Anda di halaman 1dari 18

KARYA ILMIAH

MEKANISME BIOLOGIS DAN REAKSI KIMIA FLATUS

Oleh:

Nama : Devi Ayu Septiani

NIM : E1M015020

Prodi/Kelas : Pendidikan Kimia/B

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Mataram
ABSTRAK

Flatus, flatulence atau flatulency merupakan istilah ilmiah dari kata yang disebut
dengan buang angin atau kentut. Flatus adalah bagian dari rangkaian metabolisme tubuh.
Flatus ini memiliki banyak kandungan gas kimia dan berbagai macam proses reaksi kimia
serta mekanisme biologis yang terjadi di dalam tubuh manusia. Banyak orang beranggapan
mengeluarkan flatus adalah hal yang memalukan. Padahal semua mahluk hidup pasti akan
melakukannya. Tak terkecuali karnivora seperti kucing, atau herbivora seperti sapi, kuda dan
gajah.

Flatus adalah senjata biologis dari masa ke masa yang ampuh untuk mengusir
ketentraman hidup ekosistem sekitar. Hanya saja urusan biologis ini akan berdampak
psikologis bagi rasa kemanusiaan karena terkadang menimbulkan suara dan berbau busuk
yang menyengat. Gas ini disebabkan oleh berbagai macam sumber, baik itu udara yang
terjebak di dalam perut atau sebab makanan, dan sebagainya.

Banyak manfaat dan dampak dari flatus itu sendiri dari segi kesehatan berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh para peneliti. Yakni, gas hidrogen sulfida (H2S) yang
dikeluarkan dapat berperan dalam pengaturan tekanan darah, dan lebih aman dan efektif
sebagai obat anti-pembengkakan (anti-inflamasi).

UNIVERSITAS MATARAM 1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui kentut atau nama ilmiahnya flatus tidak asing lagi kita
dengar dan kita rasakan. Flatus adalah bagian dari rangkaian metabolisme tubuh. Banyak
orang beranggapan flatus adalah hal yang memalukan. Padahal semua mahluk hidup
pasti akan melakukannya. Tak terkecuali karnivora seperti kucing, atau herbivora seperti
sapi, kuda dan gajah. Flatus adalah senjata biologis dari masa ke masa yang ampuh untuk
mengusir ketentraman hidup ekosistem sekitar. Hanya saja urusan biologis ini akan
berdampak psikologis bagi rasa kemanusiaan karena terkadang menimbulkan suara dan
berbau busuk yang menyengat. Ada juga yang bilang flatus adalah rahmat bagi
pemiliknya dan petaka bagi penerimanya.

Untuk mengetahui filosofi flatus dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan.
Oleh sebab itu penulis sangat tertarik untuk membahas terkait tentang flatus baik dari
perspektif biologi dan kimia lebih mendalam dengan mengusung judul “Mekanisme
Biologis dan Reaksi Kimia Flatus”.

B. Rumusan Masalah
a) Apa saja yang dimaksud dengan flatus?
b) Bagaimana mekanisme biologis dan reaksi kimia flatus dalam tubuh?
c) Dampak flatus terhadap kesehatan?

C. Tujuan Penulisan
a) Mengetahui pengertian dari flatus
b) Mengetahui mekanisme biologis dan reaksi kimia flatus di dalam tubuh manusia
c) Mengetahui pengaruh positif maupun negatif flatus terhadap kesehatan
d) Menambah pengetahuan dan wawasan tentang flatus

D. Manfaat Penulisan
a) Penulis dan pembaca dapat mengetahui akan dampak positif maupun negatif flatus
terhadap kesehatan tubuh

UNIVERSITAS MATARAM 2
b) Menambah kreatifitas penulis dalam menyusun karya tulis ini
c) Melatih penulis dalam menggunakan ejaan dan bahasa Indonesia yang baik dan benar

E. Hipotesis
Flatus adalah bagian dari rangkaian metabolisme tubuh. Banyak orang
beranggapan flatus adalah hal yang memalukan. Flatus biasanya ditandai dengan rasa
mulas di perut dan biasanya berbau busuk. Gas ini disebabkan oleh berbagai macam
sumber, baik itu udara yang terjebak di dalam perut atau sebab makanan, dan sebagainya.
Gas ini memiliki banyak kandungan kimia dan terjadi berbagai macam proses reaksi
kimia serta mekanisme biologis di dalam tubuh.

UNIVERSITAS MATARAM 3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teoritis
Kentut yang merupakan kata benda, menurut kamus besar bahasa Indonesia
(KBBI) adalah gas berbau busuk (gas busuk) yang keluar dari anus. Dari Wikipedia
bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, flatulensi adalah keluarnya gas melalui anus atau
dubur akibat akumulasi gas di dalam perut (terutama dari usus besar atau kolon).
Peristiwa keluarnya gas disebut juga kentut atau sering disebut juga buang angin. Kentut
biasanya ditandai dengan rasa mulas di perut, dan biasanya berbau busuk. Ini sering
menjadi pertanda kalau seseorang tersebut sedang kelebihan makan makanan tertentu,
ingin buang air besar, mengalami efek samping obat-obatan tertentu,
menderita konstipasi atau sembelit, atau sedang masuk angin.
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dirintis beberapa tahun lalu tentang gas
kentut, ada beberapa kegunaan hidrogen sulfida (H2S) di dalam tubuh. Dimana hasil
penelitian tersebut dapat menjelaskan keterkaitan fungsi H2S dengan gas-gas lainnya,
seperti oksida nitrit (NO), dopamin, dan asetilkolin.
Solomon H. Snyder, MD dari John Hopkins Medical Institutions mengatakan
bahwa, “Sekarang kita tahu peranan hidrogen sulfida dalam pengaturan tekanan darah.
Ada kemungkinan untuk merancang terapi obat yang meningkatkan pembentukan atau
pengaturan tekanan darah seperti itu sebagai alternatif cara menangani tekanan darah
tinggi yang ada saat ini,”. Selain berperan dalam pengaturan tekanan darah, gas
hidrogen sulfida (H2S) juga ternyata lebih aman dan efektif sebagai obat anti-
pembengkakan (anti-inflamasi). Hal tersebut merupakan temuan terkini dari para
peneliti dari Peninsula Medical School.
“Meskipun obat-obatan anti-pembengkakan tradisional sangat ampuh dan aman,
keduanya dapat merusak lapisan permukaan dalam dinding lambung pada sebagian
orang sehingga menimbulkan gangguan lebih lanjut. Pelepasan H2S secara terkendali
dan terus-menerus memberikan peluang bagi pengembangan kelompok baru obat-
obatan anti-pembengkakan atau mendorong perbaikan obat-obatan yang ada sekarang
sehingga [obat-obatan] itu juga melepaskan H2S dan harapannya menimbulkan lebih
sedikit akibat samping pada lambung-usus,” papar Dr. Matt Whiteman. Ia juga
menambahkan, “Kami baru saja mulai mengungkap peran mengejutkan H2S dalam

UNIVERSITAS MATARAM 4
tubuh. Tak hanya dalam sistem jantung-pembuluh darah, tetapi juga peranannya dalam
anti-pembengkakan, pelemahan saraf, dan diabetes, serta perananya dalam kesehatan”.

B. Kajian Empiris
Hampir semua orang akan terganggu dengan aroma tidak sedap dari kentut.
Namun ternyata para peneliti mengungkapkan aroma menyengat dari kentut bisa
menyembuhkan berbagai penyakit, seperti kanker, jantung, atritis, dan dimensia.
Penelitian tersebut ditulis di jurnal MedChemComm, seperti yang dikutip Times, Selasa
4 Agustus 2015. Gas hidrogen sulfida dari kentut berasal dari pemecahan makanan oleh
bakteri. "Gas hidrogen sulfida dalam dosis tinggi sebenarnya sangat mematikan. Namun,
dalam kentut dosisnya sangat rendah malah bisa menyehatkan," kata Kepala penelitian,
dr Mark Wood.
Para peneliti dari University of Exeter di Inggris, menemukan bahwa aroma
menyengat dari kentut ternyata bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti kanker,
jantung, atritis, dan dimensia. Gas hidrogen sulfida dari kentut dihasilkan makanan yang
dipecahkan oleh bakteri. "Gas hidrogen sulfida dalam dosis tinggi sebenarnya sangat
mematikan. Namun, dalam kentut, dosisnya sangat rendah dan malah bisa
menyehatkan," kata dr Mark Wood selaku kepala penelitian, seperti dilaporkan
dari TIMES, Jumat, 11 Juli 2014.
Sebagai percobaan, gas buatan pun diciptakan Wood dan timnya dan diberi nama
AP39. Gas ini pun kemudian ditiupkan ke mitokondria dalam dosis yang kecil, organ sel
yang menyerap nutrisi diubah jadi energi dengan cara menghancurkan bagiannya sendiri.
"Gas kentut buatan kami ternyata bisa menjaga mitokondria yang hancur dalam proses
penciptaan energi. Kami percaya, mengembalikan mitokondria adalah kunci mengobati
berbagai penyakit," kata Wood.
Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal MedChemComm.Penelitian
Wood ini juga ditampilkan dalam acara "June International Conference on Hydrogen
Sulfide in Biology and Medicine" di Kyoto, Jepang.

UNIVERSITAS MATARAM 5
C. Konsep Pemikiran

Pengertian Flatus

Mekanisme
Biologis dan
Reaksi Kimia
dalam Tubuh

Dampaknya Faktor
terhadap penyebab
Kesehatan terjadinya
Flatus

UNIVERSITAS MATARAM 6
BAB III
PENDEKATAN PENULISAN

Proses pengumpulan data dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis mengumpulkan
data yang digunakan sebagai penunjang referensi kepustakaan dan berbagai teori pendukung
yang didapatkan dari berbagai sumber pustaka yang terdiri dari buku, majalah, media
elektronik, dan jurnal ilmiah.

Setelah data terkumpul, sekanjutnya dilakukan analisis, yakni pengolahan data-data


yang terdapat dalam karya tulis ilmiah ini dengan menggunakan teknik deskriptif analitik
model korelasi. Data yang telah didapatkan dari berbagai sumber rujukan dideskripsikan
secara jelas dan rinci pada bagian telaah pustaka. Data disajikan secara konsep dan teori serta
berbagai contoh yang mendukung konsep dan teori yang telah diuraikan.

Data yang telah dideskripsikan kemudian dianalisis dengan mengkomparasi informasi


terkait masalah yang pernah terjadi dan direlasikan dengan konsep serta teori sebelumnya
yang akan menghasilkan benang merah dari masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini.
Kemudian semua data baik yang diperoleh dari sumber dokumentasi maupun pengamatan
akan dikorelasikan guna menghasilkan gagasan baru. Gagasan baru yang dihasilkan akan
dipaparkan secara jelas dan dideskripsikan secara rinci sesuai dengan kebutuhan dan masalah
yang telah diuraikan pada rumusan masalah sebelumnya. Gagasan baru yang akan diuraikan
dapat menjadi bahan referensi dalam aplikasi nyata bagi seluruh pembaca.

UNIVERSITAS MATARAM 7
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengertian

Flatus, flatulence atau flatulency merupakan istilah ilmiah dari kata yang disebut
dengan buang angin atau kentut. Kentut adalah merupakan hasil dari fermentasi dan
proses kimiawi beberapa bahan nabati, mineral dan protein yang menimbulkan efek gas
yg merangsang syaraf-syaraf , atau dengan kata lain keluarnya gas melalui anus atau
dubur akibat akumulasi gas di dalam perut (terutama dari usus besar atau kolon).

Kentut biasanya ditandai dengan rasa mulas di perut dan biasanya berbau busuk.
Gas ini disebabkan oleh berbagai macam sumber, baik itu udara yang terjebak di dalam
perut atau sebab makanan, dan sebagainya. Gas ini memiliki banyak kandungan kimia
dan terjadi berbagai macam proses reaksi kimia serta mekanisme biologis di dalam
tubuh.

B. Bagaimana mekanisme biologis dan reaksi kimia flatus dalam tubuh?

Gas yang disebut flatus atau kentut ini berasal dari gas-gas yang terdapat di
dalam usus, gas ini dapat memasuki traktus gastrointestinal dari 3 sumber yang berbeda
(1) udara yang ditelan, (2) gas yang terbentuk di dalam perut sebagai hasil kerja bakteri,
atau (3) gas yang berdifusi dari darah ke dalam traktus gastrointestinal.

Sebagian besar gas yang ada di dalam lambung adalah campuran nitrogen (N2)
dan oksigen (O2) yang berasal dari udara yang ditelan. Secara umum, kebanyakan gas ini
dikeluarkan lewat sendawa. Hanya sejumlah kecil gas yang pada umumnya muncul
dalam usus halus, dan banyak dari gas ini merupakan udara yang berjalan dari lambung
masuk ke dalam saluran usus. Produksi gas dalam usus biasanya akan meningkat setelah
makan.

Dalam usus besar, kebanyakan gas ini berasal dari kerja bakteri, termasuk
khususnya karbondioksida (CO2), metan (CH4) dan hidrogen (H2). ketika metan (CH4),
dan hidrogen (H2) bercampur secara tepat dengan oksigen (O2), kadang terbentuk
campuran yang benar-benar bisa meledak.

UNIVERSITAS MATARAM 8
Kandungan dari kentut terdiri dari kurang lebih 59% nitrogen (N2), 21%
hidrogen (H2), 9% karbondioksida (CO2), 7% metana (diproduksi bakteri atau kuman
dan mudah terbakar) dan 4% oksigen (O2). Serta sekitar 1% dari kentut mengandung gas
hidrogen sulfida (H2S) atau gas bergugus indol atau hidrosulfida (S-H) atau biasa disebut
merkaptan. Hal itulah yang membuat kentut menjadi berbau menyengat karena indera
penciuman manusia cukup reaktif terhadap senyawa-senyawa yang mengandung gugus
ini. Namun, Saat seseorang di samping kita sedang buang gas, kita tak lantas langsung
bisa mencium baunya karena kentut memerlukan waktu sekitar 10 hingga 15 detik untuk
dapat tercium oleh indra penciuman kita. Kentut ini bersifat asam karena mengandung
karbondioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S) serta tidak berwarna.

Umumnya, orang kentut akan mengeluarkan suara. Hal ini terjadi akibat getaran
pada rektum atau vibrasi dari sphincter anus atau akibat gerakan menutup pantat.
Kenyaringan dapat bervariasi tergantung pada seberapa banyak tekanan balik gas, serta
ketatnya otot sfingter. Kecepatan dari pelepasan gas ini tergantung juga dari faktor-faktor
lain seperti air dan lemak tubuh.

Secara umum, kentut keluar melalui lubang anus, hal ini disebabkan karena gerak
peristaltik dari usus yang membuat isinya terdorong ke arah bawah yaitu ke arah anus
karena di sana tekanannya lebih rendah. Menurut hukum fisika, gas itu bergerak dari
tempat yang tekanannya tinggi ke tempat yang tekanannya lebih rendah. Gerak
peristaltik ini membuat ruang di sekitarnya menjadi lebih bertekanan dan memaksa isi
usus termasuk gas untuk bergerak ke daerah yang tekanannya lebih rendah yaitu sekitar
anus. Dalam pergerakannya menuju anus, gelembung-gelembung gas yang tadinya
berukuran kecil terus berkumpul dan akhirnya membentuk suatu massa gas yang cukup
besar. Jika gerak peristaltik usus itu tidak ada, maka gelembung gas ini bisa saja naik lagi
ke atas.

Pada usus tersebut, khususnya pada usus besar merupakan usus terakhir yang
ujungnya adalah lubang anus. Usus besar melakukan gerak peristaltik seperti penjelasan
sebelumnya. Di sisi lain, usus besar juga merupakan tempat berkumpulnya tinja yang
akan dikeluarkan melalui proses buang air besar.

Ketika udara hendak dikeluarkan melalui anus dalam kondisi usus besar yang
penuh tinja, maka aliran udara tidak lancar, karena tertahan oleh tinja tersebut, sehingga

UNIVERSITAS MATARAM 9
udara itu dikeluarkan melalui anus secara perlahan-lahan. Itulah sebabnya, pada kondisi
ini, kentut yang terjadi tidak bersuara. Pada saat yang sama, udara di dalam usus besar
terkontaminasi oleh bau tinja, sehingga kentut yang terjadi beraroma tak sedap.

Jika usus besar dalam keadaan kosong (tak bertinja), maka proses pengeluaran
udara ini berlansung dengan lancar tanpa hambatan. Akibatnya, udara keluar melalui
lubang anus dengan kecepatan tinggi. Kecepatan udara yang besar ini membuat lubang
anus bergetar secara cepat pula dan menghasilkan bunyi bernada tinggi yang nyaring.
Karena tidak ada tinja, maka udara di dalam usus besar tidak terkontaminasi bau. Itulah
sebabnya, pada kondisi ini, aroma kentut tak mengganggu indera penciuman.

Makanan tertentu diketahui menyebabkan pengeluaran flatus yang lebih besar


melalui anus dibandingkan makanan yang lain. Diantaranya adalah makanan yang kaya
akan polisakarida (terutama oligosakarida), seperti kacang-kacangan, produk susu,
bawang, bawang putih, daun bawang, lobak, ubi jalar, kacang mete, gandum, ragi dalam
roti, kubis, kembang kol, jagung, dan makanan tertentu yang mengiritasi seperti cuka.
Beberapa dari makanan ini bertindak sebagai medium yang baik untuk bakteri
pembentuk gas, terutama tipe karbohidrat tak terabsorbsi yang dapat mengalami
fermentasi. Contohnya kacang-kacangan, mengandung karbohidrat tak tercerna oleh
tubuh, seperti rafinosa, stakiosa, dan verbaskosa yang masuk ke dalam kolon dan
merupakan makanan utama bagi bakteri kolon. Saat mencapai usus, gula ini akan segera
difermentasi oleh bakteri yang ada di usus dan menghasilkan produk sampingan berupa
gas. Tetapi pada keadaan lain, pengeluaran gas yang berlebihan berasal dari iritasi usus
besar, yang mencetuskan peristaltik cepat pengeluaran gas-gas melalui anus sebelum gas
tersebut diabsorbsi.

Selain makanan ada beberapa macam penyebab terjadinya kentut, di antaranya


seperti udara yang tertelan, makan yang terlalu terburu-buru atau nyaris tanpa dikunyah,
minum minuman bersoda, atau naik pesawat terbang (karena tekanan udara lebih rendah
sehingga gas di dalam usus mengalami ekspansi dan muncul sebagai kentut).

Jumlah gas yang masuk dan terbentuk pada usus besar setiap hari rata-rata 7
sampai10 L, Sedangkan jumlah rata-rata yang dikeluarkan melalui anus biasanya hanya
sekitar 0,6 L. Sisanya, dalam keadaan normal diabsorbsi ke dalam darah melalui mukosa
usus yang dikeluarkan melalui paru.

UNIVERSITAS MATARAM 10
Seringkali juga kita menahan kentut. Kenyataannya kentut memang bisa ditahan.
Aliran gas yang terdorong ke arah perut jika ditahan maka akan berpindah ke bagian atas
menuju usus, tapi pada akhirnya akan dikeluarkan juga. Jadi, bukan diserap oleh darah
atau menghilang begitu saja, melainkan hanya mengalami penundaan.

C. Dampak Flatus Terhadap Kesehatan

Hasil penelitian yang sudah dirintis beberapa tahun lalu tentang gas kentut,
sedikit demi sedikit kini membuahkan hasil. Berdasarkan penelitian, ada beberapa
kegunaan hidrogen sulfida (H2S) di dalam tubuh. Di antaranya, gas tersebut berperan
dalam mengatur tekanan darah dan mencegah terjadinya pembengkakan (anti-
pembengkakan atau anti-inflamasi). Para peneliti dari Peninsula Medical School dan
Kings College di London telah berhasil mengetahui mekanisme peran gas hidrogen
sulfida (H2S) dalam pengaturan tekanan darah. Gas tersebut bekerja dengan
melonggarkan jaringan pembuluh darah serta meningkatkan kelenturan pembuluh vena
dan arteri. Akibatnya, peredaran darah dalam tubuh lebih lancar.

Hasil penelitian juga dapat menjelaskan keterkaitan fungsi H2S dengan gas-gas
lainnya, seperti oksida nitrit (NO), dopamin, dan asetilkolin. Gas-gas tersebut sangat
berperan dalam penyampaian sinyal antar sel saraf serta dapat membangkitkan atau
meredam aktivitas pemikiran di otak. Terkuaknya mekanisme peran gas kentut di dalam
tubuh membawa angin segar bagi perkembangan dunia kesehatan. Penemuan ini dapat
menginspirasi pembuatan dan modifikasi obat sehingga lebih tepat sasaran. Tak hanya
itu, efek samping penggunaan obat juga dapat berkurang. “Sekarang kita tahu peranan
hidrogen sulfida dalam pengaturan tekanan darah. Ada kemungkinan untuk merancang
terapi obat yang meningkatkan pembentukan atau pengaturan tekanan darah seperti itu
sebagai alternatif cara menangani tekanan darah tinggi yang ada saat ini,” kata
Solomon H. Snyder, MD dari John Hopkins Medical Institutions. Selain berperan dalam
pengaturan tekanan darah, gas hidrogen sulfida (H2S) juga ternyata lebih aman dan
efektif sebagai obat anti-pembengkakan (anti-inflamasi). Hal tersebut merupakan temuan
terkini para peneliti dari Peninsula Medical School. “Meskipun obat-obatan anti-
pembengkakan tradisional sangat ampuh dan aman, keduanya dapat merusak lapisan
permukaan dalam dinding lambung pada sebagian orang sehingga menimbulkan
gangguan lebih lanjut. Pelepasan H2S secara terkendali dan terus-menerus memberikan
peluang bagi pengembangan kelompok baru obat-obatan anti-pembengkakan atau

UNIVERSITAS MATARAM 11
mendorong perbaikan obat-obatan yang ada sekarang sehingga [obat-obatan] itu juga
melepaskan H2S dan harapannya menimbulkan lebih sedikit akibat samping pada
lambung-usus,” papar Dr. Matt Whiteman. Ia juga menambahkan, “Kami baru saja
mulai mengungkap peran mengejutkan H2S dalam tubuh. Tak hanya dalam sistem
jantung-pembuluh darah, tetapi juga peranannya dalam anti-pembengkakan, pelemahan
saraf, dan diabetes, serta perananya dalam kesehatan”.

Kutipan About.Surgery, Jumat (9/4/2010) karena obat bius atau anestesi yang
digunakan untuk operasi tidak hanya membuat pasien tertidur dan tidak merasakan apa-
apa, tapi juga membuat usus kecil dan besar dari pasien tersebut juga 'tertidur'. Selama
operasi usus atau isi perut tertidur dan tidak melakukan gerakan apapun yang melewati
sistem pencernaan, maka secara otomatis hal ini menandakan tidak ada gas yang
melewatinya.

Setelah operasi selesai dilakukan dan orang tersebut sudah sadar, maka seseorang
harus berhasil mengeluarkan gas di dalam tubuhnya terlebih dahulu. Jika gas dalam
tubuh sudah berhasil dikeluarkan (sudah kentut) maka hal ini menandakan bahwa bagian
isi perut sudah bangun dari tidurnya dan dapat bekerja kembali.

Kebanyakan ahli bedah tidak akan mengizinkan pasiennya untuk pulang atau
keluar dari rumah sakit jika belum kentut, karena hal itu menandakan sistem
pencernaannya belum berfungsi secara normal, kecuali jika ada hal lain yang membuat
situasinya berbeda.

Jika seseorang yang belum bisa kentut sudah memaksakan diri untuk makan,
minum atau keluar dari rumah sakit, dikhawatirkan usus belum mampu bekerja normal
sehingga memungkinkan terjadinya penyumbatan saat makanan tersebut melewati usus.
Bagi seseorang yang baru selesai melakukan operasi sebaiknya tidak menganggap remeh
sebuah kentut, karena ketut bisa menandakan sudah normalnya kembali sistem
pencernaan orang tersebut.

Banyak dampak yang ditimbulkan dari menahan kentut, berikut beberapa bahaya
yang bisa timbul karena menahan kentut :

1. Perut kembung

UNIVERSITAS MATARAM 12
Kembung pada bagian perut merupakan suatu gangguan yang membuat
penderitanya merasa sangat tidak nyaman, seperti begah dan bersendawa. Gangguan
ini terjadi akibat adanya penumpukan gas yang berlebihan pada saluran pencernaan
seperti pada lambung dan usus.
2. Menurunnya nafsu makan
Perut kembung atau terjadinya rasa begah di perut membuat keadaan seseorang
menjadi sangat tidak nyaman. Ia akan merasa perut terasa penuh. Hal ini bisa
menyebabkan hilangnya nafsu makan.
3. Kram pada perut
Kelebihan gas yang terjadi pada salah satu bagian usus, dapat mengakibatkan
gangguan kram pada perut. Sehingga penderita merasakan sakit yang melilit pada
daerah perut, maupun gejala lainnya.
4. Wasir
Menahan buang gas atau kentut mengakibatkan wasir. Hal ini terjadi karena adanya
gerakan yang berlebihan pada organ dubur pada saat menahan kentut agar tidak
keluar. Gerakan tersebut membuat otot-otot di dubur menegang dan memicu
melebarnya pembuluh darah.
5. Infeksi diverticulosis
Diverticulitis merupakan pembentukan kantung-kantung kecil pada lapisan usus
besar. Kantung-kantung kecit (divertikula) tersebut terbentu karena adanya
peningkatan tekanan pada titik-titik lemah dari dinding usus oleh gas, limbah, atau
cair. Jika hal ini terjadi maka bisa menyebabkan sakit parah pada bagian perut,
demam, mual, maupun terjadinya perubahan pada kebiasaan buang air besar.
6. Peritonitis
Peritonitis merupakan peradangan peritoneum, yaitu jaringan yang melapisi dinding
bagian dalam perut yang mencakup sebagian besar organ perut. Gangguan ini terjadi
akibat infeksi dari bakteri maupun jamur. Selain itu peritonitis juga bisa terjadi
akibat adanya luka atau karena adanya infeksi diverticulosis kronis yang
menyebabkan tumpahnya limbah yang berasal dari usus. Kondisi ini bisa membuat
seseorang harus segera mendapatkan pertolongan medis.
7. Keracunan gas
Kentut bukanlah racun, meskipun terkadang ia keluar tanpa kita sadari dan membuat
kita malu dihadapan orang lain, akan tetapi jika kita berusaha menahannya maka gas
tersebut akan menyebabkan tekanan parsial dalam rongga usus dengan intensitas
UNIVERSITAS MATARAM 13
lebih tinggi daripada tekanan parsial di dalam darah. Hal tersebut dapat berakibat
masuknya gas ke dalam pembuluh darah yang terdapat di dinding usus, dan pada
akhirnya akan beredar ke seluruh tubuh.
8. Kentut semakin berbau menusuk
Seperti penjelasan di atas, bahwa kentut terdiri dari beberapa kumpulan gas seperti
hidrogen sulfida, yang mana senyawa tersebut menyebabkan kentut kita berbau.
Apabila seseorang sering menahan kentut, maka akumulasi dari unsur belerang atau
sulfur yang merupakan bagian dari senyawa hidrogen sulfida akan semakin
menumpuk, dimana hal tersebut bisa membuat bau kentut semakin tidak sedap atau
berbau menusuk saat keluar nantinya.
9. Cepirit
Saat kita menahan kentut terlalu lama, maka akan terjadi akumulasi gas hidrogen
sulfida dalam usus. Selain menyebabkan bau yang kian menusuk pada kentut, unsur
belerang atau sulfur yang menumpuk juga bisa menimbulkan cepirit atau keluarnya
sedikit ampas tinja. Insiden ini sangat umum dialami orang-orang dengan gangguan
pencernaan, yang karena sesuatu dan lain hal terpaksa harus menahan kentut.
10. Memperparah kondisi sembelit
Penelitian telah menunjukkan bahwa menahan kentut atau gas yang seharusnya
keluar, dapat mmengakibatkan peningkatan tekanan di dalam usus besar yang
nantinya bisa menyebabkan terjadinya divertikula (kantung-kantung kecil pada
lapisan usus besar). Keadaan ini juga bisa memperparah gangguan sembelit yang
pada awalnya menjadi penyebab terjadinya kentut.

D. Tips Mengatasi Kentut yang Terus Menerus


Untuk mengetaui tips sederhana mengatasi gas kentut yang keluar terus menerus dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Kunyah Makanan Baik-baik
Mengunyah makanan dengan baik akan membuat makanan menjadi bagian yang
lebih halus dan mudah dicerna enzim pencernaan. Jika mengunyah karbohidrat
dengan baik, enzim pencerna pati yang diproduksi di mulut akan membantu
memecah makanan lebih efektif.
2. Atur Pola Makan
Makanan yang dimakan banyak mempengaruhi seberapa banyak dan seberapa bau
gas yang dikeluarkan tubuh. Karbohidrat yang mengandung gula alami akan memicu
UNIVERSITAS MATARAM 14
gas, sedangkan protein dan lemak tidak. Mengonsumsi makanan manis setelah
makan protein dapat memicu penumpukan gas pencernaan. Penyebabnya karena
protein dicerna lebih lambat dari gula. Ketika gula ada di atas protein, gula yang
dicerna lebih cepat akan terfermentasi.
3. Konsumsi Probiotik
Probiotik adalah bakteri yang penting untuk kesehatan usus. Ada banyak obat yang
dapat membunuh bakteri dalam usus, misalnya antibiotik. Oleh karena itu, penting
untuk mengisi ulang bakteri-bakteri baik. Probiotik dapat diperoleh dari yogurt.
4. Minum Teh Peppermint
Jika sering buang angin setelah makan, salah satu obat sederhana adalah minum
secangkir teh peppermint setelah makan. Cara ini sering bermanfaat mengurangi
produksi gas. Sebaiknya pilih teh organik bila memungkinkan.
5. Jamu Pahit dan Rempah-rempah
Formulasi herbal pahit yang berisi campuran tanaman artichoke dan gentian dapat
meningkatkan produksi cairan pencernaan dan meningkatkan efisiensi sistem
pencernaan. Ramuan ini telah digunakan selama berabad-abad untuk membantu
pencernaan dan mengurangi gas pencernaan.
Rempah-rempah juga dapat menetralisir gas karena kandungan komponen
aromatiknya yang membantu pencernaan. Kapulaga, jintan, adas manis dan adas
dapat membantu untuk mengurangi gas di usus.
6. Minum Enzim Pencernaan
Enzim pencernaan dapat membantu memecah dan mencerna makanan. Suplemen ini
mengandung zat yang diproduksi tubuh untuk memecah makanan secara efisien.
Seringkali karena stres dan obat-obatan, tubuh kurang cukup memproduksi enzim.
Beberapa perusahaan farmasi membuat produk enzim pencernaan yang cukup bagus.
7. Lakukan aktivitas fisik atau olahraga
Setelah makan ada baiknya Anda berjalan-jalan atau melakukan aktivitas seperti
menaiki tangga agar kalori terbakar dan tidak menumpuk dalam perut. Aktivitas fisik
membantu pencernaan bekerja lebih baik
8. Hindari makanan berbau
Hindari makanan yang menimbulkan bau kentut menyengat, misalnya petai, durian
dan jengkol.

UNIVERSITAS MATARAM 15
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan

Dari karya tulis ilmiah ini kita dapat simpulkan bahwa flatus atau nama
lainnya kentut merupakan gas berbau busuk (gas busuk) yang keluar dari anus.
Kandungan flatus ini tersusun atas kurang lebih 59% nitrogen (N2), 21% hidrogen
(H2), 9% karbondioksida (CO2), 7% metana (diproduksi bakteri atau kuman dan
mudah terbakar) dan 4% oksigen (O2). Serta sekitar 1% dari kentut mengandung gas
hidrogen sulfida (H2S).

Banyak dampak yang ditimbulkan dari menahan kentut, antara lain; perut
kembung, menurunnya nafsu makan, kram pada perut, peritonitis,keracunan gas,
kentut semakin berbau menusuk, cepirit, dan lain-lain.

Banyak manfaat dari flatus itu sendiri dari segi kesehatan berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yakni, gas hidrogen sulfida (H2S) yang
dikeluarkan dapat berperan dalam pengaturan tekanan darah, dan lebih aman dan
efektif sebagai obat anti-pembengkakan (anti-inflamasi).

B. Saran

Penulis dan pembaca sudah dapat memahami akan dampak positif maupun negatif
flatus terhadap kesehatan tubuh

UNIVERSITAS MATARAM 16
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Pentingya kentut setelah Operasi. Diakses dari http://wahw33d.blogspot.com/


(pada tanggal 9 September 2015 pukul 13.30 WITA).

Anonim. 2012. Dapat Sembuhkan Penyakit. Diakses dari http://wahw33d.blogspot.com/


(pada tanggal 9 September 2015 pukul 13.30 WITA).

Anonim. 2012. Flatulensi. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Flatulensi (pada tanggal


9 September 2015 pukul 15.45 WITA).

Anonim. 2014. Mencium Bau Kentut ada Manfaatnya. Diakses dari http://tekno.tempo.co
(pada tanggal 8 September 2015 pukul 14.18 WITA).

Anonim. 2014. Penelitian Aroa Kentut dapat Sembuhkan Penyakit. Diakses dari
http://www.dream.co.id (pada tanggal 9 September 2015 pukul 14.30 WITA).

Anonim. 2014. Penelitian Gas Kentut. Diakses dari http://diyahutari.blogspot.com (pada


tanggal 8 September 2015 pukul 14.30 WITA).

Hall, John E. 2011. Guyton dan Hall Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi Keduabelas.
Singapura: Elsevier.

Rengat, Kosasi Kwek. 2014. Masuk Angin. Diakses dari


http://www.kompasiana.com/dr.kosasi (pada tanggal 9 September 2015 pukul 13.00
WITA).

UNIVERSITAS MATARAM 17