Anda di halaman 1dari 2

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) adalah program pendidikan di sekolah untuk memperkuat

karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik dan spiritual); olah rasa (estetika); olah pikir (literasi
dan numerasi); olah raga (kinestetik) sesuai dengan falsafah Pancasila. Penguatan Pendidikan Karakter
hadir untuk menyiapkan Generasi Emas 2045 yang memiliki kecakapan abad 21. Dengan menempatkan
kembali karakter sebagai ruh pendidikan di Indonesia, berdampingan dengan intelektualitas, PPK
berperan dalam pembentukan generasi muda yang tangguh, cerdas dan berkarakter. Sebagai bagian
dari Gerakan Nasional Revolusi Mental, Penguatan Pendidikan Karakter berguna untuk menguatkan 5
(lima) nilai utama karakter pada siswa pendidikan dasar, diantaranya : Regligius, Nasionalis, Mandiri,
Gotong Royong dan Integritas. Karakter yang kuat membentuk individu menjadi pelaku perubahan bagi
diri sendiri dan masyarakat sekitarnya.

Melalui kerjasama antara sekolah, keluarga dan masyarakat menjadi kunci penerapan penguatan
pendidikan karakter. Sebagai program prioritas pendidikan dan kebudayaan. Gerakan Penguatan
Pendidikan Karakter berfokus pada struktur yang sudah adalam dalam sistem pendidikan nasional, yaitu
: program, kurikulum dan kegiatan yang berbasis pada kelas, budaya sekolah dan masyarakat.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan
kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum
disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan
kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan
Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang
Standar Nasional Pendidikan (SNP) mengamanatkan kurikulum pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan
mengacu kepada Stándar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) serta berpedoman pada panduan
yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Selain dari itu, penyusunan KTSP juga
harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005.

Dengan dasar Undang-undang dan PP di atas, dalam upaya mendekatkan pendidikan dengan potensi,
perkembangan, kebutuhan peserta didik dan lingkungan, SMA Serba Bakti mengembangkan kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP ini disusun dengan mengacu pada Stándar Isi (SI) dan Stándar
Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menjamin pencapaian tujuan
pendidikan.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang untuk selanjutnya disebut Kurikulum SMA Serba Bakti
ini disusun untuk mewujudkan visi sekolah dengan mengakomodasi potensi yang ada untuk
meningkatkan kualitas satuan pendidikan, baik dalam aspek akademis maupun non akademis,
memelihara, mengembangkan budaya daerah, menguasai IPTEK yang dilandasi iman dan taqwa dan
berwawasan lingkungan, serta ramah bagi semua peserta didik.
Kurikulum SMA Serba Bakti pada tahun pelajaran 2018 / 2019 menerapkan prinsip - prinsip
pengembangan Kurikulum 2013. Adapun pengembangannya berdasarkan prinsip bahwa peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
berkarakter dan berbudi pekerti luhur dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab terhadap lingkungan. Pada kurikulum 2013 peserta didik diharapkan mempunyai ketrampilan
abad 21 yang diistilahkan 4C yaitu Communication, collaboration, Critical Thinking and Problem Solving
dan Creativity and Innovation). Penguasaan ketrampilan 4C ini sangat penting khususnya di abad 21,
abad dimana dunia berkembang dengan cepat dan dinamis. Untuk mewujudkan ketrampilan 4C itu
diantaranya yaitu dengan adanya Integrasi PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) dalam pembelajaran
terutama 5 karakter yaitu religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas serta
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang tidak hanya sekedar membaca dan menulis melainkan mencakup
ketrampilan berpikir menggunakan berbagai sumber baik cetak, visual, digital dan auditori. Juga dalam
pembelajaran menerapkan Higher Order of Thinking Skill (HOTS) yaitu dalam pembelajaran memberikan
pelatihan yang melatih kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitf yang merupakan
kemampuan berpikir tingkat tinggi sehingga diharapkan peserta didik dapat bersaing dalam kancah
dunia. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik
disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan
lingkungan yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur, serta sesuai dengan visi SMA Serba Bakti.

SMA Serba Bakti memiliki peluang berkembang cukup besar karena letak geografisnya yang strategis.
Lokasi sekolah berada di kawasan yang mudah dijangkau angkutan umum dan keadaan lingkungan yang
tenang dan nyaman. Dibalik itu semua ancaman SMA Serba Bakti bersumber dari pergeseran nilai
budaya yakni adanya kecenderungan sikap hidup metropolis yang mulai melanda kehidupan peserta
didik, menirukan perilaku masyarakat yang tidak jelas latar belakangnya. Oleh karena itu, kegiatan
pembentukan budi pekerti dan melestarikan seni budaya tradisional sangat dioptimalkan melalui
kegiatan pengembangan diri. Keberadaan lembaga sekolah negeri dan lembaga swasta merupakan
pesaing besar terhadap keberadaan SMA Serba Bakti. Menyikapi kondisi ini, SMA Serba Bakti melakukan
upaya nyata berupa peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, melengkapi sarana dan
prasarana, menjalin kerja sama yang harmonis dengan orang tua peserta didik/wali peserta didik dan
mengadakan kegiatan pengembangan diri dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dan
masyarakat.

Selain itu mengingat Kabupaten Bamara adalah daerah industri , maka dalam hal upaya pelestarian
lingkungan, pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan maka ditetapkan mata pelajaran
muatan lokal Pendidikan Lingkungan Hidup di SMA Serba Bakti diajarkan baik secara monolitik maupun
secara integratif ke semua mata pelajaran dan pengembangan diri, yang meliputi berbagai masalah
kehidupan, diantaranya tentang sampah, energi, keanekaragaman hayati, air dan makanan serta kantin
sekolah. Dengan adanya Pendidikan Lingkungan Hidup tersebut diharapkan akan terbentuk karakter
warga sekolah yang peduli terhadap kelestarian fungsi lingkungan. Hal ini sesuai dengan SMA Serba
Bakti sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi.