Anda di halaman 1dari 42

EVALUASI TINGKAT PENGETAHUAN SISWI SMAN 1 KUBU

TENTANG RISIKO TINGGI KEHAMILAN USIA KURANG DARI 20


TAHUN DENGAN PENEMUAN KEHAMILAN USIA MUDA DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS KUBU I

DISUSUN OLEH:
dr. Andini Saraswati

PEMBIMBING:
dr. Dimas Adriyanto

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PUSKESMAS KUBU I KARANGASEM
PROVINSI BALI
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan YME karena atas rahmat-Nya penulis

dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Evaluasi Tingkat Pengetahuan

Siswa Siswi SMKN 1 Kubu Tentang Risiko Kehamilan Usia Muda Di Wilayah

Kerja Puskesmas Kubu I Karangasem” tepat pada waktunya. Adapun tujuan

pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan

menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas Kubu I

Karangasem, Bali.

Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada dr. Dimas Adrianto selaku

dokter pembimbing di Puskesmas Kubu I Karangasem yang telah meluangkan

waktunya untuk penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari

banyak sekali kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu saran dan kritik

yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bukan hanya untuk penulis, tetapi juga bagi

siapa pun yang membacanya.

Karangsem, April 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................. i

DAFTAR ISI .............................................................................................. ii

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ............................................................................... 1


1.2. Tujuan ...............................................................................................3
1.3. Manfaat ………………………………………………………...4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetahuan ................................................................................... 5


2.2.Peran Pengetahuan Terhadap Kesehatan Reproduksi ..................... 6
2.3.Kehamilan Risiko Tinggi ................................................................ 7
2.4.Promosi Kesehatan ........................................................................ 15
2.5.Metode Promosi Kesehatan........................................................... 16
2.6.Sikap.............................................................................................. 17

III. GAMBARAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS KUBU I

3.1.Gambaran Umum .......................................................................... 18


3.2.Demografi ..................................................................................... 19
3.3.Ekonomi ........................................................................................ 20
3.4.Pendidikan.......................................................................................20
3.5.Sosial...............................................................................................21
3.6.Perilaku Pendudukan......................................................................22
3.7.Kondisi Lingkungan........................................................................22

IV. METODE EVALUASI

4.1.Tolak Ukur Penilaian .................................................................... 25


4.2.Pengumpulan Data…………………………………………….25
4.3.Cara Analisis…………………………………………………...25
4.4.Tempat dan Waktu Pelaksanaan…………………………….26
4.5.Rencana Evaluasi……………………………………………..27

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.Profil Peserta ................................................................................. 28

3
5.2.Data Geografis.. ..............................................................................28
5.3.Proses Pelaksanaan........................................................................ 28
5.4.Hambatan ..................................................................................... 33

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan .................................................................................. 35


6.2. Saran ............................................................................................. 35

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

4
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
1. Jumlah dan Rasio Penduduk per Desa………………………..............18
2. Fasilitas Pendidikan per Desa……….....................................................21
3. Fasilitas Kesehatan per Desa.................................................................21
4. Prevalensi Tingkat Pengetahuan Siswi Berdasarkan Skor...................30
5. Prevalensi Tingkat Pengetahuan Siswi Berdasarkan Kelas………….30
6. Prevalensi Rencana Siswi Setelah Lulus SMA………………………31
7. Seks Pranikah di Kubu……………………………………………….32
8. Pendidikan Seksual dari Orang Tua………………………………….32
9. Faktor Penyebab Kehamilan…………………………………………33
10. Sikap dan Perilaku Membincangkan Seksualitas dengan Pasangan…33

5
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerucut Edgar Dale…………………….. ............................................. 15


2. Peta Wilayah Kerja.. ............................................................................ 18
3. Wilayah Per Desa….. ............................................................................ 18
4. Kepadatan Penduduk Per Desa ............................................................. 20

6
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Kehamilan adalah kondisi seorang ibu dengan perkembangan janin yang ada di
dalam perutnya. Kehamilan biasanya merupakan peristiwa bahagia. Namun,
beberapa komplikasi dapat terjadi pada perempuan selama ataupun sebelum
kehamilan yang akan mengancam kesejahteraan ibu dan bayi. Setiap kehamilan
memiliki risiko.1

Pernikahan muda banyak terjadi pada masa pubertas, hal ini terjadi karena remaja
sangat rentan terhadap perilaku seksual. Pernikahan muda juga sering terjadi
karena remaja berfikir secara emosional untuk melakukan pernikahan, mereka
berfikir telah saling mencintai dan siap untuk menikah. Selain itu faktor penyebab
terjadinya pernikahan muda adalah perjodohan orang tua, perjodohan ini sering
terjadi akibat putus sekolah dan akibat dari permasalahan ekonomi.1

Lebih dari 700 juta perempuan yang hidup saat ini menikah ketika masih anak-
anak. Di Indonesia, prevalensi perkawinan usia anak telah mengalami penurunan
lebih dari dua kali lipat dalam tiga dekade terakhir tetapi masih merupakan salah
satu yang tertinggi di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Menurut Survei Sosial
dan Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik
(BPS) pada tahun 2012, 17% perempuan pernah kawin usia 20 - 24 tahun
menikah sebelum usia 18 tahun. Setiap tahun kira-kira 15 juta remaja berusia 15-
19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi
penyakit menular seksual (PMS).2,3

Saat ini UU Perkawinan di Indonesia menyatakan bahwa usia terendah untuk


perkawinan yang sah bagi anak perempuan adalah 16 tahun dan anak laki-laki 19
tahun. Undang - undang ini bertentangan dengan UU Perlindungan Anak 2002
(direvisi pada tahun 2014) yang menyatakan bahwa usia anak adalah di bawah 18

7
tahun dan orang tua bertanggung jawab untuk mencegah perkawinan usia anak.
Jika kecenderungan ini berlanjut, diperkirakan 142 juta anak perempuan (atau14,2
juta per tahun)akan menikah sebelum usia 18 tahun dari tahun 2011 sampai 2020,
dan 151 juta anak perempuan atau 15,1 juta per tahun akan menikah sebelum usia
18 tahun dari tahun 2021 sampai 2030.4,5,6

Anak perempuan usia 10-14 tahun memiliki risiko lima kali lebih besar untuk
meninggal dalam kasus kehamilan dan persalinan daripada perempuan usia 20-
24 tahun, dan secara global kematian yang disebabkan oleh kehamilan merupakan
penyebab utama kematian anak perempuan usia 15-19 tahun. Anak perempuan
menghadapi risiko tingkat komplikasi yang terkait dengan persalinan yang jauh
lebih tinggi, seperti fistula obstetri, infeksi, perdarahan hebat, anemia dan
eklampsia.7,8

Terdapat kajian yang menunjukkan bahwa perkawinan usia anak di Indonesia


berhubungan dengan buruknya kesehatan reproduksi dan kurangnya kesadaran
anak perempuan terhadap risiko persalinan dini. Menurut salah satu laporan, 85 %
anak perempuan di Indonesia mengakhiri pendidikan mereka setelah mereka
menikah, namun keputusan untuk menikah dan mengakhiri pendidikan juga dapat
diakibatkan kurangnya kesempatan kerja. Selain itu, anak perempuan yang
menikah pada usia dini memiliki risiko tinggi untuk mengalami kecemasan,
depresi, atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, sebagian dapat disebabkan
mereka tidak memiliki status, kekuasaan, dukungan, dan kontrol atas kehidupan
mereka sendiri. Selain itu mereka juga kurang mampu untuk menegosiasikan
hubungan seks aman, sehingga meningkatkan kerentanan mereka terhadap infeksi
menular seksual seperti HIV.9,10,11,12

Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang menyebabkan terjadinya bahaya


dan komplikasi yang lebih besar terhadap ibu maupun janin yang dikandungnya
selama kehamilan, persalinan ataupun nifas bila dibandingkan dengan kehamilan,
persalinan dan nifas normal. Salah satu risiko kehamilan adalah adalah usia ibu
kurang dari 20 tahun. Bayi yang dilahirkan oleh anak perempuan yang menikah

8
pada usia anak memiliki risiko kematian lebih tinggi, dan kemungkinannya dua
kali lebih besar untuk meninggal sebelum usia satu tahun dibandingkan dengan
bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu yang telah berusia lebih dari sama dengan
20 tahun. Terdapat 20-30 persen peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat
bayi lahir rendah ketika ibu berusia kurang dari 20 tahun. Anak-anak yang
dilahirkan oleh ibu-ibu yang berusia kurang dari 19 tahun memiliki 30-40 persen
peningkatan risiko hambatan pertumbuhan (stunting) selama 2 tahun dan
kegagalan untuk menyelesaikan sekolah menengah.13

Pusat Kesehatan masyarakat (Puskesmas) memiliki peran dalam melakukan


promosi kesehatan, dimana pada hakikatnya promosi kesehatan ialah suatu
kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada individu, kelompok
atau massa. Selain itu, Puskesmas juga dapat memberikan layanan kepada anak-
anak perempuan yang menikah dini, khususnya mengenai kesehatan reproduksi,
layanan kesehatan ibu, dan layanan bagi korban kekerasan.14

Pada wilayah kerja Puskesmas Kubu I ditemukan cukup banyak jumlah


wanita hamil berusia kurang dari 20 tahun. Berdasarkan data yang tercatat pada
registrasi puskesmas tahun 2017, ditemukan 49 orang wanita hamil berusia
kurang dari 20 tahun atau sebesar 10% dari seluruh kehamilan. Berdasarkan hal
tersebut maka dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan siswi
SMAN 1 Kubu tentang risiko kehamilan usia kurang dari 20 tahun yang
didasarkan pada penemuan wanita hamil usia kurang dari 20 tahun pada wilayah
kerja Puskesmas Kubu I.

1.2.Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
- Mengetahui tingkat pengetahuan siswi SMAN 1 Kubu tentang risiko
kehamilan usia kurang dari 20 tahun.
1.2.2. Tujuan Khusus
- Mengetahui pandangan remaja tentang seks pranikah dan kehamilan
usia muda di wilayah kerja Puskesmas Kubu I Karangasem.

9
- Meningkatkan pengetahuan siswi SMAN Kubu 1 tentang risiko
kehamilan usia kurang dari 20 tahun.

1.3. Manfaat
- Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan
yang bermanfaat bagi siswi SMA Negeri 1 Kubu.
- Bagi penulis lain yang akan melakukan penelitian selanjutnya berkenaan
topik penulis dapat digunakan sebagai bahan informasi dan referensi
untukpenelitian dengan ruang lingkup yang lebih besar.
- Bagi Puskesmas diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi
tambahan dan menjadi sarana pertimbangan perkembangan program
promosi kesehatan khususnya dalam topik kesehatan remaja dan
kesehatan ibu hamil.

10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui pancaindra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang
sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan,
yaitu:15
a) Tahu (Know)
Diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Untuk mengukur
apakah orang tahu atau tidak tentang apa yang dipelajari antara lain
dengan menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan
sebagainya
b) Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan
sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.
c) Aplikasi (Application)
Diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari
pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan
sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan
sebagainya pada konsep atau situasi lain.

11
d) Analisis (analisys)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur
organisasi tersebut dan masih ada kaitanya satu sama lain. Analisis ini
dapat dilihat dari penggunaan penggunaan kata-kata kerja, dapat
menggambarkan, dan sebagainya.
e) Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun,
merencanakan, meringkas dan sebagainya terhadap suatu rumusan-
rumusan yang telah ada.
f) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuanuntuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu
berdasarkan kriteria-kriteria yang ditentukan sendiri atau yang telah ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subyek
penelitian. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui disesuaikan
dengan tingkat-tingkat dalam kawasan kognitif.

2.2. Peran Pengetahuan Terhadap Kesehatan Reproduksi


Pengetahuan kesehatan reproduksi merupakan pengetahuan yang menyangkut
cara seseorang bersikap atau bertingkah laku yang sehat, bertanggung jawab
serta tahu apa yang dilakukannya dan apa akibat bagi dirinya, pasangannya
dan masyarakat sehingga dapat membahagiakan dirinya juga dapat memenuhi
kehidupan seksualnya. Pengetahuan kesehatan reproduksi yang diterima oleh
remaja dari sumber yang benar dapat menjadikan faktor untuk memberikan
dasar yang kuat bagi remaja dalam menyikapi segala perilaku seksual yang
semakin menuju kematangan.

12
Studi yang dilakukan di Bangli, Bali pada tahun 2016 ditemukan hasil bahwa
remaja yang memiliki pergaulan dengan teman sebaya yang negatif memiliki
kesempatan untuk melakukan hubungan seksual, pengetahuan remaja yang
kurang tentang kesehatan reproduksi dan kehamilan usia remaja, serta
penghasilan keluarga yang lebih rendah dijumpai sebagai faktor risiko
kehamilan usia remaja. Sedangkan pendidikan remaja dan paparan pornografi
yang di dapatkan oleh remaja dijumpai tidak berhubungan dengan kehamilan
usia remaja.16

2.3. Kehamilan Risiko Tinggi


2.3.1. Definisi
Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang menyebabkan terjadinya
bahaya dan komplikasi yang lebih besar terhadap ibu maupun janin yang
dikandungnya selama kehamilan, persalinan ataupun nifas bila
dibandingkan dengan kehamilan, persalinan dan nifas normal. Sampai saat
ini kehamilan risiko tinggi masih menjadi ancaman yang besar bagi upaya
meningkatkan kesejahteraan ibu dan janin dimana saja di seluruh dunia.17
Kehamilan Risiko Tinggi masih menjadi masalah pelayanan kesehatan
khususnya dalam bidang obstetri oleh karena dapat meningkatkan
morbiditas dan mortalitas baik maternal maupun perinatal yang masih
tinggi. Hal ini menujukan kurangnya pengetahuan ibu terhadap tanda
bahaya kehamilan utamanya yaitu penyakit ibu yang berpengaruh
terhadap kehamilan, dimana kematian ibu dapat dicegah apabila ibu
memiliki pengetahuan yang baik tentang tanda bahaya kehamilan dan
faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, untuk
menghadapi kehamilan risiko harus diambil sikap proaktif, berencana
dengan upaya promotif dan preventif sampai dengan waktunya harus
diambil sikap tegas dan cepat untuk dapat menyelamatkan ibu dan bayinya.

Salah satu kehamilan resiko tinggi yakni terkait umur ibu. Ibu yang
memiliki umur kurang dari 20 tahun saat hamil memiliki resiko tinggi
terhadap hal-hal sebagai berikut:

13
1. Pre eklamsia
Usia wanita mempengaruhi risiko kehamilan. Anak perempuan berusia 15
tahun atau kurang lebih rentan terhadap terjadinya pre-eklamsi (suatu
keadaan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, protein dalam air kemih
dan penimbunan cairan selama kehamilan) dan eklamsi (kejang akibat pre-
eklamsi). Mereka juga lebih mungkin melahirkan bayi dengan berat badan
rendah.Pada umur ini belum cukup dicapai kematangan fisik, mental dan
fungsi dari calon ibu.18

Pre eklamsia adalah suatu gangguan yang muncul pada masa kehamilan,
umumnya terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu. Gejala-gejala yang
umum adalah tingginya tekanan darah, pembengkakan yang tak kunjung
sembuh dan tingginya jumlah protein di urin. Ibu hamil yang mengalami
pree klampsia berisiko tinggi mengalami keguguran, gagal ginjal akut,
pendarahan otak, pembekuan darah intravaskular, pembengkakan paru-paru,
kolaps pada system pembuluh darah, dan eklampsia , yaitu gangguan tahap
lanjutan yang ditandai dengan serangan toksemia yang bisa berakibat sangat
serius bagi ibu dan bayinya.18

Hipertensi (tekanan darah tinggi) di dalam kehamilan terbagi atas pre-


eklampsia ringan, preklampsia berat, eklampsia, serta superimposed
hipertensi (ibu hamil yang sebelum kehamilannya sudah memiliki hipertensi
dan hipertensi berlanjut selama kehamilan). Pada bayi, preeklampsia dapat
mencegah plasenta (jalur penyaluran udara dan makanan untuk janin)
mendapat asupan darah yang cukup, sehingga bayi bisa kekurangan oksigen
(hipoksia) dan makanan. Hal ini dapat menimbulkan rendahnya bobot tubuh
bayi ketika lahir dan juga menimbulkan masalah lain pada bayi, seperti
kelahiran prematur sampai dengan kematian pada saat kelahiran (perinatal
death).18

Faktor Risiko Pre Eklampsia


1. Kehamilan pertama

14
2. Riwayat keluarga dengan pre-eklampsia atau eklampsia
3. Pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya
4. Ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
5. Wanita dengan gangguan fungsi organ (diabetes, penyakit ginjal,
migraine, dan tekanan darah tinggi)
6. Kehamilan kembar

Gambaran Klinis Pre Eklampsia


Gejala subjektif Pada preeklampsia didapatkan sakit kepala di daerah
frontal, skotoma, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium,
mual atau muntah-muntah. Gejala-gejala ini sering ditemukan pada
preeklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia
akan timbul. Tekanan darah pun akan meningkat lebih tinggi, edema dan
proteinuria bertambah meningkat.18

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan meliputi; peningkatan
tekanan sistolik 30mmHg dan diastolik 15 mmHg atau tekanan darah
meningkat lebih dari 140/90mmHg. Tekanan darah pada preeklampsia berat
meningkat lebih dari 160/110 mmHg dan disertai kerusakan beberapa organ.
Selain itu kita juga akan menemukan takikardia, takipneu, edema paru,
perubahan kesadaran, hipertensi ensefalopati, hiperefleksia, pendarahan
otak.19

2. Eklamsia

Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya preeklampsia dan


terjadinya gejala nyeri kepala di daerah frontal, gangguanpenglihatan, mual keras,
nyeri epigastrium dan hiperefleksia. Konvulsi pada eklamsia dibagi menjadi 4,
yaitu :20
1. Tingkat awal

15
Disebut amasa aura, berlangsung 30 detik. Mata penderita akan terbuka tanpa
melihat, kelopak mata bergetar demikian pula tangannya, kepala dapat diputar
ke kanan atau ke kiri.
2. Kejang tonik yang berlangsung 30 detik. Pada saat ini, otot jadi kaku, wajah
tampak kaku, kaki membengkok ke dalam, pernapasan berhenti, wajah menjadi
siamotik dan lidah dapat tergigit.
3. Kejang klonik dapat berlangsung 1-2 menit. Semua otot berkontraksi dan
berulang-ulang dalam tempo yang cepat.
4. Tingkatan koma.

3. Infeksi Menular Seksual

Wanita yang menikah sebelum usia 18 tahun berisiko untuk tertular HIV. Hal ini
terjadi karena perilaku seksual yang tidak aman dengan pasangan yang lebih tua
yang risikonya lebih tinggi dengan HIV positif. Aktivitas seksual yang tidak aman
ini tidak saja disebabkan oleh ketidaksetiaan tetapi juga oleh tidak digunakannya
kontrasepsi dan tidak ada keinginan yang kuat untuk hamil. Berdasarkan data
Demographic and Health Surveys dari 31 negara, didapat bahwa 80 % perilaku
seksual yang tidak aman terjadi pada gadis remaja dalam perkawinannya. Contoh
penyakit menular seksual yang dapat diderita oleh wanita yakni uretritis gonore,
herpes genital, kondiloma akuminata, klamidia trachomatis, dan HIV.21

4. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)


Bayi berat lahir rendah ialah berat badan bayi yang lahir kurang dari 2500 gram
tanpa memandang masa gestasi atau usia kehamilan. Menurut Ikatan Dokter
Indonesia (IDI) tahun 2014 BBLR yaitu bayi berat lahir kurang dari 2500 gram
tanpa memandang masa gestasi dengan catatan berat lahir adalah berat bayi yang
ditimbang dalam satu jam setelah lahir.22

Penggolongan bayi berat lahir rendah terdiri dari :


1. Prematuritas Murni

16
a. Bayi lahir dengan masa gestasi kurang dari 37 minggu serta berat badan bayi
sesuai dengan gestasi atau yang disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa
kehamilan ( NKB - SMK ).
b. Faktor yang menyebabkan terjadinya prematuritas murni yaitu faktor ibu dan
faktor janin. Faktor ibu terdiri atas penyakit, usia, dan keadaan sosial-ekonomi.
Serta faktor janin meliputi hidramnion dan kehamilan ganda akan mengakibatkan
bayi berat lahir rendah.

2. Bayi Small for Gestational Age ( SGA )


Berat bayi lahir tidak sesuai dengan masa kehamilan. SGA terbagi menjadi 3
jenis yaitu :
a. Simetris ( intrauterus for gestational age ), terjadi karena gangguan nutrisi
pada awal kehamilan dan dalam jangka waktu yang lama.
b. Asimetris ( intrauterus growth retardation ), terjadi akibat defisit nutrisi pada
fase akhir kehamilan.
c. Dismaturitas Kondisi dimana bayi yang lahir kurang dari berat badan yang
seharusnya untuk masa gestasi dan bayi tersebut akan mengalami retardasi
pertumbuhan intrauteri serta merupakan bayi kecil untuk masa kehamilan

5. Abortus atau Keguguran


Gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah berhentinya
kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian
janin. Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20
minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur.

Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan
persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan
melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi daripada
kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Kematian maternal
meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda
seringkali secara emosional dan fisik belum matang, selain pendidikan pada
umumnya rendah, ibu yang masih muda masih tergantung pada orang lain.

17
Keguguran sebagian dilakukan dengan sengaja untuk menghilangkan kehamilan
remaja yang tidak dikehendaki. Keguguran sengaja yang dilakukan oleh tenaga
nonprofessional dapat menimbulkan akibat samping yang serius seperti tingginya
angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat
menimbulkan kemandulan. Abortus yang terjadi pada remaja terjadi karena
mereka belum matur dan mereka belum memiliki sistem transfer plasenta
seefisien wanita dewasa. Pada saat hamil seorang ibu sangat memungkinkan
terjadi keguguran. hal ini disebabkan oleh faktor-faktor alamiah dan juga abortus
yang disengaja, baik dengan obat-obatan maupun memakai alat.19

6. Prematur
Prematur adalah kelahiran yang terjadi pada saat umur kehamilan berada di antara
20 minggu hingga 37 minggu yang dihitung dari hari pertama haid terakhir ibu.
Bayi lahir prematur memiliki angka kejadian yang tinggi. Di Indonesia, angka
kejadian kelahiran prematur belum dapat dipastikan jumlahnya, namun
berdasarkan data riset kesehatan dasar tahun 2007 menyatakan angka bayi dengan
BBLR di indonesia meningkat mencapat 11,5%. Meskipun angka BBLR tidak
mutlak mewakili kelahiran prematur, namun angka ini dirasa cukup dapat
mencerminkan angka kejadian kelahiran prematur di Indonesia.23

Ada banyak hal yang dapat menjadi penyebab bayi lahir prematur, namun secara
umum bayi lahir prematur karena disebabkan oleh hal berikut:
1. Aktivitas Pencetus Persalinan
Dapat terjadi sebagai akibat dari stres dan ansietas yang dialami oleh primipara
muda. Stres fisik maupun psikologis dapat menyebabkan aktivasi prematur
aksis Hypothalamus-Pituitary Adrenal (HPA) ibu. Aksis HPA ini akan
menyebabkan terjadinya insufisiensi uteroplasenta yang mengakibatkan stres
pada janin. Hal ini akan meningkatkan pelepasan hormon Corticotropin
Releasing Hormone (CRH), Adenocorticotropic Hormone (ACTH)
prostaglandin, reseptor oksitosin, matrix metaloproteinase (MMP),
cyclooksigenasi-2, interleukin-8, dehydroepiandrosteron sulfate (DHEAS), dan

18
estrogen plasenta yang akhirnya akan menyebabkan terjadinya persalinan
prematur.23

Selain itu terdapat faktor risiko penyebab kelahiran prematur yakni:


- Usia ibu saat hamil : usia kurang dari 20 tahun calon ibu belum memiliki
kematangan fisik, mental dan fungsi organ reproduksi.
- Preeklamsia
- Eklamsia
- Penyakit jantung dan pembuluh darah
- Hipotiroid
- Paritas
- Riwayat persalinan prematur

2. Penyakit inflamasi atau Infeksi


Penyakit seperti decidua-chorio-amnionitis merupakan penyebab bayi lahir
prematur yang potensial. Pada infeksi ini kumat dapat menyebar ke uterus dan
amnion. Infeksi kemudian akan menyebabkan pelepasan mediator inflamasi
seperti pro-inflamatory sitokin (IL-1, IL-6, IL-8, dan TNF-alfa) yang akan
merangsang pelepasan CRH dan aksis HPA janin untuk menghasilkan kortisol
dan DHEAS. Hormon-hormon tersebut akan meningkatkan sintesis uterotonin
yang dapat menimbulkan kontraksi rahim. Pro inflamatory sitokin juga
berperan meningkatkan pelepasan protease (MMP) yang menimbulkan
perubahan pada serviks sehingga terjadi robekan kulit ketuban dan terjadilah
persalinan prematur.23

7. Kanker Serviks
Pada usia remaja (12-20 tahun) organ reproduksi wanita sedang aktif berkembang.
Rangsangan penis atau sperma dapat memicu perubahan sifat sel menjadi tidak
normal, apalagi bila terjadi luka saat berhubungan seksual dan kemudian infeksi
Virus HPV, sel abnormal inilah yang berpotensi tinggi menyebabkan kanker
serviks. Wanita yang hamil pertama pada usia dibawah 17 tahun dua kali lebih
mungkin terkena kanker serviks di usia tuanya.24

19
Perlu ada upaya pencegahan untuk mengurangi resiko – resiko tersebut antara
lain melalui sosialisasi program Pendewasaan Usia Perkawinan atau jika telah
terlanjur menikah muda, bisa melakukan program Penundaan Anak Pertama
artinya kehamilan terjadi ketika organ fisiologis sudah sempurna dan aspek
psikologis sudah siap. Biasanya kesiapan ini terjadi pada usia lebih dari 20 tahun
bagi wanita dan usia lebih dari 25 tahun pada laki – laki. Untuk menunda anak
pertama dapat menggunakan alat kontrasepsi yang memiliki reverbilitas dan
fektifitas yang tinggi, seperti kondom dan IUD.24

8. Perdarahan Post Partum


Perdarahan post partum adalah kehilangan darah lebih dari 500 ml setelah
persalinan vaginam atau lebih dari 1000 ml setelah sectio caesaria. Perdarahan
post partum primer terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan, sementara
perdarahan post partum sekunder adalah perdarahan antara 24 jam hingga 12
minggu setelah persalinan.Perkiraan perdarahan umunya tidak akurat, sehingga
suatu penelitian menyarankan menggunakan nilai 10% penurunan nilai hematokrit
untuk menentukan adanya perdarahan post partum.19

9. Depresi post partum


Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan
(affective/mood disorder), yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan
gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa. Depresi post partum pada ibu
usia muda dapat terjadi akibat ketidaksiapan untuk memulai kehidupan yang baru
sebagai seorang ibu. Berbeda dengan baby blues sindrom yang berlangsung hanya
1-2 minggu setelah melahirkan, depresi post partum berlangsung lebih lama dan
ada keinginan untuk mencelakai bayinya pada depresi yang berat.25

2.4. Promosi Kesehatan

20
2.4.1. Definisi Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan pada hakikatnya ialah suatu kegiatan atau usaha


menyampaikan pesan kesehatan kepada individu, kelompok atau massa.
Dengan adanya pesan tersebut diharapkan sasaran promosi kesehatan
dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik
sehingga diharapkan dapat mempengaruhi perubahan perilaku sasaran
promosi kesehatan menjadi lebih baik lagi.

2.4.2. Media Promosi Kesehatan

Media promosi kesehatan dimaksudkan untuk mengerahkan indera


sebanyak mungkin kepada suatu obyek sehingga mempermudah
pemahaman, karena semakin banyak indera yang digunakan untuk
menerima sesuatu maka semakin jelas pula pengertian yang diterima
Seseorang atau masyarakat di dalam proses pendidikan dapat
memperoleh pengalaman atau pengetahuan melalui berbagai macam alat
bantu pendidikan, tetapi masing-masing alat mempunyai intensitas yang
berbeda-beda di dalam membantu permasalahan seseorang. . Elgar Dale
membagi alat peraga menjadi 11 macam sekaligus menggambarkan
intensitasnya, yakni sebagai berikut:15

1
2 Keterangan:
3 1. Kata-kata
4 2. Tulisan
5 3. Rekaman, radio
6 4. Film
7 5. Televisi
8 6. Pameran
9 7. Field trip
10 8. Demonstrasi
11 9. Sandiwara
10. Benda tiruan
Gambar 2.4. Kerucut Edgar Dale (dimodifikasi) 11. Benda asli

21
Kerucut tersebut menggambarkan bahwa lapisan yang paling dasar adalah
benda asli dan yang paling atas adalah kata-kata. Hal ini mengartikan bahwa
dalam proses pendidikan, benda asli mempunyai intensitas yang lebih tinggi
untuk mempersepsikan bahan pendidikan atau pengajaran, sedangkan
penyampaian bahan yang hanya dengan kata-kata saja sangat kurang efektif
atau intensitasnya paling rendah.15

2.5. Metode Promosi Kesehatan

Metode yang digunakan pun berbeda antara individu, kelompok maupun


massa, yakni sebagai berikut:15
a. Sasaran individu
Promosi kesehatan dalam tingkat individu digunakan untuk membina
perilaku baru. Bentuk pendekatan ini antara lain penyuluhan dan
wawancara.
b. Sasaran kelompok
Dalam memilih metode pendidikan kelompok, perlu diperhatikan
besanya kelompok. Bagi kelompok besar (> 15 orang) metode yang
sebaiknya digunakan ialah metode ceramah dan seminar.Bagi
kelompok kecil (<15 orang, baiknya digunakan metode diskusi
kelompok, curah pendapat, bola salju, memainkan peranan (roleplay),
dan permainan simulasi.
c. Sasaran massa
Sasaran media promosi kesehatan massal sangat heterogen, baik dilihat
dari kelompok umur, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan
tingkat sosial budaya. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk
menggugah kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi dan belum
begitu diharapkan sampai pada perubahan perilaku. Namun, apabila
kemudian berpengaruh terhadap perubahan perilaku, ini merupakan hal
yang wajar.

2.6. Sikap

22
1. Definisi Sikap
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus luas atau objek
tertentu, melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-
tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya).15

1. Tingkatan Sikap
Sikap memiliki tingkatan-tingkatan berdasarkan intensitasnya, yaitu:
a. Menerima
Seseorang mau menerima stimulus yang diberikan.
b. Menanggapi
Seseorang memberikan jawaban atau tanggapan terhadap
pertanyaan yang dihadapi.
c. Menghargai
Seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau
stimulus, subjek dapat membahas, mempengaruhi, dan mengajak
orang lain untuk merespon stimulus.
d. Bertanggung jawab
Seseorang yang telah mengambil sikap harus berani mengambil
risiko bila ada orang lain mencemoohnya.

23
BAB III
GAMBARAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS KUBU I KARANGASEM

3.1. Gambaran Umum


3.1.1. Geografi
UPTD Kesehatan/ Puskesmas Kubu I merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas
Kesehatan Kabupaten Karangasem yang beralamat di Jalan Raya Amlapura–
Singaraja, Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.
Secara administratif wilayah kerja UPTD Kesehatan Puskesmas Kubu I terdiri
dari 5 Desa yakni Tulamben, Dukuh, Kubu, Baturinggit dan Sukadana yang
membawahi 29 Banjar Dinas atau Dusun dengan batas wilayah sebagai berikut :

Gambar 2.1. 1. Gambar Peta Wilayah Kerja


UPTD Kesehatan/ Puskesmas Kubu I

 Sebelah Utara : Laut Bali


 Sebelah Selatan : Kecamatan Rendang
 Sebelah Timur : Kecamatan Abang
 Sebelah Barat : UPTD Kesehatan/ Puskesmas Kubu II

3.1.2 Luas Wilayah

24
Wilayah kerja UPTD Kesehatan Puskesmas Kubu I seluas 106,07 km² dengan
gambaran luas masing-masing desa sebagai berikut:

24.45
29.15

18.25

22.07

12.15

Tulamben Dukuh Kubu Baturinggit Sukadana

Gambar 3.1.2. Luas Wilayah per Desa (Km²) UPTD Kesehatan/ Puskesmas Kubu I Tahun
2017 (Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Karangasem)

3.2. Demografi
3.2.1 Jumlah Penduduk
Penduduk di wilayah kerja UPTD Kesehatan Puskesmas Kubu I sampai dengan
tahun 2017 berjumlah 23.471 jiwa dengan rincian penduduk laki-laki berjumlah
12.019 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 11.452 jiwa.

Tabel 3.2.1. Jumlah dan Rasio Penduduk per Desa UPTD Kesehatan/ Puskesmas
Kubu I Tahun 2017 (Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Karangasem)
No Desa Laki-laki Perempuan Total Sex Rasio

1 Tulamben 3.735 3.544 7.279 105

2 Dukuh 1.606 1.531 2.137 105

3 Kubu 1.745 1.674 3.419 104

4 Baturinggit 2.117 2.019 4.236 105

3.2.2. Kepadatan Penduduk

25
Kepadatan Penduduk di wilayah UPTD Kesehatan Puskesmas Kubu I tahun 2017
sebesar 221 jiwa/ km² dengan kepadatan penduduk per Desa :

300 281
250
250 227 225

200
142
150

100

50

0
Tulamben Dukuh Kubu Baturinggit Sukadana

Gambar 2.2. Kepadatan Penduduk per Desa (Jiwa/ Km²) (Sumber: Manajemen
Puskesmas UPTD Kesehatan/ Puskesmas Kubu I)

3.3 Ekonomi
Sebagian besar penduduk di wilayah kerja UPTD Kesehatan Puskesmas Kubu I
memiliki mata pencaharian sebagai petani, peternak dan pedagang, sedangkan
sisanya merupakan pegawai negeri sipil, karyawan swasta, wirausahawan,
nelayan dan lainnya. Dengan kemampuan ekonomi yang cukup baik, maka
kesadaran masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal,
baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat semakin baik pula.

3.4. Pendidikan

Dengan tingkat pendidikan yang baik akan memudahkan penduduk untuk mening
katkan derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat. Untuk mampu meningkatkan tingkat pendidikan penduduk, maka
diperlukan fasilitas pendidikan yang memadai.

Tabel 3.4. Fasilitas Pendidikan per Desa UPTD Kesehatan Puskesmas Kubu I
Tahun 2017 (Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Karangasem)

SMA/
No Desa TK SD SMP
SMK

26
1 Tulamben 2 4 1
2 Dukuh 5
3 Kubu 1 4 1 1

4 Baturinggit 2 4 1
5 Sukadana 1 4 1

Total 6 21 3 2

3.5. Sosial
Secara sosial di bidang kesehatan, penduduk di wilayah kerja UPTD Kesehatan/
Puskemas Kubu I sudah terakses fasilitas kesehatan yang cukup memadai.
Sehingga diharapkan kesadaran penduduk untuk menjaga dan memeriksakan
kesehatannya secara individu, keluarga, kelompok dan masyarakat semakin
meningkat.

Tabel 3.5. Fasilitas Kesehatan per Desa UPTD Kesehatan Puskesmas Kubu I Tahun
2017 (Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Karangasem)
Dokter Bidan Perawat
No Desa Pustu Pos Kesdes Praktek Praktek Praktek
Swasta Swasta Swasta

1 Tulamben 3 1 2

2 Dukuh 1 1 1 1

3 Kubu 1 3 1

4 Baturinggit 1 1

5 Sukadana 1 1 2 2 1

Total 6 5 2 8 3

3.6. Perilaku Penduduk


Secara umum perilaku penduduk di wilayah kerja UPTD Kesehatan Puskesmas
Kubu I khususnya yang tinggal di daerah dengan sarana dan prasarana yang
kurang memadai masih memiliki kesadaran yang rendah untuk meningkatkan

27
derajat kesehatan secara individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Hal ini
disebabkan beberapa faktor :
1. Akses yang belum memadai
2. Memprioritaskan pengobatan alternatif
3. Memprioritaskan bekerja (memenuhi kebutuhan ekonomi)
4. Minim respon terhadap informasi kesehatan yang diterima
5. Minim baca tulis/ pendidikan

3.7. Kondisi Lingkungan


Kondisi lingkungan di wilayah kerja UPTD Kesehatan/ Puskesmas Kubu I
sangat mempengaruhi kemampuan penduduk dalam meningkatkan derajat
kesehatan secara individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Adapun
faktor-faktor kondisi lingkungan yang mempengaruhi :
1. Penduduk yang tidak terjangkau fasilitas air bersih PDAM, sepanjang
tahun menggunakan air hujan dalam sumur penampungan atau
membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sumur-sumur
penampungan yang tidak terjaga kondisi kebersihannya akan sangat
mempengaruhi kesehatan penduduk yang membutuhkan air bersih
dalam setiap kegiatannya.
2. Fasilitas tempat-tempat umum terutama pasar tradisional masih minim
tempat pembuangan sampah. Sehingga sepanjang hari sampah-
sampah pasar tradisional masih berserakan yang mengakibatkan
bersarangnya berbagai jenis penyakit yang mengancam kesehatan
penduduk.
3. Belum adanya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang layak dan
memadai menyebabkan penduduk memilih membuang sampah
sembarangan. Di beberapa sungai kering masih terlihat sampah
menumpuk yang dapat menjadi sumber berbagai jenis penyakit.
4. Penduduk yang tidak memiliki jamban sehat memilih untuk buang air
besar (BAB) sembarangan di ladang atau tegalan. Sehingga lalat yang
hinggap di feses dapat menimbulkan penyakit bagi penduduk
sekitarnya.

28
BAB IV
METODE EVALUASI

4.1. Tolak Ukur Penilaian


Evaluasi dilakukan pada program KIA dan promosi kesehatan masyarakat
dimana ditemukannya ibu hamil usia muda (kurang dari 20 tahun) di
Puskesmas Kubu 1.

4.2. Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan berupa:


1. Sumber data primer
- Wawancara dengan koordinator pelaksana Progam KIA dan Program
Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Kubu 1 Karangasem
- Kuisioner dan atau tanya jawab dengan ibu hamil usia kurang dari 20
tahun di wilayah kerja Puskesmas Kubu 1 Karangasem.
- Kuisioner yang disebar kepada perwakilan/sampel siswi SMAN 1
Kubu Karangasem

2. Sumber data sekunder


Laporan bulanan dan tahunan Progam KIA khususnya ibu hamil usia
kurang dari 20 tahun periode tahun 2017 dan Program Kesehatan
Masyarakat di Puskesmas Kubu 1 Karangasem.

4.3. Cara Analisis


4.3.1. Sasaran
Sasaran penyuluhan adalah siswi SMAN 1 Kubu kelas X dan XI yang
diwakili oleh anggota anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS),
Palang Merah Remaja (PMR), Pramuka, perwakilan pengurus kelas X dan
XI.sebanyak 60 orang dengan pertimbangan keterbatasan tempat dan
waktu pelaksanaan.

29
4.3.2. Strategi
4.3.2.1.Mempersiapkan ketenagaan
a. Persiapan materi penyuluhan
b. Penguasaan materi penyuluhan
c. Penguasaan cara-cara penyampaian materi
4.3.2.2.Pelaksanaan Penyuluhan
a. Perkenalan tim penyuluhan
b. Melakukan pre-test kepada perwakilan/sampel siswi SMAN
1 Kubu sebelum penyuluhan untuk mengetahui
pengetahuan mereka mengenai risiko tinggi kehamilan usia
kurang dari 20 tahun.
c. Penyuluhan tentang resiko tinggi kehamilan usia kurang
dari 20 tahun dengan power point.
d. Dilakukan recall untuk mengukur pengetahuan setelah
penyuluhan
e. Melakukan tanya jawab antara tim penyuluh dengan sasaran
evaluasi.

4.3.3. Metode
Penyuluhan akan dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan
tanya jawab.

4.3.4. Media Penyuluhan


Adapun media yang digunakan antara lain:
a. LCD
b. Layar presentasi
c. Slide materi penyuluhan (power point)

4.4. Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Tempat : SMA Negeri 1 Kubu
Waktu : Jumat, 4 Mei 2018 pukul 08.00 WITA

30
4.5. Rencana Evaluasi
4.5.1. Indikator penilaian
a. Peningkatan pengetahuan sasaran evaluasi tentang risiko tinggi
kehamilan usia kurang dari 20 tahun saat pre-test dan saat recall.
b. Kehadiran minimal 70% dari jumlah peserta yang ditentukan.
4.5.2. Waktu penilaian
Penilaian dilakukan sebelum, selama dan setelah pelaksanaan
penyuluhan.
4.5.3. Cara penilaian
Pre-test dan recall.

31
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Profil Peserta

Peserta penyuluhan risiko tinggi kehamilan usia kurang dari 20 tahun pada
hari Jumat tanggal 4 Mei 2018 adalah siswi SMAN 1 Kubu berjumlah 60
orang yang terdiri dari pengurus dari anggota Organisasi Siswa Intra
Sekolah (OSIS), Palang Merah Remaja (PMR), Pramuka, perwakilan
pengurus kelas X dan XI. Kelas X berjumlah 24 orang dan kelas XI
berjumlah 36 orang.

Tabel 5.1. Prevalensi Peserta berdasarkan kelas


Kelas Jumlah Persentase
X 24 40%
XI 36 60%
Total 60 100%

5.2. Data Geografis


Tempat dilaksanakannya evaluasi yakni di SMAN 1 Kubu yang beralamat
di Jalan Amlapura-Singaraja, Desa Kubu Kecamatan Kubu, Kabupaten
Karangasem Bali.

5.3. Proses Pelaksanaan


Penyuluhan dilaksanakan pada tanggal 4 Mei 2018 pukul 08.00-10.00
WITA di ruang laboratorium biologi SMAN 1 Kubu. Penyuluhan
disampaikan oleh dr. Andini Saraswati dengan dibuka oleh Bapak I
Nyoman Kari selaku pemegang program promosi kesehatan di Puskesmas
Kubu 1. Pelaksanaan penyuluhan ini juga bersamaan dengan penyuluhan
mengenai pentingnya tablet besi, kawasan tanpa rokok dan screening
penyakit tidak menular pada Guru dan Karyawan SMAN 1 Kubu.

32
Penyuluhan dimulai dengan pemberian pretest yang berisi 15 pertanyaan
yang terdiri dari tujuh pertanyaan seputar risiko kehamilan usia kurang
dari 20 tahun dan delapan buah pertanyaan terkait sikap dan perilaku siswi
dan atau masyarakat disekitar sasaran penyuluhan. Pertanyaan terkait
pengetahuan siswi meliputi:
- Risiko hamil pada usia kurang dari 20 tahun
- Risiko pada janin dan bayi
- Usia yang cukup baik untuk hamil
- Kelahiran prematur
-Perdarahan saat melahirkan
-Dampak psikologis kehamilan muda
Pertanyaan mengenai sikap dan perilaku sasaran evaluasi dan atau
masyarakat sekitar sasaran penyuluhan meliputi:
- Rencana setelah lulus SMA
- Remaja yang melakukan hubungan seks pra nikah
- Pendidikan seks dari orang tua
- Faktor penyebab kehamilan usia muda di wilayah sekitar
- Sikap tentang kegemaran membahas seks pranikah dengan teman sebaya

Setelah dilakukan pretest dilanjutkan dengan melakukan penyuluhan.


Siswi-siswi yang menjadi sasaran evaluasi sangat antusias dengan
penyuluhan tersebut dan kehadiran mencapai 100%. Setelah penyuluhan
dilakukan recall terkait pertanyaan yang diberikan saat post test, hasil dari
recall adalah peserta mampu menyebutkan kembali hal apa saja yang
sudah diberikan saat penyuluhan, sehingga pengetahuan siswi bertambah
dari sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, dimana itu merupakan tingkatan
pertama dari pengetahuan. Setelah dilakukan recall atas pertanyaan pretest
sebelumnya, dilakukan sesi tanya jawab terkait materi penyuluhan dan
materi di luar penyuluhan.

Hasil evaluasi pengetahuan siswi terkait risiko kehamilan usia kurang dari
20 tahun yakni siswi yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi mendapat

33
skor 7-10 sebanyak 15 orang atau 25,0%, siswi yang memiliki tingkat
pengetahuan sedang mendapat skor 5-7 sebanyak 17 orang atau 28,3% dan
siswi yang memiliki tingkat pengetahuan rendah mendapat skor 0-5
sebanyak 28 orang atau 46,7%.

Tabel 5.3.1. Prevalensi Tingkat Pengetahuan Siswi Berdasarkan Skor

Tingkat Pengetahuan Jumlah Persentase


Tinggi (skor 7-10) 15 25,0%
Sedang (skor 5-7) 17 28,3%
Rendah (skor 0-5) 28 46,7%
Total 60 100%

Berdasarkan perbandingan pengetahuan antara siswi kelas X dan XI


didapatkan hasil bahwa siswi kelas X yang mendapat skor tinggi sebanyak
3 orang, skor sedang sebanyak 8 orang dan skor rendah sebanyak 13
orang. Sedangkan siswi kelas XI yang mendapat skor tinggi sebanyak 12
orang, skor sedang sebanyak 9 orang dan skor rendah sebanyak 15 orang.

Tabel 5.3.2. Prevalensi Tingkat Pengetahuan Siswi Berdasarkan Kelas


Tingkat Pengetahuan Kelas X Kelas XI
Tinggi (skor 7-10) 3 12
Sedang (skor 5-7) 8 9
Rendah (skor 0-5) 13 15
Total 24 36

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa pengetahuan siswi kelas


XI lebih baik dibandingkan siswi kelas X. Hal ini mungkin disebabkan
oleh faktor usia dan pendidikan sasaran penyuluhan. Semakin tinggi usia
dan pendidikan seseorang makan pengetahuan akan suatu hal menjadi
lebih baik.

Setelah dilakukan penyuluhan dilakukan recall dengan menanyakan


kembali beberapa pertanyaan secara acak kepada sasaran penyuluhan,
hasilnya siswi yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Siswi yang

34
sebelumnya tidak bisa menyebutkan dampak apa saja yang dapat terjadi
pada kehamilan usia kurang dari 20 tahun menjadi bisa menyebutkan
dengan baik apa saja risiko kehamilan kurang dari 20 tahun. Hal ini
menunju8kkan bahwa ada peningkatan pengetahuan dari sebelumnya tidak
tahu mendadi tahu, dimana ini merupakan tingkatan pertama dalam
pengetahuan.

Selain itu, ditanyakan pula seputar sikap dan perilaku siswi-siswi tentang
rencana setelah lulus SMA, remaja yang melakukan hubungan seks pra
nikah, pendidikan seks dari orang tua, faktor penyebab kehamilan usia
muda di wilayah sekitar dan sikap tentang kegemaran membahas seks
pranikah dengan teman sebaya.

Terkait rencana setelah lulus SMA, 48 orang atau 80% berencana kuliah
setelah lulus SMA, 12 orang atau 20% berencana kerja setelah lulus SMA,
dan tidak ada yang memiliki rencana menikah setelah lulus SMA.

Tabel 5.3.3. Prevalensi Rencana Siswi Setelah Lulus SMA


Rencana Jumlah Persentase
Kerja 12 20%
Kuliah 48 80%
Menikah 0 0%
Total 60 100%

Ditemukannya kehamilan usia kurang dari 20 tahun di wilayah Puskesmas


Kubu I tentunya didasarkan atas faktor-faktor. Pada penelitian ini, peneliti
ingin mengetahui perkiraan penyebab terjadinya hal tersebut dengan
menanyakan kepada siswi-siswi sebagai sampel penelitian. Menurut
responden, 35 orang atau 58% mengatakan di wilayah Kubu cenderung
melakukan hubungan seks pranikah, dan 25 orang atau 42% responden
mengatakan tidak tahu.

35
Tabel 5.3.4. Seks Pranikah di Kubu
Responden Jumlah Persentase
Ya 35 58%
Tidak Tahu 25 42%
Total 60 100%

Pendidikan seksual sangat penting bagi remaja terutama di era seperti saat
ini. Dengan adanya pendidikan seks dari orang tua, diharapkan dapat
menjadi pondasi dan landasan bagi anak-anak yang menginjak remaja agar
dapat lebih bijak menjalani kehidupan seksualitas mereka, sehingga angka
kehamilan kurang dari 20 tahun dapat menurun. Pada penelitian ini
ditanyakan hal terkait pendidikan seksualitas yang diberikan orang tua
kepada responden didapatkan hasil sebanyak 48 orang atau 80% tidak
mendapatkan pendidikan seksual dari orang tua dan hanya 12 orang atau
20% yang mendapat pendidikan seksual dari orang tua.

Tabel 5.3.5. Pendidikan Seksual dari Orang Tua


Responden Jumlah Persentase
Tidak Mendapat 48 80%
Mendapat 12 20%
Total 60 100%

Faktor lain yang menyebabkan terjadinya kehamilan usia kurang dari 20


tahun adalah faktor ekonomi, faktor kurangnya perhatian dari orang tua
dan faktor pribadi. Menurut responden, faktor pribadi merupakan faktor
terbesar penyebab terjadinya kehamilan usia kurang dari 20 tahun di
wilayah Kubu. Sebanyak 40 orang atau 67% memilih faktor pribadi, 17
orang atau 28% responden memilih faktor kurangnya perhatian dari orang
tua dan hanya 3 orang responden atau 5% responden memilih faktor
ekonomi.

Tabel 5.3.6. Faktor Penyebab Kehamilan

36
Faktor Jumlah Persentase
Pribadi 40 67%
Perhatian Orang Tua 17 28%
Ekonomi 3 5%
Total 60 100%

Saat ini remaja kerap melakukan hubungan seksual pranikah, hal ini dapat
dipengaruhi oleh faktor personal diri sendiri dan pasangan. Pada penelitian
ini juga ditanyakan perihal sikap dan perilaku memperbincangkan hal
melakukan hubungan seksual pranikah dengan pasangan/pacar, didapatkan
hasil sebagai berikut:

Tabel 5.3.7. Sikap dan Perilaku Membincangkan Seksualitas dengan Pasangan


Responden Jumlah Persentase
Ya 27 45%
Tidak 33 55%
Total 60 100%

Berdasarkan tabel di atas didapatkan hasil 33 orang atau 55% tidak pernah
membincangkan hal tersebut dan 27 orang atau 45% mengatakan
membincangkan hal tersebut dengan pasangan/pacar masing-masing.

5.4. Hambatan
Dalam melaksanakan mini project ini terdapat hambatan yakni waktu,
dimana pelaksanaan kegiatan ini bersamaan dengan kegiatan sekolah,
dimana evaluasi ini lebih baik lagi bila dilakukan dengan teknik
wawancara baik pada remaja dan pada ibu hamil usia muda untuk
mengetahui dlebih mendalam hal-hal apa saja yang menjadi faktor
penyebab terjadinya kehamilan usia kurang dari 20 tahun. Diharapkan
peneliti selanjutnya dapat meneruskan penelitian ini dengan ruang lingkup
yang lebih besar sehingga dapat lebih bermanfaat bagi Puskesmas Kubu 1
sebagai sarana peningkatan kualitas hidup masyarakat.

37
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
1. Pelaksanaan mini project berupa penyuluhan risiko kehamilan usia kurang
dari 20 tahun di SMAN 1 Kubu yang direncanakan telah dapat
direalisasikan dengan baik.
2. Pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain usia dan tingkat
pendidikan.

6.2. Saran
1. Para siswi SMAN 1 Kubu diharapkan membagikan informasi tentang risiko
kehamilan usia kurang dari 20 tahun kepada teman sebaya dan masyarakat
sekitarnya.
2.Puskesmas Kubu I hendaknya mengembangkan penyuluhan ini ke ruang
lingkup yang lebih luas agar dapat menurunkan angka kehamilan usia
kurang dari 20 tahun, serta mengembangkan program layanan konseling
remaja.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Mittendorf R, Williams MA, Berkey CS, Cotter PF. Obstetri. Cetakan ke 23.
Jakarta: EGC,2012. P. 774-97.
2. UNICEF. Ending Child Marriage: Progress and prospects; United Nations
Children’s Fund dalam The State of the World’s Children 2014 In Numbers:
Every child counts – Revealing disparities, advancing human rights. New
York: UNICEF,2014. P.5
3. Abed F, Adesina A. National Statistics Bureau (BPS), National Population and
Family Planning Board (BKKBN), Ministry of Health (Kemenkes - MOH) and
ICF International. Demographic Health Survey (DHS), Washington: 2012.
4. Republik Indonesia. Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Surabaya: Pustaka Tinta Mas, 1990.
5. Republik Indonesia. Undang-undang Rumah Tangga No. 23 Tahun 2004 &
Undang-undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002. Padang: Baduose
Media, 2008.
6. Osotimehin, B. Marrying Too Young: End child marriage. New York: UNPFA,
2012. P. 44
7. WHO. World Health Statistics. When the mother is a child: The impact of child
marriage on the health and human rights of girls. Archives of disease in
childhood. Geneva, Switzerland: 2014. p. 931-41
8. Green, M. Accountability for Child Marriage in Ending Child End Marriage in
A Generation. India: Ford Foundation. 2014. p. 4
9. Evenhuis and Burn. Just Married, Just a Child Marriage in the Indo-Pacific
Region. Australia: Plan International Australia. 2014. p. 26.
10. Evenhuis and Burn. Just Married, Just a Child Marriage in the Indo-Pacific
Region. Australia: Plan International Australia. 2014. p. 25.
11. Raj, A. When the mother is a child Association of child marriage with suicidal
thoughts and attempts among adolescent girls in Ethiopia. Journal of
Adolescent Health. 2013; 52(5): 654
13. Heymann, J. Mc Neill, K.Children’s Chance. New Insights on Preventing
Child Marriage.London: Harvard University, 2013.

39
14. Fall, et al. Association between maternal age at childbirth and child and adult
outcomes in the offspring: a prospective study in five low-income and
middle-income countries. J of NCBI. 2016 Jul 10; 53 (10) p. 871-77.
15. Saraswati, A. Hubungan Sikap Tentang Peringatan Bahaya Rokok Berupa
Gambang Pada Kemasan Rokok Dengan Tahapan Berhenti Merokok Pada
Kepala Keluarga Perokok Di Desa Restu Baru Kecamatan Rumbia Lampung
Tengah. Skripsi. 2011.
16. Meriyani, DA. Laporan kasus. Faktor risiko kehamilan usia remaja di Bali:
Penelitian case control. 2016.
17. DeCherney, MD, Alan H. Current Diagnosis & Treatment Obstetrics &
Gynecology. Tenth Edition . United States of America: The McGraw-Hill
Companies, Inc; 2007. hal 1-18.
18. Brooks MD. 2011. Pregnancy, Preeclampsia. St Mary Corwin Medical Center.
Department of Emergency Medicine.
19. Cunningham, MD F. Gary, Williams Obstetrics, Twenty-Second Edition.
United States of America. the McGraw-Hill Companies;2012. hal: 33-40,
111-6.
20. Khusen D. Factors Influencing Maternal Mortality from Severe Preeclampsia
and Eclampsia. Indones J Obstet Gynecol. Jakarta : Medical Faculty of Atma
Jaya University; 2013. 36(2): hlm.90-4.
21. Hamilton & Morgan . Infeksi Menular Seksual (IMS), Jakarta : penerbit
Universitas Indonesia (UI press),2009.
22. Atikah P, Cahyo I. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Yogyakarta: Nuha
medika. 2010.
23. Carlo, W.A. Prematurity and Intrauterine Growth Restriction. In: Kliegman,
R.M., Stanton, B.F., St. Geme, J.W., Schor, N.F., dan Behrman, R.E. Nelson
Textbook of Pediatrics. 19th ed. USA. Elsevier: 2011. p555-564.
24. Andrijino. Kanker Serviks Edisi kedua. Divisi Onkologi Departemen Obstretri
Ginekologi FK UI. Jakarta. 2009. p1-9
25. Al Dallal, F.H., Grant, I.N. Postnatal Depression among Bahraini Women:
Prevalence of Symptoms & Psychosocial Risk Factors. Eastern
Mediterranean Health Journal. Vol. 18, No. 5. 2012.

40
LAMPIRAN

KUISIONER PENGETAHUAN TENTANG RISIKO WANITA HAMIL USIA KURANG DARI


20 TAHUN
NAMA (cukup inisial saja) :
UMUR :
ALAMAT :
Mohon mengisi jawaban dengan sebenar-benarnya agar penelitian ini dapat bermanfaat, terima
kasih.

1. Apakah anda tahu tentang risiko hamil usia kurang dari 20 tahun?
Ya (sebutkan).........................................................................
Tidak

2. Apakah anda tahu hamil dan melahirkan usia kurang dari 20 tahun berpengaruh pada
janin yang dikandung dan bayi yang dilahirkan?
Ya (sebutkan)........................................................................
Tidak

3. Menurut anda manakah usia yang cukup baik untuk menikah dan melahirkan?
20 tahun – 35 tahun
17 tahun – 38 tahun
Tidak menentu, kapan saja boleh

4. Apa itu kehamilan prematur ? (boleh pilih lebih dari satu)


< 9 bulan
9 bulan – 10 bulan
>9 bulan

5. Menurut anda, kehamilan pada usia muda dapatkah mengalami kecacatan?


Ya Tidak

6. Setelah lulus SMA, anda akan ?


Kuliah
Kerja
Menikah

7. Wanita yang menikah di usia muda cenderung mengalami perdarahan?


Ya, sebab.........................................................................
Tidak

8. Menurut anda, disekitar anda, apakah remaja cenderung melakukan hubungan seks
sebelum nikah?
Ya Tidak

9. Apakah anda pernah mendapatkan informasi tentang risiko hamil usia kurang dari 20
tahun?
Ya , dari Media elektronik
Petugas kesehatan
Sekolah
Lainnya (sebutkan)..................

41
10. Apakah orang tua memberikan pendidikan seksual pada anda?
Ya Tidak

11. Apakah kemungkinan dampak psikologis bagi ibu yang melahirkan pada usia kurang dari
20 tahun?
Baby blues
Rasa malu
Percaya diri

12. Menurut anda, apa penyebab banyak ditemukan kehamilan usia muda di wilayah Kubu ?
...................................................................................

13. Apakah menurut anda penyuluhan tentang reproduksi bagi remaja itu penting?
Ya Tidak
Jika Ya, siapa yang anda harapkan memberikan penyuluhan?
..................................................

14. Apakah teman sebaya anda ada yang pernah melakukan hubungan seksual?
Ya Tidak Tidak tahu
15. Apakah anda dan teman anda kerap membincangkan perihal melakukan hubungan
seksual dengan kekasih/pacar?
Ya Tidak

42