Anda di halaman 1dari 84

Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal

Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018


Usulan Teknis

Masalah transportasi merupakan masalah yang selalu dihadapi oleh


Negara‐negara yang telah maju dan juga oleh Negara‐negara yang sedang
berkembang seperti Indonesia, baik diperkotaan maupun regional antarkota.
Di berbagai wilayah, sangat dirasakan kebutuhan akan sistem transportasi
yang efektif dalam arti murah, lancar, cepat, mudah, teratur, dan nyaman
untuk pergerakan manusia dan/atau barang. Dalam menciptakan pergerakan
orang dan barang yang efisien dan efektif akan sangat diperlukan keterpaduan
lebih dari satu moda (intermoda). Tujuan dasar dari sistem angkutan
multimoda adalah untuk memfasilitasi arus/pergerakan barang/orang di
bawah pengawasan secara terus menerus dan tanggung jawab tunggal dari
operatornya. Bertitik tolak dari bergesernya sistem angkutan permoda menjadi
multimoda, dengan didahului ilmu menyiapkan transportasi multimoda yang
terintegrasi dan berbasis sistem perlu mengetahui potensi dan kendala
pengembangannya.

Sebagaimana diketahui bahwa transportasi merupakan prasyaratan bagi


berjalannya roda pembangunan. Transportasi merupakan sarana yang sangat
penting dan strategis dalam memperlancar roda perekonomian,
memperkokoh persatuan dan kesatuan serta mempengaruhi semua aspek
kehidupan. Pentingnya transportasi tersebut tercermin pada semakin
meningkatnya kebutuhan akan jasa angkutan bagi mobilitas orang serta
barang dari dan ke seluruh pelosok wilayah. Di samping itu, transportasi juga
berperan sebagai penunjang, pendorong dan penggerak bagi pertumbuhan

Hal -1
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

daerah yang berpotensi namun belum berkembang, dalam upaya peningkatan


dan pemerataan pembangunan serta hasil‐hasilnya.

Dalam pengembangan aspek transportasi terdapat beberapa permasalahan


mendasar yang sering ditemui di tingkat Kabupaten/Kota antara lain mengenai
:
1. Tidak tersedianya acuan/arahan yang dapat dipakai dalam
mengembangkan sistem jaringan transportasi ditingkat kabupaten / kota
sehingga terkesan pengembangan sistem jaringan yang ada dilakukan
tanpa arah kebijakan yang jelas / pasti.
2. Kebijakan pengembangan system jaringan transportasi yang dilakukan
pada umumnya tidak mengacu pada kebijakan pengembangan tata
ruang baik ditingkat nasional, propinsi maupun ditingkat kabupaten /
kota.
3. Tidak jelasnya keterkaitan antara sistem jaringan transportasi propinsi
baik dengan sistem jaringan transportasi nasional maupun dengan
kebijakan sistem jaringan transportasi wilayah yang lebih kecil lainnya
(kabupaten atau kota).
4. Tidak jelasnya hierarki dan fungsi jalan untuk jaringan transportasi
regional.

Hal tersebut diatas akan menyebabkan komposisi jenis dan fungsi jalan tidak
sesuai dengan kebutuhan yang ada yang seterusnya akan menyebabkan
permasalahan serius baik dalam penanganan, pemeliharaan, pendanaan
dan lain‐ lain.

Sebaliknya keseluruhan pembangunan di daerah merupakan suatu kesatuan


pembangunan nasional, dengan demikian keduanya harus dilaksanakan serta
diarahkan agar dapat berlangsung secara berdaya guna dan berhasil guna
diseluruh tingkat administrasi daerah. Dalam kaitan ini, perencanaan Tataran

Hal -2
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Transportasi Lokal harus diarahkan dalam usaha mendukung RTRW yang ada
dan tetap berada dibawah payung kebijakan pengembangan SISTRANAS. Oleh
karena itu, dalam mengkaji Tataran Transportasi Lokal diperlukan analisis
potensi daerah yang tertuang dalam RTRW. Dengan semakin ketatnya
anggaran pembangunan menuntut perubahan pola pikir kearah
perencanaan dan penetapan prioritas pembangunan dan pengembangan
sarana dan prasarana perhubungan kearah efektif, sesuai kebutuhan yang
berdasar realitas pola aktifitas, pada bangkitan‐tarikan pergerakan, sebaran
pergerakan serta keunggulan komparatif antar zona dalam suatu wilayah, yang
terbentuk dalam Tatanan Transportasi Lokal yang sejalan dengan rencana tata
ruang yang ada.

Berdasarkan perubahan kondisi seperti diatas dengan memperhatikan


perkiraan perubahan pola aktifitas, pola pergerakan serta peruntukan lahan
maka perlu disusun Tataran Transportasi Lokal (TATRALOK) sebagai bagian dari
Tataran Transportasi Wilayah (TATRAWIL) dan Tataran Transportasi Nasional
(TATRANAS) dalam kerangka Sistem Transportasi Nasional (SISTRANAS).

3.1 PEMAHAMAN DAN TANGGAPAN TERHADAP KAK


3.1.1 Pemahaman dan Tanggapan Terhadap Latar Belakang
Sebagaimana yang telah dipaparkan dalam KAK, Konsultan sangat dapat
memahaminya. Transportasi berperan sebagai penunjang, pendorong, dan penggerak
bagi pertumbuhan perekonomian yang berpotensi namun belum berkembang, dalam
upaya peningkatan dan pemerataan pembangunan serta hasil-hasilnya.

Menyadari peranan transportasi, maka lalu lintas dan angkutan jalan harus ditata agar
mampu mewujudkan keseimbangan pelayanan jasa angkutan dengan kendaraan
penumpang umum, antara kapasitas jaringan transportasi jalan dengan kendaraan
umum yang beroperasi, serta untuk menjamin kualitas pelayanan angkutan
penumpang dalam rangka perencanaan, pengaturan dan pengendalian tingkat

Hal -3
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

pelayaanan angkutan. Untuk keperluan tersebut perlu adanya Penyusunan Tatanan


Transportasi Lokal Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018 ini.

3.1.2 Pemahaman dan Tanggapan Terhadap Maksud, Tujuan dan Sasaran


Pekerjaan
Berkenaan dengan maksud, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dari Penyusunan
Tatanan Transportasi Lokal Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018 ini, KONSULTAN Sudah
dapat memahaminya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam KAK.

Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah merumuskan kebijakan, strategi dan
program-program di bidang transportasi kota skala kabupaten yang antisipatif sesuai
dengan peningkatan kebutuhan dan arah pengembangan kabupaten.

Sasaran dari pelaksanaan kegiatan ini adalah :


1) Penetapan strategi dan prioritas pengembangan jaringan transportasi jalan sesuai
dengan kebutuhan berdasarkan intensitas dan mobilitas serta pola perjalanan
masyarakat Kabupaten Rokan Hulu.
2) Penetapan strategi dan prioritas pengembangan sistem jaringan trayek dan moda
angkutan umum dalam rangka menciptakan Sistem angkutan umum yang efektif
dan efisien yang beorientasi pada kepuasan pengguna jasa.
3) Penetapan strategi integrasi intra dan inter moda dalam satu kesatuan system
pelayanan transportasi baik orang maupun barang melalui pengembangan simpul
transportasi darat

Dalam pelaksanaan pekerjaan nantinya, KONSULTAN akan bekerja maksimal, mulai


dari persiapan, survey dan pengumpulan data, pengolahan/analisis dan perumusan
konsep serta rencana akhir agar maksud, tujuan dan sasaran pekerjaan dapat tercapai.

Hal -4
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

3.1.3 Pemahaman dan Tanggapan Terhadap Lingkup Pekerjaan


Sebagaimana yang telah dinyatakan dalam KAK bahwa lingkup studi Penyusunan
Tatanan Transportasi Lokal Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018 meliputi beberapa
wilayah Kabupaten Rokan Hulu, dengan lingkup pekerjaan :
a. Pengumpulan data, sekurang‐kurangnya mencakup : data sektor
transportasi, data sektor bidang lain, kebijakan dan perencanaan lingkup
Kabupaten Rokan Hulu.
b. Identifikasi dan analisis awal isu strategis dan permasalahan transportasi.
c. Perumusan kebijakan dan sasaran pembangunan.
d. Analisis penyediaan jaringan transportasi yang mencakup : identifikasi jaringan
prasarana dan pelayanan transportasi antar zona.
e. Analisis permintaan jasa transportasi.
f. Identifikasi defisiensi transportasi di waktu yang akan dating.
g. Analisis dan evaluasi alternatif rencana dan program transportasi, mencakup
: penyusunan alternatif, modal split dan arus lalu lintas di waktu yang akan datang.

Rentang Waktu Perencanaan


Rentang Waktu Perencanaan Lalu Lintas Angkutan Kabupaten Rokan Hulu dilakukan
sampai dengan 20 (dua puluh tahun) yang akan datang yang dituangkan dalam bentuk
matrik indikasi program.

Ruang lingkup pekerjaan yang terdiri dari lingkup wilayah dan lingkup materi pekerjaan
diatas, KONSULTAN Sangat dapat memahaminya.

3.1.4 Pemahaman dan Tanggapan Terhadap Jangka Waktu Pelaksanaan


Sebagaimana yang dijelaskan dalam KAK bahwa pelaksanaan Penyusunan Tatanan
Transportasi Lokal Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018 ini dilaksanakan dalam waktu 4
bulan atau 120 hari kalender. Waktu yang disediakan tersebut, KONSULTAN rasa
adalah waktu yang cukup singkat mengingat kedalaman materi kajian yang akan
dilaksanakan. Namun dengan waktu selama 4 bulan tersebut, KONSULTAN akan

Hal -5
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

bekerja secara maksimal baik dalam mobilisasi tenaga dan personil maupun
kedalaman materi kajian yang dilakukan.

3.1.5 Pemahaman Terhadap Komposisi Tenaga Ahli


Sebagaimana yang telah dinyatakan dalam KAK bahwa kebutuhan tenaga ahli dan
personil bagi pekerjaan Pekerjaan Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal Kabupaten
Rokan Hulu Tahun 2018 ini yakni :
TENAGA AHLI
1. Team Leader /Ahli Perencanaan Transportasi
Team Leader Tenaga ahli Perencana Transportasi sebanyak 1 orang, kualifikasi
minimal S‐2 Teknik Transportasi dengan pengalaman minimal 5 tahun dan
memiliki sertifikat keahlian SKA (ahli teknik transportasi madya / ahli tenik jalan
madya)
2. Ahli Planologi
Tenaga Ahli Planologi sebanyak 1 orang, kualifikasi minimal S‐1 Planogi dengan
pengalaman minimal 5 tahun dan memiliki sertifikat keahlian SKA (ahli
perencanaan wilayah dan kota;
3. Ahli Geodesi / Geografi
Tenaga Ahli Geodesi / Geografi sebanyak 1 orang kualifikasi minimal S-2 Teknik
Geologi / Geodesi dengan pengalaman minimal 3 tahun;
4. Ahli Informatika / Analis Komputer
Tenaga Ahli Informatika / Analis Komputer, kualifikasi minimal S‐2 Teknik
Informatika / Teknik Komputer dengan pengalaman minimal 3 tahun.
5. Ahli Ekonomi Pembangunan
Tenaga Ekonomi Pembangunan sebanyak 1 orang, kualifikasi minimal S‐1
Ekonomi dengan pengalaman minimal 5 tahun;
6. Ahli Rekayasa Lalu Lintas / Ahli Permodelan Transportasi
Tenaga Ahli Rekayasa Lalu Lintas / Ahli Permodelan Transportasi sebanyak 1
orang kualifikasi minimal S‐1 Teknik Transportasi Darat (STTD) dengan
pengalaman minimal 3 tahun;

Hal -6
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

TENAGA PENDUKUNG
Meliputi :
1. Draftman = 1 orang,
2. Administrasi = 1orang
3. Operator komputer =2orang
4. Surveyor
 Roadsite Site Interview = 4 orang
 Home Interview = 2 orang
 Traffic Counting Survey (ruas jalan) = 4 orang
 Traffic Counting Survey (persimpangan) = 2 orang
 Survey Load Factor = 2 orang

Sesuai dengan ketentuan Tenaga Ahli Diatas, KONSULTAN telah mempersiapkan


Tenaga Ahli Profesional yang sesuai dengan yang dibutuhkan yang didukung dengan
pembuktian pengalaman, ijazah dan referensi kerja yang sesuai dengan pekerjaan yang
akan dilaksanakan ini.

3.2 PENDEKATAN DAN METODOLOGI PEKERJAAN


3.2.1 Pendekatan Pelaksanaan Pekerjaan
Dalam pelaksanaan pekerjaan, dasar pola pendekatan yang digunakan konsultan untuk
pekerjaan ini adalah pendekatan konseptual. Pola pendekatan konseptual adalah pola
pikir pendekatan yang menyangkut kebijakan, strategi, kerangka filosofi atau konsep
dasar yang akan digunakan konsultan dalam merumuskan, memilih dan menetapkan
strategi dan penetapan Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal Kabupaten Rokan Hulu
Tahun 2018. Dari berbagai literatur yang dimiliki, terdapat cukup banyak pendekatan
konseptual yang akan menjadi acuan dalam pekerjaan perencanaan ini. Adapun yang
akan dijelaskan berikut ini hanya merupakan pendekatan utama yang penting
diperhatikan dalam pekerjaan ini.

Hal -7
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Pada dasarnya, pendekatan utama berikut merupakan pendekatan yang saling terkait
erat hubungannya, sehingga dalam implementasi natinya digunakan dalam satu
kesatuan kerangka pendekatan.

1. Pendekatan Tata Ruang Terpadu


Terdapat beberapa hal pokok dari kerangka pendekatan tata ruang terpadu yang
perlu diperhatikan sebagai berikut :
a. Pada dasarnya terdapat dua tujuan dari perencanaan tata ruang sebagai
berikut :
1) Mengatur dan mengarahkan jenis kegiatan masyarakat yang akan
dikembangkan pada suatu wilayah.
2) Mengarahkan lokasi ruang/wadah dari setiap jenis kegiatan yang akan
dikembangkan, berdasarkan pertimbangan aspek kesesuaian lahan dan
daya dukung lingkungan pada wilayah bersangkutan.
b. Bahwa untuk meminimalisasi terjadi penyimpangan antara realisasi dengan
Rencana Tata Ruang yang telah disusun diperlukan strategi pemanfaatan dan
pengendalian rencana yang efektif.

2. Pendekatan Sumber Daya (Resources Base Approach)


Pendekatan Sumber Daya (Resources Base Approach) merupakan suatu
pendekatan yang mengandalkan ketersediaan sumber daya atau potensi wilayah
setempat yang dapat digunakan atau perlu didukung pengembangannya melalui
implementasi suatu rencana atau program. Umumnya hal ini jarang diperhatikan
oleh pihak-pihak yang menentukan dalam perencanaan suatu kegiatan. Akibatnya
adalah ketika suatu rencana, program atau proyek itu dilaksanakan dan
dioperasikan, secara ekonomi tidak memberikan nilai tambah yang berarti bagi
wilayah atau kawasan setempat. Hal ini tentu bertentangan dengan pendekatan
manfaat ekonomi ganda.

Hal -8
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

3. Pendekatan Partisipasi (Participation Approach)


Dalam banyak kasus selama ini masyarakat ibarat penonton yang menyaksikan
pelaksanaan pembangunan di wilayahnya. Hal ini terjadi karena sifat dan format
pembangunannya adalah “Top Down”. Maksudnya adalah mulai dari
perencanaan, pelaksanaan hingga pengoperasiannya tanpa sedikit pun masyarakat
atau pemda setempat dilibatkan. Kalaupun mereka terlihat hanya sekedar sebagai
pekerja. Hal ini pada gilirannya membuat semakin jauh jarak antara pembangunan
itu sendiri dengan masyarakat. Pendekatan dengan pelibatan stakeholders
(Participan Approach) daerah sangat menentukan keberhasilan implementasi
program-program pembangunan. Untuk itu pelibatan stakeholders daerah mulai
dari perumusan kebijakan dan penetapan rencana dan program penanganan
sangat penting artinya.

3.2.2 Pendekatan Hukum dan Perundang-Undangan


3.2.2.1 Undang-Undang Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU No.22 Tahun
2009)
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018 pada
dasarnya mengacu pada perundang-undangan yang telah ditetapkan oleh pemerintah,
khususnya berkaitan dengan perencanaan sistem jaringan lalu lintas dan angkutan
jalan sebagai bagian dari sistem transportasi. Sebagai landasan utama dalam
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018 ini adalah
Undang-Undang No 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Dalam Undang-Undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
disebutkan bahwa : transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk
mewujudkan satu kesatuan sistem yang :
a) Selamat, aman, cepat dan lancar, tertib dan teratur, nyaman, efisien, mampu
memadukan moda transportasi lainnya dan menjangkau seluruh pelosok wilayah
daratan dan lintas batas negara dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli
masyarakat; dan

Hal -9
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

b) Mampu berperan sebagai penggerak, pendorong dan penunjang pembangunan


nasional.

Pada pasal 5 disebutkan bahwa Negara bertanggung jawab atas lalu lintas dan
angkutan jalan dan pembinaannya dilaksanakan oleh Pemerintah. Pembinaan lalu
lintas dan angkutan jalan meliputi perencanaan, pengaturan, pengendalian dan
pengawasan. Dalam pembinaannya dilakukan oleh instansi pembina sesuai dengan
tugas pokok dan fungsinya baik di pemerintah pusat maupun daerah.

Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dilakukan secara terkoordinasi.


Koordinasi penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan oleh forum lalu lintas dan
angkutan jalan. Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bertugas melakukan koordinasi
antar instansi penyelenggara yang memerlukan keterpaduan dalam merencanakan dan
menyelesaikan masalah lalu lintas dan angkutan jalan. Keanggotaan Forum Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan terdiri atas unsur pembina, penyelenggara, akademisi, dan
masyarakat.

Didalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan telah dijelaskan
bahwa lalulintas dan angkutan jalan diselenggarakan dengan memperhatikan :
a. Asas transparan.
b. Asas akuntabel.
c. Asas berlanjutan.
d. Asas partisipatif.
e. Asas efisien dan efektif.
f. Asas seimbang.
g. Asas terpadu.
h. Asas mandiri.

Dalam pembinaan terhadap pengelolaan dan perencanaan jaringan lalulintas dan


angkutan jalan, menurut UU No 22 Tahun 2009 tersebut harus dilakukan dalam 4
tahapan yakni :

Hal -10
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

a. Perencanaan.
b. Pengaturan.
c. Pengendalian.
d. Pengawasan.

Sesuai ketentuan dalam UU No. 22 Tahun 2009, penyusunan Rencana induk Jaringan
Lalu Lintas dan Angkutan jalan Kabupaten/kota dilakukan dengan memperhatikan :
a. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.
b. Rencana Induk jaringan Lalulintas dan Angkutan Nasional.
c. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi.
d. Rencana Induk Jaringan Lalulintas dan Angkutan Jalan Propinsi.
e. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota.

Adapun tugas pokok pembinaan lalu lintas dan angkutan jalan dapat dilihat pada Tabel
3.1.
Tabel 3.1 Tugas Pokok Pembinaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

No Tugas Pokok Lingkup tugas Instansi


1 Urusan pemerintahan di a) Inventarisasi tingkat pelayanan Departemen pekerjaan
bidang jalan, oleh jalan dan permasalahannya umum (DPU) dan
Kementerian Negara yang b) Penyusunan rencana dan program Departemen Perhubungan
bertanggung jawab di bidang pelaksanaannya serta penetapan (DEPHUB)
jalan tingkat pelayanan
c) Perencanaan, pembangunan dan
optimalisasi pemanfaatan ruas
jalan
d) Perbaikan geometrik ruas jalan
dan atau persimpangan jalan
e) Penetapan kelas jalan pada setiap
ruas jalan
f) Uji kelayakan jalan sesuai dengan
standar keamanan dan
keselamatan berlalulintas
g) Pengembangan sistem informasi
dan komunikasi di bidang
prasarana jalan
2 Urusan pemerintah di bidang a) Penetapan rencana umum lalu Departemen Pekerjaan
sarana dan prasarana lintas dan angkutan jalan Umum (DPU) dan
lalulintas dan angkutan jalan b) Manajemen dan rekayasa lalu Departemen Perhubungan
oleh Kementerian Negara lintas (DEPHUB)

Hal -11
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

No Tugas Pokok Lingkup tugas Instansi


yang bertanggung jawab di c) Persyaratan teknis dan laik jalan
bidang sarana dan prasarana kendaraan bermotor
lalu lintas dan angkutan jalan d) Perizinan angkutan umum
e) Pengembangan sistem informasi
dan komunikasi di bidang sarana
dan prasarana lalu lintas dan
angkutan jalan
f) Pembinaan Sumberdaya Manusia
penyelenggaraan sarana dan
prasarana lalu lintas dan angkutan
jalan
g) Penyidikan terhadap pelanggaran
perizinan angkutan umum,
persyaratan terknis dan kelaikan
jalan kendaraan bermotor yang
memerlukan keahlian dan atau
peralatan khusus yang
diolaksanakan sesuai dengan
ketentuan undang-undang ini
3 Urusan pemerintahan di a) Penyusunan rencana dan program Departemen Perindustrian
bidang pengembangan pelaksanan pengembangan industri Departemen Perdagangan
industri lalu lintas dan kendaran bermotor
angkutan jalan, oleh b) Pengembangan industri
Kementerian Negara yang perlengkapan kendaraan bermotor
bertanggung jawab di bidang yang menjamin keamanan dan
industri keselamatan lalu lintas dan
angkutan jalan
c) Pengembangan industri
perlengkapan jalan yang menjamin
keamanan dan keselamatan lalu
lintas dan angkutan jalan
4 Urusan pemerintahan di a) Penyusunan rencana dan program Departemen Perindustrian
bidang pengembangan pelaksanaan pengembangan Ristek
teknologi lalu lintas dan industri kendaraan bermotor
angkutan jalan, oleh b) Pengembangan teknologi
kementerian Negara yang perlengkapan kendaraan bermotor
bertanggung jawab di bidang yang menjamin keamanan dan
pengembangan teknologi keselamatan lalu lintas dan
angkutan jalan
c) Pengembangan teknologi
perlengkapan jalan yang menjamin
ketertiban dan kelancaran lalu
lintas dan angkutan jalan
5 Urusan pemerintahan di a) Pengujian dan penerbitan surat izin Kepolisian Negara
bidang registrasi dan mengemudi kendaraan bermotor Republik Indonesia
identifikasi kendaraan b) Pelaksanan registrasi dan Departemen Kehakiman
bermotor dan pengemudi, identifikasi kendaraan bermotor Departemen
penegakan hukum, c) Pengumpulan, pemantauan, Telekomunikasi dan

Hal -12
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

No Tugas Pokok Lingkup tugas Instansi


operasional manajemen dan pengolahan dan penyajian data Informasi
rekayasa lalu lintas serta lalulintas dan angkutan jalan
pendidikan berlalulintas oleh d) Pengelolaan pusat pengendalian
Kepolisian Negara Republik sistem informasi dan komunikasi
Indonesia lalulintas dan angkutan jalan
e) Pengaturan, penjagaan,
pengawalan dan patroli lalu lintas
f) Penegakan hukum yang menjadi
penindakan pelanggaran dan
penanganan kecelakaan lalu lintas
g) Pendidikan berlalulintas
h) Pelaksanaan manajemen dan
rekayasa lalu lintas
i) Pelaksanaan manajemen
operasional lalu lintas
Sumber : UU No. 22 Tahun 2009

Pada Tabel 3.1 tersebut dijelaskan detail tugas pokok dan instasi pemerintah yang
dimungkinkan terlibat dalam pembinaan lalu lintas dan angkutan jalan meliputi bidang
jalan; sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan; industri; pengembangan
teknologi dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Kelima bidang pembinaan harus
berkerja secara terpadu dan terkoordinasi. Disini peran Forum Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan mengkoordinasikan berbagai kepentingan dalam pembinaan lalu lintas
dan angkutan jalan. Selain itu Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dapat menjebatani
hubungan antara regulator, operator dan masyarakat sebagai konsumen.

Dalam melaksanakan pembinaan dan tugas pokok diatas, pemerintah pusat dapat
menyerahkan sebagian urusannya kepada pemerintah provinsi dan/atau pemerintah
kabupaten/kota. Kewenangan tersebut meliputi penetapan sasaran dan arah kebijakan
pengembangan sistem; penetapan norma, standar, pedoman, kriteria, dan prosedur
penyelenggaraan dan pengawasan terhadap pelaksanaan lalu lintas dan angkutan
jalan.

Dimana pemerintah pusat untuk status kewenangan nasional, pemerintah provinsi


untuk status kewenangan provinsi dan antar kabupaten/kota lintas provinsi dan

Hal -13
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

pemerintah kabupaten/kota untuk status kewenangankabupaten/kota. Adapun


pembagian kewenangan pembinaannya ditampilkan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Pembagian Kewenangan Pembinaan Lalulintas


dan Angkutan Jalan
No Pemerintah Pusat Pemerintah Propinsi Pemerintah Kabupaten / Kota
1 Penetapan sasaran dan arah Penetapan sasaran dan Penetapan sasaran dan arah
kebijakan pengembangan arah kebijakan sistem lalu kebijakan sistem lalu lintas dan
sistem lalu lintas dan lintas dan angkutan jalan angkutan jalan kabupaten/kota
angkutan jalan nasional provinsi dan kabupaten yang jaringannya berada di
/kota yang jaringannya wilayah kabupaten/kota
melampaui batas wilayah
kabupaten/kota
2 Penetapan norma, standar, Pemberian bimbingan, Pemberian bimbingan,
pedoman, kriteria dan
pelatigan, sertifikasi dan pelatihan, sertifikasi dan izin
prosedur penyelenggaraan
izin kepada perusahaan kepada perusahaan angkutan
lalu lintas dan angkutan jalan
angkutan umum di provinsi umum di kabupaten/kota
yang berlaku secara nasional
3 Penetapan kompetensi Pengawasan terhadap Pengawasan terhadap
pejabat yang melaksanakan pelaksanaan lalu lintas dan pelaksanaan lalu lintas dan
fungsi di bidang lalu lintas angkutan jalan propinsi angkutan jalan kabupaten/kota
dan angkutan jalan secara
nasional
4 Pemberian bimbingan,
sertifikasi, pemberian izin dan
bantuan teknis kepada
pemerintah provinsi dan
pemerntah kabupaten/kota
5 Pengawasan terhadap
pelaksanaan norma, standar,
pedoman, kriteria dan
prosedur yang dilakukan oleh
pemerintah daerah
Sumber : UU No. 22 Tahun 2009

3.2.2.2 Undang-Undang Tentang Jalan


1. Sistem Klasifikasi Jalan Umum di Indonesia
Dalam UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan, menyebutkan klasifikasi jalan umum
berdasarkan sistem, fungsi, status dan kelas jalan. Maksud dilakukannya klasifikasi
jalan umum tersebut, selain untuk efisiensi jaringan, juga dalam rangka pembagian
kewenangan pembinaan jalan, sehingga jelas pihak yang bertanggung jawab
dalam penyelenggaraan suatu ruas jalan tertentu. Bentuk kegiatan

Hal -14
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

penyelenggaraan sebagaimana yang disebutkan dalam UU No. 38 Tahun 2004


tentang jalan tersebut meliputi Pengaturan, Pembinaan, Pembangunan dan
Pengawasan (TURBINBANGWAS).

PENGATURAN JALAN adalah kegiatan perumusan kebijakan perencanaan,


penyusunan perencanaan umum dan penyusunan peraturan perundang-undangan
jalan. Pengaturan penyelenggaraan jalan bertujuan untuk :

a) Mewujudkan ketertiban dan kepastian hukum dalam penyelenggaraan jalan.


b) Mewujudkan peran masyarakat dalam penyelenggaraan jalan.
c) Mewujudkan peran penyelenggara jalan secara optimal dalam pemberian
layanan kepada masyarakat.
d) Mewujudkan pelayanan jalan yang andal dan prima serta berpihak pada
kepentingan masyarakat.
e) Mewujudkan sistem jaringan jalan yang berdaya guna dan berhasil guna untuk
mendukung terselenggaranya sistem transportasi yang terpadu; dan
f) Mewujudkan pengusahaan jalan tol yang transparan dan terbuka.

Pengaturan jalan secara umum meliputi :


a) Perumusan kebijakan perencanaan.
b) Penyusunan perencanaan umum.
c) Pengendalian penyelenggaraan jalan secara makro.

PEMBINAAN JALAN adalah kegiatan penyusunan pedoman dan standar teknis,


pelayanan, pemberdayaan sumber daya manusia, serta penelitian dan
pengembangan jalan. Pembinaan jalan secara meliputi :
a) Penyusunan dan penetapan norma, standar, kriteria, dan pedoman
penyelenggaraan jalan.
b) Pengembangan sistem bimbingan, penyuluhan, serta pendidikan dan
pelatihan di bidang jalan; dan

Hal -15
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

c) Pengkajian serta penelitian dan pengembangan teknologi bidang jalan dan


yang terkait.

PEMBANGUNAN JALAN adalah kegiatan pemrograman dan penganggaran,


perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, serta pengoperasian dan
pemeliharaan jalan. Pembangunan jalan meliputi kegiatan :
a) Pemrograman dan penganggaran.
b) Perencanaan teknis.
c) Pengadaan tanah.
d) Pelaksanaan konstruksi; dan
e) Pengoperasian dan pemeliharaan jalan.

PENGAWASAN JALAN adalah kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan tertib


pengaturan, pembinaan dan pembangunan jalan. Pengawasan jalan secara umum
meliputi :
a) Kegiatan evaluasi dan pengkajian pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan
jalan.
b) Pengendalian fungsi dan manfaat hasil pembangunan jalan; dan
c) Pemenuhan standar pelayanan minimal yang ditetapkan.

2. Klasifikasi Jalan Menurut Peruntukan


Sesuai pasal 6 (1) UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan, disebutkan bahwa jalan
sesuai peruntukkannya terdiri atas jalan umum dan jalan khusus. Jalan umum
adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum (pasal 1 UU No. 38 Tahun
2004). Termasuk ke dalam jalan umum ini adalah jalan tol.

Jalan khusus adalah jalan yang bukan diperuntukkan bagi lalulintas umum, dalam
rangka distribusi barang dan jasa yang dibutuhkan (pasal 6 (3) UU No. 38 Tahun
2004). Yang dimaksud dengan jalan khusus (penjelasan pasal 6 (3) UU No. 38
Tahun 2004), antara lain : jalan di dalam kawasan pelabuhan, jalan kehutanan,

Hal -16
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

jalan perkebunan, jalan inspeksi pengairan, jalan di kawasan industri dan jalan di
kawasan permukiman yang belum diserahkan kepada pemerintah.

3. Klasifikasi Jalan Umum di Indonesia


Dalam rangka efisiensi penyelenggaraan jaringan jalan, maka pada pasal 7 s.d
pasal 10 UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan, maka jalan umum dikelompokkan
lebih lanjut menurut :
a. SISTEM JARINGAN, yang terdiri atas: sistem jaringan jalan primer dan sistem
jaringan jalan sekunder.
b. FUNGSI JALAN, yang dikelompokkan menjadi : jalan arteri, jalan kolektor,
Jalan lokal, Jalan lingkungan.
c. STATUS JALAN, yang dikelompokkan menjadi : jalan nasional, jalan provinsi,
jalan kabupaten, jalan kota dan jalan desa.
d. KELAS JALAN, yang dikelompokan menjadi : jalan bebas hambatan, jalan raya,
jalan sedang dan jalan kecil.

Pada Tabel 3.3 disampaikan definisi untuk masing-masing istilah pengelompokkan


jalan umum tersebut diatas. Secara umum dapat diperoleh kesimpulan bahwa
landasan dalam UU No. 38 Tahun 2004 dalam mengklasifikasi jalan adalah sebagai
berikut:
Tabel 3.3. Defenisi Istilah Dalam Klasifikasi Jalan Umum
Di Indonesia
No Pembagian Klasifikasi Defenisi
1 Menurut sistem Sistem jaringan Sistem jaringan jalan dengan peranan
jalan primer pelayanan distribusi barang dan jasa untuk
pengembangan semua wilayah di tingkat
nasional, dengan menghubungkan semua
simpul jasa distribusi yang berwujud pusat
kegiatan.
Sistem jaringan Sistem jaringan jalan dengan peranan
sekunder pelayanan distribusi barang dan jasa untuk
masyarakat di dalam kawasan perkotaan.
2 Menurut Fungsi Jalan Arteri Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
utama dengan ciri perjalanan jarak jauh,
kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan

Hal -17
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

No Pembagian Klasifikasi Defenisi


masuk dibatasi secara berdaya guna
Jalan Kolektor Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
pengumpul atau pembagi dengan cirri
perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata
sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.
Jalan Lokal Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat,
kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalan
masuk tidak dibatasi.
Jalan Lingkungan Jalan umum yang berfungsi melayani angkytan
lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat,
dan kecepatan rata-rata rendah.
3 Menurut status Jalan nasional Jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem
jaringan jalan primer yang menghubungkan
antar ibukota propinsi, dan jalan strategis
nasional serta jalan tol
Jalan provinsi Jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan
primer yang menghubungkan ibukota propinsi
dengan ibukota kabupaten/kota, atau antar
ibukota kabupaten/kota dan jalan strategis
propinsi.

Jalan kabupaten Jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer


yang tidak termasuk jalan nasional maupun
jalan propinsi, yang menghubungkan ibukota
kabupaten dengan ibukota kecamatan, antar
ibukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan
pusat kehgiatan lokal, antar pusat kegiatan
lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan
jhalan sekunder dalam wilayah kabupaten dan
jalan strategis kabupaten.
Jalan kota Jalan umum dalam sistem jaringan jalan
sekunder yang menghubungkan antar pusat
pelayanan dalam kota, menghubungkan pysat
pelayanan dengan persil, menghubungkan
antar persil, serta menghubungkan antar pusat
permukiman yang berada didalam kota.
Jalan desa Jalan umum yang menghubungkan kawasan
dan/atau antar permukiman di dalam desa,
serta jalan lingkungan.
4 Menurut kelas Jalan bebas a) Pengaturan mengenai kelas jalan mengikuti

Hal -18
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

No Pembagian Klasifikasi Defenisi


hambatan peraturan LLAJ
Jalan raya b) Spesifikasi penyediaan prasarana jalan
Jalan sedang meliputi :
Jalan kecil  Pengendalian jalan masuk.
 Persimpangan sebidang.
 Jumlah dan lebar jalan.
 Ketersediaan median.
 Pagar.
Sumber : Pasal 7, 8, 9 dan 10 UU No. 38 Tahun 2004 tentang jalan, Pasal 31 dan Pasal 32 PP
No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan.

4. Hirarki Fungsi Jalan pada Jaringan Jalan Primer


Sesuai pasal 7 PP No. 34 Tahun 2006 sistem jaringan jalan primer melayani
distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional
yang menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat
kegiatan (kota).

Lebih lanjut pada pasal 9 (3) PP No. 34 Tahun 2006 fungsi jalan pada sistem
jaringan primer dibedakan atasjalan arteri primer (JAP), jalan kolektor primer
(JKP), jalan lokal primer (JLP), dan jalan lingkungan primer (JLingkP). Adapun pusat-
pusat kegiatan yang dihubungkan oleh masing-masing fungsi jalan primer tersebut
disampaikan pada pasal 10 PP No. 34 Tahun 2006.

Pada Tabel 3.4. disampaikan matriks hubungan yang diperankan oleh setiap fungsi
jalan primer tersebut, adapun pada Gambar 3.1 disampaikan ilustrasi hirarki jalan
pada sistem jaringan jalan primer tersebut.

Tabel 6.4 Matriks Hubungan Fungsi Jalan


Pada Sistem Jaringan Jalan Primer
Pusat Pusat Pusat
Kegiatan Kegiatan Pusat Kegiatan Kegiatan
Nasional Wilayah Lokal (PKL) Lingkungan
(PKN) (PKW) (PK Ling)
Pusat Kegiatan Jalan arteri Jalan arteri Jalan kolektor Jalan lokal
Nasional (PKN) primer (JAP) primer (JAP) primer (JKP) primer (JLP)
Pusat Kegiatan Jalan arteri Jalan Kolektor Jalan Kolektor Jalan Lokal
Wilayah (PKW) primer (JAP) primer (JKP) primer (JKP) primer (JLP)

Hal -19
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Pusat Kegiatan Jalan Kolektor Jalan Kolektor Jalan Lokal Jalan Lokal
Lokal (PKL) primer (JKP) primer (JKP) primer (JLP) primer (JLP)
Pusat Kegiatan Jalan Lokal Jalan Lokal Jalan Lokal Jalan Lokal
Lingkungan (PK primer (JLP) primer (JLP) primer (JLP) primer (JLP)
Ling)
Sumber : Pasal 10 PP Bo. 34 Tahun 2006 tentang Jalan
Keterangan : Jalan lingkungan primer menghubungkan antar pusat kegiatan di dalam kawasan
pedesaan dan jalan di dalam lingkungan kawasan perdesaan.

Gambar 3.1 Ilustrasi Hirarki Fungsi


Pada Sistem Jaringan Jalan Primer

5. Hirarki Fungsi Jalan pada Jaringan Jalan Sekunder


Sesuai pasal 8 PP No. 34 Tahun 2006, sistem jaringan jalan sekunder melayani
distribusi barang dan jasauntuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan yang
menghubungkan secara menerus kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi
sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga dan seterusnya
sampai ke persil.

Hal -20
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Lebih lanjut pada pasal 9 (5) PP No. 34 Tahun 2006, fungsi jalan pada sistem
jaringan sekunder dibedakan atas jalan arteri sekunder (JAS), jalan kolektor
sekunder (JKS), jalan lokal sekunder (JLS) dan jalan lingkungan sekunder (JLingkS).
Adapun kawasan yang dihubungkan oleh masing-masing fungsi jalan sekunder
disampaikan pada pasal 11 PP No. 34 Tahun 2006.
Pada Tabel 3.5 disampaikan matriks hubungan yang diperankan oleh setiap fungsi
jalan sekunder tersebut,adapun pada Gambar 3.2 disampaikan ilustrasi hirarki
jaringan jalan sekunder tersebut.

Tabel 3.5. Matriks Hubungan Fungsi Jalan


Pada Sistem Jaringan Jalan Sekunder
Kawasan Kawasan
Kawasan Kawasan Sekunder
Sekunder Sekunder Perumahan
Primer Kesatu
Kedua Ketiga
Kawasan Jalan arteri sekunder t.a t.a t.a
primer (JAS)
Kawasan Jalan arteri Jalan arteri sekunder Jalan arteri Jalan lokal
Sekunder sekunder (JAS) sekunder sekunder
Kesatu (JAS) (JAS) (JLS)
Kawasan t.a Jalan arteri sekunder Jalan Jalan Jalan lokal
Sekunder (JAS) kolektor kolektor sekunder
Kedua sekunder sekunder (JLS)
(JKS) (JKS)
Kawasan t.a t.a Jalan lokal Jalan lokal Jalan lokal
Sekunder sekunder sekunder sekunder
Ketiga (JLS) (JLS) (JLS)
Perumahan t.a Jalan lokal sekunder Jalan lokal Jalan lokal t.a
(JLS) sekunder sekunder
(JLS) (JLS)
Sumber : Pasal 11 PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan

Keterangan :
Jalan lingkungan sekunder menghubungkan antar persil dalam kawasan perkotaan
t.a = tidak diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP)

Hal -21
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Gambar 6.2. Ilustrasi Hirarki Fungsi


Pada Sistem Jaringan Jalan Primer

Sebagaimana disampaikan pada Tabel 3.5, terdapat beberapa hubungan antar


kawasan yang tidak diatur(diberikan tanda t.a) pada PP No. 34 Tahun 2006
tentang Jalan. Tidak diaturnya hubungan ini dapat dipersepsikan bahwa : (1)
Daerah dapat menetapkan fungsi jalan yang menghubungkan antar kawasan
tersebut, atau kemungkinan besar yang lebih tepatnya, bahwa (2) sebaiknya
hubungan antar kawasan tersebut dilakukan sesuai hirarki jalan yang telah
ditetapkan melalui hirarki kawasan yang lebih tinggi.

Contohnya, hubungan antara Kawasan Sekunder Kedua, Kawasan Sekunder Ketiga,


dan Perumahan ke Kawasan Primer, sebaiknya dilakukan melalui jalan arteri

Hal -22
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

sekunder (JAS) yang menghubungkan Kawasan Sekunder Kesatu dengan Kawasan


Primer. Demikian, juga hubungan antara Kawasan Sekunder Ketiga dengan
Kawasan Sekunder Kesatu sebaiknya melalui Jalan Arteri Sekunder (JAS) yang
menghubungkan Kawasan Sekunder Kedua (yang ada pada hirarki diatas Kawasan
Sekunder Ketiga yang bersangkutan) dengan Kawasan Sekunder Kesatu.

6. Persyaratan Teknis Jalan sesuai Fungsinya


a. Persyaratan Teknis Jalan Primer
Pada Tabel 3.6 disampaikan persyaratan teknis jalan pada jaringan jalan
primer sesuai dengan klasifikasi fungsinya yang diatur dalam pasal 13 s.d pasal
16 PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan. Persyaratan teknis ini harus dipenuhi
oleh setiap ruas jalan yang ditetapkan sebagai bagian dari jaringan jalan
primer agar fungsinya dapat optimal sesuai dengan fungsi hubungan yang
diperankan/diembankan masing-masing ruasjalan pada sistem distribusi
nasional/antar kota.

Tabel 3.6. Persyaratan Teknis Jalan Primer


No Kelas Jalan Persyaratan
1 Arteri  Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 60
primer km/jam dan lebar jalan paling sedikit 11 meter.
 Mempunyai kapasitas yang lebih besar daripada volume
lalulintas rata-rata (V/C < 1).
 Lalulintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalulintas ulang
alik, lalulintas lokal dan kegiatan lokal.
 Jumlah jalan masuk dibatasi sedemikian rupa sehingga
persyaratan butir 1, 2 dan 3 terpenuhi.
 Persimpangan sebidang dengan pengaturan tertentu harus
memenuhi ketentuan pada butir 1,2 dan 3 terpenuhi.
 Tidak boleh terputus ketika memasuki kawasan perkotaan.
2 Kolektor  Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 40
primer km/jam dan lebar badan jalan paling sedikit 9 meter.
 Mempunyai kapasitas yang paling besar daripada volume
lalulintas rata-rata (V/C < 1).
 Jumlah jalan masuk dibatasi dan direncanakan shingga
ketentuan butir 1,2 dan 3 terpenuhi.
 Persimpangan sebidang dengan pengaturan tertentu harus
memenuhi ketentuan butir 1,2 dan 3.
 Tidak boleh terputus ketika memasuki kawasan perkotaan.
3 Lokal Primer  Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20

Hal -23
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

No Kelas Jalan Persyaratan


km/jam dan lebar jalan paling sedikit 7,5 meter.
 Tidak boleh terputus ketika memasuki kawasan perdesaan.
4 Lingkungan  Jika diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda 3 (tiga)
Primer atau lebih, maka didesain berdasarkan kecepatan rencana
paling rendah 15 km/jam dan lebar badan jalan minimal 6,5
meter.
 Jika tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda 3
atau lebih harus mempunyai lebar jalan paling sedikit 3,5
meter.
Sumber : Penjelasan pasal 13 s.d pasal 16 PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan
b. Persyaratan Teknis Jalan Sekunder
Pada Tabel 3.7 disampaikan persyaratan teknis jalan pada jaringan jalan
sekunder sesuai dengan klasifikasi fungsinya yang diatur dalam pasal 17 s.d
pasal 20 PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan. Persyaratan teknis ini harus
dipenuhi oleh setiap ruas jalan yang ditetapkan sebagai bagian dari jaringan
jalan sekunder agar fungsinya dapat optimal sesuai dengan fungsi hubungan
yang diperankan/diembankan masing-masing ruasjalan pada sistem distribusi
dalam kawasan perkotaan.

Tabel 3.7. Persyaratan Teknis Jalan Sekunder


Fungsi
No Persyaratan Teknis
Jalan
1 Arteri 1. Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah
Sekunder 30 km/jam dan lebar badan jalan paling sedikit 11 meter
2. Mempunyai kapasitas yang lebih besar daripada volume
lalulintas rata-rata (V/C < 1)
3. Lalulintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalulintas
lambat
4. Persimpangan sebidang dengan pengaturan tertentu
harus dapat memenuhi ketentuan butir (1), (2), dan (3).
2 Kolektor 1. Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah
Sekunder 20 km/jam dan lebar badan jalan paling sedikit 9 meter
2. Mempunyai kapasitas yang labih besar daripada volume
lalulintas rata-rata (V/C < 1)
3. Lalulintas cepat tidak boleh terganggu lalulintas lambat
4. Persimpangan sebidang dengan pengaturan tertentu
harus dapat memenuhi ketentuan butir (1), (2) dan (3).
3 Lokal Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 10
Sekunder km/jam dan lebar badan jalan paling sedikit 7,5 meter
4 Lingkungan 1. Jika diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda 3

Hal -24
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Fungsi
No Persyaratan Teknis
Jalan
sekunder (tiga) atau lebih, maka didesain berdasarkan kecepatan
paling rendah 10 km/jam dan lebar badan jalan paling
sedikit 6,5 meter
2. Jika tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor roda 3
(tiga) atau lebih harus mempunyai lebar badan jalan
paling sedikit 3,5 meter
Sumber : Penjelasan pasal 17 s.d pasal 20 PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan

7. Hubungan antara Fungsi dengan Status suatu Ruas Jalan


Secara prosedural pada pasal 62 PP No. 34 Tahun 2006 diisyaratkan bahwa untuk
dapat menetapkan status jalan diperlukan masukan mengenai ketetapan fungsi
jalan. Hal ini diperjelas lagi dalam pasal 25 s/d pasal 30 PP No. 34 Tahun 2006
dimana untuk setiap status jalan ditetapkan ruas-ruas jalan yang menjadi
bagiannya berdasarkan hirarki fungsinya. Pada Tabel 3.8. disampaikan hubungan
status jalan dengan fungsi jalan yang dilingkupinya.
Tabel 3.8. Pemetaan Hubungan Antara Fungsi
dengan Status Suatu Ruas Jalan
No Status Jalan Fungsi Jalan Yang Dilingkupi
1 Jalan Nasional 1. Jalan arteri primer
2. Jalan kolektor primer yang menghubungkan antar
ibukota provinsi
3. Jalan tol, dan
4. Jalan strategis nasonal
2 Jalan Provinsi 1. Jalan kolektor primer yang menghubungkan ibukota
propinsi dengan ibukota kabupaten atau kota
2. Jalan kolektor primer yang menghubungkan antar
ibukota kabupaten atau kota
3. Jalan strategis propinsi
4. Jalan di daerah khusus Jakarta, kecuali jalan masuk
ke status jalan nasional
3 Jalan Kabupaten 1. Jalan kolektor primer yang tidak termasuk jalan
nasional dan jalan provinsi
2. Jalan lokal primer yang menghubungkan ibukota
kabupaten dengan ibukota kecamatan, ibukota
kabupaten dengan pusat kota, antar ibukota
kecamatan, ibukota kecamatan dengan desa dan
antar desa

Hal -25
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

No Status Jalan Fungsi Jalan Yang Dilingkupi


3. Jalan sekunder yang tidak termasuk jalan provinsi
dan jalan sekunder dalam kota dan
4. Jalan strategis kabupaten
4 Jalan Kota Jalan umum pada jaringan jalan sekunder di dalam kota
5 Jalan Desa Jalan lingkungan primer dan jalan lokal primer yang tidak
termasuk jalan kabupaten di dalam kawasan perdesaan,
dan merupakan jalan umum yang menghubungkan
kawasan dan/atau antar permukiman di dalam desa
Sumber : Penjelasan pasal 25 s.d 30 PP No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan

8. Hubungan antara Ketetapan Fungsi dengan Status Jalan


Secara lebih gamblang, pada Tabel 3.9 disampaikan pemetaan mengenai
hubungan antara penetapan fungsi dan status jalan.
Tabel 3.9 Hubungan Antara Ketetapan Fungsi
Dengan Ketetapan Status Jalan
Fungsi Jalan Status Jalan
Sistem Fungsi Penetapan Status Penetapan
 Arteri Primer Jalan Nasional Kepmen PU
 Kolektor Primer yang (termasuk
Kepmen PU
menghubungkan strategis Nasional
antar ibukota propinsi dan jalan Tol)
 Kolektor Primer yang Jalan Propinsi Keputusan
Sistem tidak menghubungkan (termasuk jalan Gubernur
Jaringan antar ibukota propinsi strategis propinsi)
Jalan  Lokal Primer Jalan Kabupaten Keputusan
Primer  Lingkungan Primer (termasuk Bupati
strategis
Keputusan Kabupaten dan
Gubernur jalan sekunder
dalam wilayah
Kabupaten)
Sistem  Arteri Sekunder Jalan Kota Keputusan
Jaringan  Kolektor Sekunder Walikota
Jalan  Lokal Sekunder
Sekunder  Lingkungan Sekunder

9. Isu Otonomi Daerah


Beberapa peraturan perundangan yang lain yang terkait dengan transportasi darat
Pulau Jawa adalah Undang-undang Pemerintahan Daerah (32/2004), termasuk
juga UU Perimbangan Keuangan (33/2004). UUNo. 32 Tahun 2004 merupakan

Hal -26
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

revisi/penyempurnaan dari UU No. 22 Tahun 1999 tentang hal yang samayakni


Pemerintahan Daerah. Sebagaimana diketahui UU No. 32 Tahun 2004 ini
mengatur mengenai pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. Dengan otonomi
daerah diharapkan terjadi efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan
sehingga mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Sektor transportasi merupakan salah satu elemen pelayanan masyarakat yang


kewenangannya sebagian besar diserahkan kepada Daerah (Provinsi, Kabupaten
dan Kota). Pada pasal 10 UU No. 32 Tahun 2004 disampaikan bahwa pemerintah
daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya,
kecuali 7 hal, yakni : politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter
dan fiscal nasional dan agama. Adapun penyelenggaraan transportasi dalam UU
No. 32 Tahun 2004 tersebut tidak secara spesifik disampaikan pembagian
kewenangannya, namun jika sektor transportasi dimasukkan sebagai bagian dari
”penyediaan sarana dan prasarana umum” maka sesuai pasal 13 dan pasal 14 UU
No. 32 Tahun 2004 tersebut termasuk ke dalam kewenangan wajib dari
Pemerintah Daerah.

Dalam hal demikian, masih menurut pasal 13, penyerahan urusan pemerintahan
kepada daerah tersebut harus disertai dengan sumber pendanaan, pengalihan
sarana dan prasarana, serta kepegawaian sesuai dengan urusan yang
didesentralisasikan.

Terdapat beberapa hal mendasar yang perlu dicermati sebagai dampak dari
kebijakan otonomi daerah terhadap penyelenggaraan sektor transportasi di
Indonesia, yakni :
a. Kewenangan penyediaan sarana dan prasarana transportasi :
 Penyediaan sarana dan prasarana transportasi yang skala
pelayanan/dampaknya lokal (Kab/Kota) adalah urusan wajib yang menjadi
kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota (Ps. 14UU 32/2004).

Hal -27
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

 Penyediaan sarana dan prasarana transportasi yang skala


pelayanan/dampaknya pada tingkat provinsi adalah urusan wajib yang
menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi (Ps. 13 UU32/2004).
 Oleh karena itu, penyediaan sarana dan prasarana transportasi yang skala
pelayanan/dampaknya pada tingkat Nasional menjadi kewenangan
Pemerintah Pusat.
b. Perencanaan transportasi :
 Perencanaan pembangunan daerah–multi-sektoral - dikoridori melalui
RPJP Daerah (20 tahun), RPJM Daerah (5 tahun) dan RKPD Daerah (1
tahun) (ps. 150 UU 32/2004).
 Penyusunan perencanaan pembangunan sektor transportasi dilakukan
sebagai bagian dari Renstra-SKPD (c.q Dishub) yang memuat visi, misi,
tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan sesuai
tupoksi dinas (ps. 151 UU 32/2004).
 Penyusunan Renstra-SKPD didasarkan pada RPJM Daerah dan bersifat
indikatif (ps. 151 UU32/2004).
c. Hasil penyelenggaraan transportasi :
 Penyelenggaraan urusan penyediaan sarana dan prasarana transportasi
berpedoman pada standar pelayanan minimal (SPM) yang dilaksanakan
secara bertahap (ps 11 UU 32/2004).
 Penetapan SPM dilakukan oleh Pemerintah c.q Departemen Teknis
Terkait, untuk sektor transportasi terutama adalah Departemen
Perhubungan dan Departemen Pekerjaan Umum.
d. Pendanaan penyelenggaraan transportasi :
 Penyelenggaraan sarana dan prasarana transportasi yang menjadi
kewenangan Daerah dibiayai melalui APBD, kecuali pelaksanaan
dekonsentrasi, tugas pembantuan, dan pelaksanaan kewenangan pusat
didanai oleh APBN (ps. 4 UU No. 33/2004).
 Usaha peningkatan PAD agar kapasitas pendanaan Daerah naik tidak
boleh menyebabkan ekonomi biaya tinggi, gangguan distribusi

Hal -28
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

orang/barang/jasa dan perdagangan (ps.7 UU No.33/2004). Oleh karena


itu retribusi di simpul dan lintas/ruas transportasi perlu ditetapkan
besarannya secara rasional dan tetap pada prinsip efisiensi system.
 Pembagian dana perimbangan kepada daerah, khususnya DAU dan DAK,
merupakan usaha agar diperoleh keseimbangan antara kapasitas dan
kebutuhan fiskal daerah sehingga fungsi pelayanan dasar umum yang
menjadi kewenangan daerah dapat dilaksanakan sebaik-baiknya (ps. 27
dan ps. 40 UU No. 33/2004).
 Pinjaman daerah-jangka menengah dan panjang-dapat dialokasikan untuk
penyediaan sarana dan prasarana transportasi sebagai bagian dari
pelayanan umum dan dapat pula menghasilkan penerimaan (ps. 53 UU
No. 33/2004).
 Kerjasama antar pemerintah daerah dimungkinkan untuk penyediaan
sarana dan prasarana transportasi sebagai bagian dari layanan umum (ps.
16 UU No.32/2004).

3.2.2.3 Pendekatan Pola Keruangan dan Integrasinya dengan Transportasi Kota


A. STRUKTUR PERKOTAAN
Struktur kota merupakan gambaran dari distribusi tata guna lahan dan sistem
jaringan dari suatu kota. Pola guna lahan akan mempengaruhi pola pergerakan
dan jarak. Pola kota yang merupakan ilustrasi dari struktur ruang kota secara tidak
langsung dapat menunjukkan arah perkembangan kota yang pada dasarnya sangat
dipengaruhi oleh tata guna lahan.

Menurut Chapin (1979 :32-37), terdapat tiga model klasik berkaitan dengan
struktur kota yaitu zona konsentris Teori Sektoral dan Konsep Multiple-Nuclei.
Secara umum model-model tersebut menjelaskan bagaimana tata guna lahan
yang mungkin terbentuk didalam perkembangan suatu kota serta kaitannya
dengan pola pergerakan yang ditimbulkan.

Hal -29
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Model pertama adalah teori zona konsentris merupakan model yang dikemukakan
EW Burges yang menggambarkan struktur kota sebagai pola lima zona lingkaran
konsentris. Menurut model ini dinamika perkembangan kota akan terjadi dengan
meluasnya zona pada setiap lingkaran. Zona pertama biasanya dilengkapi dengan
areal perbelanjaan, hotel, perkantoran dan berbagai macam jenis bisnis lainnya
yang membentuk lokasi pusat. Zona kedua merupakan zona transisi dengan guna
lahan campuran, baik perumahan maupun fasilitas pelengkapnya yang karakter
perkembangannya dapat berubah sesuai dengan kebutuhan kota. Zona berikutnya
guna lahannya dapat berubah menjadi perumahan buruh bila kota merupakan
kota industri. Zona keempat merupakan zona terbesar bagi guna lahan perumahan
kota dengan penduduk kalangan menengah.

Pada zona terakhir, fungsi kawasan ditujukan pada penduduk yang


berpenghasilalan menengah keatas yang bermukim dengan sifat commuter.
Sistem jaringan yang terbentuk berupa pola melingkar yang melayani setiap
kawasan dengan jenis pergerakan yang mengarah ke lingkaran terdalam karena
merupakan lokasi pusat kegiatan.

Model kedua adalah teori sektoral yang dirumuskan oleh Mommer Hoyt yang
mengemukakan bahwa perkembangan suatu kawasan tidak selalu membentuk
lingkaran konsentris, tetapi terdistribusi sesuai dengan perbedaan potensi
pengembangannya. Hal ini akhirnya akan membentuk struktur sektoral mengingat
perkembangan suatu kawsan tidak terjadi secara merata ke segala arah. Teori
sektoral dapat lebih rinci menerangkan mengenai pola lahan permukiman
dibandingkan dengan teori zona konsentris terutama dalam kaitannya dnegan
proses pertumbuhan kota yang dinamis. Jaringan jalan yang melayani model ini
lebih beragam bentuknya dibandingkan dengan model konsentris namun pola
pergerakan yang terbentuk hampir sama karena terdapat satu pusat kota yang
letaknya di tengah-tengah wilayah.

Hal -30
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Model ketiga yaitu Multiple-Nuclei yang dirumuskan oleh C. Harris dan E.Ulman.
Pola ini merupakan kombinasi dari dua model sebelumnya, dimana kota tidak
selalu terbentuk dari satu pusat akan tetapi terbentuk dari beberapa pusat lainnya
dalam suatu kawasan. Pola pergerakan dalam Model Multiple-Nuclei beragam
sesuai dengan pola guna lahan yang terbentuk, namun akan dipengaruhi oleh
jarak ke setiap pusat. Setiap kawasan akan cenderung memilih lokasi pusat yang
lebih dekat dengan kawasannya. Untuk lebih jelasnya mengenai model struktur
kota iini dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Model Struktur Kota "MODEL ZONA KONSENTRIS (BURGES)"

Keterangan :
1. CBD atau Daerah Pusat Perdagangan
2. Derah Transisi
3. Daerah Permukiman Kelas Pekerja
4. Daerah Permukiman Kelas Menengah
1
5. Daerah Penglaju (Commuters)
2
3
4
5
(Sumber : Chapin (1979 : 33)

Gambar 3.4 : Model Struktur Ruang (MODEL SEKTORAL)

3 Keterangan :
4
2 1. CBD atau zona pusat daerah kegiatan
3 2. Zona grosier dan manufaktur
3. Zona permukiman kelas rendah
3 3 5 4. Zona permukiman kelas menengah
5. Zona permukiman kelas tinggi
3
2 3 4

(Sumber : Chapin (1979 : 33)

Hal -31
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Gambar 3.5. Model Struktur Kota "MODEL MULTIPLE-NUCLEI"

(Sumber : Chapin (1979 : 33)

B. PERKEMBANGAN KOTA
Perkembangan kota adalah suatu proses perubahan keadaan perkotaan dari suatu
keadaan ke keadaan lain dalam waktu yang berbeda (Yunus, 1999 : 41). Menurut
(Bintarto, 1989 : 67), perkembangan suatu kota dapat dilihat dari aspek zone-zone
yang berada di dalam wilayah perkotaan. Perkembangan kota tersebut dilihat dari
penggunaan lahan yang membentuk zona-zona tertentu dalam ruang perkotaaan.
Menurut Breheny dan Rookwood (dalam Rahmi dan Bakti, 1999 : 139), bentuk
kota dapat mempengaruhi fasilitas transportasi umum yaitu jalan dan jenis
kendaraan umum yang pada akhirnya dapat mempengaruhi konversi tanah-tanah
non urban untuk kegiatan urban.

Daldjoeni (1998 : 203) mengemukakan bahwa proses berekspansinya kota dan


berubahnya struktur tata guna lahan sebagian besar disebabkan oleh adanya daya
sentrifugal dan data sentripental pada kota. Yang pertama mendorong gerak ke
luar dari penduduk dan berbagai usahanya, lalu terjadi disperse kegiatan manusia
dan relokasi sektor-sektor dan zona-zona kota, yang kedua mendorong gerak
kedalam dari penduduk dan berbagai usahanya sehingga terjadilah pemusatan
(konsentrasi) kegiatan manusia.

Karena keadaan topografi tertentu atau karena perkembangan sosial ekonomi


tertentu, akan berkembang beberapa pola perkembangan kota yaitu pola

Hal -32
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

menyebar, pola sejajar dan pola merumpun. Pola menyebar (dispered pattern)
dari perkotaan terjadi pada keadaan topografi yang seragam dan ekonomi yang
homogen. Pola sejajar (linier pattern) dari perkotaan terjadi sebagai akibat adanya
perkembangan sepanjang jalan, lembah, sungai atau pantai. Pola merumpun
(clustered pattern) dari perkotaan terjadi pada topografi agak datar tetapi
terdapat beberapa relief lokal yang nyata dan pola ini berkembang berhubungan
dengan pertambangan (Alexander, J.W. dalam Jayadinata, 1999 : 179). Pola
perkembangan diatas tanah datar terlihat pada Gambar 3.6.

Sumber : Branch, 1995 : 52


Gambar 3.6 : Pola Umum Perkembangan Perkotaan

C. SISTEM TRANSPORTASI
Sistem transportasi merupakan suatu sistem yang memiliki fungsi untuk
memindahkan orang maupun barang dari suatu tempat ke tempat lain dalam
upaya mengatasi hambatan jarak geografis maupun topografis. Transportasi
memiliki dimensi yang kompleks karena tidak hanya berfungsi memindahkan
orang dan barang dari suatu tempat ke tempat lain saja, tetapi juga menyangkut
kebutuhan lainnya seperti kebutuhan ekonomi, sosial dan politik. Oleh karena itu

Hal -33
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

kebutuhan transportasi disebut juga sebagai kebutuhan turunan (derived


demand).

Kajian sistem transportasi dari arti luas (makro) terdiri dari beberapa komponen
sistem yang lebih kecil (mikro) yang masing-masingnya saling terkait dan saling
mempengaruhi. Menurut Tamin (2000:28), sistem transportasi mikro terdiri dari
sistem kegiatan, sistem jaringan prasarana transportasi, sistem pergerakan lalu
lintas dan sistem kelembagaan. Setiap sistem kegiatan atau tata guna lahan
mempunyai jenis kegiatan tertentu yang akan membangkitkan pergerakan dan
akan menarik pergerakan dalam proses pemenuhan kebutuhan. Kegiatan yang
timbul dalam sistem ini membutuhkan pergerakan sebagai alat pemenuhan
kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh tata guna lahan tersebut.

Pergerakan yang berupa pergerakan manusia dan atau barang tersebut


membutuhkan moda transportasi (sarana) dan media (prasarana) tempat moda
transportasi bergerak yang dikenal dengan sistem jaringan. Sistem jaringan ini
meliputi sistem jaringan jalan raya, kereta api, terminal bis , bandara dan
pelabuhan laut. Interaksi antara sistem kegiatan dan sisteem jaringan
menghasilkan pergerakan manusia dan atau barang dalam bentuk pergerakan
kendaraan dan/atau orang (pejalan kaki). Jika pergerakan tersebut diatur oleh
sistem rekayasa dan manajemen lalu lintas yang baik akan tercipta suatu sistem
pergerakan yang aman, cepat, nyaman, murah, handal dan sesuai dengan
lingkungannya.

Hal -34
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Sumber : Tamin, 2000


Gambar 3.7 : Sistem Transportasi Makro

Sistem kegiatan, sistem jaringan, dan sistem pergerakan saling mempengaruhi


satu sama lain. Perubahan pada sistem kegiatan akan mempengaruhi sistem
jaringan melalui perubahan tingkat pelayanan pada sistem pergerakan. Begitu juga
perubahan sistem jaringan akan mempengaruhi sistem kegiatan melalui
peningkatan mobilitas dan aksesibilitas dari sistem pergerakan tersebut. Sistem
pergerakan memegang peranan penting dalam menampung pergerakan agar
tercipta pergerakan yang lancar yang akhirnya akan mempengaruhi kembali
sistem kegiatan dan sistem jaringan dalam bentuk aksesibilitas dan mobilitas.
Keseluruhan sistem tersebut diatur dalam suatu sistem kelembagaan.

D. SISTEM TATA GUNA LAHAN – TRANSPORTASI


Kebutuhan transportasi sebagai hasil interaksi antara aktifitas sosial dan ekonomi
yang tersebar didalam ruang atau tata guna lahan. Penyebaran aktifitas dan pola
interaksi ytang demikian kompolek menimbulkan permasalahan yang sangat
beragam dan banyak factor penentu yang harus dipertimbangkan (Button,
1993:123). Tata guna lahan kota adalah cermin tata kegiatan kota karena kegiatan
sifatnya dinamis, maka guna lahan pun mungkin berubah-ubah. Menurut Martin.B
(dalam Warpani, 1990 : 103), ada empat faktor yang mempengaruhi

Hal -35
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

perkembangan guna lahan yakni topografi, jumlah penduduk, biaya bangunan dan
derajat pelayanan jaringan pengangkutan.

E. INTERAKSI GUNA LAHAN – TRANSPORTASI


Interaksi guna lahan dan transportasi melibatkan berbagai aspek kegiatan serta
berbagai kepentingan. Perubahan guna lahan akan selalu mempengaruhi
perkembangan transportasi dan sebaliknya. Didalam kaitan ini, Black menyatakan
bahwa pola perubahan dan besaran pergerakan serta pemilihan moda pergerakan
merupakan fungsi dari adanya pola perubahan guna lahan diatasnya. Sedangkan
setiap perubahan guna lahan dipastikan akan membutuhkan peningkatan yang
diberikan oleh sistem transportasi dari kawasan yang bersangkutan (Black,
1981:99). Menurut Meyer (1984:62), perubahan guna lahan berkaitan dengan
tingkat aksesibilitas yang diberikan oleh sistem transportasi untuk menunjang
mobilitas dari suatu area menuju area lain.

F. PENGARUH GUNA LAHAN TERHADAP PERGERAKAN


Bourne (1971:250), menyatakan bahwa pola guna lahan di daerah perkotaan
mempunyai hubungan yang erat dengan pola pergerakan penduduk. Setiap bidang
tanah yang digunakan untuk kegitan tertentu akan menunjukkan potensinya
sebagai pembangkit atau penarik pergerakan. Karakteristik dan intensitas
penggunaan lahan akan mempengaruhi karakteristik pergerakan penduduk.
Pembentuk pergerakan dibedakan atas pembangkit dan penarik pergerakan.
Perubahan guna lahan akan berpengaruh pada peningkatan bangkitan perjalanan
yang ada akhirnya akan menimbulkan peningkaan kebutuhan prasarana dan
sarana transportasi, sedangkan besarnya tarikan dan bangkitan pergerakan
ditentukan oleh tujuan dan maksud perjalanan (Black, 1981 : 29).

Klasifikasi perjalanan berdasarkan maksud perjalanan dapat dibedakan atas


beberapa golongan (Setijowarno dan Frazila, 2001 : 211) sebagai berikut :
a. Perjalanan untuk bekerja (working trips), yaitu perjalanan yang dilakukan
seseorang menuju tempat kerja, misalnya kantor, pabrik, dan lain sebagainya.

Hal -36
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

b. Perjalanan untuk kegiatan pendidikan (educational trips), yaitu perjalanan


yang dilakukan oleh pelajar menuju sekolah, universitas atau lembaga
pendidikan lainnya.
c. Perjalanan untuk berbelanja (shopping trips), yaitu perjalanan ke pasar,
swalayan, pusat pertokoan dan lain sebagainya.
d. Perjalanan untuk kegiatan sosial (sosial trips), misalnya perjalanan ke rumah
saudara, ke dokter dan lain sebagainya.
e. Perjalanan untuk berekreasi (recreation trips) yaitu perjalanan menuju ke
pusat hiburan, stadion olahraga dan lain sebagainya atau perjalanan itu
sendiri yang merupakan kegiatan rekreasi.
f. Perjalanan untuk keperluan bisnis (business trips), yaitu perjalanan dari
tempat bekerja ke lokasi lain dari bagian dari pelaksanaan pekerjaan.
g. Perjalanan ke rumah (home trips) yaitu perjalanan kembali ke rumah. Hal ini
perlu dipisahkan menjadi satu tipe perjalanan karena umumnya perjalanan
yang didefenisikan pada poin-poin sebelumnya dianggap sebagai pergerakan
satu arah (one way movement) tidak termasuk perjalanan kembali ke rumah.

G. BANGKITAN DAN TARIKAN


Perjalanan selalu memiliki asal (atau yang menghasilkan/production) dan tujuan
(atau yang menarik/attraction). Production adalah perjalanan yang berakhi di
rumah pada perjalanan yang berasal dari rumah (home base trips) atau berakhir di
tempat asal (origin) pada perjalanan yang tidak berasal dari rumah (non home
based trip). Attraction adalah perjalanan yang berakhir tidak di rumah pada
perjalanan yang berasal dari rumah atau berakhir di tempat tujuan (destination)
(Catanase, 1992 : 383).

Bangkitan pergerakan adalah perkiraan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu
zona atau tata guna lahan. Sedangkan tarikan pergerakan adalah jumlah
pergerakan yang tertarik dari suatu tata guna lahan. Bangkitan dan tarikan
tergantung pada dua aspek tata guna lahan yaitu jenis tata guna lahan dan
intensitas (jumlah aktifitas) pada tata guna lahan tersebut (Tamin, 2000 : 41).

Hal -37
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Besaran perjalanan tergantung pada kegiatan kota, sedangkan penyebab


perjalanan adalah adanya keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhannya
yang tidak diperoleh ditempat asalnya. Bangkitan dan tarikan perjalanan bervariasi
untuk setiap tipe tata guna lahan. Semakin tinggi penggunaan lahan akan semakin
tinggi pergerakan yang dihasilkan (Tamin, 2000:60).

Dalam menentukan besaran bangkitan lalu lintas perjalanan tersedapat sepuluh


faktor yang menjadi peubah penentu yang dapat diidentifikasikan dan secara
langsung maupun tidak langsung dapat dijadikan parameter dalam menentukan
besarnya bangkitan lalu lintas suatu zona yang sangat mempengaruhi volume lalu
lintas serta penggunaan sarana pengangkutan (Martin, B dalam Warpani, 1990 :
39), yaitu :
a. Maksud perjalanan.
b. Penghasilan keluarga.
c. Kepemilikan kendaraan.
d. Guna lahan di tempat asal.
e. Jarak dari pusat kegiatan kota.
f. Jauh perjalanan.
g. Moda perjalanan.
h. Penggunaan kendaraan.
i. Guna lahan ditempat tujuan.

Hal -38
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut.

Bangkitan Bangkitan
Rumah Tempat Kerja
Tarikan Tarikan

Bangkitan Bangkitan
Tempat Kerja Tempat Belanja
Tarikan Tarikan

(Sumber : Tamin, 2000 : 113)


Gambar 3.8 : Bangkitan dan Tarikan Pergerakan

H. AKSESIBILITAS
Konsep dasar dari interaksi atau hubungan antara tata guna lahan dan transportasi
adalah aksesibilitas (Peter, 1975 : 307). Menurut Johara (1999 : 246), aksesibilitas
atau tingkatan daya jangkau adalah kemudahan bagi penduduk untuk
menjembatani jarak antara berbagai pusat kegiatan. Sedangkan menurut Black
(1981 : 23), aksesibilitas adalah suatu konsep yang menggabungkan pengaturan
tata guna tanah secara geografis dengan sistem transportasi yang
menghubungkannya. Aksesibilitas merupakan suatu ukuran kenyamanan
bagaimana lokasi tata guna tanah berinteraksi satu sama lain dan bagaimana
mudah atau sulitnya lokasi tersebut dicapai melalui sistem transportasi. Jika lokasi
tata guna tanah berdekatan dan hubungan transportasinya baik akan diperoleh
aksesibilitas yang tinggi, namun jika aktifitas berlangsung pada lokasi yang
berjauhan dan jaringan transportasi buruk, maka aksesibilitasnya akan rendah.
Peningkatan jaringan jalan maupun jaringan pelayanan transportasi akan
meningkatkan nilai aksesibilitas pada suatu kawasan.

Hal -39
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Tabel 3.10. Klasifikasi Tingkat Aksesibilitas


Jauh Aksesibilitas Rendah Aksesibilitas Menengah
Jarak Aksesibilitas
Dekat Aksesibilitas tinggi
menengah
Jaringan Transportasi Buruk Baik
Sumber : (Black, 1981 : 24)

I. HUBUNGAN AKSESIBILITAS DENGAN JARINGAN JALAN


Suatu tempat dikatakan “aksesibel” jika dekat dengan tempat lainnya, dan tidak
aksesibel jika berjauhan tempatnya. Dalam hubungan dnegan transportasi maka
dinyatakan dengan bentuk jarak. Selain itu untuk menyatakan hubungan
transportasi yang lebih baik dinyatakan dengan waktu tempuh. Waktu tempuh
menjadi ukuran yang sering digunakan untuk aksesibilitas. Dalam hubungan antar
aksesibilitas dan transportasi dinyatakan sebagai ukuran untuk memperlihatkan
mudah atau sukarnya suatu tempat dicapai yang dinyatakan dalam bentuk jarak,
waktu dan biaya.

J. KARAKTERISTIK JARINGAN JALAN


Ditinjau dari sisi penyediaan (supply), keberadaan jaringan halan yang terdapat
dalam suatu kota sangat menentukan pola jaringan pelayanan angkutan umum.
Jalan mempunyai suatu sistem jaringan jalan yang mengikat dan menghubungkan
pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh
pelayanannya dalam suatu hubungan hirarki (Setijowarno Dan Frazila, 2001 : 107).

K. SISTEM JARINGAN JALAN


Menurut peranan pelayanan jasa distribusinya, sistem jaringan jalan terdiri dari:
a. Sistem jaringan jalan primer, yaitu sistem jaringan jalan dengan peranana
pelayanan jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah di tingkat
nasional dengan semua simpul jasa distribusi yang kemudian berwujud kota.
b. Sistem jaringan jalan sekunder, yaitu sistem jaringan jalan dengan peranan
pelayanan distribusi untuk masyarakat di dalam kota.

Hal -40
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Sedangkan menurut Miro (1997 ; 28), pengelompokkan jalan berdasarkan


peranannya dapat digolongkan menjadi :
a. Jalan arteri, yaitu jalan yang melayani angkutan jarak jauh dengan kecepatan
rata-rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien.
b. Jalan kolektor yaitu jalan yang melayani angkutan jarak sedang dengan
kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi.
c. Jalan lokal yaitu jalan yang melayani angkutan jarak pendek (angkutan
setempat) dengan kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalan masuk tidak
dibatasi.

Jaringan jalan terdiri dari ruas-ruas jalan yang menghubungkan satu dengan yang
lain pada titik pertemuan yang merupakan simpul-simpul transportasi yang dapat
memberikan alternatif pilihan bagi pengguna jalan.

L. JENIS JARINGAN JALAN


Beberapa jenis ideal jaringan jalan (Morlok, 1978 : 682) adalah jaringan jalan grid
(kisi-kisi), radial, cincin-radial, spiral (tulang belakang), heksagonal, dan delta.
Jaringan jalan grid merupakan bentuk jalan pada sebagian besar kota yang
mempunyai jaringan jalan yang telah direncanakan. Jaringan jalan ini terutama
cocok untuk situasi dimana pola perjalanan sangat terpencar dan untuk layanan
transportasi yang sama pada semua area.

Jenis jaringan radial difokuskan pad daerah inti tertentu seperti CBD. Pola jalan
seperti ini menunjukkan pentingnya CBD dibandingkan dengan berbagai pusat
kegiatan lainnya di wilayah perkotaan. Jenis lainnya adalah dari jaringan jalan
terutama untuk jalan-jalan arteri utama adalah kombinasi bentuk radial dan cincin.
Jaringan jalan ini tidak saja memberikan akses yang baik menuju pusat kota, tetapi
juga cocok untuk lalu lintas dari dan ke pusat-pusat kota lainnya.

Bentuk lain adalah jaringan jalan spinal yang biasa terdapat pada jaringan
transportasi antar kota pada banyak koridor perkotaan yang telah berkembang

Hal -41
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

pesat, seperti pada bagian timur laut Amerika Serikat. Ada bentuk lainnya bersifat
abstrak yang memang mungkin untuk diterapkan tetapi tampaknya tidak pernah
dipakai, yaitu jaringan jalan heksagonal. Keuntungan jaringan jalan ini adalah
adanya persimpangan-persimpangan jalan yang berpencar dan mengumpul, tetapi
tanpa melintang satu sama lain secara langsung. Jenis jaringan ini dapat dilihat
pada gambar berikut.

Sumber : Morlok (1978 : 684)


Gambar 3.9 : Jenis Jaringan Jalan

Sedangkan menurut fungsinya (Menurut UU No. 38/2004 Pasal 8), jalan umum
dapat dikelompokkan ke dalam jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan
lingkungan, yaitu :
a) Jalan arteri, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama
dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan
masuk dibatasi secara berdaya guna.
b) Jalan kolektor, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-
rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.

Hal -42
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

c) Jalan lokal, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan


setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan
jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
d) Jalan Lingkungan, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata
rendah.

3.2.2.4 Konsep Pelayanan Angkutan


A. DEFINISI ANGKUTAN KOTA
Angkutan Kota, menurut Setijowarno dan Frazila (2001:211), adalah angkutan dari
suatu tempat ke tempat lain dalam wilayah suatu kota dengan menggunakan
mobil bus umum dan/atau mobil penumpang umum yang terikat pada trayek
tetap dan teratur. Dapat juga angkutan kota berupa angkutan missal atau mass
rapid transit yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah banyak dalam
satu kali perjalanan.

Mobil Penumpang Umum (MPU) adalah setiap kendaraan umum yang dilengkapi
sebanyak-banyaknya delapan tempat duduk, tidak termasuk tempat duduk
pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi.

Sedangkan Mobil Bus Umum adalah setiap kendaraan umum yang dilengkapi lebih
dari 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik
dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi (Kepmen Perhubungan
No. 68 Tahun 1993).

Mobil Bus Umum dan Mobil Penumpang Umum mempunyai pola pelayanan yang
berbeda dan kedua-duanya dapat berfungsi secara bersama-sama di sebuah kota.
Selain itu juga masing-masing mempunyai karakteristik dalam hal jumlah
penumpang dan barang yang diangkut, kecepatan, ongkos operasi dan
pemeliharaan, harga, tarif, penggunaan ruang jalan, keselamatan, dan pengaruh
terhadap lingkungan (Tjahyati, 1993:83-84).

Hal -43
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

B. TUJUAN DAN PERAN ANGKUTAN KOTA


Menurut Warpani (1990:172) anggota masyarakat pemakai jasa angkutan
dikelompokkan dalam dua golongan besar yaitu paksawan yaitu mereka yang
tidak mampu memiliki kendaraan atau menyewa sendiri, dan pilihwan yaitu
mereka yang mampu.

Tujuan utama keberadaan angkutan kota adalah menyelenggarakan pelayanan


angkutan yang aman, cepat, murah, dan nyaman bagi masyarakat. Karena sifatnya
yang massal, maka diperlukan adanya kesamaan diantara para penumpang
berkenaan dengan asal dan tujuan (Warpani, 1990:170 - 172).

C. KARAKTERISTIK DAN POLA AKTIVITAS ANGKUTAN KOTA


Angkutan umum kota beroperasi menurut trayek kota yang sudah ditentukan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No 68 tahun 1993, trayek kota
seluruhnya berada dalam suatu wilayah Kota. Menurut Setijowarno dan Frazila
(2001:206), trayek pelayanan angkutan kota dipengaruhi oleh data perjalanan,
penduduk dan penyebarannya, serta kondisi fisik daerah yang akan dilayani oleh
angkutan kota.

Sebagai angkutan umum, pelayanan angkutan kota dalam mengangkut


penumpang dibagi dalam 3 (tiga) aktivitas operasional (Wells, 1975:23), yaitu:
a. Kolektor, dari wilayah permukiman yang tersebar luas dan/atau tempat kerja
dan tempat perbelanjaan. Karakteristik operasinya sering berhenti untuk
menaik-turunkan penumpang, berpenetrasi ke kawasan perumahan.
b. Line Haul, antara wilayah permukiman dan tempat kerja dan tempat
perbelanjaan (dari kota ke kota). Karakteristik operasinya bergerak dengan
kecepatan yang tinggi dan jarang berhenti. Karena melakukan perhentian di
tengah-tengah operasi maka daya tarik dan efektifitas operasinya akan
berkurang, meskipun tentu saja beberapa perhentian yang penting tetap
dilakukan.

Hal -44
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

c. Distribusi, ke tempat kerja dan tempat perbelanjaan dan/atau wilayah


permukiman. Karakteristik operasinya melakukan perhentian tetapi tidak
terlalu sering.

Operasi angkutan umum lainnya yang spesifik, dari rute tunggal ke sistem yang
kompleks dapat meliputi satu atau keseluruhan dari tiga aktifitas tersebut. Ketiga
aktivitas operasional tersebut diilustrasikan secara diagramatis pada Gambar 3.10.

Sumber : wells (1975 : 23)

Gambar. 3.10 : Karakteristik dan Pola Aktifitas Angkutan Umum

D. PERMINTAAN ANGKUTAN UMUM DALAM KOTA


Warpani (1990:172) mengatakan bahwa seseorang memerlukan angkutan umum
penumpang untuk mencapai tempat kerja, untuk berbelanja, berwisata, maupun
untuk memenuhi kebutuhan sosial-ekonomi lainnya.

Permintaan angkutan umum penumpang pada umumnya dipengaruhi oleh


karakteristik kependudukan dan tata guna lahan pada wilayah tersebut (Levinson,
1976:138). Permintaan yang tinggi terjadi pada wilayah dengan kepadatan
penduduk yang tinggi dan wilayah dengan pemilikan kendaraan pribadi yang
rendah. Pada daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, besarnya
permintaan angkutan umum penumpang sangat dipengaruhi oleh besarnya

Hal -45
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

pendapatan dan adanya kepemilikan kendaraan pribadi. Kepadatan penduduk di


dalam suatu kota mempengaruhi permintaan angkutan umum penumpang.

Menurut Bruton (dalam Warpani, 90:177), kawasan berkepadatan tinggi secara


ekonomis dapat dilayani oleh angkutan umum penumpang. Terdapat kondisi yang
sulit untuk menyelenggarakan pelayanan angkutan umum penumpang yang cukup
dan ekonomis pada kawasan dengan kepadatan penduduk rendah. Disamping itu
kawasan dengan kepadatan penduduk rendah yang cenderung ditempati oleh
kelompok masyarakat berpenghasilan menengah dan tinggi, pada umumnya
tingkat kepemilikan kendaraan pribadi dari kelompok tersebut relatif tinggi.

E. TINJAUAN TRANSPORTASI DALAM PENENTUAN RUTE

SISTEM RUTE
Jika ditinjau dari aspek spesial geografis maupun jika ditinjau dari waktu
pelayanan, maka penumpang dengan berbagai kepentingan dapat menggunakan
rute angkutan umum secara bersama-sama. Dalam hal ini tentu saja, suatu rute
angkutan umum akan melayani calon penumpang yang mempunyai asal dan
tujuan yang berbeda-beda atau penumpang yang memiliki jarak perjalanan
berbeda-beda.

Selain karakteristik perjalanan yang berbeda-beda, suatu rute angkutan umum


juga harus melayani penumpang yang mempunyai karakteristik sosial ekonomi
yang berbeda dan karakteristik aktivitas yang berbeda-beda pula. Dilain pihak, jika
ditinjau dari karakteristik aktivitasnya, maka sistem rute angkutan umum harus
melayani kebutuhan mobilitas penumpang yang bervariasi dari waktu ke waktu.
Ada saat kebutuhan pergerakan penumpang sangat tinggi (jam puncak), dan di lain
waktu harus melayani kebutuhan pergerakan penumpang yang relatif rendah.
Dalam hal ini suatu rute angkutan umum tidak mungkin melayaninya dengan cara
pengaturan lokasi rute yang berbeda dari waktu ke waktu, karena hanya akan
membuat bingung penumpang. Hal yang mungkin adalah dengan tetap

Hal -46
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

menggunakan lokasi rute yang sama, tetapi dengan melakukan frekuwensi yang
berbeda dari waktu ke waktu.

KLASIFIKASI RUTE
Ditinjau dari peranannya dalam struktur jaringan jalan rute dapat diklasifikasikan
berdasarkan tipe pelayanan, tipe jaringan dan rute berdasarkan beban pelayanan
yang diberikan. Berdasarkan tipe perjalanan, rute dikelompokkan menjadi 4 jenis,
yaitu :
1) Rute Tetap.
Pengemudi angkutan umum diwajibkan mengendarai kendaraannya hanya
pada jalur rute yang telah ditentukan dan sesuai dengan jadwal waktu yang
telah direncanakan sebelumnya.
2) Rute Tetap Dengan Deviasi Khusus.
Pengemudi diberi kebebasan melakukan deviasi untuk alasan-alasan khusus,
misalnya menaikkan dan menurunkan calon penumpang yang lanjut usia atau
alasan fisik lainnya. Deviasi khusus ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu
saja, misal pada jam sibuk.
3) Rute Dengan Batasan Koridor.
Pengemudi diizinkan melakukan deviasi dari rute yang telah ditentukan
dengan batasan-batasan tertentu, yaitu :
a) Pengemudi wajib menghampiri (untuk menaikkan dan menurunkan
penumpang) beberapa lokasi perhentian tertentu, yang jumlahnya
terbatas, misalnya 3 (tiga) atau 4 (empat) perhentian.
b) Diluar perhentian yang diwajibkan tersebut, pengemudi diizinkan
melakukan deviasi sepanjang tidak melewati daerah atau koridor yang
telah ditentukan sebelumnya.
4) Rute Dengan Deviasi Penuh.
Pengemudi bebas mengemudikan kendaraannya kemanapun dia suka,
sepanjang dia mempunyai rute awal dan akhir yang sama. Berdasarkan tipe
jaringan jalan, rute angkutan umum dapat dibedakan menjadi 5 kelompok

Hal -47
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

yaitu bentuk grid, linear, radial, teritorial, dan bentuk modifikasi radial (LPKM-
ITB, 1997:V6 - V11).
a. Pola Jaringan Grid (Orthogonal)
Jaringan berbentuk grid atau orthogonal ini hanya mungkin terbentuk jika
struktur jaringan prasarana jalannya adalah grid. Karakteristik dasar
daristruktur grid ini adalah adanya lintasan rute yang secara pararel
mengikuti ruas-ruas jalan yang ada dari pinggir kota yang satu ke pinggir
kota lainnya dengan melewati daerah CBD. Maksudnya adalah agar
jaringan yang terbentuk secara merata melayani semua daerah
perkotaan.

Gambar 3.11 : Pola Jaringan Rute Berbentuk Grid

b. Pola Jaringan Linier


Jaringgan rute berbentuk linier biasanya terjadi karena bentuk kotanya
adalah linier. Seperti diketahui bentuk kota linier adalah kota yang
bentuknya CBD memanjang mengikuti suatu jalan arteri utama. Kota ini
biasanya terbentuk sebagai kelanjutan dari ribbon development pada
jalan-jalan arteri antar kota.Pada dasarnya bentuk jaringan linier hampir
sama dengan bentuk jaringan grid. Hanya saja grid yang dimaksud adalah
suatu daerah yang memanjang di kiri kanan jalan arteri utama.

c. Pola Jaringan Rute Radial


Struktur jaringan berbentuk radial merupakan bentuk yang paling sering
ditemui di kota-kota seluruh dunia. Struktur jaringan seperti ini biasanya
didukung oleh struktur jaringan jalannya yang cenderung secara radial

Hal -48
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

berorientasi ke daerah CBD yang terletak di tengah kota. Semua rute yang
ada dalam sistem jaringan radial ini menghubungkan daerah pinggiran
kota dan daerah pusat kota. Ada juga lintasan-lintasan rute yang
melingkar tidak melewati daerah pusat kota.

Gambar 3.12 : Pola Jaringan Rute Berbentuk Radial

d. Pola Jaringan Teritorial


Konfigurasi jaringan rute teritorial membagi-bagi daerah pelayanan
menjadi beberapa teritorial atau daerah. Masing-masing daerah yang
bersangkutan dilayani oleh satu lintasan rute. Selanjutnya semua lintasan
rute bertemu atau CBD bersinggungan di suatu titik yang dapat digunakan
sebagai titik transfer. Titik transfer yang dimaksud biasanya daerah
dengan kegiatan yang cukup tinggi, seperti pertokoan ataupun pusat
kegiatan sosial budaya.

Gambar 3.13 : Pola Jaringan Rute Berbentuk Teritorial

Hal -49
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

e. Pola Jaringan Rute Modifikasi Radial


Pola jaringan Modifikasi radial merupakan antisipasi dari kelemahan
jaringan berbentuk radial dengan menambah lintasan rute yang
menghubungkan antar sub pusat kegiatan dan antar antara sub pusat
kegiatan dengan CBD. Dengan demikian orientasi lintasan rute tidak lagi
terpusat ke CBD, tetapi juga adadalam jumlah yang cukup banyak yang
mempunyai orientasi spasial melingkar ataupun yang langsung
menghubungkan antara sub pusat kegiatan.

Sumber : LPKM – ITB, 1997


Gambar 3.14 : Pola Jaringan Rute Berbentuk Modifikasi Radial

Berdasarkan beban pelayanan yang diberikan, rute dikelompokkan


menjadi 7 (tujuh) jenis, yaitu :
1. Trunk Routes.
Rute-rute yang merupakan rute yang paling tinggi beban
pelayanannya karena demand nya yang tinggi, baik pada jam sibuk
maupun jam tidak sibuk, pada rute ini beban yang dilayani sepanjang
hari. Karakteristiknya ialah rute yang melayani kegiatan utama,
melayani koridor dengan pusat kota frekuwensi tinggi dan jenis
kendaraan yang besar.
2. Principal Routes.
Rute yang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Trunk
Routes, namun ada batasan terhadap kendaraan, besarnya

Hal -50
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

pembebanan lebih rendah dibanding sebelumnya, kawasan


pelayanan sama dengan trunk routes.
3. Secondary Routes.
Rute ini ialah rute yang dilewati angkutan umum kurang dari 15 jam
perharinya, ditinjau dari tingkat demandnya rute ini memiliki lebih
rendah dibanding kelompok sebelumnya. Rute ini melayani wilayah
permukiman menuju sub pusat kota, karena demandnya rendah
maka jenis moda untuk melayaninya tidak terlalu besar.
4. Branch Routes.
Merupakan rute yang menghubungkan antara Trunk Routes dengan
Principal Routes ataupun daerah-daerah pusat aktivitas lainnya,
seperti sub kota atau pusat kegiatan lainnya. Karakteristik moda
standar karena demand tidak terlalu besar.
5. Lokal Routes.
Merupakan rute yang melayani suatu daerah tertentu yang luasnya
relatif kecil yang untuk selanjutnya dihubungkan dengan rute lain
dengan klasifikasi yang lebih tinggi, jadi rute ini ialah rute yang
menghubungkan antara permukiman dengan aktivitas lainnya yang
lebih besar. Karakteristik demand nya kecil sehingga frekuwensi dan
moda yang dioperasikan relatif kecil.
6. Feeder Routes.
Merupakan lokal routes angkutan khusus melayani daerah tertentu
dengan trunk routes, principal routes dan secondary routes, dengan
demikian biasanya titik pertemuan antaranya cukup besar, karena
untuk kenyamanan pengguna melakukan pertukaran moda.
Karakteristik frekuwensi dan jenis moda sama seperti lokal routes.
7. Double Feeder Routes.
Rute yang hampir sama dengan feeder routes tetapi dia dapat
melayani 2 (dua) trunk routes sekaligus, yaitu dengan
menghubungkan kedua trunk routes pada kedua ujungnya, sehingga

Hal -51
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

dia melayani dua trunk routes sekaligus dan juga melayani daerah-
daerah permukiman diantara kedua ujung trunk routes tersebut.
Secara umum karakteristik kelompok ini sama seperti kelompok
sebelumnya. Jaringan rute angkutan umum ditentukan oleh pola tata
guna tanah. Adanya perubahan pada perkembangan kota maka
diperlukan penyesuaian terhadap rute untuk menampung demand
(permintaan) agar terjangkau oleh pelayanan umum. Untuk angkutan
umum, rute ditentukan berdasarkan moda transportasi. Seperti
pemilihan moda, pemilihan rute tergantung pada alternative
terpendek, tercepat, dan termurah, dan juga diasumsikan bahwa
pemakai jalan mempunyai informasi yang cukup (misalnya tentang
kemacetan jalan) sehingga mereka dapat menentukan rute yang
terbaik (Tamin, 2000:45).

KRITERIA RUTE ANGKUTAN UMUM


Rute angkutan umum pada dasarnya menganut dua filosofi dasar (LPKM-ITB,
1997), yaitu pendekatan efisiensi dan efektivitas. Ditinjau dari pendekatan
efektivitas, maka filosofi dasar perencanaan rute dapat dinyatakan sebagai
berikut:

Rute yang baik adalah rute yang mampu menyediakan pelayanan semaksimal
mungkin pada daerah pelayanannya kepada penumpang dengan menggunakan
sumber daya yang ada.

Dari kedua pendekatan diatas, terlihat bahwa pendekatan pertama lebih ideal
tetapi tidak realistik, sedangkan pendekatan kedua meskipun tidak ideal tetapi
realistis. Dengan mengacu pada filosofi dasar diatas, maka dalam perencanaan
rute bus, berdasarkan LPKM-ITB (1997:IV-9) mengatakan kriteria utama yang
sering digunakan untuk mengukur apakah suatu rute adalah baik, yaitu :
kemampuan melayani daerah pelayanan, yaitu dengan ukuran-ukuran sebagai
berikut:

Hal -52
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

a) Daerah pelayanan dengan lebar 0,8 km dan melayani 100% dari populasinya.
b) Daerah pelayanan selebar 0,5 km dan melayani 80 s/d 100% dari populasinya.
c) Daerah pelayanan selebar 0,4 km dan melayani 60 s/d 80% dari populasinya.

Dari beberapa pengertian dan kriteria dalam penentuan maupun evaluasi rute
angkutan umum, ada beberapa pendapat/sumber tentang pengertian/kriteria rute
angkutan umum yang dapat disimpulkan sebagai berikut :

Tabel 3.15. Pengertian Kriteria Rute Angkutan Umum


Menurut Beberapa Sumber Ahli
Sumber Pengertian Kriteria Rute Angkutan Umum
Tamin, 2000 Prinsip dasar rute angkutan umum adalah untuk saling menghubungkan
antara wilayah kota, permukiman, daerah komersial dan rekreasi.
Menurutnya kriteria suatu rute berdasarkan pengguna angkutan umum
terdiri dari waktu tempuh, biaya perjalanan dan biaya operasional kendaraan.
Santoso, 1996 Suatu rute angkutan umum harus melayani karakteristik perjalanan,
karakteristik ekonomi dan karakteristik yang berbeda-beda. Dan yang harus
dipertimbangkan dalam perencanaan rute adalah :
a. Lokasi geografis dimana rute ditempatkan
b. Luasan daerah pelayanan atau koridor daerah pelayanan yang
direncanakan
c. Karakteristik daerah atau koridor pelayanan ditinjau dari kondisi tata guna
lahan
d. Keterkaitan dengan rute lain
e. Konfigurasi rute

Sedangkan yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lintasan rute adalah:


a. Struktur dan konfigurasi jaringan jalan yang ada.
b. Hierarki dan kelas masing-masing jalan yang ada.
c. Kondisi lalu lintas masing-masing jalan yang ada.
d. Panjang lintasan.
e. Route Directness.
f. Aksesibilitas.

Rute Angkutan umum hendaknya :


a. Mampu membangkitkan kebutuhan pergerakan penumpang dengan
jumlah minimal tertentu.
b. Mempunyai Route Directness rendah.
c. Tidak overlay dengan rute lain.
d. Menghindari jalan dengan kondisi jelek.
e. Memungkinkan untuk dapat dicapai waktu tempuh yang memadai.
f. Sedemikian sehingga biaya operasi yang dikeluarkan operator masih pada
batas-batas yang wajar

Hal -53
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

DAERAH PELAYANAN RUTE (COVERAGE AREA)


Daerah pelayanan rute angkutan umum adalah daerah dimana seluruh warga
dapat menggunakan atau memanfaatkan rute tersebut untuk kebutuhan
perjalanannya. Daerah tersebut dapat dikatakan sebagai daerah dimana orang
masih cukup nyaman untuk berjalan ke rute angkutan umum untuk selanjutnya
menggunakan jasa pelayanan angkutan tersebut untuk maksud perjalanannya.

Besarnya daerah pelayanan suatu rute sangat tergantung pada seberapa jauh
berjalan kaki itu masih nyaman. Jika batasan jarak berjalan kaki yang masih
nyaman untuk penumpang adalah sekitar 400 meter, maka daerah pelayanan
adalah koridor kiri kanan rute dengan lebar sekitar 800 meter.

Gambar 3.15. Daerah Pelayanan Rute (Coverage Area)

3.3 METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN


Dalam proses Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal Kabupaten Rokan Hulu Tahun
2018 ini, metode pelaksanaan pekerjaan meliputi :

3.3.1 Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam Penyusunan Tatanan Transportasi
Lokal Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018 ini adalah :
a) Metode Literatur yaitu mengumpulkan, mengidentifikasi dan mengolah data
tertulis dan metode kerja yang dilakukan.
b) Metode ovservasi yaitu dilakukan dengan survey langsung ke lapangan agar dapat
diketahui kondisi real di lapangan sehingga dapat diperoleh gambaran sebagai
pertimbangan dalam perencanaan.

Hal -54
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

c) Metode wawancara yaitu dengan mewawancarai nara sumber yang dapat


dipercaya untuk memperolah data yang diperlukan.

3.3.1.1 Survei Sekunder


Dalam tahap pengumpulan data survei lapangan, akan dikumpulkan data-data sebagai
berikut:
a. Karakteristik pembangunan pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten (RTRWN,
RTRW Propinsi Riau, Tatanan Transportasi Wilayah Propinsi Riau, Rencana Induk
Jaringan Kereta Api Provinsi Riau, RTRWK / Draft RTRW Kabupaten Rokan Hulu dan
Masterplan Perhubungan Kabupaten Rokan Hulu;
b. Karakteristik fisik dasar Kabupaten Rokan Hulu.
c. Karaktersitik penggunaan lahan Kabupaten Rokan Hulu yang menggambarkan
karakteristik penyebaran bentuk-bentuk fisik buatan manusia yang meliputi :
1) Uraian penggunaan lahan eksisting.
2) Struktur masing-masing jenis penggunaan lahan.
3) Sebaran perumahan baik perumahan baru dan lama.
a. Data keadaan jaringan jalan Kabupaten Rokan Hulu dan karakteristik pola
pergerakan (lalulintas) angkutan jalan Kabupaten Rokan Hulu.
b. Data mengenai aspek kependudukan sebagai bahan evaluasi kebijaksanaan
kependudukan yang telah ditetapkan dalam rencana induk, data ini meliputi :
1) Data jumlah penduduk Kabupaten Rokan Hulu sekitar 5 tahun terakhir.
2) Dalam distribusi jumlah penduduk Kabupaten Rokan Hulu.

3.3.1.2 Survey Primer/Lapangan


Tujuan utama dari survey yang dilakukan dalam studi ini adalah untuk merekam pola
pergerakan transportasi di Kabupaten Rokan Hulu dan untuk memvalidasi pemodelan
lalu-lintas yang berkaitan dengan volume dan karakteristik lalu lintas pada koridor
utama transportasi di wilayah studi. Dalam konteks tersebut, informasi tentang
kebutuhan dan karakteristik lalu lintas eksisting akan didapat melalui pengumpulan
data di lapangan yang meliputi 3 (tiga) jenis survey, yaitu :

Hal -55
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

a. Survey Perhitungan Volume Lalu Lintas (Traffic Count - TC); Traffic Count atau
survey pencacahan lalu lintas terklasifikasi bertujuan untuk memperoleh data
volume lalu lintas berdasarkan klasifikasi pada setiap ruas jalan di lokasi survey.
b. Survey Wawancara Pinggir Jalan (Road Side Interview – RSI); memperoleh
informasi dasar "pola pergerakan dalam sehari" dari daerah studi yang di survey
dengan zona luar di sekitarnya. Yang akan difokuskan pada survey ini adalah
pergerakan eksternal-eksternal, dengan mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan
utama apakah maksud dan tujuan perjalanan? dari mana dan mau kemana?
c. Survey Wawancara Rumah (Home Interview – HI); memperoleh informasi dasar
"pola pergerakan dalam sehari" dari tempat tinggal di zona yang di survey dengan
zona lain disekitarnya. Yang akan difokuskan pada survey ini adalah pergerakan
internal-internal, dengan mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan utama apakah
maksud dan tujuan perjalan? dari mana dan mau kemana, dengan jenis
transportasi apa dan kapan bergerak?
d. Survey Angkutan Umum (Statis dan Dinamis) ; Survey Statis dan Dinamis Angkutan
Umum adalah kegiatan survey yang bertujuan untuk mendapatkan pergerakan
orang dengan menggunakan angkutan umum, tingkat okupansi angkutan umum
dan tingkat pelayalanan angkutan umum. Untuk Survey Angkutan Umum ini
dilakukan dengan cara survey statis dan Survey Dinamis. Survey Statis Angkutan
Umum dilakukan dengan melakukan pencatatan angkutan umum yang melewati
ruas tertentu dengan target data yang didapatkan berupa Load faktor, Jumlah
Perjalanan, Jumlah Armada yang Beroperasi. Sedangkan Survey Angkutan Umum
Dinamis adalah kegiatan survey yang dilakukan di Atas kendaraan Angkutan
Umum, hal ini bertujuan untuk mendapatkan data mengenai penumpang
angkuntan umum, survey ini bisa dilaksanakan dengan sistem on Bus Survey.
e. Survey Inventarisasi Fasilitas Keselamatan Jalan, Survey ini dilaksanakan dengan
target data fasilitas keselamatan yang telah terpasang di Kabupaten Rokan Hulu,
baik berupa, rambu lalulintas, Apil, Guardril, Marka dan lain-lain.

Hal -56
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

3.3.1.3 Klasifikasi Perjalanan yang Disurvey dan Penzonaan


A. PERJALANAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN SURVEY
1. Perjalanan yang dilakukan oleh pekerja kantor/pegawai, mahasiswa dan
pelajar.
Semua sarana transportasi yang digunakan dalam suatu perjalanan dari asal
hingga tujuan diperhitungkan dengan cara sebagai berikut :
 Apabila berganti sarana transportasi yang sama, seperti dari bus ke bus
dengan rute yang lain, kedua-duanya diperhitungkan/dicatat.
 Apabila hanya berjalan kaki sampai ke tujuan dengan suatu maksud
seperti dari rumah ke tempat kerja, maka sarana transportasinya adalah
"jalan kaki" yang diperhitungkan satu perjalanan.
 Apabila waktu jalan kaki ke halte/terminal/stasiun KA, lebih dari 10 menit,
maka sarana transportasinya adalah “Jalan kaki" dan diperhitungkan
sebagai satu perjalanan. Akan tetapi apabila kurang dari 10 menit,
perjalanan diabaikan atau tidak termasuk dalam satu perjalanan. Batasan
waktu 10 menit dapat diturunkan untuk kota kecil.

2. Perjalanan untuk berbelanja oleh ibu rumah tangga


 Apabila perjalanan dilakukan semata-mata hanya untuk berbelanja, maka
perjalan yang di buat dalam suatu daerah terbatas seperti didalam pasar
tidak dihitung sebagai perjalanan. perjalanan yang dimaksudkan adalah
perjalanan pergi kepasar dn perjalanan pulang dari pasar.
 Daerah dengan radius lebih pendek dari 500 meter dapat dianggap
sebagai daerah terbatas.

3. Perjalanan untuk mengantarkan di dalam daerah terbatas.


Beberapa perjalanan yang dilakukakan pada daerah terbatas untuk satu
tujuan tertentu seperti untuk mengantarkan surat kabar, atau untuk
mengumpulkan tagihan (rekening) termasuk sebagai satu perjalanan pergi ke
atau dari fasilitas umum (atau nama yang dapat mewakili wilayah) dari daerah
tersebut.

Hal -57
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

4. Perjalanan yang berulang-ulang.


Pergerakan yang berulang-ulang mengantarkan barang-barang antara satu
toko dan langganan atau membawa bahan bangunan seperti pasir, semen dan
batu bata yang berulang-ulang antara lokasi pengambilan bahan dan proyek
dihitung setiap kali. Dalam kasus dimana beberapa perjalanan dilakukan pada
suatu daerah terbatas, tempat utama atau nama wilayah dari daerah terbatas
tersebut harus diperhitungkan sebagai salah satu tempat keberangkatan atau
maksud dari perjalanan. Data perjalanan pengemudi dan awak angkutan
barang pada waktu bertugas termasuk perjalanan yang di survey.

5. Perjalanan yang melampui daerah survey


Apabila seseorang yang disurvei perjalanannya melampui daerah survey, yang
dicatat adalah nama keberangkatan atau tujuan diluar daerah survey.
Perjalanan yang dilakukan di luar daerah survey diabaikan. Akan tetapi,
apabila yang bersangkutan kembali kedalam daerah survey, maka perjalanan
kembali dari luar kedalam daerah survey dan perjalanan sesudah itu
diperhitungkan secara lengkap.

6. Perjalanan yang dilakukan pada pukul 03.00 WIB pada salah satu dari hari
survey atau hari berikutnya
Apabila keberangkatan jatuh pada hari survey (dari pukul 03.00 WIB pada hari
survey dan pukul 03.00 pada esok harinya) keberangkatan tersebut dicatat
meskipun perjalanannya berakhir setelah pukul 03.00 pada hari berikutnya.
Akan tetapi suatu perjalanan yang dimulai sebelum pukul 03.00 pada hari
survey tidak dicatat sebagai perjalanan yang berhubungan dengan survai,
meskipun perjalananan berakhir pada hari survey.

7. Perjalanan tanpa maksud khusus


Perjalanan tanpa maksud khusus seperti berjalan jalan atau mengendarai
kendaraan harus dipertimbangkan sebagai 2 perjalanan yang dilakukan antara
tempat berangkat dan mencapai tempat tujuan yang jauh. Perjalanan dengan

Hal -58
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

tujuan tidak jelas seperti yang dilakukan turis, untuk rekreasi atau untuk
maksud bersantai harus diketahui tempat tujuanya dan selanjutnya
diperhitungkan sebagai perjalanan. Perjalanan yang dilakukan di dalam suatu
wilayah fasilitas rekreasi dapat diabaikan didalam survey ini.

B. PERJALANAN YANG TIDAK DISURVEI


1. Perjalanan di dalam gedung yang sama
Perjalananan di dalam gedung yang sama seperti rumah susun atau gedung
kantor tidak diperhitungkan sebagai suatu perjalanan yang sesuai dengati
tujuan survey. Beberapa perjalanan yang dilakukan dalam gedung yang
mempunyai beberapa fungsi seperti perkantoran atau toko-toko pada lantai 1
dan tempat tinggal pada lantai 2 juga tidak termasuk sebagi perjalanan dalam
survey ini.

2. Perjalanan di dalam tempat yang sama


Perjalanan. yang dilakukan di dalam tempat yang sama dari sebuah pabrik
kesebuah gedung atau dari gedung ke kantor misalnya, tidak termasuk
sebagai perjalanan dalam survey ini. Demikian pula dengan perjalanan yang
dilakukan di dalam kampus untuk kuliah tidak termasuk sebagai perjalanan
dalam survey ini.

3. Perjalanan untuk bekerja pada tempat yang berdekatan


Perjalanan yang dilakukan untuk bekerja pada tempat yang berdekatan tidak
termasuk sebagai perjalanan dalam survey ini. Beberapa perjalanan dalam
lingkungan yang sama juga tidak termasuk sebagai perjalanan,tetapi
perjalanan dari satu lingkungan ke lingkungan yang lain yang cukup jauh
termasuk sebagai perjalanan.

Hal -59
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

4. Perjalanan untuk bermain, berjalan jalan atau melihat-lihat saja


Perjalanan di lingkungan jalan untuk anak-anak bermain, berjalan jalan;
memuat/menurunkan barang; belanja dari penjaja keliling seperti (tukang
sayur, minyak) dan melihat-lihat tidak termasuk sebagai perjalanan.

5. Perjalanan pengemudi dan awak angkutan


Perjalanan pengemudi dan awak angkutan umum seperti kereta api, bus,
oplet, taxi dan bajaj pada waktu bertugas tidak termasuk sebagai perjalanan
dalam survey ini. Akan tetapi perjalanan lain dari pengemudi dan awak
angkutan umum tersebut seperti pergi/pulang, ke/dari tempat kerja, dan
belanja termasuk perjalanan yang di survei. Perjalanan pengemudi pribadi,
perusahaan dan angkutan barang pada waktu bertugas termasuk perjalanan
yang di survey.

6. Perjalanan untuk mengambil atau membeli barang seperti koran atau rokok
pada perjalanan menuju tujuan Perjalanan tambahan yang dibuat pada
perjalanan ke tujuan, seperti berhenti pada toko atau pompa bensin untuk
membeli koran, rokok, minuman Ringan, bensin, tidak termasuk sebagai
perjalanan dalam survey ini.

7. Perjalanan untuk mengambil orang atau menjemput orang pada perjalanan


menuju ke tujuan Perjalanan untuk mengambil /menjemput anggota keluarga
ke/atau dari terminal bus atau stasiun kereta api atau taman kanak-kanak
pada perjalanan menuju ke kantor atau rumah tidak termasuk pada
perjalanan dalam survey ini mengingat bahwa perjalanan tersebut tidak
merubah rute ke tujuan. Akan tetapi apabila perjalanan untuk mengantarkan
atau bertemu seseorang adalah sebagai maksud utama, maka perjalanan
tersebut diperhitungkan sebagai perjalanan yang sesuai dengan survey ini.

Hal -60
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

8. Pejalanan hanya di sekitar sungai, danau atau laut


Perjalanan hanya di laut tidak termasuk sebagai perjalanan dalam survey ini,
tetapi bila menjangkau/mencapai sebuah pulau atau pantai yang lain
diperhitungkan sebagai satu perjalanan

3.3.1.4 Penentuan Sampel Survey


Adalah kurang praktis dan tidak perlu untuk melakukan wawancara dengan melibatkan
seluruh penduduk di daerah studi. Hal ini mengingat adanya kecenderungan
keseragaman perjalanan pada zona-zona tertentu. Untuk itu, survey dapat dilakukan
dengan melakukan seleksi terhadap total jumlah penduduk. Responden yang disurvey
harus mewakili seluruh penduduk dan untuk itu ditentukan dengan menggunakan
metode statistik, dimana penduduk dipilih secara random. Dengan sampel, biaya,
waktu dan tenaga untuk survey dapat dikurangi.

Ada 3 metode dasar yang dapat digunakan dalam menentukan sampel.


 Masing-masing penduduk diberi nomor yang selanjutnya dikocok dan diambil
secara acak.
 Sampel dapat ditentukan dari tabel angka random.
 Angka awal dipilih dari daftar dan selanjutnya tiap selang sejumlah n penduduk
diinterview seperti: angka 2, 12, 24 dan seterusnya sesuai dengan daftar nomor
sensus penduduk atau daftar nomor rumah.

Cara tersebut dapat ditingkatkan ketelitiannya dengan pengelompokan sebelum


pemilihan sampel secara random. Rumah-rumah dapat dikelompokkan atas tipe
rumah, jumlah penghuni atau perkiraan nilai rumah untuk meyakinkan bahwa semua
dapat terwakili.

Secara praktis, besarnya sampel dibatasi oleh alasan biaya, waktu dan tenaga. Disini
diperlukan kompromi antara ideal dan praktis, dengan pertimbanganpertimbangan
seperti jumlah penduduk, dimana secara umum makin besar jumlah penduduk makin

Hal -61
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

kecil persentasi jumlah penduduk yang disurvey. Dalam hubungan dengan jumlah
penduduk di daerah studi, jumlah sampel yang diambil apabila biaya memungkinkan.

Di dalam praktek jumlah sampel yang sering diambil diperkirakan sekitar 1% - 3%.
Seluruh kota dibagi atas zona-zona sedemikian rupa, sehingga tiap zona akan diwakili
sebesar sampel yang diambil dengan pemilihan sampel seperti metode yang telah
diberikan.

3.3.1.5 Pembagian Zona


Penentuan zona transportasi Kabupaten Rokan Hulu mengacu pada kondisi perubahan
pola bermukiman serta perkembangan Kabupaten Rokan Hulu saat ini.

3.3.1.6 Dasar Pendekatan Survey


Surveypergerakan transportasi sangat penting untuk memahami karakteristik dan pola
perjalanan di wilayah studi. Oleh karena itu, disadari akan perlunya perencanaan
survey yang cermat, administrasi pengumpulan data, serta pengkajian dan analisis data
yang akurat. Gambar berikut ini menunjukkan alur kerja survey transportasi yang
meliputi empat tugas utama yaitu :

PERSIAPAN SURVEY

Rencana
Pendahuluan

Desain
Desain Sampel
Formulir Survey

Kunjungan Lapangan

PEMROSESAN DATA
ADMINISTRASI SURVEY Coding
Data Input
dan Editing

Analisa

PELAKSANAAN SURVEY

Laporan Hasil

Gambar 3.16 : Alur Kerja Survey Transportasi

Hal -62
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

1. Persiapan survey, yang meliputi persiapan pelaksanaan kegiatan survey.


2. Persiapan administrasi, dimana seluruh surat-surat ijin yang diperlukan disiapkan
serta administrasi dan logistik survey dirancang .
3. Pelaksanaan survey lapangan, dimana dilaksanakan pengumpulan data lapangan
yang sebenarnya.

Pengolahan data, dimana hasil dari data lapangan diproses agar sesuai dengan
kebutuhan data bagi proses pemodelan dan proyeksi kebutuhan (demand) lalu lintas.

PERSIAPAN SURVEY
a) Perencanaan Awal
Pekerjaan yang dilaksanakan selama perencanaan awal survey terdiri dari:
pemahaman mengenai kebutuhan survey, pengkajian (review) informasi eksisting,
dan penentuan sumber daya yang diperlukan. Pemahaman atas persyaratan
perencanaan studi dan prosedur pelaksanaannya merupakan hal penting dalam
persiapan pekerjaan survey transportasi. Sebelum memulai pengumpulan data
lalu lintas, sangat perlu untuk memahami informasi yang berkaitan dengan proyek
tersebut. Hal ini dilakukan dengan mengkaji berbagai laporan studi terkait dan
data lain yang relevan, untuk mengoptimalkan dan mengefisienkan cara kerja
sehingga dapat dihindari hal-hal yang tidak diperlukan.

b) Isi dan Metode Survey


Hasil pengkajian laporan studi sebelumnya dan ketersediaan data-data terdahulu
sedikit banyak mempengaruhi perencanaan survey transport dalam hal :
 Lokasi survey utama ditempatkan pada area yang bersesuaian dan melengkapi
(komplementer) dengan lokasi survey studi-studi sebelumnya untuk
kepentingan pengecekan data dan perbandingan data historis. Penentuan
lokasi dilakukan sejalan dengan persyaratan yang digariskan pada Kerangka
Acuan Kerja guna memperkaya informasi yang didapat.
 Tipe-tipe survey dirancang agar memungkinkan analisis komprehensif tentang
karakteristik perjalanan dari berbagai jenis kendaraan .

Hal -63
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

 Hasil-hasil dari survey lalu lintas akan digunakan untuk mengembangkan,


memperbarui dan mengkalibrasi model transportasi.

Pemilihan metode survey sangat penting dalam usaha mencapai efisiensi dari
keseluruhan survey. Metode yang dipilih (seperti yang akan diterangkan di bawah
ini) merupakan hasil dari kompromi antara tujuan survey dan ketersediaan
sumber-sumber daya. Isi dan metode survey dirancang sejalan dengan panduan
yang digariskan dalam lingkup tugas dan disesuaikan dengan keperluan studi dan
kondisi lapangan.

c) Desain Form Survey


Desain form survey disusun berdasarkan metodologi survey serta cara kodifikasi
dan pemrosesan data.

d) Kunjungan Lapangan
Kunjungan lapangan dilakukan tidak hanya untuk mengenalkan tim survey dengan
kondisi lapangan, tetapi juga untuk :
 Mengecek kelayakan metode survey.
 Mengecek besaran lalu lintas untuk persiapan pengerahan sumber daya.
 Memilih lokasi survey yang tepat.
 Mengecek ketersediaan sumber-sumber daya (tenaga kerja, peralatan dan
lain-lain).
 Menghubungi instansi setempat untuk administrasi dan perijinan.
 Menetapkan organisasi survey yang efisien.

PELAKSANAAN SURVEY
a. Survey Volume LaluLintas Ruas (TC) dan Volume Lalulintas di Persimpangan
a) Tujuan Survey
Tujuan dari Survey Perhitungan Lalu Lintas adalah untuk mengetahui
besaran dan arus lalu lintas saat ini di wilayah studi dengan cara menghitung

Hal -64
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

jumlah kendaraan berbagai jenis yang melewati suatu ruas jalan dan
persimpangan tertentu

b) Metode Survey
Survey penghitungan lalu lintas dilaksanakan pada setiap pos survey yang
telah ditentukan. Setiap kendaraan yang melintasi pos survey dicatat sesuai
dengan jenis kendaraannya dan volume lalu lintas setiap jam dari masing-
masing-masing jenis kendaraan tersebut dihitung. Metode survey adalah
dengan melakukan penghitungan volume lalu lintas kendaraan (cross-
sectional vehicle traffic count) menurut jenis kendaraan yang dilaksanakan
dengan menggunakan alat hitung manual terhadap kendaraan yang
melewati titik observasi. Survey dilaksanakan selama 6 (enam) hari untuk
kedua jurusan; masing-masing selama 14 jam.

c) Peralatan Survey
 Form survey
 Alat-alat tulis
 Clipboard
 Lampu
 Counter
 Arloji
 Payung/Topi dan rompi

 Rambu dan pengaman survey


 Kamera

d) Hari dan Durasi Survey


Untuk masing-masing lokasi, survey dilakukan selama 6 (enam) hari selama
14 jam yang dibagi dalam 2 shift survey, masing-masing 7 jam.
Pembagiannya diatur sebagai berikut:
 Shift ke 1 : Jam 06.00 sd 13.00
 Shift ke 2 : Jam 13.00 sd 20.00

Hal -65
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

e) Jenis Kendaraan
Jenis kendaraan yang di survey terbagi dalam 10 (sepuluh) jenis kendaraan
yang harus dihitung yaitu :
 Mobil Pribadi (sedan, van, jeep)
 Sepeda Motor
 MPU (angkot, angkutan perdesaan)
 Bis Kecil (metro mini, kopaja)
 Bis Sedang
 Bis Besar
 Pick-Up
 Truk Sedang 2 as
 Truk Besar 3 as

 Truk Gandengan, Kontainer, Trailer


 Kendaraan Tak Bermotor
f) Formulir Survey
Contoh rancangan formulir penghitungan lalu lintas dapat dilihat pada
Lampiran.

g) Organisasi Tim Survey


Tim survey traffic counting untuk setiap shift akan terdiri atas 1 (satu) orang
supervisor dan 4-6 orang surveyor tergantung besaran lalu lintas yang
diamati. Tugas masing-masing personil adalah sebagai berikut :
 Supervisor, merupakan koordinator lapangan di setiap lokasi pos survey,
membawahi semua surveyor pada posnya, diharapkan dapat
mempersiapkan keperluan kelangsungan survey di lokasi, mengumpulkan
dan merekapitulasi data hasil survey, mengatur kelancaran dan kesiapan
pelaksanaan survey.

Hal -66
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

 Surveyor, merupakan pelaksana kegiatan di setiap lokasi pos survey,


umumnya direkrut di lokasi pos survey setempat, bertugas
mengumpulkan data/melaksanakan perhitungan lalu lintas sesuai dengan
ketentuan yang telah diberikan dan memberikan data hasil survey kepada
supervisor.

Organisasi pekerjaan survey penghitungan Lalu lintas dapat dilihat pada


Gambar berikut.

Supervisor

Surveyor 5 Surveyor 1 Surveyor 2 Surveyor 3 Surveyor 4 Surveyor 6

Arah A Arah B

Gambar 3.17 : Organisasi Tim Survey Volume Lalu-lintas

b. Survey Wawancara Pinggir Jalan (RSI)


a) Tujuan Survey
Tujuan survey wawancara pinggir jalan adalah untuk memperoleh
informasi dasar dalam rangka untuk mempersiapkan sistem transportasi
kota dimasa depan dengan mensurvey "pola pergerakan dalam sehari"
dari daerah studi yang di survey dengan zona luar disekitarnya dengan
menggunakan sarana angkutan yang ada seperti motor, angkutan umum,
bus, truk dan mobil pribadi. Yang akan difokuskan pada survey ini adalah
pergerakan eksternal-eksternal, eksternal-internal dan internal-eksternal

Hal -67
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

dengan mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan utama apakah maksud


dan tujuan perjalanan? dari mana dan mau kemana?

b) Metode Survey
Disebut juga road side interview merupakan survey untuk mengumpulkan
informasiperjalanan yang dilakukan masyarakat yang melakukan
perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan
umum. Seperti halnya survey wawancara rumah tangga dilakukan pada
hari normal.
Informasi yang dikumpulkan :
 Jumlah penumpang.
 Asal tujuan.
 Maksud perjalanan.
 Waktu perjalanan.

c) Hari dan Waktu Survey


Untuk masing-masing lokasi, survey dilakukan 3 (tiga) hari, dilakukan
dalam 3 (tiga) rit, pada jam puncak pagi, jam puncak sore dan masa off
peak. Pembagiannya diatur sebagai berikut :
 Rit ke 1 : antara jam 08.00 sd 11.00
 Rit ke 2 : antara jam 15.00 sd 18.00
 Rit ke 3 : antara jam 19.00 sd 22.00

d) Peralatan Survey
 Form survey
 Alat-alat tulis
 Clipboard
 Lampu
 Counter
 Arloji
 Payung/Topi dan rompi

Hal -68
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

 Rambu dan pengaman survey


 Kamera

e) Formulir Survey
Contoh formulir survey Wawancara Pinggir Jalan dapat dilihat pada
Lampiran

f) Organisasi Tim Survey


Tim Survey terdiri dari :
 Polisi Lalu-lintas : 1 orang untuk tiap lokasi (2 arah)
 Supervisor : 1 orang (untuk 2 arah perjalanan)
 Surveyor : 4 orang untuk tiap lokasi (2 arah)

Organisasi Tim Survey Wawancara Pinggir Jalan dapat dilihat pada


gambar berikut:

Polisi Lalu-lintas

Supervisor

Surveyor 1 Surveyor Surveyor 3 Surveyor 4

Arah A Arah B

Gambar 3.18 : Organisasi Tim Survey Wawancara Pinggir Jalan

c. Survey Wawancara Rumah (HI)


a) Tujuan Survey
Tujuan survey wawancara rumah adalah untuk memperoleh informasi
dasar dalam rangka untuk mempersiapkan sistem transportasi kota

Hal -69
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

dimasa depan dengan mensurvey "pola pergerakan dalam sehari" dari


tempat tinggal di zona yang di survey dengan zona lain di sekitarnya
dengan menggunakan sarana angkutan yang ada seperti motor, angkutan
umum, bus dan mobil pribadi. Yang akan difokuskan pada survey ini
adalah pergerakan internal-internal, internal-eksternal dan eksternal-
internal dengan mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan utama apakah
maksud dan tujuan perjalanan? dari mana dan mau kemana, dengan jenis
transportasi apa dan kapan bergerak?

b) Metode Survey
Perjalanan dalam survey ini diartikan sebagai pergerakan orang dari satu
tempat (asal) ke tempat lain (tujuan) untuk maksud tertentu oleh
seseorang. Perjalanan tetap berlaku (berkelanjutan) sampai tujuan
perjalanan tercapai, bagaimanapun) juga caranya, apapun alat
angkutannya dan berapa lama waktu yang diperlukan selama perjalanan.
Seseorang (responden) dikatakan melakukan 1 (satu) perjalanan apabila
tujuan pergerakan telah dicapai, berapapun lamanya waktu yang
diperlukan dan jarak yang ditempuh. Bila responden mulai melakukan
pergerakan dengan tujuan yang lain, berarti ia telah melakukan
perjalanan selanjutnya. Sebagai contoh adalah diagram pada gambar 1
yang memberikan 5 perjalanan. Perjalanan pertama adalah dari tempat
kerja. Perjalanan kedua adalah untuk tujuan bisnis/dinas ke suatu
pertemuan. Perjalanan ketiga adalah perjalanan ketempat kerja.
Selanjutnya perjalanan keempat adalah untuk urusan pribadi dan
perjalanan kelima adalah untuk pulang kerumah, sebagaimana tersaji
dalam gambar berikut:

Hal -70
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Gambar 3.19 : Diagram Contoh Perjalanan Pegawai Kantor

c) Peralatan Survey
 Form survey
 Alat-alat tulis
 Clipboard

d) Formulir Survey
Contoh formulir survey Wawancara Rumah dapat dilihat pada Lampiran

e) Organisasi Tim Survey


Tim Survey terdiri dari :
 Supervisor : 1 orang (untuk semua zona)
 Surveyor : 2 orang untuk tiap zona

Organisasi Tim Survey Wawancara Rumah dapat dilihat pada gambar


berikut:

Supervisor

Surveyor Surveyor Surveyor Surveyor Surveyor Surveyor


1 3 4 3 4

Zona 1 Zona 2 Zona n

Gambar 3.20 : Organisasi Tim Survey Wawancara Rumah

Hal -71
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

d. Survey Angkutan Umum


a) Tujuan Survey
Untuk memperoleh data asal dan tujuan Penumpang Angkutan Umum di
Kabupaten Rokan Hulu.
b) Metode Survey
Survey Angkutan Umum di bedakan atas survey statis dan survey
dinamis.Survey Statis merupakan survey yang dilakukan dengan melakukan
pencatatan terhadap angkutan umum pada ruas yang dilewati pada
masing-masing trayek yang ada di Kabupaten Rokan Hulu. Informasi yang
dikumpulkan :
 Nomor Polisi Angkutan Umum
 Load Faktor
 Waktu/Jam Melintasi Ruas
c) Hari dan Waktu Survey
Untuk masing-masing lokasi, survey dilakukan 3 (tiga) hari, yang dimulai
dari jam 06.00 wib - 18.00 wib.
d) Peralatan Survey
 Form survey
 Alat-alat tulis
 Clipboard
 Lampu
 Counter
 Arloji
 Payung/Topi dan rompi
 Rambu dan pengaman survey
 Kamera
e) Formulir Survey
Contoh rancangan formulir penghitungan lalu lintas dapat dilihat pada
Lampiran

Hal -72
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

f) Organisasi Tim Survey


Tim Survey terdiri dari :
 Polisi Lalu-lintas : 1 orang untuk tiap lokasi (2 arah)
 Supervisor : 1 orang (untuk 2 arah perjalanan)
 Surveyor : 4 orang untuk tiap lokasi (2 arah)

e. Survey Inventarisasi Fasilitas Keselamatan Lalulintas


a) Tujuan Survey
Untuk memperoleh data fasiltas keselamatan lalulintas di Kabupaten Rokan
Hulu.
b) Metode Survey
Survey inventarisasi fasilitas Keselamatan Lalulintas dilakukan dengan
caramengaudit fasilitas keselamatan yang telah ada di Kabupaten Rokan
Hulu.
c) Hari dan Waktu Survey
Untuk masing-masing lokasi, survey dilakukan 6 (hari) hari, yang dimulai
dari jam 06.00 wib - 18.00 wib.
d) Peralatan Survey
 Form survey
 Alat-alat tulis
 Clipboard
 Kamera
 GPS
e) Formulir Survey
Contoh rancangan formulir penghitungan lalu lintas dapat dilihat pada
Lampiran.
f) Organisasi Tim Survey
Tim Survey terdiri dari :
 Supervisor : 1 orang
 Surveyor : 32 Orang Untuk Seluruh Ruas Di Kabupaten Rokan Hulu

Hal -73
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

3.3.2 Metode Analisa Data


3.3.2.1 Pengenalan Permasalahan / Issue Wilayah
Dalam tahap pengenalan permasalahan di Kabupaten Rokan Hulu sangat menentukan
hasil Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018.
Tahap pengenalan permasalahan transportasi Kabupaten Rokan Hulu ini dilakukan
secara berkesinambungan, walaupun tim dari konsultan memiliki batas waktu yang
ditentukan.

Beberapa hasil yang diharapkan dalam tahap ini adalah dapat teridentifikasi masalah-
masalah dan penyebabnya, teridentifikasinya struktur masalah lalu lintas perkotaan,
kecenderungan pola pergerakan masyarakat kota dan permasalahannya, sehingga
nantinya dapat diketahui bagaimana semestinya langkah yang harus dilakukan
pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan transportasi Kabupaten Rokan Hulu
dimasa akan datang.

3.3.2.2 ANALISA
Tahapan analisis dilakukan berdasarkan issue atau permasalahan pokok yang terjadi di
Kabupaten Rokan Hulu berkenaan dengan tatanan lalu lintas dan angkutan jalan.
Kegiatan analisis juga ditujukan untuk merumuskan konsep, strategi dan arahan
rencana jaringan lalulintas dan angkutan jalan Kabupaten Rokan Hulu dimasa akan
datang. Kebutuhan analisis bagi Rencana Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018 ini meliputi :
1) Analisis Kebijakan Tata Ruang berkenaan dengan pola penggunaan lahan dan
sistem transportasi Kabupaten Rokan Hulu.
2) Analisis pola tataguna lahan Kabupaten Rokan Hulu dan dampak yang
ditimbulkannya terhadap pola pergerakan dan sistem perhubungan
darat/lalulintas Kabupaten Rokan Hulu.
3) Analisis Sistem Transportasi yang dibagi atas 4 tahapan :
a. Analisis Bangkitan Perjalanan (Trip Generation)
Trip Generation ini merupakan proses penghitungan jumlah bangkitan dan
tarikan untuk masing-masing zona yang telah ditentukan. Dalam proses

Hal -74
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

perencanaan jumlah bangkitan perjalanan yang berasal dari satu zona


tertentu, sedangkan tarikan perjalanan adalah jumlah perjalanan yang ditarik
sebagai tujuan dari suatu zona tertentu. Teknik pemodelan pada tahap
bangkitan perjalanan yang dikenal adalah model regresi, model analisis trip-
rate dan model klassifikasi silang.
1. Model Regresi
Model regresi diklassifikasi sebagai linier atau non linier dan sederhana
atau berganda. Model yang biasa digunakan adalah model regresi linier
berganda dengan bentuk persamaan :

Y = a0 + a1X1 + a2X2+ ……… anXn

Dimana Y adalah variabel tidak bebas dan X adalah variabel bebas


sedangkan a merupakan parameter model yang harus diperkirakan.

2. Model Analisis Trip-Rate


Model Analisis trip-rate merupakan model yang didasarkan pada
penentuan trip produksi rata-rata atau rate dari suatu tarikan yang
berhubungan dengan pembangkit perjalanan dalam suatu wilayah.

3. Model Klasifikasi Silang


Model klassifikasi silang merupakan model yang mengklassifikasikan
bangkitan perjalanan tempat tinggal menurut serangkaian kategori yang
mempunyai korelasi tinggi dengan faktor pembuat perjalanan.

b. Analisis Penyebaran Perjalanan (Trip Distribution)


Distribusi perjalanan merupakan bagian proses perencanaan yang
berhubungan dengan sejumlah asal perjalanan untuk tiap zona dalam wilayah
yang diamati dengan sejumlah tujuan perjalanan yang berlokasi pada zona
lain dalam wilayah tersebut.

Hal -75
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Tahapan distribusi perjalanan merupakan tahapan untuk mengistimasi


volume perjalanan orang antar zona (Tij) berdasarkan produksi perjalanan
dari tiap zona i dan daya tarik dari zona j dengan mempertimbangkan kendala
disepanjang perjalanan antar zona dimaksud (Fij).

Produksi dan tarikan perjalanan diperoleh dari hasil analisis pada tahap
bangkitan perjalanan sedangkan prakiraan kendala antar zona diperoleh dari
spesifikasi transportasi baik jarak, waktu maupun biaya perjalanan.

Metoda yang umum dipergunakan dalam tahap distribusi perjalanan


dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok utama, yaitu :
1. Metoda Faktor Pertumbuhan
Metoda faktor pertumbuhan digunakan dengan asumsi bahwa pola
perjalanan saat ini dapat diproyeksikan pada masa yang akan datang
dengan menggunakan nilai pertumbuhan. Metoda pada group ini dapat
ditunjukkan dalambentuk persamaan :
Tij = tij x G
Dimana :
Tij =Jumlah perjalanan pada masa datang dari zona i ke zona j
tij =Jumlah perjalanan saat ini dari zona i ke zona j
G =Faktor pertumbuhan

Beberapa metoda faktor pertumbuhan dalam urutan kronogis


perkembangannya adalah : Metoda faktor pertumbuhan seragam
(uniform faktor), Metoda faktor pertumbuhan rata-rata (average faktor),
Metoda fratar, Metoda Detroit, dan Metoda Furness.

2. Metoda Synthetic
Untuk mengantisipasi kendala-kendala yang dihadapi dalam penggunaan
metoda faktor pertumbuhan dapat dilakukan dengan menggunakan
Metode Synthetic (Black, J.A, 1981) yaitu dengan mengasumsikan bahwa

Hal -76
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

sebelum pola perjalanan masa yang akan datang dapat diprediksi,


terlebih dahulu harus memahami faktor-faktor penyebab dari pergerakan
tersebut.

Metoda synthetic terdiri dari :


a. Model Gravitasi yang tediri dari The Unconstrained Gravity Model,
The Production Constrained Model, dan The Fully Constrained
Gravity Model;

b. Model Medan Elekrostatistik;


c. Metoda Regresi Berganda;
d. Model Opportunities yang terdiri dari Intervening Opportunities,
Competing Opportunities;

c. Analisis Pemilihan Moda (Modal Split)


Dalam melakukan perjalanan, pelaku perjalanan dapat memilih diantara
beberapa pilihan penggunaan moda transportasi, seperti menggunakan
angkutan umum, kendaraan pribadi, sepeda motor, bus, berjalan kaki, dan
lain sebagainya. Pemilihan moda berkaitan dengan perilaku pembuat
perjalanan sesuai dengan alasan atau maksud dari perjalanan yang akan
dilakukan serta tingkat pelayanan dan biaya yang akan dikeluarkan oleh
pembuat perjalanan dalam melakukan perjalanan dimaksud.

Secara umum tahapan model pemilihan dapat di klassifikasikan ke dalam dua


kategori yaitu Pra Distribusi (Trip End Model) dan pasca Distribusi (Trip
Interchange Model), sedangkan teori yang dapat digunakan dikelompokkan
menjadi dua bagian yaitu :
1. Model Kurva Diversion yaitu model yang menggunakan karakteristik
pelaku perjalanan, karakteristik sistim transportasi dan karakteristik
perjalanan sebagai variabel yang mempengaruhi pemilihan moda.

Hal -77
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

2. Model Probabilistic yaitu model pemilihan yang dikembangkan


berdasarkan teori probabilitas. Model yang telah dikembangkan antara
lain model analisis diskriminan dan model probit serta model analisis
logit.

Dalam analisis modal split digunakan kurva diversi dengan melihat


perbandingan antara kendaraan umum dengan kendaraan pribadi untuk jalan.
Indikator yang dipergunakan untuk memperoleh penggunaan moda antara
lain :
- Status Ekonomi pelaku Perjalanan
- Ratio Waktu Perjalanan
- Ratio Pelayanan Perjalanan
- Ratio Biaya Perjalanan

Pendekatan model pemilihan moda sangat bervariasi tergantung dari tujuan


perencanaan transportasi. Salah satu pendekatan mengatakan bahwa proses
pemilihan moda dilakukan pada tahapan menhitung bangkitan pergerakan,
disini pergerakan angkutan umum dipisahkan dengan angkutan pribadi.
Kemudian, setiap moda dianalisis secara terpisah salama tahapan proses
pemodelan. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa peubah sosio-ekonomi
sangat mempengaruhi proses pemilihan moda.

Hal -78
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

G-MS G
G G

MS

D D D-MS D

MS Keterangan :
G = Bangkitan Pergerakan
A = Pemilihan Rute
A A A
A MS = Pemilihan Moda
D = Sebaran pergerakan

Gambar 3.21 : Alternatif dan untuk analisis pemilihan moda

Pendekatan kedua mempertimbangkan proses pemilihan moda yang terjadi


sebelum proses pemilihan rute dilakukan. Dalam hal ini, setiap moda dianggap
bersaing dalam merebut pangsa penumpang sehingga atribut penentu dari
jenis pergerakan menjadi faktor utama yang mempengaruhi pemilihan moda.

Pendekatan ketiga mempertimbangkan bahwa tahapan bangkitan pergerakan


dan pemilihan rute ikut menentukan dalam pemilihan moda. Ini berarti
pemilihan moda dapat diletakan dimana saja antara tahapan bangkitan
pergerakan dan pemilihan rute seperti terlihat pada Gambar diatas.

Disamping pendekatan diatas adapula model jenis IV, model tersebut


menggunakan kurva diversi, persamaan regresi atau variasi model III. Model
ini selalu menggunakan nisbah atau selisih antara hambatan antara dua moda
yang bersaing.

Hal -79
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

Kurva ini berdasarkan nisbah waktu tempuh antara angkutan umum dengan
angkutan pribadi (mobil). Kurva ini berlaku untuk orang dengan ekonomi
menengah kebawah (status ekonomi 3) dengan nisbah antara biaya angkutan
umum dengan biaya angkutan pribadi (bahan bakar, oli, dan parkir) sekitar
0,25.

Nisbah tingkat pelayanan adalah nisbah antara waktu (perjalanan, menunggu,


dan pindah) untuk angkutan umum dibandingkan dengan (berjalan dan parkir)
untuk angkutan pribadi. Pendekatan ini menghilangkan perlunya biaya
perkiraan untuk berjalan, menunggu, dan waktu transfer (waktu akses) karena
dalam model ini faktor tersebut dilakukan secara empiris. Kurva ini
menggunakan 4 peubah : waktu, biaya, pendapatan, dan waktu akses.

d. Analisis Pembebanan Lalu Lintas (Traffic Assignment)


Pembebanan perjalanan (Trip Assignment) merupakan tahap akhir dari proses
analisis permintaan perjalanan. Data masukan yang utama dalam melakukan
analisis pada tahap pembebanan perjalanan adalah berupa matrik asal dan
tujuan perjalanan, kapasitas jalan yang telah diberikan kode dan karakteristik
jaringan jalan seperti jarak dan waktu tempuh (Z Tamin, Ofyar, 2000). Matrik
asal dan tujuan perjalanan yang dibebankan adalah berbentuk matrik
perjalanan dalam satuan trip per jam atau smp per jam sedangkan keluaran
dari proses pembebanan ini adalah berupa arus kendaraan tiap ruas atau
biaya dan waktu tempuh perjalanan.

Secara garis besar metoda pembebanan lalu lintas dapat dikategorikan


sebagai berikut :
1. Free/All Or Nothing Assignment.
2. Stochastic atau Multi Path Assignment.
3. Equilibrium.
4. (User) Equilibrium Assignment.

Hal -80
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

PENGARUH
STOKASTIK
Tidak Ya
ALL OR STOKASTIK

KAPASITAS
NOTHING MURNI

KESEIMBANGAN

Tidak
KESEIMBANGAN PENGGUNA
STOKASTIK
KENDALA

Gambar 3.22 : Metoda Pembebanan Lalu Lintas (Traffic Assignment)


Ya

4) Identifikasi Terhadap Rencana Pengembangan Wilayah Kabupaten Rokan Hulu


Pada tahap identifikasi masalah, salah satu yang dilakukan identifikasi terhadap
kesesuaian peruntukan lahan dengan Rencana Pengembangan Wilayah yang
tertuang dalam RTRW Kabupaten Rokan Hulu. Dalam tahapan ini diperoleh
permasalahan-permasalahan peruntukan lahan yang berimbas pada pola
pergerakan orang dan barang yang selanjutnya akan dijadikan bahan dalam
kebijakan dan strategi pengembangan transportasi dimasa mendatang.

5) Identifikasi Jaringan Sarana Prasarana Transportasi, Jaringan Pelayanan, Moda


Unggulan, Outlet Wilayah
Permasalahan jaringan trayek angkutan umum dan jaringan lintas angkutan
barang yang merupakan jaringan sarana angkutan pada tahapan ini diidentifikasi.
Selain itu juga dilakukan identifikasi prasarana transportasi yang meliputi jaringan
jalan dan simpul transportasi seperti Terminal, Pelabuhan, Bandara dan lain-lain.

6) Identifikasi kinerja transportasi dimasa datang berdasarkan tingkat kinerja


sasaran saat ini
Identifikasi kinerja transportasi di masa mendatang dilakukan dengan menetapkan
target kinerja sasaran yang diharapkan berdasarkan ukuran-ukuran dan standar
pelayanan transportasi. Kinerja sasaran tersebut meliputi kecepatan minimum
berdasarkan hierarki ruas jalan, v/c ratio dan kepadatan lalu lintas.

Hal -81
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

7) Identifikasi pengaruh peningkatan operasional terhadap kebutuhan transportasi


masa datang
Dalam mengidentifikasi pengaruh peningkatan operasional terhadap kebutuhan
transportasi masa datang, terlebih dahulu dilakukan estimasi terhadap besaran
bangkitan dan tarikan masing-masing zona serta distribusi perjalanan antar zona
yang menggambarkan pola pergerakan di masa datang. Berdasarkan hasil estimasi
tersebut dapat diramalkan kinerja operasional kebutuhan transportasi baik yang
menyangkut prasarana maupun sarana transportasi. Dengan demikian dapat
diidentifikasi pengaruh yang terjadi akibat peningkatan kebutuhan sarana dan
prasarana transportasi di Kabupaten Rokan Huluyang meliputi dampak lalu lintas,
dampak sosial dan dampak lingkungan.

8) Pendefinisian dan identifikasi pada koridor kritis


Dalam mendeteksi permasalahan lalu lintas pada koridor jaringan jalan yang akan
ditetapkan sebagai koridor kritis, perlu dianalisis bagaimana kriteria penetapan
koridor kritis tersebut. Berdasarkan kriteria tersebut dapat ditentukan definisi
koridor kritis, sehingga dengan membandingkan antara kriteria yang telah
ditentukan dan hasil pengolahan dan kompilasi data berikut estimasinya di masa
datang dapat diidentifikasi koridor kritis yang membutuhkan penanganan baik
untuk jangka pendek dan jangka panjang.

9) Analisis terhadap perubahan lingkungan strategis, baik internal wilayah maupun


eksternal wilayah
Disamping identifikasi terhadap masalah-masalah baik yang terjadi saat ini
maupun yang diperkirakan akan terjadi di masa mendatang, yang tidak kalah
pentingnya perubahan lingkungan strategis yang terkait dengan perubahan guna
lahan sesuai dengan RTRW serta kebijakan dibidang sistem transportasi (jaringan
jalan dan sistem angkutan umum). Hal ini sangat berpengaruh terhadap pola
pergerakan orang dan barang dalam wilayah study (internal) maupun terhadap
wilayah lainnya yang berhubungan langsung dengan wilayah study (eksternal).
Dengan demikian skenario pengembangan wilayah dan dampak eksternal wilayah

Hal -82
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

yang yang termasuk dalam catchment area wilayah study sangat menentukan
dalam menetapkan kebijakan dan strategi penanganan dan antisipasi terhadap
kebutuhan transportasi Kabupaten Rokan Hulu di masa datang.

10) Analisis terhadap issu-issu strategis


Issu-issu strategis juga sangat penting dianalisis karena menyangkut aspek sosial
ekonomi yang akan mempengaruhi pola dan intensitas pergerakan serta proporsi
penggunaan moda. Untuk itulah issu-issu yang berkembang tersebut dapat
dijadikan sebagai masukan dalam skenario pengembangan sistem dan jaringan
transportasi yang akan menentukan arah dan kebijakan pengembangan
transportasi Kabupaten Rokan Hulu kedepan.

11) Analisis kebutuhan pengembangan jaringan jalan dan angkutan jalan

3.3.3 Penyusunan Konsep dan Rencana


Konsep rencana bagi Rencana Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal Kabupaten
Rokan Hulu Tahun 2018 ini adalah berupa penetapan konsep :
1) Rencana jaringan angkutan umum yang terdiri dari BRT dan angkutan umum
wilayah lainnya.
2) Menyusun rencana jaringan lintas angkutan barang.
3) Indikasi Program pengembangan sistem transportasi jalan jangka pendek,
menengah dan panjang
4) Rencana aksi terdiri dari kegiatan, waktu pelaksanaan dan perkiraan pembiayaan
serta stakeholder yang terkait.

3.3.4 Perumusan Rencana Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal Kabupaten


Rokan Hulu Tahun 2018
Perumusan Rencana Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal Kabupaten Rokan Hulu
Tahun 2018 ini meliputi :
1) Pendahuluan (Latar Belakang, Maksud dan Tujuan, Sasaran, Ruang Lingkup,
Landasan Hukum, Sistematika Penyajian Laporan)

Hal -83
Penyusunan Tatanan Transportasi Lokal
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2018
Usulan Teknis

2) Deskripsi Wilayah Studi (Gambaran Umum dan Kondisi Transportasi Kabupaten


Rokan Hulu)
3) Data-data jaringan jalan, jaringan pelayanan angkutan umum, jaringan lalu lintas
angkutan barang, kinerja jaringan jalan (ruas jalan dan persimpangan) dan tata
guna lahan Kabupaten Rokan Hulu
4) Analisis Bangkitan Lalu Lintas Kabupaten Rokan Hulu
5) Analisis Distribusi Perjalanan Penduduk Kabupaten Rokan Hulu
6) Analisis kebutuhan pengembangan jaringan jalan dan angkutan jalan.
7) Rencana jaringan angkutan umum yang terdiri dari BRT dan angkutan umum
wilayah lainnya.
8) Rencana jaringan /lintas angkutan barang.
9) Indikasi Program pengembangan sistem transportasi jalan jangka pendek,
menengah dan panjang
10) Rencana aksi terdiri dari kegiatan, waktu pelaksanaan dan perkiraan pembiayaan
serta stakeholder yang terkait.

Hal -84