Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN KIMIA LINGKUNGAN

“HASIL OBSERVASI LAPANGAN & PROSES PEMBUATAN TAHU-TEMPE

DI WILAYAH KEKALIK GRISAK”

DISUSUN OLEH :

DEVI AYU SEPTIANI [E1M 015 020]

LAILI HIDAYATI [E1M 015 038]

LALU BUSYAIRI MUHSIN [E1M 015 040]

RISKA DIA SAPITRI [E1M 015 059]

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN

UNIVERSITAS MATARAM

2018
“HASIL OBSERVASI LAPANGAN & PROSES PEMBUATAN TAHU-TEMPE
DI WILAYAH KEKALIK GRISAK”

A. PELAKSANAAN OBSERVASI
1. Tempat pelaksanaan
Tempat observasi ini dilaksanakan di wilayah Kekalik Grisak kelurahan Kekalik
Jaya, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat
.
2. Waktu pelaksanaan
a) Observasi Lapangan
Waktu observasi lapangan dilaksanakan dari tanggal 09 April 2018 sampai 7 Mei
2018
b) Praktikum Hasil Observasi
Praktikum hasil observasi dilaksanakan pada tanggal 7-12Mei 2018

B. PROFIL WILAYAH OBSERVASI


1. Wilayah Kelurahan Kekalik Jaya
1.1 Keadaan Demografis Kelurahan Kekalik Jaya tahun 2016 adalah terdiri atas
a. Laki-laki : 5.052 jiwa
b. Perempuan : 5.079 jiwa
c. Jumlah keluarga : 2.767 KK
d. Jumlah RT : 45 RT
1.2 Keadaan Penduduk Berdasarkan Pendidikan
No. Tingkat pendidikan Jumlah
1. Belum sekolah 2.081
2. Tidak sekolah 640
3. TK 150
4. SD 680
5. SMP 2.310
6. SMA 3.321
7. Sarjana/S1 904

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 1


1.3 Keadaan Penduduk Berdasarkan Pekerjaan
No. Pekerjaan Jumlah
1. Buruh swasta 644 orang
2. Pengawai negeri sipil 627 orang
3. Pengrajin 52 orang
4. Pedagang 387 orang
5. Penjahit 12 orang
6. Tukang Batu 69 orang
7. Tukang kayu 56 orang
8. Peternak 30 orang
9. Nelayan 0 orang
10. Montir 44 orang
11. Dokter 2 orang
12. Sopir 37 orang
13. TNI/POLRI 66 orang
14. Pengusaha 22 orang
15. Petani 46 orang
16. Pembuat Tahu/Tempe 587 orang
17. Pengemudi becak 0 orang

1.4 Data Lingkungan Fisik


1.4.1 Kepemilikan rumah
No. Rumah Jumlah
1. Rumah sendiri 3.100
2. Sewa/kontrak 90
Jumlah 3.190

1.4.2 KK Menurut Jenis Lantai


No. Lantai Data kelurahan Data sampel
1. Tanah 0 0
2. Papan 0 0
3. Tehel 1.180 25
4. Semen/plesteran 2.010 65
Jumlah 3.190 90

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 2


1.5 Sumber Air Bersih Untuk Masak Dan Minum
No. Sumber Air Data kelurahan Data Sampel
1. PDAM 1593 60
2. Sumur 1327 40
Jumlah 3.190 100

1.6 Kondisi Penampungan Air


No Kondisi Tempat Data Sampel
1. Tertutup 5
2. Terbuka

1.7 Sistem Pembuangan Sampah


1.7.1 Pembuangan sampah
No. Sistem pembuangan Jumlah
1. TPU 7
2. Di sungai 49
3. Dibakar 4
4. Semparang tempat 30
Jumlah 90

1.7.2 Kondisi tempat pembuangan sampah sementara


No. Kondisi Penampungan Jumlah
1. Terbuka 85
2. Tertutup 5
Jumlah 90

1.7.3 Jarak penampungan sampah dengan rumah


No. Jarak denga rumah Data sample
1. Kurang 5 meter 12
2. Lebih 5 meter 78
Jumlah 90

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 3


2. Wilayah Kekalik Grisak
a. Kondisi Sosial Ekonomi Di Kekalik Grisak
Kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kekalik Grisak dapat dikatakan rata-rata
menengah. Dapat dilihat dari kondisi rumah, pekerjaan dan usaha yang digeluti, salah
satu usaha yang banyak digeluti di wilayah Kekalik Grisak ini adalah usaha tempe
tahu. Dimana pengusaha tahu tempe ini dapat dikategorikan menjadi dua kelompok
dimana ada pengusaha yang benar-benar pembisnis dan ada pengusaha yang
dikatakan sebagai peminjam. Pengusaha yang dikatakan pembisnis ini mereka adalah
orang yang sungguh-sungguh dalam usaha dimana mereka menjalankan usahanya
sudah memikirkan kedepannya sehingga untung yang didapatkan dapat dikelola
dengan baik dan dapat bermanfaat bagi keluarganya. Sedangakan pengusaha yang
dikatakan peminjam merupakan pengusaha yang semua hasil usaha belum
dimanfaatkan dengan baik, hal ini dikarenakan untung yang mereka dapatkan tidak
dapat dikelola dengan baik sehingga uang modal dan keuntungannya banyak
digunakan untuk membayar hutang. Diluar dua katogeri tersebut ada juga kelompok
warga yang menjadikan usaha tahu tempe hanya sekedar pekerjaan rumah, tanpa
didasari pengetahuan tentang bagaimana pengelola usaha. Untung atau ruginya tidak
diperhitungkan dengan baik.
Dari informasi yang diperoleh dari kepala lingkungan meskipun masyarakatnya
digolongan rata-rata menengah namun pengeluaran masyarakatnya dapat dikatakan
tinggi yaitu sampai dengan Rp. 300.000.000 perbulan. Pengeluaran tersebut meliputi
pengeluaran membeli bahan baku tahu tempe, membayar hutang kendaraan dan lain
sebagainya.
b. Jumlah Penduduk Di Kekalik Grisak
Jumlah penduduk yang berada diwilayah grisak dapat dikatakan banyak atau
penduduknya dikategorikan padat dimana jumlah penduduknya sekitar ± 1500
orang. Jumlah penduduk tersebut dibagi menjadi ± 400 kepala keluarga. Dikatakan
padat karena dapat dilihat dari kondisinya jarah antara rumah satu dengan yang lain
sangat berdekatan dimana jaraknya ± 1 meter saja.

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 4


c. Jumlah Home Industri Di Kekalik Grisak
Home industry yang berada dikekalik griska berjumlah sekitar ± 50 home
industry. Dimana home industry ini dibagi menjadi menjadi beberapa beberapa
kelompok diantaranya ada yang kelompok tahu dan kelompok tempe. Salah satu
ketua kelompok yang kami wawancari adalah bernama bapak husnul, bapak ini
merupakan ketua kelompok dari 10 home industry yang berada di Kekalik Grisak.
Berikut foto dari kelompok pengelolahan tahu yang diketuai oleh bapak husnul.

Pak husnul merupakan ketua kelompok pengelolahan tahu yang sudah


mendapatkan bantuan dari pemerintah dimana dilihat dari alat-alat yang gunakan
untuk membuat tahu sudah dikatakan modern. Sedangkan ada juga home industry
yang belum mendapatkan bantuan dari pemerintah sehingga alat-alat yang digunakan
masih dikatakan tradisional. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala lingkungan
berikut ini nama-nama pengusaha tahu tempe di kekalik gerisak :
1) Pengusaha tahu
- Bapak bohari
- Bapak dayat
- Bapak mulyadi
- Bapak rusa
- Bapak zulfi
- Bapak saharif
- Bapak ridwan
2) Pengusaha tempe
- Bapak abdul hasan
- Bapak H. srun

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 5


- Bapak Muhammad
- Bapak zainal
- Bapak halil
- Ibu Hj. Maenah
Nama-nama yang disebutkan oleh kepala lingkungan daerah Kekalik Grisak
merupakan sebagian dari pengusaha tahu tempe yang berada di wilayah tersebut
namun dari hasil wawancara kami tidak mendapatkan kartu keluarganya.

C. PROSEDUR OBSERVASI
Tahap awal
Pembuatan surat izin observasi ke
kelurahan kekalik jaya

Tahap kedua
Pengantaran surat ke kelurahan, pengambilan data
penduduk dan pembuatan surat izin ke kepala lingkungan
kekalik grisak

Tahap ketiga
Wawancara kepala lingkungan mengenai hal
yang ingin diobservasi dan meminta izin
observasi ke pabrik industri tahu tempe

Tahap keempat
Observasi lansung pembuatan tahu
tempe yang berada di kekalik grisak dan
proses pembuangan limbahnya

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 6


Tahap kelima
Menguji produk dan limbah hasil tahu
tempe yang berada dikekalik grisak

Tahap keenam
Menganalisis dan mengelolah data dari
hasil praktikum produk dan limbah tahu
tempe

D. HASIL OBSERVASI
1. Proses Pembuatan Tahu di Kekalik Grisak
1.1 Menyiapkan kedelai

1.2 Mencuci kedelai

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 7


1.3 Menghaluskan kedelai menggunakan mesin penggiling

1.4 Kemudian kedelai yang dipanaskan dimasukkan kedalam mesin pemanas

Tempat menampung air yang


Satu set alat pemanasan
dipanaskan

Tempat penampungan kedelai halus yang telah


ditambahkan air panas

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 8


1.5 Setelah itu, kedelai halus yang ditambahkan air panas disaring dan dipress
menggunakan alat

Air kedelai disaring dan dipress,


Air panas + kacang kedelai halus
airnya ditampung dibawah

Tempat penampungan hasil


pengepresan
saringan

Hasil saringan air kedelai (yang disebut


sebagai air tahu)

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 9


1.6 Selanjutnya, air tahu dicetak pada alat pencetak selama ± 3 menit

Air tahu dituang pada alat pencetak Air tahunya diratakan

Ditutup dengan kain Dipress

Ditindih menggunakan batako, agar air tahu


dapat dicetak
Dan didiamkan selama ± 3 menit

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 10


1.7 Hasil cetakan tahu dipotong kecil-kecil

Air tahu yang sudah dicetak Kain pelapis dibuka

Cetakan tahu utuh dipotong kecil-


Hasil cetakan tahu utuh
kecil sesuai ukuran

Hasil potongan tahu yang sudah berukuran Tempat tahu


kecil

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 11


1.8 Merebus tahu yang telah dipotong kecil-kecil pada air rebusan garam

Air garam Tahu direbus pada air garam

Tahu setelah perebusan Ampas Tahu

2. Proses Pembuatan Tempe


2.1 Mencuci kedelai

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 12


2.2 Merendam dan merebus kedelai diatas kompor

Perebusan kedelai

Perebusan 11-15 Perebusan >15


Perebusan 1-5 jam Perebusan 6-10 jam
jam jam

2.3 Memberikan pewarna makanan

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 13


2.4 Meniris hasil rebusan dan dicuci kembali

2.5 Memberikan ragi pada kedelai

Ragi Ragi yang sudah dicampurkan dengan

Ragi yang sudah dicampurkan dengan kedelai

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 14


2.6 Mencetak campuran kedelai dengan ragi dan didiamkan selama beberapa hari

Plastik tempe Pencetak tempe segala ukuran

Kedelai yang didiamkan selama


Kedelai yang didiamkan selama 1-2 hari
>2hari

Tempe yang sudah siap

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 15


3. Tempat Pembuangan Limbah

Tempat Pembuangan Limbah Tahu Tempat Pembuangan Limbah Tempe

Sungai Kekalik Grisak Tempat Akhir


Selokan Sekitar Pabrik Tahu-Tempe
pembuangan Limbah

4. Langkah-langkah Uji Formalin Hasil Observasi


4.1 Tahu
a. Menyiapkan semua alat dan bahan yang digunakan
b. Menghaluskan sampel tahu menggunakan mortal

Sampel Tahu Tahu dihaluskan

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 16


c. Menimbang 50 gram sampel tahu halus pada neraca analitik

d. Melarutkan sampel tahu dengan aquades 100 ml dan diaduk

Sebelum pengadukan Setelah pengadukan

e. Menyaring larutan tahu

Penyaringan larutan tahu Hasil penyaringan

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 17


f. Menambahkan fehling A dan fehling B pada filtrat sampel tahu

Sebelum ditambahkan Filtrat tahu setelah ditambahkan

g. Memanaskan filtrat tahu yang telah ditambahkan fehling A dan fehling B pada
penangas

Ketika dipanaskan Hasil setelah dipanaskan

4.2 Tempe
a. Menyiapkan semua alat dan bahan yang digunakan
b. Menghaluskan sampel tempe menggunakan mortal

Sampel Tempe Tempe dihaluskan

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 18


c. Menimbang 50 gram sampel tempe halus pada neraca analitik

d. Melarutkan sampel tempe dengan aquades 100 ml dan diaduk


e. Menyaring larutan tempe

Penyaringan larutan tempe Hasil penyaringan

f. Menambahkan fehling A dan fehling B pada filtrat sampel tempe

Sebelum ditambahkan Filtrat tempe setelah ditambahkan

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 19


g. Memanaskan filtrat tempe yang telah ditambahkan fehling A dan fehling B pada
penangas

Sebelum dipanaskan Ketika dipanaskan Hasil setelah dipanaskan

4.3 Formalin standar


a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
b. Membuat larutan formalin 4% sebanyak 50 ml
c. Menambahkan fehling A dan fehling B pada larutan formalin

Sebelum ditambahkan Setelah ditambahkan

d. Memanaskan larutan formalin yang telah ditambahkan fehling A dan fehling B pada
penangas

Ketika dipanaskan Setelah dipanaskan

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 20


5. Langkah-langkah Uji DO dan BOD pada Limbah Hasil Observasi
5.1 Tahu
a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
b. Mengambil sampel air tahu dengan labu ukur 250 ml kemudian ditutup
(dimungkinkan untuk tidak ada gelembung udara di dalam botol)

Sampel air tahu Sampel air tahu yang telah diukur

c. Menambahkan 1 ml MnSO4 dan 1 ml KOH-KI dengan pipet seukuran, kemudian


ditutup kembali (dimungkinkan untuk tidak ada gelembung udara di dalam botol)

Sampel ditambahkan KI+KOH Sampel ditambahkan MnSO4

d. Mengocok perlahan larutan sampai larutan Mn SO4 dan KOH-KI homogen dengan
air dan kemudian didiamkan ± 2 menit atau sampai timbul endapan berwarna coklat
atau setidaknya sampai cairan supernatan berwarna jernih

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 21


e. Menambahkan 1 ml H2SO4 dan diaduk

Ditambahkan H2SO4

f. Kemudian, mengambil 100ml larutan sampel yang telah tercampur dan dimasukkan
kedalam erlenmeyer

Diukur 100 ml 100 ml larutan sampel

g. Menambahkan indikator amilum hingga larutan berubah menjadi warna biru tua

Setelah ditambahkan indikator amilum

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 22


h. Mentitrasi larutan dengan Na2S2O3 N hingga warna biru tersebut hilang/jernih

Setelah dititrasi

i. Volume titran yang digunakan untuk titrasi dicatat dan dimasukkan kedalam rumus
untuk menghitung kadar oksigen terlarut (DO-0)
j. Kemudian sisa sampel air tahu pada langkah b disimpan selama 7 hari untuk menguji
BOD
k. Setelah 7 hari diukur oksigen terlarutnya sebagai DO-7

Sampel air tahu 250 ml yang teah


Sampel air tahu setelah 7 hari ditambahkan MnSO4 dan KI-KOH

Setelah ditambahkan amilum Setelah dititrasi

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 23


5.2 Tempe
a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
b. Mengambil sampel air tempe dengan labu ukur 250 ml kemudian ditutup
(dimungkinkan untuk tidak ada gelembung udara di dalam botol)

Sampel air tempe Sampel air tempe yang telah diukur

c. Menambahkan 1 ml MnSO4 dan 1 ml KOH-KI dengan pipet seukuran, kemudian


ditutup kembali (dimungkinkan untuk tidak ada gelembung udara di dalam botol)

Sampel ditambahkan KI+KOH Sampel ditambahkan MnSO4

d. Mengocok perlahan larutan sampai larutan MnSO4 dan KOH-KI homogen dengan air
dan kemudian didiamkan ± 2 menit atau sampai timbul endapan berwarna coklat atau
setidaknya sampai cairan supernatan berwarna jernih

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 24


e. Menambahkan 1 ml H2SO4 dan diaduk

Ditambahkan H2SO4

f. Kemudian, mengambil 100ml larutan sampel yang telah tercampur dan dimasukkan
kedalam erlenmeyer

Diukur 100 ml 100 ml larutan sampel

g. Menambahkan indikator amilum hingga larutan berubah menjadi warna biru tua

Setelah ditambahkan indikator amilum

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 25


h. Mentitrasi larutan dengan Na2S2O3 N hingga warna biru tersebut hilang/jernih

Setelah dititrasi

i. Volume titran yang digunakan untuk titrasi dicatat dan dimasukkan kedalam rumus
untuk menghitung kadar oksigen terlarut (DO-0)
j. Kemudian sisa sampel air tempe pada langkah b disimpan selama 7 hari untuk
menguji BOD
k. Setelah 7 hari diukur oksigen terlarutnya sebagai DO-7

Sampel air tempe 250 ml yang teah


Sampel air tempe setelah 7 hari ditambahkan MnSO4 dan KI-KOH

Setelah ditambahkan amilum Setelah dititrasi

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 26


6. Langkah-langkah Uji pH Hasil Observasi

Hasil pH air sampel tahu menunjukkan


Indikator universal dicelupkan pada air
angka pH = 3
sampel tahu

Indikator universal dicelupkan pada air Hasil pH air sampel tempe


sampel tempe menunjukkan angka pH = 4

E. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Hasil Perhitungan
1.1 Hasil uji DO
 Limbah Air Tahu
Diketahui : volume titran : 3 ml
M titran : 0,5 ml
ml sampel : 50 ml
Ditanyakan : DO =……….?
Penyelesaian
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑀 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 8 𝑥 1000
DO =
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 27


3𝑚𝑙 𝑥 0,5 𝑀 𝑥 8𝑥 1000
= 50 𝑚𝑙
12000
=
50

= 240 mg/ml
= 0,24 mg/L

 Limbah Air Tempe


Diketahui : volume titran : 7 ml
M titran : 0,5 ml
ml sampel : 50 ml
Ditanyakan : DO =……….?
Penyelesaian
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑀 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 8 𝑥 1000
DO =
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
7 𝑚𝑙 𝑥 0,5 𝑀 𝑥 8𝑥 1000
= 50 𝑚𝑙
28000
=
50

= 560 mg/ml
= 0,56 mg/L

1.2 Hasil uji BOD


 Limbah Air Tahu
Diketahui : volume titran 0 : 3 ml
Volume titran 7 : 2,8 ml
M titran : 0,5 ml
ml sampel : 50 ml
Ditanyakan : BOD =……….?
Penyelesaian
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑀 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 8 𝑥 1000
DO0 =
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
3𝑚𝑙 𝑥 0,5 𝑀 𝑥 8𝑥 1000
= 50 𝑚𝑙

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 28


12000
=
50

= 240 mg/ml
= 0,24 mg/L

𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑀 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 8 𝑥 1000


DO7 =
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
7 𝑚𝑙 𝑥 0,5 𝑀 𝑥 8𝑥 1000
= 50 𝑚𝑙
11200
=
50

= 224 mg/ml
= 0,224 mg/L
BOD = DO0 - DO7
= 0,24 mg/L – 0,224 mg/L
= 0,016 mg/L

 Limbah Air Tempe


Diketahui : volume titran 0 : 7 ml
Volume titran 7 : 4,6 ml
M titran : 0,5 ml
ml sampel : 50 ml
Ditanyakan : DO =……….?
Penyelesaian
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑀 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 8 𝑥 1000
DO0 =
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
7 𝑚𝑙 𝑥 0,5 𝑀 𝑥 8𝑥 1000
= 50 𝑚𝑙
28000
=
50

= 560 mg/ml
= 0,56 mg/L
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝑀 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑛 𝑥 8 𝑥 1000
DO7 =
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 29


4,6 𝑚𝑙 𝑥 0,5 𝑀 𝑥 8𝑥 1000
= 50 𝑚𝑙
18400
=
50

= 368 mg/ml
= 0,368 mg/L
BOD = DO0 - DO7
= 0,56 mg/L - 0,368 mg/L
= 0,192 mg/L

2. Pembahasan
2.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di bagian hilir Sungai Ancar. Tempat pengambilan
sampel ada satu titik. Adapun deskripsi mengenai lokasi pengambilan sampel ini
berada di tengah-tengah pemukiman penduduk yang memproduksi tahu-tempe.
Lingkungan ini dikenal dengan Kekalik Gerisak dan termasuk Kelurahan Kekalik
Jaya. Masukan limbah berasal dari Kekalik Gerisak sendiri dan Kekalik Timur.
2.2 Karakteristik Limbah Tahu
Karakteristik Limbah Cair Tahu Tahun 1970an industri rumahan pembuatan
tahu-tempe mulai bermunculan di wilayah Kekalik. Industri rumahan ini tiap
tahunnya semakin berkembang. Sungai Ancar mempunyai kontribusi yang besar
dalam perkembangan industri ini, yaitu sebagai sumber air pada awalnya. Pembuatan
tahu-tempe selain menghasilkan produk juga menghasilkan limbah. Limbah
pembuatan tahu berupa limbah cair dan limbah padat. Limbah padat biasanya
dimanfaatkan untuk bahan baku tempe gembus dan makanan ternak (Kastyanto
1994), sedang limbah cair biasanya tidak dimanfaatkan lagi dan dibuang ke
lingkungan. Jumlah limbah cair diperkirakan 15-20 liter per kg kedelai (Haryono
1997).
Proses pembuatan tahu di Lombok berbeda dengan yang ada di Jawa.
Perbedaannya ada pada bahan penggumpal. Bila di Pulau Jawa bahan penggumpal
berupa asam cuka, sedang dalam pembuatan tahu di pulau Lombok menggunakan
”air tua”. Air tua merupakan air laut yang tidak mengkristal pada pembuatan garam.

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 30


Adapun cara pembuatan tahu di Lombok dijelaskan pada Gambar 1. Limbah cair
pada pembuatan tahu di Lombok berasal dari proses pencucian, perendaman dan
pengepresan (Gambar 1). Berdasarkan konsentrasi bahan organik yang dikandung,
limbah dibagi menjadi dua kelompok yaitu limbah dengan bahan organik rendah
berasal dari proses pencucian dan perendaman serta limbah dengan bahan organik
tinggi dari proses pengepresan. Limbah cair pengepresan yang dihasilkan dengan
penggumpal air tua mempunyai karakteristik yang berbeda dengan limbah
pembuatan tahu di Pulau Jawa.
Perbedaan karakteristik limbah cair tahu seperti tercantum pada Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1 terlihat beberapa perbedaan yang mencolok. Limbah tahu yang
dihasilkan di Lombok tidak terlalu bersifat asam seperti limbah tahu di Pulau Jawa.
Derajat keasaman limbah tahu di Pulau Lombok rata-rata di atas 5. Konsentrasi BOD
jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan limbah tahu di Pulau Jawa.

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 31


Gambar Diagram alir pembuatan tahu kedelai di Lombok.

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 32


Tabel . Kualitas limbah cair tahu di Jawa dan Lombok

Dewasa ini badan sungai Ancar telah berubah fungsi menjadi tempat
membuang limbah industri pembuatan tahu-tempe yang dahulu badan air mulanya
digunakan sebagai sumber air. Limbah cair yang dibuang ke sungai mencapai
volume maksimum pada waktu produksi tahu maksimun pula. Produksi tahu
mencapai maksimum atau minimum berkaitan dengan banyaknya hasil tangkapan
nelayan. Bila hasil tangkapan nelayan minimum atau ikan laut mempunyai harga jual
yang tinggi maka permintaan akan tahu-tempe di pasaran lokal Lombok meningkat.
Saat ini pula para pengrajin akan meningkatkan produksinya. Namun bagi pengrajin
yang telah mempunyai saluran pemasaran tetap maka produksi sehari-hari tetap
maksimum. Setiap pengrajin tahu-tempe mempunyai kemampuan pengolahan
sebanyak 40 - 100 kg kedelai perhari.

2.3 Kualitas Air


Mahluk hidup di dalam perairan sungai keberadaannya sangat bergantung pada
beberapa parameter fisik perairan dan kualitas air. Kualitas air akan berpengaruh
secara fisika, kimia maupun biologisnya, termasuk pada makroavertebrata benthik
(MAB). MAB merupakan salah satu mata rantai pakan di perairan serta sering sekali
digunakan sebagai bioindikator kesehatan perairan. Ada pula parameter yang
dianalisa pada penelitian ini untuk dihubungkan dengan MAB yaitu: kualitas fisika

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 33


perairan (suhu dan TSS) serta kualitas kimia perairan (pH, DO, BOD, COD dan
NH3).

2.4 Kualitas kimia perairan


Derajat keasaman (pH) perairan merupakan salah satu parameter lingkungan
yang berpengaruh terhadap prose-proses kehidupan dan susunan spesies dalam
komunitas organisme. Batas toleransi organisme sangat bervariasi tergantung suhu,
DO, adanya anion dan kation serta stadium organisme. Hynes (1978) menyebutkan
bahwa nilai pH yang tidak menguntungkan bagi makroavertebrata benthik bernilai di
bawah 5 atau di atas pH 9.
Berdasarkan pengukuran pH air sungai di Kakale Grisak sebesar 6,44. Nilai pH
tempat pengambilan sampel relatif rendah dikarenakan oleh banyaknya masukan
bahan organik yaitu limbah cair pembuatan tahu-tempe. Limbah yang masuk ke
dalam perairan akan mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme. Menurut Wetzel
(2001), proses dekomposisi bahan organik akan menurunkan pH perairan. Proses
dekomposisi yang terjadi tidak menyebabkan penurunan yang drastis dan masih
dalam kisaran baku mutu PP No. 82 Tahun 2001 untuk perikanan yaitu berada antara
6 – 9.
Oksigen terlarut di Sungai Ancar yang terukur selama penelitian berkisar 2,55
– 4,06 mg/l . Nilai Oksigen terlarut di tempat pengambilan sampel dikatakan rendah.
Hal ini dikarena pengaruh pengkayaan bahan organik pada perairan akan
mengakibatkan terjadinya proses deoksigenasi. Proses deoksigenasi biasanya
disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme dalam merombak bahan organik. Hal ini
juga yang terjadi karena tempat ini mendapat masukan limbah tahu-tempe dari dua
lingkungan yaitu Kekalik Timur dan Kekalik Gerisak. Kandungan oksigen terlarut
yang ada oleh mikroorganisme digunakan dalam proses dekomposisi aerobik
sehingga kandungan oksigen terlarut menurun secara tajam. Menurut Lee et al.
(1978), stasiun 3 termasuk kriteria perairan tercemar sedang karena mempunyai
kandungan oksigen terlarut antara 2,0 – 4,4 mg/l.
Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan jumlah total oksigen yang
diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik yang ada di perairan menggunakan

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 34


oksidator kuat. Rata-rata nilai COD Sungai Ancar mulai dari 122,18- 254,88 mg/l.
Nilai COD dari telah di atas ambang batas yang disyaratkan untuk perikanan oleh PP
No. 82 Tahun 2001 yaitu sebesar 50 mg/l. Konsentrasi COD yang melebihi dari baku
mutu akan mempengaruhi kualitas perairan dan pada akhirnya mempengaruhi
kehidupan makroavertebrata benthik
Konsentrasi BOD yang didapatkan pada penelitian ini mempunyai rentang
nilai 19,27- 29,47 mg/l. tempat pengambilan mempunyai konsentrasi BOD yang
tertinggi. Tingginya nilai BOD disebabkan oleh banyaknya masukan bahan organik
dari limbah pembuatan tahu-tempe. Limbah yang masuk berasal dari Kekalik Barat
dan Kekalik Gerisak serta bahan organic yang belum terdekomposisi sempurna dari
tempat pengamatan sebelumnya. Bahan organik tersebut mempunyai kontribusi yang
tinggi terhadap kenaikan BOD.
Kandungan bahan organik yang ada di perairan akan menggunakan oksigen
terlarut dalam proses penguraiannya. Bila jumlah bahan organik masih dalam
kapasitas asimilasi, oksigen terlarut di perairan tidak akan habis digunakan. Oksigen
terlarut yang tersisa dari proses itu masih dapat menyokong kehidupan biota berjalan
secara normal. Namun bila bahan organik yang terkandung dalam perairan melebihi
kapasitas asimilasinya, maka pada awalnya akan didekomposisi secara aerobik
sampai oksigen terlarut habis dan selanjutnya dekomposisi akan berjalan secara
anaerobik. Dekomposisi secara anaerobik akan menghasilkan gas-gas beracun dan
dapat membunuh biota yang peka.
Hasil pengukuran kandungan amonia di sungai Ancar bekisar dari 1,69-2,16
mg/l. Tempat pengambilan sampel merupakan tempat yang kandungan amonianya
dikatakan sedang. Hal ini disebabkan oleh banyaknya limbah tahu yang masuk ke
dalam perairan dan harus didekomposisi. Limbah tahu-tempe mempunyai kadar
protein yang tinggi. Proteinmengandung rantai nitrogen sehingga membentuk
amonia bila didekomposisi.Menurut Wetzel (2001), di perairan alami sungai
mempunyai konsentrasiamonia cendrung rendah antara 7 – 60 μg N/l. Bila merujuk
pada pendapat Wetzel, maka perairan Sungai Ancar telah tercemar oleh adanya
masukan limbah pembuatan tahu-tempe.

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 35


Hasil perhitungan sidik ragam satu arah pada parameter DO, BOD, COD
signifikan pada taraf 5% dan dilanjutkan oleh uji BNJ.

Tempat pengambilan Parameter


sampel
DO BOD COD

Kakale Grisak 2.547 26.777 244.403

2.5 Pengelolaan Limbah Cair Tahu- Tempe


Adanya industri harus diimbangi dengan upaya pengelolaan lingkungan dalam
bentuk penanganan limbah yang akan dibuang. Pengendalian pencemaran dari
limbah cair pembuatan tahu-tempe dengan pengolahan limbah cair sebelum dibuang
ke badan sungai. Pengolahan limbah bertujuan untuk memperbaiki kualitas limbah
sehingga sesuai dengan kapasitas asimilasi Sungai Ancar. Untuk melakukan
pengolahan limbah maka perlu dibangun Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL).
Selain itu, pengelolaan limbah dalam industri pembuatan tahu tempe merupakan
salah satu dari contoh teknik pengelolaan limbah secara Waste to Product yaitu
menggunakan kembali limbah hasil pabrik tahu-tempe sebagai bahan baku produk
baru yang memiliki nilai tambah. Sehingga diharapkan limbah yang masuk ke
Sungai Ancar berkurang atau bahkan tidak ada lagi. Adapun alternatif reuse limbah
cair antara lain:
 Memanfaatkan limbah cair dengan membuat reaktor biogas kontruksi fixed
Domed Digester (Digester Permanen). Suhu optimal proses bio gas antara 320C-
350C dan setelah ± 30 hari akan dihasilkan bio gas. Bio gas sangat bermanfaat
bagi alat kebutuhan rumah tangga/kebutuhan sehari hari. Sedangkan manfaat
bagi lingkungan adalah dengan proses fermentasi oleh bakteri anaerob (Bakteri
Methan) tingkat pengurangan pencemaran ingkungan dengan parameter BOD
dan COD akan berkurang sampai dengan 98% dan air limbah telah memenuhi
standard baku mutu pemerintah sehingga layak di buang ke sungai.
 Pemanfaatan hasil sampingan biogas limbah cair tahu sebagai pupuk juga dapat
memberikan keutungan bagi para penggunanya, karena selain mengurangi

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 36


penggunaan pupuk kimia (urea). Hal ini juga dapat memberikan tambahan
pendapatan bagi para produsen pupuk cair dari limbah tahu tersebut. Harga
pupuk cair dari limbah tahu ini biasanya dijual Rp 4.000 per liter.
 Membudidayakan Spirullina sp. Spirullina sp dapat dibudidayakan pada media
yang diberikan limbah cair tahu dengan konsentrasi 31 mg/l (Handajani, 2006).

2.6 Uji DO dan BOD untuk Sampel Limbah Air Tahu dan Tempe

Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup
untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian
menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen
juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses
aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi
dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut
(SALMIN, 2000). Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa
faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti
arus, gelombang dan pasang surut. ODUM (1971) menyatakan bahwa kadar oksigen
dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang
dengan semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan
lebih tinggi, karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya
proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar
oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen
yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan
anorganik Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada
jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam
relatif lebih sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau
memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara
bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen
terlarut (WARDOYO, 1978). Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2
ppm dalam keadaan nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik).
Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan
organisme (SWINGLE, 1968). Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 37


kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan
sebesar 70 % (HUET, 1970). KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut
adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut (ANONIMOUS, 2004).
Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena
oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan
anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan khan biologis yang dilakukan oleh
organisme aerobik atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah
untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah
nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi
anaerobik, oksigen yang dihasilkan akan mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi
lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi
inilah maka peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi
beban pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang
ditujukan untuk memurnikan air buangan industri dan rumah tangga. Sebagaimana
diketahui bahwa oksigen berperan sebagai pengoksidasi dan pereduksi bahan kimia
beracun menjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun. Disamping
itu, oksigen juga sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk pernapasan.
Organisme tertentu, seperti mikroorganisme, sangat berperan dalam menguraikan
senyawa kimia beracun rnenjadi senyawa lain yang Iebih sederhana dan tidak
beracun. Karena peranannya yang penting ini, air buangan industri dan limbah
sebelum dibuang ke lingkungan umum terlebih dahulu diperkaya kadar oksigennya.

Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen


yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi
aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan
oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi
(PESCOD,1973). Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan
tingkat pencemaran air buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri
aliran pencemaran dari tingkat hulu ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD
merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut pengukuran banyaknya
oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme tersebut menguraikan
bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi yang harnpir sama

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 38


dengan kondisi yang ada di alam. Selama pemeriksaan BOD, contoh yang diperiksa
harus bebas dari udara luar untuk rnencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di
udara bebas. Konsentrasi air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu
tingkat pencemaran tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada
selama pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan mengingat kelarutan oksigen
dalam air terbatas dan hanya berkisar ± 9 ppm pads suhu 20°C (SAWYER & MC
CARTY, 1978). Penguraian bahan organik secara biologis di alam, melibatkan
bermacam-macam organisme dan menyangkut reaksi oksidasi dengan hasil akhir
karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Pemeriksaan BOD tersebut dianggap sebagai
suatu prosedur oksidasi dimana organisme hidup bertindak sebagai medium untuk
menguraikan bahan organik menjadi CO2 dan H2O. Reaksi oksidasi selama
pemeriksaan BOD merupakan hasil dari aktifitas biologis dengan kecepatan reaksi
yang berlangsung sangat dipengaruhi oleh jumlah populasi dan suhu. Karenanya
selama pemeriksaan BOD, suhu harus diusahakan konstan pada 20°C yang
merupakan suhu yang umum di alam. Secara teoritis, waktu yang diperlukan untuk
proses oksidasi yang sempurna sehingga bahan organik terurai menjadi CO2 dan
H2O adalah tidak terbatas. Dalam prakteknya dilaboratoriurn, biasanya berlangsung
selama 5 hari dengan anggapan bahwa selama waktu itu persentase reaksi cukup
besar dari total BOD. Nilai BOD 5 hari merupakan bagian dari total BOD dan nilai
BOD 5 hari merupakan 70 - 80% dari nilai BOD total (SAWYER & MC CARTY,
1978). Penentuan waktu inkubasi adalah 5 hari, dapat mengurangi kemungkinan hasil
oksidasi ammonia (NH3) yang cukup tinggi. Sebagaimana diketahui bahwa,
ammonia sebagai hasil sampingan ini dapat dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat,
sehingga dapat mempengaruhi hasil penentuan BOD. Reaksi kimia yang dapat terjadi
adalah :
2NH3+3 O2 2NO2 - + 2 H++ + 2 H2O
2NO2 + O2 2 NO3 -
Oksidasi nitrogen anorganik ini memerlukan oksigen terlarut, sehingga perlu
diperhitungkan. Dalam praktek untuk penentuan BOD yang berdasarkan pada
pemeriksaan oksigen terlarut (DO), biasanya dilakukan secara langsung atau dengan
cara pengenceran. Prosedur secara umum adalah menyesuaikan sampel pada suhu

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 39


20°C dan mengalirkan oksigen atau udara kedalam air untuk memperbesar kadar
oksigen terlarut dan mengurangi gas yang terlarut, sehingga sampel mendekati
kejenuhan oksigen terlarut. Dengan cara pengenceran pengukuran BOD didasarkan
atas kecepatan degradasi biokimia bahan organik yang berbanding langsung dengan
banyaknya zat yang tidak teroksidasi pada saat tertentu. Kecepatan dimana oksigen
yang digunakan dalam pengenceran sampel berbanding lurus dengan persentase
sampel yang ada dalam pengenceran dengan anggaapan faktor lainnya adalah
konstan. Sebagai contoh adalah 10 % pengenceran akan menggunakan sepersepuluh
dari kecepatan penggunaan sampel 100% (SAWYER & MC CARTY, 1978). Dalam
hal dilakukan pengenceran, kualitas aimya perlu diperhatikan dan secara umum yang
dipakai aquades yang telah mengalami demineralisasi. Selama penentuan oksigen
terlarut, baik untuk DO maupun BOD, diusahakan seminimal mungkin larutan
sampel yang akan diperiksa tidak berkontak dengan udara bebas. Karena hal tersebut
dapat menyebabkan oksigen akan bereaksi dengan udara. Namun dalam uji yag telah
kita lakukan penyimpanan air limbah tahu dan tempe lebih dari 5 hari, namun hal
tersebut tidak memberikan pengaruh terhadap hasil uji.
Tabel 1.Tingkat pencemaran perairan berdasarkan nilai DO den BOD
Parameter
Tingkat pencemaran
DO (ppm) BOD
Rendah >5 0 – 10
Sedang 0–5 10 – 20
Tinggi 0 25
Sumber : Wirosarjono (1974)

Berdasarkan hasil uji DO dan BOD terhadap sampel limbah air tahu dan tempe
di dapatkan hasil yaitu DO dan BOD untuk sampel air limbah tahu sebesar 0,24
mg/L dan 0,016 mg/L, sedangkan untuk air limbah tempe nilai DO dan BOD nya
sebesar 0,56 mg/L dan 0,192 mg/L. Ditinjau dari tabel tingkat pencemaran perairan
berdasarkan nilai DO dan BOD maka dapat diketahui bahwa tingkat pencemaran
sampel air limbah tahu dan tempe masih pada wilayah kekalik gerisak tergolong
rendah dan sedang.

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 40


2.7 Uji pH Air Limbah Tahu dan Tempe
Derajat keasaman sering dikenal dengan istilah pH (puissance negative de H).
Pengukuran pH merupakan hal yang mutlak dilakukan di dalam pengolahan air
limbah. pH menunjukkan konsentrasi ion hidrogen di dalam larutan. Semakin tinggi
nilai pH artinya konsentrasi ion hidrogen semakin sedikit dan larutan akan bersifat
basa. Sebaliknya, semakin rendah nilai pH maka larutan akan memiliki sifat asam
karena konsentrasi ion hidrogen semakin tinggi.
Dalam pengolahan limbah yang melibatkan proses biologi, peranan pH sangat
penting. Mikroorganisme memerlukan lingkungan dengan pH tertentu. Secara
umum, rentang pH yang dapat ditolerir oleh mikroorganisme adalah pada kisaran
6.5- 8.5. pH yang tidak sesuai atau terlalu fluktuatif dapat menurunkan kinerja proses
biologi karena mikroorganisme tidak dapat melakukan metabolisme secara optimal.
Hasilnya, proses penyisihan organik dari dalam air limbah (diwakili oleh BOD) tidak
dapat berjalan dengan semestinya dan efisiensi pengolahan dapat menurun. Selain
itu, pH yang tidak sesuai dengan persyaratan pengolahan dapat memacu tumbuhnya
mikroorganisme yang tidak diinginkan. Berikut tabel pengaruh pH terhadap
komunitas biologi perairan

Pada instalasi yang mengolah limbahnya dengan pengolahan kimia


pemantauan pH sangat diperlukan karena reaksi-reaksi kimia sangat dipengaruhi oleh
pH. Reaksi pengendapan logam berlangsung pada kisaran pH yang tinggi dan

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 41


flokulan hanya dapat bekerja pada pH tertentu. Perubahan pH dapat menjadi sinyal
kepada operator instalasi pengolahan untuk mengubah dosis bahan kimia yang
diperlukan. Selain penting di dalam proses pengolahan, jangan lupa bahwa pH
merupakan salah satu parameter baku mutu air limbah. Air limbah yang sudah diolah
harus memenuhi rentang pH tertentu (kisaran pH normal) sebelum dialirkan ke
perairan agar kehidupan biota perairan tidak terganggu. Berdasarkan uji pH yang
dilakukan pada sampel air limbah tahu dan tempe di wilayah Kekalik Grisak
menujukkan pH 3 untuk sampel tahu dan pH 4 untuk sampel tempe.

2.8 Uji Formalin pada Sampel Tahu dan Tempe


Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di
dalam formalin mengandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air, biasanya
ditambah methanol hingga 15 persen sebagai pengawet. Formalin dikenal sebagai
bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam industri. Nama
lain dari formalin adalah Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid,
Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform,
Formaldehyde, dan Formalith. Penggunaan formalin antara lain sebagai pembunuh
kuman sehingga digunakan sebagai pembersih lantai, gudang, pakaian dan kapal,
pembasmi lalat dan serangga lainnya, bahan pembuat sutra buatan, zat pewarna,
cermin kaca dan bahan peledak. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk
pengeras lapisan gelatin dan kertas, bahan pembentuk pupuk berupa urea, bahan
pembuatan produk parfum, bahan pengawet produk kosmetik dan pengeras kuku,
pencegah korosi untuk sumur minyak, bahan untuk isolasi busa, bahan perekat untuk
produk kayu lapis (playwood), dalam konsentrasi yang sangat kecil ( < 1 % )
digunakan sebagai pengawet, pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring,
pelembut, perawat sepatu, shampo mobil, lilin dan karpet ( Astawan, 2006 ).
Formalin memiliki dampak buruk bagi kesehatan manusia. Jika tertelan
formalin dapat menyebabkan iritasi dan rasa terbakar pada mulut dan esofagus, nyeri
dada atau perut, nausea, vomitus, diare, ulkus pada gastrointestinal, perdarahan
gastrointestinal dan gagal ginjal (Yulisa, 2014). Menurut Winarno dan Rahayu
(1994), pemakaian formalin pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada
tubuh manusia. Gejala yang biasa timbul antara lain sukar menelan, sakit perut akut
OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 42
disertai muntah-muntah, mencret berdarah, timbulnya depresi susunan saraf, atau
gangguan peredaran darah. Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat
mengakibatkan konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), dan
haimatomesis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian. injeksi formalin
dengan dosis 100 gram dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam.

Dengan akibat yang ditimbulkan tersebut, maka formalin sangat berbahaya


apabila masuk ke dalam tubuh terutama apabila kita mengonsumsi makanan-
makanan yang memang positif mengandung formalin. Pada praktikum ini, dilakukan
uji kualitatif untuk menentukan positif tidaknya sampel makanan yang di uji
mengandung formalin. Uji kualitatif yang dilakukan adalah uji Fehling dimana uji
Fehling bertujuan mengetahui adanya gugus aldehid atau dalam praktikum ini adalah
untuk menguji adanya kandungan formaldehid (formalin) dari sampel makanan
berupa tahu dan tempe. Menurut sejarahnya, Larutan Fehling ditemukan oleh ahli
Kimia Jerman bernama Hermann von Fehling pada tahun 1849. Larutan ini
digunakan untuk menguji kandungan gula tereduksi (monosakarida atau disakarida)
dalam suatu sampel. Pengujian secara kualitatif ini berdasarkan keberadaan gugus
aldehida atau keton yang bebas (Wikipedia). Reagent yang digunakan dalam
pengujian ini adalah fehling A (CuSO4) dan fehling B (KOH dan Na-K, tartrat).

Tahapan dalam pengujian ini yaitu pertama sampel yang akan kita uji di
haluskan terlebih dahulu dengan menggunakan mortar sehingga tekstur yang
didapatkan lebih halus, seperti bubur agar memudahkan dalam melarutkannya
dengan aquades. Fungsi pelarutan ini adalah agar proses pengujiannya lebih mudah
yakni dalam bentuk cair (larutan) dan kemudian disaring untuk memisahkan larutan
sampel (filtrat) dengan endapan-endapannya sehingga yang terambil hanya
larutannya saja. Karena apabila endapannya juga ikut dalam proses pengujian, akan
sangat berpengaruh dalam proses pengamatan selanjutnya. Setelah diambil filtratnya,
kemudian ditambahkan fehling A dan fehling B pada masing-masing sampel.
Selanjutnya, dilakukan proses pemanasan dimana tujuan dari pemanasan ini adalah
agar gugus aldehid yang mungkin ada pada sampel dapat cepat bereaksi dengan
fehling sehingga membentuk suatu asam karboksilat.

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 43


Reaksi yang terjadi dalam uji fehling adalah:

Dimana pada reaksi ini, gugus aldehid pada formalin akan bereaksi dengan
gugus OH dari pereaksi Fehling dengan membentuk asam karboksilat. Sedangkan
Cu2O yang terbentuk merupakan hasil samping dari pembentukan asam karboksilat
dimana apabila terdapat endapan Cu2O yang terbentuk dengan warna merah bata,
mengindikasikan bahwa memang dalam sampel makanan yang kita uji positif
mengandung formalin. Hal ini terjadi karena, senyawa aldehid (formaldehid) yang
ada dalam sampel makanan dapat mereduksi Cu2+ dari pereaksi fehling menjadi Cu+
membentuk Cu2O berupa endapan merah bata sehingga apabila tidak terbentuk
endapan merah bata maka memang di dalam sampel makanan yang kita uji tidak
mengandung formalin karena tidak terbentuk endapan Cu2O atau Cu2+ tidak
tereduksi. Sampel yang kita uji ini juga dibandingkan dengan formalin standar untuk
membandingkan hasil yang didapat dengan standarnya. Berdasarkan hasil uji
formalin yang dilakukan pada sampel tahu dan tempe didapatkan hasil negatif
terhadap formalin ditunjukkan dengan warna larutan tahu dan tempe setelah
dipanasakan kedua sampel tersebut menghasilkan warna kuning keruh, jika
dibandingkan dengan formalin standar setelah dipanaskan berwarna biru bening.
Sehingga warna larutan standar formalin dan sampel tahu dan tempe berbeda.
Sehingga menandakan sampel tahu dan tempe yang di uji menghasilkan uji negatif.

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 44


DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. No. 5 1 Tahun 2004. Tentang
: Baku Mutu Air Laut. 2004. 11 hal.
Astawan, M., 2006. Membuat Mie dan Bihun. Jakarta : Penebar Swadaya.
Huet, H.B.N. 1970. Water Quality Criteria for Fish Life Bioiogical Problems in Water Pollution.
PHS. Publ. No. 999-WP-25. 160-167 pp.
Jones, H.R.E. 1964. Fish and River Pollution. Buther Worth. London : 203 pp.
Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology. W.B. Saunder Com. Philadelphia 125 pp. PESCOD,
M. D. 1973. Investigation of Rational Effluen and Stream Standards for Tropical
Countries. A.I.T. Bangkok, 59 Pp
Salmin. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan
Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di
Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang (Djoko P. Praseno, Ricky Rositasari dan S.
Hadi Riyono, eds.) P3O - LIPI hal 42 - 46
Sawyer, C.N and P.L., MC Carty, 1978. Chemistry for Environmental Engineering. 3rd ed. Mc
Graw Hill Kogakusha Ltd.: 405 - 486 pp.
Swingle, H.S. 1968. Standardization of Chemical Analysis for Water and Pond Muds. F.A.O.
Fish, Rep. 44, 4 , 379 - 406 pp.
Wardoyo, S.T.H. 1978. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Dalam :
Prosiding Seminar Pengendalian Pencemaran Air. (eds Dirjen Pengairan Dep. PU.), hal
293-300.
Winarno F.G, Rahayu TS. 1994. Bahan Tambahan Untuk Makanan dan Kontaminan. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Wirosarjono, S. 1974. Masalah-masalah yang dihadapi dalam penyusunan kriteria kualitas air
guna berbagai peruntukan. PPMKL-DKI Jaya, Seminar Pengelolaan Sumber Daya Air. ,
eds. Lembaga Ekologi UNPAD. Bandung, 27 - 29 Maret 1974, hal 9 - 15
Yulisa, Nadya. dkk. 2014. Uji Formalin pada Ikan Asin Gurami di Pasar Tradisional Pekanbaru.
Pekanbaru: Universitas Pekanbaru.

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 45


LAMPIRAN

PROFIL WILAYAH KELURAHAN KEKALIK JAYA


TAHUN 2016

OBSERVASI KIMIA LINGKUNGAN WILAYAH KEKALIK GRISAK | 46