Anda di halaman 1dari 65

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap orang

tua. Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta

bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas ini , bersifat irreversible (tidak dapat

pulih). Sebagian besar kejadian kurang gizi dapat dihindari apabila mempunyai

cukup pengetahuan tentang cara pemeliharaan gizi dan mengatur makanan anak.

Ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan pada bayi dan anak, dan adanya

kebiasaan yang merugikan kesehatan secara langsung dan tidak langsung menjadi

penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak. Untuk mencapai sasaran

perkembangan normal, jenis makanan yang tepat perlu diperkenalkan dengan

kecepatan yang sesuai dengan kemampuan bayi. (Mary E.Barasi, 2009.p,82)

Pada umumnya anak usia 6 bulan sudah diberikan makanan pendamping ASI

oleh ibunya. Fenomena yang terjadi pada ibu pada kenyataannya, praktek pemberian

jenis MP-ASI yang diberikan pada bayi usia 6-24 bulan ialah hanya dengan makan

seadanya saja tanpa memperhitungkan variasi MP-ASI yang diberikan. Selain itu,

dalam frekuensi pemberian MP-ASI masih kurang dan ada juga yang memberikan

MP-ASI terlalu banyak. Tapi tidak memenuhi kebutuhan gizi anaknya. Sehingga

masih banyak bayi usia 6-24 bulan yang mengalami status gizi kurus. Karena

Pemberian MP-ASI pada periode usia 6-24 bulan sering tidak tepat dan tidak cukup,

baik kualitas maupun kuantitasnya. Untuk itu diperlukan pemenuhan kebutuhan

1
kalori dan zat gizi serta peran gizi dalam proses tumbuh kembang bayi/baita. (Anik

Maryunani, 2010.p,269)

Menurut WHO makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) merupakan sebuah

proses penting yang mengedepankan kesiapan bayi dalam menyambut makanan yang

akan dikonsumsinya.MP-ASI yang baik adalah mp-asi yang kaya energi, protein,

mikronutrien, mudah dimakan anak, disukai anak, berasal dari bahan makanan lokal

dan terjangkau, serta mudah disiapkan. Banyaknya kasus kurang gizi di dunia,

terutama kasus kurang protein, zat besi dan vitamin A . MP-ASI yang baik juga harus

memenuhi persyaratan tepat waktu, bergizi, lengkap, cukup dan seimbang, aman dan

diberikan dengan cara yang benar. (WHO, 2010,p.124)

Pemberian MP-ASI adalah memberikan makanan lain sebagai pendamping ASI

yang diberikan pada bayi dan anak usia 6 sampai 24 bulan. MP-ASI yang tepat dan

baik merupakan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi sehingga bayi dan

anak dapat tumbuh kembang dengan optimal. MP-ASI diberikan secara bertahap

sesuai dengan usia anak, melalui dari MP-ASI jenis lumat, lembik sampai anak

menjadi terbiasa dangan makanan keluarga. Di samping MP-ASI, pemberian ASI

terus dilanjutkan sebagai sumber zat gizi dan faktor pelindung penyakit hingga

mencapai anak usia dua tahun atau lebih. (Kemenkes RI, 2012,p.97)

MP-ASI begitu penting untuk bayi, dimana MP-ASI membantu bayi untuk lebih

tanggap terhadap makanan yang harus dikonsumsi. Bayi dapat memperoleh sumber

gizi seimbang dari makanan yang dikonsumsinya untuk pertumbuhan

perkembangannya. Namun , sumber zat gizi penting yang dibutuhkan bayi dalam

MP-ASI adalah karbohidrat, protein, lemak, air, vitamin, dan beberapa makanan

2
bermineral. Salah satu upaya untuk meningkatkan status gizi balita adalah kegiatan

pemberian makanan tambahan untuk ballita kurus. Pemberian makanan tambahan

diberikan pada balita usia 6 bulan 0 hari sampai dengan 23 bulan 29 hari dengan

status gizi kurus, diukur berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi badan

sebesar minus 3 standar deviasi (-3SD) sampai dengan kurang dari minus 2 standar

deviasi (-2SD), yang mendapat makanan tambahan selama 90 hari berturut-turut.

Pemberian makanan tambahan (PMT) pada balita kurus dapat diberikan berupa PMT

lokal maupun PMT pabrikan seperti biskuit MP -ASI. (Kemenkes RI, 2016,p.148)

Dalam periode pemberian MP-ASI, bayi tergantung sepenuhnya pada perawatan

dan pemberian makan oleh ibunya. Pengetahuan dan sikap ibu sangat berperan,

sebab pengetahuan tentang MP-ASI dan sikap yang baik terhadap pemberian MP-

ASI akan menyebabkan seorang ibu mampu menyusun menu yang baik untuk

mampu dikonsumsi oleh bayinya. Pada keluarga dengan pengetahuan tentang MP-

ASI yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makan seadanya yang tidak

memenuhi kebutuhan gizi anak balita karena ketidaktahuan ibunya. (Notoatmodjo,

2012. p.)

Dukungan keluarga yang terdiri dari dukungan orangtua, mertua, dan suami.

Dukungan tersebut berkaitan dengan keberhasilan ibu dalam menyiapkan menu

makanan yang berkualitas serta berkuantitas untuk anaknya. Dukungan keluarga

dapat diberikan dalam bentuk seperti dukungan informasi, dukungan penghargaan,

dukungan insrumental, dan dukungan emosional. Ibu membutuhkan informasi dan

dukungan dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI). (Darmayanti,

2012)

3
Petugas kesehatan sebagai educator, peran ini dilaksanakan dengan membantu

klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, sehingga terjadi

perubahan tingkah laku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

Mengingat pentingnya pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI sesuai usia maka

peran petugas kesehatan harus memberikan penyuluhan kepada ibu dan keluarga.

( Wahid Iqbal, 2005, p.75)

Menurut WHO Global Strategi for Fedding Infant And Young Children (2013)

45 % kematian balita di seluruh dunia terkait dengan malnutrisi, 2/3 balita meniggal

dunia karena malnutrisi karena memiliki pola makan yang salah yaitu tidak mendapat

ASI eksklusif, MP-ASI terlalu dini, serta gizi tidak lengkap, tidak higienis dan tidak

seimbang. (WHO, 2013, p.4)

Menurut profil Kesehatan Indonesia, presentase balita kurus yang mendapatkan

makanan tambahan adalah 36,8% dari seluruh total balita di Indonesia. Hasil

pengukuran status gizi PSG 2016 dengan indeks BB/U pada balita 0-23 bulan

mendapatkan presentase gizi buruk sebesar 3,1%, gizi kurang sebesar 11,8% dan gizi

lebih sebesar 1,5%. Oleh sebab ittu penimbangan balita sangat penting untuk deteksi

dini kasus gizi kurang dan gizi buruk, sehingga dapat ditindak lanjut dengan

penyuluhan dan juga pemberian makanan tambahan dan pemberian suplemen gizi.

(Profil Kesehatan Indonesia, 2016, p.146)

Berdasarkan hasil Riskesdas 2007, 2010, dan 2013 terlihat kecendrungan

bertambahnya prevalensi anak balita pendek-kurus, bertambhanya anak balita

pendek-normal (2,1%), dan normal-gemuk (0,3%) dari tahun 2010. Sebaliknya, ada

kecendrungan penurunan prevalensi pendek-gemuk (0,8%), normal-kurus (1,5%) dan

4
normal-normal (0,5%) dari tahun 2010. Hal tersebut terjadi bukan semata-mata

disebabkan oleh kekurangan pangan. Beberapa faktor lain yang menjadi penyebab

yaitu pemberian MP-ASI yang tidak adekuat dan penyapihan yang terlalu cepat.

Memburuknya status gizi dapat juga terjadi akibat ketidaktahuan ibu mengenai tata

cara memberikan MP-ASI yang tepat pada anaknya dan kurangnya pengetahuan ibu

tentang cara memeliahara gizi dan mengatur makan anaknya (Riskesdas, 2013,

p.213)

Penanggulangan kurang gizi pada balita dilakukan dengan pemberian MP-ASI

pada anak baduta (12-24 bulan) sebanyak 2242 baduta dalam bentuk biskuit dan

untuk bayi (6-11 bulan) pemberian MP-ASI bayi diberikan kepada 716 bayi selama 3

bulan yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi dan mempertahankan jangan

sampai menjadi gizi buruk. Pemberian MP-ASI ini diprioritaskan kepada baduta

dengan status gizi kurang Gakin di 19 kabupaten/kota. (Profil Kesehatan Provinsi

Sumatera Barat, 2013, p.51)

Kegiatan Upaya Perbaikan Gizi yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten

Pesisir selatan pada tahun 2015, yaitu berupa Pemberian Makanan Pendamping ASI

(MP-ASI) pada bayi yang kurang gizi, dengan kasus ditemukan 15 bayi dari seluruh

jumlah bayi di kabupten pesisir selatan. Diberikan perawatan dan mendapatkan MP-

ASI. (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan, 2016, p.43)

Dari data puskesmas tarusan didapatkan jumlah bayi usia 6-24 bulan adalah 811

orang dan bayi usia 6-24 bulan yang memiliki status gizi kurang yang mendapatkan

MP-ASI sebanyak 12 bayi. (Puskesmas Tarusan, 2017)

5
Dari hasil penelitian Eko Heryanto yang dilakukan di Desa Negeri Agung

tentang “Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Pemberian Makanan Pendamping

ASI Dini” menunjukkan adanya hubungan pemberian MP-ASI Dini dengan

dukungan keluarga (Eko Heryanto, 2017)

Penelitian Flora Honey Darmawan dan Eva Nur Maya Sinta yang dilakukan di

Desa Sekarwangi Kabupaten Sumedang tentang “Hubungan Pengetahuan Dan Sikap

Ibu Dengan Perilaku Pemberian Mp-Asi Yang Tepat Pada Bayi Usia 6-12 Bulan”

menunjukkan ada hubungan pengetahuan dan sikap dengan pemberian MP-ASI pada

bayi usia 6-12 bulan (Flora Honey Darmawan dan Eva Nur Maya Sinta, 2015)

Penelitian Rosnah, dkk, yang dilakukan di Puskesmas Perumnas kendari tentang

Faktor pada perilaku ibu dalam pemberian MP-ASI anak 6-24 bulan” menunjukkan

adanya hubungan perilaku ibu dalam pemberian MP-ASI dengan dukungan petugas

kesehatan dan dukungan keluarga (Rosnah, dkk, 2013)

Dari hasil survey awal tanggal 16 November 2017 pada 10 ibu yang mempunyai

anak umur 6-24 bulan di dapatkan ada sekitar 5 orang ibu memberikan makanan

pendamping ASI (MP-ASI) seadanya beupa nasi saja yang dilumatkan, 3 ibu

memberikan makanan pendamping ASI dengan frekuensi 2 kali sehari berupa

makanan keluarga, 2 ibu memberikan makanan pendamping ASI berupa nasi yang

dicampur dengan ikan bahkan telur serta sayur dan dilumatkan. Dan pada kasus ini

ditemukan ibu yang mendapatkan informasi mengenai pemberian MP-ASI dari

media berupa mendengar/melihat/menbaca yaitu 3 orang, dari tenaga kesehatan 4

orang dan yang mendapatkan dukungan keluarga 3 orang.

6
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang

“Faktor Yang Berhubungan dengan kualitas pemberian makanan pendamping ASI

(MP-ASI) di Wilayah Kerja Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan tahun 2018".

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka yang menjadi

masalah dalam penelitian ini adalah Faktor Apa sajakah yang Berhubungan dengan

kualitas pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) di Wilayah Kerja

Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan tahun 2018".

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui “Faktor Yang Berhubungan dengan kualitas pemberian

makanan pendamping ASI (MP-ASI) di Wilayah Kerja Puskesmas Tarusan

Pesisir Selatan tahun 2018".

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan di wilayah kerja

Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan

b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi peran petugas kesehatan di wilayah

kerja Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan

c. Untuk mengetahui distribusi frekuensi dukungan keluarga di wilayah kerja

Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan

7
d. Untuk mengetahui distribusi frekuensi Pemberian Makanan Pendamping

ASI (MP-ASI) di wilayah kerja Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan

e. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan Pemberian Makanan

Pendamping ASI (MP-ASI) di wilayah kerja Puskesmas Tarusan Pesisir

Selatan

f. Untuk mengetahui hubungan peran petugas kesehatan dengan Pemberian

Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) di wilayah kerja Puskesmas Tarusan

Pesisir Selatan

g. Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan Pemberian

Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) di wilayah kerja Puskesmas Tarusan

Pesisir Selatan

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Pelayanan Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pihak

puskesmas dalam melakukan intervensi dan pemantauan ke Posyandu- posyandu

berkaitan dengan Kualitas Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) bagi

ibu-ibu yang memiliki bayi umur 6-24 bulan

2. Bagi masyarakat

Memberikan informasi kepada masyarakat tentang penerapan kualitas

pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) secara benar baik kualitas

maupun kuantitasnya. Khususnya kepada ibu agar lebih memperhatikan bayinya

dalam memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI).

8
3. Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk perpustakaan

dan dapat diaplikasikan pada layanan kesehatan.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Data atau hasil yang diperoleh dapat menjadi data dasar yang mendukung

untuk penelitian berikutnya.

5. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan dan sebagai

pengalaman dalam merealisasikan teori yang telah didapat dibangku kuliah,

khususnya mengenai faktoryang berhubungan dengan pemberian Makanan

Pendamping (MP-ASI)

E. Ruang Lingkup

Penelitian ini dengan judul Faktor Yang Berhubungan dengan Kualitas

Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) di Wilayah Kerja Puskesmas

Tarusan Pesisis Selatan Tahun 2018.

Penenlitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan.waktu

penelitian direncanakan pada bulan Juli 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh ibu yang memilki bayi usia 6-24 bulan dengan jumlah 811 bayi dengan

sampel 89 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah csross sectional.

Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah

data yang didapatkan melalui wawancara langsung dengan berpedoman pada

kuisioner yang meliputi keterpaparan media, peran keluarga dan peran tenaga

9
kesehatan dalam pemberian MP-ASI. Data sekunder adalah data dan informasi

pendukung yang sudah ada, diperoleh dari Puskesmas Tarusan Kabupaten Pesisir

Selatan. Kemudian diolah dan dianalisa secara komputerisasi menggunakan uji

statistik chi-square pada tingkat kemaknaan 95%.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

10
A. Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

1. Pengertian MP-ASI

Berikut ini adalah beberapa pengertian dari MP-ASI (Makanan Pendamping

ASI, antara lain:

a) Makanan Pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang

mengandung gizi diberikan kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan

gizinya.

b) MP-ASI diberikan mulai umur 6 bulan sampai 24 bulan. Semakin

meningkat umur bayi/anak, kebutuhan zat gizi semakin bertambah untuk

tumbuh kembang anak, sedangkan ASI yang dihasilkan kurang memenuhi

kebutuhan gizi.

c) MPASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga.

Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik

bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan

bayi/anak.

d) Pemberian MPASI yang cukup kualitas dan kuantitasnya penting untuk

pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang sangat pesat

pada periode ini. (Anik Maryunani, 2010,p.282)

Rekomendasi pemberian MP-ASI menurut WHO Global Strategi for

Fedding Infant And Young Children (2013) pembemberian MP-ASI baiknya

memenuhi 4 syarat yaitu :

11
a) Tepat waktu (timely), MP-ASI diberikan saat ASI eklusif sudah tidak dapat

memenuhi kebutuhan nutrisi bai

b) Adekuat, MP-ASI memiliki kandungan energi, protein dan mikronutrien

memenuhi kebutuhan bayi sesuai usianya

c) Aman, MP-ASI disiapkan dan disimpan dengan cara yang higinies,

diberikan menggunakan tangan dan peralatan makan yang bersih

d) Diberikan dengan cara yang benar (properlay fed), MP-ASI diberikan

dengan memperhatikan sinyal ras lapar dan kenyang seorang anak.

2. Tujuan Pemberian MP-ASI

Tujuan pemberian makanan tambahan pendamping ASI adalah :

a) Melengkapi zat gizi ASI yang sudah berkurang.

b) Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacam-macam

makanan dengan berbagai rasa dan bentuk.

c) Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan.

d) Mencoba adaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi tinggi.

(Anik Maryunani,2010,p.282)

3. Jenis Makanan MP-ASI

Jenis makanan MP-ASI, antara lain :

a) Makanan Lumat

Makanan Lumat adalah semua makanan yang dimasak dan/atau

disajikan secara lumat, yang diberikan pertamakali kepada bayi sebagai

peralihan dari ASI ke makanan padat. Makanan lumat diberikan pada usia

bayi 6 bulan. Contoh makanan lumat bubur tepung, bubur beras (encer),nasi

12
atau pisang dilumatkan, ketupat dilumatkan, lauk pauk yang dilumatkan

ataupun sayuran yang dilumatkan. Makanan lumat diberikan 2 kali sehari.

Sejalan dengan pertambahan umur anak, frekuensi pemberian makanan

meningkat menjadi 4-5 kali 1 piring kecil sehari.

b) Makanan Lembik

Makanan Lembik/lembek adalah peralihan dari makanan lumat menjadi

makanan keluarga. Makanan lembik ini diberikan pada anak usia 7-12

bulan. Contoh makanan lembik : bubur beras (padat), nasi lembik, ketupat

dengan disertai lauk pauk seperti tempe, tahu, beserta sayuran. Diberikan

secara bertahap dari 1 kali sehari hingga 4-5 kali i1 piring sedang.

c) Makanan Keluarga

Makanan Keluarga adalah makanan yang dikonsumsi oleh anggota

keluarga yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah.

Pada usia 6-24 bulan bayi bisa melanjutkan makanan pendamping ASI

(MP-ASI) secara bertahap sampai usia 24 bulan yaitu dengan :

a) Bubur kental untuk umur 6-9 bulan

b) Makanan cincang dan tim untuk umur 9-12 bulan

c) Makanan keluarga untuk umur 12-24 bulan

(Wahana Visi Indonesia, 2015,p.6)

4. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pemberian MP-ASI

a) Perhatikan kebersihan alat makan.

b) Membuat makanan secukupnya.

c) Berikan makanan dengan sebaik-baiknya

13
d) Buat variasi makanan.

e) Ajak makan bersama anggota keluarga lain.

f) Jangan memberi makanan dekat dengan waktu makan.

g) Makanan berlemak menyebabkan rasa kenyang yang lama.

(Anik Maryunani, 2010,p.283-284))

Untuk menjamin kebersihan dan keamanan dalam pemberian MP-ASI

diperlukan :

a) Biasakan mencuci tangan sebelum makan

b) Gunakan alat makan yang bersih dan steril

c) Masaklah makan dengan benar

d) Hindari mencampurkan makanan mentah dengan makanan yang sudah

matang

e) Cucilah sayur dan buah sebelum dimakan

f) Pergunakanlah sumber air bersih

g) Simpanlah makanan pada tempat yang aman

(Aryono Hendarto, 2013,p.24)

5. Makanan Tambahan

1. Pentingnya pemberian makanan tambahan

Tujuan dan pentingnya pemberian makanan tambahan menurut

Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi : 1992) antara lain :

14
a. Melengkapi zat-zat gizi yang kurang terdapat dalam ASI.

b. Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacam-macam

makanan dengan berbagai rasa dan tekstur.

c. Mengembangkan kemampuan bayi untuk menguyah dan menelan.

d. Melakukan adaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi

yang tinggi. (Ida Mardelina, 2017,p.83)

2. Cara memberikan makanan tambahan

Agar makanan tambahan dapat diberikan dengan efisien, sebaiknya

diperhatikan cara-cara pemberiannya sebagai berikut :

a. Diberikan secara berhati hati, sedikit demi sedikit, dari bentuk encer

secara berangsur-angsur ke bentuk yang yang lebih kental.

b. Makanan baru diperkenalkan satu per satu dengan memperhatikan

bahwa makanan betul-betul dapat diterima dengan baik.

c. Makanan yang menimbulkan alergi, yaitu sumber protein hewani

diberikan terakhir. Urutan pemberian makanan tambahan biasanya

adalah : buah-buahan, tepung-tepungan, sayuran, dan daging (telur

biasanya baru diberikan pada saat bayi berusia 6 bulan).

d. Cara memberikan makanan bayi dipengaruhi perkembangan

emosionalnya. Makanan jangan dipaksakan, sebaiknya diberikan pada

waktu bayi lapar.

Makanan tambahan yang terdiri dari berbagai Campuran makanan dapat

memberikan mutu yang lebih tinggi daripada mutu masing-masing bahan

yang disusunnya. Dengan bercampurnya beragam bahan makanan tersebut,

15
maka bahan yang kurang dalam zat-zat yang bersangkutan. Dengan

demikian masing-masing bahan makanan memilki efek komplementer yang

berakibatkan meningkatkan mutu gizi makanan.(Ida Mardelina, 2017,p.83-

84)

6. Mengenalkan dan Merencanakan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

Selama enam bulan, bayi dianjurkan minum Air susu ibu. Namun, kadang-

kadang produksi ASI menurun. Bila produksi ASI turun terus-menerus

kecukupan gizi bayi tidak dapat terpenuhi secara optimal. Sebaiknya mulai usia

empat bulan, bayi diberi makanan pendamping ASI (M-PASI). Pada usia ini,

sistem pencernaan bayi mulai berkembang baik. Namun, jika ASi cukup,

sebaiknya pemberian M-PAS dimulai pada usia 6 bulan. Meskipun bayi sudah

diberi MP-ASI bukan berarti ASI sudah tidak diberikan lagi. ASI tetap diberikan

sampai bayi berusia satu tahun. Jika produksi ASI masih baik, pemberian ASI

dapat berlanjut hingga usia dua tahun.

1. Kapan Memberikan Makanan Pendamping ASI (M-PASI)

Pemberian M-PASI bukan semata-mata karena produksi ASI berkurang

Namun bisa juga karena bayi masih tetap merasa lapar walaupun sudah

diberi ASI sehingga perlu diberi makanan tambahan Tanda-tanda bayi siap

menerima M-PASI adalah bayi lebih rewel dari biasanya, jangka waktu

menyusui menjadi lebih sering terihat antusias ketika melihat orang di

sekitar sedang makan. Ciri lainnya, bayi mulai memasukkan tangannya ke

mulut, mulai bisa didudukkan dan mampu menegakkan kepala serta

kemampuan refleks bayi dalam menelan mulai baik.

16
Perkembangan fungsi pencernaan bayi perlu diperhatikan dengan

seksama. Jika kemampuan refleks menelan bayi belum berkembang dan

bayi belum bisa menegakkan kepala sebaiknya pemberian MP-ASI ditunda

terlebih dahulu hingga bayi siap. Jika dipaksa, bayi tidak dapat menelan

makanan dengan baik, bahkan makanan itu dapat menyumbat saluran

pernapasan, seperti hidung dan tenggorokan. Akibatnya bayi tersedak,

napasnya tertahan atau bersin. Kejadian ini dikhawatiran dapat

menimbulkan trauma bagi bayi sehingga akan menolak perrberian makanan

di waktu berikutnya.

2. Bentuk Makanan

Ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan dalam pemberian

makanan pendamping ASI yakni fungsi pencernaan bayi, kebutuhan makan

bayi, serta tingkat usia bayi. Ketiga faktor tersebut akan memengaruhi

bentuk makanan yang harus diberikan kepada bayi.

a. Usia 6-7 bulan

Usia 6-7 bulan merupakan usia awal bayi mengenal makanan.

Fungsi pencernaan bayi sudah cukup berkembang baik, walaupun

belum optimal. Selama enam bulan pertama, bayi hanya memperoleh

ASI sebagai makanan utama sehingga pada tahap awal pengenalan

makanan pendamping ASI sebaiknya bayi diberi pure atau makanan

yang sudah dihaluskan, encer dan lembut. Tujuan pemberian pure agar

sistem pencemaan bayi tidak kaget saat menerima makanan selain ASI,

17
sehingga tidak menimbulkan masalah kesehatan. Pure terbuat dari buah

dan sayur.

Selain pure, bubur beras yang terbuat dari tepung beras merah

maupun tepung beras putih dapat menjadi makanan pendamping ASI

Pada tahap awal, kepadatan bubur beras dapat dibuat encer dengan

menambahkan komposisi ASI, susu atau air matang dari resep awal.

Setelah beberapa waktu, kepadatan bubur dapat dibuat lebih pekat.

b. Usia 7-9 bulan

Pada usia ini, sistem pencernaan bayi sudah semakin berkembang.

Gigi-geligi mulai tumbuh. Tingkat keinginan bayi untuk mengeksplorasi

makanan juga mulai tumbuh, karena itu di usia 7-8 bulan, bayi mulai

diperkenalkan dengan makanan berbentuk lembek dan lembut Pada usia

8-9 bulan dapat diperkenalkan dengan bubur saring yang memiliki

tekstur sedikit lebih kasar daripada bubur lernbek yang diberikan pada

usia 7-8 bulan.

c. Usia 9-12 bulan

Usia ini gigi geligi bayi sudah tumbuh banyak. Perkembangan

motorik bayi juga berkembang pesat. Bayi mulai dapat berjalan serta

aktif bergerak. Sistem pencernaan bayi juga mulai berfungsi baik. Pada

usia ini, bayi mulai diperkenalkan bayi dengan bentuk makanan semi

padat seperti nasi tim dan makanan yang kasar Makanan berbentuk jari

(finger foods), juga mulai dapat diberikan kepada bayi karena bayi telah

mempunyai kemampuan menggenggam yang baik.

18
3. Bahan Makanan

Tidak sembarang bahan makanan dapat diperkenalkan kepada bayi.

Orang tua harus cermat memilih bahan makanan yang mudah dicerna dan

aman untuk bayi karena sistem pencernaan bayi masih dalam tahap

perkembangan.

a. Usia 6-7 bulan

Pada tahap awal pengenalan makanan pendamping. sebaiknya

diberikan makanan yang tidak menimbulkan reaksi alergi, seperti buah

dan sayuran. Buah dipilih harus yang sudah matang, bertekstur renyah

dan manis secara alamiyang berasal dari gula buah. Vitamin berfungsi

meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, sedangkan

karbohidrat menjadi sumber tenaga bagi Beberapa jenis sayuran juga

baik bagi bayi.

Beberapa jenis sayuran yang dapat diberikan kepada bayi adalah

wortel, bayam, labu kuning, brokoli dan lain-lain. Karena sayuran kaya

serat dan teksturnya juga kasar, sebaiknya sayuran direbus terlebih

dahulu sebelum dibuat menjadi pure sayuran. Sayuran berfungsi

memperlancar pencernaan, membantu pertumbuhan bakteri baik dalam

usus, serta mengandung zat gizi yang baik untuk pertumbuhan bayi

seperti vitamin dan mineral esensial. Di dalam sayuran terdapat

kalsium, pro vitamin A (betakaroten) serta zat besi yang berguna

membawa oksigen ke tubuh.

19
Bayi akan cenderung menyukai buah-buahan karena rasanya manis.

Sebaliknya sayuran cenderung tidak disukai bayi karena rasanya langu.

orangtua harus pintar menyiasati saat memberikan makanan. Sayuran

dapat disuapkan ke lidah bagian tengah. Untuk menghindari bayi

menolak sayuran, perkenalkan sayuran terlebih dulu baru buah.

b. Usia 7-9 bulan

Pada usia 7-9 bulan, bayi sudah dapat diperkenalkan dengan

makanan yang mengandung pati seperti karbohidrat kompleks dan

sayuran. Protein baru dapat diberikan saat bayi berusia delapan bulan ke

atas. Proses pencernaan karbohidrat pada bayi sudah mulai kompleks

dan rumit, apalagi bila ditambah dengan protein. Biarkan sistem

pencernaan bayi bekerja secara perlahan. Gandum dan produk olahan

juga baru dapat diperkenalkan kepada bayi saat dia berusia delapan

bulan ke atas, karena mengandung gluten yang sulit dicerna.

c. Usia 9-12 bulan

Pada usia ini bayi sudah dapat diperkenalkan dengan beragam jenis

makanan dengan rasa dan tekstur yang lebih kaya. Namun putih telur

belum bisa diberikan untuk menghindari alergi. Jangan memberikan

jajanan seperti bakso, makanan berpengawet, makanan yang

mengandung pewarna dan makanan yang mengandung penguat rasa

buatan. Jika memungkinkan gunakan produk nabati dan hewani organik

untuk menghindari residu pestisida yang berbahaya bagi kesehatan bayi.

Bila ingin memberikan makanan selingan kepada bayi, orangtua dapat

20
membuat sendiri. Pemberian garam dan gula juga tetap harus dibatasi,

karena gula dapat menimbulkan obesitas, merusak gigi, dan

memberatkan kerja hati dan ginjal bayi.

4. Tip Memilih Bahan Makanan Bayi

a. Perhatikan keadaan sayuran dan buah, sebaiknya dalam keadaan segar

dan organik.

b. Pilih buah yang sudah benar-benar matang, hindari sayuran dan buah

yang mengandung gas.

c. Bubur susu kemasan yang tersedia di pasaran dapat menjadi pilihan bila

sedang bepergian. Jangan dijadikan makanan sehari-hari, berikan hanya

dalam kondisi terpaksa.

d. Gunakan sayuran, daging dan buah organik agar terhindar dari

pencemaran zat anti pestisida yang kemungkinan mencemari bahan

pangan.

e. Menghindari penggunaan makanan dan berbumbu tajam karena dapat

menyebabkan gangguan pencemaan seperti diare.

f. Selalu memeriksa tanggal kedaluwarsa di kemasan.

g. Telur dan ikan harus benar-benar matang agar bayi tidak tercemar

bakteri penyebab penyakit. (Budi Sutomo dan Dwi Yanti Anggraini,

2010,p.31-38)

7. Merencanakan Menu Makanan Pendamping ASI

Layaknya orang dewasa, menu makanan pada bayi juga membutuhkan

beragam variasi menu. Manfaatnya, bayi mengenali beragam cita rasa makanan,

21
tidak bosan pada jenis makanan tertentu, lebih berselera untuk makan dan

mendapatkan asupan zat gizi optimal. Banyak hal yang harus diperhatikan

sebelum merancang menu bayi pendamping Asl, seperti harus mengandung

komposisi gizi yang seimbang. Faktor usia juga memengaruhi penyusunan menu

karena semakin bertambah usia bayi, pencernaannya kian sempurna dan

memerlukan bahan makanan yang beragam agar semua unsur gizi terpenuhi.

Rotasi menu sebaiknya tujuh hari agar variasi bahan beragam dan bayi tidak

bosan.

1. Makanan Pantangan Bayi

a. Madu

Hindari pemberian madu pada bayi, karena kadang-kadang dalam

madu terkandung bakteri Clostridium botulinum yang bisa

menyebabkan infant botulism yaitu kejang otot dan penyakit

pernapasan.

b. Gluten

Gluten adalah protein yang terkandung dalam tepung terigu,

rye,barley dan oat/havermut. Jangan memberikan bahan pangan

mengandung gluten sebelum bayi mencapai usia enam bulan, karena

gluten sulit dicerna bayi. Perhatikan reaksinya, jika bayi alergi gluten,

hentikan pemberian makanan mengandung terigu.

c. Garam

22
Makanan mengandung garam dapur (NaCL) sebaiknya tidak

diberikan pada bayi usia di bawah satu tahun. Pemberian garam pada

bayi bisa menyebabkan terganggunya fungsi ginjal dan dehidrasi.

d. Telur Setengah Matang

Telur yang tidak dimasak sempurna kadang-kadang mengandung

bakteri salmonella yang berbahaya bagi kesehatan bayi. Pemberian telur

juga bisa menimbulkan reaksi alergi, terutama bagian putih telur.

Sebaiknya jangan memberikan putih telur pada bayi usia delapan bulan.

Berikan secara bertahap dan hentikan jika teriadi reaksi alergi.

e. Kacang-kacangan

Kacang-kacangan seperti kacang tanah terkadang mengandung

bakteri yang bisa memicu alergi. Penyakit alergi akibat kacang-

kacangan sering disebut shock anaphylactic atau kejang-kejang.

f. Gula

Jangan memberikan gula mumi pada bayi usia di bawah 10 bulan

karena bisa menyebabkan kerusakan gigi dan obesitas. Gula dalam

jumlah sedikit boleh diberikan pada bayi usia di atas 10 bulan. Tidak

dalam bentuk larutan gula, namun sebagai campuran makanan seperti

puding atau cookies bayi.

g. Ikan Berduri Banyak

Hindari pemberian daging ikan yang banyak mengandung duri

seperti ikan teri, mujair dan bandeng karena bisa menyebabkan bayi

tersedak.

23
h. Cumi, Udang dan Kerang

Bahan pangan ini sebaiknya tidak diberikan kepada bayi karena

dapat memicu timbulnya alergi.

i. Makanan Kaleng

Makanan kaleng baik berupa sayuran, buah, kacang-kacangan

maupun daging biasanya sudah ditambah dengan bahan pengawet,

garam, pemberi rasa dan pemanis. Bahan pangan ini berbahaya untuk

kesehatan bayi karena dapat menyebabkan kanker.

j. Makanan Diasap

Makanan diasap seperti daging, ayam dan ikan biasanya bertekstur

liat sehingga sulit dicerna bayi. Makanan yang diasap juga mengandung

senyawa karsinogen yang bisa menyebabkan kanker.

k. Bumbu Tajam

Bumbu tajam seperti lada, cabai dan asam sebaiknya tidak

diberikan untuk bayi karena bisa mengganggu sistem pencemaan bayi.

l. Jerohan

Jerohan seperti limpa, babat, usus tekstumya liat dan sulit dicema

oleh bayi dan bisa menyebabkan sembelit.

m. Kulit dan lemak padat

Kulit dan lemak seperti margarin dan mentega sebaiknya jangan

diberikan karena kulit banyak mengandung lemak dan kolestrol yang

bisa menyebabkan gangguan kesehatan seperti obesitas pada bayi.

Selain itu bayi juga belum bisa mencerna dengan baik bahan pangan ini.

24
n. Makanan Mengandung Gas

Jangan memberikan makanan mengandung gas atau alkohol, seperti

tape, durian, kol, lobak dan nangka. Bahan makanan ini dapat

menyebabkan ganguan pencernaan seperti perut kembung.

o. Sayuran Liat

Bayi belum bisa mencema sayuran yang terlalu liat dan tinggi serat

seperti kangkung, kailan, sawi dan bokcai, kecuali diolah dengan cara

dihaluskan.

p. Buah bercita rasa tajam seperti sirsak, nanas dan jeruk asam sebaiknya

jangan diberikan karena dapat mengganggu pencernaan bayi.

2. Jadwal Makan Bayi

Mengatur jadwal pemberian makan bayi sejak dini sangat penting

sebagai upaya pembentukan disiplin makan. Pemberian makan kepada bayi

tidak harus dalam jumlah makan yang banyak. Jumlah makan yang cukup

namun dapat mengenali jam biologis makan bayi akan lebih baik. Semakin

bertambah usia bayi, jadwal pemberian makan bayi akan lebih sering.

Tabel 1. Rencana menu 1 hari bayi usia 6-7 bulan

Waktu Menu
Pagi 120-180 ml ASI/susu formula lanjutan sesuai usia
Sarapan 20-60 gram bubur beras bayam
Selingan pagi 15-30 ml buubur pisang ambon
Makan siang 20-60 gram bubur susu kentang
Makan sore 120-180 ml ASI/susu formula lanjutan sesuai usia

25
Makan malam 15-60 gram bubur wortel maizena
Menjelang tidur 120-180 ml ASI/ susu formula lanjutan sesuai usia
Tabel 2. Rencana menu 1 hari bayi usia 8-10 bulan
Waktu Porsi makan
Pagi 120-180 ml ASI/ susu formula lanjutan sesuai usia
Sarapan 60-90 bubur nasi tahu putih
Selingan pagi 30-40 gram pur avokad
Makan siang 60-90 gram bubur tempe beras merah
Makan sore 30-40 gram potongan mangga
Makan malam 60-90 gram bubur kentang tuna
Menjelang tidur 120-180 ml ASI/ susu formula lanjutan sesuai usia
Tabel 3. Rencana menu 1 hari bayi usia 10-12 bulan
Waktu Porsi makan
Pagi 120-180 ml ASI/ susu formula lanjutan sesuai usia
Sarapan 60-90 gram nasi tim beras merah
Selingan pagi 30-40 gram potongan pepaya
Makan siang 120-180 ml ASI/ susu formula lanjutan sesuai usia
50-60 gram pure kentang daging cincang
Makan sore 40-50 gram cookies wortel
Makan malam 60-90 gram tim makaroni ayam
40-50 gram setup sayuran
Menjelang tidur 120-180 ml ASI/ susu formula lanjutan sesuai usia
Catatan : berikan ASI/susu formula lanjutan sesuai usia jika diantara waktu

makan bayi merengek atau menagis karena lapar. (Budi Sutomo & Dwi Yanti

Anggraini, 2010,p.51-54))

8. Pengenalan Makanan Padat Bayi

1. Syarat

Makanan tambahan untuk bayi sebaiknya memenuhi persyaratan

sebagai berikut :

a) Nilai energi dan kandungan proteinnya tinggi.

b) Memiliki nilai suplementasi yang baik, mengandung vitamin dan

mineral dalam jumlah yang cukup

c) Dapat diterima dengan baik.

d) Harganya relatif murah.

26
e) Sebaiknya dapat diproduksi dari bahan-bahan yang tersedia secara

lokal.

Makanan tambahan bagi bayi seharusnya menghasilkan energi

setinggi mungkin, sekurang-kurangnya mengandung 360 kkal per 100 g

bahan. Kecukupan energi bagi bayi yang berusia 6-12 bulan adalah

sekitar 870 kkal dan kecukupan protein per hari sekitar 20 g.

Makanan tambahan bagi bayi hendaknya bersifat padat gizi, dan

mengandung serat kasar serta bahan lain yang sukar dicerna seminimal

mungkin, sebab serat kasar yang terlalu banyak jumlahnya akan

mengganggu pencernaan. Makanan tambahan juga tidak boleh bersifat

kamba, sebab cepat memberi rasa kenyang pada bayi. Sebagai contoh,

pengubahan pati menjadi dekstrin dimaksudkan agar makanan

tambahan untuk bayi tidak bersifat kamba, sehingga manfaat energi dan

protein akan meningkat. Pengubahan ini dapat dilakukan dengan cara

pemanasan, secara mekanis atau secara enzimatik, misalnya dengan

penambahan enzim alfa-amilase.

Lemak dalam makanan tambahan selain berfungsi sebagai sumber

energi, juga dapat memperbaiki cita ras (memberi rasa gurih).

Kandungan asam linoleat sebaiknya tidak kurang dari 1 %, dan

kandungan lemak dapat memberikan energi sebesar 25-30% dari total

energi produk. Kadar lemak makanan tambahan dapat ditingkatkan

mencapai 10% sejauh teknologi memungkinkan, tanpa menggangu daya

27
tahan simpan untuk memperoleh mutu makanan tambahan yang tetap

baik.

Makanan tambahan harus mengandung protein dengan nilai NPU

(Net Protein Utilization) sama atau lebih besar dari 60, dan lebih

disenangi nilai NPU yang mendekati 65, dengan kadar protein sekitar

20%. Nilai PER (Protein Efficiency Ratio) harus lebih besar atau sama

dengan 2,1 dan jika mutu protein yang digunakan lebih tinggi, maka

kadar protein makanan tambahan dapat lebih rendah.

Karena beragamnya jenis makanan bayi, maka sulit untuk mencari

standar yang berlaku umum. Akan tetapi PAG (Protein A dvisory

Group), pada tahun 1972 telah membuat daftar komposisi makanan

bayi, yang mungkin masih dapat digunakan sebagai pegangan untuk

standarisasi

2. Saat yang Tepat

Dilihat dari sudut kematangan fisiologis dan kebutuhan gizi, pemberian

makanan selain ASI kepada bayi sebelum usia empat bulan biasanya tidak

diperlukan dan bahkan akan mengundang risiko, misalnya akan

mengundang resiko untuk sakit dan penyakit-penyakit lainnya. Lebih-lebih

lagi, akibat ngaruhnya pada perilaku makan bayi, juga akan memengaruhi

sekresi ASI, makanan atau minuman lainnya yang mulai diberikan pada saat

sebelum bayi membutuhkan makanan pelengkap (dengan alasan kebutuhan

gizi), akan dapat mengganggu proses inisiasi menyusui dan proses

mempertahankan menyusui.

28
Di lain pihak, pada usia sekitar enam bulan, banyak bayi ASI yang

membutuhkan beberapa makanan pelengkap dan secara fungsi berkembang

lengkap untuk dapat mengatasinya. Dari kebiasaan yang ada, periode antara

4 hingga 6 bulan terlihat sebagai masa yang tepat bagi bayi untuk mulai

beradaptasi dengan makanan dengan berbagai jenis tekstur dan cara makan.

Walaupun demikina, kapan sebaiknya memeulai memberikan makanan

pelengkap pada bayi ASI tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan usia bay

saja. Jenis makanan biasa dikonsumsi atau yang mudah didapatkan di

rumah, dan keadaan kondisi lingkungannya, fasilitas untuk penyiapan dan

pemberian makanan dengan cara yang mudah dan aman, semuanya

merupakan faktor yang turut menentukan.

3. Jadwal Pemberian

Jadwal pemberian makanan tambahan bayi berdasarkan umur sebagai

berikut :

a) usia 0-1 bulan diberikan ASI saja.

b) Usia 4-5 bulan diberikan ASI dan bubur.

c) Usia 5-6 bulan diberikan ASI, bubur dan sayur

d) Usia 6-7 bulan diberikan ASI, bubur, sayur dan buah.

e) Usia 7-8 bulan diberikan ASI, bubur, sayur, buah, dan protein hewan

f) Usia 7-9 bulan diberikan ASI, bubur, sayur, buah, protein hewani dan

protein nabati

29
g) Usia 9-10 bulan diberikan selain makanan seperti di atas, bayi mulai

diperkenalkan pada makanan yang dapat menyebabkan alergi (alergenic

food) seperti: telur, daging, dan ikan.

h) Usia 10-12 bulan, bayi mulai dilatih dengan memberi makanan seperti

yang dimakan oleh anggota keluarga lain (makanan keluarga)

4. Resiko Pemberian Makanan Pelengkap Terlalu Dini

Telah lama diketahui bahwa bayi belum siap untuk menerima makanan

semi padat sebelum kira-kira usia enam bulan, dan makanan itu juga belum

dirasakan perlu, sepanjang bayi masih mendapat ASI. Risiko yang

ditemukan segera jika bayi diberi makanan pelengkap terlalu dini dan

adanya kemungkinan terjadi dampak yang tidak diinginkan dalam jangka

panjang, termasuk peranannya dalam keadaan patologis seperti obesitas,

hipertensi rosis, dan alergi makanan. (Merryana Adriani & Bambang

Wirjadmadi, 2012,p.149-152))

9. Pengaturan Makanan Bayi Dan Balita

1. Tujuan pengaturan makan bayi dan balita

Pengaturan makan untuk bayi dan balita berbeda dengan pengaturan

pada orang dewasa karena pada masa ini bayi dan anak masih dalam

pertumbuhan dan perkembangan. Terdapat 2 tujuan pengaturan makan untuk

bayi dan balita, yaitu :

a) Memberikan zat gizi yang cukup bagi kebutuhan hidup, yaitu untuk

pemeliharaan dan/atau pemulihan serta peningkatan kesehatan,

30
pertumbuuhan dan perkembangan fisik dan psikomotor, serta

melakukan aktivitas fisik.

b) Untuk mendidik kebbiasaan makan yang baik, menyukai dan

menentukan makanan yang dibutuhkan.

Sedangkan Titi (1996) menguraikan tujuan pengaturan makan atau

tujuan upaya gizi pada bayi dan balita ada 3 yaitu :

a) Tujuan fisiologis

Memberikan kalori dan zat-zat gizi yang dibutuhkan bayi dan balita untuk

bergerak, tumbuh dan berkembang.

b) Tujuan psikologis

Memberikan kepuasan kepada bayi dan balita menikmati makanan yang

diberikan.

c) Tujuan edukasi

Memberikan kepuasan kepada bayi dan balita menikmati makanan yang

diberikan.

2. Syarat untuk makanan pada bayi dan balita

Sayarat untuk makanan bayi dan balita, yaitu :

a) Memenuhi kecukupan energi dan semua zat gizi sesuai dengan umur.

b) Susuan hidangan disesuaikan dengan pola menu seimbang, bahan

makanan yang tersedia setemapat, kebiasaan makan dan selera terhadap

makan.

c) Bentuk dan porsi makanan disesuaikan dengan daya terima, toleransi

dan keadaan faali bayi/balita.

31
d) Memperhatikan kebersihan perorangan dan lingkungan.

3. Makanan untuk Bayi Sehat

Makanan untuk bayi sehat terdiri dari :

a) Makanan utama adalah Air Susu Ibu

b) Makanan pelengkap terdiri dari buah-buahan, biskuit, makanan padat

bayi, yaitu buubur susu, nasi tim atau makanan lain yang sejenis.

Tabel 4: Rekomendasi Pemberian Makanan Bayi

Mulai menyusui Dalam waktu 30-60 menit setelah melahirkan


(disebut : Inisiasi Menyusui Dini/IMD)
Menyusui Ekslusif Umur 0-6 bulan pertama
Makanan Pendamping ASI Mulai diberikan pada umur 6 bulan dan
(MP-ASI) seterusnya

Makanan untuk bayi harus disesuaikan denagan perkembangan saluran

pencernaan. Perlu diketahui bahwa, memberikan makanan/zat gizi

sebetulnya sudah dimulai sejak janin dalam kandungan terutama pada saat

otak mulai berkembang, sehingga kecukupan zzat gizi ditujukan kepada ibu

yang sedang hamil perlu diperhatikan.

Pada usia 6 bulan pertama, bai hanya diberikan ASI (Air Susu Ibu) atau

dikenal denfan sebutan ASI Eksklusif, karena ASI adalah makanan terbaik

bagi bayi karena mengandung zat gizi paling sesuai untuk pertumbuhan dan

perkembangan serta ASI juga mengandung zat kekebalan tubuh yang sangat

berguna bagi kesehatan bayi dan kehidupan selanjutnya.

Setelah 6 bulan pertama, bayi baru lahir diberikan makanan

pendamping ASI. Berbagai makanan pendamping ASI diolah sesuai dengan

tahap perkembangan bayi/anak, dari lumat (misalnya : bubur susu/saring)

32
kemudian lembek (misalnya : nasi tim), elanjutnya padat. Pada saat tahap

pemberian makanan setengah padat, konsistensi makanan harus halus, bebas

gumpalan sehingga mudah ditelan. Pemebrian makanan harus disesuaikan

dengan kemampuan serta perkembangan saluran pencernaannya. Tahapan

peberian makanan juga harus diberikan sesuai anjuran, tidak boleh

dipercepat karena dapat menyebabkan kerusakan saluran cerna. Demikian

juga pada saat bayi sudah harus mulai makan makanan padat (paling lambat

7-8 bulan), janagn sampai pemberiannya ditunda, oleh karena dapat menjadi

penyebab bayi sulit makan makanan padat, sulit mengunyah, menolak

makanan padat atau muntah.

Pada usia 12 bulan, bayi sekarang sebagai anak kecil, mulai dilatih

diberi makanan yang sam dengan makanan anggota keluarga lain. Namun

apabila anak menunjukkan kesulitan mengunyah, upayakan memperlunak

makanan. Pengguanaan bumbu yang merangsang mulut atau mengakibatkan

diare perlu dihindarkan.

10. Kualitas Makanan dan Kuantitas Makanan

A. Kualitas Makanan

Yang disebut sebagai makanan adalah segala sesuatu yang biasa dimakan.

Makanan dapat diperinci lagi menurut jenisnya, seperti : makanan pokok, lauk-

pauk, sayur, buah, dan lain-lain. Makanan bayi/anak selain ASI, terdiri atas

makanan pokok, lauk-pauk, sayur, buah dan susu, sehingga mengandung cukup

zat gizi yang dibutuhkan.

33
a. Makanan pokok sebagai sumber energi terutama dalam pemenuhan

kebutuhan kalori.

b. Lauk-pauk sebagai sumber protein (zat pembangun), sebagai sumber asam

amino esensial dan mengandung lemak, sebagai sumber asam lemak

esensial yang diperlukan dalam proses tumbuh sel-sel otak serta kematangan

fungsi sel-sel otak (asam lemak tak jenuh ganda).

a) Lauk-pauk hewani : seperti daging sapi, ikan, telur, hati, daging ayam

b) Lauk-pauk nabati : seperti kacang-kacangan, tahu, tempe

c. Sayur dan buah, sebagai sumber vitamin dan mineral merupakan zat

pengatur proses-proses dalam tubuh.

d. Susu, sebagai sumber protein dan energi.

e. Air minum yang bersih, sebagai bahan untuk membantu metabolisme.

B. Kualitas Makanan

f. Kebutuhan kalori pada anak harus terpenuhi terutama untuk metaboloisme

basal (untuk bekerjanya organ tubuh), pengolahan makaan, aktivitas sehari-

hari dan proses pertumbuhan. Zat-zat gizi sebagai sumber kalori terutama

didapat dari karbohidrat, lemak dan protein. (Anik Maryunani, 2010.p, 269)

B. Faktor yang berhubungan dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-

ASI)

34
Menurut Lawrence Greeen (1993) bahwa kesehatan seseorang dan masyarakat

dipengaruhi oleh faktor – faktor yakni faktor perilaku dan faktor diluar perilaku,

selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau dibentuk oleh 3 faktor :

1. Faktor predisposisi (predisposing factors)

1) Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan adalah hasil tahu, dan terjadi setelah orang melakukan

pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Peinginderaan terjadi melalui

pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa,

dan raba. Sebagian besar pengetahuan manisia diperoleh melalui mata dan

telinga.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting

untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) .

Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif dalam mempunyai

enam tingkat, yakni:

1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh

bahan yang dipelajari rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu,

tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja

untuk mengukur bahwa orang tahutentang apa yang dipelajari antara

lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan

sebagainya.

35
2) Memahami (comperhension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi

terhadap objek atau materi harus dapat menjelskan, menyebutkan

contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek

yang dipelajari.

3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi

di sini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,

metode, prinsip, sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu

struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja,

dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,

mengelompokkan.

5) Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk yang keseluruhan

yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan menyusun

formulasi baru dari formulasi yang ada

36
6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

jastifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-

penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri.

Hasil penelitian Flora Honey Darmawan dan Eva Nur Maya Sinta,

2015. Adanya hubungan pengetahuan dan sikap dengan pemberian MP-

ASI pada bayi usia 6-12 bulan di Desa Sekarwangi yaitu 37,5% yang

belum mengetahui tentang MP-ASI, 35,4% bersikap negatif terhadap

MPASI, dan 43,8% yang memberikan MP-ASI pada bayinya tidak

tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian responden (41,7%)

yang berpengetahuan baik tentang tentang MP-ASI.Hal ini menjelaskan

bahwa secara relatif masih ada sebagian ibu yang memiliki bayi usia 6-

12 bulan di Desa Sekarwangi yang belum mengetahui sepenuhnya

tentang MPASI.

2) Pendidikan

Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang pernah dialami

seseorang dan berijazah. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang dalam

kesehatan terutama pada pola asuh anak, alokasi sumber zat gizi serta

utilisasi informasi lainya. Rendahnya tingkat pendidikan ibu

menyebabkanberbagai keterbatasan dalam menangani masalah gizi dan

keluarga serta anak balitanya. Pendidikan pada dasarnya adalah suatu proses

pengembangan sumberdaya manusia.

Sciartino (1999) mengemukakan bahwa pendidikan yang cukup

37
merupakan dasar dalam pengembangan wawasan sarana yang memudahkan

untuk, sikap dan perilaku masyarakat. Menurut Sciartino, pendidikan juga

dimotivasi serta turut menentukan cara berpikir seseorang dalam menerima

pengetahuan dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang memberikan

latar belakang berupa mengajarkan kepada manusiauntuk dapat berpikir

secara obyektif dan dapat memberikan kemampuan untuk menilai apakah

budaya masyarakat dapat diterima atau mengakibatkan seseorang merubah

tingkah laku.

Pendidikan ibu merupakan modal utama dalam menunjang ekonomi

keluarga juga berperan dalam penyusunan makan keluarga, serta mengasuh

dan merawat anak. Bagi keluarga dengan tingkat pendidikan yang tinggi

akan lebih mudah menerima informasi kesehatan khususnya di bidang gizi,

sehingga dapat menambah pengetahuannya dan mampu menerapkan dalam

kehidupan sehari-hari.

Tingkat pendidikan ibu sebenarnya bukan satu-satunya faktor yang

menentukan kemampuan ibu dalam menyusun dan menyiapkan hidangan

bergizi. Namun, faktor pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan ibu

menyerap pengetahuan gizi yang diperoleh, secara biologi ibu adalah

sumber hidup anak. Anak-anak dari ibu yang mempunyai latar belakang

pendidikan lebih tinggi akan mempunyai kesempatan hidup serta tumbuh

lebih baik. Keterbukaan mereka untuk menerima perubahan atau hal baru

guna pemeliharaan kesehatan anak merupakan suatu penjelasannya.

Tingkat pendidikan ibu banyak menentukan sikap dan tindak tanduknya

38
dalam menghadapi beberapa masalah (Satoto, 1992)

3) Sikap (attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup

terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan

konotasi adanya kesesuaian reaksi yang bersifat emosional terhadap

stimulus sosial. Newcomb salah seorang psikolog sosial menyatakan bahwa

sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan

merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupksn suatu tindakan

atau aktivitas, akan tetapi meupakan ‘predisposisi’ tindakan atau perilaku.

Sikap itu masih merupakan suatu reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi

terbuka (tingkah laku yang terbuka). Lebih dapat dijelaskan lagi bahwa

sikap merupakan reaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu

penghayatan terhadap objek.

4) kepercayaan

Kepercayaan merupakan tahap selanjutnya dari perilaku, bahwa jika

pengetahuan dan sikapnya sudah diwujudkan dalam kepercayaan maka

biasanya perilaku lebih sulit untuk diubah.

5) Tradisi

Tradisi yang dimaksud adalah apakah tradisi yang dimasyarakat lebih

memungkinkan seseorang berperilaku tidak sehat , misalnya tradisi

memberikan MP-ASI pada bayi. Memberikan MP-ASI tidak memenuhi

kualitas dan kuantitas yang seharusnya seperti terpenuhinya karbohidrat,

protein, lemak dan vitamin dalam pemberian MP-ASI. Disamping itu perlu

39
juga diketahui tradisi dalam masyarakat yang mendukung dalam perilaku

sehat. Nilai-nilai dan norma sosial dalam hal ini dapat berupa sejauh mana

aktifitas-aktifitas seperti pencegahan pengobatan diterima oleh masyarakat.

2. Faktor pendukung (enabling factors)

1) Sarana dan prasarana kesehatan

Sarana dan prasarana kesehatan meliputi seberapa banyak fasilitas-

fasilitas kesehatan, konseling maupun pusat- pusat informasi bagi individu

masyarakat.

2) Jarak kepelayanan kesehatan

Jarak kepelayanan kesehatan merupakan bagaimana kemudahan untuk

mencapai sarana tersebut termasuk biaya, jarak, waktu lama pengobatan dan

juga hambatan budaya seperti malu mengalami penyakit tertentu jika

diketahui masyarakat.

3. Faktor pendorong (reinforcing factors)

1) Dukungan Keluarga

Dukungan adalah sebuah penyemangat atau support atau motivasi yng

diberikan kepada seseorang, sedangkan keluarga adalah suatu perkumpulan

yang terdidr dari dua atau lebih individu yanng diikat oleh hubungan darah,

perkawinan atau adobsi dan tiap-tiap anggota keluarga saling berinteraksi

satu sama lain (Mubarak, at all. 2011). Dukungan keluarga terdiri dari

dukungan orang tua, mertua, dan suami. Dukungan tersebut berkaitan

dengan keberhasilan ibu dalam menyiapkan menu makanan yang berkualitas

serta berkuantitas untuk anaknya.

40
Menurut Friedman, at all. 2010 mengemukakan bahwa dukungan

keluarga dapat diberikan dalam bentuk seperti dukungan informasi,

dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan emosional.

Ibu membutuhkan informasi dan dukungan dalam pemberian makanan

pendamping ASI (MP-ASI).

Dukngan suami sangat berpengaruh dalam pemberian keberhasilan atau

kegagalan seorang ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI yang

berkualitas pada anaknya. Dukungan atau support dari orang lain atau orang

tedekat, sangat berperan daalam sukses tidaknya pemberian MP-ASI.

Semakin besar dukungan yang didapatkan berupa informasi gizi anak

semakin besar juga kemampuan untuk dapat mengolah makanan dan

mengatur makanan anaknya.

Dukungan emosional adalah suatu dukungan yang berfungsi untuk

menjga keadaan emosi seseorang. Dukungan yang berupa ucapan empati,

kepedulian dan perhatian kepada anggota keluarga yang sedang mengalami

masalah kesehatan. Aspek yang termasuk dalam dukungan emosional adalah

dukungan dalam bentuk afeksi, adanya perhatian, mendengarkan dan

didengarkan (Darmayanti, 2012).

Dukungan informasi, keluarga berfugsi sebagai penyebar informasi

yang ada didunia. Jika individu tidak dapat menyelesaikan suatu maslah

yang sedang dihadapi maka keluarga dapat memberikan dukungan ini

dengan cara memberikan informasi, nasehat dan petunujuk penyelesaian

masalah (Darmayanti, 2012)

41
Dukungan instrumental adalah sebuah dukungan berupa bantuan dalam

bentuk nyata atau material. Dalam dukungan ini meliputi berbagai macam

aktivitas seperti menyediakan benda-benda misalnya bahan makanan, alat-

alat dapur, memberikan uang dan membantu menyeleaikan tugas praktis

(Darmayanti, 2012)

Hasil penelitian Ardina Nur Rahma1 dan Mulyo Wiharto, 2016.

Adanya hubungan pengetahuan ibu tentang gizi bayi dan dukungan keluarga

dengan pola pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-24 bulan di Puskesmas

Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat. sedangkan dukungan keluarga

yang kurang sebanyak 63 responden (44.4%) dan sebagian responden

mendapatkan dukungan keluarga yang baik sebanyak 79 responden (55.6%),.

Dukungan keluarga yang baik disebabkan oleh faktor pendidikan ibu.

Sebagian besar responden mengenyam pendidikan terakhir di tingkat

menengah (43%).

2) Peran Petugas Kesehatan

a. Pengertian

Peran adalah perilaku individu yang diharapkan sesuai dengan

posisi yang dimiliki. Peran yaitu suatu pola tingkah laku, kepercayaan,

nilai,dan sikap yang diharapkan dapat menggambarkan perilaku yang

seharusnya diperlihatkan oleh individu pemegang peran tersebut dalam

situasi yang umumnya terjadi (Sarwono, 2012). Peran merupakan suatu

kegiatan yang bermanfaat untuk mempelajari interaksi antara individu

sebagai pelaku (actors) yang menjalankan berbagai macam peranan di

42
dalam hidupnya, seperti dokter, perawat, bidan atau petugas kesehatan

lain yang mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugas atau kegiatan

yang sesuai dengan peranannya masing-masing (Muzaham, 2007)

b. Macam-macam peran tenaga kesehatan

Menurut Potter dan Perry (2007) macam-macam peran tenaga

kesehatan dibagi menjadi beberapa, yaitu :

1) Sebagai komunikator

Komunikator adalah orang yang memberikan informasi kepada

orang yang menerimanya. Menurut Mundakir (2006) komunikator

merupakan orang ataupun kelompok yang menyampaikan pesan

atau stimulus kepada orang atau pihak lain dan diharapkan pihak

lain yang menerima pesan (komunikan) tersebut memberikan

respons terhadap pesan yang diberikan. Proses dari interaksi antara

komunikator ke komunikan disebut juga dengan komunikasi.

Selama proses komunikasi, tenaga kesehatan secara fisik dan

psikologis harus hadir secara utuh, karna tidak cukup hanya dengan

mengetahui teknik komunikasi dan isi komunikasi saja tetapi juga

sangat penting untuk mengetahui sikap, perhatian, dan penampilan

dalam berko munikasi. Sebagai seorang komunikator, tenaga

kesehatan seharusnyamemberikan informasi secara jelas kepada

pasien. Pemberian informasi sangat diperlukan karena komunikasi

bermanfaat untuk memperbaiki kurangnya pengetahuan dan sikap

masyarakat yang salah terhadap kesehatan dan penyakit.

43
Komunikasi dikatakan efektif jika dari tenaga kesehatan mampu

memberikan informasi secara jelas kepada pasien, sehingga dalam

penanganan anemia selama kehamilan diharapkan tenaga kesehatan

bersikap ramah dan sopan pada setiap kunjungan ibu hamil

(Notoatmodjo, 2007). Tenaga kesehatan juga harus mengevaluasi

pemahaman ibu tentang informasi yang diberikan, dan juga

memberikan pesan kepada ibu hamil apabila terjadi efek samping

yang tidak bisa ditanggulangi sendiri segera datang kembali dan

komunikasi ke tenaga kesehatan (Mandriwati, 2008).

2) Sebagai motivator

Motivator adalah orang yang memberikan motivasi kepada

orang lain. Sementara motivasi diartikan sebagai dorongan untuk

bertindak agar mencapai suatu tujuan tertentu dan hasil dari

dorongan tersebut diwujudkan dalam bentuk perilaku yang

dilakukan (Notoatmodjo, 2007).

Menurut Syaifudin (2006) motivasi adalah kemampuan

seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan motif adalah

kebutuhan, keinginan, dan dorongan untuk melakukan sesuatu.

Peran tenaga kesehatan sebagai motivator tidak kalah penting

dari peran lainnya. Seorang tenaga kesehatan harus mampu

memberikan motivasi, arahan, dan bimbingan dalam meningkatkan

kesadaran pihak yang dimotivasi agar tumbuh ke arah pencapaian

tujuan yang diinginkan (Mubarak, 2012). Tenaga kesehatan dalam

44
melakukan tugasnya sebagai motivator memiliki ciri-ciri yang perlu

diketahui, yaitu melakukan pendampingan, menyadarkan, dan

mendorong kelompok untuk mengenali masalah yang dihadapi, dan

dapat mengembangkan potensinya untuk memecahkan masalah

tersebut (Novita, 2011).

3) Sebagai fasilitator

Fasilitator adalah orang atau badan yang memberikan

kemudahan dalam menyediakan fasilitas bagi orang lain yang

membutuhkan. Tenaga kesehatan juga harus membantu klien untuk

mencapai derajat kesehatan yang optimal agar sesuai dengan tujuan

yang diharapkan. Fasilitator harus terampil mengintegritaskan tiga

hal penting yakni optimalisasi fasilitasi, waktu yang disediakan, dan

optimalisasi partisipasi.

C. Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan sekedar

pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan

45
variabel yang diteliti. Mengacu pada tinjauan pustaka yang telah dipaparkan

kerangka teori dalam penelitian ini adalah :

Faktor Internal
1. Pengetahuan
2. Pendidikan
3. sikap
4. kepercayaan
5. Tradisi

Faktor Pendukung
1. Sarana dan Prasarana
2. Jarak pelayanan Pemberian MP-ASI
kesehatan

Faktor pendorong
1. Peran Tenaga
Kesehatan
2. Dukungan Keluarga

Gambar 2.1. Kerangka Teori

Sumber : Lawrence Greeen (1993) dalam Notoatmodjo 2011, Potter dan Perry (2007)

dalam Mandriwati 2008, Friedman 2010) dalam Darmayanti 2012

Keterangan : Tulisan yang dihitamkan merupakan variabel penelitian

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

46
Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi tentang hubungan atau

kaitan antara konsep-konsep atau variabel-variabel yang akan diamati atau diukur

melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2012).

Kerangka konsep penelitian mengenai “Faktor Resiko Berhubungan dengan

Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) di Wilayah Kerja Puskesmas

Tarusan Pesisir Selatan Tahun 2018" sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan

Dukungan Keluarga Pemberian MP-ASI

Peran Tenaga

Kesehatan

B. Defenisi Operasional

No Variabel Defenisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur
1. Pengetahuan Kemampuan ibu untuk Wawancara Kuesioner 0=kurang Ordina
menjawab pertanyaan baik<mean
tentang makanan 1=baik≥mean
pendamping ASI (MP-ASI)
2. Dukungan Dukungan pada ibu dari Wawancara Kuesioner 0=tidak: <mean Ordina

47
Keluarga keluarga dekat dan 1=Ya : ≥mean
masyarakat tentang
pemberian MP-ASI yang
baik dan tepat
3. Peran Petugas Mendapatkan saran dan Wawancara Kuesioner 0=Tidak : <mean Ordina
Kesehatan anjuran dari petugas 1=Ya : ≥mean
kesehatan tentang
pemberian MP-ASI
4. Pemberian Pemberian MP-ASI pada Wawancara Kuesioner 0=Kurang baik Ordina
MP-ASI bayi usia 6-24 bulan sesuai <mean
kualitas dan kuantitas 1=Baik ≥ mean
pemberian MP-ASI

C. Hipotesis Penelitian

1. Ada hubungan pengetahuan dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-

ASI) di Wilayah Kerja Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan Tahun 2018.

2. Ada hubungan Peran Petugas Kesehatan dengan pemberian Makanan

Pendamping ASI (MP-ASI) di Wilayah Kerja Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan

Tahun 2018.

3. Ada hubungan Dukungan Keluarga dengan pemberian Makanan Pendamping

ASI (MP-ASI) di Wilayah Kerja Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan Tahun 2018.

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik dengan desain cross

sectional yaitu variabel sebab dan akibat atau kasus yang terjadi pada objek

48
penelitian diukur atau dikumpulkan secara simultan (dalam waktu yang bersamaan).

Pendekatan ini digunakan untuk melihat hubungan antara variabel independent

(keterpaparan media, peran petugas kesehatan, dan dukungan keluarga) dan variabel

dependent (pemberian MP-ASI) (Notoatmodjo, 2010,p.26).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat

Dilakukan di wilyah kerja Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan Tahun 2018.

2. Waktu

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juli 2018.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generilisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristiktertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2011,p.80)

Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah seluruh ibu yang

memiliki bayi usia 6-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tarusan. Populasi

dalam penelitian ini sebanyak 811 bayi.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut. (Sugiyono, 2011,p.81). Sampel adalah bagian dari populasi

yang dianggap mewakili populasinya. Dalam penelitian survei, hasil dari

penelitian tersebut merupakan hasil dari keseluruhan. Dengan kata lain, hasil dari

sampel tersebut dapat digenerelisasikan sebagai hasil populasi (Notoatmodjo,

49
2010). Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 6-24 bulan

di wilayah kerja puskesmas Tarusan Pesisir Selatan. Besar sampel dalam

penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus dari Notoatmodjo 2010 sebagai

berikut :

N
n
1  N (d 2 )

Ket :

N = Besar populasi

n = Besar sampel

d2 = Presisi yang ditetapkan  0,12 = 0,01

Jadi jumlah sampel didapatkan yaitu :

N
n
1  N (d 2 )

811
n
1  811(0,12 )

n = 89 orang

a. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini Proportional

Random Sampling. Pengambilan sampel secara proporsi dilakukan dengan

mengambil subyek dari setiap strata atau setiap wilayah ditentukan

seimbang dengan banyaknya subyek dalam masing-masing strata atau

wilayah (Arikunto, 2006).

Dengan menggunakan teknik Proportional Random Sampling

50
didapatkan jumlah sampel sebanyak 89 bayi, adapun besar atau jumlah

pembagian sampel untuk masing-masing kelurahan dengan menggunakan

rumus menurut Sugiono (2011)

X
n xN1
N

Keterangan :

n : Jumlah sampel yang diinginkan setiap strata

N : Jumlah seluruh populasi

X : Jumlah populasi pada setiap strata

N1 : Sampel

Berdasarkan rumus, jumlah sampel dari masing-masing desa yang

terdiri dari 19 desa yaitu :

38
n x89  4orang
1. Batu Hampa : 811

49
n x89  5orang
2. Sako : 811

81
n x89  9orang
3. Nanggalo : 811

45
n x89  5orang
4. Suaru Anjuang : 811

28
n x89  3orang
5. Kp. Pansur : 811

51
57
n x89  6orang
6. Pulau Karam : 811

63
n x89  7orang
7. Batu Kalang : 811

36
n x89  4orang
8. Simpang : 811

35
n x89  4orang
9. Carocok : 811

28
n x89  3orang
10. Tl. Raya : 811

31
n x89  4orang
11. Sei Tawar : 811

67
n x89  7orang
12. Sei. Talang : 811

48
n x89  5orang
13. Gr. Panjang : 811

41
n x89  5orang
14. Sabai Nan Aluih : 811

38
n x89  4orang
15. Kapuh : 811

39
n x89  4orang
16. Mandeh : 811

52
15
n x89  2orang
17. Sei Nyalo : 811

16
n x89  2orang
18. Mudiak Aia : 811

51
n x89  6orang
19. Sei Pinang : 811

Tabel 3.1 Jumlah Sampel masing-masing Kelurahan

No Desa Jumlah Bayi sampel


1 Batu Hampa 38 4
2 Sako 49 5
3 Nanggalo 81 9
4 Surau Anjuang 45 5
5 Kp. Pansur 28 3
6 Pulau Karam 57 6
7 Batu Kalang 63 7
8 Simpang 36 4
9 Carocok 35 4
10 Tl. Raya 28 3
11 Sei. Tawar 31 4
12 Sei. Talang 67 7
13 Gr. Panjang 48 5
14 Sabai Nan Aluih 41 5
15 Kapuh 38 4
16 Mandeh 39 4
17 Sei Nyalo 15 2

53
18 Mudiak Aia 16 2
19 Sei Pinang 51 6
Total 811 89

3. Kriteria Responden

1. Kriteria inklusi

a. Ibu dan bayi yang tinggal diwilayah kerja Puskesmas Tarusan Pesisir

Selatan

b. Ibu yang mempunyai bayi yang berumur 6-24 bulan

c. Sehat jasmani dan rohani

d. Bersedia diwawancarai

2. Kriteria ekslusi

a. Ibu yang tinggal diwilayah kerja Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan

b. Ibu yang mempunyai bayiberumur kurang dari 6 bulan, dan lebih dari

24 bulan

c. Ibu bayi yang sedang sakit

d. Tidak bersedia diwawancarai

D. Cara Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner dan

dalam pengisian kuesioner responden didampingi oleh peneliti agar pengisian

kuesioner lebih akurat dan kesalahpahaman dapat dihindari.


1. Data Primer
Adapun pengumpulan data yaitu melalui wawancara langsung dengan

berpedoman pada kuisioner yang meliputi keterpaparan media, peran keluarga dan

peran tenaga kesehatan dalam pemberian MP-ASI dengan langkah-langkah :


a. Penjelasan tentang penelitian dan tujuan penelitian pada responden
b. Penjelasan informed consent

54
c. Kuisioner dibagikan pada responden dan meminta responden memahami terlebih

dahulu setelah itu responden diharapkan untuk mengisi kuesioner tersebut.


2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data dan informasi pendukung yang sudah ada, diperoleh

dari Puskesmas Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan.

E. Teknik Pengolahan Data

Menurut (Notoadmodjo, 2010) cara pengumpulan data dilakukan setelah

pengumpulan data dilaksanakan dengan maksud agar data yang dikumpulkan memiliki

sifat yang jelas. Adapun langkah – langkah pengumpulan data yaitu :

1. Editing
Dilakukan untuk memeriksa kuesioner dengan tujuan agar data yang masuk

dapat diolah secara benar sehingga pengolahan data dapat memberikan hasil yang

menggambarkan masalah yang telah diteliti kemudian melakukan pendataan

ulang terhadap responden bila terdapat kesalahan atau kekurangan.


2. Coding
Data yang telah terkumpul diberi kode dalam bentuk angka untuk

mempermudah dalam pengolahan data.


3. Entry
Setelah semua isian kuesioner terisi penuh dan benar juga sudah dilakukan

pengkodeaan selanjutnya memproses data agar dapat dianalisa dengan cara

mengentry data dari kuesioner ke master tabel.


4. Cleanning
Setelah data dimasukan kedalam master tabel, selanjutnya peneliti

memastikan kembali bahwa tidak ada data yang salah ketika di entry dengan kode

yang telah ditetapkan.


5. Tabulating
Setelah data dimasukan, lakukan pengolahan data secara komputerisasi sesuai

dengan tujuan penelitian atau yang diinginkan peneliti.

55
F. Teknik Analisis Data

Untuk mendapatkan tujuan penelitian maka dilakukan analisa statistik melalui

2 tahap yaitu dengan menggunakan analisa univariat dan bivariat.

1. Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi tiap variabel

(keterpaparan media, peran kelurga,dan peran petugas kesehatan) yang diteliti.

Analisa dilakukan dengan cara komputerisasi, menggunakan program SPSS versi

16.

2. Analisis Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antar variabel

independent (keterpaparan media, peran kelurga,dan peran petugas kesehatan) dan

variabel dependent (pemberian MP-ASI). Analisa dilakukan secara komputerisasi,

dengan menggunakan uji Chi-Square yaitu menguji kategori dengan kategori

dengan batas kemaknaan = 0,05 dan derajat kepercayaan 95 %. Dengan

ketentuan : variabel dikatakan berhubungan jika p value< 0,05. Artinya jika p

value< 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak, berarti ada hubungan keterpaparan

media, peran kelurga,dan peran petugas kesehatan dengan pemberian makanan

pendamping ASI (MP-ASI), sebaliknya apabila p value ≥ 0,05 maka Ha ditolak

dan Ho dapat diterima, artinya tidak ada hubungan keterpaparan media, peran

kelurga,dan peran petugas kesehatan dengan pemberian makanan pendamping

ASI (MP-ASI)

56
Lampiran 1

PERNYATAAN KESEDIAAN

MENJADI RESPONDEN PENELITIAN

Dengan menandatangani lembar ini, saya :

Nama :

Usia :

Alamat :

Memberikan persetujuan untuk menjadi responden dalam penelitian yang

berjudul “Faktor Yang Berhubungan dengan pemberian makanan pendamping ASI

(MP-ASI) di Wilayah Kerja Puskesmas Tarusan Pesisir Selatan tahun 2018" yang

akan dilakukan oleh Febria Nanda Novelia mahasiswi Program Studi Kesehatan

Masyarakat Stikes Fort De kock Bukittinggi.

Saya telah dijelaskan bahwa jawaban kuesioner ini hanya digunakan untuk

keperluan penelitian dan saya secara sukarela bersedia menjadi responden penelitian

ini.

Bukittinggi, Juli 2018

Yang menyatakan

57
( )

Lampiran 2

KUESIONER PENELITIAN

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS


PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS TARUSAN PESISIR SELATAN
TAHUN 2018
IDENTITAS RESPONDEN

No. Responden :

A. Data Umum

1. Nama :

2. Umur :

3. Umur Anak :

4. Pendidikan :

5. Pekerjaan :

6. Penghasilan Keluarga :

B. Lembar kuesioner Pengetahuan ibu tentang MP-ASI

1. Apakah Ibu mengetahui tentang makanan pendamping ASI?

a. Tahu

b. Tidak tahu

58
2. Menurut ibu, pada umur berapa sebaiknya diberikan makanan tambahan ?

a. > 6bulan

b. < 6 bulan

c. Tidak tahu

3. Menurut Ibu, apakah pengertian makanan pendamping ASI itu?

a. Makanan peralihan dari ASI kemakanan keluarga

b. Makanan pengganti ASI

c. Makanan yang diberikan pada bayi usia < 6 bulan

d. Tidak tahu

4. Sebutkan jenis makanan yang pertama kali diberikan kepada bayi usia > 6 bulan

a. Makanan lunak

b. Mie

c. Makanan padat

5. Menurut Ibu, berapa kalikah makanan tambahan itu diberikan dalam sehari

kepada bayi yang berusia 6-8 bulan?

a. 1-3 kali

b. 4-6 kali

c. Tidak tentu, tergantung bayi menangis

6. Menurut Ibu, mengapa bayi perlu diberi makanan tambahan ?

a. Agar anak tidak rewel dan canggung

b. Agar anak terhindar dari penyakit

c. Agar kebutuhan bayi akan zat gizi bertambah sesuai dengan pertambahan

59
umurnya

7. Menurut ibu manakah yang merupakan makanan pendamping ASI

a. Gula

b. Susu formula

c. Bubur susu

8. Menurut ibu, apa pengaruhnya terhadap pemberian makan bayi sebelum usia 6

bulan Terhadap kesehatan bayi ?

a. Tidak ada pengaruhnya

b. Anak jadi sering mencret karena pencernaannya terganggu

c. Tidak tahu

9. Menurut ibu, apakah dengan menunda makanan tambahan dapat mengurangi

resiko alergi makanan ?

a. Ya

b. Tidak

c. Tidak tahu

10. Menurut ibu pada usia berapakah sebaiknya bayi disapih ?

a. < 24 bulan

b. > 24 bulan

c. <12 bulan

C. Lembar kuesioner mengenai Kualitas Pemberian Makanan Pendamping ASI

(MP-ASI)

1. Apakah diusia 6 bulan bayi ibu sudah mendapatkan MP-ASI?

60
a. Belum

b. sudah

2. Jika sudah, apa makanan MP-ASI yang ibu berikan?

a. Pure atau makanan yang sudah dihaluskan yang didalamnya terdapat lauk

pauk dan sayuran, dan pisang untuk selingan

b. Nasi yang dihaluskan, susu, dan mie

c. Mie dan pisang pada waktu selingan

3. Apa sajakah jenis MP-ASI yang ibu berikan?

a. Bubur dari tepung, telur, dan bayam

b. Nasi dihaluskan, tahu/ ikan, dan wortel, bayam, dan jeruk pada selingan

c. Jagung, nasi putih saja kadang-kadang, dan mie

4. Berpakah frekuensi pemberian MP-ASI yang diberikan ibu pada bayi usia 6-8

bulan?

a. 2-3 kali perhari

b. 3-4 kali perhari

c. Lebih dari 4 kali perhari

5. Kapan saja waktu pemberian makanan pada bayi ?

a. Sarapan pagi, makan siang, makan malam disertai selingan pada waktu

tertemtu

b. Tiap kali bayi rewel karena lapar

c. sarapan pagi, makan siang, makan sore dan makan malam dan sebelum tidur

6. Apakah ibu memberikan produk olahan atau instan dalam pemberian MP-ASI?

a. Produk olahan

61
b. Instan

7. Jika produk olahan , apa jenis MP-ASI yang ibu berikan ?

a. Nasi dilumatkan, kentang, wortel

b. Nasi lunak yang dilumatkan, tahu, bayam, dan selingan buah

c. Nasi dilumatkan, telur/ikan, kangkung, pepaya/buah lain sebagai selingan

8. Jika instan, apa jenis MP-ASI yang ibu berikan?

a. Bubur cerelac atau sejenisnya

b. Indomie campur nasi

c. Roti dilumatkan dengan air putih

9. Sselain dari produk instan yaang ibu berikan apa makanan lain yang ibu berikan?

a. Susu formula, pisang, dan roti

b. Air putih, susu formula, pepaya

c. Ikan, sayuran, buah-buahan

10. Apa makanan selingan yang ibu berikan pada bayi?

a. Pisang, pepaya, dll

b. Bakso, mie dan sejenisnya

c. Jagung, roti

62
D. Lembar kuesioner tentang dukungan keluarga dalam pemberian MP-ASI

KETERANGAN :

SS(Sangat Setuju), S(Setuju), TS(Tidak Setuju), STS(Sangat Tidak Setuju)

No Pernyataan SS S TS STS
1. Kepedulian keluarga dapat ditunjukkan dengan
sangat memahami keadaan emosi saya yang
bingung dalam memberikan MP-ASI.

2. Keluarga saya memberikan perhatiannya kepada


saya dalam memberikan MP-ASI.

3. Keluarga saya tidak memberikan informasi


tentang pemberian MP-ASI.

4. Keluarga saya memberikan nasehat tentang


pemberian MP-ASI.
5. Keluarga saya memberikan petunjuk dan
mencari informasi tentang pemberian
MP-ASI yang benar.
6. Keluarga saya marah jika saya tidak memberikan
makanan yang tidak bergizi untuk anak saya
7. Keluarga saya menganjurkan untuk memberikan
MP-ASI setelah bayi berusia 6 bulan
8. Keluarga saya tidak peduli jika saya hanya
memberikan makanan nasi saja kepada bayi saya
9. Keluarga saya memberikan dukungan dalam
pemberian MP-ASI
10. Keluarga saya menyiapkan bahan makanan yang
bergizi untuk bayi saya

PERNYATAAN POSITIF PERNYATAAN NEGATIF :

63
SS :4 SS :1

S :3 S :2

TS :2 TS :3

STS :1 STS :4

E. Lembar kuesioner tentang Peran tenaga kesehatan dalam pemberian MP-ASI oleh

ibu

No Pertanyaan Ya Tidak
(1) (0)
1. Apakah Anda pernah mendapatkan informasi dari tenaga
kesehatan tentang makanan pendamping ASI ?

2. Apakah anda pernah mendapat informasi dari petugas


kesehatan tentang kandungan apa saja yang harus ada dalam
MP-ASI ?
3. Apakah anda pernah mendapat informasi dari petugas
kesehatan tentang berapa kali dalam sehari pemberian MP-ASI
pada saat bayi berusia 6-8 bulan, 9-11 bulan, dan 12-24
bulan ?

4. Apakah anda pernah mendapat informasi dari petugas


kesehatan tentang jenis makanan untuk bayi 6 – 8 bulan, 9-11
bulan, dan 12-24 bulan ?

5. Apakah anda pernah mendapat informasi dari petugas


kesehatan tentang kandungan apa saja yang harus ada dalam
MP-ASI ?
6. Apakah anda pernah mendapat informasi dari petugas
kesehatan tentang syarat dari pemberian MP-ASI?

7. Apakah anda pernah mendapat informasi dari petugas


kesehatan tentang kapan MP-ASI mulai diberikan?

8. Apakah ibu pernah mendapat penjelasan dari petugas


kesehatan tentang kapan pemberian MP-ASI?
9. Apakah ibu pernah mendapat penjelasan dari tenaga kesehatan
bahwa pemberian makanan pendamping ASI yang kurang
memadai dapat menurunkan daya tahan tubuh bayi?
10. Apakah ibu pernah mendapat penjelasan tentang berapa kali

64
dalam sehari seharusnya ibu memberikan makanan
pendamping ASI?

65