Anda di halaman 1dari 27

BAB II

PELAKSANAAN KULIAH KERJA LAPANGAN

2.1 PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan


2.1.1 Pendahuluan
2.1.1.1 Sejarah Perkembangan PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan
Minyak bumi masih menjadi komoditas utama di Indonesia sampai saat ini, baik
sebagai sumber energi maupun sebagai bahan dasar produk turunan untuk pemenuhan
kebutuhan masyarakat. Proses pengolahan minyak bumi menjadi produk dengan nilai
ekonomi tinggi merupakan tujuan utama dari perusahaanperusahaan yang bergerak dalam
bidang eksplorasi sampai dengan industri petrokimia hilir. Pengelolaan sumber daya ini
diatur oleh negara untuk kemakmuran rakyat seperti yang tertuang dalam UUD 1945 pasal
33 ayat 3. Hal ini ditujukan untuk menghindari praktek monopoli dan mis-eksploitasi
kekayaan alam yang berujung pada kesengsaraan rakyat.
Usaha pengeboran minyak di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Jan Raerink pada
tahun 1871 di Cibodas dekat Majalengka (Jawa Barat), namun usaha tersebut mengalami
kegagalan. Kemudian dilanjutkan oleh Aeilo Jan Zykler yang melakukan pengeboran di
Telaga Tiga (Sumatera Utara) dan pada tanggal 15 Juni 1885 berhasil ditemukan sumber
minyak komersial yang pertama di Indonesia. Sejak itu berturut-turut ditemukan sumber
minyak bumi di Kruka (Jawa Timur) tahun 1887, Ledok Cepu (Jawa Tengah) pada tahun
1901, Pamusian Tarakan tahun 1905 dan di Talang Akar Pendopo (Sumatera Selatan) tahun
1921. Penemuanpenemuan dari penghasil minyak yang lain mendorong keinginan maskapai
perusahaan asing seperti Royal Deutsche Company, Shell, Stanvac, Caltex dan maskapai-
maskapai lainnya untuk turut serta dalam usaha pengeboran minyak di Indonesia.
Terjadi beberapa perubahan pengelolaan perusahaan minyak di Indonesia pasca
kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 10 Desember 1957, atas perintah Mayjen Dr. Ibnu
Soetowo, PT EMTSU diubah menjadi PT Perusahaan Minyak Nasional (PT PERMINA).
Kemudian dengan PP No. 198/1961 PT PERMINA dilebur menjadi PN PERMINA. Pada
tanggal 20 Agustus 1968 berdasarkan PP No. 27/1968, PN PERMINA dan PN PERTAMINA
dijadikan satu perusahaan yang bernama Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
Negara (PN PERTAMINA). Sebagai landasan kerja baru, lahirlah UU No. 8/1971 pada
tanggal 15 September 1971. Sejak itu, nama PN PERTAMINA diubah menjadi PT.
PERTAMINA, dan dengan PP No. 31/2003 PT. PERTAMINA menjadi (Persero), yang
merupakan satu-satunya perusahaan minyak nasional yang berwenang mengelola semua
bentuk kegiatan di bidang industri perminyakan di Indonesia. Berikut ini adalah kronologis
sejarah berdirinya PT Pertamina:

Tabel 1. Sejarah Perkembangan PT Pertamina (Persero)


Tahun Perkembangan Industri
Berdirinya Perusahaan Tambang Minyak Negara
Republik Indonesia (PTMNRI) di Tarakan, yang
1945
merupakan perusahaan minyak nasional pertama di
Indonesia.
PT PTMNRI → Tambang Minyak Sumatera Utara
April 1954
(TMSU)
TMSU berubah menjadi PT Perusahaan Minyak
10 Desember 1957
Nasional (PT PERMINA)
NVNIAM berubah menjadi PT Pertambangan Minyak
1 Januari 1959
Indonesia (PT PERMINDO)
PT PERMINDO berubah menjadi Perusahaan Negara
Pertambangan Minyak (PN PERTAMIN) yang
Februari 1961
berfungsi sebagai satu-satunya distributor minyak di
Indonesia.
PT PERMINA dijadikan PN PERMINA (PP No.
1 Juli 1961
198/1961)
Peleburan PN PERMINA dan PN PERTAMIN menjadi
20 Agustus 1968 Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
Nasional (PN PERTAMINA) sesuai PP No. 27/1968
PN PERTAMINA berubah menjadi PT. PERTAMINA
15 September 1971
berdasarkan UU No. 8/1971
PT PERTAMINA menjadi PT PERTAMINA (Persero)
17 September 2003
sesuai PP No. 31/2003
Sumber : Safitri, 2014
Sebagai salah satu elemen penting dalam usaha pemenuhan kebutuhan BBM di
Indonesia PT Pertamina (Persero) menghadapi tantangan yang semakin berat karena lonjakan
kebutuhan BBM harus diiringi dengan peningkatan pengolahan minyak bumi agar suplai
BBM tetap stabil. Dalam pembangunan nasional, PT Pertamina (Persero) memiliki tiga
peranan penting, yaitu:
1. Menyediakan dan menjamin pemenuhan akan kebutuhan BBM.
2. Sebagai sumber devisa negara.
3. Menyediakan kesempatan kerja sekaligus pelaksana alih teknologi dan pengetahuan.
PT Pertamina (Persero) membangun unit pengolahan minyak di berbagai wilayah di
Indonesia, untuk mencapai sasaran dan menghadapi tantangan terutama di dalam negeri.
2.1.1.2 Lokasi PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan
Pabrik PT Pertamina (Persero) RU yang merupakan salah satu daerah kecamatan di
Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Untuk penyiapan lahan kilang, yang semula sawah tadah
hujan, diperlukan pengurukan dengan pa Pulau ini berjarak + penimbunan ini dikerjakan
dalam waktu empat bulan. Transportasi pasir dari tempat penambangan ke area penimbunan
dilakukan dengan kapal selanjutnya dipompa ke arah kilang.

Sumber : Safitri, 2014

Gambar 1. Peta Lokasi PT Pertamina (Persero)

Sumber : Anonim, 2018

Gambar 2. Lokasi PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan

Sejak tahun 1970, minyak dan gas bumi dieksploitasi di daerah ini. Sebanyak 224
buah sumur berhasil digali dan yang berhasil diproduksi adalah sumur Jatibarang, Cemara,
Kandang Haur Barat, Kandang Haur Timur, Tugu Barat, dan lepas pantai. Sedangkan
produksi migasnya sebesar 239,65 MMSCFD disalurkan ke PT Krakatau Steel, PT Pupuk
Kujang, PT Indocement, Semen Cibinong, dan Palimanan. Depot UPPDN pada tahun 1980
untuk mensuplai kebutuhan bahan bakar di daerah Cirebon dan sekitarnya.
Area kilang terdiri dari:
1. Sarana kilang : 250 hektar daerah konstruksi kilang dan 200 hektar daerah penyangga
2. Sarana perumahan : 200 hektar
Ditinjau dari segi teknis dan ekonomis, lokasi ini cukup strategis dengan adanya
faktor pendukung, antara lain :
a. Bahan Baku
Sumber bahan baku yang diolah di PT Pertamina (Persero) RUVI Balongan adalah:
1. Minyak mentah Duri, Riau (awalnya 80%, saat ini 50% feed).
2. Minyak mentah Minas, Dumai (awalnya 20%, saat ini 50% feed).
3. Gas alam dari Jawa Barat bagian timur sebesar 18 Million Metric Standard Cubic
Feet per Day (MMSCFD).
b. Air
Sumber air yang terdekat terletak di Waduk Salam Darma, Rejasari, kurang lebih 65
km dari Balongan ke arah Subang. Pengangkutan dilakukan secara pipanisasi dengan pipa
berukuran 24 inci dan kecepatan operasi normal 1.100 m3 serta kecepatan maksimum 1.200
m3. Air tersebut berfungsi untuk steam boiler, heat exchangers (sebagai pendingin), air
minum, dan kebutuhan perumahan. Dalam pemanfaatan air, Kilang Balongan ini mengolah
kembali air buangan dengan sistem wasted water treatment, di mana air keluaran di-recycle
ke sistem ini. Secara spesifik tugas unit ini adalah memperbaiki kualitas effluent parameter
NH3, fenol, dan COD sesuai dengan persyaratan lingkungan.
c. Transportasi
Lokasi kilang RU-VI Balongan berdekatan dengan jalan raya dan lepas pantai utara
yang menghubungkan kota-kota besar sehingga memperlancar distribusi hasil produksi,
terutama untuk daerah Jakarta dan Jawa Barat. Marine facilities adalah fasilitas yang berada
di tengah laut untuk keperluan bongkar muat crude oil dan produk kilang. Fasilitas ini terdiri
dari area putar tangker, SBM, rambu laut, dan jalur pipa minyak. Fasilitas untuk
pembongkaran peralatan dan produk (propylene) maupun pemuatan propylene dan LPG
dilakukan dengan fasilitas yang dinamakan jetty facilities.
d. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dipakai di PT Pertamina (Persero) RUVI Balongan terdiri dari dua
golongan, yaitu golongan pertama, dipekerjakan pada proses pendirian Kilang Balongan yang
berupa tenaga kerja lokal non-skill sehingga meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.
Sedangkan golongan kedua, yang dipekerjakan untuk proses pengoperAsian, berupa tenaga
kerja PT Pertamina (Persero) yang telah berpengalaman dari berbagai kilang minyak di
Indonesia.
2.1.1.3 Struktur Organisasi Dan Manajemen Perusahaan

Sumber : Pertamina, 2015

Gambar 3. Struktur Organisasi PTPERTAMINA (Persero) RU VI Balongan

PT Pertamina (Persero) RU-VI Balongan memiliki struktur organisasi yang


menerangkan hubungan kerja antar bagian satu dengan lainnya. Selain itu juga diatur hak dan
kewajiban masing-masing bagian. Tujuan adanya struktur organisasi adalah untuk
memperjelas dan memperetegas kedudukan suatu bagian dalam menjalankan tugas dan
diharapkan akan memudahkan pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Struktur organisasi PT Pertamina (Persero) RUVI Balongan terbagi atas beberapa
bidang yang mempunyai tugas atau fungsi dan tanggungjawab masing-masing yaitu sebagai
berikut :
a. Bidang Perencanaan dan Perekonomian berfungsi untuk memonitoring, mengkoordinir
agar terlaksananya ketersediaan minyak mentah menjadi prodik BBM dan non BBM.
b. Bidang Engineering dan Pengembangan berfungsi mengevaluasi, menganalisa serta
melakukan penelitian dan pengembangan untuk kehandalan operasi kilang.
c. Bidang Keuangan mempunyai fungsi dalam pengelolaan pelaksaan tata usaha keuangan
dalam rangka menunjang kegiatan operasional Unit Pengolahan VI.
d. Bidang Sumber Daya Manusia berfungsi menunjang kelancaran operasi dalam hal
perencanaan dan pengembangan, pembinaan, mutasi, remunerasi dan rekrutasi, hubungan
industrial dan kesejahteraan pekerja, mengatur organisasi serta mengatur pola hidup sehat.
e. Bidang Sistem Informasi dan Komunikasi berfungsi menyelenggarakan komunikasi
interen dan exteren kilang sehingga informasi yang dibutuhkan segera didapat.
f. Bidang Jasa dan Sarana Umum berfungsi dalam pengelolaan, pengawasan dan
pengendalian atas penerimaan, pengadaan, jasa angkutan alat ringan dan berat serta
kelancaran jasa perkantoran dan jasa perumahan Unit Pengolahan VI serta distibusi
material yang dibutuhkan bagi keperluan kegiatan operasional kilang.
g. Bidang Lingkungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (LKKK) Mempunyai fungsi dalam
penyelenggaraan kegiatan keselamatan kerja, pengendalian kebakaran dan pencemaran
lingkungan
h. Bidang Umum berfungsi menunjang kegiatan operasi meliputi pelayanan hukum,
keamanan, fasilitas kesehatan kepada karyawan dan keluarganya serta menjadi perantara
hubungan perusahaan dan masyarakat sekitarnya
i. Bidang Kilang berfungsi melaksanakan kegiatan pengolahan minyak mentah menjadi
produk BBM dan non-BBM secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana kerja.
j. Bidang Jasa dan Pemeliharaan Kilang berfungsi melaksanakan kegiatan maupun
pencegahan untuk keandalan kilang secara efektif dan efisien sesuai rencana kerja.
2.1.1.4 Pemasaran PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan
PT Pertamina (Persero) menargetkan Refinery Unit RU VI Balongan bisa menjadi
kilang minyak terkemuka di Asia pada 2025. Kilang Balongan mampu memproduksi BBM
dengan margin tinggi yaitu produk bahan bakar khusus. Selain itu kilang ini tidak ada bahan
yang terbuang karena semua dapat dimanfaatkan. Adapun perluasan pasar atau produk
(Market–Product Development) dengan melakukan penetrasi pasar, pengembangan pasar,
pengembangan produk,dan diverifikasi. Sehubungan masih tersedianya peluang pasar BBM,
Non-BBM,dan Petrokimia (diluar DKI-Jakarta dan Jawa Barat). Untuk biaya survey dan riset
pusat mutlak harus dilakukan akan menghasilkan produk yang berorientasi pasar, bernilai
tinggi, bermutu tempat,berdaya saing tinggi.
a. BBM Industri & Marine
Merupakan satu Divisi di Direktorat Pemasaran dan Niaga, Divisi Pemasaran BBM
dengan tugas pokok menangani semua usaha marketing dan layanan jual Bahan Bakar
Minyak kepada konsumen Industri dan Marine. BBM yang tersedia meliputi Minyak Solar
(High Speed Diesel), Minyak Diesel (Industrial/Marine Diesel Oil), dan Minyak Bakar
(Industrial/Marine Fuel Oil). Saat ini konsumen BBM Pertamina di sektor Industri dan
marine mencapai lebih dari 4500 konsumen, tersebar diseluruh daerah di Indonesia. Beberapa
Pelanggan utama kami adalah PT PLN (Persero), TNI/POLRI, industri pertambangan,
industri besi baja, industri kertas, industri makanan, industri semen, industri pupuk,
kontraktor kontrak kerjasama, transportasi lair dan industri lainnya
Kelebihan utama BBM Pertamina adalah adanya jaminan ketersediaan dan supply
BBM. Pertamina memiliki jaringan yang luas diseluruh daerah dan pelosok di Indonesia yang
didukung oleh 7 kilang milik Pertamina maupun sumber dari luar negeri, sarana dan
prasarana angkutan BBM yang lengkap, serta lebih dari 120 lokasi depot, terminal transit dan
instalasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Mutu produk BBM dan kualitas serta kuantitas
layanan yang terjamin serta memenuhi standar Internasional .

b. Niaga
Divisi Niaga adalah divisi yang bernaung dibawah Direktorat Pemasaran dan Niaga
dengan bisnis inti melakukan ekspor-impor dan penjualan domestik untuk minyak mentah,
BBM, dan produk petrokimia, dengan nilai uang atau revenue yang dikelola sekitar 135
triliun rupiah pertahun. Bisnis ekspor-impor dan penjualan domestik tersebut dikelola melalui
3 (tiga) fungsi dibawahnya, yakni Unit Usaha Minyak Mentah & BBM, Unit Usaha Niaga
Non-BBM, dan fungsi perencanaan, evaluasi dan pengembangan serta koordinasi yakni
Fungsi Reneval Niaga.
Bisnis inti Niaga Minyak mentah dan BBM adalah melakukan trading dibidang impor
BBM sekitar 120.000.000 (seratus dua puluh juta) barrel per tahun dan ekspor minyak
mentah sekitar 7.000.000 (tujuh juta) barrel per tahun. Selain itu juga mengekspor produk
minyak 33.000.000 barrel per tahun, yang terdiri dari produk Naphta 3.600.000 barrel per
tahun, produk Decant Oil sekitar 2,600.000 (dua juta enam ratus ribu) barrel per tahun dan
sekitar 26.800.000 (dua puluh enam juta delapan ratus ribu) barrel pertahun, yang bersumber
dari kilang Unit Pengolahan Pertamina. Sedangkan bisnis inti Niaga Non-BBM adalah
menjual produk Non-BBM baik di pasar dalam negeri maupun ekspor yang bersumber dari
kilang Unit Pengolahan Pertamina sendiri, dengan volume penjualan per tahun mencapai
sekitar 2 (dua) juta mt dengan memperoleh revenue sekitar 11 (sebelas) triliun rupiah dan
profit sekitar 1,65 triliun rupiah.
c. Perkapalan
Pertamina Perkapalan hadir melayani dengan menjunjung tinggi dan mengunggulkan
nilai budaya dan citra perusahaan. Suatu kebanggaan bagi Pertamina untuk memberikan
pelayanan di bidang pelayaran, menjadi perusahaan perkapalan yang maju dan terpandang di
era baru. Keunggulannya terletak pada pengalaman luas dan keahlian yang tinggi dalam
distribusi minyak mentah, gas, petrokimia, dan produk lain sejenisnya melalui jalur laut di
negara kepulauan. Berkantor pusat di Tanjung Priok, Jakarta.

2.1.2 Uraian Proses PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan


2.1.2.1 Bahan Baku
a. Spesifikasi Bahan Baku Utama
Bahan baku utama yang digunakan oleh PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan
adalah minyak duri dan minyak minas yang berasal dari Dumai-Riau, serta beberapa
campuran minyak mentah lain, diantaranya Mudi Mix, Cepu Crude Oil, dan Banyu Urip
Crude Oil. Pada awalnya bahan baku utama yang digunakan adalah minyak mentah yang
berasal dari duri dan minas dengan perbandingan duri : minas 80% : 20%. Namun dalam
perkembangan selanjutnya dengan pertimbangan optimasi yang lebih baik, jumlah
perbandingan dari minyak duri dan minas yang dicampurkan hampir sama, selain itu juga
dilakukan penambahan minyak nile blend dalam jumlah kecil karena mulai terbatasnya
kandungan minyak duri dan minas dan sifat dari minyak nile blend yang sesuai dengan
kondisi dari Pertamina RU VI Balongan. Minyak duri adalah minyak mentah yang memiliki
kualitas yang sangat rendah karena sebagian besar komponennya merupakan senyawa
hidrokarbon berantai panjang yang banyak menghasilkan residu pada hasil proses di Crude
Distillation Unit (CDU), sedangkan minyak minas adalah minyak mentah yang memiliki
kualitas lebih baik dari pada minyak duri, karena jumlah residu yang dihasilkan dari proses
CDU lebih sedikit dibandingkan minyak minas. Spesifikasi minyak mentah minas dan duri
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2. Spesifikasi Minyak Mentah Minas dan Duri
Spesifikasi
Analisis Satuan
Minas Duri
°API - 35,2 21,1
Densitas g/ml 0,8485 0,924
Viskositas :
@30°C cSt cSt cSt - 691
@ 40°C 23,6 274,4
@ 50°C 11,6 -
Kadar S % wt 0,08 0,21
Conradson % wt 2,8 7,4
Carbon
Pour point °C 36 34
Lanjutan Tabel 2. Spesifikasi Minyak Mentah Minas dan Duri
Spesifikasi
Analisis Satuan
Minas Duri
Aspal % wt 0,5 0,4
Vanadium Ppm wt <1 1
Nikel Ppm wt 8 32
Jumlah asam Mg KOH/g < 0,05 1,19
Garam Lb/1000 bbl 11 5
Air % vol 0,6 0,3
Wild Naphta GO Wild Naphta LCO
HTU HTU
Densitas, 15°C Kg/m3 0,719 0,866
Kadar S Ppm 2 N/A
RVP Psia N/A 1,5
Sumber : Safitri, 2014

b. Spesifikasi Bahan Baku Pendukung


Di PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan, selain menggunakan bahan baku
utama, juga menggunakan bahan baku pendukung berupa bahan kimia, katalis, dan resin
yang digunakan pada masing-masing unit proses di kilang berserta aplikasi dan fungsinya.
Tabel 3. Bahan kimia di PT Pertamina (Persero) RU-VI Balongan

Unit Jenis Aplikasi Fungsi


11 Cairan Amonia Overhead 11-C-105 Menetralisir HCL
Suction Feed Pump Mencegah terjadinya
Anti Foulant (11-P-101 A/B) dan fouling
Unit Desalter pada HE
Corrosive
Overhead 11-V-101 Mencegah korosi
Inhibitor
Suction Feed Pump
Demulsifier Memisahkan emulsi
dan Unit Desalter
Preparasi larutan pada Membantu mempercepat
Wetting Agent
11-V-114 pemisahan
15-B-101, 15-E-104
Kalgen mengatasi kesadahan
A/B
Lanjutan Tabel 3. Bahan kimia di PT Pertamina (Persero) RU-VI Balongan
Unit Jenis Aplikasi Fungsi
Injeksi pada air dari
cooling water untuk
Kurilex 16-E-103 A/B, E-104 Pencegah korosi
A/B, E-105 A/B,
E111 A/B
Mengurangi kandungan
ICR131KAQ 12/13-R.101/102/103
12, 13 logam
Sulphur absorber 22-R-102 A/B Adsorbsi H₂S
15-R- Mencegah rantai
Katalis UOP
101/102/103/104 hidrokarbon panjang
15
Molsieve Pru Adsorbsi moisture dari
19-V104 A/B
ODG-44 LPG campuran C₃
Oksidasi Sodium
Katalis 18-A-202, 206
mercaptide
15, 16, 11-V-101, 102, 103,
17, 18, Kaustik 106 dan 18-V-102, Mengikat H₂S
19, 20 18-V-104
Aliran produk 18-
Anti Oksidan Anti oksidan
V104
Unit Jenis Aplikasi Fungsi
E-315 Katalis
Menghilangkan
19 Propylene Metal 19-V-111
kandungan metal
Treater
20 Alcoa Selecsorb Menghilangkan COS dari
11-V-112 A/B
COS 1/8'' propylene
Menjenuhkan senyawa
Katalis SHP
19-R-101 A/B diolefin menjadi
H14171
monoolefin
Adsorbsi moisture dari
Rock Salt 14/21-V-101
LPG
Hidrogenasi untuk
Hydrogenerator 22-R-101
melepas kandungan sulfur
High
Temperature Mengubah CO menjadi
22 22-R-103
Shift Converter CO₂
type C12-4
Hydrogen Mengubah gas alam
Reformer 22-F-101 menjadi
Catalyst H₂
Menyerap komponen
23 Karbon Aktif 22-S-102 yang mengakibatkan
Foaming
Lanjutan Tabel 3. Bahan kimia di PT Pertamina (Persero) RU-VI Balongan
Unit Jenis Aplikasi Fungsi
Preparasi larutan
23, 24 DIPA dilakukan pada 23-V- Mengikat H₂S
102
Injeksi pada kolom
RCC (24-C-201) dan
23, 24 Anti Foam kolom NH₃ stripper Mencegah foaming
(24-c-102) dan aliran
masuk 23-V-102
24-V-302, 24-V-303
Soda Menetralisir kaustik
dan 24-Z-301
Menyaring partikel > 10
25 Amine Filter 23-S-101/103
micron di Lean
Claus Catalyst 25-R-101/102/103 Mereaksikan gas alam
Resin Anion
ASB1p & Resi Mereaksikan kation dan
55 22-V-105 A/B
Kation anion
C-249
Lynde
Menyerap pengotor H₂
Adsorbent tipe
22-V-109 A-M (CO,
LA22LAC612,
CO₂, N₂, HC )
C-200F
Menyaring bahan-bahan
55 Karbon Aktif 55-A-101 A/B-S1
organic
Kation pada 55-A101
Strong Acid menghilangkan
A/B-VI, Anion pada
Resin Kation kation/anion
55-A-101 A/BV2
Activated 58-D-101 A/B-R1- Adsorbsi moisture dari
58
Alumina ⅛", ¼” R2 LPG
Ceramic Ball
Molsieve 59-A-tO I A/B-A1 Adsorbsi moisture, CO₂
Siliporite
Molsieve
59 59-A-101 A/B-A1 Absorbsi moisture, CO2
Siliporite
Sumber : Safitri, 2014

2.1.2.2 Proses Produksi


Proses pengolahan crude oil di kilang RU VI dibagi menjadi beberapa unit kompleks
untuk menghasilkan produk gasolin (premium,pertamax dan pertamax plus), LPG,
propylene, kerosene, solar (premium DEX), Industrial Diesel Oil (IDF), Decant Oil, dan
sebagainya. Proses utama yang digunakan PT PERTAMINA RU VI BALONGAN dalam
mengolah crude oil sebagai berikut:
1. Hydro Skimming Complex (HSC)
Proses yang terjadi terjadi pada Hydro Skimming Complex unit ini adalah proses
distilasi dan treating dari limbah yang dihasilkan dari crude oil dan treating proses naphta.
Unit HSC merupakan Refineri Unit awal dari keseluruhan proses di PT. PERTAMINA RU
VI Balongan. Unit HSC terdiri dari Distillation Treating Unit (DTU) dan Naphta Processing
Unit (NPU).
a. Distillation Treating Unit (DTU)
Unit ini dibangun untuk mengolah crude oil dengan cara distilasi serta melakukan
treating terhadap gas dan air buangan dari unit-unit pemrosesan lainnya. Unit ini merupakan
primary processing dan dibangun untuk mengolah campuran minyak Indonesia dengan
kapasitas 125.000 BPSD. Pada proses ini, mayoritas digunakan crude oil dari minas (light
crude oil) dan Duri (heavy crude oil) dengan perbandingan tendon rasio (perbandingan antara
kapasitas maksimal : minimal) tertentu, dimana nilai batas minimal Duri : Minas adalah
50:50; dan nilai batas maksimal Duri : Minas adalah80:20. Saat ini crude oil yang digunakan
berasal dari Duri, LSWR ex Dumai, Minas, JMCO, Mudi dan Banyu Urip. Adapun mayoritas
sumber crude oil dipilih dari Duri dan Minas karena cadangannya yang melimpah pada tahun
1990-an, serta secara ekonomis harga crude oil dari Duri paling murah sedangkan hara crude
oil dari Minas paling mahal. Oleh karena itu, kombinasi dari keduanya akan digabungkan
untuk mendapatkan feed yang dapat disesuaikan dengan spesifikasi produk yang diinginkan.
Pada proses ini digunakan proses distilasi atmosferik dimana minyak mentah (multi
component) akan dipisahkan berdasarkan titik didihnya. Adapun produk yang dihasilkan dari
proses ini berupa off gas, naphta, kerosene, untreated gas oil dan AR (Atmospheric Residue).

Tabel 4. Produk Unit DTU


Produk Laju Aliran (ton/jam)
Fuel Gas 0,30
LPG 0,83
Naphta 26,46
Kerosene 60,96
LGO 91,42
HGO 43,16
AR (Atmospheric Residue) 542,62
Sumber : Safitri ,2014
b. Naphta Processing Unit (NPU)
NPU merupakan merupakan proyek Pertamina RU VI Balongan yang dikenal
dengan Kilang Langit Biru Balongan (KLBB). Unit ini bertujuan untuk mengolah dan
meningkatkan bilangan oktan dari naphta dengan caramengurangi impurities yang dapat
menurunkan nilai oktan, menghasilkan aromatik dari naphta dan parafin, serta penataan ulang
dari struktur molekul hidrokarbon (isomerisasi). Feed dari proses unit ini berupa naphta atau
Low Octane Mogas Component (LOMC) yang memiliki angka oktan sebesar 68-80 dan
sesudah diolah menjadi 9298. Sebelumnya metode yang dilakukan untuk meningkatkan
bilangan oktan adalah dengan penambahan TEL (Ttra Etil Lead) dan MTBE (Methyl Tertier
Butyl Eter). Namun saat ini penggunaan TEL dan MTBE telah dilarang karena timbal dapat
menyebabkan pencemaran udara dan berbahaya bagi kesehatan karena timbal dapat masuk
dan mengendap didalam tubuh sehingga menghambat pembentukan sel darah merah. Oleh
karena itu NPU dibuat dan dioperasikan agar dapat meningkatkan angka oktan tanpa harus
mencemari udara.

2. Distillation and Hydrotreating Complex (DHC)


Pada unit Distillation and Hydrotreating Complex, produk intermediate minyak
bumi, yang berupa Atmospheric Residue (AR) akan mengalami proses treating lebih lanjut.
Tujuan proses treating adalah mengurangi kandungan impurities dari minyak bumi seperti
senyawa nitrogen, sulfur, Na, kandungan logam (Nikel, Vanadium, Fe) dan kandunga MCR
(Micro Carbon Residue). Unit DHC terdiri dari Atmospheric Residue Hydrodemetallization
Unit (AHU) dan Hydro Treating Unit (HTU). DHC merupakan suatu kompleks unit yang
bertugas untuk melakukan treating atau menyingkirkan pengotor-pengotor yang terdapat
diprodukproduk hasil keluaran dari Crude Distillation Unit (CDU).
Pengolahan pada unit-unit disini dilakukan dengan bantuan hidrogen, sehingga
terdapat juga unit yang memproduksi kebutuhan hidrogen pada unit-unit pemrosesan. DHC
sendiri menaungi dua buah kompleks unit dibawahnya, yaitu :
a. Atmospheric Residue Hydrodemetallization Unit (AHU/ARHDM)
AHU merupakan unit yang bertujuan untuk mengurangicarbon residue, metal
(hydrodemetallization), sulphur (hydrodesulphurization), dan nitrogen (hydronitrogenation)
dari produk keluaran CDU yang berupa atmospheric residue (AR). Proses berlangsung di
unit AHU ini meggunakan bantuan hidrogen dan katalis. Produk yang telah diolah di AHU
akan dijadikan feed kedalam Residue Catalytic Cracker Unit (RCU).
b. Hydrotreating Unit (HTU)
HTU merupakan unit yang bertugas untuk mengolah produk keluaran CDU selain
atmospheric residue. Pada HTU sendiri terdapat tiga buah unit,yaitu :
 Gas Oil Hydrotreating Unit (GO-HTU)-Unit 14
GO HTU merupakan unit yang bertugas untuk mengolah produk keluaran CDU, berupa
gas oil. Pada unit ini,gas oil akan dibersihkan dari pengotornya, lalu akan digunakan
sebagai salah satu komponen blending untuk produk akhir unit pengolahan RU VI
Balongan.
 Light Cycle Oil Hydrotreating Unit (LCO - HTU) Unit 21
LCO HTU merupakan unit yang bertugas untuk mengolah produk keluaran CDU berupa
kerosene. Pada unit ini, kerosene akan dibersihkan dari pengotornya,lalu akan ditampung
didalam tangki penampungan.

 Hydrogen Plant - Unit 22


Hydrogen plant merupakan unit yang berfungsi untuk menghasilkan hidrogen dengan
kemurnian 99.9% untuk keperluan unit-unit pemrosesan di unit pengolahan RU VI
Balongan.
3. Residue Catalytic Cracking Complex (RCCC)
Residue Catalytic Cracking Complex (RCCC) merupakan secondary process dari
pengolahan minyak bumi,dimanaresidu minyak bumi dipecah kembali menjadi produk-
produk yang memiliki nilai ekonomis. Crude Duri dan Minas yang diolah di kilang RU VI
memiliki residu kurang lebih 60-65%. Unit RCC terdiri dari dua unit yaitu unit Residue
Calaytic Cracker (RCC) dan Light End Unit (LEU). RCC merupakan salah satu unit yang
mengolah residu menjadi minyak ringan yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dengan
menggunakan katalis. Feed RCC berasal dari unit AHU dan CDU. Sedangkan produk minyak
yang dihasilkan berupa LPG, Gasoline, Light Cycle Oil, Propylene, Polygasoline dan decant
oil.
a. Residue Catalytic Cracking Unit (RCU)
Unit ini merupakan secondary processing dengan kapasitas 83.000 BPSD yang
berfungsi untuk mengolah produk keluaran dari ARHDM berupa demetallization
atmospheric residue (DMAR) sebanyak 35,5% dan produk keluaran CDU berupa atmopheric
residue (AR) sebanyak 64,5% sehingga didapatkan produk yang bernilai lebih tinggi seperti
decant oil, light cycle oil dan overhead vapor main column. RCU merupakan unit yang
berfungsi untuk meningkatkan nilah tambah dari residu dengan menggunakan katalis. RCU
dirancang untuk mengolah Treated Atmospheric Residue yang berasal dari AHU dan
Atmospheric Residue yang berasal dari CDU.
b. Light End Unit (LEU)
Unit ini berguna untuk melakukan treatment lebih lanjut terhadap produk-produk
yang telah terbentuk. LEU mengolah naphta menjadi produk minyak ringan, seperti LPG dan
proylene serta poligasoline.

Sumber : Safitri ,2014

Gambar 4. Diagram alir proses produksi PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan

2.1.2.3 Produk yang Dihasilkan


a. Spesifikasi Produk Utama
Produk dari kilang minyak tiap unit (CDU, AHU, RCC) hanya sebagai bahan dasar
produk yang dijual di pasar, PT Pertamina membuat dengan cara mencampur antara minyak
dengan angka oktan tinggi dan angka angka oktan kecil untuk mendapatkan spesifikasi
produk yang sesuai dengan pasar. Dalam hal ini, produk yang mempunyai angka oktan paling
tinggi adalah Super-TT dan RUVI Balongan adalah satu-satunya kilang di Indonesia yang
memproduksinya.
Produk yang dihasilkan oleh PT Pertamina RU VI Balongan adalah:
1. Premium
Bilangan oktan : 87 min
Kandungan TEL, ml/USG : max 0,54
RVP pada 100°F, psi : max 9
Kandungan GUM, mg/100 ml : max 4
Sulfur, % wt : max 0,2
Copper Strip Corrotion, 3h/122°F : max nomor 1
Kandungan merkaptan, %wt : max 0,015
Warna : kuning
Kandungan zat warna, g/100 USG : max 0,5
2. Pertamax
Bilangan oktan : min 92
Kandungan belerang, %wt : max 0,1
Kandungan timbal, g/ml : max 0,013
Kandungan aromatik : max 50
Densitas, kg/m3 : max 780
Kandungan merkaptan, %wt : max 0,002
Warna : biru
Getah purwa, mg/100 ml :4
3. Pertamax Plus
Bilangan oktan : min 95
Kandungan belerang : max 0,1
Kandungan timbal, g/ml : max 0,013
Kandungan aromatik : max 50
Densitas, kg/m3 : max 780
Kandungan merkaptan : max 0,002
Warna : merah
Getah purwa, mg/100 ml :4
4. Industrial Diesel Fuel
Spesific gravity : 0,84 – 0,92
Viskositas pada 100°F, Csts : 3,5 – 7,5
Pour point, °F : max 65
Kandungan sulfur, %wt : max 1,5
Conradson Carbon Residue, %wt : max 1
Kandungan air, %vol : max 0,25
Sedimen, %wt : max 0,02
Kandungan abu, %wt : max 0,02
Flash point, PNCC °F : min 154 5.

5. Decant Oil
Viskositas, CSTS pada 122°F : max 180
Kandungan sulfur, %wt : max 4
Kandungan abu, %wt : max 0,1
Flash point, °C : max 62
Kandungan katalis, ppm : max 30
Sedimen, %wt : max 0,15
MCR, %wt : max 18
6. LPG
RVP pada 100°F, psig : max 120
Copper Strip Corrotion, 3h/122°F : max nomor 1
Kandungan metana, %wt :0
Kandungan etana, %wt : max 0,2
Kandungan propane & butane, %wt : max 97,5
Kandungan pentane, %wt : max 2,5
Merkaptan, ml/1000 USG : 50
7. Propylene
Propylene, %mol (kemurnian) : min 99,6
Total paraffin, %mol : max 0,4
Kandungan metana, ppm : max 20
Kandungan etilen, ppm : max 25
Kandungan etana, ppm : max 300
Kandungan propane, ppm : max 5
Kandungan pentane, ppm : max 10
Asetilen, ppm : max 5
Metiasetilen, propadien, 1-3butadien : max 2
Total butane, ppm : max 100
Pentane, ppm : max 100
Hidrogen, ppm : max 20
Nitrogen, ppm : max 100
CO, ppm : max 0,5
CO2, ppm : max 1
O2, ppm : max 1
Kandungan air, ppm : max 2,5
Total sulfur, ppm : max 1
Amoniak, ppm : max 5
8. Avtur
Pertamina RU VI merupakan salah satu dari 6 kilang Pertamina yang terletak di
Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Sebagai kilang yang memiliki kompleksitas tertinggi di
Indonesia, Refinery Unit VI mneghasilkan produk-produk berkualitas untuk memenuhi
kebutuhan bahan bakar di area DKI Jakarta, Jawa Barat dan sekitarnya. Tingginya
permintaan akan bahan bakar avtur di Indonesia membuka kesempatan RU VI Balongan
untuk mmeproduksi dan mensuplai bahan bakar avtur berkualitas sesuai dengan spesifikasi.
Berdasarkan data, kebutuhan Avtur Nasional mengalami peningkatan 3% setiap tahunnya,
dimana pada tahun 2015 mencapai 12,400 KL/hari, dan diprediksi akan mencapai 17,000
KL/hari pada tahun 2025. Saat ini, yang dapat dipenuhi dari kilang Pertamina sebesar 9,450
KL/hari sehingga masih dibutuhkan import Avtur dari RU VI Balongan sebesar 1,900
KL/hari akan menurunkan import Avtur sebesar 60%.
Uji coba atau plant test produksi Avtur yang dilakukan pada bulan Februari 2016
melalui optimasi unit CDU sebagai penghasil raw material Avtur dan optimasi unit HTU
untuk penyempurnaan kualitas Avtur telah berhasil mendapatkan Produk Avtur sesuai
spesifikasi. Melalui Break Through Project Produksi Avtur tahap I, RU VI Balongan dapat
memproduksi Avtur sebesar 200 KL/hari untuk mensuplai kebutuhan Bandar udara Husen
Sastranegara Bandung. Beberapa investasi dan modifikasi telah dilakukan meliputi:
a. Modifikasi dan optimasi LCO Treater menjadi unit yang memproduksi Avtur.
b. Pembuatan fasilitas injeksi chemical
c. Cleaning, coating dan modifikasi tanki 42-T-106 sebagai tangki Avtur
d. Modifikasi line produksi Avtur
e. Pemasangan microfilter dan Filter Water Separator
f. Modifikasi LPG fillinf point menjadi Avtur filling point
g. Pengadaan beberapa peralatan laboratorium untuk dapat mendukung analisa Avtur di
RU VI Balongan.
Selain itu, untuk meningkatkan kompetensi pekerja dalam hal pengoperAsian dan
handling Avtur, telah dilaksanakan pelatihan dan sertifikasi meliputi STTK Aviasi type A,
STTK Aviasi type B, STTK Laboratorium Pengujian Migas Penerbangan dan PACE
(Pertamina Aviation Competence Education).
Selanjutnya untuk mengakomodir potensi produksi Avtur sebesar 1,900 KL/hari
sehingga potensi peningkatan margin dapat dicapai, akan dugulirkan Break Through Project
Produksi Avtur tahap II dan III meliputi:
1) Tahap II: produksi sebesar +900 KL/hari untuk mensuplai kebutuhan Bandar udara
Bandar udara Husen Sastranegara Bandung, Halim Perdana Kusuma Jakarta, Kertajati
Majalengka dan Ahmad Yani Semarang dengan memodifikasi fasilitas di TBBM
Balongan sebagai sarana filling point loading avtur. BTP tahap II dijadwalkan akan
selesai pada Desember 2017.
2) Tahap III: produksi sebesar 1900 KL/hari untuk mensuplai kebutuhan Bandar udara
Soekarno Hatta Tangerang, Husen Sastranegara Bandung, Halim Perdana Kusuma
Jakarta, Kertajati Majalengka dan Ahmad Yani Semarang melalui jalur perpipaan.
BTP tahap III diharapkan dapat selesai pada Desember 2019.

Tabel 5. Kapasitas dan Distribusi Produk PERTAMINA RU VI Balongan


Jenis Produk Kapasitas Satuan
BBM
Motor Gasoline 57.500 BPSD
Automotive Diesel Oil 26.900 BPSD
Industrial diesel Oil 7.000 BPSD
Decant Oil dan Fuel 8.500 BPSD
Oil

Lanjutan Tabel 5. Kapasitas dan Distribusi PT Pertamina (Persero) RU-Balongan


Jenis Produk Kapasitas Satuan
Non BBM
LPG 700 Ton/hari
Propylene 600 Ton/hari
Ref. Fuel Gas 125 Ton/hari
Sulfur 30 Ton/hari
BBK
Pertamax 580 BPSD
Pertamax Plus 10.000 BPSD
HOMC 30.000 BPSD
Sumber : Safitri, 2014

b. Spesifikasi Produk Samping


Produk samping dari minyak bumi biasanya limbah senyawa sulfur berupa gas yang
akan dibuat padatan sulfur sebagai bahan kosmetik dengan laju alir sebesar 27 ton/jam. Sulfur
padatan yang dihasilkan tersebut biasa dijual langsung ke pasaran. Pengolahan limbah ini
pada dasarnya tidak menguntungkan secara komersial, tetapi lebih diutamakan pada
pengurangan limbah ke lingkungan agar tidak mengganggu masyarakat setempat.

2.1.2.4 Utilitas
Unit pendukung proses atau sering pula disebut unit utilitas merupakan sarana
penunjang proses yang diperlukan pabrik agar dapat berjalan dengan baik. Pada umumnya,
utilitas dalam pabrik proses meliputi air, udara dan listrik. Penyediaan utilitas dapat dilakukan
secara langsung dimana utilitas diproduksi di dalam pabrik tersebut, atau secara tidak
langsung yang diperoleh dari pembelian ke perusahaan-perusahaan yang menjualnya. Unit
pendukung proses yang terdapat dalam pabrik T-Butyl Alcohol antara lain:
1. Unit Penyediaan Air
a. Water Intake Facility
Water Intake Facility berlokasi di desa Salam Darma, Kecamatan Compreng
Kabupaten Subang 65 km dari Refinery EXOR I Balongan. Air sungai diambil dari buangan
Proyek Jatiluhur pada saluran utama sebelah Timur (Timur Main Canal). Apabila kanal
dalam perbaikan, maka air sungai diambil dari sungai Cipunegara.
b. Unit Demineralized Water
Water treatment bertujuan memperlakukan atau melunakkan (menjernihkan) air dari
sumber air yang sesuai dengan apa yang diperlukan untuk sesuatu maksud. Sumber air
tersebut dapat diambil dari surface water (air sungai, laut) dan ground water (mata air, air
sumur). Unit demineralisasi bertujuan untuk memenuhi air yang sesuai dengan persyaratan-
persyaratan boiler feed water.
Demin Plant terdiri dari dua train dengan flow rate 230 m3/h/train. Yang diinstalasi
out doors, tanpa atap dan di area yang tidak berbahaya.
Pola operasi:
1. Demineralization Plant beroperasi secara kontinyu.
2. Masing-masing train akan beroperasi normal dengan dipindah secara bergantian selama
satu train atau saat regenerasi.
3. Air buangan regenerasi yang mengandung asam dan basa serta air pembilas dari masing-
masing resin dibuang melalui bak penetral (untuk dinetralisasi).
4. Backwash water dari Activated Carbon Filters akan dialirkan ke Clean Drain.
5. Selama operasi normal, operator akan tinggal di Utility Control Room dekat dengan lokasi
sehingga dapat mengadakan inspeksi ke lokasi secara periodik.
c. Water Raw dan Portable Water
Raw Water ditransfer dari Raw Water Intake Facilities (Salam Darma) melalui pipa
dan ditampung di tangki Raw Water. Raw Water ini digunakan juga sebagai service water
yang pemakainya adalah:
1. Make-up untuk Fire Water
2. Make-up untuk Cooling Water
3. Make-up untuk Demineralized Water
4. Make-up untuk Potable Water
5. House Station
6. Pendingin untuk pompa di offsite
Service water sebelum masuk ke Potable Water Tank, disteril terlebih dahulu dengan
gas Chlorine yang selanjutnya dipompakan ke pemakai. Air yang sudah disteril dinamakan
DW.
d. Unit Sistem Air Pendingin (Cooling Water).
Unit ini berfungsi untuk mensuplai air pendingin ke unit-unit proses, fasilities utilities,
ancilaries dan fasilitas offsite. Bagian-bagiannya:
1. Menara pendingin (Cooling Water Tower).
2. Pompa air pendingin (Cooling Water Pump) sebanyak 5 normal, 1 stand by kapasitas @
7000 m3/hr pada tekanan 4,5 kg/cm2g.
3. Side Stream Filter dengan kapasitas 220 m3/hr.
4. Side Filter/ Start Up Pompa Cooling Water dengan kapasitas 660 m3/hr.
Langkah Proses:
Menara dirancang untuk mendinginkan air dari temperatur 45,5oC ke 33oC dengan
wet bulb temperatur 29,1oC pada tipe counter flow. Menara terdiri dari 10 cell dan 10 draft
fan beserta masing-masing motornya dan dua buah header supply utama untuk
pendistribusian ke onsite dan utility area. Fasilitas pengolahan air digabung dengan menara
pendingin yang dilengkapi injeksi gas chlorine, inhibitor korosi dan dispersant. Untuk
menjaga mutu air, sebagian air diolah di side stream filter. Pada bagian header supply ke area
utility, dilengkapi dengan on-line conductivityanalizer untuk memonitor mutu dari air
pendingin.

2. Penyediaan Uap Boiler


Boiler dirancang untuk memasok kebutuhan steam pada proses yang terdiri dari steam
drum, downcomers, water wall tube, superheater dan bank tube. Boiler tersebut dirancang
khusus selain untuk berfungsi memindahkan panas, juga dirancang untuk memudahkan
pengoperAsian dan perawatannya. Peralatan-peralatan penunjang pada boiler antara lain:
safety valve, dua unit penggerak steam turbin, economizer, instrumentasi dan local boiler
control (LCP), analizer, water level gauge, dsb.

3. Penyediaan Tenaga Listrik


Kilang minyak PT Pertamina (Persero) RU - VI Balongan didesain dengan kapasitas
pengolahan 125000 BPSD. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, listriknya
disediakan/diperoleh dari PLTU terdiri dari 4 unit Steam Turbin Generator (STG). Masing-
masing turbin memiliki kapasitas 27500 KVA/22000 KW, sehingga total kapasitas terpasang
sebesar 4 x 22000 KW = 88000 KW. Selain dari 4 unit steam turbin generator di atas yang
merupakan unit-unit utama dalam sistem pembangkit tenaga listrik, PT Pertamina (Persero)
RU - VI Balongan dilengkapi juga dengan pusat listrik tenaga diesel (PLTD) berupa satu unit
Diesel Engine Generator Set dengan kapasitas sebesar 1 x 3600 KW.

4. Penyediaan Udara Tekan


a. Unit Nitrogen Plant
Instalasi N2 terdiri dari dua train (train A dan train B). Masing-masing train dilengkapi
dengan satu tanki produksi dan satu unit penguap N2 cair.
b. Kompresor
Kebutuhan udara tekan di tiap unit disuplai oleh kompresor yang berada di masing-
masing unit.

2.1.2.5 Pengelolaan Lingkungan


1. Penggunaan Bahan Baku (material)
Guna memenuhi ketentuan bahan bakar yang ramah lingkungan bebas timbal, maka
pada tahun 2015 RU VI Balongan melakukan pengembangan teknologi dengan membangun
Kilang Langit Biru Balongan (KLBB). Kilang ini mengolah Low Octane Mogas Component
(LOMC) dari kilang lain guna menghasilkan produk High Octane Mogas Component
(HOMC) untuk dikirimkan ke kilang lain sebagai komponen bensin pengganti TEL atau
timbal. Pasca beroperasinya KLBB, secara nasional seluruh kilang Pertamina tidak lagi
menghasilkan bensin bertimbal.

2. Pengelolaan Energi
Sebagai perusahaan yang mengolah minyak mentah (Crude Oil) menjadi produk-
produk BBM (Bahan Bakar Minyak), non-BBM dan Petrokimia, RU VI Balongan
sepenuhnya menyadari bahwa sebagian besar energi yang digunakan selama proses operasi
masih menggunakan energi yang dihasilkan dari sumber tak terbarukan. Oleh karenanya,
konsumsi energi pun perlu dilakukan secara bijak dan seefisien mungkin. Untuk itu, RU VI
Balongan secara berkelanjutan menjalankan berbagai program efisiensi dalam pemanfaatan
energi. Hasilnya pada tahun 2015 RU VI Balongan berhasi mencapai nilai efiensi energi
tertinggi di antara kilang minyak bumi lainnya di Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari
parameter Energy Intensity Index (EII) hasil benchmark Solomon Associate LLC. Performa
tersebut juga diperkuat oleh hasil audit kinerja lingkungan yang menyebutkan bahwa total
pemakaian energi RU VI Balongan pada tahun 2015 mencapai 24.469 x 10 BTU. Jumlah
tersebut dihasilkan dari pemakaian energy pada proses produksi dan pengoperasioan fasilitas
pendukung. Untuk proses produksinya, RU VI Balongan menyerap energi sebesar 24.453 x
10 BTU. Sedangkan konsumsi energi pada fasilitas pendukung mencapai 15,89 x 10 BTU.
Hasil audit juga menyebutkan bahwa rasio hasil efisiensi energi dengan total pemakaian
energi RU VI Balongan sebesar 1,211%.
Salah satu inovasi untuk mencapai efisiensi energy yang dikembangkan oleh RU VI
Balongan adalah pengoperAsian jumper line untuk me-recovery energy yang terbuang ke
suar bakar. Line jumper dibuat dengan memanfaatkan press discharge kompresor yang ada
untuk mentransfer gas, yang sebelumnya terbuang ke suar bakar, ke fuel gas sistem yang
mempunyai tekanan tinggi. Data nyata menunjukkan bahwa pembuatan Jumper Line untuk
Recovery Flare Gas bisa me-recovery energi yangsebelumnya dibuang sebagai gas bakar
menjadi energy yang termanfaatkan untuk bahan bakar seluruh furnace dikilang sebesar
13,985 x 10 BTU.
Selain mengkonsumsi sumber energi fosil, RU VI Balongan juga mengembangkan
sumber-sumber energi baru dan terbarukan untuk dikonsumsi dalam proses produksinya.
Program pengembangan sumber energi baru dan terbarukan yang dilakukan oleh perusahaan
antara lain dengan memanfaatkan energi yang ada di kilang sebagai sumber energi baru.
3. Pemanfaatan Air
Perusahaan memanfaatkan air (raw water) untuk keperluan operasional kilang, fire
water, perkantoran dan perumahan. Air tersebut dialirkan dari WIF (waterintake facilities)
Salamdarma melalui pipa. Saat ini WIF Pertamina RU VI terdiri dari 3 unit pompa Existing
dan 1 unit pompa OSBL OCU. Total WIF tersebut memiliki kapasitas 1.606 m 3/jam. Ukuran
pengambilan air tanah tersebut tidak selalu tetap jumlahnya karena disesuaikan degan
kemampuan sumber air tersebut untuk terisi kembali secara alami.
Total pemakaian air RU VI Balongan di tahun 2015 sebesar 9.814.820 m3. Jumlah
tersebut dihasilkandari total pemakaian air untuk proses produksi sebesar 9.710.033,84 m3
dan total pemakaian air untuk fasilitas pendukung sebesar 104.786,16 m3. Dari hasil audit,
rasio hasil 3R air dengan total pemakaian air sebesar 2.937 % (dua ribu sembilan ratus tiga
puluh tujuh persen). Sedangkan intensitas pemakaian air terhadap produk RU VI Balongan
adalah 0,177 m/Barrel Salah satu inisiatif yang dialakukan oleh RU VI Balongan untuk
mencapai efisiensi penggunaan dan ketersedian air adalah penerapan sistem re-utilitasi RP
steam. RU VI Balongan merupakan satu satunya unit pengolahan minyak mentah di
Indonesia yang menerapkan system re-utilisasi LP steam sebagai umpan boiler untuk
meningkatkan efisiensi pemakaian air baku. Sistem tersebut juga berperan serta menjaga
kelestarian dan kontinuitas sumber air baku dari Sungai Tarum Timur dan Cipunegara,
terutama untuk memenuhi kebutuhanair baku penduduk sekitar.
Penerapan sistem re-utilitasi LP steam sejak tahun 2010 s.d. 2015 mampu mengurangi
water intake air sebesar 671.184 m3. Capaian tersebut telah diverifikasi oleh Institut
Teknologi Sepuluh November (ITS) selaku pihak eksternal yang kompeten dan independen.
RU VI Balongan juga menerapkan pola 3R dalam penggunaan air pada proses produksinya.
Penerapan 3R tersebut bertujuan mengurangi total pengambilan dan pembuangan air
dariproses operasi perusahaan. Pada tahun 2015 diperoleh hasil absolute penggunaan kembali
air yang telah digunakan dari proses produksisebesar 144.275.370,80 m3. [G-4 EN10]

4. Keanekaragaman Hayati
Indonesia adalah salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia dan dikenal sebagai
negara mega biodiversity. Keanekaragaman hayatinya merupakan kekayaan alam yang amat
vital serta strategis bagi pembangunan nasional, serta merupakan paru-paru dunia yang
mutlak dibutuhkan, baik di masa kini maupun yang akan datang. Dalam Undang-Undang No.
4 Tahun 1982 tentang pelestarian lingkungan hidup mewajibkan setiap badan usaha
memelihara kelestarian lingkungan hidup. Untuk menjaga keanekaragaman hayati yang
rentan akibat aktivitas operasi perusahaan serta mendukung pemerintah melestarikan
keanekaragaman hayati di Indonesia, RU VI telah menetapkan sejumlah kebijakan serta
program kerja.
Kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati RU VI Balongan lebih difokuskan pada
wilayah Desa Karangsong Kabupaten Indramayu. Inisiasi kegiatan mulai digagas sejak tahun
2009 pada saat selesainya kegiatan penentuan daerah terkena cemaran tumpahan minyak
mentah RU VI Balongan. Kewajiban yang harus dilakukan oleh Pertamina RU VI Balongan
adalah penanaman mangrove seluas 340 Ha pada daerah utama terkena dampak tumpahan
minyak yaitu Desa Pabean Udik, Karangsong, Pabean Ilir, Brondong, Totoran, Singaraja,
Singajaya, Lamarantarung dan Karanganyar.
Perlindungan keanekaragaman hayati (mangrove) memiliki dampak positif yang
terukur terhadap komponen ekosistem yang lain, yaitu ekosistem pesisir dengan peningkatan
hasil perikanan masyarakat, maupun ekosistem mangrove yang mendatangkan satwa burung.
Keberadaan mangrove tersebut saat ini memberi dampak positif dalam membantu
mempertahankan dan memunculkan ekosistem flora dan fauna seperti ikan, udang, kepiting,
burung bangau, dan biawak di kawasan tersebut sehingga indeks kehati Nekton/Biota Air
Lainnya meningkat dari 2,07 menjadi 2,28 sebagai salah satu contoh indeks parameternya.
Pelaksanaan kegiatan perlindungan mangrove tersebut melibatkan instansi terkait antara lain
Badan Lingkungan Hidup Indramayu dan tim ahli keanekaragaman hayati dari Institut
Pertanian Bogor (IPB).

5. Pengelolaan Limbah
Sesuai dengan UU No. 18 tahun 2008 dan PP No 81 tahun 2012, setiap perusahaan
wajib melakukan pengelolaan sampah dari proses bisnisnya. RU VI secara cermat
melaksanakan pemantauan sekaligus penanganan berbagai jenis limbah yang dihasilkan dari
setiap proses dalam kegiatan operasionalnya. Secara umum ada dua jenis limbah yang
dihasilkan dari proses operasi RU VI Balongan yakni limbah B3 dan limbah padat non-B3.
Total limbah B3 yang dihasilkan dari proses produksi RU VI Balongan pada tahun 2015
sebesar 2.831,21 ton sedangkan untuk limbah padat non-B3 mencapai 382,26 ton.
Dalam mengurangi jumlah limbah B3, RU VI Balongan memanfaatkan mixed butane
dari unit POC sebagaifeed Unit Catalyc Condensation. Dengan dilakukannya program ini,
frekuensi penggantian katalis dalam 1 tahun dapat dikurangi dari semula 2 kali menjadi
hanya 1 kali. Artinya, setap tahun terdapat potensi pengurangan limbah spent catalyst dari 60
ton menjadi 30 ton selain itu juga berdampak pada pengurangan biaya pemeliharan
penggantian katalis sebesar 50%. Hasil absolut program ini yaitu menurunkan limbah B3
Spent catalyst sebanyak 30 Ton per Tahun (% Reduksi= 50% tap tahun). Limbah B3 yang
telah diolah sebagian besar diserahkan kepada kepada pihak ketiga yang memiliki izin
dansisanya ditempatkan di tempat penyimpanan sementara (TPS). Jika dipresentasekan,
limbah yang diserahkan kepada pihak ketiga berjumlah 68,43% sedangkan sisanya sebanyak
31,57% disimpan di TPS.
Sedangkan untuk mengurangi limbah padat non-B3 (sampah) RU VI Balongan
menerapkan program e-Correspondence untuk surat menyurat serta e-Payment deklarasi
perjalanan dinas. Program e-Correspondence System mulai diimplementasikan sejak bulan
April 2015 kepada seluruh Fungsi dan Bagian di RU VI Balongan. Dengan program ini,
sistem surat-menyurat seperti Memorandum, Nota, Surat Masuk dan Surat Keluar yang yang
sebelumnya menggunakan kertas digantikan dengan system elektronik yang memungkinkan
persetujuan dan tanda tangan pejabat terkait secara paperless. Selama 3 bulan terakhir sejak
bulan April 2015, konsumsi kertas di RU VI Balogan berkurang dari sebelumnya 400 rim per
bulan menjadi 300 rim per bulan atau berkurang sebesar 25% per bulan. Sementara itu
dengan adanya program e-Payment Deklarasi Perjalanan Dinas, formulir Receipt
Confirmation diubah dalam bentuk Rekapitulasi Permohonan Transfer dimana untuk 60
transaksi hanya membutuhkan kertas sebanyak 6 lembar. Maka untuk melakukan
transaksidekarasi perjalanan dinas, dengan program ini dapat mengurangi konsumsi kertas
sebanyak 90 % setiap harinya dan juga dapat menjaga keamanan transaksi.