Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN HASIL PENELITIAN

KIMIA BAHAN ALAM


ISOLASI EUGENOL DARI CENGKEH

DISUSUN OLEH:
1. BAIQ ASNAYATI (E1M015010)
2. DEVI AYU SEPTIANI (E1M015020)
3. NURUL HIDAYANI (E1M015053)
4. R. R. DYAH AYU RINA S. (E1M015056)
5. SELLIN DWIGITA (E1M015064)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dunia tumbuhan memproduksi dua jenis senyawa, yaitu metabolit primer dan
metabolit sekunder. Metabolit sekunder merupakan produk essensial yang terdapat pada
semua mahluk hidup yang digunakan untuk kelangsungan hidup dan berkembang biak,
misalnya protein lemak dan asam nukleat. Sedangkan senyawa metabolit sekunder adalah
senyawa yang dihasilkan dari metabolisme sekunder, yang tidak terdapat secara merata
dalam mahluk hidup dan ditemukan dalam jumlah sedikit. Setiap organisme biasanya
menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang berbeda-beda, bahkan mungkin satu jenis
senyawa metabolit sekunder hanya ditemukan pada satu spesies dalam satu kingdom.
Senyawa ini juga tidak dihasilkan tetapi hanya pada saat dibutuhkan saja atau pada fase-
fase tertentu. Fungsi senyawa metabolit sekunder ini adalah untuk mempertahankan diri
dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan misalnya untuk mengatasi hama
serangan mikroorganisme, insekta dan herbivora.
Berbagai jenis tumbuhan mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti
alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, terpena, kromen, kromon, benzofuran, kumarin,
minyak atsiri, sterol, tanin, saponin dan lain-lain. Senyawa metabolit sekunder yang
terdapat dalam tumbuhan merupakan zat bioaktif yang berkaitan dengan kandungan kimia
dalam tumbuhan, sehingga sebagian tumbuhan dapat digunakan sebagai obat.
Oleh karena senyawa metabolit sekunder tidak dihasilkan, melainkan hanya
dibutuhkan pada saat-saat atau fase tertentu, sehingga unutk memperoleh senyawa
metabolit sekunder yang diinginkan dari suatu tanaman, harus dilakukan proses isolasi
unutk memperoleh hasil dan produk yang murni dari senyawa metabolit yang diinginkan.
Isolasi seyawa dari bahan makanan itu sendiri adalah usaha yang dilakukan untuk
memisahkan senyawa yang bercampur sehingga dapat dihasilkan senyawa tunggal yang
murni. Biasanya proses isolasi ini akan dilakukan dalam beberapa tahap atau proses hingga
akhirnya diperoleh senyawa metabolit sekunder yang diinginkan. Diantaranya adalah
ekstraksi, pemisahan, elusidasi struktur senyawa yang telah diisolasi serta uji aktivitas
farmakologis senyawa yang telah berhasil diisolasi.
Tanaman cengkeh merupakan salah satu jenis tanaman yang tumbuh subur di
beberapa daerah di Indonesia, khususnya di kepulauan Maluku. Tanaman cengkeh yang

UNIVERSITAS MATARAM 1
sering dimanfaatkan adalah bunga dan daun cengkeh. Bunga cengkeh digunakan sebagai
bahan baku rokok maupun sebagai rempah-rempah. Sedangkan daunnya sering didestilasi
untuk mendapatkan minyak atsiri yang kita sebut dengan minyak daun cengkeh. Menurut
Kardinan (2005) Minyak bunga cengkeh merupakan komoditi ekspor Indonesia yang
memegang peranan penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat produsen minyak
daun cengkeh. Minyak cengkeh mengandung banyak senyawa organik, namun yang paling
penting adalah eugenol. Eugenol dibutuhkan banyak industri, diantaranya industri
kosmetik, farmasi, dan pestisida nabati karena senyawa ini menghasilkan aroma yang
khas.
Komponen penyusun minyak bunga cengkeh adalah eugenol dan sedikit senyawa-
senyawa terpen. Kualitas minyak cengkeh dievaluasi berdasarkan kandungan utamanya
yaitu eugenol. Senyawa eugenol merupakan komponen utama yang terkandung dalam
minyak cengkeh (Syzygium aromaticum) dengan kandungan dapat mencapai 70-96%.
Senyawa eugenol mengandung beberapa gugus fungsional, yaitu alil (-CH2-CH=CH2),
fenol (OH) dan metoksi (-OCH3). Eugenol dan senyawa turunannya memiliki berbagai
manfaat dalam bidang industri, seperti industri farmasi, kosmetika, makanan, minuman,
rokok, pestisida nabati, perikanan, pertambangan, kemasan aktif dan industri kimia
lainnya.
Eugenol (C10H12O2) merupakan turunan gualiakol yang mendapatkan tambahan
rantai alil yang memiliki nama IUPAC yaitu 2-metoksi-4-(2-propenil) fenol. Eugenol
merupakan komponen kimia utama dalam minyak daun cengkeh berkisar 79 – 90 %.
Untuk mengisolasi eugenol, digunakan NaOH 3%. Karena eugenol dan NaOH akan
membentuk natrium eugenolat yang dapat larut dalam air. Bagian non eugenol diekstrak
dengan eter dan penambahan asam anorganik dan menghasilkan natrium eugenol bebas.
Eugenol kemudian dimurnikan dengan penguapan dan penyulingan.
Pemurnian eugenol dari minyak bunga cengkeh digunakan cara ekstraksi.
Penggunaan ekstraksi cair-cair kontinyu dapat meminimalisir masalah yang timbul seperti
pengocokan berulang-ulang, terjadi kenaikan tekanan internal, dan emulsi dalam corong
pemisah serta kehilangan pelarut yang lebih besar. Masalah tersebut muncul sebagai akibat
penggunaan ekstraksi cair-cair tak kontinyu.
Dalam percobaan kali ini akan diisolasi senyawa metabolit sekunder eugenol dari
tumbuhan cengkeh. Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui sifat fisik dan komponen minyak bunga cengkeh hasil isolasi metode ekstraksi

UNIVERSITAS MATARAM 2
asam basa mengunakan NaOH dan HCl. Pengamatan sifat fisik dan sifat kimia eugenol
hasil isolasi minyak cengkeh meliputi warna, bau, indeks bias, dan bobot jenis yang sesuai
dengan SNI 06-4267-1996 sebagai standar mutu perdagangan di Indonesia (Bhuiyan
2010).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang diangkat adalah:
1. Bagaimana cara isolasi eugenol?
2. Bagaimana cara mengidentifikasi eugenol hasil isolasi ?

C. Tujuan
Tujuan penelitian ini antara lain:
1. Mengisolasi eugenol dari bunga cengkeh
2. Mengidentifikasi eugenol hasil isolasi

UNIVERSITAS MATARAM 3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Cengkeh dan Manfaatnya


Menurut Bulan (2004) klasifikasi dari tanaman cengkeh adalah sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Sub-Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub-Kelas : Choripetalae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Spesies : S. aromaticum
Thomas(2007) menyatakan bahwa cengkeh termasuk jenis tumbuhan perdu yang
memiliki batang pohon besar dan berkayu keras. Cengkeh mampu bertahan hidup puluhan
bahkan sampai ratusan tahun, tingginya dapat mencapai 20-30 meter dan cabang-
cabangnya cukup lebat.

Gambar 1.a Tumbuhan Cengkeh


Tanaman cengkeh memiliki daun tunggal, bertangkai, tebal, kaku, bentuk bulat telur
sampai lanset memanjang, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi rata, tulang daun
menyirip, permukaan atas mengkilap, panjang 6 - 13.5 cm, lebar 2.5 - 5 cm, warna hijau
muda atau cokelat muda saat masih muda dan hijau tua ketika tua (Kardinan, 2003).
Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendek
serta bertandan. Pada saat masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan,
kemudian berubah menjadi kuning kehijauan dan berubah lagi menjadi merah muda
apabila sudah tua. Sedangkan bunga cengkeh kering akan berwarna cokelat kehitaman dan
berasa pedas karena mengandung minyak atsiri (Thomas, 2007).
UNIVERSITAS MATARAM 4
Tanaman cengkeh (Eugenia aromaticum) merupakan salah satu tanaman perkebunan
yang dapat digunakan sebagai penghasil minyak atsiri yang bermanfaat sebagai bahan
baku dalam industri farmasi maupun industri makanan, dan penggunaan terbanyaknya
adalah sebagai bahan baku rokok. Bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk
keperluan diatas adalah bunga, tangkai bunga dan daun cengkeh. Menurut Nurdjannah
(2004), cengkeh (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum), yang dalam bahasa
Inggris disebut cloves, adalah tangkai bunga kering yang termasuk dalam family
Myrtaceae. Cengkeh adalah tanaman asli Indonesia yang banyak digunakan sebagai
bumbu masakan pedas di negara-negara Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek
khas Indonesia. Cengkeh juga digunakan sebagai bahan dupa di Tiongkok dan Jepang.
(Putri, 2014).
Orang India menggunakan cengkeh sebagai campuran bumbu khas India atau garam
masala. Bunga cengkeh yang sudah kering dapat digunakan sebagai obat kolera dan
menambah denyut jantung. Minyak cengkeh sering digunakan sebagai pengharum mulut,
mengobati bisul, sakit gigi, memperkuat lendir usus dan lambung serta menambah jumlah
sel darah putih (Waluyo, 2004).
Cengkeh (Syzygium aromaticum) merupakan salah satu tanaman yang populer dan
digunakan di seluruh dunia sebagai bumbu. Bagian utama cengkeh yang sering dijadikan
sebagai bahan obat-obatan maupun rempah-rempah adalah bagian bunganya, karena
terdapat kandungan minyak atsiri sebesar 10-20 %, sedangkan tangkainya sebesar 5-10 %
dan 1-4 % pada bagian daunnya. Secara tradisional bunga cengkeh banyak digunakan
dalam dunia kedokteran karena fungsinya yang ampuh sebagai fungisidal, bakterisidal,
analgesik, antioksidan dan anti inflamasi (Ketaren, 2008).
Nurdjannah (2004) menyatakan bahwa di dalam daun cengkeh mengandung
eugenol, saponin, flavonoid dan tanin. Begitupula dalam bunga cengkeh jika dilihat dari
komposisi zat kimianya memiliki kandungan zat eugenol, saponin, tannin, flavonoid, dan
polifenol yang mampu membantu proses penyembuhan luka. Senyawa tersebut memiliki
efek farmakologis sebagai antiinflamasi, antioksidan, analgesik, fungisidal, dan
bakterisidal yang berpotensi dalam memperpendek proses inflamasi serta meningkatkan
proses angiogenesis. Tannin membantu proses penyembuhan luka melalui peningkatan
jumlah pembentukan pembuluh darah kapiler dan sel-sel fibroblast (Li K, et al., 2011).
Selain itu, flavonoid juga mampu mengatur fungsi sel dengan cara merangsang produksi

UNIVERSITAS MATARAM 5
vascular endothelial growth factor (VEGF) yang berperan dalam pembentukan pembuluh
darah baru (Kumar, 2012).
Minyak cengkeh berasal dari tanaman cengkeh (Eugenia aromaticum) baik dari
bunga, batang, daun, maupun gagang cengkeh. Minyak cengkeh ini memiliki aktivitas
biologis seperti antibakteri, antijamur, insektisida, antioksidan, dan digunakan sebagai
sumber aroma dan bahan antimikroba dalam makanan (Huang et al. 2002; Velluti et al.
2003). Minyak cengkeh juga memiliki efek terapi untuk asma dan beberapa alergi (Kim et
al. 1998). Kadar minyak cengkeh tergantung pada jenis, umur, dan tempat tumbuh
tanaman cengkeh. Kelebihan cengkeh adalah aroma wangi yang berasal dari minyak atsiri
dalam jumlah yang cukup besar, baik dalam bunga (10-20%), tangkai (5-10%), maupun
daun (1-4%). Selain itu dalam minyak cengkeh mempunyai komponen eugenol dalam
jumlah besar yaitu sekitar 70-90%, yang merupakan cairan tak berwarna atau kuning
pucat yang bila terkena cahaya matahari berubah menjadi coklat hitam yang berbau
spesifik. Eugenol mempunyai sifat sebagai stimulan, anestetik lokal, karminatif,
antiemetik, antiseptik, dan antispasmodik yang sangat bermanfaat (Somaatmadja, 2001).

B. Eugenol dan Manfaatnya


Senyawa eugenol yang mempunyai rumus molekul C10H12O2 mengandung beberapa
gugus fungsional, yaitu alil (-CH2-CH=CH2), fenol (-OH), dan metoksi (-OCH3).
Keberadaan gugus tersebut dapat menjadikan eugenol sebagai bahan dasar sintesis
berbagai senyawa lain yang bernilai lebih tinggi, seperti isoeugenol, eugenol asetat,
isoeugenol asetat, benzil eugenol, benzil isoeugenol, metil eugenol, eugenol metil eter,
eugenol etil eter, isoeugenol metil eter, dan vanilin.Komponen dalam minyak mentah
daun cengkeh.
Adapun sifat-sifatnya sebagai berikut:
 Rumus molekul: C10H12O2
 Berat molekul: 164,20 gr/mol
 Densitas: 1,06 gr/cm3
 Penampilan: Cairan berminyak warna kuning pucat
 Titik leleh: −7,5 °C; 18,5 °F; 265,6 K
 Titik didih: 254 °C; 489 °F; 527 K
 Keasaman (pKa): 10,19 pada 25 °C
 Titik nyala: 104 °C; 219 °F; 377 K

UNIVERSITAS MATARAM 6
(Struktur kimia eugenol)
1. Industri Farmasi
Eugenol dan senyawa turunannya mempunyai aktivitas farmakologi sebagai
analgesik, antiinflamasi, antimikroba, antiviral, antifungal, antiseptik, antispamosdik,
antiemetik, stimulan, anastetik lokal (Pramod et al., 2010; Jirovetz, 2010). Campuran
eugenol dan zink oxidate dalam bidang densitri (ilmu kedokteran gigi) berfungsi
sebagai cementing agent. Menurut Walton dan Torabinejad (2008) eugenol secara
biologis merupakan bagian yang paling aktif dari semen zink oxide eugenol yang
dapat memblok transmisi impuls syaraf untuk mengurangi rasa nyeri pada pulpitis.
Rovani et al. (2008) menyatakan bahwa semen zinc oxide eugenol memiliki kekuatan
antibakteri yang lebih kuat dibandingkan dengan bahan penyemen gigi lainnya seperti
polikarboksilat, zinc fosfat, silikofosfat, kalsium hidroksida dan resin komposit.
Aktivitas eugenol sebagai antimikroba dan antiseptik banyak dimanfaatkan sebagai
bahan baku obat kumur (mouthwash), pasta gigi, toilet water, cairan antiseptik, tisu
antiseptik dan spray antiseptik (Jirovets, 2010). Nurdjannah (2004) mengemukakan
bahwa obat kumur yang mengandung eugenol cengkeh dapat menghambat tumbuhnya
bakteri Streptococcus mutans dan Streptococcus viridians. Bakteri tersebut dapat
menyebabkan terjadinya plaque gigi. Hampir semua mikroba mulut dapat ditumpas
oleh senyawa eugenol (Rochyani et al., 2007). Infeksi candidiasis sering menyerang
kulit, membran mukosa mulut, saluran pernapasan dan vagina, dimana nilai IC50
untuk menghambat pertumbuhan jamur tersebut adalah pada kadar eugenol 0,041-
0,204 μg/ml (Taguchi et al., 2005). Nilai IC50 adalah bilangan yang menunjukkan
konsentrasi ekstrak yang mampu menghambat aktivitas jamur sebesar 50%. Jibril
(2010) menyatakan bahwa sifat antivirus senyawa eugenol dapat dipergunakan dalam
pengobatan kanker serviks (leher rahim), yang disebabkan virus HPV (Human
Papilloma Virus)-16 dan HPV-18, yang merupakan jenis kanker nomor dua yang
paling sering menyerang wanita di seluruh dunia serta merupakan kanker kedua yang
paling berisiko menyebabkan kematian. Wulansari et al. (2010) menyatakan bahwa
eugenol dapat disintesis menjadi senyawa 2-hidroksi-3-metoksi-5-propil asetofenon.
Senyawa ini banyak dipergunakan sebagai senyawa intermediet dalam industri farmasi
UNIVERSITAS MATARAM 7
untuk sintesis senyawa flavon asam asetat, yaitu senyawa yang bersifat anti kanker,
serta dalam sintesis senyawa bromasetofenon dan chlorasetofenon yang merupakan
bahan baku gas air mata.
2. Industri Makanan, Minuman, dan Rokok
Sumangat et al. (2005), Soesanto (2006) menyatakan bahwa eugenol dan
senyawa turunannya isoeugenol, eugenol asetat, isoeugenol asetat, metil eugenol,
metil isoeugenol, eugenol metil eter, dan benzil eugenol eter dapat dipergunakan
sebagai zat aditif perasa pada produk minuman tidak beralkohol, es krim, permen
karet, dan berbagai produk pangan lainnya. Senyawa eugenol dapat dibuat menjadi
senyawa vanili sintetis (C8H8O3) yang merupakan penyedap makanan dan minuman
seperti gula-gula, permen karet, kue, roti, dan es krim. Secara alami, vanili diperoleh
dari buah vanili (Vanilla planifolia), tetapi seiring dengan laju pertumbuhan jumlah
penduduk dunia dimana kebutuhan akan vanili terus meningkat, maka sebagian vanili
dibuat secara sintesis. Vanili sintetis memiliki aroma yang sama persis dengan vanili
alami sehingga banyak konsumen yang tidak dapat membedakannya.
Selain vanili sintetis, senyawa vanili asetat dapat juga dipergunakan sebagai
alternatif bahan pengganti vanili alami, karena memiliki sifat dan aroma yang mirip
dengan vanili, Vanili asetat saat ini sudah banyak digunakan sebagai zat aditif
penyedap rasa pada makanan (Rasasti, 2006). Menurut Kadarohman et al. (2010)
senyawa vanili asetat dapat dibuat dari senyawa isoeugenol asetat yang dioksidasikan
dari KMnO4 dengan pemanasan gelombang mikro.
3. Industri Pestisida Nabati
Manohara dan Noveriza (1999) dan Wiratno (2009) mengemukakan bahwa
eugenol cengkeh dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pestisida nabati, mengingat
beberapa hasil penelitian menunjukkan senyawa eugenol efektif mengendalikan
nematoda, jamur patogen, bakteri dan serangga hama. Oyedemi et al. (2008)
menyatakan bahwa mekanisme antimikroba senyawa eugenol antara lain dapat
digunakan untuk mengganggu fungsi membran sel, menginaktivasi enzim,
menghambat sintesis kitin, sintesis asam nukleat dan protein serta menghambat
produksi energi oleh ATP (adenosine triphosphate) mikroba.
Fungsi eugenol sebagai bakterisida karena senyawa ini mampu mengendalikan
beberapa bakteri patogen seperti Bacillus subtilis pada jahe, Staphyloccocus aurens
pada nilam dan Escherichia coli pada kentang (Wiratno, 2009). Sebagai insektisida,

UNIVERSITAS MATARAM 8
eugenol efektif mengendalikan hama gudang seperti Sitophilus zeamais, Tribolium
castanem dan hama penting pertanaman seperti Aphis gossypii, Aphis craccivora,
Ferissia virgata dan Valanga nigricornis, serta membasmi kecoa di rumah (Huang dan
Ho, 2002; Bessete dan Beigler, 2008; Wiratno, 2009), sedangkan sebagai moluskisida
senyawa ini berfungsi untuk mengendalikan keong emas yang merupakan hama
penting tanaman padi (Wiratno, 2009).
Menurut US EPA (2008) dan Hastutiningrum (2010) eugenol dapat
dipergunakan sebagai larvasida karena memiliki efek mortalitas larva nyamuk
Anopheles aconitus, Anopheles stephensi, Aedes aegypti, dan Culex quinquefasciatus,
serta mampu membasmi nyamuk dewasa jenis tersebut dalam waktu ± 30 menit
dengan dosis penyemprotan 7 liter/hektar. Kadarohman et al. (2009) menyatakan
bahwa eugenol atau isoeugenol dapat disintesis menjadi senyawa 1,2-dimetoksi-4-
propilbenzena yaitu suatu feromon (pemikat sex) lalat buah yang lebih efektif 50%
dibanding senyawa metil eugenol. Senyawa eugenol dapat juga disintesis menjadi
pestisida turunan karbamat berupa senyawa yaitu 4-allyl-2-metoksy-6-aminophenol
(Sudarma, 2010) yang memiliki daya toksisitas rendah terhadap mamalia
dibandingkan dengan organofosfat, tetapi sangat efektif untuk membunuh. Pestisida
turunan karbamat bersifat selektif dan mudah mengurai sehingga tidak berlarut-larut
mencemari lingkungan.
4. Industri Kemasan Aktif
Bhat (2011) menyatakan bahwa kemasan yang baik merupakan kemasan yang
dapat melindungi produk dari kerusakan fisik, kimia, dan biologi. Kemasan aktif
merupakan kemasan yang dirancang untuk dapat melepaskan komponen-komponen
aktif ke dalam pangan, berupa antimikroba, antioksidan, aroma, dan sebagainya yang
dapat berinteraksi aktif dengan bahan pangan yang dikemas, agar dapat menghambat
pembusukan dan meningkatkan umur simpan (Han, 2005). Sifat antimikroba dari
senyawa eugenol dapat diaplikasikan pada pelapisan karton pengemas makanan.
Campuran 1,25-2,5% eugenol cengkeh dalam larutan pati hidrofobik pelapis karton
dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen penyebab kerusakan pangan seperti
Escherichia coli, Bacillus cereus dan Staphylococcus aurens (Vanit et al., 2010).
Pemakaian senyawa antioksidan maupun antimikroba pada kemasan aktif dapat juga
diaplikasikan dalam bentuk edible coating maupun edible film. Edible coating ataupun
edible film merupakan lapisan tipis yang terbuat dari bahan yang dapat dimakan,

UNIVERSITAS MATARAM 9
dibentuk melapisi produk pangan, berfungsi sebagai penghalang terhadap perpindahan
massa (kelembaban, oksigen, cahaya, karbon dioksida, zat terlarut), pembawa zat aktif
(antioksidan, antimikroba, vitamin, colorant dan flavoring agent) serta meningkatkan
penanganan produk pangan (Pavlath dan Orts, 2009).
Menurut Ustunol (2009) perbedaan antara edible coating dan film coating
adalah edible coating langsung digunakan dan dibentuk di atas permukaan produk
pangan seperti pada sosis, sedangkan edible film dibentuk secara terpisah terlebih
dahulu, baru dipergunakan kemudian untuk mengemas produk. Saat ini kemasan aktif
edible coating dan edible film banyak dimanfaatkan sebagai kemasan produk pangan
berupa sosis, keju, daging beku, makanan semi basah, roti, buah-buahan, sayuran,
produk hasil laut, produk konfeksionari (penganan) pelapis kapsul maupun tablet pada
produk obat-obatan (Zaritzky, 2011).
5. Industri Kimia Lainnya
Manfaat lain dari senyawa eugenol dan turunannya adalah sebagai senyawa
antioksidan. Selama ini untuk mencegah proses oksidasi dalam industri makanan
banyak digunakan antioksidan sintetis yang diolah dari minyak bumi seperti BHA
(butylated hydroxyanisole), BHT (butylated hydroxytoluene), dTBHA (tertier
butylated hydroxyanisole) maupun TBHQ (di-t-butyl hydroquinone). Saat ini bahan-
bahan tersebut sudah tidak direkomendasikan lagi untuk digunakan oleh BPOM
(Badan Pengawas Obat dan Makanan), karena diduga bersifat karsinogenik bagi tubuh
manusia (Lestari et al., 2009). Oleh karena itu penggunaan antioksidan nabati seperti
eugenol dan senyawa turunannya untuk mencegah proses oksidasi pada produk
makanan yang mengandung lemak atau minyak, diantaranya minyak goreng, keju,
margarin, saus tomat, roti, daging olahan dan sereal.

UNIVERSITAS MATARAM 10
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan dan Analisis Data


1. Hasil pengamatan

Gambar 1.a hasil siolasi eugenol dari bunga cengkeh.

(a) (b)
Gambar 1.b Plat KLT hasil isolasi (a) menggunakan fase gerak kloroform, (b)
menggunakan fase gerak kloroform : n-heksana (3:2).
2. Analisis Data
Diketahui : - Massa Cengkeh : 300 gram
- Massa botol UC : 120.418 gram
- Massa hasil meserasi + botol UC : 130.537 gram
- Massa hasil meserasi : (130.537 – 120.418) gram
: 10.119 gram
- Massa ekstrak eugenol : 5 gram
Ditanya : % Rendemen ... ?
Penyelesaian :
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑢𝑔𝑒𝑛𝑜𝑙
% Rendemen = 𝑥 100 %
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑚𝑒𝑠𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖
UNIVERSITAS MATARAM 11
5 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 10.119 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑥 100 %

= 0.4941 x 100 %
= 49.41 %
Jadi persen rendemen hasil isolasi eugenol dari bunga cengkeh dengan metode
meserasi sebesar 49.41 %.

B. Pembahasan
Tanaman cengkeh merupakan salah satu jenis tanaman yang tumbuh subur di
beberapa daerah di Indonesia, khususnya di kepulauan Maluku. Tanaman cengkeh yang
sering dimanfaatkan adalah bunga dan daun cengkeh. Bunga cengkeh digunakan sebagai
bahan baku rokok maupun sebagai rempah-rempah. Sedangkan daunnya sering didestilasi
untuk mendapatkan minyak atsiri yang kita sebut dengan minyak daun cengkeh.
Minyak atsiri cengkeh mengandung beberapa jenis komponen kimia yang menjadi
komponen penyusun minyak tersebut. Komponen kimia penyusun minyak akan
memberikan sifat khas yang menjadi ciri suatu minyak atsiri. Aroma minyak atsiri
dibentuk oleh seluruh komponen kimia penyusunnya, baik komponen utama maupun
komponen minor. Perbedaan komposisi penyusun minyak atsiri menjadikan masing –
masing minyak memiliki aroma dan warna yang berbeda.
Senyawa eugenol merupakan komponen utama yang terkandung dalam minyak
cengkeh (Syzygium aromaticum) dengan kandungan dapat mencapai 70-96%. Senyawa
eugenol mengandung beberapa gugus fungsional, yaitu alil (-CH2-CH=CH2), fenol (OH)
dan metoksi (-OCH3). Eugenol (C10H12O2) merupakan turunan gualiakol yang
mendapatkan tambahan rantai alil yang memiliki nama IUPAC yaitu 2-metoksi-4-(2-
propenil)fenol. Eugenol merupakan komponen kimia utama dalam minyak daun cengkeh
berkisar 79 – 90 %.
Untuk mengisolasi eugenol, digunakan NaOH 3%. Karena eugenol dan NaOH akan
membentuk natrium eugenolat yang dapat larut dalam air. Bagian non eugenol diekstrak
dengan eter dan penambahan asam anorganik dan menghasilkan natrium eugenol bebas.
Eugenol kemudian dimurnikan dengan penguapan dan penyulingan. Pemurnian eugenol
dari minyak daun cengkeh digunakan cara ekstraksi. Penggunaan ekstraksi cair-cair
kontinyu dapat meminimalisir masalah yang timbul seperti pengocokan berulang-ulang,
terjadi kenaikan tekanan internal, dan emulsi dalam corong pemisah serta kehilangan

UNIVERSITAS MATARAM 12
pelarut yang lebih besar. Masalah tersebut muncul sebagai akibat penggunaan ekstraksi
cair-cair tak kontinyu.
Proses pemisahan Eugenol dari ekstrak n-heksana cengkeh dilakukan secara kimia,
melalui proses maserasi. Maserasi merupakan proses perendaman sampel menggunakan
pelarut organic pada temperature ruangan, dengan perendaman sampel tumbuhan akan
terjadi pemecahan dinding dan memberan sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam
dan diluar sel, sehingga senyawa metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan
terlarut dalam pelarut organic dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat diatur
lama perendaman yang dilakukan. Senyawa yang akan diisolasi adalah eugenol yang
bersifat non polar sehingga digunakan pelarut non polar yaitu n-heksan, hal ini
berdasarkan prinsip ‘’like dissolve like’’.
Setelah dilakukan perendaman selama 24 jam kemudian dilakukan evaporasi.
Evaporasi berfungsi untuk menguapkan pelarut atau n-heksan dari ekstrak cengkeh.
Setelah di evaporasi ekstrak cengkeh didiamkan selama semalam untuk membebaskan
pelarut yang masih ada dalam ekstrak. Ekstrak yang sudah terbebas dari pelarut kemudian
ditambahakn kloroform dan (NaOH) 5 % kemudian di ekstraksi. Penambahan natrium
hidroksida (NaOH) 5 % kedalam ekstrak dan diaduk kemudian didiamkan selama 24 jam
.Basa akan bereaksi dengan eugenol membentuk garam natrium eugenolat yang dapat larut
dalam air. Lapisan non eugenol yang tidak larut dalam Natrium hidroksida dipisahkan
dengan corong pisah. Setelah itu bagian eugenol larut di cuci dengan n-heksana. Pencucian
menggunakan n-heksana bertujuan untuk menarik pengotor yang mungkin ada atau
terbawa saat pemisahan berlangsung. Perbandingan volume n-heksana dan eugenol yang
digunaka pada percobaan ini yakni 1:1.
Untuk membebaskan eugenol dari bentuk garamnya digunakan HCl pekat , yang
akan membentuk dua lapisan, yaitu lapisan eugenol dan larutan NaCl. Campuran larutan
tersebut kemudian dipisahkan dengan corong pisah. Lapisan atas diekstrak dengan
klorofom untuk mengikat eugenol yang masih tersisa pada lapisan atas. Penambahan
aquades pada eugenol setelah dipisahkan untuk mengurangi sisa asam yang ada.
Selanjutnya penambahan Na2SO4 anhidrat akan mengikat sisa air dari bagian eugenol.
Ekstrak di panaskan untuk menguapkan pelarut yang masih terkandung dalam
ekstrak, kemudian dilakukan uji KLT untuk mengetahui apakah didalam ekstrak tersebut
mengandung eugenol atau tidak. Prinsip kerja dari KLT yakni pemidahan suatu zat
berdasarkan pada perbedaan kepolaran anatara sempel dan pelarut. Uji ini biasanya

UNIVERSITAS MATARAM 13
menggunakan fase diam dari plat silica gel dan fase gerak disesusaikan dengan sampel
yang diuji. Larutan atau campuran larutan yang digunakan sebagai fase gerak disebut
eluen. Semakin dekat keolaran antara sampel dengan eluen maka sempel akan semakin
terbawa olwh fase gerak tersebut. Senyawa yang diisolasi dinyatakan murni jika
didapatkan 1 spot pada plat KLT diaman jarak spot tersebut harus sama dengan jarak spot
senyawa yang diiginkan. Sehingga dibutuhkan adanya perhitungan terentu untuk
mengetahui spot tersebut memiliki jarak yang sama. Nilai perhitungan tersebut disebut Rf,
nilai ini menyatakan derajat reten si suatu komponen dalam fase diam sehingga nilai Rf
sering juga disebut sebagai faktor retensi. Nilai Rf dapat ditentukan dengan rumus :

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑠𝑢𝑏𝑡𝑟𝑎𝑡


Rf =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

Nilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasi suatu senyawa. Bila


identifikasi nilai Rf sama dengan Rf senyawa tersebut maka senyawa tersebut dapat
diidentifikasi memeiliki karakteristik yang sama atau mirip, begitu pula sebalikya.
Berdasarkan hasil uji KLT ekstrak tersebut belum murni karena tidak menghasilkan 1 spot,
sehingga tidak memperoleh nilai Rf oleh sebab itu ekstrak tersebut tidak dapat
diidentifikasi mengandung eugenol atau tidak.Berdasarkan hasil penelitian Kristijianto dkk
tahun 2012, menyataka bahwa Eugenol standard memiliki nilai Rf sebesar 0.86.

(a) (b)
Gambar 1.b Plat KLT hasil isolasi (a) menggunakan fase gerak kloroform, (b)
menggunakan fase gerak kloroform : n-heksana (1:1).
Berdasarkan hasil perhitungan menunjukan bahwa persen rendemen untuk senyawa
hasil isolasi sebesar 49.41 %. Hasil tersebut menunjukan bahwa dalam ekstrak tersebut
mengandung senyawa eugenol. Sedangkan berdasarkan hasil uji KLT menujukan bahwa
dalam ekstrak tersebut tidak dapat menerangkan adanya senyawa eugenol dalam ekstrak
UNIVERSITAS MATARAM 14
karena hasil KLT yang tidak akurat. Berdsarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa di
dalam ekstrak tersebut terdapat senyawa eugenol, namun dalam jumlah yang sedikit dan
terdapat seyawa lain didalam ektrak.
Kesalahan pada percobaan ini disebabkan karena beberapa faktor antara lain yakni:
pertama faktor sumber bacaan dimana sumber litelatur yang di dapatkan hanya
menerangkan proses pembuatan minyak cengkeh tanpa menjelaskan proses isolasi eugenol
dari bunga cengkeh. Faktor kedua yakni faktor prosedur kerja, dimana terjadi kesalahan
pada posedur kerja yang menyebabkan hasil kurang optimal.

UNIVERSITAS MATARAM 15
BAB VI
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan percobaan, hasil penngamatan dan pembahasan dapat
disimpulakan bahwa:
1. Daun cengkeh mengandung eugenol, saponin, flavonoid dan tannin dan bunga
cengkeh mengandungan zat eugenol, saponin, tannin, flavonoid, dan polifenol yang
mampu membantu proses penyembuhan luka
2. Isolasi eugenol dari bunga cengkeh menggunakan metode meserasi, diaman meserasi
merupakan proses perendaman sampel menggunakan pelarut organic pada temperature
ruangan dalam upaya mengisolasi senyawa metabolit sekunder.
3. Hasil uji KLT menunjukan bahwa sampel tidak dapat ditentukan, karena tidak
menghasilka 1 spot sehingga tidak didapatkan nilai Rf, sedangkan berdasarkan teori
menunujuka bahwa Rf untk eugenol sebesar 0.86.
4. % rendemen hasil isolasi eugenol dari bunga cengkeh dengan metode meserasi sebesar
49.41 %.
5. Kesalahan pada praktikum disebabkan karena kurangnya litelatur yang mendukung,
serta kesalahan prosedur kerja.

UNIVERSITAS MATARAM 16
DAFTAR PUSTAKA

Bhat, Z.F. and H. Bhat. 2011. Recent trends in poultry packaging : a review. American
Journal of Food Technology 6(7) : 531-540.
Boyd, N.S. and E.B. Brennan. 2006. Burning nettle, common purslane and rye response to a
clove oil herbicide. Weed Technology 20 : 646-650
Han, J.H. 2005. New Technologies in Food Packaging : Overview. In : Innovations in Food
Packaging, Han, J.H. (Ed.). Elsevier Academic Press, San Diego, California. Pp.3-11.
Hastutiningrum, N.O. 2010. Efek minyak atsiri daun cengkeh (Syzygium aromaticum L.)
terhadap mortalitas larva Anopheles aconitus. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas
Maret, Surakarta.
Huang, Y and S.H. Ho. 2002. Insecticidal properties of eugenol. Isoeugenol and
methyleugenol and their effects on nutrion of Sitophilus zeamais and Tribolium
castaneum. Journal Stored Products Res. 38(5) : 403-412.
Huang, Y. et al. (2002). Insecticidal Properties of Eugenol, Isoeugenol and Methyleugenol
and Their Effects On Nutrition of Sitophilus Zeamais Motsch. (Coleoptera:
Curculionidae) and Tribolium castaneum (Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae). Journal
of Stored Product Research, 38: 403–412.
Jibril, M. 2010. Ocimsan Spray: Inovasi agen terapi kanker serviks stage I dan II.
http://www.kedokteran.co (1 April 2011).
Jirovetz, L. 2010. Medicinal value of clove. University of Vienna, Departement Pharmacy and
Diagnostics, Austria. http://herbication.com (1 Sptember 2010).
Kadarohman, A., H. Siti H. dan M.S. Fareza. 2010. Konversi dan karakterisasi isoeugenol
asetat menjadi vanilin asetat. Jurnal Sains dan Teknologi Kimia 1(2) : 177-181.
Kardinan, A. (2003). Prospek Minyak Daun (Melalenca Bracteata) Sebagai Pengendali
Populasi Hama Lalat Buah (BroctoceraDorsalis) Di Indonesia. Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, 18(1): 10-16.
Kardinan, A. 2005. Tanaman Penghasil Minyak Atsiri. Agromedia Pustaka, Jakarta. 74 hlm
Ketaren. (2008). Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Kim, H.M. et al. (1998). Effect of Syzygium Aromaticum Extract On Immediate
Hypersensitivity In Rats. Journal ofEthnopharmacology, 60(4): 125–131.

UNIVERSITAS MATARAM 17
Kumar SG, Saikishore MBP, Panchal S. (2012). Evaluation of Flower Buds Syzygium
Aromaticum for Antimicrobial and Wound Healing Activity in Rats. Int J Ph Sci,
4(1):1746-1750.
Lestari, U.R., Sulistiowati dan N. Zakiyah. 2009. Potensi Kayu Manis sebagai Antioksidan
dan Antimikroba pada Kemasan Aktip Produk Jenang. Program Kreativitas Mahasiswa,
FATETA, IPB, Bogor. 19 hlm.
Li K, et al. (2011). Tannin Extracts from Immature Fruits of Terminalia chebula Fructus Retz.
Promote Cutaneous Wound Healing in Rats. BMC Complementary and Alternative
Medicine, 11:86.
Manohara, D. dan R. Novariza. 1999. Potensi tanaman rempah dan obat sebagai pengendali
jamur Phytophthora capsici. Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah Pemanfaatan
Pestisida Nabati : 406-421.
Nunez, L., M.D. Aquino and J. Chirife. 2001. Antifungal properties of clove oil in sugar
solution. Brazilian Journal of Microbiology 32 : 123-126.
Nurdjannah, N. (2004). Diversifikasi Penggunaan Cengkeh (Perspektif, Review
PenelitianTanaman Industri). Jurnal Penelitian, 3(2): 61-70.
Nurdjannah, N. 2004. Diversifikasi penggunaan cengkeh. Perspektif 3(2) : 61-70.
Ogata, M., M. Hoshi, S. Mangala and T. Endo. 2000. Antioxidant activity of eugenol and
related monomeric and dimeric compounds. Chem. Pharm. Bull. 48(10) : 1467-1469.
Oyedemi, S.O., A.I. Okoh, L.V. Mabinya, G. Pirochenva and A.J. Afolayan. 2008. The
proposed mechanism of bactericidal action of eugenol, α-terpinol and γ-terpinene
against Listeria monocytogenes, Streptococcus pyogenes, Proteus vulgaris and
Escherichia coli. African Journal of Biotechnology 8(7) : 1280-1286.
Pavlath, A.E. and W. Orts. 2009. Edible film and coating: why, what and how?. Edible Films
and Coating for Food Applications 1: 1-23.
Pramod, K., S.H. Ansari and J. Ali. 2010. Eugenol: a natural compound with versatile
pharmacological actions. Natural Product Communications 5(12) : 1999-2006
Putri, Retty Liana, dkk. (2014). Pemurnian Eugenol dari Minyak Daun Cengkeh Dengan
Reaktan Basa Kuat KOH dan Ba(OH)2. Jurnal Industria, 3(1): 1-12.
Rasasti, D. 2006. Oksidasi eugenol asetat dan uji aktivitas antioksidan senyawa turunannya.
Skripsi Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Alam, UPI, Bandung. 52 hlm.

UNIVERSITAS MATARAM 18
Reddy, C.S., K.R.N. Reddy, U.N. Mangala and K. Muralidharan. 2006. Eugenol an antifungal
component in clove that checks the contamination of Aspergillus in rice.
http://repository.unand.ac.id. (26 April 2011).
Rochyani, L., Aprilia dan M.W. Astuti. 2007. Daya anti bakteri bahan tumpatan sementara
zinc oxide eugenol. DENTA Jurnal Kedokteran Gigi FKG-UHT 1(2) : 96-99.
Rohman, I. 2009. Potensi minyak cengkeh, eugenol dan eugenil asetat sebagai bioaditif bahan
bakar solar kendaraan bermotor. Fakultas Pendidikan Matema-tika dan IPA, Universitas
Pendidikan Indonesia, Bandung. http://www.penelitianpendidikan.com. (26 April 2011).
Rovani, A.C., Kamizar dan M. Usman. 2008. Perbandingan sitotoksisitas endometha-sone,
AH plus dan apexit plus terhadap sel fibroblas dengan teknik root dipping. Dentofosial
7(2) : 70-79.
Soesanto, H. 2006. Pembuatan isoeugenol dari eugenol menggunakan pemanasan gelombang
mikro. Skripsi Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,
IPB Bogor. 90 hlm.
Somaatmaja, D. (2001). Skripsi Pengambilan Oleoresin Jahe Dengan Cara Ekstraksi Pelarut.
Bogor: IPB.
Sudarma, I.M. 2010. Rekayasa dan sintesis pestisida turunan karbamat dari senyawa bahan
alam eugenol. FMIPA, Universitas Indonesia, Jakarta. http://www.lontar.ui. ac.id. (26
April 2011).
Sumangat, D., M. P. Laksmanahardja, Hernani, N. Nurjannah, dan Mamun. 2005. Penelitian
pengolahan iso-eugenol dari minyak daun cengkeh. Buletin Teknologi Pascapanen
Pertanian Volume 1(1). http://www.pascapanen.litbang.deptan.go.id. (26 April 2011).
Taguchi, Y., H. Ishibashi, T. Takizawa, S. Inoue, H. Yamaguchi and S. Abe. 2005. Protection
of oral or intestinal candidiasis in mice by oral or intragastric administration of herbal
food, clove (Syzygium aromaticum). Japan J. Med. Mycol 46 : 27-33.
Thomas, A.N.S. (2007). Tanaman Obat Tradisional. Yogyakarta: Kanisus.
Vanit, S., P. Suppakul and T. Jinkarn. 2010. Antimicrobial effects of coating solution
containing clove oil and hydrophobic starch for coating paper board. Asian Journal of
Food and Agro-Industry 3(2): 204-212.
Vargas, R.I., Shelly T.E., Leblanc L. And Pinero J.C. 2010. Recent advances in methyl
eugenol and cue-lure tecnologies for fruit fly detection monitoring control in Hawaii.
Vitam Horm. 83 : 575-595.

UNIVERSITAS MATARAM 19
Velluti, A. et al. (2003). Inhibitory effect of cinnamon, clove, lemongrass, oregano and
palmarose essential oils on growth and fumonisin B 1 production by Fusarium
proliferatum in maize grain´ n. International Journal of FoodMicrobiology, 89: 145–
154.
Waluyo, S. (2004). Aneka Tip Obat Alami dalam Buah dan Sayuran. Jakarta: Elex Media.
Wiratno. 2009. Cengkih berpotensi sebagai pestisida nabati. Warta Penelitian dan
Pengembangan Pertanian 31(6) : 5-7.
Wulansari, F.D., S. Matsjeh dan C. Anwar. 2010. Sintesis 2-hidroksi-3-metoksi-5-propil
asetofenon dari eugenol. Makalah Seminar Rekayasa Kimia dan Proses, Jurusan Teknik
Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang. http://kimia.undip. ac.id.
(26 April 2011).

UNIVERSITAS MATARAM 20
LAMPIRAN
ALAT & BAHAN

Bunga Cengkeh Kering Blender

Toples kaca Gelas kimia

Corong Buncher Erlenmeyer pipa

Gelas Ukur dan n-heksana Sendok/spatula


UNIVERSITAS MATARAM 21
Na2SO4 Labu dasar bulat

Corong pisah Erlenmeyer

Gelas ukur 10 ml dan 100 ml


Pengaduk

UNIVERSITAS MATARAM 22
Neraca analitik 1 set evaporator

Lampu UV Statif dan klem

N-heksana
Indikator universal

Aquadest NaOH

UNIVERSITAS MATARAM 23
LAMPIRAN
SKEMA KERJA

1) Preparasi sampel

Bunga Cengkeh

 Diblender

Serbuk Cengkeh

 Diambil 300 gr
 + 700 ml n-heksana
 Dimeserasi ± 24 jam

Ekstrak

 Diuapkan dengan rotary evaporator

Ekstrak Kental

2) Isolasi eugenol
Ekstrak Kental
 + 15 ml Chloroform
 + 15 ml NaOH 5 %

Campuran

Fase Organik Fase Air


(Garam Eugenolat)

 + HCl pekat, pH=3

Campuran

 Dipisahkan

UNIVERSITAS MATARAM 24
Campuran

Lapisan Atas Lapisan Bawah


 + 30 ml Chloroform
 Dipisahkan

Lapisan Bawah Lapisan Atas


 Ditampung
 + aquades hingga pH netral
 Dipisahkan

Lapisan Bawah Lapisan Atas

 + Na2SO2 anhidrat

Hasil

 Disaring
 Diuapkan

Pelarut Eugenol Kotor

 Disaring menggunakan corong bucher dan


kertas saring whatmann
 Dicuci dengan Chloroform : n-heksana (1:1)

Hasil

 Diuapkan

Eugenol

UNIVERSITAS MATARAM 25
LAMPIRAN
LANGKAH KERJA

Proses penghalusan bunga cengkeh

Bunga cengkeh kering diblender


Bunga Cengkeh halus ditimbang
(dihaluskan)

Cengkeh dimaserasi dengan n-heksana sehari semalam

UNIVERSITAS MATARAM 26
Hasil maserasi disaring Filtrat cengkeh dievaporasi

Filtrat + n-heksana diekstraksi, dan (a) Fase air (b) Fase Organik
diamkan sehari semalam agar terpisah Fase air dan fase organik dipisahkan

HCl pekat digunakan agar fase air Fase air + HCl pekat diekstraksi, dan diamkan
menjadi pH 0 sehari semalam agar terpisah

Lapisan bawah dan lapisan atas Lapisan atas + Kloroform diekstraksi, dan
dipisahkan diamkan sehari semalam agar terpisah

UNIVERSITAS MATARAM 27
Proses ekstraksi dan pemisahan

(a) Lapisan atas (b) lapisan bawah Aquadest digunakan agar lapisan bawah menjadi
pH 11

Hasil fase bawah + aquadest Fase bawah + aquadest + NaOH

UNIVERSITAS MATARAM 28
Disaring Ekstrak Eugenol diuapkan kn

eks trak

Disaring

UNIVERSITAS MATARAM 29
LAMPIRAN
HASIL PENGAMATAN

Hasil KLT I Hasil KLT II

UNIVERSITAS MATARAM 30

Anda mungkin juga menyukai