Anda di halaman 1dari 34

PENGEMBANGAN E-MODULE FISIKA DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN

SAINTIFIK PADA POKOK BAHASAN MOMENTUM DAN IMPULS

Dosen Pengampu Drs. Cecep E Rustana, PhD

Disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian

Oleh:

DEWI SETYA DAMAYANTI

3215140620

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2017
ABSTRAK

DEWI SETYA DAMAYANTI. Pengembangan e-module fisika dengan pendekatan


pembelajaran saintifik pada pokok bahasan momentum dan impuls. Proposal. Jakarta : Program
Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Negeri Jakarta, 2014.

Akan dilakukan penelitian pengembangan e-module fisika dengan pendekatan


pembelajaran saintifik pada pokok bahasan momentum dan impuls. Penelitian ini bertujuan
untuk mengembangkan dan menghasilkan e-module fisika dengan pendekatan pembelajaran
saintifik pada pokok bahasan momentum dan impuls untuk peserta didik kelas X.

Penelitian ini akan menggunakan metode research and development. Penelitian ini akan
dilaksanakan di Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Negeri Jakarta dan akan diujicobakan terhadap siswa kelas X pada semester genap tahun
pelajaran 2017/2018 di SMA Negeri 103 Jakarta.

Kata kunci: e-module, pendekatan pembelajaran saintifik, momentum dan impuls


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Mata pelajaran fisika tingkat SMA kelas X memiliki alokasi belajar minimal 3
jam pelajaran per minggu berdasarkan Kurikulum 2013 Edisi Revisi. Alokasi waktu
tersebut harus dimanfaatkan dengan efektif sehingga dibutuhkan model pembelajaran
yang mampu membantu peserta didik dalam memahami konsep yang diajarkan.
Kurikulum 2013 Edisi Revisi menuntut siswa aktif untuk mencari tahu dan membangun
konsep fisika secara mandiri atau kelompok kecil dengan pendekatan saintifik sehingga
informasi yang didapatkan oleh peserta didik bisa dari mana saja dan kapan saja.
Pendidik tidak dijadikan satu-satunya sumber informasi. Pendekatan saintifik juga sesuai
dengan tuntutan Kurikulum 2013 Edisi Revisi.
Pada zaman ini, dimana teknologi berkembang dengan cepat berdampak positif di
berbagai bidang, khususnya bidang pendidikan. Adanya media pembelajaran berbasis
multimedia, peserta didik dapat memilih jenis media yang menarik dan dapat membantu
peserta didik dalam proses pembelajaran. Dengan perkembangan teknologi ini
diharapkan dapat memudahkan peserta didik untuk mengakses media pembelajaran
kapan saja dan dimana saja.
Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran
adalah bahan ajar. Bahan ajar digunakan oleh pendidik untuk membantu proses
pembelajaran. Salah satu bahan ajar alternatif yang dapat digunakan peserta didik adalah
modul. Perkembangan modul diawali dengan modul cetak. Modul cetak berisi
rangkuman materi, soal-soal, dan konsep dengan dibantu gambar 2 dimensi. Modul cetak
dianggap memiliki banyak kekurangan dikarenakan penjelasan dalam modul cetak
bersifat satu arah yang mengakibatkan pembelajaran cenderung pasif.
Dengan berkembangnya teknologi, modul cetak mulai dikembangkan menjadi e-
module. E-module mampu menjadi solusi dari segala kekurangan modul cetak. E-module
berisi materi pembelajaran dilengkapi dengan gambar 3 dimensi, video, simulasi, dan lain
sebagainya yang menjadikan pembelajaran bersifat dua arah dan aktif. Pengembangan e-
module saat ini telah didukung dengan ketersediaan perangkat komputer/laptop serta
jaringan internet yang dimiliki oleh siswa. Selain itu fasilitas di sekolah juga sudah
mencakupi untuk melaksanakan pembelajaran menggunakan e-module, yaitu dengan
tersedianya kelas yang dilengkapi dengan perangkat computer dan internet yang dapat
digunakan pada saat pembelajaran berlangsung.
Dengan adanya e-module, peserta didik dapat termotivasi untuk mempelajari dan
menyiapkan diri sebelum pembelajaran dimulai. Peserta didik akan lebih mudah
memahami materi pembelajaran secara mandiri. Selain itu meringankan beban peserta
didik karena modul tidak perlu dibeli dalam bentuk cetak serta mendukung gerakan Go
Green dalam upaya mengurangi efek pemanasan global karena mengurangi penggunaan
kertas.
Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian mengenai pengembangan bahan ajar
fisika yaitu e-module berbasis masalah untuk kelas X khususnya pada pokok bahasan
momentum dan impuls.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, permasalahan yang dapat
diidentifikasikan antara lain:
1. Media seperti apa yang dibutuhkan peserta didik sesuai dengan perkembangan
teknologi?
2. Bahan ajar seperti apa yang diperlukan dalam pembelajaran saintifik?
3. Modul seperti apa yang dibutuhkan dalam pembelajaran saintifik?
4. Apakah e-module dapat digunakan dalam pembelajaran saintifik?
5. Apakah e-module fisika dapat dikembangkan dengan pendekatan pembelajaran
saintifik?
6. Bagaimana bentuk pengembangan e-module fisika dengan pendekatan
pembelajaran saintifik?

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan,
penelitian ini dibataskan pada upaya pengembangan e-module fisika dengan pendekatan
pembelajaran saintifik pada pokok bahasan momentum dan impuls. Modul ini dilengkapi
dengan teks, gambar, audio, video, simulasi, animasi, dan tes formatif interaktif.
Perkembangan e-module ini menggunakan software 3D PageFlip Professional 1.7.6

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah yang telah
diuraikan, maka rumusan masalah menjadi: “Apakah e-module fisika yang dikembangkan
dengan pendekatan pembelajaran saintifik pada pokok bahasan momentum dan impuls
dapat dijadikan sebagai bahan belajar peserta didik SMA kelas X?”.

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah untuk
mengembangkan dan menghasilkan e-module fisika dengan pendekatan pembelajaran
saintifik pada pokok bahasan momentum dan impuls untuk peserta didik kelas X.

F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini untuk berbagai kalangan adalah sebagai berikut:
1. Bagi peneliti
a. Dapat menambah pengalaman di bidang penelitian pengembangan
b. Dapat menjadi inspirasi dan referensi bagi penelitian selanjutnya
2. Bagi pendidik
a. Dapat dijadikan referensi bahan ajar yang lebih efektif dan efisien
b. Dapat dijadikan referensi bahan ajar yang memfasilitasi terjadinya
pembelajaran mandiri yang berpusat pada peserta didik
3. Bagi peserta didik
a. Mempermudah siswa untuk belajar kapan saja dan dimana saja.
b. Bahan ajar menjadi lebih menarik karena adanya gambar 3 dimensi, video,
simulasi, dan lain sebagainya sehingga peserta didik menjadi lebih mudah
memahami materi pembelajaran.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Kajian Pustaka
1. Penelitian Pengembangan
Menurut Sugiyono (2013, 407) metode penelitian dan pengembangan atau dalam
bahasa inggrisnya yaitu Research and Development adalah metode penelitian yang
digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut,
sedangkan menurut Wina Sanjaya (2013,129) penelitian (R&D) adalah proses
pengembangan dan validasi produk.
Borg and Gall (dalam Sugiyono, 2013, 9-11) menyatakan bahwa penelitian dan
pengembangan (research and development) merupakan metode penelitian yang
digunakan untuk mengembangkan atau memvalidasi produk-produk yang digunakan
dalam pendidikan dan pembelajaran. Tiga hal pokok pada penelitian dan pengembangan
menurut Wina (2013:130) yaitu: pertama, tujuan akhir penelitian dan pengembangan
adalah dihasilkannya suatu produk tertentu yang dianggap andal, karena telah melewati
pengkajian terus-menerus; kedua, prroduk yang dihasilkan adalah produk yang sesuai
dengan kebutuhan lapangan; ketiga, proses pengembangan produk dari mulai
pengembangan produk awal sampai produk jadi yang sudah divalidasi, dilakukan secara
ilmiah dengan menganalisis data secara empiris. Hal tersebut selaras dengan tujuan
penelitian dan pengembangan yang diungkapkan Brog and Gall (dalam Punaji 2013:227)
adalah menghasilkan produk berdasarkan temuan-temuan dari serangkaian uji coba,
misalnya perseorangan, kelompok kecil, kelompok sedang, dan uji lapangan kemudian
dilakukan revisi dan seterusnya untuk mendapatkan hasil atau produk yang memadai atau
layak dipakai.
Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat dipahami bahwa penelitian dan
pengembangan (research and development) merupakan metode penelitian yang dalam
bidang pendidikan digunakan untuk menghasilkan, memvalidasi, dan menguji keefektifan
produk seperti bahan-bahan pembelajaran, metode pembelajaran ataupun metode
mengorganisasi pembelajaran.

2. E-module
a. Pengertian Modul
Modul merupakan bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan bahasa yang
mudah dipahami oleh siswa, sesuai usia dan tingkat pengetahuan mereka agar mereka
dapat belajar secara mandiri dengan bimbingan minimal dari pendidik (Andi Prastowo,
2012: 106). Penggunaan modul dalam pembelajaran bertujuan agar siswa dapat belajar
mandiri tanpa atau dengan minimal dari guru. Di dalam pembelajaran, guru hanya
sebagai fasilitator.
Menurut Sukiman (2011: 131) modul adalah bagian kesatuan belajar yang
terencana yang dirancang untuk membantu siswa secara individual dalam mencapai
tujuan belajarnya. Siswa yang memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat
menguasai materi. Sementara itu, siswa yang memiliki kecepatan rendah dalam belajar
bisa belajar lagi dengan mengulangi bagian-bagian yang belum dipahami sampai paham.
Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2008: 14) modul merupakan suatu paket
program yang disusun dan didesain sedemikian rupa untuk kepentingan belajar siswa.
Pendekatan dalam pembelajaran modul menggunakan pengalaman siswa.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas modul adalah paket program yang disusun
dan didesain sedemikian rupa sebagai bahan belajar mandiri untuk membantu siswa
dalam menguasai tujuan belajarnya. Oleh karena itu, siswa dapat belajar sesuai dengan
kecepatannya masing-masing.

b. Karakteristik Modul
Modul yang dikembangkan harus memiliki karakteristik yang diperlukan sebagai
modul agar mampu menghasilkan modul yang mampu meningkatkan motivasi
penggunannya. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (2008: 4-7),
modul yang akan dikembangkan harus memperhatikan lima karaktersistik sebuah modul
yaitu self instruction, self contained, stand alone, adaptif, dan userfriendly.
i. Self Instructional; yaitu mampu membelajarkan siswa secara mandiri. Melalui
modul tersebut seseorang atau peserta belajar mampu membelajarkan diri sendiri,
tanpa bergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakter self instruksional,
maka dalam modul harus:
1) Berisi tujuan yang dirumuskan dengan jelas.
2) Berisi materi pembelajaran yang dikemas ke dalam unit-unit kecil/spesifik
sehingga memudahkan belajar secara tuntas.
3) Menyediakan contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan pemaparan
materi pembelajaran.
4) Menampilkan soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang memungkinkan
pengguna memberikan respon dan mengukur tingkat penguasaannya.
5) Kontekstual yaitu materi-materi yang disajikan terkait dnegan suasana
atau konteks tugas dan lingkungan penggunanya.
6) Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif
7) Terdapat rangkuman materi pembelajaran
8) Terdapat instrument penilaian/assessment, yang memungkinkan
penggunaan diklat.
9) Terdapat instrumen yang dapat digunakan penggunanya mengukur atau
mengevaluasi tingkat penguasaan materi
10) Terdapat umpan balik atas penilaian, sehingga penggunanya mengetahui
tingkat penguasaan materi, dan tersedia informasi tentang pengayaan atau
referensi yang mendukung materi pembelajaran.
ii. Self Contained; yaitu seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi atau
sub kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu modul secara utuh. Tujuan
dari konsep ini adalah memberikan kesempatan siswa mempelajari materi
pembelajaran yang tuntas, karena materi dikemas ke dalam satu kesatuan yang
utuh.
iii. Stand Alone, modul yang dikembangkan tidak tergantung pada bahan ajar lain
atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar lain. Siswa tidak
perlu bahan ajar lain untuk mempelajari atau mengerjakan tugas pada modul
tersebut.
iv. Adaptif, modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, fleksibel/luwes digunakan diberbagai perangkat keras (hardware).
Modul yang adaptif adalah jika modul tersebut dapat digunakan sampai kurun
waktu tertentu.
v. User Friendly (bersahabat/akrab), modul memiliki instruksi dan paparan
informasi bersifat sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan istilah yang
umum digunakan. Penggunaan bahasa sederhana dan penggunaaan istilah yang
umum digunakan merupakan salah satu bentuk user friendly.

Selain itu, ciri-ciri modul menurut Herawati (2013: 83) sebagai berikut:

a) Didahului oleh pernyataan sasaran belajar.


b) Pengetahuan disusun sedemikian rupa, sehingga dapat mengaktifkan
partisipasi siswa.
c) Memuat sistem penilaian berdasarkan penguasaan.
d) Memuat semua unsur bahan pelajaran dan semua tugas pelajaran.
e) Mengarah pada suatu tujuan belajar tuntas.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diyakini bahwa pembelajara


menggunakan modul secara efektif akan dapat mengubah konsepsi siswa menuju konsep
ilmiah, yang diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkatkan baik dari segi kualitas
maupun kuantitas.

c. Komponen Modul
Komponen-komponen modul mencakup tiga bagian (Marwarnard, 2011:4), yaitu bagian
pembuka, inti, dan penutup dengan penjelasan sebagai berikut:
i. Bagian pembuka
1. Judul
Judul modul perlu menarik dan memberi gambaran tentang materi yang
dibahas.
2. Daftar Isi
Daftar isi menyajikan topik-topik yang dibahas. Topik-topik tersebut
diurutkan berdasarkan urutan kemunculan dalam modul.
3. Peta Informasi
Modul perlu menyertakan peta Informasi. Pada daftar isi akan terlihat
topik apa saja yang dipelajari, tetapi tidak terlihat kaitan antar topik
tersebut. Pada peta informasi akan diperlihatkan kaitan antar topik-topik
dalam modul. Peta informasi yang disajikan dalam modul dapat saja
menggunakan diagram isi bahan ajar yang telah dipelajari sebelumnya.
4. Daftar Tujuan Kompetensi Umum
Penulisan tujuan kompetensi membantu pembelajar untuk mengetahui
pengetahuan, sikap, atau keterampilan apa yang dapat dikuasai setelah
menyelesaikan pelajaran.
ii. Bagian inti (Kegiatan Belajar)
1) Pendahuluan/Tinjauan Umum Materi
Pendahuluan pada suatu modul berfungsi untuk ; (1) memberikan
gambaran umum mengenai isi materi modul, (2) meyakinkan pembelajar
bahwa materi yang akan dipelajari dapat bermanfaat bagi mereka, (3)
meluruskan harapan pembelajar mengenai materi yang akan dipelajari, (4)
mengaitkan materi yang telah dipelajari dengan materi yang akan
dipelajari, (5) memberikan petunjuk bagaimana mempelajari materi yang
akan disajikan. Dalam pendahuluan dapat saja disajikan peta informasi
mengenai materi yang akan dibahas dan daftar tujuan kompetensi yang
akan dicapai setelah mempelajari modul.
2) Hubungan Dengan Materi atau Pelajaran Yang Lain
Materi pada modul sebaiknya lengkap, dalam arti semua materi yang perlu
dipelajari tersedia dalam modul. Bila materi tersebut tersedia pada buku
teks maka arahan tersebut dapat diberikan dengan menuliskan judul dan
pengarang buku teks tersebut.
3) Uraian Materi
Uraian materi merupakan penjelasan secara terperinci tentang materi
pembelajaran yang disampaikan dalam modul. Organisasikan isi materi
pembelajaran dengan urutan dan susunan yang sistematis, sehingga
memudahkan pembelajar memahami materi pembelajaran. Apabila materi
yang akan dituangkan cukup luas, maka dapat dikembangkan ke dalam
beberapa Kegiatan Belajar (KB). Setiap KB memuat uraian materi,
penugasan, dan rangkuman.
4) Penugasan
Penugasan dalam modul perlu untuk menegaskan kompetensi apa yang
diharapkan setelah mempelajari modul. Penugasan juga menunjukkan
kepada pebelajar bagian mana dalam modul yang merupakan bagian
penting.
5) Rangkuman
Rangkuman merupakan bagian dalam modul yang menelaah hal-hal pokok
dalam modul yang telah dibahas. Rangkuman diletakkan pada bagan akhir
modul.
iii. Bagian penutup
1) Glosarium atau daftar istilah
Glosarium berisikan definisi-definisi konsep yang dibahas dalam modul.
Definisi tersebut dibuat ringkas dengan tujuan untuk mengingat kembali
konsep yang telah dipelajari.
2) Tes Akhir
Tes akhir merupakan latihan yang dapat pembelajar kerjakan setelah
mempelajari suatu bagian dalam modul. Aturan umum untuk tes akhir
ialah bahwa tes tersebut dapat dikerjakan oleh pembelajar.
3) Indeks
Indeks memuat istilah-istilah penting dalam modul serta halaman di mana
istilah tersebut ditemukan. Indeks perlu diberikan dalam modul supaya
pebelajar mudah menemukan topik yang ingin dipelajari. Indeks perlu
mengandung kata kunci yang kemungkinan pembelajar akan mencarinya.

d. Kelebihan dan Kekurangan Modul


Kelebihan menggunakan modul (Nasution, 2006: 207):
a) Balikan atau feedback
Modul memberikan balikan banyak dan segera sehingga siswa dapat mengetahui
taraf hasil belajarnya. Kesalahan segera dapat diperbaiki dan tidak dibiarkan
begitu seperti halnya dengan pengajaran tradisional, misalnya ulangan sering
hanya diberikan beberapa kali dalam satu semester.
b) Penguasaan tuntas atau mastery
Setiap siswa mendapat kesempatan untuk mencapai angka tertinggi dengan
menguasai bahan pembelajaran secara tuntas sedangkan kelemahan pengajaran
non-modul yang tradisional adalah bahwa penguasaan kebanyakan anak atas
bahan pelajaran hanya tanggung-tanggung dan jarang.
c) Tujuan
Modul disusun sedemikian rupa sehingga tujuannya jelas, spesifik, dan dapat
dicapai oleh murid. Dengan tujuan yang jelas usahamurid terarah untuk berusaha
segiat-giatnya.
d) Motivasi
Pengajaran yang membimbing siswa untuk mencapai sukses melalui langkah-
langkah yng teratur tentu akan menimbulkan motivasi yang kuat untuk berusaha
segiat-giatnya.
e) Fleksibilitas
Pengajaran modul dapat disesuaikan dengan perbedaan siswa antara lain
mengenai kecepatan belajar, cara belajar, dan bahan pelajaran.
f) Bantuan Individual
Pelajaran modul memberi kesempatan yang lebih besar dan waktu yang lebih
banyak kepada guru untuk memberikan bantuan dan perhatian individual kepada
setiap murid membutuhkannya, tanpa mengganggu atau melibatkan seluruh kelas.
g) Pengayaan
Guru juga mendapatkan waktu yang lebih banyak waktu untuk memberikan
ceramah atau pelajaran tambahan sebagai pengayaan.
h) Kebebasan dari rutin
Pengajaran modul membebaskan guru dari rutin yang membelenggunya selama
ini. Ia dibebaskan dari persiapan pelajaran yang karena seluruhnya telah
disediakan oleh modul. Ia juga bebas dari rutin administrasi karena dapat
dilakukan oleh petugas non-profesional dan oleh murid-murid.
i) Evaluasi Formatif
Bahan pelajaran tradisonal, antara lain: dalam bentuk buku pelajaran, biasanya
menyajikan bahan itu dalam bagian-bagian yang besar atau luas, misalnya bab
demi bab. Pertanyaan dan tugas baru diberikan pada akhir suatu bab. Dengan
demikian sukar diketahui sampai manakah pengertian murid dalam mengikuti
pelajaran itu. Oleh karena itu, tidak mungkin memperbaiki pelajaran berdasarkan
hasil belajar murid. Sebaliknya modul hanya meliputi bahan pelajaran yang
terbatas dan dapat dicobakan pada murid yang kecil jumlahnya dan taraf
pengembangannya. Dengan mengadakan pre-test dan post-test dapat dinilai taraf
hasil belajar murid dengan cara demikian mengetahui efektivitas bahan itu.

e. Modul Elektronik/E-Module
E-module atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan modul elektronik
merupakan sebuah bentuk penyajian bahan belajar mandiri yang disusun secara sistematis
ke dalam unit pembelajaran terkecil untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu yang
disajikan ke dalam format elektronik. E-module dapat berisi teks, gambar, animasi, audio,
dan navigasi yang membuat pengguna menjadi lebih interaktif (Sugianto, 2013, 102).
E-module dapat diimplementasikan sebagai sumber belajar mandi yang dapat
membantu siswa dalam meningkatkan kompetensi dan pemahamannya. E-module dapat
menyajikan informasi secara terstruktur, menarik serta memiliki tingkat interaktifitas
yang tinggi karena merupakan penggabungan dari media cetak dan computer. Selain itu
dengan menggunakan e-module, proses pembelajaran tidak lagi bergantung pada
instruktur/pendidik sebagai satu-satunya sumber informasi (Gunadarma dalam Sugianto.
2013, 103).
Menurut Wahyuni (2013:412) e-module fisika yang berkualitas baik akan
meningkatkan motivasi siswa selama pembelajaran menggunakan e-module fisika, dan
meningkatkan pemahaman konsep siswa setelah pembelajaran menggunakan e-module
fisika. Pengembangan e-module fisika yang baik akan memberikan manfaat bagi guru
dan siswa. Manfaat tersebut adalah e-module fisika memberi kemudahan siswa untuk
memahami konsep fisika dan mengaitkan pembelajaran fisika dalam kehidupan sehari-
hari serta dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang bervariasi sehingga dapat
mendorong siswa untuk belajar mandiri, kreatif, dan efektif dalam proses pembelajaran
untuk mencapai penguasaan kompetensi.
Berdasarkan penjelasan di atas dipahami bahwa pengembangan e-module
memberikan manfaat yang baik untuk guru maupun siswa yaitu menghasilkan bahan ajar
baru yang memberi kemudahan siswa untuk memahami konsep dan mengaitkan
pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari serta dapat membantu proses pembelajaran
yang lebih aktif, kreatif, dan efektif.

f. Prosedur Pembuatan Bahan Ajar Non Cetak (Elektronik)


Pengembangan media dan bahan belajar dilakukan secara sistematis dan
berorientasi pada peserta didik. Pengembangan media dan bahan belajar ini dapat
dikelompokkan ke dalam tiga tahap besar, yaitu tahap perancangan, tahap produksi, dan
tahap evaluasi. Tahapan pengembangan bahan belajar tersebut dapat digambarkan dalam
bagan dibawah ini:

•Analisis Kebutuhan
Perancangan •Penyusunan GBIM
•Penulisan Naskah

•Persiapan
Produksi •Pelaksanaan
•Penyelesaian

•Evaluasi
Evaluasi •Revisi
•Uji Lapangan

Produksi
dan
Penyebaran

Bagan Tahapan Pengembangan Bahan Belajar (Bambang Warsita, 2008:22)


g. Media Pendukung Dalam Modul Elektronik
Media pendukung dalam modul elektronik adalah sebagai berikut:
1) Gambar
Gambar merupakan salah satu jenis media visual. Karakteristik
dari media ini hanya dapat dilihat dari bagian depannya saja (Daryanto,
2013:20). Gambar atau foto adalah media pembelajaran yang sering
digunakan dan merupakan bahasa yang umum, dapat dimengerti, dan
dinikmati oleh orang banyak dengan fungsinya sebagai penyampai pesan
(Cecep, 2011:45). Media gambar harus memiliki unsur desain yang
bekerja sama membentuk komposis yang baik, mempertimbangkan
pengalaman, dan pesan yang akan diterima.
Karakteristik penggunaan media visual yaitu: (1) gambar realistis
harus digunakan secara hati-hati, karena gambar yang amat rinci sulit
diproses dan dipelajari; (2) visualisasi digunakan untuk menekankan
informasi sasaran; (3) gunakan gambar untuk melukiskan perbedaan
konsep, dengan menampilkan konsep yang divisualisasi kan decara
seimbang; (4) menekankan kejelasan dan kecepatan; (5) sajian visual yang
diproyeksikan harus dapat terbaca; (6) keterangan gambar harus disiapkan
untuk menambah informasi yang sulit ditampilkan secara visual; (7)
menggunakan warna yang realistis; (8) warna dan pembentukan bayangan
digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen-
komponen (Cecep, 2011:94).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gambar adalah
media pembelajaran berbentuk dua dimensi yang paling mudah untuk
menyampaikan pesan pembelajaran.
2) Video
Menurut Sukiman (2012:187) video adalah seperangkat komponen
yang mampu menampilkan gambar sekaligus suara dalam waktu
bersamaan. Sedangkan menurut Daryanto (2013:87) video merupakan
bahan ajar non cetak yang kaya informasi dan tuntas karena dapat sampai
kehadapan siswa secara langsung.
Karakteristik video pembelajaran yang baik menurut Cheppy
Riyana (2007:11) adalah: (1) Tipe Materi; (2) Durasi Waktu; (3) Format
Sajian Video; (4) Ketentuan Teknis; (6) Penggunaan music dan Sound
Effect.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa video adalah
media pembelajaran terdiri dari gambar dan suara yang mampu
menyajikan informasi dan menggambarkan suatu proses.
3) Simulasi
Multimedia pembelajaran dengan format ini mencoba menyamai
proses dinamis yang terjadi di dunia nyata. Menurut Pusat Bahasa
Depdiknas (2005) simulasi adalah metode pelatihan yang memperagakan
sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan sesungguhnya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa simulasi
adalah media pembelajaran yang mencoba menghadirkan keadaan
sebenarnya dari suatu proses atau kegiatan.

3. Pendekatan Saintifik
Lampiran Permendikbud No. 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum
(2013: 34-37) menyatakan bahwa proses pembelajaran saintifik terdiri atas lima
pengalaman belajar pokok, yaitu:
a) Mengamati
b) Menanya
c) Mengumpulkan informasi
d) Mengasosiasi
e) Mengkomunikasikan

Kelima pembelajaran pokok dapat dirinci dalam berbagai kegiatan belajar, yaitu
sebagai berikut:

No Langkah Kegiatan Belajar Kompetensi yang Dikembangkan


Pembelajaran
1 Mengamati Membaca, mendengar, Melatih kesungguhan, ketelitian,
menyimak, melihat (tanpa mencari informasi.
atau dengan alat).
2 Menanya Mengajukan pertanyaan Mengembangkan kreativitas, rasa
tentang informasi yang tidak ingin tahu, kemampuan
dipahami dari apa yang merumuskan pertanyaan untuk
diamati atau pertanyaan membentuk pikiran kritis yang
untuk mendapatkan peril untuk hidup cerdas dan
informasi tambahan tentang belajar sepanjang hayat.
apa yang diamati (dimuai
dari pertanyaan factual
sampai ke pertanyaan yang
bersifat hipotetik).
3 Mengumpulkan  Melakukan Mengembangkan sikap teliti,
Informasi eksperimen jujur, sopan, menghargai
(Eksperimen)  Membaca sumber pendapat orang lain, kemampuan
lain selain buku teks berkomunikasi, menerapkan
 Mengamati kemampuan mengumpulkan
objek/kejadian informasi melalui berbagai cara
aktivitas yang dipelajari mengembangkan
 Wawancara dengan kebiasaan belajar dan belajar
narasumber sepanjang hayat.
4 Mengasosiasikan  Mengolah informasi Mengembangkan sikap jujur,
(Mengolah yang sudah teliti, disiplin, taat aturan, kerja
Informasi) dikumpulkan baik keras, kemampuan menerapkan
terbatas dari hasil prosedur dan kemampuan berpikir
kegiatan induktif serta deduktif dalam
mengumpulkan atau menyimpulkan.
eksperimen maupun
hasil dari kegiatan
mengamati dan
kegiatan
mengumpulkan
informasi.
 Pengolahan informasi
yang sudah
dikumpulkan dari
yang bersifat
menambah keluasan
dan kedalaman
sampai kepada
pengolahan informasi
yang bersifat mencari
solusi dari berbagai
sumber yang
memiliki pendapat
yang berbeda sampai
kepada yang
bertentangan.
5 Mengkomunikasikan Menyampaikan hasil Mengembangkan sikap jujur,
pengamatan, kesimpulan teliti, toleransi, kemampuan
berdasarkan hasil analisis berpikir sistematis,
secara lisan, tertulis, atau mengungkapkan pendapat dengan
model lainnya, singkat dan jelas, dan
mengembangkan kemampuan
berbahasa yang baik dan benar.

(Salinan Lampiran Permendikbud No. 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum,
2013:35-37).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, pendekatan saintifik merupakan


salah satu bagian dari kurikulum 2013 yang mempunyai lima langkah yaitu mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan.

4. Materi Momentum Impuls


Kompetensi Inti:
KI 3: Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni,
budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah.

Kompetensi Dasar:
3.10 Menerapkan konsep momentum dan impuls, serta hukum kekekalan momentum
dalam kehidupan sehari-hari.

PETA KONSEP

Materi
Momentum merupakan sebagai ukuran kesungkaran sesuatu benda di gerakan maupun
di berhentikan. Momentum suatu benda yang bergerak didefinisikan sebagai hasil
perkalian antara massa dengan kecepatan benda:

P= m. v

Keterangan :
p : momentum (kg m/s)
m : massa benda (kg)
v : kecepatan benda (m/s)

Impuls adalah peristiwa gaya yang bekerja pada benda dalam waktu hanya sesaat.
Impuls didefinisikan sebagai hasil kali gaya dengan waktu yang dibutuhkan gaya tersebut
bekerja:

I = F . ∆t

Keterangan:
I : Impuls (Ns)
F : Gaya (N)
∆t : Waktu (s)
Contoh aplikasi:
bola ditendang,
bola tenis dipukul
karena pada saat tendangan dan pukulan, gaya yang bekerja sangat singkat.

Hukum Kekekalan Momentum


“Jika tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistem, maka momentum total sesaat sebelum
sama dengan momentum total sesudah tumbukan”

Δp1 = – Δp2
m1v1 – m1v’1 = -(m2v2 – m2v’2)
m1v1 + m2v2 = m1v’1 + m2v’2
p1 + p2 = p’1 + p’2

Jumlah Momentum Awal = Jumlah Momentum Akhir

Keterangan:

p1,p2 = momentum benda 1 dan 2 sebelum tumbukan


p‘1, p’2 = momentum benda 1 dan 2 sesudah makanan
m1, m2 = massa benda 1 dan 2
v1, v2 = kecepatan benda 1 dan 2 sebelum tumbukan
v’1, v’2 = kecepatan benda 1 dan 2 sesudah tumbukan
Tumbukan
Berdasarkan sifat kelentingan benda, tumbukan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu
tumbukan lenting sempurna, tumbukan lenting sebagian, dan tumbukan tidak lenting
sama sekali. Dengan menggunakan Hukum Kekekalan Momentum dan Hukum
Kekekalan Energi, kita dapat menentukan peristiwa yang terjadi setelah tumbukan.

1. Tumbukan Lenting Sempurna


Apabila tidak ada energi yang hilang selama tumbukan dan jumlah energi kinetik kedua
benda sebelum dan sesudah tumbukan sama, maka tumbukan itu disebut tumbukan
lenting sempurna. Pada tumbukan lenting sempurna berlaku Hukum Kekekalan
Momentum dan Hukum Kekekalan Energi Kinetik. Misalnya, dua buah benda massanya
masing-masing m1 dan m2 bergerak dengan kecepatan v1 dan v2 dengan arah berlawanan.

2. Tumbukan Lenting Sebagian


Pada tumbukan lenting sebagian, beberapa energi kinetik akan diubah menjadi energi
bentuk lain seperti panas, bunyi, dan sebagainya. Akibatnya, energi kinetik sebelum
tumbukan lebih besar daripada energi kinetik sesudah tumbukan. Sebagian besar
tumbukan yang terjadi antara dua benda merupakan tumbukan lenting sebagian.
Pada tumbukan lenting sebagian berlaku Hukum Kekekalan Momentum, tetapi tidak
berlaku Hukum Kekekalan Energi Kinetik.

3. Tumbukan tidak Lenting Sama Sekali


Pada tumbukan tidak lenting sama sekali, sesudah tumbukan kedua benda bersatu,
sehingga kecepatan kedua benda sesudah tumbukan besarnya sama, yaitu v1' = v2' = v'.

Koefisien Restitusi (e) adalah tingkat kelentingan suatu tumbukan yang dapat dinyatakan
melalui sebuah nilai. Koefisien restitusi juga dapat didefinisikan sebagai perbandingan
perubahan kecepatan benda sesudah bertumbukan dan sebelum bertumbukan, atau :
 elastis sempurna, e = 1
e = - (v1' - v2')/(v1- v2 )
 elastis sebagian, ( e < 0 < 1)
e = - (v2' - v1')/(v2 - v1)
 tidak elastis, e = 0
e = √(h'/h)

B. Kerangka Berpikir
Dalam kurikulum 2013 pola pembelajaran yang dituntut di dalam kelas
menggunakan pola pembelajaran siswa aktif. Kurikulum 2013 menuntut siswa aktif
mencari tahu dan membangun konsep fisika secara mandiri atau kelompok kecil dengan
pendekatan sains. Pelaksanan pembelajaran dengan model pembelajaran pendekatan
sains merubah pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis alat
multimedia (Permendikbud no 69 hal 2-3).
Proses pembelajaran yang diimplementasikan pada kurikulum 2013
menggunakan pendekatan saintifik yang terdapat lima langkah pembelajaran yaitu
mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan, dan
mengkomunikasikan. Peserta didik memperoleh pengetahuan dari bahan ajar, media, atau
lingkungan. Akan tetapi peserta didik tidak melakukan pembelajaran mandiri sebelum
pembelajaran sekolah. Hal ini berdampak pada tingkat keberhasilan belajar para peserta
didik. Buku cetak yang digunakan peserta didik sebagai bahan belajar mandiri dirasa
membosankan, sulit dipahami, dan muatan materi yang terlalu banyak.
Alternative dari pemecahan masalah ini adalah peserta didik menggunakan e-
module sebagai bahan pembelajaran mandiri. Keuntungan penggunaan modul yang telah
diungkapkan oleh Nasution adalah adanya balikan atau feedback, penguasaan tuntas atau
mystery, fleksibilitas dll. Tampilan modul diharapkan menjadi lebih baik dari tampilan
buku cetak dengan menampilkan video, animasi, kuis interaktif, dan materi dengan
bahasa yang mudah dipahami.
E-module ini disusun berdasarkan silabus kelas X SMA pada kompetensi dasar
3.10 yaitu menerapkan konsep momentum dan impuls, serta hukum kekekalan
momentum dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya e-module ini peserta didik
dapat belajar secara mandiri dan menemukan sendiri pengetahuan yang lebih luas
sehingga diharapkan hasil belajar peserta didik dapat meningkat.
C. Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian Wahyuni (2013) yang berjudul “Pengembangan modul elektronik
fisika sebagai media instruksional pokok bahasan hokum newton pada pembelajaran
fisika di SMA” menunjukkan bahwa modul elektronik fisika membuat kegiatan belajar-
mengajar di kelas menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Pemahaman konsep peserta
didik menunjukan presentase yang cukup baik sehingga peserta didik dapat dikategorikan
memahami konsep setelah menggunakan modul elektronik fisika selama kegiatan belajar-
mengajar.
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Operasional Penelitian


Tujuan operasional dari penelitian ini adalah:
1. Menghasilkan e-module fisika untuk pokok bahasan momentum dan impuls
2. Menghasilkan e-module yang dapat membantu peserta didik berpikir saintifik..
3. Mengetahui respon siswa terhadap e-module fisika yang telah dikembangkan
dengan menyebar angket pada saat ujicoba pada siswa.

B. Tempat dan Waktu akan Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan di Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta dan akan diujicobakan terhadap siswa
kelas X pada semester genap tahun pelajaran 2017/2018 di SMA Negeri 103 Jakarta.
Waktu penelitian dilaksanakan dari bulan Januari 2018 sampai Juni 2018.

C. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dan perkembangan
(Research and Development) yang mengacu pada rumusan Brog and Gall. Research and
Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengembangkan dan
memvalidasi suatu produk Pendidikan (Wina Sanjaya, 2013, 129).
Produk yang dikembangkan dalam yaitu modul elektronik dengan pendekatan
pembelajaran saintifik pada pokok bahasan momentum dan impuls. Manfaat dari
pengembangan modul elektronik ini dapat dijadikan referensi bahan ajar yang lebih
efektif dan efisien.
D. Desain Penelitian

Studi Literatur

Analisis Kebutuhan

Desain e-module Fisika

Pengembangan e-module
Fisika
Tidak

Validasi oleh Para Ahli

Valid

Ya

Ujicoba Produk

Revisi Produk

E-module Fisika Hasil Pengembangan

Desain Penelitian Pengembangan e-module Fisika (Sumber: Sugiyono, 2013:409)

E. Langkah-Langkah Pengembangan E-module


Berikut ini merupakan langkah-langkah pengembangan e-module yang dilakukan
untuk menghasilkan e-module fisika yang memenuh syarat sebagai bahan ajar:
1. Tahap Pendahuluan
a. Studi Literatur
Studi literature dilakukan untuk memperoleh informasi tentang syarat-
syarat pengembangan e-module fisika, mengetahui hasil penelitian lain yang
sudah ada dan relevan, dan mengkaji konsep terkait materi momentum dan impuls
yang akan ditampilkan dalam e-module.
b. Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kebutuhan
guru dan siswa SMA pada mata pelajaran Fisika kurikulum 2013 edisi revisi.
2. Tahap Pengembangan Produk
a. Perancangan Desain Produk
Perancangan desain yang dilakukan berupa pengembangan materi dari
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar, perancangan teknik penyajian e-module
yang sesuai dengan tuntutan pembelajaran fisika kurikulum 2013 revisi, dan
perancangan tampilan video, contoh soal, dan kuis interaktif pada e-module yang
dapat menarik perhatian siswa dalam pembelajaran.
b. Pengembangan Produk
Pengembangan produk dimulai dengan mengembangkan komponen-
komponen e-module, yaitu: teks dan gambar menggunakan Microsoft Word dan
disimpan dalam format PDF, contoh soal dan grafik menggunakan Microsoft
Power Point dan disimpan dalam format WMV, video menggunakan software
Windows Movie Maker, dan kuis yang menggunakan software Ispiring quiz maker
yang disimpan ke dalam format SWF.
Semua file yang telah dibuat seperti teks, gambar, contoh soal, grafik,
video, dan kuis disatukan menggunakan software flipbook yaitu 3D PageFlip
Professional. Kelengkapan e-module seperti background dikembangkan dalam
3D PageFlip Professional lalu dipublikasikan menggunakan format EXE agar
memudahkan file untuk dibaca dan dioperasikan di laptop atau komputer dengan
sistem minimal Windows 7 tanpa perlu menginstal software tambahan lainnya.
c. Validasi oleh Ahli
Uji validasi dilakukan oleh para ahli materi, media, dan guru fisika SMA
untuk meninjau kembali perancangan dan pengembangan e-module serta
mengetahui kelayakan e-module yang dikembangkan sebagai salah satu bahan
ajar. Validator memberikan penilaian masukan e-module yang harus diperbaiki
bila ada kekurangan sehingga e-module tersebut layak untuk digunakan sebagai
bahan ajar fisika.
d. Revisi Produk
Data dari hasil validasi oleh validator dapat diolah dan produk dapat
direvisi sesuai dengan penilaian dan saran validator sehingga e-module yang
dikembangkan dapat dan layak digunakan sebagai bahan ajar
3. Tahap Ujicoba Produk
Setelah melalui tahap uji validasi oleh para ahli, e-module diujicobakan
oleh guru kepada siswa untuk mengetahui respon siswa mengenai e-module yang
telah dikembangkan. Sebelum e-module diujicobakan kepada siswa, guru
memberikan pre-test untuk mengetahui hasil belajar sebelum menggunakan e-
module dan sesudah menggunakan e-module guru memberikan post-test. Selain
itu siswa akan mengisi angket terkait dengan e-module. Data dari hasil pre-test,
post-test, dan angket dapat diketahui sejauh mana tanggapan siswa terhadap
penggunaan e-module dalam proses pembelajaran fisika dan dan dampak e-
module tersebut terhadap hasil belajar siswa.
4. Tahap Penyempurnaan Produk
Setelah diujicobakan tetapi masih terdapat kekurangan, maka perlu
dilakukan revisi produk agar e-module yang telah dikembangkan dapat
digunakan dengan mudah oleh guru dan siswa.

F. Teknik Pengumpulan Data


.
1. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini berupa angket yang terdiri dari instrument analisis
kebutuhan untuk siswa dan guru fisika tingkat SMA, instrumen uji validasi oleh
ahli materi, ahli media, guru fisika SMA, dan instrument ujicoba untuk siswa
SMA.
a. Instrumen Analisis Kebutuhan
Aspek Indikator Guru Siswa
No. Jumlah No. Jumlah
Pertanyaan Pertanyaan
Sarana Ketersediaan 1 6 1 5
modul
sebagai
bahan ajar di
sekolah
Ketersediaan 3 2
computer
sebagai
fasilitas
pembelajaran
Kelemahan 2 -
bahan ajar
yang tersedia
Bahan ajar 5 3
yang
diharapkan
Tanggapan 4, 6 4
mengenai
bahan ajar
tambahan
Motivasi 5
belajar
Aplikasi Penggunaan 7 3 6 2
aplikasi
dalam
pembelajaran
fisika
Penggunaan 8, 9 7
aplikasi
dalam bahan
ajar fisika
Jumlah Pernyataan 9 7

b. Instrumen Uji Validasi kepada Dosen dan Ahli Materi


No Aspek Indikator No. Jumlah
Pertanyaan
1. Kesesuaian materi Kesesuaian indicator 1 2
dengan Kompetensi dengan kompetensi inti
Inti dan Kompetensi dan kompetensi dasar
Dasar Kesesuaian isi modul 2
dengan kompetensi inti
dan kompetensi dasar
2. Kesesuaian materi Kesesuaian materi dengan 3 12
dalam pembelajaran indikator
Kesesuaian materi dengan
tujuan pembelajaran
Kesesuaian strategi 5
penyajian materi dengan
tujuan pembelajaran
Kesesuaian ilustrasi yang 6
ditampilkan dengan
konsep yang dipelajari
Kesesuaian ilustrasi yang 7
ditampilkan dengan
strategi pembelajaran
yang digunakan
Ketepatan konsep fisika 8
yang dipelajari
Ketepatan media yang 9
digunakan dengan strategi
yang digunakan
Kesesuaian materi dengan 10
kebenaran, konsep,
materi, prinsip, dan teori
Penyajian materi dan 11
media meningkatkan
motivasi belajar siswa
Kesesuaian contoh soal 12
dengan materi yang
dibahas
Kesesuaian kegiatan 13
latihan dengan materi
yang disajikan
Kesesuaian soal-soal yang 14
diberikan dengan materi
yang dibahas
3. Teknik penyajian Peta konsep disajikan 15 11
secara rinci dan mudah
dipahami
Peta konsep sudah 16
memuat semua materi
yang sesuai dengan
kompetensi dasar
Materi pre-test sesuai 17
dengan uji pengetahuan
awal tentang materi yang
akan dipelajari
Materi sudah disusun 18
berdasarkan peta konsep
Materi fisika disajikan 19
secara runtut
Teknik penulisan 20
konsisten pada setiap
bagian
Evaluasi yang disajikan 21
sesuai dengan materi yang
dibahas
Soal-soal yang disajikan 22
sudah mengukur
pencapaian indicator
pembelajaran
Glosarium disajikan 23
sesuai dengan materi yang
disajikan
Sumber pustaka yang 24
digunakan mumpuni
Ringkasan materi sesuai 25
dengan materi
Jumlah Butir Pertanyaan 25

c. Instrumen Uji Validasi kepada Dosen Ahli Media


No Aspek Indikator No. Jumlah
Pertanyaan
1 Penyajian Tampilan Penggunaan jenis, warna, 1 7
dan ukuran huruf sesuai
dengan aturan penulisan
dan menarik untuk dibaca
Setiap sub bab disusun 2
teratur dan dapat
diidentifikasi dengan jelas
Ukuran dan bentuk 3
ilustrasi sesuai dengan
teks
Komposisi warna 4
meningkatkan daya tarik
untuk membaca modul
Latar belakang tiap 5
halaman modul
meningkatkan daya tarik
untuk membaca modul
Tata letak video, tulisan, 6
dan gambar meningkatkan
daya Tarik untuk
membaca modul
Penempatan/tata letak 7
video, gambar, dan table
tepat dan sistematis
2 Ilustrasi Ilustrasi sesuai dengan 8 3
konsep pada teks
Video yang ditampilkan 9
sesuai dengan konsep
Video yang ditampilkan 10
mendukung pemahaman
konsep
3 Kesesuaian Tata Tata bahasa dan ejaan 11 3
Bahasa sesuai dengan EYD
Kalimat yang digunakan 12
efektif dan efisien
Penulisan kalimat sesuai 13
dengan aturan penulisan
4 Bahasa yang Bahasa yang digunakan 14 2
digunakan dalam mudah dipahami
modul Bahasa yang digunakan 15
tidak multi tafsir
5 Struktur kalimat Metode penulisan kalimat 16 4
sesuai dengan aturan
penulisan
Setiap paragraph memiliki 17
keutuhan makna
Struktur kalimat 18
mempermudah
penyampaian informasi
Struktur kalimat interaktif 19
dan partisipatif
6 Pemberian petunjuk Petunjuk-petunjuk dalam 20 1
modul dijelaskan secara
rinci
Jumlah Butir Pertanyaan 20

d. Instrumen Uji Vaidasi kepada Guru Fisika SMA


No Aspek Indikator No. Jumlah
Pertanyaan
1 Kesesuaian materi Kesesuaian materi dengan 1 2
dengan Kompetensi indikator
Inti dan Kompetensi Kesesuaian materi dengan 2
Dasar tujuan pembelajaran
2 Kesesuaian materi Kesesuaian materi dengan 3 12
dalam pembelajaran indicator
Kesesuaian materi dengan 4
tujuan pembelajaran
Kesesuaian strategi 5
penyajian materi dengan
tujuan pembelajaran
Kesesuaian ilustrasi yang 6
ditampilkan dengan
konsep yang dipelajari
Kesesuaian ilustrasi yang 7
ditampilkan dengan
strategi pembelajaran
yang digunakan
Ketepatan konsep fisika 8
yang dipelajari
Ketepatan media yang 9
digunakan dengan strategi
yang digunakan
Kesesuaian materi dengan 10
kebenaran, konsep,
materi, prinsip, dan teori
Penyajian materi dan 11
media meningkatkan
motivasi belajar siswa
Kesesuaian contoh soal 12
dengan materi yang
dibahas
Kesesuaian kegiatan 13
latihan dengan materi
yang disajikan
Kesesuaian soal-soal yang 14
diberikan dengan materi
yang dibahas
3 Teknik Penyajian Peta konsep disajikan 15 11
secara rinci dan mudah
dipahami
Peta konsep sudah 16
memuat semua materi
yang sesuai dengan
kompetensi dasar
Materi pre-test sesuai 17
dengan uji pengetahuan
awal tentang materi yang
akan dipelajari
Materi sudah disusun 18
berdasarkan peta konsep
Materi fisika disajikan 19
secara runtut
Teknik penulisan 20
konsisten pada setiap
bagian
Evaluasi yang disajikan 21
sesuai dengan materi yang
dibahas
Soal-soal yang disajikan 22
sudah mengukur
pencapaian indicator
pembelajaran
Glosarium disajikan 23
sesuai dengan materi yang
disajikan
Sumber pustaka yang 24
digunakan mumpuni
Ringkasan materi sesuai 25
dengan materi
4 Penyajian Tampilan Penggunaan jenis, warna, 26 7
dan ukuran huruf sesuai
dengan aturan penulisan
dan menarik untuk dibaca
Setiap sub bab disusun 27
teratur dan dapat
diidentifikasi dengan jelas
Ukuran dan bentuk 28
ilustrasi sesuai dengan
teks
Komposisi warna 29
meningkatkan daya tarik
untuk membaca modul
Latar belakang tiap 30
halaman modul
meningkatkan daya tarik
untuk membaca modul
Tata letak video, tulisan, 31
dan gambar meningkatkan
daya Tarik untuk
membaca modul
Penempatan/tata letak 32
video, gambar, dan table
tepat dan sistematis
5 Ilustrasi Ilustrasi sesuai dengan 33 3
konsep pada teks
Video yang ditampilkan 34
sesuai dengan konsep
Video yang ditampilkan 35
mendukung pemahaman
konsep
6 Kesesuaian Tata Tata bahasa dan ejaan 36 3
Bahasa sesuai dengan EYD
Kalimat yang digunakan 37
efektif dan efisien
Penulisan kalimat sesuai 38
dengan aturan penulisan
7 Bahasa yang Bahasa yang digunakan 39 7
digunakan dalam mudah dipahami
modul Bahasa yang digunakan 40
tidak multi tafsir
Metode penulisan kalimat 41
sesuai dengan aturan
penulisan
Setiap paragraph memiliki 42
keutuhan makna
Struktur kalimat 43
mempermudah
penyampaian informasi
Struktur kalimat interaktif 44
dan partisipatif
8 Petunjuk-petunjuk dalam 45 1
modul dijelaskan secara
rinci
Jumlah Butir Pertanyaan 45

e. Instrumen Ujicoba terhadap Siswa


No Aspek Indikator No. Jumlah
Pertanyaan
1 Kesesuaian materi Materi yang disajikan 1 1
dengan tujuan dalam modul sesuai
dengan tujuan
pembelajaran
2 Keakuratan materi Materi yang disajikan 2 1
dapat dipahami dengan
jelas
3 Teknik Penyajian Penyajian konsep dasar 3 1
disajikan terlebih dahulu
sebelum konsep yang
rumit
4 Kesesuaian materi Materi sesuai 4 2
pendukung perkembangan ilmu dan
pembelajaran pengetahuan
Materi yang disajikan 5
dilengkapi dengan aplikasi
dalam kehidupan sehari-
hari
5 Kelengkapan Bagian pendahuluan telah 6 2
penyajian memuat informasi awal
dan hal-hal lain yang
harus diketahui sebelum
pembelajaran
Modul dilengkapi dengan 7
peta konsep dan
rangkuman
6 Desain Tampilan Komposisi warna 8 7
meningkatkan daya tarik
untuk membaca modul
Latar belakang tiap 9
halaman modul
meningkatkan daya tarik
untuk membaca modul
Penempatan video, 10
gambar, dan teks
meningkatkan daya Tarik
untuk membaca modul
Penempatan/tata letak 11
video, gambar, dan table
tepat dan sistematis
Ilustrasi sesuai dengan 12
konsep pada teks
Video yang ditampilkan 13
memudahkan dalam
pemahaman konsep yang
disajikan
Video yang disajikan 14
memperlihatkan aplikasi
konsep fisika dalam
kehidupan sehari-hari
7 Kesesuaian bahasa Materi disajikan dengan 15 2
bahasa yang sederhana,
menarik, lugas, dan
mudah dipahami
Penyajian materi bersifat 16
interaktif dan partisipatif
sehingga memotivasi
siswa untuk belajar
mandiri
Jumlah Pertanyaan 16

2. Responden

G. Perencanaan Kegiatan
No Jenis Kegiatan Bulan
Jan Feb Mar Apr Mei Juni
2018 2018 2018 2018 2018 2018
1 Analisis
Kebutuhan
2 Pengembangan
Produk
3 Validasi Ahli
4 Uji Coba Produk
5 Penggunaan
Produk untuk
Pembelajaran di
Sekolah
6 Penulisan
Laporan Akhir

H. Teknik Analisa Data


Teknik analisa data dari angket uji validasi dinilai menggunakan penelitian skala
Likert poin 1 sampai 4 sebagai berikut:
No Alternatif Jawaban Bobot Skor
1 Sangat Setuju 4
2 Setuju 3
3 Tidak Setuju 2
4 Sangat Tidak Setuju 1

Selanjutnya hasil penilaian validasi dihitung dengan cara (Sugiyono, 2013, 137) :

𝛴𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝑠𝑘𝑜𝑟 = 𝑥 100%
𝛴𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚

Persentase skor yang diperoleh selanjutnya diukur dengan menggunakan


interpretasi skor untuk skala Likert, yaitu sebagai berikut :

Persentase Interpretasi
0% - 25% Sangat Tidak Baik
26% - 50% Tidak Baik
51% - 75% Baik
76% - 100% Sangat Baik

Uji N-gain
Untuk mengetahui efektivitas penggunaan e-module dilakukan dengan cara
menganalisis nilai pre-test dan post-test hasil belajar fisika siswa menggunakan N-gain.
Teknik normalized gain (N-gain) dapat dihitung dengan persamaan berikut:
𝑆𝑝𝑜𝑠𝑡 − 𝑆𝑝𝑟𝑒
<𝑔 >=
𝑆𝑚𝑎𝑥 − 𝑆𝑝𝑟𝑒
Keterangan:
<g> = Nilai normalized gain (N-gain)
𝑆𝑝𝑜𝑠𝑡 = Nilai post-test
𝑆𝑝𝑟𝑒 = Nilai pre-test
𝑆𝑚𝑎𝑥 = Nilai maksimal ideal

Batasan Kategori
g > 0,7 Tinggi
0,3 ≤ g ≤ 0,7 Sedang
g < 0,3 Rendah
Daftar Pustaka

Daryanto. 2013 Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media

Direktorat Pembinaan SMK. 2008. Teknik Penyusunan Modul, seri Bahan Bimbingan Teknis

Implementasi KTSP. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Prastowo, Andi. 2012. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press

Sanjaya, Wina. 2013. Penelitian Pendidikan, Jenis, Metode, dan Prosedur. Jakarta: Kencana

Prenada Media Group

Setyosari, Punaji. 2013. Metode Penelitian, Pendidikan & Pengembangan. Jakarta: Prenamedia

Group

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sukiman. 2011. Pengembangan Media Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka. Insan Madani

Susilana, Rudi dan Cepi Riyana. 2008. Media Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima

Warsita, Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran Landasan & Aplikasinya. Jakarta: Rineka

Cipta