Anda di halaman 1dari 15

NAMA : RIZKI ARIPANDI B

NIM : 1670031016
PERIHAL : TUGAS PENDAHULUAN PERORANGAN PSKE II

1. Kelebihan dan kekurangan pengukuran kerja langsung dan tidak langsung.


a. Pengukuran langsung
- Kelebihan : Praktis, mencatat waktu saja tanpa harus menguraikan
pekerjaan ke dalam elemen - elemen pekerjaannya.
- Kekurangan : Dibutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh data
waktu yang banyak. Tujuannya : Hasil pengukuran yang teliti dan akurat,
biaya lebih mahal karena harus pergi ke tempat dimana pekerjaan
pengukuran kerja berlangsung,
b. Pengukuran tidak langsung
- Kelebihan : Waktu relative singkat, hanya mencatat elemen-elemen
gerakan pekerjaan satu kali saja. biaya lebih murah
- Kekurangan : Belum ada data waktu gerakan berupa tabel-tabel waktu
gerakan yang menyeluruh dan rinci. Dibutuhkan ketelitian yang tinggi
untuk seorang pengamat pekerjaan karena akan berpengaruh terhadap
hasil perhitungan.

2. Langkah - langkah pengukuran waktu kerja dengan jam henti (stop watch):
a. Lakukan identifikasi pekerjaan yang akan diamati dan diukur waktunya dan
deskripsikan maksud dan tujuan kepada seluruh pendukung sistem kerja
yang diamati pengukuran.
b. Kumpulan semua informasi mengenai proses yang dilakukan pada objek
pengamatan seteliti mungkin.
c. Uraikan pekerjaan dalam elemen – elemen aktivitas yang lebih kecil untuk
memudahkan pengukuran.
d. Lakukan pengukuran sejumlah yang diperlukan (dengan menggunakan uji
kecukupan data dan uji keseragaman data).
e. Tetapkan faktor penyesuaian dan faktor diamati.
f. Terapkan waktu baku dari sistem kerja dengan jam henti.

3. Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang dapat dipertanggung jawabkan


secara statistik, perlu ditempuh langkah-langkah yang dijalankan sebelum
sampling dilakukan, yaitu:

1
a. Menetapkan tujuan pengukuran yaitu untuk apa sampling dilakukan, yang
akan menentukan besarnya tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan yang
diinginkan dari hasil pengukuran tersebut.
b. Jika Sampling dilakukan untuk mendapatkan waktu baku, lakukanlah
penelitian pendahuluan untuk mengetahui ada tidaknya suatu sistem kerja
yang baik, jika belum ada lakukan perbaikan atas kondisi dan cara kerja
terlebih dahulu.
c. Memilih operator-operator yang representatif untuk diukur.
d. Melakukan pelatihan bagi operator yang dipilih agar bisa dan terbiasa
dengan sistem kerja yang dilakukan.
e. Melakukan pemisahan kegiatan sesuai yang ingin didapatkan.
f. Menyiapkan peralatan yang diperlukan berupa papan atau lembaran
pengamatan.
g. Melakukan pemisahan kegiatan menjadi elemen–elemen pekerjaan yang
akan diukur.
h. Menentukan waktu pengamatan melalui bilangan acak dari tabel bilangan
random atau dari komputer.

Kegunaan metode work sampling adalah:


a. Untuk mengetahui distribusi pemakaian waktu kerja oleh pekerja atau
kelompok kerja.
b. Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan mesin-mesin atau peralatan kerja.
c. Untuk menentukan waktu baku bagi pekerja-pekerja non-produksi.
d. Untuk memperkirakan kelonggaran bagi suatu pekerjaan.
e. Untuk mengetahui beban kerja dari pekerja non-produktif.

Adapun beberapa aplikasi dari metode sampling pekerjaan untuk berbagai


kegiatan antara lain sebagai berikut:
a. Aplikasi sampling kerja untuk penetapan waktu baku.
b. Aplikasi sampling kerja untuk penetapan waktu tunggu (delay allowance).
c. Aplikasi sampling kerja untuk aktivitas perawatan (maintainance).
d. Aplikasi sampling kerja untuk kegiatan perkantoran (office work).
e. Aplikasi sampling kerja untuk mengamati kegiatan pemimpin perusahaan

Tingkat Kepercayaan
Tingkat kepercayaan pada dasarnya menunjukkan tingkat keterpercayaan
sejauhmana statistik sampel dapat mengestimasi dengan benar parameter
populasi dan/atau sejauhmana pengambilan keputusan mengenai hasil uji
hipotesis nol diyakini kebenarannya. Dalam statistika, tingkat kepercayaan
nilainya berkisar antara 0 sampai 100% dan dilambangkan oleh 1 – α. Secara

2
konvensional, para peneliti dalam ilmu-ilmu sosial sering menetapkan tingkat
kepercayaan berkisar antara 95% – 99%. Jika dikatakan tingkat kepercayaan
yang digunakan adalah 99%, ini berarti tingkat kepastian statistik sampel
mengestimasi dengan benar parameter populasi adalah 99%, atau tingkat
keyakinan untuk menolak atau mendukung hipotesis nol dengan benar adalah
99%. tingkat keyakinan menunjukkan besarnya keyakinan pengukur bahwa
hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi.
Derajat Ketelitian Jadi, tingkat ketelitian 10% dan tingkat keyakinan 99%
memberi arti bahwa pengukur memperbolehkan rata-rata hasil
pengukurannya menyimpang sebesar 10% dari rata-rata sebenarnya dan
kemungkinan mendapatkan hasil tersebut adalah 99%.Dengan kata lain jika
pengukur sampai memperoleh rata-rata pengukuran yang menyimpang lebih
dari 10% seharusnya, hal ini dibolehkan terjadi hanya dengan kemungkinan
5%.

Dengan rumus :
N’ =
Dengan :
k = Tingkat keyakinan
k = 99% = 3
k = 95% = 2
s = Derajat ketelitian
N = Jumlah data pengamatan
N’= Jumlah data teoritis

4 . Langkah langkah sebelum melakukan pengukuran


Untuk mendapatkan hasil yang baik dan yang bisa dipertanggung jawabkan.
maka ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar akhirnya dapat
diperoleh waktu yang pantas untuk pekerjaan yang bersangkutan seperti yang
berhubungan dengan kondisi kerja, cara pengukuran, jumlah pengukuran, dan
lain lain:
a. penetapan tujuan pengukuran
Dalam pengukuran waktu, hal hal penting yang perlu diketahui dan
ditetapkan adalah peruntukan penggunaan hasil dari pengukuran, tingkat
ketelitian, dan tingkat keyakinan yang diinginkan dari hasil pengukuran
tersebut. misalnya waktu baku yang diperoleh dipergunakan sebagai dasar
dalam menentukan upah. Maka tingkat ketelitian dan keyakinan dalam
pengukuran harus tinggi karena menyangkut prestasi dan pendapatan
buruh disamping keuntungan perusahaan itu sendiri.
b. Melakukan penelitian pendahuluan

3
Tujuan yang ingin dicapai dari pengukuran waktu adalah memperoleh
waktu yang pantas untuk di berikan kepada dalam menyelesaikan suatu
pekerjaan.tentu saja dalam menyelesaikan pekerjaan didapat juga waktu
yang pantas untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan kondisi yang
bersangkutan. Contoh keaadaan meja tempat pekerjaan dilakukan tidak
baik, baik itu terlalu tinggi jika pekerja duduk dikursi, maupun terlalu
rendah jika berdiri. Dari contoh diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
waktu kerja yang pantas hendaknya didapat dari kondisi kerja yang baik.
maka mejadi hal yang penting juga sebelum pengukuran kita menetapkan
suatu sistem kerja yang baik.
c. Memilih operator
Operator yang diukur bukanlah orang yang begitu saja diambil dari tempat
kerja. orang ini harus memiliki beberpa persyaratan tertentu agar
pengukuran dapat berjalan dengan baikdan dapat diandalkan hasilnya.
Syarat-syarat tersebut yaitu berkemampuan normal dan dapat diajak
bekerja sama. Kembali pada tujuan pengukuran waktu, yaitu untuk
mendapatkan waktu penyelesaian. Maka yang dibutuhkan bukanlah orang
yang memiliki kemampuan kerja rendah maupun tinggi, tapi orang yang
memiliki kemampuan kerja normal. karena yang dicari adalah penyelesaian
pekerjaan secara wajar yaitu orang orang yang berkemampuan normal.
d. Melatih operator
Walaupun operator yang baik telah dipilih, tapi kadang kadang pelatihan
masih perlu dilakukan terutama jika kondisi dan cara yang dipakai tidak
sama dengan yang biasa dijalankan operator.hal ini biasanya terjadi jika
yang akan diukur adalah sistem kerja baru sehingga operator tidak
berpengalaman menjalankannya.
e. mengurai elemen pekerjaan atas elemen-elemen pekerjaan
Disini pekerjaan dipecah menjadi elemen elemen pekerjaan, yang
merupakan gerakan bagian dari pekerjaan yang bersangkutan. Elemen
elemen inilah yang diukur waktunya. Waktu siklusnya adalah jumlha dari
waktu setiap elemen ini. waktu siklus adalah waktu penyelesaian satu
satuan prosuk sejka bahan baku mulai diproses di tempat kerja yang
bersangkutan. Misalnya waktu siklus untuk merakit pulpen adalah waktu
yang dibutuhkan untuk mengambil komponen komponen pulpen dari
wadahnya, dan menggabungkan komponen komponen tersebut sehingga
menjadi sebuah pulpen seutunnya.

Namun waktu siklus tidak berarti waktu untuk menyelesaikan produk


menjadi barang jadi. Jika seandainya proses perakitan pulpen diserahkan

4
kepada dua orang operator. Maka waktu silkus untuk operator pertama
yaitu sampai operator pertama menyelesaikan pekerjaannya, dan waktu
siklus untuk orang kedua yaitu sampai operator kedua menyelesaikan
pekerjaanya.
Ada beberapa alasan pentingnya melakukan penguraian pekerjaan menjadi
elemen elemennya :
- untuk menjelaskan catatan tentang tata cara kerja yang dibakukan.
- untuk memungkinkan untuk melakukan penyesuaian bagi setiap elemen
karena keterampilan bekerjanya opertor belum tentu sama untuk setiap
elemen pekerjaan.
- untuk memudahkan mengamati terjadinya elemen elemen yang tidak baku
yang mungkin saja dilakukan pekerja.
Sehubungan dengan kelima langkah langkah diatas, ada beberapa pedoman
penguraian pkerjaan atas elemen elemennya, yaitu :
- sesuai dengan ketelitian yang diinginkan.
- untuk memudahkan, elemen pekerjaan hendaknya berupa satu atau
gabungan beberapa elemen gerakan.
- jangan sampai ada elemen yang tertinggal.
- elemen yang satu hendaknya dapat dipisahkann dari elemen yang lain
secara jelas.
f. menyiapkan perlengkapan pengukuran seperti : jam henti, lembaran
lembaran pengamatan, pena atau pensil, papan pengamatan.
g. Melakukan pengukuran
Pengukuran waktu adalah pekerjaan mengamati dan mencatat waktu kerj
abik setiap elemen ataupun siklus dengan menggunakan alat alat yang
telah disiapkan di atas.
h. Tingkat ketelitian, keyakinan dan keseragaman data
Berbicara tentang tingkat ketelitian dan keseragaman data sebenarnya
diperlukan pengetahuan statistik, tapi dalam apk ini diusahakan
pembahasannya sesederhana mungkin.
i. tingkat ketelitian dan keyakinan
Yang dicari dengan melakukan penguukuran pengukuran ini adalah waktu
yang sebenarnya dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Yang
ideal, tentunya dilakukan pengukuran yang banyak, sehingga didapat
pengukuran yang lebih pasti. Tetapi hal tersebut memakan banyak tenaga
waktu dan biaya. Dengan tidak melakukan pengukuran yang banyak
pengukura akan kehilangansebagian kepastian terhadap kecepatan rata
ratawaktu penyelesaian yang sebenarnya. Maka dari itu tingkat ketelitian
dan keyakinan menjadi cerminan tingkat kepastian yang diinginkan oleh

5
pengukur setelah memutuskan untuk tidak melakukan pengukran yang
lebih banyak lagi.
j. pengujian keseragaman data.
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa satu langkah sebelum melakukan
pengukuran adalah merancang suatu sistem kerja yang baik. Namun
seberapa baik sistem kerja yang dirangcang pasti ada kondisi kondisi yang
menyebabkan perubahan pada sistem kerja, hal ini dianggap wajar. Namun
seberapa jauhkah kewajaran itu dapat ditolerir. Maka dari itu kita perlu
melakukan pengukuran terhadap keseragaman data, agar dapat
menentukan batas kontrol terhadap perubahan perubahan yang dianggap
wajar itu terjadi.
k. melakukan perhitungan waktu baku Jika pengukuran pengukuran telah
selesai,yaitu semua data yang didapat memiliki keseragaman yang
dikehendaki, serta jumlah data cukup dengan tingkat ketelitian dan
keyakinan yang diinginkan maka dilanjutkan pada proses pengolahan data
sehingga menghasilkan data waktu baku

5. Kurva belajar menunjukkan tingkat pengusaan operator terhadap pekerjaan


yang dilakukannya (kondisi dan metode kerja sudah di standarkan). Kurva
belajar ini sangat penting dalam keadaan operator yang sudah terlatih dan
menguasai dengan baik metode pekerjaan yang dilakukannya. Tingkat
penguasaan ini dapat terlihat dari kurva belajar.

Contoh :
6. Waktu merupakan elemen yang sangat menentukan dalam merancang atau
memperbaiki suatu sistem kerja. Peningkatan efisiensi suatu sistem kerja
mutlak berhubungan dengan waktu kerja yang digunakan dalam berproduksi.
Dengan demikian, pengukuran waktu ini merupakan suatu proses kuantitatif,
yang diarahkan untuk mendapatkan suatu kinerja yang objektif.
Sedangkan hubungannya :
- Penjadwalan produksi (production scheduling)
- Perancangan kebutuhan tenaga kerja (man power planning)
- Menunjukkan kemampuan pekerja berproduksi
- Mengetahui besaran – besaran performansi sistem kerja berdasarkan data
produksi aktual

6
7. Metode Shumard, Metode Westinghouse, Metode Obyektif, Metode Beduax
dan Sintesa
8. Metode Maytag
a. Laksanakan pengamatan/pengukuran awal dari elemen kegiatan yang ingin
diukur waktunya dengan ketentuan sebagai berikut :
- 10 kali pengamatan untuk kegiatan yang berlangsung dalam siklus sekitar 2
menit atau kurang.
- 5 kali pengamatan untuk kegiatan yang berlangsung dalam siklus waktu
yang lebih besar dari 2 menit.
b. Tentukan nilai range, yaitu perbedaan nilai terbesar (H) dan niali terkecil (L)
dari hasil pengamatan yang diperoleh.
c. Tentukan harga rata – rata yang merupakan jumlah hasil waktu
pengamatan yang diperoleh dibagi dengan banyaknya pengamatan (N)
yang telah dilaksanakan. Harga rata – rata tersebut secara kasar bisa di
dekati dengan cara menjumlahkan nilai data yang tertinggi dan data yang
terendah dan dibagi dengan dua atau dengan formulasi (H+L)/2.
d. Tentukan nilai range dibagi dengan harga rata – rata.
e. Tentukan jumlah pengamatan yang diperlukan. Cari nilai range dibagi
dengan harga rata – rata yang sesuai dan kemudian dari kolom untuk
sample size yang diambil ( 5 atau 10 ) akan diketahui berapa jumlah
pengamatan yang diperlukan.
f. Apabila harga range dibagi dengan harga rata – rata tidak ditemui pada
tabel yang ada, maka dalam hal ini bisa diambil harga yang paling
mendekati.
Metode Alignment Chart
Untuk menentukan jumlah observasi yang dibutuhkan untuk tingkat
kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 5% dan juga untuk menentukan limit
kontrol untuk control chart.
9. Methods Time Measurement
a. Gerakan Menjangkau (REACH)
Gerakan menjangkau (Reach) ialah gerakan dasar yang digunakan bila
maksud utama gerakan adalah untuk memindahkan tangan atau jari
tangan ke suatu tempat tujuan atau lokasi yang baru. Dalam pergerakan
ini, tangan dalam keadaan kosong atau tidak membawa obyek apapun.
Cara penulisan gerakan ini dipetakan dalam simbol-simbol yang berurut
dan masing-masing simbol tersebut mengandung arti, yaitu:

7
Simbol pertama dan ke-lima menginformasikan adanya gerakan lain yang
tergabung dan tak terpisahkan dengan gerakan reach ini. Dan dituliskan
jika dan hanya jika gerakan tersebut bersatu dengan gerakan lain.
Penulisannya harus dengan memakai huruf ‘m’. Bila dipakai huruf besar
seperti ‘M’, maka akan menginformasikan elemen gerakan dasar yang lain.
Simbol ke-dua ialah simbol yang menginformasikan gerakan reach. Simbol
ke-tiga diisi dengan jarak. Jarak yang dimaksudkan disini adalah jarak
perpindahan tangan. Jarak yang dituliskan di sini harus dalam satuan inch,
karena tabel yang tersedia sudah dalam satuan inch. Bila jarak pergerakan
ini kurang dari ¾ , maka penulisannya tidak perlu dengan angka, cukup
dengan menuliskan huruf ‘f’. Simbol ke-empat menginformasikan kasus
dalam gerakan reach ini. Diisi dengan huruf A,B,C,D atau E.
b. Gerakan Membawa (MOVE)
Gerakan membawa (Move) ialah gerakan dasar yang dikerjakan bila
maksud utamanya adalah untuk membawa suatu obyek ke suatu sasaran.
Ciri-ciri utama dari pergerakan ini ialah pada saat pergerakan tangan,
tangan dalam kondisi membawa objek. Oleh karena itu, berat dari objek
diperhitungkan dalam gerakan ini, karena mempengaruhi pergerakan.
Cara penulisan gerakan move ini dipetakan dalam simbol-simbol yang
berurut dan masing-masing simbol tersebut mengandung arti, yaitu:

Simbol pertama dan ke-enam menginformasikan adanya gerakan lain yang


bergabung dan tak terpisahkan dengan gerakan move ini. Dan dituliskan
jika dan hanya jika gerakan tersebut bersatu dengan gerakan lain.
Penulisannya harus dengan memakai huruf ‘m’ .Bila dipakai huruf besar
seperti ‘M’, maka akan menginformasikan elemen gerakan dasar yang lain.
Simbol ke-dua ialah simbol yang menginformasikan gerakan move.
Simbol ke-tiga diisi dengan jarak. Jarak yang dimaksudkan disini adalah
jarak perpindahan tangan. Jarak yang dituliskan di sini harus dalam satuan
inch, karena tabel yang tersedia sudah dalam satuan inch. Bila jarak
pergerakan ini kurang dari ¾” , maka penulisannya tidak perlu dengan

8
angka, cukup dengan menuliskan huruf ‘f’. Simbol ke-empat
menginformasikan kasus dalam gerakan move ini. Diisi dengan huruf A,B
atau C.
Simbol ke-lima menginformasikan berat objek yang berlaku dalam gerakan
move ini. Berat diidentifikasikan dalam satuan lbs, sesuai tabel yang telah
disediakan. Beban diperhitungkan bila melebihi 2 lbs.
c. Gerakan Menekan (APPLY PRESSURE)
Gerakan menekan (Apply Pressure) ialah pemakaian tekanan pada waktu
pergerakkan. Gerakan yang termasuk dalam gerakan ini, misalnya
mengencangkan sekrup dengan obeng.
d. Gerakan Memutar (TURN)
Gerakan memutar (Turn) ialah memutar atau gerakan memutar tangan
sepanjang sumbu tangan atau lengan bawah.
Tata cara pemberian simbol dalam gerakan turn ini adalah sebagai berikut:

Simbol pertama dituliskan huruf T besar, yang menginformasikan gerakan


turn. Simbol ke-dua dituliskan derajat perputaran. Simbol ke-tiga dituliskan
S, M, L, disesuaikan dengan kategori beban perputarannya.
e. Gerakan Memegang atau mengengam (GRASP)
Gerakan memegang (Grasp) ialah elemen gerakan dasar untuk menguasai
benda baik dengan jari atau dengan tangan. Pembagian dari gerakan grasp
ini dibagi dalam 11 kategori yaitu:
G1, pick-up grasp, yang terdiri dari 3 kasus yaitu kasus A,B dan C, yaitu:
G1A dipakai untuk semua objek yang secara mudah dipegang, dikerjakan
dengan cara menutup jari/menghimpitkan kedua jari.
G1B dipakai bila objek yang dipegang sangat kecil atau objek yang sangat
pipih yang terletak sejajar/sebidang dengan permukaan meja.
G1C gerakan ini dipakai untuk objek pemegangan yang berbentuk silindris,
dan dibagi menjadi tiga kategori diameter, yaitu:
G1C1 dipakai bila objek yang akan dipegang berbentuk silindris, yang
berdiameter lebih besar dari ½ inch.
G1C2 dipakai bila objek yang akan dipegang berbentuk silindris, yang
berdiameter antara ¼ inch sampai dengan ½ inch.
G1C3 dipakai bila objek yang akan dipegang berbentuk silindris, yang
berdiameter lebih kecil dari ¼ inch.

9
G2 dipakai bila terjadi pengubahan pemegangan tanpa melepaskan
pengendalian.
G3 dipakai bila objek yang akan dipegang diambil dari tangan lain dengan
mudah.
G4 dipakai bila pemegangan dilakukan setelah pemilihan.
G5 yang dimaksud ialah menguasai objek dengan cara disentuh. Dan
gerakan ini biasanya sudah termasuk dalam gerakan reach, sehingga besar
TMU-nya adalah nol.
f. Gerakan Melepas (RELEASE)
Gerakan melepas (Release) ialah gerakan melepaskan penguasaan obyek
oleh jari atau tangan.
R1 1 yang dimaksud ialah melepaskan penguasaan objek dengan membuka
jari untuk melepaskan.
R1 2 yang dimaksud ialah’ menghindar’, lawan dari G5, Sehingga biasanya
bila gerakan grasp-nya masuk dalam kategori G1, G2, G3 atau G4, maka
gerakan release-nya adalah RL1. Sedangkan bila gerakan grasp-nya masuk
dalam kategori G5, maka gerakan release-nya adalah RL2.
g. Gerakan Mengarahkan (POSITION)
Gerakan mengarahkan (position) ialah gerakan dasar dari jari atau tangan
yang dipergunakan untuk meluruskan, mengorientasikan atau
mengarahkan sebuah obyek dengan obyek lainnya, dengan tujuan
memperoleh hubungan yang spesifik. Position terjadi setelah objek
ditransportasikan atau dipindahkan.
Tata cara penulisan simbol pada gerakan position ini ialah:

Simbol pertama merupakan simbol untuk gerakan position. Simbol ke-dua


menginformasikan kategori dari gerakan position, adalah sebagai berikut:
1 = Tidak ada tekanan/paksaan/kesukaran
2 = Sedikit tekanan
3 = Kesukaran atau diperlukan tekanan yang besar
Simbol ke-tiga menjelaskan bentuk sifat atau bentuk dari benda yang
diarahkan, yaitu:
S = Simetri
SS = Semi-simetri
NS = Non-simetri

10
Yang dimaksud dengan simetri ialah objek yang diarahkan bisa dalam
keadaan bebas di masukkan/di arahkan. Dan yang dimaksud dengan semi-
simetri ialah objek yang di arahkan/di masukkan terbatas posisinya pada
saat di masukkan. Sedangkan yang dimaksud dengan non-simetri ialah
objek yang diarahkan/dimasukkan hanya bisa dimasukkan dengan satu
posisi saja. Simbol ke-empat menginformasikan tingkat kemudahan dalam
melakukan gerakan position, yaitu:
E = Mudah dalam pengendaliannya
D = Sukar dalam pengendaliannya
h. Gerakan Melepas Rakit (DISENGAGE)
Gerakan melepas rakit (Disengage)ialah gerakan dasar untuk memisahkan
suatu obyek dari obyek lain.
Pembagian pada gerakan disengage ini dibagi dalam tiga kategori, yaitu:
D1 Loose, sangat sedikit usahanya, dan bercampur dengan gerakan
selanjutnya. Dan jarak pemisahannya sampai 1 inch.
D2 Close, usahanya normal, dan jarak pemisahannya antara 1 inch sampai
dengan 5 inch.
D3 Tight, usaha yang besar, dan jarak pemisahannya lebih besar dari 5
inch dan lebih kecil dari 12 inch.
Tata cara penulisan simbol pada gerakan disengage ini ialah:

Simbol pertama merupakan simbol untuk gerakan disengage. Simbol ke-


dua menginformasikan tingkat usaha dari gerakan disengage. Simbol ke-
tiga menginformasikan tingkat kesulitan dari gerakan disengage
(Yudiantyo, 1994).
i. Gerakan Mata (EYE TIME)
Gerakan ini terbagi menjadi dua gerakan, yaitu:
- ET (EYE TRAVEL)
Eye travel ialah gerakan mata yang dipergunakan untuk mengubah
pandangan dari suatu lokasi ke lokasi lain. Terdapat dua cara pengukuran
yang dapat dilakukan sehubungan dengan penentuan eye travel ini, yaitu:

11
Sudut
TMU
Perpindahan(derajat)
15 4.3
30 8.6
45 12.8
60 17.1
>=75 20

Berdasarkan jarak perpindahan (T) dan jarak tegak lurus antara mata dan
garis perpindahan (D).
- EF (EYE FOCUS)
Eye focus ialah konsentrasi mata atau penglihatan mata terhadap suatu
obyek pada kurun waktu tertentu dengan maksud memperjelas
penglihatan. Besar TMU yang ditetapkan untuk gerakan ini adalah sebesar
7,3 TMU.
j. CRANK
Crank ialah gerakan memutar dari jari tangan , tangan, pergelangan tangan
dan lengan. Berbeda dengan turn, gerakan crank terdapat diameter dari
putaran, sebagai contoh memutar stir mobil. Tata cara penulisan simbol
dari gerakan CRANK ini adalah sebagai berikut:

Simbol pertama menginformasikan jumlah putaran. Minimal jumlah


putaran adalah ½ putaran. Bila kurang dari ½ putaran, maka gerakan
tersebut tidak dikategorikan gerakan crank , tetapi gerakan move. Simbol
ke-dua merupakan notasi dari gerakan crank. Simbol ke-tiga
menginformasikan diameter putaran

METODE WORK FACTOR

a. Membuat analisa detail setiap langkah kerja yang ada berdasarkan empat
variable yang merupakan dasar utama pelaksanaan kerja yaitu :
 Anggota tubuh
 Kerja perpindahan gerakan

12
 Manual control
 Berat/hambatan yang ada
b. Pada Work-Factor System, suatu pekerjan dibagi atas elemen-elemen
gerakan standar kerja sebagai berikut : Transport atau reach & move (TRP),
Grasp (GR), Pre-Position (PP), Assemble (ASY), Use (manual, process or
machine time)-(US), Diassemble (DSY), Mental Process (MP), dan Release
(RL). Dan simbol-simbol yang digunakan untuk menunjukan anggota tubuh
yang dipergunakan dan faktor-faktor kerja juga distandardkan sebagai
berikut :

Anggota Tubuh Simbol Faktor Kerja Simbol

Finger F Weight of Resistant W


Hand H Directional Control S
Arm A Steer S
Forearm FS Care (Precaution) P
Trunk T Chenge Direction U
Foot FT Define Stop D
Leg L
Head Turn HT

c. Menetapkan waktu baku yang tepat (diperoleh dari table data waktu baku
gerakan) untuk setiap gerakan kerja yang telah didefenisikan dengan
menambahkan waktu longgar pada waktu total
Analisa pengukuran waktu baku menggunakan metode work factor pada
sistem kerja pembukuan “praktikum” Elemen gerakan yang terjadi pada
saat pengisian pulsa di toko “Anis Cellular” adalah :

No. Deskripsi Elemen Kerja Analisa Waktu


Elemen (menit)
Gerakan

1 Jarak berdiri dengan papan white board


A40D 0,0054
40"
2
0,5F1 0,0008
Memegang spidol
3
A6D 0,0047
Membawa spidol ke papan tulis 6”
4
F24D 0,0815
Menginput data angka 24 digit
5
F1D 0,0023
Menekan spidol ke papan tulis
6

13
7 Membawa spidol ke meja 6” A6D 0,0047

8 Meletakkan spidol di atas meja F1P 0,0023

9 Melepaskan spidol 0,5F1 0,0080

10 Menggerakkan tangan kembali 8” A12D 0,0065

Waktu menulis pembukuan PRAKTIKUM 24D 0,4166


25 detik

Total waktu (menit) 0,5328

Dalam ha ini, asumsi allowance atau kelonggaran adalah sebesar 1 menit


untuk keterlambatan (delay), maka waktu baku yang diperoleh dari
kegiatan ini adalah :

Waktu baku = total waktu + allowance

= 0,5328 + 1,000

= 1,5328 menit

Faktor penyesuaian Faktor kelonggaran


10.

time
Sistem Waktu skilus Waktu normal Waktu
kerja baku
study

11. - Metode shumard : Metode ini memberikan patokan-patokan penilaian


melalui kelas-kelas performansi kerja dimana setiap kelas mempunyai
nilai sendiri-sendiri. Kelas-kelas performansi kerja operator dipatok
menurut kelas-kelas Superfast, Fast+, Fast, Fast-, dan seterusnya.
- Metode Persentase : Pada metode ini faktor penyesuaian ditentukan
sendiri oleh pengukur berdasarkan hasil pengamatannya selama melakukan
pengukuran.
- Metode Sintesa : Pada metode ini setiap elemen gerakan dibandingkan
dengan harga-harga yang diperoleh dari tabel-tabel data waktu gerakan
untuk kemudian dihitung harga rata-ratanya.
- Metode Objektif : Penyesuaian pada metode ini dilakukan menurut
tingkat kesulitan dan kecepatan kerja.

14
- Metode Bedaux : Cara ini tidak jauh berbeda dengan cara shumard
dimana pada cara ini nilai-nilainya dinyatakan dengan huruf pertama
Bedaux yaitu “ B “.
- Metode Westinghouse : Performance rating dibagi 4 faktor, yaitu :
a. Keterampilan (Skill) Keterampilah adalah kemampuan mengikuti cara
kerja yang ditetapkan. Keterampilan ini dibagi atas enam kelas yaitu:
Super skill, Excellent skill, Good skill, Average skill, Fair skill, dan Poor skill.
b. Usaha (Effort) Merupakan kesungguhan yang ditunjukkan atau diberikan
operator ketika melakukan pekerjaannya yang juga terdiri dari enam
kelas yaitu : Excessive Effort, Excellent Effort, Good Effort, Average Effort,
Fair Effort, dan Poor Effor.
c. Kondisi Kerja (Condition) Merupakan kondisi fisik dari lingkungannya
seperti keadaan pencahayaan, temperatur dan kebisingan ruangan.
Kondisi kerja ini terbagi atas enam kelas yaitu : Ideal, excellent,
Good, Average, Fair, dan Poor.
d. Konsistensi (Consistency) Hal ini perlu diperhatikan karena pada
kenyataannya setiap pengukuran waktu, angka-angka yang dicatat tidak
pernah semuanya sama. Konsistensi ini juga terbagi atas enam kelas yaitu
: Perfect, Excellent, Good, Average, Fair, dan Poor. Setiap kelas dari
keempat faktor tersebut memiliki nilai-nilai. Pada penghitungan faktor
penyesuaian, bagi keadaan yang dianggap wajar diberi harga P = 1,
sedangkan terhadap penyimpangan dari keadaan ini harganya ditambah
dengan angka-angka yang sesuai dengan keempat faktor diatas.

15