Anda di halaman 1dari 11

HUBUNGAN KERJA PERAWAT DENGAN SEJAWAT PERAWAT

Dalam membina hubungan antarsesama perawat yang ada, baik dengan lulusan SPK
maupun DIII Keperawatan (perjenjangan) diperlukan adanya sikap saling menghargai dan
saling toleransi sehingga sebagai perawat baru dapatr mengadakan pendekatan yang baik
dengan kepala ruangan, dan juga para perawat lainnya.
Sebagai anggota profesi keperawatan, perawat harus dapat bekerja sama dengan sesama
perawat dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terhadap klien. Dalam
menjalankan tugasnya, perawat harus dapat membina hubungan baik dengansesama perawat
yang ada di lingkungan tempat kerjanya. Dalam membina hubungan tersebut, sesama perawat
harus mempunyai rasa saling mengahrgai dan saling toleransi yang tinggi agar tidak terjadi
sikap saling curiga dan benci.

Tunjukkan sikap memupuk rasa persaudaraan dengan cara:


 Silih Asuh
Yaitu sesama perawat dapat saling membimbing, menasihati, menghormati, dan
mengingatkan bila sejawat melakukan kesalahan atau kekeliruan sehingga terbina hubungan
yang serasi.
 Silih Asih
Yaitu dalam menjalankan tugasnya, setiap perawat dapat saling mrnhargai satu sama lain,
saling mengahrgai antar anggota profesi, saling bertenggang rasa, serta bertoleransi yang
tinggi sehingga tidak terpengaruh oleh hasutan yang dapat menimbulkan sikap saling curiga
dan benci.
 Silih Asah
Yaitu perawat yang merasa lebih pandai/tahu dalam hal ilmu pengetahuan, dapat
mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya kepada rekan sesama perawat tanpa pamrih
http://hubungankerjaperawat.blogspot.com/2012/12/hubungan-kerja-perawat-sejawat.html

Masalah Hubungan Perawat

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang mengatur bagaimana sepatutnya manusia hidup di
dalam masyarakat yang melibatkan aturan atau prinsip menentukan yang benar, yaitu baik dan buruk
atau kewajiban dan tanggung jawab contohnya dengan melakukan komunikasi. Ada hubungan
komunikasi antara perawat dengan teman sejawat, perawat dengan klien dan hubungan komunikasi
perawat dengan teman profesi lainnya.

Dasar hubungan perawat, dokter, dan pasien merupakan mutual humanity dan pada
hakekatnya hubungan yang saling ketergantungan dalam mewujudkan harapan pasien terhadap
keputusan tindakan asuhan keperawatan.
Untuk memulai memahami hubungan secara manusiawi pada pasien, perawat sebagai pelaksana
asuhan keperawatan harus memahami bahwa penyebab bertambahnya kebutuhan manusiawi secara
universal menimbulkan kebutuhan baru, dan membuat seseorang (pasien) yang rentan untuk
menyalahgunakan.

Dengan demikian bagaimanapun hakekat hubungan tersebut adalah bersifat dinamis,


dimana pada waktu tertentu hubungan tersebut dapat memperlihatkan karakteristik dari salah satu
atau semua pada jenis hubungan, dan perawat harus mengetahui bahwa pasien yang berbeda akan
memperlihatkan reaksi- reaksi yang berbeda terhadap ancaman suatu penyakit yang telah dialami,
dan dapat mengancam humanitas pasien.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Masalah perawat dengan sejawat.


2. Masalah perawat dengan klien.
3. Masalah perawat dengan profesi kesehatan lainnya.
1.3 TUJUAN

1. Memahami masalah perawat dengan teman sejawat.


2. Memahami masalah perawat dengan klien.
3. Memahami masalah perawat dengan profesi kesehatan lainnya.

BAB 2

PEMBAHASAN
2.1 MASALAH HUBUNGAN KERJA PERAWAT DENGAN SEJAWAT

Dalam membina hubungan antarsesama perawat yang ada, baik dengan lulusan SPK maupun
DIII Keperawatan (perjenjangan) diperlukan adanya sikap saling menghargai dan saling toleransi
sehingga sebagai perawat baru dapat mengadakan pendekatan yang baik dengan kepala ruangan,
dan juga para perawat lainnya.

Sebagai anggota profesi keperawatan, perawat harus dapat bekerja sama dengan sesama
perawat dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terhadap klien. Dalam
menjalankan tugasnya, perawat harus dapat membina hubungan baik dengansesama perawat yang
ada di lingkungan tempat kerjanya. Dalam membina hubungan tersebut, sesama perawat harus
mempunyai rasa saling menghargai dan saling toleransi yang tinggi agar tidak terjadi sikap saling
curiga dan benci.

CONTOH KASUS:

1. Ada GAP atau jurang pemisah yang seolah menganga diantara mahasiswa S1 keperawatan dan
mahasiswa D3. Terkadang, teman-teman D3 keperawatan merasa lebih pandai dalam hal praktek
pelayanan keperawatan kepada pasien dibandingkan kami para S1 keperawatan. D3 berkata "Ah, S1
paling cuma bisa teori saja, praktek di lapangannya NOL BESAR!". Begitu pula sebaliknya, beberapa
S1 Keperawatan yang merasa lebih senior dan lebih pintar dibanding teman-teman D3 Keperawatan.
Mahasiswa S1 mengatakan "Ah, anak-anak D3, paling nanti cuma jadi perawat aja sok gitu,
mendingan kita dong S1, lapangan kerja kita lebih luas, bisa jadi dosen, perawat atau tenaga
kesehatan lain".

Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang akhirnya mengkotak-kotakkan kita pada strata yang seolah-
olah berbeda, padahal kita berasal dari rahim yang sama, pendidikan keperawatan.

2. Masalah teman sejawat tidak hanya muncul di kalangan sesama praktikan mahasiswa
keperawatan. Hal ini muncul antara perawat rumah sakit dengan para mahasiswa keperawatan yang
praktek di tempat yang bersangkutan. Perawat vocasional (perawat pelaksana) di rumah sakit,
terkadang memandang para S1 Keperawatan sebagai saingan mereka.

Jika profesi keperawatan ingin menjadi profesi yang besar, kita butuh orang-orang dengan
pemikiran besar, yang mampu dan sanggup berjalan bersama, beriringan, saling menghargai sebagai
sesama bidang keperawatan. Jika tidak, kita selamanya akan berkutat pada hal yang aklhirnya
menjerumuskan kita pada kemunduran. Untuk itu, mari teman-teman, kita benahi diri kita,
menghargai rekan kita walaupun berbeda latar belakang pendidikan, entah SPK, D3, S1 atau bahkan
lebih tinggi lagi. Mari kita Pikirkan satu hal, bahwa kita berada dalam sebuah naungan yang sama
yaitu "KEPERAWATAN". Sebuah profesi yang sudah selayaknya kita banggakan dan majukan, demi
siapa? Demi profesi kita sendiri dan demi pasien sebagai fokus utama pelayanan keperawatan dalam
memberikan pelayanan kesehatan yang baik dan layak.

Tunjukkan sikap memupuk rasa persaudaraan dengan cara:


 Silih Asuh

Yaitu sesama perawat dapat saling membimbing, menasihati, menghormati, dan mengingatkan bila
sejawat melakukan kesalahan atau kekeliruan sehingga terbina hubungan yang serasi.

 Silih Asih

Yaitu dalam menjalankan tugasnya, setiap perawat dapat saling mrnhargai satu sama lain, saling
menghargai antar anggota profesi, saling bertenggang rasa, serta bertoleransi yang tinggi sehingga
tidak terpengaruh oleh hasutan yang dapat menimbulkan sikap saling curiga dan benci.

 Silih Asah

Yaitu perawat yang merasa lebih pandai/tahu dalam hal ilmu pengetahuan, dapat mengamalkan ilmu
yang telah diperolehnya kepada rekan sesama perawat tanpa pamrih.

2.2 MASALAH HUBUNGAN PERAWAT DAN KLIEN

Pada beberapa situasi, perawat mempunyai masalah etis yang melibatkan klien, keluarga dan
keduanya.

CONTOH KASUS:

1. Seorang perawat menangani wanita yang terluka dalam kecelakaan mobil. Suaminya yang
mengalami kecelakaan juga dirawat di RS lain dan meninggal. Klien terus menerus bertanya tentan
suaminya. Dokter memberitahu perawat agar tidak mengatakannya pada klien dan mengarang
jawaban. Disini, posisi perawat tersebut mengalami konflik nilai. Haruskah perawat mengatakan
secara jujur atau harus berbohong? Perawat harus berkata secara bijaksana bahwa kesehatan klien
lebih penting untuk dipertahankan. Dasar hubungan antara perawat dan klien adalah hubungan
saling menguntungkan (Mutual humanity).

2. Pada contoh kasus seorang pasien yang mengalami stroke sehingga mengakibatkan koma. Pasien
tersebut dapat hidup dapat hidup hanya karena adanya bantuan alat. Pasien tersebut hidupnya
hanya dapat bergantung pada alat kesehatan. Jika peralatan tersebut dilepas maka pasien tersebut
akan meninggal dunia. Sedangkan ketika hal itu dijelaskan kepada keluarga pasien, keluarga pasien
mengeluh tidak kuat membiayai pengobatan pasien tersebut. Sehingga dalam hal ini muncullah
dilemma etik antara dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya.

Pertanyaan : Bagaimana penyelesaian masalah tersebut dan bagaimana peran perawat dalam
hubungannya berkomunikasi dengan keluarga pasien?

Perawat mempunyai hak dan kewajiban untuk melaksanakan asuhan

keperawatan seoptimal mungkin dengan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual. Hubungan yag baik


antara perawat dan klien akan terjadi bila:

a. Terdapat rasa saling percaya antara perawat dan klien.


b. Memahami hak klien dan harus melindungi hak tersebut.
c. Perawat harus memahami keberadaan klien sehingga bersikap sabar dan tetap mempertahankan
pertimbangan etis dan moral.
d. Perawat harus dapat bertanggung jawab dan bertangung gugat atas segala resiko yang mungkin
timbul selama klien dalam asuhan keperawatannya.
e. Perawat selalu berusaha untuk menghindari konflik antara nilai pribadinya dengan nilai pribadi
klien dengan cara membina hubungan baik.

2.3 MASALAH HUBUNGAN PERAWAT DENGAN PROFESI KESEHATAN LAIN

Konflik Etis dapat Muncul antara Perawat dan Dokter

Hubungan perawat dan dokter telah terjalin seiring dengan perkembangan kedua profesi ini,
tetapi tidak terlepas dari sejarah yaitu berkaitan dengan sifat displin ilmu/pendidikan, latar belakang,
personal dan lain-lain. Bila dilihat daris sudut sejarah, bidang kedokteran telah dikembangkan lama
sebelum bidang keperawatan.

Praktek keperawatan adalah tindakan mandiri perawat profesional melalui kerjasama


bersifat kolaboratif dengan klien dan tenaga kesehatan lainnya, dalam memberikan asuhan holistik
sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya. Dokter dan perawat merupakan mitra kerja dalam
mencapai tujuan untuk menyembuhkan penyakit dan mempertahankan kesehatan klien. Saling
percaya dan percaya diri merupakan hal utama peran perawat.

 Peran mandiri, peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang


dapat dipertanggungjawabkan oleh perawat secara mandiri.
 Peran delegatif, peran dalam melaksanakan program kesehatan yang
pertanggungjawabannya dipegang oleh dokter.

 Peran kolaborasi, merupakan peran perawat dalam mengatasi permasalahan secara


teamwork dengan tim kesehatan.

Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada klien serta hubungan dengan dokter,
dikenal beberapa peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang dapat di pertanggung
jawabkan oleh perawat secara mandiri, kemudian peran delegatif perawat dalam melaksanakan
program kesehatan yang pertanggung jawabkannya dipegang oleh dokter.

Misalnya dalam pemberian obat-obatan di delegasikan tugas dokter kepada perawat dan
peran kolaborasi merupakan peran perawat dalam mengatasi permasalahan secara team work
dengan tim kesehatan lainnya.

Kedokteran dan keperawatan, walaupun kedua ilmu ini berfokus sama pada manusia, tapi
keduanya mempunyai perbedaan. Kedokteran bersifat pathernalistic, yang mencerminkan figur
seorang bapak, pemimpin dan pembuat keputusan. Keperawatan bersifat mothernalistic, yang
mencerminkan figur ibu dalam memberikan asuhan, kasih sayang dan bantuan.

Dalam pelaksanaannya, apabila setiap profesi telah dapat saling menghargai, menghormati,
hubungan kerjasama akan dapat terjalin dengan baik walaupun dalam pelaksanaannya sering terjadi
konflik etis.

Konflik Etis antara Perawat, Klien dan Dokter

Dalam melaksanakan praktik keperawatan, tindakan mandiri perawat professional melalui


kerjasama yang bersifat kolaborasi, baik dengan klien maupun tenaga kesehatan lainnya dalam
memberikan asuhan keperawatan holistik sesuai wewenang tanggung jawabnya. Oleh karena itu,
dalam melaksanakan tugasnya perawat tidak dapat bekerja tanpa berkolaborasi dengan profesi
lainnya. Profesi lain tersebut diantaranya adalah dokter, ahli gizi, tenaga laboratorium, tenaga
roentgen dan sebagainya.

Dalam melaksanakan tugasnya, setiap profesi dituntut untuk mempertahankan kode etik
profesi masing-masing. Kelancaran masing-masing tergantung dari ketaatannya dalam menjalankan
serta mempertahankan kode etik profesinya. Bila setiap profesi telah dapat saling menghargai,
hubungan kerjasama akan terjalin dengan baik, walaupun pada pelaksanaannya sering juga terjadi
konflik etis antara perawat, klien dan dokter.

CONTOH KASUS: Dalam membina hubungan perawat dengan profesi lain yang terkait dalam
menjalankan tugasnya .

Perawat Ranti, SKp adalah lulusan fakultas keperawatan yang bertugas diruang ICU disalah
satu rumah sakit type B. Dalam menjalankan tugasnya Ranti sangat disiplin dan teliti terhadap
pelaksanaan asuhan keperawatan pasien. Karena itu Ranti sangat dipercaya oleh dokter jaga yang
bernama dr.Alex. Bila Ranti bertugas berbarengan waktunya dengan dr.Alex. Sering Ranti
mendapatkan pesan bahwa dr.Alex tidak dapat hadir dan diberi petunjuk atau protocol tentang
pasiennya bila terjadi perubahan dan Ranti diwajibkan melapor melalui telepon/handphonenya.

Dalam hal ini seharusnya Ranti dan dr.Alex mempunyai tanggung jawab terhadap
pasien.walaupun Ranti dapat menjalankan tugasnya dengan baik,akan tetapi terjadi konflik
pribadi(value pribadi)nya. Apakah Ranti perlu menjelaskan dengan dr.Alex bahwa tanggung jawab
terhadap tugas mereka berbeda, dan tidak dapat dilimpahkan begitu saja dengannya tanpa alasan
yang dapat dipertanggung jawabkan atau Ranti melaporkan kepada pihak rumah sakit bahwa dr.Alex
sering tidak datang menjalankan tugasnya sebagai dokter jaga.

Hal ini perlu dipertimbangkan dengan matang agar hubungan kerja perawat dan dokter
tersebut dapat tetap terjalin dengan baik dan dapat berperan sesuai profesinya masing-masing.

BAB 3

PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Berbagai permasalahan etik dapat terjadi dalam tatanan klinis yang melibatkan interaksi
antara klien dan perawat. Permasalahan bisa menyangkut penentuan antara mempertahankan hidup
dengan kebebasan dalam menentukan kematian, upaya menjaga keselamatan klien yang
bertentangan dengan kebebasan menentukan nasibnya, dan penerapan terapi yang tidak ilmiah
dalam mengatasi permasalah klien.

Dalam membuat keputusan terhadap masalah etik, perawat dituntut dapat mengambil
keputusan yang menguntungkan pasien dan diri perawat dan tidak bertentang dengan nilai-nilai yang
diyakini klien. Pengambilan keputusan yang tepat diharapkan tidak ada pihak yang dirugikan
sehingga semua merasa nyaman dan mutu asuhan keperawatan dapat dipertahankan.

Dalam hubungan perawat dengan sejawat serta hubungan perawat dengan profesi lainnya
tidak memandang title keperawatannya. Karena itu adalah sikap tidak menghargai sesama
profesinya. Padahal fokus utama pelayanan kesehatan kita adalah memberikan pelayanan kesehatan
yang baik untuk pasien.

TEMAN SEJAWAT BERMASALAH ??!!


Original by: Sri hindriyastuti

Secara sederhana, teman sejawat bisa diartikan sebagai teman satu profesi. Dalam kode etik
keperawatan, hubungan antara perawat dan teman sejawat dijabarkan dalam kode etik keperawatan
yang meliputi dua poin utama sebagai berikut:

1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan tenaga
kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam
mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan
secara tidak kompeten, tidak etis dan ilegal

Berfokus pada poin pertama kode etik keperawatan yang menyoroti hubungan antar perawat di
lahan klinik, kita akan mencoba memaparkan fenomena hubungan teman sejawat dalam
keperawatan dalam dunia nyata. Benarkah kode etik keperawatan poin pertama tersebut sudah
mampu diaplikasikan secara baik oleh para perawat? jawaban yang pasti adalah BELUM. Ada banyak
sekali masalah yang muncul antar perawat, terutama karena alasan background pendidikan yang
berbeda.

sebagai cotoh simpel, saya akan mencoba flash back beberapa waktu yang lalu, ketika saya masih
berstatus sebagai "mahasiswa S1 keperawatan". Saya menekankan kata S1 karena kata ini memiliki
signifikansi yang tinggi terhadap hubungan sejawat keperawatan yang bermasalah tersebut.

masalah pertama yang muncul akibat kata "S1" tersebut adalah bermasalahnya hubungan sesama
praktikan keperawatan yang menjalani praktek klinik keperawatan di sebuah rumah sakit yang sama.
Ada GAP atau jurang pemisah yang seolah menganga diantara kami (saya sebagai wakil dari S1
keperawatan) dan beberapa mahasiswa D3 - sebagai contoh saja. Terkadang, teman-teman D3
keperawatan merasa lebih pandai dalam hal praktek pelayanan keperawatan kepada pasien
dibandingkan kami para S1 keperawatan. Saya sempat miris ketika ada salah seorang mahasiswa D3
keperawatan yang mengatakan "Ah, S1 paling cuma bisa teori saja, praktek di lapangannya NOL
BESAR!". Begitu pula sebaliknya, saya melihat fenomena takabur dari beberapa S1 Keperawatan yang
merasa lebih senior dan lebih pintar dibanding teman-teman D3 Keperawatan. Sayapun miris ketika
mendengar seorang rekan sesama S1 mengatakan "Ah, anak-anak D3, paling nanti cuma jadi perawat
aja sok gitu, mendingan kita dong S1, lapangan kerja kita lebih luas, bisa jadi dosen, perawat atau
tenaga kesehatan lain".

pemikiran-pemikiran seperti inilah yang akhirnya mengkotak-kotakkan kita pada strata yang seolah-
olah berbeda, padahal kita berasal dari rahim yang sama, pendidikan keperawatan.

Fenomena ini masih belum seberapa, masalah teman sejawat tidak hanya muncul di kalangan
sesama praktikan mahasiswa keperawatan, parahnya lagi, hal ini muncul antara perawat rumah sakit
dengan para mahasiswa keperawatan yang praktek di tempat yang bersangkutan. Perawat vocasional
(perawat pelaksana) di rumah sakit, terkadang memandang kami para S1 Keperawatan sebagai
saingan mereka. Ya, sebagai saingan. Kami, para mahasiswa yang masih membutuhkan bimbingan ini
dianggap sebagai saingan kerja. tahukah teman-teman alasannya?

Setelah mencari informasi ke beberapa perawat, saya akhirnya faham alasan kenapa kami dianggap
sebagai saingan. Seorang perawat rumah sakit berkata " Kalian sich enak, masih muda, kuliah S1
keperawatan terus nanti kalau lulus dan bekerja di rumah sakit, kalian langsung jadi kepala ruang!
enak bener kalian! padahal kami yang ebkerja siang malam bertahun-tahun tidak bisa semudah itu
menjadi kepala ruang!".

saya hanya terbengong mendengar pernyataan salah seorang perawat tersebut. "KEPALA RUANG?"
bahkan terbersit dibenakpun untuk menjadi kepala ruang begitu lulus kuliahpun tidak ada sama
sekali. Saya jadi semakin bingung. Sepertinya pemahaman tentang kami sebagai tunas-tunas penerus
generasi keperawatan masa depan masih belum tertanam di jiwa para perawat rumah sakit tempat
kami praktek. Sungguh sangat Ironis!. bagaimana tidak ironis, akibat paradigma para perawata yang
menganggap kami sebagai saingan itu malah membinasakan kami. Kami sulit bergerak bebas,
menjalin hubungan yang hangat dengan sesama perawat, sosok yang sangat kami harapkan bisa
membimbing kami.

Saya sering iri dengan profesi dokter, dan semoga kita mampu berkaca dari profesi ini demi kemajuan
profesi keperawatan di masa depan. Setiap kali di rumah sakit untuk praktek keperawatan, saya
melihat begitu kompaknya profesi kedoteran, mereka saling menghargai, membimbing. Para dokter,
akan dengan senang hati memberikan ilmunya kepada para dokter muda, mengadakan diskusi kecil
dan forum tanya jawab serta saling menghargai spesialisasi masing-masing. tak ada masalah antar
sejawat. apalagi sampai saling mengiri dalam hal negatif.

Jika profesi keperawatan ingin menjadi profesi yang besar, kita butuh orang-orang dengan pemikiran
besar, yang mampu dan sanggup berjalan bersama, beriringan, saling menghargai sebagai sesama
bidang keperawatan. Jika tidak, kita selamanya akan berkutat pada hal yang aklhirnya
menjerum,uskan kita pada kemunduran. Untuk itu, mari teman-teman, kita benahi diri kita,
menghargai rekan kita walaupun berbeda background pendidikan, entah SPK, D3, S1 atau bahkan
lebih tinggi lagi. Mari kita fikirkan satu hal, bahwa kita berada dalam sebuah naungan yang sama
yaitu "KEPERAWATAN". Sebuah profesi yang sudah selayaknya kita banggakan dan majukan, demi
siapa? demi profesi kita sendiri dan demi pasien sebagai fokus utama pelayanan keperawatan. ^_^

http://hindriyastuti.blogspot.com/2010/09/teman-sejawat-bermasalah.html