Anda di halaman 1dari 2

HUKUM DAN PRANATAA PEMBANGUNAN – RUANG TERBUKA HIJAU (RTH)

LATAR BELAKANG

HUKUM adalah peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh
penguasa atau pemerintah; undang – undang, peraturan, dsb untuk mengatur pergaulan hidup
masyarakat, patokan (kaidah, ketentuan) mengenai peristiwa (alam,dsb) yang tertentu; keputusan
(pertimbangan) yang ditetapkan oleh hakim (dalam pengadilan).

PRANATA adalah interaksi antar individu atau kelompok atau kumpulan. Pengertian individu dalam
satu kelompok dan pengertian individu dalam satu perkumpulan memiliki makna yang berbeda
menurut F. Durkheim, yaitu, dasar organisasi individu dalam kelompok adalah adat-istiadat,
sedangkan dasar organisasi individu dalam perkumpulan adalah organisasi buatan. Hubungan yang
terjadi dalam satu kelompok didasarkan perorangan, sedangkan dalam kumpulan kelompok adalah
berazasguna sangat tergantung dengan tujuan akhir yang sering dinyatakan dalam kontrak. Kontrak
adalah sebagai parameter hubungan yang terjadi dalam proses kegiatan pembangunan. Hubungan
antara pemilik dengan perancang, hubungan antara pemilik dengan pelaksana. Kontrak menunjukan
hubungan yang bersifat independent dan terarah atas tanggungjawab dari tugas dan fungsinya.

PEMBANGUNAN adalah suatu proses untuk menuju perubahan baik individu maupun kelompok
dalam rangka mewujudkan peningkatan dalam kesejahteraan hidup, kualitas hidup dan
perkembangan peradaban manusia.

Hukum dan Pranata Pembangunan merupakan suatu aturan/patokan/acuan resmi yang mengatur
interaksi antar individu/kelompok dengan lingkungannya dalam melakukan pengembangan
pembangunan terhadap lingkungannya agar tercipta suatu kesesuaian dalam pembangunan suatu
lingkungan atau daerah ruang lingkup pembangunan tersebut.

Dalam arsitektur khususnya Hukum Pranata Pembangunan lebih memfokuskan pada peningkatan
kesejahteraan hidup yang berhubungan dengan interaksi individu dengan lingkungan binaan.
Interaksi yang terjadi menghasilkan hubungan kontrak antar individu yang terkait seperti pemilik
(owner), konsultan (arsitek), kontraktor (pelaksana), dan unsur pendukung lainnya dalam rangka
mewujudkan ruang atau bangunan untuk memenuhi kebutuhan bermukim.

Dalam konteks perkotaan, pembangunan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mencapai suatu
perubahan ke arah yang lebih baik, dalam hal infrastruktur, perekonomian, kependudukan dan lain-
lain. Rencana Tata Ruang Wilayah merupakan salah satu bentuk dari bahan acuan tersebut. Rencana
ini dibuat berdasarkan analisis kondisi eksisting dan rencana yang ingin dicapai wilayah ke depannya
guna mencapai tujuan pembangunan nasional. Pembangunan Nasional adalah upaya yang
dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara. (UU Pasal 1
ayat 2 No.25/2004).

Setiap pembangunan di suatu kota harus merujuk pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota tersebut.
Jika dalam suatu pembangunan terdapat penyimpangan terhadap rencana tataruang wilayah
setempat, maka akan diberlakukan sanksi berupa disinsentif, yaitu penanggungan kerugian akibat
melakukan penyimpangan.
Sebagai contoh pembangunan yang dilakukan di kawasan Ruang Terbuka Hijau di sebuah kota. RTH
pada sebuah kota memiliki fungsi yang sangat penting sebagai jantung sebuah kota. RTH dapat
difungsikan sebagai tempat resapan air, penghasil oksigen sebuah kota, pengendalian pencemaran
dan kerusakan tanah, air maupun udara, tempat berlindungnya keanekaragaman hayati, sarana
estetika kota, dsb.

Oleh sebap itu kawasan RTH kota memiliki peranan yang sangat penting terhadap kelangsungan
kehidupan manusia di perkotaan. Maka dari itu tidak sepantasnya kawasan RTH kota ini dibiarkan
kian menyempit tiap tahunnya karena pembangunan-pembangunan yang menyalahi aturan tata
ruang kota. Pemerintah harus segera menindak tegas bagi individu/kelompok yang sengaja
menyalahi aturan dengan menggunakan kawasan RTH untuk pembangunan lainnya.