Anda di halaman 1dari 8

POTENSI ARANG AKTIF CANGKANG BUNGA PINUS

SEBAGAI ADSORBEN ION KADMIUM (II) DAN TIMBAL (II)


DENGAN AKTIVATOR H2SO4 DALAM LARUTAN

Stefani Agnessia Manullang1, Subardi Bali2, Itnawita2


1Mahasiswa Program Studi S1 Kimia
2BidangKimia Analitik Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Kampus Binawidya Pekanbaru, 28293, Indonesia
stefani.agnessia@yahoo.com

ABSTRACT

Pine cone activated carbon has been used as an adsorbent to remove cadmium ions (II)
and lead (II) in solution; it was made from carbonization and activation process using
H2SO4 with variation concentration of 2.5, 5.0 and 7.5%. The characterization result
showed that pine cone activated carbon using H2SO4 7.5% had 3.74% of moisture contain,
0.58% of ash content, 261.67 mg/g of iodine adsorption and 18.04 m2/g of surface area.
Absorption ability of the activated carbon was analyzed in variation concentration of
cadmium and lead solution for 24 hours and measured using Atomic Absorption of
Spectrophotometer (AAS). The result showed that adsorption efficiency of unactivated
pine was better i.e., 99.25% at concentration of 2.52 ppm for cadmium (II) ion and 100%
at concentration of 1.53 ppm for lead (II) ion.
Keywords : activated carbon, adsorption, sulfuric acid, and pine cone.

ABSTRAK

Arang cangkang bunga pinus yang diperoleh melalui proses karbonisasi dan diaktivasi
menggunakan aktivator H2SO4 dengan variasi konsentrasi 2,5%; 5% dan 7,5% digunakan
sebagai adsorben untuk menjerap ion kadmium (II) dan timbal (II) dalam larutan. Hasil
karakterisasi menunjukkan bahwa H2SO4 dengan konsentrasi 7,5% memberikan kualitas
karakterisasi yang terbaik dibandingkan dengan konsentrasi lainnya dengan kandungan
air 3,74%; kandungan abu 0,58%; adsorpsi iodium 261,67 mg/g; dan luas permukaan
18,04 m2/g. Arang aktif cangkang bunga pinus tersebut diuji kemampuan adsorpsinya
terhadap variasi konsentrasi larutan kadmium dan timbal selama 24 jam dan dianalisis
menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Dari hasil penelitian, efisiensi
adsorpsi optimum terhadap ion kadmium dan timbal terbaik ditunjukkan oleh arang aktif
cangkang bunga pinus tanpa aktivasi yaitu sebesar 99,25% pada konsentrasi 2,52 ppm
untuk kadmium, sedangkan untuk ion timbal sebesar 100% pada konsentrasi 1,53 ppm.
Kata kunci : arang aktif, adsorpsi, asam sulfat, cangkang bunga pinus.

Repository FMIPA 1
PENDAHULUAN industri seperti industri pelapisan logam,
industri baterai nikel-kadmium, industri
Pinus termasuk dalam salah satu cat, industri PVC atau plastik dan
jenis pohon serba guna, yang terus- industri lainnya (Darmono, 2001).
menerus dikembangkan dan diperluas Timbal merupakan salah satu jenis
penanamannya. Salah satu varietas logam berat yang memiliki tingkat
aslinya yang tumbuh di Indonesia adalah toksisitas tinggi. Sumber utama timbal
Pinus merkusii. Sebaran alaminya di yang masuk ke lingkungan dapat berasal
Sumatra adalah Aceh, Tapanuli, dan dari limbah industri seperti industri
Kerinci (Cooling dan Gaussen, 1968). baterai, industri bahan bakar, industri
Hampir setiap bagian pohonnya dapat kabel dan industri cat (Palar, 2004).
dimanfaatkan, antara lain getah, kayu,
kulit kayu, biji, dan bunga. Pemanfaatan METODE PENELITIAN
cangkang bunga pinus di Indonesia
masih sangat terbatas dengan hanya a. Pengambilan Sampel
dijadikan sebagai kerajinan tangan,
seperti gantungan kunci dan hiasan Sampel yang digunakan dalam
pohon Natal. Sementara itu, cangkang penelitian ini adalah cangkang bunga
bunga pinus yang dihasilkan cukup pinus yang diambil di hutan pinus daerah
banyak, dan jika bisa dikonversikan Sipintu-pintu, Kabupaten Tapanuli
menjadi arang aktif yang digunakan Utara, Sumatra Utara.
sebagai adsorben, maka dapat
menaikkan nilai ekonomisnya. Hal ini b. Persiapan Arang Aktif Cangkang
dikarenakan cangkang bunga pinus Bunga Pinus
banyak mengandung karbon yang terdiri
dari selulosa dan senyawa organik Sampel cangkang bunga pinus
lainnya sehingga dapat dimanfaatkan dibersihkan terlebih dahulu, kemudian
sebagai bahan dasar pembuatan arang dipotong-potong menjadi ukuran kecil.
aktif. Setelah itu, dicuci dengan akuades
Maka melalui penelitian ini ingin hingga bersih dan dikeringkan di bawah
diketahui potensi arang aktif cangkang sinar matahari selama ± 1 hari.
bunga pinus menggunakan aktivator c. Proses Karbonisasi
H2SO4 dengan variasi konsentrasi 2,5;
5,0 dan 7,5% sebagai adsorben ion Cangkang bunga pinus
kadmium (II) dan timbal (II) dalam dikarbonisasi dalam furnace pada suhu
larutan, mengingat bahwa ion-ion logam 400oC selama ± 2 jam, kemudian
berat tersebut banyak dijumpai pada disimpan di dalam desikator. Arang
lingkungan perairan khususnya perairan cangkang bunga pinus yang dihasilkan
yang terletak di sekitar daerah industri. digerus dan dihaluskan, kemudian
Kadmium merupakan salah satu diayak bertingkat ukuran 100 dan 200
jenis logam berat yang berbahaya. mesh. Setelah itu, dicuci dengan
Apabila logam ini terakumulasi di dalam NaHCO3 1% dan dikeringkan di oven
tubuh dalam kadar yang tinggi akan pada suhu 105°C.
menyebabkan kerusakan pada organ
ginjal dan paru-paru. Kadmium banyak
digunakan dalam berbagai kegiatan

Repository FMIPA 2
d. Aktivasi Arang Cangkang Bunga 2. Kandungan abu (SNI 06-4253-
Pinus 1996)

Arang cangkang bunga pinus Cawan krusibel kosong dicari


masing-masing sebanyak 20 gram berat konstannya dengan pemanasan
diaktivasi menggunakan 200 mL pada suhu 115oC selama 30 menit
larutan H2SO4 dengan variasi konsentrasi kemudian disimpan dalam desikator
2,5; 5,0 dan 7,5% (v/v) kemudian diaduk selama 15 menit dan ditimbang hingga
dengan pengaduk magnet selama 5 menit konstan. Krusibel yang telah diketahui
dan didiamkan selama 24 jam. Arang beratnya diisi dengan masing-masing 0,5
aktif tersebut kemudian disaring dan g arang aktif cangkang bunga pinus.
dicuci dengan akuades hingga netral. Kemudian dipanaskan dalam furnace
Kemudian arang aktif dikeringkan dalam pada suhu 650oC selama 3 jam. Setelah
oven pada suhu 115oC lalu disimpan menjadi abu, kemudian disimpan dalam
dalam desikator. Arang aktif cangkang desikator, lalu ditimbang hingga
bunga pinus dilakukan karakterisasi konstan.
menggunakan FTIR sebelum dan Kandungan abu (%) =
sesudah proses aktivasi. w1 -w2
×100%
wo
e. Karakterisasi Arang Aktif
Cangkang Bunga Pinus Keterangan :
w1= Berat sampel setelah pemanasan
1. Kandungan air (SNI 06-4253-1996) (g)
w2 = Berat krusibel kosong (g)
Arang aktif cangkang bunga wo = Berat sampel (g)
pinus ditimbang sebanyak 0,5 gram.
Arang aktif tersebut dimasukkan ke 3. Adsorpsi terhadap iodium (SNI 06-
dalam wadah yang sudah diketahui 4253-1996)
beratnya. Lalu wadah tersebut
Arang aktif cangkang bunga pinus
dimasukkan ke dalam oven suhu 115oC
dipanaskan dalam oven pada suhu 115oC
selama 30 menit. Setelah itu disimpan
selama 1 jam. Lalu disimpan dalam
dalam desikator selama 15 menit lalu
desikator selama 30 menit. Sebanyak 0,5
ditimbang hingga konstan.
w -w g arang aktif tersebut ditambahkan 50
Kandungan air (%) = 1w 2 ×100% mL larutan iodium 0,1 N, diaduk selama
o
Keterangan : 15 menit dan didiamkan selama 1 jam.
w1= Berat sampel dan wadah sebelum Kemudian diambil 5 mL larutan jernih,
pemanasan (g) dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N. Bila
w2 = Berat sampel dan wadah setelah warna kuning dari larutan telah samar,
pemanasan (g) selanjutnya ditambah 1 mL larutan
wo = Berat sampel (g) amilum 1%. Titrasi kembali secara
teratur hingga warna biru hilang.
( - ) x 126,9 x fp
Adsorpsi I2 (mg/g)=
Keterangan :
V1 = Larutan iodium yang dianalisis
(mL)

Repository FMIPA 3
V2 = Larutan natrium tiosulftat yang Sebanyak 0,1 g arang aktif tanpa
diperlukan (mL) aktivasi dan aktivasi masing-masing
N1 = Normalitas iodium dimasukkan ke dalam gelas piala,
N2 = Normalitas natrium tiosulfat kemudian ditambahkan 50 mL larutan
W = Berat sampel (g) kadmium dengan konsentrasi 0,71; 2,52
dan 4,16 ppm. Campuran distirer selama
4. Adsorpsi metilen biru (SNI-06- 15 menit dan didiamkan selama 24 jam,
4253-1996) kemudian diambil bagian larutan jernih
dan dianalisis dengan SSA-nyala pada
Arang aktif cangkang bunga pinus panjang gelombang 228,8 nm.
dipanaskan dalam oven pada suhu 115oC
selama 1 jam dan disimpan di dalam 2. Daya jerap arang aktif cangkang
desikator selama 30 menit, kemudian bunga pinus terhadap ion Pb (II)
sebanyak 0,5 g dari masing – masing
arang dimasukkan ke dalam Erlenmeyer. Sebanyak 0,1 g arang aktif tanpa
Sebanyak 50 mL metilen biru 250 ppm aktivasi dan aktivasi masing-masing
ditambah ke dalam setiap arang, dimasukkan ke dalam gelas piala,
kemudian diaduk dengan pengaduk kemudian ditambahkan 50 mL larutan
magnetik selama 15 menit, didiamkan timbal dengan konsentrasi 1,44; 1,53 dan
selama 5 menit dan sentrifugasi 10 2,09 ppm. Campuran distirer selama 15
menit. Larutan jernih diukur menit dan didiamkan selama 24 jam,
absorbansinya pada panjang gelombang kemudian diambil bagian larutan jernih
optimum. dan dianalisis dengan SSA-nyala pada
m2 X m ×N×A panjang gelombang 283,3 nm
Luas permukaan ( g
)= Bm

Keterangan : g. Analisis Data


Xm = Jumlah metilen biru yang
terserap tiap gram adsorben Analisis data dari penjerapan arang
N = Bilangan Avogadro (6,02x1023 aktif cangkang bunga pinus sebagai
molekul/mol) adsorben ion kadmium dan timbal
A = Luas permukaan metilen biru disajikan dalam bentuk tabel, grafik dan
(197,197x10-20 m2/mol) kurva kalibrasi.
BM = Berat molekul metilen biru
(319,86 g/mol) HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Proses karbonisasi dan aktivasi


f. Penentuan Daya Adsorpsi Arang
arang cangkang bunga pinus
Aktif Cangkang Bunga Pinus
Dengan Aktivator H2SO4 7,5% Proses karbonisasi dilakukan
Terhadap Ion Cd (II) dan Pb (II) untuk memecahkan senyawa organik
Berdasarkan Variasi Konsentrasi menjadi karbon sederhana tanpa adanya
Larutan oksigen dan penambahan zat kimia
lainnya dengan proses pemanasan pada
1. Daya adsorpsi arang aktif suhu 400 – 800oC (Tryana dan Sarma,
cangkang bunga pinus terhadap 2003). Arang yang dihasilkan kemudian
ion Cd (II) digerus dan diayak lolos 100 mesh dan

Repository FMIPA 4
tertahan di 200 mesh yang bertujuan agar 2. Karakterisasi arang aktif
arang mempunyai ukuran partikel yang
seragam yaitu mempunyai luas Karakterisasi yang dilakukan adalah
permukaan per satuan luas yang tetap. penentuan kandungan air, kandungan
Secara teoritis, efisiensi adsorpsi akan abu, adsorpsi terhadap iodium dan
semakin meningkat dengan semakin adsorpsi terhadap metilen biru. Secara
kecilnya ukuran partikel (Nurhasni dkk, keseluruhan, penggunaan aktivator
2010). Hal ini disebabkan karena larutan H2SO4 dengan konsentrasi 7,5%
efisiensi adsorpsi adsorben terhadap untuk aktivasi arang cangkang bunga
adsorbat sangat dipengaruhi oleh ukuran pinus ternyata memberikan kualitas
partikel adsorben. Untuk karakterisasi yang terbaik dibandingkan
mengoptimalkan daya adsorpsi dari dengan konsentrasi lainnya, hal ini
arang maka dilakukan proses aktivasi terlihat dari nilai kandungan air dan
secara kimia yaitu dengan penambahan kandungan abu yang rendah serta daya
zat aktivator yang berfungsi untuk serap iodium dan luas permukaan yang
mengikat senyawa-senyawa yang masih tinggi. Data pada Tabel 1. menunjukkan
tertinggal dalam arang setelah proses nilai kadar air terendah sebesar 3,74%.
karbonisasi. Kandungan air dan abu dari arang
Pada penelitian ini, zat aktivator menurun seiring meningkatnya
yang digunakan adalah H2SO4. konsentrasi H2SO4 menunjukkan sifat
Pemilihan H2SO4 sebagai aktivator higroskopis dari aktivator yang dapat
didasarkan karena selain mudah didapat, menurunkan kandungan air (Pari, 2004)
asam sulfat memiliki sifat dehydrating dan aktivator asam dapat melarutkan
agent yaitu dapat mengikat air dari oksida-oksida logam (Chang, 2005)
molekul yang terikat padanya, hal ini Rendahnya kandungan air dan abu
karena asam sulfat memiliki afinitas sebesar 3,74% dan 0,58% tidak melebihi
yang besar terhadap air, sehingga dengan batas maksimal kandunga air dan abu
sifatnya tersebut maka proses aktivasi menurut SNI 06-4253-1996 yaitu
dapat menyebabkan pori-pori pada arang maksimal 5%.
terbuka. Selain itu asam sulfat dapat Hasil karakterisasi kandungan air
melarutkan dan mengoksidasi senyawa- dan kandungan abu didukung oleh
senyawa organik yang menutupi tingginya daya adsorpsi arang cangkang
permukaan arang sehingga pori-pori bunga pinus yang diaktivasi dengan
menjadi lebih terbuka. Proses aktivasi aktivator larutan H2SO4 7,5% terhadap
dilakukan dengan menvariasikan iodium 261,67 mg/g dan luas permukaan
konsentrasi aktivator H2SO4 yaitu 2,5%; 18,04 m2/g seperti yang ditunjukkan
5,0% dan 7,5% dengan proses pada Tabel 1. Bila dikonversikan ke
perendaman selama 24 jam. Arang yang mg/kg, daya adsorpsi terhadap iodium
sudah diaktivasi, kemudian dicuci dan metilen biru arang cangkang bunga
dengan akuades sampai pH arang sama pinus yang diaktivasi memenuhi
dengan pH akuades sehingga ketika persyaratan SNI-06-4253-1996
dikontakkan dengan logam pH tidak (minimal 1000 dan 110 mg/kg) yaitu
mempengaruhi selama proses adsorpsi sebesar 261670 dan 4862 mg/k
arang aktif.

Repository FMIPA 5
Tabel 1. Karakterisasi arang aktif cangkang bunga pinus dengan variasi konsentrasi
H2SO4

Konsentrasi Kandungan Kandungan Adsorpsi Luas permukaan


H2SO4 (%) Air (%) Abu (%) Iodium (mg/g) (m2/g)
2,5 6,00 1,54 197,96 9,48
5,0 4,38 0,68 245,55 11,62
7,5 3,74 0,58 261,67 18,04

Besarnya daya adsorpsi terhadap 3. Adsorpsi arang aktif cangkang


iodium juga menunjukkan banyaknya bunga pinus terhadap ion
struktur mikropori yang terbentuk pada kadmium (II) dan timbal (II)
arang aktif (Pari, 1999). Selain itu, arang
aktif yang kita dapatkan masih Efisiensi adsorpsi arang tanpa
mengandung senyawa organik yang aktivasi maupun aktivasi dengan
mengandung gugus C=C yang aktivator H2SO4 7,5% diaplikasikan
ditegaskan melalui analisa IR pada terhadap ion kadmium (II) dengan
bilangan gelombang 1585,55 cm-1 variasi konsentrasi 0,72; 2,52 dan 4,16
seperti ditunjukkan pada Gambar 1. juga ppm dengan waktu kontak 24 jam dapat
dapat meningkatkan nilai daya adsorpsi dilihat pada Gambar 2. Efisiensi
terhadap iodium. Daya adsorpsi terhadap adsorpsi optimum arang cangkang bunga
metilen biru digunakan untuk pinus yang diaktivasi terhadap ion
menentukan kemampuan dari arang aktif kadmium (II) adalah 92,90% pada
cangkang bunga pinus dalam konsentrasi 0,72 ppm, sedangkan untuk
mengadsorpsi larutan berwarna dengan arang tanpa aktivasi sebesar 99,25%
ukuran molekul kurang dari 15 Å dan pada konsentrasi 2,52 ppm.
menentukan luas permukaan arang aktif
(Prasetyo dkk, 2011).
100
Efisiensi Penjerapan (%)

80
60 Aktivasi
40 Tanpa
20 Aktivasi
0
0 5 10

Konsentrasi (ppm)

Gambar 2. Efisiensi penyerapan arang


Gambar 1. Karakterisasi gugus fungsi aktif cangkang bunga pinus
pada arang sebelum dan dengan aktivasi dan tanpa
sesudah aktivasi H2SO4 aktivasi berdasarkan
2,5; 5,0 dan 7,5% variasi konsentrasi ion
kadmium (II).

Repository FMIPA 6
Efisiensi adsorpsi arang tanpa IR pada Gambar 1. Adanya gugus-gugus
aktivasi maupun aktivasi dengan yang masih menempel pada permukaan
aktivator H2SO4 7,5% juga diaplikasikan arang aktif mengakibatkan rendahnya
terhadap ion timbal dengan variasi daya adsorpsi arang aktif terhadap ion
konsentrasi 1,44; 1,53 dan 2,09 ppm kadmium dan timbal. Pada proses
dengan waktu kontak 24 jam dapat aktivasi, zat aktivator kurang
terlihat pada Gambar 3. Berdasarkan mempengaruhi kadar gugus aktif pada
gambar tersebut, dapat dilihat bahwa arang aktif, karena reaksi ion exchange
efisiensi adsorpsi optimum arang aktif antara ion sulfat yang menempel pada
cangkang bunga pinus yang diaktivasi arang aktif tidak digantikan oleh gugus -
terhadap ion timbal (II) adalah 97,38% OH saat pencucian menggunakan
pada konsentrasi 1,44 ppm, sedangkan akuades.
untuk arang tanpa aktivasi sebesar 100% Arang aktif mempunyai daya
pada konsentrasi 1,53 ppm. adsorpsi yang tinggi karena pori-pori
arang yang sebelumnya masih tertutup
100 dengan kandungan senyawa organik
90 arang itu sendiri telah terbuka dengan
Efisiensi Penyerapan (%)

80 adanya proses aktivasi, sehingga luas


70
60 permukaan semakin besar. Akan tetapi,
50 Aktivasi dari hasil penelitian ini, dapat dilihat
40 bahwa efisiensi adsorpsi arang tanpa
30 Tanpa
20 Aktivasi aktivasi lebih tinggi daripada arang yang
10 telah diaktivasi. Rendahnya efisiensi
0 adsorpsi arang yang telah diaktivasi
0 10 20 30
Konsentrasi (ppm)
menunjukkan bahwa aktivator H2SO4
tidak begitu mempengaruhi kemampuan
adsorpsi arang terhadap ion kadmium
Gambar 3. Grafik daya adsorpsi arang maupun timbal (II). Hal ini kemungkinan
aktif cangkang bunga pinus disebabkan karena masih adanya ion-ion
dengan aktivasi dan tanpa sulfat pada arang aktif dari proses
aktivasi berdasarkan variasi aktivasi yang mengendap di permukaan
konsentrasi ion timbal (II) adsorben dan menyebabkan tertutupnya
pori-pori arang aktif dan menurunkan
Adanya kemampuan arang aktif kemampuan adsorpsinya, sehingga pada
untuk menjerap ion Cd (II) dan Pb (II) saat pengontakan dengan ion kadmium
karena adanya beda potensial antara maupun timbal cenderung untuk
arang aktif yang bermuatan negatif membentuk kadmium sulfat dan timbal
dengan ion Pb maupun Cd yang sulfat yang kelarutannya besar dan baik
bermuatan positif. Negatifnya muatan di dalam air. Oleh karena itu, konsentrasi
arang aktif disebabkan oleh adanya kadmium dan timbal akan meningkat
gugus fungsi dalam arang cangkang dalam larutan. sehingga meningkatkan
bunga pinus seperti O-H pada bilangan konsentrasi kadmium dan timbal dalam
gelombang 3447,91 cm-1, C-H pada larutan.
bilangan gelombang 2859,59 cm-1, dan
C-N pada bilangan gelombang 1066,68
cm-1 seperti yang ditunjukkan spektrum

Repository FMIPA 7
KESIMPULAN Commonwealth Forestry
Institute, Oxford.
Berdasarkan hasil karakterisasi,
konsentrasi aktivator H2SO4 7,5% Darmono. 2001. Logam Berat Dalam
terbaik dibandingkan aktivator lainnya Sistem Biologi Makhluk Hidup.
dengan kandungan air 3,74%, UI-Press, Jakarta.
kandungan abu 0,58%, adsorpsi iodium
Nurhasni., Hendrawati dan Saniyyah, N.
261,67 mg/g dan luas permukaan 18,04
2010. Penyerapan Ion Logam Cd
m2/g dan sesuai dengan syarat mutu
dan Cr dalam Air Limbah
arang aktif SNI-06-4253-1996. Akan
Menggunakan Sekam Padi. Jurnal
tetapi, efisiensi adsorpsi arang aktif
Penelitian. UIN Syarif
cangkang bunga pinus terhadap ion
Hidayatullah, Jakarta.
kadmium dan timbal maksimum
ditunjukkan oleh arang aktif cangkang Palar, H. 2004. Pencemaran dan
bunga pinus tanpa aktivasi yaitu sebesar Toksikologi Logam Berat.
99,25% pada konsentrasi 2,52 ppm Rineka Cipta, Jakarta.
untuk kadmium (II), sedangkan untuk
ion timbal (II) sebesar 100% pada Pari, G., Widayati, D.T dan Yoshida, M.
konsentrasi 1,53 ppm. 1999. Karakteristik Arang Aktif
dari Arang Serbuk Gergajian
UCAPAN TERIMA KASIH Sengon Dengan Bahan pengaktif
NH4HCO3. Jurnal Penelitian
Penulis mengucapkan terima Hasil Hutan 17 (2) : 89-100.
kasih kepada Bapak Drs. Subardi Bali,
M.Farm dan Ibu Dra. Hj. Itnawita, M.Si Pari, G. 2004. Kajian Struktur Arang
yang telah memberikan bimbingan, Aktif dari Serbuk Gergaji Kayu
arahan serta saran dalam proses sebagai Adsorben Emisi
penyusunan hasil penelitian ini. Selain Formaldehida Kayu Lapis.
itu penulis juga mengucapkan terima Disertasi. Pascasarjana IPB,
kasih kepada rekan-rekan yang telah Bogor.
memberikan bantuan, dukungan dan
masukan kepada penulis. Prasetyo, A., Yudi, A dan Astuti, R.N.
2011. Adsorpsi Metilen Blue Pada
DAFTAR PUSTAKA Karbon Aktif Dari Ban Bekas
Dengan Variasi Konsentrasi NaCl
Atmosuseno, B.S dan Khaerudin, D.
Pada Suhu Pengaktifan 600 oC
1996. Kayu Komersial. Penebar
dan 650 oC. Jurnal Penelitian.
Swadaya, Jakarta.
Universitas Islam Negeri Maulana
Chang, R. 2005. Kimia Dasar: Konsep- Malik Ibrahim, Malang.
konsep Inti Jilid I. Erlangga,
Jakarta. Tryana, M.S dan Sarma, T.S. 2003.
Arang Aktif. Universitas
Cooling, E.N. 1968. Pinus merkusii. Fast Sumatera Utara, Medan.
Growing Timber Trees of the
Lowland Tropics.

Repository FMIPA 8