Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH UTILITAS

PT PERTAMINA
Diajukan sebagai tugas mata kuliah Utilitas 1

Disusun Oleh:
Sebrina Erita Putri (1515009)
Dian Resti Handayani (1515019)
Rezky Victorius G (1515029)

Teknik Kimia Polimer


Polteknik STMI Jakarta
i
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI................................................................................................................................... ii
Latar Belakang ................................................................................................................................ 1
Sistem Utilitas ............................................................................................................................. 2
Unit Pengolahan Air .................................................................................................................... 3
Demineralizer ( Boiler Feed Water) ............................................................................................ 5
Unit Penyediaan Uap (Boiler Plant) ........................................................................................... 5
Unit Air Pendingin (Cooling Water Unit) ................................................................................... 6
Unit Penyedia Udara Bertekanan ................................................................................................ 7
Unit Penyediaan Fuel .................................................................................................................. 7
Unit Penyediaan Power (Power Plant) ....................................................................................... 8
Pengolahan Limbah ........................................................................................................................ 8
Limbah Gas ................................................................................................................................. 9
Limbah Cair............................................................................................................................... 11
Limbah Padat............................................................................................................................. 12
KESIMPULAN ............................................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 15

ii
1. Latar Belakang

Utilitas Berasal dari bahasa Inggris « utility » yang berarti faedah, guna.
Dalam Ilmu Teknik Kimia dapat diartikan sebagai sesuatu yang berguna (diperlukan)
untuk menunjang berlangsungnya operasi dalam suatu pabrik kimia .
Dalam ekonomi, utilitas adalah jumlah dari kesenangan atau kepuasan relatif
(gratifikasi) yang dicapai. Dengan jumlah ini, seseorang bisa menentukan meningkat
atau menurunnya utilitas, dan kemudian menjelaskan kebiasaan ekonomis dalam
koridor dari usaha untuk meningkatkan kepuasan seseorang. Unit teoritikal untuk
penjumlahan utilitas adalah util.
Doktrin dari utilitarianisme ,elihat maksimalisasi dari utilitas sebagai kriteria
moral untuk organisasi dalam masyarakat. Menurut para utilitarian, seperti Jeremy
Bentham (1748-1832) dan John Stuart Mill (1806-1876), masyarakat harus bertujuan
untuk memaksimalisasikan jumlah utilitas dari individual, bertujuan untuk
"kebahagiaan terbesar untuk jumlah terbesar".
Dalam ekonomi neoklasik, rasionalitas didefinisikan secara tepat dalam istilah
dari kebiasaan maksimalisasi utilitas dibawah keadaan ekonomi tertentu. Sebagai
kebiasaan usaha hipotetikal, utilitas tidak membutuhkan adanya keadaan mental
seperti "kebahagiaan", "kepuasan", dll.
Utilitas digunakan oleh ekonom dalam konstruksi sebagai kurva indiferen,
yang berperan sebagai kombinasi dari komoditas yang dibutuhkan oleh individu atau
masyarakat untuk mempertahankan tingkat kepuasan. Utilitas individu dan utilitas
masyarakat bisa dibuat sebagai variabel tetap dari fungsi utilitas (contohnya seperti
peta kurva indiferen) dan fungsi kesejahteraan sosial. Ketika dipasangkan dengan
komoditas atau produksi, fungsi ini bisa mewakilkan efisiensi Pareto, yang
digambarkan oleh kotak Edgeworth dan kurva kontrak. Efisiensi ini merupakan
konsep utama ekonomi kesejahteraan

1
2. Sistem Utilitas
Utilitas dapat diartikan sebagai semua bahan/media/sarana yang dibutuhkan untuk
menunjang operasi pengolahan/kilang/industri. Kegiatan kilang sebagai suatu rangkaian proses
manufacturing didalam operasinya memerlukan utilities baik sebagai bahan proses atau bahan
baku, bahan penunjang, maupun sebagai tenaga (power) untuk menggerakkan proses dan
peralatan kilang.

Utilitas dapat meliputi beberapa komoditi sesuai kebutuhannya, antara lain:

1. Listrik sebagai tenaga penggerak, pemanas


2. Steam (uap) sebagai bahan baku, sebagai tenaga penggerak, sebagai pemanas.
3. Utility water, Treated water, Demineralized water, Boiler feed water.
4. Cooling water (Sea cooling water, Fresh cooling water)
5. Instrument air dan plant air atau Nitrogen maupun Oksigen.

Di Pertamina RU II, Utilities merupakan bagian dari unit produksi kilang yang berfungsi
menyediakan sarana atau media yang dibutuhkan unit proses. Sistem Utilities di RU II Dumai
dibagi menjadi 3 unit area:

Water Treatment Plant : merupakan unit proses pengolahan/ penjernihan air.

Utilities Existing : melayani kebutuhan unit–unit proses di Kilang lama/


Existing Plant.

Utilities HDC/New Plant : melayani kebutuhan unit–unit proses di Kilang baru/ New
Plant.

Ketiga sistem tersebut saling terintegrasi dalam pengoperasiannya dan kehandalan harus
dijaga dengan baik. Jika terjadi kegagalan dalam pengoperasiannya, tidak saja akan
mengakibatkan kehilangan produksi kilang tetapi dapat juga merusak katalis, peralatan operasi
bahkan hilangnya faktor safety.

Unit-unit proses yang merupakan bagian dari unit utilitas adalah :

2
a. Unit Pengolahan Air
Sumber air tawar diperoleh dari sungai Rokan. Pengolahan air bertujuan untuk
memperoleh air yang memenuhi syarat sebagai air minum dan air pendingin. Air untuk umpan
boiler (Boiler Feed Water) perlu pengolahan lebih lanjut di demineralizer. Air sungai Rokan
diolah untuk menghilangkan turbiditas, COD, suspended solid, dan warna. Untuk menghindari
korosi yang disebabkan oleh kondisi asam (pH rendah), maka dilakukan penginjeksian larutan
NaOH untuk penetralan. Untuk kebutuhan air minum, dilakukan proses sterilisasi dengan
penginjeksikan desinfektan seperti Cl2 atau Ca(OCl)2.

Air baku dari sungai Rokan dipompa menuju WTP (Water Treatment Plant) Bukit Datuk
yang berjarak 45 km, kemudian ditampung dalam raw water pond. Di dalam raw water pond
terjadi pengendapan lumpur, pasir, dan partikulat. Kemudian air baku di pompa menuju
clearator dan dilakukan penginjeksian zat-zat sebagai berikut:

1. Aluminium Sulfat: Al2(SO4)3.18H2O


2. Soda kaustik : NaOH
3. Coagulant Aid
Di dalam clearator air baku dan bahan kimia diaduk dengan rapid mixer sehingga akan
terjadi reaksi koagulasi antara bahan kimia dengan kotoran dan akan terbentuk flok. Reaksi yang
terjadi adalah :

Al2(SO4)3.18H2O + 3Na2CO3  3Na2SO4 + 2Al(OH)3 + 18 H2O

Flok-flok yang terbentuk akan mengendap dan dibuang secara periodik. Air jernih akan
mengalami over flow dan ditampung dalam intermediate pond. Intermediate pond hanya
berfungsi sebagai bak penampung air jernih. Air jernih kemudian dialirkan ke sand filter yang
berfungsi untuk memisahkan carry over flok dari clearator. Air jernih dari sand filter secara
gravitasi ditransfer menuju treated water pond. Dari treated water pond air didistribusikan
dengan pompa melalui sistem manifold. Manifold untuk kilang diinjeksikan corrosion inhibitor,
sedangkan air untuk perumahan dan dok diinjeksikan Cl2 atau Ca(OCl)2 untuk desinfektan.

3
Refinery water (raw water) dari WTP Bukit Datuk dikirim ke new plant dan dikirim ke
sand filter. Outlet sand filter ditampung pada filtered water tank. Dari tangki tersebut
didistribusikan dengan pompa menuju :

1. Portable Water Tank


2. Plant Water Calciner
3. Demineralizer
4. Make up Cooling Water
5. Plant Water dan House Station
Flow diagram untuk proses pengolahan air di perumahan RU II Dumai dapat dilihat pada
Gambar 5.1:

4
b. Demineralizer ( Boiler Feed Water)
Proses softening (pelunakan) adalah proses untuk mengurangi konsentrasi ion-ion Ca2+
dan Mg2+ yang menyebabkan kesadahan pada air. Ion-ion tersebut bila masuk ke dalam boiler
akan membentuk scale deposit.

Penghilangan scale deposit dapat dilakukan dengan :

1. External treatment
Penghilangan atau pengurangan konsentrasi ion-ion penyebab kesadahan dalam BFW.

2. Internal treatment
Mengikat ion-ion Ca2+ dan Mg2+ untuk menghasilkan senyawa berbentuk
sludge/lumpur yang rapuh dan tidak melekat pada dinding dan tube boiler.

Proses-proses yang terjadi diantaranya :

 Pertukaran kation kalsium, magnesium, dan sodium dihilangkan dengan hidrogen


pada kation exchanger.
 Pertukaran anion seperti sulfat, klorida, dan karbonat, dihilangkan dengan anion
exchanger.

c. Unit Penyediaan Uap (Boiler Plant)


Air umpan boiler memiliki persyaratan khusus karena dalam air masih terdapat zat-zat
yang bisa membentuk kerak pada tube boiler dan zat-zat yang korosif. Kerak pada tube boiler
disebabkan oleh garam-garam silikat dan karbonat. Kerak ini menyebabkan over heating karena
menghambat transfer panas. Korosi pada pipa disebabkan adanya gas-gas korosif seperti : O2,
CO2, pH air yang rendah, oleh karena itu gas-gas harus dihilangkan dan pH air dijaga tetap netral

5
di dalam BFW. Garam-garam mineral yang larut dalam air bisa mengakibatkan buih sehingga
perlu dihilangkan dengan demineralizer yang terdiri dari kation dan anion.

Outlet demineralizer ditampung dalam tangki lalu dipompakan ke deaerator guna


mengurangi kandungan O2 terlarut. Air yang keluar deaerator diinjeksikan hydrazine untuk
menghilangkan O2 sisa kemudian didistribusikan ke boiler dengan pompa.

Flow diagram steam generator di RU II Dumai dapat dilihat pada Gambar 5.2:

6
d. Unit Air Pendingin (Cooling Water Unit)
Unit ini berfungsi untuk menampung air yang akan digunakan sebagai air pendingin
pompa dan kompressor. Air yang digunakan adalah air tawar dari WTP Bukit Datuk. Cooling
tower di new plant berpusat di Utilities Circulation. Air dari tangki didistribusikan ke cooling
tower sebagai make-up. Untuk mempertahankan level cooling tower maka diperlukan make-up
karena air yang kembali (return cooling tower) sangat sedikit. Untuk membuang sludge dan
lumpur dilakukan dengan blow down. Untuk menghindari pertumbuhan jasad renik (algae dan
lumut), diinjeksikan chlorine ke dalam cooling tower sebanyak 10 Kg selama 6 jam dalam satu
hari. Di samping itu, diinjeksikan juga corrosion inhibitor berupa dulcam 704 (untuk satu shift
diberikan sebanyak 37.5 Liter) yang berfungsi untuk membentuk lapisan pada pipa sehingga
tidak terjadi kontak langsung antara air dengan material pipa yang bisa mengakibatkan
perkaratan.

e. Unit Penyedia Udara Bertekanan


Fungsi dari udara bertekanan yang dihasilkan oleh unit ini adalah :

1. Unit Instrumen
Udara bertekanan yang dihasilkan oleh kompresor masuk ke dalam receiver.
Udara biasa masuk melalui filter dihisap oleh kompresor dan ditekan keluar melalui
pendingin dan cyclone untuk memisahkan air, setelah itu masuk ke receiver.
Tekanan udara dijaga dengan pressure recorder controller (PRC) sebesar 6.5
Kg/cm2.
2. Udara Kilang
Digunakan sebagai pembersih dan flushing pipa-pipa. Di dalam unit
kompresor juga terdapat cooling tower untuk mengatur air pendingin yang
mendinginkan pompa dan kompresor. Untuk menjaga agar suhu air tetap rendah
digunakan fan. Untuk mencegah korosi, diinjeksikan polycrin I dan polycrin AI
(merupakan corrosion inhibitor).

7
f. Unit Penyediaan Fuel
Sistem penyediaan fuel oil di new plant berpusat di utilitas. Fuel oil dari tangki
penampungan didistribusikan dengan pompa menuju :

1. Boiler Utilitas
2. Vacuum Unit
3. Platforming Unit
4. Naphtha Hydrotreating Unit
5. Distillate Hydrotreating Unit
6. Hydrocracking Unibon

g. Unit Penyediaan Power (Power Plant)


Merupakan unit yang penting dalam operasi kilang. Unit ini berfungsi sebagai penyedia
tenaga listrik untuk kebutuhan kilang maupun perumahan karyawan. Unit ini terbagi menjadi
tiga bagian yaitu :

1. Power Generation
2. Power Distribution
3. Bengkel Listrik

Pengolahan Limbah
Dampak dari limbah industri yang dihasilkan oleh Pertamina RU II Dumai, diusahakan
untuk diminimalisasikan serendah mungkin. Komitmen ini sejalan dengan keberhasilan
Pertamina RU II Dumai memperoleh sertifikasi ISO 14001 (system menejemen lingkungan)
pada Desember 2001.

Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan Pertamina RU II Dumai dalam menekan


dampak dari limbah industrinya adalah:

1. Melaksanakan Good Housekeeping di lingkungan kerja, dengan cara,


mengoptimasikan penggunaan air, energi dan bahan baku.

8
2. Pada saat pembangunan pabrik, Pertamina RU II Dumai dilengkapi dengan unit-unit
untuk mengelola dan mereduksi limbah.
3. Sistem proses yangdigunakan dilengkapi dengan recycle dan recovery bahan dan
produk.
Adapun unit-unit yang digunakan untuk mengelola dan mereduksi kuantitas dan bahaya
limbah adalah:

Limbah Gas
Limbah gas yang dihasilkan oleh Pertamina RU II Dumai adalah jenis gas yang
mengandung SOx, NOx, H2S, NH3, CO2, CO, Hydrokarbon, debu, jelaga dan bau yang sebagian
besar berasal dari flare atau gas cerobong. Upaya penanggulangan yang dilakukan adalah dengan
menggunakan stack atau cerobong yang didesign dengan ketinggian tertentu agar memenuhi
baku mutu emisi dan baku kutu ambient. Upaya lainnya yang dilakukan oleh pihak Pertamina
RU II Dumai adalah dengan pemasangan CEM (Continuous Emission Monitoring), yang
diletakkan pada cerobong (stack) unit HVU, yang merupakan unit yang setelah dianalisa
menghasilkan emisi gas terbesar.

Pengolahan lebih lanjut untuk limbah gas tidak dilakukan sebab selama ini ternyata emisi
udara maupun ambient di lingkungan RU II Dumai masih memenuhi mutu lingkungan. Tolak
ukur yang digunakan untuk menilai kualitas udara di RU II Dumai dicantumkan pada tabel
berikut ini:

Tabel 5.1 Tolak Ukur Dampak Kualitas Udara

No. Parameter Baku Mutu Satuan

1. SO2 0.1 ppm

260 Kg/cm3

9
2. CO 20 ppm

2260 Kg/cm3

3. NOx 0.05 ppm

92.5 Kg/cm3

4. HC 0.24 ppm

160 Kg/cm3

5. H2S 42 Kg/cm3

6. Partikulat/debu 260 Kg/cm3

Sumber : No. 1 s.d. 6 : Kep-02/menKLH/I/1998 lamp. III

Pendekatan yang ditempuh dalam rangka pengendalian dan penanggulangan dampak


terhadap kualitas udara adalah dengan menerapkan program “waste minization” yang
didalamnya terdapat empat tahap:

a. Reduksi limbah dari sumbernya


b. Reuse
c. Recycle
d. Recovery (Perolehan kembali)

Limbah Cair
PT. Pertamina Persero RU II Dumai mempunyai instalasi pengolahan air limbah yang
terdiri dari:

a. Pengolahan Fisika
Instalasi pengolahan air limbah PT. Pertamina Persero RU II Dumai yang menggunakan
pengolahan fisika adalah:

- Separator II

10
Separator II ini berfungsi untuk memisahkan minyak yang terdapat air limbah
yang berasal dari proses produksi.

- Kolam Ekualisasi
Kolam ini berfungsi untuk menampung air limbah dan menjaga agar debit air
limbah konstan, sehingga dapat mencegah shock loading pada saat pengolahan
selanjutnya (kolam aerasi).

- Kolam Pengendap
Kola mini berfungsi untuk mengendapkan lumpur setelah air limbah tersebut dip
roses dalam kolam aerasi

- Separator III
Separator III ini berfungsi untuk memisahkan minyak yang masih terbawa dalam
air limbah yang berasal dari proses pengolahan limbah sebelumnya

b. Pengolahan Kimia
Pengolahan secara kimia adalah pengolahan air limbah dengan menggunakan bahan-
bahan kimia sehingga akan terjadi reaksi antara bahan kimia tersebut dengan kandungan
bahan organik yang terdapat pada air limbah. Fungsi utama dari pengolahan kimia ini
pada pengolahan limbah cair kilang RU II Duai adalah untuk menetralkan pH air limbah.
Proses dengan penggunaan bahan kimia ini terjadi pada SWS di V-2, yaitu ketika
dilakukan penetralan pH dengan pengijeksian caustic soda.

c. Pengolahan Biologi
Proses pengolahan air limbah secara biologi adalah menampung air limbah pada suatu
kolam yang luas dengan waktu detensi tertentu sehingga senyawa polutan yang
terkandung dalam air limbah tersebut akan terurai oleh aktifitas mikrooranisme. Proses
yang terjadi pada tahap ini adalah proses Lumpur aktif, dimana kondisi dalam kolam ini
juga mempengaruhi aktifitas mikrooranisme itu sendiri. Udara yang cukup akan
membantu aktifitas mikroorganisme dalam menguraikan senyawa polutan yang terdapat
dalam limbah cair.

11
Limbah Padat
Upaya pengelolaan limbah padat khususnya limbah B3 bertujuan untuk menurunkan
kadar parameter-parameter pencemar terhadap air tanah, air laut, maupun katalis udara agar
mememenuhi standar baku mutu yang ditetapkan. Sedangkan pengelolaan limbah padat
domestik bertujuan untuk menciptakan kenyamanan dan kebersihan lingkungan.

Limbah padat yang dihasilkan di RU II Dumai termasuk cara pengelolaannya antara lain
adalah:

- Lumpur (sludge) bercampur minyak dari drain tangki dan oil separator.
Lumpur tersebut diolah dengan cara melakukan mixing bersama air hangat, kemudian
dilakukan pengenceran agar minyak terapung dan dapat dipisahkan dari sludge.
Dilakukan juga SOR (Sludge Oil Recovery) dengan cara mengencerkan sludge, lalu
disentrifusi agar terpisah fasa minyak dan air. Minyak yang diperoleh dari metode ini
akan dikembalikan ke unit crude didtilling untuk diperoleh kembali. Cara ini juga
bermanfaat secara ekonomis, agar tidak ada minyak yang terbuang begitu saja.
Sludge yang telah diolah tersebut kemudian dijual, dihibahkan, atau dikirimkan ke
PPLI (Pusat Pengolahan Limbah Industri) untuk diolah lebih lanjut.

- Spent katalis
Pertamina RU II Dumai tidak mempunyai perangkat yang dapat digunakan untuk
mengolah spent katalis. Maka katalis yang sudah tidak digunakan biasanya dijual ke
PPLI, karena banyak mengandung unsur platina yang cukup bernilai ekonomis.

- Karbon Aktif
Karbon aktif yang tidak digunakan lagi, jika masih memenuhi spesifikasi akan
dicampur dengan coke dan dijual.

- Limbah Perbengkelan berupa logam, kaleng dan bungkus.


Pertamina RU II Dumai tidak memiliki pusat pengolahan limbah yang tersendiri, oleh
karena itu limbah padat lainnya akan ditampung sementara kemudian dibuang atau dikirimkan
ke PPLI.

12
KESIMPULAN

Utilitas dapat diartikan sebagai semua bahan/media/sarana yang dibutuhkan untuk


menunjang operasi pengolahan/kilang/industri. Kegiatan kilang sebagai suatu rangkaian proses
manufacturing didalam operasinya memerlukan utilities baik sebagai bahan proses atau bahan
baku, bahan penunjang, maupun sebagai tenaga (power) untuk menggerakkan proses dan
peralatan kilang.

Utilitas dapat meliputi beberapa komoditi sesuai kebutuhannya, antara lain:

1. Listrik sebagai tenaga penggerak, pemanas


2. Steam (uap) sebagai bahan baku, sebagai tenaga penggerak, sebagai pemanas.
3. Utility water, Treated water, Demineralized water, Boiler feed water.
4. Cooling water (Sea cooling water, Fresh cooling water)
5. Instrument air dan plant air atau Nitrogen maupun Oksigen.

Di Pertamina RU II, Utilities merupakan bagian dari unit produksi kilang yang berfungsi
menyediakan sarana atau media yang dibutuhkan unit proses. Sistem Utilities di RU II Dumai
dibagi menjadi 3 unit area:

 Water Treatment Plant


 Utilities Existing
 Utilities HDC/New Plant

Unit-unit proses yang merupakan bagian dari unit utilitas adalah :

 Unit Pengolahan Air

13
 Demineralizer ( Boiler Feed Water)
 Unit Penyediaan Uap (Boiler Plant)
 Unit Air Pendingin (Cooling Water Unit)
 Unit Penyedia Udara Bertekanan
 Unit Penyediaan Fuel
 Unit Penyediaan Power (Power Plant)

DAFTAR PUSTAKA

Kustoyo yoyo, Laporan Kerja Praktek PT.Pertamina RU VI Balongan, 2013, Indramayu

14

Anda mungkin juga menyukai