Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebutuhan akan transaksi ekonomi pada masa sekarang ini

cukup tinggi. Salah satu penyedia layanan jasa transaksi ekonomi

adalah bank. Makin maraknya persaingan di dunia perbankan,

menyebabkan berbagai strategi dilakukan oleh pihak bank dalam

rangka menarik minat masyarakat untuk menjadikan nasabahnya.

Penyedia layanan jasa transaksi ekonomi seperti bank semakin

berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan yang baik kepada

masyarakat.

Bank merupakan suatu lembaga yang lahir karena fungsinya

sebagai agent of trust dan agent of development. Yang dimaksud

sebagai agent of trust adalah suatu lemabaga perantara

(intermediary) yang dipercaya untuk melayani segala kebutuhan

keuangan dari dan untuk masyarakat. Sedangkan sebagai agent of

development, bank adalah suatu lembaga perantara yang dapat

mendorong kemajuan pembangunan melalui fasilitas kredit dan

kemudahan-kemudahan pembayaran dan penarikan dalam proses

transaksi yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi.

Produk bank yang sangat banyak dibutuhkan masyarakat adalah

kredit. Masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya terutama yang

berkaitan dengan pengembangan usahanya memerlukan dana

1
tambahan untuk usahanya agar lebih berkembang. Pemberian kredit

yang diberikan oleh bank kepada nasabah dimaksudkan untuk

memperoleh keuntungan, dalam usahanya bank tidak hanya

menyalurkan kredit saja tetapi juga berinvestasi pada kegiatan lain

seperti penyertaan modal pada sebuah perusahaan dibidang

keuangan. Aktivitas kredit bank yang berkualitas dan sehat

memberikan pendapatan operasional terbesar bagi bank jika

dibandingkan dengan aktivitas lainnya seperti penyediaan layanan.

Oleh karena itu untuk meningkatkan pendapatan dan menjaga

kelangsungan bank maka pemberian kredit merupakan aktivitas yang

secara terus menerus dilakukan.

Kredit dalam dunia perbankan syariah disebut dengan pembiayaan

(financing) yaitu pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada

pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik

dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata lain pembiayaan

adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang

telah direncanakan. Mengalokasikan dana pembiayaan, tentunya tidak

luput dari risiko yang akan dihadapi. Semakin besar jumlah

pembiayaan yang diberikan maka risiko yang ditimbulkan akan

semakin tinggi pula. Risiko yang akan dihadapi oleh bank diantaranya

berupa tidak lancarnya pembayaran pembiayaan atau dengan kata

lain pembiayaan bermasalah sehingga mengganggu kinerja bank.

Dalam beberapa tahun belakangan ini telah terjadi perubahan

paradigma bisnis perbankan yang mengarahkan penyaluran dana

2
bank

bank pada segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Salah

satu alasan perbankan mulai mengarahkan penyaluran dana pada

segmen UMKM karena UMKM dianggap sebagai sektor usaha yang

paling tahan terhadap krisis dan selain itu UMKM mempunyai peran

penting dalam pembangunan ekonomi karena tingkat penyerapan

tenaga kerja yang relatif tinggi dan kebutuhan modal investasinya

yang kecil, UMKM bisa dengan fleksibel menyesuaikan dan menjawab

kondisi pasar yang terus berubah.

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan unit usaha

produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan orang perorangan atau

badan usaha di semua sektor ekonomi. Populasi penduduk dengan

usia produktif lebih banyak dari pada jumlah lapangan kerja yang

tersedia. Sebagian besar tergolong sebagai pelaku usaha sektor

industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Data dari

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah pada tahun 2016,

terdapat sekitar 98,33 juta pelaku UMKM di Indonesia dan

diperkirakan beberapa tahun kedepan akan terus bertambah

(http://www.bi.go.id). Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS)

jumlah UMKM perperiode 2016 terdapat sekitar 26.711.001 pelaku

UMKM di Indonesia dan jumlah pertumbuhan UMKM per tahunnya

adalah 17,60% dengan jumlah tenaga kerja UMKM sebesar

70.320.446 jiwa. (Badan Pusat Statistik). Untuk jumlah UMKM di

Sulawesi Selatan berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas

Koperasi dan UMKM pada tahun 2017 terdapat sekitar 916.232 unit

3
UMKM dengan rinciannya yakni 797.081 usaha mikro, 14.656 usaha

kecil dan 3.185 usaha menengah sedangkan untuk daerah Makassar

jumlah UMKM pada tahun pada tahun 2016 sampai tahun 2018

mencapai 16.428 unit usaha.

Usaha Mikro adalah peluang usaha produktif milik orang

perorangan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria

Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang pasal 1 No.

20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Kriteria

usaha mikro antara lain: kekayaan bersih paling banyak 50 juta tidak

termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, sedangkan hasil

penjualan tahunan paling banyak 300 juta rupiah.

Dalam pembiayan usaha mikro, masih banyak bank yang belum

berani untuk melayani pemberian pembiayaan dikarenakan usaha

mikro masih mempunyai beberapa kendala seperti dalam hal

manajemen yang masih tradisional, kualitas sumber daya manusia

yang belum memadai, skala dan teknik produksi yang rendah, pasar

yang kecil dan kemampuan pemasaran yang terbatas, akses

informasi yang rendah, sistem teknologi informasi masih sederhana,

dan kesulitan akses permodalan.

Pemberian pembiayaan pada usaha mikro walaupun masih

memilik keterbatasan tetapi dinilai lebih efektif dibandingan dengan

pembiayaan usaha besar dikarena pelaku usaha mikro lebih taat dan

disiplin dalam hal membayar kembali kewajibannya. Hal ini tentu

menjadi dasar pertimbangan bagi pihak bank dalam memberikan

4
pembiayaan di mana pihak bank lebih memfokusakan atau

mengutamakan memberikan pembiayaan pada pelaku usaha mikro

yang mampu menjaga kepercayaan pihak bank guna mengelolah

dana yang telah diberikan dan mengembalikan pinjaman sesuai

dengan waktu yang telah disepakati.

Pembiayaan yang diberikan bank kepada pelaku usaha tentu

akan dianalisis atau dinilai kelayakan ushanya. Penilaian yang

dilakukan oleh pihak bank mempunyai tujuan untuk memperkecil

terjadinya risiko pembiayaan bermasalah. Penilaian pembiayaan oleh

bank dapat dilakukan dengan berbagai cara guna mendapatkan

keyakinan tentang calon debitur, salah satunya dengan menggunakan

prinsip 6C yaitu character, capacity, capital, collateral, condition, dan

constraint. Character adalah sifat atau karakter nasabah pengambil

pinjaman. Capacity adalah kemampuan nasabah untuk menjalankan

usaha dan mengembalikan pinjaman yang diambil. Capital adalah

besarnya modal yang diperlukan peminjam. Collateral adalah jaminan

yang telah dimiliki yang diberikan peminjam kepada bank. Condition

adalah keadaan usaha atau nasabah prospek atau tidak. Constraint

adalah batasan dan hambatan yang tidak memungkinkan suatu bisnis

untuk dilaksanakan pada tempat tertentu.

Penerapan prinsip analisis 6C pada pembiayaan tentu berbeda

sesuai dengan skala pada masing-masing usaha. Analisis 6C yang

dilakukan oleh bank pada usaha mikro biasanya sulit untuk diterapkan

dalam artian prinsip analisis 6C tidak terpenuhi secara keseluruhan.

5
Bank biasanya lebih mengutamakan prinsip-prinsip tertentu saja

seperti Capacity guna menilai kemampuan membayar (ability to pay)

nasabah untuk melunasi kembali pinjaman dan kemampuan dalam

menjalankan usahanya atau prinsip Collateral guna menilai jaminan

yang digunakan untuk berjaga-jaga seandainya debitur tidak dapat

mengembalikan pinjamannya. Biasanya nilai jaminan lebih tinggi dari

jumlah pinjaman.

Prinsip analisis 6C yang di terapkan bank pada pelaku usaha

mikro meskipun tidak terpenuhi secara keseluruhan tetapi lebih

memberikan keuntungan kepada bank dalam hal ini nasabah mampu

mengembalikan semua pinjaman yang telah diberikan. Sedangkan

untuk usaha besar, penerapan prinsip analisis 6C biasanya terpenuhi

secara keseluruhan tetapi malah memberikan kerugian bagi pihak

bank dikarenakan pelaku usaha besar sering mengabaikan

kewajibannya dalam membayar kembali pinjaman yang telah diterima.

Perbedaan ini menjadi perhatian dalam dunia perbank yang

memberikan pembiayaan kepada pelaku usaha. Usaha besar yang

telah memenuhi semua prinsip 6C dan dinilai layak untuk diberikan

pembiayaan, seharusnya mampu menjalankan aktivitas usaha akan

tetapi pada faktanya sebagian besar usaha besar tidak mampu

bertahan dan sebaliknya yang mampu bartahan adalah usaha mikro.

Analisis pembiayaan 6C sangat diperlukan, ini penting karena

untuk mengetahui keadaan suatu calon nasabah, apakah memang

benar-benar dapat dipercaya dan mempunyai suatu i‟tikad baik untuk

6
mengendalikan pembiayaannya serta untuk memberikan keyakinan

kepada pihak bank bahwa dana yang disalurkan akan kembali sesuai

dengan waktu yang telah disepakati antara pihak bank syariah dan

calon nasabah.

Salah satu bentuk pertanggung jawaban sosial Bank Syariah

adalah memberikan pembiayaan terhadap usaha mikro. Mengingat

usaha mikro merupakan cerminan dari perekonomian rakyat, karena

kelompok usaha ini merupakan yang dominan, maka upaya

peningkatan kesejahteraan kelompok ini, secara langsung maupun

tidak langsung, merupakan upaya penyejahteraan umat. Lembaga

keuangan syariah yang menyediakan pinjaman modal usaha secara

khusus pada usaha mikro diantaranya adalah Bank Rakyat Indonesia

Syariah cabang Pettarani kota Makassar yang merupakan salah satu

cabang Bank Rakyat Indonesia syariah yang terdapat di kota

Makassar.

Pemberian pembiayaan yang dilakukan oleh Bank Rakyat

Indonesia Syariah cabang Pettarani kota Makassar memiliki peran

yang baik apabila dilaksanakannya sesuai dengan prosesdur yang

telah ditetapkan. Selain terpenuhinya semua prosedur yang ada,

dapat dikatakan bahwa prinsip 6C berperan apabila pembiayaan

tersebut dapat kembali sesuai waktu yang ditetapkan dengan

kesepakatan yang ditentukan maka pemberian pembiayaan akan

tercapai, sehingga pembiayaan yang diberikan tidak mengandung

risiko pembiayaan macet atau bermasalah. Berdasarkan uraian di

7
atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dan penyusunan

skripsi dengan judul:

”Pemberian Pembiayaan Usaha Mikro Dengan Menggunakan

Prinsip 6C Di Bank Rakyat Indonesia Syariah Cabang Pettarani

Kota Makassar”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini, yaitu

1. Bagaimana analisis pemberian pembiayaan usaha mikro

dengan menggunakan prinsip 6C di Bank Rakyat Indonesia

Syariah cabang Pettarani kota Makassar?


2. Dari keenam prinsip tersebut, prinsip manakah yang paling di

utamakan dalam pemberian pembiayaan usaha mikro di Bank

Rakyat Indonesia Syariah cabang Pettarani kota Makassar?

1.3 Tujuan penelitian

1. Untuk mengetahui analisis pemberian pembiayaan usaha mikro

dengan menggunakan prinsip 6C di Bank Rakyat Indonesia

Syariah cabang Pettarani kota Makassar.


2. Untuk mengetahui prinsip manakah yang paling diutamakan

dalam pemberian pembiayaan usaha mikro di Bank Rakyat

Indonesia Syariah cabang Pettarani kota Makassar.

8
1.4 Keguanaan Penelitian

1.4.1 Keguanaan Teoritis

Keguanaan secara teoritis sebagai masukan atas

sumbangsih pemikiran bagi perkembangan pertumbuhan

terutama tentang perkembangan ekonomi di masa yang akan

datang.
1.4.2 Kegunaan Praktis
Kegunaan praktis dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Bagi Peneliti
Dengan mengadakan penelitian ini diharapkan dapat

menambah wawasan dan pengetahuan di bidang perbankan

khususnya mengenai pemberian pembiayaan usaha mikro

prinsip syariah.
b. Bagi Bank Rakyat Indonesia Syariah Cabang Pettarani Kota

Makassar
penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan positif

bagi penerapan kebijakan mengenai pemberian pembiayaan

usaha mikro di Bank Rakyat Indonesia Syariah cabang

Pettarani kota Makassar.


c. Bagi Pihak Lain
Hasil penelitian ini diharapakan mampu memberikan

manfaat bagi peneliti lainnya yang akan melakukan atau

melanjutkan penelitian ini, serta dapat memberikan manfaat

bagi pembaca.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Konsep dan Teori

9
2.1.1 Pengertian Bank

Bank merupakan suatu bentuk badan usaha yang bergerak di

bidang finansial yang berfungsi sebagai intermediasi keuangan

dengan menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya

kembali ke masyarkat.

Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari

masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali

kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk

lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Kasmir

(2014:14).

Bank adalah badan usaha yang kekayaannya terutama dalam

bentuk aset keuangan (financial aset) serta bermotifkan profit dan

juga sosial, jadi bukan hanya mencari keuntungan saja. Hasibuan

(2011:2)

Bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk memuaskan

kebutuhan kredit, baik dengan alat-alat pembayaran sendiri atau

dengan uang yang diperolehnya dari orang lain maupun dengan jalan

memperedarkan alat-alat penukar dan tempat uang giral. Abdullah

dan Francis,(2012:2)

Bank adalah suatu jenis lembaga keuangan yang melaksanakan

berbagai macam jasa, seperti memberikan pinjaman, mengedarkan

mata uang, pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai

tempat penyimpanan benda-benda berharga, membiayai usaha-usaha

perusahaan dan lain-lain”. Abdurahman (2012:2)

10
Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya

memberikan kredit aau pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu

lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya,

disesuaikan dengan prinsip-pnsip syariah. Sudarsono (2012:29)

Bank Syariah adalah bank dengan pola bagi hasil yang

merupakan landasan utama dalam segala operasinya, baik dalam

produk pendanaan, pembiayaan, maupun dalam produk-produk

lainnya. Ascarya (2007:2)

2.1.2 Pengertian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah unit usaha

produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan orang perorangan atau

badan usaha di semua sektor ekonomi. (Tambunan: 2012: 11).

Sedangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah menurut Undang-

Undang sebagai berikut: Bagi usaha kecil dan menengah telah diatur

dalam Undang-Undang yang cukup komperhensip. Untuk usaha kecil

dan menengah terdapat dua Undang-Undang yakni Nomor 9 Tahun

1995, Nomor 20 Tahun 2008. Sesuai pasal-pasal yang termuat dalam

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008, berbagai ketentuan tentang

Usaha Mikro Kecil Dan Menengah. Definisi untuk masing-masing

skala usaha ditentukan seperti berikut:

Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan

atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro

sebagai mana diatur dalam Undang-Undang ini. Kriteria kekayaan

bersih paling banyak 50 juta tidak termasuk tanah dan bangunan

11
tempat usaha, sedangkan hasil penjualan tahunan paling banyak 300

juta rupiah.

Usaha kecil adalah ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang

dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan

merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang

memiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak

langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi

kriteria Usaha Kecil sebagai mana dimaksud dalam Undang-Undang

ini. Kriteria kekayaan bersih lebih dari 50 juta sampai dengan 500 juta

tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, sedangkan hasil

penjualan tahunan lebih dari 300 juta sampai dengan 2,5 Milyar

rupiah.

Usaha menengah adalah ekonomi produktif yang berdiri sendiri,

yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan

merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang

memiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak

langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah

kekayaan besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan

tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Kriteria

kekayaan bersih lebih dari 500 juta sampai dengan 10 Milyar tidak

termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, sedangkan hasil

penjualan tahunan lebih dari 2,5 Milyar juta sampai dengan 50 Milyar

rupiah.

Dasar prespektif perkembangannya, UMKM dapat diklarifikasikan

12
menjadi 4 (empat) kelompok yaitu Livelihood Activities, merupakan

UMKM yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari

nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal. Contohnya

adalah pedagang kaki lima. Micro Enterprise, merupakan UMKM yang

memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan.

Small Dynamic Enterprise, merupakan UMKM yang telah memiliki jiwa

kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan

ekspor. Fast moving Enterprise, merupakan UMKM yang telah

memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi

menjadi Usaha Besar (UB).

Pembiayaan usaha mikro kecil menengah (UMKM) ini tegolong

pembiayaan produktif, yaitu pembiayaan modal kerja atau investasi

untuk memenuhi kebutuhan produksi dan peningkatan usaha. Adapun

pengertian pembiayaan usaha mikro kecil dan menengah adalah

suatu kegiatan pembiayaan usaha berupa penghimpunan dana yang

dipinjamkan bagi usaha mikro (kecil) yaitu masyarakat menengah

kebawah yang mempunyai penghasilan di bawah rata-rata.

Pembiayaan mikro adalah pembiayaan dari bank untuk investasi

atau modal kerja bagi nasabah usaha mikro baik secara langsung

maupun tidak langsung yang dijalankan oleh penduduk menengah

kebawah dengan plafond pembiayaan maksimal Rp.50.000.000.

2.1.3 Pengertian Pembiayaan

Pembiayaan merupakan pendanaan yang diberikan oleh suatu

pihak bank kepada pihak lain atau nasabah untuk membantu

13
kebutuhan nasabah dalam bentuk konsumtif atau investasi melalui

akad yang disepakati oleh pihak yang bersangkutan. Dengan kata

lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk

mendukung investasi yang telah direncanakan. Asfiyah (2015)

Pembiayaan merupakan penyediaan uang atau tagihan yang

dapat di persamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau

kesepkatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak

yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut

setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. Kasmir

( 2014 : 85)

Pembiayaan merupakan penyediaan dana atau tagihan yang

dipersamakan dengan itu berupa, transaksi bagi hasil dalam bentuk

mudharabah dan musyarakah, transaksi sewa menyewa dalam bentuk

ijarah muntahiya bittamlik, transaksi jual beli dalam bentuk piutang

murabahah, salam, dan istishna, transaksi pinjam meminjam dalam

bentuk piutang qardh, transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk

ijarah untuk transaksi multijasa berdasarkan persetujuan antara Bank

Syariah dan Unit Usaha Syariah dan pihak lain yang mewajibkan

pihak yang dibiayai dan diberi fasilitas dana tersebut setelah jangka

waktu tertentu dengan imbalan ujroh, tanpa imbalan, atau bagi hasil.

Muhammad (2014:40)

Pembiayaan merupakan aktivitas bank syariah dalam

menyalurkan dana kepada pihak lain selain bank berdasarkan prinsip

syariah. Penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan didasarkan pada

14
kepercayaan yang diberikan oleh pemilik dana kepada pengguna

dana. Ismail (2011)

Pembiayaan merupakan “Penyediaan dana atau tagihan yang

dipersamakan dengan berupa-berupa yaitu transaksi bagi hasil dalam

bentuk mudharabah dan musyarakah, transaksi sewa menyewa

dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiyah bit

tamlik, transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam dan

istishna, transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang dan qardh,

dan transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk

transaksi multi jasa, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan

antara Bank Syariah dan unit usaha syariah (UUS) dan pihak lain

yang mewajibkan pihak-pihak yang dibiayai dan diberi fasilitas dana

untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu

dengan imbalan Ujrah, tanpa imbalan atau bagi hasil.” Umam

(2016:205)

Pada bank syariah terdapat beberapa jenis pembiayaan.

Pembiayaan tersebut terdiri atas:

1. Pembiayaan Modal Kerja Syariah

Secara umum, yang dimaksud dengan Pembiayaan Modal Kerja

(PMK) syariah adalah pembiayaan jangka pendek yang diberikan

kepada perusahaan untuk membiayai kebutuhan modal kerja

usahanya berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Jangka waktu

pembiayaan modal kerja maksimum 1 (satu) tahun dan dapat

15
diperpanjang sesuai dengan kebutuhan. Perpanjangan fasilitas PMK

dilakukan atas dasar hasil analisis terhadap debitur dan fasilitas

pembiayaan secara keseluruhan.

2. Pembiayaan Investasi Syariah


Yang dimaksud dengan investasi adalah penanaman dana

dengan maksud untuk memperoleh imbalan atau manfaat atau

keuntungan di kemudian hari, mencakup hal-hal antara lain:


a. Imbalan yang diharapkan dari investasi adalah berupa

keuntungan dalam bentuk finansial atau uang (financial benefit).


b. Badan Usaha umumnya bertujuan untuk memperoleh keuntungan

berupa uang, sedangkan badan sosial dan badan-badan

pemerintah lainnya lebih bertujuan untuk memberikan manfaat

sosial (social benefit) dibandingkan dengan keuntungan

finansialnya.
c. Badan-badan usaha yang mendapat pembiayaan investasi sari

Bank harus mampu memperoleh keuntungan finansial (financial

benefit) agar dapat hidup dan berkembang serta memenuhi

kewajibannya kepada Bank. Investasi dapat digolongkan menjadi

3 (tiga) kategori, yaitu: Investasi pada masing-masing komponen

aktiva lancar, Investasi pada aktiva tetap atau proyek, dan

Investasi dalam efek atau surat berharga (securities).


3. Pembiayaan Konsumtif Syariah
Secara definitif, konsumsi adalah kebutuhan individual meliputi

kebutuhan baik barang maupun jasa yang tidak dipergunakan

untuk tujuan usaha. Dengan demikian yang dimaksud pembiayaan

konsumtif adalah jenis pembiayaan yang diberikan untuk tujuan di

luar usaha dan umumnya bersifat perorangan. Menurut jenis

16
akadnya dalam produk pembiayaan syariah, Pembiayaan

Konsumtif dapat dibagi menjadi 5 (lima) bagian, yaitu:


a. Pembiayaan Konsumen Akad Mudharabah.
b. Pembiayaan Konsumen Akad IMBT.
c. Pembiayaan Konsumen Akad Ijarah.
d. Pembiayaan Konsumen Akad Istishna’.
e. Pembiayaan Konsumen Akad Qard + Ijarah.
4. Pembiayaan Sindikasi
Secara definitif, yang dimaksud dengan pembiayaan sindikasi

adalah pembiayaan yang diberikan oleh lebih dari satu lembaga

keuangan bank untuk satu objek pembiayaan tertentu. Pada

umumnya, pembiayaan ini diberikan bank kepada nasabah

korporasi yang memiliki nilai transaksi yang sangat besar. Sindikasi

ini mempunyai tiga(3) bentuk, yakni:


a. Lead Syndication, yakni sekelompok bank yang secara bersama-

sama membiayai suatu proyek dan dipimpin oleh satu bank yang

bertindak sebagai leader.


b. Club Deal, yakni sekelompok bank yang secara bersama-sama

membiayai suatu proyek, tapi antara bank yang satu dengan

yang lain tidak mempunyai hubungan kerja sama bisnis dalam

arti penyatuan modal.


c. Sub Syndication, bentuk sindikasi yang terjadi antara suatu bank

dengan salah satu bank peserta sindikasi lain dan kerja sama

bisnis yang dilakukan keduanya tidak berhubungan secara

langsung dengan peserta sindikasi lainnya.


5. Pembiayaan Berdasarkan Take Over
Salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan bank syariah

adalah membantu masyarakat untuk mengalihkan transaksi yang

sesuai dengan syariah. Dalam hal ini, atas permintaan nasabah,

bank syariah melakukan pengambilalihan hutang nasabah di bank

17
konvensional dengan cara memberikan jasa hiwalah atau dapat

juga menggunakan qard, disesuaikan dengan ada atau tidaknya

unsur bunga dalam hutang nasabah kepada konvensional. Setelah

nasabah melunasi kewajibannya kepada bank konvensional,

transaksi yang terjadi adalah transaksi antara nasabah dengan

bank syariah. Dengan demikian, yang dimaksud dengan

pembiayaan berdasarkan take over adalah pembiayaan yang

timbul sebagai akibat dari take over terhadap transaksi non syariah

yang telah berjalan yang dilakukan oleh bank syariah atas

permintaan nasabah.
6. Pembiayaan Letter Of Kredit (L/C)
Secara definitif, yang dimaksud dengan pembiayaan Letter Of

Credit (L/C) adalah pembiayaan yang diberikan dalam rangka

memfasilitasi transaksi impor atau ekspor nasabah. Pada

umumnya, pembiayaan L/C dapat menggunakan beberapa akad,

yaitu:
1) Pembiayaan L/C Impor
Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 34/DSN-

MUI/IX/2002, akad yang dapat digunakan untuk pembiayaan L/C

Impor adalah:
a. Wakalah bil Ujrah.
b. Wakalah bil Ujrah dengan Qardh.
c. Murabahah.
d. Salam atau Istishna dan Murabahah.
e. Wakalah bil Ujrah dan Mudharabah.
f. Musyarakah, dan
g. Wakalah bil Ujrah dan Hawalah
2) Pembiayaan L/C Ekspor
Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 35/DSN-

MUI/IX/2002, akad yang dapat digunakan untuk pembiayaan L/C

Ekspor adalah:

18
a. Wakalah bil Ujrah.
b. Wakalah bil Ujrah dan Qardh.
c. Wakalah bil Ujrah dan Mudharabah.

Prinsip pembiayaan 6C menurut Binti Nur Aisyah (2014), sebagai

berikut:

1. Character, artinya sifat atau karakter nasabah pengambil

pembiayaan. Hal ini perlu ditekankan pada nasabah di bank

syariah adalah bagaimana sifat amanah, kejujuran, kepercayaan

seseorang nasabah.
2. Capacity, artinya kemampuan nasabah untuk menjalankan

usahanya guna memperoleh laba sehingga dapat mengembalikan

pinjaman atau pembiayaan dari laba yang dihasilkan.


3. Capital, artinya besarnya modal yang diperlukan peminjam. Hal ini

juga termasuk struktur modal, kinerja hasil dari modal apabila

debiturnya merupakan perusahaan, dan segi pendapatan jika

debiturnya merupakan perorangan.


4. Collateral, artinya jaminan yang telah dimiliki yang diberikan

pinjaman kepada bank. Penilaian terhadap collateral meliputi

jenis, lokasi, bukti kepemilikan dan status hukum.


5. Condition Of Economy, artinya keadaan meliputi kebijakan

pemerintah, politik, segi budaya yang mempengaruhi

perekonomian.

6. Constrain, artinya hambatan-hambatan yang mungkin

mengganggu proses usaha.

Analisis pembiayaan memiliki dua tujuan, yaitu: tujuan umum

dan khusus. Tujuan umum adalah pemenuhan jasa pelayanan

19
terhadap kebutuhan masyarakat dalam rangka mendorong dan

melancarkan perdagangan, produksi, jasa-jasa, bahkan konsumsi

yang semuanya ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup

masyarakat. Sedangkan tujuan khusus adalah:


a. Untuk menilai kelayakan usaha calon peminjam.
b. Untuk menekan risiko akibat tidak terbayarnya pembiayaan.

c. Untuk menghitung kebutuhan pembiayaan yang layak.

2.2 Tinjauan Empirik

Hasil penelitian terdahulu dapat dijadikan dasar gambaran penelitian

selanjutnya walaupun ada perbedaan subyek, obyek, variable

penelitian, dan metode analisis yang digunakan maupun indicator

yang di teliti.

Penelitian pertama dilakukan oleh Putri Lindariah dan Supramono

(2017) dengan judul “Penerapan Analisa 5C Dalam Pemberian Kredit

Usaha Mikro Pada Pt Bank X (Persero) Tbk . Tujuan analisa kredit

yang utama adalah untuk memperoleh keyakinan apakah nasabah

mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya

kepada bank secara tertib, baik pembayaran pokok pinjaman maupun

bunganya.

Berdasarkan ketentuan BI kepada pihak perbankan, agar

menerapkan prinsip kehati-hatiannya dalam penyaluran kredit. Bentuk

penerapan prinsip kehati-hatian tersebut adalah penyaluran kredit

yang didasarkan prinsip 5C yaitu character (watak), capacity

(kemampuan), capital (modal), collateral (jaminan), dan condition of

economy (kondisi ekonomi). Bank X sebagai bank yang taat pada

20
ketentuan BI, menerapkan prinsip 5C dalam pemberian kredit usaha

mikronya.

Penelitian kedua dilakukan oleh Muhammad Ichwan Noer Laily

(2015) dengan judul Analisis 5C Terhadap Pemberian Kredit (Kredit

Menengah, Kredit Kecil, Kredit Mikro) Dan Kaitannya dengan Non

Performing Loan Pada PT. Bank Umkm BPR Jatim Cabang Lumajang.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis

penerapan 5C pada pemberian kredit usaha menengah dan

bagaimana kaitannya terhadap Non Performing Loan, untuk

mengetahui dan menganalisis penerapan 5C pada pemberian kredit

usaha kecil dan bagaimana kaitannya terhadap Non Performing Loan

dan penerapan 5C pada pemberian kredit usaha.

Haisl penelitian menunjukkan bahwa penerapan 5C pada

pemberian kredit usaha menengah pada PT. Bank UMKM BPR Jatim

Cabang Lumajang sudah baik sesuai dengan kebijakan perbankan

yang telah menerapkan prinsip 5C antara lain Character, Collateral,

Capacity, Capital, Condition, kemampuan dan kesediaan calon

nasabah usaha menengah dapat membayar kembali pembiayaan dan

melunasi pembiayaan kredit sesuai dengan perjanjian pembiayaan.

Analisis kebijakan pemberian kredit pada PT. Bank UMKM BPR Jatim

Cabang Lumajang sudah baik sesuai dengan kebijakan perbankan

yang telah menerapkan prinsip 5C dan prinsip kehati-hatian dalam

pemberian kredit namun masih terjadi kenaikan NPL, kenaikan NPL

paling besar terjadi pada kredit usaha mikro dikarenakan komponen

21
collateral tidak digunakan sehingga cenderung terjadinya NPL. mikro

dan bagaimana kaitannya terhadap Non Performing Loan

Penelitian ketiga dilakukan oleh Restu Anggararijaya (2015)

dengan judul Pengaruh Template Analisa Kredit Usaha Dan Penilaian

Prinsip Kredit (5c) Terhadap Efektivitas Pemberian Kredit Mikro (Studi

Kasus Pada Pt Bank Mandiri (Persero),Tbk. Cabang Bandung

Mohamad Toha). Tujtuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh

template analisa kredit usaha dan penilaian prinsip 5C terhadap

efektivitas pemberian kredit mikro pada PT. Bank Mandiri Cabang

Bandung Mohamad Toha. Penelitian ini dilakukan pada karyawan

kredit mikro PT. Bank Mandiri Cabang Bandung Mohamad Toha

dengan jumlah 31 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

secara simultan template analisa kredit usaha dan penilaian prinsip

5C berpengaruh signifikan terhadap efektivitas pemberian kredit.

Secara parsial template analisa kredit usaha tidak berpengaruh

signifikan terhadap efektivitas pemberian kredit mikro, akan tetapi

penilaian prinsip 5C secara parsial berpengaruh signifikan terhadap

efektivitas pemberian kredit mikro.

Penelititan keempat dilakukan oleh Yuli Artiningsih (2016) dengan

judul “Peranan Penilaian Prinsip 5C Dalam Pemberian Pembiayaan Di

BTN Syariah Cabang Yogyakarta”. Salah satu kunci awal untuk

mencegah terjadinya pembiayaan bermasalah bank melakukan

analisis pembiayaan. BTN Syariah cabang Yogyakarta merupakan

salah satu bank yang memberikan pelayanan pembiayaan dan

22
melakukan analisis pembiayaan yakni dengan menggunakan prinsip

5C (caracter, capability, capital, collateral, dan condition of economy).

Setelah melakukan penelitian, maka dapat diketahui bahwa

peranan prinsip 5C dalam pemberian pembiayaan di BTN Syariah

cabang Yogyakarta utamanya adalah untuk mencegah dan

meminimalisir terjadinya pembiayaan bermasalah. BTN Syariah

cabang Yogyakarta dalam menentukan layak atau tidaknya

permohonan pembiayaan lebih menekankan kepada unsur character,

capacity, dan collateral.

Tabel 2.1

Penelitian Relevan

No Nama Judul Hasil Persamaan

Peneliti dan Penelitian Penelitian dan

Tahun Perbedaan

Penelitian
1 Putri Penerapan Berdasarkan Persamaan:

Lindariah dan Analisa 5C ketentuan BI Jenis

Supramono Dalam kepada pihak Penelitian

(2017) Pemberian perbankan, Variabel

Kredit Usaha agar Terikat

Mikro Pada Pt menerapkan Perbedaan:

Bank X prinsip kehati- Variabel

(Persero) Tbk hatiannya Bebas

dalam Subjek

23
penyaluran Penelitian

kredit. Bentuk

penerapan

prinsip kehati-

hatian tersebut

adalah

penyaluran

kredit yang

didasarkan

prinsip 5C

yaitu character

(watak),

capacity

(kemampuan),

capital

(modal),

collateral

(jaminan), dan

condition of

economy

(kondisi

ekonomi).
2 Muhammad Analisis 5C Haisl Persamaan:

Ichwan Noer Terhadap penelitian Metode

Laily (2015) Pemberian menunjukkan Penelitian

24
Kredit (Kredit bahwa Variabel

Menengah, penerapan 5C Bebeas

Kredit Kecil, pada Perbedaan

Kredit Mikro) pemberian :

Dan kredit usaha Variabel

Kaitannya menengah Terikat

dengan Non pada PT. Bank

Performing UMKM BPR

Loan Pada Jatim Cabang

PT. Bank Lumajang

Umkm BPR sudah baik

Jatim Cabang sesuai dengan

Lumajang. kebijakan

perbankan

yang telah

menerapkan

prinsip 5C

antara lain

Character,

Collateral,

Capacity,

Capital,

Condition,

kemampuan

25
dan kesediaan

calon nasabah

usaha

menengah

dapat

membayar

kembali

pembiayaan

dan melunasi

pembiayaan

kredit sesuai

dengan

perjanjian

pembiayaan.
3 Restu Pengaruh Hasil penelitian Persamaan:

Anggararijay Template ini Variabel

a (2015) Analisa Kredit menunjukkan terikat

Usaha Dan bahwa secara

Penilaian simultan Perbedaan:

Prinsip Kredit template Jenis

(5c) Terhadap analisa kredit Penelitian

Efektivitas usaha dan Variabel

Pemberian penilaian bebeas

Kredit Mikro prinsip 5C

(Studi Kasus berpengaruh

26
Pada Pt Bank signifikan

Mandiri terhadap

(Persero),Tbk efektivitas

. Cabang pemberian

Bandung kredit. Secara

Mohamad parsial

Toha). template

analisa kredit

usaha tidak

berpengauh

signifikan

terhadap

efektivitas

pemberian

kredit mikro,

akan tetapi

penilaian

prinsip 5C

secara parsial

berpengaruh

signifikan

terhadap

efektivitas

pemberian

27
kredit mikro.

4 Yuli Peranan BTN Syariah Persamaan:

Artiningsih Penilaian cabang Jenis

(2016) Prinsip 5C Yogyakarta Penelitian

Dalam dalam Perbedaan:

Pemberian menentukan Variabel

Pembiayaan layak atau bebas

Di BTN tidaknya Variabel

Syariah permohonan Terikat

Cabang pembiayaan

Yogyakarta lebih

menekankan

kepada unsur

character,

capacity, dan

collateral.
2.3 Kerangka Pemikiran

Perbankan syariah dalam memberikan pembiayaan harus

berpedomana pada prinsip 6C. Penerapan prinsip 6C oleh Bank

syariah salah satunya diwujudkan dalam melakukan analisa terhadap

semua jenis pembiayaan yaitu menganalisa keyakinan atas kemauan

dan kemampuan calon nasabah untuk melunasi seluruh kewajibannya

pada waktunya, sebelum bank syariah menyalurkan dana kepada

nasabah penerima fasilitas. Bank syariah dalam memberikan

28
pembiayaan berharap bahwa pembiayaan tersebut berjalan dengan

lancar, nasabah mematuhi apa yang telah disepakati dalam perjanjian

dan membayar lunas bilamana jatuh tempo. Keyakinan tersebut

diperoleh dari penilaian dengan seksama terhadap watak,

kemampuan, modal, agunan, prospek usaha dari calon nasabah

penerima fasilitas, dan hambatan (character, capacity, capital,

collateral, condition, constraint). Debitur dalam mengajukan

permohonan pembiayaan harus memenuhi persyaratan atau berkas

sebagai permohonan pembiayaan, yang kemudian akan diperiksa

keabsahannya oleh pihak bank atau kreditur, kemudian akan

ditentukan mana yang diterima dan yang ditolak.

Pembiayaan kepada usaha mikro adalah pemberian pembiayaan

kepada debitur usaha mikro yang memenuhi kriteria usaha mikro

sebagaimana diatur dalam UU Tentang UMKM. Pembiayaan bagi para

pelaku usaha mikro dirasa cukup penting mengingat kebutuhan untuk

pembiayaan modal kerja dan investasi maka diperlukan pembiayaan

usaha mikro guna menjalankan usaha dan meningkatkan akumulasi

pemupukan modal kerja mereka. Semakin meningkatnya penyaluran

pembiayaan, biasanya disertai pula dengan meningkatnya

pembiayaan yang bermasalah atas pembiayaan yang diberikan.

Bahaya yang timbul dari pembiayaan macet adalah tidak terbayarnya

kembali pembiayaan tersebut, baik sebagian maupun seluruhnya.

Pemberian pembiayaan usaha mikro kepada konsumen atau

calon nasabah atau debitur adalah dengan melewati proses

29
pengajuan pembiayaan dan proses analisis pemberian pembiayaan

terhadap pembiayaan usaha yang diajukan, setelah menyelesaikan

prosedur administrasi barulah pihak bank melakukan analisis

pembiayaan. Analisis yang digunakan dalam perbankan adalah

Analisis 6C yaitu Character, Capacity, Capital, Condition, Collateral,

dan Constraint. Dari hasil analisis tersebut, bagi yang diterima akan

dievaluasi kembali kelayakannya apakah benar-benar layak atau tidak

diberikan pembiayaan oleh bank. Berdasarkan kerangka pemikiran

tersebut, paradigma penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

BRI
SYARIAH

PEMBIAYAA
N

PEMBIAYAA
N MIKRO

ANALISIS 6 C

30
Character Capacity Capital Condition Collateral Constraint

PEMBERIAN PEMBIAYAAN

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran


(Sumber: Diolah Peneliti)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengambil

metode analisis deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian

yang bertujuan untuk menggambarkan (mendeskripsikan) fenomena

yang ditemukan, baik itu berupa faktor risiko, maupun suatu efek atau

31
hasil. Pemilihan metode deskriptif dalam penelitian ini didasari oleh

maksud peneliti untuk mencoba menggambarkan pemberian

pembiayaan usaha mikro dengan menggunakan prinsip 6C yang

terdapat di Bank Rakyat Indonesia Syariah cabang Pettarani kota

Makassar. Pengambilan sampel akan dilakukan dengan cara

purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik

pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu.

3.2 Kehadiran Peneliti

Kehadiran peneliti di lapangan dalam penelitian kualitatif

merupakan suatu yang mutlak, karena peneliti bertindak sebagai

instrumen penelitian sekaligus pengumpul data. Keuntungan yang

didapat dari kehadiran peneliti sebagai instrumen adalah subjek lebih

tanggap akan kehadiran peneliti, peneliti dapat menyesuaikan diri

dengan setting penelitian, keputusan yang berhubungan dengan

penelitian dapat diambil dengan cara cepat dan terarah, demikian juga

dengan informasi dapat diperoleh melalui sikap dan cara informan

dalam memberikan informasi.

3.3 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini terletak di kantor Bank Rakyat Syariah

Indonesia Cabang Pettarani Kota Makassar

3.4 Sumber Data

Sumber data yang digunakan peneliti ada 2 macam yaitu:

a. Data Primer

32
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari

sumber yang diteliti, dengan melakukan pengamatan dan

pencatatan secara sistematis terhadap masalah yang dihadapi,

seperti memperoleh informasi melalui dokumentasi, observasi dan

wawancara dari objek penelitian. Dalam hal ini peneliti melakukan

penelitian secara langsung dan melakukan wawancara kepada

pihak Bank Rakyat Indonesia Syariah cabang Pettarani kota

Makassar. Dengan data ini peneliti mendapat gambaran umum

tentang Bank Rakyat Indonesia Syariah cabang Pettarani kota

Makassar.

b. Data Sekunder

Merupakan sumber data yang didapatkan peneliti secara tidak

langsung melalui media perantara. Dalam hal ini data yang

diperoleh yaitu melalui buku-buku referensi serta data dari internet.

Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah segala data

yang tidak berasal dari sumber data primer yang dapat memberikan

dan melengkapi informasi terkait objek penelitian baik yang

berbentuk buku, karya tulis, dan tulisan maupun artikel yang

berhubungan dengan objek penelitian.


3.5 Metode Pengumpulan Data

1. Metode Wawancara

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian

kualitatif lebih menekankan pada jenis teknik wawancara,

khususnya wawancara mendalam (deep interview). Dalam metode

33
ini peneliti melakukan wawancara langsung kepada Pimpinan dan

Account Officer (AO), selaku penanggungjawab dalam urusan

pemberian pembiayaan di Bank Rakyat Indonesia Syariah cabang

Pettarani kota Makassar.

2. Metode Observasi

Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data

dalam penelitian apapun, termasuk penelitian kualitatif, dan

digunakan untuk memperoleh informasi atau data sebagaimana

tujuan penelitian. Dalam metode ini peneliti langsung melakukan

pengamatan di Bank Rakyat Indonesia Syariah cabang Pettarani

kota Makassar dalam rangka mencari data yang akan dijadikan

obyek penelitian.
3. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan

mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan-catatan suatu

peristiwa yang ditinggalkan, baik tertulis maupun tidak tertulis.

Dalam hal ini, peneliti mengumpulkan data berupa petunjuk teknis

tentang pembiayaan di Bank Rakyat Indonesia Syariah cabang

Pettarani kota Makassar.

3.6 Teknik Analisis Data

Teknik pembahasan yang digunakan adalah analisis deskriptif

dengan pendekatan kualitatif karena data yang diperoleh bukan

berupa angka namun merupakan informasi naratif yang tidak

mementingkan banyak data tetapi detail dan rincinya data. Analisis

34
data kualitatif adalah suatu cara analisis yang menghasilkan data

deskriptif analisis yaitu apa yang dinyatakan responden secara tertulis

atau lisan dan juga perilaku yang nyata yang diteliti dan dipelajari

sebagai sesuatu yang utuh. Metode analisis deskriptif dapat diartikan

sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan

menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek

penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat

sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana

adanya.

3.7 Validitas dan Realibilitas Data

Validitas dan reliabilitas pada penelitian ini menggunakan teknik

triangulasi dan bahan referensi. Triangulasi adalah teknik

pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain

di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding

terhadap data itu. Triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan

informasi atau data dengan cara yang berbeda. Dalam penelitian

kualitatif peneliti menggunakan metode wawancara, obervasi, dan

survei. Untuk memperoleh kebenaran informasi yang handal dan

gambaran yang utuh mengenai informasi tertentu, peneliti bisa

menggunakan metode wawancara dan obervasi atau pengamatan

untuk mengecek kebenarannya. Selain itu, peneliti juga bisa

menggunakan informan yang berbeda untuk mengecek kebenaran

informasi tersebut. Sedangkan bahan referensi disini adalah adanya

pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh

35
peneliti. Sebagai contoh, data hasil wawancara perlu didukung

dengan adanya rekaman wawancara.

3.8 Tahapan-Tahapan Penelitian

a. Tahap Pra Lapangan


Peneliti mengadakan survei pendahuluan yakni dengan

mencari subjek sebagai narasumber. Selama proses survei ini

peneliti melakukan penjajagan lapangan terhadap latar penelitian,

mencari data dan informasi tentang pemberian pembiayaan usaha

mikro. Peneliti juga menempuh upaya konfirmasi ilmiah melalui

penelusuran literatur buku dan referensi pendukung penelitian.

Pada tahap ini peneliti melakukan penyusunan rancangan

penelitian yang meliputi garis besar metode penelitian yang

digunakan dalam melakukan penelitian.


b. Tahap Pekerjaan Lapangan
Dalam hal ini peneliti memasuki dan memahami latar penelitian

dalam rangka pengumpulan data.


c. Tahap Analisis Data
Tahapan yang ketiga dalam penelitian ini adalah analisis data.

Peneliti dalam tahapan ini melakukan serangkaian proses analisis

data kualitatif sampai pada interpretasi data-data yang telah

diperoleh sebelumnya dan selain itu peneliti juga menempuh

proses triangulasi data dan bahan referensi.


d. Tahap Evaluasi dan Pelaporan
Pada tahap ini peneliti berusaha melakukan konsultasi dan

pembimbingan dengan dosen pembimbing yang telah ditentukan.

36
DAFTAR PUSATAKA

Abdullah, Thamrin dan Francis Tantri. 2012. Bank dan Lembaga


Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Abdurahman, H. (2012). Menggugat Bank Syariah. Bogor: Al-Azhar Press
Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, ( Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada, 2007) Edisi 1
Asfiyah, Inayatul. Implementasi Produk Pembiayaan Multijasa PT. BPRS
PNM BINAMA Semarang. Diss. UIN Walisongo, 2015
Hasibuan, Melayu S.P 2011. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta : PT. Bumi
Aksara
Ismail. 2011. Manajemen Perbankan. Cetakan Kedua. Jakarta: Kencana
Kasmir. (2014)a. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi Revisi,
Cetakan keempat belas, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Kasmir. (2014)b. Dasar-Dasar Perbankan. Edisi Revisi, Cetakan ke dua
belas, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Khotibul Umam, Perbankan Syariah Dasar-Dasar Dan Perkembangan Di
Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2016
Muhammad. (2014). Manajemen Dana Bank Syariah. Jakarta: Rajawali
Pers.
Nur Aisyah, Binti. 2014. Manajemen Pembiayaan Bank Syariah.
Yogyakarta

37
Sudarsono, heri. 2012. BanK dan lembaga keuangan syariah. Edisi
Keempat.Yogyakarta:Ekonomi.
Tambunan, Tulus, “Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia : isu-
Isu penting”, Jakarta : LP3ES, 2012.

38