Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk
dapat menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, maka setiap
satuan/program pendidikan harus memenuhi atau melampaui standar yang
dilakukan melalui kegiatan akreditasi terhadap kelayakan setiap
satuan/program pendidikan. Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan
nasional secara bertahap, terencana dan terukur sesuai amanat Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, BAB XVI Bagian
Kedua Pasal 60 tentang Akreditasi, Pemerintah melakukan akreditasi untuk
menilai kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. Berkaitan dengan hal
tersebut, Pemerintah telah menetapkan Badan Akreditasi Nasional
Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) dengan Peraturan Mendiknas Nomor 29
Tahun 2005.
Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan, khususnya Pasal 87 ayat (2). Sejalan dengan kegiatan
reformasi birokrasi yang ada di lingkungan Kemdiknas demi mewujudkan
layanan prima kepada publik, maka layanan akreditasi sekolah/madrasah
menjadi salah satu program dalam reformasi layanan. Reformasi layanan
mengacu pada UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.sehingga
mewujudkan sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak sesuai
dengan asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian akreditasi?
2. Bagaimana urgensi akreditasi lembaga pendidikan?
3. Apakah tujuan dan fungsi akreditasi lembaga pendidikan?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian akreditasi.
2. Untuk mengetahui urgensi akreditasi lembaga pendidikan.
3. Untuk tujuan dan fungsi akreditasi lembaga pendidikan.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akreditasi
Akreditasi adalah kegiatan penilaian (asesmen) suatu program secara
sistematis dan komprehensif melalui kegiatan evaluasi diri dan evaluasi
eksternal (visitasi) untuk menentukan kelayakan dan kinerja sekolah.
Menurut UU RI No. 20/2003 pasal 60 ayat (1) dan (3), akreditasi adalah
kegiatan yang dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan
Pendidikan pada jalur Pendidikan formal dan non formal pada setiap
jenjang dan jenis Pendidikan berdasarkan kriteria yang bersifat terbuka.
Kriteria tersebut dapat berbentuk standar seperti yang termaktub dalam
pasal 35 ayat (1) yang menyatakan bahwa standar nasional Pendidikan
terdiri atas; standarisi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar
tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan,
standar pembiyaan, dan standar penilaian Pendidikan yang harus
ditingkatkan secara berskala dan berencana. Akreditasi merupakan salah
satu proses penjaminan mutu sekolah yang bersifat eksternal sehingga
suatu sekolah dapat dinilai oleh pihak luar melalui kegiatan akreditasi.
Seiring dengan perkembangan dunia Pendidikan yang menuntut
kualitas Pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat maka
pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan mutu Pendidikan
tercermin melalui keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia No.087/U/2012 pada tanggal 4 juni 2002 telah diterbitkan
ketetapan mengenai akreditsi sekolah yang baru. Dulu yang harus
diakreditasikannya sekolah swasta atau yang terkena peratuaran, maka
sekarang sekolah negeri pun harus terakreditasi pula. Karena akreditasi
sekolah merupakan salah satu sarana untuk melakukan upaya-upaya yang
terus menerus dalam meningkatkan kekuatan - kekuatan yang dimiliki
sekolah serta memperbaiki kelemahan - kelemahan yang dimiliki. Proses
akreditasi terhadap sekolah harus sampai pada titik membuka dan
memberikan keyakinan kepada peserta didik khususnya dan masyarakat
pada umumnya, dimana sekolah telah dan akan melaksanakan berbagai

2
program kerja sekolah dengan sumberdaya yang dimilikinya baik manusia
maupun sumberdaya yang lainnya secara sungguh - sungguh agar terjadi
proses Pendidikan yang bermutu dan menghasilkan yang bermutu pula.
Proses akreditasi sekolah harus didukung oleh pemahaman yang sama dan
komitmen yang kuat semua komponen yang ada baik sekolah yang
terakreditasi maupun penyelenggara akreditasi pada tingkat pusat sampai
ketingkat kota/ kabupaten.
Berdasarkan permendikbud no 59 tahun 2012 pasal 1 ayat 7
“Akreditasi sekolah/madrasah adalah suatu kegiatan penilian kelayakan
program dan satuan Pendidikan dasar dan menengah berdasarkan kriteria
yang telah ditetapkan untuk memberikan penjaminan mutu Pendidikan
sekolah/ madrasah. Secara operasional dalam pelaksanaan akreditasi,
Menteri Pendidikan Nasional telah menerbitkan Keputusan Menteri
Pendidikan Nasional No. 087 tahun 2002 tentang akreditasi sekolah.
Selanjutnya, untuk melaksanakan keputusan tersebut pada tingkat nasional
telah dibentuk Badan Akreditasi Sekolah Nasional (BASNAS)
berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 039 Tahun
2003. Badan ini bertugas menetapkan berbagai kebijakan yang terkait
dengan pelaksanaan akreditasi sekolah, seperti penentuan standar kualitas
Pendidikan yang bersifat nasional, Pedoman akreditasi, instrument
akreditasi, dan berbagai perangkat lunak maupun perangkat keras yang
diperlukan dalam pelaksanaan akreditasi sekolah.
Untuk operasional sekolah Akreditasi dilaksanakan oleh Badan
Akreditasi Sekolah pada tingkat propinsi, kabupaten/ kota, sehingga dalam
pelaksanaannya secara terstruktur akan lebih mudah dan tepat serta
memiliki tingkat akuntabilitas yang tinggi. Sedangkan akreditasi pada
jenjang perguruan tinggi dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional
Perguruan Tinggi (BANPT).
B. Urgensi Akresitasi Lembaga Pendidikan
Saat ini setiap lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta harus
melakukan akreditasi. Kemendiknas sudah menetapkan bila suatu lembaga
pendidikan tidak melakukan akreditasi maka lembaga tersebut

3
dipertanyakan kelayakan dan mutu penyelenggaraan pendidikan, Dan jika
sekolah melaksanakan akreditasi maka hasil yang akan dicapai antara lain:
acuan dalam upaya peningkatan mutu sekolah/madrasah dan rencana
pengembangan sekolah/madrasah; umpan balik dalam usaha
pemberdayaan dan pengembangan kinerja warga sekolah/madrasah dalam
rangka menerapkan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, dan program
sekolah/madrasah; motivator agar sekolah/madrasah terus meningkatkan
mutu pendidikan secara bertahap, terencana, dan kompetitif baik di tingkat
kabupaten/kota, provinsi, nasional bahkan regional dan internasional;
bahan informasi bagi sekolah/madrasah sebagai masyarakat belajar untuk
meningkatkan dukungan dari pemerintah, masyarakat, maupun sektor
swasta dalam hal profesionalisme, moral, tenaga, dan dana; serta acuan
bagi lembaga terkait dalam mempertimbangkan kewenangan
sekolah/madrasah sebagai penyelenggara ujian nasional.
Akreditasi diperlukan untuk menjamin mutu dari suatu lembaga
pendidikan. Selain itu untuk masyarakat umum, akreditasi juga bisa
menjadi alat untuk mengukur kesiapan suatu lembaga pendidikan dalam
melakukan proses pendidikan.
Tapi sayangnya saat ini masih banyak sekolah yang belum
terakreditasi, termasuk beberapa sekolah negeri. Walaupun demikian
jumlah sekolah swasta yang belum terakreditasi jauh lebih banyak
daripada sekolah negeri.
Salah satu alasannya adalah banyak sekolah swasta yang sudah keburu
tutup karena memiliki jumlah siswa yang sedikit. Sebaiknya bukan
sekolah yang ditutup melainkan pemerintah memberikan solusi terbaik
untuk tetap terselenggaranya proses pendidikan.
Di lapangan ternyata dalam melakukan persiapan akreditasi, banyak
ditemukan sekolah yang melakukan SISBUTLAM ( Sistem Kebut
Semalam ), belum lagi yang melakukan persiapan asal-asalan karena tanpa
akreditasi mereka sudah merasa cukup diminati.
Penilaian akreditasi meliputi:
a. Standar Isi

4
b. Standar Proses
c. Standar Kompetensi Kelulusan
d. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
e. Standar Sarana dan Prasarana
f. Standar Pengelolaan
g. Standar Pembiayaan
h. Standar Penilaian

Melihat point yang diakreditasi, tentunya membuat setiap sekolah


tidak sembarang menyiapkan segala sesuatunya. Kesiapan dari kurikulum
maupun tenaga pengajar serta tenanga pembantu non akademik juga
diperhatikan. Belum lagi kesiapan secara administrasi yang sangat penting
untuk berjalannya suatu organisasi.

Melihat tujuan dan cara penilaian, tentu saja akreditasi adalah penting.
Akreditasi adalah suatu bentuk standardisasi. Dalam rekayasa teknologi,
penggunaan standard yang sama memungkinkan semua elemen yang
berbeda bisa di integrasikan. Sebagai contoh misalnya saja ukuran ban
mobil. Dengan adanya standard yang sama, berbagai perusahaan berbeda
bisa membuat versi ban mobilnya sendiri, tapi tetap bisa dipasangkan ke
suatu mobil.

Standardisasi pendidikan sangat penting bila kita menginginkan


pendidikan kita maju. Dengan standard yang sama, maka lulusan sekolah
yang A, akan relatif sejajar dengan lulusan dari sekolah yang B

Tapi apakah mudah dalam implementasinya? Tentunya tidak. Suatu


lembaga pendidikan wajib berusaha mempersiapkan jumlah guru tetapnya.
Hal ini menjadi masalah yang cukup berat untuk sekolah swasta yang
masih baru, dan akhirnya banyak yang memiliki tenaga pendidik serta
fasilitas seadanya. Hal ini akan menjadi masalah ketika masa akreditas
berakhir. Berakhirnya masa akreditas mengharuskan suatu lembaga
pendidikan mempersiapkan kembali persyaratan untuk mendapatkan
akreditas, dan bukan tidak mungkin akreditasi yang semula A menjadi

5
turun. Dan dari 3006 sekolah dasar yang terdaftar di Jakarta, saat ini
tercatat 779 sekolah dasar harus kembali di akreditasi.

Jadi akreditasi ini penting untuk menjaga mutu. Program Studi yang
tidak bisa menjaga kestabilan mutunya akan ‘jatuh’. Dan akhirnya
masyarakatlah yang akan di untungkan. Tapi hingga saat ini masih ada
nada miring tentang akreditasi ini, terutama protes dari pihak yang turun
nilai akreditasinya. Jika memang mutu selalu terjaga maka seharusnya
nilai akreditasi tidak turun. Bila dengan standard yang sama, tapi telah
terjadi penurunan, pastilah ada yang salah

1. Analisis SWOT
a. Kekuatan
1) Dengan adanya akreditasi akan lebih menambah persaingan
dalam peningkatan mutu pendidikan pada masing-masing
lembaga pendidikan
2) Adanya sistem pendidikan yang menuntut adanya perbaikan
pada masing-masing lembaga pendidikan baik dari segi sumber
daya manusia maupun pada sisi sarana dan prasarana serta
kelengkapan administrasi.
3) Minat masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang
terakreditasi semakin tinggi
b. Kelemahan
Biaya yang diperlukan dalam proses akreditasi relatif besar,
sehingga dirasa sangat memberatkan bagi lembaga
pendidikanKurang luasnya lokasi lembaga pendidikan dan juga
sarana dan prasarana yang tidak memadai, baik dari segi gedung
maupun buku kepustakaan sebagai bahan ajar penunjang
pembelajaran. Banyaknya guru yang tidak siap untuk menerima
kurikulum baru atau banyak yang tidak menguasai dan masih
terpengaruh oleh kurikulum lama.Banyak lembaga pendidikan
yang menyepelekan akreditasi sekolah dan lebih menekankan
untuk mendapatkan sertifikat tanpa memperhatikan kualitas

6
selanjutnya. Sering adanya data-data fiktif dalam pengisian
instrument akreditasi, data yang digunakan
c. Peluang
1) Arus informasi yang semakin tak bendung merupakan
konsekuensi dari globalisasi yang merambat seluruh sector
kehidupan termasuk juga pendidikan.
2) Rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap hasil yang
diperoleh dari sistem pendidikan yang lulusan tidak
berkompenten dan tidak siap kerja.
3) Masih berkembangnya paradigma bahwa lulusan dari sekolah
yang terakreditasi yang berkompenten.
4) Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memberdayakannya
diri dan lingkungannya sebagai sarana dalam pendidikan
d. Tantangan
1) Semakin terbukanya pasar bebas yang menyebabkan arus
emigrasi dan imigrasi semakin besar sehingga mempengaruhi
proses akreditasi sekolah/madrasah
2) Banyaknya assessor yang meluluskan lembaga pendidikan
dengan dalih subyektifitas masing-masing assessor, sehingga
dengan sangat mudahnya Badan Akreditasi Sekolah ataupun
Madrasah mengeluarkan sertifikat kelulusan akreditasi dengan
nilai yang sangat bagus tanpa memperhatikan kualitas lembaga
pendidikan tersebut.
3) Kultur birokrasi yang tidak transparan dalam penyelenggaraan
prosedur akreditasi
2. Urgensi Akreditasi pada Perguruan Tinggi
Pendidikan adalah salah satu pondasi dalam pembentukan
pemikiran, dengan pendidikan manusia diharapkan dapat
memandirikan diri dan mendorong kualitas hidupnya menjadi lebih
baik. Kesadaran masyarakat dalam melanjutkan pendidikan telah
meningkat.

7
Saat ini terdapat dua jenis akreditasi yang diberikan oleh
pemerintah kepada program studi di perguruan tinggi, yaitu: status
terdaftar, diakui, atau disamakan yang diberikan kepada perguruan
tinggi swasta dan status terakreditasi atau nir-akreditasi yang
diberikan kepada semua perguruan tinggi (perguruan tinggi negeri,
perguruan tinggi swasta, dan perguruan tinggi kedinasan). Karena
adanya dua status akreditasi yang sama-sama masih berlaku, saat
ini terdapat PTS yang menyandang kedua-duanya untuk program
studinya.
Hal ini terjadi karena proses pemberian status akreditasi
dilakukan melalui dua jalur yang berbeda yaitu penentuan status
didasarkan pada SE Dirjen Dikti No. 470/D/T/1996 dan
terbentuknya Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-
PT). Kemudian pemerintah menetapkan, untuk pelaksanaan
akreditasi terhadap suatu PTS/Unit PTS, sepanjang belum pernah
dievaluasi (diakreditasi) oleh atau melalui BAN-PT, akan tetap
dilakukan berdasarkan SE Dirjen Dikti No. 470/D/T/1996, tetapi
jika suatu PTS/Unit PTS telah pernah dievaluasi (diakreditasi) oleh
atau melalui BAN-PT, maka selanjutnya pelaksanaan akreditasi
terhadap PTS yang bersangkutan dilakukan dengan berpedoman
pada kriteria dari BAN-PT.
BAN-PT adalah lembaga yang memiliki kewenangan untuk
mengevaluasi dan menilai, serta menetapkan status dan peringkat
mutu program studi berdasarkan standar mutu yang telah
ditetapkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)
mengembangkan dua model akreditasi yaitu: akreditasi lembaga
(Institusi, Lembaga, Perguruan Tinggi), dan akreditasi program
studi. Akreditasi lembaga (Institusi, Lembaga, Perguruan Tinggi)
merupakan penilaian secara menyeluruh tentang kondisi sebuah
lembaga. Melalui akreditasi jenis ini dapat dilihat kemapanan
sebuah institusi dalam menyelenggarakan pendidikan.

8
C. Tujuan dan Fungsi Akreditasi
1. Tujuan Akreditasi
Tujuan diadakannya akreditasi sekolah/ madrasah adalah:
a. Memberikan informasi tentang kelayakan sekolah/ madrasah
atau program yang dilaksanakannya berdasarkan Standar
Nasional Pendidikan.
b. Memberikan pengakuan peringkat kelayakan.
c. Memberikan rekomendasi tentang penjaminan mutu
pendidikan kepada program dan atau satuan pendidikan yang
diakreditasi dan pihak terkait.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor
087/U/2002, akreditasi sekolah mempunyai tujuan, yaitu: (1)
memperolah gambaran kinerja sekolah sebagai alat pembinaan,
pengembangan, dan peningkatan mutu; (2) menentukan tingkat
kelayakan suatu sekolah dalam penyelenggaraan pelayanan
pendidikan. Tujuan akreditasi tersebut berarti bahwa hasil akreditasi
itu:
a. Memberikan gambaran tingkat kinerja sekolah yang dijadikan
sebagai alat pembinaan, pengembangan dan peningkatan sekolah
baik dari segi mutu, efektivitas, efisiensi, produktivitas dan
inovasinya.
b. Memberikan jaminan kepada publik bahwa sekolah tersebut telah
diakreditasi dan menyediakan layanan pendidikan yang memenuhi
standar akreditasi nasional.
c. Memberikan layanan kepada publik bahwa siswa mendapatkan
pelayanan yang baik dan sesuai dengan persyaratan standar
nasional.

Hasil akreditasi suatu lembaga pendidikan mempunyai beberapa


manfaat bagi beberapa kelompok kepentingan, di antaranya adalah
sebagai berikut:

9
a. Bagi kepala sekolah/madrasah, hasil akreditasi diharapkan dapat
dijadikan bahan informasi untuk pemetaan indikator kelayakan
sekolah/madrasah, kinerja warga sekolah/madrasah, termasuk
kinerja kepala sekolah/madrasah selama periode
kepemimpinannya. Di samping itu, hasil akreditasi juga diperlukan
kepala sekolah/ madrasah sebagai bahan masukan untuk
penyusunan program serta anggaran pendapatan dan belanja
sekolah/madrasah.

b. Bagi guru, hasil akreditasi merupakan dorongan untuk selalu


meningkatkan diri dan bekerja keras dalam memberikan layanan
terbaik bagi peserta didiknya guna mempertahankan dan
meningkatkan mutu sekolah/madrasah. Secara moral, guru senang
bekerja di sekolah/madrasah yang diakui sebagai sekolah/madrasah
bermutu.
c. Bagi masyarakat dan khususnya orangtua peserta didik, hasil
akreditasi diharapkan menjadi informasi yang akurat tentang
layanan pendidikan yang ditawarkan oleh setiap sekolah/madrasah,
sehingga secara sadar dan bertanggung jawab masyarakat dan
khususnya orangtua dapat membuat keputusan dan pilihan yang
tepat dalam kaitannya dengan pendidikan anaknya sesuai
kebutuhan dan kemampuannya.
d. Bagi peserta didik, hasil akreditasi akan menumbuhkan rasa
percaya diri bahwa mereka memperoleh pendidikan yang baik, dan
harapannya, sertifikat dari sekolah/madrasah yang terakreditasi
merupakan bukti bahwa mereka menerima pendidikan bermutu.
e. Bagi pemerintah, bahan masukan untuk pengembangan sistem
akreditasi sekolah di masa mendatang dan alat pengendalian
kualitas pelayanan pendidikan bagi masyarakat yang bersifat
nasional, sumber informasi tentang tingkat kualitas layanan
pendidikan yang dapat dipergunakan sebagai acuan untuk
pembinaan, pengembangan, dan peningkatan kinerja pendidikan

10
secara makro, bahan informasi penting untuk penyusunan anggaran
pendidikan secara umum di tingkat nasional, dan khususnya
program dan penganggaran pendidikan yang terkait dengan
peningkatan mutu pendidikan nasional.
2. Fungsi Akreditasi
a. Akuntabilitas,yaitu sebagai bentuk pertanggung-jawaban S/M
kepada publik, apakah layanan yang dilakukan dan diberikan oleh
sekolah/ madrasah telah memenuhi harapan atau keinginan
masyarakat.
b. Pengetahuan,yaitu sebagai informasi bagi semua pihak tentang
kelayakan S/M dilihat dari berbagai unsur terkait yang mengacu
pada standar minimal beserta indikator-indikatornya.
c. Pembinaan dan pengembangan, yaitu sebagai dasar bagi S/M,
pemerintah, dan masyarakat dalam upaya peningkatan atau
pengembangan mutu S/M.
Dalam Permendiknas Nomer 29 tahun 2005 disebutkan BAN-S/M
mempunyai tugas merumuskan kebijakan operasional, melakukan
sosialisasi kebijakan, dan melaksanakan akreditasi sekolah/ madrasah.
Untuk melaksanakan tugasnya, BAN-S/M mempunyai fungsi untuk :
a. Merumuskan kebijakan dan menetapkan akreditasi
sekolah/madrasah.
b. Merumuskan criteria dan perangkat akreditasi sekolah/ madrasah
untuk diusulkan kepada Menteri.
c. Melakukan sosialisasi kebijakan, criteria, dan perangkat akreditasi
sekolah/ madrasah.
d. Melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan akreditasi sekolah/
madrasah.
e. Memberikan rekomendasi tentang tindak lanjut hasil akreditasi.
f. Mengumumkan hasil akreditasi sekolah/ madrasah secara nasional.
g. Melaporkan hasil akreditasi sekolah/ madrasah kepada menteri.
h. Melaksanakan ketatausahaan BA-S/M

11
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

12
DAFTAR PUSTAKA

13

Anda mungkin juga menyukai