Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

BATU EMPEDU
DENGAN TINDAKAN LAPAROTOMY CHOLE
Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan Profesi Ners
Departemen Surgical di Ruang OK RSPN

Disusun Oleh:
Hanifah Munajiyah
170070301111004

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
HALAMAN PENGESAHAN
BATU EMPEDU
DENGAN TINDAKAN LAPAROTOMY CHOLE
RUANG OK RS PANTI NIRMALA MALANG
Untuk memenuhi tugas Profesi Ners Departemen Surgikal Ruang OK RSPN Malang
Oleh :
HANIFAH MUNAJIYAH
NIM. 170070301111004

Telah diperiksa dan disetujui pada :


Hari :
Tanggal :

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan


RENCANA KEGIATAN MINGGUAN
(RKM)

Nama Mahasiswa : Hanifah Munajiyah Program :A


NIM : 170070301111004 Ruangan : OK RSPN
Kelompok :3B Minggu : ke - 4

A. Tujuan Instruksional Umum (TIU)


Setelah praktik di ruang OK RS Panti Nirmala selama enam hari (16 – 21 April
2018), mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan kasus
operasi (pre operasi intra operasi dan post operasi) Batu Empedu
B. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
1. Mampu melakukan pengkajian pre, intra, dan post op pada klien dengan Batu
Empedu
2. Mampu melakukan analisa data pre, intra, dan post op pada klien dengan Batu
Empedu
3. Mampu menetapkan diagnosa keperawatan pre, intra, dan post op pada klien
dengan Batu Empedu
4. Mampu menetapkan tujuan dan criteria hasil pre, intra, dan post op pada klien
dengan Batu Empedu
5. Mampu menetapkan intervensi sesuai dengan diagnose keperawatan
6. Mampu melakukan implementasi sesuai dengan intervensi
7. Mampu melakukan evaluasi dan dokumentasi pre, intra, dan post op pada klien
dengan Batu Empedu
C. Rencana Kegiatan
TIK Jenis Kegiatan Waktu Kriteria Hasil
1. Melakukan pengkajian pre, Hari ke- Data yang
intra, dan post op pada 1 dikumpulkan dapat
klien dengan Batu Empedu mewakili kondisi
klien yang
- Anamnesa sesungguhnya
- Pengkajian fisik
- Data penunjang
2. Menganalisa data dari hasil Hari ke- Data dianalisa
pengkajian 1 menjadi diagnose
keperawatan
3. Menetapkan diagnosa dan Hari ke- Diagnose sesuai
prioritasmasalah 1 dengan kondisi
keperawatan actual klien
4. Menetapkan tujuan dan Hari ke- Tujuan dan criteria
criteria hasil 1 hasil sesuai
dengan harapan
penyelesaian
masalah
keperawatn
5. Mencari literature untuk Hari ke- Literature mewakili
membuat intervensi 1 informasi
keperawatan
6. Melakukan implementasi Hari ke-
1. Membantu memberikan 1 – ke-6 1. Sesuai dengan
terapi cairan, medikasi dosis yang
IV, SC, IM ditentukan
2. Membantu menyiapkan 2. Persiapan operasi
klien untuk prosesdur sesuai dengan
operasi permintaan
3. Membantu 3. Operasi dilaksanakn
pelaksanaan prosedur dengan lancer tanpa
operasi komplikasi lebih
4. Mengobservasi lanjut
keadaan klien post op 4. Klien terbebas dari
di Recovery Room komplikasi lebih
lanjut
7. Melakukan evaluasi tiap Hari ke- Evaluasi dilakukan
tindakan yang dilakukan 1 – ke-6 secara terus
dan evaluasi proses secara menerus
keseluruhan

D. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan


1. Struktur
- Mahasiswa siap dengan toeri yang sesuai dengan kasus operasi Batu Empedu
- Mahasiswa melakukan persiapan sebelum praktik klinik
2. Proses
- Tindakan yang dilakukan sesuai teori dan prosedur
Mahasiswa
- Tindakan yang dilakukan tidak menimbulkan komplikasi lebih lanjut
- Semua tindakan yang dilakukan sesuai dengan target yang telah ditetapkan
3. Hasil
- Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan kasus
operasi Batu Empedu
- Mahasiswa mampu melakukan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah
disusun
- Mahasiswa mampu memberikan cairan, obat sesuai indikasi
- Mahasiswa mampu mempersiapkan klien untuk prosedur operasi insisi
- Mahasiswa mampu membantu pelaksanaan prosedur operasi insisi
- Mahasiswa mampu mengobservasi klien post operasi insisi

E. Rencana Tindak Lanjut


1. Mahasiswa harus banyak belajar tentang penanganan klien dengan kasus operasi
batu empedu
2. Mahasiswa harus lebih banyak belajar tentang teori dan pelaksanaan prosedur
operasi laparotomi pada kasus batu empedu

Mengetahui,
Pembimbing La

han R.
LAPORAN PENDAHULUAN
BATU EMPEDU
DENGAN TINDAKAN LAPAROTOMY CHOLE
Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan Profesi Ners
Departemen Surgical di Ruang OK RSPN

Disusun Oleh:
Hanifah Munajiyah
170070301111004

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018

A. Definisi
Empedu adalah sejenis organ tubuh yang berfungsi untuk melumatkan lemak
yang ada pada kolesterol. Ia terletak di bawah organ hati. Karena fungsinya itulah ia
sering disebut dengan kandung empedu. Organ kandung empedu inilah yang sering
kali mengonstruksi batu empedu. Batu empedu berbentuk lingkaran, oval, dan facet
ditemukan pada saluran empedu. Batu empedu mengandung kolesterol, kalium
bikarbonat, kalsium bilirubinat, atau gabungan elemen-elemen tersebut.
Batu empedu dikenal juga dengan sebutan Kolelitiasis. Kolelitiasis merupakan
adanya atau pembentukan batu empedu; batu ini mungkin terdapat dalam kandung
empedu (cholecystolithiasis) atau dalam ductus choledochus (choledocholithiasis).
Kolelitiasis (kalkuli/kalkulus, batu empedu) merupakan suatu keadaan dimana
terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesica fellea) yang memiliki
ukuran, bentuk dan komposisi yang bervariasi. Kolelitiasis lebih sering dijumpai pada
individu berusia diatas 40 tahun terutama pada wanita dikarenakan memiliki faktor
resiko,yaitu: obesitas, usia lanjut, diet tinggi lemak dan genetik.

Gambar Batu dalam kandung empedu.

B. Etiologi
Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko dibawah ini. Namun,
semakin banyak faktor resiko yang dimiliki seseorang, semakin besar kemungkinan
untuk terjadinya kolelitiasis. Faktor resiko tersebut antara lain:
1. Jenis Kelamin
Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena kolelitiasis dibandingkan
dengan pria. Ini dikarenakan oleh hormon esterogen berpengaruh terhadap
peningkatan eskresi kolesterol oleh kandung empedu. Kehamilan, yang
menigkatkan kadar esterogen juga meningkatkan resiko terkena kolelitiasis.
Penggunaan pil kontrasepsi dan terapi hormon (esterogen) dapat meningkatkan
kolesterol dalam kandung empedu dan penurunan aktivitas pengosongan
kandung empedu. Ia dapat pula disebabkan oleh pemakaian obat anti kolesterol.
Menggunakan obat antikolesterol tidak menyebabkan kolesterolnya menurun
drastis, tetapi malah kolesterol itu menghindar ke dalam empedu, sehingga
kolesterol empedunya terus meningkat. Penyebab munculnya batu empedu ini
diperkirakan penderita juga menderita kencing manis (diabetes mellitus).
Penderita kencing manis biasanya kadar lemak darahnya tinggi, yang mungkin
saja menumpuk pada empedu sehingga turut membuat batu empedu.
2. Usia
Resiko untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk terkena kolelitiasis
dibandingkan dengan orang degan usia yang lebih muda.
3. Berat badan (BMI)
Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi, mempunyai resiko lebih tinggi
untuk terjadi kolelitiasis. Ini karenakan dengan tingginya BMI maka kadar
kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi, dan juga mengurasi garam
empedu serta mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu.
4. Makanan
Intake rendah klorida, kehilangan berat badan yang cepat (seperti setelah
operasi gatrointestinal) mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari
empedu dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu.
5. Diet
Batu empedu ini juga diperkirakan bisa timbul karena diet (penurunan berat
badan) secara drastis. Penurunan yang dipaksakan ini akan mengakibatkan
metabolisme lemak dalam tubuh penderita semakin meningkat. Demikian pula
suatu kandung empedu bisa saja terinfeksi, karena dalam empedu sudah ada
batu saluran empedu. Infeksi bisa tersulut karena batu empedu sendiri, dan bisa
pula disebabkan oleh masuknya kuman tifus atau bakteri yang mengambuhkan
batu empedu. Menurut hasil penelitian, masuknya kuman tifus ke dalam kandung
empedu dapat menyebabkan terjadinya komplikasi yang menyebabkan penderita
amat menderita
6. Riwayat keluarga
Orang dengan riwayat keluarga kolelitiasis mempunyai resiko lebih besar
dibandingn dengan tanpa riwayat keluarga.
7. Aktifitas fisik
Kurangnya aktifitas fisik berhungan dengan peningkatan resiko terjadinya
kolelitiasis. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih sedikit
berkontraksi.
8. Penyakit usus halus
Penyakit yang dilaporkan berhubungan dengan kolelitiasis adalah crohn disease,
diabetes, anemia sel sabit, trauma, dan ileus paralitik.
9. Nutrisi intravena jangka lama
Nutrisi intravena jangka lama mengakibatkan kandung empedu tidak terstimulasi
untuk berkontraksi, karena tidak ada makanan/ nutrisi yang melewati intestinal.
Sehingga resiko untuk terbentuknya batu menjadi meningkat dalam kandung
empedu.
C. Patofisiologi
 Batu Kolesterol
Pembentukan batu Kolesterol melalui tiga fase:
a. Fase Supersaturasi
Kolesterol, phospolipid (lecithin) dan garam empedu adalah komponen
yang tak larut dalam air. Ketiga zat ini dalam perbandingan tertentu
membentuk micelle yang mudah larut. Di dalam kandung empedu ketiganya
dikonsentrasikan menjadi lima sampai tujuh kali lipat. Pelarutan kolesterol
tergantung dari rasio kolesterol terhadap lecithin dan garam empedu, dalam
keadaan normal antara 1 : 20 sampai 1 : 30. Pada keadaan supersaturasi
dimana kolesterol akan relatif tinggi rasio ini bisa mencapai 1 : 13. Pada rasio
seperti ini kolesterol akan mengendap.
Kadar kolesterol akan relatif tinggi pada keadaan sebagai berikut:
- Peradangan dinding kandung empedu, absorbsi air, garam empedu dan
lecithin jauh lebih banyak.
- Orang-orang gemuk dimana sekresi kolesterol lebih tinggi sehingga
terjadi supersaturasi.
- Diet tinggi kalori dan tinggi kolesterol (western diet).
- Pemakaian obat anti kolesterol sehingga mobilitas kolesterol jaringan
tinggi.
- Pool asam empedu dan sekresi asam empedu turun misalnya pada
gangguan ileum terminale akibat peradangan atau reseksi (gangguan
sirkulasi enterohepatik).
- Pemakaian tablet KB (estrogen) sekresi kolesterol meningkat dan kadar
chenodeoxycholat rendah, padahal chenodeoxycholat efeknya
melarutkan batu kolesterol dan menurunkan saturasi kolesterol.
Penelitian lain menyatakan bahwa tablet KB pengaruhnya hanya sampai
tiga tahun.
 Fase Pembentukan inti batu
Inti batu yang terjadi pada fase II bisa homogen atau heterogen. Inti
batu heterogen bisa berasal dari garam empedu, calcium bilirubinat atau sel-
sel yang lepas pada peradangan. Inti batu yang homogen berasal dari kristal
kolesterol sendiri yang menghadap karena perubahan rasio dengan asam
empedu.
 Fase Pertumbuhan batu menjadi besar
Untuk menjadi batu, inti batu yang sudah terbentuk harus cukup waktu
untuk bisa berkembang menjadi besar. Pada keadaan normal dimana
kontraksi kandung empedu cukup kuat dan sirkulasi empedu normal, inti batu
yang sudah terbentuk akan dipompa keluar ke dalam usus halus. Bila
konstruksi kandung empedu lemah, kristal kolesterol yang terjadi akibat
supersaturasi akan melekat pada inti batu tersebut. Hal ini mudah terjadi
pada penderita Diabetes Mellitus, kehamilan, pada pemberian total parental
nutrisi yang lama, setelah operasi trunkal vagotomi, karena pada keadaan
tersebut kontraksi kandung empedu kurang baik. Sekresi mucus yang
berlebihan dari mukosa kandung empedu akan mengikat kristal kolesterol
dan sukar dipompa keluar.
 Batu bilirubin/Batu pigmen
Batu bilirubin dibagi menjadi dua kelompok:
a. Batu Calcium bilirubinat (batu infeksi).
b. Batu pigmen murni (batu non infeksi).

Pembentukan batu bilirubin terdiri dari 2 fase:


a. Saturasi bilirubin
Pada keadaan non infeksi, saturasi bilirubin terjadi karena pemecahan eritrosit
yang berlebihan, misalnya pada malaria dan penyakit Sicklecell. Pada keadaan
infeksi saturasi bilirubin terjadi karena konversi konjugasi bilirubin menjadi
unkonjugasi yang sukar larut. Konversi terjadi karena adanya enzim b
glukuronidase yang dihasilkan oleh Escherichia Coli. Pada keadaan normal
cairan empedu mengandung glokaro 1,4 lakton yang menghambat kerja
glukuronidase.
b. Pembentukan inti batu
Pembentukan inti batu selain oleh garam-garam calcium dan sel bisa juga oleh
bakteri, bagian dari parasit dan telur cacing. Tatsuo Maki melaporkan bahwa 55
% batu pigmen dengan inti telur atau bagian badan dari cacing ascaris
lumbricoides. Sedangkan Tung dari Vietnam mendapatkan 70 % inti batu adalah
dari cacing tambang.

Batu empedu yang ditemukan pada kandung empedu di klasifikasikan berdasarkan


bahan pembentuknya sebagai batu kolesterol, batu pigment dan batu campuran. Lebih dari
90% batu empedu adalah kolesterol (batu yang mengandung > 50% kolesterol) atau batu
campuran (batu yang mengandung 20-50% kolesterol). Angka 10% sisanya adalah batu
jenis pigmen, yang mana mengandung < 20% kolesterol. Faktor yang mempengaruhi
pembentukan batu antara lain adalah keadaan statis kandung empedu, pengosongan
kandung empedu yang tidak sempurna dan konsentrasi kalsium dalam kandung empedu.
Batu kandung empedu merupakan gabungan material mirip batu yang terbentuk di
dalam kandung empedu. Pada keadaan normal, asam empedu, lesitin dan fosfolipid
membantu dalam menjaga solubilitas empedu. Bila empedu menjadi bersaturasi tinggi
(supersaturated) oleh substansi berpengaruh (kolesterol, kalsium, bilirubin), akan
berkristalisasi dan membentuk nidus untuk pembentukan batu. Kristal yang terbentuk
terbagi dalam kandung empedu, kemudian lama-kelamaan kristal tersebut bertambah
ukuran, beragregasi, melebur dan membetuk batu. Faktor mortilitas kandung
empedu, biliary stasis, dan kandungan empedu merupakan predisposisi pembentukan batu
empedu.

D. Gambaran klinik
Batu empedu mungkin tidak menimbulkan gejala selama berpuluh tahun. Memang
70% hingga 80% pasien tetap asimptomatik seumur hidupnya, sisanya
memperlihatkan gejala dengan kecepatan 1% hingga 3% per tahun. Penderita batu
kandung empedu baru memberi keluhan bila batu tersebut bermigrasi menyumbat
duktus sistikus atau duktus koledokus, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari
yang tanpa gejala (asimptomatik), ringan sampai berat karena adanya komplikasi.
Dijumpai nyeri di daerah hipokondrium kanan, yang kadang-kadang disertai
kolik bilier yang timbul menetap/konstan. Rasa nyeri kadang-kadang dijalarkan
sampai di daerah subkapula disertai nausea, vomitus dan dyspepsia, flatulen dan
lain-lain. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan hipokondrium kanan, dapat
teraba pembesaran kandung empedu dan tanda Murphy positif. Dapat juga timbul
ikterus. Ikterus dijumpai pada 20 % kasus, umumnya derajat ringan (bilirubin < 4,0
mg/dl). Apabila kadar bilirubin tinggi, perlu dipikirkan adanya batu di saluran empedu
ekstra hepatic.
Kolik bilier merupakan keluhan utama pada sebagian besar pasien. Nyeri viseral ini
berasal dari spasmetonik akibat obstruksi transient duktus sistikus oleh batu.
Dengan istilah kolik bilier tersirat pengertian bahwa mukosa kandung empedu tidak
memperlihatkan inflamasi akut.
Kolik bilier biasanya timbul malam hari atau dini hari, berlangsung lama antara 30 –
60 menit, menetap, dan nyeri terutama timbul di daerah epigastrium. Nyeri dapat
menjalar ke abdomen kanan, ke pundak, punggung, jarang ke abdomen kiri dan
dapat menyerupai angina pektoris. Kolik bilier harus dibedakan dengan gejala
dispepsia yang merupakan gejala umum pada banyak pasien dengan atau tanpa
kolelitiasis.
Diagnosis dan pengelolaan yang baik dan tepat dapat mencegah terjadinya
komplikasi yang berat. Komplikasi dari batu kandung empedu antara lain kolesistitis
akut, kolesistitis kronis, koledokolitiasis, pankreatitis, kolangitis, sirosis bilier
sekunder, ileus batu empedu, abses hepatik dan peritonitis karena perforasi kandung
empedu. Komplikasi tersebut akan mempersulit penanganannya dan dapat berakibat
fatal.
Sebagian besar (90 – 95 %) kasus kolesititis akut disertai kolelitiasis dan keadaan ini
timbul akibat obstruksi duktus sistikus yang menyebabkan peradangan organ
tersebut.
Pasien dengan kolesistitis kronik biasanya mempunyai kolelitiasis dan telah sering
mengalami serangan kolik bilier atau kolesistitis akut. Keadaan ini menyebabkan
penebalan dan fibrosis kandung empedu dan pada 15 % pasien disertai penyakit lain
seperti koledo kolitiasis, panleneatitis dan kolongitis.
Batu kandung empedu dapat migrasi masuk ke duktus koledokus melalui duktus
sistikus (koledokolitiasis sekunder) atau batu empedu dapat juga terbentuk di dalam
saluran empedu (koledokolitiasis primer). Perjalanan penyakit koledokolitiasis sangat
bervariasi dan sulit diramalkan yaitu mulai dari tanpa gejala sampai dengan
timbulnya ikterus obstruktif yang nyata.
Batu saluran empedu (BSE) kecil dapat masuk ke duodenum spontan tanpa
menimbulkan gejala atau menyebabkan obstruksi temporer di ampula vateri
sehingga timbul pankreatitis akut dan lalu masuk ke duodenum (gallstone
pancreatitis). BSE yang tidak keluar spontan akan tetap berada dalam saluran
empedu dan dapat membesar. Gambaran klinis koledokolitiasis didominasi
penyulitnya seperti ikterus obstruktif, kolangitis dan pankreatitis.

E. Pemeriksaan diagnostic
 Pemeriksaan laboratorium mencakup pemeriksaan darah lengkap, massa
protrombin, bilirubin serum, amylase serum, kultur darah, SGOT, dan SGPT
 Pemeriksaan ultrasonografi (USG) atau radiologi abdomen
 Skintigrafi kandung empedu
 Pemeriksaan koleksistogram (hanya untuk kolesistitis saja)
 Pemeriksaan radiologi dada (untuk mengetahui pneumonitis)

F. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin muncul
 Ikterik pada sclera dan kulit (jaundice)
 Dehidrasi
 Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
 Kecenderungan pendarahan (karena defisiensi vitamin K)
 Peritonitis umum bila terjadi rupture
 Gangren atau empiema kandung empedu
 Perforasi kandung empedu
 Fistula dan abses hati
 Kolesistitis kronik

G. Penatalaksanaan
Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeri
yang hilang-timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau
mengurangi makanan berlemak. Pilihan penatalaksanaak antara lain:
a) Kolesistektomi terbuka
Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien denga
kolelitiasis simtomatik. Komplikasi yang paling bermakna yang dapat terjadi
adalah cedera duktus biliaris yang terjadi pada 0,2% pasien. Angka mortalitas
yang dilaporkan untuk prosedur ini kurang dari 0,5%. Indikasi yang paling umum
untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut.
b) Kolesistektomi laparaskopi
Indikasi awal hanya pasien dengan kolelitiasis simtomatik tanpa adanya
kolesistitis akut. Karena semakin bertambahnya pengalaman, banyak ahli bedah
mulai melakukan prosedur ini pada pasien dengan kolesistitis akut dan pasien
dengan batu duktus koledokus. Secara teoritis keuntungan tindakan ini
dibandingkan prosedur konvensional adalah dapat mengurangi perawatan di
rumah sakit dan biaya yang dikeluarkan, pasien dapat cepat kembali bekerja,
nyeri menurun dan perbaikan kosmetik. Masalah yang belum terpecahkan
adalah kemanan dari prosedur ini, berhubungan dengan insiden komplikasi 6r
seperti cedera duktus biliaris yang mungkin dapat terjadi lebih sering selama
kolesistektomi laparaskopi.

Gambar 8: Tindakan kolesistektomi

c) Disolusi medis
Masalah umum yang mengganggu semua zat yang pernah digunakan adalah
angka kekambuhan yang tinggi dan biaya yang dikeluarkan. Zat disolusi hanya
memperlihatkan manfaatnya untuk batu empedu jenis kolesterol. Penelitian
prospektif acak dari asam xenodeoksikolat telah mengindikasikan bahwa disolusi
dan hilangnnya batu secara lengkap terjadi sekitar 15%. Jika obat ini dihentikan,
kekambuhan batu tejadi pada 50% pasien.
d) Disolusi kontak
Meskipun pengalaman masih terbatas, infus pelarut kolesterol yang poten (metil-
ter-butil-eter (MTBE)) ke dalam kandung empedu melalui kateter yang diletakkan
per kutan telah terlihat efektif dalam melarutkan batu empedu pada pasien-
pasien tertentu. Prosedur ini invasif dan kerugian utamanya adalah angka
kekambuhan yang tinggi (50% dalam 5 tahun).
e) Litotripsi Gelombang Elektrosyok (ESWL)
Sangat populer digunakan beberapa tahun yang lalu, analisis biaya-manfaat pad
saat ini memperlihatkan bahwa prosedur ini hanya terbatas pada pasien yang
telah benar-benar dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini.
f) Kolesistotomi
Kolesistotomi yang dapat dilakukan dengan anestesia lokal bahkan di samping
tempat tidur pasien terus berlanjut sebagai prosedur yang bermanfaat, terutama
untuk pasien yang sakitnya kritis.
g) Penatalaksanaan diet
Pada kasus kolelitiasis jumlah kolesterol dalam empedu ditentukan oleh jumlah
lemak yang dimakan karena sel-sel hepatik mensintesis kolesterol dari
metabolisme lemak, sehingga klien dianjurkan/dibatasi dengan makanan cair
rendah lemak. Menghindari kolesterol yang tinggi terutama yang berasal dari
lemak hewani. Suplemen bubuk tinggi protein dan karbohidrat dapat diaduk ke
dalam susu skim dan adapun makanan tambahan seperti: buah yang dimasak,
nasi ketela, daging tanpa lemak, sayuran yang tidak membentuk gas, roti,
kopi/teh.
h) Pencegahan
Untuk mencegah tidak munculnya penyakit batu empedu ini tentu saja perlu
dilakukan berbagai tindakan. Tindakan utama tentulah hal-hal yang
menyebabkan tidak munculnya penyakit itu. Bagi mereka yang beresiko tinggi
terkena penyakit batu emppedu diperlukan mengonsumsi makanan yang
mengandung lemak tak jenuh, dan mengutamakan makanan yang mempunyai
serat dan tidak lupa melakukan olahraga secara teratur setiap hari.
Disarankan malah agar terhindar dari penyakit batu empedu ini, agar calon
penderita tidak melupakan minum kopi. Minum kopi diperkirakan dapat
menurunkan resiko terkena batu empedu.

H. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


1. Data dasar pengkajian
i. Pengkajian
 Aktifitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan
Tanda : Gelisah
 Sirkulasi
Tanda : Takikardia, berkeringat
 Eliminasi
Gejala : Perubahan warna urine dan feses
Tanda : Distensi abdomen.
Teraba masa pada kuadran kanan atas.
Urine gelap, pekat.
Feses waran tanah liat,steatorea.
 Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia, mual/muntah.
Tidak toleraran terhadap lemak dan makanan “pembentukan gas”
regurgitasi berulang, nyeri epigastrium, tidak dapat makan, latus,
dispepsia.
Bertahak.
Tanda : Kegemukan, adanya penurunan berat badan.
 Nyeri/Kenyamanan
Gejala :Nyeri abdomen atas berat, dapat menyebar kepunggung atau bahu
kanan.
Kolik epigastrium tengah sehubungan dengan makan.
Nyeri mulai tiba-tiba dan biasanya memuncak dalam 30 menit.
Tanda :Nyeri lepas, otot tegang atau kaku biala kuadran kanan atas ditekan;
tanda murphy positif.
 Pernapasan
Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan.
Pernapasan tertekan ditandai oleh napas pendek, dangakal.

 Keamanan
Tanda : Demam, menggigil.
Ikterik, dengan kulit berkeringat dan gtal (Pruiritus).
Kecenderungan perdarahan (kekurangan vitamin K).
 Penyuluhan/Pembelejaran
Gejala : Kecenderungan keluarga untuk terjadi batu empedu.
Adanya kehamilan/melahirkan; riwayat DM, penyakit inflamasi usus,
diskrasias darah.
Pertimbangan : DRG menunjukan rerata lama dirawat: 3,4 hari.
Rencana pemulangan: Memerlukan dukungan dalam perubahan diet/penurunan
berat badan.
 Pemeriksaan Diagnostik
Darah lengkap: Leukositosis sedang (akut).
Bilirubin dan amilase serum: Meningkat.
Enzim hati serum-AST (SGOT): ALT (SGPT); LDH; agak meningkat alkaline fosfat
dan 5-nukletiase; Di tandai obstruksi bilier.
Kadar protrombin: Menurun bila obstruksi aliran empedu dalam usus menurunkan
absorbsi vitamin K.
Ultrasound: Menyatakan kalkuli, dan distensi kandung empedu dan/atau ductus
empedu (sering merupakan prosedur diagnostik awal).
Kolangeopankreatografi retrograd endeskopik: Memperlihatkan percabangan bilier
dengan kanualasi duktus koledukus melalui deudenum.
Kolangiografi transhepatik perkutaneus: Pembedaan gambaran dengan flouroskopi
anatara penyakit kantung empedu dan kanker pankreas ( bila ekterik ada ).
Kolesistogram (untuk kolositisis kronis): Menyatakan batu pada sistem empedu.
Catatan: kontraindikasi pada kolesititis karena pasien terlalu lemah untuk menelan
zat lewat mulut.
Skan CT: Dapat menyatakan kista kandung empedu, dilatasi duktus empedu, dan
membedakan anatara ikterik obstruksi/non obstruksi.
Skan hati (dengan zat radioaktif): Menunjukan obstruksi percabangan bilier.
Foto abdomen (multiposisi): Menyatakan gambaran radiologi (kalsifikasi) batu
empedu, kalsifikasi dinding atau pembesaran kandung empedu.
Foto dada: Menunjukan pernapasan yang menyebapkan penyebaran nyeri.

2. Penyimpangan KDM

3. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan dari ASKEP kolelitiasis, diantaranya:
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis: obstruksi/spasme duktus,
proses inflamasi, iskemia jaringan/nekrosis.
2. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan penghisapan gaster
berlebihan, muntah, distensi, dan hipermotilitas gaster; pembatasan masukan secara
medic; gangguan proses pembekuan.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah,
dyspepsia, nyeri, gangguan pencernaan lemak sehubungan dengan obstruksi aliran
empedu.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak
mengenal sumber informasi.

4. Intervensi keperawatan
 Dx 1: Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis: obstruksi/spasme
duktus, proses inflamasi, iskemia jaringan/nekrosis.
Hasil yang diharapkan:
- Pasien akan melapor bahwa nyeri akan hilang.
- Pasien akan menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi dan aktifitas
hiburan sesuai indikasi ubtuk situasi individual.
Intervensi Keperawatan:
 Observasi dan catet lokasi, beratnya (skala 0-10) dan karakter nyeri
(menetap,hilang timbul,kolik).
 Cataet respon terhadap obat, dan laporkan pada dokter bial nyeri hilang.
 Tingkatkan tirah baring, biarkan pasien melakukan posisi yang nyaman.
 Gunakan sprei halus/katun; cairan kalamin; minyak mandi (Alpha keri); Kompres
dingin/lembab sesuai indikasi.
 Control suhu lingkungan.
 Dorong menggunakan tekhnik relaksasi, contoh bimbingan imajinasi, visualisasi,
latihan napas dalam.

 Dx 2: Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan penghisapan gaster


berlebihan, muntah, distensi, dan hipermotilitas gaster; pembatasan masukan
secara medic; gangguan proses pembekuan.
Hasil yang diharapkan:
- Pasien akan menunjukkan keseimbangan cairan adekuat dibuktikan oleh tanda vital
stabil, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisien kapiler baik, secara
individu mengeluarkan urine cukup dan tak ada muntah.

Intervensi Keperawatan:
 Pertahankan masalah haluaran akurat, perhatikan haluaran kurang dari masukan,
peningkatan berat berat jenis urine. Kaji membram mukosa/kulit, nadi perifer dan
pengisian kapiler.
 Awasi tanda/gejala peningkatan berlanjutnya mual/muntah,kram abdomen,
kelemahan, kejang ringan, kecepatan jantung tak teratur, parestesia hipoaktif atau
takadanya bising usus, defresi pernafasan.

 Hindarkan dari lingkungan yang berbau


 Lakukan kebersihan oral dengan pencuci mulut; berikan minyak
 Gunakan jarum kecil untuk injeksi dan melakukan tekanan pada bekas suntikan
lebih lama dari biasanya.
 Kaji perdarahan yang tak biasanya,contoh perdarahan terus menerus pada sisi
injeksi, mimisan, perdarahan gusi,ekimosis,petikie, hematemesis /melena.

 Dx 3: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual


muntah, dyspepsia, nyeri, gangguan pencernaan lemak sehubungan dengan
obstruksi aliran empedu.
Hasil yang diharapkan:
- Pasien akan melaporkan mual muntah hilang.
- Pasien akan menunjukkan kemajuan mencapai berat badan atau
mempertahankan berat badan individu yang tepat.
Intervensi Keperawatan:
 Kaji distensi abdomen, sering berdahak, berhati-hati, menolak bergerak.
 Perkirakan atau hitung pemasukan kalori. Jaga komentar tentang nafsu makan
sampai minimal.
 Timbang sesuai indikasi.
 Konsul tentang kesukaan/ketidaksukaan pasien, makanan yang menyebabkan
distres, dan jadwal makan yang disukai.

 Berikan suasana menyanangkan pada saat makan, hilangkan rangsangan berbau.


 Berikan kebersihan oral sebelum makan.
 Tawarkan minuman seduhan saat makan, bila toleran.

 Ambulasi dan tingkatkan aktivitas sesuai toleransi


LAPORAN PENDAHULUAN
LAPARATOMI
A. DEFINISI
Laparatomy merupakan prosedur pembedahan yang melibatkan suatu insisi pada dinding abdomen
hingga ke cavitas abdomen (Sjamsurihidayat dan Jong, 1997). Ditambahkan pula bahwa laparatomi
merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah
digestif dan obgyn. Adapun tindakan bedah digestif yang sering dilakukan dengan tenik insisi
laparatomi ini adalah herniotomi, gasterektomi, kolesistoduodenostomi, hepatorektomi,
splenoktomi, apendektomi, kolostomi, hemoroidektomi dfan fistuloktomi. Sedangkan tindakan
bedah obgyn yang sering dilakukan dengan tindakan laoparatomi adalah berbagai jenis operasi pada
uterus, operasi pada tuba fallopi, dan operasi ovarium, yang meliputi hissterektomi, baik
histerektomi total, radikal, eksenterasi pelvic, salpingooferektomi bilateral.

B. TUJUAN
Prosedur ini dapat direkomendasikan pada pasien yang mengalami nyeri abdomen yang tidak
diketahui penyebabnya atau pasien yang mengalami trauma abdomen. Laparatomy eksplorasi
digunakan untuk mengetahui sumber nyeri atau akibat trauma dan perbaikan bila diindikasikan.

C. INDIKASI
1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang terletak diantara
diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk (Ignativicus &
Workman, 2006). Dibedakan atas 2 jenis yaitu :
a. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) yang
disebabkan oleh : luka tusuk, luka tembak.
b. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritoneum) yang dapat
disebabkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (sit-
belt).
2. Peritonitis
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga abdomen, yang
diklasifikasikan atas primer, sekunder dan tersier. Peritonitis primer dapat disebabkan oleh
spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hepar kronis. Peritonitis sekunder
disebabkan oleh perforasi appendicitis, perforasi gaster dan penyakit ulkus duodenale, perforasi
kolon (paling sering kolon sigmoid), sementara proses pembedahan merupakan penyebab
peritonitis tersier.
3. Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi)
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi
usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma
dan perkembangannya lambat. Sebagian dasar dari obstruksi justru mengenai usus halus.
Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan
tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup. Penyebabnya dapat berupa
perlengketan (lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada
jaringan parut setelah pembedahan abdomen), Intusepsi (salah satu bagian dari usus
menyusup kedalam bagian lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus), Volvulus
(usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan demikian menimbulkan
penyumbatan dengan menutupnya gelungan usus yang terjadi amat distensi), hernia (protrusi
usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen), dan tumor (tumor
yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus menyebabkan
tekanan pada dinding usus).
4. Apendisitis mengacu pada radang apendiks
Suatu tambahan seperti kantong yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum.
Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh fases yang akhirnya
merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi.
5. Tumor abdomen
6. Pancreatitis (inflammation of the pancreas)
7. Abscesses (a localized area of infection)
8. Adhesions (bands of scar tissue that form after trauma or surgery)
9. Diverticulitis (inflammation of sac-like structures in the walls of the intestines)
10. Intestinal perforation
11. Ectopic pregnancy (pregnancy occurring outside of the uterus)
12. Foreign bodies (e.g., a bullet in a gunshot victim)
13. Internal bleeding

D. PENATALAKSANAAN/JENIS-JENIS TINDAKAN
Ada 4 cara insisi pembedahan yang dilakukan, antara lain (Yunichrist, 2008):
a. Midline incision
Metode insisi yang paling sering digunakan, karena sedikit perdarahan, eksplorasi dapat lebih
luas, cepat di buka dan di tutup, serta tidak memotong ligamen dan saraf. Namun demikian,
kerugian jenis insis ini adalah terjadinya hernia cikatrialis. Indikasinya pada eksplorasi gaster,
pankreas, hepar, dan lien serta di bawah umbilikus untuk eksplorasi ginekologis, rektosigmoid,
dan organ dalam pelvis.
b. Paramedian
yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5 cm). Terbagi atas 2 yaitu,
paramedian kanan dan kiri, dengan indikasi pada jenis operasi lambung, eksplorasi pankreas,
organ pelvis, usus bagian bagian bawah, serta plenoktomi. Paramedian insicion memiliki
keuntungan antara lain : merupakan bentuk insisi anatomis dan fisiologis, tidak memotong
ligamen dan saraf, dan insisi mudah diperluas ke arah atas dan bawah
c. Transverse upper abdomen incision
yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.

d. Transverse lower abdomen incision


yaitu; insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada
operasi appendectomy.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan rektum : adanya darah menunjukkan kelainan pada usus besar ; kuldosentesi,
kemungkinan adanya darah dalam lambung ; dan kateterisasi, adanya darah menunjukkan
adanya lesi pada saluran kencing.
2. Laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit dan analisis urine.
3. Radiologik : bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi.
4. IVP/sistogram : hanya dilakukan bila ada kecurigaan terhadap trauma saluran kencing.
5. Parasentesis perut : tindakan ini dilakukan pada trauma tumpul perut yang diragukan adanya
kelainan dalam rongga perut atau trauma tumpul perut yang disertai dengan trauma kepala yang
berat, dilakukan dengan menggunakan jarum pungsi no 18 atau 20 yang ditusukkan melalui
dinding perut didaerah kuadran bawah atau digaris tengah dibawah pusat dengan
menggosokkan buli-buli terlebih dahulu.
6. Lavase peritoneal : pungsi dan aspirasi/bilasan rongga perut dengan memasukkan cairan garam
fisiologis melalui kanula yang dimasukkan kedalam rongga peritonium.

F. PATHWAY
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kerusakan integritas jaringan sehubungan dengan adanya luka invasif

2. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa


nyeri di abdomen.
3. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka
operasi laparatomi.
4. Gangguan imobilisasi berhubungan dengan pergerakan terbatas dari
anggota tubuh.

H. INTERVENSI
1. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan adanya luka invasif

Tujuan: klien menunjukkan integritas kulit dalam keadaan normal.


Kriteria hasil: tidak adanya tanda-tanda kerusakan integritas kulit.
Intervensi :
1. Berikan perawatan luka operasi yang bersih. Rasional : mencegah
terjadinya infeksi yang dapat membuat terjadinya kerusakan integritas
kulit lebih lanjut.
2. Latih alih baring
Rasional : mencegah terjadinya dekubitus
3. Berikan sandaran atau tahanan yang lembut pada daerah- daerah yang
mungkin terjadi luka decubitus
4. Hindari terjadinya infeksi pada luka operasi yang dapat membuat
parahnya integritas kulit.
Rasional : adanya infeksi dapat membuat kerusakan integritas kulit leb
5. Pemberian antibiotik sistemik parah.
Rasional : pemberian antibiotik dapat membantu membasmi bakteri
sehingga infeksi kulit tidak meluas

2. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa


nyeri di abdomen.
Tujuan : memenuhi kebutuhan rasa nyaman pada klien.
Kriteria hasil: klien melaporkan nyeri abdomen berkurang
1. Gunakan analgetik
Rasional : mengurangi rasa nyeri akibat sayatan.
2. Ajarkan teknik relaksasi pada klien.
Rasional : untuk membantu mengalihkan nyeri yang dirasakan.
3. Berikan lingkungan yang nyaman
Rasional: agar pasien dapat beristirahat dengan baik.

3. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka


operasi laparatomi.
Tujuan : klien tidak terkena infeksi
Kriteria hasil: klien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
Intervensi :
1. Selalu cuci tangan setelah menyentuh klien atau benda-benda yang
kemungkinan terkontaminasi serta sebelum memberikan tindakan
kepada klien lain.
Rasional : mencegah infeksi silang antar pasien yang dapat
memperburuk keadaan pasien
2. Semua benda-benda yang terkontaminasi dibuang atau dimasukan ke
dalam tempat khusus dan diberi label sebelum dilakukan
dekontaminasi atau diproses ulang kembali : mencegah penyebaran
kuman
3. Pastikan luka sayatan dalam keadaan tertutup.
Rasional; mencegah terjadinya terpapar kuman dari luar.

4. Gangguan mobilisasi berhubungan dengan pergerakan terbatas dari


anggota tubuh.
Tujuan: klien dapat melakukan aktivitas dengan normal.
Kriteria hasil; klien dapat berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang biasa
dilakukan secara mandiri.
Intervensi:
1. Bantu klien untuk melakukan aktivitas yang biasa di lakukan
Rasional; membantu memenuhi kebutuhan yang biasa di lakukan
secara mandiri.
2. Lakukan ROM pada anggota tubuh yang lain
Rasional: mencegah terjadinya kelemahan otot akibat pergerakan
terbatas.

I. GAMBAR
Daftar Pustaka

1. Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Ed.31. EGC : Jakarta.


2. Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
3. Nasrul Effendi, 1995, Pengantar Proses Keperawatan, EGC, Jakarta.
4. Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 Vol.3. EGC :
Jakarta