Anda di halaman 1dari 84

Buku Putih IDI

IDI Menolak Program Studi Dokter


Layanan Primer

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia


2017
Buku Putih IDI
IDI Menolak Program Studi Dokter
Layanan Primer

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia


2017
Penyusun

Abdul Razak Thaha


Andi Khomeini Takdir
Ario Djatmiko
Baety Adhayati
Fika Ekayanti
Hadiwijaya
Mahesa Paranadipa
Mariya Mubarika
Muhammad Adib Khumaidi
Muhammad Akbar
Purnawan Junadi
Pranawa Martosuwignjo
Siti Fikriyah Khuriyati

Penyunting

Dian IP Nugrahari
Dien Kuswardani
Alfu Nikmatul Laily
Purnawan Junadi

Foto

Foto cover oleh Mia Riko


Foto foto lain sumbangan dari Anggota IDI

Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang


Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau
seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit.
ISBN 978-602-72055-5-0

ISBN 978-602-72055-5-0

9 786027 205550
Sambutan Ketua PB IDI
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya atas
selesainya “Buku Putih IDI Tentang DLP”. Buku ini merupakan bahan kajian akademis dan
refleksi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk menjelaskan sikap IDI terhadap istilah program
studi dokter layanan primer setara spesialis yang saat ini masih terus menjadi masalah
yang diperdebatkan antara IDI dan pemerintah (khususnya Kementerian Kesehatan RI dan
Kementerian Ristek Dikti RI).
Istilah dokter layanan primer dikenal sejak terbitnya UU Nomor 20 tahun 2013 tentang
Pendidikan Kedokteran. Pada awal pembahasan RUU Dikdok, istilah dokter layanan ini
tidak ditemukan, karena tujuan utama disusunnya UU Dikdok ini adalah untuk mencegah
komersialisasi pendidikan kedokteran dan adanya keberpihakan pada anak daerah untuk
menjadi dokter. Namun pada UU tersebut tercantum dokter layanan primer (DLP) sebagai
kelompok baru dalam dunia kedokteran Indonesia.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi bagi dokter memang bukanlah
suatu lembaga penyelenggara pendidikan, meski di dalamnya terdapat Kolegium yang
memiliki wewenang mengampu keilmuan kedokteran berdasarkan Undang-Undang
Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Namun IDI memiliki peran dan
tanggung jawab dalam menjamin mutu pelayanan dokter yang dihasilkan dari proses
pendidikan itu sendiri.
Di dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran peran
dan fungsi IDI memang diperlihatkan hanya pada tataran koordinatif. Namun harus
disadari bahwa proses pendidikan dan pelayanan kedokteran merupakan dua bagian yang
tidak terpisahkan. Proses pendidikan kedokteran yang dilaksanakan di fasilitas kesehatan
tentunya tidak lepas dari tanggung jawab menghadirkan mutu pelayanan yang baik. Para
pendidik atau supervisor dalam proses pendidikan maupun internsip pun tidak lepas dari
proses pelayanan kedokteran. Oleh karenanya IDI tidak dapat melepas diri atau dianggap
bukan bagian dari proses menjaga mutu pendidikan kedokteran.
Pasca terbitnya UU pendidikan kedokteran, IDI pernah terlibat dalam kelompok kerja
(Pokja) Dokter Layanan Primer (DLP) yang dibentuk bersama Kementerian Pendidikan,
Kementerian Kesehatan, Konsil Kedokteran Indonesia, dan pemangku kebijakan lainnya.
Adanya proses uji materi UU pendidikan kedokteran di Mahkamah Konstitusi (MK)
oleh salah satu perhimpunan di lingkungan IDI mendorong IDI untuk tidak meneruskan
pembahasan di Pokja hingga proses uji materi selesai, yang kemudian kita ketahui bahwa
MK menolak seluruh permohonan. Namun perkembangan selanjutnya, karena proses
terbentuknya kolegium dan perhimpunan yang tidak tuntas, disebabkan belum jelasnya
ranah kompetensi dan aspek pelayanannya, serta kuatir banyaknya tumpang tindih antar
dokter di lapangan, menyebabkan forum pengambil keputusan di IDI yaitu Muktamar tidak
dapat menerima pembahasan program studi tersebut.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER i
Sambutan Ketua PB IDI

Dinamika lebih lanjut, seluruh jajaran IDI dan sebagian besar anggota menyatakan
aspirasinya dalam aksi damai tanggal 24 Oktober 2016 berupa penolakan program
studi DLP ini. Aspirasi ini tentunya menjadi amanah bagi IDI sebagai tempat berhimpun
seluruh dokter Indonesia. Namun penolakan tentunya harus didasarkan kepada kajian
komprehensif. Kajian terkait hal ini harus dilakukan dengan dasar ilmiah serta bukti yang
jelas untuk meyakinkan semua pihak bahwa kebijakan tersebut layak dijalankan atau perlu
dilakukan penyesuaian.
Atas dasar di atas, Pengurus Besar IDI sebagai badan ekeskutif IDI di tingkat pusat telah
membentuk Tim Buku Putih PB IDI Tentang DLP, yang merangkum semua data serta
informasi yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara akademik maupun organisasi
terkait program dokter layanan primer yang termaktub dalam undang-undang pendidikan
kedokteran. Dan Alhamdulillah tim telah menuntaskan amanah tersebut.
Dalam buku ini disusun kajian mulai dari kondisi pendidikan kedokteran di Indonesia,
polemik DLP, rangkaian peristiwa mengenai DLP yang terjadi mulai dari awal hingga saat
ini, analisis sikap IDI terhadap DLP, hingga kesimpulan dan rekomendasi yang diajukan
oleh IDI. Buku ini diharapkan dapat membuka mata berbagai pihak dan memberikan
pemahaman mengenai posisi IDI terhadap DLP dan bagaimana langkah perjuangan IDI
patut terus dilanjutkan untuk memberikan kontribusi penyelesaian masalah kesehatan
yang terjadi pada saat ini dengan cara yang lebih baik dan menyasar pada akar masalahnya.
Saya selaku Ketua Umum PB IDI mewakili segenap jajaran IDI mengucapkan terima kasih
dan penghargaan setinggi-tingginya bagi Tim Buku Putih PB IDI tentang DLP, serta semua
pihak yang terlibat dalam penyusunan Buku Putih PB IDI tentang Dokter Layanan Primer.
Diharapkan dengan keberadaan buku ini dapat memberikan informasi dan penjelasan
yang lengkap dan jelas terkait kebijakan IDI terhadap program DLP. Diharapkan juga buku
ini dapat menyelesaikan polemik yang sangat menyita energi sehingga energi tersebut
selanjutnya dapat dimanfaatkan secara konstruktif demi kemajuan bangsa khususnya
mutu pendidikan kedokteran di masa yang akan datang.
Semoga Tuhan YME selalu memberikan kebijaksanaan dan rahmatNya kepada kita semua.
Amin

Jakarta, Maret 2017


Ketua Umum PB IDI

Prof. Dr. I. Oetama Marsis,Sp.OG


NPA. IDI : 7.535

ii BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Kata Pengantar

Ketua Tim Buku Putih DLP IDI


Bermula dari gencarnya sosialisasi Prodi DLP oleh Pokjanas Percepatan RPP UU Dikdok.
Anggota IDI baik perorangan maupun kelembagaan, terutama IDI Wilayah dan Cabang
mendesak PB IDI - yang juga menjadi anggota Pokjanas, untuk keluar dari keanggotaan
Pokjanas dan dengan tegas menyatakan secara terbuka penolakan terhadap DLP.
Gelombang desakan makin keras dan meluas akibat surat-surat Kemenkes ke berbagai
daerah “mendesak” pemerintah daerah untuk membantu mempercepat pelaksanaan
Prodi DLP. PB IDI ditengarai telah “bermain mata” dengan Kemenkes dan Kemristekdikti
dan dengan sengaja melanggar amanah Muktamar yang jelas-jelas menolak Prodi DLP.
Desakan-desakan memuncak dalam bentuk suara-suara yang mengusulkan pemakzulan
Ketua Umum PB IDI.
PB IDI berpendapat bahwa IDI sebagai sebuah organisasi profesi yang selalu menjunjung
tinggi nilai-nilai luhur profesi, dalam menerima atau menolak sebuah kebijakan dan atau
program tidak boleh hanya melulu didasarkan pada desakan anggota seberapa besar
dan luas pun desakan tersebut. Tetapi terutama harus didasarkan pada pertimbangan-
pertimbangan ilmiah yang logis, rasional dan berbasis bukti.
Atas dasar pemikiran tersebut, PB IDI membentuk sebuah tim kerja yang diberi nama Tim
Penyusun Buku Putih DLP. Tim diberi tugas untuk melakukan kajian akademik terhadap
Kebijakan DLP dan menyusunnya dalam bentuk sebuah Buku Putih yang didasarkan pada
alasan-alasan teoritik dan bukti-bukti yang valid. Tim mengalami kesulitan memulai tugas
ini karena minimnya dokumen dan data pendukung. Namun melalui kerja keras dan cerdas
dari semua anggota Tim, meski membutuhkan waktu yang relatif lama, dengan izin-Nya,
akhirnya dokumen penting dan data valid yang diperlukan dapat juga terkumpul.
Alhamdulillah, hasilnya adalah buku yang berada di tangan pembaca. Buku ini adalah
pertanggungjawaban ilmiah atas amanah yang dipercayakan oleh PB IDI kepada Tim Buku
Putih DLP. Untuk itu, terima kasih diucapkan kepada PB IDI atas kepercayaan tersebut.
Terima kasih kepada semua pihak terutama pihak-pihak yang telah berbaik hati membantu
dokumen dan data yang diperlukan. Terima kasih kepada setiap anggota Tim yang telah
bekerja tanpa pamrih dan nyaris tanpa keluhan. Terima kasih kepada Tim Sekretarit PB
IDI atas dukungan administrasi dan logistik. Terima kasih juga kepada para editor atas
bantuannya yang sangat berharga.
Sebagai sebuah hasil kerja akademik, buku ini terbuka bagi kritik dan masukan dari
pihak mana pun. Harapannya, buku kecil ini bisa ikut memberikan kontribusi yang makin
memperkokoh tradisi ilmiah Ikatan Dokter Indonesia sebagai organisasi profesi tertua di
negeri ini. Tradisi yang telah dipertahankan dengan konsisten sejak peletakkan fondasinya

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER iii
Kata Pengantar : Ketua Tim Buku Putih DLP IDI

oleh para pendahulu di tahun 1908 yang melahirkan Gerakan Kebangkitan Nasional
sebagai cikal bakal perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan perlindungan-Nya kepada kita
semua. Amin.

Ketua Tim Buku Putih DLP IDI

Prof. Dr. Abdul Razak Thaha, MSc.


NPA. IDI : 48390

iv BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Daftar Isi

Sambutan Ketua PB IDI i


Kata Pengantar Ketua Tim Buku Putih DLP IDI iii
Daftar Isi v
Daftar Tabel vii
Daftar Singkatan viii
Prolog 1
I. Pendidikan Kedokteran dan Polemik DLP 4
A. Perkembangan Kurikulum Pendidikan Kedokteran Indonesia 4
B. Pelaksanaan Program Pendidikan Dokter 7
C. Polemik Dokter Layanan Primer 11
1. DLP Adalah Dokter yang Bekerja di FKTP 11
2. DLP: Kastanisasi Baru 12
D. Problematik Melahirkan Program Studi DLP 12
1. Syarat Membuka Program Studi 12
2. Standard Pendidikan Profesi 13
3. Kolegium DLP 13
4. Surat Tanda Registrasi 14
E. Peningkatan Kualitas Pelayanan melalui Modul Terstruktur 14
Klarifikasi buku “Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional Berorientasi 15
Pelayanan Primer”
II. Program Studi DLP: Pemborosan Dan Bukan Solusi 17
A. Isu Pertama: Memantapkan Sistem Pelayanan Kesehatan 17
B. Isu Kedua: Menuju Universal Coverage di 2019 18
C. Isu Ketiga: Menyelesaikan Disparitas Pelayanan Kesehatan 20
D. Isu Keempat: Menurunkan Angka Rujukan di FKTP 21
1. Fasilitas Kurang Memadai 22
2. Layanan Pengobatan Tidak Adekuat 23
3. Biaya Pelayanan di Atas Biaya Penggantian 23
4. Rujukan Atas Permintaan Sendiri (APS) 24
E. Isu Kelima: Mengurangi Biaya Katastrofik 24

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER v
Daftar Isi

III. DISHARMONI Undang-Undang AKIBAT Dokter layanan primer 26


A. Ketidakharmonisan Jenis Profesi 26
B. Ketidakharmonisan Kewenangan 27
C. Ketidakharmonisan Gelar Profesi 29
IV. Penyisipan Pasal DLP Dalam Pembahasan UU Pendidikan Kedokteran 31
A. DLP tidak ada dalam Naskah Akademik maupun RUU Uji Publik 31
B. Proses Pembahasan RUU Dikdok di DPR 31
C. Penyisipan pasal DLP 34
1. Berubahnya jenis profesi kedokteran 35
2. Dokter Keluarga tidak ada dalam pembahasan Kurikulum 36
Pokok Pendidikan Kedokteran
D. Keterlibatan IDI dalam Pembahasan RUU Pendidikan Kedokteran 38
Aksi Damai IDI 24-10-2016 39
Aksi Damai Idi Menuntut Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran DKI 42
Jakarta dan Berbagai Daerah Di Indonesia, Senin, 24 Oktober 2016
V. Upaya Metamorfosa Kedokteran Keluarga Menjadi DLP 51
A. Kilas balik IDI 51
B. Perkembangan Institusional Kedokteran Keluarga 54
C. Kegiatan-kegiatan Penting 54
VI. Kesimpulan dan Rekomendasi 56
Epilog 58
A. Advokasi Perubahan UU No 20 tahun 2013 Tentang Pendidikan 58
Kedokteran
B. Advokasi Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang 59
Pendidikan Kedokteran
Perjalanan Perjuangan Revisi Undang-Undang No 20 Tahun 2013 Tentang 60
Pendidikan Kedokteran
Daftar Pustaka 66

vi BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Daftar Tabel

Tabel 1. Perbedaan KBK dan KBD 6


Tabel 2. Gambaran akreditasi Fakultas/Prodi Kedokteran (BAN PT, 2016) 7
Tabel 3. Persentase kelulusan UKMPPD tahun 2015 9
Tabel 4. Nama Praktisi yang bekerja di Layanan Primer 12
Tabel 5. Pertambahan Jumlah FKTP dan Peserta JKN 18
Tabel 6. Kecukupan Dokter Puskesmas Menurut Wilayah Tahun 2015 20
Tabel 7. Rasio Rujukan dan Kunjungan FKTP per Tahun 2015-Agustus 2016 21
Tabel 8. Rasio Rujukan Menurut Divisi Regional (Divre) 22
Tabel 9. Tumpang Tindih jenis profesi 26
Tabel 10. Ketidakharmonisan Kewenangan 28
Tabel 11. Ketidakharmonisan Gelar Profesi 29

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER vii
Daftar Singkatan
AD/ART : Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga
ADB : Asian Development Bank
AIPKI : Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
APS : Atas Permintaan Sendiri
ARSPI : Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia
AS : Amerika Serikat
ASEAN : Association of South East Asia Nations
Baleg : Badan Legislatif
BAN PT : Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi
Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
BIDI : Berita Ikatan Dokter Indonesia
BME : Basic Medical Education
BPJS : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
CBT : Computer Based Testing
CHS : Consortium of Health Sciences
CMMAO : Confederation of Medical Associationin Asia and Oceania
Co-Ass : Coassistenschap
DHA : District Health Account
DIB : Dokter Indonesia Bersatu
DIM : Daftar Isian Masalah
Dirjen DIKTI : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
DLP : Dokter Layanan Primer
DPP : Dokter Pelayanan Primer
DPR RI : Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
FK : Fakultas Kedokteran
FKTP : Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer
FKUI : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
FPKS : Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
Gerindra : Gerakan Indonesia Raya
Golkar : Golongan Karya
HAM : Hak Asasi Manusia
Hanura : Hati Nurani Rakyat
HPEQ : Health Professional Education Quality
IAKMI : Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
INA CBGs : Indonesia Case Base Groups
ISMKI : Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia
JKN : Jaminan Kesehatan Nasional
KBD : Kurikulum Berbasis Disiplin Ilmu
KBK : Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kemenristekdikti : Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi
KIKKI : Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga Indonesia

viii BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Daftar Singkatan

KIPDI : Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia


KIS : Kartu Indonesia Sehat
KKI : Konsil Kedokteran Indonesia
KKNI : Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
Kodeki : Kode Etik Kedokteran Indonesia
KSDK : Kelompok Studi Dokter Keluarga
MASEAN : Medical Association of ASEAN
Menko PMK : Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan
Kebudayaan
MK : Mahkamah Konstitusi
MKI : Majalah Kedokteran Indonesia
MKKI : Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia
MTKI : Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia
Nasdem : Nasional Demokrat
NHA : National Health Account
OSCE : Objectives Structured Clinical Examination
P2KB : Program Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan
PAN : Partai Amanat Nasional
Panja : Panitia Kerja
PB IDI : Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
PBL : Problem Based Learning
PBPU : Peserta Bukan Penerima Upah
PDGI : Persatuan Dokter Gigi Indonesia
PDI : Partai Demokrasi Indonesia
PDIB : Perhimpunan Dokter Indonesia Bersatu
PDKI : Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia
PDLP : Program Dokter Layanan Primer
PDSm : Perhimpunan Dokter Seminat
PDSp : Perhimpunan Dokter Spesialis
PDUI : Perhimpunan Dokter Umum Indonesia
Perthabin : Persatuan Thabib Indonesia
PGME : Post Graduate Medical Education
PKB : Partai Kebangkitan Bangsa
PKS : Partai Keadilan Sejahtera
PMDWNI : Penyelenggara Muktamar Dokter Warga Negara Indonesia
PMKS : Penyandang Masalah Kesehatan Sosial
Pokja : Kelompok Kerja
PPP : Partai Persatuan Pembangunan
Prolegnas : Program Legislasi Nasional
PTN : Perguruan Tinggi Negeri

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER ix
Daftar Singkatan

PTNBH : Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum


PTS : Perguruan Tinggi Swasta
Rakor : Rapat Koordinasi
RDP : Rapat Dengan Pendapat
RDPU : Rapat Dengar Pendapat Umum
RI : Republik Indonesia
RPP : Rencana Pelaksaan Pembelajaran
RUU : Rancangan Undang-undang
RUU Dikdok : Rancangan Undang-Undang Pendidikan Dokter
SDM : Sumber Daya Manusia
SJKN : Sistem Jaminan Kesehatan Nasional
SK : Surat Keputusan
SKDI : Standar Kompetensi Dokter Indonesia
SKN : Sistem Kesehatan Nasional
SKPDI : Standar Kompetensi Pendidikan Dokter Indonesia
SKS : Satuan Kredit Semester
SPICES : Student-centred, Problem-based, Integrated, Community-based, Elective,
dan Systematic
STR : Surat Tanda Registrasi
Timus : Tim Perumus
TOT : Training of Trainers
UC : Universal Coverage
UCSF : University of Carolina San Fransisco
UI : Universitas Indonesia
UK : United Kingdom
UKM : Upaya Kesehatan Masyarakat
UKMPPD : Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter
UKP : Upaya Kesehatan Perorangan
UKT : Uang Kuliah Tunggal
UNICEF : United Nations International Children’s Emergency Fund
UU : Undang-undang
UUD 45 : Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
VIG : Van Indonesische Genesjkundigen
WEF : World Economic Forum
WFME : World Federation on Medical Education
WHO : World Health Organization
WMA : World Medical Association
WONCA : World Organization of Family Doctors
YME : Yang Maha Esa

x BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Prolog
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah usaha pengelolaan kesehatan yang
diselenggarakan oleh semua komponen bangsa Indonesia secara terpadu dan saling
mendukung guna menjamin tercapainya tujuan berbangsa, yaitu derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 45).
Landasan konstitusional dari SKN adalah UUD 45 khususnya Pasal 28A: ”Setiap orang
berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”. Pasal
28H ayat (1) ”Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal,
dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan”. Pasal 34 ayat (2) ”Negara mengembangkan sistem jaminan
sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak
mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan”, dan Pasal 34 ayat (3) ”Negara
bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak”1.
Kegagalan rakyat mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas, terjangkau
secara geografis dan finansial adalah cerminan kegagalan negara. Pembangunan
manusia bertumpu pada kesiapan layanan primer dengan mengedepankan kegiatan
promotif dan preventif. Untuk itu, layanan primer harus dilaksanakan dengan
sistematik, strategis dan senantiasa dipantau agar perjalanan kesehatan bangsa
dapat terukur dan mencapai derajat kesehatan tertinggi
Sir Michael Marmot (WHO) menyatakan, sistem kesehatan nasional pada setiap
negara adalah “kendaraan” bagi bangsa itu untuk meraih masa depan.2 Ditegaskan,
sistem kesehatan adalah kekuatan dan karakter bangsa yang mencakup keputusan
politik, hukum, budaya, spiritual, solidaritas, pengelolaan ekonomi, teknologi, konsep,
dan manajemen yang berfokus untuk membangun masa depan bangsa. Pencapaian
setiap negara dalam membawa rakyatnya ke kehidupan yang lebih baik dapat terbaca
dengan jelas dalam angka yang tertera dalam Human Development Index.
Melihat angka yang tertera dalam Human Development Index dari tahun ketahun,
perkembangan derajat kesehatan rakyat Indonesia tidak menggembirakan. Bahkan
dalam catatan Indeks Daya Saing Global 2016-2017 yang ditulis World Economic
Forum (WEF), peringkat Indonesia menurun, dari peringkat 37 menjadi peringkat 41
dari 138 negara. Pilar kesehatan dan pendidikan (2014-2016) peringkat Indonesia

1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, diakses dari https://portal.
mahkamahkonstitusi.go.id/eLaw/mg58ufsc89hrsg/UUD_1945_Perubahan.pdf pada tanggal 22
Februari 2017, pukul 23.24
2 Michael Marmot: Social Determinants of Health Inequalities. Lancet 365, 1099-104 (2005)

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 1
Prolog

turun drastis 20 tingkat menjadi peringkat ke 100 dari 138 negara.3 Penurunan tajam
peringkat kesehatan dan pendidikan ini merupakan ”lampu merah” yang harus segera
diantisipasi karena berkaitan langsung dengan perjalanan bangsa ini kedepan. WEF
menyatakan, pembangunan pilar kesehatan Indonesia berjalan berbalikan dengan
tren di negara-negara di kawasan ASEAN. Bahkan jelas dinyatakan bahwa derajat
kesehatan bangsa Indonesia disebut sebagai yang terburuk diluar negara sub-Sahara
Afrika.
Hal yang menjadi catatan khusus adalah penurunan tajam peringkat Indonesia di
pilar kesehatan dan pendidikan justru terjadi saat Indonesia memulai Sistem Jaminan
Kesehatan Nasional (SJKN) pada tahun 2014. Walaupun belum jelas mekanismenya,
angka penurunan peringkat ini jelas merupakan cerminan kegagalan pelaksanaan
Sistem Kesehatan Nasional di negeri ini. Kegaduhan pada pelaksanaan SJKN-BPJS
yang terus berlanjut, beredarnya vaksin palsu dan banyak hal buruk lain di negeri
ini, menunjukkan adanya benang kusut pada pelaksanaan SKN. Hal yang menjadi
pertanyaan, apakah keputusan yang diambil pemerintah di masa kemelut ini
merupakan sebuah terapi kausal? Mungkinkah keputusan yang tepat akan lahir dari
sebuah kekusutan? Ikatan Dokter Indonsisa (IDI) melihat adanya bayang-bayang
kegagalan kian menghantui Sistem Kesehatan Nasional. Disinilah awal polemik
Dokter Layanan Primer (DLP) itu lahir dan terus berkepanjangan.
IDI sangat memahami bahwa layanan primer adalah tulang punggung Sistem
kesehatan Nasional. IDI paham bahwa untuk mencapai tujuan kesahatan nasional
penguatan layanan primer adalah harga mati. Persoalannya, benarkah pendidikan
formal DLP yang memakan waktu 3 tahun dan membutuhkan biaya besar ini
merupakan terapi kausal pada benang kusut yang terjadi di Sistem Kesehatan
Nasional? Benarkah penyelenggaraan pendidikan DLP yang panjang dan mahal ini
mampu mengangkat peringkat Indonesia dari keterpurukan? Apakah tidak ada cara
lain yang lebih efektif dan efisien? Dalam situasi negara seperti ini, keputusan yang
salah dapat membawa kerugian material, sosial, spiritual yang fatal sehingga dapat
menyebabkan penderitaan masyarakat. Penurunan drastis pada produktivitas bangsa
dan daya saing menjadikan cita-cita dan masa depan bangsa semakin menjauh
sehingga perlu dilakukan usaha bermakna untuk mengatasi kegagalan ini, minimal
dengan cara membuat keputusan yang tepat.
Berdasarkan latar belakang tersebut, setiap keputusan harus dilakukan berdasarkan
3 Klaus Schwab: The Global Competitiveness Report 2016-2017. World Economic Forum. Jenewa
(2016)

2 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Prolog

fakta dan studi lapangan yang seksama agar dapat memberi jawaban akurat atas
kebutuhan riil masyarakat ditiap daerah. Situasi, ekologi, populasi, keadaan ekonomi
dan pola penyakit disetiap negara tidak sama, sehingga keputusan yang baik bukan
hanya berdasarkan telaah literatur saja atau mengadopsi keputusan negara lain.
Negara Indonesia yang begitu luas dan beragam memerlukan solusi khusus dan tidak
bisa disamakan dengan negeri Belanda. Sebagai organisasi profesional dan sekaligus
pelaku lapangan terdepan yang selalu mengedepankan fakta lapangan dan kajian
akademis, IDI meminta agar dilakukan studi (akademis) lapangan dalam pembuatan
setiap keputusan agar kebutuhan masyarakat terpenuhi dan sistem dapat berjalan
dengan efektif.
Sesuai yang tertulis dalam AD/ART, IDI hadir bukan untuk kepentingan golongan tetapi
untuk kepentingan “perjalanan” bangsanya. Namun ironis, polemik DLP mengesankan
adanya konflik kepentingan antara IDI dan pemerintah. Akibatnya, titik temu semakin
jauh dan akan merugikan semua pihak terutama masyarakat.
Sistem adalah upaya berbagai pihak yang bekerja sinergis untuk menuju ke satu tujuan
yang sama. Sistem pada layanan kesehatan di level manapun merupakan pekerjaan
kompleks yang membutuhkan muatan ilmu pengetahuan (knowledge). Kesamaan rasa
dan kesamaan pemahaman semua pihak sangat diperlukan agar sinergisme kerja
dapat terbangun optimal dan hasil terbaik dapat tercapai. Buku putih ini adalah sikap
ilmiah terbuka IDI atas persoalan bangsanya. Buku putih ini ditulis semata-mata atas
panggilan tanggung jawab kebangsaan anggota IDI.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 3
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP
IDI menolak Program Studi Dokter Layanan Primer (DLP). Dasar pendapat IDI adalah
bahwa pendidikan dokter umum sudah memenuhi seluruh persyaratan sebagaimana
yang diharapkan dalam Program Studi Dokter Layanan Primer, yaitu meliputi pemecahan
masalah mulai dari promotif/preventif hingga kuratif menggunakan pendekatan individual,
keluarga dan komunitas. Perbedaan yang ada sifatnya minor, yang bisa didekati melalui
continuing professional education menggunakan modul terstruktur melalui P2KB (Program
Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan).
Selain itu IDI berpendapat untuk memperbaiki kualitas lulusan dokter umum, lebih baik
memperbaiki dulu proses pendidikan dokter di hulu yang banyak bermasalah, daripada
memperbaiki di hilir. Hal inilah yang dibahas mendalam dalam bab ini.
A. Perkembangan Kurikulum Pendidikan Kedokteran Indonesia
Pendidikan kedokteran adalah program studi yang sudah berevolusi sejak lama. Sebelum
1955 pendidikan berjalan lebih bebas dan mengikuti pendidikan dokter Belanda.
Mahasiswa dapat menentukan sendiri mata kuliah dan praktikum yang akan diambilnya.
Konsekuensi dari hal ini adalah lama pendidikan menjadi sangat beragam dan lebih
panjang. Sulit untuk menentukan perkiraan jumlah lulusan per tahun, serta kesulitan
untuk merancang pemenuhan kebutuhan dokter secara nasional.
Pada tahun 1955, Prof. Soetomo melakukan pendekatan dengan University of Carolina San
Fransisco (UCSF) untuk membantu penyusunan kurikulum baru. Kurikulum ini memiliki
lama studi selama 6 tahun yang disebut dengan studi terpimpin (guided study). Sistem
pendidikan tersebut berlangsung selama 6 tahun, terdiri dari tahap preklinik yang lama
pendidikannya adalah 4 tahun dengan gelar Doctorandus Medicus (Drs.Med) dan tahap
klinik di Rumah Sakit (Coassistenschap) dan Puskesmas dengan sebutan Co-Ass selama
2 tahun. Tahap klinik, mahasiswa melakukan rotasi di berbagai departemen, yaitu: Ilmu
Penyakit Dalam dan Ilmu Bedah masing-masing selama 12 minggu; Ilmu Kebidanan, Ilmu
Kedokteran Anak dan Psikiatri-Neurologi masing-masing selama 8 minggu. Kurikulum
dan metode pengajaran sejak tahun 1955 ini terus berjalan selama sekitar 26 tahun.
Pada tahun 1981, kurikulum pendidikan kedokteran dimodifikasi merujuk pada Consortium
of Health Sciences (CHS) melalui terbitnya Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia
(KIPDI) I. KIPDI I merupakan discipline based-curriculum dengan pendekatan aspek
kognitif, psikomotor, dan perilaku (attitude) dan memenuhi kemampuan bidang medik,
bedah, perilaku, dan kesehatan komunitas. Kurikulum yang menjadi acuan bagi Fakultas
Kedokteran adalah minimal mengandung KIPDI I atau 80% KIPDI dengan 20% muatan
lokal. KIPDI I ini berlaku hingga tahun 1993.
Pada tahun 1993, CHS menerbitkan kembali KIPDI II yang bersifat lebih terintegrasi
dengan belajar aktif serta mandiri. Pada KIPDI II, terdapat tahapan program pendidikan
akademik dengan jumlah SKS 128-160 SKS dan program keprofesian dengan jumlah SKS
32-40 SKS. Kurikulum fakultas harus 80% mengacu kepada KIPDI II, 20% muatan lokal
(kurikulum pelengkap). KIPDI II yang bersifat subject-based, berlaku dari periode 1993-
2006, namun pelaksanaan KIPDI II ini tidak berjalan dengan baik di Fakultas Kedokteran

4 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

sehingga banyak yang kembali menggunakan metode pengajaran konvensional.


Pada tahun 2004, dibentuk tim untuk pembentukan KIPDI III yang terdiri dari Departemen
Pendidikan Nasional, Departemen Kesehatan dan perhimpunan profesi yang diwakili
oleh Kolegium Dokter Indonesia yang disebut dengan Tim Kurikulum Nasional Berbasis
Kompetensi untuk Pendidikan Dokter Pelayanan Primer dengan pendekatan kedokteran
keluarga. Sejak tahun ini, pendidikan dokter umum sudah secara eksplisit diarahkan
sebagai dokter keluarga.
Dalam berjalannya proses pembentukan KIPDI III, kurikulum pada singkatan KIPDI, diganti
menjadi “Standar Kompetensi”. Pada tanggal 27-28 April 2006, di Hotel Millenium Jakarta,
dengan diprakarsai oleh Dirjen DIKTI diadakan lokakarya KIPDI III yang kemudian disebut
dengan Standar Kompetensi Pendidikan Dokter Indonesia (SKPDI). Kurikulum pendidikan
dokter menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pendidikan ini terdiri dari tahap
pendidikan kedokteran dasar dan internship.
SKPDI ini sebenarnya mengacu pada kebutuhan masyarakat yang indikatornya
diformulasikan pada standar pelayanan minimal untuk mencapai Indonesia Sehat
2010 dan World Federation on Medical Education (WFME). WFME dalam konferensi yang
dilaksanakan di Kopenhagen, Denmark (2002), menyatakan perlu adanya kompetensi
yang wajib dikuasai dokter untuk menjamin mutu dan peningkatan pelayanannya kepada
masyarakat. Kompetensi ini digunakan sebagai standar pendidikan dan mendasari proses
pendidikan yang digunakan untuk mencapai kompetensi.
Kompetensi yang disusun dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) terdiri dari
7 area kompetensi dengan kompetensi inti dan komponen kompetensinya. Kompetensi ini
telah difokuskan pada pendekatan kedokteran keluarga karena disesuaikan dengan hasil
WHO-WONCA (Organisasi Dokter Keluarga Sedunia) tahun 1994, yang merekomendasikan
penyelarasan program pendidikan kedokteran dasar untuk menanggapi kebutuhan
masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu melalui konten pendekatan
kedokteran keluarga di dalam kurikulumnya. Perbedaan antara Kurikulum Berbasis Disiplin
Ilmu (KBD) dengan KBK antara lain tergambar dalam Tabel 1.
SKDI digunakan sebagai acuan bagi pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran.
SKDI terbaru yang digunakan adalah SKDI 2012 yang merupakan hasil dari dari
evaluasi SKDI 2006. Pada saat ini, minimal lama pendidikan dokter adalah 7 semester
untuk tahap akademik dan 4 semester untuk tahap profesi. SKDI 2012 ini adalah hasil
kerjasama dari Konsil Kedokteran Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia, Asosiasi Institusi
Pendidikan Kedokteran Indonesia Kolegium Dokter, Kolegium-kolegium Dokter Spesialis,
Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
dan Kementerian Kesehatan (2009-2012), Kelompok Kerja Ikatan Dokter Indonesia, 72
Fakultas Kedokteran/ Program Studi Kedokteran dan 36 Kolegium Kedokteran1.

1 Konsil Kedokteran Indonesia (KKI): Standar Kompetensi Dokter Indonesia, Jakarta 2012

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 5
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

Tabel 1. Perbedaan KBK dan KBD


KBK1 KBD2
Referensi
WFME Konvensional
Lama studi Min 7 + 4 semester Min 8 + 4 semester
Proses Banyak metoda/ SPICES
“pasien bukan objek” Kuliah + Praktikum
“pasien jadi objek”
Output Mencapai kompetensi Kompetensi ++
Internsip + -
Uji Kompetensi Sebelum internship Sesudah selesai proses pendidikan
Penilaian Kinerja & Profesionalisme + -
SKDI ini berisi Daftar Pokok Bahasan untuk mencapai 7 area kompetensi,
yaitu Daftar
Masalah, berisikan berbagai masalah yang akan dihadapi dokter pada layanan primer,
Daftar Penyakit, berisikan nama penyakit yang merupakan diagnosis banding dari masalah
yang dijumpai pada daftar masalah dan Daftar Keterampilan Klinis, berisikan keterampilan
klinis yang perlu dikuasai oleh dokter pada layanan primer di Indonesia2.
Dalam pemecahan masalah kesehatan, kurikulum SKDI 2012 sudah dirancang agar
lulusan dokter mampu untuk:
1. Melaksanakan promosi kesehatan pada individu, keluarga dan masyarakat 

2. Melaksanakan pencegahan dan deteksi dini terjadinya masalah kesehatan pada
individu, keluarga dan masyarakat

3. Melakukan penatalaksanaan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat

4. Memberdayakan dan berkolaborasi dengan masyarakat dalam upaya meningkatkan
derajat kesehatan

5. Mengelola sumber daya secara efektif, efisien dan berkesinambungan dalam
penyelesaian masalah kesehatan

6. Mengakses dan menganalisis serta menerapkan kebijakan kesehatan spesifik yang
merupakan prioritas daerah masing-masing di Indonesia
Jelaslah bahwa pendidikan dokter umum di Indonesia sudah diarahkan untuk menjadi
dokter pada layanan primer dengan pendekatan individual, keluarga dan masyarakat. Jika
output nya masih belum sesuai dengan tujuan dalam SKDI ini, maka yang perlu diperbaiki
adalah input dan proses pendidikan dari institusi pendidikannya, dan melalui pendidikan

2 Konsil Kedokteran Indonesia (KKI): Standar Kompetensi Dokter Indonesia, Jakarta 2012; hal 19-20.

6 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

profesi berkelanjutan, bukan diperbaiki di hilir melalui program studi DLP. Bagaimanakah
kualitas proses pendidikannya, dibahas dalam seksi berikut.
B. Pelaksanaan Program Pendidikan Dokter
Dalam melaksanakan pendidikan kedokteran, terdapat standar yang perlu dipenuhi dan
digunakan di berbagai negara di dunia. Standar tersebut bertujuan untuk menjaga kualitas
produksi dokter agar dokter yang dihasilkan adalah dokter dengan kualitas terbaik.
Standar tersebut mulai dari aspek masukan, proses dan luaran serta outcome-nya. Pada
kualitas masukan perlu dipantau sistem penerimaan mahasiswa baru, staf pengajarnya
dan fasilitas yang dimiliki Fakultas Kedokteran. Pada kualitas proses perlu dipantau
mengenai kurikulum, proses belajar mengajar, dan sistem penilaian yang digunakan. Pada
kualitas luaran perlu dipantau lulusan yang dihasilkan Fakultas Kedokteran apakah sesuai
dengan kompetensi yang diharapkan, sedangkan pada aspek outcome perlu dipantau
profesionalisme dokter setelah bekerja (pada tahap internship).
Proses penjaminan mutu ini melibatkan berbagai pemangku kebijakan, selain Fakultas
Kedokteran terkait, pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan
Tinggi dan Kementerian Kesehatan yang terutama terlibat dalam koordinasi kegiatan
pendidikan tahap profesi, Konsil Kedokteran Indonesia, dan juga organisasi profesi.
Pemantauan dilakukan pada berbagai aspek tersebut melalui akreditasi, uji kompetensi
dan evaluasi KKI dan koordinasi dengan organisasi profesi terutama pada aspek luaran
dan kualitas outcome.
Dari sisi masukan, hingga akhir tahun 2016, jumlah seluruh Fakultas Kedokteran di
Indonesia saat ini mencapai 83 Fakultas Kedokteran, dengan tambahan 8 Fakultas
Kedokteran baru yang telah diresmikan oleh pemerintah di tahun 2016. Namun mutu
pendidikan dari 83 Fakultas Kedokteran di Indonesia masih belum optimal dengan adanya
37 Fakultas Kedokteran dengan akreditasi C (1 Fakultas Kedokteran belum terakreditasi)
dan hanya 17 Fakultas Kedokteran yang terakreditasi A (Tabel 2).
Tabel 2. Gambaran akreditasi Fakultas/Prodi Kedokteran (BAN PT, 2016)3

Akreditasi Jumlah FK
A 17
B 28
C 37 (+ 1 Fakultas Kedokteran belum terakreditasi)
Jumlah 83

3 Tabel tersebut diambil dari presentasi Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kebijakan
Kemristekdik/Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran, Kementerian Riset, Teknologi dan
Pendidikan Tinggi 2015. Presentasi itu menjelaskan posisi 75 Fakultas Kedokteran yang ada. Namun
pada tahun 2016, bertambah lagi 8 Fakultas Kedokteran baru.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 7
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

Sejak tahun 2006, Fakultas Kedokteran di Indonesia menggunakan kurikulum berbasis


kompetensi dengan menggunakan Problem Based Learning (PBL). PBL merupakan metode
pendidikan yang membutuhkan sumber daya yang besar, baik dalam hal infrastruktur,
fasilitas pendidikan maupun sumber daya manusia. Infrastruktur dan fasilitas pendidikan
dibutuhkan ruang-ruang yang lebih banyak dan ruang untuk melakukan keterampilan
klinis serta ruang ujian yang menjadi standar pendidikan dalam akreditasi. Dari sisi
sumber daya, dibutuhkan 1:10 mahasiswa untuk tahap preklinik dan 1:5 mahasiswa untuk
tenaga pengajarnya, belum lagi terdapat lebih dari 30 bidang ilmu di kedokteran yang
harus dimiliki oleh institusi pendidikannya untuk dapat mencapai sasaran pembelajaran
mahasiswa. Dari aspek masukan ini, KBK dengan metode PBL yang dilaksanakan pada
Fakultas Kedokteran menuntut pula sumber daya yang besar. Pembiayaan pada tahap
akademik semakin meningkat, demikian pula biaya yang besar terutama dikeluarkan
institusi pendidikan pada tahap profesi. Pendidikan di Rumah Sakit melibatkan fasilitas
pelayanan kesehatan dan sumber daya yang besar termasuk keselamatan pasien dan
mahasiswa sendiri dalam melakukan praktik, karena fokus kegiatan di rumah sakit adalah
pelayanan. Belum lagi adanya syarat bagi Fakultas Kedokteran untuk memiliki Rumah
Sakit Pendidikan sendiri untuk menjalankan kegiatan pendidikannya. Pengelolaan Rumah
Sakit membutuhkan juga biaya yang besar.
Pada beberapa pengelola institusi pendidikan, Fakultas Kedokteran ditempatkan
juga sebagai institusi yang dapat memberikan keuntungan komersial. Adanya kriteria
kelompok jalur penerimaan mahasiswa baru, seperti jalur penerimaan mandiri ataupun
internasional, merupakan salah satu bentuk inovasi institusi pendidikan yang menunjukkan
bentuk komersialisasi pendidikan kedokteran. Walaupun saat ini pemerintah sudah
memberlakukan sistem pembiayaan melalui Uang Kuliah Tunggal (UKT), namun hal ini
hanya berlaku untuk Fakultas Kedokteran negeri yang dikelola pemerintah. Pembiayaan
untuk Fakultas Kedokteran tetap tertinggi di antara bidang ilmu lainnya.
Komersialisasi pendidikan kedokteran ini terlihat juga dari menjamurnya pembukaan
Fakultas Kedokteran oleh perguruan-perguruan tinggi negeri dan swasta. Pada tahun
2007, Fakultas Kedokteran hanya berjumlah 35 Fakultas Kedokteran, pada tahun 2015
menjadi 75 Fakultas Kedokteran, kemudian pada tahun 2016, telah diresmikan oleh
pemerintah 8 Fakultas Kedokteran baru, sehingga jumlah seluruh Fakultas Kedokteran
di Indonesia saat ini mencapai 83 Fakultas Kedokteran yang terdiri dari 35 Fakultas
Kedokteran di perguruan tinggi negeri (3 Fakultas Kedokteran di bawah Kementerian
Agama) dan 46 Fakultas Kedokteran di perguruan tinggi swasta.
Pembiayaan pendidikan kedokteran yang tinggi ini menimbulkan persepsi masyarakat
yang kurang baik. Fakultas Kedokteran dianggap dikelola untuk mendatangkan
pendapatan cukup besar bagi perguruan tinggi dengan cara yang sangat mudah, yaitu
dengan menerapkan uang pendaftaran dan uang kuliah yang sangat tinggi kepada para
calon peserta didik, jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah. Hal yang sangat berbeda

8 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

dengan 15 tahun lalu di saat negara masih bertanggungjawab terhadap pendidikan


termasuk pendidikan kedokteran, sehingga biaya pendidikan kedokteran sangat murah
dan terjangkau.
Dari sisi proses, pendidikan kedokteran di Indonesia yang berlangsung 10 semester, itu
dianggap kurang cukup untuk membuat dokter mahir untuk berpraktik di layanan primer
atau di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (FKTP). Karena itu untuk memahirkan perlu
pembelajaran secara mandiri di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan untuk 1 tahun
internship.
Melalui KBK dan active learning, proses pendidikan dilewati oleh mahasiswa seharusnya
lebih baik daripada pendidikan konvensional terutama dalam hal penguasaan keterampilan
klinis, namun yang perlu dikaji apakah pelaksanaannya optimal. Sebagai contoh:
mahasiswa membutuhkan diskusi kelompok yang dilaksanakan oleh 1 tutor untuk 10
mahasiswa, namun karena kendala pada prosesnya kegiatan ini terpaksa dilakukan secara
bersamaan dengan 10 mahasiswa dari kelompok yang lain, dst.
Dari sisi luaran, penilaian bagi dokter untuk dapat berpraktik telah dilakukan melalui
beberapa tahap antara lain uji kompetensi nasional dengan mengikui Uji Kompetensi
Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) Indonesia sebagai syarat kelulusan untuk
mengikuti internship. UKMPPD juga dilakukan dengan 2 tahap, Computer Based Testing
(CBT) dan Objectives Structured Clinical Examination (OSCE). Setelah UKMPPD, tahap ujian
selanjutnya adalah ujian internship melalui portfolio.
Jika dilihat dari hasil lulusan UKMPPD, pada tahun 2015 hanya terdapat 40 Fakultas
Kedokteran yang telah meluluskan dokter yang dinyatakan memiliki lulusan UKMPPD
>50%. Dari 40 itu, sebanyak 21 Fakultas Kedokteran yang mampu meluluskan >70%).
Dari 25 Fakultas Kedokteran yang meluluskan <50 %, sebagian besar (19) adalah berasal
Perguruan Tinggi Swasta (lihat Tabel 3)
Tabel 3. Persentase kelulusan UKMPPD tahun 20154

% Kelulusan UKMPPD
Jenis PT Jumlah
< 50 % 50-70 % >70 %
PTN 6 9 14 29
PTS 19 10 7 36
Jumlah 25 19 21 65

4 Tabel tersebut diambil dari presentasi Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kebijakan
Kemristekdik/Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran, Kementerian Riset, Teknologi dan
Pendidikan Tinggi 2015. Dari 75 Fakultas Kedokteran yang ada, baru 65 Fakultas Kedokteran yang
menghasilkan lulusan

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 9
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

Dari sisi luaran lainnya, yaitu jumlah dokter yang dibutuhkan berdasarkan jumlah
penduduk Indonesia. Berdasarkan standar perbandingan jumlah dokter dan jumlah
penduduk menurut WHO (40 dokter untuk 100.000 penduduk), jumlah dokter Indonesia
telah mencukupi, yaitu 45 dokter untuk 100.000 penduduk (jumlah penduduk Indonesia
sekitar 255.461.700 jiwa pada tahun 2015). Saat ini jumlah dokter berdasarkan data KKI,
per tanggal 10 Februari 2017 tercatat telah terdaftar 149,479 dokter, terdiri atas 116,935
dokter dan 32,544 dokter spesialis di Indonesia (Bagan 1).

Dari Bagan 2 terlihat bahwa jumlah dokter yang mempunyai STR aktif adalah sebanyak
125,847 dokter, terdiri atas 96,298 dokter dan 29,549 dokter spesialis. Sehingga dari
sekitar 150,000 dokter, ada sekitar 23,600 dokter dan 3000 dokter spesialis yang STR
nya tidak aktif, bisa jadi karena belum diurus, bisa juga karena mereka berpindah ke tugas
struktural atau berpindah bidang penelitian atau lainnya yang tidak memerlukan STR lagi.
Hingga kini, banyak daerah kekurangan dokter, sebaliknya di kota besar terjadi
penumpukan dokter5. Kekurangan dokter di daerah tertentu dijadikan dalih oleh Pemda
dan perguruan tinggi setempat untuk mengajukan pembukaan Fakultas Kedokteran
meskipun perguruan tinggi pengusul tidak mempunyai cukup kompetensi dan kapasitas
untuk menyelenggarakan pendidikan dokter.
Sebenarnya persoalan ini jika dikaitkan dengan pendidikan kedokteran saat ini, banyak
faktor yang menimbulkan masalah distribusi dokter, mulai dari tingginya biaya sekolah,
rekruitmen calon dokter yang tidak sesuai, proses pendidikan yang kurang mengakrabkan
mahasiswa dengan daerah, maupun insentif dan fasilitas yang tidak memadai untuk
dokter bekerja di daerah. Peran pemerintah untuk melakukan affirmative action, merupakan
antisipasi yang sangat baik bagi distribusi dokter di daerah, bukan dengan melalui ijin
penambahan jumlah Fakultas Kedokteran-nya.

5 besarnya maldistribusi ini akan dibahas pada bab berikut.

10 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

C. Polemik Dokter Layanan Primer


Pada saat diterbitkannya UU No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran yang
selanjutnya akan disebut denganUndang Undang no 20 tahun 2013 tentang Pendidikan
Kedokteran, timbul nomenklatur baru yang tidak terdapat sebelumnya pada UU No 29
Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, yaitu Dokter Layanan Primer (DLP).
DLP ini menjadi polemik bagi profesi dokter, karena dokter umum yang merupakan produk
dari pendidikan profesi kedokteran yang tadinya sudah layak bekerja sebagai dokter di
layanan primer atau FKTP (fasilitas kesehatan tingkat pertama, berdasarkan UU No
20 Tahun 2013 ini, dianggap masih belum kompeten dan dituntut untuk melanjutkan
pendidikan DLP, agar memenuhi kualifikasi untuk melakukan praktik di pelayanan primer,
sesuai penjelasan Undang undang itu pasal 8 ayat 2 : “Program dokter layanan primer
ditujukan untuk memenuhi kualifikasi sebagai pelaku awal pada layanan kesehatan
tingkat pertama, melakukan penapisan rujukan tingkat pertama ke tingkat kedua, dan
melakukan kendali mutu serta kendali biaya sesuai dengan standar kompetensi dokter
dalam sistem jaminan kesehatan nasional”6. Pemberlakuan undang undang itu otomatis
mengancam legalitas 100 ribu dokter umum yang bekerja di FKTP, baik Puskesmas, klinik
maupun dokter praktik mandiri. Mereka bisa di pidanakan7.
Namun polemik DLP jauh lebih luas, karena persoalan yang ditimbulkan nya baik dari segi
definisi, istilah setara spesialis, kesulitan profesi, maupun ketidakharmonisan dengan
Undang-undang lainnya. Di dalam bab ini, kita membahas berbagai masalah yang timbul,
kecuali ketidakharmonisannya dengan undang-undang lain yang dibahas pada bab lain.
1. DLP Adalah Dokter yang Bekerja di FKTP
Dokter layanan primer, adalah satu-satunya profesi yang disebut dalam undang-undang,
namun definisinya tidak ada dari 24 istilah yang disebut dalam pasal 1 dalam Bab 1
Ketentuan Umum UU no 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran.
Di seluruh dunia tidak ada profesi dokter bergelar DLP atau dokter layanan primer. Karena
memang dokter layanan primer adalah dokter yang bekerja di layanan primer. Dokter yang
bekerja di layanan primer, pada umumnya disebut dokter umum, atau dokter keluarga,
meskipun di Amerika Serikat ada dokter spesialis yang bekerja di layanan primer.
Biasanya di sebuah negara, dokter yang bekerja di layanan primer adalah dokter umum
atau dokter keluarga (Lihat Tabel 4). Karena di manapun di dunia dokter umum adalah
dokter keluarga. WONCA (World Organization of National Colleges, Academies and Academic
Associations of General Practitioners/Family Physicians) juga menyebutkan dokter umum
adalah dokter keluarga.

6 Banyak tafsir atas penjelasan itu. Tetapi justru itu masalahnya: ketidakpastian hukum. Undang
Undang ini justru menimbulkan ketidakpastian hukum.
7 Keterangan prof Hasbullah Tabrani, pakar JKN di berbagai kesempatan.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 11
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

Karena itu IDI berpendapat bahwa DLP bukan profesi. DLP merupakan istilah untuk dokter
yang bekerja di layanan primer atau di FKTP, apapun profesinya.
Tabel 4: Nama Praktisi yang bekerja di Layanan Primer8
Nama Departemen Universitas Negara Praktisi
Primary Care Health Sciences Oxford UK General Practitioner
Health Sciences and Primary Care Utrecht Belanda Family Physician
Family Medicine Sebagian besar FK AS Family Physician
General Practice Melbourne, Monash Australia General Practitioner
Primary Care Tsukuba Jepang Family Physician
Family Medicine Semua FK Korea Family Physician
Selatan
Family Medicine Semua FK Taiwan Family Physician
Family and Community Medicine Philippines Filipina Family Physician
Primary Care Medicine University of Malaya Malaysia Family Physician
2. DLP: Kastanisasi Baru
Dalam UU no 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran disebutkan bahwa dokter
layanan primer adalah dokter setara spesialis, sebuah istilah yang juga tidak dijelaskan.
Mengingat istilah setara spesialis tidak sama dengan spesialis, tidak perlak lagi dokter
layanan primer menimbulkan kastanisasi baru, yaitu dokter umum, dokter layanan
primer yang setara spesialis dan dokter spesialis. Karena model pendidikan kedokteran
di Indonesia, jenjang spesialis diselenggarakan setelah sesorang selesai menempuh
pendidikan dokter umum, maka dokter umum menjadi kasta yang paling rendah. Masalah
ini tidak bisa selesai hanya dengan menghilangkan posisi dokter layanan primer, melainkan
melalui reformasi sistem pendidikan kedokteran di Indonesia, agar posisi dokter umum
sejajar dengan posisi spesialis, berbeda hanya karena lapangan kerjanya. Artinya revisi UU
no 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran menjadi keharusan.
D. Problematik Melahirkan Program Studi DLP
1. Syarat Membuka Program Studi
Fakultas kedokteran yang akan melahirkan program studi dokter layanan primer akan
menghadapi problem, karena kurikulum program studi adalah 80 % program studi dokter
keluarga, 10 % kedokteran komunitas, dan 10 % kesehatan masyarakat. Program Studi
baru hanya bisa disetujui oleh pemerintah bila berbeda signifikan (60%)9.

8 Tabel diambil dari Kelompok Kerja Percepatan Pendidikan Dokter Layanan Primer : Pendidikan
Dokter Layanan Primer, Kementerian Pendidikan Tinggi & Ristek - Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia 2015 , dipotong sebagian.
9 Prosedur PenyeIenggaraan Program Studi Program Magister dan Profesi PTN dan Swasta,
Kemenristekdikti 2015

12 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

Menurut UU no 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Perguruan Tinggi Negeri yang
sudah berbadan hukum (PTNBH) memiliki kewenangan untuk membuka, menyelenggarakan
dan menutup program studi10. Demikian pula pada Peraturan Pemerintah no 4 tahun 2014
tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi, pasal 25
ayat a1.b. disebutkan juga kewenangan otonomi pengelolaan bidang akademik untuk
pembukaan, perubahan dan penutupan program studi bagi PTNBH. Namun, sebagaimana
diketahui untuk pembukaan program studi profesi, UU no 12 tahun 2012 pasal 17 ayat
2 juga menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan profesi dilakukan bekerja sama
dengan Kementerian terkait dan Organisasi Profesi yang bertanggung jawab atas mutu
layanan profesi tersebut. Pembukaan program studi profesi tidak dapat dibuka secara
otonomi tanpa berkoordinasi dengan pihak lainnya.
Di samping itu, pada UU yang sama, dinyatakan pembukaan program studi harus
memenuhi persyaratan minimum akreditasi11, sehingga pembentukannya tidak dapat
dilakukan semaunya. Program studi baru pun harus memiliki perbedaan signifikan,
sebagaimana program studi baru pada umumnya. Apalagi program studi dokter layanan
primer, jika pun ingin dibuka, perlu menunggu keluarnya peraturan pemerintah tentang hal
itu terlebih dahulu sesuai amanat UU no 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran12.
2. Standard Pendidikan Profesi
Pendidikan profesi juga harus melalui berbagai ketentuan. Perlu ada standar pendidikan
profesinya, yang harus ditetapkan bersama oleh Konsil Kedokteran Indonesia dengan
Kolegium Kedokteran, assosiasi pendidikan kedokteran, dan asosiasi rumah sakit
pendidikan13. Padahal sampai sekarang standar pendidikan profesinya belum pernah
ditetapkan.
3. Kolegium DLP
Profesi baru hanya ada bila ada kolegiumnya. Kolegium kedokteran Indonesia adalah badan
yang dibentuk oleh organisasi profesi untuk masing-masing disiplin ilmu yang bertugas
mengampu cabang disiplin ilmu tersebut14. Kolegium baru harus diusulkan melalui dan
disetujui oleh MKKI (Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia). Dalam hal ini, Kolegium
dokter layanan primer juga tidak mungkin disetujui, karena sudah ada Kolegium Ilmu
Kedokteran Keluarga Indonesia (KIKKI). Kolegium Dokter Layanan Primer tidak mungkin
terbentuk, karena keilmuannya praktis sama dengan Kedokteran Keluarga

10 UU 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 65, ayat 3g.


11 lihat UU 12 tahun 2012 pasal 33, ayat 3. Program studi diselenggarakan atas izin Menteri setelah
memenuhi persyaratan akreditasi. PTNBH tidak perlu ijin menteri, namun tetap harus memenuhi
persyaratan akreditasi.
12 UU no 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran pada pasal 7 ayat (9) menyatakan “Ketentuan
lebih lanjut mengenai program dokter layanan primer sebagaiamana dimaksud pada ayat (5)
dan program internsip sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dan ayat (8) diatur dalam Peraturan
Pemerintah”
13 Pasal 7 ayat 1 dan 2 Undang Undang 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
14 Pasal 1 ayat 13 Undang Undang 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 13
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

4. Surat Tanda Registrasi


Karena Kolegium Dokter Layanan Primer tidak ada, maka lulusan program studi DLP seperti
yang diselenggarakan di universitas tertentu tidak mendapat sertifikat kompetensi15.
Tanpa sertifikat kompetensi, tidak mungkin mendapat STR (Surat Tanda Registrasi) dari
KKI (Konsil Kedokteran Indonesia)16, sebagai syarat untuk bekerja di layanan primer. Artinya
3 tahun yang ditempuhnya akan mubadzir. Kedudukan MKKI dan KKI sebagai institusi
terpisah dari MTKI (Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia) menjadi kuat karena keputusan
Mahkamah Konstitusi menyetujui Judicial Review UU Tenaga Kesehatan.
E. Peningkatan Kualitas Pelayanan melalui Modul Terstruktur
Melalui SKDI 2012, dokter umum sudah dipersiapkan melayani di FKTP. Dengan semangat
KKNI, maka pencapaian pembelajaran bisa beragam, tidak harus melalui pendidikan
formal17. IDI berpendapat, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat primer di
seluruh wilayah Indonesia dapat lebih efektif dan lebih efisien dilakukan melalui modul
terstruktur, melalui program P2KB (Program Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan),
dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Pelaksanaan P2KB yang sangat fleksibel, karena IDI bisa bekerja sama baik dengan
universitas, maupun dengan institusi pendidikan/pelatihan lainnya, melalui
sertifikasi kelayakannya, sehingga bisa lebih merata ke seluruh provinsi, dengan
daya tampung yang lebih besar. Artinya, peserta bisa melakukan pendidikannya
pada wilayah yang lebih dekat.
2. P2KB memungkinkan IDI bekerja sama dengan 36 Kolegium yang ada, sehingga
bisa lebih fleksibel menggunakan tenaga ahli yang keahliannya beragam.
3. Metode P2KB secara administratif lebih sederhana dibandingkan pendidikan
formal, berupa pelatihan tatap muka dan e-learning sehingga bisa disusun modul
yang kontekstual dengan kebutuhan sesuai dengan kebutuhan dokter di layanan
primer di berbagai wilayah di Indonesia.

15 Pasal 29 ayat 3 Undang Undang 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran


16 Pasal 29 ayat 2 Undang Undang 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
17 Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) adalah kerangka penjenjangan kualifikasi sumber
daya manusia Indonesia yang menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan sektor
pendidikan dengan sektor pelatihan dan pengalaman kerja dalam suatu skema pengakuan
kemampuan kerja yang disesuaikan dengan struktur di berbagai sektor pekerjaan. Lihat di http://
www.kkni-kemenristekdikti.org

14 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

4. Dari segi waktu, 1 modul mungkin berkisar 1-2 bulan, sehingga memungkinkan
peserta didik mencapai kompetensi yang lebih cepat dan sesuai, karena hanya
mengambil modul sesuai kebutuhan saja.
Secara singkat P2KB memungkinkan kita untuk melaksanakan program peningkatan
kualitas layanan di lebih banyak tempat, menjangkau lebih banyak dokter, membuat
kurikulum yang lebih beragam, dengan waktu yang lebih singkat dan biaya yang lebih
terjangkau.

Klarifikasi buku “Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional


Berorientasi Pelayanan Primer”

Sebuah kontroversi yang beberapa kali disebut: mengapa IDI, yang menerbitkan buku
“Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional Berorientasi Pelayanan Primer” (lihat cover terlampir),
yang didalamnya menjelaskan Dokter Layanan Primer, menolak Program Studi Dokter
Layanan Primer? Bagian ini menjelaskan kontroversi tersebut.
Buku tersebut disusun oleh Dr. Gatot Soetono, MPH dan Dr. Oktarina, MSc. Oleh PB IDI
buku ini dimaksudkan sebagai sebuah karya akademik sebagai dasar untuk menyikapi
isu DLP yang dimuat di dalam UU No. 20/2013 tentang Pendidikan Kedokteran. IDI
sebagai sebuah organisasi profesi selalu berusaha menyikapi sebuah isu melalui bahasan
akademik. Karya akademik adalah salah satu ciri utama IDI sebagai sebuah organisasi
organisasi profesi, yang selalu terbuka untuk dikritisi terutama oleh anggota-anggota IDI.
Sehingga buku itu bukan atau belum mencerminkan persetujuan IDI. Sikap IDI terhadap DLP
ditentukan kemudian, melalui rapat pleno. Menindaklanjuti buku yang diterbitkan pertama
kali pada 2014 tersebut, PB IDI melalui SK PB IDI NO. 1552/PB/A/4/01/2015 tertanggal 5
Januari 2015 membentuk Pokja Tim Penyusun Konsep Pelayanan dan Pendidikan Terpadu bagi
Dokter yang Bekerja di Layanan Primer Berbasis Kebutuhan Masyarakat. Dengan berpegang
pada buku Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional Berorientasi Pelayanan Primer, Tim
melakukan pengumpulan data lapangan di Kota Malang. Di sana para dokter telah
menerapkan prinsip-prinsip yang berorientasi pada pelayanan primer.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 15
I. PENDIDIKAN KEDOKTERAN DAN POLEMIK DLP

Hasil kerja Pokja dilaporkan pada Rapat Pleno PB IDI tanggal 19 Maret 2015.
Keputusan Rapat Pleno PB IDI menerima konsep yang ditawarkan oleh Pokja dengan
pokok pikiran sebagai berikut:
1. Peningkatan kompetensi dokter yang bekerja di tingkat layanan primer
mendesak untuk segera dilakukan.
2. Peningkatan kompetensi dilakukan melalui P2KB terstruktur
3. Disiapkan modul sesuai kebutuhan lapangan. Pada saat itu diidentifikasi
telah tersedia 24 modul
Dalam ini Pokja ditugaskan untuk:
1. Merampungkan modul-modul yang tersedia dan menambah modul baru
sesuai dengan kebutuhan
4. Penyiapan modul dilakukan dengan dukungan kolegium terkait
5. Menyiapkan metode belajar-mengajar dalam bentuk tatap muka dan jarak
jauh.
6. Melakukan uji coba model P2KB terstruktur tersebut dalam bentuk riset
operasional pada 3 kabupaten/kota dengan kriteria urban, suburban dan
rural
7. Riset operasional bekerja sama dengan Asosiasi pemerintah kabupaten
dan kota. Langkah pertama dilakukan dalam bentuk Semiloka Pelayanan
Kesehatan Tingkat Primer.
Pleno juga merekomendasikan untuk melakukan lokakarya sebagai bentuk sosialisasi
hasil kerja Pokja kepada semua pemangku kepentingan.
Lokakarya yang menjadi rekomendasi Pleno PB 19 Maret 2015 dilaksanakan pada
tanggal 7 April 2015 yang dihadiri oleh Kementerian Kesehatan RI dalam hal ini
Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan dan Badan PPSDM Kesehatan, Direktorat
Jenderal DIKTI, Bappenas, Bank Dunia, WHO, UNICEF, ADB, dll.
Hasil lokakarya adalah rekomendasi untuk melanjutkan rencana tahapan yang
sudah disiapkan karena dianggap sebagai jalan keluar terbaik. Sehingga tidak benar
jika dikatakan bahwa konsep pendidikan DLP melalui jalur formal berasal dari PB
IDI. PB IDI merekomendasikan pendidikan bagi dokter yang bekerja pada layanan
primer dilakukan melalui konsep P2KB – Pengembangan Pendidikan Keprofesian
Berkelanjutan.

16 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
II. Program Studi DLP: Pemborosan Dan Bukan
Solusi

Salah satu isu besar lainnya mengapa IDI menolak program studi DLP adalah
ketidaksesuaiannya dengan konteks pelayanan kesehatan saat ini sehingga DLP dapat
dikatakan pemborosan dan bukan solusi. Pemborosan menjadi krusial, apalagi saat
negara menganjurkan berhemat yang ditandai dengan banyaknya pemotongan budget
anggaran yang sudah disetujui dalam tahun 2016-2017. Pendirian program studi DLP
ini juga bukan solusi atas berbagai masalah yang saat ini dihadapi. Pada bab ini akan
diperjelas isu tersebut, dan akan digarisbawahi kontradiksinya dengan upaya pemerintah
untuk mengatasi masalah pelayanan kesehatan saat ini.
A. Isu Pertama: Memantapkan Sistem Pelayanan Kesehatan
Salah satu fokus pengelolaan pelayanan
kesehatan di Indonesia adalah pemantapan
sistem pelayanan kesehatan. Secara legal,
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) diatur dalam
Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 20121.
Menurut PP tersebut, pelayanan kesehatan
terbagi dalam dua golongan besar, yaitu Upaya
Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya
Kesehatan Masyarakat (UKM). Meskipun
keduanya mempunyai spektrum pelayanan yang
komprehensif, mulai dari promotif ke kuratif,
namun fokus dari UKP adalah kuratif sedang
fokus UKM adalah promotif (lihat gambar). Jika UKP melakukan pelayanan promotif,
maka konteksnya adalah penjelasan atau konsultasi secara individu. Bila UKM melakukan
kuratif, maka konteksnya adalah pengobatan massal, ataupun ketika menanggulangi
wabah. Tentu diantaranya ada wilayah kerja yang beririsan, misalnya pendekatan ke
keluarga, yang bisa didekati dari aspek anggota keluarga (UKP), maupun sebagai anggota
masyarakat (UKM).
Karena UKP dan UKM memiliki spektrum pembelajaran yang lebar, maka dalam rangka
memantapkan sistem pelayanan kesehatan perlu diperhatikan mengenai diversifikasi
tenaga. Ada yang difokuskan untuk melakukan pelayanan UKP, seperti dokter, bidan dan
perawat. Ada tenaga kesehatan yang memang berfokus untuk pengembangan UKM, seperti
ahli promosi kesehatan, ahli gizi masyarakat, ahli sanitasi lingkungan, dan lain-lainnya
yang dikenal dengan ahli kesehatan masyarakat2. Pemantapan SKN terjadi jika semua ahli
yang bergerak dalam UKP dan UKM bekerja sama secara harmonis. Dalam konteks ini,
pendekatan DLP yang memperkuat fungsi promosi dan preventif, yang membuat dokter
1 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional
2 Lihat misalnya pada presentasi Perkumpulan Promotor Dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia:
Kurikulum Pendidikan Profesi Promotor Dan Pendidik Kesehatan Masyarakat. Lokakarya Bahan Kajian
Kurikulum Profesi Promotor Kesehatan Universitas Diponegoro - Semarang, 3 Juni 2016

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 17
II. PROGRAM STUDI DLP: PEMBOROSAN DAN BUKAN SOLUSI

menjadi “serba bisa”, adalah pemborosan3. Padahal tenaga ahli kesehatan masyarakat
lebih banyak jumlahnya (sekarang ini jumlah 700 ribu orang dibandingkan dengan jumlah
dokter yang sekitar 180 ribu), namun jumlahnya di Puskesmas masih relatif kurang.
Selama ini dari seluruh tenaga pelayanan kesehatan, perhatian pemerintah selama
puluhan tahun selalu kepada tenaga UKP, misalnya tercermin dalam perencanaan maupun
pendayagunaan tenaga kesehatan oleh pemerintah. Setelah keluar UU tenaga kesehatan,
yang mengakui adanya tenaga kesehatan masyarakat4, dan juga ahli kesehatan
masyarakat diakui sebagai profesi, barulah tenaga UKM menjadi perhatian.
Ketidakseimbangan dalam SKN juga terjadi karena selama puluhan tahun, Kementerian
Kesehatan fokus pada pelayanan kuratif (UKP). Informasi dari berbagai National Health
Account (NHA) maupun District Health Account (DHA) yang melihat kategori pengeluaran
pada tingkat nasional maupun kabupaten/kota selalu menunjukkan pengeluaran untuk
kegiatan promotif dan preventif (atau UKM) yang kecil. Pada penelitian NHA tahun
2014 misalnya, selama 4 tahun terakhir, angka itu berkisar 10-15 %5. Dalam hal ini,
pengembangan program studi DLP adalah kontradiksi. Perhatian pemerintah mestinya
adalah bagaimana meningkatkan pembiayaan UKM, misalnya melalui pengembangan
dana pendayagunaan tenaga UKM.
B. Isu Kedua: Menuju Universal Coverage di 2019
Masalah kesehatan lain di Indonesia adalah adanya disparitas dalam layanan kesehatan.
Untuk menjamin ekuitas penerima layanan kesehatan, program Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) menjadi alternatif solusi pemecahan. Dengan adanya Kartu Indonesia Sehat
(KIS) sebagai kartu identitas peserta JKN dan sekaligus berfungsi sebagai kartu peserta
untuk Penyandang Masalah Kesehatan Sosial (PMKS), konsep pelayanan kesehatan
yang berkualitas dan ekual dapat diterima oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa melihat
latar belakang sosial dan ekonomi. Pada tahun 2019, menurut road map seluruh rakyat
Indonesia diharapkan sudah mempunyai KIS untuk menjamin Universal Coverage (UC).
Tabel 5. Pertambahan Jumlah FKTP dan Peserta JKN

Jumlah Peserta / FKTP 20141 20162 Estimasi 20193 Kebutuhan UC 2019


Jumlah Puskesmas 9,731 9,814 10,000 10,000
JumlahKlinik 3,712 4,903 8,476 22000
Dokter Praktik 3,984 4,511 6,092 44000
Peserta 133,423,653 166,900,000 270,000,000
Peserta ideal4 77,085,000 84,862,500 107,610,000 270,000,000

3 lihat misalnya di http://www.depkes.go.id/article/view/16102300002/perkuat-upaya-promotif-


preventif-melalui-DLP.html.
4 Lihat pasal 11 UU 36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan
5 AIPHSS, Laporan Akhir National Health Accounts (NHA) Indonesia
2014

18 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
II. PROGRAM STUDI DLP: PEMBOROSAN DAN BUKAN SOLUSI

Catatan:
1. Sumber: Kementerian Kesehatan RI: Profil Kesehatan Indonesia 2014
2. Sumber: Laporan BPJS, 2016
3. Estimasi linear, dari performa 2014-2016
4. Estimasi, setiap Puskesmas dan klinik memelihara kesehatan 5000 peserta, sedang
dokter praktik memelihara 2500 peserta
Pada tahun 2014, ketika BPJS mulai berjalan, terdapat 133,5 juta peserta JKN. Pada tahun
2016, jumlah peserta sudah meningkat menjadi 167 juta orang. Pada tahun 2019, jumlah
penduduk diperkirakan sebesar 270 juta orang, dan menurut road map karena pada tahun
itu seluruh penduduk diharapkan seluruh penduduk dilindungi JKN, maka jumlah peserta
sama dengan seluruh penduduk.
Dari Tabel 5 terlihat bahwa jika norma ideal digunakan untuk menjaga mutu pelayanan,
yaitu agar Puskesmas dan klinik memelihara kesehatan maksimum 5000 peserta, dan
dokter praktik maksimum 2500 peserta6, perkembangan jumlah FKTP yang bekerja sama
dengan BPJS sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan pelayanan. Apalagi jika jumlah FKTP
yang bekerja sama dengan BPJS diproyeksikan secara linear, maka tahun 2019 Indonesia
akan banyak sekali kekurangan FKTP. Kekurangan ini belum menjadi masalah bermakna
karena di sebagian besar wilayah padat penduduk, banyak Puskesmas memegang kapitasi
lebih dari 5000 peserta. Di DKI Jakarta bahkan terjadi fenomena Puskesmas dengan
kapitasi 100.000 peserta. Jumlah kunjungan rawat jalan di Puskesmas juga mencapai 60
% dari semua kunjungan FKTP7. Dampak yang terjadi adalah, karena kewalahan melakukan
pelayanan UKP, banyak Puskesmas yang mengenyampingkan tugas UKM. Padahal
pelayanan UKM derajatnya sama atau bahkan lebih penting daripada pelayanan UKP
karena pelayanan UKM yang paripurna dapat menjamin masyarakat tetap sehat sehingga
jumlah kunjungan penduduk yang sakit akan berkurang.
Syarat pendirian klinik diberbagai wilayah sulit dan mahal, mencapai puluhan juta rupiah,
diluar dari biaya investasi bangunan8. Belum lagi tambahan syarat bila FKTP ingin bekerja
sama dengan BPJS. Pemerintah mestinya memfasilitasi agar jumlah klinik dan dokter
praktik yang bekerja sama dengan BPJS bisa bertambah. Sehingga, memaksakan dokter
umum menempuh program studi DLP sebagai syarat agar bisa bekerja di FKTP cenderung,
bersifat kontra produktif.9

6 lihat di “Kebijakan Akselerasi Pengembangan Pelayanan Dokter Keluarga”, Direktorat Bina Pelayanan
Medik Dasar, Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 2007
7 data BPJS sd Agustus 2016, jumlah kunjungan puskesmas adalah 49 juta sedang total kunjungan
FKTP adalah 72 juta.
8 Diskusi informal dengan dokter praktik yang mendirikan klinik
9 lihat penjelasan pasal 8 ayat 2 di UU Pendidikan Kedokteran

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 19
II. PROGRAM STUDI DLP: PEMBOROSAN DAN BUKAN SOLUSI

C. Isu Ketiga: Menyelesaikan Disparitas Pelayanan Kesehatan


Selain kekurangan jumlah, maldistribusi dokter di Indonesia menyebabkan tidak meratanya
pelayanan kesehatan. Di Sumatera dan Jawa Bali sekitar 18 % Puskesmas kekurangan
dokter. Di wilayah Sulawesi Maluku Papua, hampir separuh Puskesmas kekurangan dokter.
Tambahan lagi pada tahun 2015, sebanyak 10% Puskesmas di Indonesia tidak mempunyai
dokter10. Sebaliknya pada tiap wilayah terdapat Puskesmas dengan kelebihan dokter.
Tabel 6. Kecukupan Dokter Puskesmas Menurut Wilayah Tahun 2015
Wilayah Cukup Kurang Lebih
Sumatera 33.3% 18.9% 47.8%
Jawa Bali 39.5% 17.2% 43.3%
NTB Kalimantan 37.3% 35.1% 27.6%
Sulawesi Maluku Papua 32.2% 44.0% 23.7%

Sumber: data Pusdatin Kemenkes 2015, diolah.


Program studi DLP mengharuskan seorang dokter untuk menempuh pendidikan tambahan
setara spesialis selama 3 tahun sebelum bisa berpraktik di FKTP. Konsep ini tidak dapat
menyelesaikan problematika kekurangan dan maldistribusi dokter. Saat pasukan dokter
di butuhkan untuk berpraktik di FKTP demi mencapai Universal Coverage pada tahun 2019,
penambahan masa studi dokter justru mempersulit pencapaian tujuan. Penambahan lama
studi juga akan menambah parahnya maldistribusi, sebagaimana pengalaman pendidikan
perawat dan bidan.
Isunya adalah untuk apa menambah lama pendidikan dokter umum, jika tidak
menyelesaikan masalah kesehatan, dalam hal ini maldistribusi SDM kesehatan atau
pengisian dokter di wilayah terpencil? Padahal tujuan Undang Undang no 20 tahun 2013
tentang pendidikan kedokteran adalah pemerataan persebaran lulusan dokter.
Yang diperlukan adalah reformasi pendidikan kedokteran, melalui subsidi biaya pendidikan,
rekruitmen calon dokter, proses pendidikan yang membuat dokter terbiasa bekerja di
pedesaan, dan lama pendidikan yang cost effective, bukan dengan memperpanjang masa
pendidikan.

10 Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Kemitraan dan Pelayanan Kesehatan Primer,
Diah Satyani Saminarsih pada acara Annual Scientifict Meeting (ASM) 2015 di Fakultas Kedokteran
(FK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (6/3/2015) di akses tanggal 8/9/ 2016 dari http://health.
detik.com/read/2015/03/06/172535/2851941/763/243-puskesmas-di-indonesia-rusak-berat.

20 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
II. PROGRAM STUDI DLP: PEMBOROSAN DAN BUKAN SOLUSI

D. Isu Keempat: Menurunkan Angka Rujukan di FKTP


Asumsi selanjutnya yang tidak tepat mengenai Program studi DLP adalah tujuan
pendiriannya untuk mengatasi tingginya rujukan ke rumah sakit11. Kontak pertama
pelayanan medis pada sistem JKN dilakukan di FKTP. Apabila FKTP tidak mampu
memberikan pelayanan kesehatan, maka dapat melakukan rujukan ke jenjang lanjutan
yaitu FKTL. Tingginya angka rujukan ke rumah sakit (FKTL) menjadi salah satu tolok ukur
rendahnya kualitas layanan primer. Berdasarkan asumsi inilah Dokter Layanan Primer
(DLP) diprediksi menjadi solusi dalam memperkuat pelayanan primer. Padahal Data
Nasional Rasio Rujukan peserta BPJS dari FKTP, baik tahun 201512, maupun 2016 (s/d
bulan Agustus 2016)13 , menunjukkan bahwa angka rasio total rujukan dari FKTP masih di
bawah patokan BPJS 15%, yaitu 12%. Lihat misalnya rasio rujukan tahun 2016 pada Tabel
7 berikut.
Tabel 7. Rasio Rujukan dan Kunjungan FKTP per Tahun 2015-Agustus 2016
Jenis FKTP Kunjungan Rujukan Rasio
Dokter Praktik Perorangan 9.494.333 941.582 9.92%
Klinik TNI 946.395 216.458 22.87%
Klinik POLRI 677.352 112.554 16.62%
Klinik Pratama 19.229.082 2.226.405 11.58%
Puskesmas 48.000.905 5.871.107 12.23%
RS Tipe D Pratama 9.089 919 10.11%
Dokter Gigi Praktik Perorangan 705.479 24.544 3.48%
Total 79.062.635 9.393.569 11.88%

Sumber: laporan BPJS Agustus 2016


Gambaran rujukan pada tiap divisi regional (divre) juga masih dibawah 15 %, lihat Tabel 8
berikut.
Tingginya rasio rujukan terhadap kunjungan pada salah satu jenis FKTP diasumsikan
merupakan sebab dari kurangnya kompetensi dokter di pelayanan primer sehingga
cenderung untuk merujuk. Padahal tingginya angka rujukan pada beberapa lokasi

11 Contoh “Selama ini angka rujukan masih tinggi karena kompetensi dokter di layanan primer masih
perlu ditingkatkan” - See more at: http://www.depkes.go.id/article/view/16102300002/perkuat-
upaya-promotif-preventif-melalui-DLP.html#sthash.Wihin0b6.dpuf
12 Mundiharno, Direktur Perencanaan Pengembangan & MR, BPJS: Jaminan Kesehatan Nasional:
Pencapaian & tantangan dari sudut pandang penyelenggara, Presentasi pada Kongres InaHEA ke-3
Yogyakarta, 28 Juli 2016
13 Laporan BPJS Agustus 2016, permintaan melalui PB IDI

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 21
II. PROGRAM STUDI DLP: PEMBOROSAN DAN BUKAN SOLUSI

Puskesmas belum berarti kelemahan terletak pada dokter di pelayanan primer. Istilah
yang tepat untuk masalah ini adalah ketidakmampuan FKTP, bukan ketidakmampuan
dokter di layanan primer.
Tabel 8. Rasio Rujukan Menurut Divisi Regional (Divre)
Divisi Regional Kunjungan Rujukan Rasio
Divre Aceh dan Sumatera Utara 7.402.741 1.042.110 14,08%
Divre Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Jambi 6.478.934 82.202 1,27%
Divre Sumatera Selatan, Belitung, Bengkuliu 3.175.120 394.355 12,42%
Divre Jabodetabek 14.187.563 1.490.919 10,51%
Divre Jawa Barat 7.733.042 956.814 12,37%
Divre Jawa Tengah dan Yogyakarta 13.270.594 1.321.992 9,96%
Divre Jawa Timur 11.324.645 1.623.738 14,34%
Divre Kalimantan Timur, Tengah, Selatan dan Utara 2.637.044 273.505 10,37%
Divre Sulawesi Selatan, Tenggara, Barat dan Maluku 3.865.883 291.516 7,54%
Divre Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, Maluku Utara 2.022.480 20.513 1,01%
Divre Bali, NTB, dan NTT 2.900.005 269.131 9,28%
Divre Papua dan Papua Barat 637.523 39.463 6,19%
Divre Banten, Kalimantan Barat dan Lampung 3.427.061 379.959 11,09%

Sumber: Laporan BPJS, Agustus 2016.


Terdapat beberapa permasalahan radikal yang berimplikasi pada lemahnya FKTP, yaitu:
1. Fasilitas Kurang Memadai
FKTP mempunyai beban berat dalam memberikan pelayanan kesehatan. FKTP umumnya
memiliki fasilitas yang kurang lengkap jika dibandingkan dengan rumah sakit. Data Riset
Fasilitas Kesehatan Nasional menunjukkan bahwa sebanyak 2,4% Puskesmas di Indonesia
mengalami rusak berat dan 9,9% mengalami rusak sedang. Puskesmas pada wilayah
dengan rasio rujukan tinggi cenderung memiliki presentase tinggi Puskesmas dengan
kerusakan sedang hingga berat.
Kelengkapan peralatan kesehatan menjadi salah satu kunci pelayanan kesehatan yang
berkualitas. Poliklinik umum dan Puskesmas di Indonesia yang memiliki kelengkapan
alat diatas 60% hanya sebesar 42,4%. Bahkan sebesar 3,7% dan 6,3% Puskesmas belum
memiliki alat esensial pemeriksaan yaitu stetoskop dan tensimeter14.

14 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.” Laporan Akhir Riset Fasilitas Kesehatan
Puskesmas 2011.” 2011.

22 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
II. PROGRAM STUDI DLP: PEMBOROSAN DAN BUKAN SOLUSI

Senada dengan itu, pada tahun 2016, berdasarkan hasil Diskusi Kelompok terfokus,
DJSN telah mengidentifikasi bahwa beberapa daerah fasilitas pelayanan yang ada tidak
memungkinkan dokter umum menangani jumlah kasus penyakit yang seharusnya 144
penyakit. Misalnya Jawa Tengah (Semarang) hanya 126 diagnosis; Bali (Denpasar) hanya
110 diagnosis; Sulawesi Selatan (Makasar) hanya 122 diagnosis; Kepulauan Riau (Batam)
hanya 121 diagnosis; Kalimantan Tengah (Palangkaraya) hanya 97 diagnosis; Sumatera
Barat (Padang) hanya 130 diagnosis; Kota Bekasi hanya 126 diagnosis; Kabupaten Bekasi
hanya 122 diagnosis dan Klinik TNI hanya 115 diagnosis.
2. Layanan Pengobatan Tidak Adekuat
Sesuai dengan peraturan menteri kesehatan, biaya obat akan disokong oleh
BPJS termasuk dalam biaya kapitasi, namun pembelanjaan dilakukan mandiri oleh FKTP
atau tenaga kefarmasian dari Dinas Kabupaten15. Berdasarkan 144 diagnosis penyakit
yang dapat ditangani oleh FKTP, tentu harus dipersiapkan obat dengan kapasitas pasien
yang datang. Data tahun 2011 menunjukkan sebanyak 74,6% Puskesmas tidak menerima
pelatihan Penggunaan Obat Rasional. Selain itu, sebesar 44,2% Puskesmas tidak memiliki
pedoman pengobatan dasar. Sedangkan supervisi Dinas Kesehatan dalam hal pengawasan,
evaluasi dan bimbingan program pengobatan hanya berjalan pada 51,4% Puskesmas di
Indonesia16. Dapat dimengerti mengapa penyediaan obat di Puskesmas masih banyak
masalah. Rata-rata Puskesmas hanya mempunyai 70 % obat yang diperlukan17.
Tenaga kesehatan penyelenggara pelayanan pengobatan ditangani oleh ahli kefarmasian.
Jumlah presentase apoteker, S1 Farmasi dan D3 Farmasi pada seluruh Puskesmas di
Indonesia secara berturut-turut adalah 14,3%, 7,5% dan 26,7%18. Keabsenan tenaga ahli
tersebut berimbas pada kualitas pelayanan pengobatan Puskesmas sehingga menjadikan
lemahnya FKTP.
3. Biaya Pelayanan di Atas Biaya Penggantian
Sistem pelayanan JKN mengadopsi prinsip kapitasi dalam penerapannya. Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menyokong dana kapitasi per kapita per bulan pada
FKTP. Standar kapitasi untuk FKTP adalah Rp. 2000 – Rp. 10.000 per orang/per bulan.
Kapitasi ini sebenarnya masih dibawah biaya pelayanan sebenarnya (real cost), yang
diperkirakan sekitar 20.000 per orang19. Sebagai kontak pertama penyedia pelayanan
medis, FKTP cenderung mengeluarkan rujukan pada pasien dengan penyakit yang
diperkirakan memakan biaya pelayanan yang tinggi untuk menghindari defisit internal.

15 PMK No. 28 Tahun 2014


16 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, opcit.
17 ibid
18 ibid
19 diskusi dengan Prof. Hasbullah Thabrani, pakar JKN

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 23
II. PROGRAM STUDI DLP: PEMBOROSAN DAN BUKAN SOLUSI

4. Rujukan Atas Permintaan Sendiri (APS)


Sebagian masyarakat sakit yang bertempat tinggal dekat FKTL, ketika sakit akan
lebih memilih berkunjung ke FKTL tersebut. Bagi sebagian masyarakat tersebut, FKTP
merupakan kontak awal penanganan medis hanya untuk mendapatkan surat rujukan ke
rumah sakit. Hal itunya yang menjadi penyebab tingginya data rujukan pada beberapa
Puskesmas di berbagai wilayah. Misalnya di divisi regional Aceh angka rujukan APS relatif
tinggi, yaitu 30-75% dari total rujukan.20 Pasien telah membayar premi JKN setiap bulannya,
sehingga mereka merasa memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di lokasi
yang menurut mereka lebih baik.
E. Isu Kelima: Mengurangi Biaya Katastrofik
Meroketnya biaya pelayanan kesehatan yang terjadi di banyak negara menjadi perhatian
pemerintah terutama solusi penyelesaian tingginya biaya pelayanan tersebut. Hal yang
sama terjadi di Indonesia. Biaya pelayanan kesehatan di FKTP dan FKTL meroket dari
46 Trilyun rupiah pada tahun 2014, menjadi 61 Trilyun rupiah pada tahun 2015, sebuah
kenaikan 33 %21, jauh diatas inflasi keseluruhan yang dilaporkan oleh BPS, yaitu sebesar
3,35 % pada tahun 2015. Hal ini menjadikan pemerintah kawatir karena mempunyai target
meningkatkan peserta JKN menjadi 100% dari 70%. Sekitar ¾ biaya pelayanan kesehatan
tersebut terjadi di FKTL (INA CBGs), sehingga logis jika pemerintah berusaha meredam
kenaikan biaya di FKTL. Namun solusi kementerian kesehatan, dengan program studi
DLP, agar dokter yang menjadi pelaku awal dalam pelayanan kesehatan di layanan primer
adalah solusi yang inadekuat. Meroketnya biaya pelayanan dalam 2 tahun terakhir ini
karena adanya fenomena adverse selection dan penyakit katastrofik.
Pada periode sosialisasi menuju Universal Coverage, BPJS, sebagai asuransi sosial,
mendorong setiap keluarga untuk menjadi peserta mandiri JKN (atau disebut juga PBPU,
peserta bukan penerima upah), baik dalam kondisi sehat maupun sakit. Jika dibandingkan
dengan asuransi komersial, jelas JKN lebih menguntungkan secara finansial karena tidak
perlu membayar premi yang lebih tinggi atau biaya tambahan ketika mendaftar dalam
keadaan sakit. Namun yang terjadi sekarang ini lebih banyak PBPU yang sakit dibanding
yang sehat. Inilah yang disebut sebagai adverse selection, dengan dampaknya yang
terlihat pada tahun 2015, yaitu dengan jumlah peserta 156,79 juta jiwa, jumlah premi
yang didapat adalah sebesar 52,78 trilyun rupiah, namun biaya pelayanan kesehatan
yang harus dikeluarkan mencapai 57,08 trilyun rupiah, sehingga terjadi defisit sekitar 4,4
trilyun rupiah. Setelah diamati lebih rinci menurut jenis peserta, maka peserta PBPU yang
20 Zahrawardi, “Analisis Pelaksanaan Rujukan Rawat Jalan Tingkat Pertama Peserta Wajib PT. Askes
pada Puskesmas Mibo, Puskesmas Batoh dan Puskesmas Baiturahman di Kota Banda Aceh Tahun
2007. Skripsi. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2007
21 Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Optimalisasi Profesionalisme Dokter Umum Di Tingkat
Pelayanan Primer Pada Era JKN Menyongsong SDG, Disampaikan pada
Pertemuan Ilmiah Tahunan
dan Musyawarah Kerja Nasional PDUI, Jakarta 22 April 2016

24 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
II. PROGRAM STUDI DLP: PEMBOROSAN DAN BUKAN SOLUSI

jumlahnya sekitar 14,96 juta jiwa, menyumbang iuran sebesar 4,6 triliun rupiah (8.86%),
namun BPJS perlu membayar biaya pelayanan kesehatannya sejumlah 16,7 triliun rupiah
(29.22%)22, sebuah rasio benefit/premi sekitar 400 %. Dapat dikatakan defisit tahun 2015
adalah karena peserta PBPU ini.
Defisit JKN juga diakibatkan oleh banyaknya peserta yang menderita penyakit katastrofik
(penyakit berat yang membutuhkan biaya pengobatan tinggi). Sebanyak 33.62% dari total
beban biaya rujukan, diserap oleh jenis penyakit katastrofik seperti penyakit jantung,
gagal ginjal, kanker dan stroke23. Penyakit katastrofik tersebut berasal dari golongan
penyakit tidak menular. Data perbandingan Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 dan 2013
menunjukkan adanya transisi beban kesehatan dari penyakit menular ke penyakit tidak
menular (penyakit kronis) Pelayanan kesehatan bagi pasien kronis jelas membutuhkan
biaya tinggi sehingga memberatkan beban biaya pelayanan.
Program studi DLP bukanlah solusi untuk kedua fenomena diatas. Adanya adverse
selection adalah keniscayaan dalam periode menuju universal coverage. Pemerintah
perlu mencari cara bagaimana membujuk seluruh peserta PBPU ikut dalam sistem JKN.
Penyakit katastrofik hanya bisa diatasi dengan menjalankan program promosi kesehatan,
pencegahan penyakit dan perlindungan khusus, serta deteksi dini dan pengobatan segera.
Namun sebagian besar program promotif dan preventif ini ada di layanan UKM, yang
menjadi kewajiban pemerintah daerah, bukan BPJS. Pelakunya adalah gabungan dari
berbagai tenaga kesehatan. Menambah pendidikan melalui program studi DLP kepada
dokter umum agar lebih berkualitas dalam melakukan pelayanan kepada peserta JKN
adalah pemborosan dan tidak tepat sasaran.

22 Mundiharno, opcit
23 Menteri Kesehatan RI, opcit

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 25
III. DISHARMONI Undang-Undang AKIBAT Dokter
layanan primer

Sejarah perundang-undangan Indonesia penuh dengan berbagai pertentangan dan


kemelut. Permasalahan itu muncul saat budaya kolonial dan budaya dari negara lain,
serta keinginan untuk mempertahankan budaya kita sendiri saling bertentangan. Ini
memunculkan suatu situasi dimana masyarakat bersikap reaktif terhadap ide, wacana,
golongan, bahkan peristiwa tertentu yang tidak sesuai dengan kepercayaan atau
kepentingannya. Belum lagi kepentingan politik, birokrasi dan lembaga-lembaga lainnya.
Semua ini menyebabkan munculnya berbagai peraturan yang saling bertentangan atau
tumpang-tindih
Namun, paradigma hukum terbuka di Indonesia tidak memberi tempat adanya undang-
undang induk atau pokok. Artinya, semua undang-undang berada dalam posisi setara atau
setingkat. Oleh karena itu yang dapat dilakukan adalah harmonisasi horizontal terhadap
semua undang-undang lain yang setingkat.
Salah satu alasan mengapa IDI mengajukan revisi UU 20 tahun 2013 tentang Pendidikan
Kedokteran, adalah UU no 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran—terkait dokter
layanan primer—tidak harmonis dengan dua Undang-undang lainnya, yaitu
1. UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran,
2. UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
Dalam hal ini, ketidakharmonisan yang ada adalah yang mengatur mengenai jenis profesi,
kelembagaan profesi, gelar, praktik layanan dokter dan juga pelaksanaan JKN (Jaminan
Kesehatan Nasional). Detail ketidakharmonisan itu adalah sebagai berikut:
A. Ketidakharmonisan Jenis Profesi
Jenis profesi dalam UU Pendidikan Kedokteran pasal 1 ayat (9), bertumpang-tindih dengan
UU Praktik Kedokteran pasal 1 ayat (2). Lihat Tabel 9 berikut:
Tabel 9. Tumpang Tindih jenis profesi

Undang-undang Bunyi Pasal Keterangan


UU Nomor 29 Pasal 1 ayat (2): Dokter dan dokter gigi adalah dokter, Jenis profesi dokter
Tahun 2004 Praktik dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter gigi spesialis (medis): Dokter, dokter
Kedokteran lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi, dokter spesialis
gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui dokter gigi spesialis
oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.

26 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
III. DISHARMONI UNDANG-UNDANG AKIBAT DOKTER LAYANAN PRIMER

Undang-undang Bunyi Pasal Keterangan


UU Nomor 20 Tahun Pasal 1 ayat (9): Dokter adalah dokter, dokter Jenis profesi dokter:
2013 Pendidikan layanan primer, dokter spesialis-subspesialis lulusan Dokter, Dokter layanan
Kedokteran pendidikan dokter, baik di dalam maupun di luar primer, Dokter spesialis-
negeri, yang diakui oleh Pemerintah. Pasal 1 ayat subspesialis, Dokter gigi,
(10): Dokter Gigi adalah dokter gigi, dokter gigi Dokter gigi spesialis-
spesialis-subspesialis lulusan pendidikan dokter gigi, subspesialis
baik di dalam maupun di luar negeri, yang diakui oleh
Pemerintah.

UU Pendidikan Kedokteran memasukkan ‘dokter layanan primer’ ke dalam jenis profesi


dokter, nomenklatur yang tidak dikenali oleh jenis profesi dokter (medis) dalam UU Praktik
Kedokteran. Problematikanya adalah di UU Praktik Kedokteran, tidak diatur dimana dokter
layanan primer akan berpraktik setelah selesai dididik.
Sebenarnya, dalam hal jenis profesi, UU Pendidikan Kedokteran juga tidak harmonis
dengan UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, Pasal 11 ayat (2) yang
menjelaskan bahwa Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga
medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas dokter, dokter gigi, dokter
spesialis, dan dokter gigi spesialis.
Jadi di dalam UU Tenaga Kesehatan, profesi Dokter Layanan Primer juga tidak dikenal.
Namun Mahkamah Kontitusi (MK) pada tanggal 14 Desember 2016 mengabulkan
sebagian uji materi beberapa pasal UU No 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
yang di mohonkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), MK mencabut pasal 11 ayat (2)
dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Sehingga perbedaan ini tidak relevan. Namun tidak bisa
dihindari, bahwa posisi profesi dokter layanan primer tidak jelas.
IDI berpendapat dokter layanan primer bukanlah gelar profesi, tetapi merujuk pada lokasi
pelayanan, yaitu pelayanan pada FKTP 1. Penamaan lokasi pelayanan menjadi gelar profesi
ini akan merusak sistematika pemberian gelar.
B. Ketidakharmonisan Kewenangan
Kewenangan atau otoritas tugas profesi kedokteran sebagaimana diatur dalam UU
Pendidikan Kedokteran juga tidak harmonis dengan kewenangan yang terdapat dalam UU
Praktik Kedokteran. Untuk jelasnya, lihat pasal 51 huruf (b) UU Praktik Kedokteran dengan
penjelasan pasal 8 ayat (2) UU Pendidikan Kedokteran dalam Tabel 10 berikut.

1 Lihat Peraturan Presiden no 72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 27
III. DISHARMONI UNDANG-UNDANG AKIBAT DOKTER LAYANAN PRIMER

Tabel 10. Ketidakharmonisan Kewenangan

Undang-undang Pasal Keterangan


UU Nomor 29 Pasal 51 Kewenangan pemberian
Tahun 2004 Praktik Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan rujukan oleh dokter dan dokter
Kedokteran praktik kedokteran mempunyai kewajiban: gigi menunjuk pada:
b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain Dokter,
yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang dokter gigi,
lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu dokter spesialis
pemeriksaan atau pengobatan. dokter gigi spesialis
UU Nomor 20 Tahun Penjelasan pasal 8 ayat 2: DLP sebagai pelaku awal pada
2013 Pendidikan Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Program layanan kesehatan tingkat
Kedokteran dokter layanan primer ditujukan untuk memenuhi pertama, penapisan rujukan
kualifikasi sebagai pelaku awal pada layanan tingkat pertama ke tingkat
kesehatan tingkat pertama, melakukan penapisan kedua, serta kendali mutu dan
rujukan tingkat pertama ke tingkat kedua, dan kendali biaya dalam sistem
melakukan kendali mutu serta kendali biaya sesuai jaminan kesehatan nasional
dengan standar kompetensi dokter dalam sistem
jaminan kesehatan nasional.
Ini berarti kewenangan atau otoritas profesi kedokteran juga saling bertentangan. Dalam
UU pendidikan kedokteran pasal 8 ayat (2), dokter berkuasa untuk merujuk pasien dari
sarana kesehatan tingkat pertama ke sarana kesehatan tingkat kedua, melakukan kendali
mutu dan biaya dalam sistem JKN adalah dokter layanan primer. Sedangkan dalam UU
Praktik Kedokteran pasal 51 huruf (b) yang berkuasa untuk memberikan rujukan adalah
dokter, dokter gigi, dokter spesialis-subspesialis, dan dokter gigi spesialis-subspesialis.
Ketidakharmonisan kewenangan atau otoritas antara dokter, dokter gigi, dokter spesialis,
dan dokter gigi spesialis dalam UU tentang Praktik Kedokteran dengan dokter layanan
primer dalam UU tentang Pendidikan Kedokteran dapat berimplikasi menimbulkan
masalah dalam praktik layanan dokter dan juga pelaksanaan JKN.
Dengan dinormakannya profesi baru dokter layanan primer, timbul inkonsistensi norma
yang berakibat kepada kekacauan tatanan sistem hukum praktik kedokteran. Hal ini
dapat diidentifikasi dengan adanya norma “dokter layanan primer” namun tidak memiliki
justifikasi dalam sistem hukum praktik kedokteran, karenanya adanya ketidakcocokan
dengan regulasi dan prosedur praktik kedokteran, terutama mengenai syarat penerbitan
Sertifikat Kompetensi oleh Kolegium terkait, yang hanya mengenal kualifikasi dokter dan
dokter spesialis-subspesialis.
Padahal, kekacauan tatanan sistem hukum dan ketidakpastian hukum mestinya dihindari
karena mengancam jaminan kepastian hukum pada Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.
Konsistensi norma hukum menjadi bagian tak terpisahkan dari kepastian hukum sebagai
sifat utama dari norma Undang-undang. Konsistensi antar subsistem hukum muncul jika

28 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
III. DISHARMONI UNDANG-UNDANG AKIBAT DOKTER LAYANAN PRIMER

sistem tersebut memiliki sifat wholism2. Kepastian hukum yang adil menjadi penyangga
prinsip Negara Hukum (rechs staat). Kepastian hukum yang adil dan keadilan yang
dipastikan dengan hukum3.
Selama ini, praktik pelayanan kedokteran primer dilakukan oleh dokter umum. Salah satu
kewenangan dokter umum adalah memberikan pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) yaitu sebagai kontak pertama. Berdasarkan Permenkes Nomor 71 Tahun 2013
tentang Pelayanan Kesehatan pada JKN pasal 17 bahwa dokter umum melayani jenjang
pelayanan kesehatan tingkat pertama. Sedangkan jika menurut UU tentang Pendidikan
Kedokteran, penjelasan pasal 8 ayat (2) bahwa kontak pertama JKN adalah Dokter Layanan
Primer (DLP). Hal ini berpotensi terjadinya kriminalisasi dokter umum yang menangani
pasien JKN, yang mengakibatkan BPJS rentan terhadap tuntutan akibat bekerjasama
dengan dokter umum dalam penyelenggaran JKN.
C. Ketidakharmonisan Gelar Profesi
UU No 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran juga tidak harmonis dengan UU
Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, yaitu tentang gelar profesi. Hal ini
dapat dilihat pada Tabel 11 berikut.
Tabel 11. Ketidakharmonisan Gelar Profesi

Undang-undang Pasal Keterangan


UU Nomor 20 Tahun Pasal 8 ayat (3)
2013 Pendidikan Program dokter layanan primer sebagaimana
Kedokteran dimaksud pada ayat (1) merupakan kelanjutan
dari program profesi dokter dan program
internsip yang setara dengan program dokter
spesialis Gelar Setara Spesialis
belum melalui
UU Nomor 12 Pasal 26 ayat (6) prosedur yang benar
Tahun 2012 tentang Gelar profesi sebagaimana dimaksud pada sehingga menimbulkan
Pendidikan Tinggi ayat (5) ditetapkan oleh Perguruan Tinggi kesimpangsiuran.
bersama dengan Kementerian, Kementerian
lain, LPNK dan/atau organisasi profesi yang
bertanggung jawab terhadap mutu layanan
profesi.

2 Martinah, “Mahkamah Konstitusi Dari Negative Legislature ke Positive Legislature”, Konstitusi Press,
Jakarta, hal. 5-6
3 Jimly Asshiddiqie, “Komentar atas Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”,
Sinar Grafika, Jakarta, 2013, hal. 117.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 29
III. DISHARMONI UNDANG-UNDANG AKIBAT DOKTER LAYANAN PRIMER

UU Pendidikan Kedokteran menyebutkan dokter layanan primer adalah gelar yang setara
spesialis. Namun, setara spesialis itu tidak sama dengan spesialis. Tidak bisa dihindari
anggapan adalah bahwa setara spesialis itu berada diantara dokter umum dan dokter
spesialis. Masalah yang timbul akibat adanya anggapan baik dari kalangan masyarakat,
maupun kalangan dokter sendiri bahwa dokter umum itu kastanya di bawah spesialis,
menjadi lebih parah, karena sekarang kastanya dibawah dokter spesialis dan dokter
layanan primer.
Ini adalah masalah yang serius dan kronis. Karena itu IDI ingin merevisi UU Pendidikan
Kedokteran, salah satu alasannya adalah agar dokter umum itu sama derajatnya dengan
dokter spesialis, hanya berbeda dalam lapangan pengabdian.

30 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
IV. Penyisipan Pasal DLP Dalam Pembahasan UU
Pendidikan Kedokteran

RUU Pendidikan Kedokteran dibahas selama 2,5 tahun dimulai Januari 2011 hingga Juni
2013. Disahkan dalam paripurna DPR tanggal 11 Juli 2013, dicantumkan dalam lembaran
negara tanggal 6 Agustus 2013.
UU ini dibentuk atas dasar keinginan baik DPR RI untuk merespon
dunia pendidikan kedokteran yang semakin mahal sehingga perlu
kiranya memastikan alokasi mahasiswa miskin dan dari daerah
dapat diterima, kualitas pendidikan kedokteran, Rumah Sakit
Pendidikan, kurikulum pendidikan kedokteran, uji kompetensi,
kuota mahasiswa pendidikan kedokteran, fakultas kedokteran,
penjaminan mutu, dan standar pendidikan kedokteran.
Pendidikan kedokteran sebagai bagian dari sistem pendidikan
nasional perlu diselenggarakan secara terencana, terarah, dan
berkesinambungan untuk menumbuh kembangkan penguasaan,
pemanfaatan, penelitian, serta pemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi di bidang kedokteran dan kedokteran gigi. Upaya penataan itu perlu diatur
secara komprehensif dalam peraturan perundang- undangan.
A. DLP tidak ada dalam Naskah Akademik maupun RUU Uji Publik
Kemudian disusunlah Naskah Akademik sebagai kerangka acuan
untuk pembentukan draf rancangan undang-undang pendidikan
kedokteran. Didalam naskah akademik, yang resmi dikeluarkan
oleh Konsil Kedokteran Indonesia tahun 2011, dijelaskan
Landasan Filosofis, Landasan Historis, 
Landasan Sosiologis
dan Landasan Hukum. Kemudian dijelaskan tentang sistem
pendidikan kedokteran Indonesia, kondisi sistem pendidikan
kedokteran terkini, masalah yang dihadapi, dan tantangan serta
peluang pendidikan kedokteran di masa depan. Dalam seluruh
tulisan naskah akademis itu, yang disebutkan hanya dokter,
dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter gigi spesialis. Istilah
dokter layanan primer sama sekali TIDAK disebutkan.
Atas dasar Naskah Akademis ini, disusun rencana undang undang (RUU) Pendidikan
Kedokteran. Berkali kali perbaikan dilakukan, akhirnya pada tanggal 16 Maret 2012, oleh
Komisi 10 DPRUI, dikeluarkan RUU Pendidikan Kedokteran untuk kepentingan uji publik.
Dalam RUU itu istilah dokter layanan primer juga TIDAK disebutkan.
B. Proses Pembahasan RUU Dikdok di DPR
Menurut salah satu mantan anggota Komisi X yaitu Prof Sudigdo Adi dari Fraksi PDI
Perjuangan, inisiatif mengenai RUU Pendidikan Kedokteran, sesungguhnya telah

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 31
IV. PENYISIPAN PASAL DLP DALAM PEMBAHASAN UU PENDIDIKAN KEDOKTERAN

dibicarakan di Komisi X periode DPR 2004-20091. Konsep awal dari UU ini, setidaknya
beberapa hal, yaitu :
Pertama, Komisi X memandang penting untuk membentuk pendidikan dokter harus
menjadi dokter yang mumpuni. Pemikiran ini merupakan koreksi atas keprihatinan
terhadap situasi pendidikan kedokteran yang saat ini diperpendek masa studinya sehingga
berimplikasi pada materi kurikulum klinis yang berubah pendekatan pengajarannya kepada
mahasiswa lebih banyak sebagai observer saja.
Kedua, Komisi X memandang bahwa dengan penduduk Indonesia semakin banyak, di
butuhkan sebaran dokter yang dapat menjangkau daerah pinggiran yang mumpuni bisa
menangani.
Ketiga, Komisi X melihat bahwa fasilitas pendidikan kedokteran di fakultas Kedokteran
yang bagus hanya sedikit. Banyak Fakultas kedokteran melakukan teaching hospital hanya
nebeng, asal ikut, sehingga menyebabkan lulusan dokter menjadi tidak jelas.
Keempat, bahwa sistem pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia masih amburadul,
antara Rumah sakit pusat, daerah dan kabupaten dan Puskesmas tidak saling terkoordinasi
dengan baik.
Kelima, Komisi X memandang perlu untuk peningkatan kemampuan mahasiswa
kedokteran, maka sebaiknya RS pemerintah semuanya menjadi RS Pendidikan agar RS
pendidikan menjadi luas2.
Sudigdo Adi dengan tegas menyampaikan bahwa di Komisi X tidak pernah ada pembicaraan
mengenai doker layanan primer sebagaimana konsepsi yang saat ini dimuat dalam UU No
20 tahun 2013. Pembahasan awal Komisi X berkutat pada sistem pendidikan kedokteran
yang memiliki kaitan dengan sistem layanan kesehatan. Paradigma dalam pembicaraan
di Komisi X adalah pendidikan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan sistem
kesehatan nasional. Tujuan utama dari inisiatif RUU Pendidikan Kedokteran adalah :
1. Pendidikan dokter di jadikan satu antara akademis dan klinis
2. Kendali mutu, agar fakultas kedokteran yang tidak memenuhi syarat harus ditutup.

1 Tim buku putih melakukan diskusi khusus dengan Prof Sudigdo Adi.
2 Menurut Prof Sudigdo Adi: Untuk dokter yang pintar, ia menjadi pendidik di RS, dan hak mereka
menjadi guru besar di samakan dengan posisi di DIKNAS. Tidak seperti di Indonesia, di Belanda
pada Rumah Sakit yang dijadikan RS pendidikan, Fakultas Kedokteran dan Departemen Kesehatan
menjadi satu, direktur RS juga menjadi dekan pendidikan kedokteran, dengan demikian maka terjadi
pengaturan terintegrasi antara pendidikan dan pelayanan kesehatan, serta penghematan biaya.

32 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
IV. PENYISIPAN PASAL DLP DALAM PEMBAHASAN UU PENDIDIKAN KEDOKTERAN

3. Alokasi anggaran untuk pendidikan dokter, agar negara dapat memberikan subsidi
pendidikan kesehatan agar murah dan dapat diakses oleh rakyat miskin.
Untuk mendalami tujuan sebenarnya dari UU no 20 tahun 2013 tentang Pendidikan
Kedokteran, Tim Buku Putih DLP melakukan kajian terhadap seluruh risalah sidang
pembahasan RUU Pendidikan Kedokteran dari awal tahun 2011 hingga pertengahan tahun
2013. Jumlahnya sekitar 876 halaman. Dalam risalah tersebut tercatat DPR melakukan
pembahasan RUU sebanyak 23 kali dengan perincian sebagai berikut:
1. Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) sebanyak 9 kali sepanjang Januari hingga
Juni 2011 dengan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan. Rinciannya sebagai
berikut :

Kamis, 13 Januari 2011 : RDPU dengan Deputi Perundang-undangan


Kamis, 27 Januari 2011 : RDPU dengan Pakar Kedokteran yaitu Lukman Hakim,
Prof. Dr Sudigdo Adi, dr. Pranawa, Dr dr Fahmi Idris
Kamis, 17 Februari 2011 : RDPU dengan Deputi Perundang-undangan dan TIM
Kamis, 24 Februari 2011 : RDPU dengan Deputi Perundang-undangan dan TIM
Rabu, 9 Maret 2011 : RDPU dengan Rektor-Rektor Universitas yaitu Universitas
Diponegoro, Universitas Sriwijaya, Universitas Hasanudin,
Universitas Mulawarman, Universitas Trisakti, Universitas
Yarsi, dan Universitas Kristen Indonesia
Rabu, 9 Maret 2011 : RDPU dengan ARSPI (Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan
Indonesia)
Kamis, 9 Juni 2011 : RDPU dengan Pakar Pendidikan Kedokteran yaitu Prof. Dr
Sudigdo Adi, Prof DR Drg Egi Surya Sumantri, Prof. Dr dr
Akmal Taher, Prof. Dr dr Laksono Trisnantoro, Dr dr Fahmi
Idris, dr Pranawa
Senin, 20 Juni 2011 : RDPU dengan Prof Dr dr Laksono Trisnantoro
Kamis, 2 Februari 2012 : RDPU dengan Fakultas Kedokteran UI dan Panja
Pemerintah
2. Rapat Dengan Pendapat (RDP) dengan pemerintah pada tanggal 27 Januari 2011
dengan Balitbang Kementerian Kesehatan
3. Lokakarya pada tanggal 23 Maret 2011 khusus mengenai kurikulum pendidikan
kedokteran dengan melibatkan beberapa pemangku kepentingan yaitu Sudigdo Adi,
BUKD diwakili Bambang S, PRSDM diwakili Yudianto, PB IDI diwakili dr. Priyo Sidi
Pratomo, dan PDUI diwakili Bram.
4. Pembahasan dalam Panitia Kerja (Panja) sebanyak 12 kali yaitu : Panja 11 Maret
2011, 15 Maret, 23 Maret 2011, 2 April 2012, 4 April 2012, 9 April 2012, 11 Maret
2013, 25 Juni 2013, 26 Juni 2013 (3 sesi sidang), dan 4 Juli 2013 (panja gabungan

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 33
IV. PENYISIPAN PASAL DLP DALAM PEMBAHASAN UU PENDIDIKAN KEDOKTERAN

dengan Komisi IX). Pembahasan dalam Panja beberapa kali juga melibatkan pakar
seperti Prof Sulaksono pada tanggal 15 Maret 2013, dan Prof. Ilham Marsis Oetomo
dari PB IDI.
Dari kajian Tim Buku Putih PB IDI, terkonfirmasi bahwa rapat panja RUU Pendidikan
Kedokteran Komisi X dari tanggal 11 Maret 2011 hingga 25 Juni 2013 tidak ada pembahasan
mengenai profesi dokter layanan primer maupun program studi dokter layanan primer.
Isu-isu yang menjadi fokus pembahasan di antaranya adalah mengenai rumah sakit
pendidikan, kuota penerimaan mahasiswa kedokteran, fakultas kedokteran, dokter
subspesialis, uji kompetensi, kurikulum pendidikan kedokteran, sinkronisasi standar
pendidikan kedokteran versi UU No 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran dan RUU
Pendidikan Kedokteran.
Dalam rapat-rapat panja ditegaskan sejumlah hal yaitu :
1. Jenis profesi kedokteran spesialis adalah 4 jenis yaitu dokter, dokter spesialis,
dokter gigi, dan dokter gigi spesialis. Terhadap profesi dokter spesialis, panja
RUU menyepakai untuk mengakomodassi perkembangan profesi kedokteran
spesialis dengan menambahkan dokter subspesialis. Dokter subspesialis
masih berada dalam 1 domain dengan dokter spesialis.
2. Mengenai kurikulum kedokteran, anggota panja berpendapat bahwa kurikulum
pokok pendidikan kedokteran paling tidak mengadopsi keilmuan bio medis,
keterampilan kedokteran klinis, bioetika atau humaniora kesehatan, dan
kedokteran komunitas atau kesehatan masyarakat.
3. Mengenai organisasi profesi, anggota panja sepakat bahwa organisasi
profesi merujuk pada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Gigi
Indonesia (PDGI). Penempatan rujukan organisasi ini diusulkan untuk dimuat
dalam penjelasan pasal, namun pada akhirnya disepakati agar dicantumkan
eksplisit dalam peraturan yang lebih operasional dalam Peraturan Pemerintah
maupun Peraturan Menteri.
4. Mengenai pelayanan pada tingkat primer, dilakukan dengan penguatan
kompetensi dokter melalui kursus-kursus.
5. Pelaku pelayanan primer merujuk pada komunitas dokter yang menangani
pasien pada tingkat primer yaitu dokter umum maupun dokter spesialis.
C. Penyisipan pasal DLP
Pada Draf RUU Pendidikan Kedokteran tanggal 21 Maret 2011 dan Draf RUU Pendidikan
Kedokteran versi tanggal 16 Maret 2012 tidak terdapat satu pasal pun mengenai jenis
profesi dokter layanan primer mau pun program studi DLP. DLP baru muncul dalam draf
RUU hasil rapat timus (tim perumus)/timsin (tim sinkronisasi) tanggal 25-26 Juni 2013

34 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
IV. PENYISIPAN PASAL DLP DALAM PEMBAHASAN UU PENDIDIKAN KEDOKTERAN

yang disusun setelah rapat konsinyering timus/timsin yang berlangsung tanggal 25-26
Juni 2013.
Dari kajian terhadap risalah sidang pembahasan RUU Pendidikan Kedokteran membuktikan
bahwa sepanjang pembahasan sejak tahun 2011 hingga 2013 atau setelah 19 kali
pertemuan dari lokakarya, rapat dengar pendapat umum (RDPU), rapat dengar pendapat
(RDP), rapat panja termasuk di dalamnya rapat tim perumus (timus), tidak pernah ada
pembahasan mengenai dokter layanan primer meliputi definisi, jenis profesi baru DLP,
program studi DLP mau pun kurikulum DLP.
Lalu kapan DLP disisipkan? Materi mengenai DLP baru diusulkan di dalam rapat tim
perumus (timus) dan langsung disepakati dalam 1 sesi sidang pagi pukul 10.15-13.00
WIB, tanggal 26 Juni 2013. Pengusul materi mengenai DLP adalah dari pemerintah.
Mengapa disebut penyisipan pasal? Pada dasarnya tim perumus panja RUU hanya tim
yang merumuskan redaksional dari pokok-pokok substansi yang disepakati dalam pleno
panja RUU. Tim perumus seharusnya tidak boleh menambahkan substansi baru. Namun
pembahasan dalam tim perumus (timus) RUU Pendidikan Kedokteran ini membuktikan
praktik yang berbeda dari kelaziman. Pembahasan materi usulan baru DLP ini pun hanya
dibahas singkat, kurang lebih 3 jam saja. Kajian ini mengkonfirmasi bahwa usulan mengenai
DLP tidak melalui suatu pemikiran mendasar, jernih dan matang, apalagi didasarkan pada
penelitian atau kajian yang cukup layak.
Konsekuensi dari usulan baru yang tidak melalui proses penelitian, pengkajian dan
pemikiran yang mendasar, jernih dan matang terlihat dari konsep DLP yang kabur dan
berubah-ubah. Kronologi pembahasan Rancangan Undang-undang Tentang Pendidikan
Kedokteran memperjelas bahwa pengertian-pengertian fundamental yang disampaikan
tidak konsisten terkait dengan jenis profesi, definisi, kurikulum, dan lain-lain.
1. Berubahnya jenis profesi kedokteran
Sepanjang Tahun 2011-2013, dalam rapat pleno panja hingga rapat tim perumus yaitu
tanggal Panja 11 Maret 2011, 15 Maret, 23 Maret 2011, 2 April 2012, 4 April 2012, 9
April 2012, 11 Maret 2013, dan 25 Juni 2013, jenis profesi dokter meliputi 4 (empat)
jenis profesi dengan mengakomodasi kategori tambahan dokter subspesialis yang masih
berada dalam ruang lingkup dokter spesialis, sehingga jenis profesi dokter adalah dokter,
dokter spesialis-subspesialis, dokter gigi, dan dokter gigi spesialis.
Berikut kutipan pernyataan ‘terakhir” dalam sidang tanggal 25 Juni 20133 :

Pimpinan Rapat : “Saya langsung ke DIM 18. Silakan Pak Akmal untuk
memberikan keterangannya.”

3 DPR RI, Risalah Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja Tentang Rancangan Undang Undang Tentang
Pendidikan Kedokteran, 25 Juni 2013

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 35
IV. PENYISIPAN PASAL DLP DALAM PEMBAHASAN UU PENDIDIKAN KEDOKTERAN

Kemenkes : Seperti yang tadi Pak, artinya perbedaannya adalah bukan


lulusan pendidikan kedokteran, tapi pendidikan dokter. Jadi
(Prof Akmal) dokter adalah dokter, dokter subspesialis adalah dokter
subspesialis, lulusan pendidikan kedokteran diganti “pendidikan
dokter”, yang lainnya sama. Hanya itu saja.
Pimpinan Rapat : Jadi oke semua ya. Jadi sekarang yang DIM 18 oke ya.
Selanjutnya terjadi perubahan pengertian jenis profesi dokter seketika ketika pada sidang
tanggal 26 Juni 2013 sesi sidang pagi pukul 10.15-13.00, dalam pembahasan DIM No 80.
Kementerian Kesehatan diwakili Prof Dr Akmal Taher menyebut jenis profesi baru dokter
layanan primer. Berikut sejumlah kutipan pernyataannya4 :
Pemerintah (Prof. Akmal) :
“ Terima kasih Pak. Saya mengerti sekali tentang kebingungan karena kita yang membuat
bingung ini, cuma saya senang artinya secara filosofis tadi kata bapak kita sepakat itu bahwa
memang hal seperti ini. Tetapi sekarang kalau begitu gimana masuknya, masuknya ini bayangan
saya nanti waktu kita ngomong DIM 77 tentang Pendidikan Profesi, itu cuma ada profesi dokter
dan dokter gigi, kemudian dokter spesialis, dan subspesialis. Mestinya kita tambahkan ada
dokter layanan primer. Itu nyambung, bahwa pendidikan itu terdiri atas itu sehingga nanti
jelas, bahwa dokter itu bukan cuma jadi spesialis, tapi dokter layanan primer ini apalagi kalau
memang kita sepakat secara filosofis ini memerlukan bantuan. “
Pernyataan berikutnya :
“.....untuk memperluas pelayanan kesehatan primer pemerintah menyelenggarakan program
pendidikan dokter layanan primer dan mengembangkan profesi dokter layanan primer.”
2. Dokter Keluarga tidak ada dalam pembahasan Kurikulum Pokok Pendidikan
Kedokteran
Fokus utama kurikulum pokok pendidikan kedokteran paling tidak mengadopsi keilmuan
biomedis, keterampilan kedokteran klinis, bio etika atau humaniora kesehatan, dan
kedokteran komunitas atau kesehatan masyarakat.
Berikut adalah kutipan rapat panja tanggal 2 April 2012 sebagai berikut5 :

4 DPR RI, Risalah Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja Tentang Rancangan Undang Undang Tentang
Pendidikan Kedokteran, 26 Juni 2013
5 DPR RI, Risalah Rapat Panitia Kerja Rancangan Undang Undang Tentang Pendidikan Kedokteran, 2
April 2012

36 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
IV. PENYISIPAN PASAL DLP DALAM PEMBAHASAN UU PENDIDIKAN KEDOKTERAN

PEMERINTAH : “ Kita sepakat dengan pasal ini pak. Jadi, ada dengan ayat , maaf di
usulan uji publik. Hanya saja di, kita harus menambahkan didalam
penjelasan bahwa ada unsur humaniora kesehatan, ada unsur
kedokteran komunitas dan juga kita perhatikan didalam pada waktu
melaksanakan ini. Penjelasan saja pak.”
Bahkan hingga rapat tanggal 4 Juli 2013 panja RUU masih menyebutkan kurikulum
sebagai berikut :

PIMPINAN RAPAT : Pasal 7 ayat 1, 2 dan 3 tetap. Ayat 4, Timus mengusulkan ada
penambahan ayat, yang materi dan redaksinya merupakan
pindahan dari pasal 17. Coba lihat pasal 17 ayat 2 dengan
rumusan sebagai berikut. “Pendidikan akademik sebagaimana
dimaksud pada ayat 1 melaksanakan pembelajaran akademik
laboratorium dan lapangan dibidang ilmu biomedis, bioetika,
humaniora, kesehatan, ilmu kependidikan kedokteran serta
kedokteran komunitas kesehatan masyarakat. Ada tambahan
ayat, tadi sudah dijelaskan diatas pindahan dari pasal 17 ayat
2. Tolong dicek lagi Pak. Kalau setuju kita ketok ini.
F. PDI-P/ KOM. IX (DR. : Usul : “kedokteran komunitas garis miring kesehatan
SURYA CHANDRA masyarakat. Saya usulkan jangan garis miring, “dan”.
SURAPATY)
PIMPINAN RAPAT : Kita tambah “dan”. Kedokteran komunitas dan kesehatan
masyarakat. Gimana kira-kira, pemerintah setuju, oke. Sekarang
kita ketok.
(RAPAT SETUJU)
Persandingan perihal kurikulum ini dengan UU No 20 Tahun 2013 Tentang Pendidikan
Kedokteran terkonfirmasi bahwa tidak ada 1 kata pun menyebut materi kurikulum
pendidikan kedokteran mengadopsi ‘dokter keluarga.’ Hingga rapat terakhir gabungan
dengan Komisi IX, tanggal 4 Juli 2013, materi kurikulum dokter keluarga tidak tersebut
sama sekali.
Secara singkat, dari pembahasan di DPR, konsep mengenai urgensi dokter layanan primer
dibangun dari argumentasi lemahnya kompetensi dokter layanan primer saat ini yaitu
dokter umum. Tidak dikaji mendalam sebab-sebab hulu dari lemahnya kompetensi dokter
umum, seperti persoalan melubernya quota penerimaan mahasiswa fakultas pendidikan
kedokteran, kurangnya fasilitas praktik klinis di mana salah satunya adalah pemenuhan
syarat keberadaan Rumah sakit pendidikan, kualitas dan kuantitas dosen pengajar,

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 37
IV. PENYISIPAN PASAL DLP DALAM PEMBAHASAN UU PENDIDIKAN KEDOKTERAN

kurikulum, dan lain-lain, maupun pada aspek hilir yaitu praktik layanan kesehatan pada
tingkat primer yang tidak memenuhi syarat karena faktor kekurangan alat medis dan
obat-obatan.
Program dokter layanan primer pun belum memiliki arah pasti dalam hal model
pendidikannya, apakah dokter umum harus mengikuti perkuliahan kembali, atau melalui
modul-modul yang disusun oleh IDI selaku organisasi profesi.
Konsep pemerintah mengenai dokter layanan primer juga tidak jelas apakah dokter
spesialis, bukan spesialis, atau jenis profesi baru. Jika dokter layanan primer adalah dokter
keluarga dan menempuh pendidikan tambahan setelah dokter umum, maka semestinya
DLP merupakan dokter spesialis. Namun pemerintah memaksa DLP menjadi bentuk
profesi baru yang dimuat dalam undang-undang sehingga menimbulkan persoalan baru
akibat penambahan ‘kamar’ jenis profesi dokter.
D. Keterlibatan IDI dalam Pembahasan RUU Pendidikan Kedokteran
Pada tanggal 10 Februari 2013 PB IDI mendapat undangan mendadak dari Panja
Pemerintah Rancangan Undang-Undang (RUU) Pendidikan Kedokteran (Dikdok) yang
ditujukan kepada pemangku kepentingan untuk dapat memberi asupan pada Presiden
dan Mendikbud yang akan bertemu DPR RI pada tanggal 13 Februari 2013. Pihak DPR
ingin mengetahui keinginan pemerintah tentang Rencana Undang Undang Pendidikan
Kedokteran apakah akan dilanjutkan atau tidak. Pertemuan tersebut dipimpinan oleh Prof.
Dr. Ali Gufron, MPH yang saat itu menjabat Wakil Menteri Kesehatan RI.
Dalam pertemuan tersebut, Prof.Marsis menyampaikan bahwa IDI bersedia menjadi
bagian dari Panja Pemerintah dengan beberapa catatan sebagai berikut:
1. Jika ingin meneruskan pembahasan Rencana Undang Undang Pendidikan
Kedokteran harus disepakati bahwa tujuan pembuatan Undang Undang no 20
tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran adalah untuk menata sistem dan
program pendidikan kedokteran di Indonesia, sehingga mampu dalam jangka
waktu relatif pendek dapat memenuhi pelayanan kesehatan masyarakat
Indonesia yang berkualitas dan berkeadilan.
2. Draf RUU merupakan perombakan total dari draf RencanaUndang Undang
Pendidikan Kedokteran tanggal 16 April 2012, yang sangat jelas mengeliminir
peran organisasi profesi dan kolegium serta KKI.
3. Dalam draf yang baru hendaknya jangan mengatur dan memuat hal-hal yang
sudah diatur oleh undang-undang sebelumnya dan jangan mengeliminir
institusi yang sudah berfungsi dan tercantum dalam undang-undang
sebelumnya6. Rencana Undang Undang Pendidikan Kedokteran hendaknya
6 Yang dimaksud adalah UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No.29 tahun
2004 tentang Praktik Kedokteran, dan UU No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi

38 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
IV. PENYISIPAN PASAL DLP DALAM PEMBAHASAN UU PENDIDIKAN KEDOKTERAN

tidak mempunyai tujuan untuk meniadakan UU Praktik Kedokteran yang


bersifat legi posterior.
4. Hal-hal yang dapat diatur dengan peraturan pemerintah (PP) atau peraturan
menteri tidak perlu dicantumkan dalam RencanaUndang Undang Pendidikan
Kedokteran, oleh karena perubahan-perubahan dalam pendidikan kedokteran
berlangsung cepat, sehingga bila dalam bentuk PP dan atau Permen maka
perubahan dapat dilakukan dengan lebih cepat.
IDI konsisten dalam menolak frasa dokter layanan primer dan mengawal agar peran
organisasi profesi dan kolegiumnya tercantum secara eksplisit di dalam pasal-pasal
tertentu di dalam RUU, yaitu:
1. Pasal 1 tentang Ketentuan Umum
2. Pasal 5 tentang pembentukan fakultas kedokteran
3. Pasal 7 tentang program internship
4. Pasal 8 tentang program pendidikan spesialis-subspesialis
5. Pasal 11 tentang fakultas kedokteran
6. Pasal 26 tentang standar nasional pendidikan kedokteran
7. Pasal 38 dan 40 tentang uji kompetensi
Akhirnya pada tanggal 6 Agustus 2013, Undang-Undang 20 tahun 2013 tentang
Pendidikan Kedokteran resmi disahkan. Perlu dicatat, bahwa meskipun IDI tetap menolak
substansi DLP di dalam undang-undang itu, IDI menyetujui tentang pembentukan
pembentukan fakultas kedokteran, program internship, program pendidikan spesialis-
subspesialis, standar nasional pendidikan kedokteran dan uji kompetensi.

Aksi Damai IDI 24-10-2016


Dalam sejarah, IDI turun kejalan baru dua kali. Pertama pada tanggal 27 November
2013 dalam memprotes dipenjaranya sejawat dr. Ayu di Manado. Yang kedua sekarang
ini, ketika memprotes kebijakan pemerintah dalam menggoalkan Program Studi Dokter
Layanan Primer. Banyak pertanyaan: mengapa IDI, sebagai organisasi profesi turun
kejalan? Bukankah IDI sudah terlibat dalam penyusunan konsep DLP sejak awal?
PB IDI yang meski ikut dalam rapat pembentukan Rencana Undang Undang Pendidikan
Kedokteran selalu menyatakan keberatannya tentang pasal pasal DLP. Perhimpunan
Dokter Umum Indonesia (PDUI), sebagai pemangku kepentingan terbesar dari dokter
umum, mengajukan Permohonan Uji Materil Undang Undang Pendidikan Kedokteran
Nomor 20 tahun 2013 kepada Makamah Konstitusi, tanggal 21 Oktober 2014 dengan
Nomor 122/PUU-XII/2014. Namun pengajuan ini ditolak pada tanggal 7 Desember 2015.
Pada saat yang hampir bersamaan, Muktamar IDI XXIX tahun 2015, dalam Komisi B,
menolak DLP untuk dibahas baik dalam BME (Basic Medical Education) maupun dalam

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 39
IV. PENYISIPAN PASAL DLP DALAM PEMBAHASAN UU PENDIDIKAN KEDOKTERAN

PGME (Post Graduate Medical Education). Sidang pleno dalam Mukmatar itu menguatkan
keputusan itu, menjadi keputusan Muktamar.
Menindaklanjuti amanah muktamar, PB IDI membentuk Tim Telaah dan Advokasi Dokter
Layanan Primer, dengan SK PB IDI No. 00257/PB/A.4/04/2016 tanggal 20 April 2016.
Rapat Pleno PB IDI dan Rapat Pleno Diperluas yang diadakan pada tanggal 16 April 2016
memutuskan sikap IDI untuk mengawal DLP dengan melakukan kajian dalam bentuk
buku putih. Untuk itu PB IDI kemudian membentuk Tim Penyusun Buku Putih Kajian DLP
melalui SK No. 00371/PB/A.4/06/2017 tanggal
15 Juni 2016. Tim tersebut untuk mengawal RPP
Dikdok pada setiap pertemuan dengan Tim Pokjanas
RPP Undang Undang no 20 tahun 2013 tentang
Pendidikan Kedokteran. Namun, dalam berkali kali
pertemuan dengan Tim Pokjanas baik di Gedung
Kemenristekdikti maupun di Hotel Century Senayan
selalu tidak ada titik temu.
Jalan yang ditempuh oleh tim Buku putih adalah
melakukan berbagai diskusi dengan departemen
terkait dengan Kementerian Kesehatan serta
Kementerian Riset dan Teknologi Tinggi menjelaskan
mengapa program studi DLP adalah program yang
memboroskan dan tidak menyelesaikan masalah
pelayanan kesehatan. Selain itu, atas inisiatif
beberapa anggota PB IDI, maka tim buku putih
merapat kepada fraksi fraksi di DPR, melakukan hal
yang sama. Pada berbagai kesempatan pertemuan
dengan komisi IX, komisi X, Fraksi PDIP, Fraksi PKS,
Fraksi Golkar, Fraksi Demokrat, Tim Buku Putih
juga menjelaskan alasan IDI menolak program studi
DLP. Komisi IX DPR memberi waktu 90 hari agar
IDI dan pemerintah melakukan pendekatan untuk
menghilangkan perbedaan. Dan tidak melakukan kegiatan yang dapat memperuncing
perbedaan.
Namun terbit surat Kemenkes yang terus mempersiapkan pembukaan Prodi DLP dengan
memberikan surat kepada Gubernur seluruh Indonesia untuk mengirimkan dokter-dokter
Puskesmas menempuh Pendidikan DLP. Dampaknya banyak anggota IDI di Cabang dan
Wilayah seluruh Indonesia gelisah, nampak dari banyaknya pertanyaan langsung, email
dan pernyataan berkelompok dari anggota IDI kepada pengurus IDI Cabang. Mereka
mengusulkan protes atau demo.
Pada awalnya PB IDI, sebagai perhimpunan profesi tidak setuju demo. Salah seorang
anggota Pengurus IDI menjembatani usulan dan desakan aksi protes anak anak muda

40 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
IV. PENYISIPAN PASAL DLP DALAM PEMBAHASAN UU PENDIDIKAN KEDOKTERAN

IDI itu dengan bertemu di Kalibata Mall hari minggu 2


Oktober 2016. Dalam pertemuan itu 40 anggota IDI yang
hadir yang tergabung dalam kelompok Anak Muda IDI
mendesak demo. Salah satu desakan adalah agar turun ke
Jalan tepat di Hari Jadi Ikatan Dokter Indonesia 24 Oktober
2016. PB IDI masih tetap tidak setuju, namun anggota
tetap ingin melakukan aksi turun kejalan. Pada rapat itu,
diputuskan turun kejalan dengan tema Aksi Damai Dokter
Indonesia Tolak Prodi DLP. Namun saat itu PBIDI tetap
belum setuju.
Suasana makin menghangat. Setelah anggota Pengurus
IDI pulang dari pertemuan tersebut dan melaporkan
putusan itu, Ketua IDI Cabang dan Ketua Wilayah IDI
Banten mendukung penuh Aksi Damai Ikatan Dokter
Indonesia Tolak Prodi DLP. Melalui media sosial Anggota
IDI cadang dan wilayah lain mendorong aksi turun kejalan. Melalui rapat Pleno PB IDI
tanggal 13 Oktober 2016 aksi turun kejalan dibahas. Namun Ketua Umum PB IDI dan para
Dewan Pakar PB IDI tetap belum memberikan lampu hijau.
Tidak bisa dipungkiri peranan Media Sosial begitu penting. Banyak anggota IDI seluruh
Indonesia melakukan protes terhadap Kementerian Kesehatan dan Kemenristekdikti.
Kelompok kelompok dokter yang tergabung dalam DIB (Dokter Indonesia Bersatu) serta
PDIB (Perhimpunan Dokter Indonesia Bersatu) yang anggotanya adalah semua anggota
IDI juga protes. Lebih kurang 300 surat Ketua Cabang dan Wilayah seluruh Indonesia
masuk ke PB IDI yang semuanya memprotes kebijakan pemerintah dalam membuka Prodi
DLP.
Dalam Rapat Cito Pleno IDI di Sam Ratulangi 29 tanggal 18 Oktober 2016, IDI memutuskan
untuk melakukan unjuk rasa dengan nama Kegiatan: Aksi Damai Hari Ulang Tahun IDI.
Dibentuk Panitia untuk melakukan persiapan. Tema besarnya adalah Reformasi Sistem
Kesehatan dan Sistem Pendidikan Kedokteran Yang Pro Rakyat. Salah satu sub temanya
adalah “Prodi DLP Pemborosan, bukan solusi”.
Panitia Aksi Damai IDI Tolak Prodi DLP kemudian merancang aturan Aksi Damai. Salah
satunya agar selama aksi, pelayanan emergensi disetiap sarana pelayanan kesehatan
seluruh Indonesia baik swasta dan pemerintah tetap berjalan. Berbagai rapat berikutnya
memutuskan, aksi damai boleh dilakukan di Jakarta, maupun menyelenggarakan aksi
damai sendiri di wilayah.
Akhirnya, pada tanggal 24 oktober berlangsunglah Aksi Damai IDI Tolak Prodi DLP
yang diikuti lebih kurang 4000 dokter di Jakarta dengan sasaran Istana Presiden dan
Kementerian Kesehatan. Selain itu di berbagai daerah juga berlangung Aksi Damai dokter
seluruh Indonesia baik Kabupaten/ Kota dan Provinsi. Diperkirakan lebih kurang 40.000
dokter seluruh Indonesia ikut dalam Aksi damai itu.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 41
AKSI DAMAI IDI MENUNTUT REFORMASI SISTEM
PENDIDIKAN KEDOKTERAN
DKI JAKARTA DAN BERBAGAI DAERAH DI INDONESIA
SENIN, 24 OKTOBER 2016

Gambar 1A, B dan C. Berangkat menuju Monas

Gambar 2. Perwakilan dokter dari


seluruh Indonesia hadir di ibukota
Gambar 3. Gelar orasi aksi damai di
untuk menyuarakan reformasi sistem
Monas, karena tidak dapat memasuki
pendidikan kedokteran sebelum
jalan di depan Istana Presiden
berdampak pada sistem pelayanan
kesehatan nasional

42 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Aksi Damai Idi Menuntut Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran, DKI Jakarta & Berbagai Daerah Di
Indonesia, Senin, 24 Oktober 2016

Gambar 4. Aksi Damai IDI di Riau

Gambar 5A dan B. Aksi Damai IDI di Sumatera Selatan

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 43
Aksi Damai Idi Menuntut Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran, DKI Jakarta & Berbagai Daerah Di
Indonesia, Senin, 24 Oktober 2016

Gambar 6. Aksi Damai IDI di Bandar Lampung

Gambar 7. Aksi Damai IDI di Karanganyar

44 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Aksi Damai Idi Menuntut Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran, DKI Jakarta & Berbagai Daerah Di
Indonesia, Senin, 24 Oktober 2016

Gambar 8. Aksi Damai IDI di Magetan

Gambar 9. Aksi Damai IDI di Trenggalek

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 45
Aksi Damai Idi Menuntut Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran, DKI Jakarta & Berbagai Daerah Di
Indonesia, Senin, 24 Oktober 2016

Gambar 10. Aksi Damai IDI di Kabupaten Kediri

Gambar 11.A, B dan C. Aksi Damai IDI se- Kalimantan Timur

46 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Aksi Damai Idi Menuntut Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran, DKI Jakarta & Berbagai Daerah Di
Indonesia, Senin, 24 Oktober 2016

Gambar 12. Aksi Damai IDI di Bali

Gambar 13. Aksi Damai IDI di Bolaang Mongondow Raya

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 47
Aksi Damai Idi Menuntut Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran, DKI Jakarta & Berbagai Daerah Di
Indonesia, Senin, 24 Oktober 2016

Gambar 14. Aksi Damai IDI di Konawe Selatan

Gambar 15. Aksi Damai IDI se Provinsi Maluku Utara

48 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Aksi Damai Idi Menuntut Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran, DKI Jakarta & Berbagai Daerah Di
Indonesia, Senin, 24 Oktober 2016

Gambar 16. Aksi Damai IDI di Maluku

Gambar 17. Aksi Damai IDI di Kabupaten Sampang

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 49
Aksi Damai Idi Menuntut Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran, DKI Jakarta & Berbagai Daerah Di
Indonesia, Senin, 24 Oktober 2016

Gambar 18. Aksi Damai IDI di Gorontalo

Gambar 19. Aksi Damai IDI di Pare Pare

50 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
V. Upaya Metamorfosa
Kedokteran Keluarga Menjadi DLP

IDI berpendapat, DLP adalah metamorfosa dari dokter keluarga. IDI mengusulkan dari pada
membuka program studi DLP yang setara spesialis, lebih baik mengembangkan spesialis
dokter keluarga. Karena saat ini, dalam rumah besar IDI telah terbentuk Perhimpunan
Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga dan sudah memiliki Kolegium Ilmu Kedokteran
Keluarga Indonesia yang disingkat KIKKI.

A. Kilas balik IDI


Tahun 1926. Perkumpulan Vereniging van Indische Artsen berubah namanya menjadi
Vereniging Van Indonesische Genesjkundigen (VIG). Perubahan ini timbul dari rasa
nasionalisme, yang mengubah kata “indische” menjadi “Indonesische”. Tujuan VIG
ialah menyuarakan pendapat dokter untuk mempersamakan kedudukan antara
dokter pribumi dengan dokter Belanda dari segi kualitasnya.
Tahun 1940. VIG mengadakan kongres di Solo. Kongres tersebut mengumpulkan
3000 istilah baru dalam dunia kedokteran dan menuntut peningkatan gaji (upah)
dokter Melayu dengan hasil peningkatan upah mencapai 70% dari jumlah semula
yang hanya 50% dibandingkan dengan dokter Belanda. Serta pemberian kesempatan
pendidikan lanjutan bagi dokter Melayu.
Tahun 1943. Dalam masa pendudukan Jepang, VIG dibubarkan dan diganti menjadi
Jawa izi Hooko-Kai.
30 Juli 1950. PB Perthabin (Persatuan Thabib Indonesia) dan DP-PDI (Perkumpulan
Dokter Indonesia) membentuk panitia penyelenggara Muktamar Dokter Warga
Negara Indonesia (PMDWNI) yang bertugas menyelenggarakan ‘Muktamar Dokter
Warga Negara Indonesia’. Muktamar bertujuan untuk mendirikan suatu perkumpulan
dokter warga negara Indonesia yang baru, dan merupakan wadah representasi
dunia dokter Indonesia. Muktamar Ikatan Dokter Indonesia (MIDI) dilaksanakan pada
22-25 September 1950 bertempat di Deca Park yang kemudian menjadi gedung
pertemuan Kotapraja Jakarta. Sebanyak 181 dokter WNI (62 di antaranya datang dari
luar Jakarta) menghadiri Muktamar tersebut. Dalam muktamar IDI itu, Dr. Sarwono
Prawirohardjo terpilih menjadi Ketua Umum IDI pertama.
24 Oktober 1950. Dr. Soeharto (pantia Dewan Pimpinan Pusat IDI waktu itu), atas
nama sendiri, dan atas nama pengurus lainnya, yakni Dr. Sarwono Prawirohardjo, Dr.
R. Pringgadi, Dr. Puw Eng Liang, Dr. Tan Eng Tie, dan Dr. Hadrianus Sinaga menghadap
notaries R. Kadiman untuk memperoleh dasar hukum berdirinya perkumpulan dokter
dengan nama ‘Ikatan Dokter Indonesia’, yang dalam Anggaran Dasarnya pada tahun
1952 berkedudukan “sedapat-dapatnya di Ibukota Negara Indonesia” dan didirikan
untuk waktu yang tidak ditentukan”. Tanggal 24 Oktober kemudian dietapkan sebagai
Hari Lahir IDI.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 51
V. UPAYA METAMORFOSA KEDOKTERAN KELUARGA MENJADI DLP

Dalam periode pengurusan IDI ini, Dr. Tan Eng Tie (bendahara IDI enam kali berturut-
turut) ditugaskan membeli gedung IDI (sekarang) di Jalan Sam Ratulangi, Jakarta
dari seorang warga Negara Belanda seharga Rp 300.000. Sejak itulah, pengurus
besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) melayarkan bahtera organisasinya ditempat
tersebut.
Tahun 1951. IDI pertama kali menerbitkan Majalah Kedokteran Indonesia (MKI) yang
kemudian ditetapkan sebagai majalah ilmiah resmi IDI.
Tahun 1953. IDI diterima menjadi anggota World Medical Association (WMA). Pada
tahun yang sama IDI memprakarsai berdirinya Confederation of Medical Associationin
Asia and Oceania (CMMAO) dan sejak itu,
Tahun 1969. IDI menyelenggarakan Musyawarah Kerja Sosial Kedokteran Indonesia.
Musyawarah ini berhasil menyusun dan mensahkan Kode Etik Kedokteran Indonesia
(Kodeki).
Tahun 1979. Untuk pertama kalinya, IDI menerbitkan Berita Ikatan Dokter Indonesia
(BIDI). BIDI berkembang menjadi media komunikasi resmi IDI.
Tahun 1980. IDI memprakarsai berdirinya Medical Association of ASEAN (MASEAN),
dan sejak itu menjadi anggota aktif organisasi tersebut.
Tahun 1982. IDI pertama kalinya menyusun konsep Dokter Keluarga sebagai alternatif
pengembangan praktik dokter swasta di Indonesia. Dan tahun 1985 pada Muktamar
IDI di Bandung menetapkan lahirnya Perhimpunan Dokter Spesialis (PDSp) dan
Perhimpunan Dokter Seminat (PDSm) sebagai badan kelengkapan IDI yang bernaung
di bawah IDI.
Tahun 1997. IDI mengalami perkembangan pesat. Tercatat sebanyak 242 IDI Cabang,
24 IDI wilayah, 24 PDSp dan 23 PDSm sebanyak 23 dengan anggota berjumlah
32.220 orang.
Tahun 2015 untuk ke-29 kalinya IDI menyelenggarakan Muktamar di Medan.
Muktamar XXIX memilih Dr. Daeng M. Faqih, SH, MH sebagai Ketua Terpilih dan
mengukuhkan Prof. dr. Ilham Oetama Marsis, SpOG sebagai Ketua Umum.
Pada saat ini IDI telah memiliki 432 Cabang, 33 Wilayah, 36 PDSp, 48 PDSm dan 2
PDPP serta memiliki anggota 109.597 dokter dan 26.896 dokter spesialis. Salah satu
di antara 86 perhimpunan tersebut adalah Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia
yang pada Muktamar XXIX diputuskan kembali memiliki Kolegium sendiri.

52 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
V. UPAYA METAMORFOSA KEDOKTERAN KELUARGA MENJADI DLP

B. Perkembangan Institusional Kedokteran Keluarga


Ide mengenai perlunya Dokter Keluarga di Indonesia bermula sejak beberapa pengajar
dari bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Pencegahan (yang
saat ini berganti nama menjadi Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas) Fakutas
Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta kembali dari Internasional Conference of
Family Medicine di Filipina tahun 1978. Akhirnya pada tahun 1979 dibentuk “Kelompok
Studi Dokter Keluarga Indonesia” yang menerbitkan buku Bunga Rampai Dokter
Keluarga Indonesia. Pada tahun yang sama kedokteran keluarga mulai dilaksanakan
dalam pembelajaran di FKUI.
Kelompok Studi Dokter Keluarga (KSDK, 1983) adalah sebuah organisasi dokter
seminat di bawah IDI dengan beragam anggota, umumnya adalah dokter praktik
umum dan dokter spesialis. Pada tahun 1986 KSDK menjadi anggota organisasi
dokter keluarga sedunia (WONCA). Setelah Kongres Nasional di Bogor, pada tahun
1990, bersamaan dengan Kongres Dokter Keluarga Asia-Pasifik di Bali, KSDK berganti
nama menjadi Kolese Dokter Keluarga Indonesia (KDKI), tetapi masih merupakan
organisasi dokter seminat. Pada tahun 2003 dalam Kongres Nasional di Surabaya,
KDKI ditasbihkan sebagai perhimpunan profesi, yang anggotanya terdiri atas dokter
praktik umum, dengan nama Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), namun
saat itu belum mempunyai kolegium yang berfungsi. Dalam Kongres Nasional di
Makassar 2006 didirikan Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga (KIKK), serta telah
dilaporkan ke IDI dan MKKI.
Anggota KIKK atau Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga dipilih dalam Kongres Nasional
VII di Makassar 30 Agustus – 2 September 2006 dan disahkan oleh PB IDI melalui
SK Ketua Umum PB IDI. Tugas KIKK adalah memberikan pengakuan kompetensi
keprofesian kepada setiap anggota PDKI. Dibawah ini adalah kewenangan KIKK:
1. Menetapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan
pengelolaan sistem pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga;
2. Menetapkan program studi pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga
beserta kurikulumnya; Menetapkan kebijakan dan pengendalian uji kompetensi
nasional pendidikan profesi kedokteran keluarga;
3. Menetapkan pengakuan keahlian (sertfikasi dan resertifikasi);
4. Menetapkan kebijakan akreditasi pusat pendidikan dan rumah sakit pendidikan
untuk pendidikan dokter keluarga;
5. Mengembangkan sistem informasi pendidikan profesi bidang kedokteran
keluarga Anggota KIKK terdiri atas anggota PDKI yang dinilai mempunyai tingkat
integritas dan kepakaran yang tinggi untuk menilai kompetensi keprofesian
anggotanya
Pada tahun yang sama, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) mengeluarkan Standar
Kompetensi Dokter Indonesia, yang pada bab pendahuluannya menyebutkan
karakteristik lulusan sama dengan karakterisitik dokter keluarga seperti yang

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 53
V. UPAYA METAMORFOSA KEDOKTERAN KELUARGA MENJADI DLP

terdapat pada buku Standar Profesi Dokter Keluarga. PB IDI menganjurkan agar KIKK
bergabung dengan KDI dengan pertimbangan karena dua kolegium tersebut selama
ini sama-sama menerbitkan sertifikat kompetensi untuk Dokter yang bekerja pada
Pelayanan Primer (DPP). Setelah melalui diskusi yang berkepanjangan akhirnya
pada tahun 2007, kedua kolegium bergabung menjadi satu yakni Kolegium Dokter
dan Dokter Keluarga disingkat KDDKI dengan dua divisi masing-masing divisi dokter
praktik umum dan divisi dokter keluarga.
November 2015, Muktamar IDI XXIX di Medan, PDUI dan PDKI, menyepakati
pemisahan kolegium KDDKI menjadi dua kolegium seperti sebelumnya yakni KDI
– Kolegium Dokter Indonesia dan Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga (KIKK). Pada
bulan Juli 2016, Pengurus Pusat PDKI dibentuk, ini terdiri dari Badan Pertimbangan,
Badan Pengurus dan Badan Etik. Pada tahun yang sama, Rapat Pleno MKKI
menyetujui PDKI sebagai Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga dan
pembentukan Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga Indoneisa atau KIKKI. Beberapa
waktu kemudian, terbitlah Penetapan PB IDI tentang Pengurus Pusat Perhimpuan
Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Indonesia dengan singkatan yang tetap sama
yakni PDKI.
C. Kegiatan-kegiatan Penting
Pada tahun 1990 tersusun program pembelajaran post graduate paket A, B, C, D atas
kerjasama Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Masyarakat, Departement
Kesehatan RI, dengan PDKI dan FKUI yang kemudian diujicobakan serta dilaksanakan
di berbagai tempat di Indonesia.
Pada tahun 1995-2002 diselenggarakan berbagai Training of Trainers (TOT) dari
pelatihan paket A, B, C, D di berbagai tempat dengan penyelenggara kerjasama
tiga pihak masing-masing Fakultas Kedokteran setempat, PDKI cabang dan Dinas
Kesehatan setempat, dengan narasumber berasal baik dari Pengrus Pusat PDKI
pusat dan lokal. Program Magister Dokter Keluarga FK Universitas Nasional 11 Maret
dibuka pada tahun 1998 yang telah menghasilkan sekitar 500 orang Master Dokter
Keluarga.
Dalam lokakarya nasional pada tahun 2001 yang dihadiri oleh dekan dan ketua
bagian IKK atau IKM-IKP seluruh Indonesia, 38 fakultas kedokteran sepakat bahwa
materi kedokteran keluarga harus masuk dalam kurikulum pendidikan dokter. Pada
tahun 2003 diselenggarakan kegiatan pemutihan untuk menjadi pakar kedokteran
keluarga dengan maksud mendorong pembelajaran kedokteran keluarga pada
institusi pendidikan dokter. Sejumlah 20 fakultas kedokteran yang berminat dalam
pembelajaran kedokteran keluarga memiliki pakar Kedokteran Keluarga sejumlah
2-5 orang tiap fakultas. Lokakarya nasional tahun 2003 yang merupakan kelanjutan
dari lokakarya tahun 2001 menghasilkan kesepakatan materi kedokteran keluarga
pada tahap preklinik dan tahap klinik.
Pada tahun 2004 diselenggarakan lokakarya nasional yang ketiga dan menyepakati
kepaniteraan kedokteran keluarga pada 3 FK yang pada saat itu presentasi

54 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
V. UPAYA METAMORFOSA KEDOKTERAN KELUARGA MENJADI DLP

untuk dijadikan contoh. Di tahun ini pula, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
mengeluarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi Program Studi Dokter yang bertujuan
meluluskan dokter primer dengan pendekatan kedokteran keluarga.
Tahun 2006 Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga Indonesia (KIKK) dibentuk dan
standar Profesi Dokter Keluarga, Standar Kompetensi Dokter Keluarga, Standar
Pelayanan Dokter Keluarga disusun oleh PDKI atas pembiayaan proyek HWS IDI dan
arahan Ketua PB IDI.
Dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 2008, IDI mencanangkan dimulainya program
konversi Dokter Keluarga yang dikelola oleh PDKI. Namun, program ini dihentikan
pada tahun 2011 oleh PB IDI, pada saat itu 1743 dokter praktik umum telah dikonversi
menjadi dokter keluarga.
Pada tahun 2012, FK Universitas Indoneisa, FK Universitas Gajah Mada, dan FK
Universitas Hasanuddin memulai program graduate certificate in Family Medicine. Di
tahun ini, konsorsium Dokter Keluarga Indonesia yang didukung oleh Project Health
Professional Education Quality (HPEQ-2012-2014) dan di pelopori oleh FK UGM
dan FK UNHAS, dibentuk untuk memperkuat kualitas dan kuantitas staf pengajar
Kedokteran Keluarga baik dalam program pendidikan dasar dan maupun lanjutan.
Namun, sejak tahun 2013 tidak tercatat adanya kegiatan yang bermakna kecuali
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan DLP. Sejak diundangkannya UU No. 20
Tahun 2013 tentang UU Pendidikan Dokter, para tokoh Kedokteran Keluarga menjadi
jajaran terdepan menyuarakan dan memperjuangkan DLP. Diduga, kelompok inilah
yang menjadi kelompok penekan dalam proses penyelundupkan DLP ke dalam UU
No. 20 Tahun 2013.
Dalam Catatan sejarah DLP yang ditulis oleh Pokja Percepatan Pendidikan Dokter
Layanan Primer dalam Draf Naskah Akademik Standar Kompetensi Dokter Layanan
Primer Indonesia. Sejarah DLP diawali dengan lahirnya Kedokteran Keluarga hingga
kegiatan kedokteran keluarga pada 2012 dan tiba-tiba pada alinea berikut dicatat
tentang masuknya Dokter Keluarga ke dalam UU No. 20 Tahun 2013 tentang
Pendidikan Kedokteran. Ini adalah bukti metamorfosa kedokteran keluarga menjadi
DLP. Bukti lain yang menunjukkan bahwa DLP adalah metamorfosa dari Kedokteran
Keluarga ditunjukkan oleh rumusan kompetensi DLP oleh Pokja Percepatan
Pendidikan Dokter Layanan Primer dinyatakan bahwa 80% kompetensi DLP adalah
kompetensi dokter keluarga.
Pertanyaannya, mengapa harus bermetamorfosa menjadi DLP? Mengapa tidak
sebagai spesialis dokter keluarga? Pada saat ini, dalam rumah besar IDI telah
terbentuk Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga dan sudah memiliki
Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga Indonesia yang disingkat KIKKI. Sedangkan DLP
terkesan tidak jelas dan belum memiliki kolegium. Dengan demikian, profesi DLP
yang tumpang tindih adalah perbuatan yang tidak perlu dan jelas merupakan sebuah
pemborosan.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 55
VI. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan 1: Dokter Umum yang dididik menggunakan kurikulum beradasarkan SKDI


2012 cukup berkualifikasi untuk melakukan pelayanan kesehatan di FKTP.
Rekomendasi: IDI mengusulkan agar penambahan kompetensi pada dokter umum
dilakukan melalui modul terstruktur, melalui P2KB, karena lebih cepat, kontekstual
dengan kebutuhan lokal, dan lebih cost effective.
Kesimpulan 2: Akar masalah dari ketidakefektifan pendidikan dasar kedokteran adalah
karena banyaknya fakultas kedokteran yang masih berakreditasi B dan C. Karena itu
dapat disimpulkan bahwa usulan Pendidikan Program Studi DLP yang mensyarakatkan
pendidikan tambahan selama 3 tahun, agar memenuhi kualifikasi pemberian pelayanan di
FKTP adalah usulan tambal sulam.
Rekomendasi: Pemerintah perlu memprioritaskan—dengan bantuan dari FK yang
berakreditasi A—untuk memperbaiki peringkat FK lainnya yang masih berakreditasi
B dan C.
Kesimpulan 3: Pendekatan DLP yang memperkuat fungsi promosi dan preventif, yang
membuat dokter seperti seolah “serba bisa”, adalah pemborosan, tidak sesuai lagi dengan
kondisi sekarang yang mengutamakan kerja sama tim, membangun koordinasi UKP-UKM
sesuai dengan rancangan Sistem Kesehatan Nasional.
Rekomendasi: Lebih cost effective jika pemerintah menggunakan tenaga lulusan
ahli kesehatan masyarakat yang sudah tersedia lebih banyak jumlahnya untuk
memperkuat fungsi promotif dan preventif, dan menaikkan anggaran untuk
infrastruktur UKM.
Kesimpulan 4: IDI berpendapat bahwa memaksakan dokter umum agar ikut program
studi DLP, sebagai syarat agar bisa bekerja di FKTP cenderung bersifat malahan kontra
produktif dengan prioritas pemerintah untuk melaksanakan Universal Coverage 2019,
karena sekarang ini jumlah FKTP masih kurang tersedia.
Rekomendasi: Pemerintah mestinya memfasilitasi agar jumlah klinik dan dokter
praktik yang bekerja sama dengan BPJS bisa bertambah untuk, sehingga sehingga
menjamin penyediaan fasilitas pelayanan cukup, dan otomatis mengurangi beban
Puskesmas dalam UKP, sehingga, dan Puskesmas mampu bisa mengerjakan UKM
yang selama ini masih terabaikan.
Kesimpulan 5: IDI berpendapat bahwa Program studi DLP tidak dapat menyelesaikan
problematika kekurangan dan maldistribusi dokter terutama di wilayah terpencil.
Pendidikan yang lebih lama justru akan memperparah maldistribusi. Padahal maldistribusi
adalah prioritas yang mesti diselesaikan pemerintah.
Rekomendasi: IDI mengusulkan reformasi pendidikan kedokteran, melalui subsidi
biaya pendidikan, rekrutmen calon dokter, proses pendidikan yang membuat dokter

56 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
VI. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

terbiasa bekerja di pedesaan, dan lama pendidikan yang cost effective, bukan dengan
memperpanjang masa pendidikan
Kesimpulan 6: Asumsi bahwa Program studi DLP untuk mengatasi tingginya rujukan ke
rumah sakit tidak didukung data. Data Nasional Rasio Rujukan peserta BPJS dari FKTP,
baik tahun 2015, maupun 2016, menunjukkan bahwa angka rasio total rujukan dari FKTP
masih di bawah patokan BPJS 15%, yaitu 12 %. Rujukan tinggi terjadi di lokasi tertentu lebih
disebabkan karena kurangnya sarana dan prasarana, masih rendahnya kapitasi dibanding
biaya pelayanan dan karena atas permintaan sendiri.
Rekomendasi: IDI mengusulkan agar pemerintah memperbaiki sarana dan prasarana
FKTP milik pemerintah dan menaikkan biaya kapitasi, sehingga kualitas pelayanan
bisa lebih baik.
Kesimpulan 7: Defisit anggaran BPJS yang terjadi dalam 2 tahun terakhir adalah terjadi
karena fenomena adverse selection dan karena besarnya penderita penyakit katastrofik.
Penyakit katastrofik timbul, karena UKM belum berjalannya UKM, bukan karena kurangnya
kemampuan dokter di FKTP.
Rekomendasi: pemerintah sebaiknya lebih baik mencari solusi agar seluruh pekerja
informal / mandiri /PBPU bersedia mau menjadi peserta BPJS. Pemerintah harusnya
mulai berfokus pada lulusan ahli kesehatan masyarakat, dan meningkatkan anggaran
UKM.
Kesimpulan 8: UU no 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran—terkait dokter
layanan primer—tidak harmonis dengan dua Undang-undang lainnya, yaitu UU Nomor
29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Pendidikan Tinggi.
Rekomendasi: IDI mengajukan revisi UU 20 tahun 2013 tentang Pendidikan
Kedokteran, agar masalah ketidakharmonisan ini bisa diselesaikan
Kesimpulan 9: Kolegium DLP tidak mungkin lahir, karena keilmuannya sangat mirip dengan
kedokteran keluarga yang sudah mempunyai Kolegium tersendiri (KIKKI). Jadi STR sebagai
profesi DLP tidak bisa keluar. Universitas yang sekarang menyelenggarakan program studi
DLP juga melanggar undang undang.
Rekomendasi: Progaram studi DLP tidak perlu didirikan dan Universitas yang
berminat mengembangkan karir dokter umum lebih baik mengembangkan program
spesialis kedokteran keluarga.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 57
Epilog
Perjuangan IDI untuk menata sistem dan program pendidikan kedokteran di Indonesia,
sehingga mampu dalam jangka waktu relatif pendek dapat memenuhi pelayanan kesehatan
masyarakat Indonesia yang berkualitas dan berkeadilan masih panjang. Sepanjang UU No.
20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran masih dalam bentuknya seperti sekarang,
ancaman penyimpangan sistem atas nama hukum masih akan tetap ada.
Karena itu IDI akan tetap berjuang di dua sisi. Pertama, melakukan advokasi untuk
perubahan terbatas (revisi) UU No 20 Tahun 2013 melalui DPR RI. Kedua, ikut terlibat
bersama pemerintah dalam pembahasan draf Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang
UU Pendidikan Kedokteran itu.
A. Advokasi Perubahan UU No 20 tahun 2013 Tentang Pendidikan Kedokteran
Dalam rangka advokasi perubahan atas UU No 20 tahun 2013, PB IDI telah
melaksanakan serangkaian advokasi Perubahan Atas UU No 20 Tahun 2013 tentang
Pendidikan Kedokteran sebagai berikut :
Tanggal 23 dan 30 Mei 2016, IDI memaparkan alasan revisi dalam RDPU dengan
Komisi IX. Komisi IX dalam hal ini mengapresiasi paparan IDI, mengundang pihak
terkait, berkoordinasi dengan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi. Komisi IX
bahkan mengusulkan untuk membentuk pansus dan panja bersama Komisi X.
Tanggal 27 September 2016, IDI ikut dalam RDPU dengan Badan Legislasi DPR RI
(Baleg). Ikut hadir juga Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Riset, Teknologi
dan Pendidikan Tinggi, dan Kementerian Kesehatan. Dalam rapat itu Semua anggota
DPR yang hadir pada Rakor/RDP Baleg menyatakan setuju untuk dilakukan revisi
UU no 20 tahun 2013 terutama untuk materi DLP. Baleg sepakat membentuk panja
terutama untuk re-evaluasi substansi DLP dan UKMPPD. Baleg meminta pemerintah
agar sebelum pembentukan panja revisi UU dikdok, maka RPP tidak diputuskan
terlebih dahulu dan agar menahan atau menunda terlebih dahulu pelaksanaan
program DLP hingga dilakukan kajian UU dikdok oleh Panja perjalanan UU dikdok
tidak akan mulus dengan adanya program pendidikan dokter yang justru ditentang
oleh dokter.
Tanggal 24 Oktober 2016 IDI mengikuti RDPU dengan Baleg DPR RI. Dalam rapat
ini, Dalam sidang ini, PB IDI menyampaikan naskah akademis dan usulan draf RUU
Perubahan atas UU No 20 Tahun 2013. Baleg Meminta pemerintah melibatkan IDI
dalam pembahasan RPP pendidikan kedokteran.
Tanggal 28 Desember 2016 diselenggarakan RDPU Komisi X dengan PB IDI.
Hasilnya Komisi X DPR mendesak pemerintah untuk melibatkan seluruh pemangku
kepentingan dalam menyusun rancangan peraturan pemerintah pelaksanaan UU
Dikdok No 20 tahun 2013 tentang pendidikan kedokteran sesuai dengan amar
putusan Mahkamah Konstitusi No 122/PU-XII/2014, dengan melibatkan Komisi IX
DPR RI paling lambat 90 hari kerja terhitung sejak kesimpulan ini diputuskan.

58 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Epilog

IDI menindak lanjuti RDPU itu dengan melakukan audiensi dengan Fraksi DPR RI,
seperti PKS, PDIP, Nasdem, Gerindra dan Golkar. Sebagai hasil dari audiensi ini, Fraksi
PKS mendukung revisi UU; Fraksi PDIP dan Frasdem masing masing mengusulkan
Usulan Resmi Fraksi tentang RUU Perubahan Atas UU no 20 tahun 2013. Beberapa
Fraksi yang belum merespon permohonan audiensi dari IDI adalah PPP, Demokrat,
PAN, PKB, dan Hanura.
Diluar catatan ini, sejak tanggal 17 November 2016 Panja Komisi X Menyetujui adanya
Panja mengenai DLP. Untuk menindaklanjuti hasil itu maka panja program studi DLP
Komisi X telah menyelenggarakan rapat dengan sejumlah pemangku kepentingan
dan pakar pendidikan kedokteran. Sampai buku ini dibuat, rapat berkala Panja Komisi
X belum selesai.
Secara singkat, Perjuangan PB IDI dalam rangka Perubahan Atas UU No 20 Tahun
2013 tentang Pendidikan Kedokteran belumlah selesai, Namun fase pertama ini
ditutup dengan harapan yang baik, yaitu ketika pada Rapat Baleg mengenai Program
Legislasi Nasional tanggal 14 Desember 2016 telah disepakati bahwa Perubahan
Atas UU No 201 Tahun 2013 Tentang Pendidikan Kedokteran telah masuk dalam
Program Legislasi Nasional Tahun 2014-2019 atau lazim disebut longlist Prolegnas
dan untuk Prolegnas tahun 2017, RUU ini masuk sebagai daftar tunggu Prolegnas
2017. Hasil pembahasan ini selanjutnya ditetapkan dalam paripurna DPR RI tanggal
15 Desember 2016.
B. Advokasi Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Pendidikan
Kedokteran
Dalam rangka menindaklanjuti keputusan sidang Badan Legislatif DPR, Komisi IX
dan Komisi X, maka pemerintah mengundang PB IDI dalam pembahasan Rancangan
Peraturan Pemerintah Tentang Pendidikan Kedokteran. PB IDI menyambut baik
undangan tersebut dan menghadiri pembahasan RPP. Bahwa pembahasan RPP
Pendidikan Kedokteran telah sampai pada tahap pembicaraan harmonisasi antar
departemen (interdep) meliputi kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Riset,
teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Kesehatan, dan Sekretariat Negara.
Dalam perkembangannya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia
dan Kebudayaan (Menko PMK) sebagai Menteri Koordinator yang mengkoordinasikan
kementerian-kementerian tersebut turut serta mengkoordinasikan pembahasan
RPP. Penyusunan Rancangan Perundang Undangan tentang dokter layanan primer
berlangsung lebih dari 10 kali sampai proses harmonisasi, dalam perjalanan nya
belum menemukan titik temu antara Pemerintah dan IDI. Namun hal ini tidak akan
menyurutkan langkah PB IDI untuk terus memperjuangkan Perubahan UU No 20
Tahun 2013 Tentang pendidikan Kedokteran.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 59
PERJALANAN PERJUANGAN REVISI UNDANG-UNDANG NO
20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN
Gambar 1. Jumpa Pers Uji Materi UU
Gambar 2. Audiensi dengan Komisi X
no. 20 tahun 2013 tentang Pendidikan
DPR RI, 30 Mei 2016
Kedokteran di PB IDI

Gambar 3A, B, C, D. RDPU Badan Legislasi DPR RI dengan IDI, 25 Juli 2016

Hasil :
Disepakati perubahan atas UU No 20 tahun 2013 untuk dimasukkan dalam Prolegnas
2016 atau 2017 dan diagendakan untuk pembentukan panitia kerja lewat pemantauan
peninjauan UU. Baleg meminta IDI menyiapkan position paper, Naskah Akademis, dan
draf RUU perubahan atas UU No 20 Tahun 2013.

60 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Perjalanan Perjuangan Revisi Undang-Undang No 20 Tahun 2013 Tentang Pendidikan Kedokteran

Gambar 4. Audiensi dengan Menteri Gambar 6. Audiensi dengan Sekneg RI


Pertahanan, 22 Agustus 2016 Divisi Kelembagaan, 5 September 2016

Gambar 7. Audiensi dengan Deputi III, Gambar 8. Audiensi dengan Fraksi PKS
Kemenko PMK, 6 Sept 2016 DPR-RI, 20 September 2016

Gambar 9. RDPU Badan Legislasi (Baleg) bersama IDI, Kementerian Hukum dan
HAM, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, dan Kementerian
Kesehatan, 27 September 2016
A. Berbagai perwakilan IDI Wilayah dan B. Menunggu waktu sidang di gedung DPR
Cabang berjalan menuju gedung DPR-RI RI

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 61
Perjalanan Perjuangan Revisi Undang-Undang No 20 Tahun 2013 Tentang Pendidikan Kedokteran

Hasil:
Semua anggota DPR yang hadir pada Rakor/RDP Baleg menyatakan setuju untuk
dilakukan revisi UU no 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran (Dikdok)
terutama untuk materi DLP. Baleg RI sepakat membentuk panja terutama untuk
re-evaluasi substansi DLP dan UKMPPD dalam UU Dikdok. Sebelum pembentukan
panja revisi UU Dikdok, maka RPP tidak diputuskan terlebih dahulu. Baleg meminta
pemerintah untuk menahan atau menunda terlebih dahulu pelaksanaan program
DLP hingga dilakukan kajian UU dikdok oleh Panja. Perjalanan UU dikdok tidak akan
mulus dengan adanya program pendidikan dokter yang justru ditentang oleh dokter.
Baleg juga meminta pemerintah melibatkan IDI dalam pembahasan RPP pendidikan
kedokteran. Dalam sidang ini, PB IDI menyampaikan naskah akademik dan usulan
draf RUU perubahan atas UU no 20 tahun 2013.

62 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Perjalanan Perjuangan Revisi Undang-Undang No 20 Tahun 2013 Tentang Pendidikan Kedokteran

Gambar 10. Audiensi dengan Sekretaris Gambar 11. Seminar Pendidikan Dokter
Negara Pratikno, 20 September 2016 Layanan Primer dengan Fraksi PPP

Gambar 12. Audiensi dengan Fraksi Gambar 13. Audiensi dengan Fraksi
Partai Golkar Partai Nasional Demokrat, 4 Oktober
2016

Gambar 14. Audiensi dengan Fraksi Gambar 15. Sinkronisasi RPP, 23 Oktober
PDIP, 11 Oktober 2016 2016

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 63
Perjalanan Perjuangan Revisi Undang-Undang No 20 Tahun 2013 Tentang Pendidikan Kedokteran

Gambar 16. Audiensi dengan Fraksi Gambar 17. Audiensi dengan Media
Partai Gerindra, 28 Oktober 2016 Kompas, 16 Desember 2016

Gambar 18. Harmonisasi RPP DLP, Gambar 19. Audiensi dengan Metro TV
Hotel Century, 22 Desember 2016 dan Media Indonesia, 16 Januari 2017

Gambar 20. Audiensi dengan Koran Gambar 21. Audiensi dengan SCTV, 20
Tempo, 19 Januari 2017 Januari 2017

64 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Perjalanan Perjuangan Revisi Undang-Undang No 20 Tahun 2013 Tentang Pendidikan Kedokteran

Gambar 22. Audiensi dengan Republika, Gambar 23. Harmonisasi RPP di Kemko
9 Februari 2017 PMK, 14 Februari 2017

Gambar 24. Penyerapan Aspirasi IDI Gambar 25. Diskusi pembahasan DLP
Wilayah Jawa Timur Bersama Komisi X versi IDI dan pemerintah, Surabaya,
Fraksi NasDem 2016

Gambar 26. Penyerapan Aspirasi IDI Gambar 27. Seminar Fraksi Partai
Cabang Ngawi, Jawa Timur Persatuan Pembangunan (PPP) di
gedung DPR. Jakarta, 21 Februari 2017

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 65
Daftar Pustaka
Asshiddiqie J. Komentar atas Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Jakarta: Sinar Grafika; 2013.
Australia-Indonesia Partnership for Healh Systems Strengthening. Laporan Akhir National
Health Accounts (NHA) Indonesia. 2014
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan Akhir Riset Fasilitas Kesehatan
Puskesmas. 2011.
Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan
RI. Perkuat Upaya Promotif Preventif melalui DLP. [Online]: http://www.depkes.go.id/
article/view/16102300002/perkuat-upaya-promotif-preventif-melalui-DLP.html.
Diakses tanggal 1 Maret 2017.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Dengar Pendapat Panitia
Kerja Tentang Rancangan Undang Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 25 Juni 2013
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Risalah Rapat Dengar Pendapat Panitia
Kerja Tentang Rancangan Undang Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 26 Juni 2013
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Risalah Rapat Panitia Kerja Rancangan
Undang Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 2 April 2012.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Lokakarya Panja Rancangan
Undang-Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 23 Maret 2011.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Dengar Pendapat
Pembahasan Rancangan Undang-Undang Tentang Pendidikan Kedokteran, 27 Januari
2011.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Dengar Pendapat Panitia
Kerja Tentang Rancangan Undang Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 25 Juni 2013.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Dengar Pendapat Panitia
Kerja Tentang Rancangan Undang Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 26 Juni 2013.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Dengar Pendapat
Pembahasan Rancangan Undang-Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 26 Juni 2013.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Dengar Pendapat Umum
Pembahasan Rancangan Undang-Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 26 Juni 2013.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Panja Rancangan Undang-
Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 15 Maret 2011.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Panja Rancangan Undang-
Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 2 April 2012.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Panja Rancangan Undang-
Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 4 April 2012.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Panja Rancangan Undang-
Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 9 April 2012.

66 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
Daftar Pustaka

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Panja Rancangan Undang-
Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 11 Maret 2013.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Risalah Rapat Panja Rancangan Undang-
Undang Tentang Pendidikan Kedokteran. 4 Juli 2013.
Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar, Departemen Kesehatan RI. Kebijakan Akselerasi
Pengembangan Pelayanan Dokter Keluarga. Jakarta; 2007.
Kelompok Kerja Percepatan Pendidikan Dokter Layanan Primer. Pendidikan Dokter
Layanan Primer, Kementerian Pendidikan Tinggi & Ristek - Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. 2015.
Kementerian Kesehatan Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Repubik Indonesia
Nomor 28 Tahun 2014. Jakarta; 2014.
Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). [Online]: http://www.kkni-kemenristekdikti.org,
diakses tanggal 1 Maret 2016.
Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Prosedur
PenyeIenggaraan Program Studi Program Magister dan Profesi PTN dan Swasta. 2015.
Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta: Konsil
Kedokteran Indonesia; 2012.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2014. Jakarta;
2014.
Martinah. Mahkamah Konstitusi Dari Negative Legislature ke Positive Legislature. Jakarta:
Konstitusi Press, Jakarta: 2013.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Optimalisasi Profesionalisme Dokter Umum
Di Tingkat Pelayanan Primer Pada Era JKN Menyongsong SDG. Jakarta: Disampaikan
pada
Pertemuan Ilmiah Tahunan dan Musyawarah Kerja Nasional PDUI. Jakarta; 22 April
2016.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Kebijakan
Kemristekdik/Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran, Kementerian Riset, Teknologi
dan Pendidikan Tinggi. 2015.
Marmot M. Social Determinants of Health Inequalities. Lancet 20015; 365, 1099-104.
Mundiharno. Jaminan Kesehatan Nasional: Pencapaian & tantangan dari Sudut Pandang
Penyelenggara. Presentasi pada Kongres InaHEA ke-3 Yogyakarta: 28 Juli 2016.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan
Nasional. Jakarta; 2012.
Perkumpulan Promotor Dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia. Kurikulum
Pendidikan Profesi Promotor Dan Pendidik Kesehatan Masyarakat. Lokakarya Bahan
Kajian Kurikulum Profesi Promotor Kesehatan Universitas Diponegoro – Semarang. 3 Juni
2016.

BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER 67
Daftar Pustaka

Presiden Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan


Tinggi. Jakarta; 2012.
Saminarsih SD. Annual Scientific Meeting. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. [online]
http://health.detik.com/read/2015/03/06/172535/2851941/763/243-puskesmas-di-
indonesia-rusak-berat. Di akses tanggal 08 September 2016.
Schwab K. The Global Competitiveness Report 2016-2017. Jenewa:World Economic
Forum; 2016.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran.
Jakarta; 2004.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta; 1945.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan. Jakarta; 2014.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran. Jakarta; 2013.
Zahrawardi. Analisis Pelaksanaan Rujukan Rawat Jalan Tingkat Pertama Peserta Wajib
PT. Askes pada Puskesmas Mibo, Puskesmas Batoh dan Puskesmas Baiturahman di Kota
Banda Aceh Tahun 2007. Medan: Universitas Sumatera Utara; 2007.

68 BUKU PUTIH IDI | IDI MENOLAK PROGRAM STUDI DOKTER LAYANAN PRIMER
PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA
Jl. Dr. G.S.S.Y. Ratulangi No. 29 Menteng, Jakarta Pusat 10350

ISBN 978-602-72055-5-0

9 786027 205550