Anda di halaman 1dari 28

TINJAUAN PUSTAKA KIMIA KLINIK

ASPEK KLINIS DAN LABORATORIS DISLIPIDEMIA


Erna Romauli / Djoko Marsudi

Dislipidemia adalah suatu keadaan dimana terdapat peningkatan kadar


kolesterol dan/atau, peningkatan kadar trigliserida, atau penurunan kadar High
Density Lipoprotein (HDL) dalam darah. Prevalensi dislipidemia bervariasi tiap
etnis, lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan.
Dislipidemia berdasarkan penyebab dibedakan menjadi dislipidemia
primer dan dislipidemia sekunder. Dislipidemia primer, akibat kelainan genetik
dan dibagi menurut klasifikasi Fredrickson menjadi dislipidemia primer Tipe I
sampai tipe V. Dislipidemia sekunder, akibat kondisi atau penyakit seperti
obesitas, intake alkohol, diabetes mellitus, hipotiroidisme, sindroma nefrotik,
gagal ginjal kronik dan kolestasis.
Lipid utama di plasma antara lain asam lemak, trigliserida, kolesterol dan
fosfolipid. Lipoprotein adalah agen pembawa lipid selain asam lemak bebas.
Apolipoprotein adalah komponen protein pada lipoprotein. Metabolisme
lipoprotein dibagi menjadi: 1) jalur absorpsi lipid; 2) jalur eksogen (intestinal); 3)
jalur endogen (hepatik); dan 4) jalur transport kolesterol reverse.
Gejala klinis dislipidemia bisa asimptomatik, gejala penumpukan lipid di
jaringan subkutan seperti xanthelasma, tendinous xanthoma, tuberous xanthoma,
planar xanthoma, eruptive xanthoma, palmar xanthoma, lipemia retinalis, hingga
terjadi suatu aterosklerosis vaskuler. Pemeriksaan kadar lipid dan lipoprotein yang
ditujukan untuk menentukan besarnya risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler
dapat berupa pemeriksaan profil lipid rutin (kolesterol total, trigliserida, kolesterol
LDL dan HDL) dan Lp(a).
Terapi dislipidemia terutama adalah pengaturan pola hidup dan makanan.
Terapi farmakologis diberikan bila terapi konvensional tidak berhasil. Regimen
terapi untuk hiperkolesterolemia adalah statin, bile acid sequestrant, ezetimibe,
dan fibrate. Regimen terapi untuk hipertrigliseridemia adalah fibrat, derivat asam
nikotinik dan minyak ikan.
TINJAUAN PUSTAKA KIMIA KLINIK

ASPEK KLINIS DAN LABORATORIS


DISLIPIDEMIA

Oleh
Erna Romauli Tobing, dr

Pembimbing
Djoko Marsudi,MS., dr.,Sp.PK

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I


INSTALASI PATOLOGI KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA – RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA
2015
I. PENDAHULUAN
Dislipidemia adalah suatu keadaan dimana terdapat peningkatan kadar
kolesterol dan/atau, peningkatan kadar trigliserida, atau penurunan kadar High
Density Lipoprotein (HDL) dalam darah.1 Studi di Cina memberikan hasil
prevalensi dislipidemia sebesar 52,72% populasi studi, bervariasi tiap etnis, lebih
tinggi pada laki-laki (56,4%) daripada perempuan (49,3%).2 Diagnosis
dislipidemia di fasilitas kesehatan primer di Jerman menurut suatu studi sebesar
76% populasi studi dengan proporsi 48,8% laki-laki dan 39,9% perempuan.3
Dislipidemia sebelumnya dikenal dengan istilah hiperlipidemia, kemudian
pada tahun 1967 Fredrickson et al, merubahnya menjadi hiperlipoproteinemia
setelah menemukan lipoprotein. Istilah hiperlipoproteinemia ternyata tidak bisa
mendeskripsikan secara keseluruhan berbagai gambaran klinis akibat kelainan
metabolisme lipoprotein dan selanjutnya muncul istilah dislipoproteinemia.
Dislipoproteinemia didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terdapat
peningkatan atau penurunan kadar lipoprotein yang menyebabkan terjadinya suatu
penyakit tertentu. Istilah dislipidemia saat ini lebih sering dipakai secara luas yang
pada dasarnya secara teknis sama dengan dislipoproteinemia.4
Dislipidemia dibedakan berdasarkan penyebabnya menjadi dislipidemia
primer dan dislipidemia sekunder. Dislipidemia primer adalah dislipidemia yang
terjadi akibat kelainan genetik. WHO menggunakan klasifikasi Fredrickson untuk
membagi dislipidemia primer menjadi tipe I sampai tipe V. Dislipidemia
sekunder adalah dislipidemia yang terjadi akibat kondisi atau penyakit seperti
obesitas, intake alkohol, diabetes mellitus, hipotiroidisme, sindroma nefrotik,
gagal ginjal kronik dan kolestasis.5
Dislipidemia merupakan salah satu faktor risiko aterosklerosis yang
menjadi dasar terjadinya penyakit kardiovaskuler.6 Deteksi dini dan penanganan
dislipidemia untuk menurunkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida,
meningkatkan kadar HDL dapat membantu mencegah atau memperlambat
terjadinya aterosklerosis.
Tinjauan pustaka ini membahas tentang aspek klinis dan laboratoris
dislipidemia.

1
II. LIPID, LIPOPROTEIN DAN APOLIPOPROTEIN
Lipid utama di plasma antara lain asam lemak, trigliserida, kolesterol dan
fosfolipid. Substansi lipid lainnya seperti hormon steroid dan vitamin larut lemak
juga ada di plasma dalam kadar yang rendah.5
Trigliserida adalah lipid yang terdiri dari gliserol ester dengan tiga rantai
panjang asam lemak. Trigliserida terdapat pada makanan mengandung lemak,
disintesis di liver dan disimpan di jaringan adiposa sebagai sumber energi.
Kolesterol merupakan komponen penting untuk membran sel, prekursor hormon
steroid dan asam empedu. Kolesterol terdapat di makanan mengandung lemak,
dan disintesis oleh liver. Kolesterol diekskresikan melalui saluran empedu secara
langsung atau dikonversi menjadi garam empedu. Fosfolipid adalah substansi
mirip trigliserida tetapi salah satu residu asam lemaknya digantikan oleh fosfat
dan basa nitrogen.5
Lipid tidak larut dalam air sehingga membutuhkan agen pembawa untuk
dapat beredar di sirkulasi. Albumin adalah agen pembawa molekul asam lemak
bebas, sedangkan lipid lainnya dibawa oleh suatu kompleks makromolekul yang
disebut lipoprotein.5 Partikel lipoprotein umumnya berbentuk sferis, terdiri dari
bagian inti yang mengandung lipid non-polar ( trigliserida, kolesteril ester), dan
bagian permukaan yang mengandung lipid ampifatik polar (fosfolipid, kolesterol,
dan apolipoprotein (Gambar 1).5 Ikatan antara bagian inti (lipid) dan permukaan
(fosfolipid dan apolipoprotein) merupakan ikatan non kovalen berupa ikatan
hidrogen dan van der Waals. Ikatan ini lemah sehingga memungkinkan pertukaran
komposisi antar lipoprotein plasma.7

Gambar 1. Partikel lipoprotein dan komposisinya secara skematik.5

2
Lipoprotein dibagi menjadi 1)kilomikron; 2)very-low-density lipoprotein
(VLDL); 3)intermediate-density lipoprotein (IDL); 4)low-density lipoprotein
(LDL); 5)High-density lipoproteins (HDL); dan 6)Lipoprotein(a) [Lp(a)].
Komposisi lipoprotein secara fisik dan biokimia ditampilkan pada Tabel 1.7
Pemisahan lipoprotein dengan teknik elektroforesis pada pH 8.6
menghasilkan HDL yang bermigrasi bersama a-globulin, LDL dengan β-globulin,
VLDL dan Lp(a) berada diantara a dan β-globulin atau disebut area pre β-globulin
sedangkan kilomikron tetap berada di titik awal.7
Tabel 1. Jenis dan karakteristik lipoprotein.7
Variabel Kilomikron VLDL IDL LDL HDL Lp(a)
Density(g/ml) <0.95 0.95-1.006 1.006-1.019 1.019-1.063 1.063-1.210 1.040-1.130
mobilitas antara beta dan
elekroforesis origin Prebeta prebeta beta alfa prebeta
Berat molekul (Da) 0.4-30x109 5-10x106 3.9-4.8x106 2.75x106 1.8-3.6x105 2.9-3.7x106
Diameter (mm) >70 26-70 22-24 19-23 4-10 26-30
Rasio
lipid:lipoprotein 99:1 90:10 85:15 80:20 50:50 75:26-64:36
Lipid mayor trigliserida trigliserida kolesteril kolesteril ester,
eksogen endogen kolesteril ester ester fosfolipid fosfolipid
Protein mayor A-I B-100 B-100 B-100 A-I (a)
B-48 C-I E A-II B-100
C-I C-II
C-II C-III
C-III E

Lipoprotein(a) atau Lp(a) secara struktur mirip dengan LDL. Perbedaan


Lp(a) dan LDL adalah kandungan protein kaya karbohidrat [apo(a)] yang
berikatan dengan apo B-100 melalui ikatan disulfida pada Lp(a). Lp(a) mirip
dengan plasminogen dan memiliki panjang rantai polipeptida yang bervariasi.7
Apolipoprotein adalah komponen protein pada lipoprotein. Karakteristik
fisik dan fungsi utama apolipoprotein ditampilkan secara ringkas di Tabel 2. Apo
A-I adalah protein utama di HDL; Apo C-I,II,III dan E ada dibeberapa lipoprotein.
Apo B-100 merupakan protein utama di LDL. Apo B-48 merupakan protein
utama di kilomikron. Apo B-100 dan apoB-48 akan tetap terikat di lipoprotein dan
tidak akan mengalami pertukaran seperti apolipoprotein lainnya. Apolipoprotein
memiliki fungsi utama: 1) memodulasi aktivitas enzim yang bekerja di
lipoprotein; 2) mempertahankan intergritas kompleks lipoprotein; 3) memfasilitasi
uptake lipoprotein dengan berperan sebagai ligan pada reseptor spesifik di
permukaan sel. Apolipoprotein mengandung asam amino hidrofobik di satu sisi

3
dan bagian polar (asam amino bermuatan) di sisi lainnya. Komposisi ini
memungkinkan apolipoprotein untuk berikatan dengan lipid sekaligus kontak
dengan sirkulasi yang mengandung air.7
Tabel 2. Klasifikasi apolipoprotein beserta komposisi dan fungsinya.8

III. METABOLISME LIPOPROTEIN


Metabolisme lipoprotein dibagi menjadi 4 jalur (Gambar 2) yaitu: 1) jalur
absorpsi lipid; 2) jalur eksogen (intestinal); 3) jalur endogen (hepatik); dan 4) jalur
transport kolesterol reverse.8
Absorpsi lipid. Makanan mengandung lipid dipecah oleh enzim lipase
pankreas, dirubah menjadi lipid ampifatik. Trigliserida dirubah menjadi
monogliserida dan digliserida; kolesteril ester menjadi kolesterol bebas; dan
fosfolipid menjadi lisofosfolipid. Lipid ampifatik selanjutnya diikat oleh asam
empedu membentuk agregrat yang besar disebut micelles. Absorpsi lipid terjadi
ketika micelles kontak dengan mikrovili membran mukosa usus. Absorpsi
sebagian melalui proses transfer pasif dan beberapa diketahui difasilitasi oleh
transporter spesifik seperti NPCIL-1 yang membawa kolesterol. Asam lemak
bebas rantai pendek, dengan atom karbon ≤ 10, diserap secara langsung masuk ke
sirkulasi portal dan dibawa oleh albumin ke liver. Asam lemak bebas rantai
panjang seperti monogliserida, dan digliserida akan mengalami esterifikasi di

4
dalam sel usus menjadi trigliserida dan kolesteril ester, digabungkan dengan apo
B-48 membentuk kilomikron nascent.7

Gambar 2. Diagram metabolisme lipoprotein.8

Usus menyerap trigliserida dari makanan sebesar 90%, sedangkan


kolesterol hanya sekitar 50% dari 500 mg kolesterol setiap hari. Kelebihan
kolesterol dihambat absoprsinya oleh ATP binding cassete transporter G5 dan
G8 (ABCG5 dan ABCG8).8 Asam empedu direabsorpsi kembali oleh Intestinal
Bile Acid Transporter (IBAT) dan di recycle di liver.4
Jalur eksogen. Jalur eksogen (Gambar 3) meregulasi transportasi lipid
dari makanan yang diserap di usus, ke liver dan sel perifer. Jalur ini dimediasi
terutama oleh kilomikron.
Kilomikron nascent yang mengandung 90% trigliserida, dan apo B-48
dibentuk di retikulum endoplasmik enterosit.9 Selanjutnya kilomikron nascent
disekresi ke saluran limfa, dan masuk ke sirkulasi darah. Setelah masuk sirkulasi
darah, kilomikron mendapat tambahan apoE dan apoC dari HDL. ApoC-II akan
mengaktifkan lipoprotein lipase (LPL) di permukaan endotel pembuluh darah.
LPL akan menghidrolisis trigliserida di kilomikron menjadi asam lemak bebas.
Asam lemak yang dihasilkan berikatan dengan albumin, diambil oleh sel otot

5
sebagai sumber energi dan sel adiposa untuk disimpan. Molekul kilomikron yang
telah mengalami lipolisis ukurannya menjadi lebih kecil (kilomikron remnant),
sedangkan kelebihan fosfolipid dan apoA ditansfer kembali ke HDL. Kilomikron
remnant selanjutnya ditangkap oleh reseptor hepatik remnant, low density
lipoprotein receptor like protein (LRP) di liver. Trigliserida yang dibawa ke liver
mengalami oksidasi untuk keperluan biosintesis liver, di simpan dalam bentuk
butiran lipid intraseluler, atau di gabungkan dengan apo B-100 membentuk
molekul VLDL. VLDL disekresi kembali ke sirkulasi.7

Gambar 3. Metabolisme lipoprotein eksogen (intestinal) dan endogen


(hepatik). CM, chylomicron; TG, triglyceride; CE, cholesteryl ester; FC, free cholesterol; BA,
bile acids; MTP, microsomal triglyceride transport protein; LPL, lipoprotein lipase; FFA, free
fatty acid; CMR, CM remnant; IBAT, intestinal bile acid transporter; HMG-CoA,
hydroxymethylglutaryl-CoA; 7α-H, 7α-hydroxylase; ACAT, acyl cholesterol acyltransferase;
VLDL, very-low-density lipoprotein; IDL, intermediate-density lipoprotein; LRP, low density
lipoprotein reseptor like protein; LDLR, low density lipoprotein receptor; LDL, low-density
lipoprotein; HL, hepatic lipase; CD36, macrophage scavenger receptor-B; SR-A, scavenger
receptor A. 4

Jalur endogen. Fungsi utama jalur endogen (Gambar 3) adalah


meregulasi lipid dari liver terutama trigliserida ke sel perifer untuk metabolisme

6
energi. Jalur ini dimediasi oleh lipoprotein mengandung apoB-100. Lipid dari
liver antara lain 1) lipid yang disintesis oleh liver sendiri yaitu kolesterol, atau 2)
lipid dari makanan berupa trigliserida yang dibawa ke liver melalui jalur eksogen.
Liver mensintesis kolesterol bebas melalui kerja enzim HMG-CoA
reduktase. Kolesterol bebas kemudian 1) diekskresikan ke saluran empedu dengan
mediasi ABCG5/ABCG8; 2) dikonversi menjadi asam empedu oleh 7α-H; 3)
diesterisasi menjadi kolesteril ester oleh acyl cholesterol acyltransferase (ACAT).
Selanjutnya kolesteril ester berinteraksi dengan ApoB, digabungkan trigliserida
oleh microsomal trigliserida transport protein (MTP) membentuk VLDL.7
VLDL mengandung 55% trigliserida, apo B-100, apoE dan apoC. ApoC
di permukaan VLDL akan mengaktifkan LPL di sel endotel sehingga terjadi
hidrolisis trigliserida di VLDL menghasilkan asam lemak bebas yang kemudian
diambil oleh sel perifer. VLDL yang mengalami lipolisis trigliserida berubah
menjadi IDL. IDL sebagian ditangkap oleh low-Density-Lipoprotein Receptor
(LDLR) di liver melalui ikatan apoE, sisanya dikonversi menjadi LDL oleh
hepatic lipase (HL). LDL yang terbentuk selanjutnya ditangkap oleh LDLR. LDL
yang masih beredar di sirkulasi bisa ditangkap oleh reseptor scavenger CD36 dan
SR-A di makrofag dan disimpan sebagai depo kolesterol.7
Jalur transpor kolesterol reverse (Gambar 4). Fungsi jalur ini adalah
meregulasi kelebihan kolesterol dari sel perifer dan membawanya kembali ke liver
untuk dieksrekresikan. Proses ini dimediasi oleh HDL. Sebagian besar sel perifer
tidak dapat mengkatabolisme dan mengekskresikan kolesterol sehingga kolesterol
dapat menumpuk di dalam sel dan menyebabkan kerusakan sel karena sifatnya
yang toksik. HDL membantu menjaga kestabilan kolesterol dalam sel dengan cara
mengambil kolesterol tersebut.
HDL nancent dibentuk dari apo A-I yang disintesis di liver dan usus,
kolesterol bebas dan fosfolipid yang secara aktif dipompakan keluar sel perifer
atau liver melalui ATP Binding cassete transporter A1 (ABCA1). HDL nancent
berinteraksi dengan sel perifer untuk mengambil kelebihan kolesterol dari sel.
Kolesterol di HDL nancent akan diesterifikasi oleh LCAT dan apoA-II
menjadi kolesteril ester yang lebih hidrofobik, kemudian dimasukkan ke inti

7
HDL. Proses esterifikasi ini menyebabkan perubahan bentuk HDL nancent dari
bentuk cakram menjadi sferis.

Gambar 4. Jalur transportasi kolesterol reverse dan interaksinya dengan


jalur eksogen (intestinal) dan jalur endogen (hepatik). ApoA-I, apolipoprotein A-I;
ABCA1, ATP binding casette transporter A1; FC, Free cholesterol; PL, phospholipid; HDL,
high-density lioprotein; LCAT, lecithin cholesterol acyltransferase; CTEP, cholesterylester
transfer protein; CE, cholesteryl ester; FFA, free fatty acid, LDLR; LDL recerptor; SR-B1,
scavenger receptor clas B1; ABCG5/ABCG8, ATP binding cassete transporter G5 dan G8; BA,
bile acids; 7αH, 7α-Hydroxylase. 4

Penting juga untuk mengetahui regulasi kolesterol intrasel (Gambar 5)


karena patogenesis beberapa kelainan dislipidemia berkaitan dengan jalur ini.
Jalur regulasi kolesterol intrasel mencakup berbagai mekanisme dalam sel untuk
mempertahankan keseimbangan kolesterol. Sumber kolesterol sel dapat berasal
dari biosintesis sel dan uptake lipoprotein ekstraseluler oleh reseptor di
permukaan sel seperti reseptor LDL (Gambar 5).
Sintesis kolesterol endogen dimediasi oleh HMG-CoA reduktase.
Retikulum endoplasmik sel akan memproduksi reseptor, dan dibawa ke
permukaan membran sel untuk dimasukkan ke coated pit. Partikel LDL ditangkap

8
oleh LDLR di coated pit, selanjutnya berfusi menjadi endosome. Suasana asam di
endosome menyebabkan pelepasan molekul LDL dari reseptor. Reseptor akan
kembali ke permukaan sel, LDL dibawa ke lisosom untuk didegradasi. ApoB-100
akan didegradasi menjadi peptida kecil dan asam amino, kolesteril ester akan
dikonversi menjadi kolesterol bebas oleh lipase asam lisosom. Kolesterol bebas
dipakai oleh sel untuk pembentukan membran sel, disimpan di intrasel sebagai
butiran lemak setelah dire-esterifikasi oleh ACAT, atau diambil oleh HDL
nancent. Kelebihan kadar kolesterol di dalam sel menyebabkan 1) penurunan
sintesis kolesterol melalui penghambatan kerja HMG-CoA reduktase; 2)
meningkatnya penyimpanan kolesterol ester melalui kerja ACAT, dan 3)
hambatan sintesis reseptor LDL baru melalui supresi gen transkripsi reseptor
mRNA.7

Gambar 5. Jalur regulasi kolesterol intraseluler. LDL, low-density lipoprotein;


ACAT, acyl-CoA cholesterol acyltransferase; HMG-CoA reductase, 3-hydroxy-3-methylglutaryl
coenzyme A reductase.7

9
IV. KLASIFIKASI DISLIPIDEMIA
Dislipidemia diklasifikasikan berdasarkan penyebab menjadi 1)
Dislipidemia primer, dimana penyebabnya adalah kelainan genetik; dan 2)
Dislipidemia sekunder, dimana penyebabnya karena kondisi penyakit dasar.5
IV.1. Dislipidemia primer
Dislipidemia primer terjadi karena mutasi gen yang mengakibatkan 1)
meningkatnya produksi atau berkurangnya klirens trigliserida dan kolesterol; atau
2) berkurangnya produksi dan meningkatnya klirens HDL. Dislipidemia primer
merupakan penyebab utama dislipidemia pada anak, sedang pada dewasa
kasusnya jarang.10 Seseorang dicurigai menderita dislipidemia primer apabila
terdapat gejala klinis dislipidemia, mengalami aterosklerosis dini < 60 tahun,
terdapat riwayat keluarga yang menderita penyakit aterosklerosis, atau jika
didapatkan kolesterol serum >240 mg/dL.5
Fredrickson mengklasifikasikan dislipidemia primer berdasarkan pola
peningkatan lipid dan lipoprotein menjadi dislipidemia tipe I sampai V (tabel 3)
seperti dijelaskan berikut.10
Dislipidemia primer tipe I ditandai dengan peningkatan trigliserida dan
kilomikron. Kelainannya berupa:
a. Defisiensi LPL. Defisiensi LPL (kilomikronemia) adalah kelainan akibat
menurunnya sintesis LPL, sehingga terjadi penurunan klirens kilomikron.
Kelainan ini diturunkan secara autosomal resesif. Gambaran klinisnya berupa
gangguan perkembangan pada infant, eruptive xanthoma, lipemia retinalis,
hepatosplenomegali, dan pankreatitis. Kadar trigliserida darah biasanya sangat
tinggi mencapai 1000 mg/dL bahkan sampai >10.000 mg/dL.10
b. Defisiensi Apo C-II. Kelainan akibat mutasi gen penyandi apoC-II ini
menyebabkan gangguan fungsi LPL. Kelainan yang diturunkan secara
autosomal resesif ini sangat jarang dengan prevalensi >1: 1.000.000 populasi.
Gejala klinis yang timbul berupa pankreatitis pada anak dan dewasa muda,
disertai gejala yang berkaitan dengan sindrom metabolik. Kadar trigliserida
darah > 500 mg/dL.
Dislipidemia primer tipe II ditandai dengan peningkatan kolesterol LDL.

10
Kelainannya dapat berupa :
a. Hiperkolesterolemia poligenik. Kelainan genetik hiperkolesterolemia
poligenik belum diketahui pasti. Pola pewarisan sifat sangat bervariasi.
Kelainan ini lebih sering terjadi dibandingkan kelainan genetik lainnya,
dimana penyakit jantung koroner dini merupakan manifestasi klinis yang
utama. Kadar kolesterol total berkisar antara 250-350 mg/dL dan kolesterol
LDL > 130 mg/dl.10
b. Hiperkolesterolemia familial (HF). Hiperkolesterolemia familial terjadi
karena mutasi gen yang menyebabkan gangguan regulasi reseptor LDL
seperti sintesis, transport, ikatan ligan, proses masuknya ke coated pit, dan
gangguan recycle reseptor. Kelainan ini mengakibatkan gangguan uptake dan
katabolisme LDL sehingga kadar LDL plasma meningkat.4 HF ditandai
dengan peningkatan kadar kolesterol plasma yang muncul saat usia anak-anak
dan tidak terpengaruh oleh faktor lingkungan. Kelainan ini diturunkan secara
autosomal dominan, dimana sekitar 1/500 dalam bentuk heterozigot.
Diagnosis HF heterozigot berdasarkan adanya hiperkolesterolemia > 190
mg/dL disertai gejala klinis berupa tendinous xanthoma, dan peningkatan
risiko aterosklerosis. Penderita HF heterozigot dapat mengalami penyakit
jantung koroner (PJK) dua puluh tahun lebih cepat daripada populasi
umumnya, dan sebagian penderita meninggal sebelum usia 60 tahun jika tidak
diterapi. Kelainan HF homozigot terletak pada tidak adanya reseptor LDL
yang fungsional. Prevalensi bentuk homozigot sebesar 1/1.000.000 populasi
dengan gambaran klinis sama seperti bentuk heterozigot dengan onset
munculnya gejala lebih awal yaitu sekitar usia <18 tahun.10 Penderita HF
homozigot biasanya mengalami PJK di usia anak-anak dan jika tidak diterapi
jarang yang dapat bertahan hidup hingga dewasa.4
Dislipidemia primer tipe IIb ditandai dengan peningkatan trigliserida,
kolesterol LDL dan VLDL. Kelainnya adalah hiperlipidemia familial
kombinasi. Defek genetik hiperlipidemia familial kombinasi belum diketahui.
Prevalensi penyakit yang diturunkan secara autosomal dominan ini antara 1: 50
sampai 1: 100 populasi. Gejala klinisnya berupa kejadian PJK < 60 tahun, obesitas

11
dan resisten insulin, kadar HDL rendah, hiperurisemia, peningkatan kadar small
dense LDL dan apoB. Kadar total kolesterol berkisar 250-500 mg/dL, trigliserida
>300 mg/dL, dan kolesterol LDL >160 mg/dL.10
Tabel 3. Klasifikasi dislipidemia primer.10
Klasifikasi Abnormalitas Lipid
Penyakit (Frekuensi) Defek genetik Gejala klinis
Dislipidemia tersering
Tipe I, sindroma Defisiensi lipoprotein defek gen LPL - kadar TG 1000-
kilomikronemia. lipase Autosomal resesif >10.000 mg/dl eruptive
(Peningkatan Defisiensi ApoCII defek gen ApoCII - defek genetik xanthoma,
kadar TG dan (1:1.00.000) Autosomal resesif parsial pankreatitis
partikel kemungkinan kadar
kilomikron) hiperkolesterolemia defek genetik multipel- TG > 500
LDL-C mg/dL
> 130 mg/dl peningkatan
poligenik (1:20) diturunkan sesuai risiko ASCVD
abnormalitas genetik
Tipe Iia
Peningkatan
kadar kolesterol Hiperkolesterolemia LDL-c > 190 mg/dl peningkatan
LDL dan familial heterozigot risiko ASCVD
Disfungsi atau hilangnya
(1:500) dini, tendon
partikelnya reseptor LDL -
Hiperkolesterolemia LDL-C bisa> 350 xanthoma
Autosomal Dominan
familial homozigot mg/dl tapi
(1:1.000.000) umumnya 500-1000
Tipe Iib Kombinasi defek genetik multipel Peningkatan
Peningkatan Hiperlipidemia dari apolipoprotein risiko ASCVD
kadar TG, Familial (1:50 - 1:200) dan/atau gen LPL -
kolesterol LDL, Autosomal Dominan LDL-C > 160 mg/dl
VLDL dan TG >300 mg/dl
Tipe III Dislipoproteinemia Defek genetik gen palmar
LDL-C > 220 mg/dl
Peningkatan Familial (1:1000- ApoE- Autosomal xanthoma;
kadar TG, 1:5000) resesif; bentuk jarang peningkatan
kolesterol IDL Autosomal Dominan risiko ASCVD
dan
Tipe partikelnya
IV Hipertrigliserida defek genetik tidak TG > 150 mg/dl dini
asosiasi
Peningkatan TG, Familial (I:50-1:100) diketahui - Autosomal dengan
kolesterol VLDL Dominan peningkatan
dan partikelnya risiko ASCVD
tidak jelas
Tipe V hiperprebetalipoprote defek genetik tidak TG > 500 mg/dl eruptive
Peningkatan TG, inemia (sangat diketahui kemungkinan LDL-C > 130 mg/dl xanthoma,
Kilomikron dan jarang) adanya inhibitor LPL - pankreatitis,
Kolesterol VLDL pola pewarisan tidak peningkatan
dan partikelnya diketahui risiko ASCVD
ASCVD = Arterosklerosis cardiovascular disease; Apo = apolipoprotein; lDL = low density lipoprotein; LPL
= Lipoprotein lipase; LDL-C = LDL cholesterol; TG = trigliserida; VLDL = very-low-density lipoprotein

12
Dislipidemia primer tipe III dengan karakteristik peningkatan trigliserida
dan IDL, kelainannya adalah disbetalipoproteinemia familial (DF). DF terjadi
karena defek pada gen Apo E sehingga klirens kilomikron dan VLDL terganggu.
Kelainan ini diturunkan paling sering secara autosomal resesif dibandingkan
autosomal dominan. Prevalensi DF adalah 1: 1000 - 1:5000 populasi. Gejala klinis
DF antara lain palmar xanthoma, tuberoeruptive xanthoma di lutut dan siku, serta
peningkatan risiko kejadian PJK dini. Kadar total kolesterol berkisar antara 250–
500 mg/dL dan trigliserida >300 mg/dL.10
Dislipidemia primer tipe IV ditandai dengan peningkatan trigliserida dan
VLDL dimana kelainannya berupa hipertrigliseridemia familial. Kelainan
genetik hipertrigliseridemia familial belum diketahui pasti, kemungkinan defek
multipel. Kelainan yang diturunkan secara autosomal dominan ini prevalensinya
sekitar 1:50 sampai 1:100 populasi. Biasanya tidak ditemukan gejala yang khas,
hanya terdapat obesitas dan resistensi insulin, pankreatitis, HDL yang rendah, dan
hiperurisemia. Kadar trigliserida darah >150 mg/dL dan dapat meningkat karena
pola makan tinggi lemak, hormon estrogen, hipotiroid dan konsumsi alkohol.10
Dislipidemia primer tipe V yang ditandai dengan peningkatan trigliserida ,
kilomikron dan VLDL adalah berupa hiperprebetalipoproteinemia. Penyebab
pastinya belum diketahui, kemungkinan karena gangguan klirens VLDL. Kelainan
ini diturunkan secara autosomal dominan. Aktifitas LPL bisa menurun atau
normal sedangkan kadar apo CII normal. Gambaran klinisnya berupa eruptive
xanthoma, lipemia retinalis, pankreatitis dan gangguan toleransi glukosa. PJK
dapat terjadi pada hiperprebetalipoproteinemia tetapi tiak sesering pada HF.
Dislipidemia primer lainnya bisa berupa defek Apo B-100 familial,
hiperapobetalipoproteinemia, hipoalfalipoproteinemia.
Defek Apo B-100 Familial terjadi akibat mutasi gen penyandi Apo B
yang menyebabkan penurunan aviditas ikatan LDL terhadap reseptornya,
sehingga klirens LDL menurun. Angka kejadian kelainan autosomal dominan ini
adalah 1: 700 populasi. Gambaran klinisnya berupa xanthoma, xanthelasma, dan
kejadian PJK dini. Kadar total kolesterol berkisar 250-500 mg/dL.10

13
Hiperapobetalipoproteinemia ditandai dengan peningkatan kadar apoB-
100, sedang kadar LDL sedikit meningkat atau normal. Rasio kolesterol LDL
terhadap apoB-100 biasanya ≤1,2. Kadar kolesterol total dan trigliserida biasanya
normal tapi cenderung meningkat, kadar apoA-I dan HDL menurun. Kelainan ini
disebabkan oleh produksi berlebihan VLDL dan apoB-100 di liver. Pola
pewarisan sifat belum jelas.
Hipoalfalipoproteinemia ditandai dengan penurunan kadar HDL yang
bisa disebabkan oleh beberapa kelainan defek genetik. Hipoalfaproteinemia bisa
terjadi karena 1) mutasi atau delesi dari gen apoA-1; 2) defiensi LCAT; 3)
penyakit Tangier. Defisiensi LCAT dapat menyebabkan kornea berkabut karena
inflitrasi lipid, dan glomerulosklerosis karena produksi partikel lipoprotein
abnormal terperangkap di glomerulus. Penyakit Tangier diturunkan secara
autosomal resesif dengan gambaran klinis berupa tonsil hiperplasi berwarna
oranye, splenomegali, dan neuropati perifer. Penyakit Tangier disebabkan oleh
mutasi gen ABCA1. Fungsi ABCA1 adalah memicu kerja apoA-1, jika apoA-I
tidak terpakai untuk proses lipolisis maka apoA-1 akan diklirens di ginjal dan
liver.5
IV.2. Dislipidemia sekunder
Dislipidemia sekunder lebih sering terjadi pada orang dewasa. Faktor yang
mempengaruhi dislipidemia sekunder adalah pola makan tinggi lemak jenuh,
kolesterol dan asam lemak trans (TFA). Penyebab dislipidemia sekunder (tabel 4)
antara lain diabetes mellitus, konsumsi alkohol, gangguan ginjal kronis,
hipotiroid, sirosis bilier primer, kolestasis dan obat-obatan seperti thiazide, β-
blocker, retinoid, antiretroviral, estrogen, progestin, dan glukokortikoid.7,11
Tabel 5. Penyebab dislipidemia sekunder5

14
V. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis dislipidemia bisa asimptomatik, gejala penumpukan lipid di
jaringan subkutan hingga terjadi suatu aterosklerosis vaskuler. Kadar LDL yang
tinggi dapat menyebabkan xanthelasma (Gambar 6) di kelopak mata dan
tendinous xanthoma (Gambar 7) di siku, archiles, tendon lutut, diatas sendi
metacarpophalangeal, atau tuberous xanthoma (Gambar 8) di area yang sering
mendapat tekanan.

Gambar 6. Xanthelasma10

Gambar 7. Tendinous Xanthoma10

Gambar 8. Tuberous Xanthoma10

Pasien dengan hipertrigliseridemia bisa terdapat planar xanthoma


(Gambar 9) atau eruptive xanthoma (Gambar 10) di tubuh, punggung, siku,
pantat, lutut, tangan dan kaki. Gejala klinis familial disbetaliproteinemia bisa
terdapat palmar xanthoma (Gambar 11). Trigliseridemia > 2000 mg/dL dapat
menyebabkan lipemia retinalis (Gambar 12) dimana darah arteri dan vena retinal

15
berwarna putih seperti krim. Kadar triglisrida >1000 mg/dL bisa menyebabkan
pankreatitis akut.10 Penumpukan lipid dapat terjadi di arcus kornea (Gambar 13).

Gambar 9. Planar Xanthoma10

Gambar 10. Eruptive Xanthoma 10

Gambar 11. Palmar Xanthoma10

Gambar 12. Lipemia retinalis 10

16
Gambar 13. Arcus kornea 10
VI. PEMERIKSAAN LABORATORIUM DISLIPIDEMIA
Pemeriksaan kadar lipid dan lipoprotein pada dislipidemia terutama untuk
menentukan besarnya risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Pemeriksaan
rutin meliputi pengukuran kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol HDL,dan
LDL kolesterol. Pemeriksaan tambahan yang mungkin diperlukan adalah
lipoprotein(a).
VI.1 Pengukuran kadar kolesterol total
Metode yang sering dipakai adalah metode enzimatik. Prosedur
pemeriksaannya adalah 1) reagen dicampurkan dengan 3 -10 μl serum atau
plasma; 2) diinkubasi didalam suasana yang optimal sampai terbentuk warna; 3)
absorben diukur oleh fotometer dengan panjang gelombang sekitar 500 nm.
Reagen biasanya mengandung enzim choleteryl ester hydrolase yang memecah
kolesteril ester. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

Bagian 3-OH dari kolesterol kemudian dioksidasi menjadi keton dengan reaksi
yang membutuhkan oksigen dan dikatalisis oleh cholesterol oxidase.

H2O2 yang terbentuk direaksi dengan substansi kromogen, dikatalisis oleh


peroksidase menghasilkan warna. Warna yang terbentuk diukur absorben-nya.

17
Interferens metode enzimatik adalah adanya substansi lain yang berwarna
atau bahan yang mengganggu reaksi oksidasi seperti bilirubin, asam askorbat, dan
hemoglobin. Pemeriksaan dengan metode ini umumnya linier sampai kadar 600-
700 mg/dL. Untuk mengatasi interferens biasanya ditambahkan bilirubin oxidase
atau dengan pembacaan menggunakan dua panjang gelombang untuk mengatasi
efek dari hemolisis. Interferens bilirubin < 5 mg/dL dianggap tidak berpengaruh
secara signifikan.7 Kadar yang diharapkan untuk usia 2- 17 tahun, total kolesterol
<170 mg/dl, dan usia >18 tahun total kolesterol <200 mg/dl.12
VI.2 Pengukuran kadar trigliserida
Metode enzimatik biasa dipakai untuk pengukuran kadar trigliserida.
Tahapan reaksi (Gambar 14) adalah 1) hidrolisis trigliserida oleh enzim lipase
menjadi gliserol dan asam lemak; 2) Gliserol difosforilasi oleh enzim
gliserokinase melalui reaksi yang membutuhkan ATP; 3) gliserofosfat dioksidasi
menjadi dihidroksiaseton dan H2O2 oleh enzim gliserofosfat oksidase; 4) Reaksi
H2O2 dan substrat kromogen yang dikatalisir oleh enzim peroksidase akan
membentuk warna. Warna yang terbentuk diukur absorben-nya.

Gambar 14. Tahapan reaksi enzimatik pemeriksaan trigliserida.8


Gliserol bebas dalam darah dapat menyebabkan overestimasi kadar
trigliserida sekitar 10-20 mg/dL. Beberapa kondisi seperti diabetes, penyakit liver,
intake obat mengandung gliserol menyebabkan kadar gliserol bebas dalam darah
lebih tinggi daripada pada orang sehat. Metode untuk mengatasi interferens adalah
glycerol blanking. Metode ini mereaksikan dahulu gliserol bebas, yang diukur
sebagai “blanko” selanjutnya diperiksa kadar trigliserida dengan reaksi diatas.
Kadar trigliserida adalah hasil pengukuran reaksi akhir dikurangi dengan hasil
dari blanko.7,8 Kadar trigliserida yang diharapkan adalah <150 mg/dL.12
VI.3 Pengukuran kadar kolesterol HDL

18
Pengukuran HDL di plasma biasanya dikaitkan dengan kadar kolesterol
yang dikandung HDL. Prinsip pemeriksaan adalah menghilangkan lipoprotein
non-HDL dengan cara fisik lewat suatu proses presipitasi atau pengikatan antibodi
menyisakan HDL di bagian supernatan dan selanjutnya diperiksa total
kolesterolnya.
Metode presipitate dilakukan dengan mereaksikan lipoprotein non-HDL
seperti VLDL, IDL, Lp(a), LDL dan kilomikron dengan polianion seperti dextran
sulfate, heparin atau fosfotungstate. Polianion akan bereaksi dengan lipoprotein
kemudian reaksi dilanjutkan dengan pemberian kation divalent seperti
magnesium. Selanjutnya diinkubasi di suhu ruang selama 10-15 menit sampai
terbentuk presipitat. Presipitat yang terbentuk dipisahkan dengan cara disentrifus
dengan kecepatan 45000g atau 1500xg selama 30 menit. Selanjutnya, kolesterol
HDL diperiksa secara enzimatik. Saat ini terdapat reagen berisi kombinasi
polianion dan divalen kation seperti heparin sulfat-MgCl2, dekstran sulfat-MgCl2,
dan fosfotungstate-MgCl2.7
Metode pengikatan lainnya dilakukan menggunakan antibodi yang
dilekatkan dengan partikel magnetik. Antibodi akan berikatan dengan partikel non
HDL membentuk kompleks partikel magnetik, yang dipisahkan dengan
menggunakan magnet eksternal. Selanjutnya, HDL di supernatan diambil untuk
diperiksa secara enzimatik.7
Metode langsung atau homogen memungkinkan pemeriksaan HDL tanpa
proses pemisahan. Lipoprotein non-HDL akan diikat oleh antibodi spesifik,
polimer atau agen pengikat lainnya seperti cyclodextran. Lipoprotein yang terikat
tidak dapat bereaksi dengan reagen yang diberikan.7 Kadar HDL yang diharapkan
adalah ≥ 60 mg/dl. 12
VI.4 Pengukuran kadar kolesterol LDL
Pengukuran kolesterol LDL dapat dilakukan dengan metode indirek dan
metode direk.
Metode indirek. Kadar LDL didapatkan dari perhitungan menggunakan
formula Friedewald atau ß kuantifikasi. Kedua formula ini tidak
memperhitungkan kadar kolesterol di IDL dan Lp(a).

19
a. Formula Friedewald adalah :

Formula diatas menggunakan satuan mg/dL. Jika satuan yang dipakai adalah
mmol/L maka trigliserida dibagi 2,22. Faktor “trigliserida/5” merupakan
estimasi kadar kolesterol pada VLDL. Formula ini sebaiknya tidak dipakai
pada sampel dengan kadar trigliserida > 400 mg/dL, sampel mengandung
kilomikron tinggi, dan penderita disbetalipoproteinemia.7
b. ß kuantifikasi
Formula ini dipakai bila perhitungan dengan formula Friedewald tidak dapat
dilakukan seperti pada sampel dengan kadar trigliserida > 400 mg/dL, dan
penderita disbetalipoproteinemia. Metode persiapan sebelum perhitungan
dilakukan proses ultrasentrifugasi dan presipitasi dengan polianion.
Prosedurnya adalah 1) Sampel plasma EDTA [densitas (dl) = 1,006 g/ml]
disentrifus dengan kecepatan 105,000 xg selama 18 jam di suhu 10˚C hingga
terpisah bagian supernatan berisi VLDL, kilomikron dan ß-VLDL sedangkan
bagian infranatan berisi lipoprotein dengan densitas > 1,006 g/ml seperti
LDL, HDL, IDL dan Lp(a); 2) Bagian supernatan dibuang sedang bagian
infranatan di campur kembali dan direkonstitusi dengan volume tertentu
selanjutnya kadar kolesterol diukur; 3) kolesterol HDL diukur terpisah setelah
dilakukan presipitasi untuk menghilangkan lipoprotein mengandung apoB-
100; selanjutnya 4) VLDL dan LDL kolesterol dihitung dengan formula
sebagai berikut:

Kadar kolesterol LDL yang dihitung dengan formula ß-kuantifikasi tidak


terpengaruh terhadap adanya kilomikron, lipoprotein lain yang kaya
trigliserida, dan VLDL remnant. 7

20
Metode direk. Metode direk mengukur LDL secara langsung setelah
dilakukan proses presipitasi selektif menggunakan polivinil sulfat, heparin dalam
pH asam, atau reagen mengandung antibodi poliklonal terhadap apoA-1 dan ApoE
yang diikatkan pada resin. Proses presipitasi ini berfungsi untuk memisahkan dan
menghilangkan VLDL, IDL dan HDL. Setelah seluruh fraksi non-LDL terikat,
dan dipisahkan, kadar kolesterol LDL diukur dengan metode enzimatik seperti
pengukuran kolesterol total.7
Di RSUD Dr. Soetomo digunakan Automated LDL cholesterol
assay. Prinsipnya dengan homogenous assay. Reagen yang digunakan ada dua
yaitu 1) Reagen I berfungsi melarutkan partikel non LDL. Kolesterol yang
dilepaskan dipecah oleh kolesterol esterase dan kolesterol oksidase membentuk
hasil reaksi yang tidak berwarna; 2)Reagen II berfungsi melarutkan sisa
partikel LDL. Kolesterol LDL yang larut dioksidasi oleh kolesterol
esterase dan kolesterol oksidase membentuk cholestenone dan
hidrogenperoksida (H₂O₂). H₂O₂ yang terbentuk direaksikan dengan N,N-bis (4-
sulfobutyl)-m-toluidine, garam disodium (DSBmT) dan 4-aminoantipyrine (4-
AA) menghasilkan warna. Intensitas warna diukur menggunakan sinar
bikromatik (540 nm dan 700 nm). Intensitas warna yang terukur sebanding
dengan jumlah kolesterol LDL dalam sampel.13 Kadar LDL yang diharapkan
adalah <100 mg/dL12
VI.5 Pengukuran kadar lipoprotein(a)
Lipoprotein (a) dapat diukur dengan uji Lp(a) Latex yang menggunakan
metode latex agglutination turbidimetric. Prinsip dari metode ini adalah Lp(a)
dalam serum atau plasma akan bereaksi dengan antihuman Lp(a) antibodi
monoklonal tikus yang dilekatkan pada latex sehingga terbentuk kompleks
antibodi dan antigen sehingga terjadi agglutinasi. Konsentrasi Lp(a) dihitung
dengan mengukur perubahan kekeruhan menggunakan fotometer dengan panjang
gelombang 600 nm.14 Kadar Lp(a) yang diharapkan adalah < 50mg/dl.15
VII. SKRINING DAN DIAGNOSIS DISLIPIDEMIA
Diagnosis dislipidemia ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis
dan hasil pemeriksaan laboratorium. Skrining dislipidemia biasanya menggunakan

21
pemeriksaan profil lipid.16 Skrining diperlukan pada penderita dengan faktor
risiko aterosklerosis seperti DM, merokok, obesitas dan lain sebagainya.
Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab sekunder perlu dilakukan
pada pasien yang didiagnosis dislipidemia seperti gula darah puasa, enzim liver,
kreatinin, TSH dan protein urine.10

VIII. TERAPI DISLIPIDEMIA


Tujuan utama terapi dislipidemia adalah menurunkan risiko penyakit
kardiovaskuler. Terapi pada penderita dengan hipertrigliserida dapat menurunkan
risiko pankreatitis. Indikasi terapi tidak hanya dengan melihat hasil laboratorium
dari kadar lipid darah, tetapi harus juga mempertimbangkan gejala klinis dan
faktor lain (Tabel 4) yang memperbesar risiko terjadinya penyakit
kardiovaskuler.7
Pengaturan pola hidup masih dianggap sebagai terapi utama
dislipidemia.17 Pola terapi dislipidemia tergantung pada besarnya faktor resiko
terhadap penyakit kardiovaskuler dan kadar LDL kolesterol awal. Terapi
farmakologi diberikan apabila terapi perubahan pola hidup dan makanan tidak
memberikan hasil maksimal atau kondisi dengan risiko penyakit kardiovaskuler
yang besar.7
Tabel 4. Faktor risiko penyakit kardiovaskuler.5
Faktor risiko penyakit kardiovaskuler
Dapat diintervensi Tidak dapat diintervensi
Hiperkolesterolemia Riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskuler
Hipertensi Gender : Laki-laki
Merokok Usia
Diabetes Mellitus
Hiperfibrinogenemia
Hiperhomosisteinemia
Kolesterol HDL rendah
Hipertrigliserida
Obesitas, dll
Obat pilihan untuk terapi hiperkolesterolemia adalah 1) Statin, suatu
inhibitor HMG CoA reductase yang bekerja dengan menurunkan kecepatan
sintesis kolesterol. Kadar kolesterol interseluler akan turun dan ekspresi LDLR
akan meningkat sehingga mempercepat uptake LDL di plasma. Statin dapat

22
sedikit menurunkan trigliserida dan meningkatkan HDL; 2) Bile acid sequestrant.
Obat ini bekerja dengan mengikat asam empedu di usus, menghambat absorpsi
lipid dan mempengaruhi sirkulasi enterohepatik. Hilangnya cadangan asam
empedu hepatik meningkatkan konversi kolesterol menjadi asam empedu. Obat
ini meningkatkan kadar trigliserida; 3) Ezetimibe lebih spesifik menghambat
absorpsi kolesterol; 4) Fibrates memiliki efek terhadap metabolisme lipid dengan
menstimulasi LPL. Obat ini kurang efektif untuk menurunkan kolesterol
dibandingkan statin, tetapi efektif untuk menurunkan trigliserida dan
meningkatkan HDL. Pasien dengan FH homogen tidak berespon baik terhadap
terapi obat sehingga diperlukan tindakan LDL apheresis. LDL apheresis adalah
proses menghilangkan LDL dari sirkulasi secara fisik.
Terapi hipertrigliserida sebagian besar adalah untuk mempertahankan
berat badan ideal dan mengatasi kondisi eksaserbasi. Obat yang sering dipakai
untuk terapi hipertrigliserida adalah fibrate, derivat asam nikotinik dan minyak
ikan. Derivat asam nikotinik menurunkan sintesis VLDL, menurunkan LDL dan
meningkatkan HDL. Minyak ikan kaya ω-3 polyunsaturated fatty acids juga dapat
menurunkan sintesis VLDL.5

RINGKASAN
Dislipidemia adalah suatu keadaan dimana terdapat peningkatan kadar
kolesterol dan/atau, peningkatan kadar trigliserida, atau penurunan kadar High
Density Lipoprotein (HDL) dalam darah. Prevalensi dislipidemia bervariasi tiap
etnis, lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan.
Dislipidemia berdasarkan penyebab dibedakan menjadi dislipidemia
primer dan dislipidemia sekunder. Dislipidemia primer, akibat kelainan genetik
dan dibagi menurut klasifikasi Fredrickson menjadi dislipidemia primer Tipe I
sampai tipe V. Dislipidemia sekunder, akibat kondisi atau penyakit seperti
obesitas, intake alkohol, diabetes mellitus, hipotiroidisme, sindroma nefrotik,
gagal ginjal kronik dan kolestasis.
Lipid utama di plasma antara lain asam lemak, trigliserida, kolesterol dan
fosfolipid. Lipoprotein adalah agen pembawa lipid selain asam lemak bebas.

23
Apolipoprotein adalah komponen protein pada lipoprotein. Metabolisme
lipoprotein dibagi menjadi: 1) jalur absorpsi lipid; 2) jalur eksogen (intestinal); 3)
jalur endogen (hepatik); dan 4) jalur transport kolesterol reverse.
Gejala klinis dislipidemia bisa asimptomatik, gejala penumpukan lipid di
jaringan subkutan seperti xanthelasma, tendinous xanthoma, tuberous xanthoma,
planar xanthoma, eruptive xanthoma, palmar xanthoma, lipemia retinalis, hingga
terjadi suatu aterosklerosis vaskuler. Pemeriksaan kadar lipid dan lipoprotein yang
ditujukan untuk menentukan besarnya risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler
dapat berupa pemeriksaan profil lipid rutin (kolesterol total, trigliserida, kolesterol
LDL dan HDL) dan Lp(a).
Terapi dislipidemia terutama adalah pengaturan pola hidup dan makanan.
Terapi farmakologis diberikan bila terapi konvensional tidak berhasil. Regimen
terapi untuk hiperkolesterolemia adalah statin, bile acid sequestrant, ezetimibe,
dan fibrate. Regimen terapi untuk hipertrigliseridemia adalah fibrat, derivat asam
nikotinik dan minyak ikan.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Dyslipidemia. Can J Cardiol. 2006;22(11):1–5.

2. Luo J, Ma Y-T, Yu Z, Yang Y-N, Xie X, Ma X, et al. Prevalence,


awareness, treatment and control of dyslipidemia among adults in
northwestern China: the cardiovascular risk survey. Lipids Health Dis
[Internet]. 2014;13:4. Available from:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=3895843&tool=
pmcentrez&rendertype=abstract

3. Steinhagen-Thiessen E, Bramlage P, Lösch C, Hauner H, Schunkert H,


Vogt A, et al. Dyslipidemia in primary care--prevalence, recognition,
treatment and control: data from the German Metabolic and Cardiovascular
Risk Project (GEMCAS). Cardiovasc Diabetol. 2008;7:31.

4. Kwiterovich P. Lipid, apolipoprotein and lipoprotein metabolism:


implications for the diagnosis and treatment of dyslipidemia. In:
Kwiterovich PO, editor. The Johns Hopkins Textbook of Dyslipidemia.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2010. p. 1–21.

5. Marshall W, Bangert S, Marta L. Lipids, lipoproteins and cardiovascular


disease. In: Marshall W, Bangert S, Marta L, editors. Clinical chemistry.
7th ed. London: Mosby Elsevier; 2012. p. 381–402.

6. Leiviskä J. Laboratory Diagnostics of Dyslipidemia From Cholesterol to


Apolipoproteins. Helsinki, Finland: Juvenes Print-Finnish University Print
Ltd; 2013.

7. Rifai N, Warnick R, Remaley AT. Lipids, Lipoproteins, Apolipoprotein,


and Other Cardivasculer Risk Factors. In: Burtis C, Ashwood ER, Bruns
DE, editors. TIETZ Fundamentals of Clinical Chemistry. 6th ed. St. Louis,
Missouri: Saunders Elsevier; 2008. p. 402–27.

8. Sethi A, Warnick GR, Remaley AT. Lipids and Lipoprotein. In: Bishop
ML, Fody EP, Schoeff LE, editors. Clinical Chemistry techniques,
principles, correlations. 6th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer Lippincott
Williams & Wilkins; 2010. p. 328–49.

9. Klop B, Elte JWF, Cabezas MC. Dyslipidemia in Obesity: Mechanisms and


Potential Targets. Nutrients. 2013;5(4):1218–40.

10. Harper RJ. Dyslipidemia. Canadian Journal of Cardiology. Georgia; 2006.


p. 1–5.

25
11. Kolovou GD, Anagnostopoulou KK, Cokkinos D V. Pathophysiology of
dyslipidaemia in the metabolic syndrome. Postgrad Med J.
2005;81(956):358–66.

12. NCEP. LIPID PROFILE [Internet]. Minnesota: Clinics, Children’s


Hospitals and Clinics; p. 5–7. Available from: http://www.childrensmn.org

13. Dimension. IFU Dimension ® Clinical Chemistry System.

14. Scientific P. Lipoprotein ( a ) Reagent Set. Brussels: Scientific, Pointe; p.


8–10.

15. Randox. Randox cardiology lipoprotein(a). United Kingdom: Randox


Laboratories Limited; p. 1–8.

16. Guideline TO, Testing AL, Society CC, Guidelines O, Assessment LA,
Assessment L, et al. Guideline for Lipid Testing in Adults ( CLP017 )
Revised : August , 2010. 2010;1(c):1–6.

17. Nestel PJ, O’Brien R, Nelson M. Management of dyslipidaemia - Evidence


and practical recommendations. Aust Fam Physician. 2008;37(7):521–7.

26