Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar

1. PengertianSkizofrenia

Skizofrenia adalah suatu penyakit otak serius yang mengakibatkan perilaku

psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan memperoleh informasi, hubungan

interpersonal, serta memecahkan masalah (Tomb, 2006).

Skizofrenia termasuk salah satu gangguan mental yang disebut psikosis. Pasien

psikotik tidak dapat mengenali atau tidak memiliki kontak dengan realitas dengan

gejala utama, halusinasi, pembicaraan kacau, tingkah laku kacau, dan simtom-

simtom negatif (Arif 2006).

Definisi Skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan

menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang aneh

dan terganggu (Videbeck, 2008).

Berdasarkan beberapa pengertian diatas mengenai skizofrenia, penulis dapat

menyimpulkan bahwa skizofrenia adalah salah satu penyakit otak akibat

ketidakseimbangan zat kimia di otak yang mengakibatkan gejala-gejala psikotik

diantaranya halusinasi.

2. Tanda dan GejalaSkizofrenia

Menurut Videbeck (2008), gejalanya dibagi menjadi dua jenis, yaitu :


a. Gejala Positif
1) Halusinasi : persepsi sensori yang salah atau pengalaman persepsi yang tidak

terjadi dalam realitas.

2) Waham :keyakinan yang salah dan dipertahankan yang tidak memiliki dasar

dalam relitas.

3) Ekopraksia : Peniruan gerakan dan gestur orang lain yang diamati klien.

4) Flight of ideas : Aliran verbalisasi yang terus menerus saat individu

melompat dari satu topik ke topik lain dengan cepat.

5) Perseverasi : Terus-menerus membicarakan satu topik atau gagasan;

pengulangan kalimat, kata, atau frasa secara verbal dan menolak untuk

mengubah topik tersebut.

6) Asosiasi longgar : Pikiran atau gagasan yang terpecah-pecah atau buruk.

7) Gagasan rujukan : Kesan yang salah bahwa peristiwa eksternal memiliki

khusus bagi individu.

b. Gejala Negatif
1) Afek datar : tidak adanya ekspresi wajah yang akan menunjukkan emosi atau
mood.
2) Afek tumpul : rentang keadaan perasaan emosional atau mood yang

terbatas.

3) Tidak memiliki kemauan : tidak adanya keinginan, ambisi, atau dorongan

untuk bertindak atau melakukan tugas-tugas.

3. Skizofrenia Paranoid
Skizofrenia paranoid adalah gangguan afektif, dorongan kehendak atau pembicaraan,
serta gejala secara relatif tidak nyata atau tidak menonjol (Videbeck, 2008)
Skizofrenia paranoid adalah distorsi persepsi yang muncul dari berbagai indera

(Stuart, 2006).

Skizofrenia paranoid adalah memiliki ciri khas gejala yaitu memiliki ciri berikut

yang mencolok yaitu bicara kacau, motorik kacau, afek yang tidak sesuai atau datar

(Arif, 2006).

4. Tanda dan Gejala Skizofrenia Paranoid

Tanda dan gejala dari skizofrenia paranoid adalah halusinasi terdapatnya fungsi

kognitif dan afek yang masih terjaga(Arif 2006). Tanda dan gejalanya seperti sering

berupa pasien sering tidak koperatif, sulit bekerjasama, kadang menjadi agresif, marah

atau ketakutan, tetapi jarang sekali memperlihatkan perilaku inkoheren atau

disorganisasi (Tomb, 2004).

a. Proses Terjadinya Gangguan

Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat

dikatakan jugasecara somato-psiko-sosial. Somato adalah dilihat dari

keadaan biologi klien, psikologi dilihat dari keadaan kejiwaan klien,

sedangkan sosial dilihat dari interaksi berhubungan dengan individu dan

kelompok. Dalam mencari penyebab gangguan jiwa, maka ketiga unsur

ini harus diperhatikan.Gangguan jiwa adalah gejala-gejala patologik

dominan berasal dari unsur psike. Hal ini tidak berarti bahwa unsur yang

lain tidak terganggu. Sekali lagi, yang sakit dan menderita adalah

manusia seutuhnya dan bukan hanya badannya, jiwanya atau

lingkunganya.Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia adalah

keturunan yaitu dari gen, umur yaitu umur klien pada saat mengalami

gangguan jiwa, jenis kelamin yaitu bisa laki-laki dan bisa perempuan,
pekerjaan yang terus-menerus, pernikahan seperti gagal menikah,

permusuhan seperti banyaknya musuh didalam lingkunganya, dan

hubungan antar manusia (Videbeck,2008).

5. PengertianHalusinasi

Halusinasi adalah persepsi sensorik yang salah dimana tidak terdapat stimulasi sensorik

yang berkaitan dengannya. Halusinasi dapat berwujud penginderaan kelima indera

yang keliru (Townsend, 2004).Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan

persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu

penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar ( Yosep, 2008).

Berdasarkanbeberapa bahasan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa halusinasi

adalah suatu kesalahan individu dalam mempersepsikan rangsangan stimulus yang

nyata dari panca indera.

6. Proses Terjadinya Halusinasi

Tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 (empat) fase menurut (Stuart 2006) dan

setiap fase memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu:

a. Fase I :

Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah dan

takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk

meredakan ansietas. Di sini klien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai,

menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik

sendiri.

b. Fase II :

Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan.Klien mulai lepas kendali dan

mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang


dipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat

ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital (denyut jantung, pernapasan dan

tekanan darah), asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan

untuk membedakan halusinasi dengan realita.

c. Fase III :

Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada

halusinasi tersebut. Di sini klien sukar berhubungan dengan orang lain,

berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada

dalam kondisi yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan

orang lain.

d. Fase IV :

Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi.

Di sini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon

terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari satu orang.

Kondisi klien sangat membahayakan.

7. Tanda dan Gejala Halusinasi

Perilaku klien yang terkait dengan halusinasi menurut (Stuart, 2006 ) adalah sebagai

berikut :

a. Bicara sendiri.

b. Senyum sendiri.

c. Ketawa sendiri.

d. Menggerakkan bibir tanpa suara.


e. Pergerakan mata yang cepat

f. Respon verbal yang lambat

g. Menarik diri dari orang lain.

h. Berusaha untuk menghindari orang lain.

i. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata.

j. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah.

k. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik.

l. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori.

m. Sulit berhubungan dengan orang lain.

n. Ekspresi muka tegang.

o. Mudah tersinggung, jengkel dan marah.

p. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat.

q. Perilaku panik.

r. Curiga dan bermusuhan.

s. Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan.

t. Ketakutan.

u. Tidak dapat mengurus diri.

v. Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.

8. Jenis – Jenis Halusinasi

Menurut Yosep, (2008) halusinasi terdiri dari lima jenis, yaitu:

a. Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk

kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien,

bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami

halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa

klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.

b. Penglihatan

Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun,

bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias yang menyenangkan atau

menakutkan seperti melihat monster.

c. Penghidu

Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-

bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke,

tumor, kejang, atau dimensia.

d. Pengecapan

Halusinasi yang seolah-olah mencium suatu bau tertentu, merasa mengecap rasa

seperti rasa darah, urin atau feses.

e. Perabaan

Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa

tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain. Halusinasi

yang seolah-olah merasa diraba-raba, disentuh, dicolek-colek, ditiup, dirambati

ulat, dan disinari.


9. Dampak Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi terhadap Kebutuhan Dasar
Manusia

Seseorang yangmengalami halusinasi diakan mengalami perubahan-perubahan dasar

dalam dirinya seperti : kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan keselamatan,

kebutuhan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan harga diri, kebutuhan aktualisasi diri,

ada teori menurut maslow mengatakan kebutuhan dasar manusia meliputi:

a. Kebutuhan Fisiologis

Tubuh manusia memiliki kebutuhan mendasar yang esensial terhadap nutrisi

walaupun tubuh dapat bertahan tanpa makanan lebih lama daripada tanpa cairan.

Mencerna dan merubahnya menjadi energi adalah bagian penting dalam proses

kehidupan. Faktor yang mempengaruhi kurangnya nutrisi yaitu diakibatkan

kegagalan mengenali sensasi seperti lapar dan haus sehingga menjadi malnutrisi

ataupun konstipasi.

b. Kebutuhan rasa aman dan keselamatan

Kemungkinan rasa amanb klien bisa terganggu jika isi halusinasinya yang

mengancam untuk menyuruh klien memukul dan mencemooh

c. Kebutuhan rasa cinta dan rasa memiliki

Klien dengan halusinasi kebutuhan cinta dan rasa memilikinya tidak dapat

terpenuhi dikarenakan klien lebih memilih menikmati halusinasinya.

d. Harga diri

Kemungkinan harga diri kilen bisa meningkat atau menurun tergantung isi

halusinasinya , jika isi halusinasinya hal yang membanggakan dirinya maka klien
harga dirinya akan meningkat dan jika isi halusinasinya yang mencemooh maka

harga dirinya akan rendah.

e. Aktualisasi diri

Kemungkinan klien aktualisasinya kurang karena lebihg menyukai pikiran

halusinasinya yang lebih menyenangkan

B. Asuhan Keperawatan pada Kliendengan Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi

Pendengaran

1. Pengkajian

Menurut Keliat, (2006), pengumpulan data yang diperlukan untuk menilai keadaan

kesehatan serta kemungkinan adanya masalah kesehatan yang memerlukan intervensi

dari perawat. Datasubjektif diperoleh melalui wawancara klien, data objektif

diperoleh melalui observasi atau pemerikasaan dan pengamatan secara langsung,

pengumpulan data tersebut meliputi:

a. Faktor Predisposisi

1) Faktor Perkembangan

Hambatan dalam perkembangan akan menggangu hubungan interpersonal

yang dapat meningkatkan stres dan kecemasan yang berakhir dengan

gangguan persepsi.

2) Faktor sosial budaya

Berbagai faktor sosial budaya di masyarakat yang membuat seseorang

disingkirkan tidak dapat diatasi, sehingga yang lebih berat seperti

halusinasi.

3) Faktor Psikologis
Hubungan interpersonal yang kurang baik dan peran yang bertentangan

dapat menimbulkan kecemasan berat yang pada akhirnya mengingkar

terhadap kenyataan.

4) Faktor Biologis

Struktur otak yang abnormal meliputi perubahan besar dalam bentuk sel

kortikal dan limbic pada halusinasi pada keluarga dengan psikotik akut.

b. Faktor Presipitasi

1) Stress lingkungan dapat menyebabkan terjadinya respon neurobiologik yang

maladatif, misalnya lingkungan yang tidak menyenangkan, kehilangan harga

diri.

2) Faktor yang sangat penting adalah keluarga, lingkungan, dan keluarga

mempengaruhi respon psikologis diri klien, orientasi dan realitas.

c. Pemeriksaan Fisik

1) Sistem integumen

Biasanya terganggu karena klien mengalami gangguan dengan

halusinasinya sehingga pemenuhan kebersihan dirinya ditinggalkan.

2) Sistem kardiovaskuler

Padaklien halusinasi kemungkinanmengalamikecemasan berat sampai

dengan panik sehingga akan didapat tekanan darah meningkat dan nadi

cepat.

3) Sistem Respirasi
Kemungkinanditemuikecemasan berat sanpai dengan panik sehingga

didapatkan pola nafas yang cepat apabila koping yang digunakan

maladaptif.

4) Sistem Gastrointestinal

Kemungkinan ada kecemasan berat sampai dengan panik sehingga adanya

gejala psikosomatis maka pada sistem ini akan didapatkan keluhan mual,

muntah dan nyeri uluhati.

5) Sistem Urogenital

Kemungkinan ada kecemasan berat sampai dengan panik sehingga didapat

data klien sering berkemih atau kurang berkemih.

6) Sistem Persyarafan

Stimulusinternal yang muncul secara intensif akan menyebabkan

ketidakmampuan individu berespon adekuat sehingga memanifestasi gejala

sakit kepala, karena skizofrenia.

7) Sistem Muskuloskeletal

Ditemukan gangguan aktivitas atau meningkat sesuai fase halusinasi yang

dialami.

8) Sistem Pancaindra

Biasa tidak ada gangguan fisiologis pada sistem ini namun terdapat

kesalahan mengekspresikan sesuai ganguan yang dialami

d. Pengkajian Psikososial

1) Konsep Diri :
Umumnya klien halusinasi mengalami gangguan pada konsep diri termasuk

ketidakpuasan pada gambaran diri, identitas, peran, ideal diri, dengan

ungkapan penilaian negatif. Halusinasi juga dapat menyebabkan harga diri

rendah, jika isi halusinasi cenderung merendahkan klien seperti mengejek

klien dsb.

Hubungan Sosial :

Akibat gangguan pada konsep diri pada diri, umumnya klien halusinasi

mengalami penurunan kemampuan bersosialisasi dan okupasi yang buruk.

e. Status Mental

1) Penampilan

Pada klien dengan halusinasi biasanya penampilan terlihat tidak rapi dan

terlihat kurang cocok perburukan defisit perawatan diri.

2) Pembicaraan

Pembicaraan biasanya tidak teratur dan bentuknya maladaptif, kehilangan

hubungan, tidak logis dan berbelit-belit dipengaruhi isi halusinasi.

3) Aktivitas Motorik

Aktivitas pada klien dengan halusinasi diketahui biasanya meningkat atau

menurun beberapa gerakan yang abnormal dipengaruhi isi halusinasi.

4) Alam perasaan

Biasanya dapat berupa suasana emosi yang labil terus menerus akibat dari

halusinasi memerintah dan mengusai.

5) Afek
Pada klien dengan halusinasi biasanya sesuai, yaitu dapat berespon terhadap

stimulus yang diberi oleh perawat, umumnya berespons sesuai dengan isi

halusinasi. Jika halusinasi pada fase IV, umumnya afek menjadi labil.

6) Interaksi selama wawancara

Selama interaksi dapat dideteksi, sikap klien bermusuhan, mudah

tersinggung, dan curiga yang terkait dengan halusinasi.

7) Persepsi
Jenis-jenis halusinasi pengamatan yang didapat isi halusinsi, frekuensi gejala

yang tampak pada saat klien berhalusinasi, sesuai dan respon terhadap

halusinasi kadang klien dapat mengenal halisinasi yang dialami.

8) Proses pikir

Proses informasi yang tidak berfungsi dengan baik akan mempengaruhi

proses pikir, sehingga memberi dampak pada proses komunikasi.

9) Isi pikir

Data yang didapat melalui wawancara pada gangguan isi pikir dapat

diidentifikasi dari jawaban-jawaban yang diberikan oleh klien.

10) Tingkat kesadaran

Pada klien dengan halusinasi didapat data bingung dan sedasi serta terjadi

gangguan orientasi (waktu, tempat, dan orang) ada pada fase tiga dan empat

tahap halusinasi.

11) Tingkat konsentrasi

Kemampuan memperhatikan yang sering terganggu dan kemampuan dalam

berkonsentrasi klien yang mudah beralih.

12) Penilaian daya tilik


Ketidakmampuan dalam mengambil keputusan termasuk tilik diri, yaitu

menilai dan mengevaluasi diri sendiri.

f. Kebutuhan Persiapan Pulang

1) Makan

Klien bisanya tidak dapat menyiapkan makananya sendiri.

2) BAB/BAK

Kemungkinan klien tidak dapat BAB/BAK pada tempatnya.

3) Mandi

Kemungkinan klien biasanya tidak dapat mandi yang bersih karena , karena

asik dengan halusinasnya , sehingga lupa menjaga ebrsihan badanya

4) Berpakaian

Kemungkinan klien tidak dapat berpakaian dengan rapi , karena pikiranya

fokus terhadap halusinasinya

5) Istirahat dan Tidur

Klien kemungkinantidak dapat beristirahat dan tidur tepat waktudikarenakan

halusinasi yang datang pada saat malam hari yang mengakibatkan tidur klien

dimalam hari terggangu sehingga klien biasanya terlihat mengantuk disiang

hari.

6) Penggunaan Obat

Klien biasanya tidak mampu meminum obat sendiri karena …………..

7) Pemeliharaan Kesehatan
Kemungkinan klien kurang memahami akan kesehatan dirinya dan keinginan

utuk kontrol juga kurang , karenan menganggap menyenangkan

berkomunikasi dengan halusiansinaya. Halusiasniaya dianggap bukan

sebagai sesuatu yang menganggu.

8) Aktivitas di dalam rumah

Kemungkinan aktivitas tidak dapat dilakukan klien selama dirumah dengan

baik atau perlu arahan.

9) Aktivitas di luar rumah

Aktivitas tidak dapat dilakukan klien diluar rumah seperti bekerja.

g) Mekanisme Koping

Perilaku klien dengan gangguan halusinasi biasanya tidak melindungi diri sendiri dari

pengalaman-pengalaman yang menakutkan dengan cara regresi untuk menanggulangi

cemas yang mempunyai sedikit energi untuk hidup sehari-hari, dan perlindungan

sebagai upaya untuk menjelaskan persepsi/pandangan dalam sehari hari. Proyeksi

secara umum adalah untuk mengetahui perkembangan di masa yang akan datang

berdasarkan data yang telahada. Proyeksi pada dasarnya merupakan suatu perkiraan

atau taksiran mengenai terjadinya suatu kejadian (nilai dari suatu variabel) untuk

waktu yang akan datang. Pengertian menarik diri adalah merupakan suatu percobaan

untuk menghindari interaksi atau hubungan dengan orang lain yang ditandai dengan

isolasi diri dan perawatan diriyang kurang.

h) Aspek Medik

1) Psikofarmaka
Adalah terapi dengan menggunakan obat, tujuannya untuk mengurangi atau

menghilangkan gejala gangguan jiwa. Berdasarkan obat yang tergolong

dalam pengobatan psikofarmaka antara lain :

a) Chlorpromazine

Indikasi : digunakan untuk pengobatan psikosa, untuk mengurangi


gejala klinis.

Aturan pakai : 3 x 25 mg/hari setelah makan.

Efek samping : Sedasi, hipotensi, aritmia, takikardi, penglihatan

kabur, mulut kering, kesulitan dalam miksi dan

defekasi.

b) Halloperidol

Indikasi : Untuk memenangkan keadaan mania penderita

psikosis.

Aturan pakai : 3 x 5 mg/hari diberikan 3 kali setelah selesai makan.

Efek samping : Sedasi, hipotensi, mulut kering, kesulitan miksi dan

defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, gangguan

irama jantung.