Anda di halaman 1dari 24

PROPOSAL

KERJA PRAKTEK
PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PADA
PRODUK X DENGAN MENGGUNAAN METODE X PADA PT.
TRITUNGGAL ADIKARYA TEKNIK, TANGERANG

Diajukan Oleh :

Ulfa Mega Asri


150100104
Mahasiswa Program Diploma III
Program Studi Manajemen Logistik Industri Elektronika

POLTEKNIK APP JAKARTA


KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI
JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, khususnya pada
penulis sehingga dapat menyelesaikan proposal ini yang ditujukan untuk memenuhi
salah satu tugas Kerja Praktek untuk tugas akhir yang berjudul “Pengendalian
Persediaan bahan baku pada Produk X Dengan Menggunaan Metode X Pada
PT. Tritunggal Adikarya Teknik”
Kerja Praktek merupakan salah satu dari mata kuliah wajib dengan bobot 2
sks yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa Politeknik APP Jakarta sebagai
salah satu syarat untuk mengambil mata kuliah Tugas Akhir. Melalui Kerja Praktek
diharapkan mahasiswa dapat memperluas pengetahuan dan pemahaman mengenai
disiplin ilmu disertai penerapannya secara nyata. Untuk itu, penulis mengajukan
proposal ini guna memenuhi persyaratan Kerja Praktek di Perusahaan Bapak/ Ibu
pimpin.
Demikianlah proposal permohonan yang penulis buat. Atas perhatian, kerja
sama serta bantuan Bapak/ Ibu, penulis mengucapkan terima kasih.

Jakarta, 23 Februari 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... 2


DAFTAR ISI...................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 4
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 5
1.3 Batasan Masalah ................................................................................................. 6
1.4 Tujuan Penelitian ................................................................................................ 6
1.5 Manfaat Penelitian .............................................................................................. 6
BAB II STUDI PUSTAKA ............................................................................................... 7
2.1 Pengertian Persediaan ......................................................................................... 7
2.1.1 Fungsi Persediaan ....................................................................................... 8
2.1.2 Jenis Persediaan .......................................................................................... 9
2.1.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persediaan ....................................... 11
2.2 Pengendaliaan Persediaan ................................................................................. 13
2.3 Biaya persediaan ............................................................................................... 14
2.4 Model Persediaan .............................................................................................. 16
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................ 17
3.1 Metode Kerja Praktek ....................................................................................... 17
3.1.1 Tahapan Penelitia ...................................................................................... 18
3.1.2 Waktu Pelaksaan ....................................................................................... 18
3.2 Pengumpulan Data ............................................................................................ 20
3.2.2 Ruang Lingkup dan Topik ........................................................................ 20
3.2.3 Sumber Data.............................................................................................. 20
3.2.4 Data yang Dibutuhkan .............................................................................. 21
3.3 Hasil .................................................................................................................. 22
3.3.1 Hasil Penelitian ......................................................................................... 22
3.3.2 Laporan Kerja Praktek .............................................................................. 22
BAB IV PENUTUP ......................................................................................................... 23

3
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebuah perusahan memiliki tujuan utama yaitu memperoleh laba. Dalam


proses pencapaian tujuan tersebut akan dipengaruhi oleh berbagai faktor,salah satu
faktor itu ialah kelancaran produksi. Pencapaian tujuan perusahaan akan
menghadapi kendala tertentu sehingga perusahaan harus memiliki manajemen yang
baik. Pada dasarnya manajemen yang baik memiliki fungsi yang sangat penting
dalam perusahaan guna melakukan pemilihan keputusan serta sebagai kontrol
dalam kegiatan perusahaan upaya berjalan secara efektif dan perusahaan mampu
memperoleh laba yang optimal. Salah satu cara agar perusahaan mampu
memperoleh laba yang optimal adalah menerapkan suatu kebijakan manajemen
dengan memperhitungkan persediaan yang optimal.

Dengan persediaan yang optimal perusahaan mampu menentukan seberapa


besar persediaan bahan baku yang sesuai, sehingga tidak menimbulkan pemborosan
biaya karena mampu menyeimbangkan kebutuhan bahan baku yang tidak terlau
banyak maupun persediaan yang tidak terlalu sedikit. Persediaan optimal mampu
mengefisiensikan biaya pengeluaran perusahaan seperti pemesanan dan biaya
penyimpanan bahan baku. Sehingga kebijakan manajemen tentang persediaan akan
membantun perusahaan.

Persediaan yang optimal berdasarkan Slamet (2007:51) akan dapat dicapai


apabila mampu menyeimbangkan beberapa faktor mengenai kuantitas produk, daya
tahan produk, panjangnya periode produksi, fasilitas penyimpanan dan biaya
penyimpanan persedian, kecukupan modal, kebutuhan waktu distribusi,
perlindungan mengenai kekurangan tenaga kerja, perlindungan mengenai
kekurangan harga bahan dan perlengkapan serta resiko yang ada dalam persediaan.
Setiap perusahaan harus dapat mengambil keputusan tentang kegiatan pengadaan

4
persediaan barang pada perusahaan yang akan menimbulkan berbagai macam
biaya, seperti biaya pembelian, biaya pemesanan,dan biaya penyimpanan.

Dengan adanya biaya-biaya tersebut diperlukan adanya pengendalian


persediaan yang memiliki fungsi untuk menyediakan persediaan yang sesuai
dengan biaya yang minimal. Oleh karena itu tingkat persediaan yang sesuai dapat
dilakukan dengan menentukan jumlah pesanan yang ekonomis dengan tujuan untuk
menentukan jumlah pesanan yang mampu memperkecil biaya pengadaan
persediaan.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, penulis melakukan


penelitian terhadap pengendalian persediaan bahan baku pada PT. Tritunggal
Adikarya Teknik. Hasil analisis tersebut akan dituangkan dalam bentuk Tugas
Akhir yang berjudul “Pengendalian Persediaan bahan baku pada Produk X
Dengan Menggunaan Metode X Pada PT. Tritunggal Adikarya Teknik”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian dalam latar belakang, permasalahan -


permasalahan yang akan diangkat dalam analisis ini adalah:

a. Bagaimanakah kebijakan sistem pengendalian persediaan yang dilakukan


oleh PT. Tritunggal Adikarya Teknik?
b. Berapakah jumlah frekuensi pemesanan produk untuk persediaan
digudang pada PT. Tritunggal Adikarya Teknik?
c. Metode pengendalian persediaan apakah yang paling optimal untuk
persediaan produk pada PT. Tritunggal Adikarya Teknik?
d. Berapakah perubahan tingkat efisiensi pada biaya persediaan produk
dengan metode yang optimal ?

5
1.3 Batasan Masalah

Berikut merupakan batasan masalah yang ditetapkan dalam penelitian ini,


yaitu :

a. Pembahasan yang diambil untuk penelitian disesuaikan dengan bahan baku


terhadap produk yang direferensikan oleh PT. Tritunggal Adikarya Teknik.
b. Perhitungan biaya terkait persediaan bahan baku produk yang diambil untuk
penelitian disesuaikan dengan bahan baku produk yang direferensikan oleh
PT. Tritunggal Adikarya Teknik.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah diatas, tujuan dari analisis ini adalah


sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui kebijakan sistem pengendalian persediaan yang


dilakukan oleh PT. Tritunggal Adikarya Teknik.
b. Untuk mengetahui jumlah frekuensi pemesanan produk pada PT. Tritunggal
Adikarya Teknik
c. Untuk mendapatkan metode pengendalian persediaan produk yang paling
optimal pada PT. Tritunggal Adikarya Teknik.
d. Untuk mengetahui perubahan tingkat efisiensi pada biaya persediaan
produk dengan metode yang optimal.

1.5 Manfaat Penelitian

a. Bagi perusahaan

6
Sebagai informasi yang dapat digunakan untuk bahan evaluasi dan
referensi pengambilan keputusan dalam pengendalian persediaan terhadap
bahan baku produksi yang digunakan oleh PT. Tritunggal Adikarya Teknik.
b. Bagi penulis
Sebagai sarana untuk meningkatkan wawasan ilmu terutama pada ruang
lingkup produksi di PT. Tritunggal Adikarya Teknik, serta sebagai syarat
untuk penulis dalam menyelesaikan studi.
c. Bagi kampus
Sebagai tambahan referensi pada bidang program studi Manajemen
Produksi, khususnya mengenai manajemen persediaan sesuai kondisi di
dalam sebuah industri.

BAB II STUDI PUSTAKA

2.1 Pengertian Persediaan

Persediaan dalam perusahaan manufaktur merupakan salah satu aspek


terpenting dalam menunjang kelancaran proses produksi, baik dalam produksi
barang maupun jasa. Menurut Rangkuti (2007) "Persediaan bahan baku mempunyai
kedudukan yang penting dalam perusahaan karena persediaan bahan baku sangat
besar pengaruhnya terhadap kelancaran proses produksi.”

7
Menurut Hendra (2009:131) “Persediaan didefinisikan sebagai barang yang
disimpan untuk digunakan untuk dijual pada periode mendatang. Persediaan dapat
berbentuk bahan baku yang disimpan untuk diproses, komponen yang diproses,
barang dalam proses pada proses manufaktur, dan barang jadi yang disimpan untuk
dijual.”

Menurut Bahagia (2006) “Inventori (persediaan) adalah suatu sumber daya


menganggur (idle resource) yang keberadaannya menunggu untuk diproduksi,
dipasarkan, atau dikonsumsi”

Menurut Monden (dalam Bahagia, 2006), keberadaan inventori dapat


dipandang sebagai pemborosan (waste) dan ini berarti beban bagi suatu unit usaha
dalam bentuk ongkos yang lebih tinggi.

Berdasarkan pengertian menurut beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan


bahwa persediaan merupakan barang penunjang proses produksi yang disimpan
oleh perusahaan, baik itu berupa bahan baku, barang setengah jadi, maupun barang
jadi yang keberadaannya harus diminimalkan untuk mengurangi pemborosan biaya.

2.1.1 Fungsi Persediaan

Berdasarkan uraian Slamet (2007:155), jika dilihat dari segi fungsi, maka
persediaan dibedakan atas :
1. Batch atau lot size inventory yaitu persediaan yang diadakan karena kita
membeli atau membuat bahan bahan / barang-barang dalam jumlah yang
lebih besar dan jumlah yang dibutuhkan pada saat itu.
2. Fluctuation stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi
fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan.
3. Anticipation stock yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi
fluktuasi yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat

8
dalam satu tahun dan pola untuk menghadapi penggunaan atau penjualan /
permintaan yang meningkat.

Adapula fungsi persediaan yang lain. Fungsi-fungsi persediaan menurut


Handoko (2000:335) antara lain :

1. Fungsi Decoupling
Fungsi penting persediaan adalah memungkinkan operasioperasi
perusahaan internal dan eksternal mempunyai “kebebasan” (independence).
Persediaan decoupling ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi
permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier .
2. Fungsi Economic Lot Sizing
Persediaan lot size ini perlu mempertimbangkan “penghematan-
penghematan” (potongan pembelian, biaya pengangkutan per unit lebih
murah dan sebagainya) karena perusahaan melakukan pembelian dalam
kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul
karena besarnya persediaan (biaya sewa gudang, investasi, risiko dan
sebagainya).

3. Fungsi Antisipasi
Perusahaan sering menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat
diperkirakan berdasarkan pengalaman atau data-data masa lalu, yaitu
permintaan musiman. Disamping itu, perusahaan juga sering menghadapi
ketidak pastian jangka waktu pengiriman dan permintaan akan barang-
barang selama periode pemesanan kembali, sehingga memerlukan kuantitas
persediaan ekstra yang sering disebut safety stock (persediaan pengaman).

2.1.2 Jenis Persediaan

Menurut beberapa literatur yang dikutip oleh Rika (2009:94), persediaan


dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, yaitu:

9
1. Stok siklus (cycle stock), yakni jumlah persediaan yang tersedia setiap saat
yang dipesan dalam ukuran lot. Alasan pemesanan dalam lot adalah skala
ekonomis, adanya diskon kuantitas dalam pembelian produk atau
transportasi, dan keterbatasan teknologi.
2. Stok tersumbat (congestion stock), persediaan dari produk yang diproduksi
berkaitan dengan adanya batasan produksi, dimana banyak produk yang
diproduksi pada peralatan produksi yang sama, khususnya jika biaya setup
produksinya relatif tinggi.
3. Stok pengaman (safety stock), jumlah persediaan yang tersedia secara rata-
rata untuk memenuhi permintaan dan penyaluran yang tak tentu dalam
jangka waktu pendek.
4. Persediaan antisipasi (anticipation inventory), jumlah persediaan yang
tersedia untuk mengatasi fluktuasi permintaan yang cukup tinggi.
Perbedaanya dengan stok pengaman lebih ditekankan pada antisipasi musim
dan perilaku pasar yang dipicu kondisi tertentu yang telah diperkirakan
perusahaan.
5. Persediaan pipeline, meliputi produk yang berada dalam perjalanan yakni
produk yang ada pada alat angkutan.
6. Stok decoupling, digunakan dalam sistem eselon majemuk untuk
mengizinkan setiap tingkat membuat keputusan masingmasing terhadap
jumlah persediaan yang tersedia. Persediaan banyak digunakan oleh para
distributor untuk mengurangi risiko kerusakan barang atau antisipasi
fluktuasi permintaan yang berbeda-beda di setiap wilayah pemasaran.

Selain diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, persediaan juga


diklasifikasikan berdasarkan jenis dan posisi barang tersebut di dalam urutan
pengerjaan produk yaitu (Sofjan Assauri, 2008:240-242):

1. Persediaan Bahan Baku (Raw Materials stock) yaitu persediaan dari


barang-barang berwujud yanng digunakan dalam proses produksi,
barang mana dapat diperoleh dari sumber-sumber alam ataupun dibeli

10
dari supplier atau perusahaan yang menghasilkan bahan baku bagi
perusahaan pabrik yang menggunakannya.
2. Persediaan bagian produk atau parts yang dibeli (purchased
parts/component stock) yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari
parts yang diterima dari perusahaan lain, yang dapat secara langsung
diassembling dengan parts lain, tanpa melalui proses produksi
sebelumnya.
3. Persediaan bahan-bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan
(supplies stock) yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang
diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya
produksi atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan,
tetapi tidak merupakan bagian atau komponen dari barang jadi.
4. Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (work in
process/progress stock) yaitu persediaan barang-barang yang keluar dari
tiap-tiap bagian dalam satu pabrik atau bahan-bahan yang telah diolah
menjadi suatu bentuk, tetapi lebih perlu diproses kembali untuk
kemudian menjadi barang jadi.
5. Persediaan barang jadi (finished good stock) yaitu persediaan barang
barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap
untuk dijual kepada langganan atau perusahaan lain.

2.1.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persediaan

Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya persediaan bahan baku yang


dimiliki perusahaan berdasarkan Nafirin (2004:83) adalah :

1. Anggaran produksi
Semakin besar produksi yang dianggarkan semakin besar bahan baku yang
disediakan. Sebaliknya semakin kecil produksi yang dianggarkan semakin
kecil juga bahan baku yang disediakan.

11
2. Harga beli bahan bakun
Semakin tinggi harga beli bahan baku, semakin tinggi persediaan yang
direncanakan. sebaliknya semakin rendah harga bahan baku yang dibeli,
semakin rendah persediaan bahan baku yang direncanakan.
3. Biaya penyimpanan bahan baku digudang (carrying cost)
dalam hubunganya dengan biaya ekstra yang dikeluarkan sebagai akibat
kehabisan persediaan (stockout cost). Apabila biaya penyimpanan bahan
baku digudang lebih kecil disbanding dengan biaya ekstra yang
dikeluarkan sebagai akibat kehabisan persediaan, maka perlu persediaan
bahan baku yang besar. Sebaliknya bila biaya penyimpanan bahan baku di
gudang lebih besar disbanding biaya ekstra yang dikeluarkan sebagai
akibat kehabisan persediaan, maka persediaan bahan baku yang
direncanakan kecil. Biaya kehabisan persediaan (stockout cost) seperti
biaya pesanan darurat, kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan,
karena tidak terpenuhinya pesanan, kemungkinan kerugian karena adanya
stagnasi produksi, dan lain-lain.
4. Ketepatan pembuatan standar pemakaian bahan baku.
Semakin tepat standar bahan baku dipakai yang dibuat, semakin kecil
persediaan bahan baku yang direncanakan. Sebaliknya bila standar
persediaan bahan baku dipakai yang dibuat sulit untuk mendekati
ketepatan, maka persediaan bahan baku yang direncanakan akan besar.
5. Ketepatan pemasok (penjual bahan baku)
dalam menyerahkan bahan baku yang dipesan, maka persediaan bahan
baku yang direncanakan jumlahnya besar. Sebaliknya bila pemasok
biasanya tepat dalam menyerahkan bahan baku, maka bahan baku yang
direncanakan jumlahnya kecil.
6. Jumlah bahan baku setiap kali pesan
Bila bahan baku tiap kali pesan jumlahnya besar, maka persediaan yang
direncanakan juga besar. Sebaliknya bila bahan baku setiap kali pesan
jumlahnya kecil, makan persediaan yang direncakan juga kecil.

12
2.2 Pengendaliaan Persediaan

Indrajit dan Djoko Pranoto (2003) telah berpendapat bahwa manajemen


persediaan (inventory control) adalah kegiatan yang berhubungan dengan
perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan penentuan kebutuhan material sehingga
kebutuhan operasi dapat dipenuhi waktunya dan persediaan dapat ditekan secara
optimal. Handoko (2000:333) berpendapat bahwa pengendalian persediaan
merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena persediaan fisik banyak
perusahaan melibatkan investasi rupiah terbesar dalam pos aktiva lancar.

Bila perusahaan menanamkan terlalu banyak dananya dalam perseediaan,


menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebih, dan mungkin mempunyai
opportunity cost (dana dapat ditanamkan dalam investasi yang lebih
menguntungkan). Demikian pula, bila perusahaan tidak mempunyai persediaan
yang cukup, dapat mengakibatkan biaya-biaya dari terjadinya kekurangan bahan.

Dengan pemaparan tersebut, dapat dibuat kesimpulan bahwa manajemen


persediaan atau pengendalian persediaan merupakan kegiatan yang memiliki tujuan
untuk mengawasi dan mengendalikan persediaan yang ada diperusahaan, sehingga
kelancaran produksi tidak terganggu akibat terlalu banyak atau sedikitnya dari
persediaan yang dimiliki.

Kemudian pengawasan sesuai seperti yang diuatarakan Slamet (2007:157)


merupakan kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposisi dari pada persediaan
alat-alat, bahan baku, dan barang hasil produk, sehingga perusahaan dapat
melindungi kelancaran proses produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan
pembelanjaan perusahaan dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu sasaran
pengawasan persediaan adalah menciptakan dan memelihara keseimbangan antara
kelancaran operasi perusahaan dengan biaya pengadaan persediaan tersebut.

13
Tujuan dari pengendalian persediaan sendiri berdasarkan Slamet
(2007:158) adalah sebagai berikut:

1. Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan, sehingga dapat


mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.
2. Menjaga agar pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar
sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan tidak terlalu besar.
3. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena ini
akan berakibat biaya pemesanan menjadi besar.

2.3 Biaya persediaan

Perencanaan dan pengendalian persediaan bertujuan untuk mendapatkan tingkat


pelayanan dengan biaya yang minimum. Menurut Tampu bolon (2004:194) biaya-
biaya yang timbul dari adanya persediaan digolongkan menjadi empat golongan,
yaitu:
1. Biaya Pemesanan (Ordering Cost)
Biaya pemesanan adalah biaya-biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan
pemesanan barang-barang atau bahan-bahan dari penjual sejak dari
pemesanan (order) dibuat dan dikirim sampai barang-barang atau bahan-
bahan tersebut dikirim dan diserahkan serta diinspeksi di gudang. Biaya
pemesanan ini sifatnya konstan. Besarnya biaya yang dikeluarkan tidak
tergantung pada besarnya atau banyaknya barang yang dipesan. Dalam
ordering cost, yang termasuk dalam biaya pemesanan ini adalah semua
biaya yang dikeluarkan dalam rangka mengadakan pemesanan barang
tersebut, diantaranya biaya administrasi pembelian dan penempatan order,
biaya pengangkutan dan bongkar muat, biaya penerimaan dan biaya
pemeriksaan.

2. Biaya Penyimpanan (Carrying Cost)

14
Inventory Carrying Cost adalah biaya-biaya yang diperlukan berkenaan
dengan adanya persediaan yang meliputi seluruh pengeluaran yang
dikeluarkan perusahaan sebagai akibat dari adanya sejumlah persediaan.
Biaya ini berhubungan dengan terjadinya persediaan dan disebut juga
dengan biaya mengadakan persediaan (stock holding cost). Biaya ini
berhubungan dengan tingkat rata-rata persediaan yang selalu terdapat di
gudang, sehingga besarnya biaya ini bervariasi tergantung dari besar
kecilnya rata-rata persediaan yang terdapat di gudang, yang termasuk ke
dalam biaya ini adalah semua biaya yang timbul karena barang disimpan
yaitu biaya pergudangan yang terdiri dari biaya sewa gudang, upah dan gaji
pengawasan dan pelaksana pergudangan serta biaya lainnya. Biaya
pergudangan ini tidak akan ada apabila tidak ada persediaan.

3. Biaya Kehabisan Persediaan (Stockout Cost)


Biaya kehabisan persediaan adalah biaya-biaya yang timbul akibat
terjadinya persediaan yang lebih kecil daripada jumlah yang diperlukan,
seperti kerugian atau biaya-biaya tambahan yang diperlukan karena seorang
pelanggan meminta atau memesan suatu barang sedangkan barang atau
bahan yang diperlukan tidak tersedia. Biaya ini juga dapat merupakan biaya-
biaya yang timbul akibat pengiriman kembali pesanan atau order tersebut.
4. Biaya Penyiapan (Setup Cost)
Set up cost adalah biaya-biaya yang timbul di dalam menyiapkan mesin dan
peralatan untuk dipergunakan dalam proses konversi. Biaya ini terdiri dari
biaya mesin yang menganggur (idle capasity), biaya penyiapan tenaga kerja,
biaya penjadwalan, biaya kerja lembur, biaya pelatihan, biaya
pemberhentian kerja, dan biaya-biaya pengangguran (idle time costs)
Biaya-biaya ini terjadi karena adanya pengurangan atau penambahan
kapasitas yang digunakan pada suatu waktu tertentu.

15
2.4 Model Persediaan

Menurut Kamarul (2009:7) ada dua jenis model utama dalam manajemen
persediaan, yaitu model untuk persediaan independen dan model persediaan
dependent.

a. Model Persediaan Independen


Model persediaan independent adalah model penentuan jumlah pembelian
bahan/barang yang bersifat bebas, biasanya diaplikasikan untuk pembelian
persediaan dimana permintaannya bersifat kontinyu dari waktu ke waktu
dan bersifat konstan. Pemesanan pembelian dapat dilakukan tanpa
mempertimbangkan penggunaan produk akhirnya. Sampai saat ini ada
empat model persediaan yang popular, yaitu:
1) Economic Order Quantity (EOQ),
2) Economic Production Quantity (EPQ),
3) Back Order Inventory Model,
4) Quantity Discount Model.

b. Model persediaan Dependen


Yang dimaksud dengan model persediaan dependen adalah model
penentuan jumlah pembelian atau penyediaan bahan/barang yang sangat
tergantung kepada jumlah produk akhir yang harus dibuat dalam suatu
periode produksi tertentu. Jumlah produk akhir yang harus diproduksi
tergantung kepada permintaan konsumen. Jumlah permintaan konsumen
bersifat independent, tetapi suku cadang atau komponen produk bersifat
dependent kepada jumlah produk akhir yang harus diproduksi. Model
penentuan jumlah pembelian atau penyediaan suku cadang atau komponen
produk ini dapat didekati dengan Material Requirement Planning (MRP).
MRP juga dapat diaplikasikan jika jumlah permintaan produk akhir bersifat
sporadis dan tidak teratur (irregular)

16
BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Metode Kerja Praktek

17
3.1.1 Tahapan Penelitia

Diagram 3.1 Tahapan Pengumpulan data Penelitian

3.1.2 Waktu Pelaksaan

18
Waktu pelaksanaan kerja praktek yang diwajibkan oleh pihak Politeknik
APP Jakarta yaitu minimal tiga bulan. Sesuai dengan jadwal masa kuliah semester
VI, rentang waktu kerja praktek kondusif yakni antara bulan Februari – April 2018.

Tabel 3.1 Waktu Pelaksanaan Kerja Praktek

Pada tabel 3.1.2 terdapat gambaran target waktu pelaksanaan kerja praktek
dengan keterangan sebagai berikut :
1. Minggu ke 2 : Penulis melakukan persiapan kerja praktek dan
adaptasi dengan perusahaan, serta melakukan
observasi terhadap objek penelitian.
2. Minggu ke 3-10 : Penulis menentukan metode yang tepat terhadap
objek penelitian dan melakukan pengumpulan data
terkait penelitian.
3. Minggu ke 3-12 : Penulis melakukan pengolahan data yang sudah
diperoleh dari perusahaan.
4. Minggu ke 1-16 : Penulis melakukan penyusunan laporan tugas akhir
dan bimbingan baik di kampus maupun di
perusahaan.
5. Minggu ke 16 : Penulis selesai melakukan kerja praktek di
perusahaan.
6. Minggu ke 17 : Penulis melaksanakan seminar tugas akhir di
kampus.
7. Minggu ke 18 : Penulis melaksanakan sidang tugas akhir di
kampus.

19
3.2 Pengumpulan Data

3.2.2 Ruang Lingkup dan Topik

Hasil yang diperoleh selama pelaksanaan Kerja Praktek akan dibuat dalam
bentuk laporan tertulis berupa Tugas Akhir. Ruang lingkup substansi objek kerja
sesuai dengan materi yang telah dipelajari selama perkuliahan dan topiknya adalah
Sistem Persediaan.

3.2.3 Sumber Data

Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan,


membaca dan menganalisa dokumentasi perusahaan, dan melakukan wawancara
kepada pihak-pihak yang terkait. Data yang dikumpulkan ini digunakan untuk
pengolahan data untuk mengetahui alternative permasalahan pada Perusahaan. Data
yang dikumpulkan adalah sebagai berikut :

a. Data Primer
Yaitu data yang diperoleh langsung dari obyek penelitian dengan menggunakan
alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada obyek sebagai
sumber informasi yang dicari. Data primer yang diperoleh dari PT. Tunggal
Adikarya Teknik meliputi :
1) Bidang usaha perusahaan
2) Kegiatan tiap bagian perusahaan
3) Daerah pengiriman barang

b. Data Sekunder
Yaitu data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh
peneliti dari obyek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data

20
dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia. Data sekunder yang diperoleh
dari PT. Tritunggal Adikarya Teknik meliputi :
1) Struktur organisasi perusahaan
2) Gambaran perusahaan
3) Daftar Biaya terkait Pengendalian Persediaan
4) Data permintaan produk
5) Literature dan buku-buku sesuai permasalahan ini.

3.2.4 Data yang Dibutuhkan

1. Visi dan Misi Perusahaan


2. Sejarah Perusahaan
3. Struktur Organisasi Perusahaan
4. Produk-produk yang dihasilkan perusahaan
Data ini digunakan untuk mengetahui produk-produk ya dihasilkan
perusahaan, dan sebagai acuan untuk penulis memilih produk yang akan
dijadikan objek penelitian.
5. Daftar kebutuhan produk (bill of material)
Data ini digunakan oleh penulis untuk mengetahui struktur bahan
baku yang digunakan oleh produk yang dihasilkan oleh perusahaan
6. Data permintaan produk
Data ini digunakan untuk mengetahui jumlah permintaan terhadap
produk yang akan dijadikan objek penelitian oleh penulis.
7. Catatan persediaan bahan baku
Data ini digunakan untuk melihat perbandingan data persediaan
yang lalu dengan yang aktual (stock on hand), sebagai acuan untuk
membandingkan tingkat perubahan persediaan bahan baku produk.
8. Jadwal induk produksi (master production planning)
Data ini digunakan untuk mengetahui jadwal produksi berdasarkan
periode waktu terhadap produk yang telah ditentukan oleh perusahaan.

21
9. Biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan terkait pengendalian persediaan
bahan baku
Data ini digunakan untuk melakukan perhitungan terhadap biaya
persediaan serta sebagai bahan perbandingan terhadap data alternatif
perubahan setelah melakukan pengolahan data saat penelitian. Biaya ini
terdiri dari :
a. Biaya pemesanan bahan baku
b. Biaya pembelian
c. Biaya penyimpanan
d. Biaya penyewaan (apabila perusahaan menyewa gudang)
e. Biaya lain-lain yang terkait dengan pengendalian persediaan yang
digunakan perusahaan
10. Waktu ancang-ancang (lead time)
Data ini digunakan untuk mengetahui waktu ancang-ancang
terhadap pemesanan barang hingga sampai ke gudang perusahaan.
11. Stok pengaman (safety stock)
Data ini digunakan untuk mengetahui jumlah stok pengaman dari
bahan baku yang disediakan oleh perusahaan.

3.3 Hasil

3.3.1 Hasil Penelitian

Dari penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, diharapkan hasil


penelitian ini dapat membantu PT. Tritunggal Adikarya Teknik untuk
mengoptimalkan biaya persediaan bahan baku produk, sehingga tidak terjadi
pemborosan terhadap biaya yang dikeluarkan untuk persediaan bahan baku produk.

3.3.2 Laporan Kerja Praktek

22
Hasil yang diperoleh selama pelaksanaan Kerja Praktik akan dibuat dalam
bentuk laporan tertulis berupa Tugas Akhir.

BAB IV PENUTUP

Demikian proposal kerja praktik ini dibuat, sebagai pertimbangan bagi


pihak perusahaan yang akan memberikan izin tempat untuk melakukan kerja
praktek tersebut dan sebagai media pembelajaran untuk mengetahui aktivitas
persediaan di PT. Tritunggal Adikarya Teknik.
Diharapkan melalui kerja praktik ini banyak hal-hal bermanfaat yang dapat
diambil, dan tujuan-tujuan dari kerja praktek ini dapat tercapai. Bantuan dan
dukungan dari semua pihak yang terkait akan sangat berperan agar kegiatan kerja
praktek ini terlaksana dengan baik dan lancar.
Oleh karena itu, besar harapan saya apabila Bapak/Ibu menerima
permohonan saya untuk melaksanakan kerja praktik di perusahaan yang Bapak/Ibu
pimpin dan mendapat bimbingan, arahan serta bantuan dari semua pihak dari awal
hingga akhir. Atas segala bantuan dan kerjasamanya saya ucapkan terima kasih.

Penulis

23
24