Anda di halaman 1dari 5

Percobaan IV

Analisis Hubung Singkat

Agadi Samridho (13115004)


Asisten : Agung Apriadi (13113001)
Tanggal Percobaan : 28/04/2018
Praktikum Sistem Tenaga Elektrik - EL3208
Laboratorium Dasar – Teknik Elektro
Institut Teknologi Sumatera

Selama kondisi gangguan, sistem proteksi diperlukan untuk


Abstrak— Pada praktikum modul IV ini, Praktikan dituntut mendeteksi, menghilangkan dan mengisolasi gangguan
untuk dapat melakukann analisis terhadap hubung singkat pada tersebut. Hal ini dapat dilakukan pada bermacam-macam
suatu sistem tenaga listrik dengan menggunakan Simulink pada gangguan (tiga fasa simetris, fasa ke fasa, dua fasa ke tanah,
MATLAB. Pada percobaan ini, rangkaian pada modul III
sebelumnya ditambahkan beberapa komponen fault (gangguan) satu fasa ke tanah, dan tiga fasa ke tanah). Arus hubung singkat
yang berbeda pada sebelum dan sesudah transformator, yaitu yang begitu besar sangat membahayakan peralatan, sehingga
fault 3 fasa, fault 2 fasa ke tanah, dan fault 1 fasa ke tanah. untuk mengamankan peralatan dari kerusakan akibat hubung
Praktikan dituntut untuk mem-plot nilai arus pada beban dan singkat maka hubungan kelistrikan pada bagian yang terganggu
generator serta membandingkannya dengan kondisi awal sebelum perlu diputuskan dengan peralatan pemutus tenaga atau Circuit
diberikan komponen fault. Breaker (CB). Selain itu, perhitungan arus hubung singkat juga
sangat penting dalam menentukan kemampuan pemutus tenaga
Kata Kunci—Fault, Beban, Generator, Fasa
dan untuk koordinasi pemasangan relay proteksi.

I. PENDAHULUAN B. Gangguan

Gangguan adalah suatu ketidaknormalan (interferes) dalam


P ADA praktikum modul IV ini akan ditambahkan beberapa
komponen fault pada rangkaian modul III sebelumnya.
Penambahan komponen ini dimaksudkan untuk mengevaluasi
sistem tenaga listrik yang mengakibatkan mengalirnya arus
yang tidak seimbang dalam sistem tiga fasa. Gangguan dapat
juga didefinisikan sebagai setiap kesalahan dalam suatu
kinerja dan menganalisa kondisi pembangkit ketika terjadi
rangkaian yang menyebabkan terganggunya aliran arus yang
hubung singkat pada sistem tenaga listrik. Sehingga kita dapat
normal.
mengetahui apa yang terjadi pada sistem apabila terdapat fault
1 fasa ke tanah, fault 2 fasa ke tanah, dan fault 3 fasa serta dapat
Berdasarkan kesimetrisannya, gangguan dapat diklasifikasikan
menanggulangi fault tersebut dengan menciptakan sistem
menjadi 2 jenis, yaitu :
proteksi yang tepat sesuai dengan jenis fault-nya.
 Gangguan asimetris, merupakan gangguan yang
mengakibatkan tegangan dan arus yang mengalir pada
Sehingga dengan melakukan penambahan beberapa komponen
setiap fasanya menjadi tidak seimbang, gangguan ini
fault dengan jenis yang berbeda pada modul IV ini, diharapkan
terdiri dari:
Praktikan mampu melakukan analisis terhadap hubung singkat
1. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah,
pada suatu sistem tenaga listrik dengan menggunakan Simulink
yakni gangguan yang disebabkan karena salah satu
pada MATLAB. Sehingga Praktikan mempunyai gambaran
fasa terhubung singkat ke tanah atau ground.
mengenai dampak-dampak dari adanya fault sebelum terjun ke
2. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa, yakni
dalam sistem pembangkit yang real.
gangguan yang disebabkan karena fasa dan fasa
antar kedua fasa terhubung singkat dan tidak
terhubung ke tanah.
II. LANDASAN TEORETIS
3. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah,
yakni gangguan yang terjadi ketika kedua fasa
A. Studi Hubung Singkat terhubung singkat ke tanah.

Studi hubung singkat dilakukan untuk menentukan besarnya  Gangguan simetris, merupakan gangguan yang terjadi
arus yang mengalir melalui sistem tenaga listrik pada berbagai pada semua fasanya sehingga arus maupun tegangan
jarak setelah gangguan berubah menurut waktu sampai setiap fasanya tetap seimbang setelah gangguan terjadi.
mencapai kondisi tetap. (Yelfianhar, 2009 : 70).
Gangguan ini terdiri dari:
1. Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa, yakni
gangguan yang terjadi ketika ketiga fasa saling
terhubung singkat. Dimana :
2. Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa ke Tanah, 𝑉𝑓 : Tegangan di titik gangguan sesaat sebelum terjadinya
yakni gangguan yang terjadi ketika ketiga fasa gangguan (V)
terhubung singkat ke tanah. 𝑍1 : Impedansi urutan positif dilihatdari titik gangguan (Ω)

Semua gangguan hubung singkat diatas, arus gangguannya  Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah
dihitung dengan menggunakan rumus dasar yaitu :
V=IZ
Dimana :
I = Arus (A)
V = Tegangan sumber (V)
Z =Impedansi jaringan, nilai ekivalen dari seluruh impedansi Dimana :
di dalam jaringan dari sumber tegangan sampai titik gangguan
𝑉𝑓 : Tegangan di titik gangguan sesaat sebelum terjadinya
(Ohm)
gangguan (V)
𝑍0 : Impedansi urutan nol dilihat dari titik gangguan (Ω)
Yang membedakan antara gangguan hubung singkat tiga
𝑍1 : Impedansi urutan positif dilihatdari titik gangguan (Ω)
fasa, dua fasa dan satu fasa ke tanah adalah impedansi yang
terbentuk sesuai dengan macam gangguan itu sendiri, dan
tegangan yang memasok arus ke titik gangguan. Impedansi  Hubung Singkat 1 Fasa ke Tanah
yang terbentuk dapat ditunjukkan seperti berikut ini :

Z untuk gangguan tiga fasa, Z = Z1


Z untuk gangguan dua fasa, Z = Z1 + Z2
Z untuk gangguan satu fasa, Z = Z1 + Z2 + Z0 Karena 𝑍1𝑒𝑞 = 𝑍2𝑒𝑞 , maka :

Dimana :
Z1 = Impedansi urutan positif (Ohm)
Z2 = Impedansi urutan negatif (Ohm)
Dimana :
Z0 = Impedansi urutan nol (Ohm)
𝑉𝑝ℎ = tegangan fasa-netral sistem (V)
C. Perhitungan Arus Hubung Singkat 𝑍1𝑒𝑞 = Impedansi urutan positif (Ω)
𝑍0𝑒𝑞 = Impedansi urutan nol (Ω)
Gangguan yang sering terjadi pada sistem tenaga listrik
merupakan gangguan asimetris sehingga memerlukan metode
komponen simetris untuk menganalisa tegangan dan arus pada III. HASIL DAN ANALISIS
saat terjadi gangguan. Gangguan yang terjadi dapat dianalisa
dengan menghubung-singkatkan semua sumber tegangan yang A. Kondisi Awal
ada pada sistem dan mengganti titik (node) gangguan dengan
sebuah sumber tegangan yang besarnya sama dengan tegangan Pada kondisi awal, rangkaian belum memiliki tambahan
sesaat sebelum terjadinya gangguan di titik gangguan tersebut. komponen (menggunakan rangkaian praktikum modul 2). Data
Sehingga gangguan asimetris dapat direpresentasikan dengan dari kondisi awal tersebut terdapat pada Gambar 1 di lembar
menggunakan teori komponen simetris yaitu berdasarkan lampiran.
komponen urutan positif, komponen urutan negatif, dan
komponen urutan nol. Untuk menentukan apakah rangkaian tersebut dalam kondisi
undervoltage, overvoltage atau overload dapat dilihat dari nilai
Sedangkan gangguan hubung singkat tiga fasa termasuk dalam tegangan busbar. Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa nilai
klasifikasi gangguan simetris, dimana arus maupun tegangan tegangan busbar pada beban 1 dan beban 2 yaitu :
stiap fasanya tetap seimbang setelah gangguan terjadi. 𝑉1 = 0,8453 pu
Sehingga pada sistem seperti ini dapat dianalisa hanya dengan 𝑉2 = 0,8177 pu
menggunakan urutan positif saja. Lalu kita dapat menentukan nilai tegangan busbar dengan
menghitung manual secara matematis sebagai berikut :
 Hubung Singkat Tiga Fasa Vact = Vpu x Vbase

𝑉1 = 0,8453 x 20k = 16,906 kV


𝑉2 = 0,8177 x 20k = 16,354 Kv nilai faktor daya (cos phi) sistem tersebut.

Dari hasil perhitungan secara matematis tersebut, dapat kita


simpulkan bahwa kondisi awal dari rangkaian praktikum modul C. Penambahan Reactor Shunt
2 berada dalam kondisi undervoltage. Hal ini didasari karena
nilai tegangan aktual beban 1 dan beban 2 berada lebih kecil Pada percobaan ini, kondisi awal sistem dibuat menjadi kondisi
dibandingkan nilai tegangan nominal (tegangan base). overvoltage dengan cara menambahkan Capacitor Bank pada
beban 2 dengan nilai parameter Active Power (P) dan
Capacitive Reactive Power (QC) dibuat menjadi nol, sedangkan
B. Penambahan Capacitor Bank nilai Inductive Reactive Power (QL) dibuat menjadi 275e6.
Kondisi awal tersebut dapat dilihat pada Gambar 4, dimana
Pada percobaan ini, praktikan menambahkan komponen nilai tegangan beban 1 dan nilai tegangan beban 2 sebagai
Capacitor Bank pada beban 1 dengan menggunakan Three berikut :
Phase Parallel RLC-Load, dimana parameter Active Power (P) 𝑉1 = 0,9622 pu
dan Inductive Reactive Power (QL) dibuat menjadi nol, 𝑉2 = 1,0542 pu
sedangkan nilai Capacitive Reactive Power (QC) dibuat
menjadi 475e6. Ketika rangkaian ditambahkan komponen Reactor Shunt pada
beban 1, maka nilai tegangan beban 1 dan nilai tegangan beban
Pada Gambar 2 terlihat bahwa nilai tegangan beban 1 dan 2 akan menurun. Penurunan tegangan tersebut dapat dilihat
tegangan beban 2 setelah ditambahkan kapasitor meningkat dari pada Gambar 5.
nilai tegangan beban ketika kondisi awal.
Kondisi ketika ditambahkan Reactor Shunt pada beban 1 :
Kondisi awal : 𝑉1 = 0,8873 pu
𝑉1 = 0,8453 pu 𝑉2 = 0,9959 pu
𝑉2 = 0,8177 pu
Setelah selesai mencatat nilai 𝑉1 dan 𝑉2 ketika ditambahkan
Kondisi ketika ditambahkan Capacitor Bank pada Beban 1 : Reactor Shunt pada beban 1, maka Praktikan akan
𝑉1 = 0,9112 pu membandingkan nilai tersebut dengan menambahkan
𝑉2 = 0,9846 pu komponen Reactor Shunt pada beban 2 dengan nilai parameter
yang sama. Ketika rangkaian ditambahkan komponen Reactor
Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa beban 1 masih dalam Shunt pada beban 2, maka nilai tegangan beban 1 dan nilai
kondisi undervoltage, karena masih cukup jauh dari nilai ideal tegangan pada beban 2 juga menurun. Penurunan tegangan
yaitu 1. Apabila nilai QC diperbesar lagi maka akan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.
menyebabkan beban 2 berada pada kondisi overvoltage.
Sehingga tidak mungkin dengan memperbesar nilai QC Kondisi ketika ditambahkan Reactor Shunt pada beban 2 :
Capacitor Bank pada beban 1. Oleh karena itu, Capacitor Bank 𝑉1 = 0,8402 pu
akan dipindah ke beban 2 guna menanggulangi masalah 𝑉2 = 0,9658 pu
tersebut.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penambahan
Selanjutnya Praktikan memindahkan Capacitor Bank ke beban komponen Reactor Shunt dapat menurunkan nilai tegangan
2 dengan nilai parameter yang sama dengan sebelumnya. Pada pada beban, sehingga dapat menanggulangi kondisi
Gambar 3 terlihat bahwa baik tegangan pada beban 1 dan overvoltage pada sistem tenaga listrik. Hal ini terjadi karena
tegangan pada beban 2 meningkat dari sebelumnya dan cukup Reactor Shunt berfungsi untuk mengkompensasi daya reaktif
mendekati nilai ideal. (VAR) dari jaringan transmisi dengan mengatur level tegangan
pada jaringan. Secara tidak langsung Reactor Shunt berfungsi
Kondisi ketika ditambahkan Capacitor Bank pada Beban 2 : untuk menyerap daya reaktif bus (menurunkan nilai tegangan
𝑉1 = 0,9335 pu beban) apabila bus tersebut dalam kondisi overvoltage.
𝑉2 = 0,9955 pu

Dapat disimpulkan bahwa penambahan Capacitor Bank dapat D. Penambahan Line Transmission
meningkatkan nilai tegangan pada beban, sehingga dapat
menanggulangi kondisi undervoltage pada sistem tenaga listrik. Pada percobaan ini, praktikan menambahkan Line
Hal ini dapat terjadi karena Capacitor Bank dapat berfungsi Transmission (Pi Line) sebanyak 2 buah di setiap Line yang
sebagai penyerap daya reaktif negatif, sehingga Capacitor Bank sudah ada dengan cara memparalelkannya. Percobaan pertama
akan melawan daya reaktif positif yang ditimbulkan oleh beban dilakukan penambahan 2 Pi Line secara paralel pada Line 1.
induktif. Secara tidak langsung Capacitor Bank berfungsi Output yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 7. Dari
sebagai penyuplai daya reaktif sehingga akan memperbaiki gambar tersebut, perubahan nilai tegangan pada beban 1 dan
nilai tegangan pada beban 2 sangat kecil yaitu sekitar 0,001. Hal
ini dikarenakan posisi Line 1 tidak terhubung secara langsung
dengan beban ataupun generator sehingga peningkatan E. Cara Menanggulangi Ketika Busbar Beban
tegangan sangat kecil. Undervoltage

Kondisi ketika ditambahkan paralel Pi Line pada Line 1 : Ketika busbar beban dalam kondisi undervoltage, maka dapat
𝑉1 = 0,8452 pu dilakukan beberapa cara guna menanggulangi kondisi tersebut
𝑉2 = 0,8176 pu sebagai berikut :
1. Penambahan komponen Capacitor Bank pada beban
Percobaan kedua dilakukan penambahan 2 Pi Line secara yang mengalami undervoltage.
paralel pada Line 1, 2 dan 3. Output yang dihasilkan dapat 2. Penambahan Line Transmission yang dihubungkan
dilihat pada Gambar 8. Dari gambar tersebut, perubahan nilai secara paralel pada Line.
tegangan pada beban 1 dan tegangan pada beban 2 cukup besar
yaitu 0,0842 dan 0,091. Hal ini dikarenakan posisi Line 2 dan
Line 3 terhubung secara langsung dengan beban sehingga F. Cara Menanggulangi Ketika Busbar Beban
peningkatan tegangan cukup besar. Overvoltage

Kondisi ketika ditambahkan paralel Pi Line pada Line 1, 2 dan Ketika busbar beban dalam kondisi overvoltage, maka dapat
3: dilakukan dengan cara penambahan komponen Reactor Shunt
𝑉1 = 0,9293 pu pada beban yang mengalami overvoltage.
𝑉2 = 0,9076 pu

Percobaan ketiga dilakukan penambahan 2 Pi Line secara G. Cara Mendapatkan Nilai Kapasitansi yang
paralel pada Line 1, 2, 3 dan 4. Output yang dihasilkan dapat Dibutuhkan Capacitor Bank Apabila Beban dalam
dilihat pada Gambar 9. Dari gambar tersebut, perubahan nilai Kondisi Undervoltage
tegangan pada beban 1 dan tegangan pada beban 2 semakin
besar dibandingkan dengan sebelumnya, yaitu 0,0982 dan Ketika beban dalam kondisi undervoltage, maka dapat
0,1174. Hal ini dikarenakan posisi Line 2, Line 3 dan Line 4 dilakukan dengan penambahan komponen Capacitor Bank pada
terhubung secara langsung dengan beban sehingga peningkatan beban yang mengalami undervoltage. Cara mendapatkan nilai
tegangan cukup besar. kapasitansi yang dibutuhkan yaitu dengan cara mengatur nilai
Capacitive Reactive Power (QC) yang sesuai.
Kondisi ketika ditambahkan paralel Pi Line pada Line 1, 2, 3
dan 4 : Capacitor Bank melawan daya reaktif positif yang ditimbulkan
𝑉1 = 0,9435 pu oleh beban induktif, secara tidak langsung Capacitor Bank
𝑉2 = 0,9351 pu berfungsi sebagai penyuplai daya reaktif sehingga akan
memperbaiki nilai faktor daya (cos phi) sistem tersebut yang
Dari semua data tersebut dapat disimpulkan bahwa akan berpengaruh pada kenaikan tegangan pada beban. Besar
penambahan Line Transmission pada sistem tenaga listrik akan kapasitansi pada Capacitor Bank berbanding lurus dengan besar
meningkatkan nilai tegangan pada beban. Hal ini terjadi karena tegangan pada beban. Semakin besar nilai kapasitansi akan
impedansi yang dihubungkan secara paralel menghasilkan semakin besar juga nilai tegangan pada beban.
impedansi yang nilainya setengah dari nilai impedansi awalnya
(sesuai teorema seri-paralel resistor). Penurunan nilai
impedansi akan berpengaruh terhadap drop tegangan sehingga IV. SIMPULAN
akan menaikan nilai tegangan pada beban. Semakin banyak
penambahan Transmission Line secara seri, maka impedansi Dari praktikum modul 3 ini, didapatkan beberapa kesimpulan
akan semakin besar sehingga drop tegangan juga akan semakin sebagai berikut :
besar yang mengakibatkan nilai tegangan beban akan semakin  Capacitor Bank berfungsi untuk menanggulangi kondisi
kecil. Namun semakin banyak penambahan Transmission Line undervoltage pada sistem tenaga listrik dengan cara
secara paralel, maka impedansi akan semakin kecil sehingga menyuplai daya reaktif bus.
drop tegangan juga akan semakin kecil yang mengakibatkan  Reactor Shunt berfungsi untuk menanggulangi kondisi
nilai tegangan beban akan semakin besar. overvoltage pada sistem tenaga listrik dengan cara
menyerap daya reaktif bus.
Jadi penambahan jalur transmisi secara paralel dimaksudkan  Penambahan Line Transmission secara paralel berfungsi
agar drop tegangan yang terjadi semakin kecil dan tegangan untuk menanggulangi kondisi drop voltage sehingga
beban semakin besar, sehingga dengan penambahan jalur meningkatkan nilai tegangan pada beban.
transmisi secara paralel dapat menanggulangi kondisi
undervoltage pada sistem tenaga listrik.
REFERENSI
[1] Modul Praktikum Sistem Tenaga Elektrik, Laboratorium Sistem
Kendali dan Komputer Sekolah Teknik Elektro dan Informatika
Institut Teknologi Bandung, Bandung, 2014.
[2] Grainger, John J dkk, Power System Analysis, International
Edition, Singapore, 1994.

Anda mungkin juga menyukai