Anda di halaman 1dari 8

33

Penentuan Nilai Impedansi Pembumian Elektroda Batang Tunggal


Berdasarkan Karakteristik Response Impuls
Managam Rajagukguk(1) ,Yul Martin(2)

1) Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak


e-mail : managamrajagukguk@yahoo.co.id
2) Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Lampung
Jl.Prof.Dr. Soemantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung.

Abstract– Sampai saat ini sistem pembumian masih impuls berfrekuensi tinggi yang dampaknya akan sangat
dianggap baik jika resistansinya kecil yaitu nilai fatal apabila mengenai peralatan listrik. Oleh karena
resistansi yang diukur dengan sumber DC atau itulah diperlukan suatu sistem perlindungan yang baik
frekuensi rendah. Sementara itu, peristiwa sambaran sehingga dampak buruk yang diakibatkan oleh sambaran
petir menyebabkan arus impuls dengan frekuensi tinggi petir tersebut dapat dikurangi dan dihilangkan. Sistem
sampai orde kHz, sehingga ketika sistem pembumian perlindungan pada saluran transmisi dan gedung
bekerja karena dikenai arus impuls petir, maka dari bertingkat dilakukan dengan pembuangan arus petir ke
hasil penelitian diperoleh rata-rata persentase tanah melalui sistem pentanahan. Sistem pembumian
perbedaan antara resistansi pembumian yang diukur yang umumnya digunakan berupa elektroda batang
dengan sumber DC dan impedansi pembumian yang tunggal yang ditanam ke dalam tanah.
diukur dengan sumber impuls sebesar 8,0 %. Dari Selama ini desain sistem pembumian umumnya
model tersebut dihitung nilai impedansi pembumian hanya memperhitungkan nilai resistansinya saja.[8]
untuk berbagai variasi kedalaman elektroda batang Resistansi pembumian ini biasa diukur dengan
pembumian dari kedalaman 2m sampai 6m berdasarkan menginjeksikan arus DC atau frekuensi rendah pada
respon impulsnya. Dari hasil-hasil pengukuran dan elektroda pembumian. Umumnya sistem pembumian
perhitungan diperoleh nilai impedansi pembumian dianggap baik jika nilai resistansinya rendah di bawah 5
terkecil sebesar 23,01 Ω pada kedalaman elektroda ohm.[8] Dengan hanya mempertimbangkan nilai
batang 6m dengan penurunan impedansi pembumian resistansi pembumian saja sebenarnya masih kurang
rata-rata pada setiap kedalaman 1m mulai 2m sampai tepat, karena pada kondisi yang sebenarnya sistem
6m sebesar 5,25 Ω . Untuk setiap kenaikan kedalaman pembumian akan berfungsi untuk menghilangkan
1m nilai induktansi mengalami kenaikan rata-rata dengan cara membumikan tegangan dan arus lebih
0,00158 mH dan kapasitansi mengalami kenaikan rata- impuls, baik impuls yang diakibatkan sambaran petir
rata 0,0000574 µ F. Dari hasil penelitian, dengan maupun akibat switching.
Jika pada suatu elektroda pembumian yang dialiri
memperkecil waktu muka impuls injeksi akan sangat
arus impuls berfrekuensi tinggi (orde waktu dalam
berpengaruh pada hasil pengujiannya. Dengan
mikro detik), selain komponen resistansinya komponen
menggunakan sumber input yang sama untuk waktu
induktansi dan kapasitansi juga harus diperhitungkan.
muka 3,0 µs terlihat lebih banyak ripple dibandingkan
Perhitungan seperti ini yang disebut sebagai perhitungan
dengan waktu muka 4,0 µs yang sedikit ripple, impedansi pembumian yang mempertimbangkan
terjadinya ripple merupakan tanggapan peralatan ukur komponen L dan C dari elektroda pembumian selain
impuls yaitu resistif voltage devider terhadap frekuensi komponen resistansinya. Desain sistem pembumian
tinggi karena dengan memperkecil waktu muka impuls sebenarnya akan lebih tepat jika memperhitungkan
berarti memperbesar frekuensinya. Dari hasil pengujian impedansi pembumian daripada hanya
dan hasil simulasi diperoleh persentase perbedaan mempertimbangkan resistansi pembumian saja. Secara
tegangan terpotong oleh elektroda batang pembumian umum sistem pembumian yang baik mempunyai
sebesar 0,57% dengan selang kepercayaan 99% impedansi pembumian yang kecil karena akan
sedangkan untuk perbedaan antara nilai respon arus mempercepat pembuangan arus impuls sambaran petir.
impulas maksimum antara hasil pengujian dan hasil Selain akan mempercepat pembuangan arus sambaran
simulasi sebesar 2,57%. petir, nilai impedansi pembumian yang semakin kecil
akan menghasilkan beda potensial antara elektroda
Keywords– Respon impuls, impedansi pembumian, pembumian dengan tanah yang semakin kecil pula.
resistansi pembumian.
2. TEORI DASAR
1. PENDAHULUAN 2.1. Pembangkitan Tegangan Impuls
Sambaran petir merupakan salah satu penyebab Tegangan impuls dapat dibangkitkan dengan
gangguan yang cukup banyak terjadi dalam sistem meluahkan muatan kapasitor tegangan tinggi (melalui
tenaga listrik dan paling sering mengenai saluran sela atau switching) pada suatu rangkaian tegangan
transmisi. Sambaran petir ini merupakan sumber arus tinggi, sehingga sering digunakan juga didalamnya

Jurnal ELKHA Vol.2, No.2, Juli 2010


34

rangkaian pengali tegangan. Nilai puncak dari tegangan maupun waktu ekor Tr yang terukur dari titik 01 hingga
impuls dapat ditentukan dengan bantuan sela ukur atau titik C juga dapat ditentukan. [5]
dengan rangkaian elektronik yang dikombinasikan
dengan pembagi tegangan. Alat ukur tegangan impuls
yang terpenting adalah osiloskop sinar katoda yang
memungkinkan dalam penentuan nilai-nilai sesaat
melalui pembagi tegangan.[5]
Tegangan yang naik dalam waktu singkat akan
disusul dengan penurunan yang lambat menuju nol, Gambar 1. Parameter tegangan uji impuls standard
dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut: a) tegangan impuls petir
b) tegangan impuls pensaklaran
( )
V = V 0 e − at − e − bt ……….....…...... (1)
Tegangan impuls petir dinyatakan dengan bentuk
Bentuk gelombang semacam ini mudah dibuat , yaitu 1,2/50 µs yang berarti suatu tegangan impuls
dengan menetapkan konstanta a dan b. Harga
mempunyai nilai T s = 1 , 2 µ s ± 30 % dan
maksimumnya disebut harga puncak (peak atau crest)
dari tegangan impuls. Definisi muka gelombang (wave T r = 50 µ s ± 20 % . Pada kondisi lain, untuk
front) dan ekor gelombang (wave tail) ditetapkan dengan mengamati tegangan impuls akibat pensaklaran
standar tertentu, sehingga kesukaran untuk menetapkan (switching) yang jauh lebih besar waktu mukanya
permulaan gelombang dan puncak gelombang impuls daripada impuls petir tidak akan lagi menemui kesulitan.
dapat diatasi. Muka gelombang didefinisikan sebagai Karena penentuan titik asal 0 yang tepat dan penentuan
bagian dari gelombang impuls yang dimulai dari titik puncak S yang tepat dapat digunakan untuk pembakuan
nol (nominal) sampai titik puncak, sedang sisanya atau standar. Untuk pengujian dengan tegangan impuls
disebut ekor gelombang.[1] pensaklaran (switching) sering digunakan bentuk
2.2. Parameter-Parameter Tegangan Impuls gelombang impuls 250/2500 µs yang berarti bahwa
nilai waktu muka sebesar T cr = 250 µ s ± 20 % dan
Bentuk gelombang impuls pada gambar 1 banyak
digunakan pada pengujian tegangan tinggi yang waktu ekornya sebesar T h = 2500 µ s ± 60 % .
memiliki kecuraman gelombang sebesar S. Tegangan Besarnya waktu ekor tegangan impuls pensaklaran dapat
impuls yang ditampilkan pada gambar 1 merupakan juga diberi simbol Td yakni waktu dengan nilai tegangan
tegangan impuls eksponensial ganda yang telah sesaat lebih besar dari 0,9 sebagai pengganti dari nilai Th
ditetapkan sebagai standar dalam pengujian tegangan .[5] Pada kondisi lainnya kurva-kurva tegangan impuls
tinggi. Hal ini karena pada tegangan impuls petir sering mengandung osilasi frekuensi tinggi dengan
eksponensial ganda tidak terdapat osilasi yang cukup amplitude yang tidak melebihi 0 , 05 .Uˆ pada daerah
berarti sehingga tegangan impuls ini cepat mencapai puncak maksimumnya.
nilai maksimum atau nilai puncak Û . Jika terjadi 2.3. Pengukuran Tegangan Impuls
tembus secara sengaja ataupun tidak disengaja dalam
rangkaian tegangan tinggi selama pengujian dengan Salah satu pengukuran tegangan tinggi impuls dapat
gelombang impuls akan menyebabkan jatuh tegangan dilakukan dengan resistif voltage devider atau pembagi
(voltage drop) secara mendadak, tegangan semacam ini tegangan resistif. Dalam sistem pengukuran dengan
disebut sebagai tegangan impuls yang terpotong. pembagi tegangan resistif (gambar 2.a) sebaiknya kabel
Pemotongan dapat terjadi pada bagian depan, pada ukur K dihubungkan pada CRO dengan impedansi surja
puncak atau pada ekor dari tegangan impuls tersebut.[5] Z sehingga membebani pembagi dengan resistansi
Tegangan lebih impuls yang hampir sama dengan efektif yang sama. Gangguan terpenting dari perilaku
tegangan sambaran petir dibutuhkan waktu sekitar 1 ideal pembagi diakibatkan oleh kapasitansi bumi dari
mikro detik untuk mencapai nilai puncak, tegangan lebih cabang tegangan tinggi R. Kapasitansi bumi ini didekati
seperti ini disebut sebagai tegangan lebih luar atau dengan kapasitansi C ditunjukkan pada (gambar 2.b)
atmosfir. Maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai yang dihubungkan di tengah-tengah R1.[5]
nilai puncak paling sedikit sekitar 100 mikro detik.[5]
Pembangkitan tegangan impuls dalam laboratorium
merupakan tegangan impuls pensaklaran, tegangan ini 1
R1
2
hampir mirip dengan tegangan impuls petir tetapi
memiliki waktu muka yang lebih besar. Tegangan 1
R1
impuls yang digunakan pada pengujian tegangan tinggi, 2

bentuk tegangannya ditentukan oleh parameter waktu


tertentu baik waktu muka maupun waktu ekornya,
Ru Z
seperti yang ditunjukkan pada gambar 1. Karena bentuk R2 =
Ru + Z

muka tegangan impuls petir yang benar sering sukar


diukur, maka untuk mencirikannya dibuat garis lurus
01S1 melalui titik A dan B. Kemudian waktu muka Ts Gambar 2. Sistem Pengukuran tegangan impuls dengan
pembagi resistif

Jurnal ELKHA Vol.2, No.2, Juli 2010


35

a) diagram rangkaian
b) rangkaian ekivalen dengan kapasitansi bumi
Tegangan keluaran akan menuju suatu nilai batas ρ
sebesar:
l
R2
U2∞ = U1∞ .......................... (2)
R1 + R 2

2.4. Elektroda Pembumian. Gambar 4. Elektroda Pembumian Batang Tunggal

Bahan yang digunakan untuk elektroda batang Besar nilai induktansi dan kapasitansi batang
pembumian adalah logam yang mempunyai elektroda pembumian adalah sebagai berikut:
konduktivitas cukup tinggi yaitu tembaga, selain itu
 2 .l  − 7 .………………..
untuk mendapatkan nilai yang lebih ekonomis dapat L = 2 .l . ln  .10 (4)
dipergunakan baja yang digalvanisasi atau baja berlapis  r 
tembaga. Elektroda batang terbuat dari batang logam ε r .l
bulat atau baja profil yang dipancangkan/ditancapkan C= .10 − 9 …………………….. (5)
4 .l
kedalam tanah dan salah satu ujungnya lancip dengan 18 . ln
kelancipan (45o + 5o) serta harus dilengkapi dengan r
klem dan baut klem yang mampu menjepit penghantar dimana ε r = konstanta dielektrik tanah (4 untuk tanah
seperti pada gambar 3 berikut ini .[2] kering, 9 untuk tanah basah dan 70 untuk air murni).[6]
K aw at T em baga
Pada keadaan sebenarnya arus yang melalui
K le m T e m b a g a elektroda dan tanah berbentuk suatu medan magnet dan
B aut
medan terkuat pada tempat yang konsentrasi arusnya
terbesar, yaitu disekitar elektroda.
E le k tr o d a

Gambar 5. Rangkaian Pengganti Satu Elektroda Pembumian.


Gambar 3. Konstruksi Elektroda Pembumian Batang Tunggal Model arus impuls dapat dituliskan sebagai fungsi
ekponensial ganda: [6]
2.5. Sistem Pembumian Driven Rod
Pembumian dengan menanamkan batang elektroda i(t)=I0(e-a.t e-b.t) …………………………… (6)
tegak lurus kedalam tanah disebut dengan ground rod
2.6. Metode Pengukuran Resistivitas Tanah
electrode yang terdiri atas satu buah batang elektroda,
biasanya berdiameter antara ¾ inch sampai 2 inch dan Salah satu metode dalam melakukan
panjangnya 3 meter sampai dengan 15 meter.[4] Pada pengukuran hambatan jenis tanah atau resistivitas tanah
suatu batang elektroda pembumian yang mempunyai ialah menggunakan metode empat buah elektroda,
panjang l dan radius d ditanam tegak lurus pada tanah sebuah sumber DC,sebuah Amperemeter dan sebuah
yang mempunyai resistivitas tanah ρ homogen, maka Voltmeter yang sensitif.[3]
elektroda bersama tanah akan mempunyai tahanan yang
besarnya adalah.[4]

ρ  4.l  …...……..........
R=  ln − 1 .(3)
2πl  r 

dimana:
R = tahanan pembumian (ohm)
r = radius batang (m) Gambar 6. Metode empat elektroda
= resistivitas tanah (ohm-m) Prinsip kerja metode empat elektroda di atas adalah
ρ
apabila arus masuk ke tanah melalui salah satu
l = panjang batang (m) elektroda dan kembali ke elektroda yang lain yang
cukup jauh, maka diameter konduktor dapat diabaikan,
sehingga arus yang masuk ke tanah mengalir secara
radial. Dengan mengukur besar arus dan tegangannya,
maka akan diperoleh hambatan tanah (R), besar

Jurnal ELKHA Vol.2, No.2, Juli 2010


36

hambatan jenis tanah dapat dihitung dengan 3. METODE PENELITIAN


menggunakan persamaan berikut: [9]
Penelitian ekperimental dilakukan di halaman dan di
4π aR ……….. (7)
ρ = dalam Laboratorium Teknik Tegangan Tinggi Jurusan
2a a Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas
1+ −
a 2 + 4b 2 a2 + b2 Tanjungpura. Metode penelitian yang digunakan dalam
Dimana : penelitian ini adalah kepustakaan, penelitian
ρ = hambatan jenis tanah (Ohm-m) ekperimental dengan pengujian langsung di lapangan,
a = jarak antar elektroda ukur (meter) dan simulasi pemodelan. Hasil yang diperoleh dari
b = Kedalaman elektroda (meter) penelitian ekperimental kemudian dibandingkan dan
R = besar hambatan tanah (Ohm) dianalisis dengan hasil yang diperoleh dari simulasi
Jika elektroda ukur ditanam rata dengan permukaan pemodelan.
tanah (b=0 m), maka persamaaan menjadi:
3.1. Pengujian Pembangkitan Tegangan Tinggi
ρ = 2 π aR …………………………… (8)
Impuls Tanpa diinjeksikan Pada Elektroda
dengan merubah-rubah jarak elektroda (a) dapat Batang Pembumian
diperoleh prediksi hambatan jenis tanah pada kedalaman
b.[3] Pengujian pembangkitan tegangan tinggi impuls
tanpa diinjeksikan pada elektroda batang pembumian
2.7. Impedansi Sistem Pembumian yang dilakukan adalah pengujian dengan rating
tegangan pengujian 1390 Volt sampai 1710 Volt dengan
Apabila suatu sistem pembumian dikenai arus petir kenaikan tegangan rata-rata 100 Volt. Selain variasi nilai
maka pada sistem pembumian tersebut akan mengalami tegangan dilakukan juga variasi nilai waktu muka
kenaikan tegangan yang berubah secara cepat.[4] Jika gelombang impuls dengan menggunakan nilai induktor
tegangan yang berubah cepat itu dibagi dengan arus yang berbeda-beda yaitu 0,309 mH, dan 0,174 mH.
petir yang terjadi disebut dengan impedansi sistem Tujuannya adalah untuk mengetahui besarnya tegangan
pembumian. Secara matematis dapat dirumuskan impuls yang akan diinjeksikan pada elektroda
sebagai berikut pentanahan. Gambar rangkaiannya adalah sebagai
U (t ) berikut
Z (t ) = ………….......…………. (9)
i (t )
dimana:
Z(t) = impedansi pada sistem pembumian (ohm)
U(t) = tegangan pada sistem pembumian (volt)
i(t) = arus petir (ampere)
Dapat diperhatikan pada gambar 7 yang merupakan
kurva impedansi sistem pembumian sebagai berikut: Gambar 8. Rangkaian Pembangkitan Impuls tanpa injeksi pada
batang pembumian
3.2. Pengujian Pembangkitan Tegangan Tinggi
Impuls dengan diinjeksikan Pada Elektroda
Batang Pentanahan.
Pengujian pembangkitan tegangan tinggi impuls
dengan diinjeksikan pada elektroda batang pembumian
yang akan dilakukan adalah pengujian dengan rating
Gambar 7. Kurva impedansi sistem pembumian tegangan 1390 sampai 1710 volt dengan kenaikan
Dengan demikian kenaikan tegangan yang terjadi pada tegangan rata-rata 100 Volt.
sistem pembumian akan sangat tergantung pada
impedansi sistem peembumian. Secara matematis
impedansi pembumian juga dapat dirumuskan sebagai
berikut,
U puncak
Zimpuls = ……………… (10)
i puncak
Jadi dengan impedansi impuls ini suatu sistem
pembumian dapat dikatakan baik atau tidak baik,
dimana jika impedansi impulsnya kecil maka jatuh Gambar 9 . Rangkaian Pembangkitan Impuls dengan injeksi
tegangannya akan kecil sehingga sistem pembumian ini pada batang pembumian
dikatakan baik dan jika impedansi impulsnya besar 3.3. Simulasi Pemodelan Dengan Menggunakan
maka jatuh tegangannya akan semakin besar pula Program ATP-EMTP
sehingga sistem pembumian ini dapat dikatakan tidak
Rangkaian pengganti untuk memodelkan rangkaian
baik.
pengujian di atas dengan untuk dapat disimulasikan
dengan software ATP EMTP adalah sebagai berikut :

Jurnal ELKHA Vol.2, No.2, Juli 2010


37

tester dengan menggunakan sumber baterai atau sumber


DC. Hasil pengukurannya adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Pengukuran Nilai Resistansi Pembumian
No. Kedalaman (m) Resistansi ( Ω )

1 2 54,7
2 3 35,0
3 4 30,4
4 5 24,8
Gambar 10. Model rangkaian pengujian dengan sofware ATP
5 6 21,0
– EMTP
3.4. Diagram Alir Penelitian
Tabel 2. Hasil Perhitungan Resistansi, Induktansi dan
Adapun diagram alir dalam penelitian ini adalah Kapasitansi Pembumian.
sebagai berikut : No. Kedalaman Resistansi Induktansi Kapasitansi
(m)
( Ω) (mH) ( F) µ
1 2 54,99 0,00249 0,0001443
2 3 37,46 0,00398 0,0002046
3 4 30,72 0,00554 0,0002624
4 5 25,40 0,00714 0,0003187
5 6 21,70 0,00879 0,0003738

4.1.a Hasil pengujian tegangan impuls tanpa


diinjeksikan ke elektroda pembumian batang
tunggal.
Pengujian ini dilakukan dengan mengukur tegangan
impuls hasil keluaran dari pembangkit tegangan tinggi
impuls.
Graf ik Volt-Waktu Pengujian Sebelum diinjeksikan ke Elektroda Batang
Pentanahan Dengan Waktu Muka 4,0 mikro detik

Gambar 11. Diagram alir penelitian 1800


1600

1400

4. PEMBAHASAN
Tegangan (Volt)

1200

1000
800

Pengujian elektroda pembumian batang tunggal yang 600

400

telah dilakukan, menggunakan sumber pembangkit 200

0
tegangan impuls kapasitif dan tegangan impuls uji yang
digunakan bervariasi yaitu antara 1390 Volt hingga 1710 Waktu (detik)

Tegangan 1630V Tegangan 1590V Tegangan 1490V Tegangan 1390V


Volt dengan kenaikan rata-rata tegangan 100 Volt.
Variasi nilai waktu muka impuls tersebut yaitu 3,0 µs Gambar 12. Tegangan impuls tanpa injeksi ke elektroda
dan 4,0 µs dengan mengatur induktor yang ada pada pembumian
pembangkit tegangan tinggi impuls. Nilai waktu muka 4.1.b. Hasil pengujian tegangan impuls yang
ini dipilih karena mendekati nilai waktu muka surja diinjeksikan ke elektroda pembumian batang
tunggal.
standard. Data-data yang dihasilkan dari pengujian di
lapangan berupa data-data kurva tegangan dan arus Hasil pengujian tegangan impuls yang diinjeksikan
impuls terhadap nilai waktunya. Dari proses pengujian keelektroda pentanahan batang tunggal ini, diambil dari
di lapangan maka diperoleh nilai elemen-elemen yang sampel ketika elektroda batang pembumian ditanam
diperlukan untuk dimasukkan ke dalam simulasi pada kedalaman 6 m.
pemodelan. Data-data yang diperoleh dari proses Grafik Tegangan dan Arus Impuls Setelah di Injeksi ke Elektroda Batang Pentanahan
Dengan Sumber 1470 V dan Waktu Muka 3,0 mikro detik
simulasi pemodelan dengan menggunakan program
500
ATP-EMTP berupa data kurva tegangan dan arus
400
impuls terhadap nilai waktunya.
Tegangan (Volt)

300

4.1. Hasil Pengukuran dan Perhitungan Resistansi 200

Pembumian Batang Tunggal dengan 100

Menggunakan Sumber DC. 0


0.000131

0.000146

0.000161

0.000176

0.000191

0.000206

0.000221

0.000236

0.000251

0.000266

-100
Hasil pengukuran nilai resistansi pembumian batang Waktu (detik)

tunggal ini diperoleh dengan menggunakan metode fall Tegangan setelah injeksi Arus setelah injeksi

of potensial dan alat ukur yang digunakan adalah earth


Gambar 13. Tegangan impuls dengan injeksi ke elektroda
pembumian

Jurnal ELKHA Vol.2, No.2, Juli 2010


38

Impedansi pembumian diperoleh dari (Vmax/Imax) impuls yang paling besar yaitu pada kedalaman
respon impuls Injeksi. elektroda batang pembumian 6 m. rata-rata persentase
Kedalaman Impedansi ( Ω ) Impedansi ( Ω ) perbedaan resistansi pembumian dengan impedansi
(m) Pada Waktu Muka Pada Waktu Muka pembumiannya sebagai berikut:
4,0 µs 3,0 µs
n
2 57,18 52,58 ∑X
i =1
i

3 37,63 37,95 x=
n
4 33,12 33,20 4 ,53 + 7 ,51 + 8,94 + 9 ,31 + 9 ,57
5 27,11 27,33 x=
5
6 23,01 23,10 x = 8, 0 %
Impedansi Pembumian Maksimum (Vt/It) Dengan
Perbedaan rata-rata yang diperoleh sebesar 8,0 %,
Waktu Muka Impuls Injeksi 4,0 mikro detik.
merupakan perbedaan yang sangat signifikan. Karena
Kedalaman Impuls Impuls Impuls Impuls
dari sini dapat diketahui bahwa pengukuran tahanan
Elektroda Injeksi Injeksi Injeksi Injeksi pembumian dengan sumber impuls frekuensi tinggi hasil
(m) 1390V 1490V 1590V 1630V yang diperoleh sangat berbeda dengan pengukuran
2 1149,53 1174,02 1146,57 1168,65 menggunakan sumber DC.
3 860,32 873,19 854,82 931,89 Kurva Impedansi [Vmax/Imax] dan Resistansi Pentanahan Batang Tunggal

4 776,54 760,08 804,40 798,77 60

5 712,56 708,31 805,71 689,33 55

Impedansi (Vmax/Imax)&Resistansi
6 683,32 693,02 704,57 685,04 50

45

Respon Tegangan dan Arus Impuls Setelah diinjeksi ke 40

elektroda batang pembumian dengan waktu muka 35

4,0 µs 30

Kurva Tegangan dan Arus Impuls Setelah di Injeksi ke Elektroda Batang Pentanahan 25

20
600 2 3 4 5 6
Kedalaman Elektroda (m)
500 Impedansi Pentanahan Dengan Waktu Muka Impuls Injeksi 4,0 mikro detik
Resistansi Pentanahan Hasil Pengukuran Dengan Sumber DC
400 Impedansi Pentanahan Dengan Waktu Muka Impuls Injeksi 3,0 mikro detik

300 Gambar 16. Kurva impedansi dan resistansi pembumian


T egangan ( Volt)

200 batang tunggal


100

0 5. Kesimpulan
-100

-200 Dari hasil penelitian dan analisa yang telah dilakukan,


-300 maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan
Waktu (detik)
antara lain:
Arus setelah injeksi Tegangan setelah injeksi

1. Impedansi pembumian batang tunggal yang diukur


Gambar 14. Tegangan dan arus impuls setelah diinjeksi Ke
dengan sumber impuls memiliki nilai yang lebih
elektroda pembumian dengan waktu
muka 4,0 µs
besar dibandingkan dengan resistansi yang diukur
dengan sumber DC, hal ini karena pengukuran
Tegangan Impuls Hasil Pengujian di Lapangan dan impedansi memperhitungkan komponen R,L dan C
Hasil Simulasi Pemodelan dengan Menggunakan pembumian.
Program ATP-EMTP. 2. Rata-rata persentase perbedaan antara pengukuran
Impuls Pengujian dan Simulasi Dengan Waktu Muka 4,0 mikro detik
Pada Kedalaman Elektroda 2 meter resistansi pembumian dengan menggunakan sumber
1600

1400
DC dan pengukuran impedansi pembumian dengan
1200 menggunakan sumber impuls sebesar 8,0 %.
1000
3. Perubahan waktu muka impuls injeksi dari 4,0 µs
Tegangan (Volt)

800

600 menjadi 3,0 µs mengakibatkan perubahan nilai


400

200
impedansi (Zt) yang semakin besar, hal ini karena
0 pada waktu muka impuls injeksi 3,0 µs terjadi
-200

-400
ripple yang besar dibandingkan pada saat waktu
Waktu (detik)
Impuls Pengujian Sebelum Injeksi Impuls Simulasi Sebelum Injeksi
muka impuls injeksi 4,0 µs sehingga menyebabkan
Impuls Pengujian Setelah Injeksi Impuls Simulasi Setelah Injeksi
kenaikan magnitude tegangan impuls yang sangat
signifikan. Ripple yang terjadi merupakan tanggapan
Gambar 15. Tegangan Impuls hasil pengujian dan pemodelan peralatan ukur impuls yaitu resistif voltage devider
Persentase perbedaan antara resistansi pembumian terhadap pengaruh injeksi frekuensi tinggi.
hasil pengukuran dengan sumber DC dan impedansi 4. Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan
pentanahan (Vmax/Imax) hasil pengukuran dengan sumber sumber DC dan perhitungan pada variasi kedalaman

Jurnal ELKHA Vol.2, No.2, Juli 2010


39

elektroda batang pembumian 2 m sampai 6 m, maka Referensi


terjadi penurunan nilai resistansi pembumian rata-
[1] Arismunandar, A. 1984. high voltage technique. prad
rata sebesar 4,7 Ω untuk setiap penambahan 1 m paramita. Jakarta.
kedalaman elektroda batang pembumian.
5. Penambahan kedalaman elektroda pembumian [2] National Standard Agency. 2000. Electricity Installation
General Rules sni. 04-0225.2000. Foundation PUIL.
menyebabkan nilai impedansi pembumian semakin
jakarta.
kecil. Kedalaman elektroda mulai dari 2 m sampai 6
m menyebabkan penurunan impedansi pembumian [3] Irianto, Tri haryono, 2002. Electrode Obstacle
rata-rata sebesar 5,25 Ω untuk setiap penambahan 1 Measurement Validation soil. Proceeding SNWTT V.
Yogyakarta.
m kedalaman elektroda pembumian.
6. Persentase perbedaan nilai tegangan antara hasil [4] Ketaren, Gamaliel. 2002. System long influence driven rod
pengujian dan hasil simulasi pemodelan sebesar towards impulse impedance. Proceeding SNWTT'02.
0,57%, sedangkan persentase perbedaan rata-rata [5] Kind, D. 1993. Technique messenger Eksperimental High
nilai arus maksimum antara hasil pengujian dan Voltage. Penerbit ITB Bandung.
simulasi sebesar 2,57%.
[6] Rajagukguk,M. 2002. Analysis Transien behavior
grounding system driven rod. Untan. Pontianak.
[7] The Substation Commite of The IEEE Power Engineering
Society. 1985.
Denunciated American National Standards IEEE Guide for
Safety in A.C Substation Grounding. IEEE standard board.
American National Standards Institute.
[8]. Pakpahan, P.M. 2002. Conductor Impedance grounding in
study Voltage More lightning consequence. snwt v.
yogyakarta.

Jurnal ELKHA Vol.2, No.2, Juli 2010


40

Jurnal ELKHA Vol.2, No.2, Juli 2010