaitu jumlah dari aktifa lancar. Jumlah ini merupakan

modal keja bruto (gross working capital ).definisi ini bersifat kuantitatif

karena menunjukan jumlah dana yang digunakan untuk maksud- maksud

operasi jangka pendek. Waktu tersedianya modal kerja akan tergantung


9

pada macam dan tingkat likuiditas dari unsur-unsur aktiva lancar misalnya

kas, surat-surat berharga,piutang dan persdiaan. Jumingan (2011:66)

Modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap utang jangka

pendek. Kelebihan ini disebut modal kerja bersih. Kelebihan ini

merupakan jumlah aktiva lancar yang berasal dari utang jangka panjang

dan modal sendiri. Definisi ini bersifat kualitatif karena menunjukkan

kemungkinan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar dari pada utang

jangka pendek dan menunjukkan tingkat keamanan bagi kreditur jangka

pendek serta menjamin kelangsungan usaha di masa mendatang.

Djarwanto (2011:87)

Modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki

perusahaan, atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana yang harus

tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari. Sawir

(2014)

2.1.3 Pengertian Pembiayaan

Pembiayaan merupakan pendanaan yang diberikan oleh suatu

pihak bank kepada pihak lain atau nasabah untuk membantu

kebutuhan nasabah dalam bentuk konsumtif atau investasi melalui

akad yang disepakati oleh pihak yang bersangkutan. Dengan kata

lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk

mendukung investasi yang telah direncanakan. Asfiyah (2015)

Pembiayaan merupakan penyediaan uang atau tagihan yang

dapat di persamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau

kesepkatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak


10

yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut

setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. Kasmir

( 2014 : 85)

Pembiayaan merupakan penyediaan dana atau tagihan yang

dipersamakan dengan itu berupa, transaksi bagi hasil dalam bentuk

mudharabah dan musyarakah, transaksi sewa menyewa dalam bentuk

ijarah muntahiya bittamlik, transaksi jual beli dalam bentuk piutang

murabahah, salam, dan istishna, transaksi pinjam meminjam dalam

bentuk piutang qardh, transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk

ijarah untuk transaksi multijasa berdasarkan persetujuan antara Bank

Syariah dan Unit Usaha Syariah dan pihak lain yang mewajibkan

pihak yang dibiayai dan diberi fasilitas dana tersebut setelah jangka

waktu tertentu dengan imbalan ujroh, tanpa imbalan, atau bagi hasil.

Muhammad (2014:40)

Pembiayaan merupakan aktivitas bank syariah dalam

menyalurkan dana kepada pihak lain selain bank berdasarkan prinsip

syariah. Penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan didasarkan pada

kepercayaan yang diberikan oleh pemilik dana kepada pengguna

dana. Ismail (2011)

Pembiayaan merupakan “Penyediaan dana atau tagihan yang

dipersamakan dengan berupa-berupa yaitu transaksi bagi hasil dalam

bentuk mudharabah dan musyarakah, transaksi sewa menyewa dalam

bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiyah bit

tamlik, transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam dan
11

istishna, transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang dan qardh,

dan transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi

multi jasa, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank

Syariah dan unit usaha syariah (UUS) dan pihak lain yang mewajibkan

pihak-pihak yang dibiayai dan diberi fasilitas dana untuk

mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan

imbalan Ujrah, tanpa imbalan atau bagi hasil.” Umam (2016:205)

Pada bank syariah terdapat beberapa jenis pembiayaan.

Pembiayaan tersebut terdiri atas:

1. Pembiayaan Modal Kerja Syariah

Secara umum, yang dimaksud dengan Pembiayaan Modal Kerja

(PMK) syariah adalah pembiayaan jangka pendek yang diberikan

kepada perusahaan untuk membiayai kebutuhan modal kerja

usahanya berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Jangka waktu

pembiayaan modal kerja maksimum 1 (satu) tahun dan dapat

diperpanjang sesuai dengan kebutuhan. Perpanjangan fasilitas PMK

dilakukan atas dasar hasil analisis terhadap debitur dan fasilitas

pembiayaan secara keseluruhan.

Pembiayaan modal kerja syariah adalah pembiayaan jangka

pendek yang diberikan kepada perusahaan untuk membiayai

kebutuhan modal kerja usahanya berdasakan prinsip-prinsip syariah.

Adiwarman A. Karim (2010)


12

2. Pembiayaan Investasi Syariah

Yang dimaksud dengan investasi adalah penanaman dana

dengan maksud untuk memperoleh imbalan atau manfaat atau

keuntungan di kemudian hari, mencakup hal-hal antara lain:

a. Imbalan yang diharapkan dari investasi adalah berupa keuntungan

dalam bentuk finansial atau uang (financial benefit).

b. Badan Usaha umumnya bertujuan untuk memperoleh keuntungan

berupa uang, sedangkan badan sosial dan badan-badan

pemerintah lainnya lebih bertujuan untuk memberikan manfaat

sosial (social benefit) dibandingkan dengan keuntungan

finansialnya.

c. Badan-badan usaha yang mendapat pembiayaan investasi sari

Bank harus mampu memperoleh keuntungan finansial (financial

benefit) agar dapat hidup dan berkembang serta memenuhi

kewajibannya kepada Bank. Investasi dapat digolongkan menjadi

3 (tiga) kategori, yaitu: Investasi pada masing-masing komponen

aktiva lancar, Investasi pada aktiva tetap atau proyek, dan

Investasi dalam efek atau surat berharga (securities).

3. Pembiayaan Konsumtif Syariah

Secara definitif, konsumsi adalah kebutuhan individual meliputi

kebutuhan baik barang maupun jasa yang tidak dipergunakan

untuk tujuan usaha. Dengan demikian yang dimaksud pembiayaan

konsumtif adalah jenis pembiayaan yang diberikan untuk tujuan di

luar usaha dan umumnya bersifat perorangan. Menurut jenis


13

akadnya dalam produk pembiayaan syariah, Pembiayaan

Konsumtif dapat dibagi menjadi 5 (lima) bagian, yaitu:

a. Pembiayaan Konsumen Akad Mudharabah.

b. Pembiayaan Konsumen Akad IMBT.

c. Pembiayaan Konsumen Akad Ijarah.

d. Pembiayaan Konsumen Akad Istishna’.

e. Pembiayaan Konsumen Akad Qard + Ijarah.

4. Pembiayaan Sindikasi

Secara definitif, yang dimaksud dengan pembiayaan sindikasi

adalah pembiayaan yang diberikan oleh lebih dari satu lembaga

keuangan bank untuk satu objek pembiayaan tertentu. Pada

umumnya, pembiayaan ini diberikan bank kepada nasabah

korporasi yang memiliki nilai transaksi yang sangat besar. Sindikasi

ini mempunyai tiga(3) bentuk, yakni:

a. Lead Syndication, yakni sekelompok bank yang secara bersama-

sama membiayai suatu proyek dan dipimpin oleh satu bank yang

bertindak sebagai leader.

b. Club Deal, yakni sekelompok bank yang secara bersama-sama

membiayai suatu proyek, tapi antara bank yang satu dengan

yang lain tidak mempunyai hubungan kerja sama bisnis dalam

arti penyatuan modal.

c. Sub Syndication, bentuk sindikasi yang terjadi antara suatu bank

dengan salah satu bank peserta sindikasi lain dan kerja sama
14

bisnis yang dilakukan keduanya tidak berhubungan secara

langsung dengan peserta sindikasi lainnya.

5. Pembiayaan Berdasarkan Take Over

Salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan bank syariah

adalah membantu masyarakat untuk mengalihkan transaksi yang

sesuai dengan syariah. Dalam hal ini, atas permintaan nasabah,

bank syariah melakukan pengambilalihan hutang nasabah di bank

konvensional dengan cara memberikan jasa hiwalah atau dapat

juga menggunakan qard, disesuaikan dengan ada atau tidaknya

unsur bunga dalam hutang nasabah kepada konvensional. Setelah

nasabah melunasi kewajibannya kepada bank konvensional,

transaksi yang terjadi adalah transaksi antara nasabah dengan

bank syariah. Dengan demikian, yang dimaksud dengan

pembiayaan berdasarkan take over adalah pembiayaan yang

timbul sebagai akibat dari take over terhadap transaksi non syariah

yang telah berjalan yang dilakukan oleh bank syariah atas

permintaan nasabah.

6. Pembiayaan Letter Of Kredit (L/C)

Secara definitif, yang dimaksud dengan pembiayaan Letter Of

Credit (L/C) adalah pembiayaan yang diberikan dalam rangka

memfasilitasi transaksi impor atau ekspor nasabah. Pada

umumnya, pembiayaan L/C dapat menggunakan beberapa akad,

yaitu:
15

1) Pembiayaan L/C Impor

Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 34/DSN-

MUI/IX/2002, akad yang dapat digunakan untuk pembiayaan L/C

Impor adalah:

a. Wakalah bil Ujrah.

b. Wakalah bil Ujrah dengan Qardh.

c. Murabahah.

d. Salam atau Istishna dan Murabahah.

e. Wakalah bil Ujrah dan Mudharabah.

f. Musyarakah, dan

g. Wakalah bil Ujrah dan Hawalah

2) Pembiayaan L/C Ekspor

Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 35/DSN-

MUI/IX/2002, akad yang dapat digunakan untuk pembiayaan L/C

Ekspor adalah:

a. Wakalah bil Ujrah.

b. Wakalah bil Ujrah dan Qardh.

c. Wakalah bil Ujrah dan Mudharabah.

2.1.4 Analisis Pembiayaan

Analisis pembiayaan adalah kegiatan yang menelaah aspek-aspek

penting dan patut diketahui dari nasabah yang akan dibiayai oleh

Bank Analisis pembiayaan di bank syariah bertujuan untuk:

1. Menilai kelayakan usaha calon peminjam.

2. Menekan resiko akibat tidak terbayarnya pembiayaan.


16

3. Menghitung kebutuhan pembiayaan yang layak.

Dalam melakukan pendanaan kepada nasabah dalam bentuk

pemberian pembiayaan, ada beberapa hal yang harus diperhtikan

berkaitan dengan penilaian pembiayaan, oleh karena layak tidaknya

pembiayaan yang diberikan akan sangat mempengaruhi stabilitas

keuangan bank. Penilaian pembiayaan harus memenuhi kriteria

sebaai berikut:

a. Keamanan pembiayaan (safety). Harus benar-benar diyakini

bahwa pembiayaan tersebut bisa dilunasi kembali.

b. Terarahnya tujuan penggunaan pembiaayaan. Pembiayaan akan

digunakan untuk tujuan yang sejalan dengan kepentingan

masyarakat dan setidaknya tidak bertentangan dengan peraturan

yang berlaku.

c. Menguntungkan (profitable). Pembiayaan yang diberikan

menguntungkan bagi bank maupun bagi nasabah..

Prinsip pembiayaan 6C menurut Binti Nur Aisyah (2014), sebagai

berikut:

1. Character, artinya sifat atau karakter nasabah pengambil

pembiayaan. Hal ini yang perlu ditekankan pada nasabah di

bank syariah adalah bagaimana sifat amanah, kejujuran,

kepercayaan seseorang nasabah. Kegunaan penilaian

karakter adalah untuk mengetahui sejauh mana kemauan

nasabah kegunaan penilaian karakter adalah untuk

mengetahui sejauh mana kemauan nasabah untuk


17

memenuhi kewajibannya (wiliness to pay) sesuai dengan

perjanjian yang telah ditetapkan. Sebagai alat untuk

memperoleh gambaran tentang karakter dari calon nasabah

tersebut, dapat ditempuh melalui upaya antara lain:

a. Meneliti riwayat hidup calon nasabah

b. Meneliti reputasi calon nasabah tersebut di lingkungan

usahanya

c. Meminta bank to bank information (Sistem Informasi

Debitur)

d. Mencari informasi kepada asosiasi-asosiasi usaha dimana

calon nasabah berada

e. Mencari informasi apakah calon nasabah suka berjudi

f. Mencari informasi apakah calon nasabah memiliki hobi

berfoya-foya.

2. Capacity, artinya kemampuan nasabah untuk menjalankan

usahanya guna memperoleh laba sehingga dapat

mengembalikan pinjaman/pembiayaan dari laba yang

dihasilkan. Penilaian ini bermanfaat untuk mengukur sejauh

mana calon mudharib mampu melunasi utang-utangnya

(ability to pay) secara tepat waktu, dari hasil usaha yang

diperoleh.

Pengukuran capacity tersebut dapat dilakukan melalui

berbagai pendekatan berikut ini:


18

a. Pendekatan historis, yaitu menilai past performance, apakah

menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu.

b. Pendekatan finansial, yaitu menilai latar belakang pendidikan

para pengurus. Hal ini untuk menjamin profesionalitas kerja

perusahaan.

c. Pendekatan yuridis, yaitu secara yuridis apakah calon nasabah

mempunyai kapasitas untuk mewakili badan usaha yang

diwakilinya untuk mengadakan perjanjian kredit dengan bank.

d. Pendekatan manajerial, yaitu menilai sejauh mana kemampuan

dan keterampilan nasabah melaksanakan fungsi-fungsi

manajemen dalam memimpin perusahaan.

e. Pendekatan teknis, yaitu untuk menilai sejauh mana

kemampuan calon nasabah mengelola faktor-faktor produksi

seperti tenaga kerja, sumber bahan baku, peralatan-peralatan ,

administrasi dan keuangan, industrial relation sampai pada

kemampuan merebut pasar.

3. Capital, artinya besarnya modal yang diperlukan peminjam. Hal ini

juga termasuk struktur modal kinerja hasil dari modal bila

debiturnya merupakan perusahaan, dan segi pendapatan jika

debiturnya merupakan perorangan. Makin besar modal sendiri

dalam perusahaan, tentu semakin tinggi kesungguhan calon

mudharib menjalankan usahanya sehingga bank akan merasa

lebih yakin memberikan pembiayaan. Kemampuan modal sendiri

akan menjadi benteng yang kuat bagi usahanya tatkala ada


19

goncangan dari luar, misalnya karena tekanan inflasi.

Kemampuan capital pada umumnya dimanefestasikan dalam

bentuk penyediaan self financial, yang sebaiknya lebih besar

dibandingkan dengan pembiayaan yang diminta. Bentuk ini tidak

harus dengan uang tunai, melainkan bisa berupa uang tanah,

bangunan, dan mesin-mesin. Besar kecilnya capital bisa dilihat

dari neraca perusahaan yaitu komponen owner equity, laba

ditahan dll. Untuk perorangan bisa dilihat dari daftar kekayaan

yang bersangkutan setelah dikurangi utang-utangnya.

4. Collateral, artinya agunan yang diberikan oleh calon nasabah atas

pembiayaan yang diajukan. Agunan merupakan sumber

pembayaran kedua. Dalam hal nasabah tidak dapat membayar

agunannya. Maka bank syariah dapat melakukan penjualan

terhadap agunan. Hasil penjualan agunan digunakan sebagai

sumber pembayaran kedua untuk meelunasi pembiayaan. Bank

tidak akan memberikan pembiayaan yang melebihi dari nilai

agunan, kecuali untuk pembiayaan tertentu yang dijamin

pembayarannya oleh pihak tertentu. Dalam analisis agunan, faktor

yang sangat penting dan harus diperhatikan adalah purnajual dari

agunan yang diserahkan kepada bank. Bank syariah perlu

mengetahui minat pasar terhadap agunan yang diserahkan oleh

calon nasabah. Bila agunan merupakan barang yang diminati oleh

banyak orang (marketable), maka bank yakin bahwa aguanan

yang diserahkan calon nasabah mudah diperjualbelikan.


20

Pembiayaan yang ditutup oleh agunan yang purnajualnya bagus,

risikonya rendah. Penilaiannya dapat ditinjau dari dua segi:

a. Segi ekonomis, yaitu nilai ekonomis dari barang yang

digunakan

b. Segi yuridis, yaitu apakah agunan tesebut memenuhi syarat-

syarat yuridis untuk dipakai sebagai agunan.

5. Condition Of Economy, artinya analisis terhadap kondisi

perekonomian. Bank perlu mempertimbangkan sektor usaha calon

nasabah dikaitkan dengan kondisi ekonomi. Bank perlu

melakukan analisis dampak kondisi ekonomi terhadap usaha

calon nasabah di masa yang akan datang, untuk mengetahui

pengaruh kondisi ekonomi terhadap usaha calon nasabah.

Penilaian kondisi ekonomi dapat dilihat dari:

a. Keadaan konjungtur

b. Peraturan-peraturan pemerintah

c. Keadaan, politik dan perekonomian dunia

d. Keadaan lain sangat mempengaruhi pemasaran.

6. Constrain, artinya hambatan-hambatan yang mungkin

mengganggu proses usaha.

Analisis pembiayaan memiliki dua tujuan, yaitu: tujuan umum

dan khusus. Tujuan umum adalah pemenuhan jasa pelayanan

terhadap kebutuhan masyarakat dalam rangka mendorong dan

melancarkan perdagangan, produksi, jasa-jasa, bahkan konsumsi


21

yang semuanya ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup

masyarakat. Sedangkan tujuan khusus adalah:

a. Untuk menilai kelayakan usaha calon peminjam.

b. Untuk menekan risiko akibat tidak terbayarnya pembiayaan.

c. Untuk menghitung kebutuhan pembiayaan yang layak.

2.2 Tinjauan Empirik

Hasil penelitian terdahulu dapat dijadikan dasar gambaran penelitian

selanjutnya walaupun ada perbedaan subyek, obyek, variable

penelitian, dan metode analisis yang digunakan maupun indicator

yang di teliti.

Penelitian pertama dilakukan oleh Cicin Suryani, Asep Ramdan

Hidayat dan Nunung Nurhayati (2014) dengan judul Analisis

Kelayakan Keputusan Bank Terhadap Pemberian Pembiayaan Modal

Kerja (Mikro IB) Kepada Calon Nasabah Pada Bank Bri Syariah Kcp

Setiabudi. Pembiayaan pada BRI Syariah KCP Setiabudi lebih di

dominasi pada permintaan pembiayaan kebutuhan modal kerja, hal ini

di dasari karena kebutuhan besar sebuah usaha terdapat pada modal

kerja. Pemberian pembiayaan modal kerja tidak selalu sesuai dengan

pengajuan yang calon nasabah ajukan, hal ini dikarenakan pihak bank

terlebih dahulu menganalisis kelayakan calon nasabah dengan

beberapa faktor.

Metode yang di gunakan adalah deskriptif analisis Dalam

penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan

pendekatan kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan


22

secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta yang

berhubungan langsung dengan analisa kelayakan pembiayaan bank

syariah, pada setiap tahap kategori pembiayaan (Mikro iB). Hasil dari

penelitian menunjukan bahwa kelayakan keputusan Bank dilakukan

dengan dua tahapan analisa pada umumnya di kenal dengan analisa

kualitatif dan analisa kuantitatif, pemberian pembiayaan modal kerja

Mikro iB dilakukan dengan 6 tahapan analisa pemberian modal Kerja.

Penelitian kedua dilakukan Tri Prayitno (2017) dengan judul

Analisis Kelayakan Pemberian Pembiayaan Modal Kerja Untuk Sektor

Usaha Mikro Dan Kecil Di Bprs Madina Mandiri Sejahtera. Data

kualitatif dapat diperoleh dari lapangan baik berupa wawancara, data

tertulis maupun dokumen.

Hasil penelitian menunjukkan Prosedur yang diterapkan di Bank

Madina Syariah dalam praktiknya sudah dilaksanakan sesuai dengan

ketentuan-ketentuan umum yang telah ditetapkan Bank Indonesia,

OJK dan SOP bank. Analisis kelayakan pemberian pembiayaan modal

kerja untuk usaha mikro dan kecil di Bank Madina Syariah dengan

menggunakan prinsip 5C + 1C yang berupa Character, Capacity,

Capital, Colateral, Condition, dan Constrain. Selain itu, kendala BPRS

Madina Mandiri Sejahtera dalam pemberian pembiayaan modal kerja

yaitu usaha nasabah belum mempunyai laporan keuangan yang baik

dan jaminan yang diberikan belum memenuhi nilai dari jumlah plafon

yang diajukan dan belum memenuhi keabsahan dan legalitasnya.

Oleh karena itu, BPRS Madina Mandiri Sejahtera dalam mengatasi


23

kendala tersebut dengan cara menganalisis pendapatan nasabah,

kemampuan nasabah dalam mengelola usahanya, mengetahui

character dari calon nasabah, dan menganalisis melalui BI Checking.

Penelitian ketiga dilakukan oleh Irkhalia Zakiyani (2015) dengan

judul Analisis Kelayakan Nasabah Pembiayaan Modal Kerja (Study

Kasus Di Kjks Binama Semarang). Dari apa yang akan menjadi pokok

permasalahan yang akan dibahas, peneliti menggunakan metode

penelitian Kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk

mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang masalah –

masalah manusia dan sosial. Penelitian ini menggunakan teknik

pengumpulan data yang meliputi wawancara, observasi dan

dokmentasi. Kemudian teknik analisa menggunakan metode

deskriptif, yang bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai

subjek penelitian berdasarkan data dan variabel yang diperoleh dari

kelompok subjek yang diteliti.

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan,

penulis dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan, diantaranya:

pertama, prosedur pengajuan pembiayaan di KJKS Binama Semarang

sama dengan prosedur pengajuan pembiayaaan yang ada di lembaga

keuangan lainnya mulai dari melakukan negoisasi, menemui CS,

mengisi formulir pengajuan pembiayaan, melampirkan dokumen

pendukung, mengisi formulir pembiayaan, analisis pembiayaan,

peninjauan lokasi, pemutusan, pencairan, pemantauan pembiayaan.


24

Kedua, analisis dalam menilai kelayakan nasabah menggunakan

prinsip 5c yaitu: character, capacity, capital, coleteral, condition of

economi, Ketiga, Tinggi rendahnya suatu pembiayaan bermasalah

tergantung dengan proses analisis yang dilakukan oleh KJKS Binama

Semarang.

Tabel 2.1

Penelitian Relevan

No Nama Judul Hasil Persamaan


Peneliti dan Penelitian Penelitian dan
Tahun Perbedaan
Penelitian

1 Cicin Suryani, Analisis Hasil dari Persamaan:


Asep Kelayakan penelitian Jenis
Ramdan Keputusan menunjukan Penelitian
Hidayat dan Bank bahwa Variabel
Nunung Terhadap Kelayakan Bebas
Nurhayati Pemberian keputusan Perbedaan:
(2014) Pembiayaan Bank Variabel
Modal Kerja dilakukan Terikat
(Mikro IB) dengan dua Subjek
Kepada Calon tahapan Penelitian
Nasabah analisa pada
Pada Bank umumnya di
Bri Syariah kenal dengan
Kcp analisa
Setiabudi. Kualitatif dan
analisa
kuantitatif,Pem
berian
pembiayaan
Modal Kerja
Mikro iB
dilakukan
dengan 6
tahapan
analisa
25

pemberian
Modal Kerja. .
2 Tri Prayitno Analisis Hasil Persamaan:
(2017) Kelayakan penelitian Metode
Pemberian menunjukkan Penelitian
Pembiayaan Prosedur yang Variabel
Modal Kerja diterapkan di bebas
Untuk Sektor Bank Madina Perbedaan:
Usaha Mikro Syariah dalam Variabel
Dan Kecil Di praktiknya Terikat
Bprs Madina sudah Subjek
Mandiri dilaksanakan
Sejahtera. sesuai dengan
ketentuankete
ntuan umum
yang telah
ditetapkan
Bank
Indonesia,
OJK dan SOP
bank. Analisis
kelayakan
pemberian
pembiayaan
modal kerja
untuk usaha
mikro dan kecil
di Bank
Madina
Syariah
dengan
menggunakan
prinsip 5C +
1C yang
berupa
Character,
Capacity,
Capital,
Colateral,
Condition, dan
Constrain.
3 Irkhalia Analisis Berdasarkan Persamaan:
Zakiyani Kelayakan penelitian dan Metode
(2015 Nasabah pembahasan Penelitian
Pembiayaan yang telah Variabel
Modal Kerja penulis Bebas
(Study Kasus lakukan, Perbedaan:
Di Kjks penulis dapat Variabel
26

Binama menyimpulkan terikat


Semarang). beberapa Subjek
kesimpulan, Penelitian
analisis dalam
menilai
kelayakan
nasabah
menggunakan
prinsip 5c
yaitu:
character,
capacity,
capital,
coleteral,
condition of
economi,
Ketiga, Tinggi
rendahnya
suatu
pembiayan
bermasalah
tergantung
dengan proses
analisis yang
dilakukan oleh
KJKS Binama
Semarang.
Sumber: Diolah Peneliti

2.3 Kerangka Pemikiran

Perbankan syariah dalam memberikan pembiayaan harus

berpedomana pada prinsip 6C. Penerapan prinsip 6C oleh Bank

syariah salah satunya diwujudkan dalam melakukan analisa terhadap

semua jenis pembiayaan yaitu menganalisa keyakinan atas kemauan

dan kemampuan calon nasabah untuk melunasi seluruh kewajibannya

pada waktunya, sebelum bank syariah menyalurkan dana kepada

nasabah penerima fasilitas. Bank syariah dalam memberikan

pembiayaan berharap bahwa pembiayaan tersebut berjalan dengan

lancar, nasabah mematuhi apa yang telah disepakati dalam perjanjian


27

dan membayar lunas bilamana jatuh tempo. Keyakinan tersebut

diperoleh dari penilaian dengan seksama terhadap watak,

kemampuan, modal, agunan, prospek usaha dari calon nasabah

penerima fasilitas, dan hambatan (character, capacity, capital,

collateral, condition, constraint). Debitur dalam mengajukan

permohonan pembiayaan harus memenuhi persyaratan atau berkas

sebagai permohonan pembiayaan, yang kemudian akan diperiksa

keabsahannya oleh pihak bank atau kreditur, kemudian akan

ditentukan mana yang diterima dan yang ditolak.

Pembiayaan modal kerja adalah pembiayaan untuk memenuhi

kebutuhan modal kerja atau modal investasi yaitu barang dagangan,

barang baku produk, dan alat-alat kerja. Perjanjian yang dilakukan

oleh dua pihak ini antara mudharib dengan shahibul mal dalam

prakteknya akan dijumpai sebuah cidera janji yang dilakukan oleh

nasabah. Pembiayaan dirasa cukup penting mengingat kebutuhan

untuk pembiayaan modal kerja dan investasi maka diperlukan

menjalankan usaha dan meningkatkan akumulasi pemupukan modal

kerja. Semakin meningkatnya penyaluran pembiayaan, biasanya

disertai pula dengan meningkatnya pembiayaan yang bermasalah

atas pembiayaan yang diberikan. Bahaya yang timbul dari

pembiayaan macet adalah tidak terbayarnya kembali pembiayaan

tersebut, baik sebagian maupun seluruhnya.

Pemberian pembiayaan modal kerja kepada konsumen atau

calon nasabah atau debitur adalah dengan melewati proses


28

pengajuan pembiayaan dan proses analisis pemberian pembiayaan

terhadap pembiayaan usaha yang diajukan, setelah menyelesaikan

prosedur administrasi barulah pihak bank melakukan analisis

pembiayaan. Analisis yang digunakan dalam perbankan adalah

Analisis 6C yaitu Character, Capacity, Capital, Condition, Collateral,

dan Constraint. Dari hasil analisis tersebut, bagi yang diterima akan

dievaluasi kembali kelayakannya apakah benar-benar layak atau tidak

diberikan pembiayaan oleh bank. Berdasarkan kerangka pemikiran

tersebut, paradigma penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

BANK PANIN DUBAI SYARIAH

PEMBIAYAAN

PEMBIAYAAN MODAL KERJA

ANALISIS 6 C

Character Capacity Capital Condition Collateral Constraint

PEMBERIAN PEMBIAYAAN

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran


(Sumber: Diolah Peneliti)
29

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengambil

metode analisis deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian

yang bertujuan untuk menggambarkan (mendeskripsikan) fenomena

yang ditemukan, baik itu berupa faktor risiko, maupun suatu efek atau

hasil. Pemilihan metode deskriptif dalam penelitian ini didasari oleh

maksud peneliti untuk mencoba menggambarkan pemberian

pembiayaan modal kerja dengan menggunakan prinsip 6C yang

terdapat di Bank Panin Dubai Syariah cabang Makassar. Pengambilan

sampel akan dilakukan dengan cara purposive sampling. Purposive

sampling merupakan teknik pengambilan sampel dengan

pertimbangan tertentu.

3.2 Kehadiran Peneliti


30

Kehadiran peneliti di lapangan dalam penelitian kualitatif

merupakan suatu yang mutlak, karena peneliti bertindak sebagai

instrumen penelitian sekaligus pengumpul data. Keuntungan yang

didapat dari kehadiran peneliti sebagai instrumen adalah subjek lebih

tanggap akan kehadiran peneliti, peneliti dapat menyesuaikan diri

dengan setting penelitian, keputusan yang berhubungan dengan

penelitian dapat diambil dengan cara cepat dan terarah, demikian juga

dengan informasi dapat diperoleh melalui sikap dan cara informan

dalam memberikan informasi.

3.3 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini terletak di kantor Bank Panin Dubai Syariah

cabang Makassar

3.4 Sumber Data

Sumber data yang digunakan peneliti ada 2 macam yaitu:

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari

sumber yang diteliti, dengan melakukan pengamatan dan

pencatatan secara sistematis terhadap masalah yang dihadapi,

seperti memperoleh informasi melalui dokumentasi, observasi dan

wawancara dari objek penelitian. Dalam hal ini peneliti melakukan

penelitian secara langsung dan melakukan wawancara kepada

pihak Bank Panin Dubai Syariah cabang Makassar. Dengan data

ini peneliti mendapat gambaran umum tentang Bank Panin Dubai

Syariah cabang Makassar.


31

b. Data Sekunder

Merupakan sumber data yang didapatkan peneliti secara tidak

langsung melalui media perantara. Dalam hal ini data yang

diperoleh yaitu melalui buku-buku referensi serta data dari internet.

Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah segala data

yang tidak berasal dari sumber data primer yang dapat memberikan

dan melengkapi informasi terkait objek penelitian baik yang

berbentuk buku, karya tulis, dan tulisan maupun artikel yang

berhubungan dengan objek penelitian.

3.5 Metode Pengumpulan Data

1. Metode Wawancara

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian

kualitatif lebih menekankan pada jenis teknik wawancara,

khususnya wawancara mendalam (deep interview). Dalam metode

ini peneliti melakukan wawancara langsung kepada pihak terkait,

yang berkaitan dengan urusan pemberian pembiayaan modal kerja

di Bank Panin Dubai Syariah cabang Makassar.

2. Metode Observasi

Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data

dalam penelitian apapun, termasuk penelitian kualitatif, dan

digunakan untuk memperoleh informasi atau data sebagaimana

tujuan penelitian. Dalam metode ini peneliti langsung melakukan

pengamatan di Bank Panin Dubai Syariah cabang Makassar dalam

rangka mencari data yang akan dijadikan obyek penelitian.


32

3. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan

mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan-catatan suatu

peristiwa yang ditinggalkan, baik tertulis maupun tidak tertulis.

Dalam hal ini, peneliti mengumpulkan data berupa petunjuk teknis

tentang pembiayaan di Bank Panin Dubai Syariah cabang

Makassar.

3.6 Teknik Analisis Data

Teknik pembahasan yang digunakan adalah analisis deskriptif

dengan pendekatan kualitatif karena data yang diperoleh bukan

berupa angka namun merupakan informasi naratif yang tidak

mementingkan banyak data tetapi detail dan rincinya data. Analisis

data kualitatif adalah suatu cara analisis yang menghasilkan data

deskriptif analisis yaitu apa yang dinyatakan responden secara tertulis

atau lisan dan juga perilaku yang nyata yang diteliti dan dipelajari

sebagai sesuatu yang utuh. Metode analisis deskriptif dapat diartikan

sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan

menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek

penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat

sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana

adanya.

3.7 Validitas dan Realibilitas Data

Validitas dan reliabilitas pada penelitian ini menggunakan teknik

triangulasi dan bahan referensi. Triangulasi adalah teknik


33

pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain

di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding

terhadap data itu. Triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan

informasi atau data dengan cara yang berbeda. Dalam penelitian

kualitatif peneliti menggunakan metode wawancara, obervasi, dan

survei. Untuk memperoleh kebenaran informasi yang handal dan

gambaran yang utuh mengenai informasi tertentu, peneliti bisa

menggunakan metode wawancara dan obervasi atau pengamatan

untuk mengecek kebenarannya. Selain itu, peneliti juga bisa

menggunakan informan yang berbeda untuk mengecek kebenaran

informasi tersebut. Sedangkan bahan referensi disini adalah adanya

pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh

peneliti. Sebagai contoh, data hasil wawancara perlu didukung

dengan adanya rekaman wawancara.

3.8 Tahapan-Tahapan Penelitian

a. Tahap Pra Lapangan

Peneliti mengadakan survei pendahuluan yakni dengan

mencari subjek sebagai narasumber. Selama proses survei ini

peneliti melakukan penjajagan lapangan terhadap latar penelitian,

mencari data dan informasi tentang pemberian pembiayaan modal

kerja. Peneliti juga menempuh upaya konfirmasi ilmiah melalui

penelusuran literatur buku dan referensi pendukung penelitian.

Pada tahap ini peneliti melakukan penyusunan rancangan


34

penelitian yang meliputi garis besar metode penelitian yang

digunakan dalam melakukan penelitian.

b. Tahap Pekerjaan Lapangan

Dalam hal ini peneliti memasuki dan memahami latar penelitian

dalam rangka pengumpulan data.

c. Tahap Analisis Data

Tahapan yang ketiga dalam penelitian ini adalah analisis data.

Peneliti dalam tahapan ini melakukan serangkaian proses analisis

data kualitatif sampai pada interpretasi data-data yang telah

diperoleh sebelumnya dan selain itu peneliti juga menempuh

proses triangulasi data dan bahan referensi.

d. Tahap Evaluasi dan Pelaporan

Pada tahap ini peneliti berusaha melakukan konsultasi dan

pembimbingan dengan dosen pembimbing yang telah ditentukan.


35

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Perusahaan

4.1.1 Sejarah Bank Panin Dubai Syariah

PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (“Panin Dubai Syariah Bank”),

berkedudukan di Jakarta dan berkantor pusat di Gedung Panin Life

Center, Jl. Letjend S. Parman Kav. 91, Jakarta Barat. Sesuai dengan

pasal 3 Anggaran Dasar Panin Dubai Syariah Bank, ruang lingkup

kegiatan Panin Dubai Syariah Bank adalah menjalankan kegiatan

usaha di bidang perbankan dengan prinsip bagi hasil berdasarkan

syariat Islam. Panin Dubai Syariah Bank mendapat ijin usaha dari Bank

Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia

No.11/52/KEP.GBI/DpG/2009 tanggal 6 Oktober 2009 sebagai bank


36

umum berdasarkan prinsip syariah dan mulai beroperasi sebagai Bank

Umum Syariah pada tanggal 2 Desember 2009.

4.1.2 Visi dan Misi

Menjadi Bank Syariah progresif di Indonesia yang menawarkan

produk dan layanan keuangan komprehensif dan inovatif untuk semua.

1) Misi

a. Menyediakan produk dan layanan yang kreatif, komprehensif

dan inovatif sesuai dengan kebutuhan nasabah

b. Berkontribusi dalam pertumbuhan industri perbankan Syariah di

Indonesia

c. Mengembangkan kompetensi SDI sejalan dengan kebutuhan

industri melalui pelatihan dan pemenuhan tenaga

ahli perbankan syariah

d. Menerapkan kerangka kerja tata kelola perusahaan dan

pengendalian internal yang kuat dalam rangka perlindungan

nasabah dan para pemangku kepentingan.

e. Menciptakan nilai bagi shareholder

2) Visi

Menjadi Bank Syariah progresif di Indonesia yang menawarkan

produk dan layanan keuangan komprehensif dan inovatif untuk

semua

4.1.3 Nilai-Nilai Perusahaan

Nilai-nilai perusahaan merupakan gabungan dari sejumlah nilai

positif yang diadabtasi insan perusahaan dalam melayani nasabah


37

melalui sejumlah jasa dan solusi keuangan. Sejumlah nilai dan

keyakinan tersebut disatupadukan menjadi budaya kerja yang

dijunjung tinggi oleh jajaran manajemen serta karyawan sehingga

menjadi acuan dalam berperilaku dan menjalankan bisnis

perusahaan. Sejumlah nilai yang tercermin nyata melalui perilaku

setiap karyawan dalam perusahaan dapat menciptakan daya tahan

perusahaan dalam menghadapi dan mengatasi berbagai jenis

tantangan, baik internal maupun eksternal, dengan respon yang

cepat dan akurat sehingga dapat menjadikan perusahaan semakin

maju dan memperkuat proses pertumbuhan dan perkembangan.

Adapun nilai-nilai perusahan Bank Panin Syariah adalah sebagai

berikut :

a. Integrity

Setiap karyawan di Bank Panin Syariah dalam setiap

tindakannya mampu membawa prinsip moral dan etika yang

kuat, mencerminkan konsistensi antara prinsip-prinsip dan

perilaku yang baik dalam berkata maupun bertindak sesuai

dengan kondisi sebenarnya, menjaga citra dan nama baik

perusahaan, mengutamakan kepentingan perussahaan dengan

selalu menhindari diri dari hal-hal yang dapat mengakibatkan

benturan kepentingan, dan juga menjunjung tinggi kepercayaan

yang diberikan perusahaan maupun nasabah.

b. Collaboration
38

Mengutamakan kerjasama tim, bersinergi untuk mendapatkan

hasil terbaik, dan fokus dalam bertindak. Melalui teamwork

mampu menciptakan sebuah dreamteam dari berbagai macam

talenta karyawan yang sanggup memberikan solusi atas

masalah yang muncul dengan berbagai macam inovasi dan

pendekatan, agar mampu menciptakan sumber daya yang

handal.

c. Accountability

Dalam pengembangan amanah, setiap karyawan di Bank Panin

Syariah memiliki fungsi yang jelas sehingga setiap tindakan

dapat dipertanggungjawabkan akibatnya dan dapat diukur

kinerjanya melalui pengukuran yang jujur dan objektif.

d. Respect

Semangat kebersamaan adalah hal mutlak yang harus ada

dalam setiap langkah mencapai tujuan. Communications

building diterapkan dengan prinsip saling menghargai, bahwa

sebesar atau sekecil apapun kontribusi yang akan dan telah

diberikan oleh setiap karyawan adalah untuk kepentingan

bersama.

e. Exellence

Nilai ini identik dengan pelayanan prima, demikian halnya

dengan setiap tindakan yang dilakukan oleh karyawan di

perusahaan senantiasa berorientasi kepada kebutuhan

nasabah, pemberian solusi yang efektif dan profesional,


39

memberikan pelayanan terbaik, beyond costumers expectation

dengan tetap mengedepankan aspek kehati-hatian, dengan

ikhlas serta santun selalu mendahulukan kebutuhan nasabah.

4.1.4 Produk PT Bank Panin Dubai Syaariah

1. Produk Dana

a. Tabungan PaS

b. Tabungan Fleksibel

c. Tabungan Bisnis

d. Giro PaS iB

e. Deposito PaS

f. Simpanan Fleximax

g. Tabungan Haji PaS

h. Tabungan Umroh PaS

i. Tabungan Rencana PaS

2. Produk Jasa

a. ATM Card PaS

b. SDB PaS

3. Jasa Operasional

a. PBS Kliring

b. PBS Intercity Clearing

c. PBS RTGS

d. Transfer Dalam Kota (LLG)

e. PBS Referensi Bank

f. PBS Standing Order


40

4. Produk Pembiayaan

a. Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) PaS

b. Pembiayaan Pemilikan Mobil PaS

c. Pembiayaan Investasi (PI) PaS

d. Pembiayaan Modal Kerja (PMK) PaS

e. Pembiayaan Multi Jasa (PMJ) PaS

f. Bank Garansi PaS

5. Produk Tresuri

a. Layanan Tresuri

4.1.5 Struktur Organisasi Bank Panin Dubai Syariah Cabang

Makassar
41

Dalam sebuah organisasi dibutuhkan orang-orang yang mampu

melaksanakan tugas dan wewenang badan usahanya, dan agar

lebih jelas dalam melakukan tujuannya maka dibutuhkan sebuah

struktur organisasi dalam suatu lembaga tersebut. Adapun struktur

organisasi Bank Panin Dubai Syariah cabang Makassar sebagai

berikut :

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Bank Panin Dubai Syariah

Cabang Makassar

Sumber : Bank Panin Dubai Syariah Cabang Makassar


42

4.2 Pembiayaan Modal Kerja Bank Panin Dubai Syariah Cabang

Makassar

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan bapak Miftha Farild

sekalu Assistant Manager dan Financing Head terkait gambaran

umum mengenai pembiayaan modal kerja yang terdapat di bank

Panin Dubai Syariah cabang Makassar, dijelaskan bahwa pembiayaan

modal kerja pada bank Panin Dubai Syariah pada dasarnya

merupakan pembiayaan yang digunakan untuk membiayai kebutuhan

nasabah dalam hal pemenuhan, atau persediaan bahan baku, atau

persedian barang yang mau di jual.

Dalam menyalurkan pembiayaan secara syariah baik dalam

pembiayaan modal kerja dan investasi harus berdasarkan akad yang

sesuai dengan prinsip syariah. Maksimal pembayaran angsuran untuk

pembiyaan modal kerja di bank Panin Dubai Syariah yaitu selama 3

tahun, dikarenakan bank menganggap bahwa perputaran dana pada

pembiayaan modal kerja sangat cepat sehingga bank tidak

memperkenankan jika nasabah membayar angsuran lebih dari 3

tahun.

Sedangkan untuk jumlah plafon pembiayaan modal kerja di bank

Panin Dubai syariah minimal sebesar 100 juta dan maksimal sampai

berapa kemampuan dari nasabah. Tujuan pembiayaan modal kerja

untuk membantu nasabah dalam mengembangkan usahanya, Bank

Panin Dubai Syariah cabang Makassar ingin membantu masyarakat

agar menjadi mandiri dan tidak bergantung pada ketersediaannya


43

lapangan pekerjaan yangs semakin sulit. Selain itu juga pihak bank

Panin Dubai Syariah dapat mengetahui lebih dalam tentang

kemampuan nasabahnya terhadap pembiayaan yang diminta.

4.2.1 Akad Pembiayaan Modal Kerja Bank Panin Dubai Syariah

Cabang Makassar

Akad yang digunakan pada produk pembiayaan modal kerja di

bank Panin Dubai Syariah terdiri atas beberapa jenis akad

diantaranya akad murabahah, akad mudharabah, akad musyarakah

dan beberapa akad lainnya. Tetapi pada pelaksanaannya, akad yang

sering digunakan untuk menyalurkan pembiayaan modal kerja adalah

akad murabahah. Implikasi dari penggunaan akad murabahah

mengharuskan adanya penjual, pembeli dan barang yang dijual.

Sebagaimana diketahui dalam pengertian akad murabahah yaitu akad

pembiayaan suatu barang yang diperlukan nasabah dengan

menegaskan harga belinya secara jujur dan terbuka kepada nasabah

dan nasabah membayar kepada bank dengan harga yang lebih

sebagai keuntungan yang disepakati dan menyampaikan semua hal

yang berkaitan dengan pembelian barang kepada nasabah.

Sesuai hasil wawancara dengan bapak Miftha Farild selaku

Assistant Manager dan Financing Head terkait dengan penerapan

akad murabahah, dijelaskan bahwa dalam kaitan akad murabahah

dengan pembiayaan modal kerja, maka bank Panin Dubai Syariah

berperan sebagai penjual barang untuk kepentingan nasabah,

pihak bank akan membeli barang yang diperlukaan nasabah dan


44

kemudian menjualnya kembali kepada nasabah dengan harga jual

yang setara dengan harga beli ditambah keuntungan bank dan

nasabah akan mengansur selama jangka waktu pembiayaan yang

diajukan. Pihak bank panin akan menyampaikan semua hal yang

berkaitan dengan pembelian barang kepada nasabah. Kemudahan

yang diberikan oleh bank Panin Dubai Syariah adalah nasabah dapat

mengangsur pembayarannya dengan jumlah angsuran yang tidak

akan berubah selama masa perjanjian. Kemudahan tersebut dapat

meringankan beban yang harus ditanggung oleh nasabah.

Gambar 4.2 Skema Pembiayaan Modal Kerja Akad Murabahah

Sumber : Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syariah

Keterangan :

1) Bank syariah dan nasabah melakukan negoisasi tentang rencana

transaksi jual beli yang akan dilakukan. Dan syarat-syarat tentang

barang yang akan menjadi objek murabahah.


45

2) Bank syariah melakukan akad jual beli dengan nasabah, dimana

bank syariah sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Sudah

ditetapkan barang dan harga jualnya.

3) Atas dasar akad yang dilaksanakan antara bank syariah dan

nasaba, maka bank syariah membeli barang dari supplier.

4) Supplier mengirimkan barang kepada nasabah atas perintah bank

syariah.

5) Nasabah menerima barang dari supplier dan menerima dokumen

kepemilikan barang tersebut.

6) Setelah menerima barangdan dokumen, maka nasabah melakukan

pembayaran. Pembayaran yang biasa dilakukan nasabah yaitu

dengan cara angsuran.

4.2.2 Persyaratan Pembiayaan Modal Kerja Bank Panin Dubai Syariah

1. Ketentuan dan persyaratan calon nasabah

1) Persyaratan individu :

a. Fomulir permohonan pembiayaan untuk individu

b. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga

c. Fotocopy Surat Nikah (bila sudah menikah)

d. Fotocopy NPWP

e. Asli slip gaji dan surat keterangan kerja (untuk pegawai atau

karyawan)

f. Laporan keuangan atau laporan usaha 2 tahun terakhir

g. Fotocopy mutasi rekening buku tabungan atau statement giro 6

bulan terakhir.
46

h. Bukti legalitas jaminan (SHM/SHGB/BPKB/Bilyet deposito/dll)

i. Bukti-bukti purchase order atau Surat Perintah Kerja (SPK) jika

ada.

2) Persyaratan institusi atau perusahaan:

a. Surat permohonan pembiayaan dari manajemen atau pengurus

b. NPWP institusi yang masih berlaku

c. Legalitas pendirian dan perubahannya (jika ada) dan

pengesahannya

d. Izin-izin usaha: SIUP, TDP, SITU dan lainnya (jika dibutuhkan)

yang masih berlaku

e. Data-data pengurus perusahaan

f. Laporan keuangan 2 tahun terakhir

g. Fotocopy mutasi rekening buku tabungan/statement giro 6

bulan terakhir.

h. Bukti legalitas jaminan (SHM/SHGB/BPKB/bilyet deposito/dll)

i. Bukti-bukti prchase order atau Surat Perintah Kerja (SPK) jika

ada.

4.2.3 Prosedur Pemberian Pembiayaan Modal Kerja di Bank Panin

Dubai Syariah

Hasil wawancara peneliti dengan bapak Miftha Farild selaku

Assistant Manager dan Financing Head maka peneliti dapat

mengemukakan bahwa prosedur pembiayaan modal kerja dilakukan

secara bertahap yaitu sebagai berikut:


47

1. Pengajuan pembiayaan:

a. Calon nasabah mengajukan permohonan yang sesuai dengan

format standart memorandum internal pembiayaan.

b. Calon nasabah menyerahkan dokumen-dokumen persyaratan,

seperti, legalitas usaha, profil usaha, izin-izin usaha, fotocopy

dokumen jaminan, fotocopy/asli dari kontrak atau perjanjian kerja

dari Bowher (bila ada); dan laporan keuangan inhouse maupun

audited (bila ada).

2. Verifikasi dokumen calon nasabah:

a. Account Officer akan melakukan verifikasi terhadap data diri

nasabah melalui review dokumen persyaratan yang diserahkan

oleh nasabah.

b. Bank (dalam hal ini, Account Officer) wajib melakukan kunjungan

secara on-site ke tempat hal-hal sebagai berikut, profil usaha

nasabah, pendapatan usaha, analisa arus kas dan laporan

keuangan, dan melakukan analisa yuridis dan analisa kontrak (bila

ada).

c. Bank akan melakukan penilaian jaminan yang diberikan nasabah

yang hasilnya dijadikan pertimbangan dalam pengambilan

keputusan.

d. Account Officer akan membuat usulan pembiayaan berdasarkan

hasil analisa dan verifikasi terhadap dokumen calon nasabah. AO

(Account Officer) akan menganalisa permohonan pembiayaan

berdasarkan analisis berbasis 6C meliputi character, capacity,


48

capital, collateral, condition of economy dan Constraint. Hal

tersebut didasarkan pada tujuan analisis pembiayaan yaitu untuk

mengetahui kesanggupan dan kesungguhan calon nasabah dalam

membayar kembali pembiayaan sesuai dengan persyaratan yang

terdapat dalam perjanjian pembiayaan.

3. Persetujuan pengajuan pembiayaan

a. Bank akan membuat kesimpulan mengenai kelayakan proposal

pembiayaan yang dibuat oleh AO. Jika layak AO (Account Officer)

akan menyusun proposal pembiayaan untuk diajukan ke pemegang

limit atau pemutus pembiayaan yang berwenang.

b. Apabila calon nasabah dinyatakan layak, bank akan memberikan

surat persetujuan prinsip pembiayaan kepada calon nasabah.

c. Apabila nasabah dinyatakan tidak layak, maka bank akan segera

mengkonfirmasi kepada nasabah dan mengeluarkan surat

penolakan pembiayaan.

4. Pengikatan pembiayaan dan pengikatan jaminan:

a. Apabila nasabah telah dinyatakan layak dan disetujui untuk

diberikan pembiayaan, nasabah diminta datang ke bank untuk

melakukan pengikatan.

b. Bank akan mengecek seluruh keaslian dokumen jaminan

c. Nasabah akan melakukan pengikatan pembiayaan dan jaminan

d. Setelah pengikatan dilakukan bank menyimpan asli dokumen

jaminan
49

5. Pembayaran biaya-biaya sebelum pencairan

a. Sebelum pencairan fasilitas pembiayaan nasabah wajib

menyediakan dana minimal sebesar seluruh biaya-biaya yang

timbul di rekening nasabah.

b. Biaya yang timbul antara lain: biaya administrasi, biaya asuransi

jiwa, asuransi kebakaran, asuransi pembiayaan (bila disyaratkan),

biaya notaris, biaya penilaian jaminan, dan biaya materai.

6. Pencairan dana fasilitas

a. Pembiayaan dapat dicairkan jika permohonan pembiayaan modal

kerja telah ditandatangani, pengikatan jaminan telah dilakukan

nasabah, melunasi biaya-biaya. Proses pengambilan dana

pembiayaan modal kerja dimohonkan kepada bagian teller.

b. Setiap proses pencairan pembiayaan di Bank Panin Dubai Syariah

harus berasaskan aman, terarah dan produktif.

7. Pembayaran kewajiban oleh nasabah:

a. Nasabah membayar sesuai dengan tanggal angsuran pembayaran

kewajiban dan jadwal angsuran yang telah disepakati.

8. Monitoring dan pelunasan pembiayaan

a. Monitoring dapat dilakukan secara On Desk, yaitu memantau

ketetapan pembayaran angsuran, atau On Site, misalnya

monitoring ke atau lokasi usaha untuk memantau progress

pelaksanaan usaha
50

b. Fasilitas pembiayaan dinyatakan lulus apabila lunas sesuai jangka

waktu pembiayaan dan nasabah melunasi sebelum jatuh tempo

fasilitas pembiayaan.

c. Setelah pembiayaan nasabah lunas, maka bank akan melakukan

pelepasan jaminan.

4.3 Analisis Pembiayaan Modal Kerja di Bank Panin Dubai Cabang

Makassar

Dalam pemberian pembiayaan modal kerja banyak hal yang

perlu diperhitungkan dan dipertimbangkan agar tidak terjadi hal-hal

yang tidak diinginkan sehingga analisis pembiayaan menjadi tepat

guna. Hal ini diperuntukkan agar tidak membebani nasabah dan

meminimalkan risiko pembiayaan. Analisis pembiayaan modal kerja

bertujuan untuk memperoleh keyakinan apakah nasabah

mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya

kepada bank secara tertib, sesuai dengan kesepakatan dengan

bank.

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan bapak Miftha Farild

selaku Assistant Manager dan Financing Head mengenai proses

analisis kelayakan usaha nasabah, dijelaskan bahwa analissi

pembiayaan yang dilakukan oleh pihak bank Panin Dubai Syariah

berpatokan pada prinsip analisis 6C. Prinsip analisis 6C terdiri atas:

1) Character

Menilai karakter didapat pada saat wawancara dengan cara

tanya jawab yang dilakukan pihak bank Panin kepada nasabah


51

pada saat nasabah pertama kali berurusan dengan pihak bank

dalam rangka pengajuan pembiayaan modal kerja. Hal yang biasa

ditanyakan yang berhubungan dengan karakter adalah seputar

nama nasabah, nama istri dan anak-anak (jika telah berkeluarga),

tempat tinggal, kehidupan disekitar tempat tinggal, kebiasaan yang

dilakukan, dan lain-lain yang berhubungan dengan nasabah.

AO akan memeriksa Daftar Hitam Bank Indonesia (BI

Checking) untuk melihat kolektibilitas pembiayaan/tingkat

kesehatan pembiayaan nasabah. AO menggunakan system Slik

dengan cara mencantumkan KTP nasabah guna melihat fasilitas

pembiayaan nasabah di tempat lain. AO juga melakukan trade

checking yaitu pencairan informasi ke rekan bisnis permohonan

pembiayaan, pesaingnya ataupun pemilik usaha sejenis untuk

memperoleh informasi mengenai reputasi, etika, jenis usaha dan

perilaku bisnis calon nasabah. Pada bank Panin Dubai Syariah

apabila terdapat informasi yang negatif terhadap calon nasabah,

seperti: sering berbohong, suka berjudi, terlibat tindakan melanggar

hukum dan lainnya, maka pihak bank akan menolak pembiayaan

tersebut dan harus segera menginformasikan penolakan

secepatnya ke calon nasabah dengan menyampaikan bahwa

permohonan pembiayaannya belum dapat diproses untuk saat

sekarang.

Selain itu, untuk mengetahui karakter calon nasabah, pihak

bank Panin Dubai juga akan mengunjungi tempat usaha calon


52

nasabah yang dibiayai, untuk mendapatkan informasi secara detail

mengenai karakter calon nasabah dengan melihat secara langsung

kondisi usaha dari calon nasabah, apakah sudah sesuai dengan

apa yang disampaikan oleh nasabah pada saat wawancara atau

sebaliknya.

2) Capacity

Capacity digunakan untuk melihat kemampuan calon nasabah

dalam membayar pembiayaan yang dihubungkan dengan

kemampuannya mengelola bisnis serta kemampuan mencari laba,

reputasi usaha, riwayat usaha, keahliannya dalam bidang usaha

tersebut sehigga bank memperoleh keyakinan bahwa suatu usaha

yang dibiayai dengan pembiayaan tersebut dikelola oleh orang

yang tepat. Analis pembiayaan yang dilakukan oleh bank Panin

Dubai Syariah akan melihat bagaimana kemampuan calon nasabah

dalam menghasilkan laba, melihat laporan keuangan 2 tahun

terakhir, mutasi rekning bank nasabah minimal 6 bulan terakhir,

kemampuan membiayai kegiatan operasional sehari-hari, dan

memenuhi kewajiban pembiayaan.

Pengecekan akan kebenaran data-data yang disampaikan

calon nasabah di formulir aplikasi pembiayaan sangat penting untuk

lakukan. Bank Panin Dubai Syariah harus mengetahui informasi

terbaru tentang kondisi dan perkembangan usaha, kemampuan

calon nasabah menjalankan dan mengembangkan usahanya,

pendapatan dan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memastikan


53

apakah pembiayaan yang diberikan akan digunakan untuk

mengembangkan usahanya.

Jenis usaha yang tidak dapat diproses yaitu usaha yang

bertentangan dengan prinsip syariah yaitu misalnya perjudian,

pelacuran, tempat hiburan seperti bar, diskotik, karaoke, pedagang

yang jenis barang dagangannya didominasi oleh minuman

beralkohol, dll.

Persediaan barang yang layak di tempat usaha calon nasabah

harus sesuai dengan perputaran usaha atau penjualan calon

nasabah, jika persediaan stock barang di tempat usaha calon

nasabah tidak banyak maka Bank Panin Syariah akan melakukan

pemeriksaan lebih dalam guna memperoleh informasi yang dapat

dijadikan sebagai pertimbangan penilaian usaha calon nasabah.

3) Capital

Capital adalah berkaitan dengan modal atau kekayaan yang

dimiliki calon nasabah untuk menjalankan dan memelihara

kelangsungan usahanya. Bank Panin Dubai Syariah sangat

memperhatikan modal dari nasabah. Hal ini dilakukan denan alasan

untuk melihat kemauan atau kesungguhan nasabah dalam

mengambil pembiayaan dan juga sebagai penyangga kerugian

usaha nasabah. Penilaian terhadap capital adalah untuk

mengetahui keadaan permodalan berdasarkan informasi keuangan

usaha yang sedang dijalankan seperti nota-nota pembelanjaan,

omzet perhari, meneliti apakah ada modal yang cukup untuk


54

menggerakkan sumber daya secara efektif, dan apakah pengaturan

modal kerja baik, sehingga usaha dapat berjalan lancar.

4) Collateral

Penilaian jaminan wajib dilakukan oleh pihak bank Panin

Dubai Syariah karena jaminan merupakan second way out jika

pembiayaan tersebut bermasalah. Jaminan yang dapat digunakan

dalam pembiayaan adalah barang bergerak berupa kendaraan

bermotor dan barang tak bergerak berupa rumah, tanah, dan lain

sebagainya. Dalam melakukan penilaian jaminan, bank wajib

mengunjungi lokasi jaminan berupa tanah dan bangunan atau fisik

kendaraan yang dijaminkan oleh calon nasabah. Penilaian jaminan

harus sesuai dengan kondisi jaminan dan bersifat marketable.

Dalam melakukan penilaian jaminan nasabah berupa

kendaraan semisalkan, nasabah mengajukan pembiayaan sebesar

Rp 200 juta dengan mencantukan jaminan berupa BPKB

kendaraan (mobil) Avanza tahun 2011. Setelah ditaksir, mobil

tersebut hanya bernilai Rp 125 juta. Dengan itu maka pihak bank

memberitahukan kepada nasabah bahwa plafon pembiayaan yang

diajukan tidak dapat dipenuhi. Oleh karena itu harus merubah

plafon pembiayaan yang diajukan atau dengan menambahkan

jaminan.

Penilaian atas tanah dilakukan dengan mengadakan survey ke

lokasi jaminan untuk melihat kondisi jaminan dan dilakukan

interview dengan pihak ketiga untuk mendapatkan tambahan


55

informasi yang diperlukan, misalnya kondisi tanah, perkiraan nilai

pasar atas jaminan tanah, pengecekan keabsahan sertifikat, ada

tidaknya sengketa dan kondisi tanah wajib dilakukan ke BPN

(Badan Pertanahan Nasional) setempat sebelum persetujuan

pembiayaan. Penilaian bangunan didasarkan ada tidaknya IMB

(Izin Mendirikan Bangunan). Standar untuk penilaian harga dapat

dilihat dari Pajak Bumi Bangunan (PBB), agen properti, dan

menanyakan ke daerah sekitar baik tetangga atau menanyakan

harga pasaran jika ada rumah di sekitar yang ingin dijual.

Bank Panin Dubai Syariah memerlukan jaminan yang

digunakan dengan tujuan agar nasabah pengelola tidak melakukan

kesalahan pengelolaan, kelalaian atau penyimpangan oleh pihak

nasabah pengelola dana yang dapat mengakibatkan kerugian.

Jaminan ini akan disita oleh bank Panin jika ternyata timbul

kerugian akibat kesalahan pengelolaan, kelalaian dan

penyimpangan oleh pihak nasabah pengelola dana.

5) Condition of economy

Condition of economi adalah keadaan sosial ekonomi suatu

saat yang mungkin dapat mempengaruhi maju mundurnya usaha

calon nasabah. Penilaian terhadap kondisi ekonomi itu

berpengaruh terhadap kegiatan usaha calon nasabah dan

bagaimana nasabah mengatasinya atau mengantisipasi sehingga

usahanya tetap hidup dan berkembang.


56

Hal yang dianalisis meliputi kebijakan pemerintah. Apabila

kebijakan pemerintah sering berubah, maka hal ini akan sulit bagi

bank untuk melakukan analisis. Selain itu bank juga harus

menganalisis persaingan antar sesama pengusaha dalam batas

kewajaran atau tidak serta prospek usaha nasabah.

6) Constraint

Bank Panin Dubai Syariah sebelum memberikan pembiayaan

juga memperhatikan faktor hambatan atau rintangan yang ada

pada suatu daerah atau wilayah tertentu yang menyebabkan suatu

proyek tidak dapat dilaksanakan. Bank Panin Dubai Syariah akan

melakukan analisis dengan memperhatikan keadaan lingkungan

tempat usaha dan produk apa saja yang di perjualbelikan oleh

nasabah.

4.4 Prinsip 6C pada Pembiayaan Modal Kerja di Bank Panin Dubai

Syariah Cabang Makassar

Pada umumnya pelaksanaan analisis kelayakan usaha

nasabah harus memenuhi prinsip 6C secara keseluruhan karena di

nilai lebih efektif untuk meminimalisir risiko. Akan tetapi tidak

menutup kemungkinan dalam melakukan analisis pembiayaan

modal kerja pihak bank hanya menganalisis prinsip-prinsip tertentu

yang dianggap cukup untuk dijadikan sebagai dasar pertimbangan

dalam memberikan pembiayaan.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan bapak Miftha

Farild selaku Assistant Manager dan Financing Head mengenai


57

mengenai prinsip analisis yang paling diutamakan, dijelaskan

bahwa dari ke 6 prinsip analisis, pihak Bank Panin Dubai Syariah

lebih mengutamakan prinsip Character, Collateral, dan Capacity,

sedangkan prinsip lainnya yaitu Capital, Condition of economy, dan

constraint digunakan sebagai pendukung untuk menguatkan data

calon debitur. Prinsip character lebih diutamakan oleh bank Panin

Dubai Syariah dikarena prinsip ini berperan penting dalam menilai

calon debitur. Dengan prinsip ini pihak bank Panin dapat

mengetahui kesungguhan dari calon debitur yang ingin mengajukan

pembiayaan modal kerja. Selain itu prinsip character merupakan

salah satu prinsip yang mutlak dan tidak dapat ditawar.

Apabila salah satu dari prinsip capital atau condition of

economic maupun constraint tidak mendukung tetapi calon debitur

mempunyai character yang baik, mempunyai collateral (jaminan)

yang nilainya sesuai dengan besar pembiayaan yang diajukan dan

mempunyai capacity yang baik, maka pihak pihak Bank Panin

Dubai Syariah dapat mempertimbangkan pembiayaan yang

diajukan oleh calon debitur.

Keenam prinsip ini menjadi dasar penentuan apakah nasabah

layak diberikan pembiayaan atau tidak. Dengan adanya analisis 6C,

diharapkan mampu meminimalisis terjadinya pembiayaann macet

atau bermasalah. Dalam menyalurkan pembiayaan modal kerja,

sering terjadi penunggakan pembayaran yang dilakukan nasabah


58

bak disengaja maupun tidak, yang tentunya akan mengakibatkan

pembiayaan tersebut menjadi bermasalah.

Untuk mengatasi masalah ini, pihak bank Panin Dubai Syariah

telah menerapkan beberapa cara yang digunakan untuk

menyelamatkan pembiayaan tersebut antara lain:

1. Penagihan secara intensif

Pada tahap ini nasabah akan ditagih secara intensif guna

memperoleh hasil atau gambaran mengenai penyebab atau

masalah nasabah menunggak pembayaran

2. Persyaratan Kembali (Reconditioning)

Pihak bank akan melaukuan perubahan sebagaian

persyaratan pembiayaan seperti memberikan penambahan

pembiayaan kepada nasabah jika masalah yang

menyebabkan nasabah tidak mampu membayar dikarenakan

nasabah masih membutuhkan modal untuk berkembang.

3. Penataan Kembali (Restructuring)

Pihak bank akan menurunkan angsuran misalkan angsuran

nasabah sebesar 10 juta diturunkan menjadi 8 juta guna

meringankan beban nasabah atau dengan meringankan

persyaratan pembiayaan.

4. Penjadwalan Kembali (Rescheduling)

Mengatur kembali schedule pembiayaan seperti merubah

jadwal pembayaran nasabah atau jangka waktu pembayaran.


59

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai

pemberian pembiyaan modal kerja, maka dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut :

1. Pemberian pembiayaan modal kerja syariah di bank Panin

Dubai Syariah berpatokan pada prisnip analisis 6C yang

terdiri atas character, capacity, capital, collateral, condition of

economy dan constraint.

Dalam melakukan penilaian terhadap character, pihak

bank akan melakukan wawancara kepada calon nasabah,

mengunjung lokasi usaha nasabah, trade checking, dan BI

checking. Dalam melakukan penilaian terhadap capacity,

pihak bank akan melihat laporan keuangan 2 tahun terakhir,

mutasi rekning bank nasabah minimal 6 bulan terakhir,

kondisi usaha nasabah, pendapatan dan biaya-biaya yang

dikeluarkan untuk memastikan apakah pembiayaan yang

diberikan akan digunakan untuk mengembangkan usahanya.

Dalam melakukan penilaian capital, pihak bank akan

melihat keadaan permodalan, meneliti apakah ada modal

yang cukup untuk menggerakkan sumber daya secara


60

efektif, dan apakah pengaturan modal kerja baik, sehingga

usaha dapat berjalan lancar. Dalam melakukan penilian

collateral, pihak bank akan mengunjungi lokasi jaminan

berupa tanah dan bangunan atau fisik kendaraan yang

dijaminkan oleh calon nasabah. Penilaian jaminan harus

sesuai dengan kondisi jaminan dan bersifat marketable.

Penilaian jaminan dilakukan karena jaminan merupakan

second way out jika pembiayaan tersebut bermasalah.

Dalam melakukan penilaian Condition of economy,

pihak bank akan mengamati kebijakan pemerintah. Apabila

kebijakan pemerintah sering berubah, maka hal ini akan sulit

bagi bank untuk melakukan analisis. Selain itu bank juga

harus menganalisis persaingan antar sesama pengusaha

dalam batas kewajaran atau tidak, prospek usaha nasabah.

Dalam melakukan penilaian Constraint, pihak bank akan

memperhatikan keadaan lingkungan tempat usaha dan

produk apa saja yang di perjualbelikan oleh nasabah.

2. Bank Panin Dubai Syariah dalam melakukan analisis

pembiayaan modal kerja lebih mengutamakan prinsip

Character, Collateral, dan Capacity, sedangkan prinsip

lainnya yaitu Capital, Condition of economy, dan constraint

digunakan sebagai pendukung untuk menguatkan data calon

debitur. Prinsip character lebih diutamakan oleh bank Panin

Dubai Syariah dikarena prinsip ini berperan penting dalam


61

menilai calon debitur. Dengan prinsip ini pihak bank Panin

dapat mengetahui kesungguhan dari calon debitur yang ingin

mengajukan pembiayaan modal kerja. Selain itu prinsip

character merupakan salah satu prinsip yang mutlak dan

tidak dapat ditawar. Apabila salah satu dari prinsip capital

atau condition of economic maupun constraint tidak

mendukung tetapi calon debitur mempunyai character yang

baik, mempunyai collateral (jaminan) yang nilainya sesuai

dengan besar pembiayaan yang diajukan dan mempunyai

capacity yang baik, maka pihak pihak Bank Panin Dubai

Syariah dapat mempertimbangkan pembiayaan yang

diajukan oleh calon debitur.

5.2 Saran

Analisis prinsip 6C di Bank Panin Dubai Syariah sudah

cukup baik, akan tetapi penilaian pada prinsip capital,

condition of economy, dan constraint hendaknya diberikan

porsi yang sama dengan prinsip lainnya sehingga lebih

optimal dalam menganalisi pembiayaan yang diajaukan oleh

nasabah.
62

DAFTAR PUSATAKA

Abdullah, Thamrin dan Francis Tantri. 2012. Bank dan Lembaga


Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Abdurahman, H. (2012). Menggugat Bank Syariah. Bogor: Al-Azhar Press
Adiwarman A. Karim, 2010. Analisis Fiqh dan Keuangan, Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, ( Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada, 2007) Edisi 1
Asfiyah, Inayatul. Implementasi Produk Pembiayaan Multijasa PT. BPRS
PNM BINAMA Semarang. Diss. UIN Walisongo, 2015
Hasibuan, Melayu S.P 2011. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta : PT. Bumi
Aksara
Ismail. 2011. Manajemen Perbankan. Cetakan Kedua. Jakarta: Kencana
Kasmir. (2014)a. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi Revisi,
Cetakan keempat belas, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Kasmir. (2014)b. Dasar-Dasar Perbankan. Edisi Revisi, Cetakan ke dua
belas, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Khotibul Umam, Perbankan Syariah Dasar-Dasar Dan Perkembangan Di
Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2016
Muhammad. (2014). Manajemen Dana Bank Syariah. Jakarta: Rajawali
Pers.
Nur Aisyah, Binti. 2014. Manajemen Pembiayaan Bank Syariah.
Yogyakarta
Sudarsono, heri. 2012. BanK dan lembaga keuangan syariah. Edisi
Keempat.Yogyakarta:Ekonomi.
Tambunan, Tulus, “Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia : isu-
Isu penting”, Jakarta : LP3ES, 2012.