Anda di halaman 1dari 75

QUALITY CONTROL PEKERJAAN SIPIL

Deddy Rachman

PUNCAK ,15 -FEBRUARI- 2018


QUALITY CONTROL PELAKSANAAN
PEMBETONAN

PEMERIKSAAN MUTU BAHAN


- AGREGAT HALUS ( ASTM C33M-11)
- AGREGAT KASAR ( ASTM C33M-11)
- AIR PENCAMPUR ( ASTM C 1602 M-06)
- TIPE SEMEN ( ASTM C 494-12 )
- ADDITIVE (SILICAFUME,PLASTISIZER) ( ACI 234 R-06 )

PROPORSI CAMPURAN BATCHING PLANT


( Mix Desain Fc 30 Mpa Non FA dan FA) (READYMIX;KALIBRASI DLL )
( ACI 318-02 ) (ASTM C 94 M-11b)

SLUMP TEST; BENDA UJI SELINDER


(ASTM C31 M-10)

PEMERIKSAAN BEKISTING DAN PENULANGAN


( ACI 347 R-94 )

PENGECORAN BETON
( ACI 116 R – 00 )

PEMBUKAAN BEKISTING DAN PERAWATAN


( ACI 347 – 00 )

PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON


( SNI.1974 :2011;ASTM C 39 – 2014 )

REPAIR PENGUJIAN LAPANGAN


( ACI 364.1R-94 ) ( ACI SP – 2/07 )

EVALUASI KUALITAS BETON LAPORAN AKHIR


( ACI 214.R-2011 )
BETON :
adalah bahan campuran yang terdiri dari komponen
bahan-bahan :

- SEMEN
- AGREGAT HALUS (pasir)
- AGREGAT KASAR (batu)
- A I R
- Bahan Tambah (bila diperlukan)

dengan proporsi tertentu untuk mencapai kriteria mutu


tertentu
HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI
KEANDALAN BANGUNAN

PEMILIHAN
BAHAN

PROPORSI CAMP
PENGENDALIAN
(BETON)
MUTU (QC)

STRUKTUR
BANGUNAN

TENAGA KERJA PELAKSANAAN


(KEAHLIAN)

PERALATAN
(KAPASITAS & JML) SISTEM
KONSTRUKSI

UTILITAS
TEKNOLOGI
KEANDALAN
BANGUNAN
BAHAN PEMBENTUK BETON
 SEMEN ( OPC;PCC;PPC ETC)
PASTA
 AIR PENCAMPUR
SEMEN

 RONGGA UDARA
MORTAR
 AGREGAT HALUS

 AGREGAT KASAR BETON

TULANGAN

BETON
BERTULANG

KEMBALI
LANGKAH-LANGKAH
PEMBUATAN BETON
P E R TA M A
PEMERIKSAAN MUTU BAHAN YANG AKAN DIGUNAKAN
SESUAI DENGAN METODE YANG BERLAKU
K ED UA
PERENCANAAN CAMPURAN BETON, UNTUK MENDAPATKAN
PROPORSI YANG TEPAT DAN EKONOMIS (YG DIMULAI
DARI AGG.GABUNGAN.)
KETIGA
METODE PELAKSANAAN DAN PENGGUNAAN ALAT YANG
TEPAT, AGAR BETON YANG DIHASILKAN SESUAI RENCANA
K E E M PAT
PENGENDALIAN MUTU BETON, UNTUK MENDAPATKAN
MUTU PELAKSANAAN SESUAI PERSYARATAN
J· nis :Sam r.t" e .stand - r e ngtlj.fan
.
T st J& tS Test O·� P:aslr Galunggung Ra·ta-ra AST
·
1. Kadar Lu r (%) 1.31 1.37 c_142 - 5 max

2. Kadar Arr (%) 9.53

.3 1 1 CAO. - 3 rnax

Pad at .. 1.505 508 C.29


Ber.at Volume
Kgll.t 4.
Ge bur 1..414, 1 ..408 1A 1

Apparen S ec Gr.avity 21676 2 672 c. 12a.


2.503 .2.500 c. 12.e - .2 i4 min
Bui S.�ec Graviily (SS D) 2.00 2.5.64 .2 .• 56 C.128 -· 2.4 mjri

Perserntase Abs.orpsi Air {%} 2.669 2.564 C.128 -- .. O ax

6. 3.3
estJl/2. 04 Cont
s

P'erse.nmase
Tertahan

0 0 100 100
4.1'5 0 0,00 0-"00 100.00 95-1100

2.36 65 13.03 86 97 so-


1, 18 190 36,,06 _51.10 48,.90 �0-85.
0.60. 140 2it06 79 16. 20,84. 25-(30
oo
_Q.30 14, 1-4,83 93.99 6, 01
1
10-30 ....
,Q,1 14 2,81 II : • ':"•:'!""" • • • • • • • • • , I I • • I

0,075 5 14. 2.81 991,,60 040 • •I•

•r """"" • '"" ! • •• • ••••:"I:••:·: :


o • • I I I I

I

PAIN 2 Q,,,4JQ 100 0 •

-

. I -I
- IO
,I -.I,-.,.I .I,. ..
I
r...,I ..
,. ••
.
.....
Modulus Kehah..isan .;3,34 ............... .r _. ._..... • .. •



• I
I
I
,
I
I
I I
I I
I I I I'•

.. ······ ,""'":"'"='"(..(..·;.·; ; ,,;


......... � -· --; ·· - . · -: . r ·r :- r
• • • I I I I I

�·
I •

!
. . - ..... • !I I • '' • ..
� : : � .
, 4 o I I I I

; : : ; . ............ . ... , .. .., " II o • ' I


1""'" ,.,

•••II" "" •• _. 1:. a I Ir:..•
II •
...:,•""

• • •: •

.. ,...,._
' '
a I
, • o
I I I I •

I •
I I

I
o


a I I

' •

··-- .,
_
I

.. .._ ' - I o '

, I I I

. . .


·• ••••••• "' " •11:.. I .;, I "" •

1
.�



....
I

10 : l'I P • •• • • .,., •�• • • • • , .. ,. • ••� ., .. •::--•"' • • I •

.
OJl-..--� ,;.�-:.........i...�-=-_..��!........:..........:...-- .
.:........:........:...:--!.+-����-----·;........;......:....:....:.�
0,01 0.1 1 .. 10
1
No.
Test Jen¥ Test .Rata--
:rata
1 . Karjar Lumpur (%)

Kaa r .· "'r (%) ,,' ,145

3. (No)

Ber.a Volume
adat 1,445 1 52 1,449
4.
t .1 307 C..29
Ge lb 1,302 1
·r 305
2,718 2,722 C.127

2�· 76 2.476 C.127 - 2.4


5
2,56 2.513 . C.1 1 =· 2.4 min

ersentase Abso si Air (%} 3,627

e. M .d lust< ha usa.n
.ANALISIS SARINGAN AGREGAT KA;S
AST 13B-14alAASHTO T. 2�4.
23JL B ITestlX/2003 Conrtoh Benda Uji
� 27 Janus i 2003, Sumber . Bantla ran
: DR. · r, Dradjat Hoedajanto

Be rat Persentas.e Peir:s.enrase �ersenlaJSe SPECASTM


Ukuran
Tsrtahan Tertahan tolos CJ3·90
Sarringan Tenaha (gr) Kumullanf' Kumulatif'
(mm') n
25.00 I 0 I 0 0 1 100 100

19.00. I 860 18 I 18, 82 I 90�100

9.50 3315 67 84. 16· I 2:0-55 I

4.7:5 770 15 100 0 0�19


2.3.8 13 0 100 0 0-5,

10

·1 10 100

IUkunm Saring.an
INSPEKSI MATERIAL (BATCHING PLANT)
INSPEKSI MATERIAL (BATCHING PLANT)
SIFAT BETON
o Beton bersifat plastis
dan basah saat
permulaan dibuat, kemudian
PLASTIS/SEGAR

o Setting, kemudian

o Berubah secara
SETTING
perlahan-lahan (gradual)
menjadi keras dan kaku
seperti batu

KERAS !
SEGREGASI
Pemisahan butiran-butiran
kasar dari campuran beton,
dilihat secara visual
PENYEBAB
kurang semen, terlalu
banyak air, ukuran
agregat maksimum 
40 mm, kekasaran
permukaan butir
CAMPURAN agregat
TIDAK
SERAGAM BLIDING
Air naik ke permukaan
membawa semen dan
PENYEBAB
butir-butir halus, terbentuk
gradasi agregat yang
selaput yang tidak
kurang baik, terlalu
berguna
banyak air, proses
hidrasi yang lambat,
dan pemadatan yang
berlebihan
PENGUJIAN KONSISTENSI/KEKENTALAN
ADUKAN BETON DENGAN METODE SLUMP

1 2 3

4 6
Bentuk-bentuk slump :

Slump sebenarnya Slump patah Slump runtuh


(true slump) (shear slump) (collapse)

Adukan beton -Adukan beton -Penggunaan air yang


homogen dan kurang plastis atau terlalu banyak
kohesif kurang kohesif -Tidak memenuhi syarat
-Tidak memenuhi
syarat
Slump
sebenarnya
(true slump)

Tidak diterima,
kecuali jika
menggunakan
plasticiser

Slump patah (shear) Slump runtuh (collapse)


FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH
THD WORKABILITY

-Jumlah air : pemakaian air yang terlalu banyak akan berakibat pada
adukan beton terlalu encer, segregasi, dan bliding
-Tipe agregat dan gradasi : agregat yang permukaannya lebih
rounded dan halus serta gradasi yang
menerus akan menghasilkan workability
yang lebih baik
-Kehalusan semen : semen yang lebih halus akan menghasilkan
workability yang lebih baik
-Bahan tambah : bahan tambah jenis plasticiser dapat membuat
adukan lebih mudah dikerjakan pada fas yang kecil
-Waktu, suhu penguapan,
proses hidrasi : konsistensi adukan beton dapat berubah karena
waktu, suhu, dan proses hidrasi
Kekuatan Beton

-Faktor air-semen (fas) adalah


faktor paling utama yang
berpengaruh thd kekuatan
-Nilai fas kecil menghasilkan
kekuatan beton tinggi
-Nilai fas besar menghasilkan
kekuatan beton rendah

Umur Beton :
Konversi kekuatan beton
berdasarkan umur :
Kekuatan beton 3 hari : 0,40
7 hari : 0,65
meningkat sejalan 14 hari : 0,88
dengan bertambahnya 21 hari : 0,95
waktu 28 hari : 1,00
90 hari : 1,20
365 hari : 1,35
PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON
PERKEMBANGAN KEKUATAN BETONKEKUATAN BETON

DEDDY RACHMAN
Kekuatan dan Benda Uji Beton

Silinder beton untuk


pengujian kuat tekan
Kubus beton untuk
pengujian kuat tekan

Balok beton untuk


pengujian kuat lentur Silinder dan kubus beton
untuk pengujian kuat belah
PENGUJIAN KUAT TEKAN

RI - EU Trade Support Programme


23
PENGARUH KECEPATAN PEMBEBANAN
TERHADAP NILAI KUAT TEKAN

RI - EU Trade Support Programme


24
PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON
KUAT TEKAN BETON SILINDER

Kuat Tekan Beton = P/A ( kg/cm2)


26
P
RI - EU Trade Support
PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON
DURABILITAS

Faktor-faktor yang
berpengaruh : o Kuat tekan
minimum

PENGENDALIAN
o Temperatur dalam beton
o Faktor air-semen
o Iklim dan lingkungan maksimum
o Abrasi, erosi o Kadar semen
o Permeabilitas beton minimum
o Reaksi alkali-silica o Pemakaian
o Reaksi alkali-carbonate admixture
o Serangan sulfate yang sesuai
o Serangan acid o Perawatan yg
o Air laut memadai
PENGARUH SIFAT-SIFAT, KONDISI & MUTU BAHAN

SEMEN :
TIPE DAN MUTU SEMEN YANG BERBEDA
DAPAT MENGHASILKAN SIFAT CAMPURAN
DAN KEKUATAN BETON YANG BERBEDA

AIR:
MUTU AIR BERPENGARUH
THD MUTU MORTAR
DAN BERPENGARUH THD PENGIKATAN (SETTING)

Bila kualitas air meragukan, lakukan pengujian :


Kekuatan kubus Kekuatan kubus
mortar dengan air  90% mortar dengan
yang ada air yang
pada umur 7 & 28 memenuhi
hari syarat pada
umur 7 & 28 hari
Secara Umum :
AIR YANG DAPAT DIMINUM =
DAPAT DIGUNAKAN UNTUK BETON
AGREGAT :
BAHAN TAMBAHAN/BAHAN
SAMPLING : PEMBANTU/ADMIXTURE
Pengambilan sampel
(contoh)agregat yang Bahan berupa bubukan atau
merupakan tipikal cairan yang
sifat rata-rata agregat dibubuhkan ke dalam
(representatif) campuran beton selama
pengadukan dalam jumlah
MUTU DAN KONDISI tertentu
AGREGAT untuk mengubah sifatnya
BERPENGARUH TERHADAP
SIFAT-SIFAT KEKUATAN
(strength),
LEKATAN (bonding),
KEAWETAN (durability)
Pelaksanaan pembetonan

Penakaran :
-Dapat dilakukan berdasarkan penakaran berat atau berdasarkan
penakaran volume
-Untuk beton yang mempunyai kekuatan fc’  20 Mpa proporsi
penakaran harus didasarkan atas penakaran berat
-Untuk produksi beton dengan mutu fc’ < 20 Mpa boleh
berdasarkan volume dengan teknik mengkonversikan takaran berat
ke takaran volume
-Umumnya proporsi bahan campuran beton yang diperoleh dari
hasil rancangan campuran adalah berdasarkan kondisi agregat
jenuh kering permukaan, jkp (saturated surface dry, ssd)
-Apabila kondisi agregat tidak ssd maka harus dilakukan
perhitungan koreksi penakaran
Pengadukan Campuran Beton
Tujuan pengadukan adalah menghasilkan adukan beton segar yang
plastis dengan indikasi merata secara visual, konsistensinya
cukup, dan homogen.

-Pengadukan dapat dibedakan atas metode manual dan metode dengan


masinal
-Pengadukan dengan tangan biasanya dilakukan untuk pekerjaan beton
dengan volume kecil (10 m3) dalam suatu periode yang pendek
-Waktu pencampuran yang terlalu sebentar akan menyebabkan
pencampuran bahan kurang merata sehingga pengikatan antar bahan
menjadi berkurang
-Pengadukan yang terlalu lama akan menyebabkan naiknya suhu beton,
keausan pada agregat, kehilangan sebagian air, perubahan nilai slump
-Umumnya waktu pengadukan antara 1 – 1 ½ menit dianggap memadai
Prinsip umum penggunaan alat pencampur beton :

-Pemasukan semen, pasir, dan agregat ke dalam alat


pencampur secara simultan sehingga curahan dari tiap-tiap
bahan berlangsung pada periode yang sama
-Air harus diisikan ke dalam alat pencampur pada waktu yang
bersamaan;
-Pencampuran harus berlangsung terus sampai beton
menunjukkan keseragaman konsistensi dan warnanya.
-Alat pencampur tidak boleh diisi melebihi kapasitasnya.
-Alat pencampur harus disetel dengan teliti sehingga sumbu
putar wadah pencampur berada dalam posisi horizontal.
-Alat pencampur harus berputar pada kecepatan yang benar
sebagaimana yang dinyatakan oleh pabrik pembuatnya;
-Pada setiap akhir dari siklus pencampuran harus dilakukan
pembersihan dari beton yang melekat pada pisau putar atau
permukaan dalam wadah putar untuk mencegah beton
melekat dan mengeras
Pengangkutan Beton Segar

-Pengangkutan harus dilakukan sedemikian rupa untuk


mencegah terjadinya pemisahan atau kehilangan material
-Keterlambatan pengangkutan akan menyebabkan hilangnya
plastisitas sebelum beton segar dituangkan
-Untuk pengangkutan dengan jarak cukup jauh atau untuk
pengangkutan dalam kemacetan lalu lintas di perkotaan, dapat
menggunakan bahan tambahan (admixture) tipe retarder yang
dapat menunda waktu pengikatan.
Pengecoran

-Beton segar yang akan dicorkan hendaknya ditempatkan sedekat


mungkin dengan tempat/cetakan dimana beton akan dituangkan.

-Konsistensi beton harus diperiksa sesaat sebelum adukan dicorkan,


dengan memperhatikan bentuk dan nilai slump yang disyaratkan

-Pengecoran harus dilaksanakan dengan kecepatan penuangan yang


diatur sedemikian sehingga adukan beton selalu dalam keadaan
plastis dan dapat mengalir ke tempat tujuannya, terutama ke dalam
rongga di antara tulangan
-Adukan beton yang telah mengeras atau yang telah terkotori oleh
material lain tidak boleh dituangkan ke dalam struktur.
-Adukan beton yang telah mengalami penambahan air tidak
boleh dituangkan, kecuali telah disetujui oleh pengawas ahli

-Tinggi jatuh adukan beton tidak boleh lebih di 1,50 m. Jika terjadi
jarak yang lebih besar harus dilakukan dalam beberapa tahap
yang masing-masing tingginya tidak lebih dari 1,50 m, atau
menggunakan alat bantu seperti tremi atau pipa.

-Tidak dilakukan pengecoran selama terjadi hujan, kecuali ada atap


yang melindungi dan dapat menghindari penambahan air ke
dalam adukan beton

-Tebal lapisan maksimum setiap kali penuangan adalah 30 – 45 cm


-Pengecoran beton ke dalam acuan harus selesai sebelum
terjadinya pengikatan awal beton

-Pengecoran beton harus berkesinambungan tanpa berhenti


sampai dengan lokasi sambungan pelaksanaan (construction
joint) yang telah disetujui sebelumnya atau sampai pekerjaan
selesai

-Pengecoran beton ke dalam acuan struktur yang berbentuk rumit


dan penulangan yang rapat harus dilaksanakan secara lapis demi
lapis dengan tebal yang tidak melampaui 15 cm

-Untuk dinding beton, tebal lapis pengecoran dapat sampai 30 cm


menerus sepanjang seluruh keliling struktur
Pemadatan

-Pemadatan beton segar


dimaksudkan untuk
menghilangkan rongga-rongga
udara yang terdapat di dalamnya

-Tinggi atau rendahnya kekuatan,


keawetan, dan kekedapan beton
setelah mengeras sebanding
dengan tinggi atau rendahnya
derajat kepadatan beton

-Dalam segala hal pemadatan beton


segar harus sudah selesai
sebelum terjadi pengikatan
x

Untuk tidak terjadi Untuk mendapatkan


segregasi kepadatan yg homogen
-Pemadatan harus merata

-Pemindahan penggetar dari


satu titik ke titik yang lain
tidak terlalu dekat karena
bisa segregasi dan tidak
terlalu jauh karena
kepadatan tidak akan
merata

-Lama penggetaran harus


dibatasi (sekira 15 detik
pada suatu titik) hingga
tercapai kepadatan
maksimum, yaitu saat
permukaan beton tampak
mengkilap
Vibrator tidak boleh
digunakan untuk
menyebarkan beton
segar karena akan
menimbulkan segregasi

Vibrator tidak boleh mengenai


tulangan karena dapat
menggeser posisi tulangan dan
mengurangi kekuatan lekat
antara tulangan dan beton
setelah beton mengeras
Pembetonan Pada Cuaca Panas
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan jika
pengecoran beton dilakukan pada cuaca panas:
a. timbunan persediaan agregat dilindungi dari
sinar matahari;
b. agregat disiram air secara periodik;
c. air campuran dijaga sedingin mungkin dengan
cara menyimpannya di dalam tangki yang terlindung dari sinar
matahari atau dicat putih;
d. pada daerah yang sangat panas, mungkin perlu penambahan
es pada air campuran;
e. penggunaan semen yang panas sedapat mungkin dihindari;
f. pengecoran tidak boleh dilakukan bilamana tingkat penguapan
melampaui 1,0 kg/m2 / jam.
CARA MENENTUKAN
TINGKAT PENGUAPAN

Cara menggunakan
grafik :
1. Masukkan besarnya
suhu udara, gerakkan
ke atas sampai ke
kelembaban relatif
2. Gerakkan ke kanan
sampai ke suhu beton
3. Gerakkan ke bawah
sampai ke kecepatan
angin
4. Gerakkan ke kiri,
kemudian baca
perkiraan kecepatan
penguapan.
Perawatan (Curing) Beton -Perawatan beton dimaksudkan untuk
memberi kesempatan semen berhidrasi
dengan kecepatan tertentu, dimana
temperatur yang terjadi tidak
menyebabkan penguapan air
pencampur secara berlebihan
-Temperatur tinggi, panas matahari, dan
hembusan angin dapat menyebabkan
hilangnya air pencampur
-Perawatan beton hendaknya dilakukan
minimal selama 7 hari untuk beton biasa,
dan minimal 3 hari untuk beton
berkekuatan awal tinggi, atau beton
minimal sudah mencapai 70% dari
kekuatan rancangan beton berumur 28
Pengaruh perawatan thd kekuatan beton hari.

Secara umum, semakin lama beton dibiarkan mengeras dengan proses


perawatan yang baik, maka akan menghasilkan beton dengan kualitas yang
semakin baik.
Beberapa teknik perawatan beton
Perawatan dengan Pembasahan :
Perawatan dengan pembasahan dapat dilakukan dengan beberapa
cara, yaitu :
a. Mengkondisikan ruangan yang lembab.
b. Membuat genangan air di atas permukaan beton.
c. Merendam beton dalam air.
d. Menyelimuti permukaan beton dengan air.
e. Menyelimuti permukaan beton dengan bahan selimut yang basah.
f. Menyirami permukaan beton dengan air secara terus-menerus.
g. Bilamana acuan kayu tidak dibongkar, maka acuan tersebut harus
dipertahankan dalam kondisi basah sampai acuan dibongkar, untuk
mencegah terbukanya sambungan-sambungan dan pengeringan
beton.
Perawatan dengan
Selimut Kedap Air :
Metode ini dilakukan
dengan menyelimuti
permukaan beton
dengan bahan lembaran
kedap air yang bertujuan
mencegah kehilangan
kelembaban ari
permukaan beton
Perawatan dengan penguapan :
-Perawatan dengan penguapan biasanya digunakan
untuk produksi beton pracetak
-Perawatan dengan uap dapat dibagi menjadi dua,
yaitu :
o Perawatan dengan tekanan uap rendah
berlangsung selama 10 – 12 jam pada temperatur
40o – 55oC dengan proses hidrasi normal tetapi
dengan waktu lebih cepat
o Perawatan dengan tekanan uap tinggi
berlangsung selama 10 – 16 jam pada temperatur
65o – 95oC, kekuatan 28 hari dapat dicapai dalam
waktu 24 jam
Perawatan dengan
Membran Cair

-Bahan yang digunakan harus


sudah kering dalam waktu 4
jam (sesuai final setting time)
-Bahan harus melekat tapi tidak
bersenyawa dengan beton,
tidak beracun, tidak selip, bebas
dari lubang-lubang halus dan
tidak membahayakan beton
-Agar diperoleh hasil yang lebih
X baik, disarankan juga untuk
melakukan pembasahan
dengan air di atas selaput
membran yang sudah kering.
PROSEDUR
Pelaksanaan pekerjaan di lapangan harus sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat
(RKS) pelaksanaan, agar didapat hasil dan mutu yang dapat dipertanggung jawabkan.
Untuk mencegah ketidaksesuaian pekerjaan terhadap RKS, maka proses pengendalian
mutu pekerjaan dilakukan mulai dari awal pekerjaan hingga akhir pekerjaan tersebut.

INCOMING INSPECTION INPROSESS INSPECTION FINAL INSPECTION


(Pengendalian pd awal pekerjaan (Pengendalian pada masa ( Pengendalian Pada akhir proses
dan kedatangan bahan) Pelaksanaan pekerjaan) Pekerjaan )

Adapun proses pelaksanaan pengendalian mutu pekerjaan pada setiap


jenis
pekerjaan dapat di jelaskan sebagai berikut dalam bentuk flow chart :
FLOW CHART PEMERIKSAAN BEKISTING
MULAI

BEKISTING BALOK,KOLOM,
PLAT

TIDAK SESUAI
CHECK TERHADAP
POSISI

SESUAI DI PERBAIKI

TIDAK SESUAI
CHECK DIMENSI

SESUAI
PERBAIKI

TIDAK SESUAI
CHECK TERHADAP
ELEVASI

DI PERBAIKI
SESUAI

SELESAI
FLOW CHART PENGENDALIAN MUTU BESI

MULAI

BESI SAMPAI
DI SITE

TIDAK MASUK
CHECK MILL SHEET

MASUK

GUDANG

TIDAK MASUK
TEST BESI TOLAK

MASUK
TOLAK DIKEMBALIKAN
DIPRODUKSI
KE PABRIK

SELESAI
FLOW CHART PEMERIKSAAN BESI BALOK LAPANGAN

MULAI

CHECK BESI BALOK

TIDAK SESUAI
JUMLAH BESI

OK
TAMBAH BESI

TIDAK SESUAI
CHECK DIAMETER
BESI

GANTI SESUAI SHOP DRAWING OK

CHECK JARAK TIDAK SESUAI


JARAK ANTAR BESI

OK DI PERBAIKI

TIDAK SESUAI CHECK POSISI


TULANGAN

DI PERBAIKI OK

SELESAI
FLOW CHART CHECK BESI KOLOM

MULAI

CHECK BESI KOLOM

TIDAK SESUAI
CHECK JUMLAH

SESUAI DITAMBAH

TIDAK SESUAI
CHECK DIAMETER

SESUAI
DIGANTI

TIDAK SESUAI
CHECK TERHADAP
POSISI

DI PERBAIKI
SESUAI

SELESAI
FLOW CHART CHECK PEMBESIAN BESI PLAT

MULAI

CHECK BESI PLAT

TIDAK SESUAI
CHECK JARAK

SESUAI DI PERBAIKI

TIDAK SESUAI
CHECK DIAMETER

SESUAI
DIGANTI

TIDAK SESUAI
CHECK TERHADAP
OVERLAP

DI PERBAIKI

SELESAI
FLOW CHART PEMELIHARAAN BETON

MULAI MULAI

BETON KOLOM BETON PLAT


HASIL COR HASIL COR

BUNGKUS KOLOM BUAT TANGGUL


DENGAN KARUNG KELILING TEPI PLAT

SIRAM KOLOM DENGAN RENDAM DENGAN


AIR MIN AIR

SELESAI SELESAI
FLOW CHART PENGENDALIAN MUTU BETON

MULAI

BETON READY MIX


DI SITE

TIDAK MASUK
CHECK SLUMP BETON

MASUK

BENDA UJI

TOLAK

RENDAM COR BETON

TEST SESUAI
UMUR
SELESAI
QC BETON AMUREA II-PT.PKG

PEMERIKSAAN MUTU BAHAN


- AGREGAT HALUS ( ASTM C33M-11)
- AGREGAT KASAR ( ASTM C33M-11)
- AIR PENCAMPUR ( ASTM C 1602 M-06)
- TIPE SEMEN ( ASTM C 494-12 )
- ADDITIVE (SILICAFUME,PLASTISIZER) ( ACI 234 R-06 )

PROPORSI CAMPURAN BATCHING PLANT


( Mix Desain Fc 30 Mpa Non FA dan FA) (READYMIX;KALIBRASI DLL )
( ACI 318-02 ) (ASTM C 94 M-11b)

SLUMP TEST; BENDA UJI SELINDER


(ASTM C31 M-10)

PEMERIKSAAN BEKISTING DAN PENULANGAN


( ACI 347 R-94 )

PENGECORAN BETON
( ACI 116 R – 00 )

PEMBUKAAN BEKISTING DAN PERAWATAN


( ACI 347 – 00 )

PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON


( SNI.1974 :2011;ASTM C 39 – 2014 )

REPAIR PENGUJIAN LAPANGAN


( ACI 364.1R-94 ) ( ACI SP – 2/07 )

EVALUASI KUALITAS BETON LAPORAN AKHIR


( ACI 214.R-2011 )
STANDAR SPECIFICATION ON CONCRETE ( AMUREA II)

1. ASTM C 33 M – 11 : Standar Specification for Concrete Aggregate


2. ASTM C 94 M – 11b : Standar Spesification for Readymix Concrete
3. ASTM C 31 M – 11b : Standar Practice for Making and Curing Concrete Specimen in the Field
4. ASTM 1602 M – 06 : Standar Spesification for Mixing Water Used in the Production of
Hydraulic Cement Concrete
5. ASTM C 494 - 00 : Standar Specification for Chemical Admixture for Concrete
6. ACI 214 R.02 : Evaluation of Strength Results of Concrete
7. ACI 234.R-06 : Guide for the Used of Silicafume in Concrete
8. ACI 318 – 02 : Building Code Requirements for Reinforced Concrete
9. DIN 1045 : Standard Specification for Impermeability Concrete
10. ACI 347 R – 94 : Guide to Formwork for Concrete
11. ASTM C 39 – 14 : Standard Method of Test for Compressive Strength of Cylindrical
Concrete Specimen
12. ACI 364.1R – 94 : Guide for Evaluation of Concrete Structures Prior to Rehabilitation.
13. ACI 311.1R – 07 :(ACI SP – 2/07 ) ACI Manual of Concrete Inspection
Monitoring
Evaluation
Pemeriksaan mutu beton dg Hammer Test
Evaluation
Pemeriksaan mutu
beton dg UPV Test
Evaluation
Pengambilan sampel core drill
Evaluation
Pemeriksaan tulangan beton
Evaluation
Pemeriksaan mutu baja
Evaluation
Pemeriksaan kedalaman tiang
pancang
Evaluation
Pemeriksaan korosi baja tulangan
LVD DATA LOGGER
T

STRAIN GAUGE

LVD
T
LOADIN
G TEST
KEROPOS BETON YANG UMUM TERJADI PADA BANGUNAN