Anda di halaman 1dari 19

Laporan Kasus

Appendisitis Akut dengan Adhesi

Oleh:
dr. Muhammad Wim Adhitama

Pembimbing
dr. Laily Noviyani

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA
KABUPATEN BANJAR
April, 2018

1
BAB I
LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
 Nama : Tn. S
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Tgl lahir / Umur : 19 – 11 – 1992 / 25 tahun
 Alamat : Martapura
 No. Reg : 0-38-49-67
 Tgl. Pemeriksaan : 24-04-2018

II. Subjektif
 Anamnesis : Autoanamnesis
 Keluhan Utama : Nyeri perut kanan bawah
 Anamnesis
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien mengeluhkan nyeri perut kanan bawah sejak 6 jam sebelum masuk
rumah sakit, pada awalnya nyeri dirasakan sangat hebat dan menetap namun
kemudian nyeri hilang timbul, tidak ada hal yang memperparah maupun yang
meringankan keluhan. Demam (+) namun suhu tidak diukur, mual (+), muntah
(+) 3 kali pada hari pertama nyeri, muntah berupa sisa makanan, riwayat nyeri
perut yang berpindah (-).

Riwayat penyakit sebelumnya :


 Riwayat keluhan yang sama sebelumnya disangkal
 Riwayat Hipertensi (-)
 Riwayat Diabetes Melitus (-)
 Riwayat Penyakit Jantung (-)
 Riwayat Merokok (-)

2
III. Objektif
 Keadaan umum : Sakit sedang / gizi cukup / compos mentis
 Tanda vital & antropometri :
 Tekanan Darah : 132/84 mmHg
 Nadi : 90 x / menit
 Pernapasan : 24 x / menit
 Suhu : 37,4˚C
 VAS score : 3-4
 Berat badan : 62 kg
 Tinggi badan : 169 cm
 IMT : 21,7

 Pemeriksaan Fisik
Kepala
 Ekspresi : Normal
 Simetris muka : Simetris kiri = kanan
 Deformitas :-
 Rambut : Hitam, lurus, sukar dicabut
Mata
 Eksopthalmus/enopthalmus :-
 Gerakan : Gerakan ke segala arah
 Tekanan bola mata : Dalam batas normal
 Kelopak mata : Edema palpebra (-)
 Konjugtiva : Anemis (-)
 Kornea : Jernih
 Sklera : Ikterus (-)
 Pupil : Isokhor, Ø 2,5 mm D=S, RCL +/+, RCTL +/+
Telinga
 Pendengaran : dalam batas normal
 Tophi : (-)
 Nyeri tekan prosessus mastoideus : (-)

3
Mulut
 Bibir : kering (-)
 Tonsil : T1-T1
 Gigi geligi : Caries (-)
 Farings : hiperemis (-)
 Gusi : perdarahan gusi (-)
 Lidah : kotor (-), deviasi (-), atrofi (-)

Leher
 Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran
 Kelenjar gondok : tidak ada pembesaran
 DVS : R+1 cmH2O
 Pembuluh darah : tidak ada kelainan
 Kaku kuduk : (-)
 Tumor : (-)

Dada
 Inspeksi
 Bentuk : Normothorax, simetris kiri=kanan
 Pembuluh darah : Spider navy (-)
 Buah dada : Simetris, ginekomasti (-)
 Sela iga : Normal

Paru
 Palpasi
 Fremitus raba : Vokal Fremitus kiri=kanan
 Nyeri tekan : (-)
 Perkusi
 Paru kiri : sonor
 Paru kanan : sonor
 Batas paru hepar : ICS V dextra anterior

4
 Batas paru belakang kanan : vertebra thorakal IX
 Batas paru belakang kiri : vertebra thorakal X
 Auskultasi
 Bunyi pernapasan : vesikuler
 Bunyi tambahan : Rh -/-, Wh -/-

Jantung
 Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
 Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
 Perkusi : Pekak
 Auskultasi : BJ I/II reguler, bising (-)

Perut
 Inspeksi : Datar, ikut gerak napas
 Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
 Palpasi : Supel, defans muscular (-), Massa tumor (-),
nyeri tekan (+) pada titikMc Burney, tenderness pada
titik McBurney (+) , Rovsing sign (-), Rebound
tenderness (<)
Hepar : Tidak teraba
Lien : Tidak teraba
Ginjal : Tidak teraba
Punggung
 Palpasi : NT (-), MT (-)
 Nyeri Ketok : (-)
 Auskultasi : BP Vesikular, Rh -/-, Wh -/-
 Gerakan : Ikut gerak napas
 Lain-lain : (-)
Alat Kelamin : (tidak dilakukan pemeriksaan)
Anus dan rektum : (tidak dilakukan pemeriksaan)
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik, edema -/-
Pemeriksaan lain : Psoas sign (+), Obturator sign (+)

5
Alvarado score : 6 (possible appendicitis)

 Pemeriksaan Penunjang
 Laboratorium
 Darah Rutin (24/4/2018)
WBC : 10,5 x 103/uL* (4.000-10.000 Ul)
RBC : 5.09 x 106/uL (4.000-6.000 Ul))
HGB : 13.7 g/dl (12-16 g/dl)
PLT : 191 x 103/uL* (150.000-400.000 Ul))
HCT : 39.0 % (37-48%)
 Kimia Darah: (24/04/2018)
Albumin :- (3,8-5,1)
SGOT : 23 (<38)
SGPT : 11 (<42)
Ureum : 37 (10-50)
Kreatinin : 1,3 (lk <1,3 pr <1,1)
Na : 142 (135-155)
K : 3.0 (4.0-4.8)
Cl : 109 (95-108)

IV. Diagnosa
 Observasi Abdominal Pain ec Susp. Appendicitis Akut

V. Rencana Terapi
 Pengobatan :
Co. dr. Fariz, Sp.B
 IVFD RL 14 tpm
 Inj. Ranitidin 2x1 amp
 Inj. Antrain 3x1 amp (k/p)
 Inj. Ondancentron 3x4 mg
 Rawat Inap

6
LEMBARAN FOLLOW UP PASIEN

Tanggal Perjalanan Penyakit Instruksi Dokter


25/04/2018 S : Nyeri perut kanan bawah (+), demam (+), R/
08.00 pusing (-), mual (-), muntah (-),  Persiapan Operasi bila
T : 120/90 - BAK (+), BAB (-) pasien setuju
N : 80x/m  puasa
P : 24 O : SS/GC/CM
S : 36,9˚C Kepala : Anemia(-), ikterus(-)
Leher : DVS R+1 CmH20
Thorax : Vesikuler
Rh -/-, Wh -/-
Cor : BJ I/II reguler, murmur(-)
Abdomen : NT McBurney (+), Rovsing Sign (+),
Obturator sign (+)
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik,
udem -/-
A : Appendicitis akut

26/04/2018 S : nyeri luka post operasi (+), pusing (-), mual (-) R/
14.00 muntah (-), minum (+), makan (-), kembung  Diet cair
T : 130/80 - BAK : on DC, BAB (-)  IVFD Futrolit 20 tpm
N : 80x/m  Inj. Terpacef 2x1
P : 22 x/m  Inj. Lactopain 3x1
S : 36.5˚C O : SS/ GC/ CM  Inj. Pumpitor 1x1
Kepala : Anemia(-), ikterus(-)  Latihan duduk
Leher : DVS R+1 CmH20
Thorax : Vesikuler Monitor :
Rh -/-, Wh -/-  KU/VS/ peristaltik, jika
Cor : BJ I/II reguler, murmur(-)
peristaltik (+) normal
Abdomen : Terpasang drain (30 cc), Peristaltik(+) mulai diet bubur
minimal, luka post op tertutup kassa (+), rembes
(-), Nyeri tekan (+)
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik,

7
udem -/-

A : Post Laparotomy eksplorasi appendectomy +


omentectomy H1 ec Appendicitis dengan adhesi

27/04/2018 S : nyeri luka post op (+), makan (+) bubur, R/


14.00 kembung berkurang  Diet bubur
T : 110/70 - BAK : on DC, BAB (+)  IVFD Futrolit 20 tpm
N : 86x/m  Inj. Terpacef 2x1
P : 20x/m  Inj. Lactopain 3x1
S : 36.5˚C O : SS/ GC/ CM  Inj. Pumpitor 1x1
Kepala : Anemia(-), ikterus(-)  Latihan jalan
Leher : DVS R+1 CmH20
Thorax : Vesikuler Monitor :
Rh -/-, Wh -/-
 KU/VS/ peristaltik, jika
Cor : BJ I/II reguler, murmur(-) peristaltik (+) normal
Abdomen : Terpasang drain (5 cc), Peristaltik (+) membaik, mulai diet nasi
normal, luka post op tertutup kassa (+), rembes (- TKTP
), Nyeri tekan (+)
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik,
udem -/-

A : Post Laparotomy eksplorasi appendectomy +


omentectomy H2 ec Appendicitis dengan adhesi

28/04/201 S : nyeri luka post op (+) berkurang, makan (+) R/


14.00 nasi  Diet TKTP
T : 120/80 - BAK : on DC, BAB (+)  IVFD Futrolit 20 tpm
N : 80x/m  Inj. Terpacef 2x1

8
P : 21x/m  Inj. Lactopain 3x1
S : 36.6˚C O : SS/ GC/ CM  Inj. Pumpitor 1x1
Kepala : Anemia(-), ikterus(-)  Latihan jalan
Leher : DVS R+1 CmH20  Aff drain
Thorax : Vesikuler  Aff DC
Rh -/-, Wh -/-
Cor : BJ I/II reguler, murmur(-) Monitor :
Abdomen : Terpasang drain (0 cc), Peristaltik (+)  KU/VS/ peristaltic
normal, luka post op tertutup kassa (+), rembes (-  Jika KU/VS baik,
), Nyeri tekan (+) mobilisasi baik BLPL
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik,
udem -/-

A : Post Laparotomy eksplorasi appendectomy +


omentectomy H3 ec Appendicitis dengan adhesi

29/04/2018 S : nyeri luka post op (+) berkurang R/


14.00 - BAB & BAK : kesan normal, keluhan (-) BLPL
T : 110/70
N : 76x/m Obat pulang :
P : 19x/m O : SS/ GC/ CM - Tab. Cefadroxil 2x1
S : 36.3˚C Kepala : Anemia(-), ikterus(-) - Tab. Asam
Leher : DVS R+1 CmH20 mefenamat 3x1
Thorax : Vesikuler - Tab. Vit B complex
Rh -/-, Wh -/- 1x1
Cor : BJ I/II reguler, murmur(-) - Kontrol poli
Abdomen : Peristaltik (+) normal, luka post op
tertutup kassa (+), rembes (-), Nyeri tekan (+)
berkurang
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik,
udem -/-

9
A : Post Laparotomy eksplorasi appendectomy +
omentectomy H4 ec Appendicitis dengan adhesi

VI. Resume
Seorang laki-laki berusia 25 tahun, masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri
perut kanan bawah disertai demam sejak 6 jam sebelum masuk rumah sakit, nyeri
dirasakan sangat hebat dan menetap. Mual muntah dirasakan sebanyak 3x di rumah,
demam (+). BAK dan BAB tidak ada keluhan.
Riwayat penyakit sebelumnya :
 Riwayat keluhan yang sama sebelumnya disangkal
 Riwayat Hipertensi (-)
 Riwayat Diabetes Melitus (-)
 Riwayat Penyakit Jantung (-)
 Riwayat Merokok (-)
Pada pemeriksaan fisik didapatkan sakit sedang, gizi cukup, compos mentis.
Tekanan darah : 132/84 mmHg, nadi: 90 x/menit, reguler Pernapasan : 24 x/menit,
tipe thoracoabdominal, suhu axilla: 37,40C VAS score 3-4. Terdapat Mc Burney sign
(+), psoas sign (+) dan obturator sign (+), Alvarado score 6. Hasil pemeriksaan
laboratorium: WBC: 10,5 x 103/uL*, RBC : 5.09 x 106/uL, HGB : 13.7 g/dl, PLT :
191 x 103/uL, HCT : 39.0 %, SGOT : 23, SGPT: 11, Ureum : 37, Kreatinin: 1,3,
Na: 142, K: 3.0, Cl: 109.

10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Appendisitis adalah peradangan pada Appendix vermiformis. Peritonitis adalah
peradangan pada lapisan dinding perut (peritoneum). Appendisitis dan peritonitis
merupakan kasus kegawatdaruratan danbiasanya memerlukan tindakan bedah.1

2.2 Anatomi
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm, dan
berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian
distal. Namun demikian, pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya
dan menyempit kearah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya
insidens apendisitis pada usia itu. 2 Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus
vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dan arteri apendikularis, sedangkan
persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis 10. Oleh karena itu, nyeri viseral pada
apendisitis bermula di sekitar umbilicus. 3
Pendarahan apendiks berasal dari arteri apendikularis yang merupakan arteri
tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi,
apendiks akan mengalami gangrene. 3
Persarafan sekum dan apendiks vermiformis berasal dari saraf simpatis dan
parasimpatis dari plekxus mesenterica superior. Serabut saraf simpatis berasal dari
medula spinalis torakal bagian kaudal, dan serabut parasimpatis berasal dari kedua
nervus vagus. Serabut saraf aferen dari apendiks vermiformis mengiringi saraf simpatis
ke segmen medula spinalis thorakal. 4Posisi apendiks terbanyak adalah retrocaecal
(65%), pelvical (30%), patileal (5%), paracaecal (2%), anteileal (2%) dan preleal (1%).
5
Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal, yang memungkinkan apendiks
bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya.
Pada kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di
belakang kolon asendens. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.
6
Anatomi apendiks dapat dilihat pada gambar 2.1

11
Gambar 2.1 Anatomi Apendiks (Indonesia Children, 2009)

2.3 Fisiologi
Secara fisiologis apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir tersebut
normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan
aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.
Appendixs adalah organ immunologik yang berperan dalam sekresi IgA karena
termasuk dalam komponen gut-associated lymphoid tissue (GALT) pada waktu kecil.
Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh
karena jumlah jaringan limfe disini sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlahnya di
saluran cerna dan di seluruh tubuh.6
2.4 Epidemiologi
Appendisitis merupakan salah satu kasus emergensi yang sering ditemui dan
merupakan salah satu penyebab nyeri perut yang paling sering. Insidensi appendisitis
lebih rendah pada negara dengan budaya diet yang tinggi serat karena diet yang tinggi
serat dapat melunakkan konsistensi feses, mengurangi waktu transit makanan di usus
dan mengurangi pembentukan fecalith yang merupakan penyebab tersering pada
appendisitis. 1

Insiden apendisitis di negara maju lebih tinggi dari pada di negara berkembang.
Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari satu
tahun jarang terjadi. Insiden tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu
menurun. Insidens pada pria dengan perbandingan 1,4 lebih banyak dari pada wanita. 7

12
2.5 Etiologi
Penyebab appendisitis belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi yaitu sebagai berikut:
1) Obstruksi, Obstruksi dari lumen appendixs dapat disebabkan oleh hal-hal berikut :
- Hiperplasi kelenjar getah bening
- Fekalit atau masa feses yang membatu
- Corpus alienum , biji – bijian
- Striktur lumen, kinking, karena mesoappendiks pendek, adesi.
2) Infeksi, biasanya secara hematogen dari tempat lain, misalnya pneumonia, tonsillitis,
dsb. Jenis kuman yang sering menginfeksi antara lain E. Coli dan
Streptococcus.Beberapa penelitian tentang faktor yang berperan dalam
etiologiterjadinya apendisitis akut diantaranya obstruksi lumen apendiks,
obstruksibagian distal kolon, erosi mukosa, konstipasi dan diet rendah serat.
Padakeadaan klinis, faktor obstruksi ditemukan dalam 60 - 70% kasus.1,6
2.6 Patofisiologi

Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh


hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat
peradangan sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang
diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak,
namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat
aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada
saat inilah terjadi apendistis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.8

Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat, hal tersebut
akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus
dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga
menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah, keadaan ini disebut dengan apendisitis
supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding
apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis
gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.9

13
2.7 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
a) Anamnesis :
- Nyeri perut kanan bawah, riwayat nyeri yang berpindah mulai dari nyeri ulu hati
(epigastrik) atau sekitar umbilikus (periumbilikal) kemudian berpindah ke kanan
bawah
- Mual
- Muntah
- Diare atau konstipasi
- Demam
b) Pemeriksaan fisik

Status lokalis abdomen kuadran kanan bawah adalah :

1. Nyeri tekan (+) Mc. Burney. Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan
bawah atau titik Mc. Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis.
2. Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum. Rebound tenderness(nyeri lepas tekan)
adalah nyeri yang hebat di abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba
dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan perlahan dan dalam di titik Mc.
Burney.
3. Defence muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan
adanya rangsangan peritoneum parietal. Hal ini biasanya di dapatkan pada kasus
appendicitis perforasi
4. Rovsing sign (+) adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah apabila dilakukan
penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini diakibatkan oleh adanya nyeri
lepas yang dijalarkan karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan.
5. Psoas sign (+) terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh peradangan
yang terjadi pada apendiks.
6. Obturator sign (+) adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul dan lutut difleksikan
kemudian dirotasikan ke arah dalam dan luar secara pasif, hal tersebut menunjukkan
peradangan apendiks terletak pada daerah hypogastrium. 1, 2, 7

Pada perkusi akan terdapat nyeri ketok pada auskultasi akan terdapat peristaltik
normal, peristaltik tidak ada pada illeus paralitik karena peritonitis generalisata akibat
14
apendisitis perforata. Auskultasi tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis
apendisitis, tetapikalau sudah terjadi peritonitis maka tidak terdengar bunyi peristaltik
usus. Pada pemeriksaan colok dubur (Rectal Toucher) akan terdapat nyeri pada jam 9-
12. 2

Apendisitis dapat didiagnosis menggunakan skor alvarado yang dapat dilihat pada
table berikut :

Sumber : www.emergencyradiology.wordpress.com

a) Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium

- Hitung jenis leukosit dengan hasil leukositosis.


- Pemeriksaan urin dengan hasil sedimen dapat normal atau terdapat leukosit dan
eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang menempel pada ureter atau
vesika. Pemeriksaan leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi
tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. Pada apendisitis akut dan perforasi
akan terjadi leukositosis yang lebih tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal.
Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Urin rutin
penting untuk melihat apakah terdapat infeksi pada ginjal.
- Tes kehamilan untuk diagnosis banding pada wanita

15
Pemeriksaan Radiologi dengan Apendikogram dan USG. 1.2

2.8 Diagnosis banding


Banyak masalah yang dihadapi saat menegakkan diagnosis apendisitis karena
penyakit lain yang memberikan gambaran klinis yang hampir sama dengan apendisitis,
diantaranya adalah :

1. Gastroenteritis, ditandai dengan terjadi mual, muntah, dan diare mendahului rasa
sakit. Sakit perut lebih ringan, panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan,
apendisitis akut.
2. Limfadenitis Mesenterika, biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis.
Ditandai dengan nyeri perut kanan disertai dengan perasaan mual dan nyeri tekan
perut.
3. Infeksi Panggul dan salpingitis akut kanan sulit dibedakan dengan apendisitis akut.
Suhu biasanya lebih tinggi dari pada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah lebih
difus. Infeksi panggul pada wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin.
4. Gangguan alat reproduksi wanita, folikel ovarium yang pecah dapat memberikan
nyeri perut kanan bawah pada pertengahan siklusmenstruasi. Tidak ada tanda radang
dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam.
5. Kehamilan ektopik, hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang
tidak jelas seperti ruptur tuba dan abortus. Kehamilandi luar rahim disertai
pendarahan menimbulkan nyeri mendadakdifus di pelvik dan bisa terjadi syok
hipovolemik.
6. Divertikulosis Meckel, gambaran klinisnya hampir sama denganapendisitis akut dan
sering dihubungkan dengan komplikasi yang mirip pada apendisitis akut sehingga
diperlukan pengobatan serta tindakan bedah yang sama.
7. Ulkus peptikum perforasi, sangat mirip dengan apendisitis jika isi gastroduodenum
mengendap turun ke daerah usus bagian kanan sekum.
8. Batu ureter, jika diperkirakan mengendap dekat appendiks dan menyerupai apendisitis
retrosekal. Nyeri menjalar ke labia, skrotum, penis, hematuria dan terjadi demam atau
leukositosis.11

2.9 Tatalaksana
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita apendisitis meliputi
penanggulangan konservatif dan operatif.

16
1. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak
mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian
antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada penderita apendisitis perforasi,
sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik
sistemik. 10
2.Penanggulanganoperatif
Bila diagnosasudah tepat dan jelas ditemukan apendisitis maka tindakan yang
dilakukan adalah operasi membuang appendiks. Penundaan appendektomi dengan
pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses apendiks
dilakukan drainase.10

2.10 Komplikasi
Perforasi usus, peritonitis umum, abses appendiks, tromboflebitis supuratif sistem
portal, abses subfrenikus, sepsis dan obstruksi usus.1
2.11 Prognosis
Tingkat morbiditas dan mortalitasdipengaruhi oleh usia pasien, keadekuatan
persiapan prabedah, serta stadium penyakit pada waktu intervensi bedah. Apendisitis
tak berkomplikasi membawa mortalitas kurang dari 0,1%, gambaran yang
mencerminkan perawatan prabedah, bedah dan pascabedah yang tersedia saat ini.
Tingkat mortalitas keseluruhan berkisar antara 0.2- 0.8 % dan disebabkan oleh
komplikasi penyakit dari intervensi bedah. Pada anak, angka ini berkisar antara 0.1-1
%, sedangkan pada pasien diatas 70 tahun angka ini meningkat diatas 20 % terutama
karena keterlambatan diagnosis dan terapi.11

17
BAB III
PEMBAHASAN

Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri perut kanan bawah disertai
demam sejak 4 hari lalu, nyeri dirasakan sangat hebat dan menetap pada hari pertama
kemudian membaik setelah berobat namun nyeri masih dirasakan hilang timbul. Mual
muntah serta riwayat nyeri perut yang berpindah disangkal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan sakit sedang, gizi cukup, compos mentis.
Tekanan darah : 132/84 mmHg, nadi: 90 x/menit, reguler Pernapasan : 24 x/menit,
tipe thoracoabdominal, suhu axilla: 37,40C VAS score 3-4. Terdapat Mc Burney sign
(+), psoas sign (+) dan obturator sign (+), Alvarado score 6. Hasil pemeriksaan
laboratorium: WBC: 10,5 x 103/uL*, RBC : 5.09 x 106/uL, HGB : 13.7 g/dl, PLT :
191 x 103/uL, HCT : 39.0 %, SGOT : 23, SGPT: 11, Ureum : 37, Kreatinin: 1,3,
Na: 142, K: 3.0, Cl: 109. Kemudian pasien di rawat inap dan diberikan terapi IVFD
RL, Inj.Antrain, inj.ranitidin dan inj. Ondancentron. Pemberian cairan RL dimaksud
untuk menjaga asupan cairan dan juga nutrisi pasien. Injeksi ranitidine untuk
mengurangi produksi asam lambung dan injeksi Antrain yang mengandung natrium
metamizole yang berfungsi sebagai anti nyeri dan anti demam dan injeksi
ondancentron yang berfungsi sebagai anti mual. Pada kasus ini antrainnya hanya
diberikan jika pasien merasa sangat nyeri saja karena pada kasus appendisitis,
pemberian obat anti-nyeri yang kuat merupakan salah satu kontraindikasi karena dapat
menimbulkan ‘masking efect’ atau dapat menghilangkan rasa nyerinya sehingga dapat
menyebabkan pemeriksaan fisik dan diagnosis yang kurang tepat.
Setelah di rawat inap, pada pemeriksaan fisik didapatkan kesan appendicitis akut,
setelah itu direncanakan untuk operasi Laparatomy appendectomy. Setelah operasi
selesai, didapatkan bahwa appendiks mengalami adhesi sehingga dilakukan pula
omentectomy.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Raviglion MC, O’Brien RJ. Tuberculosis. In: Harrison’s Principles of internal medicine. 15th

Edition. USA: McGraw-Hill, 2001.

2. Bahar A, Amin Z. Tuberkulosis paru. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 2. Jakarta:

Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2007. 988-993

3. Aditama TY, et al. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. Jakarta:

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006

4. Alsagaff H, Mukty A. Tuberkulosis paru. Dalam: Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Jakarta:

Airlangga, 2002. 73-108

5. Jawetz E, Melnick JL, Adelberg EA, Brooks GF, Butel JS, Ornston LN. Mikrobiologi

Kedokteran, Buku II Edisi I Jakarta: Salemba Medika, 2005.

6. Departemen Kesehatan RI. Buku Pedoman Program Penanggulangan Tuberkulosis.

http://www.tbcindonesia.or.id

7. WHO. Standar Internasional Penanganan Tuberkulosis. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2006

8. Yunus F. Diagnosis Tuberkulosis. http://www.kalbe.co.id/files/cdk [Diakses 22 Oktober 2009]

9. Permatasari A. Pemberantasan Penyakit TB Paru dan Strategi DOTS.

http://www.Adln.lib.unair.ac.id/go.php.id=jiptunair

19