Anda di halaman 1dari 110

@"nAHATLMU

Jaringan
Transportasi

t . 9:
li ; -.-aBri-
t:r * tr:"r;.
k4 -
ll
,T-S'IAKAAN
TRSIPAN
\\\}\ TIMUR ;

.068
\K
,4
M"nAHAILMU

Jaringan
Transportasi
Teori dan Analisis

Sakti Adji Adisasmita


I

fARTNCAN TRANSPORTAST
Teori dan Analisis
Oleh : SaktiAdjiAdisasmita

Edisi Pertama
Cetakan Pertama, 2011
IMMPilGI]ITIR
Hak Cipta O 201 1 pada penulis,
Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan
sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, secara elektronis maupun
mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya,
tanpa izin tertulis dari penerbit.

ertama-tama kami mengucapkan puji syukur kepada Tuhan


GRAHA ILMU Yang Maha Kuasa, karena atas berkah dan rahmat-Nya-
Ruko Jambusari No. 7A
Yogyakarta 55283 lah, sehingga buku kami yang berjudul "faringan Transpor'
Tefp. : 0274-889836;O274-889398 tasi: Teori dan Analisis" berhasil diselesaikan dengan baik.
Fax. : 0274-889057
E-mail : info@grahailmu.co.id Selanjutnya, dimaklumi bahwa kegiatan transpoftasi itu mem-
punyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam memenuhi
kebutuhan masyarakat dalam bidang ekonomi, sosial budaya dan poli-
tik, dalam menunjang dan menggerakkan dinamika pembangunan,
1
dalam mendukung mobilitas penduduk, barang dan jasa, serta dalam
Adisasmita, Sakti Adji i

menun.iang pengembangan wilayah. Untuk itu diperlukan tersedianya


I

JARINGAN TRANSPORTASI,. Teori dan Anafisis/Sakti Adj i prasarana transportasi (jalan) dan sarana transportasi (kendaraan). Ber-
Sasmita
-Edj-si Pertama - Yogyakarta; Graha I1mu, 2011 bagai prasarana jalan membentuk suatu jaringan jalan. Tersedianya
xlv + 206 hlm, 1 Ji1. : 23 cm. jaringan jalan harus diarahkan agar mampu melayani mobilitas pen-
duduk, barang dan jasa serta pengembangan wilayah secara efektif
ISBN: 9'lB-919-156-115-O
dan efisien serta merata ke seluruh wilayah di tanah air.

Dalam upaya pencapaian sasaran pembangunan di atas, maka


1. Manalemen 2. Transportasi ,Iuduf perlu dilakukan perencanaan, penataan dan pembangunan jaringan
prasarana transportasi yang memadai dan akomodatif (mampu me-

f"";#;;i*_":Y::
i 1:;" t "'i :- :f
,,1

i. ,.. ' i
i ,.,/.
''| t/ t

h' 'l
Jaringan Transportasi: Teori don Anolisis Kolo Pengonlot

layani kebutuhan/permintaan jasa transportasi ke seluruh wilayah), Akhirnya, kt:patla khalayak pembaca yang tertarik memiliki
yang dinamis dan antisipatif (berorientasi pada pembangunan jangka buku ini, diberikan apresiasi yang tinggi dan diucapkan terima kasih.
panjang secara berkelanjutan), serta secara efektif dan efisien (dalam
bentuk investasi yang cukup berkapasitas, tidak berlebihan dan tidak
men galam i pem borosan/keborosan). Makassar, 10 Mei 20'l 1

Para perencana pembangunan jaringan transportasi yang cerdas Penu lis

harus memiliki wawasan pembangunan yang luas mengenai peranan


dan fungsi transportasi dalam mendukung pembangunan dalam arti
lr. Sakti Adji Adisasmita, M.Si., M.Eng.Sc., Ph.D.
luas, serta memiliki landasan teoretik dan analisis akademik yang ta-
jam dalam pembangunan jaringan transportasi dalam konteks mewu-
judkan sistem transportasi nasional yang berkemampuan menghadapi
berbagai tantangan, peluang dan kendala sehubungan dengan adanya
perubahan lingkungan yang dinamis, seperti otonomi daerah, glo-
balisasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (lptek), dan
kepedulian pada kelestarian lingkungan hidup.

Sebagai seorang dosen yang ditugasi mengasuh mata kuliah


Teori dan Analisis Jaringan Transportasi pada Fakultas Teknik Univer-
sitas Hasanuddin. Kami merasa tertarik dan terpanggil untuk menulis
buku. Buku ini menyajikan berbagai materi bahasan yang terkait erat
dengan perencanaan pembangunan jaringan transportasi untuk me-
menuhi kebutuhan jasa transportasi) yang cenderung memperlihatkan
peningkatan yang semakin luas, meskipun dimaklumi bahwa materi
dalam buku ini tidak lengkap, tetapi dapat dianggap sudah mampu
menampilkan berbagai aspek permasalahan yang dihadapi, untuk
melakukan analisis teoretikal dan perencanaan jaringan transportasi
dalam rangka mendukung perwujudan sistem transportasi nasional
yang komprehensif, terpadu dan terkonsolidasi.

Dalam kesempatan ini tidak lupa kami sampaikan penghargaan


yang tulus kepadaistri tercinta Dra. Pancawati Walinono dan anak-
anak tersyang berturut-turut: Andi Aishanathasa, Andi Ahmadislam,
dan Andi Muhammadramadhan, yang telah memberi semangat dan
menginspirasi kami untuk menulis buku ini.
IIIffARISI

KATA PENCANTAR V

DAFTAR lsl ix
BAB 1 PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Pentingnya Perencanaan Jaringan Transportasi


dalam Mewujudkan Sistem Transportasi Nasional
Efisien
yang Efektif dan 3
1.3 Output yang Diharapkan 4
BAB 2 FUNGSI TRANSPORTASI DALAM PEMBANCUNAN 7
2.1 Transportasi Merupakan Derived Demand dan
Menciptakan Cuna Tempat dan Cuna Waktu 7
2.2 Transportasi Berfungsi Sebagai Penunjang dan
Pendorong 10
BAB 3 SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL (SISTRANAS) 13
3.'l Belakang
Latar 1 3
3.2 Maksud dan Tujuan 14
3.3 Pengertian 14
3.4 Konsepsi 15
Joringan Transportosi: Teori dan Anolisis Doftar lsi xl

3.5 TataranTransportasi 17 8.2 Tata Guna Lahan Menentukan Pergerakan


3.6 Jaringan Transportasi 1B dan Aktivitas 66
BAB 4 KEBUAKAN Dr SEKTOR TRANSPORTAST 31 8.3 Komponen Sistem Wilayah Perkotaan 67
4."1 Tujuan Kebijakan Menurut Unsur-unsur 8.4 Konsep dan Definisi 69
Transportasi 31 BAB 9 PERENCANAAN TRANSPORTASI 71
4.2 Kebijakan Nasional Transportasi 33 9.1 Perencanaan Transpoftasi 71
4.3 Kebijakan dan Kegiatan Operasional Transportasi 34 9.2 Sistem Tata Cuna Lahan dan Transportasi 76
4.4 Pemerintah Sebagai Regulator 37 9.3 Model Perencanaan Transportasi Empat Tahap 7E
BAB 5 PERENCANAAN PEMBANGUNAN 39 9.4 Pemilihan Moda Transportasi dan Rute 81
5.1 PerlunyaPerencanaan Pembangunan 39 9.5 Prasarana Transportasi Merupakan Leading Sector 84
5.2 Pengertian dan Fungsi Perencanaan 41 BAB 1O POLA IARINGAN PELAYANAN ANGKI.,ITAN UMUM
5.3 Tujuan Pembangunan 42 DI PERKOTAAN/METROPOLITAN &7
5.4 Pentingnya Koordinasi 42 10.1 Konsep Struktur Kota 87
5.5 Tahap-tahap Dalam Proses Perencanaan 43 10.2 Teori Wilayah Konsentris B8
5.6 Jangka Waktu Rencana 43 "10.3 Teori
Sektor Radial 89
5.7 Konflik dan Permasalahan dalam perencanaan 10"4 Pendekatan Multiple Nuclea 90
Pembangunan 43 'l
0.5 Permukiman Bintang Sakti
5.8 DimensiTata Ruang Harus Diperhitungkan dalam ffhe Calaxy of Sattlement) 91
Perencanaan Pembangunan 4B 10.6 Fola Bintang Perkotaan (The Urban Star) dan
BAB 6 POLA TRANSPORTASI DATAM PENGEMBANGAN Cincin (Ihe Ring) 92
WITAYAH 51 10.7 Kaitan Bentuk Metropolitan dan Sasaran
6.1 lnterdependensi dan lnteraksi AntarWilayah 51 Pengaturannya 93
6.2 Struktur Hirarki dan Hubungan Fungsional BAB 11 TRANSPORTASI PERKOT'AAN 99
AntarPusat dan Kota 53 11.1 Tata Kota dan Assesibilitas gg
6.3 Jaringan Transportasi dan Pola Transportasi 55 11.2 Beberapa Masalah Lalu l-intas di Daerah Urban 101
BAB 7 KONSOLIDASI I-ALU LINTAS 57 11.3 Manajernen Lalu Lintas 1O2
7.1 Metoda Konsolidasi 57 1 1.4 Pengembangan Poia Trayek 104
7.2 FungsiTerminal 60 BAB 12 KONCESTI LAI-U I-INTAS PERKOTAAN 1O7
BAB B TATA GUNA LAHAN DALAM PERENCANAAN 12.1 Revolusi Transpor dan Kelancaran Laiu Lintas 107
TRANSPORTASI 63 '12.2 Penyediaan Sarana Angkutan dalam
Jumlah
8.1 Kebijakan Tata Ruang Sangat Erat Kaitannya yang Cukup 108
dengan Kebijakan Transportasi 63 12.3 Perencanaan Angkutan Umum 110
Jaringan Transportosi: Teori don Anolisis Doltar lsi xn,

BAB 13 IARINGAN TRANSPORTAST DATAM STSTEM KOTA 16.7 Solusi Ketiga 150
DAN TATARAN TRANSPORTASI 113 16.8 Solusi Keempat 152
13.1 Jaringan Rute Utarna (Trunk Route) dan 16.9 Bagan Alir Terminal Umum Penumpang
Rute Pengumpan (Feeder Ror.rte) 113 dan Barang 153
13.2 Jaringan Pelayanan Angkutan Urnurn dalam BAB 17 PENCELOLAAN TERMINAL ANGKUTAN UMUM 157
Sistem Kota 115 17.1 Pengertian Terminal 157
13.3 Sistern Jaringan Transportasi dalam Tataran 17.2 Fungsi Terminal 161
Transportasi 116 1 7.3 Pengelolaan Terminal 161
BAB 14 ELEMEN DAN ANALISIS IARINGAN TRASNPORTASI 119 17.4 Perencanaan Terminal r63
14.1 Berbagai Elemen Jaringan 119 i 7.5 Strategi Pengembangan 166
14.2 Elemen Jaringan 120 17.6 Teknik Anaiisis r68
14.3 Analisa Jaringan 122 BAB 18 MANA'EMEN PARKIR 173
BAB 15 KARAKTERTSTTK DAN KLAS|FtKAST fARtNGAN 18.1 Pengertian Parkir 173
TRANSPORTASI '18.2 Pengendalian Parkir 175
125
15.1 Efisiensi Pergerakan Dalam Jaringan Transportasi 't25 18.3 Karakteristik Parkir 176
15.2 laringan Jalan '18.4 Pola Parkir 177
126
15.3 Hirarki Pergerakan dan Komponennya 126 18.5 Strategi Manajemen Parkir 182
15.4 Hubungan Fungsi Klasifikasi Jalan 128 BAB 19 ARAH PERWUIUDAN IARINCAN PRASARANA
15.5 Keperluan dan Pengaturan Akses 130 TRANSPORTASI 189
15.6 Karakteristik Pergerakan di Setiap Kelas Jalan 132 19.1 Fungsi Tataran Transportasi 189
15.7 Karakteristik Kelas Jalan 132 '19.2 Arah Perwujudan
Jaringan Prasarana 190
15.8 Sistem Jaringan Jalan di lndonesia 'r35
PENUTUP 197
15.9 Klasifikasi Berdasarkan Fungsi Jalan 135
DAFTAR PUSTAKA 201
1 5.1 0 Klasifikasi Berdasarkan Kewenangan pembinaan 140
TENTANG PENULIS 20s
BAB 16 ANALISIS PERSIMPANGAN IALAN DAN
TEORI GRAPH 143
16.1 Kemacetan Lalulintas 143
16.2 Teori Craph 144
16.3 Craph lnterval 146
16.4 Pembahasan 't47
16.5 Solusi Pertama 't48
16.6 Solusi Kedua 149
PT]IIIAHUI.UffI

1.', Latar Belakang


ransportasi merupakan kegiatan memindahkan atau meng-
angkut muatan (barang dan manusia) dari suatu tem-
pat ke tempat lain, dari suatu tempat asal (origin) ke tempat
tujuan(destination). Kegiatan transportasi dibutuhkan manusia sejak
zaman dahulu sampai sekarang untuk memenuhi kebutuhan manusia,
untuk melakukan perjalanan dari rumah ke sawah ladang untuk ber-
cocok tanam, untuk mengolah lahannya; perjalanan petani menuju ke
pasar di desanya untuk menjual hasil produksinya. Perjalanan manu-
sia ke berbagai tempat tujuan, seperti ke kantor untuk bekerja setiap
hari, ke rumah sakit untuk berobat, ke toko dan pusat perbelanjaan
untuk membeli barang-barang kebutuhan hidup sehari-harinya, per-
jalanan yang dilakukan para pekerja ke lokasi proyek pembangunan,
perjalanan nelayan ke laut, perjalanan pengusaha menggunakan pe-
sawat udara ke kota pusat perdagangan untuk melakukan perjanjian
bisnis, perjalanan sepasukan polisi untuk menumpas kerusuhan di
tempat kejadian perkara (TKP), perjalanan liburan yang dilakukan rnu-
rid-murid sekolah ke obyek-obyek wisata, dan masih banyak lagi jenis
perjalanan yang dilakukan manusia, apakah untuk kepentingan kedi-
3
Jaringon Tronsportasi: Teori don Analisis Pendohuluan
(selamat) dan nyaman'
nasan, urusan keluarga, rekreasi, yang dilakukan oleh perorangan atau tasi secara berkapasitas cukup, lancar, aman
kelompok orang (rombongan), menggunakan satu atau lebih moda oleh karena itu harus dilakukan perencanaan secara optimal'
transportasi (darat, Iaut dan udara), yang menempuh perjalanan jarak
Perencanaanjaringantransportasiterkaitdenganbanyakaspek'
dekat atau jarak jauh, pada suatu permukaan daratan atau melintasi muatan
antara lain konfigurasi (susunan) simpul-simpul bangkitan
lautan dan udara.
dansimpul-simpultuiuanperialanan,permintaanjasatransportasi
Kegiatan transpoftasi tidak dapat dielakkan atau tidak dapat di- padamasing-masingtrayekdanrutetransportasi,tataruanglalu
lepaskan dari kehidupan manusia, selalu melekat dengan kegiatan lintas transportasi, faktor-faktor internal dan eksternal, kecenderungan
perekonomian dan pembangunan. Kegiatan transportasi barang dan dinamis, dan lainnYa.
manusia diangkut dengan menggunakan sarana (moda) transportasi Mengingat penting dan strategisnya keberadaan
jaringan trans-
(kendaraan) yang dilakukan di atas prasarana transportasi (jalan) yang inter-
portasi dalam memenuhi kebutuhan angkutan menggunakan
bermula dari suatu terminal menuju ke terminal lainnya. Terminal penduduk,
moda/multimoda transportasi untuk mendukung mobilitas
transportasi merupakan simpul alih muat transportasi, yang mempu-
barangdanjasasecaraefektifdanefisien,yangcenderungmakinme.
nyai peran penting dalam keterpaduan dan kesinambungan pelayanan jaringan transportasi di-
ningkat, maka teori dan analisis perencanaan
angkutan. Jadi terdapat unsur-unsur transportasi (basic elements) yaitu
anggappentinguntukdipelalarisebagaisuatukajiantersendiri.
kendaraan (the vehicle), jalan (the way), terminal (the terminal) dan
adanya muatan (the cargo and passenger).
1.2 Pentingnya Perencanaan Jaringan
Unsur dasar yang pertama adalah "jalan" yang merupakan prasa- Transportasi dalam Mewujudkan Sistem
rana untuk melayani kegiatan transportasi yang dilakukan oleh sarana Transportasi Nasionat yang Efektif dan Efisien
transportasi (kendaraan) yang disediakan menghubungkan suatu tem-
Jaringantransportasiterdiridarijaringanprasaranadanjaringan
pat (simpul) asal perjalanan menuju ke tempat-tempat (simpul-simpul)
pelayanan. jaringan prasarana transportasi terdiri dari simpul-simpul
tujuan. Simpul transportasi adalah salah satu tempat yang berfungsi jaringan
transportasi dan ruang lalu lintas transportasi. Keterpaduan
untuk kegiatan menaikkan dan/atau menurunkan penumpang, mem-
prasarana dan moda-moda transportasi dimaksudkan untuk
mendu-
bongkar dan/atau memuat barang, mengatur per.ialanan sefta meru-
kungpenyelenggaraantransportasiantarmoda/multimodadalampe-
pakan tempat perpindahan intra moda dan antarmoda. Berbagai ja-
nyediaan pelayanan angkutan yang berkesinambungan' Simpul
trans-
lan (untuk jalur transportasi darat dan laut disebut trayek, sedangkan
portasi merupakan media alih muat yang mempunyai peran
yang
untuk jalur transportasi udara adalah rute) tersedia menurut berbagai
sangatpentingdalammewujudkanketerpaduandankesinambungan
arah perjalanan, yang secara keseluruhan membentuk suatu jaringan
pel,y,nanangkutan.Jaringanpelayanantransportasiantarmoda/mul.
transportasi. Jaringan transportasi meliputi jaringan prasarana dan ja-
timoda meliputi pelayanan angkutan penumpang dan/atau barang'
ringan pelayanan.
Jaringanprasaranatransportasiterdiridarisimpul.simpulyang
Kegiatan transportas i yang d selenggarakan melal u i/menggu na-
berwujud terminal transportasi (terminal penumpang dan terminal
i ba-
kan jaringan transportasi harus dikelola secara efektif dan efisien agar jalan yang ditentukan
rang) dan ruang lalu lintas yang berupa ruas
kegiatan transportasi tersebut dapat memberikan pelayanan transpor-
O JoringonTransportasl: Teorl don Anollsls Pendohuluon

hirarkinya menurut peranannya. sistem jaringan transportasi mem- 1. Menjelaskan (a) fungsi transportasi dalam pembangunan, (b)
punyai peranan yang sangat penting sebagai fasilitas bagi terseleng- sistern transportasi nasional, (c) kebijakan di sektor transportasi.
garanya kegiatan transportasi dan pembangunan. peranan penting ja- 2. Berdiskusi tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan (a) pe-
ringan transportasi adalah untuk: (l) mewujudkan sistem transportasi rencanaan pembangunan dan (b) pola transportasi dalam pengem-
yang efektif dan efisien, (2) menggairahkan dinamika pembangunan bangan wilayah.
dan mendukung mobilitas penduduk dan barang, dan (3) menunjang 3. Membahas pentingnya (a) konsolidasi lalu lintas, (b) tata guna la-
pemenuhan kehidupan ekonomi, sosial budaya dan politik. han dalam perencanaan transportasi, dan (c) perencanaan trans-
portasi.
sistem jaringan prasarana dan jaringan pelayanan transportasi
yang ada sekarang perlu terus ditata, direncanakan dan disempur-
4. Menganalisis berbagai pola jaringan pelayanan angkutan umum

nakan pengelolaannya dengan menggunakan sumberdaya manusia


di perkotaan/metropolitan serta berbagai masalah transportasi
perkotaan.
yang berkualitas, sehingga terwujud keandalan pelayanan dan ket-
erpaduan antardan intra moda transportasi dalam rangka memenuhi
5. Melakukan pembahasan tentang (a) elemen karakteristik, klasifika-
si jaringan jalan, (b) analisis persimpangan jalan dan teori graph,
kebutuhan pembangunan, tuntutan masyarakat serta kebutuhan jasa
(c) pengelolaan terminal angkutan umum dan parkir.
distribusi (jasa perdagangan dan jasa transportasi) yang didukung oleh
ketersediaan sarana dan prasarana transportasi yang berkapasitas.
6. Bertukar pikiran mengenai bagaimana arah perwujudan jaringan
prasarana transportasi pada masa depan.
Teori dan analisis jaringan transportasi meliputi banyak aspek
Penguasaan berbagai materi bahasan di atas akan menambah
bahasan yang menjadi landasan dasarnya, yaitu (1) fungsi transportasi
wawasan dan mempertajam kemampuan analisis .iaringan transpor-
dalam pembangunan, (2) sistem transportasi nasional (SISTRANAS),
tasi dalam konteks pembangunan nasional. Pada umumnya dan pem-
(3) kebijakan di sektor transportasi, (4) perencanaan pembangunan,
(5) pola transportasi dalam pengembangan wilayah, (6) konsolidasi bangunan transportasi pada khususnya.

lalu lintas untuk selanjutnya masuk ke dalam bahasan utamanya yaitu -oo0oo-
(a) tata guna lahan dalam perencanaan transportasi, (b) perencanaan
transportasi, (c) pola jaringan pelayanan angkutan umum di perkotaanl
metropolitan, (d) elemen dan analisis jaringan transportasi, (e) karak-
teristik dan klasifikasi jaringan transportasi, (0 analisis persimpangan
jalan dan teori graph, (g) pengelolaan terminal angkutan umum
dan
parkir, dan (h) arah perwujudan jaringan prasarana transportasi.

1.3 Output yang Diharapkan


setelah mempelajari berbagai materi bahasan yang disajikan
dalam buku ini, diharapkan para mahasiswa/kharayak pembaca me-
miliki kemampuan untuk:
ffiflx ilGst TRRil$P0 Rr[Sl llfl.Alul
PEMBIilGU]IAII

2.1 Transportasi Merupakan Derived Demand dan


Menciptakan Guna Tempat dan Guna Waktu
me-
(per-
pen-
didikan, kesehatan, pariwisata dan lainnya) karena sektor-sektor lain
tersebut membutuhkan jasa transportasi untuk mengangkut barang
(bahan baku dan hasil produksi) dan manusia (petani, pedagang, kar-
yawan, guru, murid, dokter, wisatawan dan lainnya) dari tempat asal
ke tempat tujuan. Adanya permintaan jasa transportasi dari sektor-
sektor lain menyebabkan timbulnya penyediaan jasa transportasi,
atau dapat dikatakan bahwa penyediaan jasa transportasi itu berasal
dari atau diturunkan dari permintaan sektor-sektor lain, yang berarti
diderivasi dari sektor-sektor lain, maka permintaan jasa transportasi
itu dapat disebut sebagai permintaan yang diderivasikan alau derived
demand. Jadi kapasitas transportasi harus disediakan secara seimbang
dengan permintaan I agar mampu melayani pengembangan kegiatan
sektor lain. Penyediaan kapasitas transportasi harus berorientasi ke-
pada kebutuhan masa depan (dinamis dan antisipati0.
Jaringon Transportosi: Teorl dan Anolisis Fungsl Tronsportosl dolom l'eniltongunan

Fungsi transportasi adalah memindahkan atau mengangkut Dengan .iasa transportasi yang semakin berkualitas (berke-
muatan (barang dan manusia) dari suatu tempat ke tempat lain, yaitu cepatan tinggi) dan berkapasitas (berdaya angkut lebih besar), maka
dari tempat asal ke tempat tujuan. Dengan berpindahnya barang dan hambatan ruang dan waktu dalam transportasi global dapat di atasi,
manusia dari tempat asal ke tempat tujuan itu umumnya memberikan dengan transportasi modern dapat dijangkau seluruh negara di dunia,
manfaat atau kegunaan yang lebih besar. Contoh, beras di daerah seluruh daerah dalam negara. Transportation merupakan salah satu
pedesaan harganya murah karena yang membutuhkan jumlahnya unsur revolusi modern, di samping Trade (perdagangan) dan Telecom-
sedikit, hampir seluruh penduduk pedesaan adalah petani, tetapi munication (telekomunikasi). Perdagangan telah berkembang maju
setelah beras dikirim ke pasar-pasar perkotaan, harganya menjadi lebih memasuki Era Clobalisasi, di mana pada tahun 2015 akan diterapkan
rnahal, kegunaannya lebih besar. Pedagang dari ibukota provinsi pergi persaingan murni, segala pungutan pajak impor dihapuskan, menuju
ke ibukota negara menggunakan jasa penerbangan untuk merakukan kepada perdagangan internasional berbasis efisiensi dan produktivi-
perundingan dan perjanjian bisnis dalam nilai dagang yang besar tas. Persaingan dalam perdagangan global akan semakin ketat. Untuk
jumlahnya. Perjalanan bisnis tersebut memberikan kegunaan yang melayani perkembangan dan kemajuan di bidang perdagangan global
besar kepada pebisnis tersebut. Perpindahan barang dan perjalanan diperlukan fasilitas pendukung yang seiring dan mampu melayaninya,
pebisnis yang dikemukakan di atas jelas memberikan tambahan yaitu sektor transportasi dan sektor telekomunikasi. Sektor transpor-
kegunaan, maka dapat dikatakan bahwa transportasi itu menciptakan tasi harus mampu melayani pengangkutan barang-barang antarnegara
atau menambah guna tempat (place utility). yang tersebar di dunia dalam jumlah besar, yang diangkut secara efek-
Teknologi transportasi berhasil membuat sarana transportasi tif dan efisien, dalam waktu perjalanan yang lebih cepat, dengan biaya
yang berkecepatan tinggi, sehingga dapat melayani perjalanan dalarn yang rendah dan memenuhi persyaratan keselamatan.
waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan perjalanan yang Fasilitas pendukung yang modern lainnya adalah sektor tele-
ditempuh dengan berjalan kaki. Lebih cepat sampainya di tempat komunikasi, yang mampu melayani penyediaan berbagai data yang
tujuan menyebabkan kondisi dan kr-ralitas barang dagangan daram diperlukan secara lengkap, secara rinci, dan secara cepat serta aku-
keadaan tetap segar, sehingga harganya tetap tinggi. perjalanan rat. Perkembangan kemajuan sektor produksi dan distribusi sangat
pebisnis sampai di tempat tujuan lebih cepat berarti tidak terlambat pesat. Sektor produksi meliputi pembuatan barang-barang konsumsi
dalam melakukan perjanjian dagang. Dalam hubungan ini, transportasi dan barang-barang investasi. Pembuatan barang-barang konsumsi
telah menciptakan atau menambah kegunaan waktu atau time utility. mengarah kepada diciptakannya barang-barang instan. Siap saji dan
Teknologi transportasi telah berlangsung sejak lama, keberhasil- setengah siap saji. Pembuatan barang-barang investasi menjadi ma-
annya ditunjukkan dalam bentuk (1) peningkatan kecepatan (faster kin modern dan canggih sebagai akibat dari perkembangan teknologi
yang makin pesat. Perkembangan jasa distribusi (meliputi jasa perda-
speedl dan (2) perbesaran kapasitas angkut (bigger capacity). De-
gangan dan jasa pengangkutan) memperlihatkan pula kemajuan yang
ngan keberhasilan teknologi transportasi yang semakin maju, berarti
pula kegunaan tempat dan kegunaan waktu yang diciptakan oleh jasa pesat. Dalam kegiatan perdagangan telah digunakan sarana komuni-

tlansportasi menjadi semakin besar pula. kasi yang modern, dalam kegiatan transportasi telah digunakan pula
sarana transportasi yang modern. Dalam sektor telekomunikasi telah
h;
EsCe.:,
.l -.-

Pr*g,iire i
Joringon Tronsportosi: Teori don Analisis fttttgsi It uttsltttt tosi ttttkurt l'ttttlxuttlutttut 11

diciptakan sarana komunikasi dan informasi dalam bentuk yang lebih '2. Pernasaran hasil-h.rSil produksi sektor pertanian ke pasar-pasar
kecil tetapi berkapasitas sangat besar dan berpenampilan modern. perkotaan dilaksanakan pula secara cepat, murah dan tepat wak-
tu.
Uraian yang dikemukakan di atas merupakan bukti yang nyata,
bahwa sektor transportasi memiliki peranan dan fungsi yang sangat
3. Pemasaran angkutan barang ke dan dari daerah pertanian, mendo-

penting dan strategis dalam kehidupan manusia, dalam perkembangan


rong para petani memperluas areal pertanian sebagai bentuk dari
perluasan usaha pertaniannya.
ekonomi dunia dan dalam pembangunan (regional, nasional dan
internasional).
4. Angkutan barang dan penumpang dilaksanakan secara selamat/
aman, berarti tingkat kecelakaan lalu lintas dapat dikurangi.

2.2 Transportasi Berfungsi Sebagai penunjang dan 5. Mobilitas penduduk meningkat, dalam bentuk perjalanan pen-
duduk dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan dan arah seba-
Pendorong
liknya meningkat frekuensinya.
Seperti telah dikemukakan pada sub bab di depan, bahwa per- 6. Keamanan di daerah sekitar jalur jalan tersebut menjadi aman
mintaan jasa transportasi itu merupakan derived demand, yaitu per- karena pada jalur tersebut sudah menjadi ramai karena lalu lintas
mintaan yang diderivasi atau yang diturunkan dari permintaan jasa telah meningkat.
transportasi dari sektor-sektor lain. Dari konsep permintaan yang 7. Lalu lintas yang meningkat (generated traffic) diharapkan dapat
diderivasi tersebut, maka fungsi transportasi dikembangkan sebagai mengurangi tingkat kesenjangan (disparitas) antardaerah, antara
fasilitas atau sektor penunjang. sebagai sektor penunjang, transportasi daerah pedesaan dengan daerah perkotaan.
berfungsi melayan i pengembangan kegiatan sektor-sektor lain. Meray-
Dalam evaluasi proyek di bidang transportasi manfaat-manfaat
ani permintaan jasa transportasi sektor-sektor lain disebut sebagai ser-
yang ditimbulkan dari pembangunan jalan baru ataupun peningkatan
vicing sector.
kapasitas jalan, ada yang dapat diukur dalam bentuk perhitungan uang
Transportasi sebagai servicing sector, yaitu memberikan pe- (tangible benefit) tetapi ada pula manfaat yang tidak dapat diukur
layanan jasa transportasi kepada kegiatan sektor-sektor lain itu yang dengan uang (intangible benefit) seperti keamanan. Jika tidak tersedia
dilakukan secara efektif dan efisien. Pelayanan efektif dan efisien itu data secara lengkap dan akurat, maka penilaian manfaat dilakukan
dinyatakan dalam berbagai manfaat atau dalam bentuk dampak positif secara kualitatif yang dikuantifikasikan berdasar .jawaban responden,
yang dirasakan oleh daerah yang dilayani. Misalnya, pembangunan menggunakan skala Likert, yaitu memberikan nilai skor 1 s/d 5 untuk
jalan baru atau peningkatan kapasitas jalan memberikan manfaat ke- klasifikasi penilaian baik sekali (diberi nilai (5), baik (4), sedang (3),
pada daerah yang dihubungkan, yaitu antara daerah pertanian dengan kurang (2) dan kurang sekali (1).
daerah perkotaan. Beberapa manfaat dapat disebutkan, yaitu (M.N.
Selain sebagai servicing sector, transportasi berfungsi pula se-
Nasution, 1996):
bagai sektor pendorong, yang dimaksudkan penyediaan fasilitas
1. Angkutan barang-barang (sarana produksi, seperti pupuk, obat- (prasarana dan sarana) transportasi untuk membuka daerah-daerah ter-
obatan anti hama, bibit unggul dan lainnya) ke daerah pertanian isolasi, terpencil, tertinggal dan perbatasan. Daerah-daerah tersebut
dilaksanakan secara cepat/lancar, murah dan tepat waktu. belum terjangkau oleh pelayanan transportasi atau tersedianya fasilitas
t2 Joringan Tronsportosi: Teori don Anolisis

transportasinya sangat terbatas. Dengan menghubungkan perayanan


transportasi dari pusat pelayanan yang terletak tidak jauh ke daerah-
daerah terisolasi, terpencil, tertinggal dan perbatasan, maka interaksi
antara keduanya menjadi lebih terjalin dan bertambah ramai, dampak
positifnya adalah meningkatkan produksi dan produktivitas sektor-
sektor potensial yang dimilikinya, meningkatkan lapangan kerja dan
pendapatan masyarakat, serta diharapkan akan mengurangitingkat ke- slsrEil IRAI|S P0 RIASI ltA$10 ]tfl.
senjangan (disparitas) antara daerah yang maju dengan daerah yang
kurang maju. Transportasi memiliki fungsi yang sangat penting dan
TSISTBAlIASI
strategis sebagai kekuatan yang mampu membentuk profil (wajah)
daerah atau wilayah menjadi lebih serba sama (homogin), menjadi
lebih maju, menjadi tidak timpang. Transportasi lebih menekankan
pada "akibat" yang ditimbulkan dari adanya pelayanan transportasi,
bukan pada "sebabnya", tetap i pel ayanan transpoftas i d i se Ienggarakan
untuk mencapai banyak "tujuan".
3.1 Latar Belakang
eberhasilan pembangunan sangat dipengaruhi oleh peran
Fungsi transportasi sebagai penunjang pembangunan teori
transportasi sebagai urat nadi kehidupan politik, ekonomi,
dan analisis dikaitkan dengan jaringan transportasi ditunjukkan oleh
sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Pembangunan
susunan kota-kota (besar, sedang, dan kecil) yang tersusun secara hi-
rarkis, yang dihubungkan dengan prasarana transportasi (jalan) yang
sektor i diarahkan pada terwujudnya sistem transportasi
nasional yang handal, berkemampuan tinggi dan diselenggarakan se-
tersebar di seluruh wilayah, yang membentuk suatu struktur dasar
cara efektif dan efisien dalam menunjang dan sekaligus menggerakkan
pengembangan wilayah. Wilayah pengembangan yang satu mem-
dinamika pembangunan, mendukung mobilitas manusia, barang serta
punyai hubungan keterkaitan jasa distribusi (jasa perdagangan dan
jasa, mendukung pola distribusi nasional serta mendukung pengem-
jasa transportasi) dengan wilayah-wilayah pengembangan yang lain-
bangan wilayah dan peningkatan hubungan internasional yang lebih
nya, sehingga terbentuklah jaringan transportasi yang lebih luas.
memantapkan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara
Tersedianya jaringan prasarana transportasi yang menghubung- dalam rangka perwujudan wawasan nusantara.
kan ke seluruh kota dan pusat produksi di seluruh wilayah memberi-
Perwujudan sistem transportasi nasional yang efektif dan efisien,
kan kesempatan dan mendorong pengembangan dan meningkatkan
menghadapi berbagai tantangan, peluang dan kendala sehubungan
pertambahan output, yang berarti meningkatkan pertumbuhan eko-
dengan adanya perubahan lingkungan yang dinamis seperti otonomi
nomi daerah (regional economic growth). Pertumbuhan ekonomi dae-
daerah, globalisasi ekonomi, perubahan perilaku permintaan .iasa
rah dapat lebih dipacu peningkatannya bila didukung oleh pelayanan
transportasi, kondisi politik, perkembangan ilmu pengetahuan dan
transportasiyang Iancar, berkapasitas, dan tersedia ke seluruh wilayah.
teknologi, kepedulian pada kelestarian lingkungan hidup sefta ada-
-oo0oo- nya keterbatasan sumber daya. Untuk mengantisipasi kondisi terse-
14 Joringon Tronsportasi: Teori don Anolisis Sistem Tronsportosl Noslonol (5,5IRANAS/ 15

but, sistem transportasi nasional perlu terus ditata dan disempurnakan 3.4 Konsepsi
dengan dukungan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga
terwujud keandalan pelayanan dan keterpaduan antar dan intra moda 1. Definisi Sistranas
transportasi, dalam rangka memenuhi kebutuhan pembangunan, tun- Sistranas adalah tatanan transpoftasi yang terorganisasi secara
tutan masyarakat serta perdagangan nasional dan internasional de- kesisteman terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta
-ngan memperhatikan kehandalan serta kelaikan sarana dan prasarana api, transportasi sungai dan danau, transportasi penyeberangan,
transpoftasi. transportasi laut, transportasi udara, dan transportasi pipa, yang
masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana, kecuali pipa,
3.2 Maksud dan Tujuan yang saling berinteraksi dengan dukungan perangkat lunak dan
peran gkat pi ki r mem bentuk suatu sistem pelayanan jasa tran spoftasi
Doku men stem Transportas i Nas ional (S i stranas) d i maksudkan
S i
yang efektif dan efisien, berfungsi melayani perpindahan orang
sebagai pedoman dan pembangunan transpoftasi, dengan tujuan agar
dan atau barang, yang terus berkembang secara dinamis.
dicapai penyelenggaraan transportasi nasional yang efektif dan efisien.
selanjutnya lihat peraturan Menteri perhubungan No. KM 49 Tahun 2. Landasan Sistranas
2005. Sistranas diselenggarakan berdasarkan landasan idiil Pancasila,
landasan konstitusional UUD 1945, landasan visional Wawasan
3.3 Pengertian Nusantara, landasan konsepsional Ketahanan Nasional, landasan
operasional peraturan perundangan di bidang transportasi serta
1. Pelayanan transportasi adalah jasa yang dihasilkan oreh penyedia
jasa transportasi untuk memenuhi kebutuhan pengguna jasa trans-
peraturan perundangan lain yang terkait.

portasi. 3. Asas Sistranas


2- Jaringan pelayanan transportasi adalah susunan rute-rute perayan- Sistranas diselenggarakan berdasarkan asas keimanan dan ke-
an transportasi yang membentuk satu kesatuan hubungan. taqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, asas manfaat, asas adil
3. Jaringan prasarana transportasi adalah serangkaian simpul yang dan merata, asas usaha bersama, asas keseimbangan, asas kepen-
dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu ke- tingan umum, asas kesadaran hukum, asas kemandirian, dan asas
satuan. keterpaduan.
4. Ruang lalu lintas adalah suatu ruang gerak sarana transportasi
yang dilengkapi dengan fasilitas untuk mendukung keselamatan 4. Tujuan Sistranas
dan kelancaran transportasi. Tujuan Sistranas adalah terwujudnya transportasi yang efektif dan
5. simpul transportasi adalah suatu tempat yang berfungsi untuk ke- efisien dalam menunjang dan sekaligus menggerakkan dinamika
giatan menaikkan dan menurunkan penumpang, membongkar pembangunan, meningkatkan mobilitas manusia, barang dan
dan memuat barang jasa, membentuk terciptanya pola distribusi nasional yang mantap
dan dinamis, serta mendukung pengembangan wilayah, dan
lebih memantapkan perkembangan kehidupan bermasyarakat,
16 Jaringon Transportosi: It:ori tlurr Atrulisis
Sistern Transpor tosi Noslonol (S,SIRANAS) 17

berbangsa dan bernegara dalam rangka perwujudan wawasan


Moda transportasi pipa tidak digunakan untuk transportasi
nusantara dan meningkatkan hubungan internasional
umum, sifat pelayanannya terbatas hanya untuk angkutan komo-
5. Sasaran Sistranas ditas curah cair dan gas, dengan sifat pergerakan hanya satu arah.
Sasaran Sistranas adalah terwujudnya penyelenggaraan transpor-
tasi yang efektif dan efisien. Efektif dalam arti selamat, aksesibilitas 3.5 Tataran Transportasi
tinggi, terpadu, kapasitas mencukupi, teratur, lancar dan cepat, Sistranas diwujudkan dalam tiga tataran, yaitu Tataran Transpor-
mudah dicapai, tepat waktu, nyaman, tarif terjangkau, tertib, tasi Nasional (Tatranas), Tataran Transportasi Wilayah (Tatrawil), dan
aman, serta polusi rendah. Efisien dalam arti beban publik rendah Tataran Transportasi Lokal (Tatralok).
dan utilitas tinggi dalam satu kesatuan jaringan transportasi nasi-
onal.
1. Tatranas
Tatranas adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara
6. Moda Transportasi kesisteman, terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta
Jaringan transportasi dapat dibentuk oleh moda transportasi jalan, api, transportasi sungai dan danau, transportasi penyeberangan,
kereta api, sungai dan danau, penyeberangna, laut, udara dan transportasi laut, transportasi udara, dan transportasi pipa, yang
pipa. Masing-masing moda memiliki karakteristik teknis yang masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana, yang saling
berbeda, pemanfaatannya disesuaikan dengan kondisi geografis berinteraksi dengan dukungan perangkat lunak dan perangkat
daerah layanan. pikir membentuk suatu sistem pelayanan jasa transportasi yang
Moda transportasi jalan mempunyai karakteristik utama efektif dan efisien, yang berfungsi melayani perpindahan orang
yakni fleksibel, dan mampu memberikan pelayanan dari pintu dan atau barang antarsimpul atau kota nasional, dan dari simpul
ke pintu. Moda transportasi kereta api memiliki keunggulan yaitu atau kota nasional ke luar negeri atau sebaliknya.
daya angkut tinggi, polusi rendah, keselamatan tinggi, dan hemat
2. Tatrawil
bahan bakar. Moda transportasi sungai dan danau mempunyai
Tatrawil adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara
karakteristik kecepatan rendah dan murah dengan tingkat polusi
kesisteman terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api,
rendah. Moda transportasi penyeberangan mempunyai karakteris-
transportasi sungai dan danau, transportasi penyeberangan, trans-
tik mampu mengangkut penumpang dan kendaraan dalam jumlah
portasi laut, transportasi udara, dan transportasi pipa yang masing-
besar serta kecepatan relatif rendah dengan tingkat polusi rendah.
masing terdiri dari sarana dan prasarana yang saling berinteraksi
Moda transportasi laut mempunyai karakteristik mampu
dengan dukungan perangkat lunak dan perangkat pikir memben-
mengangkut penumpang dan barang dalam jumlah besar, kecepat-
tuk suatu sistem layanan transportasi yang efektif dan efisien, ber-
an rendah dan jarak jauh dengan tingkat polusi rendah.
fungsi melayani perpindahan orang dan atau barang antarsimpul
Moda transportasi udara mempunyai karakteristik kecepatan atau kota wilayah, dan dari simpul atau kota wilayah ke simpul
tinggi dan dapat melakukan penetrasi sampai ke seluruh wilayah atau kota nasional atau sebaliknya.
yang tidak bisa dijangkau oleh moda transportasi lain.
I
I
,..,
"1'..' C I & ....
I ,,
I ,.. dt
Ir.*i_"'.:,.-
"," j . :
18 Joringan Tronsportosi: Teori don Anolisis Slstem Tronsportosl Noslonol (S,SfRANAS/ 19

3. Tatralok 3.6.2 Transportasi falan


Tatralok adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara 1. faringan Pelayanan
kesisteman terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta Pelayanan angkutan orang dengan kendaraan umum dikelompok-
api, transportasi sungai dan danau, transportasi penyeberangan, kan menurut wilayah pelayanan, operasi pelayanan dan peran-
transportasi laut, transportasi udara, dan transportasi pipa yang nya.
masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana yang saling
Menurut wilayah pelayanannya, angkutan penumpang de'
berinteraksi dengan dukungan perangkat lunak dan perangkat pikir
ngan kendaraan umm, terdiri dari Angkutan Lintas Batas Negara,
membentuk suatu sistem pelayanan transportasi yang efektif dan
Angkutan AntarKota AntarProvinsi, Angkutan Kota, Angkutan
efisien, berfungsi melayani perpindahan orang dan atau barang
Perdesaan, Angkutan Perbatasan, Angkutan Khusus, Angkutan
antarsimpul atau kota lokal, dan dari simpul atau kota lokal ke
Taksi, Angkutan Sewa, Angkutan Pariwisata dan Angkutan Ling-
simpul atau kota wilayah dan simpul atau kota nasional terdekat kungan.
atau sebaliknya, serta dalam kawasan perkotaan dan perdesaan.
Menurut sifat operasi pelayanannya, angkutan penumpang
3.6 Jaringan Transportasi dengan kendaraan umum di atas dapat dilaksanakan dalam trayek
dan tidak dalam trayek kendaraan bukan umum. Dengan ditetap-
Dalam Sistem Transportasi Nasional (Kepmen No. 49 Tahun
kan jarirrgan lintas untuk mobil barang yang bersangkutan, maka
2005) meliputi sub-sub sektor transportasi jalan, kereta api, sungai dan
mobil barang dimaksud hanya diijinkan melalui lintasannya, mi-
danau, penyeberangan, laut, udara, dan pipa. Dalam uraian berikut
salnya mobil barang pengangkut peti kemas, mobil barang pe'
ini disajikan hanya tiga sub sektor, yaitu transportasi jalan, transportasi
ngangkut bahan berbahaya dan beracun, dan mobil barang pe-
laut, dan transportasi udara, yang lebih umum dikenal masyarakat luas.
ngangkut alat berat.
3.6.1 Transportasi Antarmoda
2. faringan Prasarana
1. faringan Pelayanan Jaringan prasarana transportasi jalan terdiri dari simpul yang
Jaringan pelayanan transportasi antarmoda adalah pelayanan berwujud terminal penumpang dan terminal barang, dan ruang
transpoftasi antarmoda perkotaan, transportasi antarmoda antar-
lalu lintas. Terminal penumpang menurut wilayah pelayanannya
kota, dan transportasi antarmoda luar negeri.
dikelompokkan menjadi :
2. faringan Prasarana a. Terminal penumpangtipe A, berfungsi melayani kendaraan
Keterpaduan jaringan prasarana transportasi antarmoda diwujud- umum untuk angkutan lintas batas negara, angkutan antarkota
kan dalam bentuk interkoneksi antarfasilitas dalam terminal antarprovinsi, antarkota dalam provinsi, angkutan kota dan
transportasi antarmoda, yaitu simpul transportasi yang berfungsi angkutan perdesaan;
sebagai titik temu antarmoda transportasi yang terlibat, yang mem- b. Terminal penumpang tipe B, berfungsi melayani kendaraan
fasilitasi kegiatan alih muat yang terdiri dari aspek tatanan fasilitas, umum untuk angkutan antarkota dalam provinsi, angkutan
fungsional dan operasional, mampu memberikan pelayanan an- kota dan angkutan perdesaan;
tarmoda secara berkesinambungan.
20 Joringon Transportosi: Teori don Anolisis Sistem Tronsportosl Nosloml (STSIRANAS) 2t

c. Terminal penumpang tipe C, berfungsi melayani kendaraan berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan
umLtm untuk angkutan perdesaan. jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk
Selanjutnya masing-masing tipe tersebut dapat dibagi dalam tidak dibatasi. Jalan lingkungan, merupakan jalan umum yang ber-
beberapa kelas sesuai dengan kapasitas terminal dan volume fungsi melayaniangkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak
kendaraan umum yang dilayani. dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.

Terminal barang dapat pula dikelompokkan menurut fungsi Pembagian setiap ruas jalan pada jaringan jalan primer
pelayanan penyebaran/distribusi rnenjadi: terdiri dari:
a. Terminal utama, berfungsi melayani penyebaran antarpusat a. Jalan arteri primer, menghubungkan secara berdaya guna an-
kegiatan nasional, dari pusat kegiatan wilayah ke pusat ke- tarpusat kegiatan nasional, atau antarpusat kegiatan nasional
giatan nasional, serta perpindahan antarmoda. dengan pusat kegiatan wilayah;
b. Terminal pengumpan, berfungsi melayani penyebaran antar- b. Jalan kolektor primer, menghubungkan secara berdaya guna
pusat kegiatan wilayah, dari pusat kegiatan lokal ke pusat ke- antarpusat kegiatan wilayah, atau menghubungkan antarpusat
giatan wilayah; kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lokal;
c" Terminal lokal berfungsi melayani penyebaran antarpusat ke- c. Jalan lokal primer, menghubungkan antarpusat kegiatan di
giatan. dalam kawasan perdesaan dan jalan di dalam lingkungan ka-
wasan perdesaan.
Jaringan jalan terdiri atas jaringan jalan primer dan jaring-
an jalan sekunder. Jaringan jalan primer, merupakan jaringan ja- Jalan utama menurut statusnya dikelompokkan ke dalam
lan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk jalan nasoinal, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota dan
pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan meng- jalan desa.
hubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat- Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor da-
pusat kegiatan. Sedangkan jaringan jalan sekunder, merupakan lam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antaribu-
jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan kota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol.
jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan.
Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaring-
Berdasarkan sifat dan pergerakan lalu Iintas dan angkutan an jalan primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan
jalan, jalan umum dibedakan atas fungsi jalan arteri, kolektor, ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota kabupaten/kota, dan
lokal dan lingkungan. Jalan arteri, merupakan jalan umum yang jalan strategis provi nsi "
berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dengan sistem ja-
jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi ringan jalan primer yang tidak masuk jalan nasional dan jalan
secara berdaya guna. Jalan kolektor, merupakan jalan umum yang provinsi, yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibu-
berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan kota kecamatan, atau antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten
ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jum- dengan PKL, antarPKl serta jalan umum dalam sistem jaringan
lah jalan masuk dibatasi. Jalan lokal, merupakan jalan urnum yang
Joringon Transportosl: Teorl don Analisls Sl s t e m Tronspo r tosl Noslonol (S,SIRANAS, 23

jalan sekunder dalam wilayah kabupaten dan jalan strategis ka- a. Jaringan trayek transpoftasi laut utama yang menghubungkan
bupaten. antarpelabuhan yang berfungsi sebagai pusat akumulasi dan
Jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan distribusi;
sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, b. Jaringan trayek transportasi laut pengumpan yaitu yang meng-
menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan hubungkan pelabuhan yang berfungsi sebagai pusat akumula-
antarpersil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang si dan distribusi. Disamping itu, trayek ini juga menghubung-
berada di dalam kota. kan pelabuhan-pelabuhan yang bukan berfungsi sebagai
Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan akumulasi dan distribusi.
kawasan dan atau antarpermukiman di dalam desa, serta jalan Berdasarkan fungsi pelayanan transportasi laut sebagai
lingkungan. ship follow the trade dan ship promote the trade, jaringan trayek
Jalan dibigi dalam beberapa kelas didasarkan pada kebutuh- transportasi laut dibagi menjadi pelayanan komersial dan non
an transportasi, pemilihan moda transportasi yang sesuai karakte- komersial (perintis).
ristik masing-masing moda, perkembangan teknologi kendaraan Jaringan trayek transportasi laut tersebut di atas ditetapkan
bermotor, muatan sumbu terberat kendaraan bermotor, sefta kon- den gan mem perhati kan pengem bangan pusat i nd ustri, perdagang-
struksi jalan. Pembagian kelas jalan dimaksud, meliputi jalan ke- an dan pariwisata, pengembangan daerah, keterpaduan intra dan
las l, kelas ll, kelas lll A, kelas lll B, dan kelas lll C. antarmoda transportasi.
Di lihat dari aspek pengusahaannya, jalan umum dikelom- ^ Berdasarkan sifat pelayanannya jaringan pelayanan trans-
pokkan menjadi jalan tol yang kepada pemakainya dikenakan portasi laut terdiri atas:
pungutan dan rnerupakan alternatif dari jalan umum yang ada,
a. Jaringan pelayanan transportasi laut tetap dan teratur yaitu
dan jalan bukan tol. jaringan pelayanan dengan trayek dan jadwal yang telah
ditetapkan;
3.6.3 Transportasi Laut
b. Jaringan pelayanan transportasi laut tidak tetap dan tidak ter-
1. faringan Pelayanan atur yaitu jaringan pelayanan dengan trayek dan jadwal yang
Jaringan pelayanan transportasi laut berupa trayek dibedakan tidak ditetapkan.
menurut kegiatan dan sifat pelayanannya.
Berdasarkan kegiatannya, jaringan (trayek) transportasi laut
2. faringan Prasarana
terdiri dari jaringan transportasi laut dalam negeri dan jaringan Jaringan prasarana transportasi laut terdiri dari simpul yang ber-
trayek transportasi laut luar negeri. wujud pelabuhan laut dan ruang lalu lintas yang berwujud alur
pelayaran. Pelabuhan laut dibedakan berdasarkan peran, fungsi
Selanjutnya jaringan trayek transportasi laut dalam negeri
dan klasifikasi serta jenis. Berdasarkan jenisnya pelabuhan dibe-
terdiri dari:
dakan atas:
24 Jaringan Tronsportosi: Teori don Analisis 5islem T ronsport.osl Nosionol (5,5 fRiNAS/

a. Pelabuhan umum yang digunakan untuk melayani kepen- angkutan laut dalam jumlah kecil dan jangkauan pelayanan
tingan umum luar negeri dan dalam negeri sesuai ketetapan antarkabupaten/kota serta merupakan pengumpan kepada
pemerintah dan mempunyai fasilitas karantina, imigrasi, pelabuhan utama;
beacukai, penjagaan dan penyelamatan; e. Pelabuhan /oka/ adalah pelabuhan pengumpan sekunder
b. Pelabuhan khusus yang digunakan untuk melayani kepenting- yang berfungsi khususnya untuk melayani kegiatan angkutan
an sendiri guna menunjang kegiatan tertentu. laut dalam jurnlah kecil dan jangkauan pelayanannya antarke-
camatan dalam kabupaten&ota serta merupakan pengumpan
Hirarki berdasarkan peran dan fungsi pelabuhan laut terdiri
kepada pelabuhan utama dan pelabuhan regional.
dari:
a. Pelabuhan internasional hub (utama primer) adalah pelabuh- Berdasarkan peran dan fungsi pelabuhan khusus yang bersi-
an utama yang memiliki peran dan fungsi melayani kegiatan fat nasional, terdiri dari pelabuhan khusus nasional/internasional
dan alih muat penumpang dan barang internasional dalam yang melayani kegiatan bongkar muat barang berbahaya dan be-
volume besar karena kedekatan dengan pasar dan jalur racun (83) dengan Iingkup pelayanan yang bersifat lintas provinsi
pelayaran internasional serta berdekatan dengan jalur kepu- dan internasional.
lauan lndonesia; Berdasarkan jangkauan pelayanannya pelabuhan dapat
b. Pelabuhan internasional (utamasekunder) adalah pelabuhan ditetapkan sebagai pelabuhan yang terbuka dan tidak terbuka un-
utama yang memiliki peran dan fungsi melayani kegiatan dan tuk perdagangan luar negeri.
alih rnuat penumpang dan barang nasional dalam volume Penyelenggaraan pelabuhan umum dapat dibedakan atas
yang relatif besar karena kedekatan dengan jalur pelayaran pelabuhan umurn yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat
nasional dan internasional serta mempunyai jarak tertentu dan atau penyelenggaraannya dilimpahkan pada BUMN, dan
dengan pelabuhan internasional lainnya; pelabuhan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi
c. Pelabuhan nasional (utama tersier) adalah pelabuhan utama dan kabupaten/kota dan atau yang penyelenggarannya dilimpah-
memiliki peran dan fungsi melayani kegiatan dan alih muat kan pada BUMD.
penumpang dan barang nasional dan bisa menangani semi
Ruang lalu lintas laut (seaways) adalah bagian dari ruang
kontainer dengan volume bongkar sedang dengan memper- perairan yang ditetapkan untuk melayani kapal laut yang berlayar
hatikan kebijakan pemerintah dalam pemerataan pemban-
atau berolah gerak pada suatu lokasi/pelabuhan atau dari suatu
gunan nasional dan meningkatkan pertumbuhan wilayah,
iokasi/pelabuhan menuju ke lokasi/pelabuhan lainnya melalui
mempunyai jarak tertentu dengan jalur/rute lintas pelayaran
dua arah dan posisi tertentu.
nasional dan antarpulau serta dekat dengan pusat pertumbuh-
Alur pelayaran adalah bagian dari ruang lalu lintas laut
an wilayah ibukota kabupaten/kota dan kawasan pertumbuh-
yang alami maupun buatan yang dari segi kedalaman, lebar
an nasional.
dan hambatan pelayaran lainnya dianggap aman untuk dilayari.
d. Pelabuhan regional adalah pelabuhan pengumpan primer
AIur pelayaran dicantumkan dalam peta laut dan buku petunjuk
yang berfungsi khusus untuk melayani kegiatan dan alih muat
pelayaran serta diumumkan oleh instansi yang berwenang.
Jarlngon Transportosl: l'eot I Llorr Anolisis Sislenr Tronsportasi Nosiottrtl (\,\, HINAS) 27

Berdasarkan fungsi ruang lalu lintas dikelompokkan atas: Berdasarkan hirarki pelayanannya, rute penerbangan terdiri
a. Ruang lalu lintas laut di mana pada lokasi tersebut instruksi .rlas rute penerbangan utama, pengumpan dan perintis.
secara positif diberikan dari pemandu (sea traffic control- a. Rute utama yaitu rute yang menghubungkan antarbandar
/er) kepada nakhoda, contoh: alur masuk pelabuhan, daerah udara pusat penyebaran
labuh/anchorage area, kolam pelabuhan, daerah bandar dan b. Rute pengu mpan yaitu rute yang menghubungkan antara ban-
sebagainya. dar udara pusat penyebaran dengan bandar udara yang bukan
b. Ruang lalu lintas di mana pada lokasi tersebut hanya diberi- pusat penyebaran.
kan informasi tentang lalu lintas yang diperlukan meliputi an- c. Rute perintis yaitu rute yang nrenghubungkan udara bukan
tara lain informasi tentang cuaca, kedalaman, pasang surut, pusat penyebaran dengan bandar udara bukan pusat penye-
arus, gelombang dan lain-lairr. baran yang terletak pada daerah terisolasi/tertinggal.
Alur pelayaran terdiri dari alur pelayaran internasional dan Berdasarkan fungsi pelayanan transportasi udara sebagai
alur pelayaran dalam negeri serta alur laut kepulauan, untuk per- ship follow the trade dan ship promote the trade, .iaringan
lintasan yang sifatnya terus menerus, langsung dan secepatnya bagi pelayanan transportasi udara dibagi menjadi pelayanan komersial
kapal asing yang melalui perairan lndonesia (innocent passages), dan non komersial (perintis)
seperti Selat Lombok-Selat Makassar, Selat Sunda-Selat Karimata,
Kegiatan transportasi udara terdiri dari atas: angkutan udara
Laut Sawu-Laut Banda-Laut Makulu, Laut Timor-Laut Banda-Laut
niaga yaitu angkutan udara untuk umum dengan menarik bayaran,
Maluku, yang ditetapkan keselamatan berlayar, rute yang biasa-
dan angkutan udara bukan niaga yaitu kegiatan angkutan udara
nya digunakan untuk pelayaran internasional, tata ruang kelautan,
untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan kegiatan pokoknya bu-
konservasi sumber daya alam dan lingkungan, dan jaringan kabel/
kan di bidang angkutan udara. Sebagai tulang punggung transpor-
pipa dasar laut serta rekomendasi internasional yang berwenang.
tasi udara adalah angkutan udara niaga berjadwal, sebagai penun-
jang adalah angkutan udara niaga tidak berjadwal, sedang sebagai
3.6.4 Transportasi Udara
pelengkap adalah angkutan udara bukan niaga.
1. f aringan Pelayanan
Kegiatan angkutan udara niaga berjadwal melayani rute
Jaringan pelayanan transportasi udara merupakan kumpulan rute penerbangan dalam negeri dan atau penerbangan luar negeri se-
penerbangan yang melayani kegiatan transportasi udara dengan
cara tetap dan teratur, sedangkan kegiatan angkutan udara niaga
jadwal dan frekuensi yang sudah ditentukan.
tidak berjadwal tidak terikat pada rute penerbangan yang tetap
Berdasarkan wilayah pelayanannya, rute penerbangan diba- dan teratur.
gi menfadi rute penerbangan dalam negeri dan rute penerbangan
luar negeri. Jaringan penerbangan dalam negeri dan luar negeri 2, faringan Prasarana
merupakan suatu kesatuan dan terintegrasi dengan jaringan trans- Jaringan prasarana transportasi udara terdiri dari bandar udara,
portasi darat dan laut. yang berfungsi sebagai simpul, dan ruang udara yang berfungsi
sebagai ruang lalu iintas udara.
Joringon Tronsportasl: Teorl rlott Anollsis Sistcrrr fi onsportosi Nosiorrrrl (1,\ IHANAS/ 29

Bandar udara dibedakan berdasarkan fungsi, penggunaan, Pendaratan dan lepas landas pesawat udara untuk melayani
klasifikasi, status dan penyelenggarannya serta kegiatannya.
kegiatan angkutan udara;
Berdasarkan hirarki fungsinya bandar udara dikelompokkan b. Pendaratan dan lepas landas helikopter untuk melayani ang-
menjadi bandar udara pusat penyebaran dan bandar udara bukan kutan udara.
pusat penyebaran.
Bandar udara untuk pendaratan dan lepas landas helikopter
Berdasarkan penggunaannya, bandar udara dikelompokkan
untuk nrelayani kepentingan angkutan udara disebut heliport,
menjadi: helipad dan he/ideck.
a. Bandar udara yang terbuka untuk melayani angkutan udara Berdasarkan fungsinya ruang lalu lintas udara dikelompok-
ke/dari luar negeri. kan atas:
b Bandar udqra yang tidak terbuka untuk melayani angkutan
a. Contralled airspace yaitu ruang udara yang ditetapkan batas-
udara ke/dari luar negeri.
batasnya, yang didalamnya diberikan instruksi secara positif
Berdasarkan statusnya, bandar udara dikelompokkan dari pemandu (air taffic controller) kepada penerbang (con-
menjadi: toh: control area, approach control area, aerodrome control
a. Bandar udara umum yang digunakan untuk melayani kepen- area);
tingan umum; b. l.-)ncontrolled airspace yaitu ruang lalu lintas udara yang di-
b. Bandar udara khusus yang digunakan untuk melayani kepen- dalamnya hanya diberikan informasi tentang lalu lintas yang
tingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu. d iperl ukan (essentia/ traffic i nformation).

Berdasarkan penyelenggaraannya bandar udara dibedakan Ruang lalu lintas udara disusun dengan menggunakan prin-
atas: sip jarak terpendek untuk memperoleh biaya terendah dengan
a. Bandar udara umum yang diselenggarakan oleh pemerintah, tetap memperhatikan aspek keselamatan penerbangan.
pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota atau badan Dalam Sistem Transportasi Nasional, jaringan transportasi
usaha kebandarudaraan. Badan usaha kebandarudaraan da- merupakan salah satu unsur yang sangat penting, karena mengatur
pat mengikutsertakan pemerintah provinsi, pemerintah kabu- kegiatan pelayanan transportasi yang menghubungkan simpul-
paten/kota dan badan hukum lndonesia melalui kerjasama, simpul transportasi yang tersebar di seluruh wilayah tanah air,
namun kerjasama dengan pemerintah provinsi dan atau kabu- melalui ruang lalu lintas (trayek/rute) utama, pengumpan, dan
paten/kota harus kerjasama menyeluruh. perintis. Susunan trayek/rute utama, pengumpan, dan perintis,
b. Bandar udara khusus yang diselenggarakan oleh pemerintah, menyerupai pola pohon konvensional (conventional tree pattern)
pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota dan badan yang terdiri dari batang, dahan, cabang dan ranting. Seluruh
hukum lndonesia. ruang lalu lintas transportasi tersebut membentuk satu kesatuan
pelayanan transportasi nasional yang utuh.
Berdasarkan kegiatannya bandar udara terdiri dari bandar
udara yang melayani kegiatan: -oo0oo-
IGBIIRIMil [I SEIfiOR
IR[lrSP0Rr[Sl

4.1 Tujuan Kebijakan Menurut Unsur-unsur


Transportasi
alam pembahasan mengenai kebijakan pemerintah dan
tujuantujuannya dapat dikemukakan bahwa di sektor trans-
portasi terdapat berbagai unsur yang masing-masing mem-
pu nyai tuj uan yang berbeda-beda. Kadang-kadan g tuj uan-tuj uan terse-
but tidak selalu sejalan dan bahkan bertentangan satu sama lainnya.
Bila terdapat pertentangan di antara tujuan-tujuan tersebut, maka dira-
sakan pentingnya peranan kebijakan. Pada umumnya unsur-unsur di
sektor transportasi dapat dikelompokkan menjadi lima macam, yaitu
para operator (penyedia jasa transportasi), tenaga ker.ia di sektor trans-
poftasi, pemakai atau pengguna jasa transportasi, dan masyarakat se-
cara Iuas, dan pemerintah.

Maksimisasi keuntungan merupakan tujuan umum para pe-


nyedia jasa transportasi. Metoda untuk meningkatkan keuntungan
di antaranya dengan menempuh cara meniadakan kapasitas yang
terlalu besar, pemanfaatan modal se-efektif dan se-efisien mungkin,
mengurangi tenaga kerja yang berlebihan dan pemanfaatan tenaga
kerja dengan sebaik-baiknya, serta meniadakan jasa pelayanan yang
32 Joringon Tronsportasi: Teor i don Anolisis Kcl>ijokon di Sektor h ouslxu l ttsi t3

sebenarnya tidak diperlukan yaitu untuk memberikan kepuasan kepa-


rl.rn kearmanan nasional. Masyarakat menginginkan jasa transportasi
da para pemakai jasa transportasi sebagai konsumen. Para penyedia yang sebaik mungkin dengan tarif angkutan yang semurah-murahnya
jasa transportasi mengharapkan dapat mencapai tujuan penghematan
rlan dijamin kelancaran dan keselamatannya. Ditinjau dari kerangka
biaya tersebut tanpa mengurangi tingkat biaya yang telah ditetapkan
kebijakan transportasi dan struktur ekonomi nasional, struktur industri
atau mengurangijumlah penghasilan yang diterima. Tujuan tambahan
transportasi yang diinginkan oleh masyarakat yaitu bebas dari eksploi-
lainnya dapat dikemukakan yaitu dapat mengenakan tarif angkutan
tasi monopoli tetapi memiliki daya persaingan yang sehat.
yang setinggitingginya bila dimungkinkan oleh peraturan yang berla-
ku dan kemampuan membayar para pemakai jasa transportasi.
4.2 Kebijakan Nasional Transportasi
Tujuan yang diinginkan oleh tenaga kerja di sektor transportasi
Transportasi diartikan sebagai kegiatan nremindahkan barang
pada lain pihak, yaitu memperoleh upah buruh yang lebih tinggi un-
dan orang dari suatu tempat ke tempat lain. Senantiasa terdapat usaha
tuk jenis pekerjaan yang sama atau untuk pekerjaan yang lebih ringan,
atau ikhtiar untuk memperbaiki keadaan sarana dan prasarana trans-
kepastian pekerjaan dengan penghasilan yang tetap, dan kondisi pe-
portasi yang ada dewasa ini meniadi lebih efektif dan efisien dalarn
kerjaan yang lebih baik. Dalam berbagai tingkat, tujuantujuan terse-
melayani jasa transportasi. Hal ini merupakan salah satu penun.iang
but bertentangan dengan tujuantujuan para penyedia jasa transportasi
untuk meningkatkan standar hidup masyarakat. Standar hidup yang
(operator).
meningkat itu berarti pemenuhan kebutuhan masyarakat meningkat
Tujuan para pemakai jasa transportasi ialah tersedianya jasa tran- pula ditinjau dari segi kuantitasnya ataupun kualitasnya, hal ini menr-
sportasi yang iebih luas dengan tarif angkutan yang lebih murah. Me- buat lalu lintas berkembang secara lebih nyata.
reka menginginkan dapat lebih leluasa memilih di antara perusahaan-
Pembangunan transportasi bertujuan untuk memperlancar arus
perusahaan pengangkutan dan di antara jenis-jenis alat transportasi
angkutan orang dan barang dalam kehidupan bangsa dan negara di
),ang akan digunakan. seluruh wilayah dan daerah, termasuk pula angkutan ke/dari daerah
Tujuan pemerintah sebagai regulator, mengharapkan kegiatan pedesaan dan daerah terpencil. Untuk menunjang pembangunan yang
pelayanan transportasi berlangsung secara lancar, tertib dan teratur, semakin meningkat diharapkan agar kegiatan-kegiatan transportasi
berkapasitas cukup, tidak terjadi dampak negatif yang besar (misalnya dapat diselenggarakan secara serasi, seimbang, terkoordinasi, terkon-
kemacetan dan kecelakaan. solidasi, dan terintegrasi serta harmoni.

Masyarakat luas dapat pula mempunyai tujuan yang sama seper- Serasi berarti bahwa muatan yang tersedia itu diangkut oleh
ti penyediajasa transportasi, tenaga kerja di sektor transportasi, atau aiat-alat transpor yang tepat; tepat dalam arti jumlah, jenis, dan kapa-
pemakai jasa transportasi. Masyarakat mempunyai tujuan yang lebih sitasnya. Seimbang dimaksudkan bahwa pelayanan jasa transportasi
umum dan seringkali tidak mudah untuk didefinisikan. Pada umum- diselenggarakan di seluruh wilayah secara cukup. Terkonsolidasi arti-
nya masyarakat menginginkan suatu sistem transportasi yang sehat, nya memanfaatkan kapasitas alat-alat transprotasi yang tersedia secara
yang tersedia setiap kali diperlukan dan mampu melayani semua per- maksimum. Terkoordinasi artinya kegiatan dari masing-masing cabang
mintaan sehari-hari dan yang bersifat luar ltiasa, misalnya untuk ke- transportasi tidak dilakukan sendiri-sendiri melainkan secara harmo-
pentingan hari raya lebaran atau untuk rn.rksud-maksud pertahanan nis memperhatikan cabang-cabang transportasi lainnya. Terintegrasi
34 Joringon Transportosi: Teotl dou Anolisis Kebi jokort di Sektor Ii ortslxtr losi

d i maksudkan bahwa kegiatan-kegiatan transportas i mas i ng-mas i n g ca- waktu membangun suatu jaringan kereta api baru atau demikian
p.rclar
bang dan antara cabang-cabang transportasi disusun sedemikian rupa pula sebaliknya, dan biasanya meremehkan dalam perhitungan biaya.
sehingga terlaksana dalam satu sistem yang padu dan komprehensif Seringkali dihadapi persoalan yaitu untuk melanjutkan pemeliharaan
yang terakhir adalah bersifat harmoni, yang diartikan sebagai sema- investasi-investasi lama meskipun alat-alat atau fasilitas-fasilitas
ngat dan niat untuk melakukan kegiatan sistem transportasi meliputi transportasi yang lain ternyata tidak ekonomis, seperti halnya antara
seluruh sub sektor transportasi mencapai tujuan dan sasaran lebih baik jaringan-jaringan kereta api yang tidak menguntungkan dan jalan-jalan
(dalam artian lebih efektif dan efisien) serta tidak menimbulkan ben- raya yang paralel dengan jaringan-jaringan tersebut.
turan ataupun konflik kepentingan.
Kaitan antara tarif dan biaya transportasi; untuk membanding-
kan alokasi dana secara efisien di sektor transportasi dan sektor-sektor
4.3 Kebijakan dan Kegiatan Operasional lainnya, dan untuk mendistribusikan lalu Iintas secara optimum di
Transportasi antara alat-alat transportasi yang bersaingan satu sama lainnya, harus
Banyak program transportasi tidak disertai pembahasan yang d i usahakan agar tarif angkutan mencerm i n kan bi aya-b iaya transportasi
seksama mengenai kebijakan dan kegiatan operasional transportasi. kelompok lalu lintas utama yang dilayani, baik untuk jaringan trans-
Pembahasan yang mengkaitkan kebijakan dan kegiatan operasionalnya portasi secara keseluruhan maupun untuk suatu trayek secara indivi-
dimaksudkan agar supaya dapat diciptakan utilisasi investasi yang dual. Tarif angkutan umum di negara-negara yang sedang berkembang
ada secara efisien dan rninimisasi kebutuhan investasi baru. Hal ini seringkali ditetapkan di bawah tingkat biayanya karena pembiayaan
penting khususnya untuk negara-negara yang sedang membangun transportasi diambilkan dari tabungan negara.
mengingat adanya kelangkaan modal, kebutuhan yang mendesak
Pungutan terhadap para pemakai fasilitas transportasi; pada
untuk melaksanakan investasi transportasi, dan komponen dana devisa
umumnya di negara-negara yang sedang berkembang, pemerintah tidak
yang sangat terbatas.
menekankan pada pungutan dari para pemakai jalan raya, pelabuhan
Dalam beberapa kebijakan yang sangat penting, suatu survai laut, bandar udara dan lain sebagainya. Dana untuk membiayai
transportasi harus menguji: (1) rasionalitas kriteria yang digunakan un- pelayanan fasilitas-fasilitas tersebut dikumpulkan dari pajak bahan
tuk menentukan investasi-investasi baru, (2) kaitan antara tarif dan bi- bakar minyak, pembayaran perizinan, pajakjalan raya dan pungutan-
aya transportasi, (3) pungutan terhadap para pemakai fasilitas transpor- pungutan lainnya. Di negara-negara Amerika Latin para pemakai jalan
tasi, (4) sifat sistem pengaturan, dan (5) kebijakan-kebijakan lainnya. raya membayar kurang dari setengah biaya pembangunan jalan raya.

Rasionalitas kriteria yang digunakan untuk menentukan investasi Sifat sistem pengaturan, survai transportasi harus membahas
baru; hanya sedikit negara yang mendasarkan investasi transpoftasinya pula kebijakan pemerintah mengenai peraturan-peraturan angkutan
pada aplikasi teknik biaya-manfaat (cost-benefit technigue) secara jalan raya, pelayaran dan penerbangan" Masing-masing mengatur ten-
sistematis. Stud i-stud i transportasi yang telah d i laksanakan mempu nyai tang penggunaan alat-alat transportasi, pemberian I isensi (perizinan),
berbagai kelemahan seperti pemakaian perhitungan tingkat bunga penetapan trayek atau rute, tarif angkutan, masalah pengawasan dan
modal yang rendah sedangkan biaya opportunity modal lebih tinggi, ketertiban lalu lintas, dan lain-lainnya.
tidak memperhatikan alternatif pengembangan angkutan jalan raya
36 Jaringon Transportosi: Teori don Anolisis Ke'bi jokon di Sektor h urslxn tosl 37

Kebijakan-kebijakan lainnya yang perru dibicarakan di antara- 4.4 Pemerintah Sebagai Regulator
nya yaitu: ('l) bagaimana pengaruh pajak dan bea masuk terhadap per-
Peranan pemerintah sebagai regulator sangat diperlukan dalam
usahaan-perusahaan pengan gkutan d i berbaga i su b sektor transportas i
mengatur, membina dan mengawasi penyelenggaraan pelayanan tran-
(darat, laut dan udara), (2) penyediaan fasilitas kredit apakah peme_
sportasi. Dal am kegiatan operasional transportasi, pemeri ntah menen-
rintah menetapkan persyaratan yang berbeda-beda untuk perusahaan-
tukan trayel</rute transportasi, menetapkan tarif angkutan, melakukan
perusahaan pengangkutan, (3) apakah pemerintah berusaha untuk
pengaturan lalu lintas kendaraan bermotor, melakukan kir kondisi fi-
mengalokasikan lalu lintas secara langsung pada alat-alat transpor-
siMeknis kendaraan dan pengawasan kelayakan/kelaikan kendaraan,
tasi tertentu, (4) apakah pemerintah menguasai produksi dan impor
dan melakukan evaluasi terhadap kegiatan pelayanan transportasi,
berbagai jenis alat transportasi dan suku cadangnya, dan (5) apakah
dan sebagainya.
pemerintah memberikan suatu penugasan kepada perusahaan-perusa-
haan pengangkutan tertentu untuk melayani jasa transportasi khusus Dalam kebijakan transportasi secara nasional, pemerintah me-
tanpa memberikan kompensasi yang cukup. rumuskan berbagai strategi dan upaya yang diarahkan utamanya kepa-
da: (1) meningkatnya kualitas pelayanan transportasi, (2) meningkatnya
Suatu survai transportasi harus membahas pula segi kelem-
keselamatan dan keamanan transportasi, (3) meningkatnya pembinaan
bagaan, Bagaimana suatu organisasi transportasi disusun secara na-
pengusahaan transportasi, (4) meningkat-nya kual itas sumberdaya ma-
sional, bagaimana ruang lingkup kekuasaan dan kewenangannya
nusia, serta ilmu pengetahuan dan teknologi, (5) meningkatnya pemeli-
apakah organisasi tersebut meliputi seluruh sektor transportasi atau-
haraan dan kualitas lingkungan hidup serta penghematan penggunaan
kah nrasing-masing sub sektor membentuk organisasinya sendiri dan
energi, (6) meningkatnya penyediaan dana pembangunan transportasi,
bagaimana cara koordinasinya, apakah staf dari organisasi-organisasi
dan (7) meningkatnya kualitas administrasi negara di sektor transpor-
tersebut terampil, dan apakah pengumpulan data dan sistem statistik
tasi (SISTRANAS, 2005).
sudah dilaksanakan dengan baik, sehingga kebijakan-kebijakan yang
telah digariskan dapat dilaksanakan secara cermat dan berhasil guna. Kebijakan transportasi meliputi banyak aspek. Pemerintah seba-
gai regulator harus mampu menyelenggarakan pelayanan transportasi
selanjutnya mengenai kegiatan operasional dijelaskan bahwa
nasional secara efektif dan efisien, dalam arti harus memperhatikan
usaha-usahanya untuk meminimisasikan kebutuhan untuk investasi
kepentingan seluruh unsur, yaitu pihak pengguna jasa transportasi,
baru dapat dilakukan dengan cara perbaikan-perbaikan operasional,
pihak perusahaan transportasi (operator), pihak tenaga kerja di sek-
yang biasanya meliputi aspek-aspek yang sangat luas dan ekstensif,
tor transportasi, dan pihak masyarakat secara keseluruhan, serta dari
khususnya untuk kereta api dan pelabuhan, demikian pula untuk
pihak pemerintah sebagai regulator dan fasilitator penyelengaraan ke-
jalan raya. Perbaikan-perbaikan tersebut menyangkut semua tingkat
giatan transportasi
kegiatan operasional mulai dari utilisasi yang lebih baik dari alat-alat
vang digunakan sampai pada perneliharaan yang lebih baik dari jalan- -oo0oo-
jaian raya yang telah dibangun, praktek perburuhan yang lebih baik,
sistenr akuntansi dan statistik modern, peraturan-peraturan organisasi
dan prosedur administrasi yang tepat
PTR TlI GI]IIffI PTilI BA]I GU ]IMI

5.1 Perlunya Perencanaan Pembangunan


engapa (why) perlu dilakukan perencanaan? Seringkali
dikemukakan bahwa mengapa perlu dilakukan perenca-
naan bagi suatu negara dikaitkan dengan falsafah yang
dianut oleh suatu negara. Dalam suatu negara atau masyarakat yang
menganut falsafah sosialisme berpendapat bahwa arah pembangu-
nan yang baik hanya dapat dilakukan melalui suatu pengarahan atau
campur tangan pemerintah, yan1 didasarkan pada penciptaan tujuan,
yakni:
1. Penggunaan sumberdaya pembangunan secara efektif dan efisien.
2. Perubahan struktural perekonomian dan sosial masyarakat.
3. Untuk kepentingan keadilan sosial.
Dewasa ini alasan di atas tidak berlaku lagi. Ada perencana-
an yang berusaha mengurangi keterlibatan pemerintah dalam pem-
bangunan sosial ekonomi masyarakat. Yang benar adalah bahwa
perencanaan itu dipergunakan sebagai suatu alat atau cara untuk men-
capai tujuan dengan lebih baik.

Perencanaan sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan mempu-


nyai alasan sebagai berikut:
Pe renconoan Pembongururr 41
Joringon Tronsportosi: Teori don Anolisis

1. Dengan perencanaan diharapkan terdapat suatu pengarahan dan 5.2 Pengertian dan Fungsi Perencanaan
pedoman pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan pem- Perencanaan mempunyai arti yang luas. Beberapa rumusan
bangunan. tentang pengertian perencanaan terutama dengan fungsinya dapat
2. Dengan perencanaan dilakukan perkiraan (forecasting) mengenai dkemukakan sebagai berikut (8. Tjokroamidjojo, 1982):
potensi, prospek, hambatan dan risiko yang dihadapi. 1. Perencanaan adalah suatu proses mempersiapkan secara siste-
3. Perencanaan memberikan kesempatan untuk memilih berbagai matis kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai
alternatif yang terbaik (the best alternative) dan memilih kombi- suatu tujuan tertentu.
nasi yang terbaik (the best combination). 2. Perencanaan adalah suatu cara bagaimana mencapai tu,iuan se-
4. Dengan perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas, yaitu baik-baiknya dengan sumber-sumber daya yang ada lebih efisien
menentukan urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran dan dan efektif.
kegiatan pembangunan. 3. Perencanaan adalah penentuan tujuan yang akan dicapai (dilaku-
5. Pelaksanaan rencana diikuti dengan kegiatan pengawasan dan kan) bagaimana, bilamana dan oleh siapa.
evaluasi 4. Perencanaan pembangunan adalah melihat ke masa depan de-
Dasar alasan suatu perencanaan dari segi ekonomi adalah: ngan menentukan pilihan berbagai alternatif kegiatan untuk men-
1. Penggunaan dan alokasi sumberdaya pembangunan yang terbatas capai tujuan masa depan.
itu dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Diupayakan untuk 5. Perencanaan adalah suatu proses kegiatan usaha yang terus
menghindari keborosan untuk mencapai hasil/output secara opti- menerus dan menyeluruh dari penyusunan suatu rencana, penyu-
mal. sunan program kegaitan pelaksanaan (implementasi).
2. Pertumbuhan ekonomi secara mantap dan terus menerus me-
Sistem Pengawasan dan Evaluasi Pelaksanaannya
ningkat.
Tahaptahapan dalam suatu proses Perencanaan dan Pelaksa-
3. Stabilitas ekonomi lebih mantap dan dinamis.
naan Pembangunan adalah sebagai berikut (8. Tjokroamijojo, 1982):
Perencanaan ekonomi dilakukan karena adanya kelemahan
1. Penyususunan Rencana
ekonomi pasar.
a. Tinjauan keadaan (Revlew) baik sebelum memulai sesuatu
'1. Perencanaan untuk menanggulangi ketidakstabilan ekonomi atau rencana atau mengenai pelaksanaan rencana sebelumnya.
fluktuasi konjungtur. b. Perkiraan keadaan masa depan (Forecasting)
2. Ekonomi pasar mengakibatkan distribusi pendapatan yang kurang c. Penetapan tujuan rencana (Plan Obyectives) dan pemilihan
adil. cara-cara pencapaian tuj uan rencana tersebut.
3. Mekanisme pasar mempunyai kekurangan dalam soal hubungan d. ldentifikasi kebijaksanaan dan kegiatan usaha yang perlu di-
upah. lakukan dalam rencana (Policy)
2. Penyusunan Program Rencana
Perumusan lebih terinci mengenai tujuan dalam jangka waktu
tertentu, jadwal kegiatan, jumlah dan .iadwal pembiayaan serta
42 Jor irrgon Transportosi: Teot i tlott Arurlisis Pe r enconoan Pembongutrort 43

penentuan lembaga yang melakukan program-program pemba- 5.5 Tahap-tahap Dalam Proses Perencanaan
ngunan.
Proses penyusunan rencana pada umumnya dibagi dalam
3. Pelaksanaan Rencana beberapa tahap yaitu:
Perlu dibedakan antara tahap eksplorasi, tahap konstnrksi, dan
1. Tahap makro di mana ditentukan tujuan dan peralatan pem-
tahap operasi).
bangunan oleh pemerintah.
4. Pengawasan atas pelaksanaan rencana tujuannya adalah supaya 2. Tahap sektoral dan atau regional.
pelaksanaan rencana berjalan sesuai dengan rencana jika terdapat 3. Tahap proyek (jenis jumlah dan lokasinya)
penyimpangan dapat dilakukan tindakan korektif.
5. Evaluasi Rencana
Jika telah ditetapkan targettarget regional secara jelas, maka
dapat dilakukan perencanaan regional dalam taraf perencanaan ma-
Hasil-hasil evaluasi adalah untuk perbaikan terhadap perencanaan
kro, jika tidak maka rencana regional hanya dapat disusun sesudah
selanjutnya.
di lakukan seleksi proyek-proyek.

5.3 Tujuan Pembangunan


5.6 Jangka Waktu Rencana
Pada umumnya suatu rencana menurut tujuan, antara lain:
Secara umum dapat dibagi dalam tiga kategori (besar) yaitu:
(a) mencapai kenaikan (pertumbuhan) pendapatan per kapita secara te-
pat, (b) menyediakan kesempatan kerja yang cukup (c) mengusahakan
'!. Rencana perspektif atau rencana jangka panjang (20-30 tahun).
pembagian pendapatan lebih merata, (d) mengurangi kesenjangan Biasanya menunjukkan arah umum perkembangan perekonomian
(ketimpangan) dalam tingkat pertumbuhan antara daerah (e) merubah nasional dan perubahan struktural yang penting.
struktur perekonomian lebih seimbang. Masing-masing tujuan terse- 2. Rencana jangka menengah (medium term plan), sekitar 5 tahun.
but adalah penting, tetapi mungkin bertentangan satu sama lain, maka 3. Rencana jangka pendek (short term plan), merupakan rencana ta-
perlu ditentukan tuiuan mana yang harus didahulukan (diprioritaskan). hunan yang dicerminkan dalam budget pemerintah

5.4 Pentingnya Koordinasi 5.7 Konflik dan Permasalahan dalam Perencanaan


Pembangunan
Sifat yang khas dari rencana pembangunan, yaitu (a) selalu
berhubung dengan hari (masa) depan, (b) didasarkan pada beberapa
5.7.1 Place Prosperity vs People Prosperity
tujuan dan (c) memerlukan koordinasi yang digunakan untuk mencapai 1. Sasaran Pembangunan
tujuan-tujuan tersebut. Koordinasi ini perlu untuk menghindari adanya Untuk menjamin terlaksananya pembangunan nasional secara
inkonsistensi dalam perencanaan. integral dan menyeluruh, maka terdapat keharusan untuk meng-
Makin banyak dipakai peralatan kebijakan, makin perlu koor- usahakan keserasian atau keselarasan antara pembangunan sek-
dinasi peralatan kebijakan yang dapat digunakan antara lain: (a) per- toral dan pembangunan regional. Dalam hubungan ini harus
pajakan langsung dan tidak langsung (b) pengeluaran pemerintah, disadari bahwa masing-masing daerah atau wilayah mempunyai
(c) tingkat gaji dan upah.
Jaringon Tronsportasi: Teotl clotr Atrolisis
Pe'renconoon Pembangunon

potensi dan kemampuan pembangunan yang tidak selamanya


utamakan pertumbuhan ekonomi (economic growth) harus pula
harus sama, demikian pula masalah-masalah pembangunan yang
rnempertimbangkan faktor keadilan (equity).
sangat mendesak dihadapi oleh masing-masing wilayah berbeda
sifat dan macamnya antara wilayah yang satu dengan wilayah Ditinjau dari segi makro ekonomi sasaran pertama berkait-
yang lain. Oleh karena itu upaya pembangunan dalam tiap-tiap an dengan upaya untuk menciptakan keluaran maksimum lmaxi-
nnum output atau big aggregate), sedangkan sasaran kedua adalah
wilayah harus benar-benar dilaksanakan sesuai dengan potensi
rnengupayakan pemerataan pendapatan dan perluasan kesempat-
dan kondisi masing-masing wilayah.
an kerja dalam rangka mewujudkan keadilan masyarakat.
Pada tingkat nasional (balanced integration) kebijakan
pembangunan harus meliputi proses pengambilan keputusan dan 2. Efisiensi vs Keadilan
desain dalam melaksanakan proyek-proyek investasi pada tingkat Dalam pembangunan wilayah pemerintah harus mengutamakan
regional dan program-program ekonomi untuk wilayah-wilayah kemakmuran dan pertumbuhan seluruh masyarakat. Kebijakan
sub nasional. pemerintah selain ditujukan untuk membantu golongan ma-
Ditinjau dari fungsi perencanaan, maka rencana dan ke- syarakat yang kurang mampu, demikian pula diarahkan kepada
bijakan regional harus disesuaikan dengan tujuan ataupun sa- wilayah-wilayah yang relatif tertinggal, atau dengan perkataan Iain
saran pembangunan nasional. Jarang terdapat suatu program kebijaksanaan pemerintah harus didasarkan pada doktrin peop/e
pembangunan wilayah yang mempunyai sasaran tunggal (sing/e prosperity dan p/ace prosperity.
objective programme). Suatu perencanaan yang rasional harus Argumentasi pembangunan wilayah yang mengutamakan
mencakup sekurang-kurangnya dua sasaran, yaitu membantu me- efisiensi dimaksudkan untuk menunjang alokasi sumberdaya se-
ningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional (to promote growth cara efektif di berbagai wilayah. Hal ini berkaitan dengan per-
rn the national economy) dan memperbaiki ketidakserasian se- soalan bagaimana memanfaatkan sumberdaya secara lebih baik.
bagai akibat dari disparitas antarwilayah (to handle inequalities Argumentasi lainnya mendasarkan pada keadilan, yang berarti
resulring f ro m I arge i nte r regi on al d i spariti es). bahwa pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk membantu
Dalam upaya mewujudkan sasaran pertama yakni me- wilayah-wilayah yang kurang maju. Karena penduduk mempu-
ningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka harus dibandingkan nyai mobilitas, maka upaya yang terbaik adalah membantu pen-
pengaruh peningkatan kegiatan pembangunan ekonomi secara duduk yang kurang makmur yang tinggal di suatu daerah tertentu
regional atau yang terjadi di berbagai lokasi. Berapa banyak in- agar mereka berani pindah ke daerah lain. Walaupun tidak se-
vestasi yang harus dilaksanakan pada sektor-sektor tertentu tidak cara sempurna kenyataan menunjukkan bahwa migrasi dapat
mudah diterapkan tanpa memperhatikan perbaikan sistem trans- melayani berbagai sasaran pembangunan wilayah, yaitu dalam
portasi dan komunikasi, penyebaran penduduk, dan kegiatan hal peningkatan efisiensi pemanfaatan sumberdaya, pemerataan
ekonomi secara regional, baik pada waktu sekarang maupun pada pembangunan dan keadilan serta distribusi kesempatan kerja dan
masa depan. Selanjutnya bila dikaitkan dengan sasaran kedua, pembangunan pada umumnya.
maka berarti bahwa sasaran pembangunan nasional selain meng- Dalam kenyataan sangat sukar untuk menghitung atau
mengukur se+iii-Gpat
'i,
kemakmuran nasional dan keadilan. Tidak
- ;
| ;

I r:r,... ... )ii


! t .Li, .. r< ir,r.ro i
l__.*..f;,r-,,:, ,r..;.. r i:*,.,r,2 j
Jaringan Transportasi: Teorl don Anoltsts Pe renconoan Pembongunon

mustahil bahwa sasaran pembangunan wilayah mungkin saja tidak nasional, sehingga dalam upaya untuk meminimisasikan kebijakan-
sesuai dengan tujuan pembangunan nasional. Upaya-upaya untuk kebijakan regional yang bersifat antagonistis, maka campur tangan
memaksimisasikan pendapatan perkapita dianggap bertentangan pemerintah pusat tidak dapat dielakkan. Meskipun sudah disusun
dengan upaya-upaya untuk mempersamakan atau menserasikan berbagai kebijaksanaan dan peraturan pemerintah pusat, akan tetapi
ti ngkat h id up masyarakat secara antarw i ayah.
I belum dapat dikatakan bahwa konsistensi pembangunan wilayah
yang optimal dan pembangunan nasional yang optimal sudah tercapai
5,7.2 Growthrafguify
secara positif, disebabkan karena terdapatnya ketidaksempurnaan
Kemajuan wilayah dapat dibandingkan secara rasional dengan pasar dan adanya limitasi-limitasi atau keterbatasan lainnya.
menggunakan ukuran pertambahan keluaran (the increment in output).
Hal ini dapat dilakukan pula dengan cara membandingkan besarnya 5.7.3 Top Down Planning vs Bottom Up Planning
biaya dan manfaat proyek-proyek investasi regionar terutama pada Perencanaan pembangunan ekonomi dapat dibedakan yaitu (1)
masa depan, hal ini berarti bahwa opportunity cost dari suatu proyek top down planning dan (2) bottom up planning.
investasi merupakan faktor pertimbangan yang penting.
Top Down Planning (Perencanaan dari atas ke bawah)
contoh sederhana dapat dikemukakan sebagai berikut: terdapat Perencanaan pembangunan ekonomi dilakukan oleh pemerin-
dua buah industriyaitu industri A (makanan) dan industri B (pakaian), tah pusat. Pemerintah pusatlah yang menetapkan apa saja yang akan
serta dua buah wilayah yakni wilayah (1)dan wilayah (2), lndustri B dibangun di daerah-daerah, sedangkan pemerintah daerah hanya
Iebih efisien di wilayah (t), sedangkan industri A lebih efisien untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan apa yang telah digariskan
wilayah (2). lndustri A merupakan industri yang lebih efisien secara oleh pemerintah pusat.
nasional. Wilayah (2) merupakan wilayah yang makmur, sedangkan
Pemerintah pusat telah menetapkan proyek-proyek apa yang
wilayah (1) kurang berkembang. selanjutnya timbul pertanyaan, yaitu
akan dibangun dan besarnya dana yang akan disalurkan. Kelemahan
industri apakah yang harus dibangun lebih dahulu. Jika seseorang per-
top down planning yaitu apa yang akan dibangun itu sering kurang
encana menetapkan industri A yang lebih dahulu harus dibangun di
bermanfaat karena tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat/daerah
wilayah ('l), hal ini jelas tidak mengutamakan argumentasi efisiensi,
yang bersangkutan, oleh karena itu harus dilakukan perencanaan ber-
akan tetapi lebih mementingkan pertimbangan keadilan dan kepen-
dasar pada need assessment (yang dibutuhkan oleh daerah setempat).
tingan sosial. Perencanaan pembangunan yang hanya semata-mata di-
Kebaikan perencanaan pembangunan ini adalah lebih tepat, dalam
dasarkan pada pertimbangan efisiensi, yaitu melakukan investasi sum-
arti sesuai dengan kebutuhan daerah setempat dan lebih cepat pe.
berdaya pada pertimbangan efisiensi, dalam banyak hal tidak dapat
nyusunannya.
dipertanggungjawakan. Dalam hubungan ini harus disadari bahwa
industri yang memegang peranan utama (key industry) dalam suatu Bottom up Planning(Perencanaan dari bawah ke atas)
wilayah tidak selamanya merupakan industri yang memegang peranan
Perencanaan pembangunan ekonomi didasarkan atas usul-
utama dalam ekonomi nasional.
usul pemerintah daerah. Pemerintah daerah mengusulkan proyek-
Kenyataan menunjukkan bahwa seringkali terjadi inkonsistensi proyek dan sektor-sektor ekonomi apa saja yang akan dibangun di
antara sasaran pembangunan wilayah dan sasaran pembangunan daerahnya masing-masing. Pemerintah pusat akan menilai usul-usul
48 Joringon Transportosl: Teori don Anolisis l'e t enconeon Pembangunon

tersebut untuk selanjutnya rnenerimanya atau menolaknya. Kebaikan rli strktor-sektor lain dan berusaha untuk mengetahui areal distribusi
dari bottom up planning adalah bahwa apa yang akan dibangun itu l,roduksi yang dikehendaki. Hal ini sangat penting bukan hanya un-
akan sesuai dengan kebutuhan daerah dan akan lebih bermanfaat bagi tersendiri. Kelclmpok perencana secara
Itrl< sektor transpr:rtasi secara
masyarakat. l.()seluruhan harus rnemikirkan penentuan-penentuan lokasi proyek-
Proyek investasi (distribusi secara regional) dan untuk rnereka diper-
5.7.4 Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan Iul<an berbagai studi-studi regional. Dengan melengkapi studi regio-
Kecuali konsiderasi sektoral dalam penyusunan rencana pem- rral, berarti telah mempertimbangkan dimensi geografi dan tata ruang,
bangunan transportasi perlu pula diberikan pertimbangan mengenai ),.rng diharapkan perencanaan pembangunan telah disusun secara te-
aspek proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Penting- pat dan terabah.
nya perencanaan pembangunan bukan hanya untuk kepentingan Distribusi produksi yang terbaik secara regional tidak mudah
pembangunan nasional itu sendiri. Pembangunan yang tidak merata
clrtentukan sampai diketahuinya mengenai: (1) distribusi penduduk,
akan menimbulkan ketimpangan (kesenjangan) antar daerah yang ma- (2) pola perdagangan, (3) pola spasial kegiatan-kegiatan ekonomi dan
kin tajam (8. Tjokroamidlojo, 1982).
lainnya, (4) aliran tenaga kerja untuk melayani kebutuhan produksi,
16. Perkiraan (5) proyeksi volume transportasi untuk angkutan barang, dan bahan
lnformasi untuk
Perkembangan Jangka Perencanaan (statisti k, mentah dan pada masa depan, dan (6) permintaan jasa angkutan untuk
Panjang Penelitian dll)
1 5. Tinjauan Pelaksanaan
perjalanan bisnis antarkota dipengaruhi oleh kondisi geografis dan
2. ldentifikasi Masalah
14. Pengawasan Proaes Pembangunan pola perdagangan antardaerah dan internasional.
13. Pengendalian Perencanaan 3. Analisis Strategi
Pelaksanaan Kebijaksanaan Perencanaan pembangunan membutuhkan dukungan dilaku-
12. Komunikasi 4. Rencana Makro kannya perencanaan sektor transportasi. Perencanaan sektor trans-
Dukungan 5. Perkiraan Sumber
11. Kebijaksanaan Pembangunan
portasi meliputi salah satu aspeknya adalah perencanaan jaringan
Stabilitas Dan Pelaksanaan (Pembiayaan dll) transportasi. Perencanaan jaringan transportasi meliputi banyak jalan
10. Manajemen Pembangunan 6. Perencanaan Sektoral
Pelaksanaan Fungsi yang membentuk sistem jaringan prasarana (jalan) yang menjangkau
7. Perencanaan Regional
Pengaturan 8. Perancangan dan ke seluruh kota dan pusat produksi yang tersebar di seluruh wilayah.
Pemerintah
9. Aktivitas Rencana
Penganggaran Perencanaan jaringan transportasi harus mendasarkan pada (1) distri-
Program Pelaksanaan busi penduduk dan kegiatan sektor di berbagai (wilayah), (2) rencana
pemanfaatan ruang wilayah, (3) analisis kebutuhan jasa transportasi
5.8 Dimensi Tata Ruang Harus Diperhitungkan pada jaringan jalan di seluruh daerah (wilayah).
dalam Perencanaan Pembangunan
Jaringan prasarana transportasi dilengkapi jaringan pelayanan
Dimensi geografi (tata ruang) dalam pembangunan harus diper- transportasi membentuk jaringan transportasi. Jaringan prasarana
hitungkan pula karena menyangkut biaya transportasi dan kapasitas transpoftasi terdiri dari simpul-simpul transportasi (kota-kota) yang
dari fasilitas yang tersedia. Oleh karena itu perencanaan di sektor dihubungkan oleh prasarana jalan. Jaringan pelayanan transporta-
transportasi harus memperhitungkan pula perkembangan permintaan si memperlihatkan pergerakan lalu lintas manusia dan barang pada
Jaringon Tronsportasl: Teorl don Anolisis

trayek yang telah ditetapkan dan pada jalur non trayek. Dalam upaya
mewujudkan penyelenggaraan pelayanan transportasi yang efektif dan
efisien, sangat dibutuhkan dukungan perencanaan sektor transporta-
si, maka jelaslah bahwa perencanaan sektor transpoftasi (salah satu
unsurnya adalah jaringan transportasi) sangat penting fungsinya yang
sangat luas aspeknya, yaitu menunjang pembangunan ekonomi, so-
sial, politik, administrasi pemerintahan, dan pengembangan wilayah, PIIHIRAIISPIIRII$ DIIAM
serta pertahanan dan keamanan.
P T ]I G TIII BA]I OA]I W IIYAH
Jaringan transportasi menghubungkan perjalanan (manusia dan
barang) ke berbagai jurusan dari dan ke pusat-pusat kegiatan ekonomi
(produksi dan konsumsi) yang tersebar di berbagai wilayah. pergerak-
an kegiatan ekonomi dan transportasi di berbagai wilayah melalui
jaringan transportasi, yang berarti meningkatkan pengembangan wi-
layah. Jelaslah, bahwa tersedianya jaringan transportasi merupakan 6.1 lnterdependensi dan lnteraksi Antar Wilayah
unsur penunjang pengembangan wilayah dan pembangunan dalam
arti luas. Kontribusi jaringan transportasi dalam pembangunan perlu
dibahas secara teoretik dan dianalisis secara akademik.

-oo0oo-
I nterdependensi atau ketergantungan antarwilayah dalam in-
terpretasi suatu wilayah dapat dinyatakan sebagai suatu sistem
yangterpadu secara spasial. Suatu sistem diartikan sebagai suatu
kumpulan variabel-variabel yang saling berkaitan satu sama lain. Ber-
dasar kriteria ini kita tidak boleh mengkonsentrasikan semata-mata
pada ketergantungan yang berat sebelah pada segi suplai (wilayah
suplai dari suatu pusat permintaan) atau hanya pada segi perminta-
an (wilayah permintaan dari suatu pusat suplai). Jadi ketergantungan
antarwilayah tersebut harus didasarkan pada kedua segi yaitu segi
permintaan dan segi suplai (penawaran). Selanjutnya ketergantungan
antarwilayah dapat dilihat dari arus pertukaran dan lalu lintas perda-
ganSannya.

lnteraksi antarwilayah tersebut dapat pula ditunjukkan dalam


suatu matriks (lihat gambar 6.1). Dalam kotak yang diberi tanda 1
menunjukkan adanya ketergantungan antara kedua wilayah yang
bersangkutan, sedangkan kotak yang kosong berarti tidak ada keter-
hubungan.
52 Jaringon Transportosi: Teorl don Anolisis Polo Tronsportosi dolam Pengembongan Wilayah 53

al a2 a3 a4 as a6 a7 a8 ae 2ro

at I 1 1 1 1

a2 1 I 1 1

aj 1 I t 1 I

a4 1 1 I 1

as 1 1 1 1 I
a6 1 1 1 I

a7 1 1 1 1 1 1

as 1 1 1 1

ae 1 1 1 1 1

2rn 1 1 1 1 1

Cambar 6.1 Matriks lnteraksi AntarWilayah


Disamping kriteria homogenitas dan fungsionalitas terdapat vari-
abel lain yang dapat digunakan untuk ntenentukan batas-batas wilayah
yakni uniformitas intensitas, di mana penentuan suatu perangkat titik-
titik spasial dipengaruhi oleh rencana pemerintah. Penentuan wilayah-
wilayah perencanaan mungkin berubah dalam proses pertumbuhan
karena terjadinya perubahan dalam rencana pembangunan nasional.
Secara konseptualwilayah tersebut meliputi wilayah nodal yang mem-
punyai ciri yaitu terdapat suatu tempat sentral atau suatu kutub dan
daerah komplementer di sekitarnya lengkap dengan jaringan-jaringan
pasar. Konsep ini berarti pula suatu wilayah polarisasi, di mana pada
setiap titik spasial intensitas arus intern komoditi dan jasa lebih besar Gambar 6.2 Ketergantungan atau interaksi antartitik-titik spasial
dari pada intensitas arus ekstern.
Cambar 6.2. melukiskan adanya ketergantungan antartitik-titik
6.2 Struktur Hirarki dan Hubungan Fungsional
spasial, di mana semua elemen dikelompokkan dalam dua buah pe-
AntarPusat dan Kota
rangkat, dan selanjutnya kedua perangkat tersebut digabungkan dalam Konsentrasi kegiatan-kegiatan ekonomi terletak pada tata ruang-
suatu perangkat yang lebih besar. tata ruang yang pada umumnya adalah kota-kota. Proses industrial-
isasi dan urbanisasi ke kota-kota besar berlangsung terus dan bahkan
menunjukkan gejala yang semakin meningkat. Konsep tata ruang dan
'lr
Polo onsportasl dalom Perryenbongan Wilayoh 55
Joringan Tronsportosi: laor i tlttrt Anolisis

wilayah polarisasi muncul sebagai hasil dari observasi struktur kota- lnterdependensi pertukaran (pembelian dan pen.iualan) mencer-
kota. Dalam hubungan ini perlu ditunjukkan secara visual sistem dan minkan karakteristik suatu perangkat kota-kota regional dalam suatu
h rarki masyarakat daerah metropol is sam pai daerah-daerah pedesaan.
i lrerangkat yang lebih besar yaitu suatu bangsa dan negara. Wilayah
Tiap kota besar mempunyai suatu radius kota-kota satelit, dan selan- polarisasi didefinisikan sebagai perangkat kota-kota dengan daerah-
jutnya kota-kota satelit tersebut mempunyai desa-desa satelit. Cejala darah di sekitarnya yang mengadakan pertukaran lebih banyak dengan
ini sangat penting dalam perkembangan peradaban manusia, perkem- metropolis tingkat regional dari pada kota-kota lainnya yang mempu-
bangan industri dan perdagangan, di mana pertumbuhan kota telah nyai orde yang sama di suatu negara. Justifikasi dari pengertian di seki-
meningkat sangat pesat. tar pusat mempunyai keterhubungan dan ketergantungan yang erat
dengan pusatnya, jadi wilayah polarisasi berarti tidak autarkis, artinya
Struktur hirarkis pusat-pusat atau kota-kota dapat ditentukan bersifat terintegrasi antarpusat dan dengan komplementernya.
dengan menggunakan ukuran jumlah penduduk, tingkat kegiatan
ekonom i, tersed ianya ke en gkapan fas i I itas-fasi I itas pel ayanan, ti ngkat
I
6.3 Jaringan Transportasi dan Pola Transportasi
kemakmuran dan kemampuan berkembangnya. Pada umumnya kota-
kota besar mempunyai jumlah penduduk yang lebih banyak diban- Jaringan transportasi berfungsi menjembatani antara konsep wi-
layah polarisasi dan pengertian kutub-kutub pertumbuhan. Konsep-
dingkan dengan kota-kota kecil, fasilitas-fasilitas pelayanannya (ter-
konsep tersebut merupakan salah satu kunci permasalahan pengem-
utama fasilitas distribusi) tersedia relatif lengkap, demikian pula dalam
bangan wilayah. Suatu kutub pertumbuhan regional merupakan suatu
hal jumlah dan jenis lapangan kerja serta tingkat kemakmuran pen-
perangkat industri-industri yang berkembang yang terletak di daerah
duduknya.
perkotaan dan mendorong lebih lan.iut kegiatan-kegaitan ekonomi dan
Selain dari pada struktur hirarkis pusat-pusat atau kota-kota pembangunan pada umumnya ke seluruh wilayah pelayananya.
tersebut harus diketahui pula hubungan fungsionalnya secara hirarkis
antarpusat-pusat atau kota-kota tersebut, lihat gambar 6.3. Jaringan transportasi dapat disusun secara sederhana yaitu
menghubungkan pusat besar dengan pusat-pusat sedang, dan selanjut-
nya antara pusat sedang dengan pusat-pusat kecil. Pola transprotasi se-
macam ini disebut conventionalUee pattern yang mendasarkan pada
susunan pohon, yaitu terdiri dari batang, dahan, cabang dan ranting.
Dalam susunan trayek atau rute pelayaran dan penerbangan dikenal
trunk routes (rute utama) dan feeder routes (rute pengumpan). Jaring-
an jalan raya meliputi jalan arteri (urat nadi), jalan kolektor, dan ja-
lan lokal. Untuk melayani kegiatan pembangunan dan mobilitas yang
semakin meningkat dan meluas, maka jaringan transportasi nasional
harus dikembangkan sesuai dengan tingkat pertumbuhan arus muat-
an di seluruh wilayah. Jaringan transportasi yang menghubungkan
masing-masing-masing pusat ke seluruh pusat lainnya dikenal sebagai
Gambar 6.3 Hubungan Fungsiona/ Secara Hirarkis AntarKota
56 Joringon Tronsportasl: Teorl don Anallsls

"polygrid pattern" atau pola segala jurusan seperti yang terjadi da-
lam penerbangan di negara-negara yang maju. Dalam Cambar 6.4 di-
tunjukkan perbedaannya antara jaringan transportasi yang berbentuk
"conventional tree pattern" dan "polygrid pattern'.

l(0ils0110[$l lmu Hffift$

(1) 'Conventional Tree Pattern' (21 'Polygrid Pattern"


Gambar 6.4 laringan Transportasi Nasional
7.1 Metoda Konsolidasi
Jaringan transportasi terdiri dari jaringan prasarana jalan yang
alah satu unsur dari kebijakan transportasi nasional adalah pe-
menghubungkan kota-kota dan pusat produksi yang tersebar di seluruh
nyusunan kebijakan transportasi secara terkonsolidasi, seperti
wilayah, yang berfungsi melayani lalu lintas manusia dan barang dari
dikemukakan dalam Bab 4 di depan, itu perlu dilakukan pemba-
tempat asal ke tempat tujuannya. Jaringan prasarana jalan meliputi
hasan tentang metoda konsolidasi.
jalan rasional, jalan provinsi, jalan kabupaten/kota, dan jalan desa/
lingkungan. Arus komoditas hasil pertanian yang diantarpulaukan atau Manusia dan barang diangkut dengan menggunakan sarana
diekspor diangkut melalui jalan desa, jalan kabupaten, jalan provinsi angkutan. Kegiatan angkutan ini dikatakan dengan istilah lalu lintas
dan jalan nasional, untuk selanjutnya dikirim ke luar daerah (wilayah) (trafffic). Lalu lintas menghubungkan antara tempat (titik) asal dengan
nrenggunakan kapal laut, sebaliknya mendatangkan barang dari luar tempat (titik) tujuan. Jika digunakan hanya oleh satu alat (moda) trans-
daerah (wilayah) menempuh perjalanan melalui jalan nasional, jalan portasi disebut door to door transportation, tetapi sebagian besar ang-
provinsi, jalan kabupaten, dan jalan desa. kutan menggunakan lebih dari satu sarana angkutan. Dalam hubungan
ini, timbul persoalan yaitu pemilihan alat-alat transportasi yang akan
Perencanaan jaringan transportasi (yang meliputi jaringan prasa-
digunakan dalam suatu perjalanan. Pemilihan kombinasi alat-alat
rana transportasi dan jaringan pelayanan transportasi) memiliki pera-
transportasi tersebut pada umumnya ditentukan oleh faktor-faktor bi-
nannya yang sangat penting dalam menunjang pembangunan secara
aya dan kenyamanan.
luas. Jaringan transportasi dapat diibaratkan sebagai jaringan urat da-
rah, yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh manusia. Konsolidasi lalu lintas diartikan sebagai upaya untuk memanfaat-
kan kapasitas moda transportasi secara maksimum dengan mengguna-
-oo0oo-
kan alat transportasi yang lebih serasi (kendaraan besar dan kendaraan
kecil). Pemanfaatan kapasitas sarana angkutan digunakan kriteria fak-
Jaringon Transportosl: Teorl don Anolisis Konsolidasi lolu Lintos 59

tor muatan (load factor untuk angkutan barang dan passenger factor Ketiga metoda konsolidasi lalu lintas tersebut diperlihatkan
untuk angkutan manusia). Faktor muatan adalah perbandingan besar- dalam gambar 7.1.A, 7 .1 .8, dan 7.1.C, berikut ini:
nya muatan yang diangkut dengan kapasitas angkut kendaraan yang
digunakan. Faktor penumpang adalah perbandingan jumlah kursi
yang terjual dengan kapasitas kursi yang tersedia dalam kendaraan
yang digunakan. Semakin tinggi faktor muatan dan faktor penumpang
"\_-
berarti lebih menguntungkan bagi perusahaan transportasi, karena bi-
aya transportasi per ton atau per penumpang/kilometer lebih rendah. Sebelum Konsolidasi Setelah Konsolidasi
Biaya transportasi per ton/kilometer yang rendah tersebut dapat di-
Gambar 7.1A
peroleh dengan menggunakan kendaraan berukuran besar.

Berbagai metoda konsolidasi lalu lintas dapat dikemukakan,


yaitu:
1. Pemindahan lalu lintas dari kendaraan-kendaraan kecil ke kenda-
raan-kendaraan besar.
2. Pemuatan dan redistribusi lalu lintas untuk mengurangitotaljarak Sebelum Konsolidasi Setelah Konsolidasi
yang ditempuh.
Gambar 7.lB
3. Mengurangi frekuensi angkutan.
Hari Kendaraan Kecil, Sedan, Besar
Yang pertama, diasumsikan sejumlah penumpang atau muatan
berasal dari tempat-tempat yang berbeda, tetapi tujuannya sama.
1

E
Konsolidasi lalu lintas dilakukan oleh kendaraan-kendaraan kecil ke
suatu tempat tidak jauh dari tempat asal muatan, kemudian diangkut
2
t:]
menggunakan kendaraan besar ke tempat tujuannya. 3
E
Yang kedua, tempat asal dan tempat tujuan berbeda-beda.
Konsolidasi angkutan dilakukan yaitu dari beberapa tempat asal ke
4
tl
beberapa tempat tujuan diangkut oleh kendaraan kecil, sedangkan
angkutan antaranya dilakukan oleh kendaraan besar.
5
tl
Gambar 7.lC Mengurangi Frekuensi Angkutan
Yang ketiga, lalu lintas sejumlah muatan yang dilakukan setiap
hari dapat dikurangi menjadi 2hari atau 3 hari dalam setiap minggu, Metoda konsolidasi Iainnya dapat dilakukan dengan pembatasan
yang dilakukan dengan kendaraan-kendaraan yang berukuran lebih tempat-tempat pemberhentian. Titik-titik asal dan titik-titik tujuan un-
besar. tuk pengangkutan barang mungkin terdapat tersebar sepanjang suatu
trayel</rute, tetapi dapat pula hanya terdapat pada beberapa tempat
saja. Pemilihan tempat{empat pemberhentian dipengaruhi oleh vo-
Jaringon Tronsportasi: Teorl tlon Anolisis Konsolidasi lolu Li ntos 61

lume lalu Iintas yang berasal atau yang berakhir pada beberapa tem- Bentuk dan luas terminal berbeda-beda untuk berbagai kegiatan
pat, dan selanjutnya angkutan berikutnya dilayani jasa transportasi transportasi. Terminal ditempatkan pada awal dan akhir suatu trayek/
lokal di tempat-tempat pemberhentian tersebut. rute dan biasa pula terdapat pada titiktitik perantara sepanjang traye[</
Konsolidasi lalu lintas dapat diklasifikasikan sebagai berikut: rute tersebut. Pada titik-titik tersebut barang-barang dan penumpang
diangkut dan diturunkan oleh kendaraan-kendaraan yang singgah ke
1. Mengkonsolidasikan muatan kendaraan kurang penuh menjadi
terminal tersebut.
bermuatan penuh (kendaraan yang /ess than carload menjadi car-
load). Terminal melayani kegiatan-kegaitan, misalnya:
2. Kendaraan bermuatan penuh ditingkatkan melalui penambahan 1. Barang-barang yang diakumulasikan sebelum diangkut melalui
muatan yang diangkut dengan menggunakan kereta gandengan terminal. Pemuatan secara langsung dari suatu fasilitas transpor-
sehingga total muatan yang diangkut bertambah banyak. tasi ke sarana transportasi yang lain akan menimbulkan kongesti
3. Menggunakan peti-peti kemas untuk mempercepat pemuatan, (kemacetan) pada titik pemuatan dan menyebabkan kelambatan
pengangkutan dan pembongkaran barang muatan. Penggunaan dalam pemberangkatan sarana transportasi. Terminal pada titik
peti-peti kemas tersebut memberikan manfaat sebagai berikut: tujuan menyediakan sarana pergudangan agar supaya barang-ba-
Mengurangi biaya penanganan (bongkar muat) di pelabuhan rang yang dibongkar, untuk selanjutnya disimpan dalam gudang
asal dan pelabuhan tujuan. yang disediakan, sampai alat transportasi lainnya datang mengam-
Waktu pembongkaran dan pemuatan dapat ditekan menjadi bilnya.
lebih cepat, dengan demikian turn-round kendaraan dapat 2. Terminal menyediakan tempat menunggu atau beristirahat untuk
ditingkatkan. para penumpang atau penjemput. Seringkali pemberangkatan
Memberikan proteksi terhadap barang muatan dari kerusakan atau kedatangan kendaraan mengalami kelambatan, sehingga
yang mungkin terjadi dalam transit. para penumpang dan penjemput harus menunggu. Terminal me-
nyediakan berbagai fasilitas untuk menunggu yang memberikan
Penggunaan peti-peti kemas (containerzation) dan pallet (unit-
kenyamanan pribadi, fasilitas untuk pembelian barang-barang
ization) telah dilakukan secara meluas. Kemajuan tersebut selain ber-
yang diperlukan oleh orang-orang yang akan berpergian, restoran
manfaat dalam penekanan biaya, telah menciptakan pula perubahan
dan rumah makan, tempat pemeriksaan para penumpang yang
yang mendasar dalam metoda operasi dan pelayanan.
akan berangkat, fasilitas kesehatan, dan pelayanan bea cukai un-

7.2 Fungsi Terminal tuk penumpang asing.

Dalam praktek, konsolidasi lalu lintas memerlukan pemilihan


3. Di titik terminal pengangkutan biasa pula menyediakan failitas
untuk service dan perbaikan kendaraan-kendaraan. Di terminal
tempat-tempat di nrana dilakukan akumulasi penumpang dan barang
tersebut dilengkapi lapangan parkir untuk kendaraan.
yang tersebar tempatnya agar dapat diangkut pada waktunya. Untuk
muatan barang diperlukan sarana penyimpanan (sementara) atau Lokasi terminal sebaiknya harus berada pada tempat yang mu-
penyortiran. Beberapa istilah lainnya dari terminal dapat disebutkan dah dijangkau. Fasilitas yang dimilikinya harus cukup, baik jenisnya
misalnya depot, stasiun, pelabuhan laut, bandar udara dan lainnya. dan kapasitasnya. Pemuatan dan pembongkaran barang harus dapat
62 Joringon Transportasi: Teori don Anolisis

dilayani dengan peralatan-peralatan mekanik yang memadai, seperti


kran (crane), forklift, dan lainnya. Tempat penyimpanan yang luas
dan lapangan penumpukan terbuka harus luas pula. Untuk para pe-
numpang, ruangan yang disediakan harus bersih, nyaman dan menarik.

Dalam Sistem Transportasi Nasional (Sistranas), jaringan pra-


sarana transportasi merupakan salah satu unsur yang sangat penting IATI GU]IA lAHAil IIA1AM
dalam menunjang kegiatan perekonomian dan pembangunan pada
umumnya. Pergerakan lalu lintas manusia dan barang yang diangkut P ER T 1{ GAI{ARII IR[]I S PO RTA$ I
oleh sarana transportasi dilakukan di atas prasarana jalan. Pembangun-
an prasarana jalan transportasi dilakukan di tataruang. Pembangunan
prasarana jalan harus dikaitkan dengan kebutuhan transportasi. Kebu-
tuhan transportasi adalah permintaan akan jasa transportasi pada saat
sekarang maupun pada masa yang akan datang. Kebutuhan atau per-
mintaan jasa transportasi pada masa depan meningkat terus. Kapasitas 8.1 Kebijakan Tata Ruang Sangat Erat Kaitannya
prasarana jalan harus disediakan lebih besar dari kebutuhan (permin- dengan Kebijakan Transportasi
taan) untuk menampung pertumbuhan lalu lintas masa depan. ebijakan tata ruang sangat erat kaitannya dengan kebijak-
Sarana transportasi yang disediakan harus mampu melayani an transportasi. Ruang merupakan lokasi kegiatan yang
lalu lintas manusia dan barang, agar supaya pelayanan transportasi "ditempatkan" di atas lahan kota, sedangkan transportasi
dapat terselenggara dengan cukup berkapasitas dan lancar. Sarana merupakYsistem jaringan yang secara fisik menghubungkan satu ru-
transportasi yang digunakan meliputi banyak jenis sarana angkutan ang kegiatan dengan ruang kegiatan lainnya. Antara ruang kegiatan
atau disebut multi moda, oleh karena itu penyelenggaraan pelayanan dan transportasi terjadi hubungan yang disebut siklus penggunaan ru-
transportasi harus dikoordinasikan dan dikonsolidasikan. Konsol idasi ang transportasi. Bila akses transportasi ke suatu ruang kegiatan (persil
lalu lintas diartikan sebagai upaya untuk memanfaatkan kapasitas Iahan) diperbaiki, ruang kegiatan tersebut akan menjadi lebih menarik
sarana angkutan yang tersedia (utilisasi kapasitas sarana angkutan) dan biasanya menjadi lebih berkembang.
secara setinggi mungkin. Beranjak dari hal tersebut, tata ruang perkotaan yang di dalam-
Utilisasi kapasitas setinggi mungkin ditunjukkan oleh rasio nya terdapat interaksi antarguna lahan yang satu dengan lainnya, arah-
volume muatan yang diangkut terhadap kapasitas angkut yang tersedia. an pengembangan daerah pinggiran dan sebagainya, merupakan hal
Bila angka rasio tersebut tinggi (besar), berarti penerimaan tarif penting dalam pengaturan pola sirkulasi pergerakan angkutan umum-
angkutan yang diperoleh perusahaan angkutan adalah besar, artinya nya, Pola pergerakan menggambarkan pola-pola pergerakan yang da-
kelangsungan usahanya dapat dipertahankan dalam jangka panjang. pat dikembangkan dengan tingkat permasalahan masing-masing pola
yang bersangkutan, sebagaimana pada gambar B.'1.
-oo0oo-
64 Joringan Transportosi: Teot I dr-ut Anolisis Toto Guno Lahon dolorn Per etrcorlroan fi.onsportosi

Radial Crosstown Orbital setiap region di perkotaan penting untuk diramalkan di masa-masa
nrendatang. lnteraksi antara perencanaan tata guna lahan merupakan
proses terpadu yang mencakup keputusan kebijakan dan evaluasi
alternatif strategi.
lnteraksi antara tata guna lahan yang terjadi akibat berjauhannya
tempat kerja dengan tempat tinggal dan lainnya. Sasaran dari peren-
canaan transportasi adalah membuat interaksi tersebut menjadi lebih
mudah dan seefisien mungkin. Proses perencanaan transportasi untuk
Gambar 8.1 Bentuk Pelayanan Angkutan LJmum mencapai sasaran itu antara lain dengan menetapkan kebijakan tata
ruang dalam hal sebagai berikut:
Berdasarkan gambar di atas tersebut, pola pelayanan angkutan
umum dapat didefinisikan adalah sebagai berikut: 1. Sistem kegiatan, rencana tata guna lahan yang baik dapat me-
ngurangi kebutuhan akan perjalanan yang panjang sehingga
1. Pola radial adalah pola yang menggambarkan pelayanan angkutan
membuat interaksi menjadi lebih mudah. Dengan perkataan lain
terpusat menuju pusat kota dan cenderung melahirkan masalah
bahwa dengan mengatur lokasi pusat kegiatan utama sebagai
kemacetan di dalam kota karena jumlah jaringan jalan yang me-
pusat bangkitan lalu lintas, maka secara langsung maupun tidak
misahkan semua kepentingan pergerakan sulit untuk dilakukan.
pendistribusian angkutan juga menjadi merata dan tidak menim-
2. Pola Crosstown adalah pola yang menyenangkan karena dapat
bulkan kecenderungan kemacetan pada suatu titik dalam kota.
melayani perjalanan jauh dari ujung kota.
3. Pola orbital adalah pola yang berbasiskan pada zona atau ka-
2. Sistem jaringan, hal yang dapat dilakukan misalnya meningkatkan
kapasitas pelayanan prasarana yang ada, misalnya melebarkan
wasan layanan, yang tidak semua pergerakan angkutan kota dapat
jalan, menambah jalan baru, peningkatan sarana dan prasarana
menuju pusat kota.
yang sudah ada dan lain sebagainya.
lnventarisasi guna lahan dibutuhkan dalam studi transportasi, 3. Sistem pergerakan, hal yang dapat dilakukan antara lain mengatur
khususnya dalam studi-studi operasional dan kelaikan lokasi terminal teknik dan manajemen lalu lintas, fasilitas angkutan umum yang
daerah perkotaan, karena merupakan dasar untuk mengukur tingkat lebih baik.
hubungan antara pola guna lahan dengan pembangkitan perjalanan.
Sebaran geografis antara tata guna lahan (sistem kegiatan) serta
Cuna lahan dikaitkan dengan tempat di mana suatu kegiatan kota
kapasitas dan Iokasi dari fasilitas transpoftasi (sistem jaringan) diga-
berlokasi. Karakteristik lokasi itu dapat diukur melalui ragam macam
bungkan untuk mendapatkan arus dan pola pergerakan lalu lintas di
aktivitas, intensitas penggunaan, interaksi antarruang dan letak lokasi.
daerah perkotaan (sistem pergerakan). Besarnya arus dan pola perge-
Pola tata guna lahan menggambarkan pengaturan kegiatan rakan lalu lintas tersebut dapat memberikan umpan-balik untuk mene-
manusia yang dijelaskan melalui ragam kegiatan pada daerah yang tapkan lokasi tata guna lahan yang tentu membutuhkan prasarana baru
lebih kecil yang disebut zona. Zona merupakan bagian yang lebih pula. Makin tinggi tingkat suatu tata guna lahan makin tinggi pula ting-
kecil dari suatu wilayah atau region. Perkiraan pola kegiatan pada kat kemampuannya dalam menarik lalu lintas. Daya tarik suatu tata
Jaringan Tronsportosi: leori dan Anolisis foto Guno Lohon dolont Petetrconoon Transportosi 67

guna lahan akan berkurang dengan meningkatnya jarak (dampak pe- s.rlah satu penentu utama pergerakan dan aktivitas. Aktivitasinidikenai
misahan ruang). Tata guna lahan cenderung menarik pergerakan lalu rlc.ngan istilah bangkitan perjalanan (trip generation), yang menentu-
lintas dari tempat yang lebih dekat dibandingkan dengan dari tempat kan fasilitas-fasilitas (prasarana dan sarana) transportasi apa saja-seperti
yang lebih jauh. jalan, bus, dan sebagainya yang akan dibutuhkan untuk melakukan
pergerakan. Fasilitas transportasi yang telah tersedia di dalam sistem,
8,2 Tata Guna Lahan Menentukan pergerakan dan dengan sendirinya tingkat aksesibilitas akan meningkat.
Aktivitas
Perubahan aksesibilitas akan menentukan perubahan nilai lahan
Suatu kota di pandang sebagai suatu tempat di mana terjadi dan akan mempengaruhi penggunaan lahan tersebut, misalnya per-
aktivitas-aktivitas atau sebagai suatu pola tata guna lahan. Lokasi di ubahan lingkungan tempat tinggal menjadi daerah niaga/komersial,
mana aktivitas dilakukan akan mempengaruhi manusia dan aktivitas maka tingkat bangkitan perjalanan (misalnya jumlah perjalanan per
manusia mempengaruhi lokasi tempat aktivitas berlangsung. lnteraksi luas lahan)akan menghasilkan perubahan pada seluruh siklus aktivitas
antaraktivitas terungkap dalam wujud pergerakan manusia, barang dan mempengaruhi nilai (harga) lahan.
dan jasa.
Siklus hubungan yang fundamental antara transportasi dan tata
Alasan yang menyebabkan manusia dan barang bergerak dari guna lahan diillustrasikan dalam gambar 8.2.
suatu tempat ke tempat lain dapat dijelaskan oleh 3 (tiga) kondisi be-
rikut: 1) Komplementaritas, daya tarik relative antara dua atau lebih
tempat tujuan, 2) keinginan untuk mengatasi kendara jarak (transfe-
rabilitas), diukur dari waktu, dan biaya pemindahan (pengangkutan)
yang dibutuhkan, 3) persaingan antara beberapa lokasi untuk meme-
nuhi permintaan dan penawaran.
Sebidang lahan dengan jenis tata guna lahan tertentu mengha-
silkan sejumlah perjalanan tertentu. perjalanan ini menunjukkan ke-
Fasi I itas
butuhan akan transportasi tidak hanya dipengaruhi oleh aspek fisik transportasi
saja, melainkan juga oleh aspek-aspek ekonomi dan sosial dari suatu
lingkungan perkotaan, maka dalam perencanaan fasilitas transportasi
ketiga aspek di atas hendaknya dipertimbangkan, sehingga utiritasnya
Gambar 8.2 Siklus tata guna lahanltransportasi
lebih efisien. Fasilitas-fasilitas tersebut harus dirancang untuk dapat
memenuhi kebutuhan pada saat sekarang maupun pada masa menda-
tang, yaitu dengan kriteria yang ditetapkan, baik kuantitas dan kuali-
8.3 Komponen Sistem Wilayah Perkotaan
tas, serta layak secara ekonomi. Kota memiliki wilayah administrasi dengan batas-batas yang
jelas. Setiap kota memperlihatkan perilaku yang spesifik. Perilaku
Hubungan yang sederhana antara penggunaan lahan dan trans-
perkotaan dicerminkan oleh terjadinya pertumbuhan, perluasan dan
portasi diperlihatkan dalam gambar 8.2. Tata guna lahan merupakan
68 Joringon Transportosi: Teori dan Analisis Toto Guno Lohon dolom Perertconoon Transportasi 69

modernisasi yang dilaksanakan pada tata ruang perkotaan yang relatif 8.4 Konsep dan Definisi
terbatas luasannya. Terdapat dorongan dan kebutuhan untuk memper-
luas dan mengembangkan wilayah perkotaan karena aktivitas perkota-
Definisi sederhana dan konsep-konsep dasar untuk membantu
akan bentuk dan struktur wilayah perkotaan, dengan menyadari bahwa
an meningkat akan membutuhkan lahan perkotaan yang lebih luas.
dalam topik interdisiplin seperti ini, segala sesuatu berhubungan
Adapun komponen-komponen sistem di dalam struktur ruang dengan yang lainnya.
wilayah perkotaan adalah sebagai berikut: ,/ Bentuk wilayah perkotaan; pola atau "pengaturan" ruang yang ter-
Tabel 8.1 Komponen-komponsn Sistem di dalam Struktur Ruang diri dari elemen-elemen individual seperti bangunan, jalan, parkir,
Wilayah Perkotaan dan penggunaan lahan lainnya secara kolektif disebut lingkungan
iadi(build environment), demikian pula kelompok sosial, aktivitas
Elemen-elemen yang Berhubungan
Komponen-komponen Sistem
ekonomi, institusi publik, di dalam suatu wilayah perkotaan dise-
di dalam Struktur Ruang Wilayah
Perkotaan but dengan istilah bentuk wilayah perkotaan.
lnti: titik awal suatu sistem dan Pembentukan awal (misalnya:
,/ lnteraksi wilayah perkotaan; adalah salah satu kesatuan hubung-
tempat pengendali lokasi bertemunya dua sungai, an, keterkaitan dan arus yang menyatukan pola dan perilaku tata
daerah pelabuhan) dan daerah guna lahan, kelompok dan aktivitas individu menjadi entitas atau
pusat bisnis
subsistem yang memiliki fungsi.
2. Bentuk geometris daerah dan batas-
batas sistem
Perluasan geografis dan batas-batas
wilayah perkotaan
/ Struktur ruangwilayah perkotaan; struktur ini secara formal meng-
hubungkan bentuk wilayah perkotaan melalui interaksi wilayah
3. Elemen-elemen bagian satuan Kelompok sosial, tata guna lahan,
atau unsur kecil yang membentuk aktivitas, interaksi, dan intuisi
perkotaan dengan seperangkat aturan menjadi suatu sistem
keanggotaan sistem perkotaan.
4. Prinsip-prinsip pengaturan; apa saja 4. Logika dasar atau prinsip-prinsip
,/ Rencana komprehensif; rencana keseluruhan dasar biasanya
yang mengikat sistem menjadi satu struktur wi layah perkotaaan merupakan rencana komprehensif, kadangkala disebut sebagai
dan mengalokasikan kegiatan ke (misalnya, harga lahan) dan faktor-
rnasterp/an atau rencana umum (rencana induk).
berbagai daerah sistem "energi' apa faktor penentu pertumbuhan.
yang mendorong.
Teori perencanaan wilayah perkotaan berkaitan dengan penen-
Perilaku bagaimana sistem Cara kerja kota; pola-pola aktivitas tuan dan pemahaman mengenai isi, penerapan dan proses perenca-
bertindak dan berubah terhadap dan performa pertumbuhan.
waktu; tindakan rutin atau tindakan
naan. Teori hubungan praktek, demikian pula sebaliknya. Bagi ahli
tak rutin perencana, hubungan tersebut adalah sangat vital karena perencanaan
Lingkungan; faktor "eksternal" yang Sumber dan jenis faktor-faktor
merupakan kegiatan yang bersifat realistik dan antisipatif ke masa de-
mempengaruhi sistem itu penentu eksternal dari struktur pan.
wilayah perkotaan.
Konsep yang mendasari hubungan tata guna lahan dan transpor-
7. Alur waktu; sebuah kecenderungan 7. Tahapan pembangunan; profil
evolusi dan perubahan se.iajar dari siklus pembangunan
tasi adalah aksesibilitas. Dalam konteks yang paling Iuas, aksesibili-
dan era transportasi. tas berarti kemudahan melakukan pergerakan di antara dua tempat.
Aksesibilitas meningkat-dari sisi waktu atau uang-ketika pergerakan
70 Joringon Transportosi: Teori dorr Atrolisis

menjadi lebih lancar dan murah. Selain itu kecenderungan untuk ber-
interaksi juga akan meningkat apabila biaya pergerakan menurun.

Hubungan antara transportasi dan pengembangan lahan dapat


dijelaskan dalam 3 konteks, sebagai berikut:
1, Hubungan fisik dalam skala makro, yang memiliki pengaruh jang-
ka panjang dan umumnya dianggap sebagai bagian dari proses P t R t lt G[lt[All r B[1] SP0 nm$ I
perencanaan.
2. Hubungan fisik dalam skala mikro, yang memiliki pengaruh jang-
ka pendek dan jangka panjang dan umumnya dianggap sebagai
rnasalah desain wilayah perkotaan.
3. Hubungan proses, yang berhubungan dengan aspek hukum, ad-
ministrasi, keuangan, dan aspek-aspek institusional tentang peng-
aturan lahan dan pengembangan transportasi.
Potensi tata guna lahan adalah satu ukuran dari skala aktivitas 9.1 Perencanaan Transportasi
sosio ekonomi yang terjadi pada satu lahan tertentu. Ciri khas dari
/-r,-^a lam pem bahasan peren canaan transpo rtasi akan d kem u-
i

tata guna lahan adalah kemampuan atau potensi untuk membang- ' l[ )tat an tiga persoalan penting, yaitu (1) strategi investasi,
kitkan lalu lintas. Dengan demikian sudah sewajarnya untuk meng- ll-/ (2) kerangka analitik untuk peramalan permintaan jasa
hubungkan potensi tata guna lahan untuk mendukung pengembangan transportasi, dan (3) respon teknologi terhadap peftumbuhan (H. A.
aktivitas-aktivitas yang potensial, yang selanj utnya akan membangkit- Adler, 1983).
kan arus lalu Iintas. Peningkatan lalu lintas membutuhkan tersedianya
Jasa transportasi melayani arus barang dan penduduk dari suatu
prasarana dan sarana transportasi untuk memenuhi permintaan jasa
tempat ke tempat lain. Transportasi mendorong pertumbuhan. pada
transportasi. Dalam mewujudkan sistem transportasi yang handal di-
tempat-tempat tersebut dan sepanjang rute-rute yang menghubungkan.
perlukarr dukungan tersedianya jaringan prasarana dan jaringan pe-
Transportasi harus terus ditingkatkan karena permintaan jasa transpor-
layanan transportasi.
tasi meningkat. Fungsi transportasi adalah menunjang dan mendorong
Jadi, secara konsepsional terdapat hubungan yang erat antara pembangunan. Fasilitas transportasi dapat dibangun mendahului per-
perencanaan transportasi, tata guna lahan, keterkaitan antarruang mintaan jasa transportasi dengan harapan bahwa suplai jasa transpor-
(antartata ruang), potensi dan interaksi kegiatan sosio ekonomi, ak- tasi akan menciptakan demandnya sendiri.
sesibi I itas (kemudahan melakukan perjalanan/pergerakan lalu I intas),
Strategi suplai tidak selalu tepat dan sesuai dengan kondisi
dan terselenggaranya pelayanan transportasi efektif dan efisien, dalam
masing-masing daerah. Strategi suplai adalah tepat dilaksanakan un-
arti Iancar, tertib dan teratur (yang dilakukan melalui jaringan trans-
tuk membangun daerahdaerah tertinggal dan terisolasi, atau untuk
portasi)"
membuka daerah-daerah perbatasan. Meskipun daerah-daerah terse-
-oo0oo- but memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar, tetapi keka-
Joringon Tronsportosi: rencanoan Tronspor tosl 73
72 Teor i duu Analisis Pe

yaan alam yang dimiliki tersebut belum dimanfaatkan karena belum rah. Dalam penyediaan fasilitas transportasi dibutLrhkan strategi yang
tersedia fasilitas transportasi yang menjangkau ke daerah-daerah ter- tepat, kebijakan dan perencanaan yang terkoordinasi dan bersifat anti-
sebut. Fasilitas transportasi harus dibangun lebih dahulu untuk selan- sipatif terhadap perkembangan kegiatan sektor lain serta kemajuan
jutnya digunakan untuk memenuhi angkutan hasil-hasil produksi da- teknologi yang cenderung berkembang lebih cepat.
erah tersebut untuk dipasarkan ke luar daerah. Strategi pembangunan
Meskipun dalam meramalkan permintaan jasa transportasi masa
fasil itas transportasi mendahului perm intaan jasa transportasi disebut
depan sampai pada penentuan rute menurut moda, telah diberikan
demand follows supply. Sebaliknya adalah strategi supply follows de-
kerangka dasar analitiknya, namun diakui tidak mudah untuk mem-
mand, artinya pembangunan fasilitas transportasi dilakukan untuk da-
buat prediksi pola masa depan secara tepat dalam permintaan jasa
erah-daerah yang sudah tersedia permintaan jasa transportasi. Strategi
transportasi karena terdapat begitu banyak dimensi yang harus diper-
yang pertama bersifat keperintisan, sedangkan strategi kedua bersifat
hitungkan di samping kompleksitas yang bersifat komprehensif. Suatu
kelayakan. Kedua strategi tersebut dapat dianalogikan dengan sem-
prediksi (peramalan) hanya merupakan suatu terkaan (taksiran) yang
boyan dalam bidang pelayaran, yaitu (1) trade follows ship, dan (2)
terbaik dan harus dievaluasi.
ship follows trade (8.S. Hoyle (ed), 1973).
Membahas strategi berarti menentukan cara yang digunakan
Perubahan teknologi dalam bidang transportasi harus dilihat
untuk mencapai sasaran/tujuan. Dengan kebijakan diharapkan dapat
sebagai satu bagian dari suatu total panorama perubahan. Kema-
mengerahkan dan mengendalikan kegiatan-kegiatan yang dilaksana-
juan teknologi dalam transportasi mempunyai ciri, yaitu perbesaran
kan. Dan penyusunan perencanaan dimaksudkan untuk menyiapkan
kapasitas (angkut) dan kecepatan lebih tinggi. Transportasi hari esok
prasarana dan sarana (investasi) untuk menghadapi permintaan jasa
("tomorrow's transportation") harus memperhatikan perkembangan
trasportasi yang cenderung meningkat pesat karena jumlah penduduk
dan kemajuan teknologi. Ada teori yang menyatakan bahwa kema-
bertambah beserta berbagai kegiatannya. Kemajuan teknologi trans-
juan teknologi transportasi memperl ihatkan ritmenya masing-masing,
portasi harus dipertimbangkan dalam penyusunan Tomorrow's Trans-
namun kemajuan teknologi telah berkembang lebih pesat dari yang portation System (J.S. Desalvo, 1973).
diperkirakan.
Perencanaan transportasi dapat didefinisikan pula sebagai sua-
Menghadapi kemajuan teknologi dalam transportasi terda-
tu proses yang tujuannya mengembangkan sistem transportasi yang
pat pilihan, yaitu memperbaiki teknologi yang ada sekarang versus
memungkinkan manusia dan barang bergerak atau berpindah tempat
pembangunan teknologi baru. Pembangunan teknologi baru membu-
dengan aman, murah, cepat dan nyaman. Perencanaan transportasi,
tuhkan tersedianya dana yang sangat besar. Transportasi metropoli-
merupakan suatu proses yang dinamis dan tanggap terhadap perubah-
tan memerlukan sistem baru karena jumlah penduduknya bertambah
an tata guna lahan, keadaan ekonomi dan pola lalu lintas. Perenca-
sangat pesat, demikian pula berbagai kegiatan produktifnya. Transpor-
naan transportasi yang baik adalah perencanaan yang mampu mera-
tasiantarkota memperlihatkan perkembangan yang pesat pula (angkut-
malkan lalu lintas masa depan, yang ditunjukkan dalam peningkatan
an jalan raya maupun angkutan jalan baja dan penerbangan).
kebutuhan pergerakan dalam bentuk perjalanan manusia, barang dan
Transportasi berfungsi pula sebagai pemersatu disamping me- kendaraan yang ditunjang oleh tersedianya kapasitas prasarana trans-
layani arus barang dan penduduk serta mendorong pertumbuhan dae- portasi; yang selan.jutnya diikuti oleh penjabaran ke dalam keterkaitan
Joringan Tronsportasi: lt,ori don Anolisis Pe renconaon Tronsportosl 75

antarwilayah yang digambarkan dalam distribusi ralu lintasnya; untuk pindahan antarzona pada jaringan transportasi dan evaluasi terha-
selanjutnya dilakukan pemilihan moda transportasi yang serasi dan dap jaringan yang telah tersedia.
penyusunan rute/proyek yang mampu melayani kebutuhan pergerak-
an perjalanan lalu lintas masa depan. Lanjut di.ielaskan dalam Modul Pelatihan Transportasi (1996),
bahwa pertumbuhan serta daerah perlu direncanakan, jika diketahui
Perencanaan transportasi bertujuan mengembangkan sistem atau diharapkan bahwa penduduk di suatu tempat akan bertambah
transportasi yang memungkinkan pergerakan manusia, barang dan dan berkembang dengan pesat. Keadaan lalu lintas seperti ini, perlu
sarana transportasi berpindah dari suatu tempat asal ke tempat tujuan
ditinjau kembali kesesakannya dan kemacetan dijalan yang mulai me*
dengan lancar, aman/selamat, murah dan nyaman, atau yang sering ningkat serta sistem perpindahan massa sudah tidak ekonomis lagi,
dikatakan terselenggara secara efektif dan efisien. sehingga perlu dikoordinasikan. Akhirnya, perluasan kota perlu diken-
Perencanaan transportasi diperlukan sebagai konsekuensi dari dalikan bila pemerintah kota menghendaki, agar perencanaan trans-
pertumbuhan penduduk, keadaan lalu lintas, dan pengembangan kota portasi mempengaruhi perluasan kota tersebut. Merencanakan trans-
dan wilayah dalam rangka mengatasi persoalan yang ada, merayani portasi pada dasarnya adalah memperkirakan kebutuhan transportasi
kebutuhan secara optimum, mencegah persoalan yang diduga akan di masa depan yang harus dikaitkan dengan masalah ekonomi, sosial
timbul, mempersiapkan tindakan untuk mengatasi keadaan pada dan lingkungan. Jadi sarana transportasi harus direncanakan untuk me-
masa depan, dan mengoptimalisasikan penyediaan dan pemanfaatan menuhi kebutuhan lalu lintas saat ini maupun yang akan datang, hen-
kapasitas transprotasi dan dana yang dioperasikan, sehingga tercapai daknya diletakkan pada lokasi yang "tepat" di dalam suatu daerah atau
pelayanan transportasi yang efektif dan efisien. proses perencanaan kota secara ekonomis yang harus dipertanggung jawabkan.
transportasi meliputi tahapan analisis, sebagai berikut: Pembangunan sektor transportasi diarahkan pada terwujud-
1. lnventarisasi kondisi saat ini, meliputi guna lahan, pemilikan nya sistem transportasi nasional yang handal, berkemampuan tinggi
kendaraan, pergerakan orang dan kendaraan, fasilitas transportasi, dan diselenggarakan secara efektif dan efisien dalam menunjang dan
aktivitas ekonomi, sumber dana yang tersedia, dan bangkitan per- menggerakkan dinamika pembangunan, mendukung mobilitas manu-
jalanan. sia, barang dan jasa, mendukung pola distribusi nasional, serta mendu-
2. Keputusan kebijakan umum masa mendatang meliputi penga- kung pengembangan wilayah. Sistem transportasi nasional diarahkan
wasan peraturan dan kebijakan umum terhadap pengembangan pada terwujudnya keseimbangan antara permintaan jasa transportasi
lahan pada masa mendatang dan karakteristik dari jaringan trans- dan tersedianya kapasitas fasilitas transportasi. Untuk itu meliputi
portasi pada masa mendatang. perencanaan di dalam dan antardaerah serta perencanaan intra dan
3. Perkiraan pertumbuhan daerah perkotaan pada masa mendatang, antarmoda. Model peramalan permintaan jasa transportasi dilakukan
meliputi perkiraan jumlah penduduk, aktivitas ekonomi, pemi- mengikuti tahapan, mulai dari (lihat gambar 9.1. berikut, H. A. Adler,
likan kendaraan, guna lahan, dan jaringan transportasi pada masa 1971 dan O.Z. Tamin, 1997):
mendatang. Mengidentifikasikan pola tata guna tanah, distribusi penduduk
4. Perkiraan pergerakan pada masa mendatang, meliputi pembang- dan pola spasial kegiatan ekonomi masa depan, digunakan untuk
kitan perjalanan, pemilihan moda, perpindahan antarzona, per- menghitung peningkatan permintaan jasa transportasi.

i
76 Joringan Transportosl: Teorl don Analisis Pe r enconoan Transportosl
I

Hasil peramalan permintaan jasa transportasi tersebut, digunakan Pergerakan manusia, kendaraan dan barang menimbulkan ber-
untuk mengetahui keterkaitan atau distribusi lalu lintas antarka- bagai macam interaksi. Terdapat interaksi antara pekerja dan tempat
wasan. bekerja mereka, antara ibu rumah tangga dan pasar, antara pelajar dan
i

selanjutnya menentukan pemilihan moda transportasi yang mela- sekolah, dan antara lokasi pabrik dan lokasi bahan mentah serta pasar.
yani lalu lintas transportasi. Hampir semua interaksi memerlukan perjalanan, dan oleh karena itu
Akhirnya, memperhatikan biaya pelayanan transportasi dan karak- menghasilkan pergerakan lalu lintas.
teristik harga (tarif angkutan) serta pemilihan moda transportasi
Sasaran perencanaan transportasi adalah membuat interaksi
yang telah dilakukan, akan ditetapkan rute/trayek yang dilayani
menjadi seefektif dan seefisien mungkin. Cara perencanaan transpor-
moda transportasi.
tasi untuk mencapai sasaran umum itu antara lain dengan menetapkan

Pola Tata Cuna


kebijakan tentang beberapa hal berikut ini:
P
E
N
Tanah Distribusi
Penduduk
1. Sistem kegiatan (tata guna lahan). Rencana tata guna lahan yang
U baik (lokasi tokoh, sekolah, pasar, kantor dan lainnya) dapat me-
M
P
ngurangi kebutuhan akan perjalanan yang panjang menjadi lebih
A dekat dan mudah.
N
G 2. Sistem jaringan (transportasi). Hal yang dapat dilakukan, misalnya
meningkatkan kapasitas pelayanan prasarana yang ada, melebar-
kan jalan, menambah jaringan baru dan lainnya.
3. Sistem pergerakan (lalu lintas). Hal yang dapat dilakukan antara
Pola Kegiatan
Ekonomi Spasial
lain mengatur teknik dan manajemen lalu lintas (jangka pendek),
Masa Depan fasilitas angkutan umum yang lebih baik (jangka pendek dan
menengah), atau pembangunan jalan (jangka panjang).

Gambar 9.1 Model Peramalan permintaan lasa Transportasi Hubungan dasar antara sistem kegiatan, sistem jaringan, dan
sistem pergerakan dapat disatukan dalam beberapa urutan tahapan,
9.2 Sistem Tata Guna Lahan dan Transportasi yang biasanya dilakukan secara berurutan sebagai berikut:

stem transportasi perkotaan terd i ri dari berbagai aktivitas seperti


s i
1. Aksesibilitas dan mobilitas. Ukuran potensial adalah kesempatan
bekerja, sekolah, krelanja, olah raga dan lainnya yang berlangsung di
untuk melakukan perjalanan. Tahapan ini lebih bersifat abstrak
jika dibandingkan dengan empat tahapan berikut.
atas sebidang lahan (kantor, pertokoan, gedung olah raga dan lainnya).
Berbagai bidang lahan itu disebut tata guna lahan. Untuk memenuhi
2. Pembangkit lalu lintas. Bagaimana perjalanan dapat bangkit dari
suatu tata guna lahan atau dapat ditarik ke suatu tata guna lahan.
kebutuhannya, manusia melakukan perjalanan melintasi tata guna
lahan tersebut dengan menggunakan sarana angkutan dalam konteks
3. Sebaran penduduk. Bagaimana perjalanan tersebut disebarkan se-
cara geografis di dalam daerah perkotaan (daerah kajian).
sistem jaringan transportasi (misalnya berjalan kaki atau naik bus) Hal
ini menimbulkan pergerakan arus manusia, barang dan kendaraan.
78 Jari ngan Transportosl : Teorl don,4nolisis
Pe r encanoon Tronspor tosl

4. Pemilihan moda transportasi. Menentukan faktor yang mempen-


biaya yang besar akan membuat pergerakan antara dua buah tata
garuhi pemilihan moda transportasi untuk tujuan perjalanan ter-
guna lahan menjacli kurang (aksesibilitas rendah). Sebaliknya,
tentu.
pergerakan arus lalu lintas cenderung meningkat jika jarak antara
5. Pemilihan rute. Menentukan faktor yang mempengaruhi pemilih-
kedua zonanya semakin dekat.
an rute dari setiap zona asal ke setiap zona tujuan.
lntensitas tata guna lahan, memperlihatkan bahwa makin
9.3 Model Perencanaan Transportasi Empat Tahap tinggi tingkat aktivitas suatu tata guna lahan, makin tinggi pula
tingkat kemampuannya dalam menarik lalu lintas. Contoh, pa-
Terdapat beberapa konsep perencanaan transportasi yang telah
sar swalayan menarik arus pergerakan lalu lintas lebih banyak
berkembang sampai saat ini, yang paling populer adalah Model
dibandingkan dengan rumah sakit untuk luas lahan yang sama,
Perencanaan Transportasi Empat Tahap, yaitu (1) Bangkitan dan tarikan
karena aktivitas di pasar swalayan lebih tinggi per satuan luas Ia-
pergerakan, (2) Sebaran pergerakan, (3) Pemilihan moda transportasi,
han dibandingkan dengan di rumah sakit.
dan (4) Pemilihan rute transportasi (O. Z,f amin,1gg7).
Pemisahan ruang dan intensitas tata guna lahan, menunjuk-
1. Bangkitan dan Tarikan Pergerakan
kan bahwa daya tarik suatu tata guna lahan akan berkurang de-
Bangkitan pergerakan adalah tahapan yang memperkirakan jum- ngan meningkatnya jarak (dampak pemisahan ruang). Tata guna
lah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan lahan cenderung menarik pergerakan lalu lintas dari tempat yang
dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau lebih dekat dibandingkan dengan dari tempat yang lebih jauh.
zona. Pergerakan lalu lintas merupakan fungsi tata guna lahan
yang menghasilkan pergerakan lalu lintas. Bangkitan lalu lintas 3. Pemilihan Moda Transportasi
mencakup: Jiak interaksi terjadi antara dua tata guna lahan di suatu kota,
Lalu lintas yang meninggalkan suatu tempat maka seseorang akan memutuskan bagaimana interaksi tersebut
Lalu lintas yang menuju atau tiba ke suatu lokasi akan dilakukan. Keputusan harus ditentukan dalam hal pemilihan
moda. Secara sederhana, moda berkaitan dengan jenis transpor-
2. Bangkitan dan Sebaran Pergerakan tasi yang digunakan. Pilihannya adalah menggunakan kendaraan
Pola sebaran arus lalu lintas antara zona asal ke zona tujuan adalah pribadi (sepeda, sepeda motor, mobil) atau angkutan umum (bus,
hasil dari dua hal yang terjadi secara bersamaan, yaitu lokasi dan taksi, mikrolet atau kereta api).
intensitas tata guna lahan yang akan menghasilkan arus lalu lintas,
dan pemisahan ruang, interaksi antara dua buah tata guna lahan
4. Pemilihan Rute

yang akan menghasilkan pergerakan manusia dan/atau barang. Semua yang diterapkan dalam pemilihan moda dapat dipergu-
Contoh, pergerakan dari rumah (permukiman) ke tempat bekerja nakan pula untuk pemilihan rute. Untuk angkutan umum, rute
(kantor, industri dan lainnya) yang terjadi setiap hari. ditentukan berdasarkan moda transportasi (bus dan kereta api
mempunyai rute yang tetap). Dalam kasus ini, pemilihan moda
Pemisahan ruang menjelaskan bahwa jarak antara dua buah
dan rute dilakukan bersama-sama. Untuk kendaraan pribadi di-
tata guna lahan merupakan batas pergerakan. Jarak yang jauh atau
asumsikan bahwa orang akan memilih moda transportasinya dulu,
Transportosl: Teorl don Anollsis 1
Pe r e nconoon Tronspor tosl 8t
-Joringon

baru setelah itu rutenya. Pemilihan rute tergantung pada alternatif ;..1 Pomlllllan moda
terpendek, tercepat dan termurah.
.,i{' Ur,
Arus Lalu Lintas Dinamis (Arus pada faringan falan)
Arus lalu lintas dan waktu tempuh. Arus lalu lintas berinteraksi
;!h-=={-} I
dengan sistem jaringan transponasi. Jika arus lalu lintas meningkat ilt(A.,Lrntxialiltr ...- m{lultnumt,6
pada ruas jalan tertentu, waktu tempuh pasti bertambah (karena o:rti iuiuih.LlMnts da'i , kc ,. bc.ipi yioo .nc.oormatao kcrxtumn
[\\rg(uru*itt:slAuftit trlutr?
lrltr.rJr rlilr lrcrrlH y.u{t
kecepatan menurun). Arus maksimum yang dapat melewati suatu ruas
jalan disebut kapasitas ruas jalan. Arus maksimum yang dapat dilewati
suatu titik (biasanya pada persimpangan dengan lampu lalu lintas
(traffic /ight) disebut arus jenuh.

Konsep model perencanaan transportasi di atas, meliputi mulai


dari aksesibilitas, bangkitan dan tarikan pergerakan, sebaran pergerak-
an, pemilikan moda transportasi, pemilihan rute, dan arus lalu lintas
dinamis, diilustrasikan dalam Cambar 9.2 (O. Z, Tamin, 1997).
I Akse3lbllita3
leroenluoo Oada intcnsitas tflln Ounn

6 Arus lalullnt.s pada;3r1nn1n 1"1"n


t
2 Oangkitan pcrgerakan

,-H.
Jik, arut lak inlas t[ruOah. a1g ;g1c.p61 urtut d|oDil da.l 10.16 ,le zofla
3 Sobaran porgorakan atan borubah irga. Rul6 tc.cepat akalt b€n bah deri AACo fiEni.ri
AAEO. Hai yano sama b?rlitu irg, u"hd( a{rgt|Ifi u.axr.al.

Gam[a; 9.2 Lanjutan

Untuk seliap pasarcan zooa (r'.r. berapa an$ dad adla , ke rona i ?
9.4 Pemilihan Moda Transportasi dan Rute
1. ModelPemilihan Moda
Gambar 9.2 Ringkasan l)rutan Konsep Perencanaan Transportasi Pemilihan moda merupqft2p salah satu model terpenting dalarn
perencanaan transportasi, kqpsns peran kuncinya dalam angkutan
83
Jaringan Transportasi: Teorl dan Analisis
l,t,tcttcanoan Tlonsportosi
82

umum. Moda angkutan umum menggunakan ruang jalan jauh lebih iarak perjalanan. Semakin jauh perjalanan, semakin cen-
derung menggunakan angkutan umum dibandingkan dengan
efisien dibandingkan dengan angkutan pribadi. Contoh, kereta api
mobil pribadi.
bawah tanah dan moda transportasi kereta api memerlukan ruang
jalan tersendiri, sehingga tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas ( . ciri fasilitas moda transportasi. Dipengaruhi oleh pertimbangan:
jalan. Untuk pergerakan antarkota, moda transportasi kereta api lebih Faktor kuantitatif, misalnYa:
efisien dalam memindahkan manusia dan barang dibandingkan moda Waktu perjalanan: waktu menunggu di pemberhentian bus'
transportasi jalan raya, tetapi moda transportasi jalan raya memiliki waktu berjalan kaki ke pemberhentian bus, waktu selama ber-
kelebihan, yaitu mobilitasnya tinggi dan dapat bergerak setiap saat gerak, dan lainnYa.
diperlukan. Biaya transportasi (tarif, bahan bakar dan lainnya)'
Ketersediaan ruang dan tarif parkir'
Model pemilihan moda bertujuan untuk mengetahui proporsi
manusia yang akan menggunakan setiap moda. Pemilihan moda Faktor yang bersifat kualitatif meliputi kenyamanan, keamanan
sangat sulit dimodel, karena banyak faktor yang sulit dikuantifikasi dan dan ketertiban.
juga ketersediaannya pada saat diperlukan. Untuk angkutan manusia
2. Metoda Pemilihan Rute
terdapat banyak alternatif, yaitu bus, opelet, sepeda maotor, sedan dan
Permasalahan transpottasi di kota-kota besar adalah kemacetan
kereta api. Untuk angkutan barang yaitu antara kereta api dan truk.
lalu lintas yang disebabkan oleh tingginya tingkat urbanisasi, pedum-
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan moda dikelompokkan
buhan ekonomi dan pemilikan kendaraan serta terbaurnya peranan
menjaditiga, yaitu (O.2, Tamin, 1997): jalan tidak
fungsi jalan arteri, kolektor, dan lokal, sehingga jaringan
a. Ciri pengguna jalan, meliPuti: dapat berfungsi secara efisien-
Ketersediaan atau pemilikan kendaraan pribadi.
Keticlaklancaran lalu lintas menimbulkan biaya tambahan,
Pemilikan Surat lzin Mengemudi (SlM)
tundaan, kemacetan dan bertambahnya polusi udara dan kebisingan'
Struktur rumah tangga (bujangan, keluarga dengan anak, pen- pemerintah telah melakukan upaya penanggulangannya, antara lain
siun dan lainnya). peng-
membangun jalan tol (bebas hambatan) dan.ialan lingkar. Setiap
Pendapatan
guna .ialan diharuskan memilih rute yang tepat dalam perjalanannya
Dan lainnya (misalnya keperluan mengantaranak sekolah)
ke tempat tujuan, sehingga waktu tempuhnya minimum dan biayanyl
b. Ciri pergerakan, dipengaruhi: termurah.
Tujuan pergerakan (contoh, pergerakan ke tempat kerja di
Terdapat beberapa faktor yang nlempengaruhi pemilihan rute
negara maju menggunakan angkutan umum, karena ketepat-
pada saat melakukan perialanan. Beberapa di antaranya adalah waktu
an waktu, pelayanan sangat baik dan murah).
tempuh, jarak, biaya (bahan bakar dan lainnya), kemacetan dan an-
Waktu terjadinya pergerakan (kalau ingin bepergian pada te-
trian, jenis jalan raya (jalan tol, arteri), pemandangan, kelengkapan
ngah malam, digunakan mobil pribadi, karena tidak ada ang-
rambu dan marka jalan, serta kebiasaan'
kutan umum).

I
Joringan Tronsportasl: Teor i dou Anolisis lre r enconoon Tronsportosl

9.5 Prasarana Transportasi Merupakan Leading lr.rrannya di berbagai daerah, (2) kegiatan pembangunan sektoral (per-
Sector lanian, industri, dan lainnya) di berbagai daerah, (3) tingkat mobilitas
penduduk dan aksesibilitas menurut berbagai jenis perjalanan yang
Jaringan transportasi meliputi jaringan prasarana transportasi
dan jaringan pelayanan transportasi sebagai unsur penunjang dalam rlilakukan, (4) keterkaitan fungsional antarkota dan pusat kegiatan, (5)
penyelenggaraan pelayanan transportasi. Jaringan prasarana transpor- kondisi fisik geografis dan topografis wilayah, dan (6) perencanaan tata
tasi terdiri dari prasarana jalan yang menghubungkan simpul-simpul ruang wilayah yang telah ditetapkan, serta beberapa aspek yang terkait
transportasi (kota-kota besar, sedang, dan kecil) yang tersebar di se- lainnya.
luruh wilayah, yang berfungsi melayani pergerakan lalu lintas manu- Perencanaan sektor transportasi mutlak dilaksanakan, mengingat
sia dan barang, dan sumber bangkitan lalu lintas rnenuju ke tempat sektor transportasi memiliki peranan dan fungsi yang sangat penting
tarikan lalu lintas. Jadi, prasarana jalan mempunyai fungsi yang sangat sebagai fasilitas penunjang dan pendorong kegiatan perekonomian
penting dalam melayani kelancaran lalu lintas kendaraan (moda trans- dan pembanBunan. Perencanaan harus dilakukan untuk setiap aspek
portasi jalan) yang mengangkut manusia (penumpang) dan barang. pembangunan, karena perencanaan pembangunan itu adalah melihat
Pembangunan prasarana transportasi merupakan pembangun- ke masa depan.
an sektor pendahulu (atau /eading sector), artinya merupakan sektor
-oo000-
yang harus dibangun lebih dahulu sebelum digunakan oleh moda
transportasi jalan. Mengingat fungsinya sebagai leading sector, maka
pembangunan prasarana jalan harus mampu melayani kebutuhan atau
permintaan jasa transportasi, artinya harus lebih besar dari kebutuhan
atau permintaan jasa transportasi, dan tidak boleh kurang. Lebih besar
harus diartikan tidak boleh berlebihan. Bila berkelebihan akan me-
nimbulkan pemborosan sumberdaya, dan sebaliknya bila kekurangan
akan menimbulkan tingkat penggunaan prasarana lebih tinggi dari
kapasitas yang tersedia, sehingga mengakibatkan kapadatan atau bah-
kan kemacetan lalu lintas.

Agar supaya terwujud keserasian dalam pelayanan jasa trans-


portasi, harus dilakukan perencanaan pembangunan sektor keprasa-
ranaan secara tepat, terarah dan bersifat dinamis. Secara tepat dan
terarah dalam arti disesuaikan dengan kebutuhan, dan bersifat dina-
mis dimaksudkan melihat perkembangan masa depan, yang mampu
melayani pertumbuhan lalu lintas pada masa depan. Perencanaan
pembangunan prasarana transportasi mempunyai aspek yang cukup
luas, yaitu sangat berkaitan dengan (1) jumlah penduduk dan penye-
10
t[R I 1r GAlt Pt tAY[ltAlt
P0 1A
A]IG I(UIAII UMUTII D I PTBI(OIAI]I/
MTIRtlPOI.IIAI{

10.1 Konsep Struktur Kota

lgi-L:T:"1r;:'f ti'""u:f, #::illrft nru*t


penting diperhitungkan dalam perencanaan jaringan transportasi. Pe-
rencanaan jaringan transportasi (baik jaringan prasarana maupun ja-
ringan pelayanan transportasi) harus menyesuaikan dengan rencana
tata guna lahan dan diarahkan kepada terwujudnya pelayanan trans-
portasi yang efektif dan efisien ke seluruh bagian wilayah perkotaan
dalam konteks struktur kota. Terdapat beberapa teori struktur kota dan
hipotesis perluasan kota, yang harus dipahami oleh para perencana
transportasi perkotaan.

Terdapat kecenderungan menurunnya kepadatan penduduk di


suatu daerah pemukiman yang semakin jauh jaraknya dari pusat kota,
di daerah tersebut tenaga kerja langka, upah buruh mungkin mening-
kat karena tenaga kerja harus didatangkan dari luar, dan industrinya le-
bih bersifat padat modal. Demikian pula kecenderungan bahwa struk-
tur nilai tanah ditentukan oleh tipe kegiatan bahwa struktur nilai tanah
ditentukan oleh tipe kegiatan pemanfaatannya. Dalam hubungan
Joringan Transportosl: Teot i don Anolisis Pola jaringan Peloyonon Artgkututr Umum di Perkotoon/Metropoliton 89

struktur kota dapat dikemukakan tiga buah teori, yaitu masing-masing:


teori the concentric zone yangdielaborasikan oleh E.w. Burgess, teori
radial sector yang dikemukakan Homer Hoyt, dan konsep murtiple
nuclei yang dikembangkan oleh Harris dan Ullman.

Pola jaringan pelayanan angkutan umum di perkotaan/metro-


politan ditata dan dikelola menyesuaikan kebutuhan lalu lintas me-
nurut bentuk masing-masing kota/metropolitan. Meskipun dimaklumi
bahwa masing-masing bentuk kota/metopolitan terus mengarami per-
kembangan yang signifikan karena arus urbanisasi bertambah besar,
pendapatan masyarakat bertambah tinggi, dan kegiatan perkotaan ber-
tambah luas, yang secara keseluruhan membutuhkan lahan perkotaan
yang lebih luas dan tersedianya jaringan pelayanan lalu lintas yang
terus berkembang. Gambar 1O.1 Wilayah Perkotaan Konsentris

1 0.2Teori Wilayah Konsentris 1 0.3Teori Sektor Radial


Pola pertama menyebabkan bahwa perluasan setiap kota diraku- Kedua, teori sektor radial mengkonsentrasikan pada pola daerah
kan secara radial dari pusat kota, sehingga membentuk serangkaian dan pergeseran dalam lokasi pemukiman. Colongan penduduk dengan
wilayah konsentris. suatu kota dengan lima buah cincin wirayah yang pendapatan berbeda-beda dalam suatu kota cenderung bertempat
mengelilingi pusat terdiri berturut-turut: (1) distrik perniagaan sentral tinggal di suatu daerah tersendiri dalam sektor-sektor di sekeliling
(the centralbusiness district yang disingkat dengan CBD), (2) wilayah pusat kota seperti diilustrasikan dalam gambar 10.2.
transisi (a transitional zone) yang mulai ditempati oleh kegiatan-ke-
Wilayah sentral (1) merupakan pusat kota dan distrik perda-
giatan bisnis dan industri ringan, (3) wilayah prumahan buruh dan
gangan sentral (CBD). Sektor (2) terdiri dari kegiatan industri ringan
pabrik (a workers housing and factory), (4) wilayah pemukiman pen-
dan perdagangan besar, yang terletak pada batas pusat kota yang
duduk golongan atas (a high class residential zone),dan (5) suburb dae-
bertentangan arahnya dengan daerah pemukiman berkualitas tinggi.
rah pemukiman komuter yang merupakan satelit daerah perdagangan
Wilayah dengan kode (3)adalah daerah pemukiman golongan rendah,
dan perbelanjaan (a commuters zone of residential suburbs). Selanjut-
yang terletak pada perbatasan pusat kota dengan daerah pemukiman
nya lihat gambar 10.1.
berkualitas tinggi atau berdekatan dengan wilayah industri. Wilayah
Pola jaringan transpoi'tasinya berbentuk beberapa garis lurus yang bernomor (4) adalah daerah pemukiman golongan menengah
dari arah wilayah konsentris terluar menembus wilayah-wilayah kon- yang terdapat di sebelah daerah pemukiman golongan atas. Daerah
sentris yang terletak lebih dekat menuju ke arah pusat kota. pemukiman golongan atas (5) hanya meliputi sektor yang agak sempit,
perluasan cenderung dilakukan di sekitar daerah tersebut.
90 Joringon Tronsportosi: lr,tu t tfuttr Arrulisis
Pola joringon Pelayonon Angkrtut Umum di PerkotoonlMetropolitan 91

EI

Cambar 1O.2 Pola Radial Gambar 1O.3 Pola MultiPle Nuc/ei

10.4 Pendekatan Multiple Nuclea 10.5 Permukiman Bintang Sakti (The Galaxy of
Sattlement)
Pola ketiga yaitu pendekatan mult iple nuclei adalah anggapan Pola keempat adalah the galaxy of settlement. Kota terdiri dari
bahwa kota-kota berkembang di sekitar beberapa pusat tertentu dari
banyak kelompok pemukiman urban (c/uster) yang independen satu
pada di sekeliling satu pusat asal. semakin besar kota semakin banyak
sama lainnya. Pola semacam ini disebut urban galaxy. Pusat-pusat-
pusat yang dimilikinya. Wilayah-wilayah (1) sampai dengan (5) seperti
nya berimbang dalam komposisinya atau dapat pula berkembang
pada model sektor radial (teoriyang kedua). Wilayah (6)adalah daerah
Iebih luas dibandingkan yang lain karena spesialisasinya dalam je-
industri berat yang terletak di dekat tetapi terpisah dengan wilayah
(9) yang merupakan suburb industri. Di bagian lain pada perbatasan
nis kegiatan, misalnya suatu pusat adalah pusat kebudayaan, yang
lain suatu pusat keuangan, yang lain lagi mempunyai spesialisasi
antara daerah pemukiman golongan atas dan daerah pemukiman
kegiatan tertentu. Sistem sirkulasi dan arus menuju ke arah tiap pu-
golongan menengah terletak daerah perdagangan dan perniagaan (z).
sat c/uster. Untuk mempertahankan kemudahan arus ke semua
wilayah (B) merupakan suburb pemukiman dan rumah-rumah para
arah, maka sistem sirkulasi diatur secara hubungan segitiga (trian-
pejabat tinggi. Lihat Cambar 10.3.
gular grid). Kelompok pemukiman yang independen tersebut akan
Model daerah-daerah dan fungsi-fungsi pusat mungkin saja kurang menikmati manfaat 'metropolitan, misalnya dalam hal pe-
berubah atau berbeda pada berbagai kota-kota besar, akan tetapi milihan pekerjaan bagi para pegawai, pemilihan kontak sosial, kon-
struktur dan pola tata guna tanahnya akan cenderung mencerminkan tak jasa pelayanan dan sebagainya. Semuanya berlangsung dalam
prinsip-prinsip dasar yang sama. lingkup yang sempit, akan tetapi jika sistem transportasi bagus
maka ciri independen tersebut akan menjadi kurang menonjol lagi
(Cambar 10.4).
92 Joringon Tronsportasi: ft,cu i tltur Atutlisis Pola jaringon Pelayonon turykutort lJmum di Perkotaan/Metropolitan 93

I-ranspor umum melayani pada jalur "ring road" dan persimpangan-


persimpangan radial, sedangkan kendaraan pribadi lebih banyak
digunakan untuk sirkulasi di luar "ringroad" tersebut (Cambar 10.6).

Gambar 10.5 Pola Bintang Perkotaan


Gambar 10.4 Pola permukiman Bintang Sakti

10.6 Pola Bintang Perkotaan (Ihe Urban Star) dan


Cincin (The Ring)
Pola kelima adalah the urban star. Dirasakan pengaruh domi-
nan di pusat utama. Pusat utama tersebut dikelilingi oleh beberapa
pusat sekunder yang terletak di sepanjang jaringan radial, yang me-
mancar seperti bintang. Pada pusat metropolis yang berpola bin-
tang tersebut terdapat tipe kegiatan yang rebih intensif dan luas
jangkauannya. Pada dasarnya sistem arus lalu rintas diatur menurut
pola radial di samping itu juga secara cincin kontras yang mengeli- Gambar 1O.6 Pola Cincin
lingi pusat-pusat yang kecil yang terletak pada jaringan radial. Ke-
padatan lalu lintas terjadi pada pusat dan di sepanjang radial utama ,,1O.7
Kaitan Bentuk Metropolitan dan Sasaran
(Gambar 10.5).
Pengaturannya
Keenam adalah pola the ring.pada pusat metropolis tidak terlalu
Enam buah pola metropolitan seperti dikemukakan di atas
padat, sedangkan kepadatan tinggi dan kegiatan khusus berada di
yaitu wilayah konsentris sektor radial, multiple nuclei, the galaxy, the
sekitarnya, yang dapat dilukiskan seperti sisi keliling suatu roda (felek).
star, dan the ring) pada dasarnya merupakan variasi kemungkinan.
Pencapaian sasaran yang menyangkut kepentingan manusia di daerah
Jaringon Tronsportasi: Teori <kur Anolisis Polo joringan Pelayanon Angkuton lJmum di Perkotoon/ lAetropolitan 95

urban erat berkaitan dengan pola phisik, yaitu bagaimana disain metropolis dalam suatu pusat (the core) akan menimbulkan kerugian
Ii n gku n gan secara mendetai I d i rancan g seperti tatanan ged un g-ged u ng yang fatal, terutama bila dikaitkan dengan pencapaian sasaran biaya
dan penyediaan fasilitas-fasilitas jasa pelayanan kota. operasi minimum, kenyamanan, partisipasi individual, dan kemam-
puan menyesuaikan terhadap perubahan. Rasionalisasi metropolis tua
Sasaran pengaturan metropolitan dapat disebutkan secara ter-
dalam bentuk the star dapat lebih baik jikalau kongesti sentral dapat di
perinci, yaitu menyangkut soal pemilihan kegiatan (choice), interaksi
atasi dan aksesibilitas bebas dapat dipertahankan. Kegiatan metropolis
(i nteraction), biaya (cost), kenyamanan (comfort), partisipasi (parti ci-
semakin meningkat dan bertambah luas, maka bentuk kota semacam
pation), pertumbuhan (growth), kemampuan menyesuaikan terhadap
ini tidak akan mampu mengakomodasikannya lagi. Walaupun pola
perubahan terlaksana pada keadaan di mana kepadatan rendah. Biaya
"the ring" mempunyai keuntungan khusus, tetapi akan mengalami
operasi minimum tergantung pada penempatan usaha atau kegiatan
kesulitan besar bila dilihat dari pencapaian sasaran biaya minimum,
di sepanjang jalur transportasi utama, sistem arus sirkulasi yang seim-
kemampuan menyesuaikan terhadap perubahan, dan kesinambungan
bang baik dari segi waktu dan arah tujuan perjalanan, dan peman-
pertumbuhan.
faatan sarana angkutan secara efektif dan efisien. Di lain pihak ke-
nyamanan dipengaruhi oleh iklim dan cuaca yang baik, tidak adanya Disadari bahwa penyusunan rencana pembangunan dan per-
kebisingan, tata ruang yang luas, kepadatan yang rendah, serta terse- luasan suatu metropolis sangat kompleks. Pola metropolitan secara
d ianya fasi l itas-fasi l itas mahal seperti "ai r condition i ng", rumah-rumah murni seperti dijelaskan di atas sukar dipeftahankan, yang sering
dengan atap tinggi. Partisipasi individual dapat dilaksanakan dalam terjadi adalah pola kombinasi atau campuran. Misalnya, kenyataan
keadaan di mana terdapat kepadatan yang rendah dan suasana yang menunjukkan bahwa aglomerasi kegiatan-kegiatan produktif terjadi
memungkinkan ditumbuhkannya hubungan aktif antara lingkung- di beberapa lokasi tertentu, sehingga pola metropolitan berbentuk
an individual dan sosial sehingga motivasi dan inisiatif mereka dapat polycentered net (Gambar 10.7). Sirkulasi dan konsentrasi terdapat
berkembang. Pertumbuhan di daerah metropolitan berkembang terus di sepanjang jalur transportasi utama dan di antaranya adalah daerah-
dan meningkat semakin pesat, oleh karena itu harus ada kemampuan daerah ekstensif dengan kepadatan rendah. Pola umumnya seperti
untuk menyesuaikan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Ke- pola jaringan dengan pusat-pusat yang bertebaran.
I

mampuan menyesuaikan terhadap perubahan nampaknya lebih me- Dewasa ini metropolitan kurang memberikan kenyamanan se-
mungkinkan pada struktur metropolitan yang fleksibel dan belum ter- 't
bagai lingkungan kehidupan. Perkembangan dan perubahan berlang-
lalu "complicated". Sasaran yang bersifat aestetika misalnya mengenai I
sung sangat pesat, tetapi di samping itu terjadi banyak pembangunan
pembangunan gedung-gedung dan rumah-rumah yang indah, peng- yang tidak terkontrol. Sirkulasi di berbagai tempat mengalami kepa-
aturan teman-teman yang sejuk dan menarik, dan lain sebagainya. datan dan kemacetan. Aksesibilitas kurang seimbang terutama ke dae-
Selanjutnya perlu diperhatikan bagaimana kaitan antara ben- rah-daerah pedesaan. Pemanfaatan fasi I itas tidak sei mbang, segregasi
tuk metropolitan dengan pencapaian sasaran-sasarannya. Suatu ma- pemukiman dan sosial nampak berkembang. Meskipun metropolitan
syarakat kecil seperti pola the galaxy relatif lebih baik dilihat dari segi memiliki manfaat ekonomi dan sosial yang menarik, akan tetapi di
pemukiman penduduk, akan tetapi dilihat dari pemilihan kegiatan, in- lain pihak banyak penduduknya harus memikul akibat yang negatif,
teraksi, dan biaya agak sukar dilaksanakan. Sentralisasi kembali suatu ketidaknyamanan dan sebagainYa.
96 Jaringon Transportosi: Teori don Analisis Ptt I o j o r i ngon Pe layonot r Ar tqk r t t t n t U ntu nt d i Pe r ko too n / lAe t ropoli ton

jasa perdagangan dan jasa transportasi menghubungkan kota-kota


(pusat-pusat kegiatan) yang disebut simpul jasa distribusi (atau yang
d isingkat "simpu l "). Orientasi pemasaran secara geografis antarsi mpu I
(kota) dilakukan melalui jaringan transportasi, yang membentuk pola
jaringan transportasi. Pembangunan prasarana jalan harus dikaitkan
dengan pola jaringan jalan.

-oo0oo-

Gambar 10.7 Jaringan dengan Pusat Banyak


Pola jaringan transportasi menunjukkan hubungan intensif
dalam lalu lintas antarkota atau pusat kegiatan dengan kota-kota
(pusat-pusat kegiatan) lainnya, antara sumber bangkitan lalu lintas
dengan tempat tarikan lalu lintas. Pola jaringan transportasi mengikuti
pola perkotaan, ada yang berbentuk sebagai cincin (the ring), bintang
(the star), atau berbentuk radial (the radial), atau dapat pula berbentuk
cakar ayam, sarang laba-laba, dan garis. Banyak bentuk pola jaringan
transportasi. Apapun bentuknya, yang jelas adalah menghubungkan
antarkota (pusat kegiatan) yang satu dengan kota-kota (pusat-pusat
kegiatan) lainnya dalam hal pelayanan pergerakan lalu Iintas arus
manusia (penumpang) dan arus barang.

Arus barang dalam kegiatan perekonomian dan pembangunan


merupakan gejala ekonomi yang paling menonjol dan merupakan
wujud fisik dalam perdagangan regional, nasional dan internasional.
Kegiatan perdagangan membutuhkan dukungan tersedianya fasilitas
(prasarana dan sarana) transportasi. Jasa perdagangan dan jasa
transportasi merupakan unsur-unsur dari jasa distribusi. Kegiatan
11
IRIII S Pll RIAS I P t R I(OI[A1I

11.1 Tata Kota dan Assesibilitas


alah satu fungsi utama kota adalah penyediaan prasarana dan
sarana angkutan secara cukup bagi penduduknya. Prasarana ja-
lan raya dibangun untuk menghubungkan terutama antara lo-
kasi perumahan penduduk dengan tempat-tempat peker.iaan mereka.
Dalam hubungan ini harus diperhatikan bukan hanya persoalan pem-
bangunan prasarana jalan raya secara phisik atau teknis semata-mata,
akan tetapi tidak kalah pentingnya adalah masalah pengaturan lalu
lintasnya. Pengaturan lalu lintas di daerah perkotaan dapat membantu
pertumbuhan kota yang harmonis. Hubungan antara jaringan prasa-
rana jalan raya, lokasi perumahan penduduk, dan tempat-tempat pe-
kerjaan secara agregatif dapat dimanifestasikan dalam bentuk susunan
tata kota yang harus diusahakan memiliki ciri-ciri yang dinamis dan
tidak kaku.
Dalam bidang tata kota terdapat banyak pola yang telah diran-
cang atau diciptakan oleh ahli-ahli tata kota yang terkenal. Kita me-
ngenal pola Carden City dan Carden Suburb seperti dikemukakan oleh
Howard (1907), ada pula pola linear City yang dibuat oleh insinyur
Jaringon Transporlosi: lttu i tlurr Attolisis
Tronspor tosi Pe rkotoon 101

Spanyol yang terkenal Arturo Soria Y. Mata (1882). Selain dari pada itu
perjalanan ke obyek-obyek rekreasi, dan distribusi perdagangan ecer-
ada pula tata kota yang lain lagi yaitu pola Radbu rn ldea yang dicip-
an barang-barang dan jasa-jasa ke daerah-daerah pemukiman.
takan oleh Clarence Stein dan Henry Wright (1924). pola Neighbour-
hood Unityang diusulkan oleh Clarence Perry (1 929), ada lagi pola [a
Ville Radiouse yang dirancang oleh arsitek Swiss yang kenamaan yai-
11.2 Beberapa Masalah Lalu Lintas di Daerah
tu Le Carbusier (1922), dan masih banyak lagi ahli-ahli perencanaan Urban
kota lainnya yang terkenal dan brilian seperti Patriok Ceddes, patriok Berbagai gejala lalu lintas yang penting di daerah perkotaan
Aberorombie, dan Lewis Mumford, di mana salah satu perhatiannya di negara-negara yang belum berkembang dapat dikemukakan, di
dalam penyusunan pola tata kotanya adalah penciptaan sistem lalu antaranya sebagai berikut (H. A Adler, 1983):
lintas atau transportasi urban yang lancar (W.H. Leahy (et.al), 1g7O)- 1 . Keadaan prasarana jalan raya pada umumnya kurang memuaskan,
Fungsi suatu konsentrasi urban adalah menyelenggarakan ter- yaitu sempit dan kualitasnya di bawah standar.
jadinya kontak (interaksi). Kemudahan dan kelancaran lalu lintas un- 2. Jumlah kendaraan bermotor bertambah terus setiap tahunnya de-
tuk menunjang kontak tersebut tergantung pada tersedianya fasilitas ngan laju pertumbuhan yang sangat pesat, tidak sebanding de-
transpoftasi, walaupun faktor penentuan lokasi yang bersifat eksogin ngan jalan raya yang tersedia.
di daerah urban berpengaruh pula, misalnya keadaan topografi dapat 3. Banyaknya kendaraan yang berkecepatan lambat seperti dokar
membatasi pembangunan prasarana jalan raya ke suatu daerah yang dan becak seringkali menimbulkan terjadinya kemacetan dan ke-
berbukit-bukit. Yang penting harus diusahakan yaitu menciptakan ak- celakaan lalu lintas.
sesibilitas keseluruhan secara maksimum di daerah perkotaan. Aksesi- 4. Kedisiplinan, kesopanan, dan kesadaran berlalu Iintas para pe-
bilitas meliputi kemudahan hubungan antarkegiatan-kegiatan non ke- makaijalan raya masih kurang, sehingga kerapkali mengakibatkan
diaman, antarkegiatan-kegiatan kediaman (rumah tangga), dan antara kesemrawutan lalu lintas.
kegiatan-kegiatan kediaman dan non kediaman. 5. Sebahagian pengaturan lalu lintas masih dirasakan belum mampu
menjamin kelancaran arus lalu lintas.
Kemudahan hubungan antarkegiatan non kediaman, misalnya
perusahaan-perusahaan dagang dan industri lebih tertarik untuk me- Cejala-gejala di atas merupakan faktor-faktor penyebab terjadi-
nempatkan kegiatannya pada lokasi yang lebih mudah berhubungan nya kecelakaan lalu lintas. Angka kecelakaan lalu lintas meningkat te-
dengan supplier lokaldan para langganannya, lokasi kantor pusat sua- rus, bukan hanya dalam jumlahnya, akan tetapi juga lebih mengerikan
tu perusahaan industri diusahakan tidak jauh dari laboratorium pe- akibat kecelakaannya, yaitu korban yang meninggal dunia, luka-luka
n"elitiannya agar mudah berhubungan. Kemudahan hubungan antar- berat dan ringan, serta kerugian materiil yang tidak kecil jumlahnya.
kegiatan kediaman, misalnya perjalanan dari rumah ke rumah yang Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang sangat pe-
lain, baik dalam daerah selingkungan maupun ke luar lingkungan. sat telah mengakibatkan berbagai kesulitan, selain dari timbulnya
Kemudahan hubungan antara kegiatan kediaman dan kegiatan non kecelakaan lalu lintas yang semakin meningkat dapat dikemukakan
kediaman, misalnya perjalanan yang dilakukan oleh penduduk ke kesulitan-kesulitan lainnya yang tidak kalah pentingnya yaitu kesulit-
tempat pekerjaan masing-masing, perjalanan murid-murid ke sekolah, an tempat parkir untuk kendaraan-kendaraan bermotor dan terjadinya
kongesti (kemacetan) lalu lintas.
102 Joringon Tronsportosi : fe<tt t durt Anolisis Tronspor tosi Pe r kotoan 103

Sebagai akibat dari pembuatan jalan-jalan raya pada masa yang jalan raya baru, akan tetapi dapat dilaksanakan dengan menetapkan
lalu pada umumnya adalah sempit, maka usaha untuk mengadakan pengaturan yang tepat dan efektif.
pelebaran jalan dan pengaturan jalur lalu lintas menghadapi banyak
kesulitan, disebabkan bangunan gedung-gedung terletak sangat dekat
Pengaturan lalu lintas di kota-kota besar yang paling umum
yaitu:
di tepi jalan raya. Keadaan semacam ini terdapat di bagian kota rama
dan di
pusat-pusat perdagangan. Selanjutnya untuk mengadakan 1. Mengintrodusir one way street atau jalan dengan lalu lintas satu
pelebaran jalan di tempat-tempat tersebut tidak ada pilihan lain yaitu arah. Dua buah jalan yang paralel dapat pula meningkatkan arus
pembongkaran bangunan-bangunan yang terkena pelebaran jalan lalu lintas apabila kedua jalan tersebut merupakan "one way
dan memberikan ganti kerugian kepada para pemiliknya, dengan streets"
pertimbangan bahwa kepentingan umum harus lebih diutamakan 2. Salah satu sebab dari kelambatan arus lalu lintas yaitu adanya
dari pada kepentingan perorangan. Bilamana daerah yang dimaksud i kendaraan-kendaraan yang membelok ke kanan, maka sebagai
telah ditata kembali, maka pengaturan parkir kendaraan-kendaraan usaha untuk mengatasi kelambatan arus lalu lintas tersebut se-
i
bermotor harus dikelola secara bisnis, yaitu selain untuk kepentingan baiknya diadakan larangan belok ke kanan (prohibition of right
keteraturannya, memberikan manfaat pula dalam hal penyediaan hand turns) khususnya pada jam-.iam di mana arus lalu lintas
lapangan kerja dan menambah pendapatan pemerintah kota. sangat ramai, atau dibuatkan suatu bundaran (circle) di tengah-
tengah perempatan jalan untuk mengurangi ketidak-teraturan lalu
Jumlah kendaraan bermotor yang bertambah terus mengakibat- lintas, sedang kendaraan yang akan membelok ke kiri diizinkan
kan pula terjadinya kongesti atau kemacetan lalu lintas terutama pada
Iangsung jalan walaupun pada saat itu "traffic light" menunjukkan
jam-jam sibuk yaitu pada waktu menjelang dimulainya dan seterah
warna merah (keep to the left).
berakhirnya jam kerja kantor. Kemacetan lalu lintas pada umumnya
3. Pemasangan rambu-rambu lalu lintas dan lampu-lampu lalu lintas
terdapat di daerah pusat kota yang keadaan jalannya sempit dan di (traffic light) yang secara jelas dapat dilihat dan mudah diketahui
persimpangan-persimpangan jalan yang ruwet pengaturan lalu lintas-
oleh para pengemudi kendaraan bermotor dan pemakaijalan lain-
nya. Di setiap kota besar terdapat keluhan mengenai kongesti, kelam-
nya, hal ini dimaksudkan agar supaya arus lalu lintas dapat lebih
batan, dan kesulitan parkir kendaraan bermotor, serta pemuatan dan
teratur dan kemungkinan terjadinya kecelakaan dapat dikurangi
pembongkaran muatan barang-barang.
pula.
4. Ditetapkan larangan bagi kendaraan-kendaraan bermotor berhenti
11.3 Manajemen Lalu Lintas pada jalan tertentu (clear ways) baik untuk sepanjang hari atau-
Traffic management (manajemen lalu lintas)atau sering kali pura pun hanya untuk jam-jam tertentu, dan untuk keperluan parkirnya
disebut traffic engineering, yaitu dimaksudkan sebagai usaha untuk disediakan tempat-tempat kh usus.
mengatur dengan sebaik mungkin penggunaan jalan raya di daerah 5. Mengintrodusir sistem tidal flaw, misalnya suatu jalan raya terdiri
perkotaan disesuaikan dengan tingkat dan volume lalu lintasnya. Bila dari 6 jalur, di mana 3 jalur menuju arah masuk kota dan 3 jalur
kongesti lalu lintas dapat diatasi, maka berarti arus lalu lintas dapat menuju arah ke luar kota. Pada puncak kepadatan lalu lintas (peak
diperlancar. Hal ini dapat diusahakan tidak perlu harus membangun hours) pagi hari ditetapkan 4 jalur untuk lalu lintas yang menuju
ke pusat-pusat kota, sedangkan 2 ialur sisanya digunakan untuk
Joringon Tronsportasi: Teotl clon Anolisis h'anspo r tosi Pe r kotaou 105

lalu lintas yang menuju ke arah luar kota, dan begitu sebaliknya tumbuhan. Secara logis tujuan efisiensi dan peftumbuhan adalah
pada puncak kepadatan sore hari. berkaitan satu sama lainnya, akan tetapi keduanya terdapat perbe-
6. Untuk mengatasi kemacetan di kota-kota besar, selain dibangun daan. Efisiensi menunjukkan pada pemakaian sumberdaya tertentu
jalan Iingkar, telah banyak dibangun jalan tol (toll road) atau jalan pada suatu waktu tertentu dapat dicapai hasil yang sebesar-besarnya,
bebas hambatan. Jalan tol dibangun membutuhkan investasi yang sedangkan pertumbuhan memperlihatkan pertambahan sumberdaya
besar jumlahnya, oleh karena itu kepada pengguna jalan tol diwa- yang dapat diperoleh selama jangka waktu yang lebih panjang, selain
jibkan membayar tol (pajak/iuran) untuk membiayai pembangun- dari pada itu terdapat pula perbaikan teknik atau sistem yang diper-
an jalan tol tersebut. gunakan, sehingga dengan demikian diharapkan dapat memperoleh
7. Three in one, artinya setiap mobil yang lewat jalan yang telah
:
hasil yang lebih besar.
ditetapkan (umumnya jalan arteri) dalam jam-jam tertentu (jam l Pola lalu linas kota dapat disusun dalam bentuk ring roads
7.OO-11 .00) harus berpenumpang sekurang-kurangnya tiga orang,
di mana kantor pusat pemerintahan terletak di tengah, sedangkan
untuk mengurangi jumlah kendaraan yang melewati jalan terse- gedung-gedung perkantoran lainnya terletak di sekitarnya. Dalam
but. Kebijakan ini telah dipraktekkan di kota metropolitan Jakarta. perencanaan kota bentuk ini sering disebut sebagai symetrical spider's
8. Melaksanakan pelayanan Bus Way, yaitu bus kota yang berope-
web pattern atau pola jaringan laba-laba yang simetris. Menurut pola
rasi pada jalur/jalan yang disediakan tersendiri, dengan frekue-
ini sistem lalu lintas dapat diatur secara satu arah (one way traffic) atau
nsi pelayanan yang cukup tinggi (setiap 10 menit), maka jumlah
dua arah (two ways traffic), hal ini tergantung pada kondisi setempat.
penumpang yang dapat diangkut dalam seteiap harinya sangat
banyak, sehingga diharapkan dengan pelayanan bus-way dapat Pola lalu lintas di daerah perkotaan dapat pula disusun menurut
mengurangi kepadatan dan kemacetan lalu lintas angkutan pe- pola hexagonal, di mana terdapat tiga jalan persimpangan, sehingga
numpang di kota-kota besar dapat dikurangi. bentuknya seperti segi enam. Dilihat dari segi transportasi bentuk
9. Masih banyak lagi pengaturan lalu lintas perkotaan lainnya. hexagon al lebi h efis ien d i band i ngkan dengan pola polygonal (terdapat
banyak jalan persimpangan), sedangkan pola rectangular (persegi
11.4 Pengembangan Pola Trayek empat) memerlukan jalan persimpangan yang lebih kornpleks.

Sebagai konsekuensi dari jumlah penduduk yang semakin ber- Dalam merencanakan jaringan transportasi ke seluruh bagian
tambah banyak, maka kegiatan di daerah perkotaan semakin ber- kota pada dasarnya dapat diintrodusir suatu hirarki distribusi. Yang
tambah banyak pula. Seringkali dikatakan bahwa kegiatan-kegiatan dimaksudkan dengan hirarki disini yaitu prasarana jalan raya dibangun
di daerah perkotaan adalah tidak terbilang banyaknya (activities are menurut fungsi dan peranannya dalam menampung arus lalu Iintas
numberless), oleh karena itu masalah pola Ialu lintas dan sirkulasi di dari suatu tempat ke tempat lainnya. Pembangunan prasarana jalan
daerah perkotaan perlu mendapatkan perhatian, agar supaya benar- raya tersebut dapat mengikuti prinsip pembagian suatu pohon yang
benar efektif dan efisien. terdiri dari batang, dahan, cabang dan ranting (trunk, limbs, branches
and twigs).
Setiap kegiatan tidak boleh dilaksanakan sembarangan, akan
tetapi harus dikaitkan dengan pencapaian tujuan efisiensi dan per- Senantiasa harus diusahakan untuk memperbaiki dan menyem-
purnakan pola lalu lintas agar supaya menjadi lebih efektif dan efisien
Joringan Tronsportosl: Teorl don Analisis
I

dilihat dalam rangkaian usaha mewujudkan suatu sistem transportasi


urban yang terpadu, di mana kegiatan transportasi dapat dilaksanakan
secara lancar, tertib, teratur dan aman, yang terbentuk melalui ja-
ringan transportasi. Jelaskah, bahwa jaringan transportasi merupakan
12
salah satu unsur mendasar kegiatan transportasi, yang dibutuhkan un-
tuk menunjang kegiatan perekonomian dan pembangunan. Jadi, ke-
beradaan jaringan transportasi mempunyai kontribusi yang dominan
I(OIIGTSII I.AIU 1I]IIAS PERI(IIIAAII
dalam pengembangan perekonomian dan pembangunan secara nasi-
onal (meliputi perkotaan dan pedesaan).

-oo0oo-

12.1 RevolusiTranspor dan Kelancaran Lalu Lintas


emenjak akhir abad ke-19 yang lalu banyak kota di beberapa
negara, terutama di Eropa mengalami perkembangan yang
semakin pesat laju pertumbuhannya. Perkembangannya dan
kepesatannya bukan hanya disebabkan karena semakin bertambah dan
meningkatnya kegiatan penduduk kota yang meliputi bidang-bidang
kegiatan ekonomi, sosial budaya dan politik, selain dari pada itu juga
mengenai luas kegiatannya dari masing-masing bidang itu sendiri.
Dari sekian banyak gejala dalam perkembangan kota tersebut
dapat disebutkan yang semakin menonjol dan semakin penting pe-
ngaruhnya yaitu urbanisasi atau arus perpindahan penduduk dari dae-
rah pedalaman ke kota-kota yang terjadi beberapa dasa warsa terakhir
ini telah memperlihatkan peningkatan yang semakin pesat. Dengan
makin bertambahnya jumlah penduduk kota, maka diperlukan penye-
diaan sarana untuk melayani kebutuhan penduduk kota tersebut harus
dilaksanakan secara memadai. Memadai dalam arti kata jumlahnya
dan jenis sarananya. Dalam pengaturan lalu lintas di jalan-jalan di
dalam kota harus diarahkan untuk kepentingan kelancaran arus lalu
108 Joringon Tronsportosi: la<u i rlort Anolisis 1
I
Kongesti lolu Lintos Perkotoou

Iintas dan keselamatan para pemakai jalan, baik para pengendara I

kota, oleh karena kegiatan-kegiatan penduduk terjadi di sana. Di mana


kendaraan bermotor dan yang non motor maupun para pejalan kaki.
di kota terletak gedung-gedung kantor, bank-bank, terminal, pasar,
Dengan diketemukannya kereta api oleh Trevithick (1804), oto toko-toko, i nd ustri-i nd ustri dan pusat-pusat kegi atan prod u ktif lai n nya,
mobil oleh Gottfried Daimler (1997), pesawat terbang oleh Wilbur sehingga dapat dikatakan pula bahwa lalu lintas merupakan fungsi
wright dan orville wright (1903), sefta alat-alat pengangkutan dari gedung-gedung (traffic is a function of buildings). Kesibukan lalu
lainnya merupakan rangkaian yang menyebabkan revolusi transpor, lintas tidak berlangsung sepanjang hari dan sepan.iang malam, akan
yang sudah barang tentu hal ini banyak membawa perubahan dan tetapi biasanya sangat padat pada jam-jam kerja kantor dan puncak
kemajuan dalam masyarakat. persoalan hambatan jarak sudah dapat kepadatannya terjadi pada waktu menjelang dimulainya dan setelah
di atasi, kelancaran arus lalu lintas baik di dalam negara maupun berakhirnya jam kerja tersebut. Kesulitan lalu lintas di dalam kota pada
antarnegara menunjukkan semakin bertambah ramai dan cepat, umumnya disebabkan karena sempitnya jalan, tidak seimbangnya
demikian pula mengenai masalah transpor kota (urban transport). jumlah kendaraan dengan tingkat kegiatan masyarakat, tidak cukupnya
Untuk mengimbangi kemajuan kehidupan masyarakat kota, maka prasarana jalan raya yang tersedia serta banyaknya lalu Iintas yang
masalah tata kota menjadi semakin penting pula dan terus berkembang, sangat tidak teratur.
baik dalam teknik perencanaannya maupun mengenai desainnya.
Dalam hubungan ini yang sangat penting diketahui adalah
Lalu lintas dalam kehidupan masyarakat dapat dilukiskan bagai- hubungan antara jumlah kendaraan yang tersedia dengan kebutuhan
kan urat darah dalam tubuh, di mana darah mengalir melalui urat da- masyarakat terhadap sarana angkutan pada suatu jangka waktu teftentu
rah ke seluruh tubuh dengan lancar dan teratur, yang menyebabkan dan bagaimana penyusunan pola sirkulasi lalu lintas angkutan yang
kesehatan tubuh terpelihara dengan baik. Jadi lalu lintas di dalam mantap. Sebagai contoh dapat dikemukakan keadaan di lnggris pada
kota dan daerah sekitarnya yang efektif dan efisien akan menentukan tahun 194711948, yaitu mengenai lalu lintas kereta api yang menu1'u
efisiensi industri, kelancaran perdagangan dan pern iagaan, pemasaran ke pusat kota London. Kesibukan dalam arus penumpang terjadi antara
hasil-hasil pertanian yang semakin baik, begitu pula pengaruhnya ter- jam 10.00-16.00 dengan jumlah penumpang berkisar 4000-5000
hadap perkembangan dan kemajuan di bidang pendidikan kesehatan, orang dalam setiap 10 menit, akan tetapi pada jam 9.00 lalu lintas
sosial budaya. Pendek kata seluruh aspek dari kehidupan masyarakat mencapai puncaknya yaitu 35.000 orang dalam setiap 10 menit, dan
dipengaruhi oleh kemajuan di bidang transportasi, yang kemudian pada sore hari puncaknya mencapai sampai 40.000 orang, sedangkan
akan mempengaruhi arus lalu Iintas barang dan penumpang. tempat duduk yang tersedia dalam kereta api tersebut hanya sebanyak
20.000 buah saja, hal ini berarti bahwa penumpang sebanyak 15.000-
12.2 Penyediaan Sarana Angkutan dalam Jumlah 20.000 orang terpaksa berdiri berjejal-jejal. Pada jam-jam tersebut
yang cukup lalu lintas kendaraan bermotor (mobil sedan dan bis-bis kota)-pun
Dari uraian di atas dapat dinyatakan lebih konkrit lagi bahwa memperlihatkan pula adanya kongesti.
lalu lintas itu adalah merupakan fungsi dari kegiatan (traffic is a Kongesti atau kemacetan lalu Iintas merupakan pemborosan
function of activities). Pada umumnya lalu lintas terpusat di dalam waktu, dan pemborosan waktu berarti penggunaan waktu tidak
secara efektif dan efisien. Di negara-negara yang telah maju dan di
110 Joringon Tronsportosi: 'laot i dtttr Anolisis
1
Korryesti lolu Lintos Perkotuart t11

kota-kota besar faktor penggunaan waktu diusahakan se-efektif dan Memperhatikan laju pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor
se-efisien mungkin, time is money. Daram keadaan lalu lintas yang dalam beberapa tahun yang lalu berkisar 15-20 % setiap tahunnya,
mengalami kongesti, kecepatan rata-rata kendaraan bermotor relatif sedangkan pertambahan pembangunan jalan raya baru selama tiga ta-
lambat. seperti yang terjadi di kota London pada tahun 1961, di mana hun '1970-1972tercalat hanya kurang lebih 6,5 % . Pertambahan jum-
kecepatan rata-rata kendaraan bermotor hanya berkisar 15 kilometer lah kendaraan bermotor memperlihatkan perkembangan yang lebih
per jam. Banyak langkah dan usaha telah ditempuh untuk mengatasi cepat, yaitu kira-kira sampai enam kali lipat dibandingkan dengan per-
atau mencegah terjadinya kongesti. yang terpenting adalah menambah tambahan pembangunan jalan baru, pertambahan jumlah kendaraan
kendaraan umum, misalnya kereta api dan bis kota sesuai dengan bermotor sebahagian besar terkonsentrasi di kota-kota besar, sedang-
tingkat kebutuhan para pemakai jasa angkutannya. Selain dari pada kan pembangunan jalan baru banyak dikerjakan di luar kota, sehingga
itu harus pula diusahakan penyusunan sistem lalu lintas secara teratur jelas dapat dilihat bahwa pemakaian prasarana jalan raya di kota-kota
dan terarah, sehingga arus lalu lintas dapat berlangsung secara lancar, besar semakin meningkat, baik dalam jumlah pemakaiannya maupun
tertib dan aman. intensitasnya, oleh karena itu masalah perencanaan ahgkutan umum di
kota-kota besar harus mendapat perhatian dan prioritas. Perencanaan
12.3 Perencanaan Angkutan Umum angkutan umum di kota dapat membantu pertumbuhan kota secara
Kiranya jelaslah sudah bahwa penyediaan fasilitas dan sarana lebih baik dan lebih serasi. Lokasi kegiatan ekonomi akan dapat diatur
angkutan umum di kota-kota besar itu harus mendapat perhatian yang dan disesuaikan dengan lokasi perumahan melalui jaringan angkutan
utama, terutama mengenai jenis, jumlah, dan kepastiannya sedemiki- kota yang menyebar ke seluruh bagian kota. Masalah angkutan kota
an rupa harus pula benar-benar tepat dan serasi terhadap keutuhan akan menjadi masalah yang lebih penting dan mendesak dalam tahun-
para pemakaijasa angkutan. Di bawah ini dikemukakan data di Dae- tahun mendatang yang perlu mendapat penelaahan secara mendalam,
rah Khusus lbu KotaJakarta Raya (DKlJaya)dalam tahun 1996 sampai terutama dalam usaha pemerintah untuk menyusun perencanaan dan
197'l menunjukkan bahwa jumlah kendaraan pribadi meningkat 44 pengaturannya secara tepat dan serasi dan bersifat jangka panjang.
%, sedangkan truck bertambah 32 olo, Bukan hanya menyangkut segi pengaturan trayek, penetapan jumlah
bis meningkat 56 %, dan sepeda
motor naik dengan B1 %. tsilamana pertumbuhan jumlah kendaraan- dan jenis bis kota yang melayani pada setiap trayek, keamanan dan ke-
kendaraan tersebut dibiarkan begitu saja tanpa disertai pengaturan selamatan para penumpangnya, masalah tarif angkutan umum dalam
lalu lintas yang mantap, maka lalu lintas ibukota metropolitan Jakarta kota, dan masih banyak segi lainnya yang harus diperhatikan dalam
sudah pasti akan mengalami kesulitan. penyediaan fasilitas angkutan rangka pengembangan dan pengaturan angkutan umum di kota-kota
umum dalam kota dirasakan masih perlu ditambah, sedangkan menu- besar.
rut data di atas memperlihatkan bahwa perkembangan kendaraan ang- Dewasa ini (tahun 201 1) tingkat kemacetan lalu lintas di kota Ja-
kutan umum ternyata berkembang relatif lebih rendah dibandingkan karta (ibu kota negara, berpenduduk 10 juta jiwa) sudah sangat serius,
kendaraan pribadi. Hal ini kurang tepat bila ditinjau dari segi perenca- kondisi pelayanan angkutan umum perkotaan sangat tidak memuas-
naan angkutan umum di kota yang baik dan efisien. kan. Diperkirakan oleh pakar transportasi bahwa Jakarta akan meng-
alami kelumpuhan transportasi secara total (stagnasi total) pada tahun
112 Joringan Transportosl: Teorl don Anolisis

2014 (atau sekitar tiga tahun lagi). Bencana yang sangat mengerikan
sudah di depan mata, harus diatasi secara konseptual, perencanaan
komprehensif, dan program aksi yang nyata. 13
-oo000-
IIR G[]I IRA]I SPll RT[$ I IIAIAIII
I 1I

SISTIIII ITllTA B[1I IATARI]I


IRA]ISPORTRSI

13.1 Jaringan Rute Utama (Trunk Route) dan Rute


Pengumpan (Feeder Route)

T iga unsur dasar transportasi, yakni (1) kendaraan (the


vehicle) (2) jalan untuk angkutan darat, trayek untuk pe-
layaran dan rute untuk penerbangan (the way), dan (3) ter-
minal (the terminal) (M.N. Nasution, 1996). Ketiga unsur dasar terse-
but termasuk dalam jaringan prasarana transportasi terdiri dari simpul-
simpul transportasi yang berwujud terminal (penumpang dan barang)
yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas (berupa ruas jalan, trayek dan
rute yang ditentukan hirarkinya menurut peranannya) menggunakan
kendaraan (sarana transportasi). Jaringan prasarana transportasi tidak
dapat dipisahkan dengan jaringan pelayanan transportasi. Jaringan
pelayanan transportasi terdiri dari antarmoda/multimoda yang digu-
nakan untuk melayani angkutan penumpang dan/atau barang.

Moda transportasi jalan mempunyai karakteristik utama, yakni


fleksibel dan mampu memberikan pelayanan dari pintu ke pintu.
Moda transportasi laut mempunyai karakteristik mampu mengangkut
penumpang dan barang dalam .jumlah besar, kecepatan rendah dan
jarak jauh dengan tingkat polusi rendah. Moda transportasi udara
mempunyai karakteristik kecepatan tinggi dan dapat melakukan
114 Joringan Tronsportosi : ltar i rlotr Attolisis
I
Jaringon Tronsportosi dttlttrn Sistem Koto dan Totaron Transportosi 115

penetrasi sampai ke seluruh wilayah yang tidak dapat dijangkau oreh pesawat udara memiliki karakteristik pelayanan berkecepatan tinggi,
moda transportasi lain (Peraturan Menteri perhubungan No. KM. 49 fleksibel, dan tarif penerbangan sangat kompetitif (cheap aviation
Tahun 2005). atau low cost carrier) dan tingkat mobilitas penduduk sangat tinggi,
Seperti telah dikemukakan di depan, bahwa pergerakan lalu sehingga memungkinkan dilakukan pelayanan penerbangan ke segara
Iintas umum dapat disusun secara sederhana, yaitu (a) menghubungkan jurusan (rute).
pusat besar dengan pusat-pusat sedang, dan selanjutnya antara pusat
sedang dengan pusat-pusat kecil. Pola jaringan transpoftasi semacam
13.2 Jaringan Pelayanan Angkutan Umum dalam
ini disebut conventionaltree pattern (pola pohon konvensional) yang Sistem Kota
mendasarkan pada susunan pohon, yang terdiri dari batang, dahan, Angkutan umum yaitu angkutan yang bisa digunakan untuk
cabang dan ranting. Dalam trayek pelayaran dan rute penerbangan umum dengan persyaratan tertentu, merupakan bagian yang tidak
dikenal trunk rute (rute utama) dan feeder rute (rute pengumpan) terpisahkan dari sistem transportasi perkotaan dan merupakan kom-
Jaringan prasarana jalan terdiridarijalan arteri (urat nadi), jalan kolektor ponen yang perannya sangat penting karena kondisi sistem angkutan
dan jalan lokal; dan (b) jaringan transportasi yang menghubungkan umum perkotaan yang jelek akan menyebabkan turunnya efektivitas
masing-masing pusat ke seluruh lainnya dikenal sebagai potygrid maupun efisiensi dari sistem pelayanan transportasi perkotaan secara
pattern atau pola pergerakan ke segala jurusan. keseluruhan. Hal ini akan menyebabkan terganggunya sistem kota,
baik ditinjau dari pemenuhan kebutuhan mobilitas masyarakat mau-
Pola pohon konvensional diterapkan dalam pelayaran, meng-
pun ditinjau dari mutu kehidupan.
ingat kapal-kapal laut sebagai sarana angkutan yang digunakan, me-
miliki karakteristik berkapasitas angkut yang besar dan berkecepa- Pola perjalanan di daerah perkotaan pada umumnya berben-
tan rendah, sehingga tidak menguntungkan untuk menyinggahi tuk jaringan "radial' menuju pusat kota (CBD). Angkutan umum je-
seluruh pelabuhan laut, maka persinggahan kapal-kapal laut diarah- nis "fixed-route" dengan pola pergerakan yang memusat (radial) akan
kan pada pelabuhan-pelabuhan besar. Kemudian distribusi muat- berakumulasi di kawasan pusat kota dan jika tidak dibarengi dengan
an dari pelabuhan besar ke pelabuhan sedang/kecil dilakukan oleh sistem jaringan dan dilengkapi dengan terminal-terminal alih muat
kapal-kapal berukuran lebih kecil. Penyelenggaraan transportasi laut yang baik, maka hal ini akan menjadi penyebab kemacetan yang
(pelayaran) dilakukan secara terkonsolidasi dan tersinkronisasi. Ter- sangat kronis dan dapat merugikan semua pihak, baik yang terlibat
konsolidasi diartikan sebagai upaya memanfaatkan kapasitas yang Iangsung maupun yang tldak terlibat langsung (Tamin OZ, 1gg3).
tersedia sebesar-besarnya, agar menguntungkan si operatornya (per- Sedangkan menurut Welding ('1957) dalam Morlok E.*., (''991;683-
usahaan pelayaran). Tersinkronisasi berarti menyediakan sarana ang- 684), bahwa pola pergerakan yang menuju atau berasal dari pusat kota
kutan yang berkapasitas sesuai dengan volume muatan tersedia; untuk (CBD), yang dicerminkan oleh jaringan jalan yang membentuk radial
volume muatan dalam jumlah kecil disediakan sarana angkutan yanpl akan membentuk rute-rute panjang cenderung menghasilkan dengan
trerkapasitas kecil. rute-rute yang lebih pendek.

Pola di segala jurusan (polygrid pattern) hanya diterapkan dalam Bahasan-bahasan teoretis seperti di atas, merupakan konsepsi
pelayanan penerbangan di negara-negara maju. Mengingai bahwa dasar dalam suatu rumusan kebijakan pengembangan sistem transpor-
tasi perkotaan (STP) yang arahnya ditekankan pada:
116 Jaringan Tronsportasl: Teorl dorr Anolisis Jarlngon Tronsportasl dolont Slstem Kota don Tataran Tronsportosi 117

1. Pembangunan transportasi perkotaan harus diarahkan pada terwu- liknya. Tatralok adalah sarana dan prasarana, yang berfungsi melayani
judnya sistem transportasi nasional secara terpadu, tertib, lancar, perpindahan orang terdiri dari sarana dan prasarana, yang berfungsi
aman dan nyaman, serta efektif dalam menunjang dan mengger- melayani perpindahan orang dan barang antarsimpul atau kota lokal,
akkan dinamika pembangunan. dan dari simpul atau kota lokal ke simpul atau kota wilayah dan sim-
2. Sistem Transportasi Perkotaan harus ditata dan terus disempur- pul atau kota nasional terdekat atau sebaliknya, serta dalam kawasan
nakan dengan dukungan oleh peningkatan kualitas SDM. perkotaan dan pedesaan.
3. Sistem Transportasi Perkotaan harus ditata dan terus disesuaikan lnteraksi dan keterkaitan antarsimpul atau kota dalam Tatranas,
dengan perkembangan ekonomi, kebijakan tata ruang, agar kebu- Tatrawil dan Tatralok, diperlihatkan dalam gambar 13.1
tuhan pembangunan dan tuntutan masyarakat.
4. Transportasi agar mampu berperan dalam meningkatkan kelan-
caran arus penumpang dan barang sesuai dengan dinamika pem-
bangunan.

13.3 Sistem Jaringan Transportasi dalam Tataran


g*J,
*-:r^ '
Transportasi i-F +?'
\ lI^
Jaringan transportasi terdiri dari jaringan pelayanan dan jaringan
prasarana. Jaringan pelayanan transportasi adalah susunan jaringan
(.r. f,
rute-rute pelayanan transportasi yang membentuk satu kesatuan
hubungan, sedang jaringan prasarana adalah serangkaian simpul yang
dihubungkan oleh ruang lalu lintas, sehingga membentuk kesatuan, Ultillltrt

jaringan pelayanan dan jaringan prasarana transportasi diwujudkan TATMNAS SKN = Satuan Kawasan Nasional
(disusun) dalam tiga tataran transportasi, yaitu Tataran Transportasi --- &........ TATMWIL =
Sl(Al Satuan Kawasan Wilayah

Nasional (Tatranas), Tataran Transportasi Wilayah (Tatrawil) dan - TATMLOK SKL = Satuan Kawasan Lokal

Tataran 1'ransportasi Lokal (Tatralok).


Gambar 13.1 llustrasi Tataran Transportasi
Tatranas adalah tatanan transportasi yang teroganisasi secara
Hirarki jaringan transportasi terdiri dari jaringan pelayanan dan
kesisteman, yang terdiri dari sarana dan prasarana yang berfungsi me-
jaringan prasarana, meliputi:
layani perpindahan orang dan barang antarsimpul atau kota nasional,
dan dari sirnpul atau kota nasional ke luar negeri atau sebaliknya. 1. Jaringan Prasarana
Tatrawil adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesiste- a. Terminal; Terminal Penumpang (Tipe A, B, C) dan Terminal
man, yang terdiri dari sarana dan prasarana, yang berfungsi melayani Barang
perpindahan orang dan barang antarsimpul atau kota wilayah dan b. Jalan;Jalan Arteri, Jalan Kolektor, dan Jalan Lokal
dari simpul atau kota wilayah ke simpul atau kota nasional, atau seba-
,f

118 Joringon Transportosi: Teori dou Anolisis

2. Jaringan Pelayanan
a. Pelayanan angkutan umum dalam trayek tetap dan teratur,
meliputi:
AntarKota AntarPropinsi (AKAP) dan Lintas Batas Negara
AntarKota dalam Provinsi (AKDP)
- Perkotaan dan Perdesaan
l4
b" Pelayanan angkutan umum tidak dalam trayek H.tiltlt ltfft AltAll$ts
Berdasarkan hal tersebut, hirarki transportasi jalan dapat diilus,
trasikan sebagaimana pada Cambar 13.2.
rAR I lt G[]t IRAS lt P 0 Rr[S I
l,+0. NrEcri

Tr.tck tman
ga!.3fl.rrf,

14.1 Berbagai Elemen Jaringan


,J'f*rnurntA istem transponasi adalah untuk menggerakkan lalu lintas dari
tr*cxdr*rrxoe satu tempat ke tempat yang lain. Seorang penumpang bermak-
Dehm prcvlnrl
sud untuk pergi dari suatu tempat, suatu tempat asal, ke tempat
yang lain, suatu tempat tujuan, sama halnya dengan angkutan barang.
( Ar{fi llnt}
ProdnH Karena pelayanan transportasi tidak selalu dilakukan pada rutey'trayek
yang sama dan kualitas pelayanan yang sama, maka penting untuk di-
Tr?I.*ar{.t
Drrrar l|norird lakukan analisis karakteristik lokasi sarana angkutan yang ditempatkan
trayol(
D.Lm (yang berada) pada sistem transportasi tersebut yaitu terminal, ruas ja-
A
lan dan persimpangan jalan, hal ini dilakukan terutama dengan meng-
gunakan konsep jaringan.

Penggambaran jaringan ini menggunakan suatu cara yang mu-


Cambar 13.2 Hirarki Jaringan Transportasi lalan (RTRWK) dah untuk menyusun informasi mengenai karakteristik dari berbagai
sarana transportasi yang ditempatkan pada suatu rute/trayek dan arus
Jaringan transportasidalam Tatranas, Tatrawil, dan Tatralok, yang
lalu lintas yang dilayaninya. oleh karena itu analisis jaringan transpor-
tersusun secara hirarkis, membentuk satu kesatuan jaringan transportasi
tasi adalah berguna untuk menjelaskan karakteristik sistem jaringan
nasional sebagai unsur utama yang melayani terselenggaranya kegiatarr
transportasi secara keseluruhan, meliputi pula masalah biaya investasi
pelayanan transportasi nasional.
dan biaya operasi serta kinerjanya.
-oo0oo-
I
t20 Joringon Tronsportasl: Teorl don Anolisis Elemen dan Anolisis Jaringon Tronsportosi 121

Dalam mencapai kinerja dari jaringan transportasi, maka perlu dan karakteristiknya dikaitkan dengan ruas termasuk waktu perjalanan
dilakukan pengkaiian, tentang: (satu arah), arus lalu lintas kendaraan harian yang ada (dalam volume),
1. Berbagai elemen jaringan, dan kapasitas (volume maksimum yang mungkin) dan panjang setiap ruas.
2. Analisis faringan.
sumber TuJuan

14.2 Elemen Jaringan


Jaringan adalah suatu konsep matematis yang dapat digunakan
untuk menerangkan secara kuantitatif sistem transportasi dan sistem
lain yang mempunyai karakteristik ruang. Walaupun istilah jaring-
an dapat berarti lain, tetapi pembahasan jaringan transportasi akan
difokuskan pada konsep matematis dan penggunaannya dalam meng-
anal isis sistem transportasi. Pertama-tama dijelaskan konsep matema-
tiknya dan kemudian dibahas pemakaiannya dalam sistem transpor-
tasi.

Jaringan transportasiterutama terdiri dari simpul (nodal) dan ruas


(link). Simpul mewakili suatu titik tertentu pada ruang. Ditampilkan se-
Gambar 14.1 laringan Sumber-Tuiuan
cara grafik simpul ini adalah berupa titik, sedangkan ruas ditentukan
dari 2 titik masing-masing pada ujungnya. Ruas ini tidak menunjukkan
arah. Pada situasi di mana perlu ditunjukkan (misalnya untuk menun- 0,o8ram
2050 kondftr 0,6$ fam
jukkan satu arah) suatu busur dipakai. Busur (arc) adalah ruas adalah 40fi) kend/hr 2200 kendrhr
34 mll 5500 kend/hr
ruas yang mempunyai arah. Sering juga busur disebut " ruas berarah,, . 0,33 jam
: mil
Simpul dari mana busur tadi berasal disebut simpulA, sedangkan sim- n
500 konfiir
3000 kend/hr
pul ke mana busur tadi menuju disebut Simpul B. 21mll

Cambar 14.1. Memperlihatkan sebuah model transportasi dari


sebuah.iaringan dengan sumber dan tujuan. Sebuah sumber atau tujuan 0,62 jem 0,5jrm
diwakili dengan sebuah nodal (pusat) busur yang menghubungkan 2700 kendlhr 1400 kand/hr
5300 kend/hr 3000 kan<l/hr
sebuah sumber dan sebuah tujuan mewakili rute. 3l mil ?6 mll

Untuk memperjelas karakteristik ruang suatu sistem transportasi,


konsep jaringan ini juga dipakai secara luas untuk menerangkan kara-
kteristik lainnya seperti kapasitas, waktu perjalanan, dan volume arus
pada berbagai elemen. Pada gambar 14.2. menyajikan sistem jalan
Gambar 14.2 Sistem Jaringan dengan Karakteristik Ruasnya
|l
Llenrcn dan Anolisis Jorlrrgttrt lr ttrtspot tasi 123
122 Jaringan Transportasl: Teorl don Anolisis

Pengkajian seluruh karakteristik ini hanya dilakukan pada busur


atau ruas tanpa simpul. Sebagai contoh adalah bahwa suatu perjalan-
an melalui persimpangan jalan akan memakan waktu lebih lama.
Untuk menunjukkan waktu ini pada suatu jaringan, dapat dipilih dua
kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah dengan memasukkan
waktu perjalanan tersebut ke dalam waktu yang dihabiskan sepanjang
perjalanan melalui salah satu busur ruas yang menuju ke dalam atau-
pun ke luar persimpangan itu. Hal ini merupakan pendekatan yang
paling umum dilakukan dalam model jaringan jalan. Kemudian yang
kedua adalah dengan membagi persimpangan tersebut ke dalam se-
tiap ruas atau busur tadi. Pada kenyataannya apabila dikehendaki un-
tuk membedakan antara waktu perjalanan harus melalui persimpang-
an secara langsung dengan gerakan-gerakan lainnya, seperti berbelok
langsung ke kiri, maka pembagian persimpangan atas beberapa seksi
sangat penting.

14.3 Analisa Jaringan


Suatu sistem transportasi ditunjukkan sebagai suatu jaringan
untuk menerangkan komponen dan hubungannya satu sama lain
dalam sistem transportasi. Beberapa karakteristik utama dari sistem ini
adalah waktu perjalanan dan biaya.

Pada gambar 14.3 berikut merupakan jaringan jalan utama yang Jalafi damt

ada di daerah metropolitan San Fransisco. Waktu perjalanan rata- Q Pertemuan


Pusat'Pustt daereh
rata dalam menit tercantum pada semua ruas. Waktu perjalanan dari @
simpul 1 ke simpul I melalui ruas (1, 10), (10, 241, (24,23) dan (23,8)
adalah 5 + 10 + 25 + l0 : 10menit. Gambar 14.3 laringan lalan yang Memperihatkan Waktu Perialanan
untuk Setiap Ruas
Ada kemungkinan jalur gerak yang lainnya, seperti (1, ll),
(11,2O), (20,21),, (21,22), (22,23), (23,8). Oleh karena itu dalam Dalam banyak konteks transportasi, jalur gerak yang dipakai
menentukan waktu ataupun biaya untuk perjalanan dari suatu tempat meliputi waktu perjalanan seseorang adalah penting memilih rute
asal menuju suatu tempat tujuan, adalah penting untuk menentukan yang dapat menghemat waktu perjalanan. Membuat analisis untuk
jalur gerak yang dipakai. menemukan .ialur gerak minimum, sering lebih disukai penempatan
informasi atau hasil pada suatu tabel ketimbang pada suatu gambar
124 Jaringon Tronsportosi: faot i dutr Atutlisis

(hasil dari perhitungan matematis dari model pola pohon (tree-


building).

Dengan contoh tersebut dan metode matematisnya maka dapat


diformulasikan dalam suatu prosedur. Dalam istilah maternatisnya dari
15
prosedur tersebut biasa disebut algoritma. suatu algoritma ialah suatu
prosedur yang dapat dibuktikan secara matematis untuk menghasilkan ImRAKrtBlSilt( Dm I(1ASI [llmsl
sesuatu dalam langkah yang tertentu.

Uraian di atas menjelaskan konsep jaringan trasportasi dirihat


IAR I 1I GA]I IRA]I S PO RIIS I
dari segi (1) komponennya yang terdiri dari simpul sebagai terminal,
ruas jalan (bagian dari rute), persimpangan, (2) karakteristik dari
berbagai sarana transportasi meliputi kapasitas (vorume maksimum),
waktu perjalanan, dan volume arus lalu lintas kendaraan, dan (3)
meliputi pula biaya investasi, biaya operasi/pelayanan dan kinerja
15.1 Efisiensi Pergerakan Dalam Jaringan
pelayanan lalu Iintas.
Transportasi
Seseorang (atau pengendara kendaraan) dalam melakukan
7=r ransportasi mempunyai karakterisktik dan atribut yang
perjalanan menuju ke tempat tujuannya, akan memilih ruas-ruas jaran
yang mempunyai jarak terdekat. Jarak terdekat belum tentu ditempuh
' ll menunjukkan arti dan fungsi spesifiknya. Fungsi utama trans-
tl portasi adalah untuk menghubungkan manusia dengan tata
dalam waktu paling singkat karena terhambat oleh kemacetan. pilihan
lahan. Sebagai faktor integrasi dan koordinasi pada masyarakat in-
kedua adalah perjalanan dalam waktu paling cepat, meskipun jarak
dustri, transportasi terlibat dalam pemindahan barang. Barang mem-
lebih jauh. Menempuh perjalanan dalam waktu singkat adalah efisiensi
punyai nilai (rendah) dan (tidak) mempunyai nilai utilitas, yaitu nilai
waktu (dalam pengertian harus memperhatikan faktor keselamatan
pemenuhan kebutuhan. Transportasi mempunyai dua macam kegu-
dan kemacetan normal).
naan yaitu menciptakan guna ruang (tempat) dan guna waktu. Dalam
ukuran ekonomi, berarti bahwa tersedianya barang di tempat terten-
-oo0oo-
: tu pada waktu tertentu sesuai dengan kapan dan di mana barang itu
diperlukan. Kondisi yang sama untuk manusia, di mana transportasi
dapat digunakan untuk mencapai tempat tujuan dan pada waktu ter-
tentu sesuai dengan kebutuhan manusia tersebut.
Perpindahan manusia dan barang diwujudkan sebagai perge-
rakan yang dapat berupa penggunaan jalan, rel, atau prasarana trans-
portasi lainnya, dan moda transportasi seperti bus, mobil, kereta, ka-
pal, dan bentuk angkutan lainnya untuk transportasi.
q
126 Joringan'[ronspor lusi: ltttr i tltut Artolisis
Korakteristik dan KlosiIikosi Joringan Transportosi 127

Jaringan transportasi dapat terdiri dari satu atau lebih macarn


Rurnah/terminal/kantor
alat transportasi yang mungkin berbeda media dan modanya, apakah
hanya jalan saja atau merupakan gabungan antara jalan dan kereta
api, atau jalan dan transportasi air atau kombinasi lainnya. Untuk
mengefisienkan pergerakan yang terjadi di dalam jaringan tersebut,
maka sistem jaringan perlu didesain secara hirarkis dan sesuai dengan
besarnya arus lalu lintas yang melaluijaringan tersebut. Konsep hirarki
ini mengadopsi prinsip aliran darah di dalam tubuh manusia, yang
juga terdapat pada hirarki jaringan transportasi dalam mengalirkan
darah ke seluruh titik yang ada di dalam seluruh jaringan.

15.2 Jaringan Jalan


Gambar 15.1 Hirarki Pergerakan Kendaraan di lalan
Klasifikasi jalan dalam sistem operasional, fungsi atau geometri (Sumber: AASHTO, 1984)
jalan diperlukan bagi ahli jalan dan orang yang terlibat dalam masarah
Masing-masing fasilitas direncanakan dengan standar tertentu
jalan untuk berkom un ikasi. Hal in i d igunakan untuk d isesuaikan dengan
karena masing-masing mempunyai fungsi yang spesifik. Karena hirarki
penggunaannya apakah untuk antarkota atau di daerah perkotaan.
pergerakan didasarkan pada total volume lalu-lintas, maka jalan lalu-
Klasifikasi ini bisa dalam tipe perancangan yang didasarkan pada
lintas jalan bebas hambatan mempunyai hirarki yang paling tinggi,
geometik jalan yang biasanya digunakan untuk prosedur perancangan
disusul dengan jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan akses.
dan penentuan lokasi. Klasifikasi lainnya juga dihubungkan dengan
tujuan tertentu. Walaupun pergerakan dapat dibagi dalam enam kategori tetapi
tidak selalu diperlukan fasilitas antara. Misalkan ada daerah yang
15.3 Hirarki Pergerakan dan Komponennya merupakan pembangkit perjalanan yang cukup besar, maka pada
kondisi ini pergerakan dari jalan kolektor tidak harus melalui jalan
Sistem perancangan fungsi memberikan suatu seri pergerakan
arteri dulu, kemudian ramp dan masuk ke jalan bebas hambatan,
yang berbeda. Ada 6 (enam) macam pergerakan yaitu (1) pergerakan
tetapi langsung saja dari jalan kolektor masuk ke ramp dan jalan
utama, (2) transisi, (3) distribusi, (4) koleksi, (5) akses dan (6) terminasi.
bebas hambatan. Dengan demikian maka kita dapat mengurangi
cambar 15.1. menunjukkan pergerakan yang tidak atau relatif sangat
satu komponen dalam hal ini. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa
kecil gangguannya dan dalam kecepatan tinggi. Ketika akan sampai
masing-masing jalan dapat menampung volume dan menjalankan
di tujuan, kendaraan mengurangi kecepatan masuk ke dalanr ramp,
fungsinya, sehingga tidak menyebabkan terganggunya fungsi jalan
yang merupakan transisi. Kemudian kendaraan masuk ke jalan arteri
yang berbeda di atasnya.
yang akan ke daerah tujuan. Akhirnya kendaraan masuk ke jalan lokal
menuju ke jalan akses dan sampai tujuan (terminasi). Untuk menentukan jumlah komponen yang perlu diperhitung-
kan dalam perancangan adalah besarnya volume lalu-lintas yang harus
ditampung oleh masing-masing jalan sesuai dengan fungsinya.

.l
il
rl
il

128 Joringan Transportosi: Teori don Anolisis Korokteristik don Klosilikosi Jur itryan Transportasi 129

15.4 Hubungan Fungsi Klasifikasi Jalan Cambar 15.3. menuniukkan gambar yang lebih lengkap un-
tuk klasifikasi jaringan jalan. Arteri umumnya memberikan fasilitas
Klasifikasi jalan dibuat sesuai dengan karakteristik pelayanan-
pelayanan yang menerus antardua kota besar, yang akan menimbul-
nya, dan menunjukkan bahwa masing-masing tidak memberikan pe-
kan dan menarik sebagian besar lalu-lintas yang relatif berjarak jauh.
layanan sendiri-sendiri merupakan suatu rangkaian tugas pelayanan
Jalan kolektor pada dasarnya memberikan pelayanan kota-kota yang
dalam suatu jaringan jalan. Jadi klasifikasi jalan tersebut harus di-
lebih kecil, menghubungkan kota dengan jalan arter:i. Jalan kolektor
sesuaikan dengan jenis pergerakan. Cambar 15.2.a memperlihatkan
ini mengumpulkan lalu-lintas dari jalan lokal dari tempat-tempat yang
garis pergerakan (desired lines) yang menghubungkan asal dan tujuan
lebih kecil lagi dan juga sebagai jalur distribusi lalu-lintas dari jalan
pergerakan, sedang Cambar 15.2.b memperlihatkan adanya jalan ar-
arteri ke kota-kota/tempat-tempat yang lebih kecil lagi.
teri, kolektor, Iokal, dan akses yang menyatakan fungsi hubungannya.
Pada gambar ini juga diperlihatkan hirarki fungsi yang dihubungkan
dengan hirarki pelayanan jarak perjalanan dari jaringan jalan.

LEGENDA

Oo Citics and Town


Villagc
ibukota
Artcrisls
propinsi
Collectors
Lor.als

=
(a) Caris Perjalanan (Desire /ines)
t\
Gambar 15.3 llustrasi Skema Jaringan lalan AntarKota
(Sumber AASHTO, 1984)

ibukote Walaupun Cambar 15.3. merupakan gambaran sistem jaringan


pmpinsi
.ialan antarkota, tapi konsep dasarnya digunakan untuk sistem
jaring-
ibukota an jalan dalam kota. Hirarki sistem yang sama dapat didefinisikan
pmpinsi
,r' untuk daerah perkotaan di mana intensitas yang tinggi dari penggu-
aneri naan lahan dan perjalanan daerah perkotaan, akan lebih susah untuk
mengidentifi kasi pusat pem bangkit/penari k perjalanan. U ntu k daerah
ibukota
perkotaan ada beberapa pertimbangan yang harus diperhitungkan an-
(b) Jaringan .falan Arteri, Kolektor dan Lokal tara lain adalah; jarak antarsimpang, dan ada yang lebih penting lagi
Gambar 15.2 Caris Pergerakan (desire lines) dan Jaringan Jalan adalah menentukan jaringan yang baik dan efisien. Skema untuk ilus-
Arteri, Kolektor dan Lokal (Sumber: AASHTO, t9B4) trasi dapat dilihat pada Cambar 15.4.
130 Joringan Tronsportosi: Teori don Anolisis Ko r okt e r i st i k don Klosi fi kosl Jor i ngan Tr onspor tosi 131

ClEartv sur\$
lnlmdintc md* Clcuv scrre
har rn3 r therctrql A{rriclnt ltrd
Keterangan Trr-lYic mrcnrent
bdlmce bet$mtrolfic '
and land s*rtrei l()t
tfitr6 +'

m Arterial Street Srne* oarly a


Coramercial i\rea Flcnl"o.li lunction
?s Land
Local Street 94Truffic Service
Functicn
(lollcctor .Street
no offitt
Puhlic Area
No nat$*ork lrslribrdor,toll.clors Loci.l ilt{et!
luktion
Gambar 15.4 Skema Jaringan Jalan Perkotaan ROADTYPE

(Sumber: AASHTO, 1984) Gambar 15.5 Klasifikasi lalan sesuai Fungsinya sebagai Media Arus
Peranan jalan dari jaringan jalan adalah memberikan akses ke Lalu Lintas dan Pelayanan Daerah (Sumber: AASHTO, 1984)
rumah dan mobilitas pergerakan. Akses memang perlu untuk suatu Dengan demikian terdapat dua pertimbangan dalam menentu-
daerah, sedang mobilitas diberikan untuk berbagai tingkat pelayanan kan fungsi klasifikasi jalan dan jaringan jalan yaitu akses dan mobili-
yang diikuti oleh beberapa elemen kualitatif seperti misalnya kenya- tas. Pertemuan antar pelayanan pergerakan menerus dan memberikan
rnanan, kecepatan yang relatif bisa tetap, tetapi yang lebih mendasar akses ke daerah asal dan tujuan yang tersebar memerlukan pembe-
sebetulnya adalah faktor kecepatan operasional dan waktu tempuh daan dan gradasi dalam berbagai tipe fungsi. Pembatasan akses ke
perjalanan. jalan arteri adalah untuk menjaga agar pergerakan di jalan arteri tidak
banyak mengalami gangguan sesuai dengan fungsi utamanya adalah
15.5 Keperluan dan Pengaturan Akses untuk memberikan akses. Jadi perluasan dan derajat pengaturan akses
merupakan suatu faktor yang berarti penting dalam menentukan kate-
Secara umum fungsi jalan dapat digolongkan dalam 2 kelom-
gori fungsional atau jalan (lihat Cambar 15.6.).
pok besar, yakni (1) sebagai media pergerakan lalu lintas dalam meng-
akomodasikan kebutuhan mobilitas (traffic function) dan (2) sebagai
tempat akses keluar masuk para pengguna dari fasilitas atau tata guna
lahan yang ada di sekitar ruas jalan (land function). Kedua peran
tersebut saling bertolak belakang di mana semakin banyaknya akses
kendaraan ke ruas jalan akan rnengakibatkan berkurangnya kinerja
ruas jalan. Oleh karena itu perlu adanya penyusunan hirarki jalan se-
suai dengan proporsi fungsi ruas jalan dalam pengakomodasian arus
lalu lintas dan keperluan akses dengan lingkungan di sekitarnya (lihat
$
Cambar 15.5). Di dalam suatu jaringan jalan perlu adanya pembagian I
I
fungsi jalan, agar secara sistem fungsi pelayanannya dapat terpenuhi. Gambar 15.6 Sistem Klasifikasi Peran Fungsion;il Jalan Menurut
t Pergerakan dan Akses (Sumher: AASHTO, 1984)
^A^-A
**:6' + r
=
= = =-= !n O N
ce =
p rr_d [ gAtHH
tao---^ \ l' ej
r; s
='OJAvt=
g ='
3= x E- -. =.E'o? ^
o o :r'E E 0,
=€ li=8 -
'TJ*7ii-\\l
;6qrx: E F fr'
E + I!r-E
=o
cu.1e [4q
?t 1[ *
rStHLi 0t q
lA-i(= 0' i\ II i.;
3'-e g
I'arUFFOJA
ii' Ef, N-
If
;s ao *'fi
g f; p-E ; # g
'f 6 +g1 e =;
ts d x g s_d E 3
=
5'-!t q
ge$6 r = 9* I'i
*- H 1ilE ;- E
or A F 6_:. d
r$ = 6- b'E n
rr lli;
3$irs llii' ,{ 1.
;'-& (_-
o
o-
+a [[[ E ]$. Il*
EE (la
it
EfigTE i: =aF;E Eii * o
*gx 5E
3 OE l{ ;; AE 3E.q:
*$ -5o-oJX)o_= Io
3s;ex
5E E d5. E< 'di6-3:Ee a !
:r0)/n\AJ
i'ii P= 3 == g o
l L_/. 13 6-.r-1 F6. a
E=.6',qH S' I
e5; -3 L
t I *Eg \ E
)_J -
: rga-=++o
3oq P') so
o^zo.r!. =;e.,=E'g F g,: xo
7i-=X x-! = f
sE*Hg x ;E3*a-.'o-H
=.=^.-O # i $t € -;- * b
lSNo.lo.loJb
==*^.oorD E
.JJ)J
?f{u*==?=
=ir*ii=
-FFrEm+--.

Tabel 15.1 Karakteristik Pergerakan Sesuai Fungsi lalan xo


o
F
KETAS JATAN o
lalan Kolektor i.
Karakteristik lalan Stapak lalan Akses lalan Lokal falan Arteri
Aktivitas Pergerakan Lalu lintas jarak Pergerakan cepat F
Jalan kaki Jalan kaki
untuk perjalanan a-
utama Pertemuan Akses kendaraan kendaraan di awal/ sedang menuju o
Perdagangan Kendaraan akhir perjalanan jaringan primer jarak jauh
x
Barang/hantaran Pelayanan angkutan Tidak terdapat o
Kendaraan lambat umum pejalan kaki atau
Semua lalu lintas akses langsung -o
menerus dengan (_.
o
memperhatikan
kondisi lingkungan (a
o
sekitar
Pergerakan Bebas dan Cukup bebas dengan Penyebaran di Aktifitas jalan kaki Tidak ada kecuali +
perjalan kaki merupakan aktivitas sedikit persilangan kontrol dengan dibatasi dengan dengan pemisahan
!
pedoman secara random kanalisasi (misalnya mempertimbangkan vertikal o
zebra cross) keselamatannya o
Aktivitas Pelayanan khusus Di daerah perumahan Perjalanan langsung Perjalanan langsung Cocok untuk
kendaraan atau hanya hanya diperbolehkan dalam kondisi dalam kondisi semua kendaraan
barang (berat) pengiriman untuk aktivitas minimum minimum berat khususnya
langsung yang relevan dan di yang merupakan
daerah lainnya untuk pergerakan
pengiriman barang dan langsung
pelavanan

(-
Q
Tabel 15.1 Lanjutan
5.
KETAS IATAN
Karakteristik Jalan Stapak lalan Akses lalan tokal lalan Arteri
falan Kolektor
Akses Tidak ada-kecuali Aktivas utama Beberapa menuju ke Tidak ada yang Tidak ada dan
kendaraan untuk kendaraan pusat kegiatan yang dipisahkan dari dipisahkan dari
terhadap darurat dan juga penting pusat kegiatan system jaringan
I ingkungannya untuk pelayanan Iain untuk
(dibatasi)
kepentingan
peqerakan nasional
Pergerakan Tidak-ada kecuali Tidak ada Aktivitas utama Beberapa-hanya Sangat kecil-hanya
lalu lintas untuk angkutan untuk beberapa persimpangan
lokal umum lokasi dan di dengan membatasi
persimpangan pergerakan lokal
Dentins
Pergerakan
(-
Tidak ada Tidak ada Tidak ada Fngsi utama untuk Fungsi utama untuk o
lalu lintas lalu lintas'jarak lalu lintas jarak h
lanqsuns menensah o
iauh
Kecepatan Kurang dari 5 mil/ Kurang dari 20 mil/jam Umumnya dibatasi Umumnya dibatasi !
Lebih dari 40 mil/
kendaraan jam (kendaraan dengan alat pengontrol s/d 30 mil/jam,
o
antara 30 s/d 40 jam tergantung dari
dapat masuk dengan kecepatan namun dapat kurang mil/jam, namun kondisi geometik E
o
susah) dari batas tersebut akan berkurang di jalan
o
tergantung dari wilayah yang padat
koordinasinva

='oi;': '
S"
i'c i*gE_t= Pq
Hi_+.{[sEg==*i- il t
:=(-f e B
-3EEg f +*::
=',=<-iE$;=DJ=
Ei.f
'1g,fii]E
0J
iEigS;=Es;r=
i
: or iirEr=6?Fig [ r3]t+;"E+#35 f $ i
='o.)Dg.r(
3 J6E+gE:lgP3-sL=5;"i i F
1il;: i e;3;e 3Ig+gilFE:re: e,
'-tDfl ._}qir
p= 5f s;n$3
5: e -. E'l q Ei +lEiEFEng}EEE+g.E, :
gtAt[f E;€;a+$!f,E=i E
E*}8il[
ui ;
!.) :
61
r; 3. =ts.E-
PA)
i ai:gf; E
a
6 4 aEEt r iufrEB"?
*=i==rs nFg:tESBgH
=iiasfHFB*: i
; ri.;; 5 x+*U3gE;:? a =
3 q :ii :dg 6 gf
3 A SFrT 9,. i=[*f,=
QeE-:p -o- f,qq=ia==B
=
Filtg5;=_E-EP,6'
q s3E; F =
U.
nr, -- qiq!.d_Ei3 $HutAEf qgd
urXs? g t=-eBaV =wPao..
s
? i ies+ i*e+iE i++qHlF+3is)
E 6d:1
* dt[F ii+tx*
r93de3 :E+ii[=ius
3Ei+*p-t+erd
;q E
e +p;t FrflE6+ +Efre+Fs5f E
136 Jaringon Tronsportosl: fttu I rkut Artrtlisis
Korokter istik don Klosi fikosi Joringon Tronsportosi 137

(2) Jalan kota arteri primer melalui atau menuju kawasan pri- (1) Jalan kolektor primer kota merupakan terusan jalan ko-
mer.
tektor primer luar kota.
(3) Jalan arteri primer dirancang berdasrkan kecepatan ren- (2) Melalui atau menuju kawasan primer atau jalan arteri
cana paling rendah 60 km/jam.
primer.
(4) Lebar badan jalan tidak kurang dari B meter. (3) Dirancang untuk kecepatan rencana 40 km/jam.
(5) Lalu lintas jarak jauh pada jalan arteri primer adalah lalu (4) Lebar badan jalan tidak kurangdari 7 m.
Iintas regional. Untuk itu, lalu lintas tersebut tidak boleh (5) Jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien dan jarak anta-
terganggu oleh lalu lintas ulang-alik dan lalu lintas lokal,
ranya lebih dari400 m
dan kegiatan lokal. (6) Kendaraan angkutan berat dan bus dapat diijinkan mela-
(6) Kendaraan angkutan berat dan kendaraan umum bus da-
lui jalan ini.
pat diijinkan menggunakan jalan ini.
(7) Persimpangan diatur dengan pengaturan tertentu sesuai
(7) Jumlah jalan masuk dibatasi secara efesien, jarak antara
dengan volume lalu lintasnya.
jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari
(B) Kapasitasnya sama atau lebih besar dari volume lalu lin-
500 m
tas harian rata-rata.
(B) Persimpangan di atur dengan pengaturan tertentu, sesuai (9) Lokasi parkir pada badan jalan sangat dibatasi dan seha-
dengan volume lalu lintas.
rusnya tidak diijinkan pada jam sibuk.
(9) Mempunyai kapasitas harian rata-rata pada umumnya (10)Dilengkapi dengan perlengkapan jalan yang cukup.
lebih besar dari fungsi jalan yang lain. (1 'l) Besarnya LHR pada umumnya lebih rendah dari pada ja-
(10)Besarnya lalu Iintas harian rata-rata pada umumnya lebih
lan arteri primer.
besar dari fungsi jalan yang lain. (12)Dianjurkan tersedianya jalur khusus untuk sepeda dan
(11)Lokasi berhenti dan parkir pada badan jalan ini seharus-
kendaraan lambat lainnya.
nya tidak diijinkan.
(12)Harus disediakan jalur khusus untuk bersepeda dan C. Jalan lokalprimer ruas jalan yang menghubungkan kota jen-
jang ketiga dengan kota jenjang ketiga lainnya, kota jenjang
kendaraan lambat lainnya, serta dilengkapi dengan me-
sesuai parsil, kota dengan kedua dengan serta ruas jalan yang
dian jalan.
menghubungkan kota jenjang ketiga dengan kota jenjang
b. lalan kolektor primer ruas jalan yang menghubungkan kota yang ada di bawah pengaruhnya sampai persil.
jenjang kedua dengan kota jenjang kedua yang lain atau ruas
Kriteria untuk jalan lokal primer adalah sebagai berikut:
jalan yang menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota
jenjang ketiga yang ada di bawah pengaruhnya.
(1) Merupakan terusan jalan lokal primer luar kota.
(2) Melalui atau menuju kawasan primer atau jalan primer
Untuk jalan kolektor wilayah perkotaan kriterianya adalah
lainnya.
sebagai berikut:
(3) Dirancang untuk kecepatan rencana 20 km/jam.
(4) Kendaraan angkutan barang dan bus diijinkan melelalui
.jalan ini.
138 Jaringan Tronsportosi: lt'ot I thur Arutlisis
Karakteristik dan Kloslfikosi Joringon Tronsportosi 139

(5) Lebar jalan tidak kurang dari 6 m.


(6)
b. Jalan kolektor sekunder ruas jalan yang menghubungkan ka-
Besarnya LHR pada umumnya paling rendah pada sistem
wasan-kawasan sekundei kedua, yang satu dengan yang lain-
primer.
nya, atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan
2. Sistem jaringan jalan sekunder kawasan sekunder ketiga.
a. Kriteria untuk jalan kolektor sekunder perkotaan
Jalan arteri sekunder ruas jalan yang menghubungkan ka-
wasan primer dengan kawasan sekunder ke satu atau meng- (1) Dirancang berdasarkan kecepatan rencana 20 km/jam
hubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan (2) Lebar badan jalan tidak kurang dari 7 m.
sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder ke- (3) Kendaraan angkutan barang berat tidak diijinkan melalui
satu dengan kawasan sekunder kedua. fungsi jalan ini dudaerah pemukiman.
(4) Lokasi parkir pada badan jalan dibatasi.
Untuk jalan sekunder wilayah perkotaan kriterianya:
(s) Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup.
(1) Dirancang untuk kecepatan rencana paling rendah
(6) Besarnya LHR pada umumnya lebih rendah dari sistem
30 km/jam.
primer dan arteri sekunder.
(2) Lebar badan jalan tidak kurang dari B m.
(3) Lalu lintas cepat pada jalan arteri sekunder tidak boleh c. lalan lokal sekunder ruas jalan yang menghubungkan ka-
tergantung oleh lalu lintas lambat. wasan-kawasan sekunder kesatu dengan perumahan, kawasan
(4) Akses langsung dibatasi tidak boleh lebih pendek dari sekunder kedua dengan perumahan, atau menghubungkan
250 m. kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga
(5) Angkutan barang ringan dan bus untuk pelayanan kota dan seterusnya sampai ke perumahan.
diijinkan melalui jalan ini. Kriteria untuk jalan lokal sekunder adalah:
(6) Persimpangan diatur dengan pengaturan tertentu sesuai (1) Dirancang berdasarkan kecepatan rencana paling rendah
dengan volume lalu lintasnya. Kapasitasnya sama atau 10 km/jam.
lebih besar dari volume lalu lintasnya. (2) Lebar badan jalan tidak kurang dari 5 m.
(7) Lokasi berhenti dan parkir sangat dibatasi dan tidak diijin- (3) Kendaraan angkutan barang berat dan bus tidak diijinkan
kan saat jam sibuk. melalui jalan ini didaerah pemukiman.
(B) Harus mempunyai perlengkapan jalan yang cukup. (4) Besarnya LHR umumnya paling rendah dibanding fungsi
(9) Besarnya LHR umumnya paling besar dari sistim sekunder jalan yang lain tetang keterkaitan antarfungsi jalan de-
yang lain. ngan fungsi kota.
(10)Dianjurkan adanya jalur khusus yang akan digunakan
Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas dapat dilihat pada
oleh sepeda dan kendaraan lambat lainnya.
gambar 15.8.
(11)Jarak selang dengan kelas jalan yang sejenis lebih besar
dari jarak selang dengan kelas jalan yang lebih rendah.

i
*

i
140 Joringon Transportosl: Teorl don Anollsis Korakteristik don Klosi likosi Joringan Tronsportosi 141

JAraN AltltrRl c. Jalan lainnya yang mempunyai nilai strategis terhadap kepen-
c*JI,lEr. ----+ tingan nasional.
,AIAN^RTIIITI
PR.IMTR 2. lalan Propinsi yaitu ruas jalan yang berdasarkan tingkat kepen-
,ALAN
X^'f"X
Kol,sKt'oR I rrrraxcl
tingannya, kewenangan pembinaannya diserahkan pada Pemerin-
ItRnt:-R *v/ tah Daerah Tingkat. Adapun yang termasuk dalam klasifikasi ini
adalah:
a. Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan antaribukota ka-
bupaten, propinsi dengan lbukota kabupaten/kotamadya.
b. Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan Ibukota.
c. Jalan lainnya yang mempunyai nilai strategis ditinjau dari segi
kepentingan propinsi.
d. Jalan yang ada di dalam Daerah Khusus lbukota Jakarta, ke-
cuali yang ditetapkan sebagai jalan nasional.

m_ 3. Jalan Kotamadya/Kabupafen yaitu ruas jalan yang bersarkan ting-


kat kepentingan, kewenangan pembinaannya diserahkan kepada

6
Gambar 15.8 Diagram Keterkaitan AntarFungsi Jalan dengan Fungsi
Pemerintah Daerah Tingkat ll. Adapun yang termasuk dalam kla-
sifikasi ini adalah:
a. Jalan Kolektor Primer yang tidak masuk ke dalam baik jalan
nasional maupun jalan propinsi.
Kota yang Dihubungkan (Sumber pp. Rt No. 26 Tahun t9B5 b. Jalan Lokal Primer
tentang lalan) c. Jalan Sekunder yang tidak masuk ke dalam baik jalan nasional
maupun jalan propinsi.
15.10 Klasifikasi Berdasarkan Kewenangan d. Jalan lainnya yang mempunyai nilai strategis ditinjau dari segi
Pembinaan kepentingan Kabupaten atau Kotamadya.
e. Jalan Khusus yaitu jalan yang berdasarkan tingkat kepenting-
l. lalan Nasional yaitu ruas jalan yang karena tingkat kepentingan- gannya bersifat khusus maka kewenangan pembinaannya
nya, kewenangan pembinaannya berada pada pemerintah pusat. diserahkan kepada instansi/badan hukum atau perseorangan
Ruas jalan yang termasuk ke dalam klasifikasi ini adalah: yang membangun dan mengelola jalan tersebut.
a. Jalan Arteri Primer.
b. Jalan Kolektor Primer yang menghubungkan antar lbukota -oo0oo-
propinsi.
t6
I]IAIISF PTRSI M PAil GA]I IAl[1{
MilIMHGRIPH

16.1 Kemacetan Lalulintas

nya adalah meningkatkan kelancaran arus lalu lintas angkutan barang


dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Kelancaran transpor-
tasi berarti mampu mengatasi hambatan, kepadatan dan kemacetan
lalu lintas angkutan (M. N. Nasution, 1996).
Kemacetan lalu lintas, terutama yang terjadi di daerah perkotaan
merupakan peristiwa yang umum dialami, yang menimbulkan dam-
pak negatif (eksternalitas negatiO. Kemacetan lalu lintas tidak mungkin
dielakkan dalam setiap hari kerja di kota-kota besar. Eksternalitas ne-
gatif lainnya adalah pencemaran (polusi) udara dan kebisingan suara
kendaraan bermotor.

Salah satu penyebab kemacetan lalu lintas adalah terdapatnya


persimpangan jalan. Pada umumnya, kemacetan lalu lintas kendaraan
bermotor di daerah perkotaan disebabkan karena jumlah kendaraan
bermotor (mobil dan sepeda motor) meningkat dari tahun ke tahun
dengan tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi. Kendaraan mobil
144 Jaringon Tronsportasl: Teor I dan Anolisis Analisis Persimpangan Jolon don Teori Groph 145

penumpang (sedan clan mikrolet) meningkat dengan laju pertumbuhan tian sisi adalah sebuah garis yang menghubungkan dua buah simpul.
sekitar 1 5 persen per tahun, sepeda motor bertambah sekitar 30 persen, Sedangkan penulisan graph, misal graph G dapat dinyatakan dengan
sedangkan pembangunan prasarana jalan baru di daerah perkotaan G : (V,E) di mana Vadalah himpunan simpuldan Eadalah himpunan
boleh di katakan tingkat pertumbuhannya sangat rendah, atau tidak sisi yang merupakan himpunan bagian dari V x V. Untuk memudahkan
mengalam i pertambahan. memahami pengertian graph biasanya digunakan geometri dari graph
Kemacetan yang terjadi di kota-kota besar merupakan hal biasa, dengan cara seperti berikut: setiap simpul digambarkan sebagai suatu
kemacetan merupakan pemandangan yang tak mungkin terhindari titik di bidang datar, sedangkan setiap sisi digunakan sebagai sebuah
pada setiap hari kerja. Disamping kemacetan yang menjemukan, garis yang menghubungkan satu buah simpul dalam graph tersebut.
polusi udara yang menyesakkan dan panasnya udara yang merelahkan, Craph merupakan suatu permasalahan yang harus digambarkan
tak terhindarkan pula, habisnya bahan bakar yang sia-sia. Salah satu secara benar (aslinya) menjadi gambar yang lebih sederhana, sebagai
penyebab kemacetan lalu Iintas adalah persimpangan jalan, disamping contoh tiga buah rumah yang berbeda (misal rumah A, B dan C) mem-
penyebab-penyebab seperti tidak tertibnya pemakai jalan dan lain butuhkan keperluan sehari-hari yaitu air, gas, listrik, dan telepon un-
sebagainya. tuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Untuk menggambarkan seperti
Empat solusi yang dapat menyelesaikan kemacetan yang di- aslinya maka harus digambarkan tiga buah rumah, gambar pipa air,
sebabkan oleh persimpangan jalan, yaitu pertama, mengatur waktu gambar pipa gas, gambar tiang listrik dan gambar tiang telepon. Per-
nyala lampu lalu lintas (traffic light) secara proporsional dengan jum- soalan di atas akan mudah sekali jika digambarkan dengan menggu-
lah kendaraan yang ada. Kedua, mengubah dan mengatur jarur yang nakan graph. Cambar tiga buah simpul menggambar rumah kemudian
dapat berjalan bersamaan, yaitu memberi kesempatan kepada kenda- beri nama simpul dengan A, B dan C. Kemudian di gambarkan empat
raan yang akan belok kiri dapat langsung belok kiri (keep left), yang buah simpul lain yang menggambarkan Air, Cas, Listrik dan Telepon
dikombinasikan dengan solusi pertama. solusi ketiga, yaitu mengubah diberikan notasi masing-masing simpul tersebut dengan R, C, L dan
jalur yang sudah ada dan mengkombinasikan dengan solusi kedua, se- T sesuai keperluan yang dibutuhkan oleh rumah A, B dan C sesuai
belum kendaraan sampai pada persimpangan jalan (perempatan atau keperluan yang dibutuhkan oleh rumah A, B dan C.
pertigaan)disediakan jalur jalan yang memotong ke arah belok ke kiri. Suatu persoalan yang terlalu rumit untuk diselesaikan dengan
Solusi keempat, adalah kombinasi beberapa solusi, yaitu solusi perta- nrembuat gambar sesungguhnya, maka untuk menghindari kerumitan
ma dangan kedua, atau solusi kedua dengan ketiga. dapat dibuat suatu gambar yang sederhana yang dinamakan dengan
Untuk membahas permasalahan di atas, diperlukan penjelasan graph kesetaraan dari persoalan yang rumit dengan menambah
tentang teori graph. beberapa ketentuan, yaitu menentukan simpul dan sisi dari persoalan.
Seperti contoh di atas, rumah A, B dan C digambarkan sebagai simpul A,
16.2 Teori graph B dan C. Air (PDAM), Cas (Perusahaan. Cas), Listrik (PLN)dan Telepon
(Telkom) digambarkan sebagai simpul R, G, L dan T, sedangkan pipa
Secara umum pengertian graph adalah himpunan simpul (ver-
air, pipa gas, kabel listrik dan kabel telepon digambarkan sebagai sisi
tex) yang dinotasikan dengan simbol Vdan himpunan sisi (edge) yang
dari Cambar 16.1.
dinotasikan dengan simbol E (boleh kosong atau tidak ada). penger-
146
Jaringon Tronsportosl: lt,or i rlon Analisis Artolt:,tt P<:t sttttpottgott -lrtltut tlurt lt'ot t trtttplt 147

l. lnterval [ebuka dianggap sebagai sebuah simpul.


2. lika suatu interval terbuka irerpotongan dengan interval terbuka
yang lain, maka terdapat sebuah sisi yang menghubungkan clua
i rrterval terbuka tersebut.

Oleh karena itu dari gambar 16.2 dapat dibuat sebuah graph dengan
7 buah simpul dan 11 buah sisi yang dapat dilihat pada Cambar 16.3.
G L

,r.rrffi*,
Gambar 16.1

16.3 Graph lnterval


Jika diketahui interval terbuka, misalnya:

(a)), (2,71, G'1,1), (2,3), (1,41(6,8)


dan (0,g)
-p,r,(3..9t
Yang digambar pada suatu bilangan, maka
intervat terbuka di
(2.r) 0,{,
atas dapat dilihat pada Cambar -t6.2.
Gambar 16.3

16.4 Pembahasan
Untuk membahas permasalahan akibat persimpangan jalan
ditanrpilkan kasus persimpangan jalan Dr. Sutomo Darmo, di kota
Surabaya sebagai contoh. Daerah persimpangan jalan tersebut dap:rt
dilihat pada Cambar 16.4.

-r0i
rl
l'---|'
iljiL-
34 67 89 "-
Cambar 16.2 I nterval Terbuka
t0
i--l tr-r r-_ -r
<-1
Dalam cambar 'r6.2 terlihat bahwa antara
yang ada yang berpotongan dan ada yang
satu intervaldengan interval
tidak berpotongan. Dengan
menggunakan graph kesetaraan perlu dianggap
r:ltfn
Suml-ler: Anon im, paper mairasiswa
'=_-:
bahwa:

Cambar 76.4 Denah Persirnpangan jalai:


148 Jaringon Transportosl: Teorl don Anallsis 149
Analisis Persimpongan Jalon don Teori Graph

Cambar 16.4. di atas dari '12 jalur yaitu jalur dengan nama A, B, Sedangkan Gambar 16.6. (b) lebih bervariasi dibandingkan dengan
C,D,E, F, C, H, l,J, Kdan L. Dari gambar 16.4. akan dibuatgambar Cambar 16.6 (a) untuk jalur A, D, C dan I mempunyai waktu dua kali
yang setara dengan ketentuan bahwa, setiap jalur adalah simpul dan
lipat dibandingkan dengan jalur yang lainnya.
sisi menggambarkan dua buah jalur yang dapat berjalan bersama-sama
pada saat yang sama dengan catatan dua buah jalur tidak menuju pada
jalur yang sama. Kesetaraan tersebut menghasilkan sebuah graph pada
Cambar 16.5.

Gambar 16.6

Untuk pembagian waktu yang lain dapat dilakukan sesuai de-


ngan pengatur waktu, dapat dibuat pembagian waktu seperti Gambar
t 16.6 dengan mengasumsikan jumlah kendaraan pada setiap jalurnya
berbeda atau yang lainnya.
Gambar I6.5

16.5 Solusi Pertama 16.6 Solusi Kedua


Dalam Cambar 16.5 terlihat pada jalur A dapat berjalan Untuk menyelesaikan masalah persimpangan jalan dengan

bersamaan dengan semua jalur kecuali jalur E dan jalur l. Begitu juga
menggunakan solusi kedua, yaitu menganggap bahwa jalur yang be-
jalur B dapat bersamaan dengan jalur A dan C atau jalur D dan C atau lok kiri langsung tidak mempengaruhi semua jalur. Oleh karena belok
jalur C dan H. Dengan tidak mempertimbangkan jumlah kendaraan kiri tidak mempengaruhi semua jalur, maka dalam Cambar 16.5. sim-
yang ada, maka dapat dibuat beberapa solusi pembagian waktu dalam
pul A, D, G dan J harus dihilangkan sehingga Cambar 16.5. berubah
satu putaran hal ini dilihat pada Cambar "t6.6.
menjadi Cambar 16.7.
Dari Cambar 1.6.7 yang lebih sederhana dibandingkan dengan
Dalam Cambar 16.6. (a), terlihat bahwa satu putaran dibagi
menjadi empat bagian waktu yang sama yaitu, putaran pertama untuk Cambar 16.5, terlihat bahwa jalur B dapat bersama dengan jalur C
jalur A, B dan C berjalan bersama, yang lain berhenti. putaran kedua atau jalur H. Jalur I dapat berjalan bersama dengan jalur H dan C tidak
jalur D, E dan F berjalan bersama yang lain berhenti. putaran ketiga dapat berjalan bersama dengan jalur L atau E Jalur F dapat berjalan
jalur C, H dan I berjalan bersama dan yang lain berhenti dan putaran bersama dengan jalur L atau E, tetapi jalur F dan K tidak dapat berjalan
bersamaan.
ke empat jalur L, K dan J berjalan bersama dan yang lainnya berhenti.
-teori Graph 151
Anolisis Persimpongan Jolort dan
150 Joringon Tronsportosl: Teorl <lau Analisis

jalur C, L dan F. Jika ialur C, L dan F dihilangkan, maka graph dalam


gambar 16.7 terdiri dari 5 simpul seperti Pada Cambar 16'9'

Gambar 16.8
Gambar 16.7

Dengan mengasumsikan jumlah kendaraan pada jalur C sepa-


ruh dari jumlah kendaraan di jalur B, jumlah kendaraan dijalur I sama
dengan di jalur B dan jumlah kendaraan di jalur H tiga kali lipat dari
jalur C. sedangkan jumlah kendaraan di jalur E, F, K dan L sama de-
ngan jumlah kendaraan yang ada pada setiap jalur. Pembagian waktu-
nya dapat dilihat dalam Cambar 16.8. (a).

Dengan mengasumsikan jumlah kendaraan pada jalur C


sepertiga dari jumlah kendaraan di jalur B, jumlah kendaraan di jalur
Gambar 16.9
I dua kali jalur C dan jumlah kendaraan di jalur H empat kali lipat
dari jalur C. sedangkan jumlah kendaraan di C dan jumlah kendaraan Daricambarl6.g,terdiridari5simpuldan3sisiyangmempu-
di jalur K dan E dua kali lipat dari .ialur C, maka pembagian waktu jalur l, sedang-
nyai maksud jalur H dapat berjalan bersama dengan
yang mungkin adalah sesuai dengan junrlah kendaraan yang ada jalur l. Jalur K hanya
kan jalur B tidak dapat berjalan bersama dengan
pada setiap jalur. Pembagian waktunya dapat dilihat pada Cambar dapat berjalan bersama dengan jalur E'
16.8. (b). pada jalur E
Dengan mengasumsikan bahwa jumlah kendaraan
jalur B dua kali
dan K adalah sama, sedangkan jumlah kendaraan pada
16.7 Solusi Ketiga lipat jalur E. Jumlah kendaraan pada jalur I dua kali kendaraan
pada E,

begitu juga pada E, begitu juga pada jalur H' Dengan asumsi
tersebut
Solusi ketiga dilakukan jika solusi kedua masih terjadi antrian
16.10 (a)' Jika
yang panjang. Pada solusi ketiga yang harus dilakukan adalah dapat dibuat pembagian waktu seperti dalam cambar
mengubah jalur dapat berarti menghilangkan jalur y.rng sudalr ada, menggunakanasumsilain,misaljumtahkendaraanpadasetiapjalur
biasanya lalur yang jumlah kendaraannya sedikit. Kalau dilihat dalam ct
ju.lah sama kecuali ialur H dua kali tipat dengan jumlah [ain, maka
Cambar 16.8. (solusi kedua), maka jalur yang perlr-r dihilangkan adalah I dapat dibuat sepe(i dalam Cambar 16'10(b)'
152 Jaringon Transportasl: Teor I tlon Anolisis
Anolisis Persimpangan Jolon dan Teori Graph t53

Keberhasilan lalu lintas sampai saat ini secara nyata berpenga-


ruh men i ngkatkan kesejahteraan masyarakat, peningkatan tersebut ti-
dak lepas dari peranan transportasi. Dengan tidak terjadinya antrian
yang panjang pada persimpangan jalan diharapkan kelancaran lalu
lintas dapat ditingkatkan. Jika terjadi antrian panjang pada suatu per-
sinrpangan jalan, maka dapat diselesaikan dengan solusi-solusi seperti
di atas. Dalam kenyataannya pengaturan waktu nyala lampu lalu lintas
secara proposional adalah salah satu solusi yang paling baik.
Gambar 16.10
16.9 Bagan Alir Terminal Umum Penumpang dan
16.8 Solusi Keempat Barang
solusi keempat dilakukan jika ketiga solusi di aras masih terjadi Selain analisis persimpangan dan teori graph, dianggap periu
antrian yang panjang, sehingga solusi keempat tersebut adalah solusi menampilkan gambaran tentang bagan alir terminal umum penum-
fisik yaitu merubah atau memotong jalur hijau Maksud dari solusi pang dan barang. Terminal memiliki peranan dan fungsi yang penting
keempat tersebut adalah menyederhanakan atau membagi jumlah sebagai simpul transportasi yang merupakan sumber bangkitan dan
kendaraan pada jalur I menjadi dua bagian yang dipisahkan dengan tarikan perjalanan, yang memulai dan mengakhiri perjalanan angkut-
tujuan akhir yang sama tetapi melalui jalan yang berbeda. an umum.

Jika f umlah kendaraan pada jalur I sangat banyak dibandingkan Cambaran suatu sistem proses terrninal penumpang dan barang
dengan jumlah kendaraan pada jalur yang lain kenyataannya seperti umum diilustrasikan sebagaimana pada Cambar 16.12 dan Cambar
itu, maka solusi terbaik adalah solusi keempat, sehingga Cambar 16.4 16.13.
akan merubah menjadi Cambar 16.1 1.
Terminal yang diartikan sebagai tempat di mana sekumpulan

tle{
iiE E bus mengakhiri dan mengawali lintasan operasionalnya, maka pada
bangunan terminal penumpang dipersiapkan untuk dapat menganti-
I
--l> lL -' sipasi pergerakan yang masuk dan keluar dalam sistem yaitu dapat
mengakhiri perjalanannya, atau memulai perjalanannya atau juga
L::] k--, dapat menyambung perjalanannya dengan mengganti lintasan bus
E- lainnya. Bagi pengemudi bus, bangunan terminaladalah tempat untuk
7"
--_ memulai perjalanan dan juga sebagai tempat perawatan ringan ang-
kutan.
-
'=1t Gambar 16.1 1
154 Jaringon Tronsportosl: Teorl don Anollsls Anollsis Persimpongon Jolan don Teori Groph 155

Nsbutuhen
Penumpan8
yanS nkan
boranskat

Kedetangsn Proses untuk


Nendaraan Barang yang Penylmpanan
dalam l{oh Keluar 2

Prngurusan Bagasi
Pmumpangyangl
beBngket I

Cambar 16.13 Bagan Alir Terminal Penumpang Barang Umum


Terminal merupakan titik simpul jaringan transportasi yang me-
layani lalu lintas kendaraan yang keluar dan masuk untuk menaikkan
dan menurunkan penumpang (dan barang), sangat ramai, sehingga
penempatan lokasinya jangan dekat perempatan, jangan di tepi ja-
t
lan besar yang padat lalu lintas, sebaiknya di daerah pinggiran kota
yang masih belum padat lalu lintas. Jelaslah, pemilihan lokasi terminal
seharunysa mengikuti Rencana Umum Tata Ruang Kota yang telah
ditetapkan.

-oo0oo-

Gambar 16.12 Bagan Alir Terminal Penumpang lJmum


17
pttGH.0lA[lt IIRmHII
NilO[UMil UMUM

17.1 Pengertian Terminal


erminal menurut Morlok, EK (1991: 26) adalah sebagai alat
proses dari sistem transportasi dan merupakan titik di mana
penumpang dan barang masuk dan keluar dari sistem dan
merupakan komponen penting dalam sistem transportasi yang memer-
lukan biaya yang besar dan sering menimbulkan kongesti (kemacetan).

Sedangkan dalam UU Rl No. 14 Tahun 1992, terminal adalah


prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan
orang, barang serta mengatur kedatangan dan keberangkatan angkutan
umum, yang merupakan salah satu wujud simpuljaringan transportasi.
Sementara berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. 31
Tahun 1995, terminal diartikan sebagai:
1. Titik simpul dari jaringan transportasi jalan yang berfungsi sebagai
pelayanan umum.
2. Tempat pengendalian, pengawasan, pengaturan dan pengopera-
sian lalu lintas.
3. Prasarana angkutan yang merupakan bagian dari sistem transpor-
tasi untuk melancarkan arus angkutan penumpang dan barang.
158 Joringan Transportosi: Teot I tlott Atrolisis Pengelolaan Termlnal Angkuton Umum 159

4. Unsur tata ruang yang mempunyai peranan penting bagi efisensi f. Pos pemeriksaan Tempat Pemungutan Retribusi (TPR), pan-
jang 3 meter dan lebar 2 meter.
kehidupan kota.
g. Taman, ditetapkan luasnya adalah 30 % dari luas lahan termi-
Menurut Pedoman Teknis Pembangunan Terminal Angkutan
nal keseluruhan.
Jalan Raya dalam Kota dan AntarKota, Dirjen Perhubungan Darat, h. Musholla, luasnya ditetapkan menurut ketentuan jumlah ialur
fasilitas terminal utama adalah sebagai berikut: yang tersebar dengan kriteria:
1. Fasilitas utama (1) Jumlah jalur 1- 5, luas yang diperlukan 1 7,5 m2
a. Areal keberangkatan, adalah pelataran yang disediakan bagi (2) Jumlah jalur 6- 10, luas yang diperlukan 35 m2
kendaraan angkutan penumpang umum untuk menaikkan (3) Jumlah jalur 11- '15, luas yang diperlukan 52,5 m2
penumpang dan untuk memulai perjalanan. (4) .lumlah jalur 1- 5, luas yang diperlukan 1 7,5 mz
b. Areal kedatangan, adalah pelataran yang disediakan bagi (5) .lumlah jalur 1- 5, luas yang diperlukan I7,5 m2
kendaraan angkutan penumpang umum untuk menurunkan i. WC umum/kamar mandi, luasnya ditetapkan 80 Yo luas
penumpang yang dapat pula merupakan akhir perjalanan. musholla.
c. Areal menunggu bus, adalah pelataran yang disediakan bagi j. Tempat parkir, lebar I meter sedangkan panjangnya diatur
kendaraan angkutan penumpang umum uniuk beristirahat menurut jalur yang terbesar dengan ketentuan:
dan siap menuju jalur pemberangkatan. (1) ( 10 jalur, PanjangnYa 15 meter
d. Areal lintas, adalah pelataran yang disediakan bagi kendaraan (2) 10-20 jalur, pan.iangnya 20 meter
angkutan penumpang umum untuk beristirahat sementara (3) > 20.ialur, panjangnYa 30 meter
dan untuk menaikkan/menurunkan penumpang. k. Papan pengumuman mengenai petunjuk jurusan, jadwal per-
e. Areal tunggu penumpang, adalah pelataran menunggu yang jalanan, tarif dan lain sebagainya.
disediakan bagi orang yang akan melakukan perjalanan de- Seringkali terjadi dalam pembangunan suatu terminal itu yang
ngan kendaraan angkutan penumpang umum. mendapat perhatian hanyalah persoalan bagaimana mengatur kenda-
.}
Fasilitas pendukung raan bus yang menggunakan jasa terminal, yaitu berupa penyediaan
tanah di mana selanjutnya dibuat jalan masuk dan keluar serta tempat
a. Kantor operasional terminal
pemberhentian dan menunggu untuk sejumlah bus yang akan berang-
b. Kios/kantin, luasnya ditetapkan sebesar 60 % dari Iuas areal
kat dan yang datang. Hal itu tentu saja tidak lengkap tanpa dipikirkan
tunggu penumPang.
rnengenai penyediaan dan pengaturan angkutan dari terminal ke tem-
c. Loket penjualan tiket, luasnya ditetapkan dengan panjang 2
pat tinggal penumpang di dalam kota.
meter dan lebar 1,5 meter.
d. Tower/menara pengawas lengkap dengan pengeras suara/ Menurut Morlok EK (1991;285) terdapat dua konsep dalam
dengan ukuran panjang 3 meter dan lebar 2 meter, terletak di kapasitas terminal, di mana kapasitas merupakan ukuran dari volume
atas kantor terminal atau berdiri sendiri dengan syarat dapat yang melalui terminal (atau sebagian dari terminal). Konsep pertama,
memantau jalur kedatangan dan keberangkatan. agar kemungkinan arus lalu lintas maksimum yang melalui terminal
e. Peron, panjang 2 meter dan lebar 2 meter.
Jaringan Transportasl : Teor I dou Analisis Pe ngeloloon Terminol Angkutan Umum t61

dapat terjadi, selalu harus terdapat satuan lalu lintas yang menunggu 1. Terminal utama, adalah terminal yang melayani angkutan utama,
untuk memasuki tempat pelayanan segera mungkin sesudah tempat angkutan pengumpul/penyebaran antarpusat kegiatan nasional,
itu tersedia. Karena arus transportasi biasanya mempunyai waktu dari pusat kegiatan wilayah ke pusat kegiatan nasional serta per-
puncak. Secara praktis, tertahannya jumlah arus yang besar akan pindahan antarmoda khususnya moda angkutan laut dan udara.
mengakibatkan berbagai keterlambatan yang sangat mengganggu arus Terminal udara dapat dilengkapi dengan fungsi sekunder, yakni
lalu lintas, yaitu keterlambatan secara ekonomi dan sosial tidak dapat pelayanan angkutan lokal sebagai mata rantai akhir sistem per-
diterima. lika headwav lebih besar dari waktu pelayanan, seluruh angkutan.
satuan lalu lintas akan dapat dilayani. Tetapi apabila headway lebih 2. Terminal pengumpan, adalah terminal yang melayani angkutan
kecil dari waktu pelayanan, maka suatu antrian akan terjadi. Konsep pengumpul/penyebaran antarpusat kegiatan wilayah, dari pusat
kedua adalah volume maksimum yang masih dapat ditampung dengan kegiatan lokal ke pusat kegiatan wilayah. Terminal jenis ini dapat
waktu menunggu atau keterlambatan yang masih dapat diterima. dilengkapi dengan pelayanan angkutan setempat.
Menurut PP No.43 tahun 1gg3, berdasarkan wilayah pelayanan- 3. Terminal lokal, melayani penyebaran antarpusat kegiatan lokal"
nya terminal dikelompokkan ke dalam beberapa tipe sebagai berikut:
1" Tipe A, berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan lalu
17.2 Fungsi Terminal
Fungsi terminal dapat dijangkau dari 3 unsur, adalah sebagai
lintas batas negara, angkutan antarkota antarpropinsi, angkutan
antarkota dalam propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan. berikut:
2. Tipe B, berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan an- 1. Fungsi terminal bagi penumpang adalah untuk kenyamanan
tarkota dalam propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan. menunggu, kenyamanan perpindahan dari satu moda (kendaraan)
3. Tipe C, berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan ke moda (kendaraan) lain, tempat fasilitas informasi dan parkir
pedesaan. kendaraan pribadi.
2. Fungsi terminal bagi pemerintah; adalah dari segi perencanaan
Disamping itu, terminal dibedakan berdasarkan jenis angkutan
dan manajemen lalu lintas untuk menata lalu lintas dan angkutan
menjadi:
sefta menghindari dari kemacetan, sumber pungutan retribusi dan
1. Terminal penumpang merupakan prasarana transportasi jalan un- sebagai pengendalian kendaraan umum.
tuk keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang, perpin- 3. Fungsi terminal bagi operator/pengusaha; adalah untuk mengatur
dahan intra dan atau antarmoda transportasi serta mengatur ke- operasi bus, fasilitas istirahat dan informasi dan sebagai fasilitas
datangan dan pemberangkatan kendaraan umum. pangkalan.
2. Terminal barang merupakan prasarana transportasi jalan untuk
keperluan membongkar dan memuat barang serta perpindahan 17.3 Pengelolaan Terminal
intra dan/atau antarmoda transportasi.
Penyebaran terminal berperan menunjang tersedianya jasa trans-
Sedangkan menurut Warpani (2OO2), berdasarkan fungsi pe- portasi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan lalu lintas dan pelayanan
layanannya term i nal d ikelompokkan dalam : angkutan yang selamat, aman, cepat, tepat, teratur dan dengan biaya
terjangkau masyarakat.
162 Jaringan Transportosl: Teor I dan Anolisis Pengelolaon Termi nal Angkuton Umunt 163

Secara umum ada beberapa proses yang terjadi dalam terminal c. Pemungutan jasa pelayanan terminal penumpang
yaitu: d. Pemberitahuan tentang pemberangkatan dan kedatangan
1. Penggantian moda kendaraan umum pada penumpang
2. Kepabeanan dan keimigrasian e. Pengaturan arus lalu litas di daerah pengawasan terminal
3. Menunggu dan antarjemput 3. Pengawasan pengoperasian terminal penumpang meliputi:
4. Parkir dan penitipan kendaraan a. Pemantauan pelaksanaan tarif.
5. Bongkar muat b. Pemeriksaan kartu pengawasan dan jadwal perjalanan.
6. Pergudangan c. Pelaksanaan kendaraan yang secara jelas tidak memenuhi ke-
7- Pemeliharaan dan perbaikan laikan jalan.
Penyelen ggaraan term i nal mel i puti kegiatan pen gelolaan, peme- d. Pemeriksaan batas kapasitas muatan yang diijinkan.
liharaan, dan penertiban terminal. Kewenangan pengelolaan terminal e. Pemeriksaan peiayanan diberikan oleh penyedia jasa angkut-
berada pada pemerintah kota/kabupaten dengan Dinas LLAj sebagai an.
penyelen ggaranya, sedan gkan D i rektorat Jenderal Perh u bu ngan Darat f. Pencatatan dan peiaporan penyelenggaraan yang terjadi.

sebagai pembinanya. B. Pemeriksaan l<ewajiban pengusaha angkutan sesuai dengna


peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pengelolaan terminal penumpang yang harus dilakukan adalah
h. Pencatatan jumlah kenciaraan dan penumpang yang datang
meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan peng- dan berangkat.
operasian terminal.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 1993, untuk peng-
1. Perencanaan pengoperasian terminal penumpang meliputi: gunaan jasa pelayanan terminal dapat dikenakan pungutan. Jasa pe.
a. Penataan peralatan terminal menurut rute atau jurusan, pena-
layanan terrnirral yang dimaksud adalah:
taan fasilitas penumpang
b. Penataan fasilitas penunjang terminal
1. Jasa tempat bongkar muat barang dan atau naik turun penumpang
yang dinikrnati oleh pengusaha angkutan,
c. Penataan arus lalu lintas di daerah pengawasan terminal
2. Fasilitas parkir kendaraan umum menunggu waktu keberangkatan
d. Penyajian daftar rute perjalanan dan tarif angkutan
yang dinikmati oleh pengusaha angkutan,
e. Penyusunan jadwal perjalanan berdasarkan kartu pengawas
3. Fasilitas parkir untuk umum yang dinikmati oleh pengusaha jasa.
f. Pengaturan jadwal petugas di terminal
I. Evaluasi sistem pengoperasian terminal
17.4 Perencanaan Terminal
2" Pelaksanaan pengoperasian terminal penumpang meliputi:
a. Pengaturan tempat tunggu dan arus kendaraan umum di Dalarn merencanakan suatu terminal terdapat beberapa hal
dalam terminal yang sangat penting untuk diketahui secara rinci yaitu fungsi terminal,
b. Pengaturan kedatangan dan keberangkatan kendaraan me- ditinjau dari sistem jaringan rute secara keseluruhan maupun dari
nurut jadwal yang telah ditetapkan aktivitas atau mekanisme proses yang ada dalam terminal. Aspek
lainnya yang perlu diketahui adalah intensitas dari pergerakan yang
Pe nge lo loon Te rml nol Angku tan U mum 165
Joringan Tronsportosl: Teorl clon Anollsls

harus diantisipasi, karena terminal pada dasarnya dibangun dalam


7. Kondisi dan karakteristik lalu lintas pada jaringan jalan di sekitar
lokasi terminal
usaha untuk mengantisipasi aktivitas maupunmekanisme pergerakan
yang ada dengan tingkat intensitas tertentu. Selanj utnya dalam perencanaan pembangunan term i nal, fasi ltias
yang paling dominan dan merupakan fasilitas utama adalah sebagai
Dalam perencanaan suatu terminal terdapat beberapa kriteria
berikut:
umum yang perlu ditetapkan, adalah sebagai berikut:
1. Terminal hendaknya dapat mengantisipasi pergerakan pejalan 1. Areal keberangkatan; yaitu areal pelataran yang disediakan bagi
kendaraan angkutan penumpang umum untuk menaikkan pe-
kaki (pedestrian), yaitu mudah dicapai dari daerah sekitarnya.
numpang dan untuk memulai perjalanan;
2. Terminal hendaknya dapat mengantisipasi sirkulasi pergerakan
bus secara efektif dan efisien.
2. Areal kedatangan; adalah pelataran yang disediakan bagi kenda-
raan angkutan penumpang umum untuk menurunkan penumpang
3. Terrninal hendaknya dapat nlengantisipasi kebutuhan transfer ce-
sebagai akhir perjalanan;
pat dan mudah.
4. Terminal hendaknya mampu rnengatasi pergerakan Kiss & Ride 3. Areal menunggu bagi kendaraan; yaitu areal pelataran yang dise-
diakan bagi kendaraan angkutan penumpang umum untuk istira-
secara mudah dan cepat.
hat dan siap menuju jalur pemberangkatan;
5. Terminal hendaknya membuat penumpang merasa nyaman dan
aman, baik untuk kegiatan naik turun dari bus maupun transfer
4. Areal lintas; yaitu areal pelataran yang disediakan bagi kendaraan
angkutan penumpang umum sementara dan untuk menaikkan
antarlintasan bus.
dan menurunkan penumpang.
6. Terminal hendaknya memungkinkan bus dapat menaik-turunkan
penurnpang secara mudah dan cepat.
5. Areal tunggu penumpang; adalah areal pelataran yang disediakan
untuk menunggu yang disediakan bagi orang yang akan nrelaku-
7. Terminal hendaknya sekecil rnungkin mempengaruhi kondisi lalu
kan perjalanan dengan kendaraan angkutan penumpang.
lintas pada jaringan jalan sekitarnya.
Dalam perencanaan pembangunan suatu terminal harus mem-
Dalam penentuan lokasi terminal rnerupakan tahapan yang
perhatikan persyaratan penentuan lokasi terminal penumpang, yang
cukup penting, karena terminal yang baik adalah terminal yang secara
utama adalah sebagai berikut:
sistem jaringan mampu berperan dalam melancarkan pergerakan
sistem transportasi secara keseluruhan. Adapun aspek-aspek yang 1. Rencana kebutuhan lokasi simpul yang merupakan bagian dari
perlu mendapat perhatian adalah: rencana umum jaringan transportasi jalan

1. Tipe terminal yang akan dikembangkan. 2. Rencana umum tata ruang

2. Komponen pergerakan yang akan dilayani 3. Kepadatan lalu lintas dan kapasitas jalan di sekitar terminal

3. Tipe lintasan rute yang akan dilayani 4. Keterpaduan moda transportasi, baik intra dan antarmoda

4. Jumlah rute yang akan dilayani 5. Kelestarian lingkungan

5. Kondisi dan karakteristik tata guna lahan pada daerah sektiar ter- Faktor yang mempengaruhi lokasi perencanaan terminal, dapat
minal dikemukakan sebagai berikut:
6. Kondisi dan karakteristik iaringan jalan
166 Jarlngan Tlonsportosl: Teorl don Anollsls Pengeloloon Terminal Angkutan lJmunt t67

1. Aksesibilitas; tingkat pencapaian kemudahan dan dapat dinyata- strategi dan sasaran merupakan proses yang bersfiat interaktif, karena
kan dengan jarak fisik, waktu atau biaya angkutan. strategi senantiasa harus terkait dengan sasaran.
2. struktur wilayah kota guna mencapai efisiensi maupun efektivi-
tas pelayanan terminal terhadap elemen-elemen perkotaan yang Untuk merumuskan startegi pengembangan terminal digunakan
metode analisis swor. Terdapat 4 (empat) indikasi dalam metode ini
mempunyai fungsi primer dan sekunder.
yaitu indikasi internal kekuatan (potensi) dan indikasi kelemahan (ma-
3. Lokasi Iintas, terminal merupakan pembangkit lalu lintas, sehing-
ga lokasi terminal hendaknya tidak menimbulkan permasalahan- salah) serta indikasi eksternal peluang (kesempatan) dan indikasi an-
permasalahan lalu lintas. caman (hambatan). Secara umum, yang menjadi kriteria atau variabel
4. Biaya, memperhatikan biaya yang dikeluarkan oleh pemakai jasa,
dalam analisis ini adalah:
agar pengguna angkutan umum dapat diselenggarakan secara 1. Aspek perencanaan transpoftasi
aman dan murah. 2. Aspek tata ruang
3. Aspek sistem pelayanan angkutan
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, perencanaan terminal
diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, terdiri dari:
4. Aspek tata guna lahan
5. Aspek bangkitan perjalanan
1. Terminal utarna, yaitu terminal yang berfungsi melayani arus pe- 6. Aspek penyelenggaraan terminal angkutan kota.
numpang angkutan jarak jauh dengan volume tinggi, jumlah arus
Berdasarkan aspek-aspek dalam lingkup rencana lokasi terminal
kendaraan per satuan waktu, 50 s/d 100 kendaraan/)am dengan
barang dan penumpang, maka perlu dilakukan analisis strategi, sebagai
kebutuhan ruang 10 Ha.
berikut:
2. Terminal madya, yaitu terminal yang berfungsi melayani arus ang-
kutan jarak sedang dengan volume sedang, jumlah arus kendara- 1. Untuk menetapkan sistem dan hirarki jaringan transportasi antar-
an per satuan waktu 25 s.d 50 kendaraan/jarn dengan kebutuhan simpul didasarkan pada (1) fungsijalan (arteri, kolektor dan lokal),
ruang 5 Ha. (2) sistem pengelolaan dan tanggung jawab pembangunan jalan
3. Terrninal caLrang, yaitu terminal yang berfurrgsi rnelayani arus (jalan rasional, provinsi, dan kabupaten/kota), (3) kepadatan lalu
penumpang jarak pendek, dengan volume kecil, junrlah arus Iintas yang diukur berdasarkan LHR (lalu lintas harian rata-rata)
l<endaraan per satuan waktu kurang dari 25 kendaraanljam rje- dan volume lalu lintas penumpang.
ngan kebutuhan ruang 2,5 Ha. 2. Untuk menganalisis faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemah-
an) dan faktor-faktor (peluang dan ancaman) dalam pembangunan
17"5 Strategi Pengembangan wilayah pada umumnya dan pembangunan sektor transportasi,
khususnya pembangunan terminal penumpang dan barang.
Strategi pengembangan pembangunan terminal berisi skenario
proses pencapaian sasaran pembangunan yang telah ditetapkan se-
3. Berdasarkan analisis swor dilakukan penyusunan strategi swor
secara terukur dengan menggunakan skala Lykert (klasifikasi ni-
belumnya dengan mempertimbangkan potensi yang dimiliki. Strategi
lai 1 s/d 5). strategi rows yang memperoleh nilai/skor tertinggi
pengenrbangan terminal itu sendiri dapat diartikan sebagai penjabaran
merupakan strategi utama dan yang nilai/skornya rendah meru-
upaya-upaya yang perlr.r dilaksanakan untuk mencapai sasaran. Jadi
pakan strategi pelengkap.
Jorlngon Transportosl: Teorl dan Anollsls Pengelolaon Terminal Angku t.on Umum 169

Analisis SWOT dan strategi TOWS disajikan dalam matriks dan 1. Analisis Terminal
diagram berikut ini: a. Kapasitas Area Terminal

Tabel 17.1 Matriks Analisis SWOT KT: RsxPtpx365x24


Pjk x Wt
-\ Faktor
KT Kapasitas area tunggu
-\ lnternal Strengths (S) Weaknesses (W)
Faktor -\ \\\ (Kekuatan) (Kelemahan) Rs Prosentase daerahefektif yang dapat digunakan
Eksternal untuk kendaraan, dengan memperhatikan jarak
Opportunities (O) Strategi Strategi antara kendaraan satu dengan lainnya dalam posisi
(Peluang) s-o w-o parkir memanjang.
Ptp Panjang area parkir
Treats (T) Strategi Strategi
Pjk Panjang kendaraan
(Ancaman) s-T W.T
Wt Waktu tunggu kendaraan sebelum pindah ke tempat
pemberangkatan
BERBAGAI PELUANG 365 Jumlah haridalam 1 tahun
24 Jumlah jam dalam t hari
3. Mendukung I t.Mendukr tng
strategl I strategi
b. KapasitasTempat Pemberangkatan
turnaround I agrestf

KELEAAAHAN KEKUATAN
Ktp : Rpxltpx365x24
Wp
INTERNAL INTERNAL
Ktp : Kapasitas tempat pemberangkatan
4. Aendukung'
,trategi I 2, Menduku n8 Rp : efektif yang dapat digunakan
Prosentase daerah
I Strategi
untuk kendaraan dengan memperhatikan jarak
lefenslf I dlverslfil iasi
antara kendaraan satu dengan lainnya dalam posisi
BERBAGAI ANCA,'MN
parkir melintang.
Ltp : Luas tempat pemberangkatan

Gambar 17.1 Diagram Ana/isis SWOT dan StrategiTOWS Wp : Waktu menaikkan penumpang
c. Tingkat Pemanfaatan Kapasitas Terminal
17.6 Teknik Analisis N
TPKT:
Proses analisis dalam kegiatan terminal ini dapat dilakukan KT x Ktp
dengan pendekatan-pendekatan teknik analisis adalah, sebagai berikut TPKT : Tingkat pemanfaatan kapasitas terminal
(Ditjen Perhubungan Darat): N : Jumlah kendaraan yang keluar-masuk terminal per
tahun
170 Joringan Transportasl: leot I dan Anolisis Pe nge lo laon Te rmi nol Angku tan U mu m 171

KT : Kapasitas area tunggu ULT : Lalu lintas tahunan


Ktp : Kapasitas tempat pemberangkatan K1 : Jumlah kendaraan jenis yang lewat
d. Kebutuhan Luas atau Panjang Terminal El : Faktor ekivalensi kendaraan i dalam lalu lintas
P: Nj xMtx U2 Ekivalensi kendaraan dalam arus lalu lintas
Sepeda (0,2O), Sepeda Motor (0,33), Mobil Penumpang (1,00)
P : Kebutuhan tempat parkir di terminal
Nj : Jumlah kendaraan yang keluar masuk terminal
Truk Ringan (< 5 ton) yaitu 2,00, Truk Sedang (5-10 ton) yaitu
per jam 2,50, Truk Berat ()10 ton) yaitu 3,00, Bus (2,00), Cerobak
U2 : Ukuran kendaraan ditambah jarak antara
(7,OO)

e. Kebutuhan Bongkar Muat di Terminal c. Kapasitas Jalan:


KJ:2000xNxFbxFt
BM: B
KJ : Kapasitas jalanan
Kbm
N : Jumlah jalur pada ruas jalan
BM : Jumlah tempat bongkar muat Fb : Koefisien reduksi dari gangguan tepi jalan
B - Jumlah berat barang yang dibongkar/muat tiap Ft : Koefisien reduksi dari kendaraan truk dan bus
tahun d. Arus Lalu Lintas
Kbm : Kapasitas operator bongkar muat per satuan waktu q: Qx6o
.'
Analisis Karakteristik lalu lintas q : Besarnya arus lalu lintas per jam pada satu ruas
jalan tertentu
Analisis ini digunakan untuk rnelihat
karakteristik lalu lintas
dengan menggunakan persamaan berikut: a : Jumlah kendaraan yang lewat per menit
60 : Jumlah menit dalam satu jam
a. Lalu lintas Harian Rata-rata (LHR)
JL_
tlr L : Beban lintasan
LHR - 36s Kk : Kapasitas angkut kendaraan
S : Jarak lintasan
LHR : Lalu lintas Harian Rata-rata Jl : Jumlah lalu lintas
LLT - Jumlah lalu lintas dalam 1 tahun
Kapasitas Jalan
365 : Jumlah lalu lintas dalam 1 tahun
Pkj : LHRx365
b. Latu Lintas Tahunan Pkj : Penggunaan kapasitas jalan
LHR :
ULT - I R

']x1
ErxKr 365 :
Lalu lintas harian
Jumlah hari dalam 1 tahun
365 : Rasio ideal luas jalan dan daerah
172 Jaringan Tronsportosl: Teot I dou Anolisls

Analisis Prakiraan Perjalanan

18
3.
Analisis ini dimaksudkan untuk melihat interaksi pola perjalanan
penduduk setempat dengan tetapan proyeksi 10 tahun ke depan
dengan langkah-langkah berikut:
ldentifikasi variabel-variabel yang berpengaruh didasarkan
pada persamaan regresi linear berganda, uji korelasi yang ber- tIIAlI[ITMtlI PARIflR
pengaruh dengan R2 lebih besar atau sama dengan 0,6 dan
menggunakan uji Fn lebih besar dari F tabel pada tingkat ke-
percayaan 95 %.
Penentuan model bangkitan perjalanan
Variabel-variabel yang diduga berpengaruh pada bangkit-
an perjalanan, dihitung dengan persamaan (Hobbs, 1995)
berikut:
Y : bo + b,X,+ brX, + b3X3 + boXo
18.1 Pengertian Parkir
Sebagai variabel bebas
rkir didefinisikan sebagai keadaan tidak bergerak suatu
endaraan yang bersifat sementara (PP No. 43 Tahun 2005),
bo-bo : Lalu lintas Harian Rata-rata
termasuk dalam pengertian parkir adalah setiap kendaraan
X,-Xu : Variabel bebas yang diduga berpengaruh
yang berhenti pada tempat-tempat tertentu baik yang dinyatakan
dengan rambu ataupun tidak serta tidak semata-mata untuk kepentingan
-oo0oo- menaikkan dan menurunkan orang dan barang (Dit BSLLK Dirjen
Perhubungan Darat, 1998), berdasarkan tata letaknya dikenal parkir
badan jalan (on street parking) dan parkir di luar badan jalan (of street
parking).

Menurut Warpani (2OO2), Perparkiran berkaitan erat dengan ke-


butuhan ruang, sedangkan sediaan ruang terutama di daerah perkota-
an sangat terbatas bergantung pada Iuas wilayah kota, tata guna lahan,
dan di bagian wilayah kota yang mana. Setiap pelaku lalu lintas mem-
punyai kepentingan yang berbeda dan menginginkan fasilitas parkir
sesuai dengan kepentingannya. Selain itu, lokasi tempat parkir dengan
tempat yang dituju harus berada dalam jarak yang dapat dijangkau
dengan berjalan kaki, karena kebutuhan tempat parkir adalah fungsi
dari kegiatan.
174 Joringon Transportosl: lt'or I dort ztrrolisis lvlanojemen Parkir 175

Tabel t8.t Keinginan akan Sarana Parkir meningkatkan keandalan, keamanan dan kenyamanan kendaraan
umum.
Pelaku Lalu Lintas Keinginan
Bebas, udah mencaPq{grnPallgiYa1
5. Mengelola perlalu lintasan;
Perseorangan (Pemarki r) m

Mudah bongkar muat, menyenangkan


6. Menghasilkan uang sebagai pendapatan retribusi daerah, karena
Pemilik toko (pemarkir)
pembeli berparkiran dapat menghasilkan uang yang cukup banyak.
Kendaraan umum Dikh ususkan/terpisah supaya aman Perparkiran yang ideal adalah berparkir di luar jalan berupa
untuk naik turun, PenumPang mudah
fasilitas pelataran (taman) parkir atau bangunan (gedund parkir.
keluar-masuk agar dapat menepati jadwal
perjalanan Fasilitas parkir di luar jalur jalan dapat diselenggarakan oleh
Kendaraan barang Mudah bongkar-muat, bisa parkir berjeier pemerintah melalui badan usaha milik pemerintah, atau badan hukum
bila perlu
lndonesia, atau warga negara lndonesia (PP No. 43 Tahun 1993
Pengusaha parkir (Pemarkir) Bebas parkir, pelataran selalu penuh,
ps.4B).
frekuensi parkir tinggi
Ahli perlalulintasan Melayani setiaP Pengguna jalan,
mengusahakan kelancaran lalu lintas 18.2 Pengendalian Parkir
Sumber: Warpani, S. 2002;'123 Tidak diragukan lagi bahwa parkir di jalan sangat menganggu
Menurut perhitungan kasar, setiap kendaraan dianggap berada kelancaran lalu lintas, namun parkir kendaraan adalah akhir dari satu
jalan 6iaml proses perjalanan sehingga parkir tidak dapat dihindarkan.
di rumah selama 10 jam/hari, di tempat kerja 5 jam/hari, di
parkir
hari, di tempat parkir 3 jam/hari. Apabila kendaraan tersebut Pada tempat-tempat tertentu (tempat parkir dan badan jalan)
di ruas jalan, maka ia sudah menyita j 20 m2 permukaan ialan dan dapat diterapkan kebijakan pembatasan waktu parkir, agar (1) SRP
mengganggu kelancaran lalu lintas. Oleh karena itu,
perlu dilakukan (Satuan Ruang Parkir) yang tersedia dapat digunakan secara efisien
p"ng"ndrtian terhadap kendaraan yang parkir di jalan dengan berbagai atau sebanyak-banyaknya kendaraan mendapatkan peluang untuk
parkir
macam cara, antara lain dengan pembatasan waktu atau lama dapat parkir di tempat tersebut; (2) ruang jalan yang tersita untuk
parkir di
dan penerapan denda bagi yang lewat batas waktu, larangan fasilitas parkir dapat memberikan manfaat maksimum dan mendorong
sejumlah ruas ialan, serta penerapan tarif serta denda
yang tinggi' pengguna jalan untuk dapat memarkirkan kendaraannya di luar jalan

Dengan demikian pengendalian parkir di jalan mempunyai (misalnya pada gedung parkir). Cara yang bisa diterapkan adalah
memerlukan tarif progresif parkir di jalan; artinya semakin lama
banyak dimensi tujuan, Yaitu:
memarkir kendaraan, akan semakin mahal biayanya dibanding dengan
1. Mengurangi kemacetan lalu lintas; parkir di gedung parkir.
2. Meningkatkan kapasitas ruas.ialan;
3.Mendayagunakanfasilitasparkirdiluarialan,besarnyatarifharus Pengawasan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penge-
mampu bersaing dengan tarif di jalan; lolaan parkir. Maka pengawasan terhadap lamanya suatu kendaraan
4. Mempengaruhi orang agar menggunakan kendaraan umum un- diparkir adalah suatu keharusan, dan dapat dilakukan dengan tiga cara:
upaya
tuk berpergian ke mana saja-hal ini harus dibarengi dengan
176 Joringon Tronsportosl: feorl dou Anollsls Monojemen Porkir 177

1. Oleh petugas parkir atau polisi lalu lintas. Patroli dilakukan secara 2. Kapasitas parkir
berkala atas ruas jalan bebas parkir dan bebas terbatas. Kapasitas parkir adalah jumlah kendaraan yang mampu ditampung
2. Dengan meteran parkir. Meteran dipasang di setiap Satuan Ruang secara maksimal pada suatu tempat fasilitas parkir pada suatu
Parkir (SRP). Alat ini belum lazim di lndonesia meskipun sudah satuan waktu tertentu.
umum digunakan di beberapa negara lain. 3. Akumulasi parkir
3. Dengan piringan/cakram parkir. Pada prinsipnya sama dengan Akumulasi parkir adalah jumlah kendaraan parkir sebelum survei
meteran parkir, cuma cakram parkir adalah bagian dari kelengkap- ditambah dengan jumlah kendaraan yang masuk dikurangi dengan
an kendaraan seperti segitiga pengaman. jumlah kendaraan yang keluar pada periode waktu yang sama.
4. Durasi parkir (parking duration)
Dalam kaitan dengan ekonomi perkotaan, perparkiran adalah
Durasi parkir adalah rentang waktu parkir sebuah kendaraan di
salah satu sumber pendapatan kota yang sangat berarti. Adalah wajar
suatu tempat dalam satu satuan waktu.
pula apabila parkir kendaraan dikenai wajib bayar, mengingat:
5. Tingkat Penggunaan Parkir (TPP)/Parking Turn Over (PTO)
1. Parkir di jalan berarti mengurangi kapasitas jalan yang bersang-
Tingkat penggunaan ruang parkir adalah besarnya tingkat peng-
kutan. Oleh karena itu tarif parkir di jalan seharusnya ditetapkan gunaan satu ruang parkir yang diperoleh dengan membagi jumlah
menjadi mahal.
kendaraan parkir dengan luas parkir/jumlah petak parkir untuk
2. Parkir di luar jalan memerlukan pengadaan sarana khusus berupa
periode tertentu.
pelataran/taman parkir atau bangunan parkir. Untuk mengemba-
6. lndeks Parkir (Parking lndex)
likan investasi itulah parkir dikenai biaya PP No. 43 Tahun 1993
lndeks parkir adalah prosentase jumlah kendaraan parkir rnenem-
Ps. 50 membuka peluang untuk itu, yakni penyelenggara fasilitas
pati areal parkir. Karakteristik ini merupakan salah satu cara untuk
parkir untuk umum dapat memungut biaya parkir. Tarif parkir di
mengetahui tingkat kebutuhan parkir.
luar jalan harus lebih murah daripada tarif parkir di jalan.
7. Ketersediaan parkir (Parking supply)
Ferparkiran, baik di jalan maupun di luar jalan, mernerlukan Ketersediaan parkir adalah perkalian jumlah petak parkir yang
pengawasan dan pengendalian. Untuk itu diperlukan sejumlah tenaga disediakan dengan waktu parkir dibagi dengan durasi parkir rata-
kerja, dan ini mengandung pengertian bahwa sektor perparkiran dapat rata.
menyediakan lapangan pekerjaan di kota. B. Kebutuhan Parkir (Parking Demand)
Kebutuhan parkir dapat dihitung dengan menggunakan rumus
18.3 Karakteristik Parkir membagi jumlah kendaraan yang parkir dengan nilai parkin g turn
Karakteristik parkir berkaitan dengan besarnya jumlah kebutuhan overnya.
parkir yang harus disediakan. Karakteristik parkir meliputi (Alwinda,
18.4 Pola Parkir
Y,2001):
Berdasarkan Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas
'1. Volurne Parkir
Parkir yang diterbitkan Direktorat Binaan sistem Lalu Lintas Angkutan
Volume parkir adalah jumlah kendaraan yang menggunakan Kota Dirjen Perhubungan Darat, jenis parkir dapat dibedakan atas:
fasilitas parkir pada suatu waktu.
178 -toringott Tr ttttsltttr lttri. l'dr t rhtrt Attttltsi" hlonojemen Porkir 179

1
Farkir kendaraan penumpang satt"l sisi 2. Parkir kendaraan penumpang dua sisi
Pola parkir ini diterapkan apabiia ketersediaan ruang sempit di Pola parkir ini diterapkan apabila ketersediaan ruang cukup
suatu tempat kegiatan. memadai:
a" Membentuk sudut 90o a. Membentuk sudut 90o
Pola parkir ini mempunyai daya tampung lebih banyak jika Pada pola parkir ini arah gerakan lalu lintas dapat satu arah
dibandingkan dengan pola parkir paralel, tetapi kenudahan atau dua arah.
dan kenyamanan pengemudi melakukan manuver masuk
dan keluar ke ruangan parkir lebih sedikit jika dibandingkan
dengan pola parkir dengan sudut yang lebih kecil dari 90'

Gambar 18.3 Parkir Tegak Lurus yang Berhadapan

Gambar 18.'l Pola Parkir Tegak Lurus b. Membentuk sudut 3Oo,45o, dan 60"

b. Membentuk sudut 30o, 45o, dan 60o


Pola parkir ini mempunyai daya tampung lebih banyak iika
dibandingkan dengan pola parkir paralel, dan kemudahan
dan kenyamanan pengemudi melakukan nianuver masuk dan
Ih
keluar ke ruang parkir lebih besar jika dibandingkan dengan
pola parkir dengan sudut 90o
1:
r
Gambar 18.4 Parkir sudut yang berhadapan

Carn&rar '18.2 Pala Parkir SlrCl't


180 Jaringan Tronsportosl: Teorl don Anolisls lAanojemen Porkir 181

3. Parkir pulau (3) Bentuk tulang ikan tipe C

Pola parkir ini diterapkan apabila ketersediaan ruang cukup luas


a. Membentuk sudut 90o

)
I
1: Gambar 1B.B laman parkir sudut dengan 2 gang tipe C
+' Parkir bus/truk
Gambar 18.5 Taman parkir tegak lurus dengan 2 gang Posisi kendaraan dapat dibuat menyudut 60" ataupun 90",
tergantung dari luas areal parkir. Dari segi efektivitas ruang, posisi
b. Membentuk sudut 45o
sudut 90" lebih menguntungkan.
(1) Bentuk tulang ikan tipe A
a. Parkir satu sisi

I;
Gambar 18.6 Taman parkir sudut dengan 2 gang tipe A
Gambar 18.9 Pola Parkir Satu Sisi
(2) Bentuk tulang ikan tipe B
b. Parkir dua sisi

Cambar 18.7 Taman parkir sudut dengan 2 gangtipe B Gambar 18.10 Pola Parkir Dua Sisi
182 Joringon Tronsportosl: feorl tlort Anolisis lAonojemen Porkir 183

5. Parkir Sepeda Motor di nrana parkir dikenai tarif dan di lokasi yang memiliki program ma-
Pada umumnya posisi kendaraan adalah 90o. Dari segi efektivitas najemen mobilitas. Kebutuhan parkir pada umumnya biasa dikurangi
ruang, posisi sudut 90o paling menguntungkan. Pola parkir satu, 10 %-30 % pada lokasi yang memungkinkan jika standar menggam-
dua sisi dan pulaunya sama seperti pola parkir untuk kendaraan barkan permintaan parkir secara lebih akurat.
penumpang, bus, dan truk (gambar '18.2, 18.3, dan 18.5) Kebutuhan parkir bisa dikurangi di lokasi yang rnenerapkan
Keterangan simbol pada gambar: program manajemen mobilitas. Misalnya, kebutuhan parkir biasanya
h : jarak terjauh antara tepi satuan ruang parkir bisa dikurangi di lokasi yang memiliki program penurunan perjalan-
W: lebar terjauh satuan ruang parkir pulau an penglaju atau lokasi yang bisa dicapai tanpa masalah. Di sebagian
B: lebar jalur gang kota, pejabat publik menyediakan karcis parkir gratis yang memberi-
kan kebebasan pemakaian fasilitas parkir umum kepada pemakai ken-
18.5 Strategi Manajemen Parkir daraan bermotor walaupun fasilitas seperti itu dibenarkan untuk di-
gunakan kendaraan layanan publik, polisi dan ahli teknik yang sedang
Menurut Todd Littman (2OO2), kota harus meminimalkan jum-
menjalankan tugas resmi, fasilitas ini kadang-kadang disalahgunakan
lah ruang publik yang disediakan untuk parkir mobil. Sedapat mung-
dan dipakai untuk kepentingan pribadi. Penggunaan fasilitas parkir pu-
kin, pengemudi kendaraan harus membayar langsung untuk penggu-
blik harus dikontrol secara cermat dengan audit berkala.
naan ruang parkir dengan tarif yang ditetapkan untuk menciptakan
ruang parkir yang paling nyaman untuk penggunaan jangka pendek Parkir yang baik dan gratis sering dibenarkan dalam upaya men-
dan memberikan pemasukan bagi program transportasi. Pendapatan cegah menyebarnya masalah parkir di kawasan sekitarnya. Masalah
tambahan dari tarif parkir yang tinggi di kota dialokasikan untuk pe- penyebaran ini bisa ditangani langsung dengan strategi manajemen,
meliharaan jalan dan perbaikan layanan angkutan umum. Penetapan penetapan harga dan penegakan peraturan.
tarif parkir biasanya mengurangi permintan parkir antara 10-30 % di- Parkir yang berlebihan kadang-kadang diciptakan untuk me-
bandingkan dengan parkir yang tidak dikenai biaya. Penetapan tarif menuhi permintaan parkir yang tinggi selama acara tertentu. Kebutuh-
parkir penglaju dan tarif berdasarkan waktu (tarif tinggi pada saat jam an parkir bisa dikurangi dengan membangun rencana parkir yang me-
sibuk) terutama efektif untuk mengurangi penggunaan pada jam sibuk. limpah, dan manajemen transportasi acara khusus lainnya. Misalnya,
Ruang parkir bersama pada umumnya memungkinkan penam- ini bisa termasuk penggunaan fasilitas parkir yang jauh dan layanan
pungan 20 o/.40 % lebih pemakai ketimbang jika masing-masing bus ulang-alik, dan promosi angkutan alternatif menuju tempat acara
pengguna kendaraan bermotor diberi sebuah ruang. seperti angkutan umum dan penumpang bersama.

Standar parkir yang dipublikasikan oleh organisasi perencanaan Beberapa kawasan kota membatasi jumlah maksimal kapasitas
lainnya mencerminkan permintaan parkir di negara maju di mana ke- parkir yang dibolehkan untuk berbagai jenis bangunan atau di dalam
pemilikan mobil tinggi. Standar seperti itu cenderung berlebihan di kawasan tertentu sebagai bagian dari program manajemen mobilitas-
negara sedang berkembang di mana tingkat kepemilikan mobilnya nya. Ini menciptakan fasilitas parkir bersama yang lebih efisien dan
rendah, di kawasan kota yang memiliki beragam sistem transportasi, memungkinkan bangunan di pusat kota.
lionojemen Parkir 185
184 Jaringon Tronsportosl: Teorl don Anolisis

Tabel 18.2 Ringkasan dari Berbagai Strategi Manajemen Parkir


Berikut ini adalah proses tipikal bagi pengembangan sebuah
rencana manajemen parkir: Metode Strategi
Penetapan Harga dan Keuntungan Kerugian
1. Mendefinisikan masalah umum yang harus ditanggapi (penumpuk- Perangkat Aturan
an parkir, kemacetan lalu lintas, biaya parkir yang berlebihan, Mengatur parkir Biaya implementasi yang Perlu penegakan
lingkungan pejalan kaki yang buruk dan sebagainya)dan kawasan disamping daerah rendah peraturan
geografi yang akan dipertimbangkan. pemuatan, batas waktu Fleksibel-b isa dengan Tidak menghasilkan
1 jam dan sebagainya cepat diubah atau pendapatan
2. Melakukan studi parkir termasuk: inventori suplai (berapa banyak untuk prioritas diberlakukan untuk waktu Tidak banyak mengurangi
ruang yang ada dari masing-masing jenis parkir: publik dan swasta tertentu permintaan perjalanan
kendaraan secara
di badan jalan dan di luar badan jalan, jangka pendek dan jangka keseluruhan
panjang, gratis dan dibayar dan sebagainya) untuk masing-masing Dapat mengalihkan lalu
geografi. lintas ke lokasi lain

3. Sebuah kajian utilisasi parkir (berapa porsi dari masing-masing Memberlakukan Menghasilkan pendapatan Diperlukan penegakan
penetapan tarif parkir Mengurangi permintaan peraturan
.ienis parkir dipakai dalam berbagai waktu, terutama periode pun- perjalanan Risiko penipuan
cak) untuk masing-masing wilayah geografi. Proyeksi bagaimana Mem ungkinkan prioritas Bisa mengalihkan lalu
yang tinggi menggunakan lintas ke lokasi lain
suplai dan permintaan parkir kemungkinan besar akan berubah di
ruang yang lebih nyaman
masa datang dengan mempertimbangkan perubahan dalam peng- Biaya implementasi lebih
gunaan lahan, penduduk, kegiatan komersial, pola perjalanan moderat

dan sebagainya. Menggunakan informasi untuk mengidentifikasi Mengharuskan pemilik Bisa mengurangi Sulit untuk diterapkan
kendaraan memiliki kepemilikan kendaraan (sebagian warga bisa
kapan dan di mana suplai parkir sudah atau akan menjadi tidak sebuah ruang parkir di Biaya penerapan yang mendaftar kendaraan
cukup atau berlebihan. luar badan jalan rendah mereka di tempat lain)
4. Mengidentifikasi sol usi potensial Mengurangi penumpukan
parkir di badan jalan
5. Bekerjasama dengan seluruh pihak terkait untuk memprioritaskan
Pajak Parkir Menghasilkan pemasukan Bisa mengalihkan lalu
opsi. Bisa mengurangi Iintas ke lokasi lain
6. Mengembangkan sebuah rencana parkir yang mengidentifikasi permintaan perjalanan Risiko penipuan
kendaraan
perubahan dalam kebijakan dan praktek, tugas, tanggung jawab,
Penggunaan Fasilitas
anggaran, jadwal dan sebagainya.
Parkir yang lebih Efisien
Fasi I itas parki r bersama Efektif dari sisi biaya Mengurangi kenyamanan
Bisa mengurangi parkir
kebutuhan Membutuhkan
parkir pengaturan administrasi
Fleksibel baru
Tergantung kepada
situasi
186 Joringon Tronsportosl: It'ttt i dorr Anollsis tAanajemen Porkir 187

Tabel '18,2 Laniutan Tabel 18.2 Laniutan

Metode Strategi Metode Strategi


Penetapan Harga dan Keuntungan Kerugian Penetapan Harga dan Keuntungan Kerugian
Perangkat Aturan Perangkat Aturan

Suplai parkir yang lebih Efektif dari sisi biaya Bisa menciptakan Strategi Lain
akurat Bisa mengurangi masalah penumpukan Pengembangan efisiensi Mendukung tujuan Lambat untuk mendapal
kebutuhan parkir parkir di masa datang lokasi penggunaan lahan keuntungan
Mengurangi kebutuhan Hemat biaya Panduan yang tersedia Mengurangi permintaan
parkir untuk program Bisa mengurangi terbatas perjalanan kendaraan
manajemen mobilitas kebutuhan parkir Membutuhkan Bisa mengurangi
menciptakan insentif bagi mana.iemen yang ada kebutuhan parkir
proSram penSurangan Meningkatkan pilihan
perjalanan pegawai konsumen

Bisa mengurangi Memerlukan penBaturan Menanggapi masalah Menghindari masalah adil Membutuhkan pengatur-
kebutuhan parkir administrasi baru penyebaran an administrasi baru
Bisa memberikan banyak Rencana parkir yang Mengurangi permintan Membutuhkan
layanan kepada bisnis, melimpah perjalanan kendaraan pengaturan administrasi
pegawai dan pelanggan Bisa mengurangi masalah baru
Asosiasi Manajemen parkir Adil
Transportasi Parkir maksimal Menghemat uang Bisa memicu masalah
Mengontrol izin parkir Mengurangi permintaan Membutuhkan tinjauan Mendukung tujuan parkir di masa datang
gratis perjalanan kendaraan. dan penegakan peraturan penggunaan lahan
Bisa meningkatkan Mengurangi permintaan
pendapatan perjalanan kendaraan
Bisa mengurangi
Menguangkan parkir Bisa mengurangi Membutuhkan
kebutuhan parkir
gratis permintaan perjalanan pengaturan administrasi
kendaraan dan kebutuhan baru Risiko penipuan Biaya pengganti Menghemat uang Membutuhkan
parkir Menyebabkan pengaturan administrasi
Memberi kepada penggunaan fasi I itas parki r baru.
pegawai suatu cara untuk secara lebih efisien Bisa memicu masalah
mengurangi permintaan Mengurangi permintaan parkir di masa datang
parkir perjalanan kendaraan
Parkir yang terpisah Mengurangi permintaan Membutuhkan Parkir sepeda Menghemat uang Hanya efektif jika orang
perjalanan kendaraan pengaturan administrasi (dibandingkan parkir ingin bersepeda
Bisa mengurangi baru risiko penipuan mobil) Bisa memicu masalah di
kebutuhan parkir Mendukung perjalanan masa datang
Meningkatkan pilihan sepeda Adil
konsumen Memperbaiki rancangan Menanggapi banyak Bisa menaikkan biaya
fasilitas parkir masalah Membutuhkan panduan
rancangan baru

Sumber: Litman, Todd, 2002


188 Joringon Transportosl: 'leotl don Anollsls

Praktek-p raktek terbai k manajemen parki r termasu k: menci ptakan


kebijakan parkir yang mendukung penggunaan yang lebih efisien
dari fasilitas parkir jika memungkinkan, dalam upaya mengurangi
kebutuhan untuk meningkatkan suplai parkir. Tarif parkir harus
19
lebih tinggi periode puncak. Parkir harus dipandang sebagai layanan
berkualitas tinggi. Tanda-tanda, peta dan brosur harus dipakai dalam
pemberian informasi kepada pengguna. Fasilitas harus menarik dan
ARAH PTRWUIUIIAII IIRIIIGIII
aman. Kebutuhan pengguna dan masalah potensial harus diantisipasi. P RISRRI]il TR[]I S P O RIIS I
Fasilitas parkir harus terintegrasi dengan fasilitas keseluruhan
sefta rancangan dan gaya kota. Teknologi baru harus dipakai untuk
meningkatkan layanan pemakai dan kontrol pemasukan.

-oo0oo-
19.1 Fungsi Tataran Transportasi
alam Bab 3 di depan dijelaskan tentang Sistem Transportasi
t.--r-7-,
l/ I Nasional (SISTRANAS), di mana di dalamnya dikemukakan
llJ mengenai kondisi eksisting jaringan pelayanan transportasi
dan jaringan prasarana transportasi, sebagai komponen SISTRANAS,
terutama pentingnya ketersediaan jari ngan prasarana transportasi un-
tuk terselenggaranya pelayanan transportasi yang efektif dan efisien.
Dalam hubungan ini, perlu diketahui tentang bagaimana arah perwu-
judan jaringan prasarana transportasi ke depan. Jaringan prasarana di-
anggap lebih penting menentukan dalam penyelenggaraan transporta-
si, karena harus disediakan lebih dahulu, selanjutnya digunakan untuk
me layan i transportasi dalam susu nan rute-rute perja anan transportasi.
I

Materi bahasan tentang Arah Perwujudan Jaringan Transportasi


disajikan setelah pembahasan Fungsi Tataran Transportasi, terdiri dari
tataran nasional (Tatranas), tataran wilayah (Tatrawil), dan tataran
lokal (Tatralok), yang berfungsi sebagai pedoman untuk pembangunan
jaringan prasarana jaringan, yang memfasilitasi perpindahan manusia
dan/atau barang serta kendaraan antarsimpul transportasi.
Joringon Tronsportosl: Teotl rkut Anolisis Ar oh Pe rwu j udan J or i ngo n P t' osot ono Tr onspor tosi 191

Pengembangan transportasi nasional diorientasikan pada upaya keunggulan masing-masing moda transportasi, didasarkan pada
ke arah penyeimbangan antara permintaan jasa transportasi dengan konsep pengkombinasiaan antarmoda utama yang memberikan
penyediaan jaringan prasarana transportasi. Pengembangan jaringan pelayanan pada jalur utama, moda pengumpan, dan moda
prasarana dan jaringan pelayanan transportasi dilakukan pada masing- lanjutan yang memberikan pelayanan pada jalur pengumpan dan
masing tataran dengan memperhatikan aspek komersial dan aspek distribusi.
keperintisan, aspek keselamatan dan keunggulan masing-masing Keterpaduan .iaringan pelayanan dan prasarana transportasi
moda transpoftasi sesuai dengan kondisi geografi, kependudukan dalam penyelenggaraan transportasi antarmoda/multimoda yang
dan sumberdaya alam, yang diarahkan untuk mengintegrasikan dan efektif dan efisien diwujudkan dalam bentuk interkoneksi pada
mengkombinasikan moda yang ada, baik transportasi jalan, kereta simpul transportasi yang berfungsi sebagai titik temu yang mem-
api, sungai, dan danau, penyeberangan, laut dan udara, maupun pipa, fasilitasi alih moda yang dapat disebut sebagai terminal antar-
sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh wilayah. moda. Terminal antarmoda dari aspek tatanan fasilitas, fungsional
dan operasional harus mampu memberikan pelayanan menerus
Tataran nasional (Tatranas) berfungsi sebagai pedoman untuk
yang tidak putus antarmoda yang terlibat.
pengembangan jaringan prasarana dan jaringan pelayanan yang mem-
fasilitasi perpindahan orang dan/atau barang antarsimpul atau kota 2. faringan Prasarana Transportasi falan
nasional dan dari simpul atau kota nasional ke luar negeri atau seba- Pengembangan jaringan jalan diarahkan untuk memadukan dan
liknya. mengintegrasikan serta mewujudkan keterpaduan pelayanan
Tataran wilayah (Tatrawil) berfungsi sebagai pedoman untuk antardan intramoda. Jaringan prasarana yang berupa ruang lalu
pengembangan jaringan prasarana dan pelayanan yang memfasilitasi lintas transportasi jalan yaitu jaringan jalan primer dan jaringan
perpindahan orang dan/atau barang antarsimpul atau kota wilayah jalan sekunder. Menurut statusnya jalan umum dikelompokkan ke
dan dari simpul atau kota wilayah ke simpul atau kota nasiona! atau dalam jalan nasional, ialan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota,
sebaliknya. dan jalan desa. Pada Tatranas, jaringan jalan nasional berupa jalan
arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang
Tataran lokal (Tatralok) berfungsi sebagai pedoman untuk pe-
hubungan antaribukota provinsi dan jalan strategis nasional sefta
ngembangan jaringan pelayanan yang memfasilitasi perpindahan
jalan tol, yang diupayakan tersedia dalam kondisi baik dan lancar,
orang dan/atau barang antarsimpul atau kota lokal, dan dari simpul
sesuai dengan kondisi geografisnya.
atau lokal ke simpul atau kota wilayah, dan simpul atau kota nasional
Pengembangan jaringan jalan provinsi diwujudkan dalam
terdekat atau sebaliknya, sefta dalam kawasan perkotaan dan perde-
jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang meng-
saan.
hubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau
19.2 Arah Perwujudan Jaringan Prasarana antaribukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi sesuai
dengan kondisi geografisnya.
1. faringan Prasarana Transportasi Antarmoda/Multimoda
Pengembangan jaringan jalan kabupaten/kota dan desa
Pengembangan jaringan prasarana transportasi antarmoda untuk
diwujudkan dalam jalan lokal dalam sistem jaringan jalan pri-
penumpang dan/atau barang, dilakukan dengan memperhatikan
Jaringon Tronsportosl: Teorl datt Analisis Aroh Perwujudon Jaringan Prosorono Tronsportasi 193

mer yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota antarkabupaten/kota dalam provinsi, serta pelabuhan sungai dan
kecamatan, antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan danau yang melayani angkutan dalam kabupaten/kota.
pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta jalan umum Pelabuhan sungai dan danau yang melayani angkutan an-
dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten tarkabupaten/kota diwujudkan dengan memperhatikan peran dan
dan jalan strategis kabupaten sesuai dengan kondisi geografisnya. fungsi pelabuhan dalam kerangka transportasi terpadu di wilayah
Jaringan terminal penumpang angkutan jalan diwujudkan provinsi sesuai dengan kondisi ekonomi-sosial budaya wilayah
dengan memperhatikan peran, fungsi serta kelas terminal sesuai kabupaten/kota serta didukung oleh analisis kelayakan teknis dan
dengan pola, jumlah serta kualitas pergerakan penumpang. Pe- ekonomi.
ngembangan jaringan terminal barang dilakukan secara bertahap
5. faringan Prasarana Transportasi Penyeberangan
dengan memperhatikan pola pergerakan, jumlah serta jenis ba-
Pelabuhan penyeberangan dikelompokkan dalam pelabuhan pe-
rang.
nyeberangan lintas provinsi dan antarnegarat pelabuhan penye-
Simpul transportasi jalan pada Tatranas yaitu terminal tipe
berangan lintas kabupaten/kota, serta pelabuhan penyeberangan
A, terminal tipe B pada Tatrawil, terminal tipe C pada Tatralok ka-
lintas dalam kabupaten.
bupaten/kota diupayakan terpadu dalam suatu sistem transportasi
jalan. Pengembangan pelabuhan penyeberangan diwujudkan
secara bertahap dengan memperhatikan peran dan fungsi pe-
3. faringan Prasarana Transportasi Kereta Api labuhan serta kualitas permintaan. Peran dan fungsi pelabuhan
Jaringan prasarana perkeretaapian diwujudkan dengan memper- dilaksanakan melalui analisa permintaan yang dilakukan de-
hatikan arah kebijakan transportasi nasional khususnya keunggul- ngan menganalisis Iuas wilayah serta kondisi sosial budaya di
an komparatif moda, keterpaduan antardan intramoda, serta de- mana pelabuhan penyeberangan akan dibangun, dan analisis
ngan memperhatikan pola pergerakan orang dan barang, sehingga penawaran yang menggambarkan fasilitas penyeberangan yang
terwujud jaringan transportasi yang efektif dan efisien pada tiap akan disediakan guna memenuhi permintaan pada tahun rencana.
tataran. Pengembangan pelabuhan penyeberangan lintas kabu-
Simpul dalam transportasi kereta api adalah stasiun diwu- paten/kota diwujudkan dengan memperhatikan peran dan fung-
judkan secara bertahap dengan memperhatikan peran dan fung- si pelabuhan dalam kerangka transportasi terpadu di wilayah
sinya dalam jaringan pelayanan dan prasarana jalan rel sesuai provinsi sesuai dengan kondisi ekonomi-sosial-budaya wilayah
dengan kondisi ekonomi-sosial-budaya serta didukung oleh anali- provinsi serta didukung oleh analisa kelayakan teknis dan eko-
sis kelayakan teknis dan ekonomis. nomi.

4. faringan Prasarana Transportasi Sungai dan Danau 6. f aringan Prasarana Transportasi Laut
Pelabuhan sungai dan danau menurut peran dan fungsinya terdiri Ruang lalu lintas transportasi laut pada Tatranas yaitu alur laut dan
dari pelabuhan sungai dan danau yang melayani angkutan antar- alur masuk pelabuhan yang dapat dilayari oleh kapal trayek luar
provinsi, pelabuhan sungai dan danau yang melayani angkutan negeri dan trayek utama dalam negeri. Pada Tatrawil yaitu alur
194 Joringan Tronsportasl: Teot I tlorr rlnolisis Aroh Perwujudon Jaringon Prosarono Tronsportosi 195

laut yang menjadi penghubung antarpelabuhan regional dalam antara pulau atau negara lain dengan Pulau Jawa Madura untuk
suatu provinsi dan penghubung antara pelabuhan regional dengan gas, BBM dan lain sebagainya, seperti pipa dari Singapura dan
pelabuhan utama (trunk port) maupun alur masuk pelabuhan Cresik, dari pusat penyulingan ke pusat distribusi guna memenuhi
regional. Pada Tataran Lokal merupakan alur laut secara teknis kebutuhan distribusi dan rumah tangga perkotaan.
dapat dilayari dalam suatu kabupaten/kota, serta alur laut yang Berdasarkan uraian dari Bab lll Sistem Transportasi Nasi-
menghubungkan pelabuhan lokal dengan pelabuhan utama dan onal (SISTRANAS) yang mengungkapkan pentingnya jaringan
pelabuhan regional. pelayanan transportasi dan jaringan prasarana transportasi dalam
Disamping itu untuk kepentingan lintas damai (innocent kondisi eksisting sebagai wadah (terdiri dari simpul-simpul trans-
passage) maka ditetapkan alur laut (sea /anes) kepulauan portasi yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas) dan sebagai isi
lndonesia (ALKI I s/d. ALKI lll) dengan peraturan tersendiri agar (yang terdiri dari kegiatan pelayanan lalu lintas transportasi), serta
memudahkan kapal asing secara terus menerus, langsung dan bahasan dalam Bab XIX tentang Arah Perwujudan Jaringan Prasa-
secepatnya melalui perairan lndoensia yang telah ditentukan. rana Transportasi (ke depan), dapat disimpulkan bahwa jaringan
Mengingat luasnya wilayah perairan lndonesia, maka di pelayanan transportasi dan jaringan prasarana transportasi adalah
masa yang akan datang perlu strategi pengembangan simpul sebagai komponen pendukung utama Sistem Transportasi Nasion-
pelabuhan yang dapat dikelompokkan ke dalam pelabuhan al yang harus disusun dan direncanakan secara komprehensif (me-
internasional hub, internasional, nasional, regional dan lokal. nyeluruh), terintegrasi (secara kesisteman yang saling menunjang
dan saling mengisi), serta harmoni (tidak menimbulkan benturan
7. faringan Prasarana Transportasi Udara dan konflik kepentingan), sehingga mampu menyelenggarakan
Ruang lalu lintas transportasi udara yaitu ruang udara yang dapat sistem transportasi nasional yang handal, efektif, efisien, menjang-
dilalui oleh semua penerbangan dari setiap tataran transportasi, kau ke seluruh tanah air, serta berkinerja tinggi. Keberhasilan pen-
perlu ditata pemanfaatannya untuk lalu lintas penerbangan capaian sasaran tersebut dibutuhkan keterlibatan dan partisipasi
nasional dan internasional. seluruh komponen pelaku sistem transportasi, meliputi operator,
Simpul transportasi udara pada Tatranas dan Tatrawil berupa regulator, pengguna jasa transportasi (penumpang dan pemilik ba-
bandar udara pusat penyebaran dengan skala pelayanan primer, rang), tenaga kerja/karyawan dan masyarakat luas.
sekunder dan tersier, perlu di setiap ibukota provinsi dan secara
-oo0oo-
selektif dapat dikembangkan untuk mampu melayani pesawat
berbadan lebar. Simpul transportasi udara pada Tatralok yaitu
bandar udara bukan pusat penyebaran yang melayani angkutan
udara komersial dan atau non komersial (perintis).

B. faringan Prasarana Transportasi Pipa


Jaringan transportasi pipa dikembangkan sesuai dengan perkem-
bangan industri yang memerlukannya, dan dapat dikembangkan
20
PHIUIUP

asaran pembangunan transportasi adalah penyelenggaraan ke-


giatan transportasi yang efektif dan efisien. Untuk mewujudkan
terselenggaranya transportasi yang efektif dan efisien, maka ke-
giatan pelayanan transportasi harus ditata dan dikelola atau diorgani-
sasikan secara kesisteman, dalam Sistem Transportasi secara Nasional
(SISTRANAS). PenyelenBgaraan SISTRANAS ditunjang/didukung oleh
komponen utamanya, yaitu jaringan pelayanan transportasi dan jaring-
an prasarana transportasi. Jaringan prasarana transportasi terdiri dari
simpul-simpul transportasi yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas
(jalan). Jaringan pelayanan transportasi meliputi kegiatan pelayanan
transportasi, baik pergerakan manusia (orang) dan barang, maupun
kendaraan.

Dalam kenyataannya, menunjukkan bahwa penyelenggaraan


kegiatan pelayanan transportasi dalam konteks jaringan prasarana dan
jaringan pelayanan transportasi belum efektif dan efisien, belum men-
jangkau ke seluruh wilayah tanah air, belum berkinerja tinggi (dalam
artian belum sepenuhnya lancar/cepat, selamaVaman, berkapasitas
dan berfrekuensi cu ku p/memadai, kom prehensif, bertanggu n g jawab,
198 JJoringan Transportosl: laot I &nt Anolisis Penutup 199

tarif murah, dan nyaman) untuk mewujudkan karakteristik pelayanan rnar:etan lalu lintas menimbulkan dampak negatif dalam bentuk waktu
transportasi yang efektif dan efisien, maka jaringan transportasi harus perjalanan menjadi lebih lama, konsurnsi bahan bakar meningkat dan
dilakukan analisis dan perencanaan secara mantap. bertambahnya polusi udara yang mengakibatkan berbagai penyakit.
Dalam perencanaan jaringan transportasi meliputi berbagai Menghadapi pembangunan jaringan transportasi masa depan,
tahapan analisis, misalnya (1) analisis tata guna lahan dan distribusi pembangunan jaringan prasarana diarahkan untuk memadukan, meng-
(sebaran) penduduk pada saat sekarang, (2) analisis rencana tata ru- integrasikan serta mewujudkan keterpaduan pelayanan alltar dan in-
ang kawasan masa depan, (3) analisis peramalan lalu lintas masa de- termoda transportasi, dengan memperhatikan keunggulan komparatif
pan dan distribusi (sebaran) lalu lintas menurut wilayah (zona), (4) masing-masing moda serta memperhatikan pola pergerakan manusia,
analisis pemilihan moda transportasi yang serasi, berdasar biaya ope- barang dan kendaraan, sehingga terwujud jaringan transportasi yang
rasi (pelayanan) dan karakteristik modal, serta (5) analisis pemilihan efektif dan efisien pada tiap tataran transportasi (nasional, provinsi,
dan penentuan rute lalu lintas yang dilayani. Tahap ke (3), (a) dan (5) dan kabupaten/kota).
adalah kegiatan yang berkaitan langsung dengan perencanaan jaring-
Akhirnya, kata kuncinya yaitu:
an transpoftasi.
"Jaringan (pelayanan dan prasarana) transportasi adalah komponen
Dalam penyusunan jaringan pelayanan transportasi telah di- pendukung utama penyelenggaraan Sistem Transportasi Nasional
introdusir beberapa pola, yaitu (1)pola pohon (treepattern), yangter- yang bertujuan untuk mewujudkan kegiatan pelayanan transportasi
diri dari rute batang, rute cabang dan rute ranting (dalam pelayaran yang efektif dan efisien pada seluruh tingkat tataran transportasi
dikenal rute trunk (rute utama) dan rute feeder (rute pengumpan), serta nasional, provinsi dan kabupaten/kota" harus diorganisasikan secara
(2) pola kisi-kisi banyak (polygrid pattern) yang melayani ke seluruh
kesisteman.
titik/simpul transportasi (diterapkan dalam penerbangan). Di samping
itu terdapat pula rute perkotaan besar (metropolis), yaitu (a) pendekat-
-oo0oo-
an radial, (b) multiple nuclea, (c) pola bintang sakti (galaxy sett/ement),
(d) pola bintang perkotaan (the star), pola cincin (the ring), dan masih
ada lagi pola-pola pergerakan misalnya (e) pola crosstown dan (0 pola
orbital.
Pola-pola pergerakan tersebut dimaksudkan untuk memberikan
pelayanan lalu lintas secara efektif dan efisien, dalam artian lancar
tidak mengalami kemacetan, jarak yang ditempuh lebih dekat, waktu
perjalanan lebih pendek, dan menguntungkan bagi kepentingan
operator dan penumpang.

Pengaturan jaringan transportasi adalah untuk mengatasi ke-


macetan lalu lintas terutama pada persimpangan jalan, karena ke-
DIFTIR PUSMM

Ad isasm ita, Sakti Adj i, 201 1, Perencanaan Pembangu nan T ransportasi,


Craha llmu, Yogyakarta..
Adler, H.A, 1997, Sector and Proiect Planning in Transportation,
World Bank Staff Occasional Number Four, didistribusikan oleh
The Hopkins Press.

Terjemahan Paul Sitohang, Penerbit Universitas Indonesia (Ul


Press), Jakarta.

American Association of State Highway and Transportation Officials


-,19B3,EvaluasiEkonomiProyek-proyekPengangkutan,
(AASHTO), 1984), A Policy Ceometric Design and Street,
Washington D.C., Amerika Serikat.
Chairul lmron, 1995, Pengaturan Waktu Nyala Lampu Lalu Lintas di
Pesimpangan Jalan, LPM-lTS, Surabaya.
Deo, N, 1989, Craph Theory with Application to Enginering and
Computer Science, Prentice-Hall of India Private Limited, New
Delhi.
202 Joringan Tronsportasi: lt'ori tlort Anolisis Doftor Pustoko

Desalvo, J.S., 1973, Pe rspective on Relional Ttanspoftation Planning, Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentanS./aran.
D.C. Health and Company, London. peraturan pemerintah Rl Nomor 26 Tahun 1985 tentang./a/an.

Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum Rl, peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarara
1987, Ptoduk Standat untuk lalan Perkotaan, takafta. dan Lalu Lintas lalan.
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Direktorat Binaan Sistem Lalu peraturan menteri perhubungan nomor KM. 49 Tahun 2005 tentang
Lintas Angkutan Kota, tentang Pengoperasian Fasilitas Parkir. sistem T/ansportasi Nasiona/ (STSTfu{NAS)
Kanati, A, Ttanspoftation Demand Analysis, Mc Craw Hill Book
Compan, New York. _ooooo_
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 1995 tentang
Terminal An8kutan Umum
Leahy, W.H. (et. Al), (ed), 1970, Uban Economics: Theory,
Development, and Planning, The Free.
Morlok, E.K, 19B5, PengantarTeknik Petenca,aary Erlangga, Jakarta.
Nasution M.N, 1996, Manaiemen Transpottasi, Chalia lndonesia,
,akarta.
Schumer, L.A., 1968, The E[emenLt of Transport, Butterworths,
London.
Iamin, O.z, 1997, Perencanaan dan Permodelan Transportasi,
Penerbit lTB, Bandung.
Tjokroamidjojo, B, 1992, Percncanaan Pembangunan, PT. Cunung
Agung, rakarta.
Warpani, S, 1990, Mercncanakan Sistem Perangkutan, Penerbit lTB,
Bandung.
Majelis Permusyawaratan, Rakyat (MPR) R.1., 1988, Caris-garis 8esa.
Haluan Negah (GBHN), Jak ta
Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Direktorat Jenderal Perhubungan
Darat dan Direktorat ,enderal Bina Marga Tahun 1981 tentang
Penyelenggaraan Terminal.

Undang-undang Nomor'l4Tahun'1992 tentangTerminal.


IT]IIA]IG PT]IUIIS

r. Sakti Adji Adisasmita, M.Si., M.Eng.Sc., Ph.D. menyelesaikan


pendidikan 51 dalam bidang Teknik Sipil di Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin, Makassar (1989), 52 dalam bidang Per-
encanaan dan Pengembangan Wilayah di Program Pascasarjana Uni-
versitas Hasanuddin, Makassar ('1995), 52 dalam bidang Transporta-
tion Engineering, School of Civil and Environmental Engineering, the
University of New South Wales, Australia (2002) dan 53 dalam bidang
Aviation Transport, the University of Newcastle, Australia (2005).
Bekerja sebagai dosen Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas Hasa-
nuddin dan Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, serta aktif
sebagai Tenaga Ahli dalam Transport Sector Consultancy di lndonesia,
Malaysia dan Middle East. Anggota Masyarakat Transportasi lndonesia
(MTl) dan Air Transport Research Society (ATRS).

-oo0oo-