Anda di halaman 1dari 3

A.

Puttmen-Carpenter
Persamaan Puttmen-Carpenter mengembangkan persamaan dengan
menganggap minyak, air dan gas sebagai satu fasa dan tidak dilakukan adanya
korelasi liquid hold up. Selain itu juga menganggap bahwa aliran minyak, air dan
gas adalah turbulen. Kehilangan energi yang terjadi disepanjang pipa dikorelasikan
dengan reynold number.
Beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggunakan metode ini adalah:
1. Korelasi ini dapat digunakan untuk pipa-pipa yang digunakan dalam studi ini (2,
2½ dan 3 in.). Sedangkan penggunaan metoda ini untuk ukuran pipa yang lain,
harus mempertimbangkan mengenai hasil yang diperoleh.
2. Laju aliran total digunakan untuk menghitung densitas pada setiap titik dalam
pipa.
3. Pola aliran diabaikan.
4. Pengaruh viskositas diabaikan. Studi oleh Ros, Hagedorn dan Brown
menunjukkan bahwa, pengaruh viskositas diatas 6 cp (atau 10 cp) perlu
diperhitungkan.
5. Komponen percepatan dalam persamaan energi diabaikan. Hal ini benar untuk
kondisi tertentu, tetapi jika kecepatan aliran sangat tinggi, maka komponen
percepatan perlu diperhitungkan.
6. Faktor gesekan dianggap merupakan harga rata-rata untuk seluruh panjang
tubing, sedangkan sebenarnya harga faktor gesekan berubah dari dasar sumur
sampai ke permukaan.
Sehingga persamaan dari Puttmen-Carpenter mengembangkan korelasinya
berdasarkan persamaan energy umum dan mengubahnya dalam bentuk laju aliran
massa yaitu:

𝑑𝑝 1 𝑓 𝑤2
= (𝜌 + 7,413 𝑥 1010 𝜌 𝑑5) ..............................................................(5-22)
𝑑𝑙 144

dimana :
w = masa laju aliran total, lb/hari
 = densitas campuran, lb/cuft
d = diameter dalam pipa, ft
f = faktor gesekan yang diperoleh dari persamaan moody atau fanning
a) Persamaan fanning
𝑑𝑝 2 𝑓 𝜌 𝑣2
( 𝑑𝑙 ) = 𝑔𝑐 𝑑
.....................................................................(5-23)
𝑓

b) Persamaan moody
𝑑𝑝 𝑓𝑚 𝜌 𝑣 2
( 𝑑𝑙 ) = 2 𝑔𝑐 𝑑
.....................................................................(5-24)
𝑓
64 𝜇
𝑓𝑚 = ..............................................................................(5-25)
𝜌𝑣𝑑

Prosedur perhitungan penurunan tekanan sepanjang pipa vertikal dengan


metoda Poetmann dan Carpenter adalah sebagai berikut :
1. Data yang harus tersedia adalah sebagai berikut :
a. Gas Liquid Ratio
b. Specific Grafity Gas
c. Formation Volume Factor terhadap tekanan
d. Kelarutan gas dalam minyak (Rs) terhadap tekanan
e. oAPI minyak
f. Laju aliran minyak dan air
g. Specific Gravity air
h. Tekanan aliran di permukaan
i. Temperatur di permukaan dan gradien temperatur
j. Kedalaman tubing/sumur
k. Ukuran tubing.
Tidak semua data tersebut harus tersedia, misalnya data c dan d dapat dicari
dengan menggunakan korelasi Standing.
2. Pada kertas grafik milimeter, plot kedalaman pada sumbu vertikal, dengan titik
nol di atas dan plot harga tekanan aliran di permukaan pada sumbu horisontal
atau tekanan aliran dasar sumur pada kedalaman sumur.
3. Berdasarkan satu STB minyak, tentukan masa minyak, air dan gas per STB
sebagai berikut :
m  ( Berat min yak )  ( Berat gas)  ( Berat air )
m  350 o   0.0764 g GOR  350 WOR
w

4. Tentukan berat total fluida yang terproduksi per hari, yaitu (langkah 3)  (laju
aliran minyak).
5. Dimulai dari tekanan di permukaan (atau dasar sumur), anggap beberapa titik
pada tubing sesuai dengan pertambahan tekanan. Pertambahan tekanan ini
harus cukup kecil, agar diperoleh garis yang baik.
6. Hitung volume campuran minyak, gas dan air pada tekanan yang sesuai dengan
langkah 5 per STB minyak (atau dalam satuan cuft).
Volume total(Volume min yak )(Volume air )(Volume gas )

14.7 T
Vm  5.615 Bo   5.615WOR   (Volume gas bebas)  Z
P 520

Volume gas bebas ditentukan berdasarkan (GOR  Rs).


7. Hitung densitas campuran pada tekanan yang bersangkutan, yaitu :
m

Vm

8. Hitung pembilang dari bilangan Reynold, yaitu :


1.4737  10 5 q o m
vd 
d

9. Tentukan faktor gesekan f, dengan menggunakan persamaan moody atau


persamaan fanning
10. Hitung gradien tekanan dP/dL dengan Persamaan 5-22.
11. Ulangi prosedur di atas, mulai dari langkah 5 untuk titik tekanan berikutnya dan
tentukan gradien tekanannya.
12. Rata-ratakan hasil perhitungan gradien tekanan dari dua titik tekanan di atas
dan bagi dengan perbedaan tekanan tersebut dengan gradien tekanan rata-rata,
maka akan dihasilkan jarak antara kedua titik tekanan tersebut.
13. Plot jarak tersebut dalam kertas grafik sesuai dengan tekanannya.
14. Ulangi langkah tersebut di atas, sampai kedalaman sumur tercapai.