Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

“ANALISIS KUANTITATIF KADAR PROTEIN TELUR PUYUH


DENGAN METODE BIURET SECARA SPEKTROFOTOMETRI”

DISUSUN OLEH

DEVI AYU SEPTIANI

[E1M 015 020]

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN

UNIVERSITAS MATARAM

2017
Analisis Kuantitatif Kadar Protein Telur Puyuh dengan Metode Biuret
secara Spektrofotometri

A. Abstrak
Tujuan dari pratikum analisis kuantitatif kadar protein telur puyuh
dengan metode Biuret secara spektrofotometri ini adalah untuk menganalisis
kandungan protein pada telur puyuh dengan metode Biuret, dan memahami
penggunaaan spektrofotometer sebagai alat untuk menganalisis kadar
protein. Metode biuret digunakan untuk menganalisis adanya ikatan peptida
dengan cara menambahkan reagen biuret ke dalam sampel yang kemudian
diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer. Sampel yang
digunakan pada praktikum ini adalah sampel putih telur puyuh. Protein
merupakan senyawa organik kompleks yang memiliki berat molekul tinggi.
Protein adalah salah satu bio-makromolekul yang penting peranannya bagi
semua organisme. Berdasarkan hasil praktikum didapatkan persamaan garis
liniear y = 0.112x + 0.026 sehingga konsentrasi yang didapat sebesar 0.1383
gr/100ml, dari hasil yang didapat pada praktikum tidak berbeda jauh dengan
literatur yaitu pada konsentrasi hasil penilitian pada literatur sebesar 0,1323
gr/100ml. Kurva pada hasil pengamatan menunjukkan perbandingan antara
absorbansi dengan konsentrasi kaseinnya dimana didapat kurva garis lurus
(linear) yang artinya semakin tinggi nilai konsentrasi kaseinnya maka
semakin tinggi nilai absorbansinya.
Kata kunci : protein, putih telur puyuh, metode biuret

B. Pendahuluan
Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak
dikonsumsi dan memberikan sumbangan besar bagi tercapainya kecukupan
gizi masyarakat. Pada satu butir telur terkandung hampir semua zat gizi
yang diperlukan oleh tubuh dan mudah dicerna, salah satunya mengandung
semua asam amino essensial yang dibutuhkan tubuh untuk hidup sehat.
Fungsi dari kandungan protein yang terdapat pada telur antara lain sebagai

UNIVERSITAS MATARAM
1
zat pembagun tubuh, baik pembentuk sel-sel yang baru maupun mengganti
sel-sel yang rusak. Kandungan zat gizi atau kadar protein pada telur didapat
pada berbagai jenis telur baik telur ayam ras, telur ayam kampung, telur
bebek, telur puyuh, dan lain-lain, dimana kadar protein pada masing-masing
jenis telur berbeda-beda (Hidayati dan Mardiono, 2009).
Burung puyuh (coturnix coturnix japanica) merupakan salah satu
unggas yang sedang dikembangkan dan ditingkatkan produksinya. Selain
menghasilkan daging, burung puyuh juga merupakan produsen telur dengan
produktivitas cukup tinggi yaitu 200-300 butir/ekor/tahun. dilihat dari nilai
kandungan gizinya telur puyuh mengandung 13.6% protein dan 8.2% lemak
(Schaible, 1970).
Protein merupakan senyawa organik kompleks yang memiliki berat
molekul tinggi. Protein adalah salah satu bio-makromolekul yang penting
peranannya bagi semua organisme. Protein juga berperan penting dalam
struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Molekul protein
mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur
serta fosfor. Keistimewaan lain dari protein ini adalah strukturnya yang
mengandung N (15.30 - 18%), C (52.40%), H (6.90 – 7.30%), O (21 –
23.50%), S (0.8 - 2%), disamping C, H, O (Seperti juga karbohidrat dan
lemak), dan S kadang-kadang P, Fe dan Cu (sebagai senyawa kompleks
dengan protein (Sudarmaji, 1989).
Analisis protein dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu secara
kualitatif dan secara kuantitatif. Analisis protein secara kualitatif terdiri atas
reaksi Xantoprotein, reaksi Hopkins-Cole, reaksi Milon, reaksi Nitroprusida
dan reaksi Sakaguchi. Sedangkan analisis protein secara kuantitatif terdiri
dari metode Kjeldahl, metode titrasi formol, metode Lowry, metode
spektrofotometri visible (Biuret), dan metode spektrofotometri UV
(Maligan, 2014).
Metode biuret merupakan salah satu larutan yang digunakan untuk uji
protein. Larutan ini merupakan campuran antara ion kupri sulfat yang
dimasukkan dalam suasana basa, cntohnya CuSO4.5H2O yang dimasukkan

UNIVERSITAS MATARAM
2
atau dicampur dengan NaOH. Uji ini menunjukkan adanya senyawa-
senyawa yang mengandung gugus amida asam yang berada bersama gugus
amida yang lain. Larutan ini digunakan untuk mendeteksi protein dalam
jumlah besar yang ditandai dengan adanya perubahan warna. Jika suatu
sampel diuji mengandung lebih dari 2 ikatan peptida maka akan muncul
warna ungu yang berarti uji ini menghasilkan reaksi positif. Warna ini
muncul karena terbentuknya ikatan koordinasi kompleks antara atom Cu
dengan 4 atom nitrogen yang berasal dari ikatan paeptida (Clark,1964).
Spektrofotometer UV-vis merupakan alat dengan teksnik
spektrofotometer pada daerah ultra violet (UV) dan sinar tampak (visible).
Alat ini digunakan untuk mengukur serapan sinal ultra violet atau sinar
tampak oleh suatu materi atau larutan. Konsentrasi larutan yang dianalisis
sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam
larutan tersebut (Daintith, 2004).

C. Alat dan Bahan Praktikum


1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada praktikum analisa kuantitatif protein
dengan metode biuret secara spektrofotometri ini adalah sebagai berikut:
a. Tabung reaksi
b. Erlenmeyer
c. Pipet tetes
d. Labu takar 100 ml
e. Gelas ukur 25 ml
f. Gelas kimia 100 ml
g. Pengaduk
h. Spatula
i. Kuvet
j. Neraca analitik
k. Spektrofotometer

UNIVERSITAS MATARAM
3
2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum analisa kuantitatif
protein dengan metode biuret secara spektrofotometri ini adalah sebagai
berikut:
a. Putih telur puyuh
b. Tembaga (II) sulfat (CuSO4.5H2O)
c. Kalium natrium tartrat (KNaC4H4O4.4H2O)
d. Serum albumin murni atau kasein
e. NaOH 3%
f. NaOH 10%
g. Aquades

D. Prosedur Kerja
1. Pembuatan Reagen Biuret
a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.
b. Menimbang 150 mg tembaga (II) sulfat (CuSO4.5H2O) dan 150 mg
Kalium natrium tartrat (KNaC4H4O4.4H2O) pada neraca analitik.
c. Melarutkan dengan aquades sebanyak 50 ml pada labu takar 100 ml,
sedikit demi sedikit.
d. Menambahkan 30 ml NaOH 10% kedalam larutan sambil dikocok-
kocok.
e. Mengencerkan larutan dengan aquades dalam labu takar 100 ml
samapi batas tera.
(Bakhtra, 2016)
.
2. Pembuatan Larutan Standar Protein
a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.
b. Menimbang 300 mg serum albumin murni atau kasein pada neraca
analitik.
c. Melarutkan dengan aquades sebanyak 100 ml sehingga konsentrasi
larutannya 3 mg/ml.

UNIVERSITAS MATARAM
4
d. Menambahkan beberapa tetes NaOH 3% kedalam larutan sambil
dikocok-kocok.
e. Mengukur absorbansi larutan dengan panjang gelombang 520 nm
menggunakan spektrofotometer.

3. Pembuatan Kurva Standar


a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.
b. Mengencerkan larutan standar pada masing-masing tabung reaksi
dengan konsentrasi yaitu 0.5 mg/ml, 1 mg/ml, 1.5 mg/ml, 2 mg/ml,
dan 3 mg/ml.
c. Memasukkan larutan standar pada 5 tabung reaksi, masing-masing
sebanyak 10 ml.
d. Melarutkan larutan standar yang digunakan dengan menambahkan
aquades dan reagen biuret, perbandingan volume aquades dan reagen
biuret yaitu 2 : 3.
e. Menghitung masing-masing perbandingan volume aquades dan
reagen biuret untuk masing-masing konsentrasi yang diinginkan
dengan perbandingan 2 : 3.
f. Perbandingan volume aquades dan reagen biuret yang digunakan
untuk konsentrasi 0.5 mg/ml adalah 25ml : 36 ml, konsentrasi 1
mg/ml perbandingannya 12 ml : 18 ml, konsentrasi 1.5 mg/ml
perbandingannya 8 ml : 12 ml, konsentrasi 2 mg/ml perbandingan 6
ml : 9 ml, dan konsentrasi 3 mg/ml perbandingannya 4 ml : 6 ml.
g. Menyimpan tabung pada suhu 37° C selama 10 menit atau pada suhu
kamar selama 30 menit sampai terbentuk warna ungu sempurna.
h. Memasukkan masing-masing larutan standar yang sudah didiamkan
pada kuvet.
i. Mengukur absorbansi dengan panjang 520 nm menggunakan
spektrofotometer.

UNIVERSITAS MATARAM
5
4. Preparasi Sampel
a. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.
b. Menimbang 1 gram putih telur puyuh dengan menggunakan neraca
analitik.
c. Memasukkan putih telur puyuh kedalam erlenmeyer.
d. Melarutkan putih telur puyuh dengan menggunakan aquades
sebanyak 100 ml.
e. Mengambil 1 ml larutan putih telur puyuh dan ditambahkan reagen
biuret pada tabung reaksi.
f. Menyimpan tabung pada suhu 37°C selama 10 menit atau pada suhu
kamar selama 30 menit sampai terbentuk warna ungu sempurna.
g. Memasukkan larutan putih telur puyuh yang sudah didiamkan pada
kuvet.
h. Mengukur absorbansi dengan panjang 520 nm menggunakan
spektrofotometer.

E. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil Praktikum
a. Perhitungan Nilai Absorban Hasil
Nilai absorban hasil dari setiap larutan dapat dihitung sebagai
berikut ;
 Standar I
Astandar I = Apengukuran - Ablanko
= 0.203 – 0.125
= 0.078
 Standar II
Astandar I = Apengukuran - Ablanko
= 0.264 – 0.125
= 0.139
 Standar III
Astandar I = Apengukuran - Ablanko

UNIVERSITAS MATARAM
6
= 0.323 – 0.125
= 0.198
 Standar IV
Astandar I = Apengukuran - Ablanko
= 0.38 – 0.125
= 0.255
 Standar V
Astandar I = Apengukuran - Ablanko
= 0.484 – 0.125
= 0.078
 Sampel Putih Telur Puyuh
Astandar I = Apengukuran - Ablanko
= 0.306 – 0.125
= 0.181

b. Tabel Hasil Pengamatan


Hasil pengamatan dari pengukuran absorbansi disajikan dalam tabel
sebagai berikut :
Tabel 1.b. Hasil pengukuran absorbansi dari praktikum
No Larutan Konsentrasi Absorbansi Panjang
(mg/ml) Gelombang
(nm)
1 Blanko 3 0,125 520
2 Standar I 0.5 0.203
3 Standar II 1 0.264
4 Standar III 1.5 0.323
5 Standar IV 2 0.38
6 Standar V 3 0.484
7 Sampel Putih X 0,306
Telur Puyuh
Sumber : Hasil Laporan Sementara

UNIVERSITAS MATARAM
7
Tabel 2.b. Hasil perhitungan absorbansi hasil dari larutan standar
No Larutan Konsentrasi Absorbansi
(mg/ml) Hasil
1 Standar I 0.5 0.078
2 Standar II 1 0.139
3 Standar III 1.5 0.198
4 Standar IV 2 0.255
5 Standar V 3 0.359

c. Kurva hasil pengamatan


Disajikan kurva standar nilai absorbansi dan kadar protein
berdasarkan dari data Tabel 2.b. sebagai berikut:

0.4
y = 0,112x + 0,026
0.35 0.359
R² = 0,998
0.3
Absorban (A)

0.25
0.255
0.2
0.198
0.15
0.139
0.1
0.078
0.05
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Konsentrasi (mg/ml)

Gambar 1. Kurva standar hubungan antara nilai absorbansi dan


kadar protein

d. Penentuan besarnya konsentrasi sampel


Diketahui : A blanko = 0.125
A pengukuran = 0.306
y = Apengukuran - Ablanko

UNIVERSITAS MATARAM
8
= 0.306 – 0.125
= 0.181
Ditanya : x (konsentrasi sampel) = ....... ?
Penyelesaian :
Berdasarkan dari kurva Gambar.1, didapatkan persamaan garis lurus
(liniear) untuk penentuan konsentrasi sampel dari protein putih telur
puyuh, yaitu :
y = 0.112x + 0.026
y = slope , x = intersept
kemudian disubstitusi nilai absorbansi sampel dari persamaan
tersebut
0.181 = 0.112x + 0.026
0.112x = 0.181 – 0.026
0.112x = 0.155
0.155
x =
0.112
x = 1.383
Jadi x (konsentrasi sampel) dalam 1 ml yang didapat sebesar 1.383
mg/ml.

Konsentrasi dalam 100 ml = 1,383 mg/ml x 100 ml


= 138,3 mg/100 ml
= 0.1383 gr/100 ml
Konsentrasi dalam 100 gr = 0.1383 gr x 100 gr
= 13.83 dalam 100 gr /100 ml
Jadi konsentrasi telur puyuh dalam 100 gram sebesar 13.83

2. Pembahasan
Protein merupakan senyawa organik kompleks yang memiliki berat
molekul tinggi. Protein adalah salah satu bio-makromolekul yang
penting peranannya bagi semua organisme. Molekul protein

UNIVERSITAS MATARAM
9
mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur
serta fosfor. Fungsi utama protein dalam tubuh adalah sebagai zat
pembentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang sudah ada
agar tidak mudah rusak. protein juga dapat digunakan sebagai bahan
bakar apabila keperluan energi tubuh tidak dapat terpenuhi oleh
karbohidrat dan lemak. Protein juga berperan dalam mengatur proses
dalam tubuh. Dengan cara zat-zat pengatur proses dalam tubuh. Protein
dapat mengatur kesetimbangan cairan dalam jaringan dan pembuluh
darah, yaitu dengan cara menimbulkan tekanan osmotik koloid. Selain
itu, sifat protein yaitu amfoter yang artinya dapat bereaksi dengan
suasana asam atau basa, sehingga dapat mengatur keseimbangan asam
basa dalam tubuh.
Praktikum analisis kuantitatif kadar protein telur puyuh ini
dilakukan denan teknik spektroskopi. Teknik spektroskopi merupakan
metode yang menggunakan alat spektrofotometer. Teknik ini dilakukan
dengan menghitung kadar protein berdasarkan kemampuan protein
menyerap atau membaurkan cahaya disekitar daerah UV-Visible.
Penentuan protein berdasarkan absorbansi sinar UV termasuk teknik
yang cepat, mudah dan tidak merusak bahan. Teknik spektroskopi
memiliki beberapa metode berdasarkan reagen yang digunakan,
diantaranya adalah metode biuret, metode Lowry, metode Brandford dan
metode pengikatan warna.
Metode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah metode
Biuret dimana pengukuran absorbansi pada sampelnya menggunakan
alat spektrosfotometer yang digunakan panjang gelombangnya 520 nm.
Metode ini hanya dapat digunakan untuk protein terlarut. Pada
penetapan kadar protein secara spektrofotometri digunakan bovin serum
albumin (BSA) serum albumin murni (kasein) sebagai pembanding
karena memberikan tingkat keakuratan yang tinggi. Pengukuran kadar
protein pada praktikum ini dilakukan dengan menggunakan kurva
standar. Kurva standar dibuat dari hubungan antara konsentrasi larutan

UNIVERSITAS MATARAM
10
dengan absorbansinya. Kurva standar dibuat dari larutan standar, dimana
larutan standar merupakan larutan yang sudah diketahui nilai
konsentrasinya. Larutan standar ini diperlukan untuk menghitung nilai
konsentrasi sampel protein yang diukur menggunakan persamaan garis
dari larutan standar yang diperoleh. Larutan standar yang digunakan
adalah larutan serum albumin murni (kasein). Pengukuran nilai
absorbansi larutan standar dan larutan sampel menggunakan alat
spektrofotometer. Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan
untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan
panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca yang disebut kuvet.
Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan,
dimana nilai absorbansi dari cahaya yang diserap sebanding dengan
konsentrasi larutan dalam kuvet.
Reaksi biuret merupakan reaksi warna yang umum untuk gugus
peptida (-CO-NH-N) dan protein. Reaksi positif pada metode Biuret ini
ditandai dengan terbentuknya warna ungu karena terbentuk senyawa
kompleks antara Cu2+ dan N dari molekul peptida. Senyawa dengan
dipeptida memberikan warna ungu, biru dan merah. Prinsip kerja
penentuan kadar protein dengan metode Biuret ini adalah untuk
menganalisa adanya ikatan peptida dengan cara menambahkan reagen
biuret ke dalam sampel yang kemudian diukur absorbansinya
menggunakan spektrofotometer.
Berdasarkan hasil perhitungan praktikum dengan menggunakan
persamaan liniear y = 0.112x + 0.026 kemudian konsentrasinya
diaplikasikan ke dalam rumus dan didapatkan perhitungan konsentrasi
sampel putih telur puyuh sebesar 13.83 dalam 100 gr per 100 ml atau
0.1383 gr/100 ml. Apabila dibandingkan hasil praktikum dengan
literatur didapatkan hasil yang tidak berbeda jauh dari literatur yaitu
sebesar 0.1323 gr/100ml. Selain itu, kurva pada hasil pengamatan
menunjukkan perbandingan antara absorbansi dengan konsentrasi
kaseinnya dimana didapat kurva garis lurus (linear) yang artinya

UNIVERSITAS MATARAM
11
semakin tinggi nilai konsentrasi kaseinnya maka semakin tinggi nilai
absorbansinya, hal itu sesuai dengan literatur yang ada. Pada praktikum
ini, adanya perbedaan nilai konsentrasi yang tidak berbeda jauh dari
literatur merupakan kesalahan yang mungkin diakibatkan oleh
kelemahan dari metode Biuret yang digunakan seperti sifatnya yang
kurang sensitive dibandingkan dengan metode kuantitati lainnya (seperti
metode Lowry), serta NH4+ dalan konsentrasi tinggi dapat mengganggu
reaksi antar alarutan Biuret dengan sampel

F. Simpulan
Pada percobaan tentang analisis kuantitatif kadar protein telur puyuh
dengan metode Biuret secara spektrofotometri, terjadi pembentukan arna
ungu dimana ini menujukkan adanya oembentukan senyawa kompleks
dengan Cu2+. Penentuan kadar protein dengan metode Biuret ini didasarkan
pada pengukuran serapan cahaya oleh ikatan kompleks yang berwarna ungu.
Semakin tiggi konsentari larutan protein semakin banyak ikatan peptida
dalam larutan maka pembentukan kompleks semakin banyak, ini dapat
dilihat dari warna ungu yang semakin pekat. Pengukuran nilai absorbansi
larutan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang
520 nm. Dan didapatkan persamaan garis liniear y = 0.112x + 0.026
sehingga konsentrasi yang didapat sebesar 0.1383 gr/100ml, hasil yang
didapat pada praktikum tidak berbeda jauh dengan literatur yaitu didapat
konsentrasi sebesar 0,1323 gr/100ml. Kurva pada hasil pengamatan
menunjukkan perbandingan antara absorbansi dengan konsentrasi kaseinnya
dimana didapat kurva garis lurus (linear) yang artinya semakin tinggi nilai
konsentrasi kaseinnya maka semakin tinggi nilai absorbansinya.

UNIVERSITAS MATARAM
12
DAFTAR PUSTAKA

Bakhtra, Dwi Dini Aulia dan Aisyah Mardiah. (2016). Penetapan Kadar Protein
dalam Telur Unggas Melalui Analisis Nitrogen Menggunakan Metode
Kjeldahl. Farmasi Higea No.2 Vol. 8: 146).

Clark, J. M. (1964). Experimental Biochemistry. USA: W. H. Freeman Company.

Daintith, John. (2004). Kamus Kimia Lengkap. Jakarta: Erlangga.

Hidayati Nur dan Mardiyono. (2009). Pengaruh Waktu Pengasinan Terhadap


Kadar Protein Putih Telur. Biomedika No.1 Vol.2 Hal 81-82.

Maligan, Jaya Mahar. (2014). Protein Analysis. Malang: Universitasi Brawijaya.

Schaible. (1970). Didalam Nugroho dan Mayun. Beternak Burung Puyuh.


Semarang: Eka Offset.

Sudarmaji, S, dkk. (1989). Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta:


Penerbit Liberty.

UNIVERSITAS MATARAM
13