Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN MINGGUAN KIMIA LINGKUNGAN

ACARA 2

PENGUKURAN KADAR KEBUTUHAN OKSIGEN BIOLOGI/BOD

(Biochemical Oxygen Demand) DALAM PERAIRAN

DISUSUN OLEH :

DEVI AYU SEPTIANI [E1M 015 020]

LAILI HIDAYATI [E1M 015 038]

LALU BUSYAIRI MUHSIN [E1M 015 040]

RISKA DIA SAPITRI [E1M 015 059]

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN

UNIVERSITAS MATARAM

2018
ACARA 2
PENGUKURAN KADAR KEBUTUHAN OKSIGEN BIOLOGI/BOD
(Biochemical Oxygen Demand) DALAM PERAIRAN

A. Pelaksanaan Praktikum
1. Tujuan Praktikum : Untuk menentukan kadar KOB/BOD dalam air.
2. Hari/Tanggal : Sabtu, 12 Mei 2018
3. Tempat : Laboratorium Kimia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan,
Universitasa Mataram.

B. Landasan Teori
Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang
diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik.
Pemecahan bahan organik diartikan bahwabahan organik ini digunakan oleh organisme
sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (PESCOD,1973).
Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air
buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat
hulu ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang
menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama
organisme tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi
yang harnpir sama dengan kondisi yang ada di alam. Selama pemeriksaan BOD, contoh yang
diperiksa harus bebas dari udara luar untuk rnencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di
udara bebas. Konsentrasi air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu tingkat
pencemaran tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada selama
pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan mengingat kelarutan oksigen dalam air terbatas dan
hanya berkisar ± 9 ppm pads suhu 20°C (SAWYER & MC CARTY, 1978).
Penguraian bahan organik secara biologis di alam, melibatkan bermacam-macam
organisme dan menyangkut reaksi oksidasi dengan hasil akhir karbon dioksida (CO2) dan air
(H2O). Pemeriksaan BOD tersebut dianggap sebagai suatu prosedur oksidasi dimana
organisme hidup bertindak sebagai medium untuk menguraikan bahan organik menjadi CO2
dan H2O. Reaksi oksidasi selama pemeriksaan BOD merupakan hasil dari aktifitas biologis

UNIVERSITAS MATARAM 2
dengan kecepatan reaksi yang berlangsung sangat dipengaruhi oleh jumlah populasi dan
suhu. Karenanya selama pemeriksaan BOD, suhu harus diusahakan konstan pada 20°C yang
merupakan suhu yang umum di alam. Secara teoritis, waktu yang diperlukan untuk proses
oksidasi yang sempurna sehingga bahan organik terurai menjadi CO2 dan H2O adalah tidak
terbatas. Dalam prakteknya dilaboratoriurn, biasanya berlangsung selama 5 hari dengan
anggapan bahwa selama waktu itu persentase reaksi cukup besar dari total BOD. Nilai BOD
5 hari merupakan bagian dari total BOD dan nilai BOD 5 hari merupakan 70 - 80% dari nilai
BOD total (SAWYER & MC CARTY, 1978). Metoda penentuan yang dilakukan adalah
dengan metoda titrasi dengan cara WINKLER. Metoda titrasi dengan cara WINKLER
secara umum banyak digunakan untuk menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya
dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu
ditambahkan larutan MnCl2 den Na0H - KI, sehingga akan terjadi endapan MnO2. Dengan
menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan
membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang
dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S203) dan
menggunakan indikator larutan amilum (kanji).
Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam
BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic
matter). Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang
digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap
masuknya bahan organik yang dapat diurai. Dari pengertianpengertian ini dapat dikatakan
bahwa walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk mudahnya dapat juga
diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable organics)
yang ada di perairan. Faktor yang mempengaruhi hasil BOD adalah :
 Bibit biological yang dipakai
 pH jika tidak dekat dengan aslinya (netral)
 Temperatur jika selain 20 0C (68 0F)
 Keracunan sampel
 Waktu inkubasi
Selama pemeriksaan BOD, contoh yang diperiksa harus bebas dari udara luar
mencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di udara bebas. Konsentrasi air buangan/

UNIVERSITAS MATARAM 3
sampel tersebut yang harus berada pada suatu tingkat pencemaran tertentu. Hal ini untuk
menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada selama pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan
mengingat kelarutan oksigen salam air terbatas dan hanya berkisar 9 ppm pada suhu 200C
(Salmin. 2005). Faktor-faktor yang mempengaruhi BOD adalah jumlah senyawa organik
yang diuraikan, tersedianya mirkoorganisme aerob dan tersedianya sejumlah oksigen yang
dibutuhkan dalam proses penguraian tersebut (barus, 1990 dalamSembiring, 2008). Oksidasi
biokimia adalah proses yang lambat. Dalam waktu 20 hari, oksidasi bahan organik karbon
mencapai 95 – 99 %, dan dalam waktu 5 hari sekitar 60 – 70 % bahan organik telah
terdekomposisi (Metcalf & Eddy, 1991). Lima hari inkubasi adalah kesepakatan umum
dalam penentuan BOD. Jika sampel air BOD pada 20 0C diukur berdasarkan fungsi waktu,
maka akan diperoleh kurva seperti gambar 7.8.10.untuk 10 sd 15 hari, kurva mendekati
eksponensial, tapi sekitar 15 hari, kurva meningkat tajam yang menurunkankan kestabilan
laju BOD. Karena panjangnya waktu dan kurvanya tidak datar, maka para engineer
lingkungan mengambil secara universal untuk test standar pada 5 hari untuk prosedur BOD.

C. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Labu ukur 250 ml
b. Erlenmeyer 250 ml
c. Gelas ukur 100 ml
d. Buret
e. Statif
f. Klem
g. Corong kaca
h. Pipet tetes
i. Gelas kimia

2. Bahan
a. Larutan MnSO4
b. Larutan KOH-KI
c. Larutan Na2S2O3 0.025 N

UNIVERSITAS MATARAM 4
d. H2SO4 pekat
e. Indikator amilum
f. Aquades
g. Tissu

D. Cara Kerja
1. Sampel air yang telah didiamkan dalam botol selama 7 hari diambil dengan labu ukur
250 ml kemudian dipindahkan kedalam erlenmeyer dan ditutup dengan plastik bening
(dimungkinkan untuk tidak ada gelembung udara didalam erlenmeyer).
2. Ditambahkan 1 ml MnSO4 dan KOH-KI dengan pipet tetes, erlenmeyer ditutup kembali
(dimungkinkan untuk tidak ada gelembung udara didalam erlenmeyer).
3. Erlenmeyer dikocok perlahan sampai larutan MnSO4 dan KOH-KI homogen dengan
sampel air kemudian didiamkan ± 2 menit .
4. Ditambahkan H2SO4 pekat sebanyak 1 ml dengan pipet tetes erlenmeyer ditutup
kembali. Erlenmeyer dikocok perlahan hingga warna larutan berubah menjadi coklat .
5. Diambil 100 ml dengan menggunakan gelas ukur dan tuang kedalam erlenmeyer yang
kosong.
6. Ditambahkan indikator amilum 3-5 tetes hingga berwarna biru tua.
7. Dititrasi dengan Na2S2O3 0.025 N hingga warna biru tersebut hilang/jernih.
8. Volume titran yang digunakan untuk titrasi dicatat dan dimasukkan kedalam rumus
untuk menghitung kadar oksigen terlarut pada hari ke-7.

E. Hasil Pengamatan
1. Pengukuran DO0
No. Cara Kerja Hasil Pengamatan
1. 250 ml sampel di tempatkan di dalam Warna sampel bening,
labu ukur
2. 250 ml sampel air + 1 ml larutan Warna larutan bening dan terdapat
MnSO4 +1 ml larutan KOH-KI dan endapan berwarna kuning di dasar
didiamkan selama ±2 menit Erlenmeyer.
3. Larutan (2) ditambahkan 1 ml larutan Warna larutan kuning bening dan

UNIVERSITAS MATARAM 5
H2SO4 pekat endapan yang sebelumnya ada tidak ada
(tercampur dengan larutan).
4. 100 ml larutan (3) ditempatkan dalam Warna larutan biru tua
Erlenmeyer dan ditambahkan indicator
amilum hingga terbentuk warna biru
tua
5. Larutan (4) dititrasi dengan larutan Warna larutan berubah menjadi bening
Na2S2O3 0.025 N hingga terbentuk dan volume titran yang digunakan 10
larutan Na2S2O3 0.025 N ml.

2. Pengukuran DO7
No. Cara Kerja Hasil Pengamatan
1. 250 ml sampel di tempatkan di dalam Warna sampel kuning keruh
labu ukur
2. 250 ml sampel air + 1 ml larutan Warna larutan orange bening dan
MnSO4 +1 ml larutan KOH-KI dan terdapat endapan berwarna coklat.
didiamkan selama ±2 menit
3. Larutan (2) ditambahkan 1 ml larutan Warna larutan coklat bening dan
H2SO4 pekat endapan yang sebelumnya ada tidak ada
(tercampur dengan larutan).
4. 100 ml larutan (3) ditempatkan dalam Warna larutan biru tua
Erlenmeyer dan ditambahkan indicator
amilum hingga terbentuk warna biru
tua
5. Larutan (4) dititrasi dengan larutan Warna larutan berubah menjadi bening
Na2S2O3 0.025 N hingga terbentuk dan volume titran yang digunakan 30.1
larutan Na2S2O3 0.025 N ml.

UNIVERSITAS MATARAM 6
F. Analisis Data
1. Menghitung DO0
Diketahui : ml titran : 10 ml
N titran : 0.025 N
mL sampel : 100 ml
ditanyakan : DO0 ....................?
jawab :
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑁 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 8 𝑥 1000
DO0 (mg/l) = 𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
10 𝑚𝑙 𝑥 0.025 𝑁 𝑥 8 𝑥 1000
DO0 (mg/l) = 100 𝑚𝑙

DO0 (mg/l) = 20 mg/l

2. Menghitung DO7
Diketahui : ml titran : 30.1 ml
N titran : 0.025 N
ml sam pel : 100 ml
ditanyakan : DO7.................?
jawab :
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑁 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 8 𝑥 1000
DO7 (mg/l) = 𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
30.1 𝑚𝑙 𝑥 0.025 𝑁 𝑥 8 𝑥 1000
DO7 (mg/l) = 100 𝑚𝑙

DO7 (mg/l) = 60.2 mg/l

3. Menghitung BOD
BOD = DO0 - DO7
BOD = 20 mg/l – 60.2 mg/l
BOD = - 40.2 mg/l

Jadi, besarnya BOD dalam air sampel yaitu – 40.2 mg/l.

UNIVERSITAS MATARAM 7
G. Pembahasan
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadar KOB/BOD dalam perairan. Pada
percobaan ini dilakukan pengolahan air sungai untuk mengetahui oksigen yang diperlukan
untuk mikroba dalam mengoksidasi bahan organik. Dimana lokasi pengambilan sampel yaitu
Karang Pule kota Mataram. Semakin banyak bahan organik yang ada dalam sampel air sungai
maka semakin banyak juga oksigen yang diperlukan oleh mikroba. Untuk mengetahui oksigen
yang diperlukan oleh mikroba maka ditentukan DO awal dan DO setelah diinkubasi selama 7
hari, dimana selisih yang dihasilkan adalah oksigen yang diperlukan oleh mikroba.
Biochemical Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) adalah
suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis
yang benar-benar terjadi di dalam air sedangkan angka BOD adalah jumlah oksigen yang
dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organik
yang terlarut dan sebagian zat-zat organik yang tersuspensi dalam air. Melalui kedua cara
tersebut dapat ditentukan tingkat pencemaran air lingkungan sedangkan nilai DO yang
biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia
dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut
memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air
tersebut telah tercemar. Jika BOD suatu air tinggi maka dissolved oxygen (DO) menurun
karena oksigen yang terlarut tersebut digunakan oleh bakteri (Mukono, 2006).
Percobaan pertama yang dilakukan yaitu, menentukan DO0 serta DO7. Untuk
mengetahui nilai BOD pada air sungai. Pada penentuan DO7, air sungai didiamkan dalam
botol tertutup dan ditempatkan pada raung yang gelap selama 7 hari (inkubasi). Pada
penentuan BOD ini lama inkubasi selama 3-5 hari namun karena ada suatu kendala sehingga
pada percobaan ini diinkubasi selama 7 hari. Fungsi dilakukannya inkubasi pada ruang gelap
yaitu agar tidak terjadi proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen selama 7 hari,
sedangkan dilakukan selama 7 hari diharapkan agar terjadi proses dekomposisi oleh
mikroorganisme, sehingga yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen, dan oksigen yang
tersisa dikatakan sebagai DO7. Kemudian Penambahkan MnSO4 yang berfungsi untuk
mengikat oksigen sehingga akan terbentuk Mn(OH)2 yang akan teroksidasi menjadi
MnO2.2H2O. Selanjutnya Penambahkan KOH-KI yang berfungsi sebagai katalisator hingga
terbentuk endapan coklat. Selanjutnya penambahan H2SO4 pekat berfungsi agar endapan yang

UNIVERSITAS MATARAM 8
terbentuk dapat larut. Setelah itu penambahan indikator amilum untuk mengikat I2 yang
terdapat dalam larutan. Kemudian melakukan titrasi ulang hingga warna biru dari larutan
hilang. Perlakuan pada penentuan DO0 tidak jauh berbeda dengan penentuan DO7 hanya saja
pada penentuan DO0 tidak dilakukan inkubasi. Pada percobaan ini diperoleh nilai DO0 sebesar
20 mg/l dan DO7 sebesar 60.2 mg/l sehingga niali BOD sebesar – 40.2 mg/l. Berdasarkan
literatur tingkat pencemaran dari 0 – 10 ppm dikatakan rendah, 10 – 20 ppm sedang dan 25
ppm tinggi. Maka berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan hasil BOD kurang dari 0.
Hasil ini tidak sesuai dengan rentang yang ada pada tingkat pencemaran berdasarkan teori.
Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu ketidaktelitian praktikan dalam melakukan
praktikum dan kemungkinan juga berasal dari sampel air yang digunakan.
Metode winkler ini lebih analitis, teliti, dan akurat dalam menganalisi oksigen terlarut
(DO) dibandingkan dengan alat DO meter. Namun hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi
iodometri adalah penentuan titik akhir titrasi, standarisasi larutan, dan penambahan indicator
amilumnya. Dengan mengikuti prosedur yang tepat dan standarisasi secara analitis, akan
diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih akurat. Sedangkan cara DO meter, harus
diperhatikan suhu dan salinitas sampel yang akan diperiksa (Mershaly, 2010).
Faktor yang mempengaruhi hasil BOD adalah :
 Sampel biological yang dipakai
 pH jika tidak dekat dengan aslinya (netral)
 Temperatur jika selain 200 ºC (680 F)
 Keracunan sampel
 Waktu inkubasi

H. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan, hasil pengamatan, dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
a. Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan
(mengoksidasikan) hampir semua zat organik yang terlarut dan sebagian zat-zat
organik yang tersuspensi dalam air.
b. Fungsi dilakukannya inkubasi pada ruang gelap yaitu agar tidak terjadi proses
fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen selama 7 hari, sedangkan dilakukan

UNIVERSITAS MATARAM 9
selama 7 hari diharapkan agar terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganisme,
sehingga yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen, dan oksigen yang tersisa
dikatakan sebagai DO7.
c. Menambahkan MnSO4 yang berfungsi untuk mengikat oksigen sehingga akan
terbentuk Mn(OH)2 yang akan teroksidasi menjadi MnO2.2H2O.
d. Menambahkan KOH-KI yang berfungsi sebagai katalisator hingga terbentuk endapan
coklat.
e. Penambahan H2SO4 pekat berfungsi agar endapan yang terbentuk dapat larut.
f. Penambahan indikator amilum untuk mengikat I2 yang terdapat dalam larutan.
g. Nilai BOD dalam percobaan yaitu 40.2 mg/L.

2. Saran
Semoga praktikum ini bermanfaat untuk memahami tentang bagaimana menjaga
lingkungan terutama perairan agar dapat mencegah serta mengatasi pencemaran yang
telah terjadi dilingkungan kita.

UNIVERSITAS MATARAM 10
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. No. 5 1 Tahun 2004. Tentang.
Baku Mutu Air Laut. 2004. 11 hal.
Mershaly. 2010. Laporan Praktikum Kimia Air.
Available at http://mershaly.wordpress.com/2010/01/05/laporan-praktikum-kimia-air/
diakses pada 20/6/2018 pukul 18.10
Mukono, H. J. 2006. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Surabaya. Airlangga University Press
PESCOD, M. D. 1973. Investigation of Rational Effluen and Stream Standards for
Tropical Countries. A.I.T. Bangkok, 59 pp
Salmin, 2005.” Oksigen Terlarut (DO) Dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah
Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan, (online),
(http://oseanografi.lipi.go.id diunduh 16 April 2013 pkl. 14.17)
Sawyer, C.N and P.L., MC CARTY, 1978. Chemistry for Environmental Engineering. 3rd ed.
Mc Graw Hill Kogakusha Ltd.: 405 - 486 pp.

UNIVERSITAS MATARAM 11