Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

“IDENTIFIKASI ASAM AMINO”

DISUSUN OLEH

DEVI AYU SEPTIANI

[E1M 015 020]

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN

UNIVERSITAS MATARAM

2017
Identifikasi Asam Amino

A. Abstrak
Tujuan dari praktikum identifikasi asam amino ini untuk
mengidentifikasi jenis asam amino dalam larutan protein secara kualitatif.
Asam amino merupakan molekul organik dengan massa molekul rendah,
yang mengandung setidaknya satu gugus karboksil (-COOH) dan satu gugus
amino (-NH2). Praktikum ini dilakukan dengan metode analisis kualitatif,
menggunakan lima macam uji, yaitu uji kelarutan, uji Ninhydrin, uji
Xantoprotein, uji Milon, dan uji Sulfur. Dimana pada masing-masing uji
digunakan beberapa sampel asam amino, antara lain glysin, asam aspartat,
triptofan, fenilalanin, sistein, sistin, tirosin dan menggunakan sampel kasein.
Kasein merupakan 80% dari protein total dalam air susu. Selain
mengandung asam-asam amino, kasein mengandung pula fosfor, dan
terdapat dalam air susu sebagai garam-garam Ca yang dikenal sebagai Ca-
Kaseinat. Uji kelarutan untuk mengetahui sifat kelarutan dari asam amino.
Uji ninhidrin untuk menunjukkan adanya gugus amina, amina primer dan
sekunder, hasil praktikum sesuai dengan teori yaitu glisin, tirosin, dan asam
aspartat menunjukkan hasil positif. Uji xantoprotein untuk mendeteksi
adanya protein yang mengandung asam amino dengan inti benzene (gugus
fenil), hasil praktikum hanya tirosin yang menunjukkan uji positif. Uji
Milon untuk menunjukkan adanya asam amino tirosin pada suatu zat, hasil
praktikum tirosin menunjukkan hasil negatif. Uji sulfur untuk
mengidentifikasi adanya asam amino sistein pada suatu zat, hasil praktikum
sistein menunjukkan hasil negatif.
Kata kunci : asam amino, kasein, analisis kualitatif.

B. Pendahuluan
Asam amino karboksilat, untuk selanjutnya kita sebut “asam amino”
saja (tanpa akhiran karboksilat), adalah asam alkanoat yang sebuah atom H
atau lebih dari gugus alkilnya diganti dengan gugus amino (-NH2). Di alam

UNIVERSITAS MATARAM 1
terdapat sekitar 300 jenis asam amino. Namun, ternyata hanya dua puluh
asam yang secara alami merupakan bahan pembangun protein. Asam amino
pembangun atau penyusun protein adalah alfa asam amino, yaitu asam
amino yang gugus aminonya terikat pada atom karbon alfa. Beberapa asam
amino yang bukan merupakan satuan pembentuk protein, baik yang terdapat
dalam keadaan bebas atau yang terikat pada sel jarang, mempunyai peranan
penting dalam proses metabolisme (Sumardjo, Damin. 2009: 133).
Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam
pelarut organik non polar seperti eter, aseton dan klorofor. Sifat asam amino
ini berbeda dengan asam karboksilat maupun dengan sifat amina. Asam
karboksilat alifatik maupun aromatik yang terdiri atas beberapa atom karbon
umumnya kurang larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik.
Demikian pula amina pada umumnya tidak larut dalam air, tetapi larut
dalam pelarut organik. Asam amino mempunyai titik lebur tinggi bila
dibandingkan dengan asam karboksilat atau amina. Apabila asam amino
larut dalam air, gugus karboksilat akan melepaskan ion H+, sedangkan
gugus amina akan menerima ion H+ (Poedjiadi, 2015: 84-85).
Kasein merupakan 80% dari protein total dalam air susu. Selain
mengandung asam-asam amino, kasein mengandung pula fosfor, dan
terdapat dalam air susu sebagai garam-garam Ca yang dikenal sebagai Ca-
Kaseinat. Kasein terdiri atas alpha, beta, gamma dan kappa kasein. Bila pH
air susu 4.6 - 4.7, maka kasein akan dipresipitasikan. Kasein dapat pula
dipisahkan dari air susu dengan jalan menggunakan “high speed centrifuge”.
Dapat pula terjadi pengendapan karena air susu menjadi asam oleh sebab
bakter. Penambahan enzim proteolitik, terutama rennin akan menyebabkan
terjadinya endapan pula. Endapan ini merupakan protein kompleks yang
berbeda dengan pengendapan oleh asam yang menghasilkan protein yang
tidak kompleks (tidak terikat). Dengan alkohol dan oleh pemanasan 250 F,
akan menyebabkan kasein mengendap (Aulanni’am, 2005: 67-75).
Protein kasein terdiri dari dua kelompok, yaitu kasein sensitif terhadap
kalsium dan kasein tidak sensitif terhadap kalsium. Kedua kelompok

UNIVERSITAS MATARAM 2
tersebut jika dicampurkan akan menghambat terjadinya endapan dari
kelompok yang sensitif terhadap kalsium. Kasein yang tidak sensitif
terhadap kalsium yaitu (s1), (s2) dan k kasein, sedangkan  kasein adalah
kasein yang sangat sensitif terhadap kalsium (Muller, 2007: 960-968).
Tujuan praktikum identifikasi asam amino ini adalah untuk
mengidentifikasi jenis asam amino dalam larutan protein secara kualitatif.
Dimana pada praktikum ini dilakukan beberapa uji untuk mengetahui asam
amino dalam suatu larutan protein, berikut merupakan uji yang dilakukan
antara lain, uji kelarutan, uji Ninhydrin, uji Xantoprotein, uji Milon, dan uji
Sulfur. Pada praktikum ini digunakan beberapa sampel asam amino, antara
lain kasein, glysine, asam aspartat, fenilalanin, tirosin, triftopan, sistein, dan
sistin.

C. Alat dan Bahan Praktikum


1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada praktikum identifikasi asam amino
ini adalah sebagai berikut tabung reaksi, rak tabung reaksi, erlenmeyer,
pipet tetes, penangas (waterbath), gelas ukur, gelas kimia, pengaduk,
spatula, dan stopwatch.

2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum identifikasi asam
amino ini adalah sebagai berikut; sampel (larutan kasein), padatan
glysine, padatan asam aspartat, padatan triftopan, padatan fenilalanin,
aquades, air panas, alkohol 70%, larutan HCL encer, larutan NaOH
encer,larutan glysin, larutan asam aspartat, larutan tirosin, larutan
ninhydrin 0.2%, larutan tritofan, larutan fenilalanin, larutan HNO3 pekat,
larutan NaOH 0.1 n, reagen milon, larutan sistein, larutan sistin, larutan
NaOH pekat 20%, larutan Pb-asetat 0.2 m, tisu, dan kertas label.

UNIVERSITAS MATARAM 3
D. Prosedur Kerja
1. Uji Kelarutan
a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan pada praktikum dengan
mencuci menggunakan aquades dan mengeringkannya menggunakan
tisu.
b. Menyiapkan 5 buah tabung reaksi dan masing-masing diberikan
kertas label dengan masing-masing nama ditulis (sampel kasein,
glysine, asam aspartat, triftopan, dan fenilalanin).
c. Mengambil 0.1 gram bubuk asam amino (glysine, asam aspartat,
triftopan, dan fenilalanin) dengan menggunakan ujung spatula,
sedangkan larutan sampel kasein diambil sebanyak 1 pipet tetes.
d. Memasukkan asam amino tersebut ke dalam masing-masing tabung
reaksi yang sudah diberikan label.
e. Menambahkan 1-3 ml pelarut aquades ke dalam masing-masing
tabung reaksi yang berisi asam amino tersebut, dikocok dan diamati
perubahan yang terjadi.
f. Mengulangi prosedur kerja poin b sampai e dengan mengganti
pelarut aquades menggunakan alcohol, HCl encer, dan NaOH encer.
g. Mencatat hasil pengamatan pada tabel hasil pengamatan.

2. Uji Ninhidrin
a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan pada praktikum dengan
mencuci menggunakan aquades dan mengeringkannya menggunakan
tisu.
b. Menyiapkan 4 buah tabung reaksi dan masing-masing diberikan
kertas label dengan masing-masing nama ditulis (sampel kasein,
glysine, asam aspartat, dan tirosin).
c. Memasukkan 1 ml larutan asam amino tersebut ke dalam masing-
masing tabung reaksi sesuai dengan nama pada label.
d. Memasukkan 5 tetes larutan ninhydrin 0.2 % ke dalam masing-
masing tabung reaksi.

UNIVERSITAS MATARAM 4
e. Memanaskan masing-masing tabung reaksi ke dalam waterbath
selama ±2 menit.
f. Mendiamkan masing-masing tabung reaksi yang telah dipanaskan
sampai terbentuk warna biru.
g. Mencatat hasil pengamatan pada tabel hasil pengamatan.

3. Uji Xantoprotein
a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan pada praktikum dengan
mencuci menggunakan aquades dan mengeringkannya menggunakan
tisu.
b. Menyiapkan 6 buah tabung reaksi dan masing-masing diberikan
kertas label dengan masing-masing nama ditulis (sampel kasein,
glysine, asam aspartat, tirosin, triftopan, dan fenilalanin).
c. Memasukkan 2 ml larutan asam amino tersebut ke dalam masing-
masing tabung reaksi sesuai dengan nama pada label.
d. Memanaskan masing-masing tabung reaksi ke dalam waterbath
selama ±2 menit.
e. Menambahkan 2 ml larutan HNO3 pekat ke dalam masing-masing
tabung reaksi tersebut.
f. Memanaskan kembali campuran dengan waterbath selama ±2 menit,
kemudian diamati perubahan yang terjadi lalu didinginkan.
g. Menambahkan larutan NaOH 0.1 N secara perlahan ke dalam
masing-masing tabung reaksi hingga terjadi perubahan.
h. Mencatat hasil pengamatan pada tabel hasil pengamatan.

4. Uji Milon
a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan pada praktikum dengan
mencuci menggunakan aquades dan mengeringkannya menggunakan
tisu.

UNIVERSITAS MATARAM 5
b. Menyiapkan 4 buah tabung reaksi dan masing-masing diberikan
kertas label dengan masing-masing nama ditulis (sampel kasein,
glysine, fenilalanin, dan tirosin).
c. Memasukkan 2 ml larutan asam amino tersebut ke dalam masing-
masing tabung reaksi sesuai dengan nama pada label.
d. Menambahkan 1-2 tetes reagen milon ke dalam masing-masing
tabung reaksi tersebut.
e. Memanaskan masing-masing tabung reaksi ke dalam waterbath
selama ±10 menit sampai terbentuk warna merah pada larutan.
f. Mencatat hasil pengamatan pada tabel hasil pengamatan.

5. Uji Sulfur
a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan pada praktikum dengan
mencuci menggunakan aquades dan mengeringkannya menggunakan
tisu.
b. Menyiapkan 4 buah tabung reaksi dan masing-masing diberikan
kertas label dengan masing-masing nama ditulis (sampel kasein,
sistein, sistin, dan gysine).
c. Memasukkan 1 ml larutan asam amino tersebut ke dalam masing-
masing tabung reaksi sesuai dengan nama pada label.
d. Menambahkan 1 ml larutan NaOH pekat 20% ke dalam masing-
masing tabung reaksi tersebut.
e. Memanaskan masing-masing tabung reaksi ke dalam waterbath
selama ±1 menit sampai terbentuk warna merah pada larutan.
f. Menambahkan 1 tetes larutan Pb-Asetat 0.2 M sampai terbentuk
warna coklat atau hitam pada larutan.

E. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil Pengamatan
a. Tabel Hasil Pengamatan
1) Tabel Uji Kelarutan

UNIVERSITAS MATARAM 6
Asam HCl NaOH
No Aquades Alkohol
Amino encer encer
Sampel
1. Larut Larut Larut Larut
Kasein
Tidak Tidak
2. Glysine Larut Larut
Larut Larut
Asam Tidak Tidak
3. Larut Larut
Aspartat Larut Larut
Tidak Tidak Tidak
4. Triftopan Larut
Larut Larut Larut
Tidak Tidak Tidak
5. Fenilalanin Larut
Larut Larut Larut

2) Uji Ninhidrin
Asam
No Sebelum Pemanasan Setelah Pemanasan
Amino
Sampel Bening
1. Bening Kekuningan
Kasein Kekuningan
2. Glysine Ungu Ungu
Asam
3. Bening Kekuningan Biru Muda
Aspartat
4. Tirosin Bening Kekuningan Ungu Muda

3) Uji Xantoprotein
Setelah
Asam Setelah + HNO3
No dipanaskan +
Amino Pemanasan Pekat
NaOH 0.1 N
Sampel
1. Bening Kuning Kuning
Kasein
2. Glysine Bening Bening Bening

UNIVERSITAS MATARAM 7
Asam Bening
3. Bening Bening
Aspartat
4. Tirosin Bening Bening Bening
5. Triftopan Bening Orange Orange
6. Fenilalanin Bening Bening Bening

4) Uji Milon
Asam
No Sebelum Pemanasan Setelah Pemanasan
Amino
Sampel Endapan Putih
1. Putih Keruh
Kasein Pekat
2. Glysine Bening Bening
3. Fenilalanin Bening Bening
4. Tirosin Bening Bening

5) Uji Sulfur
Asam Sebelum Setelah + Pb asetat
No
Amino Pemanasan dipanaskan
Bening, ada
Sampel
1. gelembung, Putih Keruh Putih Keruh
Kasein
terasa panas
Bening,
2. Systein Bening Bening
terasa panas
3. Sistin Bening Bening Bening
4. Glysine Bening Bening Bening

2. Pembahasan
Praktikum identifikasi asam amino ini bertujuan untuk
mengidentifikasi jenis asam amino dalam larutan protein secara
kualitatif. Asam amino merupakan molekul organik dengan massa
molekul rendah, yang mengandung setidaknya satu gugus karboksil (-

UNIVERSITAS MATARAM 8
COOH) dan satu gugus amino (-NH2). Gugus karboksil dalam asam
amino memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa.
Dalam bentuk larutan asam amino bersifat amfoterik yaitu cenderung
bersifat asama pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam
Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu membentuk zwitter-ion.
Salah satu fungsi asam amino yaitu sebagai penyusun protein daklam
suatu organisme. Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak
larut dalam pelarut organik non polar seperti eter, aseton dan kloroform,
asam amino mempunyai titik lebur tinggi bila dibandingkan dengan
asam karboksilat atau amina.
Analisis suatu identifikasi asam amino dapat dilakukan dengan
metode kualitatif dan metode kuantitatif. Metode kualitatif dilakukan
untuk mengetahui keberadaan asam amino dalam suatu protein
sedangkan untuk analisis selanjutnya digunakan metode analisis
kuantitatif untuk mengetahui jumlah suatu asam amino dalam suatu
protein. Namun, pada praktikum ini hanya dilakukan metode analisis
kualitatif saja. Dimana pada metode analisis kualitatif ini dilakukan
beberapa uji yaitu 5 uji untuk menguji atau mengidentifikasi kandungan
asam amino pada larutan protein, yaitu antara lain uji kelarutan, uji
Ninhydrin, uji Xantoprotein, uji Milon, dan Uji Sulfur.
a. Uji Kelarutan
Uji kelarutan merupakan uji untuk mengetahui sifat kelarutan
dari asam amino, dimana dilihat ada atau tidaknya endapan, dan
larut atau tidaknya suatu sampel untu mengetahui termasuk larutan
nonpolar ataupun polar. Pada uji kelarutan asam amino ini
dilakukan empat kali percobaan dengan menggunakan empat
pelarut yang berbeda yaitu percobaan pertama menggunakan
larutan aquades, kedua alkohol, ketiga HCl encer, dan terakkhir
NaOH encer. Untuk setiap percobaan digunakan lima macam asam
amino antara lain kasein, glysine, asam aspartat, triftopan, dan
fenilalanin.

UNIVERSITAS MATARAM 9
Percobaan pertama yaitu uji kelarutan dengan menggunakan
aquades. Dimana setiap tabung reaksi yang masing-masing berisi
asam amino dicampurkan dengan pelarut aquades. Pada umumnya,
asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik
non polar seperti eter, aseton dan kloroform. Sifat asam amino ini
berbeda dengan asam karboksilat maupun dengan sifat amina.
Asam karboksilat alifatik maupun aromatik yang terdiri dari
beberapa atom karbon, umumnya kurang larut dalam air tetapi larut
dalam pelarut organik. Demikian pula amina, pada umumnya tidak
larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik. Berdasarkan
hasil percobaan diperoleh hasil asam amino (kasein dan glysin)
larut dalam air dan asam amino (asam aspartat, triftopan, dan
fenilalanin) tidak larut dalam air. Asam aspartat, triftopan dan
fenilalanin merupakan asam amino dengan gugus R aromatik.
Bersifat relatif non polar (hidrofobik) sehingga tidak larut dalam
air tetapi larut dalam pelarut organik seperti loroform. Sedangkan
kasein dan glysin merupakan asam amino dengan gugus R positif
yang bersifat polar dan bersifat basa. Sehingga larut dalam air.
Berikut dapat digambarkan dari mekanisme reaksi asam amino
yang larut dalam air:
 Glysine

Percobaan kedua uji kelarutan dengan menggunakan alkohol.


Asam amino yang digunakan sama pada uji kelarutan H2O yaitu
asam amino kasein, glysine, asam aspartat, triftopan, dan
fenilalanin. Alkohol memiliki sifat heterepolar dimana sifat polar
berasal dari gugus (-OH) dan non polar berasal dari gugus R (-

UNIVERSITAS MATARAM 10
alkil). Pada uji kelarutan dengan alkohol ini hanya sampel yang
dapat bereaksi dimana sampel yang digunakan adalah kasein.
Kandungan asam amino dalam kasein yang bereaksi disini adalah
sistin dan juga metionin yang memiliki gugus R berupa atom S.
Gugus R dan gugus S inilah yang menyebabkannya bersifat polar
sedangkan alkohol bersifat heterepolar yang menyebabkannya
larut. Seharusnya jenis asam amino glysin, asam aspartat, triptofan
dan juga fenilalanin dapat larut dalam pelarut polar. Akan tetapi
karena titik didih dari alkohol sangat tinggi yang berasal dari gugus
fungsi –OH yang sangat polar sehingga untuk mereaksikannya
dengan asam amino diperlukan pemanasan dulu. Pemanasan disini
bertujuan untuk mempercepat kelarutan asam amino.
Percobaan ketiga yaitu uji kelarutan dengan menggunakan
pelarut HCl encer. Berdasarkan dari tabel hasil pengamatan
praktikum yang telah dilakukan terlihat bahwa hanya kasein dan
asam aspartat saja yang larut atau bereaksi dengan menggunakan
HCl encer. Seharusnya asam amino triptofan dan juga fenilalanin
juga dapat larut dalam HCl karena semua asam amino dapat
bersifat amfoter. Asam triftopan memiliki gugus R yang yang
bersifat asam sehingga dapat bereaksi dengan larutan HCl yang
juga bersifat asam. Dimana sifat amfoter dari asam amino dapat
menyebabkan asam amino yang bersifat asam dapat larut dalam
pelarut yang bersifat basa, begitu sebaliknya asam amino yang
bersifat basa dapat larut dalam pelarut yang bersifat asam. Terdapat
perbedaan hasil praktikum dengan literatur yang disebabkan oleh
terjadinya kesalahan praktikan dalam mengamati kelarutannya atau
kesalahan dalam membuat larutan tersebut. Sampel (kasein) tidak
dapat larut dalam pelarut HCl. Hal ini dapat disebabkan karena
dalam kasein terdapat beberapa asam amino yang memungkinkan
menyebabkan tidak terlihatnya sifat kelarutan dari kasein tersebut.

UNIVERSITAS MATARAM 11
Berikut persamaan reaksi asam amino asam aspartat menggunakan
uji kelarutan dengan pelarut HCl pekat;

Pada percobaan keempat yaitu uji kelarutan dengan


menggunakan pelarut NaOH encer, semua asam amino yaitu
glysin, asam aspartat, triptofan, fenilalanin dan sampel berupa
kasein dapat larut pada pelarut NaOH. Hal ini dapat terjadi karena
asam amino tersebut bersifat amfoter yang menyebabkan asam
amino dapat bersifat asam yang dapat larut dalam pelarut basa dan
asam amino yang bersifat basa dapat larut dalam pelarut asam
karena asam amino mengandung gugus amina (-NH3) dan gugus
karboksil (-COOH). Pada sampel (kasein) juga menunjukkan larut
karena dimana pada kasein terdapat asam-asam amino seperti
tirosin, triptofan, sistin dan juga methionin. Hal ini sesuai dengan
persamaan reaksi pada masing-masing asam amino.

b. Uji Ninhydrin
Uji ninhydrin merupakan uji universal untuk asam  amino.
Pada uji ini dilakukan pemanasan hingga mendidih, kemudian
setelah dipanaskan dibiarkan dingin sehingga akan terbentuk
endapan berwarna merah dan sedikit berwarna ungu atau biru.
Perubahan warna larutan menjadi ungu pada larutan sampel setelah
diteteskan dengan larutan ninhydrin dan dilakukan pemanasan
menandakan bahwa seluruh sampel tersebut terdapat kandungan
asam  amino dan peptida yang memiliki gugus  amino yang
bebas. Pembentukan larutan kompleks berwarna ungu ini terjadi
karena dekarboksilasi oksidatif dari asam amino dan produksi

UNIVERSITAS MATARAM 12
ninhidrin tereduksi, NH3 dan CO2. Kemudian terjadi reaksi antara
ninhidrin tereduksi dengan molekul ninhidrin yang lain dan dengan
molekul NH3 yang dibebaskan sehingga terbentuk kompleks
berwarna ungu.
Uji ninhidrin berfungsi untuk menunjukkan adanya gugus
amina, amina primer dan sekunder, jadi asam amino yang memiliki
gugus fungsional amina primer dan sekunder bila direaksikan
dengan ninhidrin 20% akan membentuk senyawa kompleks
berwarna biru. Pada praktikum ini digunakan empat macam sampel
asam amino yaitu kasein, glisin, asam aspartat, dan tirosin.
Berdasarkan tabel hasil pengamatan praktikum didapat bahwa
asam amino glysine dan tirosin menghasilkan warna ungu dan
asam aspartat menghasilkan biru muda, hal ini terjadi dikarenakan
pada ketiga asam amino tersebut mengandung gugus amina yaitu
amina primer, disebut amina primer karena memiliki satu atom
hidrogen yang digantikan alkil. sedangkan untuk sampel asam
amino glisin tidak terjadi reaksi. Berikut mekanisme reaksi dari
hasil uji positif pada uji Ninhydrin :

 Glysine + Ninhydrin

UNIVERSITAS MATARAM 13
 Tirosin + Ninhydrin

 Asam Aspartat + Ninhydrin

UNIVERSITAS MATARAM 14
c. Uji Xantoprotein
Uji xantoprotein bertujuan untuk mendeteksi adanya protein
yang mengandung asam amino dengan inti benzene (gugus fenil).
Berdasarkan teori, uji xantoprotein menghasilkan uji positif jika
membentuk endapan putih ketika ditambahkan asam nitrat (HNO3)
pekat dan berubah menjadi kuning sewaktu dipanaskan. Senyawa
nitro yang terbentuk dalam suasana basa akan terionisasi dan
warnanya berubah menjadi jingga pada asam amino tirosin,
fenilalanin, dan triptopan yang ditandai dengan pembentukan
warna kuning. Uji xantoprotein merupakan uji kualitatif pada
protein yang uji positifnya ditandai dengan munculnya gumpalan
atau cincin berwarna kuning. Pada uji ini digunakan larutan HNO3
pekat yang berfungsi untuk memecah protein menjadi gugus
benzene.
Pada praktikum ini digunakan enam macam sampel asam
amino yaitu kasein, glysine, asam aspartat, tirosin, triftopan, dan
fenilalanin. Dimana pada tabel hasil pengamatan ditunjukkan
bahwa kasein dan tirosin sesuai dengan teori yakni setelah
ditambahkan HNO3 pekat dan pemanasan didapatkan larutan
berwana kuning, yang artinya kasein dan tirosin menghasilkan uji
positif atau asam amino tersebut mengandung gugus fenil.
Sedangkan, untuk glysine, asam aspartat, triftopan dan fenilalanin
menghasilkan uji negatif yang ditandai dengan tidak adanya

UNIVERSITAS MATARAM 15
perubahan warna, yaitu tetap berwarna bening. Dalam hal ini,
untuk hasil praktikum pada asam amino triftopan dan fenilalanin
menunjukkan perbedaan antara teori dengan hasil praktikum,
dimana yang seharusnya disebutkan pada teori bahwa triftopan dan
fenilalanin termasuk uji positif pada uji xantoprotein karena asam
amino tersebut mengandung gugus fenil, namun kenyataannya pad
hasil praktikum berbanding terbalik. Hal ini dapat terjadi
diakibatkan dari larutan triptofan dan fenilalanin yang digunakan
pada praktikum sudah rusak dipengaruhi dari suhu, dimana protein
dapat rusak akibat suhu yang ekstrim yang mengakibatkan
terjadinya denaturasi.
Dapat dilihat mekanisme reaksi untuk uji positif pada uji
xantoprotein berdasarkan teori dan hasil praktikum, sebagai
berikut:

 Tirosin

Berdasarkan Teori dan Sesuai dengan Praktikum


 Triftofan

UNIVERSITAS MATARAM 16
 Fenilalanin

d. Uji Milon
Pereaksi Milon adalah larutan merkuro atau merkuri nitrat
dalam asam nitrat. Pada dasarnya uji Milon digunakan untuk
menunjukkan adanya asam amino tirosin pada suatu zat. Apabila
pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein maka akan
menghasilkan endapan putih yang berubah menjadi merah karena
pemanasan. Sehingga dapat dikatan pada uji Milon ini, uji
positifnya adalah ditandai dengan adanya endapan yang berwarna
merah. Dimana dalam tirosin mengandung fenol-fenol yang
nantinya membentuk senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil
yang menghasilkan warna merah.
Berdasarkan teori endapan putih yang terbentuk setelah
penambahan reagen Millon merupakan endapan dari merkuri yang
berasal dari terbentuknya ion Hg+ dari terlarutnya Hg dalam HNO3.
Ion Hg+ akan membentuk garam dengan gugus karboksil dari

UNIVERSITAS MATARAM 17
tirosin. Endapan putih yang terbentuk mengalami reaksi lebih
lanjut ketika dipanaskan. Pada pemanasan tersebut, asam nitrat
yang pada awalnya bertindak sebagai pelarut mengoksidasi ion
Hg+ menjadi Hg2+. Bersamaan dengan itu, asam amino tirosin
ternitrasi. Reaksi yang terjadi selanjutnya yaitu pembentukan
oksida HgO yang berwarna merah. Dalam reaksi ini Hg bertindak
sebagai oksidator, dimana reagen yang digunakan adalah Hg
ternitrasi. Gugus positif bereaksi dengan hidroksi fenil pada tirosin
adalah (-NO2). Bersamaan dengan terbentuknya tirosin ternitrasi,
Hg yang terdapat pada larutan teroksidasi yang dibantu dengan
pemanasan membentuk HgO berupa endapan merah.
Pada percobaan ini digunakan asam amino kasein, glysine,
fenilalanin, dan tirosin, hanya saja pada empat sampel asam amino
tersebut tidak ada yang memberikan perubahan warna menjadi
merah ketika ditambahkan reagen Milon maupun setelah
dilakukannya pemanasan. Hal ini terjadi, karena pada kasein,
glysine, dan fenilalanin tidak terdapat gugus fenol pada struktur
asam aminonya sehingga tidak bisa membentuk senyawa merkuri
dengan gugus hidroksifenil yang nantinya memberikan warna
merah pada larutan.
Sedangkan untuk sampel asam amino tirosin terdapat
perbedaan berdasarkan teori atau literatur yang seharusnya positif
terhadap uji Milon, dimana pada praktikum ini didapat hasil negatif
pada sampel tirosin menggunakan uji Milon yang terlihat pada
tabel hasil pengamatan uji Milon setelah ditambahkan reagen dan
setelah dipanaskan tetap berwana bening, dengan kata lain tidak
ada peubahan warna ataupun tidak terjadi reaksi. Karena tirosin
yang digunakan pada praktikum mengalami kerusakan baik dari
segi lama penyimpanan, dan adanya kerusakan struktur pada
tirosin sehingga menyebabkan kegagalan atau kesalahan pada
praktikum.

UNIVERSITAS MATARAM 18
Sehingga, dapat dilihat perbandingan persamaan reaksi yang
terjadi berdasarkan teori dan hasil praktikum untuk uji Milon yang
seharusnya positif pada sampel asam amino tirosin;

e. Uji Sulfur
Uji sulfur atau biasa dikenal dengan uji PbS bertujuan untuk
mengidentifikasi adanya asam amino sistein pada suatu zat.
Adanya unsur belerang dalam protein dapat ditunjukkan dengan
melarutkan larutan protein dengan larutan NaOH pekat dan
dipanaskan, kemudian diberikan beberapa tetes larutan Pb-asetat.
Apabila terbentuk endapan hitam (dari PbS) menunjukkan uji
positif adanya belerang. Berdasarkan teori pada uji PbS, belerang
yang terdapat dalam asam amino sistein akan dibebaskan sebagai
ion sulfida dengan kehadiran NaOH. Ion sulfida selanjutnya akan
bereaksi dengan ion Pb2+ membentuk endapan berwarna hitam.
Pada uji PbS ini, ditambahkan larutan NaOH pekat 20%,
yang dalam hal ini fungsi dari penambahan larutan NaOH adalah
untuk mendenaturasikan protein sehingga ikatan yang
menghubungkan atom S pada asam amino dapat terputus. Pada
praktikum ini dugunakan empat macam larutan asam amino yaitu
larutan kasein, sistin, sistein dan glysine, dimana terlihat pada tabel
hasil pengamatan praktikum tidak terjadi endapan hitam setelah
ditambahkan Pb-asetat dan dilakukan pemanasan, dimana
pemanasan ini dilakukan karena pada struktur keempat asam amino
ini tidak terdapat unsur S sehingga tidak bisa melepaskan ion

UNIVERSITAS MATARAM 19
sulfida. Dari hasil praktikum tersebut dapat terlihat bahwa ada
penyimpangan dari teori dengan hasil praktikum yang didapat,
dimana yang seharusnya larutan asam amino sistein menghasilkan
endapan berwarna hitam, namun pada praktikum didapat larutan
berwarna bening.
Dapat dilihat perbandingan persamaan reaksi yang terjadi
berdasarkan teori dan hasil praktikum untuk uji Sulfur atau PbS
yang seharusnya positif pada sampel asam amino sistein;

F. Simpulan
Berdasarkan tujuan praktikum, hasil praktikum, dan pembahasan
dapat disimpulkan bahwa praktikum identifikasi asam amino ini bertujuan
untuk mengidentifikasi jenis asam amino dalam larutan protein secara
kualitatif. Asam amino merupakan molekul organik dengan massa molekul
rendah, yang mengandung setidaknya satu gugus karboksil (-COOH) dan
satu gugus amino (-NH2). Pada praktikum ini dilakukan lima macam uji,
yaitu uji kelarutan, uji Ninhydrin, uji Xantoprotein, uji Milon, dan uji
Sulfur. Dimana pada masing-masing uji digunakan beberapa sampel asam
amino, antara lain glysin,asam aspartat, triptofan, fenilalanin, sistein, sistin,
tirosin dan menggunakan sampel kasein. Uji kelarutan merupakan uji untuk
mengetahui sifat kelarutan dari asam amino, pada uji ini digunakan empat
macam pelarut yaitu aquades, alkohol, HCl encer. Dan NaOH encer. Uji
ninhidrin berfungsi untuk menunjukkan adanya gugus amina, amina primer
dan sekunder, hasil praktikum sesuai dengan teori yaitu glisin, tirosin, dan

UNIVERSITAS MATARAM 20
asam aspartat menunjukkan hasil positif. Uji xantoprotein bertujuan untuk
mendeteksi adanya protein yang mengandung asam amino dengan inti
benzene (gugus fenil), hasil praktikum hanya tirosin yang menunjukkan uji
positif, sedangkan untuk triftopan dan fenilalanin tidak sesuai dengan teori
dimana dua asam amino tersebut menunjukkan hasil negatif. Uji Milon
digunakan untuk menunjukkan adanya asam amino tirosin pada suatu zat,
hasil praktikum tidak sesuai dengan praktikum dimana tirosin menunjukkan
hasil negatif. Uji sulfur bertujuan untuk mengidentifikasi adanya asam
amino sistein pada suatu zat, hasil praktikum tidak sesuai dengan teori
dimana sistein menunjukkan hasil negatif.

UNIVERSITAS MATARAM 21
DAFTAR PUSTAKA

Aulanni’am. (2005). Protein dan Analisisnya. Citra Mentari Group: Malang.

Muller-Buschbaum, P., R. Gebhardt, S. V. Roth, E. Metwall and W. Doster.


(2007). Effect of Calcium Concentration on The Structure of Casein
Micelles in Thin Films. USA: J. Biophys.

Poedjiadi, Anna., F.M. Titin Supriyanti. (2015). Dasar-Dasar Biokimia Edisi


Kedua. Jakarta: UI Pres.

Sumardjo, Damin. (2009). Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa


Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.

UNIVERSITAS MATARAM 22
LAMPIRAN I

LAMPIRAN GAMBAR IDENTIFIKASI ASAM AMINO

1. Uji Kelarutan
 Asam amino + H2O

(a) (b) (c)

(d) (e)

Gambar 1. Uji Kelarutan pada Aquades untuk sampel (a) gylisine, (b)asam
aspartat, (c) triftopan, (d) fenilalanin, dan kasein

UNIVERSITAS MATARAM 23
 Asam amino + NaOH

(a) (b) (c)

(d) (e)

Gambar 2. Uji Kelarutan pada NaOH encer untuk sampel (a) gylisine, (b)asam
aspartat, (c) triftopan, (d) fenilalanin, dan kasein

UNIVERSITAS MATARAM 24
 Asam amino + alkohol

(a) (b) (c)

(d) (e)

Gambar 3. Uji Kelarutan pada Alkohol untuk sampel (a) gylisine, (b)asam
aspartat, (c) triftopan, (d) fenilalanin, dan kasein

UNIVERSITAS MATARAM 25
 Asam amino + HCl

Gambar 4. Uji Kelarutan pada HCl encer untuk sampel (a) gylisine, (b)asam
aspartat, (c) triftopan, (d) fenilalanin, dan kasein

2. Uji Ninhydrin

Gambar 5. Uji Ninhydrin sampel pada beberapa sampel (a) gylisine, (b) asam
aspartat, (c) kasein dan (d) tirosin.

UNIVERSITAS MATARAM 26
3. Uji Xhantoprotein

Gambar 6. Uji Xantoprotein sampel pada beberapa sampel (a) tirosin, (b)
troftophan, (c) fenilalanin, (d) glysin dan (d) asam aspartat.

4. Uji Milon

Gambar 7. Uji Milon sampel pada beberapa sampel (a) tirosine, (b)
fenialalanin, (c) glysine dan (d) kasein.

5. Uji Sulfur

Gambar 8. Uji Sulfur sampel pada beberapa sampel (a) kasein, (b) sistein (c)
sistin dan (d) glysine

UNIVERSITAS MATARAM 27
LAMPIRAN II

UNIVERSITAS MATARAM 28
UNIVERSITAS MATARAM 29
UNIVERSITAS MATARAM 30
UNIVERSITAS MATARAM 31