Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Refleksi Diskusi Kasus


1. Pengertian
Refleksi Diskusi Kasus adalah suatu metode dalam merefleksikan pengalaman klinis
bidan yang mengacu kepada pemahaman terhadap standar (Depkes RI, 2005).
Refleksi Diskusi Kasus (RDK) adalah suatu metode pembelajaran dalam merefleksikan
pengalaman perawat dan bidan yang aktual dan menarik dalam memberikan dan mengelola
asuhan keperawatan dan kebidanan di lapangan melalui suatu diskusi kelompok yang mengacu
pemahaman standar yang ditetapkan. RDK ini merupakan wahana untuk masalah dengan
mengacu pada standar keperawatan / kebidanan yang telah ditetapkan (Ratnasari, 2010).

2. Tujuan
Adapun tujuan dari Refleksi Diskusi Kasus adalah :
1) Untuk mengembangkan profesionalisme bidan
2) Meningkatkan aktualisasi diri bidan
3) Membangkitkan motivasi untuk belajar (Depkes RI, 2005).

3. Persyaratan
1) Suatu kelompok terdiri dari 5-8 orang
2) Salah satu anggota kelompok berperan sebagai fasilitator, satu orang lagi sebagai penyaji
dan yang lainnya sebagai peserta.
3) Posisi fasilitator, penyaji dan peserta lain dalam diskusi setara (equal)
4) Kasus yang disajikan oleh penyaji merupakan pengalaman klinis kebidanan yang menarik
5) Posisi duduk sebaiknya melingkar tanpa dibatasi oleh meja atau benda lainnya, agar
setiap peserta dapat saling bertatapan dan berkomunikasi secara bebas
6) Tidak boleh ada interupsi dan hanya satu orang saja yang berbicara dalam satu saat,
peserta lainnya memperhatikan proses diskusi
7) Tidak diperkenankan ada dominasi, kritik yang dapat memojokkkan peserta lainnya
8) Membawa catatan diperbolehkan, namun perhatian tidak boleh terkikis atau tertumpu
hanya pada catatan, sehingga dapat mengurangi perhatian dalam diskusi (Depkes RI,
2005).

4. Proses Refleksi Diskusi Kasus


Proses Refleksi Diskusi Kasus meliputi :
1) Sistem yang didukung oleh manajer lini pertama (Kepala Ruangan / Supervisor) yang
mendorong serta mewajibkan anggotanya untuk melaksanakan RDK secara rutin,
terencana dan terjadwal dengan baik.
2) Bidan dan perawat berbagi (sharring) pengalaman klinis dan iptek di antara sejawat
masing-masing selama 1 jam, minimal setiap bulan sekali.
3) Setiap anggota secara bergilir mendapat kesempatan dan menimba pengalaman sebagai
fasilitator, penyaji dan sebagai anggota dalam diskusi tersebut.
4) Proses diskusi memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk menyampaikan
pendapat dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan sedemikian rupa yang
merefleksikan pengalaman, pengetahuan serta kemampuan masing-masing.
5) Selama diskusi berlangsung harus dijaga agar tidak ada pihak-pihak yang merasa
tertekan ataupun terpojok. Yang diharapkan terjadi justru sebaliknya yaitu dukungan dan
dorongan bagi setiap peserta agar terbiasa menyampaikan pendapat mereka masing-
masing.
6) Refleksi Diskusi Kasus dapat dimanfaatkan sebagai wahana untuk memecahkan
masalah, namun tidak dipaksakan (tidak harus).
7) Adanya catatan kehadiran dan laporan RDK serta catatan tentang isu-isu yang muncul
tidak terjadi atau terulang lagi.
8) RDK merupakan salah satu metode in-service training yang mengandung ciri-ciri
pembelajaran antar sejawat dalam satu profesi, sebagai salah satu sarana untuk
meningkatkan kemampuan bidan (Depkes, 2005).

5. Tahapan Kegiatan
Tahapan kegiatan Refleksi Diskusi Kasus sesuai Buku Pedoman Pengembangan
Manajemen Kinerja (PMK) perawat dan bidan terdiri dari 4 tahapan, yaitu :
1. Tahap I : Penetapan Topik Diskusi
2. Tahap II : Menyusun Jadwal Kegiatan
3. Tahap III : Penetapan Waktu Pelaksanaan
4. Tahap IV : Pelaporan

Keterangan :
1. Topik yang ditetapkan untuk didiskusikan dalam RDK antara lain :
Pengalaman pribadi bidan dan perawat yang aktual dan menarik dalam menangani pasien
di Rumah Sakit atau Puskesmas, pengalaman dalam mengelola pelayanan kebidanan dan
isu strategis dan pengalaman yang masih relevan untuk dibahas dan akan memberikan
informasi berharga untuk meningkatkan mutu pelayanan.
2. Jadwal kegiatan RDK adalah daftar kegiatan yang harus dilaksanakan dalam kurun waktu
yang telah ditetapkan dan disepakati. Kegiatan RDK dialukan minimal 1kali dalam 1
bulan. Setiap bulan ditetapkan 2 orang yang bertugas sebagai penyaji dan fasilitator,
selebihnya sebagai peserta.
3. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut minimal 60 menit, dengan
perincian : pembukaan 5 menit, penyajian 15 menit, diskusi / tanya jawab 30 menit dan
penutup 10 menit.
4. Tahap pelaporan dilakukan agar kegiatan RDK dapat diketahui dan dibaca oleh
pimpinan, anggota kelompok dan teman sejawat lainnya.
Tahapan RDK

Ka Ruangan

Kelompok RDK
(5-8 bidan)

Penyaji Kasus
TAHAP PRA RDK

Penetapan Kasus

Penetapan Jadwal
Kegiatan

1. Waktu Penyajian?
2. Apa Dx Kebidanan?
Penyajian
3. Data yang mendukung?
TAHAP Kasus
4. Bagaimana intervensi yang
PELAKSAN sudah dilakukan?
AAN RDK 5. Apa hambatan yang ditemukan?

Diskusi semua anggota


(moderator, penyaji, peserta)

Solusi masalah
TAHAP PASCA RDK

Kesimpulan dan dokumentasi


6. Kriteria Kasus
Kriteria kasus untuk RDK adalah :
1) Pengalaman pribadi bidan dan perawat yang aktual dan menarik dalam menangani
pasien di Rumah Sakit atau Puskesmas.
2) Pengalaman dalam mengelola pelayanan kebidanan dan isu strategis.
3) Pengalaman yang masih relevan untuk dibahas dan akan memberikan informasi berharga
untuk meningkatkan mutu pelayanan.

7. Peran sebagai Fasilitator, Penyaji dan Anggota


1. Pedoman Bagi Fasilitator
1) Membuka pertemuan dan mengucapkan selamat datang.
2) Menyampaikan tujuan pertemuan, mengajak semua peserta untuk merefleksikan
pengalaman klinis masing-masing.
3) Meminta persetujuan tentang lamanya waktu diskusi (kontrak waktu).
4) Menyampaikan syarat-syarat selama pertemuan.
5) Mempersilakan penyaji untuk mempresentasikan kasusnya selama 15 menit.
6) Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengajukan pertanyaan
secara bergiliran selama 30 menit.
7) Mengatur lalu lintas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta dan klarifikasi
bila ada yang tidak jelas.
8) Fasilitator boleh mengajukan pertanyaan sama seperti peserta lainnya.
9) Setelah pertanyaan berakhir, fasilitator bertanya kepada presenter, apa yang bisa
dipelajari dari diskusi tersebut, kemudian dilanjutkan kepada semua peserta lainnya
satu per satu, termasuk fasilitator sendiri juga memberikan pendapatnya.
10) Fasilitator membuat kesimpulan dan menyampaiakn isu-isu yang muncul berdasarkan
pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh semua peserta.
11) Fasilitator melengkapi catatan RDK meliputi materi, isu-isu yang uncul, termasuk
meminta tanda tangan semua peserta.
12) Selanjutnya fasilitator meminta kesepakatan untuk rencana pertemuan berikutnya.
13) Fasilitator menutup pertemuan dan berjabat tangan.
14) Fasilitator menyimpan laporan RDK pada arsip yang telah ditentukan bersama.
2. Pedoman Bagi Penyaji
1) Memikirkan serta menyiapkan kasus klinik keperawatan atau kebidanan yang pernah
dialami atau pernah terlibat di dalam perawatannya.
2) Menjelaskan kasus tersebut dan tetap merahasiakan identitas pasien.
3) Tujuan penyajian kasus memberikan kesempatan bagi penyaji untuk berpikir atau
berefleksi ulang tentang bagaimana pasien tersebut ditangani, hambatan apa saja
yang dialami serta keberhasilan apa saja yang telah dicapai.
4) Penyaji mempunyai kesempatan 15 menit untuk menyajikan kasus tersebut.
5) Bila penyaji telah selesai, peseta akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berupa
klarifikasi penanganannya. Mereka tidak akan mengatakan apa yang harus anda
lakukan atau memberi jawaban maupun saran apapun.
6) Penyaji menyimak pertanyaan dan memberikan jawaban sesuai dengan pengetahuan
serta pengalaman nyata yang telah dilakukan dan merujuk pada standar yang relevan
atau SOP yang berlaku.
7) Bila perlu mencatat esensi penting dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, atau
hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya sebagai informasi baru.
8) Bila tidak ada lagi pertanyaan, fasilitator akan meminta anda sebagai orang pertama
dalam kelompok untuk menyamaikan apa saja yang dapat dipelajari dari kasus
tersebut, terutama berhubungan dengan informasi baru yang dianggap dapat
memberikan tambahan pengetahuan atau sesuatu hal yang pernah diketahui tetapi
dilupakan. Semua hal tersebut diyakini akan dapat dipergunakan untuk perbaikan
kinerja pada waktu yang akan datang.

3. Pedoman Bagi Anggota / Peserta


1) Setelah memperhatikan penyajian kasus tersebut, setiap peserta menyiapkan
pertanyaan-pertanyaan, minimal satu pertanyaan. Kesempatan seluas-luasnya
diberikan untuk melakukan klarifikasi atas penanganan kasus tersebut.
2) Di dalam mengajukan pertanyaan, cobalah merujuk pada standar atau SOP yang
berlaku, refleksi ulang bila anda mempunyai pengalaman dalam menangani kasus
semacam itu atau iptek terbaru yang diketahui.
3) Peserta tidak diperbolehkan untuk memberikan jawaban, saran secara langsung atau
memberitahukan bagaimana seharusnya perawatan pasien itu.
4) Bila anda berpikir bahwa penyaji melakukan perawatan dengan cara yang berbeda,
tidak sesuai standar atau tidak sesuai dengan SOP yang berlaku, anda dilarang keras
untuk melakukan kritik. Anda hanya dapat melakukan klarifikasi kepada penyaji
apakah dia telah memikirkan cara lain seperti apa yang anda pikirkan.
5) Selama diskusi berangsung semua peserta memberikan perhatian penuh, karena
sangat mungkin dari setiap pertanyaan atau klarifikasi yang muncul, ada di antaranya
yang belum pernah diketahui oleh peserta lainnya. Ini merupakan kesempatan bagi
semua anggota untuk belajar serta memperoleh informasi atau pengetahuan baru dari
proses diskusi ini dalam waktu yang relative singkat.
6) Perlu diingat bahwa semua anggota kelompok juga akan belajar dari pemikiran anda.
7) Peserta mempuyai waktu 30 menit untuk mengajukan pertanyaan / berdiskusi,
setelah itu anda perlu menyimak kembali apa yang dapat anda pelajari dari proses
diskudi tersebut, guna dapat menjawab dengan tepat pertanyaan dari fasilitator pada
akhir sesi tersebut.
8) Kesimpulan tentang isu-isu yang muncul dapat dijadikan cermin bagi semua peserta,
agar kejadian atau masalah yang sama tidak terulang di masa yang akan datang.

8. Metode
Presentasi/penyajian – diskusi.

9. Alat Bantu
1) Sarana diskusi : alat tulis, handout (materi RDK), laptop, LCD
2) Status / dokumentasi kebidanan pasien
10. Alur Refleksi Diskusi Kasus

Identifikasi/Uraian Kasus
(Description of the event)

Perasaan
(Feelings & Thought)

Evaluasi
(Evaluation)

Analisis
(Analisys)

Kesimpulan
(Conclusion/synthesis)

Rencana Tindak Lanjut


(Action Plan)

Gambar 2.1 Alur Refleksi Diskusi Kasus


PERDARAHAN POST PARTUM ec ATONIA UTERI

A. Perdarahan Post Partum


1. Definisi
Perdarahan postpartum (PPP) didefinisikan sebagai kehilangan 500 ml atau lebih darah
setelah persalinan pervaginam atau 1000 ml atau lebih setelah seksio sesaria (Leveno, 2009;
WHO, 2012).
Perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan yang terjadi setelah bayi lahir yang
melewati batas fisiologis normal. Pada umumnya seorang ibu melahirkan akan mengeluarkan
darah secara fisiologis sampai jumlah 500 ml tanpa menyebabkan gangguan homeostasis.
Dengan demikian secara konvensional dikatakan bahwa perdarahan yang melebihi 500 ml
dapat dikategorikan sebagai perdarahan pasca persalinan dan perdarahan yang secara kasat
mata mencapai 1000 ml harus segera ditangani secara serius (koto,2011).

Klasifikasi klinis perdarahan postpartum yaitu (Manuaba, 2008) :


a. Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan postpartum yang terjadi dalam 24 jam
pertama kelahiran. Penyebab utama perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri,
retensio plasenta, sisa plasenta, robekan jalan lahir dan inversio uteri.
b. Perdarahan Postpartum Sekunder yaitu perdarahan postpartum yang terjadi setelah 24
jam pertama kelahiran. Perdarahan postpartum Sekunder disebabkan oleh infeksi,
penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang tertinggal.

2. Etiologi
Penyebab HPP dikenal sebagai 4 T, yaitu Tone, Tissue, Trauma dan Thrombin. Kejadian
perdarahan postpartum ini di sebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
a. Atonia uteri: diperkirakan 90%
b. Robekan jalan lahir: diperkirakan 7%
c. Retensio plasenta, inversion uterus, dan gangguan pembekuan darah: diperkirakan 3%
(Parisaei, et all., 2008).
Faktor risiko PPP dapat ada saat sebelum kehamilan, saat kehamilan, dan saat persalinan.
Faktor risiko sebelum kehamilan meliputi usia, indeks massa tubuh, dan riwayat perdarahan
postpartum. Faktor risiko selama kehamilan meliputi usia, indeks massa tubuh, riwayat
perdarahan postpartum, kehamilan ganda, plasenta previa, preeklampsia, dan penggunaan
antibiotik. Sedangkan untuk faktor risiko saat persalinan meliputi plasenta previa anterior,
plasenta previa mayor, peningkatan suhu tubuh >37⁰, korioamnionitis, dan retensio plasenta
(Briley et al., 2014).

3. Tanda dan Gejala


Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat,
tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain
(Wiknjosastro, 2006; Cunningham, 2005).

Gambaran klinis pada hipovolemia dapat dilihat pada tabel berikut:


Tabel 1. Gambaran klinis perdarahan obstetric
Volume darah yang Tekanan darah Tanda dan gejala Derajat syok
hilang (sistolik)
500-1000 mL (<15-20%) Normal Tidak ditemukan -
1000-1500 mL (20-25%) 80-100 mmHg Takikardi (<100 kali/menit) Ringan
Berkeringat
Lemah
1500-2000 mL (25-35%) 70-80 mmHg Takikardi (100-120 Sedang
kali/menit)
Oliguria
Gelisah
2000-3000 mL (35-50%) 50-70 mmHg Takikardi (>120 kali/menit) Berat
Anuria
Sumber : B-Lynch (2006)
Diagnosis perdarahan postpartum dapat digolongkan berdasarkan tabel berikut ini :
Gejala dan tanda yang selalu ada Gejala dan tanda yang Diagnosis
kadang-kadang ada kemungkinan
- Uterus tidak berkontraksi dan lembek - Syok - Atonia Uteri
-Perdarahan segera setelah anak lahir
(Perdarahan Pascapersalinan Primer atau P3)
- Perdarahan segera (P3) - Pucat -Robekan jalan
- Darah segar yang mengalir segera setelah - Lemah lahir
bayi lahir (P3) - Menggigil
- Uterus kontraksi baik
- Plasenta lengkap
- Plasenta belum lahir setelah 30 menit -Tali pusat putus akibat -Retensio
- Perdarahan segera (P3) traksi berlebihan Plasenta
- Uterus kontraksi baik -Inversio uteri akibat
tarikan
-Perdarahan lanjutan
- Plasenta atau sebagian selaput tidak lengkap - Uterus berkontraksi -Tertinggalnya
- Perdarahan segera (P3) tetapi tinggi fundus sebagian plasenta
tidak berkurang
- Uterus tidak teraba - Syok neurogenik - Inversio uteri
- Lumen vagina terisi massa - Pucat dan limbung
-Tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir)
- Perdarahan segera (P3)
- Nyeri sedikit atau berat
- Sub-involusi uterus - Anemia -Perdarahan
- Nyeri tekan perut bawah - Demam terlambat
- Perdarahan lebih dari 24 jam setelah -Endometritis
persalinan. Perdarahan sekunder atau P2S. atau sisa plasenta
- Perdarahan bervariasi (ringan atau berat, (terinfeksi atau
terus menerus atau tidak teratur) dan berbau tidak)
(jika disertai infeksi)
-Perdarahan segera (P3) (Perdarahan - Syok -Robekan dinding
intraabdominal dan atau vaginum) - Nyeri tekan perut uterus (ruptura
- Nyeri perut berat -Denyut nadi ibu cepat uteri)
Sumber : Saifuddin (2002)

4. Patofisiologi
Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk meningkatkan
sirkulasi ke sana, atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun
sehingga pembuluh darah yang melebar tadi tidak menutup sempura sehinga pedarahan
terjadi terus menerus. Trauma jalan terakhir seperti epiostomi yang lebar, laserasi perineum,
dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh darah, penyakit
darah pada ibu; misalnya afibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak ada kurangnya
fibrin untuk membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyabab dari perdarahan
dari postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada keadaan shock
hemoragik.

5. Komplikasi
a. Syok hipovolemik
b. Mudah terjadi komplikasi infeksi terutama akibat perdarahan yang berasal dari trauma
jalan lahir.
c. Sindroma Sheehan:
1) Terjadi atropi dan nekrosis dari master of gland, kelenjar hipofisis dengan
berbagai tingkatannya.
2) Gambaran gejala penuh digambarkan pertama kali oleh Sheehan dan Murdoch
1938, yaitu amenorea, gagal memberikan laktasi karena payudara atropi,
hilangnya bulu sebagai tanda seksual sekunder pada pubis, ketiak, gangguan
kelenjar lainnya seperti hipotiroidisme, insufisiensi kelenjar adrenal.
3) Patogenesisnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi terjadi gangguan dalam
sekresi hormon tropik pada kelenjar sehingga mengalami gangguan.
4) Gangguan klinik sesuai dengan fungsi hormonalnya.
6. Penatalaksanaan
Penanganan pasien dengan PPP memiliki dua komponen utama yaitu resusitasi dan
pengelolaan perdarahan obstetri yang mungkin disertai syok hipovolemik dan identifikasi
serta pengelolaan penyebab dari perdarahan. Keberhasilan pengelolaan perdarahan
postpartum mengharuskan kedua komponen secara simultan dan sistematis ditangani. (Edhi,
2013).
Penggunaan uterotonika (oksitosin saja sebagai pilihan pertama) memainkan peran
sentral dalam penatalaksanaan perdarahan postpartum. Pijat rahim disarankan segera setelah
diagnosis dan resusitasi cairan kristaloid isotonik juga dianjurkan. Penggunaan asam
traneksamat disarankan pada kasus perdarahan yang sulit diatasi atau perdarahan tetap terkait
trauma. Jika terdapat perdarahan yang terus-menerus dan sumber perdarahan diketahui,
embolisasi arteri uterus harus dipertimbangkan. Jika kala tiga berlangsung lebih dari 30
menit, peregangan tali pusat terkendali dan pemberian oksitosin (10 IU) IV/IM dapat
digunakan untuk menangani retensio plasenta. Jika perdarahan berlanjut, meskipun
penanganan dengan uterotonika dan intervensi konservatif lainnya telah dilakukan, intervensi
bedah harus dilakukan tanpa penundaan lebih lanjut (WHO, 2012).
B. Atonia Uteri
1. Definisi
Atonia uteri (Relaksasi otot uterus) adalah uterus tidak berkontraksi dalam 15 menit
setelah dilakukan pemijatan uterus (plasenta telah lahir). (Depkes Jakarta : 2002)
Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus atau kontraksi rahim yang menyebabkan
uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi
dan plasenta lahir. (Taber, 2010).
Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana lemahnya kontraksi rahim yang menyebabkan
uterus tidak dapat menghentikan perdarahan yang terjadi dari tempat implantasi plasenta
setelah bayi dan plasenta lahir.

2. Etiologi
Penyebab tersering kejadian pada ibu dengan atonia uteri antara lain : gemelli,
makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi, umur yang terlalu muda dan terlalu tua,
multipara dengan jarak pendek, partus lama atau terlantar, malnutrisi dapat juga karena salah
penanganan dalam usaha melahirkan plasenta, sedangkan sebenarnya belum terlepas dari
uterus.
Faktor Predisposisi atonia uteri sebagai berikut:
a. Regangan rahim yang berlebihan karena kehamilan kembar, polihidramnion, atau anak
terlalu besar.
b. Kelelahan kerena persalinan lama.
Kelemahan akibat partus lama bukan hanya rahim yang lemah, cenderung berkontraksi
lemah setelah melahirkan, tetapi juga ibu yang keletihan kurang bertahan terhadap
kehilangan darah.
c. Kehamilan grande-multipara.
Uterus yang lemah banyak melahirkan anak cenderung bekerja tidak efisien dalam semua
kala persalinan.
d. Ibu dengan keadaan yang jelek, anemis, atau menderita penyakit menahun.
e. Mioma uteri yang mengganggu kontraksi rahim.
f. Infeksi intra uterin
g. Ada riwayat atonia uteri
3. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala atonia uteri :
a. Perdarahan pervaginam
Perdarahan segera setelah anak lahir (perdarahan pascapersalinan primer)
b. Konsistensi rahim lembek
Gejala ini merupakan gejala umum dari atonia uteri dan yang membedakan atonia dengan
penyebab perdarahan yang lainnya.

Diagnosis ditegakkan bila setelah bayi dan plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif
dan banyak, bergumpal dan pada palpasi didapatkan fundus uteri masih setinggi pusat atau
lebih dengan kontraksi yang lembek, perlu diperhatikan bahwa pada saat atonia uteri
didiagnosis, maka pada saat itu juga masih ada darah sebanyak 500 – 1000 cc yang sudah
keluar dari pembuluh darah (Karkata, 2009).

4. Patofisiologi
Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah
melahirkan. Atonia uteri terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan postpartum
secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi
pembuluh darah yang memvaskularisasikan daerah implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi
apabila serabut-serabut miometrium tersebut tidak berkontraksi (Cuningham, 2005).
Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan lapisan tengah merupakan bagian yang
terpenting dalam hal kontraksi untuk menghentikan perdaraha postpartum, lapisan tengah
miometrium tersusun sebagai anyaman dan ditembus oleh pembuluh darah. Masing-masing
serabut tersebut mempunyai dua buah lengkungan sehingga setiap dua buah serabut tersebut
kira-kira membentuk angka delapan. Setelah partus, dengan adanya susunan otot seperti
diatas, jika otot berkontraksiakan menjempit pembuluh darah. Ketidakmampuan miometrium
untuk berkontraksi ini akan menyebabkan pembuluh darah pada uterus tetap vasodilatasi
sehingga terjadinya perdarahan postpartum (Cuningham, 2005).
Kegagalan kontraksi dan retraksi dari serat miometrium dapat menyebabkan perdarahan
yang cepat dan parah serta syok hipovolemik. Kontraksi miometrium yang lemah dapat
diakibatkan oleh kelelahan karena persalinan lama atau persalinan yang terlalu cepat,
terutama jika dirangsang. Selain itu, obat-obatan seperti obat anti-inflamasi nonsteroid,
magnesium sulfat, beta-simpatomimetik, dan nifedipin juga dapat menghambat kontraksi
miometrium. Penyebab lain adalah situs implantasi plasenta di segmen bawah rahim,
korioamnionitis, endomiometritis, septikemia, hipoksia pada solusio plasenta, dan hipotermia
karena resusitasi masif (Rueda et al., 2013).
Atonia uteri merupakan penyebab paling banyak PPP, hingga sekitar 70% kasus. Atonia
dapat terjadi setelah persalinan vaginal, persalinan operatif ataupun persalinan abdominal.
Penelitian sejauh ini membuktikan bahwa atonia uteri lebih tinggi pada persalinan abdominal
dibandingkan dengan persalinan vaginal (Edhi, 2013).

5. Komplikasi
Komplikasi pada atoia uteri yaitu perdarahan post partum primer yang dapat
mengakibatkan syok. Bila terjadi syok yang berat dan pasien selamat, dapat terjadi
komplikasi lanjutan yaitu anemia dan infeksi dalam masa nifas. Infeksi dalam keadaan
anemia bisa berlangsung berat sampai sepsis. Pada perdarahan yang disertai oleh pembekuan
intravaskuler merata dapat terjadi kegagalan fungsi organ-organ seperti gagal ginjal
mendadak (Khairi,2011).

6. Penatalaksanaan
a. Pemijatan uterus
b. Oksitosin dapat diberikan
c. Antisipasi dini akan kebutuhan darah dan transfusi sesuai kebutuhan, jika perdarahan
terus berlangsung, memastikan plasenta lahir lengkap, jika terdapat tanda-tanda sisa
plasenta, sisa plasenta tersebut dikeluarkan, uji pembekuan darah sederhana. Kegagalan
terbentuknya pembekuan darah setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat
pecah dengan mudah menunjukan adanya koagulopati.
d. Jika perdarahan terus berlangsung kompresi bimanual internal atau kompresi aorta
abdominalis.
e. Jika perdarahan masih berlangsung setelah dilakukan kompresi, ligasi arteri uterina dan
ovarika, histerektomi jika terjadi perdarahan yang mengancam jiwa.
a. Pakai sarung tangan steril, dengan lembut masukkan secara obstetrik (menyatukan kelima
ujung jari) melalui introitus dan ke dalam vagina ibu.
b. Periksa vagina dan serviks. Jika ada selaput ketuban atau bekuan darah pada kavum uteri
mungkin hal ini menyebabkan uterus tak dapat berkontraksi secara penuh.
c. Kepalkan tangan dalam dan tempatkan pada forniks anterior, tekan dinding anterior
uterus, ke arah tangan luar yang menahan dan mendorong dinding posterior uterus kea
rah depan sehingga uterus ditekan dari arah depan ke belakang.
d. Tekan kuat uterus di antara kedua tangan. Kompresi uterus ini memberikan tekanan
langsung pada pembuluh darah yang terbuka (bekas implantasi plasenta) di dinding
uterus dan juga merangsang miometrium untuk berkontraksi.
e. Evaluasi keberhasilan :
a) Jika uterus bekontraksi dan pendarahan berkurang, terus melakukan KBI selama
dua menit, kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dan pantau ibu secara
melekat selama kala empat.
b) Jika uterus berkontraksi tetapi pendarahan masih berlangsung, periksa ulang
perineum, vagina dan serviks apakah terjadi laserasi. Jika demikian, segera
lakukan penjahitan untuk menghentikan pendarahan. Jika uterus tidak
berkontraksi selama 5 menit, ajarkan keluarga untuk melakukan kompresi
bimanual eksternal (KBE) kemudian lakukan langkah-langkah penatalaksanaan
atonia uteri selanjutnya. Minta keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan.
f. Berikan 0,2 mg ergometrin IM atau misoprostol 600-1000 mcg per rectal. Jangan berikan
ergometrin kepada ibu dengan hipertensi karena ergometrin dapat menaikkan tekanan
darah.
g. Gunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18), pasang infus dan berikan 500cc
larutan Ringer Laktat yang mengandung 20 unit oksitosin.
h. Pakai sarung tangan steril atau desinfeksi tingkat tinggi dan ulangi KBI.
i. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 1 sampai 2 menit, segera rujuk ibu karena ini
merupakan bukan atonia uteri sederhana. Ibu membutuhkan tindakan gawatdarurat di
fasilitas kesehatan rujukan yang mampu melakukan tindakan operasi dan transfusi darah.
j. Sambil membawa ibu ke tempat rujukan, teruskan tindakan KBI dan infus cairan hingga
ibu tiba di tempat rujukan. Infus 500 ml pertama dihabiskan dalam waktu 10
menit.Berikan tambahan 500 ml/jam hingga tiba di tempat rujukan atau hingga jumlah
cairan yang diinfuskan mencapai 1,5 L dan kemudian lanjutkan dalam jumlah 125cc/jam.
Jika cairan infus tidak cukup, infuskan 500 ml (botol kedua) cairan infus dengan tetesan
sedang dan ditambah dengan pemberian cairan secara oral untuk rehidrasi.