Anda di halaman 1dari 36

VALIDASI METODE PENENTUAN NITRAT (N-NO3) DALAM

AIR DENGAN REDUKSI KOLOM Cd-Cu SECARA


SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

Laporan Praktik Lapang


Di PT Australian Laboratory Service Indonesia

TUTI PUSPITAWATI

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015
2
3

VALIDASI METODE PENENTUAN NITRAT (N-NO3) DALAM


AIR DENGAN REDUKSI KOLOM Cd-Cu SECARA
SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

TUTI PUSPITAWATI

Laporan Praktik Lapang


sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains
pada
Departemen Kimia

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015
4
5

Judul Praktik Lapang : Validasi Metode Penentuan Nitrat (N-NO3) dalam Air
dengan Reduksi Kolom Cd-Cu secara Spektrofotometri
UV-Vis
Nama : Tuti Puspitawati
NIM : G44120007

Disetujui oleh

Dr Gustini Syahbirin, MS Foong Wei Chern, MSc


Pembimbing I Pembimbing II

Diketahui oleh

Prof Dr Dra Purwantiningsih Sugita, MS


Ketua Departemen

Tanggal Lulus :
6
7

PRAKATA

Alhamdulillah wasyukurillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan


kepada Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya sehingga laporan praktik lapang
ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam praktik lapang yang
dilaksanakan sejak bulan Juli 2015 sampai Agustus 2015 ini ialah Validasi
Metode Penentuan Nitrat (N-NO3) dalam Air dengan Reduksi Kolom Cd-Cu
secara Spektrofotometri UV-Vis.
Terima kasih penulis ucapkan kepada ibu Dr Gustini Syahbirin, MS selaku
dosen pembimbing yang telah memberikan saran serta bimbingan selama kegiatan
praktik lapang ini. Ucapan terima kasih pun penulis sampaikan kepada bapak
Foong Wei Chern, MSc selaku pembimbing lapang selama kegiatan praktik
lapang di PT Australian Laboratory Service (ALS) Indonesia. Tak lupa, penulis
mengucapkan terima kasih kepada seluruh staff dan karyawan PT ALS Indonesia
terutama kepada Rizky Aditya, SSi dan RR Saptayuanita Soraya, SSi yang sangat
membantu di laboratorium water quality. Penulis sangat mengucapkan terima
kasih kepada ayah, ibu, dan keluarga yang telah tulus ikhlas menyayangi,
mendoakan, dan mendukung. Terakhir, penulis mengucapkan terima kasih kepada
seluruh teman-teman seperjuangan kimia IPB angkatan 49.
Semoga laporan ini memberikan manfaat bagi pembaca dan
perkembangan ilmu pengetahuan.

Bogor, November 2015

Tuti Puspitawati
8
9

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR LAMPIRAN x
KEADAAN UMUM PT AUSTRALIAN LABORATORY SERVICE
INDONESIA 1
Sejarah dan Perkembangan Perusahaan 1
Visi dan Misi 2
Struktur Organisasi Perusahaan 2
Ruang Lingkup 2
PENDAHULUAN 4
Latar Belakang 4
Tujuan 5
Waktu dan Tempat 5
METODE 5
Bahan 5
Alat 6
Metode Percobaan 6
Preparasi Kolom Cd-Cu 6
Pembuatan Larutan Standar Induk NO3 1000 ppm 6
Pembuatan Deret Standar 6
Pembuatan Larutan NH4Cl-EDTA 7
Pembuatan Larutan NH4Cl-EDTA Encer 7
Pembuatan Pereaksi Warna 7
Pembuatan Larutan CuSO4 2% 7
Reduksi Larutan NO3 menjadi NO2 7
Analisis Secara Spektrofotometri UV-Vis 8
HASIL DAN PEMBAHASAN 9
SIMPULAN DAN SARAN 14
Simpulan 14
Saran 14
DAFTAR PUSTAKA 14
10

DAFTAR TABEL

1 Pembuatan deret standar 7


2 Hasil validasi metode penentuan nitrat dalam air 11

DAFTAR GAMBAR

1 Logo PT ALS 1
2 Reaksi antara nitrit dan sulfanilamida 9
3 Reaksi kopling antara senyawa diazonium dan N-(1-naftil)
etilenadiaminadihidroklorida 10

DAFTAR LAMPIRAN

1 Struktur organisasi PT ALS Indonesia 16


2 Struktur administrasi laboratorium PT ALS Indonesia 17
3 Skema kolom Cd-Cu 18
4 Kolom Cd-Cu yang dipakai untuk reduksi NO3 menjadi NO2 18
5 Spektrofotometer UV-Vis Shimadzu UV-1601PC yang digunakan selama
analisis 19
6 Hasil parameter linearitas 19
7 Hasil parameter limit deteksi instrumen 20
8 Hasil parameter limit deteksi metode estimasi 20
9 Hasil parameter limit deteksi metode 21
10 Hasil parameter limit kuantisasi 22
11 Hasil parameter ketelitian – keterulangan 23
12 Hasil parameter ketelitian – ketertiruan (intra-lab) 24
13 Hasil parameter ketepatan, ketidakpastian, dan perolehan kembali 26
1

KEADAAN UMUM PT AUSTRALIAN LABORATORY


SERVICE INDONESIA

Sejarah dan Perkembangan Perusahaan

PT Australian Laboratory Service (ALS) Indonesia adalah perusahaan


multinasional yang bergerak di bidang jasa analisis laboratorium, terutama yang
terkait dengan kimia lingkungan. Perusahaan ini merupakan hasil kerjasama
antara Indonesia dan Australia. PT ALS Indonesia secara khusus dan profesional
melayani jasa analisis kimia, pengembangan laboratorium, jasa analisis kimia
industri (hasil hutan, minyak, gas, dll), serta konsultan penanganan limbah.
Sebelum menjadi PT ALS Indonesia, perusahaan ini bernama PT Analitika
Sejahtera Lingkungan (ASL) Indonesia yang merupakan hasil kerjasama antara
Indonesia dan Kanada. PT ASL Indonesia telah mendapatkan izin untuk memulai
kegiatan perusahaan pada bulan November 1995 berdasarkan Kepres No.
518/PMA/1995. Akan tetapi, PT ASL Indonesia memulai kegiatan perusahaannya
pada tanggal 17 Januari 1996 dan diresmikan langsung oleh Perdana Menteri
Kanada, Jen Chretien.
Saham PT ASL Indonesia dibeli oleh ALS Global Organization pada
bulan April 2001. Setelah di bawah naungan ALS Global Organization, nama
perusahaan diubah dari PT ASL Indonesia menjadi PT ALS Indonesia. Pada tahun
2005, kepemilikan PT ALS Indonesia berubah menjadi hasil kerjasama antara 3
negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Australia. Awal perkembangan, PT ALS
Indonesia berlokasi di Jalan Raya Puncak Km 72,6 Cibogo, Bogor, Jawa Barat.
PT ALS Indonesia memiliki kantor pusat dan 2 kantor cabang. Saat ini, kantor
pusat PT ALS Indonesia berada di Kawasan Industri Sentul Jalan Cahaya Raya
Blok K, Bogor, Jawa Barat kode pos 16810. Sementara itu, kantor cabang
berlokasi di Balikpapan, Kalimantan Timur dan Duri, Pekanbaru, Riau. Logo
perusahaan yang dipakai oleh PT ALS Indonesia sama dengan logo ALS Global
Organization dan ALS di negara-negara lain (Gambar 1).

Gambar 1 Logo PT ALS


Laboratorium PT ALS Indonesia telah diakrediasi oleh Komite Akreditasi
Nasional (KAN) sebagai laboratorium pengujian dan kalibrasi yang sesuai dengan
ISO/IEC 17025:2005 dan SNI-19-17025-2000. Selain itu, akreditasi laboratorium
PT ALS Indonesia juga telah mendapatkan ISO guide 25 tentang sistem
manajemen mutu. Akreditasi laboratorium dilaksanakan setiap 4 tahun sekali oleh
KAN. Gubernur Jawa Barat merekomendasikan PT ALS Indonesia sebagai
laboratorium rujukan untuk analisis dalam bidang lingkungan. Rekomendasi
2

tersebut diberikan setelah melalui proses audit atas fasilitas laboratorium dan
metode analisis yang digunakan.

Visi dan Misi

Visi PT ALS Indonesia ialah menjadi bagian dari jaringan konsultan dan
jasa laboratorium lingkungan dalam lingkup ALS Global Organization, memiliki
operasi serta target pemasaran di tingkat dunia berdasarkan pada proses
pengembangan kemampuan teknis yang didukung dengan inovasi, integrasi, dan
fokus pada pelanggan. Sementara itu, PT ALS Indonesia memiliki misi untuk
memenuhi dan menjaga reputasi sebagai konsultan dan penyedia jasa
laboratorium lingkungan, memberikan tanggapan yang cepat dan positif terhadap
suatu perubahan untuk mendukung PT ALS Indonesia menjadi bagian grup
konsultan dan jasa laboratorium yan kompetitif.

Struktur Organisasi Perusahaan

PT ALS Indonesia merupakan perusahaan multinasional yang saham


perusahaannya dimiliki oleh 3 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Australia.
Semua kegiatan perusahan di bawah naungan ALS Global Organization yang
berpusat di Australia. Kegiatan yang berlangsung di perusahaan dipimpin oleh
seorang direktur utama yang membawahi langsung seluruh bagian. Saat ini,
general manager PT ALS Indonesia berasal dari PT ALS Malaysia yang juga
mengkoordinasi 3 PT ALS di bagian Asia, yaitu Indonesia, Malaysia, dan
Hongkong. Struktur organisasi PT ALS Indonesia terdiri atas direktur utama,
general manager, manajer bisnis, manajer keuangan dan administrasi, manajer
laboratorium, manajer mutu, koordinator K3, leader atau kepala bagian
laboratorium, analis, serta teknisi laboratorium (Lampiran 1).

Ruang Lingkup

Jasa laboratorium PT ALS Indonesia meliputi pemantauan kualitas


lingkungan, pengambilan contoh/sampel yang terdiri atas air, tanah, sedimen,
emisi dan udara, analisis kualitas air, analisis kimia organik, analisis logam,
analisis mikrobiologi, analisis udara, serta karakteristik limbah. Pelayanan jasa
laboratorium yang diberikan PT ALS Indonesia untuk para pelanggan harus
melalui prosedur administrasi laboratorium (Lampiran 2). Setiap sampel yang
dikirim pelanggan diterima oleh petugas penerima sampel kemudian didata,
diberikan identitas, dan didistribusikan ke laboratorium. Umumnya, waktu
analisis selama 12 hari kerja setelah sampel datang dan diterima oleh petugas
penerima sampel. Lamanya waktu analisis biasanya berhubungan dengan kontrak
atau perjanjian yang dibuat antara perusahaan dan pelanggan. Setelah sampel
dianalisis, laboratorium akan mengeluarkan sertifikat analisis (Certificate of
Analysis) untuk dilaporkan dan dievaluasi oleh teknisi laboratorium bagian
reporting. Sertifikat analisis yang telah dievaluasi disahkan oleh manajer
laboratorium, kemudian dikirim ke pelanggan.
PT ALS Indonesia memiliki 4 bagian laboratorium untuk melaksanakan
kegiatan analisis. Laboratorium yang dimiliki perusahaan ini terdiri atas :
3

1. Laboratorium kualitas air (water quality)


Laboratorium ini khusus untuk menganalisis sifat fisika dan kimia
dari air baik itu air permukaan, badan air, air minum, air tanah, limbah
cair, dll. Analisis yang dilakukan meliputi analisis Biochemical Oxygen
Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), nitrat (N-NO3), nitrit
(N-NO2), amonia, total nitrogen, fosfat, ortofosfat, total fosfat, sulfida,
klorida, flourida, sulfat, Total Organic Carbon (TOC), Total Organic
Matter (TOM), pH, alkalinitas, kesadahan, kekeruhan, dll. Instrumen yang
terdapat di laboratorium kualitas air antara lain spektrofotometri UV-Vis,
pH meter, TOC Analyzer, turbidimeter, dan ion selektif meter.

2. Laboratorium organik
Laboratorium ini khusus untuk menganalisis senyawa-senyawa
organik. Matriks sampel yang dianalisis di laboratorium ini berupa air dan
zat padat. Analisis yang dilakukan antara lain analisis Volatil Organic
Compounds (VOC), total petroleum hidrokarbon, oil and grase, fenol, dll.
Instrumen yang digunakan untuk mendukung analisis di laboratorium ini
antara lain kromatografi gas, kromatografi cair kinerja tinggi, dll.

3. Laboratorium mikrobiologi
Analisis yang dilakukan di laboratorium ini meliputi analisis
mikroba dan bakteri. Matriks sampel yang dianalisis berupa air, makanan,
kosmetik, dll. Instrumen yang mendukung analisis di laboratorium ini
salah satunya mikroskop cahaya.

4. Laboratorium logam (metal)


Analisis yang dilakukan di laboratorium ini meliputi analisis logam
Hg, Pb, Cd, Cu, Al, Cr, Mn, Mo, Ni, Zn, Fe, As, Se, dan analisis multi
elemen. Matriks sampel yang dianalisis berupa air, limbah, sedimen,
tanah, zat padat, udara, ikan, urin, dan darah manusia. Instrumen yang
mendukung analisis di laboratorium ini antara lain Flow Injection Mercury
System (FIMS), spektroskopi serapan atom tungku grafit, Inductively
Coupled Plasma – Optical Emission Spectrophotometer (ICP-OES),
spektrofotometer serapan atom hidrida, dan spektrofotometer serapan atom
nyala.
4

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Nitrat (NO3-) merupakan salah satu ion anorganik yang menjadi bagian
dari siklus nitrogen. Di perairan, nitrat dihasilkan dari proses nitrifikasi, yaitu
reaksi oksidasi amonia menjadi nitrit (NO2) dengan bantuan Nitrosomonas dan
reaksi oksidasi nitrit menjadi nitrat dengan bantuan Nitrobacter pada kondisi
aerob (Effendi 2003). Secara alami, keberadaan nitrat di perairan kadarnya tidak
lebih dari 0,1 mg/L. Adanya senyawa nitrat dalam air dengan kadar lebih dari 0,2
mg/L dapat menstimulasi terjadinya eutrofikasi. Eutrofikasi adalah suatu peristiwa
terjadinya ledakan pertumbuhan alga yang sangat cepat (blooming algae) akibat
kadar senyawa nitrogen dan fosfor yang tinggi. Eutrofikasi menimbulkan dampak
penurunan terhadap ekosistem air (Rustadi 2009). Pemantauan kadar nitrat dalam
air sangat diperhatikan untuk keperluan rumah tangga, seperti air minum. Nitrat
menjadi ancaman yang serius bagi kesehatan manusia terutama untuk bayi karena
dapat menyebabkan penyakit cyanosis (methemoglobinemia) atau disebut
sindrom bayi biru (blue-baby syndrom) (Herlambang 2006).
PT ALS Indonesia melakukan analisis kadar nitrat dalam air menggunakan
metode reduksi kolom kadmium-tembaga (Cd-Cu) secara spektrofotometri
Ultraviolet Visible (UV-Vis). Metode ini dapat digunakan untuk analisis nitrat
pada beberapa sampel air seperti air laut, air minum, air tanah, air permukaan, dan
limbah cair (inlet/outlet). Kelebihan metode ini antara lain memiliki nilai
ketepatan yang tinggi, nilai ketidakpastian yang rendah, dan sangat baik
digunakan untuk analisis kadar nitrat dibawah 0.1 ppm (APHA et al. 2012).
Sementara itu, kekurangan dari metode ini antara lain waktu analisis yang cukup
lama, kurang ramah lingkungan, dan banyaknya pengganggu. Berdasarkan
Material Safety Data Sheet (MSDS), Cd memiliki sifat toksik dan bahaya
terhadap kerusakan lingkungan.
Spektrofotometri UV-Vis merupakan metode analisis kuantitatif yang
didasarkan pada interaksi absorpsi cahaya oleh suatu zat. Absorpsi cahaya oleh
suatu zat dapat memengaruhi komponen elektronik, vibrasional, dan rotasional
dari keadaan dasar energi molekulernya. Peristiwa yang terjadi pada
spektrofotometri didasarkan pada hukum Lambert-Beer. Hukum Lambert-Beer
menyatakan bahwa banyaknya radiasi/cahaya yang diserap berbanding lurus
dengan konsentrasi suatu zat di dalam sampel (Skoog et al. 2014). Komponen
dasar spektrofotometer terdiri atas sumber radiasi, pemilih panjang gelombang,
kompartemen sampel, detektor, dan transduser atau pengolah sinyal. Prinsip kerja
spektrofotometri UV-Vis yaitu mengukur daya sinar yang diserap atau diteruskan
oleh suatu partikel sebagai fungsi dari panjang gelombang (Harvey 2000).
Spektrofotometri UV-Vis digunakan untuk analisis kadar nitrat karena larutan
yang terbentuk menghasilkan warna merah keunguan. Intensitas warna akan
berbanding lurus dengan konsentrasi.
Metode reduksi kolom Cd-Cu secara spektrofotometri UV-Vis ini
mengalami modifikasi dari metode standarnya. Modifikasi yang dilakukan yaitu
mengubah perbandingan volume yang digunakan untuk pembuatan larutan
NH4Cl-EDTA encer dari 3:5 menjadi 3:2. Modifikasi tersebut bertujuan
5

meningkatkan efektifitas pencucian kolom Cd-Cu saat aktivasi dan efisiensi bahan
yang digunakan. Suatu metode yang mengalami modifikasi harus divalidasi, agar
data yang dihasilkan akurat dan terpercaya. Menurut Harvey (2000), validasi
adalah proses untuk membuktikan bahwa suatu metode analisis menghasilkan
data analitik dengan presisi dan akurasi yang dapat diterima oleh pihak-pihak
yang berkepentingan/pengguna. Definisi validasi menurut SNI 19-17025-2000
yaitu konfirmasi melalui pengujian dan pengadaan bukti yang objektif bahwa
persyaratan tertentu untuk suatu maksud khusus dipenuhi.
Sementara itu, perbedaan validasi metode dan verifikasi metode terletak
pada parameter yang digunakan dan tidak adanya modifikasi pada metode standar.
Menurut Eurachem (2014), verifikasi metode adalah konfirmasi mengenai metode
standar yang diadopsi langsung tanpa ada perubahan atau modifikasi metode
standar tersebut. Parameter validasi dan verifikasi metode pada dasarnya sama
namun perbedaannya terletak pada parameter robustness dan ruggedness.
Beberapa parameter dalam memvalidasi suatu metode antara lain linearitas, limit
deteksi, limit kuantisasi, ketelitian/presisi yang terdiri atas keterulangan
(repeatability) dan ketertiruan (reproducibility), ketepatan, perolehan kembali
(recovery), ketidakpastian (uncertainty), selektifitas, sensitifitas, daerah kerja
(range), robustness, dan ruggedness (Riyanto 2015).

Tujuan

Praktik lapang ini bertujuan memvalidasi metode penentuan kadar nitrat


dalam air dengan reduksi kolom Cd-Cu secara spektrofotometri UV-Vis.

Waktu dan Tempat

Praktik lapang ini dilaksanakan mulai tanggal 1 Juli 2015 sampai 31


Agustus 2015 di Laboratorium Kualitas Air (Water Quality) PT ALS Indonesia.
Waktu praktik lapang dilaksanakan dari hari Senin sampai Jumat pukul 08.00 –
17.00 WIB. Khusus bulan Ramadhan, waktu praktik lapang dilaksanakan dari hari
Senin sampai Jumat pukul 08.00 – 16.00 WIB.

METODE

Bahan

Bahan kimia yang digunakan terdiri atas KNO3, butiran Cd dengan ukuran
40-60 mesh, HCl 3N, CuSO4 2%, CuSO4·5H2O, NH4Cl, asam
etilenadiaminatetraasetat (EDTA), NH4OH pekat, sulfanilamida, N-(1-naftil)-
etilenadiaminadihidroklorida, asam fosfat pekat, glass wool, akuades, dan
Certified Reference Material (CRM) ERA nomor lot Q032-505.
6

Alat

Alat-alat yang digunakan antara lain oven, desikator, neraca analitik, labu
Erlenmeyer 125 mL, gelas ukur 100 mL, gelas piala 500 mL, gelas piala 100 mL,
sudip, batang pengaduk, labu takar 1000 mL, labu takar 100 mL, labu takar 50
mL, labu takar 25 mL, seperangkat kolom reduksi, stop watch, statif, botol PE
(polietilena), mikropipet, dan spektrofotometer UV-Vis Shimadzu UV-1601PC.

Metode Percobaan

Metode percobaan mengacu pada Standard Methods for the Examination


of Water and Wastewater 22nd edition tahun 2012 No. 4500-NO3-E dan sesuai
SNI 6989.79:2011. Parameter validasi yang diujikan antara lain linearitas, limit
deteksi instrumen, limit deteksi metode, limit kuantisasi, ketelitian yang
mencakup keterulangan dan ketertiruan, ketepatan, ketidakpastian, serta perolehan
kembali.

Preparasi Kolom Cd-Cu


Butiran Cd ditimbang sebanyak 15 g menggunakan neraca analitik.
Butiran Cd tersebut dicuci dengan akuades sebanyak 2 kali ulangan. Selanjutnya
butiran Cd direndam dengan HCl 3N selama 30 menit menggunakan labu
Erlenmeyer. Perendaman dilakukan di ruang asam. Setelah 30 menit, butiran Cd
diaduk dalam 25 mL CuSO4 2% sampai warna biru hilang. Pengadukan butiran
Cd dalam CuSO4 2% dilakukan sebanyak 4 kali ulangan. Cd yang telah mengikat
Cu dibilas dengan akuades minimal 10 kali untuk menghilangkan endapan Cu
yang berwarna coklat.
Glass wool dimasukan ke dasar kolom dengan panjang ± 2 cm. Selang
tygon dan keran/cerat dipasang di bagian bawah kolom. Kolom dialiri akuades
dan diuji laju alirnya agar tidak ada gelembung. Butiran Cd-Cu dimasukan ke
dalam kolom yang telah diisi akuades dengan posisi keran tertutup. Pengisian
kolom dengan butiran Cd-Cu sepanjang 18.5 cm dengan sisa ruang pada kolom
sepanjang ± 2 cm (Lampiran 3 dan lampiran 4). Kolom Cd-Cu diaktivasi dengan
100 mL NH4Cl-EDTA encer, 100 mL larutan yang berisi 25 mL standar NO3 1
ppm dan 75 mL NH4Cl-EDTA, 100 mL NH4Cl-EDTA, dan 100 mL akuades.
Laju alir larutan yang keluar dari kolom diatur 7-10 mL/menit.

Pembuatan Larutan Standar Induk NO3 1000 ppm


KNO3 serbuk dipanaskan dalam oven dengan suhu 100°C selama 1 jam.
Setelah 1 jam, KNO3 serbuk diangkat dan didinginkan dalam desikator. KNO3
ditimbang sebanyak 7.2185 g, kemudian dilarutkan dalam akuades dan ditera
menggunakan labu takar 1000 mL. Larutan ini harus disimpan pada suhu ruang
dan kadaluarsa setelah 3 bulan.

Pembuatan Deret Standar


Larutan standar induk NO3 1000 ppm diencerkan menjadi 10 ppm.
Sebanyak 1 mL larutan standar induk NO3 1000 ppm dimasukan ke dalam labu
7

takar 100 mL. Deret standar dibuat dari larutan standar NO3 10 ppm
menggunakan labu takar 50 mL (Tabel 1).
Tabel 1 Pembuatan deret standar

Volume larutan standar NO3 10 ppm


Konsentrasi NO3 (ppm)
yang diambil (mL)
0.0100 0.050
0.0200 0.125
0.0500 0.250
0.1000 0.500
0.2000 1.000
0.5000 2.500

Pembuatan Larutan NH4Cl-EDTA


Sebanyak 26 g NH4Cl dan 3.4 g EDTA dilarutkan dalam 900 mL akuades.
pH larutan diatur sampai 8.5 dengan cara menambahkan NH4OH pekat. Larutan
diencerkan menjadi 2 L. Larutan ini disimpan pada suhu ruang dan kadaluarsa
setelah 3 bulan.

Pembuatan Larutan NH4Cl-EDTA Encer


Pada metode standar, perbandingan antara NH4Cl-EDTA dan air dibuat
3:5. Modifikasi metode standar dilakukan dengan mengubah perbandingan
tersebut menjadi 3:2. Sebanyak 300 mL larutan NH4Cl-EDTA diencerkan dengan
200 mL akuades. Larutan ini harus dibuat baru setiap akan digunakan, disimpan
pada suhu ruang, dan kadaluarsa setelah 3 bulan.

Pembuatan Pereaksi Warna


Pereaksi warna dibuat dengan cara melarutkan 10 g sulfanilamida, 1 g N-
(1-naftil)-etilena-diaminadihidroklorida ke dalam campuran 100 mL asam fosfat
pekat dan 800 mL akuades. Larutan ditera dengan akuades dalam labu takar 1000
mL. Larutan disimpan pada suhu ruang dan kadaluarsa setelah 3 bulan.

Pembuatan Larutan CuSO4 2%


Sebanyak 20 g CuSO4·5H2O dilarutkan dalam 500 mL akuades, kemudian
diencerkan menjadi 1000 mL. Larutan ini harus disimpan pada suhu ruang dan
kadaluarsa setelah 6 bulan.

Reduksi Larutan NO3 menjadi NO2


Kolom Cd-Cu yang telah diaktivasi siap digunakan untuk reduksi NO3
menjadi NO2. Sebanyak 25 mL larutan yang akan direduksi ditambahkan NH4Cl-
EDTA dalam labu takar 100 mL sampai tanda tera, kemudian dikocok hingga
homogen. Larutan tersebut dituangkan ke dalam kolom Cd-Cu, diukur laju alirnya
7-10 mL/menit, dan ditampung dengan gelas piala 100 mL. Sebanyak 25 mL hasil
tampungan pertama dibuang dan sisanya dikumpulkan dalam botol PE. Larutan
yang telah direduksi tidak boleh dibiarkan selama lebih dari 15 menit sebelum
penambahan pereaksi warna.
Pengujian parameter linearitas menggunakan larutan deret standar sebagai
larutan yang akan direduksi dan dianalisis. Kurva standar dibuat dengan hubungan
8

antara konsentrasi dan absorbansi. Larutan yang digunakan untuk parameter Limit
Deteksi Instrumen (LDI) adalah larutan blanko yang berisi akuades. Untuk
parameter Limit Deteksi Metode (LDM), sebelumnya dilakukan pengujian LDM
estimasi dengan cara mereduksi larutan standar NO3 dengan konsentrasi terkecil
dari deret standar (0.0100 ppm). Hasil perhitungan nilai LDM estimasi dijadikan
acuan untuk pembuatan larutan standar NO3 yang akan digunakan sebagai
parameter LDM. Menurut Eurachem (1998), nilai limit deteksi baik LDI, LDM
estimasi, ataupun LDM dapat diperoleh berdasarkan perhitungan secara
matematis menggunakan rumus yang sama yaitu :

Limit Deteksi (LD) = 𝑥̅ + 3Standar Deviasi

dimana x adalah konsentrasi yang terbaca oleh alat.

Sementara itu, penentuan nilai Limit Kuantisasi (LK) menggunakan rumus


sebagai berikut :
LK = 𝑥̅ + 10Standar Deviasi
dimana x adalah konsentrasi yang terbaca oleh alat.

Pengujian parameter LK menggunakan larutan standar NO3 dengan


konsentrasi yang dibuat sama dengan nilai LK. Tujuan pengujian nilai LK
memastikan bahwa nilai LK memenuhi kriteria standar yang diterima di PT ALS
Indonesia. Pengujian parameter ketelitian terdiri atas keterulangan dan ketertiruan.
Pengujian keterulangan dilakukan dengan menganalisis larutan standar NO3 pada
3 titik kurva, yaitu low curve, midle curve, dan high curve. Penentuan 3 titik kurva
tersebut dipilih secara acak dengan menentukan konsentrasi larutan standar NO3
dari deret standar yang representatif. Pengujian keterulangan pada low curve
dipilih larutan standar NO3 dengan konsentrasi 0.0200 ppm. Pengujian
keterulangan pada midle curve dipilih larutan standar NO3 dengan konsentrasi
0.1000 ppm. Sementara itu, untuk pengujian keterulangan pada high curve dipilih
larutan standar NO3 dengan konsentrasi 0.4000 ppm.
Pengujian paramater ketertiruan dilakukan oleh 2 analis yang berbeda
dengan kondisi alat dan bahan yang sama. Larutan standar NO3 0.1000 ppm
digunakan untuk pengujian parameter ketertiruan. Larutan CRM ERA nomor lot
Q032-505 digunakan untuk penentuan paramater validasi yang terakhir yaitu
ketepatan. Semua larutan yang digunakan untuk parameter validasi disiapkan
sebanyak 25 mL dan ditambah 75 mL NH4Cl-EDTA dalam labu takar 100 mL.
Larutan dikocok hingga homogen, kemudian larutan dituangkan ke dalam kolom
Cd-Cu. Pengukuran dan analisis semua parameter validasi dilakukan sebanyak 7
kali ulangan. Jaminan mutu dilakukan untuk analisis setiap parameter validasi
menggunakan larutan Quality Control (QC) dan CRM. Konsentrasi larutan QC
yang ditetapkan yaitu 0.2000 ppm dan konsentrasi CRM yang ditetapkan yaitu
20.2 ppm.

Analisis secara spektrofotometri UV-Vis


Sebanyak 25 mL larutan yang telah direduksi melalui kolom reduksi Cd-
Cu, ditambahkan 1 mL pereaksi warna. Larutan dikocok dan didiamkan selama ±
10 menit. Larutan dianalisis dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang
9

gelombang (λ) 540 nm. Koreksi terhadap nitrit yang telah ada sebelumnya dalam
larutan atau sampel, dilakukan dengan cara mengukur larutan dengan
spektrofotometer UV-Vis pada λ = 540 nm tanpa melalui tahap reduksi kolom Cd-
Cu. Total nitrat dalam suatu larutan atau sampel dapat dihitung berdasarkan
selisih antara total nitrit hasil reduksi dan nitrit yang sudah ada sebelumnya dalam
sampel. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
NO3-N (ppm) = [T] – [NO2]
dimana [T] adalah konsentrasi total nitrit hasil reduksi (ppm), dan [NO2] adalah
konsentrasi nitrit yang sudah ada sebelumnya dalam sampel (ppm).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Metode reduksi kolom Cd-Cu secara spektrofotometri UV-Vis merupakan


salah satu metode penentuan nitrat dalam air. Prinsip dasar metode ini yaitu
mereduksi nitrat menjadi nitrit secara kuantitatif oleh butir-butir Cd yang telah
mengikat Cu dan dikemas dalam kolom. Menurut Lima et al. (2006) reaksi
reduksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
NO3- + 2H+ + Cd NO2- + Cd2+ + H2O
Total nitrit yang terbentuk direaksikan dengan pereaksi warna yang mengandung
sulfanilamida dan N-(1-naftil)-etilenadiaminadihidroklorida. Nitrit akan bereaksi
diazotisasi dengan sulfanilamida dalam suasana asam membentuk 4-
sulfamoilbenzenadiazonium (Gambar 2).
+
O N

NO2-+2H+ + H2N S NH2 +N SO3H + 2H2O

O
sulfanilamide 4-sulfamoilbenzenadiazonium

Gambar 2 Reaksi antara nitrit dan sulfanilamida (Mir 2008)

4-sulfamoilbenzenadiazonium akan bereaksi kopling dengan N-(1-naftil)-


etilenadiaminadihidroklorida membentuk senyawa azo, yaitu asam (E)-4-((4-((2-
aminoetil)amino)naftalen-1-il)diazenil)benzenasulfonat yang berwarna merah
keunguan (Gambar 3). Menurut Daniel et al. (2009) senyawa azo yang berwarna
merah keunguan dapat dianalisis secara spektrofotometri UV-Vis pada λ = 540
nm.
10

NHCH2CH2NH2.2HCl
+
N NHCH2CH2NH2.2HCl
N
+N SO3H + SO3H N +H+

4-
sulfamoilbenzenadia N-(1-naftil)- Asam (E)-4-((4-((2-aminoetil)amino)naftalen-1-
zonium etilenadiaminadihidroklorida il)diazenil)benzenasulfonat

Gambar 3 Reaksi kopling antara senyawa diazonium dan N-(1-naftil)


etilenadiaminadihidroklorida (Mir 2008)
Secara garis besar, metode percobaan ini terdiri atas preparasi kolom Cd-
Cu, reduksi larutan nitrat menjadi nitrit melalui kolom Cd-Cu, dan pengukuran
absorbansi larutan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Pada preparasi kolom
Cd-Cu, butir-butir Cd mengalami perlakuan khusus sebelum digunakan untuk
mereduksi nitrat menjadi nitrit. Perlakuan khusus tersebut antara lain pencucian
dengan akuades, perendaman dengan HCl 3N, pengadukan dalam CuSO4 2%, dan
aktivasi kolom Cd-Cu. Pencucian dengan akuades dan perendaman dengan HCl
3N berfungsi untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada
permukaan Cd. Pengadukan dalam CuSO4 2% berfungsi untuk mereaksikan Cd
agar mengikat Cu. Butir-butir Cd yang telah mengikat Cu ditandai dengan
perubahan warna larutan yang semakin lama warna birunya semakin memudar.
Setelah diaduk dalam CuSO4 2%, butir-butir Cd dicuci kembali dengan akuades
yang berfungsi untuk meghilangkan endapan Cu yang terbentuk berwarna coklat.
Aktivasi kolom Cd-Cu bertujuan agar butir-butir Cd-Cu dapat mereduksi
nitrat menjadi nitrit. Aktivasi tersebut dilakukan dengan cara melewatkan larutan
NH4Cl-EDTA encer, standar NO3 1 ppm, NH4Cl-EDTA, dan akuades ke dalam
kolom Cd-Cu. Pada kolom Cd-Cu, glass wool dipasang pada bagian bawah kolom
dengan tujuan menahan butir-butir Cd-Cu agar tidak menyumbat kolom. Laju alir
larutan diatur menjadi 7-10 mL/menit. Laju alir 7-10 mL/menit merupakan laju
alir larutan yang paling optimum. Pengaturan laju alir larutan menjadi hal yang
krusial, hal tersebut disebabkan karena pengaturan laju alir larutan berpengaruh
pada hasil reduksi. Apabila laju alirnya lebih cepat, maka tidak semua nitrat
tereduksi menjadi nitrit. Sementara itu, apabila laju alirnya lebih lambat maka
nitrit hasil reduksi dapat teroksidasi kembali menjadi nitrat dengan adanya udara.
Kemudahan nitrit teroksidasi kembali menjadi nitrat menjadi salah satu
pertimbangan bahwa larutan yang telah direduksi tidak boleh didiamkan lebih dari
15 menit. Tujuan pembuangan 25 mL hasil reduksi pertama adalah menghindari
adanya kontaminasi dari larutan sebelumnya yang melewati kolom.
Interferensi (pengganggu) dalam analisis dengan metode ini antara lain
gelembung udara, zat tersuspensi, minyak dan lemak dalam sampel, residual
klorin, serta ion-ion logam seperti Cu2+, Fe2+,dan Fe3+. Gelembung udara dapat
mengganggu laju alir larutan dalam kolom, selain itu gelembung udara dapat
mengoksidasi nitrit menjadi nitrat. Zat tersuspensi dalam kolom juga mengganggu
laju alir larutan. Untuk sampel yang memiliki turbiditas tinggi, sampel harus
disaring menggunakan kertas saring berukuran 0.45 μm. Minyak dan lemak dapat
11

melapisi permukaan Cd. Oleh karena itu, sampel yang mengandung minyak dan
lemak harus diekstrak terlebih dahulu dengan pelarut organik. Residual klorin
dapat mengoksidasi kolom Cd dan menurunkan efisiensi reduksi nitrat menjadi
nitrit. Penghilangan residual klorin dapat dilakukan dengan cara menambahkan
natrium tiosulfat (Na2S2O3). Sementara itu, ion-ion logam seperti Cu2+, Fe2+,dan
Fe3+ dapat menurunkan efisiensi reduksi kolom Cd-Cu. Penambahan larutan
EDTA pada setiap sampel yang akan direduksi dapat menghilangkan pengganggu
yang berasal dari ion-ion logam tersebut. EDTA akan mengompleks ion-ion
logam tersebut (APHA et al. 2012).
Validasi metode merupakan usaha untuk menjamin mutu hasil pengujian
melalui konfirmasi pengadaan bukti yang objektif. Validasi suatu metode
diperlukan jika suatu metode standar mengalami modifikasi. Modifikasi yang
dilakukan pada percobaan praktik lapang ini yaitu mengubah volume
perbandingan antara NH4Cl-EDTA dan air dari 3:5 menjadi 3:2 pada pembuatan
larutan NH4Cl-EDTA encer. Modifikasi tersebut bertujuan meningkatkan
efektifitas pencucian kolom Cd-Cu saat aktivasi dan efisiensi bahan yang
digunakan. Parameter validasi yang diuji antara lain linearitas, limit deteksi
instrumen, limit deteksi metode, limit kuantisasi, ketelitian yang mencakup
keterulangan dan ketertiruan, ketepatan, ketidakpastian, serta perolehan kembali.
Validasi metode penentuan nitrat dalam air dengan reduksi kolom Cd-Cu secara
spektrofotometri UV-Vis menunjukkan hasil yang memenuhi kriteria standar PT
ALS Indonesia (Tabel 2). Hal tersebut menginterpretasikan bahwa metode ini
tervalidasi dengan baik serta menghasilkan data yang terpercaya dan sahih.
Tabel 2 Hasil validasi metode penentuan nitrat dalam air
Parameter validasi Kriteria standar yang diterima Hasil
Linearitas R2= 0.9950 R2= 0.9992
Limit Deteksi Instrumen (LDI) Respon positif 0.0031
Limit Deteksi Metode (LDM) estimasi Respon positif 0.0237
LDM Respon positif 0.0254
Limit Kuantisasi (LK) 2
RSD (%) ≤ CV Horwitz (%) 4.29% ≤ 16.67%
3
Ketelitian :
Keterulangan
2
Low curve RSD (%) ≤ CV Horwitz (%) 9.02% ≤ 19%
3
2
Midle curve RSD (%) ≤ CV Horwitz (%) 1.08% ≤ 15%
3
2
High curve RSD (%) ≤ CV Horwitz (%) 0.36% ≤ 12.18%
3
Ketertiruan 2 A: 1.08% ≤ 15%
RSD (%) ≤ CV Horwitz (%)
3 B : 1.71% ≤ 14.79%
Ketepatan >90% 99.08%
Ketidakpastian ± nilai ketidakpastian 𝑥̅ = -0.19
Perolehan kembali >90% 𝑥̅ = 99.08%

Uji linearitas suatu metode analisis digunakan untuk membuktikan adanya


hubungan linear antara konsentrasi dan absorbansi. Penetapan linearitas dilakukan
dengan mengukur deret standar nitrat dari konsentrasi rendah sampai konsentrasi
tinggi. Berdasarkan hasil validasi metode terhadap parameter linearitas diperoleh
koefisien korelasi (R2) yang nilainya mendekati 1 dan lebih besar daripada kriteria
12

standar PT ALS Indonesia (Tabel 2). Kurva standar (Lampiran 6)


menginterpretasikan bahwa metode penetapan kadar nitrat ini akan memberikan
hubungan absorbansi dengan konsentrasi yang representatif dari konsentrasi
0.0100 ppm hingga 0.5000 ppm. Persamaan regresi linear dari kurva standar dapat
digunakan untuk analisis secara kuantitatif.
Pengujian terhadap limit deteksi terdiri atas LDI, LDM estimasi, dan
LDM. Menurut IUPAC limit deteksi adalah konsentrasi atau jumlah absolut analat
terkecil yang mempunyai sinyal secara signifikan lebih besar dari sinyal yang
muncul dari pereaksi blanko. Pengujian LDI bertujuan mengetahui kemampuan
suatu instrumen untuk mendeteksi adanya sinyal dari analat. LDI merupakan batas
minimum konsentrasi analat yang masih dapat dibaca oleh instrumen. Hasil
validasi metode terhadap parameter LDI menunjukkan bahwa spektrofotometer
UV-Vis Shimadzu UV-1601PC memiliki LDI 0.0031 ppm. Hal tersebut
menginterpretasikan bahwa pengukuran nitrat dengan konsentrasi di bawah nilai
LDI akan menunjukkan derau instrumental.
Sebelum pengujian LDM, dilakukan pengujian LDM estimasi dengan
tujuan mengetahui apakah konsentrasi terendah dari deret standar termasuk nilai
LDM. Apabila hasil LDM estimasi menunjukkan respon positif, maka nilai LDM
estimasi yang diperoleh dapat dijadikan acuan untuk pembuatan konsentrasi
larutan standar NO3 yang digunakan untuk pengujian LDM yang sebenarnya.
Hasil validasi metode terhadap parameter LDM estimasi menunjukkan bahwa
konsentrasi terendah dari deret standar tidak termasuk LDM, karena nilai LDM
estimasi yang diperoleh lebih besar daripada 0.0100 ppm (Lampiran 8). LDM
digunakan untuk mengetahui konsentrasi terkecil dari analat yang dapat
menghasilkan respon nyata setelah melalui tahapan-tahapan dari suatu metode
analisis secara lengkap. Hasil validasi metode terhadap parameter LDM
menunjukkan bahwa analat dapat diukur dengan baik pada konsentrasi ≥ 0.0237
ppm setelah melalui tahapan metode analisis secara lengkap.
Menurut Harvey (2000), LK adalah jumlah terkecil atau konsentrasi
terkecil dari suatu analat yang dapat ditentukan dengan dapat dipercaya (reliable).
Pengujian parameter LK bertujuan menetukan batas konsentrasi terkecil yang
dapat ditetapkan dengan tingkat presisi dan kebenarannya dapat
dipertanggungjawabkan. Hasil validasi metode terhadap parameter LK
menunjukkan bahwa batas konsentrasi terkecil dari NO3 yang dapat dipercaya
adalah 0.0495 ppm. Penentuan nilai LK menggunakan data LDM estimasi.
Larutan standar NO3 dibuat dengan konsentrasi yang nilainya sama dengan LK
kemudian direduksi melalui kolom Cd-Cu. Pengujian nilai LK bertujuan
memastikan bahwa nilai LK memenuhi kriteria standar yang diterima di PT ALS
Indonesia.
Kriteria standar yang diterima untuk parameter LK yaitu simpangan baku
relatifnya atau Relative Standar Deviation (RSD) harus lebih kecil dari 2/3
persamaan CV Horwitz. Menurut Riyanto (2015), nilai RSD menggambarkan
ketelitian suatu metode. Jika nilai RSD ≤ 1%, maka metode tersebut memiliki
ketelitian yang sangat tinggi. Jika nilai RSD antara 1% - 2%, maka metode
tersebut memiliki ketelitian yang tinggi. Jika nilai RSD antara 2% - 5%, maka
metode tersebut memiliki ketelitian sedang. Jika nilai RSD ≥ 5% maka metode
tersebut memiliki ketelitian yang rendah. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai
13

RSD dari parameter LK menunjukkan bahwa metode penentuan nitrat ini


memiliki ketelitian sedang.
Ketelitian merupakan kedekatan antara nilai observasi yang dilakukan
berulang. Pengujian parameter ketelitian terdiri atas keterulangan dan ketertiruan.
Parameter keterulangan dilakukan pada 3 titik kurva, yaitu low curve, midle curve,
dan high curve. Pemilihan 3 titik kurva tersebut dilakukan secara acak namun
representatif. Titik low curve, midle curve, dan high curve dipilih secara berturut-
turut 0.0200 ppm, 0.1000 ppm, dan 0.4000 ppm. Hasil validasi metode terhadap
parameter keterulangan menunjukkan bahwa semua titik kurva yang diuji
memenuhi kriteria standar yang diterima di PT ALS Indonesia yaitu nilai RSDnya
harus lebih kecil dari 2/3 persamaan CV Horwitz. Dari ketiga titik kurva tersebut,
ketelitian yang sangat tinggi diperoleh pada titik high curve yaitu 99.64% dengan
nilai RSD yang paling rendah. Namun pada dasarnya nilai ketelitian dari 3 titik
kurva tersebut menunjukkan hasil yang baik dengan nilai > 90% (Lampiran 11).
Berdasarkan hasil validasi metode terhadap parameter keterulangan,
terdapat kaitan antara parameter LK dengan keterulangan. Nilai LK yang
diperoleh yaitu 0.0495 ppm dengan nilai RSD 4.29% yang menunjukkan
ketelitian yang sedang. Hal tersebut diperkuat oleh hasil keterulangan pada titik
low curve yang menunjukkan ketelitian rendah. Dari 2 informasi tersebut terdapat
kaitan yang tersirat bahwa penentuan kadar nitrat di bawah 0.0495 ppm akan
menghasilkan data dengan ketelitian yang rendah. Hal tersebut dibuktikan oleh
hasil keterulangan pada titik low curve yang memiliki nilai RSD 9.02% yang
menurut Riyanto (2015) nilai RSD ≥ 5% menunjukkan ketelitian yang rendah.
Pengujian parameter ketelitian yang mencakup ketertiruan dilakukan oleh
2 analis yang berbeda, namun kondisi alat dan bahan yang digunakan sama (intra-
lab). Hasil validasi metode terhadap parameter ketertiruan menunjukkan bahwa
hasil analisis yang dilakukan oleh 2 analis yang berbeda memenuhi kriteria
standar yang diterima di PT ALS Indonesia. Ketertiruan dari metode penentuan
kadar nitrat ini menunjukkan nilai ketelitian yang tinggi yaitu > 95% dengan RSD
antara 1% - 2% (Lampiran 12). Uji statitiska seperti uji Fisher (uji F) dan
student’s test (uji-t) dilakukan untuk membandingkan hasil analisis dari 2 analis
yang berbeda. Uji F digunakan untuk membandingkan 2 varians apakah keduanya
berasal dari distribusi dasar yang sama. Sementara itu, uji-t digunakan untuk
membandingkan rataan dari 2 sampel yang akan mengindikasikan adanya
perbedaan secara nyata ataupun tidak. Hasil uji F dan uji-t menunjukkan bahwa
tidak ada perbedaan yang nyata dari hasil kedua analis tersebut dan data yang
dihasilkan berasal dari distribusi dasar yang sama.
Larutan CRM digunakan sebagai larutan induk untuk parameter ketepatan.
Ketepatan adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa dekat nilai observasi
dengan nilai sebenarnya. Berdasarkan sertifikat analisis CRM ERA, nilai
konsentrasi tetap untuk parameter nitrat dan nitrit (NO3-N & NO2-N) adalah
20.2000 mg/L atau 20.2000 ppm, dengan nilai ketidakpastian 5.56 %. Hasil
validasi menunjukkan bahwa metode ini tepat digunakan untuk analisis kadar
nitrat. Hal tersebut didukung oleh data hasil validasi yang menunjukkan nilai
ketepatan yang tinggi yaitu 99.08% dengan persentase perolehan kembali sebesar
99.08%. Selain itu, nilai ketidakpastian dari metode ini lebih kecil dari 5.56%.
14

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Metode reduksi kolom Cd-Cu secara spektrofotometri UV-Vis valid


digunakan untuk penentuan kadar nitrat dalam air. Metode ini menghasilkan data
yang sahih dan terpercaya. Berdasarkan pengujian 10 parameter, hasil validasi
memenuhi kriteria standar yang diterima di PT ALS Indonesia. Penentuan kadar
nitrat pada konsentrasi di bawah nilai limit kuantisasi yaitu 0.0495 ppm
menunjukkan hasil dengan ketelitan yang rendah. Hal tersebut diperkuat oleh
hasil pengujian parameter keterulangan pada titik low curve (0.0200 ppm) yang
memiliki nilai RSD sebesar 9.02% yang menunjukkan bahwa ketelitiannya
rendah. Metode ini memiliki nilai ketelitian yang baik ketika digunakan untuk
penentuan kadar nitrat di atas 0.1000 ppm. Ketepatan dari metode ini sangat tinggi
yaitu 99.08% dengan persentase perolehan kembali sebesar 99.08%.

Saran

Sebaiknya dilakukan penentuan serapan panjang gelombang maksimum


sebelum melakukan pengujian beberapa parameter validasi. Selain itu, dalam
memvalidasi metode sebaiknya dilakukan pengujian parameter limit deteksi
instrumen dengan cara pengenceran bertingkat dan dilakukan sebelum pengujian
parameter linearitas.

DAFTAR PUSTAKA

[APHA; AWWA; WEF] American Public Health Association; American Water


Work Association; Water Environment Federation. 2012. Standard
Method For the Examination of Water and Waste Water 22nd Ed.
Washington DC (US) : APHA.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2000. SNI 19-17025-2000 : Persyaratan
Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Laboratorium
Kalibrasi. Jakarta (ID) : BSN.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2011. SNI 6989.79:2011 : Cara Uji Nitrat
(NO3-N) dengan Spektrofotometer UV-visibel secara Reduksi Kadium.
Jakarta (ID) : BSN.
Daniel W L, Han M S, Lee J S, Mirkin C A. 2009. Colorimetric nitrite and nitrate
detection with gold nanoparticle probes and kinetic end points. American
Chemical Soc. 131(18):6362-6363.doi:10.1021/ja901609k.
Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Yogyakarta (ID) : Kanisius.
Eurachem. 1998. The Fitness for Purpose of Analytical Methods : A Laboratory
Guide to Method Validation and Related Topics 1st Ed. [tempat tidak
diketahui] : LGC UK
15

Eurachem. 2014. The Fitness for Purpose of Analytical Methods : A Laboratory


Guide to Method Validation and Related Topics 2nd Ed. [tempat tidak
diketahui] : LGC UK
Harvey D. 2000. Modern Analytical Chemistry. New York (US) : McGraw-Hill.
Herlambang A. 2006. Pencemaran air dan strategi penanggulangannya. Jurnal Air
Indonesia. 2(1):16-29.
Lima M J R, Fernandes S M V, Rangel A O S S. 2006. Determination of nitrate
and nitrite in dairy samples by sequential injection using an in-line
cadmium-reducing column. International Dairy Journal. 16:1442-1447.
Mir S A. 2008. A rapid technique for determination of nitrate and nitric acid by
acid reduction and diazotization at elevated temperature. Analytica
Chimica Acta. 620(1-2):183-189.
Riyanto. 2015. Validasi & Verifikasi Metode Uji Sesuai dengan ISO/IEC 17025
Laboratorium Pengujian dan Kalibrasi. Yogyakarta (ID) : Deepublish.
Rustadi. 2009. Eutrofikasi nitrogen dan fosfor serta pengendaliannya dengan
perikanan di Waduk Sermo. Jurnal Manusia dan Lingkungan. 16(3):176-
186.
Skoog D A, West D M, Holler F J, Crouch S R. 2014. Fundamental of Analytical
Chemistry 9th Ed. Belmont (US) : Brook/Cole-Thomson Learning.
16

LAMPIRAN

Lampiran 1 Struktur organisasi PT ALS Indonesia

Direktur Utama

General Manager

Manajer Manajer Manajer Manajer Kordinator


Bisnis Keuangan & Laboratorium Mutu K3
Administrasi

Manajer Staff Supervisor


Pemasaran & Keuangan & Laboratorium
Customer Administrasi
Service

Staff
Pemasaran & Login Lab
Customer Officer Administration
Service

Leader Divisi Leader Divisi Leader Divisi Leader Divisi


Logam Organik Kualitas Air Sampling Lapang

Analis & Analis & Analis & Analis &


Teknisi Teknisi Teknisi Teknisi
Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium
17

Lampiran 2 Struktur administrasi laboratorium PT ALS Indonesia

Pelanggan

Bagian penerimaan
contoh Analisis setiap
Sampel parameter dilakukan
disimpan di tidak melebihi dari
ruang lama waktu analisis
1 Minggu Pencatatan dalam pendingin yang ditentukan
buku penerimaan
sampel

Analisis sesuai
permintaan Pengawasan setiap analisis :
pelanggan a. Blanko
b. CRM (Certified
Reference Material)
c. Duplo
Penyimpanan setiap parameter hasil d. Spike
analisis dalam arsip berbeda

3 Hari
Memasukkan data
ke komputer

Mencetak data untuk Data diperiksa oleh


pelanggan manajer laboratorium

Pelaporan data untuk


pelanggan
18

Lampiran 3 Skema kolom Cd-Cu

100 mL 10 cm

3 cm diameter dalam

Ruang sisa 2 cm

Butiran Cd-Cu
25 cm
3.5 mm diameter kolom bagian 18.5 cm
dalam

Glass wool

Selang tygon
Keran/cerat

Lampiran 4 Kolom Cd-Cu yang dipakai untuk reduksi NO3 menjadi NO2
19

Lampiran 5 Spektrofotometer UV-Vis Shimadzu UV-1601PC yang digunakan


selama analisis

Lampiran 6 Data linearitas


Konsentrasi (ppm) Absorbansi
0.0100 0.0230
0.0200 0.0790
0.0500 0.1550
0.1000 0.3170
0.2000 0.5740
0.5000 1.3980
Kriteria yang diterima R2= 0.9950

1,6000
y = 2,7691x + 0,0182
1,4000
R² = 0,9992
1,2000

1,0000
Absorbansi

0,8000

0,6000

0,4000

0,2000

0,0000
0,0000 0,1000 0,2000 0,3000 0,4000 0,5000 0,6000
Konsentrasi NO3 (ppm)
20

Lampiran 7 Data limit deteksi instrumen


Ulangan Konsentrasi yang terbaca
oleh alat (ppm)
1 0.0006
2 0.0020
3 0.0007
4 0.0019
5 0.0013
6 0.0010
7 0.0001
Rerata 0.0011
Standar Deviasi 0.0007
Limit Deteksi Instrumen (LDI) 0.0031
Kriteria yang diterima Respon positif

Contoh perhitungan :
𝑛 𝑋𝑖
Rerata (𝑥̅ ) = ∑𝑖=1
𝑛
(0.0006 + 0.0020 + 0.0007 + 0.0019 + 0.0013 + 0.0010 + 0.0001)ppm
=
7
= 0.0011 ppm

∑𝑛 ̅ 2
𝑖=1(𝑋𝑖−𝑋)
Standar Deviasi = √
𝑛−1

2 +(0.0020−0.0011)2+(0.0007−0.0011)2 +(0.0019−0.0011)2 +(0.0013−0.0011)2 +(0.0010−0.0011)2 +(0.0001−0.0011)2


(0.0006−0.0011)
= √ 7−1
= 0.0007

LDI = 𝑥̅ + 3Standar Deviasi


= 0,0011 + 3(0.0007)
= 0.0031

Lampiran 8 Data limit deteksi metode estimasi


Ulangan Konsentrasi yang terbaca oleh
alat (ppm)
1 0.0100
2 0.0190
3 0.0100
4 0.0102
5 0.0100
6 0.0122
7 0.0165
Rerata 0.0126
Standar Deviasi 0.0037
Limit Deteksi Metode (LDM) estimasi 0.0237
Kriteria yang diterima Respon positif
Konsentrasi aktual/spike : 0.0100 ppm
21

Contoh perhitungan :
𝑛 𝑋𝑖
Rerata (𝑥̅ ) = ∑𝑖=1
𝑛
(0.0100+0.0190+0.0100+0.0102+0.0100+0.0122+0.0165)ppm
= = 0.0126 ppm
7
∑𝑛 ̅ 2
𝑖=1(𝑋𝑖−𝑋)
Standar Deviasi =√
𝑛−1
(0.0100 − 0.0126)2 + (0.0190 − 0.0126)2 + (0.0100 − 0.0126)2 + (0.0102 − 0.0126)2 + (0.0100 − 0.0126)2 + (0.0122 − 0.0126)2 + (0.0165 − 0.0126)2
=√
7−1

= 0.0037

LDM estimasi = 𝑥̅ + 3Standar Deviasi


= 0.0126 + 3(0.0037)
= 0.0237

Lampiran 9 Data limit deteksi metode


Ulangan Konsentrasi yang terbaca oleh
alat (ppm)
1 0.0201
2 0.0219
3 0.0207
4 0.0201
5 0.0238
6 0.0207
7 0.0193
Rerata 0.0209
Standar Deviasi 0.0015
Limit Deteksi Metode (LDM) 0.0254
Relative Standar Deviation (RSD)
7.04
(%)
Kriteria yang diterima Respon positif
Konsentrasi aktual/spike : 0.0237 ppm
Contoh perhitungan :
𝑛 𝑋𝑖
Rerata (𝑥̅ ) = ∑𝑖=1
𝑛
(0.0201+0.0219+0.0207+0.0201+0.0238+0.0207+0.0193)ppm
= = 0.0209 ppm
7

∑𝑛 ̅ 2
𝑖=1(𝑋𝑖−𝑋)
Standar Deviasi = √
𝑛−1
(0.0201 − 0.0209)2 + (0.0219 − 0.0209)2 + (0.0207 − 0.0209)2 + (0.0201 − 0.0209)2 + (0.0238 − 0.0209)2 + (0.0207 − 0.0209)2 + (0.0193 − 0.0209)2
=√
7−1

= 0.0015

LDM = 𝑥̅ + 3Standar Deviasi


= 0.0209 + 3(0.0015)
= 0.0254
𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖 0.0015
RSD (%) = x 100 = x 100 = 7.04 %
𝑥̅ 0.0209
22

Lampiran 10 Data limit kuantisasi

Ulangan Konsentrasi yang terbaca oleh


alat (ppm)
1 0.0514
2 0.0527
3 0.0509
4 0.0557
5 0.0493
6 0.0497
7 0.0503
Rerata 0.0514
Standar Deviasi 0.0022
Limit Kuantisasi (LK) 0.0495
Relative Standar Deviation (RSD)
4.29
(%)
CV Horwitz (%) 25.01
2
CV Horwitz (%) 16.67
3
2
Kriteria yang diterima RSD ≤ CV Horwitz
3

Konsentrasi aktual/spike : 0.0495 ppm = 0.0500 ppm


Contoh perhitungan :
𝑛 𝑋𝑖
Rerata (𝑥̅ ) = ∑𝑖=1
𝑛
(0.0514+0.0527+0.0509+0.0557+0.0493+0.0497+0.0503)ppm
= 7
= 0.0514 ppm

∑𝑛 ̅ 2
𝑖=1(𝑋𝑖−𝑋)
Standar Deviasi =√
𝑛−1
(0.0514 − 0.0514)2 + (0.0527 − 0.0514)2 + (0.0509 − 0.0514)2 + (0.0557 − 0.0514)2 + (0.0493 − 0.0514)2 + (0.0497 − 0.0514)2 + (0.0503 − 0.0514) 2
=√
7−1

= 0.0022

LK = 𝑥̅ + 10Standar Deviasi
= 0.0126 + 10(0.0037)
= 0.0495
Penentuan nilai LK menggunakan data LDM estimasi

𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖 0.0022


RSD (%) = x 100 = x 100 = 4.29 %
𝑥̅ 0.0514

𝐶𝑉𝐻𝑜𝑟𝑤𝑖𝑡𝑧 (%) = 21−0.5 log 𝐶


𝐶𝑉𝐻𝑜𝑟𝑤𝑖𝑡𝑧 (%) = 21−0.5 log 0.0000000514 = 25.01 %
2 2
maka : CV Horwitz (%) = x 25.01 % = 16.67 %
3 3
Note : Satuan konsentrasi diubah menjadi g/mL
23

Lampiran 11 Data ketelitian – keterulangan


Konsentrasi yang terbaca oleh alat (ppm)
Ulangan Low curve Midle curve High curve
(0.0200 ppm) (0.1000 ppm) (0.4000 ppm)
1 0.0241 0.1029 0.4154
2 0.0236 0.1042 0.4160
3 0.0232 0.1022 0.4127
4 0.0201 0.1045 0.4127
5 0.0203 0.1030 0.4124
6 0.0196 0.1023 0.4140
7 0.0201 0.1050 0.4124
Rerata 0.0216 0.1034 0.4137
Standar Deviasi 0.0019 0.0011 0.0015
Ketelitian (%) 91.20 98.94 99.64
RSD (%) 9.02 1.08 0.36
CV Horwitz (%) 28.50 22.51 18.27
2
CV Horwitz (%) 19 15 12.18
3
2
Kriteria yang diterima RSD ≤ CV Horwitz
3

Contoh perhitungan (Keterulangan pada titik low curve) :


𝑛 𝑋𝑖
Rerata (𝑥̅ ) = ∑𝑖=1
𝑛
(0.0241+0.0236+0.0232+0.0201+0.0203+0.0196+0.0201)ppm
= = 0.0216 ppm
7

∑𝑛 ̅ 2
𝑖=1(𝑋𝑖−𝑋)
Standar Deviasi =√
𝑛−1
(0.0241 − 0.0216)2 + (0.0236 − 0.0216)2 + (0.0232 − 0.0216)2 + (0.0201 − 0.0216)2 + (0.0203 − 0.0216)2 + (0.0196 − 0.0216)2 + (0.0201 − 0.0216)2
=√
7−1

= 0.0019

𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖
Ketelitian (%) = (1 − ( )) x 100
𝑥̅
0.0019
= (1 − (0.0216)) x 100 = 91.20 %

𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖 0.0019


RSD (%) = x 100 = x 100 = 9.02 %
𝑥̅ 0.0216

𝐶𝑉𝐻𝑜𝑟𝑤𝑖𝑡𝑧 (%) = 21−0.5 log 𝐶


𝐶𝑉𝐻𝑜𝑟𝑤𝑖𝑡𝑧 (%) = 21−0.5 log 0.0000000216 = 28.50 %
2 2
Maka : CV Horwitz (%) = x 28.50 % = 19 %
3 3
Note : Satuan konsentrasi diubah menjadi g/mL
24

Lampiran 12 Data ketelitian – ketertiruan (intra-lab)

Konsentrasi yang terbaca oleh alat (ppm)


Ulangan
A B
1 0.1029 0.1131
2 0.1042 0.1128
3 0.1022 0.1170
4 0.1045 0.1170
5 0.1030 0.1128
6 0.1023 0.1131
7 0.1050 0.1133
Rerata 0.1034 0.1142
Standar Deviasi 0.0011 0.0020
Ketelitian (%) 98.94 98.25
RSD (%) 1.08 1.71
CV Horwitz (%) 22.51 22.18
2
CV Horwitz (%) 15 14.79
3
2
Kriteria yang diterima RSD ≤ CV Horwitz
3

konsentrasi aktual/spike : 0.1000 ppm

Contoh perhitungan : (Analis A)


𝑛 𝑋𝑖
Rerata (𝑥̅ ) = ∑𝑖=1
𝑛
(0.1029+0.1042+0.1022+0.1045+0.1030+0.1023+0.1050)ppm
= = 0.1034 ppm
7

∑𝑛 ̅ 2
𝑖=1(𝑋𝑖−𝑋)
Standar Deviasi = √
𝑛−1
(0.1029 − 0.1034)2 + (0.1042 − 0.1034)2 + (0.1022 − 0.1034)2 + (0.1045 − 0.1034)2 + (0.1030 − 0.1034)2 + (0.1023 − 0.1034)2 + (0.1050 − 0.1034)2
=√
7−1

= 0.0011

𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖
Ketelitian (%) = (1 − ( )) x 100
𝑥̅
0.0011
= (1 − (0.1034)) x 100 = 98.94 %

𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖 0.0011


RSD (%) = x 100 = x 100 = 1.08 %
𝑥̅ 0.1034

𝐶𝑉𝐻𝑜𝑟𝑤𝑖𝑡𝑧 (%) = 21−0.5 log 𝐶


𝐶𝑉𝐻𝑜𝑟𝑤𝑖𝑡𝑧 (%) = 21−0.5 log 0.0000001034 = 22.51 %
2 2
Maka : CV Horwitz (%) = x 22.51 % = 15 %
3 3
Note : Satuan konsentrasi diubah menjadi g/mL
25

Uji statistik :
1. Uji Fisher (Uji F)

A : Hasil analis A
B : Hasil analis B

Hipotesis :
H0 : SA2 = SB2
H1 : SA2 ≠ SB2

Perhitungan uji statistik :


(Standar deviasi A)2 (0.0020)2
Fhitung = = = 3.3058
(Standar deviasi B)2 (0.0011)2

Ftabel = 5.820 (Harvey 2000)


(α = 0.05, P = 1- α = 0.95, V1 = 7 – 1 = 6 & V2 = 7 – 1 = 6)
α : Tingkat resiko
P : Tingkat kepercayaan

Kaidah penolakan :
Jika Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima
Jika Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima

Kesimpulan :
Fhitung < Ftabel, H0 diterima. Variansi data berasal dari distribusi
dasar yang sama.

2. Student’s test (Uji-t) – 2 variabel

Hipotesis :
H0 : 𝑥̅1 = 𝑥̅2
H1 : 𝑥̅1 ≠ 𝑥̅2

Perhitungan uji statistik :


(𝑥̅ 1 − 𝑥̅ 2 )
thitung =
1 1 𝑆12 (𝑛1 −1)+𝑆22 (𝑛2 −1)
√( + )( )
𝑛1 𝑛2 (𝑛1 +𝑛2 −2)
(0.1142−0.1034)
thitung = = 0.5132
1 1 0.00202 (7−1) + 0.00112 (7−1)
√( + )( )
7 7 (7+7−2)

ttabel = 2.18 (Harvey 2000)


(α = 0.05, v = (7+7-2) = 12)

Kaidah penolakan :
Jika thitung < ttabel, maka H0 diterima
Jika thitung > ttabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima
26

Kesimpulan :
thitung < ttabel, H0 diterima. Tidak ada perbedaan hasil analisis secara
nyata yang dilakukan oleh kedua analis tesebut.

Lampiran 13 Data ketepatan, ketidakpastian, dan perolehan kembali

Perolehan
Konsentrasi yang Ketidakpastian
Ulangan kembali
terbaca oleh alat (ppm) (±bias)
(%)
1 20.1000 -0.10 99.50
2 19.8900 -0.31 98.47
3 19.9000 -0.30 98.51
4 20.0900 -0.11 99.46
5 19.9700 -0.23 98.86
6 20.0900 -0.11 99.46
7 20.0600 -0.14 99.31
Rerata 20.0143 -0.19 99.08
Standar Deviasi 0.0925
Ketepatan (%) 99.08
Kriteria yang Nilai ketepatan dan perolehan kembali > 90%
diterima ± nilai ketidakpastian
Berdasarkan sertifikat analisis CRM ERA, nilai konsentrasi tetap untuk parameter
nitrat dan nitrit (NO3-N & NO2-N) adalah 20.2000 mg/L atau 20.2000 ppm,
dengan nilai ketidakpastian 5.56 %.

Contoh perhitungan :
𝑛 𝑋𝑖
Rerata (𝑥̅ ) = ∑𝑖=1
𝑛
(20.1000+19.8900+19.9000+20.0900+19.9700+20.0900+20.0600)ppm
=
7
= 20.0143 ppm
∑𝑛 ̅ 2
𝑖=1(𝑋𝑖−𝑋)
Standar Deviasi = √
𝑛−1
(20.1000 − 20.0143)2 + (19.8900 − 20.0143)2 + (19.9000 − 20.0143)2 + (20.0900 − 20.0143)2 + (19.9700 − 20.0143)2 + (20.0900 − 20.0143)2 + (20.0600 − 20.0143)2
=√
7−1

= 0.0925

𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖 − 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛


Ketepatan (%) = [1 − | |] x 100
𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖
20.2000 − 20.0143
= [1 − | |] x 100 = 99.08 %
20.2000

Ketidakpastian = Konsentrasi yang terbaca oleh alat (ppm) – konsentrasi CRM (ppm)
= (20.1000 – 20.2000) ppm
= -0.10 ppm

𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑜𝑏𝑠𝑒𝑟𝑣𝑎𝑠𝑖 20.1000


Perolehan kembali (%) = x 100 = x 100 = 99.50 %
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 20.2000