Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN UJI COBA

METALOGRAFI

DISUSUN OLEH :
Kukuh Izatullah E.H.A 2016310019
Erwin Gunawan
Andreo M

TEKNIK PERKAPALAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN

Mata Kuliah : Praktikum Ilmu Bahan


Dosen Pengajar : Putra Pratama, S.T
A. Pengertian Metallografi

Permukaan spesimen metalografi dibuat dengan berbagai metode grinding, polishing,


dan etsa. Setelah persiapan, sering dianalisis usingoptical atau mikroskop elektron. Hanya
menggunakan teknik metalografi, seorang teknisi yang terampil dapat mengidentifikasi
paduan dan memprediksi sifat material.

Persiapan mekanik adalah metode persiapan yang paling umum. Partikel abrasif
berturut-turut halus digunakan untuk menghilangkan bahan dari permukaan sampel hingga
kualitas permukaan yang diinginkan tercapai. Banyak mesin yang berbeda yang tersedia
untuk melakukan grinding dan polishing ini, mampu memenuhi tuntutan yang berbeda untuk
kualitas, kapasitas, dan reproduktifitas. Sebuah metode persiapan sistematis adalah cara
termudah untuk mencapai struktur yang benar. Persiapan sampel karena harus mengejar
aturan yang cocok untuk bahan yang paling. Bahan yang berbeda dengan sifat yang mirip
(kekerasan dan daktilitas) akan merespon sama sehingga membutuhkan habis sama selama
persiapan.
(Idrus, 2011)
Teori Dasar Metalografi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari karakteristik
mikrostruktur suatu logam, paduan logam dan material lainnya serta hubungannya dengan
sifat-sifat material tersebut. Ada beberapa metode yang dipakai, yaitu : ,ikroskopik (optik
maupun elektron), difraksi (sinar-X, elektron dan neutron), analisis(X-ray fluorense, electron
microprobe) dan juga metalografi stereometri .

B. Teori Dasar
Jenis Baja Karbon Berdasarkan Prosentasenya
Baja karbon berdasarka prosentase kadar karbonnya dikelompokkan menjadi 3 macam,
yaitu:
1. Baja karbon rendah
Kandungan karbon pada baja ini antara 0.10 sampai 0.25%. Karena kadar karbon yang
sangat rendah maka baja ini lunak dan tentu saja tidak dapat dikeraskan, dapat ditempa,
dituang, mudah dilas dan dapat dikeraskan permukaannya (case hardening). Baja dengan
prosentase karbon debawak 0.15% memiliki sifat mach ability yang rendah dan biasanya
digunakan untuk konstruksi jembatan, bangunan, dan lainnya.
2. Baja karbon menengah
Kandunag karbon pada baja ini antara 0.25 sampai 0.55%. Baja jenis ini dapat
dikeraskan dan di-tempering, daat dilas dan mudah dikerjakan pada mesin dengan baik.
Penggunaan baja karbon menengah ini biasanya digunakan untuk poros/as, engkol, dan
sparepart lainnya.

3. Baja karbon tinggi


Kandungan karbon tinggi pada baja ini antara 0.55 sampai 0.70%. Karena kadar karbon
yang tinggi maka baja ini lebih mudah dan cepat dikeraskan dari pada yang lainnya dan
memiliki kekerasan yang baik, tetapi susah dibentuk pada mesin dan sangat susah untuk
dilas. Penggunaan baja ini untuk pegas/per, dan alat-alat pertanian.

Diagram Fasa
Diagram fasa adalah diagram yang menampilkan hubungan antara temperatur dimana
terjadi perubahan fasa selama proses pendinginan dan pemanasan yang lambat dengan kadar
karbon. Diagram ini merupakan dasar pemahaman untuk semua operasi perlakuan panas.
Fungsi diagram fasa adalah memudahkan memilih tenperatur pemanasan yang sesuai
untuk setiap proses perlakuan panas baik proses annealing, normalizing maupun quenching.
Baja adalah paduan besi dengan karbon maksimal sampai sekitar 1.7% disebut cast iron.

Sumber : internet ( diagram


fasa baja )
Perlakuan panas bertujuan untuk memperoleh struktur mikro dan sifat yang
diinginkan. Struktur mikro dan sifat yang diinginkan dapat diperoleh melalui proses
pemanasan dan proses pendinginan pada temperatur tertentu.

Macam-macam struktur yang ada pada baja:


1. Ferit
Ferit adalah larutan padat karbon dan unsur paduan lainnya pada besi kubus pusat badan
(Fe). Ferit terbentuk akibat proses pendinginan yang lambat dari austenite baja hypotektoid
pada saat mencapai A3. Ferit bersifat sangat lunak, ulet dan memiliki kekerasan sekitar 70-
100 BHN dan memiliki konduktifitas yang tinggi.
2. Sementit
Sementit adalah senyawa besi dengan karbon yang umum dikenal sebagai karbida besi
dengan prosentase karbon 6.67% yang bersifat keras sekitar 5-68 HRC.
3. Perlit
Perlit adalah campuran sementit dan ferit yang memiliki kekerasan sekitar 10-30 HRC.
Perlit yang terbentuk sedikit dibawah temperatur eutektoid memiliki kekerasan yang lebih
rendah dan memerlukan waktu inkubasi yang lebih banyak.
4. Bainit
Bainit merupakan fasa yang kurang stabil yang diperoleh dari austenite pada temperatur
yang lebih rendah dari temperatur transformasi ke perlit dan lebih tinggi dari transformasi ke
martensit.

C. Tahapan – tahapan Uji Metallografi


1. Penentuan Wilayah Kerja Sampel

Dalam pemotongan dan pengambilan sampel, perlu


diperhatikan wilayah daerah kerja sampel yang
akan diamati yang biasanya disebut sebagai bidang
orientasi dasar, yaitu :
a. Bidang transversal : tegak lurus terhadap arah
sumbu deformasi panas
b. Bidang planar : sejajar dengan sumbu pengerjaan
dan memiliki luas permukaan yang paling besar
dan yang paling sering bersinggungan dengan rol.
Sumber : internet
c. Bidang longitudinal : tegak lurus terhadap bidaqng planar dan sejajar dengan arah
pengerjaan

2. Pemotongan Sampel
Teknik pemotongan sampel dapat dilakukan dengan :
a. Pematahan : untuk bahan getas dank eras
b. Pengguntingan : untuk baja karbon rendah yang tipis dan lunak
c. Penggergajian : untuk bahan yang lebih lunak dari 350 HB.
d. Pemotongan abrasi : Untuk pemotongan
e. Electric discharge machining : untuk bahan dengan konduktivitas baik di mana
sampel direndam dalam fluida dielektrik lebih dahulu.

Sumber : laboratorium ( proses pemotongan dan


perapihan permukaan )

3. Pemasangan sampel (monting)


Prosedur mounting dilakukan apabila sampel terlalu kecil, bentuk tak
beraturan, sangat lunak, mudah pecah dan berongga. Caranya adalah dengan
meletakkan sampel ke dalam cetakan mounting, lalu memasukkan resin yang telah
dicampur denga hardener. Larutan mounting harus memiliki sifat :
a. Tak bereaksi dengan sampel
b. Kekentalannnya sedang dalam bentuk cair dan bebas udara pada bentuk padatnya
c. Adhesi yang baik dengan sampel
d. Kekuatan dan tahanan yang sama besar dengan sampel
e. Kemampuan susut yang rendah Permukaansampel yang akan diuji harus ada di
bagian bawah. Setelah dibiarkan selama 25 menit maka bahan mounting telah siap
dan sampel telah siap dipreparasi dengan langkah berikutnya.

4. Pengamplasan
Pengamplasan Pengamplasan bertujuan untuk meratakan dan menghjluskan
permukaan sampel yang akan diamati. Pengamplasan ini dilakukan secara berurutan
yaitu denga memakai amplas kasar hingga amplas halus (no # tinggi). Pengamplasan
kasar dilakukan dengan menggunakan amplas dengan nomor di bawah 180 #,
sedangkan pengamplasan halus menggunakan amplas dengan nomor lebih tinggi dari
180 # .
Pengamplasan dimulai dengan meletakkan sampel pada kertas amplas dengan
permukaan yang akan diamati bersentuhan langsung dengan bagian kertas amplas
yang kasar, kemudian sampel ditekan dengan gerakan searah. Selama pengamplasan
terjadi gesekan antara permukaan sampel dan kertas amplas yang memungkinkan
terjadinya kenaikan suhu yang dapat mempengaruhi mikrostruktur sampel sehingga
diperlukan pendinginan dengan cara mengaliri air. Apabila ingin mengganti arah
pengamplasan, sampel diusahakan berada pada kedudukan tegak lurus terhadap arah
mula-mula .

Sumber : laboratorium tekmek ( jenis-jenis amplas & proses pengamplasan )


5. Pemolesan
Pemolesan Pemolesan bertujuan untuk lebih menghaluskan dan melicinkan
permukaan sampel yang akan diamati setelah pengamplasan. Seperti halnya
pengamplasan, pemolesan dibagi dua yaitu pemolesan kasar dan halus. Pemolesan
kasar menggunakan abrasive dalam range sekitar 30 - 3µm, sedangkan pemolesan
halus menggunakan abrasive sekitar 1µm atau di bawahnya .
Sebelum pemolesan dilakukan, sampel terlebih dulu dibersihkan dengan air.
Pemolesan dimulai dengan menyalakan mesin poles pada kecepatan sedang. Bagian
permukaan sampel yang akan diuji ditekan ke mesin poles sambil dialiri air. Sampel
digerakkan secara radial dengan bagian permukaan sampel yang telah dipoles harus
dilihatb secara berkala. Berikutnya dilakukan pemolesan halus denga cara yang sama
seperti di atas tetapi dengan mengganti air dengan autosol .

Sumber : laboratorium tekmek ( proses pemolesan dengan kain bludru & setelah dipoles )

6. Etsa (Ecthing)
Dilakukan dengan mengkikis daerah batas butir sehingga struktur bahan dapat
diamati dengan jelas dengan bantuan mikroskop optik. Zat etsa bereaksi dengan
sampel secara kimia pada laju reaksi yang berbeda tergantung pada batas butir,
kedalaman butir dan komposisi dari sampel.
Sampel yang akan dietsa haruslah bersih dan kering. Slema etsa, permukaan
sampel diusahakan harus selalu terendam dalam etsa. Waktu etsa harus diperkirakan
sedemikian sehingga permukaan sampel yang dietsa tidak menjadi gosong karena
pengikisan yang terlalu lama. Oleh karena itu sebelum dietsa, sampel sebaiknya
diolesi alkohol untuk memperlambat reaksi.
Pada pengetsaan masing-masing zat etsa yang digunakan memiliki
karakteristik tersendiri sehingga pemilihannya disesuaikan dengan sampel yang akan
diamati. Zat etsa yang umum digunakan untuk baja ialah nital dan picral. Setelah
reaksi etsa selesai, zat etsa dihilangkan dengan cara mencelupkan sampel ke dalam
aliran air panas. Seandainya tidak memungkinkan dapat digunakan air bersuhu ruang
dan dilanjutkan dengan pengeringan dengan alat pengering. Permukaan sampel yang
telah dietsa tidak boleh disentuh untuk mencegah permukaan menjadi kusam.

Sumber : Internet ( Pengaruh Etsa terhadap permukaan spesimen )

Pada etsa fisik dihasilkan permukaan yang bebas dari sisa zat kimia dan menawarkan
keuntungan jika etsa elektrokimia sulit dilakukan. Etsa ion dan etsa termal adalah teknik etsa fisik
yang mengubah morfologi permukaan spesimen yang telah dipoles.
Foto permukaan spesimen paduan aluminium hasil metalografi seperti gambar berikut ini.

Sumber : internet ( Hadijaya ikaut )


Sifat mekanik suatu logam sangat dipengaruhi oleh komposisi kimia dan sturktur mikro
dari logam tersebut. Struktur mikro dari suatu logam dapat diubah dengan jalan memberikan
perlakuan panas pada logam tersebut (heat treatment). Selain heat treatment perubahan
struktur mikro juga dapat disebabkan oleh deformasi plastis pda logam. Dengan adanya
deformasi plastis pada logam, maka akan terjadi slip atau dislokasi pada kristal logam hingga
menyebabkan proses pengerasan (strain hardening).

D. Kesimpulan

Preparasi Sampel
1. Saat mengamplas selalu diberi air agar benda uji tidak panas dan terlihat gosong saat
dilihat melalu mikroskop optik.
2. Semua langkah kerja harus dilakukan dan saat pengamplasan dilakukan dengan hati
hati dan tidak terlalu ditekan agar benda uji tidak rusak dan saat pengamatan di
bawah mikroskop, cahaya dapat memantul sempurna ke lensa mikroskop, sehingga
pengamatan dapat dilakukan tanpa kendala.
3. Pengetsaan sangat penting sebelum pengamatan di bawah mikroskop karena
pengetsaan membuat batas-batas butir pada sampel lebih jelas terlihat, sehingga kita
dapat membedakan fasa-fasanya.