Anda di halaman 1dari 4

PROYEK PENELITIAN BIOGAS

PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK MENJADI BIOGAS DENGAN MENGGUNAKAN


ALAT GAMA BIOPORTA

Oleh : Dr. Ambar pertiwiningrum

April 2009

1. Latar Belakang

Limbah adalah sesuatu yang tidak mungkin terpisahkan dari industri dan manusia, limbah
merupakan momok yang selalu menghantui. Limbah dapat menyebabkab kerusakan lingkungan
yang cukup hebat. Itulah sebabnya berbagai upaya dilakukan untuk meredam efek dari limbah,
berbagai peraturan ditegakkan untuk menanggulanginya.
Kalau dikaji limbah- limbah industri ataupun dari manusia sangat jarang yang diolah,
dikarenakan instalasi pengolahannya masih tergolong mahal dan tidak menguntungkan bagi
pemiliknya.

Sehingga cenderung pemilik limbah ini langsung membuang limbah tersebut ke sungai,
laut ataupun diresapkan kedalam tanah. Akibatnya sangat luar biasa, pencemaran air sungai
maupun air tanah sangat tinggi dan diikuti dengan bau yang kurang sedap. Selanjutnya penyakit
akan bertebaran dimana-mana, yang pada akhirnya masyarakat juga yang dirugikan.
Beranjak dari permasalah itu perlu dilakukan terobosan teknologi tepat guna yang murah dan
menguntungkan.

2. Tujuan Penelitian dan Cara Kerja Dalam Melakukan Penelitian

Tim pengembangan biogas UGM yang dimotori oleh Dr. Ambar Pertiwiningrum
melakukan riset khususnya di pengolahan limbah organik. Hasilnya ditemukan teknologi tepat
guna alat pengolahan limbah organik yang disebut GAMA BIOPORTA. Alat yang mempunyai
panjang 6 m dengan diameter 12’ ini didesain untuk mengolah limbah dalam skala kecil
khususnya rumah tangga. Disebut bioporta dikarenakan alat ini dapat dipindahkan (biogas
portable). Alat yang berbahan dasar pipa pvc ini mampu mengolah limbah organik khususnya
kotoran ternak dan limbah industri tahu dan tempe menjadi biogas, sehingga dapat digunakan
untuk memasak dan hasil lainnya pupuk organik. Dalam skala limbah ternak khususnya sapi alat
ini didesain mampu mengolah limbah 1 ekor sapi ukuran sedang dengan biogas yang dihasilkan
tiap hari 0,5 sampai 0,9 m3, atau jika digunakan untuk memasak selama 2 sampai 3 jam tiap hari.
Tetapi jika digunakan dalam industri tahu atau tempe alat ini dapat mengolah limbah cair
sebanyak 35 liter tiap hari dengan gas yang dihasilkan 0,3-0,6m3 tiap hari, atau jika digunakan
untuk memasak selama 1 sampai 1,5 jam tiap hari. Hasil gas tersebut dapat meningkat secara
signifikan bahkan melebihi gas yang dihasilkan dari kotoran sapi jika limbah tahu tersebut
dicampur dengan kotoran sapi.

Konsep tersebut yang dikenal dengan integrated farming. Dalam konsep ini pertanian,
peternakan dan industry dapat berjalan bersamaan sehingga mendapatkan hasil yang maksimal
dengan keuntungan lebih besar. Dalam konsep ini lahan yang ditanami tanaman untuk industry
tahu/tempe di sisihkan sedikit lahan untuk menanam pakan ternak, limbah ternak ditambah
dengan limbah industry tahu diolah dalam digester biogas, sedangkan ampas tahu digunakan
sebagai pakan ternak. Keluaran dari digester tersebut berupa gas dimanfaatkan untuk memasak
sedang pupuknya digunakan untuk memupuk lahan pertanian, pupuk ini termasuk dalam jenis
pupuk organik.

3. Pelaksanaan dan Manfaat dari Penelitian Secara Nyata

Penerapan teknologi tepat guna ini telah digunakan diberbagai tempat. Dusun Banyakan
Kecamatan Piyungan contohnya, pada awalnya daerah ini menjadi pilot projek tim UGM.
Diawali dengan pelatihan pembelajaran masyarakat akan pentingnya mengolah limbah.
Pengenalan kepada masyarakat bukanlah sesuatu yang mudah perlu waktu dan pendekatan yang
berlanjut. Pendekatan dengan menghargai pendapat dan kreatifitas mereka ternyata membuahkan
hasil. Dengan cara tersebut masyarakat merasa dihargai sehingga timbul ide kreatifitas yang
sangat membantu kemajuan program. Salah satu bukti keberhasilannya adalah dengan
dicanangkannya Desa Sitimulyo sebagaia Desa Mandiri Energi yang dicanangkan oleh Rektor
Universitas Gadjahmada Prof. Sudjarwadi, yang didampingi oleh wakil buati Bantul.

Tidak berapa lama kesadaran pengolahan limbah menular dari mulut kemulut dan menular ke
daerah lainnya. Kabupaten Klaten salah satuya, dengan menerapkan implementasi University-
Community, Teknologi ini berkembang pesat. Antusias masyarakat didukung dengan pemerintah
kabupaten, kecamatan sampai pemerintah desa dan dusun. Hasilnya luar biasa pada awalnya
Universitas memberi pelatihan dan contoh 10 unit digester bioporta, ternyata masyarakat mampu
mengembangkan sendiri bahkan membuat 20 unit digester bioporta baru hasil produksi mereka
sendiri. Bahkan dengan inovasi mereka sendiri mereka mengembangkan kompor biogas yang
siap dipasarkan.Pengembangan implementasi mini reactor biogas juga didukung oleh pemerintah
kabupaten Klaten, bahkan wakil bupati Klaten meninjau lokasi pengolahan limbah tahu menjadi
biogas.

Tidak hanya itu pemanfaatan biogas, keluaran dari reaktor biogas juga dimanfaatkan
sebagai pupuk organik yang merupakan hasil sampingan pengolahan limbah melalui gama
digester.
Pupuk organik tersebut digunakan untuk memupuk tanaman bahkan beberapa telah dikemas dan
siap untuk dipasarkan. Pengolahan pupuk organik mempunyai keuntungan yang lebih dari pada
pengolahan pupuk organic dengan fermentasi biasa. Pengolahan anaerob dengan menggunakan
reactor biogas ini membutuhkan waktu yang lebih singkat (14-21 hari), dari pada proses
fermentasi pupuk biasa (30-45 hari), selain itu pupuk organic dalam proses ini lebih lembut
sehingga tidak memerlukan penggilingan. Kemandirian masyarakat tersebut merupakan salah
satu bukti kesuksesan dari penerapan University-Community. Kecamatan Jatinom salah satunya ,
masyarakat sangat antusias dan menerapkan konsep integrated farming, sehingga industry tahu
yang dulunya menghasilkan limbah yang sangat bau dan mencemari lingkungan, dapat berubah
menjadi lingkungan yang tidak berbau dan tidak mencemari lingkungan.

4. Pengembangan Penelitian Kedepan

Pada pengembangan kedepan diharapkan terciptanya Desa Mandiri Energi dimana


kebutuhan energi dan pupuk organik dapat terpenuhi. Diharapkan pula tergeraknya sektor-sektor
lain dan berjalannya konsep integrated farming dengan terintegrasinya sektor pertanian,
peternakan dan industri kecil, diharapkan dengan majunya pertanian dan peternakan masyarakat
disertai berkembangnya industri-industri kecil mengangkat perekonomian masyarakat.
Penelitian dan pengembangan biogas terus berlanjut dengan melibatkan beberapa dosen dan
peneliti dari berbagai jurusan yang berkaitan. Penelitian ini juga telah melahirkan beberapa
skripsi dan tesis dari mahasiswa.beberapa hasil penelitian adalah, mini reactor gama bioporta,
pengembangan digester fixdome tunnel yang lebih murah dan efisien, katalisator pemercepat
proses pembentukan biogas, pengolahan pupuk organic dan beberapa kombinasi untuk
pemercepat pertumbuhan pada tanaman. Selain itu yang masih dalam proses penelitian (riset
unggulan strategis nasional) di kp4 ugm yaitu purifikasi dan teknik pengemasan biogas dalam
tabung. Sehingga diharapkan biogas dapat menggantikan ketergantungan masyarakat terhadap
minyak tanah maupun elpiji. Dan tidak kalah pentingnya penelitian ini juga meneliti penggunaan
biogas untuk mesin bensin yang diaplikasikan pada generator listrik dan mesin kendaraan
berbahan bakar bensin.

Salah satu hal positif lainnya adalah pengurangan dampak pemanasan global, masyarakat
tidak sadar dengan mereka mengolah limbah organik khususnya dari peternakan, secara tidak
langsung mereka telah menekan laju pemanasan global. Peternakan dituding menyokong 30%
efek pemanasan global. Hal itu dimungkinkan karena limbah peternakan yang ditumpuk di luar
secara alami akan menghasilkan gas methan (CH4), gas ini apabila telah terbakar akan menjadi
CO2 dan H2O yang masih aman bagi lingkungan. Tetapi jika gas methan ini terlepas ke udara
bebas akan merusak lapisan ozon dikarenakan daya rusaknya 20 kali lipat dari gas karbon.