Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN

Setiap manusia dalam suatu populasi memiliki karakteristik tersendiri, perbedaan


tersebut membuat tiap manusia unik secara individual. Variasi yang tanpa batas pada
bentuk, ukuran, dan hubungan antara dental, skeletal, dan jaringan lunak struktur wajah
menjadi penting dalam membentuk identitas suatu individu. Tubuh simetris yang
sempurna secara bilateral hanya merupakan teori yang sangat jarang ditemukan pada
suatu organisme. Perbedaan antara sisi kanan dan kiri dapat ditemui pada suatu
organisme, perbedaan tersebut dinamakan asimetri (Bishara, 2001).
Kata asimetri berasal dari bahasa Yunani “symmetria” yang berarti seperti
pengukuran. Simetri diartikan sebagai korespondensi terhadap ukuran, bentuk dan posisi
relatif bagian-bagian pada sisi yang berhadapan dari garis yang membagi atau bidang
median. Asimetri dideskripsikan sebagai kurangnya atau tidak adanya simetri. Ketika hal
ini diaplikasikan pada wajah manusia, dapat diilustrasikan sebagai adanya proporsi yang
tidak seimbang antara sisi kanan dan kiri (Bishara, 1994). Menurut kamus kedokteran
Dorland, simetri didefinisikan sebagai pengaturan yang sama dalam bentuk dan
hubungan di sekitar axis yang sama atau pada tiap sisi dataran suatu benda. Secara klinis,
simetri berarti keseimbangan, dan asimetri yang signifikan berarti ketidakseimbangan
(Fischer, 1954).
Titik dimana asimetri dianggap normal maupun abnormal tidak dapat ditentukan
dengan mudah, dan seringkali ditentukan oleh kadar yang dianggap seimbang oleh
operator serta kadar yang dianggap tidak seimbang oleh pasien. Hal ini mungkin
diakibatkan karena berbagai faktor yang mempengaruhi struktur skeletal atau jaringan
lunak. Klasifikasi dan penyebab asimetri dapat bermacam-macam dan seringkali
merupakan kombinasi beberapa faktor. Diperlukan pemeriksaan, diagnosis dini, deteksi
etiologi dan rencana perawatan yang sistematik dan komprehensif untuk penatalaksanaan
asimetri fasial yang paling sesuai (Cheong dan Lo, 2011).
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mempelajari klasifikasi dan
etiologi pada kasus asimetri yang terjadi pada area fasial guna membantu dalam
penatalaksaan kasus asimetri yang dapat ditemukan dalam praktek kedokteran gigi.

0
TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Ko dkk. (2009), simetri didefinisikan sebagai identitas matematis antara


gambaran cermin kanan dan kiri dari suatu objek. Simetri dapat juga didefiniskan sebagai
korespondensi atau kesesuaian dalam ukuran, bentuk, dan posisi dari suatu bagian pada
sisi yang berlawanan yang terbagi pada garis tengah atau median plane. Midline fasial
biasanya diartikan sebagai garis yang membagi wajah dan garis yang melewati nasion
jaringan lunak dan titik tengah dari bibir atas. Definisi asimetri sendiri adalah kurang
atau tidak adanya simetri (Gill dan Naini, 2011). Menurut Bishara dkk. (1994), asimetri
merupakan perbedaan ukuran dan bentuk pada bagian-bagian wajah, serta berhubungan
dengan harmoni fasial.
Asimetri fasial merupakan fenomena yang umum terjadi. Ko dkk. (2009)
mengemukakan bahwa manusia sangat jarang memiliki simetri matermatis pada tulang
kraniofasial. Secara sederhana, asimetri wajah dapat dilihat dengan memotong foto
wajah menjadi dua bagian kanan dan kiri, kemudian mengambil porsi bagian kanan atau
kiri saja dan dipadukan dengan bayangan pantulannya, sehingga wajah mempunyai dua
sisi bagian kanan atau dua sisi bagian kiri (Cheong dan Lo, 2011).

Gambar 1. Pantulan kaca sisi kanan dan sisi kiri wajah bila dibagi dua pada garis median

Derajat asimetri wajah merupakan hal yang normal dan dapat diterima pada
wajah. Hal tersebut dapat disebabkan oleh adanya asimetri pada tulang dan/atau jaringan
lunak diatasnya. Asimetri dikatakan tidak dapat diterima ketika seorang individu mulai
mengalami masalah yang berhubungan dengan estetik dan keterbatasan fungsional (Gill
dan Naini, 2011).
Disebutkan bahwa pada kasus-kasus asimetri fasial yang minor, hemifasial
bagian kanan biasanya lebih lebar daripada yang kiri, dengan deviasi dagu ke kiri.

1
Asimetri fasial mempengaruhi wajah bagian bawah lebih banyak daripada wajah bagian
atas. Severt dan Proffit mencatat frekuensi asimetri fasial pada sepertiga wajah bagian
atas sebanyak 5%, pada sepertiga wajah bagian tengah 36%, dan pada sepertiga wajah
bagian bawah sebanyak 74% (Severt dan Proffit, 1997).

5%
36%
74%

Gambar 2. Prevalensi asimetri pada bagian-bagian wajah (Severt dan Proffit, 1997)

Chew dkk. (2006) melaporkan asimetri pada 35,8% dari 212 pasien dengan
deformitas dentofasial, dengan mayoritas kasus adalah deformitas oklusal Klas III.
Menurut Chew perlu diberi perhatian khusus pada pasien Klas III untuk deteksi adanya
asimetri. Klas III merupakan asimetri yang lebih umum terjadi pada populasi Asia
daripada Kaukasia.
Asimetri dapat terjadi pada bagian-bagian dari struktur pembentuk wajah. Berikut
akan dijelaskan lebih lanjut mengenai klasifikasi dari asimetri wajah dan faktor-faktor
yang menjadi penyebabnya.

A. Klasifikasi Asimetri Wajah


Klasifikasi asimetri wajah menurut Bishara (2001) adalah sebagai berikut:
1. Asimetri Dental
Asimetri dental ini dapat disebabkan faktor lokal seperti misalnya early loss gigi
desidui, congenitally missing teeth, maupun kebiasaan buruk seperti thumb
sucking. Asimetri dental dapat terjadi pada ukuran lebar mesiodistal mahkota
gigi. Gigi-gigi dengan morfologi yang sama cenderung memiliki arah asimetri

2
yang serupa, misalnya bila gigi premolar pertama lebih besar pada sisi kanan,
maka gigi premolar kedua akan cenderung lebih besar pula pada sisi kanan,
namun tidak berlaku pada gigi molar pada sisi tersebut. Selain itu, gigi-gigi yang
letaknya lebih distal dengan morfologi yang sama cenderung memiliki asimetri
lebih besar, misalnya gigi insisivus lateral, premolar kedua, dan molar ketiga.
Asimetri dapat pula mengarah pada bentuk lengkung gigi baik maksila maupun
mandibula (Dachi dkk., 1961).

Gambar 3. Asimetri dental pada lengkung mandibula

Gambar 4. Asimetri dental akibat premature loss gigi molar kedua desidui kiri maksila
sehingga menyebabkan maloklusi klas II subdivisi (Bishara dkk., 1994)

2. Asimetri Skeletal
Asimetri skeletal dapat melibatkan satu tulang seperti maksila atau mandibula
atau melibatkan beberapa struktur skeletal dan muskular pada satu sisi wajah,
misal pada hemifacial microsomia (Bishara, 2001).

3
Gambar 5. Asimetri skeletal akibat hemifacial microsomia (Bishara dkk., 1994)

3. Asimetri Muskular dan Jaringan Lunak


Disproporsi fasial dan diskrepansi median line dapat disebabkan oleh berbagai
macam asimetri muskular dan jaringan lunak seperti atrofi hemifacial atau
cerebral palsy. Kadang ukuran otot tidak proporsional oleh karena hipertrofi
masseter atau dermatomyositis, dan dari neoplasma. Fungsi otot yang abnormal
terkadang menyebabkan deviasi dental dan skeletal (Bishara, 2001).

Gambar 6. Asimetri skeletal akibat dermatomyositis yang menyebabkan ketidakseimbangan


tonus jaringan lunak dan mengakibatkan crossbite posterior unilateral

Gambar 7. Asimetri skeletal akibat neoplasma

4
4. Asimetri Fungsional
Asimetri fungsional dapat diakibatkan karena adanya occlusal interference
sehingga sentrik oklusi terganggu menyebabkan deviasi mandibula ke lateral
atau antero-posterior. Adanya gigi-gigi yang malposisi juga dapat menyebabkan
relasi sentrik terganggu. Deviasi fungsional ini dapat disebabkan juga karena
lengkung maksila yang terkonstriksi serta kelainan pada TMJ (Lundstorm,
1961). Pada beberapa kasus, kerusakan dan inkoordinasi sendi TMJ yang
disertai displaced disc ke anterior tanpa reduksi, dapat menyebabkan pergeseran
garis tengah (midline shift) selama pembukaan mulut yang disebabkan oleh
gangguan translasi mandibula pada sisi yang terpengaruh.

Klasifikasi asimetri menurut Cheong dan Lo (2011) dibagi menjadi 3 kategori


utama, yaitu sebagai berikut:
1. Congenital, biasanya terjadi pada periode prenatal
2. Developmental, yaitu asimetri yang terjadi dan berkembang selama pertumbuhan
dengan etiologi yang mencolok (misalnya agenesis, hipoplasia atau hiperplasia
tulang fasial). Tipe ini biasanya idiopatik dan bukan disebabkan oleh suatu
sindrom dan tidak banyak terjadi. Asimetri belum tampak pada saat kelahiran
atau kanak-kanak, tetapi muncul secara bertahap pada masa remaja.
3. Acquired, biasanya terjadi akibat trauma, penyakit atau infeksi atau bisa juga
karena shifting fungsional. Trauma, arthritis dan infeksi pada TMJ dapat
menyebabkan ankilosis pada sendi, dimana hal ini akam memicu kurangnya
pertumbuhan pada mandibula unilateral di sisi yang terpengaruh.

B. Etiologi Asimetri Wajah


Banyak penjelasan yang dikemukakan mengenai penyebab asimetri termasuk
tidak sempurnanya mekanisme genetis yang seharusnya membentuk simetri, dan
beberapa faktor lingkungan pendukung juga menentukan perbedaan kanan dan kiri
wajah. (Dachi, dkk., 1961). Menurut Bishara (2001), etiologi asimetri dental dan
fasial dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Genetik
Genetik telah menjadi implikasi pada kondisi tertentu seperti multiple
neurofibromatosis yang memiliki asosiasi dengan gen yang dominan. Contoh

5
lain fasial asimetri yang signifikan adalah hemifacial microsomia. Celah bibir
dan palatum juga dipengaruhi oleh genetik dan menghasilkan deformitas wajah
yang berhubungan dengan kolapsnya lengkung gigi rahang atas.

Gambar 8. Asimetri akibat neurofibromatosis

Gambar 9. Asimetri akibat celah bibir dan palatum yang mengakibatkan adanya tendensi
terjadinya crossbite anterior dan posterior unilateral

b. Tekanan intrauterin
Tekanan intrauterine selama kehamilan dan tekanan yang signifikan saat
melewati kanal kelahiran selama proses melahirkan dapat memberi efek pada
tulang kranium janin. Pembentukan akibat tekanan ini pada tulang-tulang
parietal dan fasial dapat menyebabkan asimetri fasial. Biasanya kelainan ini
bersifat sementara dan akan kembali normal dalam waktu beberapa minggu
sampai beberapa bulan.

6
c. Faktor lingkungan
Asimetri pada kraniofasial dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, termasuk
perubahan patologis yang tidak berasal dari kelainan kongenital.
Osteokondroma pada kondilus mandibula dapat menyebabkan asimetri fasial,
open bite pada sisi yang terlibat, dan deviasi mandibula. Menurut Lundstrom,
kebiasaan buruk seperti menghisap atau mengunyah satu sisi karena adanya
karies gigi, atau ekstraksi dapat juga menyebabkan asimetri kanan-kiri di dalam
rongga mulut.

d. Trauma dan infeksi


Fraktur pada mandibula yang tidak dirawat dapat menimbulkan berbagai
intensitas asimetri fasial. Trauma dan infeksi pada TMJ dapat menyebabkan
ankilosis mandibula terhadap tulang temporal. Ankilosis pada anak dalam masa
pertumbuhan dapat menyebabkan pertumbuhan mandibula terhambat pada sisi
yang terpengaruh. Kerusakan pada saraf juga secara tidak langsung dapat
menyebabkan asimetri akibat kehilangan fungsi dan tekanan otot.

7
PEMBAHASAN

Asimetri wajah merupakan hal normal yang umum terjadi dan dapat diterima,
bahkan disebutkan bahwa sangat jarang ditemukan simetri yang sempurna pada manusia
(Bishara, 2001). Asimetri dikatakan tidak dapat diterima ketika seorang individu mulai
mengalami masalah yang berhubungan dengan estetik dan keterbatasan fungsional.
Asimetri fasial yang signifikan dapat menyebabkan gangguan estetis dan fungsi (Gill dan
Naini, 2011).
Berdasarkan klasifikasinya, asimetri dapat digolongkan menjadi asimetri dental,
skeletal, muskular atau jaringan lunak, dan fungsional. Asimetri pada komponen
kompleks dentofasial dapat terjadi secara unilateral maupun bilateral dan dapat terjadi
pada arah antero-posterior, supero-inferior dan atau medio-lateral (Fischer, 1954). Pada
studi lebih lanjut tentang asimetri lengkung gigi dan fasial, dijelaskan bahwa asimetri
dapat berasal dari kelainan genetik maupun non-genetik dan biasanya merupakan
kombinasi dari keduanya. Asimetri yang disebabkan oleh faktor genetik antara lain dapat
terlihat pada kasus neurofibromatosis, hemifacial microsomia, dan celah pada bibir dan
palatum (cleft lip and palate) (Bishara, 2001).
Beberapa asimetri antara sisi kanan dan kiri pada rongga mulut biasanya
disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kebiasaan menghisap, kebiasaan mengunyah
pada satu sisi akibat karies gigi, ekstraktsi, maupun trauma. Selain itu, faktor lain yang
dapat mengakibatkan terjadinya asimetri wajah adalah trauma intrauterin dan adanya
infeksi. Trauma intrauterin adalah trauma yang terjadi pada janin akibat tekanan saat
janin tersebut dikandung. Trauma pada janin juga dapat terjadi pada saat proses kelahiran
yang berefek pada tulang kranium janin yang tertekan sehingga mengakibatkan asimetri
wajah.
Ketika pasien mengeluhkan adanya asimetri pada wajah dan ingin mendapatkan
perawatan, penting untuk mencari etiologi dari asimetri tersebut. Hal ini memerlukan
pemeriksaan riwayat yang menyeluruh, pemeriksaan klinis serta pemeriksaan radiografi
dilakukan untuk menentukan jenis dan etiologi dari asimetri tersebut, sehingga diagnosa
dapat ditegakkan serta dapat disusun rencana perawatan yang tepat. Perawatan ortodontik
perlu dilakukan bila terdapat masalah yang menyangkut dental dan skeletal (Bishara,
2001).

8
KESIMPULAN

Asimetri wajah atau asimetri fasial didefinisikan sebagai perbedaan ukuran dan
bentuk pada bagian-bagian wajah dan berhubungan dengan harmoni fasial. Asimetri
fasial merupakan fenomena yang kerap kali terjadi. Asimetri dapat dikategorikan
menjadi asimetri dental, skeletal, muskular atau jaringan lunak, dan fungsional. Faktor-
faktor yang diduga menjadi etiologinya antara lain meliputi malformasi genetik, seperti
hemifacial microsomia, faktor lingkungan seperti kebiasaan dan trauma, penyimpangan
fungsional atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut.

9
DAFTAR PUSTAKA

Bishara S.E., 2001, Textbook of Orthodontics, Saunders Company, Philadelphia, Hal


532-40

Bishara S.E., Burkey P,S,, Kharouf J.G., 1994, Dental and facial asymmetries: a review.
Angle Orthod 64:89-98

Cheong Y.W., Lo L.J, 2011, Facial Asymmetry: Etiology, Evaluation, and Management.
Chang Gung Med J 34:341-351

Chew M.T., 2006, Spectrum and management of dentofacial deformities in a multiethnic


Asian population, Angle Orthod 76:806-9

Dachi S.F., Howell F.V., 1961, A survey of 3,874 routine full mouth radiographs. II. A
study of impacted teeth, Oral Surg Oral Med Oral Pathol 14(10):1165-1169
Fischer B., 1954, Asymmetries of the dentofacial complex, Angle Orthod 24:179-192

Gill D.S., Naini, F.B., 2011, Orthodontics: Principles and Practice, Wiley-Blackwell,
Oxford, Hal 182-7

Lundstorm A., 1961, Some asymmetries of the dental arches, jaws, and skull, and their
etiological significance, Am J Orthod 47:81 – 106

Severt T.R., Proffit W.R., 1997, The prevalence of facial asymmetry in the dentofacial
deformities population at the University of North Carolina. Int J Adult Orthodon
Orthognath Surg 12:171-6

10