Anda di halaman 1dari 18

BAB I

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
Nama : An. Rizuna Aqlan
Jenis kelamin : Laki- laki
Umur : 2 tahun
Alamat : Cakung
No. RM : 74.12.49
Tanggal berobat : 11 Agustus 2015

B. Anamnesis
1. Keluhan utama: telinga keluar air kanan dan kiri.
2. Riwayat penyakit sekarang:
Anak laki-laki 2 tahun datang bersama ibunya ke poliklinik THT RSIJ Pondok kopi
dengan keluhan keluar cairan di telinga kanan dan kiri. keluar cairan di awali telinga
kanan dan di ikuti oleh telinga kiri. warna cairan yang keluar dari telinga adalah putih
kekuningan. Tiga hari yang lalu pasien demam dan di sertai pilek.
3. Riwayat penyakit dahulu:
Menurut pengakuan ibu pasien, tidak ada keluhan keluar cairan pada telinga
sebelumnya.
4. Riwayat penyakit keluarga:
Keluhan yang sama di keluarga disangkal

5. Riwayat alergi:
Riwayat alergi dingin, debu, makanan, ataupun obat-obatan disangkal.

6. Riwayat pengobatan:
Untuk keluhan yang sekarang pasien sudah berobat di puskesmas tapi menurut
pengakuan ibu, pasien tetap rewel.
C. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : tampak sakit ringan


Kesadaran : composmentis

Status Generalis

1. Kepala : normocephal
2. Mata : konjungtiva anemis (-/-), konjungtiva hiperemis (-/-), sklera ikterik
(-/-), refleks pupil (+/+) isokor, pergerakan mata kesegala arah baik
3. Telinga : lihat status lokalis

1
4. Hidung : lihat status lokalis
5. Mulut : lihat status lokalis
6. Tenggorok : lihat status lokalis
7. Leher : lihat status lokalis
8. Thorax
a. Inspeksi : normochest simetris, retraksi dinding dada (-)
b. Palpasi : tidak ada bagian dada yang tertinggal saat bernapas
c. Perkusi : sonor pada semua lapang paru
d. Auskultasi : suara napas vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
9. Jantung
a. Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
b. Palpasi : ictus cordis teraba di ICS 5 linea midclavicularis sinistra
c. Perkusi : batas jantung relatif dalam batas normal
d. Auskultasi : bunyi jantung I dan II regular, bising jantung (-)
10. Abdomen
a. Inspeksi : ruam makulopapular (-)
b. Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)
c. Perkusi : timpani pada seluruh kuadran abdomen
d. Auskultasi : bising usus (+) normal
11. Ekstremitas

a. Superior : akral hangat, ruam makulopapular (-/-), udem (-/-), RCT < 2 detik
b. Inferior : akral hangat, ruam makulopapular (-/-), udem (-/-), RCT < 2 detik.


D. Status lokalis THT


1. Telinga

Tabel 1. Pemeriksaan telinga

AD AS

Aurikula
Normotia, helix sign (-), Normotia, helix sign (-), tragus
tragus sign (-) sign (-)

Preaurikula
Preaurikula appendege (-) Preaurikula appendege (-)
tanda radang(-), pus(-), nyeri tanda radang(-), pus(-), nyeri
tekan(-), fistula(-) tekan(-), fistula(-)

Tenang, udem(-), fistel(-), Tenang, udem(-), fistel(-),


Retroaurikula
sikatriks(-), nyeri tekan(-) sikatriks(-), nyeri tekan(-)

Hiperemis(+), udem(-), CAE Hiperemis(+), udem(-),

2
sekret(+) sedikit
serumen(-), sekret(+) sedikit,
mukopurulen, serumen (-),
mukopurulen, massa(-),
massa(-)

Membran timpani hiperemis (+), bulging, reflex


Hiperemis (+), Perforasi, cahaya (-)
reflex cahaya (-)

Tidak dilakukan Uji Rinne Tidak dilakukan

Tidak dilakukan Uji Weber Tidak dilakukan

Tidak dilakukan Uji Schwabach Tidak dilakukan

Interpretasi : Membran timpani telinga kanan hiperemis, perforasi dengan


sekret mukopurulen, Membran timpani kiri hiperemis dan bulging.

2. Hidung

Tabel 2. Pemeriksaan hidung

Dextra Rhinoskopi anterior Sinistra

Tenang Mukosa Tenang


+ Sekret +
Eutrofi Konka inferior Eutrofi
Deviasi (-) Septum Deviasi (-)
(-) Massa (-)
(+) Passase udara (+)

a. Sinus paranasal
1) Inspeksi : pembengkakan pada wajah (-), bagian bawah mata (-), daerah
diatas mata (-)
2) Palpasi : nyeri tekan kedua pipi (-), atas orbita (-), medius kontur (-)
3) Transiluminasi : tidak dilakukan
b. Tes penciuman: tidak dilakukan

3. Tenggorok
3
Tabel 3. Pemeriksaan Orofaring

Dextra Pemeriksaan Orofaring Sinistra


Mulut
Tenang Mukosa mulut Tenang
Bersih, basah Lidah Bersih, basah
Tenang Palatum molle Tenang
Belum lengkap, Karies(-) Gigi geligi Belum lengkap, Karies (-)
Simetris Uvula Simetris
Tonsil
Tenang Mukosa Tenang

T2 Besar T2

tidak melebar Kripta tidak melebar


- Detritus -
- Perlengketan -
Faring
Tenang Mukosa Tenang
- Granula -
- Post nasal drip -

Tabel 4. Pemeriksaan Nasofaring

Naofaring (Rhinoskopi posterior)


Konka superior Tidak dilakukan
Torus tubarius Tidak dilakukan
Fossa Rossenmuller Tidak dilakukan
Plika salfingofaringeal Tidak dilakukan

Tabel 5. Pemeriksaan Laringofaring

Laringofaring (Laringoskopi indirect)


Epiglotis Tidak dilakukan
Plika ariepiglotika Tidak dilakukan
Plika ventrikularis Tidak dilakukan
Plika vokalis Tidak dilakukan
Rima glotis Tidak dilakukan

4
4. Leher
Tabel 7. Pemeriksaan Leher

Dextra Pemeriksaan Sinistra

Pembesaran (-) Thyroid Pembesaran (-)

Pembesaran (-) Kelenjar submental Pembesaran (-)

Pembesaran (-) Kelenjar submandibula Pembesaran (-)

Pembesaran (-) Kelenjar jugularis superior Pembesaran (-)

Pembesaran (-) Kelenjar jugularis media Pembesaran (-)

Pembesaran (-) Kelenjar jugularis inferior Pembesaran (-)

Pembesaran (-) Kelenjar suprasternal Pembesaran (-)

Pembesaran (-) Kelenjar supraklavikularis Pembesaran (-)

E. Resume
Anak laki-laki 2 tahun keluhan otore mukopurulen pada kedua telinga. Riwayat febris 3
hari yang lalu. Pada pemeriksaan : sekret mukopurulen, membran timpani dekstra
perforasi. Membran timpani sinistra bulging reflex cahaya (-).

F. Diagnosis Banding
1. Otitis media akut stadium perforasi AD + supurasi AS
2. Otitis Media Supuratif Kronik

G. Diagnosa Kerja

Otitis media akut stadium perforasi AD + supurasi AS

H. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium

 Darah rutin (Hb, Hematokrit, Trombosit, Leukosit)


 Kultur dan uji resistensi sekret telinga yang sakit
I. Penatalaksanaan
1. Non-medikamentosa
a. Hindari telinga dari kemasukan air
b. Menutup telinga dengan kapas saat mandi dan mengurangi aktivitas berkeringat
c. Mencegah kekambuhan infeksi saluran pernapasan atas
2. Medikamentosa
5
a. Sol H2O2 3%
b. Otopain
c. Vectrin
d. Ceptik
e. Rhinos
f. Iliadine

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Telinga

Untuk memahami tentang gangguan pendengaran, perlu diketahui dan dipelajari anatomi
telinga, fisiologi pendengaran dan cara pemeriksaan pendengaran.
Telinga dibagi atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.

1. Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani.
Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf
S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian
dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2 ½ - 3 cm.
Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen
(modifikasi kelenjar keringat dan kelenjar serumen) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat
pada seluruh kulit liang telinga.
Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.
Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan
terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida (membran
Shrapnell), sedangkan bagian bawah, pars tensa (membran propria). Pars flaksida hanya
berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam
dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran napas. Pars tensa mempunyai
satu lapis lagi di tengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin
yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkkuler pada bagian dalam.
Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai
umbo.dari umbo bermuala suatu reflek cahaya (cone of ligh) ke arah bawah yaitu pada pukul
7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan. reflek cahaya
(cone of light) ialah cahaya yang dipantulkan dari luar yang dipantulkan oleh membran
timpani. Di membran timpani terdapat 2 macam serabut, sirkuler dan radier. Serabut inilah
yang menyebabkan timbulnya refleks cahaya yang berupa kerucut. Secara klinis refleks
cahaya ini dinilai, misalnya terdapat gangguan pada tuba Eustahcius.

7
Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan
prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga
didapatkan bagian atas-depan, atas-belakang, bawah depan serta bawah belakang untuk
menyatakan letak perforasi membran timpani
Bila melakukan miringotomi atau apara sentesis, dibuat insisi di bagian bawah
belakang membran timpani, sesuai dengan arah serabut membran timpani. Di daerah ini tidak
terdapat tulang pendengaran. Didalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran
yang tersusun dari luar ke dalam, yaitu maleus, inkus, dan stapes.
Tulang pendengaran di dalam telinga saling berhubungan. Prosesus longus maleus
melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes.
Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Hubungan antar
tulang-tulang pendengaran merupakan persendian.
Pada pars flaksida terdapat daerah yang disebut atik. Di tempat ini terdapat aditus ad
antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid.
Tuba Eustavhius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah naso
faring dengan telinga tengah.

Gambar membran timpani telinga kiri

8
Gambar Batas Telinga Tengah

Telinga tengah berbentuk kubus dengan:


Batas luar : membran timpani
Batas depan : tuba eustachius
Batas bawah : vena jugularis (bulbus jugularis)
Batas belakang : auditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis
Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak)
Batas dalam : berturut - turut dari atas ke bawah, kanalis
semi sirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap
lonjong (oval window), tingkap bundar (round
window), dan promontorium.

2. Telinga dalam
Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran
dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea
disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timfani dengan skala vestibuli.
Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk
lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli disebelah

9
atas, skala timfani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya. Skala
vestibuli dan skala timfani berisi perilimfe, sedangkan skala media berisi endolimfe. Ion dan
garam yang terdapat di perilimfa berbeda dengan di endolimfa. Hal ini penting untuk
pendengaran. Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli (Reissner’s Membrane)
sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ Corti.
Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran
tektoria dan pada membran basalis melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel
rambut luar dan kanallis Corti, yang membentuk organ Corti.

Gambar Potongan Frontal Telinga

10
B. Fisiologi Pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam
bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut
menggetarkan membran timpani, diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan
perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah
diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong, sehingga
perilimfe pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membrana Reissner yang
mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basalis dan
membran tektoria. Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan terjadinya
defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pengelepasan ion
bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut,
sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial
aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks serebri
atau korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.

11
C. OTITIS MEDIA

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba
Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.
Banyak ahli membuat pembagian dan klasifikasi otitis media. Secara mudah, otitis
media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif (= otitis media serosa,
otitis media sekretoria, otitis media musinosa, otitis media efusi / OME).

Bagan 1. Skema pembagian otitis media

Masing-masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis, yaitu otitis media
supuratif akut (otitis media akut = OMA) dan otitis media supuratif kronis (OMSK / OMP).
Begitu pula otitis media serosa terbagi menjadi otitis media serosa akut (barotrauma =
aerotitis) dan otitis media serosa kronis. Selain itu terdapat juga otitis media spesifik, seperti
otitis media tuberkulosa atau otitis media sifilitika. Otitis media yang lain ialah otitis media
adhesiva.

12
Bagan 2. Patogenesis terjadi otitis media OMA – OME – OMSK

D. OTITIS MEDIA AKUT


Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di daerah nasofaring dan
faring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam
telinga tengah oleh silia mukosa tuba Eustachius, enzim dan antibodi.
Otitis media akut (OMA) biasanya terjadi karena faktor pertahanan tubuh ini
terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media.
Karena fungsi tuba eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke telinga tengah juga
terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan.
Dikatakan juga, bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran napas atas.
Pada anak, makin sering anak terkena infeksi saluran napas, makin besar
kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba
Eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak horizontal.

1. Patologi
Kuman penyebab utama OMA ialah bakteri piogenik, seperti Streptococcus
hemoliticus, Staphylococcus aureus, Pneumococcus. Selain itu kadang-kadang ditemukan

13
juga Haemophilus Influenzae, Escherichia colli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus
vulgaris dan Pseudomonas aurugenosa.
Hemofillus influenza sering ditemukan pada anak yang berusia di bawah 5 tahun.

E. STADIUM OMA
Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium :
(1) Stadium oklusi tuba Eustachius, (2) stadium hiperemis, (3) stadium supurasi, (4) stadium
perforasi dan (5) stadium resolusi. Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membran timpani
yang diamati melalui liang telinga luar.

1. STADIUM OKLUSI TUBA EUSTACHIUS


Tanda adanya oklusi tuba Eustachius ialah gambaran retraksi membran timpani akibat
terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, akibat absorpsi udara. Kadang-kadang
membran timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi
mungkin telah terjadi tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis
media serosa yang disebabkan virus dan alergi.

2. STADIUM HIPEREMIS (STADIUM PRE-SUPURASI)


Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani
atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edem. Sekret yang telah terbentuk
mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terluihat.

3. STADIUM SUPURASI
Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial,
serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membran timpani
menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar.
Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, sertarasa nyeri
di telinga bertambah hebat.
Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia,
akibat tekanan pda kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan
nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihaat sebagai
daerah yang lebih lembeek dan berwarna kekuningan. di tempat ini akan terjadi ruptur.
Bila tidak dilakukan insissi membran timpani (miringotomi) pada stadium ini maka
kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan nanah keluar dari liang telinga luar.

14
Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup kembali, sedangkan
apabila terjadi ruputur, maka lubang tempat ruptur (perforasi) tidak mudah menutup kembali.

Tampak membran timpani hiperemis dan bulging (menonjol)

4. STADIUM PERFORASI
Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotik atau virulensi
kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir
dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang,
suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut dengan otitis media
akut stadium perforasi.

5. STADIUM RESOLUSI
Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan-lahan
akan normal kembali. Bila ssudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan akhirnya
kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi
walaupun tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan
sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa
(sequele) berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya
perforasi.

15
F. Gejala klinik OMA
Gejala klinik OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. Pada anak
yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga, keluhan
disamping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.
Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula
gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang dengar. Pada bayi dan
anak kecil gejala khas OMA ialah suhu tubuh tinggi dapat sampai 39,50C (pada stadium
supurasi), anak gelisah dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-
kejang dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran
timpani, maka sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh menurun dan anak tertidur tenang.

G. Terapi
Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya.
Pada stadium oklusi pengobatan terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba
Eustachius, sehingga tekanan negative dalam telinga tengah hilang. Untuk ini diberikan obat
tetes hidung. HCl efedrina 0.5% dalam larutan fisiologis (anak < 12 tahun) atau HCl efedrin
1% dalam larutan fisiologik yang berumur diatas 12 tahun dan pada orang dewasa.
Selain itu sumber infeksi harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab
penyakit adalah kuman, bukan oleh virus atau alergi.
Terapi pada stadium presupurasi ialah antibiotika, obat tetes hidung dan analgetika.
Antibiotika yang dianjurkan ialah dari golongan penisilin atau ampisilin. Terapi awal
diberikan penisilin intramuscular agar didapatkan konsentrasi yang adekuat dalam darah,
sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa, dan
kekambuhan. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi
terhadap penisilin, maka diberikan eritromisin.
Pada anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50-100 mg/kgBB per hari dibagi dalam 4
dosis, atau amoksisilin 40 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis, atau eritromisin 40
mg/kgBB/hari.
Pada stadium supurasi selain diberikan antibiotika, idealnya harus disertai dengan
miringotomi, bila membran timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala klinis lebih cepat
hilang dan rupture dapat dihindari.
Pada stadium perforasi sering terlihat banyak secret yang keluar dan kadang terlihat
secret keluar secara berdenyut (pulsasi). Pengobatan diberikan adalah obat cuci telinga H 2O2

16
3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat. Biasanya secret hilang dan perforasi
menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.
Pada stadium resolusi, maka membrane timpani berangsur normal kembali, secret
tidak ada lagi dan perforasi membrane timpani menutup.
Bila tidak terjadi resolusi biasanya akan tampak secret mengalir di liang telinga luar
melalui perforasi di membrane timpani. Keadaan ini disebabkan karena berlanjutnya edema
mukosa telinga tengah. Pada keadaan demikian antibiotika dapat dilanjutkan sampai 3
minggu. Bila 3 minggu setelah pengobatan masih tetap banyak, kemungkinan telah terjadi
mastoiditis.
Bila OMA berlanjut dengan keluarnya secret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu,
maka keadaan ini disebut otitis mediasupuratif subakut.
Bila perforasi menetap dan secret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan,
maka keadaan ini disebut otitis media supuratif kronis (OMSK).
Pada pengobatan OMA terdapat beberapa faktor resiko yang menyebabkan kegagalan
terapi. Risiko tersebut digolongkan menjadi resiko tinggi kegagalan terapi dan resiko rendah.

H. Komplikasi
Sebelum ada antibiotika, OMA dapat menimbulkan komplikasi yang berat (meningitis
dan abses otak).
Sekarang setelah antibiotika, semua jenis komplikasi itu biasanya didapatkan sebagai
komplikasi dari OMSK.

I. MIRINGOTOMI
Miringotomi adalah tindakan insisi pars tensa membran timpani, agar terjadi drainase
sekret dari telinga tengah ke liang telinga luar.
Istilah miringotomi sering dikacaukan dengan parasentesis. Timpanosistesis
sebetulnya berarti pungsi pada membran timpani untuk mendapatkan sekret guna
pemeriksaan mikrobiologik (dengan semprit dan jarum khusus).
Miringotomi merupakan tindakan pembedahan kecil yang dilakukan dengan syarat
tindakan ini harus dilakukan secara a-vue (dilihat langsung), anak harus tenang dan dapat
dikuasai, (sehingga membran timpani dapat dilihat dengan baik). Lokasi miringotomi adalah
kuadran postero-inferior. Untuk tindakan ini harus memakai lampu kepala yang mempunyai
sinar cukup terang, memakai corong telinga yang sesuai dengan besar liang telinga, dan pisau
khusus (miringotom) yang digunakan berukuran kecil dan steril.

17
Timpanosistesis dan Miringotomi

J. Komplikasi Miringotomi
Komplikasi miringotomi yang mungkin terjadi adalah perdarahan akibat trauma pada
liang telinga luar, dislokasi tulang pendengaran, trauma pada fenestra rotundum, trauma pada
nervus fasialis, trauma bulbus jugularis (bila ada anomali letak).
Mengingat kemungkinan komplikasi itu, maka dianjurkan melakukan miringotomi
dengan narkosis umum dan memakai mikroskop. Tindakan miringotomi dengan memakai
mikroskop, selain aman, dapat juga mengisap sekret dari telinga tengah sebanyak-banyaknya.
Hanya dengan cara ini biayanya lebih mahal.
Bila terapi yang diberikan sudah adekuat, sebetulnya miringotomi tidak perlu
dilakukan, kecuali bila jelas tampak adanya nanah di telinga tengah. Dewasa ini sebahagian
ahli berpendapat bahwa miringotomi tidak perlu dilakukan, apabila terapi yang adekuat sudah
dapat diberikan (antibiotika yang tepat dan dosis cukup). Komplikasi timpanosistesis kurang
lebih sama dengan komplikasi miringotomi.

18