Anda di halaman 1dari 4

1

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA DENGAN


KEJADIAN FLUOR ALBUS REMAJA PUTRI SMKF X KEDIRI

THE CORRELATION OF KNOWLEDGE AND ATTITUDE WITH THE


INCIDENCE FLOUR ALBUS OF ADOLESCENT GIRLS IN SMKF X KEDIRI

Pety Merita Sari

Info Artikel Abstrak


Latar belakang: Fluor albus merupakan masalah kesehatan reproduksi yang
Sejarah Artikel: hampir 75% perempuan di seluruh dunia akan mengalaminya, paling tidak sekali
Diterima 10 Februari seumur hidup. Remaja termasuk kelompok yang rentang terhadap masalah fluor
2016 albus, hal ini dikarenakan pada fase ini remaja mengalami peralihan dari masa
Disetujui 19 April 2016 kanak-kanak ke masa dewasa sehingga pengetahuannya sangat terbatas mengenai
fluor albus. Tujuan: Menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap remaja putri
Dipublikasikan 16 Juni
SMKF X Kediri dengan kejadian flour albus. Metode: Penelitian ini bersifat
2016
observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dan sampel
berjumlah 105 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Data
Kata Kunci: penelitian diperoleh melalui kuesioner pengetahuan dan sikap kemudian
Pengetahuan, sikap, dianalisis menggunakan uji spearman rho. Hasil: Hasil uji statistik menggunakan
flour albus spearman rho, pengetahuan tidak berhubungan dengan kejadian flour albus (p) >
0,05), sedangkan sikap berhubungan dengan kejadian flour albus (p) <
Keywords:
0,05). Simpulan dan saran: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan
Knowledge, attitude, dengan kejadian flour albus dan terdapat hubungan antara sikap dengan kejadian
flour albus flour albus. Diharapkan remaja putri lebih memperhatikan personal hygine yang
baik untuk mencegah terjadinya flour albus.

Abstract
Background: Fluor albus is a reproductive health problem that almost 75% of
women will experience vaginal discharge around the world at leasts once in a
lifetime. Teens including groups that span the fluor albus problems, this is due to
the phase transition of adolescents experiencing childhood to adulthood so that
knowledge greatly very limited regarding fluor albus. Objectives: To analyze the
correlation of knowledge and attitude with the incidence flour albus of
adolescent girls in SMKF X Kediri. Methods: This study using observasonal
analytic with cross sectional approach. Population and sample totaled 105
respondents and using total sampling techniques Data were obtained through
questionnaires and analysis using spearman rho test. Results: The result of this
study using spearman rho test for knowledge with the incidence flour albus
obtain value (p) > 0,05) and attitude with the incidence of flour albus
obtain value (p) < 0,05). Conclusions and suggestions:There is no correlation
between knowledge with the incidence flour albus and there is correlation
attitude with the incidence flour albus. Advicefor more notice of good personal
hygiene to prevent the occurrence flour albus.

P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555


Korespondensi :
Mahasiswa DIV Kebidanan Stikes Surya Mitra Husada Kediri. E-mail: petymeritasari@yahoo.co.id
2

Pety Merita Sari | Hubungan Pengetahuan dan Sikap …..


Jurnal Wiyata, Vol. 3 No. 1 Tahun 2016

PENDAHULUAN bahwa angka kejadian keputihan pada siswi


Fluor albus adalah semua SMK malang sangat tinggi yaitu dari 40 siswa
pengeluaran cairan alat genetalia yang bukan yang diwawancara sebanyak 85% mengalami
darahˡ. Fluor albus dapat merupakan suatu keputihan5.
keadaan yang normal (fisiologis) atau sebagai Berdasarkan studi pendahuluan pada
tanda dari adanya suatu penyakit (patologis). tanggal 26 februari 2014 di kelas XI SMKF X
Kondisi normal bening sampai keputihan, di Kediri terhadap 25 siswi kelas XI SMKF X
tidak berbau dan tidak menimbulkan keluhan. di Kediri dan didapatkan hasil 13 siswi (52%)
Fluor albus yang patologis biasanya berwarna pernah mengalami fluor albus dan 12 siswi
kekuningan/kehijauan/keabu-abuan, berbau (48%) sering mengalami fluor albus , 12 siswi
amis/busuk, jumlah secret umumnya banyak (48%) mengalami fluor albus diserta gatal, 5
dan menimbulkan keluhan seperti gatal, siswi (20%) mengalami fluor albus yang
kemerahan (eritema), edema, rasa terbakar berbau, serta 2 siswi (8%) mengalami fluor
pada daerah intim, nyeri pada saat albus yang berwarna.
berhubungan seksual (dyspareunia) atau nyeri Perawatan diri atau kebersihan diri
saat berkemih (dysuria)². Fluor albus tidak (personal hygine) merupakan perawatan diri
bisa dinggap biasa, karena akibat dari fluor sendiri yang dilakukan untuk
albus ini sangat fatal bila lambat ditangani mempertahankan kesehatan baik secara fisik
tidak hanya bisa mengakibatkan kemandulan maupun psikologis. Pendidikan kesehatan
dan hamil diluar kandungan, fluor albus juga reproduksi merupakan salah satu alternatif,
bisa merupakan gejala awal dari kanker leher dengan memberikan informasi kepada remaja
rahim yang bisa berujung pada kematian³. agar mengetahui bagaimana cara menjaga
Di Indonesia sebanyak 75% wanita kesehatan reproduksi kewanitaan agar
pernah mengalami keputihan minimal satu terhindar dari penyakit organ reproduksi
kali dalam hidupnya dan 45% di antaranya mereka yaitu memberikan pengetahuan
mengalami keputihan dua kali atau lebih. tentang kesehatan reproduksi remaja
Perawatan genetalia eksterna yang kurang khususnya pada remaja putri dan bagaimana
tepat dapat menjadi pemicu terjadinya menjaga kebersihan organ reproduksi6.
keputihan terutama keputihan yang bersifat
patologis. Berdasarkan data statistik METODE PENELITIAN
Indonesia tahun 2012 dari 43,3 juta jiwa Penelitian ini menggunakan desain
remaja berusia 15-24 tahun di Indonesia analitik dengan pendekatan cros-sectional.
berperilaku tidak sehat. Remaja putri Populasi penelitian ini adalah seluruh remaja
Indonesia dari 23 juta jiwa berusia 15-24 putri kelas XI SMKF X Kediri yang
tahun 83% pernah berhubungan seksual, yang berjumlah 105 siswi. Sampel dalam penelitian
artinya remaja berpeluang mengalami PMS ini adalah seluruh remaja putri kelas XI
yang merupakan salah satu penyebab SMKF X Kediri yang berjumlah 105 siswi.
keputihan4. Teknik Sampling dalam penelitian ini adalah
Hasil observsi yang diperoleh dari 40 total sampling. Lokasi dalam penelitian ini
orang siswi SMK Malang pada bulan oktober adalah di kelas XI SMKF X Kediri. Waktu
2014 siswi yang mengalami keputihan penelitian dilakukan pada tanggal 7 April - 21
sebanyak 29 orang dan 11 orang siswi tidak April 2014. Variabel independen yaitu
mengalami keputihan. Hal ini menunjukkan pengetahuan dan sikap sedangkan variabel

P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555


3

Pety Merita Sari | Hubungan Pengetahuan dan Sikap …..


Jurnal Wiyata, Vol. 3 No. 1 Tahun 2016

dependen yaitu kejadian flour albus. Data sebanyak 49 remaja putri dan sebagian besar
umum responden dianalisis dengan memiliki sikap baik tentang flour albus
persentase. Data khusus responden dianalisis dengan persentase 63,8% yaitu sebanyak 67
menggunakan uji spearman rho untuk melihat remaja putri. Berdasarkan uji statistik
hubungan antara pengetahuan dan sikap menggunakan spearman rho diperoleh
dengan kejadian flour albus. Dikatakan ada pengetahuan tidak berhubungan dengan
perbedaan yang bermakna dan ada hubungan kejadian flour albus p > 0,05 sedangkan sikap
jika tingkat signifikansi (p) < 0,05. berhubungan dengan kejadian flour albus p <
0,05.
HASIL PENELITIAN
Distribusi responden berdasarkan PEMBAHASAN
hasil kuesioner dalam pengetahuan dan sikap Pengetahuan merupakan salah satu
dapat dilihat pada tabel berikut: dari ketiga komponen pembentuk sikap yaitu
komponen kognitif. Dalam teori Rosenberg,
Tabel 1. Distribusi frekuensi kejadian flour
pengetahuan dan sikap berhubungan secara
albus
konsisten. Bila komponen kognitif
Kategori F Persentase (%) (pengetahuan) berubah, maka akan diikuti
Normal 52 49.5 perubahan sikap. Berdasarkan teori tersebut
Tidak
53 50.5 dapat disimpulkan bahwa pengetahuan
Normal
Total 105 100.0 seseorang sudah seharusnya berhubungan
dengan sikapnya7.
Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan
Dalam hasil penelitian ini yang telah
distribusi frekuensi kejadian flour albus
dilakukan di SMKF X Kediri terhadap 105
responden sebagian besar sering mengalami
remaja putri sebanyak 52 mengalami flour
flour albus tidak normal dengan persentase
albus yang normal dan sebanyak 53
50,5% yaitu sebanyak 53 remaja putri.
mengalami flour albus yang tidak normal.
Distribusi responden berdasarkan
Dan hasil analisis antara pengetahuan dengan
hasil kuesioner dalam pengetahuan dan sikap
kejadian flour albus mempunyai nilai p >
dapat dilihat pada table berikut:
0,05 artinya dalam penelitian ini pengetahuan
Tabel 2. Pengetahuan dan Sikap tidak berhubungan dengan kejadian flour
albus. Hasil dari penelitian sebelumnya juga
Kategori F Persentase (%)
Pengetahuan mendukung hasil penelitian ini yang
Baik 41 39.0 menunjukkan tidak ada hubungan
Cukup 49 46.7 pengetahuan remaja putri dengan terjadinya
Kurang 15 14.3 keputihan dengan nilai p=1,000 > α 0,058.
Total 105 100.0 Namun terdapat juga penelitian yang
Sikap
menunjukkan adanya hubungan antara tingkat
Sangat Baik 38 36.2
Baik 67 63.8 pengetahuan tentang keputihan dengan
Total 105 100.0 perilaku pencegahan keputihan pada remaja
Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan dengan nilai p=0,0237. Maka hal ini dapat
distribusi pengetahuan hampir setengahnya disimpulkan bahwa responden yang
memiliki pengetahuan cukup tentang flour berpengetahuan baik tentang flour albus akan
albus dengan persentase 46,7% yaitu tetap mengalami flour albus yang diakibatkan

P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555


4

Pety Merita Sari | Hubungan Pengetahuan dan Sikap …..


Jurnal Wiyata, Vol. 3 No. 1 Tahun 2016

perilaku yang kurang baik dalam menjaga (Analisis Data Rekam Medis Tahun
kebersihan organ genetalianya. 2006-2007). Majalah Ilmu Kesehatan
Dan hasil analisis antara sikap dengan 5(2).
kejadian flour albus mempunyai nilai p < 0,05 3. Manuaba, I.A.C, I.B.G.F ,Manuaba &
artinya bahwa terdapat hubungan antara sikap I.B.G, Manuaba. 2009. Memahami
dengan kejadian flour albus pada remaja. Kesehatan Reproduksi Wanita. EGC.
Penelitian ini juga didukung oleh hasil Jakarta
penelitian sebelumnya yang menyebutkan ada 4. Setiasari F.D. 2015. Pengaruh
hubungan antara sikap vulva hygiene dengan Penggunaan Pantyliner Terhadap
kejadian keputihan9. Sikap merupakan reaksi Kejadian Keputihan Pada Siswi SMK di
atau respon yang masih tertutup dari Malang. Skripsi. Universitas
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek Muhammadiyah Malang.
dan sikap itu merupakan kesiapan atau 5. Susilawati, S.F.K. dan Tinumbang, U.K.
kesediaan untuk bertindak dan bukan 2015. Hubungan Pengetahuan dan
merupakan pelaksanaan motif tertentu9,10. Perilaku Remaja tentang Kebersihan
Maka hal ini dapat diketahui bahwa dengan Organ Genetalia Luar dengan Kejaidan
sikap yang baik terhadap kebersihan organ Keputihan di SMAN 14 Bandar
vagina maka dapat menghindari terjadinya Lampung. Jurnal Kebidanan 1(3).
flour albus. 6. Setyadi, Sutisna dan Hryani. 2013. Faktor
- Faktor yang Mempengaruhi Kejadian
SIMPULAN Fluor Albus pada Remaja Putri di SMKN
Hasil uji statistik menggunakan 3 Sukabumi Periode 2011/2013. Junal
spearman rho, pengetahuan tidak Pendidikan Bidan 1.
berhubungan dengan kejadian flour albus p > 7. Sariyati, S. 2014. Faktor-Faktor yang
0,05 sedangkan sikap berhubungan dengan Mempengaruhi Sikap Remaja Putri
kejadian flour albus p < 0,05 tentang Flour Albus di SMP Negeri 2
Trucuk Kabupaten Klaten. Jurnal Ners
SARAN dan Kebidanan Indonesia 2(3)
Penelitian selanjutnya dapat 8. Tulus, C.W.K., Kundre, R.M dan Bataha,
difokuskan kepada faktor-faktor yang Y.B. 2014. Hubungan Pengetahuan dan
mempengaruhi kejadian flour albus baik Perilaku dengan Terjadinya Keputihan
secara kuantitatif dan kualitatif. pada Remaja Putri Kelas XI di SMA
Kristen 1 Tomohon. Jurnal Keperawatan
REFERENSI 2(2).
1. Manuaba, I.A.C, I.B.G.F ,Manuaba dan 9. Rahman, W.R., Hidayah dan Azizah.
I.B.G Manuaba. 2005. Memahami 2013. Pengaruh Sikap, Pengetahuan dan
Kesehatan Reproduksi Wanita. EGC. Praktik Vulva Hygiene dengan Kejadian
Jakarta. Keputihan pada Remaja Putri di SMPN
2. Rusdi, N. Khaira, Y. Trisna dan A. 01 Mayong Jepara. Jurnal Keperawatan
Soemiati. 2008. Pola Pengobatan Flour Maternitas 2(2).
Albus di Rumah Sakit Umum Pusar 10. Notoatmodjo, S. 2007. Promosi
Nasional dr. Cipto Mangunkusumo serta Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta : PT
Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Renika Cipta.

P-ISSN 2355-6498 |E-ISSN 2442-6555