Anda di halaman 1dari 32

Cara-cara penyimpanan persediaan farmasi :

1. Sistem penyimpanan

2. Hal-hal khusus yang perlu diperhatikan

3. Pengendalian mutu persediaan

Tata cara penyimpanan obat di gudang

1. Pisahkan obat berbahaya (narkotika dan psikotropika) dari obat lainnya

2. Obat berbahaya disimpan di lemari khusus yang terkunci dengan baik

3. Pisahkan penyimpanan obat-obat kategori V(vital) ditempat sendiri, beri


tanda khusus, susun menurut alfabet

4. 4.Obat disimpan berdasarkan jenisnya, tablet, syrup, injeksi dalam ampul, vial,
cairan infus dan sebagainya, disusun menurut alfabet

5. 5.Jangan meletakkan sediaan farmasi langsung diatas lantai, simpanlah dalam


rak/lemari

6. 6.Stock disusun berdasarkan sistem FIFO

Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat akan menyimpan sediaan farmasi

 Periksa apakah ada kerusakan, pada kemasan (strip sobek, menggelembung,


ampul retak, tutup vial rusak, tutup segel botol rusak, warna cairan keruh, dan
sebagainya)

 Periksa tanggal kadaluarsanya. Obat yang tanggal kadaluarsanya pendek


sebaiknya digunakan terlebih dahulu (TERUTAMA VAKSIN)

JANGAN MENGGUNAKAN OBAT YANG SUDAH KADALUARSA, KARENA:

a.Efektifitas obat sudah berkurang, misalnya antibiotik akan dapat menimbulkan


resistensi bakteri

b. Obat akan dapat berubah menjadi toksik karena terurai menjadi senyawa lain, dan ini
berbahaya

MEMBERI TANDA /KODE PADA WADAH OBAT

 BERI TANDA SEMUA WADAH OBAT

 BILA ADA OBAT DALAM WADAH TANPA KODE, JANGAN DIGUNAKAN,


 BILA OBAT DISIMPAN DALAM DUS BESAR, MAKA DALAM DUS HARUS
TERTERA : JUMLAH ISI, TGL DITERIMA, TGL E.D, NAMA OBAT DAN PABRIK

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS OBAT (DALAM


PENYIMPANAN)

 KELEMBABAN

Contoh, kapsul basah, tablet rapuh atau pecah

Asetosal bau asam jika lembab

Cara menghindari, ventilasi baik,bila mungkin pasang AC, simpan obat ditempat
kering

Wadah harus selalu tertutup rapat, adsorben biarkan tetap dalam wadah

 SINAR MATAHARI

Cairan, injeksi, salep maupun krim mudah rusak oleh sinar matahari

Perhatikan warna, bau dan konsistensi sebelum obat diserahkan pada pasien.

 TEMPERATUR/PANAS

Krim, salep dan supositoria dapat meleleh oleh panas

ORS mudah meleleh, menjadi coklat dan lengket bila panas

Simpan obat menurut aturan penyimpanan, suhu sejuk (vaksin, serum, insulin,
beberapa obat kanker dll), suhu kamar.

 KERUSAKAN FISIK WADAH

Dus jangan ditumpuk terlalu tinggi

Hindari kontak dengan ujung-ujung yang tajam

Obat jangan diletakkan langsung di atas lantai

Hindari kebocoran

 KONTAMINASI BAKTERI
 PENGOTORAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perencanaan
Suatu proses kegiatan seleksi sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan untuk
menentukan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan sesuai dengan jumlah, jenis
dan waktu yang tepat.
Tujuan perencanaan untuk pengadaan obat adalah :
1. Mendapatkan jenis dan jumlah sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan yang
sesuai kebutuhan
2. Menghindari terjadinya kekosongan obat/ penumpukan obat
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
1. Pola penyakit.
Yaitu perencanaan perbekalan farmasi yang sesuai data jumlah pengunjung dan jenis
penyakit yang banyak di keluhkan atau di konsultasikan dengan APA atau TTK di
Apotek, hal ini juga dapat di lihat dari data-data yang sesuai, contohnya data UPDS
(Upaya Pengobatan Diri Sendiri) atau data HV (Obat Bebas).
2. Kemampuan/daya beli masyarakat
Yaitu perencanaan perbekalan farmasi yang sesuai hasil analisis data konsumsi obat
pada periode sebelumnya yang dapat dilihat dari resep-resep yang masuk setiap hari.
jika obat atau barang yang habis atau laku keras maka dilakukan perencanaan
pemesanan obat tersebut.
3. Budaya masyarakat (kebiasaan masyarakat setempat)
4. Pola penggunaan obat yang lalu
Kegiatan pokok dalam perencanaan adalah memilih dan menentukan sediaan farmasi
dan perbekalan kesehatan yang akan diadakan.

Pengelolaan Administrasi
Seperti diketahui kelengkapan administrasi apotek bisa bervariasi dari 20 sampai 30
macam pekerjaan administrasi tergantung pada masing-masing apotek. Pekerjaan
administrasi apotek terdiri dari pembukuan dan pelaporan yang antara lain:
1. Buku Defecta
Buku ini digunakan untuk mencatat barang atau obat yang harus dipesan untuk memenuhi kebutuhan
ketersediaan barang atau obat. Fungsi buku ini untuk mengecek barang dan stok barang, menghindari
kelupaan pemesanan kembali barang.
Jumlah
Nama Stok yg Kebutuhan Nama
Tgl yg harus Kondisi
Obat Ada / minggu PBF
di pesan

2. Buku Pembelian/Penerimaan Barang


Buku ini mencatat barang yang diterima dari PBF. Kadang-kadang buku ini juga bisa digunakan sebagai
buku penerimaan barang digudang dan biasanya disebut buku gudang.
Tgl Harga
Tgl Nama No. Nama Ket.
Barang Jmlh satuan
Faktur PBF Faktur Obat Kondisi
Datang (+ ppn)

3. Buku Register Narkotika


Buku ini untuk mencatat penambahan persediaan narkotika dan pembelian, juga mencatat pengurangan
narkotika baik untuk resep maupun keperluan yang lain. Buku ini memuat kolom-kolom yang berisi
bulan, tahun, penerimaan dan persediaan awal bulan, pengeluaran dan persediaan awal bulan. Laporan
penggunaan narkotika dikirim setiap bulan ke Dinas Kesehatan dan instansi lain sesuai dengan aturan
yang berlaku di daerah apotek didirikan.
Jumlah Alama Alama
Tgl Nam No. No. Nama Nama
Tg t t
Faktu a Faktu Ms Klua Rese Pasie Dokte
l Pasie Dokte
r PBF r k r p n r
n r

4. Buku Catatan Psikotropika


Buku ini mencatat penambahan psikotropika dari pembelian dan pengurangan
psikotropika karena penggunaan untuk resep. Setiap bulan penggunaan psikotropika
dilaporkan ke Dinas Kesehatan atau instansi yang terkait sesuai dengan aturan dimana
apotek didirikan.

Jumlah Alama Alama


Tgl Nam No. No. Nama Nama
Tg t t
Faktu a Faktu Ms Klua Rese Pasie Dokte
l Pasie Dokte
r PBF r k r p n r
n r

5. Buku Catatan OWA


Buku ini untuk mencatat penjualan OWA.
Nama Alamat
Tgl Nama Obat Jumlah Keluhan Pasien
Pasien Pasien

6. Kartu Stock Gudang


Kartu ini terletak di gudang dan dipakai untuk mencatat keluar masuknya barang ke dan dari gudang.
Satu lembar kartu hanya untuk satu macam barang atau obat. Kartu ini memuat nama barang atau obat,
satuan, nama pabrik, tanggal faktur, nama PBF, tanggal kadaluarsa, nomor batch, harga beli, jumlah
masuk, jumlah keluar, sisa.
KARTU STOK

Nama Obat / Barang = ....


Tgl Dari / Mutasi Sisa Ket. Paraf
Msuk Kluar
Kpada

7. Kartu Stelling
Kartu ini terletak melekat pada wadah obat di tempat sirkulasi. Kegunaan kartu ini adalah untuk
mencatat keluar masuk dan sisa obat pada setiap kali penambahan dan pengambilan.
KARTU STOK

Nama Obat / Barang = ....


Tgl Dari / Mutasi Sisa Ket. Paraf
Msuk Kluar
Kpada
8. Buku Penjualan Obat dengan Resep
Buku ini untuk mencatat resep-resep yang dilayani setiap hari. Dalam buku ini dicatat tanggal, nomor
resep, nama pasien, jumlah R/, harga resep, jumlah R/ generik, harga resep generik. Dari buku ini bisa
dibuat laporan statistik resep dan penggunaan obat generik berlogo. Laporan statistik resep dan obat
generik berlogo dikirim setiap bulan ke Dinas Kesehatan Kabupaten dan instansi lain sesuai aturan yang
berlaku di daerah apotek didirikan.
Rincian
Tgl No. Resep Nama Pasien Harga Resep
Resep

9. Buku Hutang
Buku ini mencatat nama-nama PBF rekanan, dilengkapi catatan tanggal dan nomor faktur, jumlah hutang
apotek pada masing-masing PBF.
Tgl dan No.
Tgl Nama PBF Jumlah (Rp.) Ket.
Faktur

10. Buku Inkaso Harian


Buku ini baru digunakan apabila barang yang terhutang sudah jatuh tempo. Setelah dilunasi, apotek akan
menerima faktur asli disertai faktur pajak. Pelunasan ini dicatat dalam buku kas dengan menuliskan
tanggal, nama PBF, nomor faktur, dan jumlah pelunasan.
Tgl dan No.
Tgl Nama PBF Jumlah (Rp.) Ket.
Faktur

11. Buku Kas


Dalam buku ini dicatat semua pendapatan dan pengeluaran apotek. Pencatatan dilakukan setiap hari
sehingga dari buku ini bisa diketahui berapa saldo uang kas yang ada di apotek. Buku ini isa dibantu
dengan beberapa buku lain, misalnya buku kas kecil, buku pengeluaran, dan lain-lain sesuai dengan
kebutuhan masing-masing apotek.
Tgl Transaksi Debet Kredit Saldo

12. Buku Bank


Buku ini untuk mencatat kekayaan apotek yang ada di bank.
13. Buku Catatan Tenaga Kerja
Buku ini untuk mencatat tenaga kerja yang ada di apotek. Setiap tiga bulan data tenaga
kesehatan yang bekerja di apotek dilaporkan ke Dinkes Kabupaten.
14. Neraca Akhir Tahun
Neraca ini dibuat untuk mengetahui posisi apotek pada akhir periode tutup buku.
Neraca ini berisi kas, piutang, inventaris, hutang dagang, modal, dan lain-lain sesuai
dengan kebutuhan apotek.

2.2 Pengadaan Obat


Pengadaan barang merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan pembeli. Pengdaan barang dilakukan setiap hari
dengan cara order ke PBF melalui salesman berdasarkan barang yang tercatat pada
buku habis (defecta).
Sebelum melakukan kegiatan pengadaan barang, dengan memperhatikan hal-hal
berikut :
1. Buku habis (buku defecta)
2. Rencana anggaran belanja (anggaran pembelian)
3. Pemilihan PBF yang sesuai yaitu dengan pertimbangan:
Kriteria PBF
a. pelayanan yang baik dan kecepatan pengiriman
b. Ketersediaan barang (lengkap/tidak/kuantitas dan kualitas barang)
c. Rutinitas PBF datang ke apotek.
d. Adanya program yang menguntungkan (diskon dan bonus)
e. Harga barang
f. Prosedur PBF (jangka waktu pembayaran yang relatif lebih panjang)
g. Lokasi PBF

Pengadaan barang dapat dilakukan dengan cara:


1. COD (Cash on Delivery)
adalah pembayaran berdasarkan pemesanan barang dan dibayar tunai.
2. Kredit
adalah pembayaran yang dilakukan secara kredit dengan jangka waktu 1-2 bulan
setelah pembelian.
3. Konsinyasi
Konsinyasi biasanya dilakukan untuk produk baru yang belum atau jarang dijual di
apotek. Dalam konsinyasi, PBF menitipkan barang di apotek, pembayaran baru
dilakukan apabila barang titipan tersebut telah terjual.

Pembelian dilakukan dengan 3 (tiga) cara yaitu:


1. Pembelian berencana
Merencanakan pembelian berdasarkan penjualan per minggu atau per bulan.
Keuntungan apotek dapat mengetahui obat-obat yang bersifat fast moving dan slow
moving sehingga memudahkan dalam pengadaan. Metode ini biasanya digunakan
untuk apotek yang telah berjalan. Cara ini biasa digunakan untuk membeli barang yang
sukar diperoleh karena PBF berada di luar kota.
2. Pembelian spekulatif
Pembelian dilakukan dalam jumlah yang lebih besar dari kebutuhan dengan
harapan akan ada kenaikan harga dalam waktu dekat atau adanya diskon atau bonus.
Pengadaan secara spekulatif ini hendaknya harus diperhitungkan sesuai dengan
kebutuhan sehingga tidak terjadi penumpukan yang dapat menyebabkan kerugian.
3. Pembelian dalam jumlah terbatas
Pembelian dilakukan sesuai dengan kebutuhan dalam jangka pendek atau
pembelian dilakukan jika barang habis atau menipis. Biasanya digunakan pada apotek
yang baru buka atau memiliki modal yang terbatas.
Pemesanan barang (obat-obat) biasanya melalui dua jalur yaitu melalui Pedagang
Besar Farmasi (PBF) dan langsung ke pabrik. Pada umumnya apotek lebih suka
memesan kepada PBF daripada pemesanan langsung ke pabrik. Hal-hal yang perlu
diperhatikan untuk pemesanan pada PBF yaitu PBF dapat memberikan harga murah
dengan kualitas baik, waktu pengiriman barang tepat, kemungkinan adanya potongan
atau bonus dan jangka waktu kredit yang cukup.

Tahapan pemesanan barang apotek:


1. APA membuat surat pesanan kepada PBF menggunakan surat pesanan rangkap tiga
(dua rangkap untuk PBF dan satu rangkap untuk apotek). Surat pesanan obat dan
perbekalan kesehatan di bidang farmasi lainnya harus ditandatangani oleh Apoteker
Pengelola Apotek denga mencantumkan nama dan nomor surat izin pengelola apotek.
2. Surat pesanan dapat melalui sales atau telepon.
2.3 Penerimaan
Penerimaan adalah suatu kegiatan dalam menerima perbekalan farmasi yang
diserahkan dari unit-unit pengelola yang lebih tinggi (PBF) kepada unit pengelola
dibawahnya (Apotek). Tahapan penerimaan barang di apotek:
1. PBF akan mengirimkan barang yang dipesan disertai dengan faktur pengiriman
barang rangkap empat.
2. Barang yang datang kemudian dicocokkan dengan item yang tertulis pada faktur,
diperiksa nama sediaan, jumlah, dosis, expiredate, dan kondisi sediaan.
3. Faktur kemudian ditangani oleh APA atau AA dengan mencantumkan nama dan
nomor SIK.
4. Tiga lembar faktur dikembalikan ke PBF dan satu lembar untuk apotek.

Jika barang yang datang tidak sesuai dengan surat pesanan (SP) atau ada
kerusakan fisik maka bagian pembelian akan melakukan retur barang tersebut ke PBF
yang bersangkutan untuk di tukar dengan barang yang sesuai. Barang tersebut diretur
karena :

1. Tidak cocok dengan yang dipesan


2. Kemasan rusak

3. Mendekati Expire date atau sudah masuk Expire date

2.4 Penyimpanan
Obat atau barang yang sudah dibeli tidak semuanya langsung dijual, untuk itu perlu
disimpan dalam gudang tujuan agar aman (tidak hilang), tidak mudah rusak, dan mudah
terawat.
Gudang harus memenuhi beberapa ketentuan antara lain:
1. Merupakan ruang tersendiri dalam kompleks apotek
2. Cukup aman, kuat, dan dapat dikunci dengan baik
3. Tidak terkena sinar matahari langsung
4. Tersedia rak yang cukup baik
5. Dilengkapi dengan alat pemadam kebakaran kering dan berair
Tujuan penyimpanan barang adalah:
1. Untuk menjaga persediaan agar tidak hilang atau rusak
2. Untuk menjaga stabilitas obat
3. Memudahkan pengawasan jumlah persediaan, khususnya obat-obat yang
mempunyai waktu kadaluarsa
4. Memudahkan dan mempercepat pelayanan
5. Menjaga kemungkinan keterlambatan pemesanan
Penyimpanan dan penyusunan obat harus diperhatikan dan diatur sebaik-
baiknya, hal ini untuk memudahkan bagian gudang dalam pengontrolan dan
pengawasan.
Penyimpanan perbekalan farmasi di Apotek dapat digolongkan berdasarkan :
1. Disusun berdasarkan alphabetis
Obat-obat yang tersedia disusun berdasarkan alphabet dari hurup A sampai Z.
2. Berdasarkan kriteria antara barang regular dan askes
Barang regular dan barang askes penempatannya dipisah untuk memudahkan dalam
pengambilan obat sehingga tidak terjadi kesalahan pengambilan antara barang regular
dan askes.
3. Berdasarkan golongan obat
Obat bebas dan obat bebas terbatas disimpan di etalase bagian depan, karena dengan
golongan obat tersebut dijual secara bebas kepadapasien. Sedangkan untuk obat
golongan narkotika dan psikotropika disimpan pada lemari khusus dan terkunci sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
4. Berdasarkan FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out)
 FIFO (First In First Out) yaitu obat-obat yang pertama masuk berarti yang pertama
keluar.
 FEFO (First Expired First Out) yaitu obat-obat yang kadaluarsanya lebih cepat,
maka yang pertama keluar.
5. Berdasarkan efek farmakologis
6. Berdasarkan bentuk sediaan
 Sediaan Padat
Untuk obat disimpan di etalase toko bagian depan. Untuk obat keras di simpan di rak-
rak tertentu.Untuk obat narkotika dan psikotropika disimpan dilemari khusus dan
terkunci. Dari semua golongan obat disusun secara alfabetis dan menggunakan metode
FIFO dan FEFO
 Sediaan Suppositoria
Sediaan suppositoria disimpan dilemari pendingin
 Sediaan Cair
Disimpan di rak khusus sediaan cair (sirup) dan berdasarkan alfabetis
 Sediaan Tetes
Disimpan pada rak khusus sediaan tetes (tetes mata, hidung, dan telinga) disusun
secara alfabetis
 Sediaan Salep
Disimpan pada rak khusus sediaan salep dan disusun berdasarkan alfabetis
 Sediaan Injeksi
Disimpan di rak khusus sediaan injeksi.

Prosedur Tetap Penyimpanan Sediaan Farmasi Dan Perbekalan Kesehatan


1. Memeriksa kesesuaiaan nama dan jumlah sediaan farmasi dan perbekalan
kesehatan yang tertera pada faktur, kondisi fisik serta tanggal kadaluarsa.
2. Memberi paraf dan stempel pada faktur penerimaan barang.
3. Menulis tanggal kadaluarsa sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan pada kartu
stok.
4. Menyimpan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan pada rak yang sesuai, secara
alfabetis menurut bentuk sediaan dan memperhatikan sistem FIFO (first in first out)
maupun FEFO (first expired first out).
5. Memasukkan bahan baku obat ke dalam wadah yang sesuai, memberi etiket yang
memuat nama obat, nomor batch dan tanggal kadaluarsa.
6. Menyimpan bahan obat pada kondisi yang sesuai, layak dan menjamin stabilitasnya
pada rak secara alfabetis.
7. Mengisi kartu stok setiap penambahan dan pengambilan.
8. Menjumlahkan setiap penerimaan dan pengeluaran pada akhir bulan.
9. Menyimpan secara terpisah dan mendokumentasikan sediaan farmasi dan
perbekalan kesehatan yang rusak/kadaluarsa untuk ditindaklanjuti.

2.5 Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika


Pengelolaan Narkotika, meliputi :
a. Pemesanan narkotika
Pasal 5 ayat 1 UU No. 9 tahun 1976 disebutkan bahwa Menteri kesehatan
memberi izin kepada apotek untuk membeli, meracik, menyediakan, memiliki atau
menyimpan untuk persediaan, menguasai, menjual, menyalurkan, menyerahkan,
mengirim dan membawa atau mengangkut narkotika untuk kepentingan pengobatan.
Apotek dan apotek rumah sakit mendapatkan obat narkotika dari pedagang
besar farmasi (PBF). Kimia Farma, dan apotek lainnya dengan jalan menulis dan
mengeirimkan surat pesanan narkotika. Pemesanan narkotika menggunakan surat
pesanan model N-9 rangkap 5, setiap satu surat pesanan hanya berisi satu macam
narkotika. Blangko Surat Pesanan (SP) mencantumkan nomor SP, nama dan alamat
PBF, nama dan almat apotek, nama dan jumlah narkotika yang dipesan, nama dan
nomor SIK APA.
b. Penyimpanan narkotika
Persyaratan Lemari Narkotika di Apotek :
1) Terbuat dari kayu atau bahan lain yang kuat
2) Almari harus mempunyai kunci yang kuat
3) Alamari dibagi menjadi dua bagian masing-masing dengan kunci yg berlainan, bagian
pertama untuk menyimpan morfin, pethidin & garam-garamnya serta persediaan
Narkotika, bagian kedua untuk menyimpan narkotika lainnya yg dipakai sehari hari.
4) Apabila ukuran almari kurang dari 40 X 80 X 100 cm, almari harus dibaut / dipaku
ditembok atau lantai.
5) Almari tidak boleh untuk menyimpan barang lain, kecuali ditentukan oleh Menkes RI.
c. Pelaporan narkotika
Apotek berkewajiban untuk menyusun dan mengirimkan laporan bulanan kepada
Mentri Kesehatan mengenai pemasukan dan pengeluaran narkotika yang ada dalam
pengawasanya sesuai dengan pasal 18 ayat 2 UU No. 9 tahun 1976.
Laporan dikirim setiap bulan kepada Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dan BPOM. Pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan
dan pelaporan dapat dikenakan sanksi administrative oleh Mentri Kesehatan berupa
teguran, peringatan, denda administrative, penghentian sementara kegiatan dan
pencabutan izin.
d. Pelayanan resep yang mengandung narkotik
1. Apotek boleh melayani salinan resep yang mengandung narkotika, bila resep tersebut
baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama sekali.
2. Untuk resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama sekali,
apotek boleh membuat salinan resep, salinan resep tersebut boleh dilayani di apotek
lain.
3. Resep narkotika tidak boleh ada pengulangan, ditulis nama pasien, tidak boleh untuk
dipakai sendiri, alamat pasien dan aturan pakai ditulis yang jelas.
e. Pemusnahan narkotika yang rusak atau tidak memenuhi syarat
Narkotika dapat dimusnahkan karena kadaluarsa dan tidak memenuhi syarat
untuk digunakan pada pelayanan kesehatan. Pemusnahan narkotika dilakukan dengan
pembuatan berita acara yang memuat nama, jenis, sifat dan jumlah narkotik,
keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun, tanda tangan dan identitas
pelaksana dan pejabat yang menyaksikan dalam hal ini ditunjuk oleh Menkes.

Pengelolaan Psikotropika
Psikotropika diatur dalam undang – undang No. 5 tahun 1997 dan Peraturan
Mentri Kesehatan 688/Menkes/VII/1997. Obat keras tertentu adalah zat psikotropika
alamiah maupun sintesis yang dalam penggunaannya menimbulkan ketergantungan
baik secara fisik maupun psikis da nada kemungkinan disalahgunkan.
Untuk memonitor penggunaan obat psikotropika dilakukan dengan pencatatan
resep-resep yang berisi obat psikotropika dalam buku register. Psikotropika dapat
diperoleh dari PBF yang berizin, industry farmasi berizin, apotek lainnya. Psikotropika
dipesan dengan surat pesanan khusus psikotropika bernomor urut tercetak, satu lembar
surat pesanan dapat berisi beberapa jenis psikotropika.
Apotek dapat menyerahkan psikotropika kepada :
a. Rumah sakit, permintaan tertulis yang ditandatangani dokter atau direktur rumah
sakit.
b. Puskesmas, permintaan tertulis yang ditandatangani dokter atau kepala puskesmas.
c. Apotek lainnya, permintaan tertulis yang ditandatangani apoteker.
d. Balai pengobatan, permintaan tertulis yang ditandatangani dokter penanggung jawab.
e. Dokter, dengan resep dokter.
f. Pasien, dengan resep dokter.
Psikotropika wajib dibuat catatan pengeluaran dan penyimpanan laporannya.
Pencatatan dan pelaporan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan
Kabupaten / Kota dan BPOM. Pelanggaran terhadap pencatatan dan pelaporan dapat
dikenakan sanksi administrative berupa teguran lisan dan tertulis (peringatan), denda
administrative, penghentian sementara kegiatan, pencabutan izin.
Pemusnahan psikotropika dapat dilakukan apabila kadaluarsa, tidak memenuhi
syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan. Pemusnahan dilakukan dengan
membuat berita acara yang memuat nama, jenis, sifat dan jumlah, keterangan tempat,
jam, hari, tanggal, bulan dan tahun, tanda tangan dan identitas pelaksanaan dan
pejabat yang menyaksikan ditunjuk oleh Mentri Kesehatan, serta dilakukan dalam
waktu 7 hari setelah mendapat kepastian.

2.6 Strategi Pengembangan Apotik


Sebagai seorang Apoteker Pengelola Apotek(APA) selain memiliki basis ilmu
pengetahuan kefarmisian yang baik juga diperlukan kemampuan untuk
mengembangkan apotik agar tetap survive dan maju. Strategi pengembangan apotek
ada 2 macam, yaitu : intensifikasi dan ekstensifikasi.
Pengembangan Apotek Intensifikasi meliputi :
1. Pelayanan baik
2. Ramah, mau bergaul, penuh pengabdian, mampu bekerja sama dengan pasien
3. Resep bias diantar, konsultasi obat gratis, cek tensi.
4. Administrasi mudah
5. Pelayanan cepat
6. Karyawan
Untuk mengembangkan sebuah apotek tidak terlepas dari peran karyawan, maka
diperlukan pengelolaan SDM dengan baik, karyawan harus dibina untuk meningkatkan
prestasi. Metode reward dan punishment bias memacu karyawan untuk disiplin dalam
bekerja. Agar pelayanan obat di apotek juga dapat dilaksanakan dengan cepat maka
perlu dipertimbangkan jumlah karyawan yang cukup, tentu saja hal ini juga
mempertimbangkan factor cost dan benefit.

7. Ketersediaan
Diusahakan semua obat yang dibutuhkan pasien tersedia lengkap sehingga apotek
tidak akan pernah menolak resep dari pasien untuk menghindari kekecewaan pasien.
8. Fasilitas
Untuk memuaskan hati pelanggan apotik, fasilitas yang tersedia di apotek sangat
menunjang, diantaranya timbangan berat badan, ruang tunggu yang nyaman.
Pengembangan Apotek Ekstensifikasi meliputi :
1. Diferensiasi produk
Produk obat yang tersedia jangan hanya berasal dari satu pabrik, karena biasanya
resep-resep yang datang berasal dari produk yang berbeda.
2. OTC formula buatan sendiri
Apotek boleh menyediakan OTC formula buatan sendiri salah satunya sebagai usaha
diferensiasi produk. Obat-obatan buatan sendiri yang memberi khasiat baik bagi pasien
akan memberikan kepercayaan lebih bagi apotek, hal ini dapat menambah pelanggan.

2.7 Pengelolaan Obat Rusak dan Kadaluarsa


Obat yang rusak dan kadaluarsa yang tidak dapat digunakan lagi harus
dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan,
hal ini brdasarkan pasal 12 Peraturan Mentri Kesehatan no.922/ Menkes/Per/X/1993.
Obat yang kadaluarsa dapat dikembalikan ke PBF yang bersangkutan sesuai
dengan perjanjian sebelumnya. Biasanya PBF menentukan batas waktu pengembalian
3-4 bulan sebelum batas kadaluarsa. Obat-obat yang sudah kadaluarsa harus
dipisahkan dari tempat pelayanan dan secara periodik harus dimusnahkan.
Pemusnahan obat kadaluarsa harus disaksikan oleh APA dan salah satu karyawan
apotek. Pada proses ini dibuat berita acara.
Prosedur Tetap Pemusnahan Sediaan Farmasi Dan Perbekalan Kesehatan
1. Melaksanakan inventarisasi terhadap sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan
yang akan dimusnahkan.
2. Menyiapkan adminstrasi ( berupa laporan dan berita acara pemusnahan).
3. Mengkoordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan kepada pihak terkait
4. Menyiapkan tempat pemusnahan
5. Melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan.
6. Membuat laporan pemusnahan obat dan perbekalan kesehatan,
sekurang-kurangnya memuat:

a. Waktu dan tempat pelaksanaan pemusnahan sediaan farmasi


b. dan perbekalan kesehatan

c. Nama dan jumlah sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan

d. Nama apoteker pelaksana pemusnahan sediaan farmasi dan

e. perbekalan kesehatan

f. Nama saksi dalam pelaksanaan pemusnahan sediaan farmasi dan perbekalan


kesehatan

7. Laporan pemusnahan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan ditandatangani


oleh apoteker dan saksi dalam pelaksanaan pemusnahan (berita acara terlampir).

Prosedur Tetap Pemusnahan Resep


1. Memusnahkan resep yang telah disimpan tiga tahun atau lebih.
2. Tata cara pemusnahan:
• Resep narkotika dihitung lembarannya
• Resep lain ditimbang
• Resep dihancurkan, lalu dikubur atau dibakar
3. Membuat berita acara pemusnahan sesuai dengan format terlampir.
LAMPIRAN
Lampiran 1

BERITA ACARA PEMUSNAHAN OBAT

Pada hari ini ........................ tanggal................ bulan..................... tahun .....................


sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek,
kami yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama Apoteker Pengelola Apotek : ................................................................
No.S.I.K : ...............................................................
Nama Apotek : ................................................................
No. SIA : ................................................................
Alamat Apotek : ................................................................
Dengan disaksikan oleh :
1. Nama : ................................................................
Jabatan : ................................................................
No. S.I.K.A : ................................................................
2. Nama : ................................................................
Jabatan : ...............................................................
3. No. S.I.K.A : ................................................................

Telah melakukan pemusnahan obat sebagaimana tercantum dalam daftar terlampir.


Tempat dilakukan pemusnahan : ................................................................

Demikianlah berita acara ini kami buat sesungguhnya dengan penuh tanggung jawab.
Berita acara ini dibuat rangkap 4 (empat) dan dikirim kepada :
1. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
2. Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan
3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota
4. Satu sebagai arsip di apotek
................................................... .20.......

Saksi – saksi : yang membuat berita


acara,
1. (...............................................)
(.................................................)
No. S.I.K.A : .............................. No. S.I.K : .................................
2. (...............................................)
No. S.I.K.A : ............................
Lampiran 2
DAFTAR OBAT YANG DIMUSNAKAN
NARKOTIKA
No. Urut Nama Jumlah Alasan Pemusnahan

OBAT KERAS DAN BAHAN BERBAHAYA


No. Urut Nama Jumlah Alasan Pemusnahan

OBAT DAN BAHAN OBAT


No. Urut Nama Jumlah Alasan Pemusnahan

............................................20............

Saksi – saksi : Yang membuat berita


acara,
1. (...............................................) (......................................................)
No. S.I.K.A : ................. No.
S.I.K : .......................................
2. (...............................................)
No. S.I.K.A : .................
Lampiran 3

BERITA ACARA PEMUSNAHAN PERBEKALAN KESEHATAN

Pada hari ini ........................ tanggal................ bulan..................... tahun .....................


sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik nomor : Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotek , kami yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama Apoteker Pengelola Apotek : ................................................................


No.S.I.K : ...............................................................
Nama Apotek : ................................................................
No. SIA : ................................................................
Alamat Apotek : ................................................................
Dengan disaksikan oleh :
1. Nama : ................................................................
Jabatan : ................................................................
No. S.I.K.A : ................................................................
2. Nama : ................................................................
Jabatan : ................................................................
No. S.I.K.A : ................................................................

Telah melakukan pemusnahan perbekalan kesehatan di bidang farmasi sebagaimana


tercantum dalam daftar terlampir.
Tempat dilakukan pemusnahan : ................................................................

Demikianlah berita acara ini kami buat sesungguhnya dengan penuh tanggung jawab.
Berita acara ini dibuat rangkap 4 (empat) dan dikirim kepada :
1. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
2. Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan
3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota
4. Satu sebagai arsip di apotek
................................. .20....

Saksi-saksi Yang membuat berita


acara,
1. (..................................) (...........................................)
No. S.I.K.A :................... No. S.I.K :.............................
2. (.................................)
No. S.I.K.A :..................
Lampiran 4
DAFTAR PERBEKALAN KESEHATAN YANG DIMUSNAKAN
No. Urut Nama Jumlah Alasan Pemusnahan

............................................20............

Saksi – saksi : Yang membuat berita


acara,
1. (...............................................)
(......................................................)
No. S.I.K.A : ................. No.
S.I.K : .......................................
2. (...............................................)
No. S.I.K.A : .................
Lampiran 5
BERITA ACARA PEMUSNAHAN RESEP

Pada hari ini ........................ tanggal................ bulan..................... tahun .....................


sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik nomor : Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotek , kami yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama Apoteker Pengelola Apotek : ................................................................


No.S.I.K : ...............................................................
Nama Apotek : ................................................................
No. SIA : ................................................................
Alamat Apotek : ................................................................
Dengan disaksikan oleh :
1. Nama : ................................................................
Jabatan : ................................................................
No. S.I.K.A : ...............................................................
2. Nama : ................................................................
Jabatan : ................................................................
No. S.I.K.A : ................................................................

Telah melakukan pemusnahan resep pada apotek kami, yang telah melewati batas
waktu
penyimpanan selama 3 (tiga) tahun, yaitu :
Resep dari tanggal .................................... sampai dengan tanggal ..............................
Seberat .............................. kg.
Resep Narkotik.................. lembar
Tempat dilakukan pemusnahan : .....................................................................................

Demikianlah berita acara ini kami buat sesungguhnya dengan penuh tanggung jawab.
Berita acara ini dibuat rangkap 4 (empat) dan dikirim kepada :
1. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
2. Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan
3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota
4. Satu sebagai arsip di apotek
............................................20............

Saksi – saksi : Yang membuat berita


acara,
1. (...............................................)
(......................................................)
No. S.I.K.A : ................. No.
S.I.K : .......................................
2. (...............................................)
No. S.I.K.A : .................
Tata Cara Penyimpanan Obat Narkotika

Penyimpanan Narkotika

Narkotika yang ada di apotek harus disimpan sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh
Menteri Kesehatan (Pasal 16 Undang-undang No. 9 tahun 1976).

Sebagai pelaksanaan pasal tersebut telah diterbitkan PERMENKES RI No.


28/MENKES/PER/I/1978 tentang Tata Cara Penyimpanan Narkotika, yaitu pada
pasal 5 yang menyebutkan bahwa apotek harus mempunyai tempat khusus untuk
penyimpanan narkotika yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat.

2) Harus mempunyai kunci yang kuat.

3) Lemari dibagi dua masing-masing dengan kunci yang berlainan, bagian pertama
dipergunakan untuk menyimpan morfin, petidin, dan garam-garamnya, serta persediaan
narkotika; bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika lainnya yang dipakai
sehari-hari.

4) Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari ukuran kurang dari 40 x 80 x 100 cm,
maka lemari tersebut harus dibaut pada tembok atau lantai.

Pada pasal 6, dinyatakan sebagai berikut:

1) Apotek dan rumah sakit harus menyimpan narkotika pada tempat khusus
sebagaimana yang dimaksud pada pasal 5, dan harus dikunci dengan baik.

2) Lemari khusus tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang lain selain narkotika.

3) Anak kunci lemari khusus harus dikuasai oleh penanggung jawab/asisten apoteker
atau pegawai lain yang dikuasakan.

4) Lemari khusus harus ditaruh pada tempat yang aman dan tidak boleh terlihat oleh
umum.

About these ads


Pengelolaan Narkotika (Pemesanan, Penyimpanan, Penyerahan)

Menurut UU No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yang dimaksud dengan


Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman,
baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa
nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Sedangkan Prekursor Narkotika
adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam
pembuatan Narkotika.

Menurut UU No.35 Tahun 2009 pasal 39, Narkotika hanya dapat disalurkan oleh
Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, dan sarana penyimpanan sediaan
farmasi pemerintah sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Industri
Farmasi, pedagang besar farmasi, dan sarana penyimpanan sediaan farmasi
pemerintah wajib memiliki izin khusus penyaluran Narkotika dari Menteri.

Dan pada pasal 43 menerangkan bahwa penyerahan Narkotika hanya dapat


dilakukan oleh:

a. Apotek

b. Rumah Sakit

c. Pusat kesehatan Masyarakat

d. Balai pengobatan, dan

e. Dokter.

Apotek hanya dapat menyerahkan Narkotika kepada:

a. Ruma Sakit

b. Pusat kesehatan masyarakat

c. Apotek lainnya
d. Balai pengobatan

e. Dokter dan

f. Pasien

Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat dan balai pengobatan hanya
dapat menyerahkan Narkotika kepda pasien berdasarkan resep dokter.

1. Resep Narkotika dari luar propinsi harus mendapatkan persetujuan dari


dokter setempat
2. Salinan resep untuk obat yang baru diambil sebagian tidak boleh dilayani
oleh apotek lain. Salinan resep hanya dapat dilayani di apotek yang
menyimpan resep aslinya.
3. Resep yang berisi narkotika tidak boleh iterasi
4. Laporan narkotika disampaikan tiap bulan
5. Pemesanan narkotika menggunakan surat pesanan model N-9 rangkap 5
setiap satu lembar pesanan berisikan satu macam obat narkotika
6. Pencatatan narkotika menggunakan buku register narkotika
Tempat Penyimpanan Narkotika

Apotek dan Rumah Sakit harus memiliki tempat khusus untuk menyimpan
Narkotika

a. Penyimpanan nakotika pada lemari yang mempunyai ukuran 40 X 80 X 100 cm,


dapat berupa almari yang dilekatkan di dinding atau menjadi satu kesatuan
dengan almari yang besar.
b. Almari tersebut harus mempunyai 2 kunci yang satu untuk menyimpan narkotika
sehari-hari dan yang lainnya untuk narkotika persediaan dan mofin, pethidin dan
garam-garamnya.

c. Apabila lemari berukuran kurang dari 40 X 80 X 100 cm maka lemari tersebut


harus dibuat pada tembok atau lantai.
CARA PENYIMPANAN OBAT

I. PENDAHULUAN
Dalam upaya pengobatan suatu penyakit, biasanya diberikan beberapa jenis obat
yang saling berbeda baik bentuk sediaannya maupun kemasannya. Hal ini selalu terjadi
di masyarakat luas, maka perlu dipikirkan cara menyimpan obat. Bila cara penyimpanan
obat tidak memenuhi persyaratan cara menyimpan obat yang benar, maka akan terjadi
perubahan sifat obat, sampai terjadi kerusakan obat.
Selain itu, sebagian dari kasus keracunan obat disebabkan karena cara
penyimpanan obat yang salah. Menyimpan obat dengan benar dapat menjamin
keamanan pemakaian obat-obatan tersebut. Penyimpanan obat dengan cara yang
benar membantu menjaga kondisi obat tetap dalam keadaan yang baik atau tidak
rusak. Selain itu, juga dapat menghindarkan kesalahan penggunaan obat oleh orang
yang salah, misalnya anak-anak.
Kegiatan pengelolaan dan penggunaan obat dimulai dari:
1. Pemilihan jenis obat dan alat kesehatan yang dibutuhkan
2. Perencanaan untuk mengadakan obat dan alat kesehatan tersebut
dalam jenis, jumlah, waktu dan tempat yang tepat
3. Pengadaan berdasarkan pertimbangan dana yang tersedia dan skala prioritas untuk
pengadaan yang tepat
4. Penyimpanan yang tepat sesuai dengan sifat masing-masing obat dan
alat kesehatan

Penyimpanan yang tepat dan sesuai dapat dipastikan bahwa mutu obat tersebut
baik. Penyimpanan merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasi menurut
persyaratan yang ditetapkan menurut bentuk sediaan dan jenisnya, suhu dan
kestabilannya mudah tidaknya meledak/terbakar, dan tahan/tidaknya terhadap cahaya,
disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan
farmasi sesuai kebutuhan.

Penyimpanan perbekalan farmasi merupakan kegiatan pengaturan sediaan


farmasi di dalam ruang penyimpanan dengan tujuan untuk:
1. Menjamin mutu tetap baik, yaitu kondisi penyimpanan disesuaikan dengan sifat obat,
misalnya dalam hal suhu dan kelembaban.

2. Memudahkan dalam pencarian, misalnya disusun berdasarkan abjad.

3. Memudahkan pengawasan persediaan/stok dan barang kadaluarsa, yaitu

4. Disusun berdasarkan First In First Out (FIFO) dan First Expired First

Out (FEFO)

5. Menjamin pelayanan yang cepat dan tepat.

II. CARA PENYIMPANAN OBAT SECARA UMUM


Cara penyimpanan obat yang secara umum perlu diketahui oleh masyarakat adalah
sebagai berikut :
a. Ikuti petunjuk penyimpanan pada label/ kemasan
b. Simpan obat dalam kemasan asli dan dalam wadah tertutup rapat.
c. Simpan obat pada suhu kamar dan hindari sinar matahari langsung.
d. Jangan menyimpan obat di tempat panas atau lembab.
e. Jangan menyimpan obat bentuk cair dalam lemari pendingin agar tidak beku, kecuali
jika tertulis pada etiket obat.
f. Jangan menyimpan obat yang telah kadaluarsa atau rusak.
g. Jangan meninggalkan obat di dalam mobil untuk jangka waktu lama.
h. Jauhkan obat dari jangkauan anak-anak.

Peralatan penyimpanan obat secara umum memerlukan :

1. Lemari/rak yang rapi dan terlindung dari debu, kelembaban dan cahaya yang
berlebihan

2. Lantai dilengkapi dengan palet

III. CARA PENYIMPANAN OBAT SECARA KHUSUS


Penyimpanan obat yang secara khusus juga perlu diketahui oleh masyarakat adalah
sebagai berikut :
1. Sediaan obat vagina dan ovula

Sediaan obat untuk vagina dan anus (ovula dan suppositoria) disimpan di lemari es
karena dalam suhu kamar akan mencair.
2. Sediaan Aerosol / Spray
Sediaan obat jangan disimpan di tempat yang mempunyai suhu tinggi karena dapat
menyebabkan ledakan.

Peralatan yang digunakan untuk penyimpanan obat dengan kondisi khusus


diantaranya :

1. Lemari pendingin dan AC untuk obat yang termolabil

2. Fasilitas peralatan penyimpanan dingin harus divalidasi secara berkala

3. Lemari penyimpanan khusus untuk narkotika dan obat psikotropika

4. Peralatan untuk penyimpanan obat, penanganan dan pembuangan limbah sitotoksik dan
obat berbahaya harus dibuat secara khusus untuk menjamin keamanan petugas,
pasien dan pengunjung

Beberapa obat perlu disimpan pada kondisi dan tempat yang khusus untuk
memudahkan pengawasan, yaitu :
1. Obat golongan narkotika dan psikotropika masing-masing disimpan dalam lemari
khusus dan terkunci.
2. Obat-obat seperti vaksin dan supositoria harus disimpan dalam lemari pendingin
untuk menjamin stabilitas sediaan.
3. Beberapa cairan mudah terbakar seperti aseton, eter dan alkohol disimpan dalam
lemari yang berventilasi baik, jauh dari bahan yang mudah terbakar dan peralatan
elektronik. Cairan ini disimpan terpisah dari obat-obatan.

Syarat ruang penyimpanan menurut Kepmenkes No.1197/Menkes/ SK/X/2004


adalah ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi, sanitasi temperatur
sinar/cahaya, kelembaban, fentilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan
keamanan petugas, kondisi khusus untuk ruang penyimpanan :

- Obat termolabil

- Alat kesehatan dengan suhu rendah


IV. DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Bina Penggunaan Obat Rasional.. Direktorat Jenderal Bina


Kefarmasian

dan Alat Kesehatan. Departemen Kesehatan R I. 2008. Materi Pelatihan

Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Memilih Obat bagi Tenaga

Kesehatan. http://binfar.depkes.go.id/

Di akses pada 24 Oktober 2012, 20.00WIB.

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Direktorat Jenderal Bina


Kefarmasian

dan Alat Kesehatan. Departemen Kesehatan R I. 2006. Pedoman Pelayanan

Kefarmasian di Puskesmas http://binfar.depkes.go.id/

Di akses pada 24 Oktober 2012, 18.00WIB.

Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Departemen

Kesehatan RI. 2006. Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit.

http://binfar.depkes.go.id/

Di akses pada 24 Oktober 2012, 18.24 WIB.

Ratnadita Adhelia. 2011. Tips Menyimpan Obat yang Benar dan Aman.

http://health.de

 Penyimpanan obat di rumah sakit :

Gudang sentral

Depo-depo farmasi

Bangsal-bangsal – Emergency Kit

 Tujuan:

Menyimpan obat yang bermutu baik dan siap didistribusikan

Menampung obat rusak


 SYARAT

1. Aman

2. Memenuhi syarat farmasetis

3. Tertib administrasi

POTENSI MEDICATION ERRORR

 Penyimpanan obat berpotensi menimbulkan medication errorr

 Pisahkan obat yang termasuk High Alert

 Pisahkan obat yang termasuk sitostatika

 Beri tanda khusus

 Hati-hati obat dengan nama yang sama, dengan bentuk kemasan yang sama,
obat sama dengan kekuatan/strength berbeda

 Kontrol penyimpanan

Stock opname

Memantau stock dengan kartu stock

Pengelolaan obat yang memerlukan suhu tertentu