Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Mata tenang atau mata putih yaitu tidak adanya pelebaran pembuluh darah yang

dikarenakan radang atau infeksi pada ekstraokuler. Sedangkan penglihatan menurun adalah

berkurangnya penglihatan atau gangguan pada media penglihatan baik yang terjadi secara

mendadak atau perlahan.

Penglihatan turun mendadak tanpa tanda radang ekstraokuler dapat disebabkan oleh

beberapa kelainan. Kelainan ini dapat terlihat pada neuritis optic, ablasio retina, obstruksi

vena retina sentral, oklusi arteri retina sentral, kekeruhan dan perdarahan badan kaca,

ambliopia toksik, trombosis arteri karotid interna, Okulopati iskemik, buta sentral bilateral,

amaurosis fugaks, dan koroiditis.

Penglihatan turun perlahan disebabkan beberapa penyakit seperti katarak, glaukoma,

retinopati, dan retinitis pigmentosa.

Untuk mengetahui letak dan kelainan dari penyakit-penyakit tersebut, kita harus

memahami anatomi dan fisiologi dari mata.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Yang dilakukan mata yang

paling sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang atau

gelap. Mata yang lebih kompleks dipergunakaan untuk memberikan pengertian visual. Mata

manusia sebagai alat indra penglihatan dapat dipandang sebagai alat optik yang sangat

penting bagi manusia. Struktur dan fungsi mata sangat rumit dan mengagumkan. Secara

konstan mata menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek

yang dekat dan jauh serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera

dihantarkan ke otak.

2
B. OTOT, SARAF, DAN PEMBULUH DARAH

Beberapa otot bekerja sama menggerakkan mata. Otot Penggerak Mata otot in

penggerak mata dengan fungsi ganda dan untuk penggerakkan mata tergantung pada letak

dan sumbu penglihatan sewaktu aksi otot. Otot penggerak mata terdiri 6 otot yaitu :

1. Oblik inferior, aksi primer sekunder → ekstorsi dalam abduksi, elevasi dalam abduksi,

abduksi dalam elevasi.

2. oblik superior, aksi primer sekunder → intorsi pada abduksi, depresi dalam aduksi,

abduksi dalam depresi.

3. Rektus inferior, aksi primer sekunder → depresi pada abduksi, ekstorsi pada abduksi,

aduksi pada depresi

4. Rektus lateral, aksi → abduksi

5. Rektus medius, aksi → aduksi

Rektus superior, aksi primer sekunder → elevasi dalam abduksi, intorsi dalam aduksi, aduksi

dalam elevasi.

Setiap otot dirangsang oleh saraf kranial tertentu. Tulang orbita yang melindungi mata

juga mengandung berbagai saraf lainnya.

 Saraf optikus membawa gelombang saraf yang dihasilkan di dalam retina ke otak

 Saraf lakrimalis merangsang pembentukan air mata oleh kelenjar air mata

 Saraf lainnya menghantarkan sensasi ke bagian mata yang lain dan merangsang otot

pada tulang orbita

Arteri oftalmika, dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan mata kanan,

sedangkan darah dari mata dibawa oleh vena oftalmika dan vena retinalis.

C. STRUKTUR PELINDUNG

Struktur disekitar mata melindungi dan memungkinkan mata bergerak secara bebas ke

segala arah. Struktur tersebut melindungi mata terhadap debu, angin, bakteri, virus, jamur,

3
dan bahan-bahan berbahaya lainnya, tetapi juga memungkinkan mata tetap terbuka sehingga

cahaya masih bisa masuk.

 Orbita adalah rongga bertulang yang mengandung bola mata, otot-otot, saraf,

pembuluh darah, lemak, dan struktur yang menghasilkan dan mengalirkan air mata.

Rongga orbita adalah rongga yang berisi bola mata dan terdapat 7 tulang yang

membentuk dinding orbita yaitu: lakrimal, etmoid, sphenoid, frontal dan dasar orbita

yang terutama terdiri atas tulang maksila, bersama-sama tulang palatinum dan

zigomtikus. Foramen optic terletak pada apeks rongga orbita dilalui oleh saraf optic,

arteri, vena, dan sarf simpatik yang berasal dari pleksus carotid. Fisura orbita superior

disudut orbita atas temporal dilalui saraf lakrimal (V), saraf frontal (V), saraf troklear

(IV), saraf okulomotor (III), saraf nasosiliar (V), abdusen (VI) dan arteri vena

optalmik. Fosa lakrimal terletak disebelah temporal atas tempat duduknya.

 Kelopak mata merupakan lipatan kulit tipis yang melindungi mata, pada bagian depan

sedang di bagian belakang ditutupi selaput lender tarsus yang disebut konjungtiva

tarsal. Kelopak mata secara reflex segera menutup untuk melindungi mata dari benda

asing, angin, debu, dan cahaya yang sangat terang.

Ketika berkedip, kelopak mata membantu menyebarkan cairan ke seluruh

permukaan mata dan ketika tertutup, kelopak mata mempertahankan kelembaban

permukaan mata. Tanpa kelembaban tersebut, kornea bisa menjadi kering, terluka,

dan tidak tembus cahaya.

Bagian dalam kelopak mata adalah selaput tipis (konjungtiva) yang juga

membungkus permukaan mata.

Pada kelopak terdapat bagian-bagian:

 Kelenjar : kelenjar sebasea, kelenjar Moll atau kelenjar keringat, kelenjar Zeis

pada pangkal rambut, dan kelenjar Meibom tarsus.

4
 Otot : M. orbikularis okuli yang berjalan melingkar di dalam kelopak mata atas

dan bawah, dan terletak dibawah kulit kelopak. Pada dekat tepi margo palpebra

terdapat otot orbikularis okuli yang disebut M. Rioland. M. levator palpebra

yang berorigo pada anulus foramen orbita dan berinsersi pada tarsus atas dengan

sebagian menembus M. orbikularis okuli menuju kulit kelopak bagian tengah.

Bagian kulit tempat insersi M. levator palpebra terlihat sebagai sulkus (lipatan

palpebra). Otot ini dipersarafi oleh n. III,

 Septum orbita yang merupakan jaringan fibrosis berasal dari rima orbita

merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan.

 Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan rumus frontal n.V, sedang

kelopak bawah oleh cabang ke II saraf V. Pembuluh darah yang

memperdarahinya adalah a. palpebra.

Konjungtiva tarsal yang terletak dibelakang kelopak hanya dapat dilihat

dengan melakukan eversi kelopak. Konjungtiva tarsal melalui forniks menutup

bulbus okuli. Konjungtiva merupakan membran mukosa yang mempunyai sel

goblet yang menghasilkan musin.

 Bulu mata merupakan rambut pendek yang tumbuh di ujung kelopak mata dan

berfungsi membantu melindungi mata dengan bertindak sebagai barrier (penghalang).

Kelenjar kecil di ujung kelopak mata menghasilkan bahan berminyak yang mencegah

penguapan air mata.

 Kelenjar lakrimalis terletak di puncak tepi luar dari mata kiri dan kanan dan

menghasilkan air mata yang encer. Air mata mengalir dari mata ke dalam hidung

melalui 2 duktus lakrimalis. Setiap duktus memiliki lubang di ujung kelopak mata

atas dan bawah, di dekat hidung. Air mata berfungsi menjaga kelembaban dan

kesehatan mata, juga menjerat dan membuang partikel-partikel kecil yang masuk ke

5
mata. Selain itu, air mata kaya akan antibody yang membantu mencegah terjadinya

infeksi.

Bagian-bagian mata yang berperan sebagai media penglihatan, antara lain :

1. Kornea

Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya,

merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan.

Lapisan pada kornea terdiri dari :

 Epithelium

 Membrane Bowmann

 Stroma

 Membrane Descement

 Endothelium

6
2. Bilik mata depan

Sudut bilik mata yang dibentuk jaringan korneosklera dengan pangkal iris.

Pada bagian ini terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata. Bila terdapat hambatan

aliran keluar cairan mata (aquos humor) maka akan terjadi penimbunan cairan

bilik mata di dalam bola mata sehingga tekanan bola mata (TIO) akan meningkat

atau glaukoma. Berdekatan dengan sudut ini akan ditemukan jaringan trabekulum,

kanal Schlemm, baji sclera, garis Schwalbe, dan jonjot iris.

Sudut bilik mata depan sempit terdapat pada mata berbakat glaukoma sudut

tertutup, hipermetropia, blockade pupil, katarak intumesen, dan sinekia posterior

perifer.

3. Iris dan pupil

Pangkal iris melekat pada corpus siliaris yang akan berperan dalam proses

akomodasi. Iris mempunyai celah di bagian tengahnya dan disebut pupil. Pupil ini

akan mengatur jumlah cahaya yang masuk yang dibutuhkan oleh mata dan

kemudian membiasakannya pada lensa.

4. Lensa mata

Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks yang terletak di dalam bilik mata

belakang. Lensa dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di

dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus menerus

sehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga

terbentuk nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling

dini dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Di dalam lensa

dapat dibedakan nukleus embrional, fetal, dan dewasa. Dibagian luar nukleus ini

7
terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut korteks. Korteks yang terletak di

sebelah depan lensa disebut korteks anterior, sedangkan di belakangnya korteks

posterior. Nukleus lensa mempunyai kepadatan lebih keras disbanding korteks

lensa yang lebih muda. Di sekitar serat lensa ini terdapat kapsul lensa. Di bagian

perifer kapsul lensa terdapat Zonula zinn yang menggantungkan lensa di bidang

ekuatornya pada corpus siliaris.

Secara fisiologik, lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu :

a. Kenyal atau lentur karena berperan penting dalam proses akomodasi

b. Jernih atau transparan karena berfungsi sebagai media penglihatan.

Sedangkan secara patologik, sifat lensa dapat berubah, antara lain :

a. Tidak kenyal atau tidak lentur, sehingga proses akomodasi menjadi

terganggu, keadaan ini disebut presbiopia.

b. Tidak jernih atau keruh, sehingga visual pathway atau jalannya

penglihatan menjadi terganggu, keadaan ini disebut katarak.

5. Corpus vitreus

Corpus vitreus atau disebut juga badan kaca merupakan bahan gelatin yang

mengandung sel leukosit. Bersifat semi cair yang mengandung air sebanyak 90%

sehingga tidak dapat lagi menyerap air. Sifat lainnya adalah bening atau

transparan, tidak berwarna, dan dengan konsistensi lunak. Berfungsi untuk

mempertahankan bentuk bola mata, hal ini disebabkan karena corpus vitreus

mengisi sebagian besar bola mata. Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan

sinar dari lensa ke retina. Corpus vitreus tidak mempunyai pembuluh darah,

8
menerima nutrisi dari jaringan di sekitarnya, seperti corpus siliaris, koroid, dan

retina.

6. Retina

Retina merupakan membrane tipis yang terdiri atas saraf sensorik penglihatan

dan serat saraf optik. Retina merupakan jaringan saraf mata yang dibagian luarnya

berhubungan erat dengan koroid. Koroid memberikan nutrisi pada retina luar atau

sel kerucut dan sel batang. Bagian koroid yang memegang peranan penting dalam

metabolism retina adalah membran Bruch dan sel epitel pigmen. Retina bagian

dalam mendapat metabolisme dari arteri retina sentral.

Dari luar ke dalam secara histologik, retina dibagi dalam 10 lapisan, yaitu :

 Lapisan epitel pigmen, yang merupakan bagian koroid

 Lapisan sel batang dan kerucut (sel fotoreseptor)

 Lapisan membran pembatas luar

 Lapisan inti luar

 Lapisan pleksiform luar

 Lapisan inti dalam

 Lapisan pleksiform dalam

 Lapisan sel ganglionik

 Lapisan serabut sel saraf

 Lapisan membran pembatas dalam

9
Pada bagian sumbu aksial posterior, retina tidak terdiri atas 10 lapisan. Hal ini

untuk memudahkan sinar dari luar mencapai sel kerucut dan sel batang. Bagian ini

disebut macula lutea atau bintik kuning. Daerah ini merupakan penglihatan sentral

dimana ketajaman penglihatan maksimal. Makula lutea pada pemeriksaan funduskopi

akan terlihat lebih jelas karena ketipisannya dank arena adanya reflex fovea yang

merupakan sinar yang dipantulkan kembali. Pada saat ini akan terasa silau sekali.

Fovea sentral merupakan bagian retina yang sangat sensitive dan yang akan

menghasilkan ketajaman penglihatan maksimam atau 6/6. Bila terjadi kerusakkan

pada fovea sentral ini maka ketajaman penglihatan akan sangat menurun karena

pasien akan melihat dengan bagian perifer makula lutea.

Sel fotoreseptor terdiri atas sel kerucut yang mempunyai 6 juta sel pada setiap

mata, yang berperan dalam penglihatan warna (pigmen warna). Sedangkan sel batang

mempunyai 12 juta sel pada setiap mata, yang mempunyai peran dalam penglihatan

dalam gelap (rodopsin). Sel kerucut 500 kali lebih sensitif terhadap cahaya dsbanding

sel batang.

10
7. Nervus optikus

Saraf penglihatan yang meneruskan rangsangan listrik dari mata ke korteks

visual untuk dikenali bayangannya. Kelainan refraksi dapat terjadi karena adanya

kelainan pada kelengkungan kornea dan lensa. Indeks bias yang berkurang dan

adanya kelainan pada sumbu mata.

D. Penyakit-Penyakit Mata Putih dengan Visus Menurun Mendadak

1. NEURITIS OPTIK

o Definisi

Neuritis optik adalah gangguan penglihatan yang disebabkan karena peradangan pada

saraf optik.

Neuritis optik terjadi akibat saraf optik yang merupakan jaras yang membawa impuls

penglihatan ke otak mengalami peradangan serta sarung myelin yang membungkus saraf

tersebut mengalami kerusakkan (proses ini disebut juga demielinisasi). Terjadinya sangat

khas pada salah satu mata (70%) yang menyebabkan gangguan penglihatan yang cepat dan

progresif tetapi bersifat sementara. Sekitar 30% penderita terjadi pada kedua mata. Neuritis

optik cenderung menyerang dewasa muda dengan usia rata-rata 30-an. Tujuh puluh lima

persen penderita merupakan wanita.

Kerusakkan saraf terjadi pada bagian saraf optik yang letaknya di belakang bola mata

dan disebut juga neuritis retrobulbar serta sering dikaitkan dengan penyakit sklerosis

multiple. Peradangan saraf optik dan edema (pembengkakan) terjadi akibat tekanan

intrakranial pada tempat dimana saraf masuk ke dalam bola mata. Peradangan di tempat

tersebut disebut papilitis.

11
o Penyebab dan Gejala

Gejala-gejala neuritis optik adalah jika ditemukan satu atau lebih gejala berikut ini,

yaitu :

 Penglihatan kabur

 Bintik atau bercak buta, terutama pertengahan lapang pandang

 Nyeri saat pergerakkan bola mata

 Sakit kepala

 Buta warna mendadak

 Gangguan penglihatan pada malam hari

 Gangguan ketajaman penglihatan

Neuritis optik sering diakibatkan oleh penyakit sklerosis multiple. Penyebab lainnya

adalah infeksi virus, jamur, ensefalomielitis, penyakit-penyakit autoimun atau tumor yang

menekan saraf penglihatan atau penyakit-penyakit pembuluh darah (misalnya radang arteri

temporal). Beberapa bahan kimia beracun seperti methanol dan timah hitam dapat

menyebabkan kerusakkan saraf optik. Kerusakkan saraf optik dapat juga dikarenakan

penyalahgunaan alkohol dan rokok. Neuritis optik dapat juga disebabkan karena gangguan

sistem kekebalan tubuh.

o Diagnosis

Dokter mata akan memeriksa mata penderita dan menetukan diagnosis neuritis optik.

Pemeriksaan mata lengkap termasuk pemeriksaan ketajaman penglihatan, pemeriksaan buta

warna serta pemeriksaan retina dan diskus optik dengan menggunakan oftalmoskop. Tanda-

tanda klinis seperti gangguan reaksi pupil jelas terlihat selama pemeriksaan mata tetapi pada

beberapa keadaan mata terlihat normal. Riwayat medis penderita dapat digunakan untuk

mengetahui apakah pernah terpapar kontak dengan bahan-bahan beracun seperti timah hitam

yang dapat menyebabkan neuritis optik. Pemeriksaan lebih lanjut dengan menggunakan MRI

12
(Magnetic Resonance Imaging) diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Dengan MRI dapat

dibuktikan tanda-tanda sklerosis multiple.

o Terapi

Pengobatan neuritis optik tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Gangguan

penglihatan yang disebabkan infeksi virus akan membaik sendiri setelah diberikan

pengobatan terhadap virus. Neuritis optik yang disebabkan bahan-bahan beracun dapat diatasi

bila sumber-sumber atau kontak dengan racun dihindari.

Pemberian kortikosteroid suntikan yang dilanjutkan dengan pemberian oral pada

penderita neuritis optik akibat sklerosis multiple sangat cepat memperbaiki penglihatan

penderita, tetapi masih diperdebatkan penggunaannya untuk mencegah kekambuhan.

Terapi percobaan neuritis optik menunjukkan bahwa steroid yang diberikan dengan

suntikkan intravena efektif untuk mengurangi serangan neuritis optik akibat penyakit

sklerosis multiple hingga 2 tahun, tetapi perlu penelitian lebih lanjut. Prednisone yang

diberikan secara oral tampaknya dapat meningkatkan serangan berulang neuritis optik

sehingga terapi ini tidak dianjurkan.

o Prognosis

Gangguan penglihatan yang disebabkan karena neuritis optik biasanya bersifat

sementara. Remisi (penyembuhan) spontan terjadi dalam dua hingga lima minggu. Saat masa

pemulihan, 65% - 80% ketajaman penglihatan penderita menjadi lebih baik. Prognosis jangka

panjang tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika serangan ini ditimbulkan oleh

infeksi virus, maka akan mengalami penyembuhan sendiri tanpa meninggalkan efek samping.

Jika neuritis optic dipicu oleh sklerosis multipel, maka serangan berikutnya harus dihindari.

Tiga puluh tiga persen penderita neuritis optik akan kambuh dalam lima tahun. Tiap

kekambuhan menyebabkan pemulihannya tidak sempurna bahkan memperburuk penglihatan

seseorang. Ada hubungan yang kuat antara neuritis optik dengan sklerosis multipel. Pada

13
orang yang tidak mengalami sklerosis multipel maka separuh dari mereka yang mengalami

gangguan penglihatan akibat neuritis optik akan menderita penyakit ini dalam 15 tahun.

o Pencegahan

Pemeriksaan mata secara teratur untuk menjaga kesehatan mata. Pengobatan dini

terhadap masalah penglihatan dapat mencegah kerusakkan permanen pada saraf mata.

2. ABLASIO RETINA

o Definisi

Ablasio retina adalah suatu keadaan dimana terjadi pelepasan sensoris retina (sel

batang dan kerucut) dari lapisan pigmen retina atau RPE.

o Penyebab

Penyebab penyakit ini antara lain karena factor usia (insidennya meningkat pada usia

pertengahan atau lebih tua), akibat terdapatnya benda padat keras yang masuk ke dalam mata

atau bersifat herediter (biasanya terjadi pada individu yang memiliki riwayat penyakit ini

dalam keluarga). Penyebab lain seperti akibat komplikasi diabetes mellitus serta penyakit

inflamasi, tumor, dan trauma. Walapun agak jarang, kondisi ini dapat merupakan penyakit

keturunan bahkan dapat terjadi pada bayi dan anak-anak. Ablasio retina merupakan kelainan

yang bersifat darurat dan perlu mendapat tindakan segera. Karena bila tidak ditangani sedini

mungkin dapat menyebabkan gangguan penglihatan atau kebutaan.

Sebagian besar ablasio retina terjadi karena adanya satu atau lebih robekan kecil atau

lubang pada retina, kadang proses penuaan yang normal pun dapat menyebabkan retina

menjadi tipis dan kurang sehat, sehingga cairan yang terletak antara lapisan epitel pigmen dan

lapisan sel batang dan kerucut lamabt laun meluas ke bawah dan selalu mencari tempat

terendah. Makin lama cairan yang masuk makin banyak, ablasi semakin tinggi, retina akan

menjadi berlipat-lipat dan akhirnya seluruh retina terlepas, kecuali pada ora serrata dan papil

saraf optik.

14
Bila disebabkan karena penipisan retina tau penyusutan vitreus yang biasanya terjadi

seiring dengan bertambahnya usia atau akibat pertumbuhan mata abnormal (penglihatan

dekat), trauma dan inflamasi maka vitreus akan terlepas dari retina dan meninggalkan satu

atau lebih lubang di retina.

o Klasifikasi

Dikenal 3 macam bentuk ablasio retina, yaitu :

1. Ablasio retina regmatogenosa

Ablasio retina dimana terjadi pemutusan total (suatu “regma”) di retina

sensorik. Gejala yang biasanya terjadi berupa fotopsia (melihat pijaran api),

melihat benda bergerak, kehilangan lapang pandang perifer, penglihatan sentral

yang tidak jelas serta metamorfopsia.

Pada funduskopi didapatkan kelainan berupa :

 Pigmen pada badan kaca (tanda Shaffer)

 Retina terangkat berwarna pucat dengan pembuluh darah diatasnya

 Robekan retina berwarna merah

 Retina tampak berwarna susu, berkilauan, dengan lipatan undulasi retina

2. Ablasio retina serosa atau eksudatif

Ablasio retina yang terjadi akibat terdapatnya timbunan cairan serosa atau

eksudat di bawah retina sensorik. Cairan dapat mengikuti hokum gravitasi yaitu

selalu mengikuti tempat terbawah dari mata.

Keluhan seperti berkurangnya lapang pandang dan metamorfopsia dapat

terjadi. Pada fundus okuli didapatkan kelainan seperti gambaran retina yang

halus, tembus cahaya dan menonjol seperti kubah, biasanya tidak terdapat

perdarahan kecuali bila terjadi vaskulopati retina.

3. Ablasio retina akibat traksi

15
Terjadi akibat kontraksi pada korpus vitreus sehingga menarik jaringan

fibrovaskuler proliferative (jaringan parut) dan retina dibawahnya ke arah

anterior menuju dasar korpus vitreus. Penyakit ini terjadi perlahan-lahan dan

progresivitasnya ditentukan oleh proliferasi fibrovaskuler.

Gejala yang terjadi berupa berkurangnya penglihatan sentral dan dapat

menyebabkan kehilangan penglihatan bila tidak diobati. Pada funduskopi

diperoleh gambaran permukaan yang lebih konkaf, halus dan gambaran pita

memancar keluar dari korpus vitreus.

o Diagnosis

 Subjektif

Antara lain penderita mengeluh kilatan-kilatan cahaya beberapa hari atau

minggu sebelumnya (fotopsia), melihat tirai yang bergerak ke satu arah, lambat

laun tirai semakin turun dan menutup mata (terjadi ablasi total, persepsi cahaya

menjadi 0). Pada beberapa kasus mungkin terjadi tanpa kilatan-kilatan yang nyata

tapi penglihatan seolah bergelombang atau berair atau pada penglihatan pinggir

terdapat bayangan hitam.

 Objektif

Dengan oftalmoskop, didaptkan fundus okuli :

 Retina berwarna kehijauan dengan lipatan berwarna putih, tidak

bergelombang, retina yang lepas sedikit berubah warna menjadi abu-abu

seperti awan.

 Gambaran koroid kadang masih terlihat (refleks merah)

 Pembuluh darah berwarna lebih gelap, lebih berkelok-kelok, refleks cahaya

(-)

16
o Terapi

Penatalaksanaan ablasio retina regmatogenosa dibedakan berdasarkan akut dan

kronik. Pada yang akut harus ditangani dalam waktu 24-48 jam dan yang kronik dalam waktu

1 minggu setelah ditegakkan diagnosis.

Terapi yang dapat diberikan seperti fotokoagulasi laser bila ditemukan robekan-

robekan kecil dengan sedikit atau tanpa lepasnya retina dan cryopexy yaitu membekukan

dinding bagian belakang mata yang terletak di belakang robekan retina dengan dinding

belakang bola mata. Pilihan lain untuk terapi ablasi retina regmatogenosa seperti prosedur

buckling sclera, retinopexy pneumatic, dan tamponade minyak silicon intraocular.

Ablasio retina akibat traksi dapat diterapi dengan metode tamponade minyak silicon

dan pembedahan viterktomi persplana. Sedangkan ablasio retina serosa atau eksudatif

penanganannya lebih sederhana dan biasanya membaik spontan dengan penanganan yang

sesuai pada kondisi tertentu.

3. OBSTRUKSI VENA RETINA SENTRAL

o Definisi

Penyumbatan vena retina yang mengakibatkan gangguan perdarahan di dalam bola

mata. Biasanya penyumbatan terletak di mana saja pada retina, akan tetapi lebih sering

terletak di depan lamina kribosa. Penyumbatan vena retina dapat terjadi pada suatu cabang

kecil ataupun pembuluh vena utama (vena retina sentral), sehingga daerah yang terlibat

memberi gejala sesuai dengan daerah yang dipengaruhi. Suatu penyumbatan cabang vena

retina lebih sering terdapat di daerah temporal atas atau temporal bawah.

Penyumbatan vena retina sentral mudah terjadi pada pasien dengan glaukoma,

diabetes mellitus, hipertensi, kelainan darah, arteriosklerosis, papil edema, retinopati radiasi,

dan penyakit pembuluhh darah. Trombosit dapat terjadi akibat endoflebitis.

17
Sebab-sebab terjadinya penyumbatan vena retina sentral, antara lain :

 Akibat kompresi dari luar terhadap vena tersebut seperti yang terdapat pada

proses arteriosklerosis atau jaringan pada lamina kribosa.

 Akibat penyakit pada pembuluh darah vena sendiri seperti fibrosklerosis atau

endoflebitis.

 Akibat hambatan aliran darah dalam pembuluh vena tersebut seperti yang

terdapat pada kelainan viskositas darah, diksrasia darah, atau spasme arteria

retina yang berhubungan.

o Gejala dan Gambaran Klinis

Tajam penglihatan sentral terganggu bila perdarahan mengenai daerah macula lutea.

Penderita biasanya mengeluh adanya penurunan tajam penglihatan sentral ataupun perifer

mendadak yang dapat memburuk sampai hanya tinggal persepsi cahaya. Tidak terdapat rasa

sakit dan mengenai satu mata.

Pada pemeriksaan funduskopi pasien dengan oklusi vena sentral akan terlihat vena

yang berkelok-kelok, udem macula dan retina, perdarahan berupa titik terutama bila terdapat

penyumbatan vena yang tidak sempurna.

Pada retina terdapat udem retina dan macula dan juga bercak-bercak (eksudat) wol

katun yang terdapat di antara bercak-bercak perdarahan. Papil edema dan pulsasi vena

menghilang karena penyumbatan biasanya terletak pada lamina kribosa. Terdapat papil

merah dan menonjol (papil edema) disertai perdarahan di tempat yang jauh (perifer) dan ini

merupakan gejala awal penyumbatan di tempat yang sentral. Penciutan lapangan pandang

atau suatu skotoma sentral dan defek irregular. Dengan angiografi fluoresen dapat ditentukan

beberapa hal seperti letak penyumbatan, penyumbatan total, atau sebagian dan ada atau

tidaknya neovaskularisasi.

18
o Terapi

Terutama ditujukan kepada mencari penyebab dan mengobatinya, antikoagulasia, dan

fotokoagulasia daerah retina yang menghalangi hipoksia. Steroid diberi bila penyumbatan

disebabkan oleh flebitis.

Akibat penyumbatan ini, akan terjadi gangguan fungsi penglihatan, sehingga tajam

penglihatan menjadi berkurang. Pada keadaan ini dapat dipertimbangkan untuk melakukakn

fotokoagulasi. Pengobatan dengan menurunkan tekanan bola mata dan mengatasi

penyebabnya.

Edema dan perdarahan retina akan diserap kembali dan hal ini dapat memberikan

perbaikan visus. Penyulit oklusi vena retina sentral berupa perdarahan masif ke dalam retina

sentral, berupa perdarahan masif ke dalam retina terutama pada lapis serabut saraf retina dan

tanda iskemia retina. Pada penyumbatan vena retina sentral perdarahan juga dapat terjadi di

depan papilla dan ini dapat memasuki badan kaca menjadi perdarahan badan kaca. Oklusi

vena sentral dapat menimbulkan terjadinya pembuluh darah baru yang dapat ditemukan di

sekitar papil, iris, dan di retina (rubeosis iridis). Rubeosis iridis dapatmengakibatkan

terjadinya glaucoma sekunder, dan hali ini dapat terjadi dalam waktu 1-3 bulan. Penyulit

yang terdapat adalah glaukoma hemoragik atau neovaskuler.

4. OKLUSI ARTERI RETINA SENTRAL

o Definisi

Penyumbatan arteri retina sentral dapat disebabkan oleh radang arteri, thrombus, dan

embolus pada arteri, spasme pembuluh darah, akibat terlambatnya pengaliran darah, giant cell

arthritis, penyakit kolagen, kelainan hiperkoagulasi, sifilis, dan trauma. Tempat tersumbatnya

arteri retina sentral biasanya di daerah lamina kribosa. Emboli merupakan penyebab

penyumbatan arteri retina sentral yang paling sering. Emboli dapat berasal dari perkapuran

19
yang berasal dari penyakit emboli jantung. Nodus-nodus reuma, carotid plaque, atau emboli

endokarditis.

o Penyebab

Spasme pembuluh lainnya antara lain pada migren, keracunan alkohol, tembakau,

kina, atau timah hitam. Perlambatan aliran pembuluh darah retina terjadi pada peninggian

tekanan intraocular, stenosis aorta, atau arteri carotis. Kelainan ini biasanya terjadi mengenai

satu mata, dan terutama mengenai arteri pada daerah masuknya di lamin kribosa.

o Gejala dan Gambaran Klinis

Pada oklusi retina sentraldimulai dengan penglihatan kabur yang hilang timbul

(amaurosis fugaks) dengan tidak disertai rasa sakit dan kemudian gelap menetap. Penurunan

visus yang mendadak biasanya disebabkan oleh penyakit-penyakit emboli. Penurunan visus

yang merupakan serangan-serangan yang berulang dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit

spasme pembuluh atau emboli yang berjalan. Penyumbatan arteri retina sentral akan

menyebabkan keluhan penglihatan tiba-tiba gelap tanpa terlihat kelainan pada mata luar.

Pasien akan mengeluh penglihatan menurun kemudian menetap tanpa adanya rasa sakit.

Reaksi pupil menjadi lemah dengan pupil anisokoria.

Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat seluruh retina berwarna pucat akibat

edema dan gangguan nutrisi pada retina. Terdapat bentuk gambaran sosis pada arteri retina

akibat pengisian arteri yang tidak merata. Sesudah beberapa jam retina akan tampak pucat,

keruh keabua-abuan yang disebabkan edema lapisan dalam retina dan lapisan sel ganglion.

Pada keadaan ini akan terlihat gambaran merah ceri atau cherry red spod pada macula lutea.

Hal ini disebabkan karena tidak adanya lapisan ganglion di macula, sehingga macula

mempertahankan warna aslinya. Lama-kelamaan papil menjadi pucat dan batasnya kabur.

20
o Terapi

Pengobatan dini dapat dengan menurunkan tekanan bola mata dengan mengurut bola

mata, dan azetazolamid atau parasentesis bilik mata depan. Vasodilator pemberian bersama

antikoagulan dan diberikan steroid bila diduga terdapatnya peradangan maka akan diberikan

steroid. Pasien dengan oklusi arteri retina sentral harus secepatnya diberikan O2.

o Penyulit

Penyulit yang dapat timbul adalah glaukoma neovaskular tergantung pada letak dan

lamanya terjadinya oklusi maka kadang-kadang visus dapat kembali normal tapi lapang

pandang menjadi kecil.

5. KEKERUHAN DAN PERDARAHAN CORPUS VITREUS

o Definisi

Kekeruhan badan kaca kadang-kadang terjadi akibat penuaan disertai degenerasi

berupa terjadinya koagulasi protein badan kaca. Hal ini biasanya disertai dengan pencairan

badan kaca bagian belakang. Akibat bagian depan masih melekat erat maka akan terjadi

gerakan-gerakan bergelombang seperti hujan. Keadaan ini tidak banyak menggangu

penglihatan.

Perdarahan pada badan kaca adalah suatu keadaan yang cukup gawat karena dapat

memberikan penyulit yang mengakibatkan kebutaan pada mata.

o Penyebab dan Gejala

Perdarahan pada badan kaca dapat terjadi spontan pada diabetes mellitus, ruptur

retina, ablasi badan kaca. Kelainan darah dan perdarahan juga dapat memberikan perdarahan

dalam badan kaca. Diabetes mellitus, hipertensi, dan trauma merupakan penyebab utama

perdarahan badan kaca. Perdarahan badan kaca yang disebabkan trauma dapat akibat trauma

tumpul atau kontusi jaringan dan suatu trauma tembus.

21
Perdarahan badan kaca akan menyebabkan turunnya penglihatan mendadak lapang

pandangan ditutup oleh sesuatu sehingga mengganggu penglihatan tanpa rasa sakit.

Perdarahan dalam badan kaca biasanya cepat sekali menggumpal. Keadaan ini disebabkan

susunan badan kaca disertai terdapatnya bahan seperti tromboplastin di dalam badan kaca

o Diagnosis

Pada pemeriksaan fundus tidak terlihat adanya refleks fundus yang berwarna merah

dan sering memberikan bayangan hitam yang menutup retina. Perdarahan dalam badan kaca

akan menyebar sesudah beberapa minggu, dimana kemudian sel darah merah dimakan oleh

sel leukosit dan sel plasma.

Perdarahan badan kaca pada diabetes mellitus dapat timbul tiba-tiba, yang biasanya

akan jernih dan di absorpsi setelah bebrapa minggu atau bulan, walaupun demikian keadaan

ini merupakan ancaman untuk terjadinya perdarahan berulang.

o Terapi

Pengobatan berupa istirahat dengan kepala sakit lebih tinggi paling sedikit selama 3

hari. Bila sedang minum obat maka hentikan obat, seperti aspirin, antiradang non steroid,

kecuali bila sangat dibutuhkan. Darah dikeluarkan dari badan kaca bila terdapat bersama

ablasio retina atau perdarahan yang lebih lama dari 6 bulan, dan bila terjadi glaukoma

hemolitik.

o Penyulit

Penyulit dapat terjadi, bila terjadi reaksi proliferasi jaringan (retinitis proliferans)

yang akan mengancam penglihatan. Bila terbentuk jaringan parut akan terjadi perubahan

bentuk badan kaca yang dapat mengakibatkan terjadinya ablasi retinitis. Retinitis proliferans

bersifat irreversible walaupun perkembangan pembuluh darah telah berhenti.

22
6. RETINOPATI SEROSA SENTRAL

o Definisi

Retinopati serosa sentral adalah suatu keadaan lepasnya retina dari lapis pigmen epitel

di daerah macula akibat masuknya cairan melalui membrane bruch dan pigmen epitel yang

inkompeten.

Retinopati serosa dapat bersifat residif. Biasanya dijumpai pada penderita laki-laki

berusia antara 20 sampai 50 tahun. Didapatkan pada perempuan hamil dan pada usia di atas

60 tahun.

o Penyebab dan Gejala

Akibat tertimbunnya cairan di bawah macula akan terdapat gangguan fungsi macula

sehingga visus menurun disertai metamorfopsia, hipermetropia dengan skotoma relative dan

positif (kelainan pada uji Amster kisi-kisi). Penglihatan biasanya di antara 20/20 sampai

20/80. Dengan uji Amster terdapat penyimpangan garis lurus disertai dengan skotoma.

Berkurangnya fungsi makula terlihat dengan penurunan kemampuan melihat warna.

o Diagnosis

Pada funduskopi akan terlihat terangkatnya retina dapat sangat kecil dan dapat seluas

diameter papil. Lepasnya retina dari epitel pigmen akibat masuknya cairan dari subretinal ini

dapat dilihat dengan pemeriksaan angiografi fluoresen.

Biasanya retinopati serosa sentral akan meyembuh setelah kira-kira 8 minggu dengan

tidak terdapatnya lagi kebocoran. Pada keadaan ini cairan subretina akan diserap kembali dan

retina akan melekat kembali pada epitel pigmen tanpa gejala sisa subjektif yang menyolok.

Pada macula masih dapat terlihat gambaran perubahan pada epitel pigmen.

o Terapi

Pengobatan retinopati serosa sentral adalah dengan melihat letak kebocoran yang

kadang-kadang tidak perlu dilakukan segera fotokoagulasi. Bila terjadi penurunan visus

23
akibat gangguan metabolisme macula maka dapat dipertimbangkan fotokoagulasi,. Umumnya

kelainan ini menghilang dengan sendirinya setelah 6 sampai 8 minggu, biasanya akan hilang

total setelah 4 sampai 6 bulan.

7. AMAUROSIS FUGAKS

o Definisi

Amaurosis fugaks atau buta sekejap satu mata yang berulang. Gelap sementara selama

2 sampai 5 detik yang biasanya mengenai satu mata pada saat serangan dan normal kembali

sesudah beberapa menit dan jam, disertai dengan gangguan kampus segmental tanpa rasa

sakit dan terdapat gejala-gejala sisa. Monocular amaurosis fugaks dapat terjadi akibat

hipotensi ortostatik, spasme pembuluh darah, aritmia, migren retina, anemia arthritis, dan

koagulopati.

o Penyebab dan Gejala

Hilangnya penglihatan ini jarang total dan dapat merupakan gejala dini obstruksi

arteri retina sentral. Amaurosis fugaks merupakan tanda yang paling sering pada insufisiensi

arteri carotis atau terdapatnya emboli pada arteri oftalmik retina.

Penyebab Amaurosis Fugaks

Penyakit Arteri 1) Stenosis arteri karotis

2) Ulserasi arteri karotis

a) Bifukarsi

b) Sifon karotid

3) Stenosis arteri oftalmik

Penyakit jantung 1) Disritmia

2) Penyakit valvular, seperti : prolaps kata mitral

3) Aneursma ventrikular kiri atau trombosis mural

24
sekunder karena infark miokard

Penyakit hematologik 1) Anemia

2) Polisitemia

3) Makroglobulinemia

4) Penyakit sel sikel

Lain-lain 1) Kompresi mekanik arteri vertebra atau karotis

2) Episode hipersensitif

3) Episode hiposensitif

a) Obat

b) Spontan (seperti : diabetes, penyakit addison)

4) Arteritis

5) Tekanan intraokular yang naik

o Diagnosis

Pada amaurosis fugaks biasanya tidak ditemukan kelainan fundus karena pendeknya

serangan. Pada fundus tidak terdapat kelainan dan kadang-kadang terlihat adanya plak putih

atau cerah atau suatu embolus di dalam arteriol. Beda dengan TIA (Transient iskemik attack)

adalah TIA dapat mengenai kedua mata. Diagnosis banding adalah dengan migren,

papiledema, myopia, anemia, polisitemia, hipotensi, dan kelainan darah.

o Terapi

Pengobatan penyakit karotis dengan aspirin 325 mg dan berhenti merokok. Kontrol

diabetes mellitus atau hipertensi sebagai penyebab. Pada penyakit jantung aspirin 325 mg 4

kali sehari dengan pertimbangan bedah jantung dan kontrol semua risiko yang berhubungan

dengan arteriosklerosis. Biasanya diberi salisilat dan obat untuk mobilisasi sel darah.

25
8. UVEITIS POSTERIOR/KOROIDITIS

o Definisi

Peradangan lapis koroid bola mata yang dapat dalam bentuk :

 Koroiditis anterior, radang koroid perifer

 Koroiditis areolar, koroiditis bermula di daerah makula lutea dan menyebar ke

perifer

 Koroiditis difusa atau diseminata, bercak peradangan koroid tersebar di seluruh

findus okuli

 Koroiditis eksudatif, koroiditis disertai bercak-bercak eksudatif

 Koroiditis juksta papil

o Penyebab dan Gejala

 Penglihatan kabur terutama bila mengenai daerah sentral makula, bintik terbang

(floater), mata jarang menjadi merah

 Pada mata akan ditemukan kekeruhan di dalam badan kaca, infiltrat dalam retina

9. AMBLIOPLIA TOKSIK

Pada keracunan beberapa obat dapat terjadi kebutaan mendadak neuritis optik toksik

dapat terjadi pada keracunan alkohol atau tembakau, timah dan bahan toksis lainnya.

Biasanya terdapat tanda-tanda lapang pandangan yang berubah-ubah.

Pada uremia dapat terjadi ambliopia uremik, dimana penglihatan akan berkurang.

Berkurangnya penglihatan akibat keracunan alkohol mengakibatkan ambliopia alkohol.

Hilangnya penglihatan sentral bilateral, akibat keracunan metal alkohol dan juga akibat gizi

buruk.

26