Anda di halaman 1dari 7

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan dewasa yang mengalami
perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja
berlangsung antara umur 12 – 21 tahun bagi wanita 13 – 22 tahun bagi pria
( BKKBN,2013).
Perilaku seks bebas merupakan suatu penyimpangan perilaku seksual remaja yang
marak terjadi diera modern. Perkembangan dan kemudahan sekses media massa
mengakibatkan remaja dengan mudah terpapar mengenai seksualitas, sehingga remaja
akan cenderung untuk mengaplikasikan pengetahuan yang didapatkan apabila tidak
adanya pengawasan dari orang tua ( Sarwono, 2015).
Dampak dari perilaku seks bebas yaitu terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan,
terjadinya penyakit menular seksual karena sering gonta ganti pasangan serta terjadinya
aborsi. Dengan tinggi angka kejadian terhadap hubungan seks bebas dikalangan remaja
yang erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi dan pembuangan bayi pada saat
ini.
Menurut maryatun ( 2015 ) remaja mendapatkan imformasi seksualitas dari teman
sebaya sebanyak 64% dan 36% pengawasan dari orang tua. Pengaruh teman sebaya bisa
berdampak positif atau pun bersifat negatif bagi pergaulannya. Sekitar 20% teman sebaya
berpengaruh negatif terhadap perilaku seksualitas remaja yang menjadikan panutan atau
meniru gaya perilakunya. Selain itu kondisi ketidakharmonisan keluarga dapat membantu
terbentuknya sikap negatif pada remaja terhadap perilaku seks bebas. Keluarga
merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi
tumbuh kembang anak remaja. Orang tua harus mulai terbuka membicarakan pendidikan
seks bebas dirumah sejak dini agar mereka dapat mengerti manfaat dan akibat dari
penyalahgunaan organ seks mereka.secara ideal perekembangan anak remaja akan
optimal apabila mereka bersama keluarga yang harmonis. ( Atitah, 2014 ).
2

Berdasarkan survey Kesehatan Reproduksi Remaja Republik Indonesia (SKRRI,


2013), 10% remaja wanoita umur 17-19 tahun pernah melahirkan atau sedang hamil
anak pertama. Remaja merupakan kelompok umur yang beresiko tinggi ketika hamil dan
melahirkan yang menyumbang peningkatan angkan kematian ibu. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi kenakalan remaja diantaranya, pengetahuan, sumber sumber
informasi, harapan terhadap pendidikan dan nilai nilai disekolah, pengaruh teman sebaya,
peran orang tua serta tingkat pemahaman agama.( santrock, 2014 ).
Pada tahun 2015, survey dari Komnas Perlindungan Anak di 33 Provoinsi
menyimpulkan bahwa 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno,93,7%
remaja SMA pernah melakukan genital stimulation ( meraba alat kelamin ) serta oral
seks, 62,7% remaja SMP dan SMA tidak perawan lagi dan 21,2% remaja mengaku
pernah aborsi ( Badan Kesehatan Keluarga Berencana Nasional, 2015 ).
Data pusat keluarga berencana indonesia tahun 2014 menunjukkan bahwa 2,5 juta
remaja perempuan pernah melakukan aborsi pertahun, 27% diantaraya dilakukan oleh
remaja dengan cara tidak aman ( BKKBN,2014). Disumatera Barat jumlah remaja (10-24
tahun ) berjumlah 1.340.052 orang. Sumatera Barat didapatkan informasi bahwa dari
tahun 2015-2016 terdapat 17 kasus perilaku seksual pranikah pada remaja di Sumatera
Barat, 7 diantaranya siswa SMP dan 10 orang siswa SMA/SMK. Sedangkan di
Bukittinggi pada tahun 2017 terdapat kasus sebanyak 37 kasus sekitar 60% terjadi pada
anak usia remaja 16-19 tahun sedangkan pada bulan Januari sampai April 2018 terdapat
sebanyak 35 kasus yaitu sekitar 40% yang terjadi pada anak usia remaja 17-19 tahun dan
anak putus sekolah. Salah satu kasus yang terjadi di Bukittinggi yaitu SMAN 4
Bukittinggi yang terjadi pada siswa putri kelas X dimana siswa tersebut keluar dari
sekolahnya dikarenakan tidak mengikuti peraturan sekolah. dan Berdasarkan hasil
wawancara dari salah satu anggota dari Satpol PP bukittinggi mengatakan bahwasanya
hal itu terjadi dikarenakan remaja memiliki pergaulan yang bebas, kurang nya
pengawasan orang tuan, kurangnya pengetahuan dari akibat dan dampak nya serta karena
ingin mencoba coba saja.( Satpol PP,2018 ).
3

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Persatuan Keluarga Indonesia Daerah Sumbar
untuk 100 remaja tentang gambaran pengetahuan terhadap seks bebas dan perilaku
seksual dari 44,5% remaja aktif seksual, diantaranya Payakumbuh 13%, Bukittinggi 21%,
Padang 10,5% remaja aktif seksual, ada sekitar 20% responden yang menyatakan
hubungan seksual diluar nikah boleh boleh saja. Ada sekitar 41% responden yang
menyatakan bahwa alasan remaja melakukan hubungan seksual dikarenakan cinta ( suka
sama suka ), sedangkan 54% menyatakan bahwa aktifitas seksual tersebut terjadi karena
kurangnya perhatian orang tua maupun retaknya hubungan komunikasi antara orang tua
dan anak khususnya remaja, ( Himapid,2016 ).
Berdasarkan Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Atmajaya
mengungkapkan 9,9% remaja telah melakukan hubungna seks bebas dengan pasangannya
setelah menonton film porno, Sedangkan Riset Studi yang dilaksanakan oleh Universitas
Indonesia pada tahun yang sama diperoleh bahwa 21,8% remaja di Bandung telah
melakukan hubungan seks bebas sebelum menikah, di Sukabumi 26%, remaja di Bogor
30,9%. ( Prihartono, 2013).
Hasil penelitian yang dilakukan soetjiningsih 2013 menunjukkan, makin baik
hubungan orang tua dengan anak remajanya, makin rendah perliku seks bebas pada
remaja. Faktor faktor yang berhubungan dengan perilku seks bebas pada remaja
diantaranya hubungan antara orang tua dengan remaja, tekanan teman sebaya,
pemahaman tingkat agama, serta faktor lainnya yaitu faktor lingkungan seperti VCD, film
porno, majalah, youtube,buku buku porno, dan internet lainnya yang mempunyai
pengaruh secra langsung maupun tidak langsung pada remaja untuk melakukan
hubuingan seks bebas pada remaja.( Taufik, 2015 ).
Berdasarkan survey awal yang dilakukan penulis di sman 4 bukittinggi pada
tanggal 19 mei 2018 melalui wawancara pada salah satu guru kelas x yang mengajar di
sman 4 bukittinggi menyatakan bahwasanya ada beberapa disiswanya keluar dari sekolah
dikarenakan tidak mau mengikuti peraturan sekolah dikarenakan oleh beberapa faktor
seperti kurang nya pengetahuan tentang dampak dan akibat serta adanya keinginan untuk
mencoba coba, kurangnya pengawasan dari orang tua serta karena pergaulan yang bebas.
4

Pola asuh orang tua juga memiliki pengaruh penting terhadap perilaku seks bebas
pada remaja, pola asuh yang cenderung lebih longgar dapat memberikan kesempatan
pada remaja untuk secara bebas menyalurkan dorongan seksualnya, sehingga pada
akhirnya remaja melakukan hubungan seks bebas. Remaja akan cenderung terjerumus
kedalam perilaku seksual pranikah manakala adanya pengawasan yang kurang dari orang
tua.
Berdasarkan pembahasan diatas, maka saya tertarik untuk menulis Karya Tulis
Ilmiah dengan judul “ Faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku seks bebas
pada remaja kelas X dan XI di SMAN 4 Bukittinggi pada tahun 2018”.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka yang menjadi
permasalahan peneliti dalam penelitian ini adalah “ Apakah ada hubungannya
pengetahuan, peran orang tua, sumber sumber informasi dan pemahaman tingkat agama
terhadap perilaku seks bebas pada remaja kelas X dan XI di SMAN 4 Bukittinggi tahun
2018 ?”.
C. Tujuan penelitian
Tujuan umum
diketahuinya faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku seks bebas pada
remaja kelas X dan XI di SMAN 4 Bukittinggi tahun 2018.
Tujuan khusus
diketahuinya distribusi frekuensi faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku
seks bebas pada remaja kelas X dan XI di SMAN 4 Bukittinggi tahun 2018.
D. Manfaat peneliti
1. Bagi peneliti
Menambah wawasan serta mempunyai kemauan dalam melakukan penelitian
untuk mengaplikasikan ilmu sambil memenuhi pengetahuan mengenai faktor faktor
yang berhubungan dengan perilaku seks bebas pada remaja.
2. bagi institusi pendidikan
Dapat digunakan sebagai sumber bacaan untuk melakukan penelitian selanjutnya
dan dijadikan sebagai bahan referensi dalam meningkatkan kualitas pendidikan
kebidanan khususnya tentang faktor yang berhubungan dengan perilaku seks bebas
pada remaja serta sebagai acuan pembelajaran atau pembekalan.
3. Bagi siswa/siswi
Dari penelitian ini dapat memberikan masukan khususnya pada remaja berperilaku
yang baik serta bergaul yang baik dan sehat untuk menghindari hal hal yang tidak
diinginkan.
5

4. Bagi SMAN 4 Bukittinggi


Bagi pihak sekolah agar sadar akan peran dan tanggunga jawabnya sebagai
lembaga pendidikan yang peduli akan perkembangan perilaku seks bebas yang baik
dan sehat, melalui penelitian ini sesegera mungkin SMAN 4 Bukittinggi dapat
menentukan langkah langkah yang dapat mencegah timbulnya perilaku seks bebas
pada remaja yang lebioh berat melalui pemberian pembekalan tentang seksualitas
yang baik, sehat dan bertanggung jawab.
E. Ruang lingkup
Dalam ruang lingkup ini penulis meneliti “Faktor faktor yang berhubungan dengan
perilaku seks bebas pada remaja kelas X dan XI di SMAN 4 Bukittinggi pada tahun
2018” yang meliputi variabel bebas yaitu pengetahuan, pemahaman tingkat agama, peran
orang tua dan sumber informasi sedangkan variabel terikat yaitu perilaku seks bebas.

BAB III
6

METODE PENELITIAN

A. DESAIN PENELITIAN
Penelitian ini ditujukan untuk memperoleh penelitian secara kuantitatif mengenai
Faktor faktor yang berhubungan dengan perilaku seks bebas pada remaja kelas X dan XI
di SMAN 4 Bukittinggi. Penelitian kunatitatif adalah teknik yang digunakan untuk
mengolah data dalam bentuk angka, baik sebagai hasil pengukuran. ( notoadmodjo,
2013).
B. Lokasi dan wakti penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 4 Bukittinggi pada bulan Juli 2018
C. Populasi dan sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa/siswi remaja kelas X dan XI
di SMAN 4 Bukittinggi dengan jumlah populasinya 550 orang
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini berjumlah 75 orang remaja kelas X dan XI di
SMAN 4 Bukittinggi. Teknik yang digunakan agar mendapatkan informasi yang
tepat, yaitu dengan menggunakan teknik sampel “ simple random sampling” dimana
peneliti menetukan sampel penelitian diambil secara acak. Adapun besarnya sampel
yang dihitung menggunakan rumus yang dikemukakan oleh arikunto. Jika jumlah
populasi < 100, maka populasi dijadikan sampel, tetapi jika jumlah populasi >100
maka sampel dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% dari populasinya.
3. Dengan rumus :
Keterangan : n = 14% x N

n : Besar sampel
N : Besar pupulasi
Jadi, n = 14% x N
n = 14% x 550
n = 77 responden
Maka dalam penelitian ini 14% dari populasi adalah 77 siswa. Jadi jumlah
sampel yang akan diteliti yaitu sebanyak 77 siswa.
Cara pengambilan sampel
Dengan rumus
Keterangan k=N
K : Interval n
7

N : Populasi
n : Sampel
Sampel yang diambil setiap urutan ke – K dari daftar populasi adalah

K= = 8, maka dalam penelitian ini sampel diambil setiap urutan absen yang ke-

8 yaitu siswa dengan nomor absen 8, 16, 24, 32 dan seterusnya hingga sampel
berjumlah 77 orang siswa.

D. Subjek penelitian
Subjek penelitian ini adalah remaja yang berusia antara 14-19 tahun di kelas X dan
XI di SMAN 4 Bukittinggi dengan kriteria responden sebagai berikut :
1. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karekteristik umum dari subjek penelitian yang layak
untuk dilakukan penelitian atau dijadikan responden.
Adapun Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah :
a) Remaja laki laki maupun perempuan
b) Berusia 14 -19 tahun di kelas X dan XI di SMAN 4 Bukittinggi
c) Bersedia menjadi subjek penelitian atau responden
2. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi merupakan subjek penelitian yang tidak dapat mewakili sampel
karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian.
Adapun kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah :
a) Remaja Berusia < 14 > 19 tahun di kelas X dan XI di SMAN 4 Bukittinggi
b) Remaja yang sakit atau tidah hadir di kelas X dan XI di SMAN 4 Bukittinggi
c) Tidak Bersedia menjadi subjek penelitian atau responden.
E. Variabel penelitian