Anda di halaman 1dari 5

KASUS EPILEPSI

Identitas Pasien:
Nama : Ny. H
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 25 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Masuk RS : 19 Mei 2017
Keluhan Utama:
Pasien datang dengan keluhan kejang sebanyak 12 kali dalam 1,5 jam
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien pertama kali kejang 5 tahun SMRS. Pada saat serangan, pasien tampak seperti
melamun dan tidak merespon saat diajak bicara. Serangan terjadi  seminggu sekali dengan
durasi 3-5 menit tiap kejang. Pasien lalu menjalani pengobatan (lupa nama obat) selama 2,5
tahun dan selama itu pasien bebas kejang. Pasien kemudian berhenti minum obat 2,5 tahun
SMRS secara mendadak karena merasa sudah sembuh. Kejang kemudian berulang. Selain
episode kejang yang terlihat seperti orang melamun, pasien juga mengalami kejang dengan ciri
berbeda. Kejang diawali dengan pandangan kosong seperti melamun lalu diikuti kejang
kelojotan seluruh badan dengan mata melotot. Kejang terjadi 1-2 kali seminggu dengan durasi
5-7 menit. Setelah kejang, pasien membutuhkan waktu  15 menit untuk kembali sadar
sepenuhnya.
Sejak 1 bulan SMRS, frekuensi serangan kejang pasien meningkat hingga 3-4 kali setiap
minggu. Di saat yang bersamaan, pasien mulai memperlihatkan disorientasi saat diajak bicara
yang semakin lama semakin bertambah parah.
Selama 3 hari berturut-turut SMRS, pasien mengalami kejang seperti melamun ataupun
yang diikuti dengan kelojotan satu badan, sebanyak  5 kali per hari dengan durasi 5-10 menit.
Pada malam hari ketiga, pasien mengalami kejang sebanyak 12 kali dalam 1,5 jam pada saat
tidur dengan durasi 5-10 menit setiap kejang, tanpa adanya perbaikan kesadaran di antara
kejang. Serangan kejang ini menyebabkan lidah pasien tergigit di bagian pinggir kanan dan kiri.
Setelah kejang, pasien terlihat bingung selama  15 menit. Pasien lalu dibawa ke IGD pada pagi
harinya.
Ayah pasien mengatakan bahwa pasien cenderung kejang jika sedang banyak tekanan.
Sebelum setiap kejang, pasien sering merasa sakit kepala sebelum kemudian tidak sadarkan
diri, tidak ada penglihatan cahaya atau mencium bau aneh. Pada pasien tidak ada demam, mual,
muntah, mengompol atau BAB pada saat kejang.
Riwayat penyakit dahulu:2
- Pasien memiliki riwayat operasi caesar 3 bulan yang lalu (menyusui).
- Pasien tidak memiliki riwayat otitis media, sinusitis, komplikasi perinatal, kejang demam,
ataupun siklus menstruasi yang tidak teratur.
- Pasien tidak memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia,
dan kanker sebelumnya.
Riwayat penyakit keluarga:
- Tidak ada anggota keluarga yang mengalami kejang
Riwayat sosio ekonomi/pola hidup:
- Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok, minum alkohol, dan penyalahgunaan obat
Pemeriksaan fisik:
Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital
Suhu tubuh : 36.4 oC
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Denyut nadi : 90 kali/menit
Laju napas : 20 kali/menit
Bagian tubuh Hasil pemeriksaan
Kepala Normocephali
Mata Visus dalam batas normal
THT Luka pada lidah bagian lateral (+)
Leher Bruit (-)
Thorax Thorax dalam batas normal
Paru Vesikuler seluruh lapang paru, Rhonki -/-
Jantung S1/S2 reguler, Murmur (-), Gallop (-)
Abdomen Bising usus (+), Nyeri tekan (-)
Punggung Dalam batas normal
Ekstremitas Dalam batas normal, CTR < 2 detik

Hasil Electroencephalogram:
Klasifikasi : Abnormal III (Bangun, Tidur)
1. Gelombang tajam, regional bifrontal
2. Perlambatan intermittent, regional bifrontal
3. Perlambatan intermittent, regional fronto-temporal kiri
4. Perlambatan intermittent, regional fronto-sentral kanan
5. Perlambatan intermittent, menyeluruh
Kesan: Gambaran EEG saat ini menunjukkan adanya fokus epileptogenik pada kedua daerah
frontal. Selain itu didapatkan disfungsi kortikal pada daerah temporal kiri, sentral kanan, dan
menyeluruh.
Diagnosa klinis: Status epileptikus, general weakness
Pertanyaan:
1. Lakukan analisis terhadap kasus di atas!
Kasus diatas merupakan kejang umum karena hilangnya kesadaran dan lebih
spesifiknya masuk kedalam status epileptikus karena karena terjadi dua kali atau lebih
kejang berulang tanpa pemulihan kesadaran penuh diantara kejang (Lippincott, 2009).
Status epileptikus harus ditangani secara agresif, pemeliharaan tanda vital termasuk
pernafasan sangat penting, setiap adanya insufiensi pernafasan harus segera ditangani
(Roth, 2016), pernafasan pada pasien masih diambang batas normal, dimana laju
pernafasan untuk orang dewasa yaitu 12-20 kali permenit.
2. Tentukan manajemen terapi yang sesuai untuk pasien berdasarkan guideline!
Terapi pertama yang harus diberikan adalah Lorazepam IV atau Diazepam IV
(Lippincott, 2009)(Roth, 2016), tetapi diazepam lebih diutamakan, dosis diazepam 5-10
mg IV (Medscape). Tetapi dapat kita lihat pada kasus, pasien merupakan ibu menyusui,
karena Lorazepam maupun Diazepam di eksresikan melalui ASI dimana untuk ibu
menyusui tidak dianjurkan penggunaannya (Medscape), jadi sebaiknya bayi tidak
diberikan ASI terlebih dahulu (diganti dengan susu formula) selama melakukan inisial
terapi dengan obat tersebut, karena status epileptikus dapat menyebabkan kematian
dan kerusakan otak (Roth, 2016), jadi keselamatan ibu harus diutamakan.
Kemudian di berikan phenytoin, dosis akan diberikan dokter berdasarkan hasil tes
darah di laboratorium. Untuk dosis awal, phenytoin biasanya diberikan tiap hari sebesar
3 hingga 4 miligram perkilogram berat badan. Sedangkan untuk dosis perawatan, dosis
yang diberikan biasanya 200 hingga 500 mg perhari. Dosis sewaktu-waktu dapat diubah
oleh dokter jika diperlukan. Untuk ibu menyusui tidak dianjurkan menggunakan
phenytoin, tetapi karena manfaat lebih besar dari resiko penggunaan phenytoin,
sehingga obat ini terpaksa harus digunakan.
3. Monitoring apa yang harus dilakukan?
a. Monitoring frekuensi kejang pasien
b. Monitoring efek samping phenytoin, karena obat ini memiliki jendela terapi yang
sempit, sehingga apabila melebihi dosis akan tampak efek samping seperti
kehilangan keseimbangan, dperesi, sakit kepala, pusing, penglihatan ganda,
mengantuk, konstipasi, gemetar, konsentrasi berkurang, kurang nafsu makan, sulit
tidur
c. Bila memungkinkan lakukan monitoring obat phenytoin di dalam darah, therapeutic
range : 10-20 mg/L obat phenytoin didalam darah.
d. Monitoring kepatuhan pasien

Julie L Roth, 2016. Status Epilepticus Treatment & Management


https://emedicine.medscape.com/article/1164462-treatment#d1

Medscape

Lippincot, 2009. Farmakologi Bergambar