Anda di halaman 1dari 21

LBM 5

STEP1
 EBM (evidence based medicine)
Suatu teknik untuk mengambil keputusan untuk menangani pasien yg
berdasarkan 3 faktor:
- Keahlian & keterampilan dokter
- Kepentingan pasien
- Bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan
 Critical appraisal
- Proses sistematis untuk menguji validitas, hasil dan relevansi dari bukti
ilmiah atau hasil penelitian sebelum digunakan untuk mengambil
keputusan.
- Sistem atau proses yang berlandaskan secara kritis untuk mengkaji suatu
masalah penelitian dan mencari tahu apakah rancangan artikel atau
jurnal yang menjadi sumber dapat layak rujuk, valid, dan relevan sebelum
digunakan untuk mengambil keputusan.
STEP3
1. Apa yang dimaksud dengan bukti dalam EBM dan bagaimana cara
menelusurinya?
Yang dimaksud bukti  berasal dari sumber yang valid dan relevan (jurnal
kedokteran, website, artikel)
Cara menelusuri:
o Kekuatan bukti bervariasi dari kekuatan bukti yang paling kuat seperti TKS (tinjauan Kepustakaan
Sistematis) yg diambil dari banyak penelitian dengan desain acak, makalah2 yg menggunakan
metode RCT dengan hasil persisi sempit sampai pada bukti-bikti yg lemah seperti opinion respect
authority (ORA) atau opini paraahli, penelitian deskriptif, serta laporan2 dari para ahli.

o Dalam mencari bukti yang valid, beberapa criteria yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

 Bukti yg kuat paling tidak satu tinjauan kepustakaan sistematis dari beberapa peneltian acak
dengan control yg didesain dengan baik
 Bukti yang kuat paling tidak satu penelitian acak dengan control yg didesain dengan layak
dan dgn jumlah sampel yg cukup
 Bukti2 dari penelitian dengan desain metodologi yg baik tanpa randomisasi seperti
penelitian dengan desain pre-post test tanpa control, kohort, kasus kelola, dan matching
 Bukti dari penelitian dengan desain metodologi yg baik yg berasal lebih dari satu sumber
 Bukti dari ORA yg meliputi bukti klinis, penelitian deskriptif, dan laporan para ahli.
Kajian Kritis Makalah Ilmiah Kedokteran Klinik menurut Kedokteran Berbasis Bukti (KBB); DR.Dr. Hananto
Wiryo, Sp.A

2. Kriteria dalam mencari bukti yang valid?


Merupakan suatu bukti yang diambil dari sumber yang terbaik dimana memiliki
validitas tinggi, akurasi, dan presisi yang sempit dengan 5 poin kekuatan bukti
diantaranya:
 Bukti yang kuat dari paling tidak 1 tinjauan kepustakaan yang
sistematis
 Bukti yang kuat dari palin tindak 1 penelitian acak dengan kontrol
yang desain layak
 Bukti dan penelitian pre-post test pada penelitian tunggal
 Bukti dari penelitian non eksperimental
 Opinion respect authority yang berdasarkan bukti klinik
Kekuatan bukti bervariasi dari kekuatan bukti yang paling kuat seperti TKS (tinjauan Kepustakaan
Sistematis) yg diambil dari banyak penelitian dengan desain acak, makalah2 yg menggunakan metode
RCT dengan hasil persisi sempit sampai pada bukti-bikti yg lemah seperti opinion respect authority
(ORA) atau opini paraahli, penelitian deskriptif, serta laporan2 dari para ahli.
Dalam mencari bukti yang valid, beberapa criteria yang harus diperhatikan adalah sebagai
berikut:
1. Bukti yg kuat paling tidak satu tinjauan kepustakaan sistematis dari beberapa peneltian acak
dengan control yg didesain dengan baik
2. Bukti yang kuat paling tidak satu penelitian acak dengan control yg didesain dengan layak
dan dgn jumlah sampel yg cukup
3. Bukti2 dari penelitian dengan desain metodologi yg baik tanpa randomisasi seperti
penelitian dengan desain pre-post test tanpa control, kohort, kasus kelola, dan matching
4. Bukti dari penelitian dengan desain metodologi yg baik yg berasal lebih dari satu sumber
5. Bukti dari ORA yg meliputi bukti klinis, penelitian deskriptif, dan laporan para ahli.

Kajian Kritis Makalah Ilmiah Kedokteran Klinik menurut Kedokteran Berbasis Bukti (KBB); DR.Dr. Hananto
Wiryo, Sp.A

3. Latar belakang diperlukannya EBM?


- Karena tidak semua penelitian berdasarkan dari bukti sebenarnya
- Karena dalam menangani pasien dokter harus menggunakan langkah-
langkah yang sudah terbukti dan teruji
- Karena seorang dokter dituntut untuk melakukan praktek yang teoat dan
dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan tuntutan pasien
- Karena dunia teknologi informasi, kesehatan dan pengobatan yang terus
berkembang dan dituntutnya seorang peneliti atau pelayanan kesehatan
untuk mencari kevalidan dari suatu informasi agar didapatkan informasi
yang layak rujuk dan tepat digunakan atau diterapkan pada masyarakat
atau pasien
- Supaya penyedia layanan kesehatan selalu update dengan perkembangan
di dunia kesehatan
a. Karena tidak semua penelitian berdasarkan pada bukti-bukti sebenarnya
b. Supaya memiliki kemampuan berpikir kritis
c. Karena sering terjadi ketidaktepatan dalam hasil penelitian

Karena dalam menangani pasien seorag dokter harus menggunakan langkah2 yang sudah terbukti
dan teruji.
Karena seorang dokter dituntut untuk dapat melakukan praktek dengan baik, tepat, dapat
dipertanggung jawabkan dan sesuai dengan tuntutan pasien.
Liliana Sugiharto Majalah kedokteran Atma Jaya.Vol.4 No1.Januari 2005

a) makin berkembangnya penelitian dibidang kedokteran yang berlangsung terus-menerus dan


memerlukan dana sangat besar ,dan kadang-kadang kurang dimanfaatkan seoptimal mungkin
untuk memperbaiki tatalaksana pasien.
b) pada umumnya para dokter yang bekerja di RS daerah, tidak memiliki akses yang cukup untuk
memperolah informasi mutakhir dan sahih tentang kemajuan ilmu pengetahuan.
c) para dokter sibuk dengan berbagai macam kegiatan diluar bidang medis ,mereka merasa
memiliki kemampuan klinik yang cukup untuk menangani pasien
d) merupakan proses pendekatan terhadap pembelajaran klinik yang akan menjadikan dokter
tersebut memiliki informasi yang mutakhir dan sahih didalam penatalaksanaan pasien.
e) diketahui bahwa medicine is a live-long study yaitu suatu pembelajaran seumur hidup yang
berorientasi memecahkan masalah dalam penanganan pasien.
Wiryo, Hananto. Kajian Kritis Makalah Ilmiah Kedokteran Klinik Menurut Kedokteran Berbasis
Bukti (KBB). Sagung Seto; Jakarta

Berawal dari perkembangan bidang teknologi & informasi (IT) yang berkembang begitu
cepat termasuk informasi bidang kesehatan  keseluruhan informasi tidak semuanya valid utk
diterima sbg tambahan IP  kebutuhan utk mengendalikan data2 yg terpaparkan baik dari
kepustakaan, makalah ataupun website  dikembangkan suatu ilmu yang dinamakan EBM
(Evidence Based Medicine)

Buku Petunjuk Praktikum LBM 5 Modul Metodologi Penelitian, 2011


4. Tujuan dan manfaat dari EBM?
Tujuan:
- Diharapkan akan didapatkan hasil yang ptimal dalam pengobatan yang
berkualitas dari kehidupan serta perubahan kebiasaan dokter
- Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dokter
- Menghasilkan pemikiran yang akurat
- Agar pemeriksaan lebih teliti sehingga dosisnya tepat untuk mencapai
penyembuhan penyakit
Manfaat:
- Meningkatkan kualitas pelayanan efisien outcome klinis
- Agar dokter tidak salah mendiagnosis
- Agar dokter tidak salah memberikan terapi pada pasien
- Agar dapat meningkatkan kualitas hidup dari pasien
- Dituntuk untuk mengevaluasi tindakan klinis yang dapat diambil
Manfaat
 Manfaat EBM yang utama ialah untuk menghindari banyak kesalahan persepsi dalam
berbagai aspek seperti aspek diagnosis, terapi, prognosis, dsb. untuk kepentingan pasien.

Tujuan EBM
 Untuk menyaring semua data dan informasi dalam bidang kesehatan sehingga sorang dokter
hanya memperoleh informasi yang sahih dan mutakhir untuk kepentingan pasiennya.

Buku Petunjuk Praktikum LBM 5 Modul Metodologi Penelitian, 2011 (kepustakaan tercantum)

Mensurvei suatu cakupan yang luas tentang jurnal medis internasional yang menerapkan ukuran-
ukuran tegas untuk mutu dan kebenaran riset.
www.cochrane.org
a. Untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis
b. Menghasilkan pemikiran yang akurat
c. Pemeriksaannya secara teliti agar diagnosisnya tepat untuk memperoleh penyembuhan
penyakit

Tujuan Utama: Diharapkan akan didapatkan hasil yang optimal dalam pengobatan kualitas dari
kehidupan serta perubahan dari kebiasaan dokter.
Liliana sugiarto,bagian anatomi fak.kedokteran Unika Atma Jaya

a. Untuk menentukan apakah suatu pengobatan tertentu sudah benar dalam persidangan oleh
seorang hakim
b. Untuk menentukan harga saham pabrik obat,yang disebarkan mass media ekonomi
www.wandar mansyah.web.id
Manfaat EBM

ManfaatMenemukan bukti yang terbaik


a. Memperoleh study penelitian kritis
b. Memudahkan akses dalam menemukan dan menilai bukti
c. Untuk memperbaiki tata laksana pasien
d. Untuk memperoleh informasi yang mutakhir dan sah tentang kemajuan ilmu pengetahua
e. Untuk memecahkan masalah dalam penanganan pasien
f. Meningkatkan kualitas pelayanan dan outcome klinis
www.ugm.com

a. Meningkatkan kualitas pelayanan, efisien, dan outcomes klinis


b. Seorang dokter dapat mengintegrasikan kemampuan klinisnya dengan kemampuan pelacakan
bukti eksternal, yang terbaik dan tersedia dari riset yang sistematis.
www.servers.medlib
a. dapat mengendalikan data-data yang terpaparkan baik dari kepustakaan, makalah ataupun
website karena tidak semua data / makalah /informasi tersebut valid
b. meningkatkan kemampuan kita untuk mendiagnosis dan memberikan terapi kepada pasien
dengan baik sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.
www.gpnotebook.co.uk
a. Mencari kebenaran suatu hasil karya ilmiah
b. Kita dapat mengetahui secara tepat hasil karya ilmiah
c. Menambah ilmu pengetahuan
d. Mencari nilai guna dan ketepatan hasil karya ilmiah
e. Kritis terhadap suatu hasil penelitian
Wiryo, h., 2002, kajian kritis makalah ilmiah kedokteran klinik menurut keokteran berbasis bukti, sagung seto,
jakarta

5. Langkah-langkah EBM?
- Merumuskan pertanyaan klinis tentang pasiennya
- Menemukan bukti-bukti yang bisa menjawb pertanyaan tersebut
- Melakukan penilaian kritis apakah bukti tersebut valid, penting, dan dapat
diterapkan pada praktek
- Penerapan bukti-bukti kepada pasien
- Evaluasi dan perbaikan

 IDENTIFIKASI DAN FORMULASI MASALAH  PICO


P(patient/problem): pertanyaan klinik harus sesuai dengan identifikasi dari
pasien atau problema dari penelitian/masalah kesehatan
I(intervention): diberikan penatalaksanaan atau pengobatan yang sesuai
C(comparison): dibandingkan dengan pengobatan sebelumnya
O(outcome): hasil yang diharapkan
a. IDENTIFIKASI DAN FORMULASI MASALAH (PICO)

i. focus question pertanyaan terarah (pertanyaan diarahkan pada masalah


tertentu).
ii. Relavance question pertanyaan yang sesuai artinya sesuai dengan
permasalahan yang dihadapi pasien baik dalam aspek etiologi,diagnosis,terapi
dan prognosis.
iii. Searchable questionpertayaan yang dapat ditelusuri.

Memformulasikan pertanyaan dengan tepat, pertanyaan dapat disusun dengan


menggunakan PICO, yaitu :
- P : Patient / problem / population
Pertanyaan klinik harus mengidentifikasikan mengenai pasien atau
kelompok pasien dan berbagai informasi yang relevan dengan treatment
atau diagnosis penyakit pasien.
- I : Intervention
Intervensi atau pengobatan yang akan dilakukan terhadap pasien.
- C : Comparrison
Intervensi alternative yang akan dibandingkan dengan intervensi
yang akan anda lakukan.
- O : Outcome
Hasil yang diharapkan dari penerapan intervensi tersebut.
Selanjutnya susunlah PICO tersebut menjadi sebuah pertanyaan klinik yang
jelas.
b. MENCARI ATAU MENELUSURI BUKTI DENGAN KAJIAN KRITIS TERHADAP BUKTI
- Menggunakan berbagai fasilitas search engine untuk mencari pustaka.
- Ketika mencari pustaka, keyword tidak perlu sama persis dengan yang ada di
PICO, cukup tulis kata / frase terkait dengan P atau I nya saja.
- Agar dapat menemukan literature sebanyak-banyaknya maka cukup dengan
memperluas keywords dengan membuat sinonim terhadap keywords yang
telah ditetapkan.
- diperlukan website bidang kesehatan.Ada 2 sumber penting yaitu EMBASE
(mencakup literatur bidang kedokteran dari 110 negara) dan MEDLINE
(mencakup lebih dari 3900 jurnal kedokteran yang terbit di Amerika Serikat
dan 70 negara lainnya).
kajian kritis bukti dari makalah ilmiah untuk mengetahui isi setiap makalah.Untuk melakukan kajian
kritis dari makalah dibutuhkan:
c. metodologi dan biostatistik yang cukup baik
d. pengetahuan tentang tatacara kajian kritis menurut EBM.

e. PENERAPAN PADA PASIEN


- Apakah pada pasien kita terdapat perbedaan bila disbanding dengan yang
terdapat pada penelitian sehingga hasil penelitian tersebut tidak dapat
diterapkan pada pasien kita?
- Apakah terapi tersebut mungkin dapat diterapkan pada pasien kita (our
setting)?
- Apakah pasien kita mempunyai potensi yang menguntungkan atau merugikan
bila terapi tersebut ditetapkan?
- Apakah nilai dan pengharapan pasien kita, bila hasil akhir kita coba untuk
mengobati, kita tawarkan?
f. EVALUASI

menerapkan hasil kajian kritis kepada pasien kita dan Dilakukan evaluasi keberhasilan terapi
yang digunakan
Wiryo, Hananto. Kajian Kritis Makalah Ilmiah Kedokteran Klinik Menurut Kedokteran Berbasis Bukti (KBB).
Sagung Seto; Jakarta
Buku Petunjuk Praktikum LBM 5 Modul Metodologi Penelitian, 2011 (kepustakaan tercantum)

o mengubah keluhan gejala pada pasien menjadi pertanyaan untuk mencari informasi yang
spesifik (termasuk dalam anamnesis, manfaat dan kemungkinan untuk diterapkan
o mencari best evidence untuk menjawab pertanyaan pada tahap 1
o menilai secara kritis fakta-fakta yang diperoleh dari sudut keabsahan manfaat dan
kemungkinan untuk diterapkan
o terapkan kepada pasien setelah mengintegrasi penilaian kritis dengan critical expertise dan
keadaan yang unik diri pasien
o evaluasi efektivitas dan efisien pada tahap 1-4 untuk suatu kemajuan
(Sumber : Liliana Sugiarto, bagian Anatomi FK UNIKA Atmajaya)

6. Apa kelebihan dan kekurangan dari EBM?


Kelebihan:
- Dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk memperbaiki tatalaksana pasien
- Bisa menentukan informasi yang mutakhir dan sahih tentang kemajuan
ilmu pengetahuan
- Bisa menanamkan pembelajaran sumur hidup yang berorientasi
memecahkan masalah yang dihadapi pasien
Kelemahan/kendala:
- Attitude (kritis atau tidak)
- Ability (kemampuan dalam mencari dan menerapkan scientific evidence)
- Waktu tidak mencukupi
- Accessibility (sumber informasi)

7. Apa kendala dalam EBM?


- Kurangnya informasi, fasilitas dan teknologi
- Kurangnya rasa ingin tahu
- Kurangnya pengalaman dan prior knowledge
- Menyembunyikan kegagalan suatu karya ilmiah
- Kurangnya kemampuan untuk melakukan kajian secara kritis terhadap suatu
masalah
liliana sugiharto, bagian anatomi FK unika atma
8. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan EBM?
- Keahlian klinis dari individu
- Bukti penelitian yang terbaik
- Membuat kebijakan berdasarkan evidence
- Menerapkan kebijakan tersebut pada waktu dan tempat yang sesuai
a) Penelitian yang terbaik adalah penelitian klinis yang mempunyai validitas yang tinggi,akurat dan
persisi sempit,serta aman baik dalam aspek diagnosis,terapi,prognosis,dsb.
b) keahlian klinis adalah kemampuan menggunakan ketrampilan dan pengalaman secara cepat dan
tepat untuk mengidentifikasi dan mendiagnosis keadaan dan resiko pasien serta harapan –harapan
pasien .Keahlian klinis lebih berorientasi pada penguasaan substansi.
c) nilai pasien adalah suatu kesatuan dari kecenderungan ,perhatian dan pengharapan setiap pasien
yang membawa pada suatu keadaan klinis tetentu.
Wiryo, Hananto. Kajian Kritis Makalah Ilmiah Kedokteran Klinik Menurut Kedokteran
Berbasis Bukti (KBB). Sagung Seto; Jakarta
9. 3 hal pokok dalam critical appraisal?
- Valid  mencari bukti yang valid
- Penting  setelah dilihat validitasnya, dilihat apakah penelitian itu
penting atau tidak
- Dapat diterapkan pada pasien/kasus
- Valid
Validitas makalah tidak dapat dinilai hanya dengan membaca abstrak atau ringkasan saja.
Di dalam abstrak atau ringkasan pengambilan sampel tidak dijelaskan.padahal pengambilan
sampel secara acak sangat menentukan validitas. Makalah-makalah yang sampelnya tidak diambil
secara acak berarti tidak valid.
- Penting
Setelah mengkaji pada bagian metode untuk menentukan validitasnya, kita kemudian
menilai apakah makalah tersebut penting. Dari aspek terapi, pentingnya suatu makalah dilihat dari
besarnya nilai JDD, sedangkan pada aspek diagnosis diambil dari selisih antara nilai PrTP dan
nilai PoTP. Kita dapat menghitung nilai JDD,PrTP,dan PoTP pada bab hasil penelitian dalam
naskah tersebut.
Keterangan: JDD jumlah yang dibutuhkan untuk diobati atau number needed to treat (NNT) untuk
penelitian tentang aspek terapi.
PrTP pre tes probabilitas
PoTPpost tes probabilitas
- Dapat diterapkan pada pasien kita
Untuk menilai makalah agar dapat diterapkan pada pasien sangat tergantung dari tingkat
penguasaan substansi makalah tersebut. Menilai apakah makalah dapat diterapkan pada pasien
kita,tidak sesederhana dengan hanya memakai kriteria inklusi dan eksklusi,tetapi juga perbedaan
secara kuantitatif dan kualitatif termasuk juga adanya biologic sense. Setelah penelitian dinilai
valid dan penting baru kemudian ditentukan besarnya nilai JDD dan kemudian kemungkinan
apakah dapat diterapkan pada pasien kita (applicable).
Wiryo, Hananto. Kajian Kritis Makalah Ilmiah Kedokteran Klinik Menurut Kedokteran Berbasis
Bukti (KBB). Sagung Seto; Jakarta

10. Langkah-langkah dalam melakukan critical appraisal?


- Menyiapkan sesi analisis
- Membaca keseluruhan artikel tanpa mencatat untuk mengetahui gagasan
serta topik utama dari artikel tersebut
- Menggarisbawahi gagasan utama dan membuat catatan ringkasnya
- Mengoreksi tujuan utama, metode yang digunakan, metode yang
digunakan, hasil penelitian, dan kesimpulan dari analisis
- Menyusun critical appraisal sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah
- Mengidentifikasi proses yang perlu diperbaiki
 Menyiapkan sesi analisa kritis.
 Mengidentifikasi proses yang perlu diperbaiki.
 Penyusunan agenda.
 Formulasi kebijakan.
 Adopsi kebijakan.
 Implementasi kebijakan.
 Menilai kebijakan
(www.delevari.org)
Definisi (perumusan masalah)
Maksudnya menghasilkan informasi mengenai kondisi yang menimbulkan masalah.
Prediksi (peramalan)
Maksudnya menghasilkan informasi mengenai konsekuensi dimasa mendatang dari
penerapan alternatif kebijakan sekarang.
Perskripsi (rekomendasi)
Maksudnya menghasilkan informasi mengenai nilai kegunaan alternatif dan
konsekuensi dimasa depan dalam suatu pemecahan masalah.
Deskripsi (pemantauan)
Maksudnya konsekuensi sekarang dan masa lalu dan diterapkannya alternatif
kebijakan.
Evaluasi
Maksudnya nilai-nilai suatu kegunaan dari suatu konsekuensi dari kegunaan atau
pengatasian masalah
(www.evidence_based_medicine.co.uk)
11. Manfaat dan tujuan dari critical appraisal?
Manfaat:
- meningkatkan daya analisis kritis
- mendapatkan informasi yang lebih detail dan memahami informasi yang
kita dapat
- mendapatkan kebenaran dari suatu informasi
Tujuan:
- agar mampu mengevaluasi sumber informasi yang didapat
- agar mampu mengikuti perubahan dan perkembangan dari informasi
tersebut
- mampu memilih kriteria informasi yang tepat untuk dianalisa
- menilai apakah suatu studi itu sahih, penting dan dapat diterapkan ke
pasien
tujuan
 Agar mampu mengevaluasi dan menganalisis sumber informasi yang diperoleh.
 Agar mampu memahami informasi yang diperoleh.
 Agar mampu mengikuti perubahan informasi yang ada.
 Agar mampu memberi komentar dan mengevaluasi baik terhadap permasalahan yang
dihadapi maupun pemecahan masalah tersebut.
 Agar mampu memilih kriteria informasi yang tepat untuk dianalisa

manfaat
 Meningkatkan daya analisis kritis
 Menentukan alternatif yang lebih baik
 Memunculkan banyak pertanyaan yang baru
 Informasi yang diproleh lebih detail dan lebih paham
 Memperoleh kebenaran dari suatu informasi

(www.criticalappraisal.com/gostudy/deepinformation.htm)
 Agar mampu mengevaluasi dan menganalisis sumber informasi yang diperoleh.
 Agar mampu memahami informasi yang diperoleh.
 Agar mampu mengikuti perubahan informasi yang ada.
 Agar mampu memberi komentar dan mengevaluasi baik terhadap permasalahan yang
dihadapi maupun pemecahan masalah tersebut.
 Agar mampu memilih kriteria informasi yang tepat untuk dianalisa
(www.criticalappraisal.com/gostudy/deepinformation.htm)

12. Kendala melakukan critical appraisal?


- Bila pertanyaan terlalu mudah, critical appraisalnya tidak berkembang
- Apabila informasi kurang, hasil riset akan terbatas pada informasi yang
tidak jelas
- Critical appraisal tidak selalu memberikan kemudahan menjawab atau
tidak selalu mendapatkan jawaban seperti yang diinginkan
o Memakan banyak waktu
o Critikal Apprasial tidak selalu memberikan jawaban yang mudah
o Critical apprasial dapat membuat keputusasaan jika CA menonjolkan kekurangan dari bukti2 yang
baik
Alison Hill, Claire Spitlehouse, Institute Of Heal Sciences Oxford

 Kurangnya pengetahuan tentang program penelitian


 Terkadang membosankan bagi yang melakukan
 Perlu biaya yang tidk sedikit
(Sumber : www.FKUNAIR.ac.id)

Keuntungan :
o Dapat mengembangkan pemikiran menurut akses informasi yang valid,relevan dan berguna
sesuai dengan hasil publikasi riset pengetahuan
o Keterampilan CA tidak sulit untuk dikembangkan
o CA melakukan pendekatan dengan peralatan yang nyaman dan memadai
o Bersama dengan kemampuan menunjukkan dalam menemukan bukti penelitin dan perubahan
pelatihan sebagai hasil penelitian,CA adalah jalan penutup dari gabungan antara peneliti dan
pelatihan sebagai kontribusi yang penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan

Kerugian :
 CA tidak dapat berkembang bila pertanyaan hasil analisis yang dihasilkan terlalu mudah
dengan fakta intervensi tidak efektif sesuai dengan bukti
 CA ditekankan jika kekurangan bukti informasi yang baik,yang dapat membuat hasil riset
terbatas pada infornasi yang tidak jelas
 CA tidak selalu memberikan pembaca dengan kemudahan menjawab atau menjawab suatu
kemungkinan yang diharapkan itu mungkin ditekankan bahwa intervensi penulis tidak efektif
Alison Hill, Claire Spitlehouse, Institute Of Heal Sciences Oxford

13. Apa hubungan EBM dan Critical appraisal?


Critical appraisal adalah dasar dari EBM, dimana EBM didasarkan oleh Critical
thinking yang bersumber dari IT. Sehingga setiap komponen saling berkaitan.
Kesimpulan : Dalam menghadapi suatu masalah diperlukan critikan appresial, dimana dalam
hal ini Critical Appraisal digunakan untuk menilai bentuk penelitian tentang validitasnya, hasilnya,
dan hubungan dengan yang lainnya sebelum digunakan untuk membentuk sebuah pernyataan.
Sehingga sampailah pada tahap EBM yaitu dalam hal ini terdapat teknik pengambilan keputusan
dalam suatu tindakan (puncaknya).
Iwan Darmansjah, Pusat Uji KLinik Obat, FKUI. Dutch Foundation Seminar: Boerhaavse Kursus,

FKUI 22-23 Apr.2002

14. Apa perbedaan EBM dengan CME?


KBB / EBM  suatu sistem atau cara utk menyaring semua data dan informasi dalam bidang
kesehatan sehingga didapatkan informasi yg sahih & mutakhir utk kepentingan pasiennya.
Atau Pemanfaatan bukti mutakhir yang sahih dalam tata laksana pasien.(Sackett et al,
1996)

CME  continuing medical education(CME) adalah upaya pembinaan bersistem untuk


mempertahankan, meningkatkan dan mengembangkan performance dokter agar ia senantiasa
dapat menjalankan profesinya dengan baik.

www.indoskripsi.com
Tujuan dari CPE yaitu untuk mengembangkan, mengorganisasi, dan
melaksanakan kegiatan pendidikan yang berkualitas melalui proses kerja sama
dengan dokter, perawat, dan profesional perawatan kesehatan serumpun guna
mengetahui sejauh mana perkembangan ilmu kesehatan .
(http://www.urmc.rochester.edu/cpe/)

STEP 4

INFORMAS
I
TEKNOLOG
I
CRITICAL
THINKING

VALID
CRITICAL
PENTING
APPRAISAL
APPLICABL
E

EVIDENCE
BUKTI
BASED
ILMIAH
MEDICINE

INFORMAS INFORMAS
STEP 7
1. Apa tujuan dari EBM?

• untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis


• menghasilkan pemikiran yang akurat
• pemeriksaannya secara teliti agar diagnosisnya tepat untuk memperoleh
penyembuhan penyakit.
Sumber : liliana sugiharto, bagian anatomi FK unika atma jaya
2. Apa manfaat dari EBM?

Practice guideline atau Evidence-base medicine guidelines.


a. Membantu menurunkan mortalitas atau kematian pasien.
b. Memperbaiki derajat kesehatan dan perawatan.
c. Mengevaluasi dan merencanakan terapi.
d. Memilih pola hidup dan perawatan kesehatan terbaik.
Sugiarto , Bagian Ilmu Penyakit Dalam RS Dr Moewardi / Fakultas kedokteran
Universitas Sebelas Maret Surakarta, Materi Kuliah Budaya Ilmiah 29 September 2009
a. Mencari kebenaran suatu hasil karya ilmiah
b. Kita dapat mengetahui secara tepat hasil karya ilmiah
c. Menambah ilmu pengetahuan
d. Mencari nilai guna dan ketepatan hasil karya ilmiah
e. Kritis terhadap suatu hasil penelitian
Wiryo, h., 2002, kajian kritis makalah ilmiah kedokteran klinik menurut keokteran
berbasis bukti, sagung seto, Jakarta
3. Apa saja komponen dalam EBM?
4. Bagaimana langkah langkah melakukan EBM?

Lima langkah dalam praktek EBM adalah sebagai berikut:


a. mengajukan pertanyaan klinik yang dapat dijawab (asking answerable
question),
b. melakukan pelacakan pustaka untuk menjawab pertanyaan klinik,
c. melakukan telaah kritis terhadap bukti ilmiah,
d. melakukan integrasi antara bukti ilmiah yang valid, keahlian klinik, dan nilai
serta harapan yang ada pada pasien, dan
melakukan evaluasi hasil guna penerapan bukti ilmiah di dalam praktek
Sumber : Guyatt G. Evidence based medicine has come a long way, The second
decade will be as excitfing as the first, BMJ 2004;329:9901
Formulasi pertanyaan atau masalah yang dapat dicari jawabannya
Penelusuran pustaka dalam rangka pencarian bukti
Penelaahan bukti hasil penelusuran
Penerapan hasil penelaahan
Evaluasi penerapan
Sumber : Dasar-dasar Metodologi Penelitian, soedigdo
5. Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan dalam EBM?

a. Keahlian Klinis
Ketrampilan, pengalaman untuk mendiagnosis keadaan dan resiko serta harapan.
b. Nilai Pasien
Kecenderungan, perhatian dan pengharapan setiap pasien pada suatu keadaan klinis
tertentu.
c. Penelitian Terbaik
Validitas tinggi akurasi dan presisi sempit untuk diagnosis, terapi, prognosis dll

Soedigdo
6. Apa saja kendala EBM?

a. kurangnya informasi, fasilitas dan teknologi


b. kurangnya rasa ingin tahu
c. kurangnya pengalaman dan prior knowledge
d. menyembunyikan kegagalan suatu karya ilmiah
e. kurangnya kemampuan untuk melakukan kajian secara kritis terhadap suatu
masalah
liliana sugiharto, bagian anatomi FK unika atma jaya
7. Mengapa EBM penting dilakukan dokter dalam menjalankan praktek?

Karena EBM merupakan suatu sistem atau cara untuk menyaring semua data dan
informasi dalam bidang kesehatan. Sehingga seorang dokter hanya memperoleh informasi
yang sahih dan mutakhir untuk mengobati pasiennya. Tanpa hal tersebut akan terjadi banyak
kesalahan persepsi, dalam berbagai aspek seperti aspek diagnosis, terapi, prognosis, dan
sebagainya.
Sumber : Guyatt G. Evidence based medicine has come a long way, The second
decade will be as excitfing as the first, BMJ 2004;329:9901
8. Apa tujuan dan manfaat dari critical appraisal?

Tujuan
• Agar mampu mengevaluasi dan menganalisis sumber informasi yang
diperoleh.
• Agar mampu memahami informasi yang diperoleh.
• Agar mampu mengikuti perubahan informasi yang ada.
• Agar mampu memberi komentar dan mengevaluasi baik terhadap
permasalahan yang dihadapi maupun pemecahan masalah tersebut.
• Agar mampu memilih kriteria informasi yang tepat untuk dianalisa
(www.criticalappraisal.com/gostudy/deepinformation.htm)
Manfaat
a. Meningkatkan daya analisis kritis
b. Menentukan alternatif yang lebih baik
c. Memunculkan banyak pertanyaan yang baru
d. Informasi yang diproleh lebih detail dan lebih paham
e. Memperoleh kebenaran dari suatu informasi
liliana sugiharto, bagian anatomi FK unika atma jaya
9. Apa saja hal-hal yang diukur dalam critical appraisal, artikel terapi, dan diagnostik?
Sumber : Guyatt G. Evidence based medicine has come a long way, The second
decade will be as excitfing as the first, BMJ 2004;329:9901
10. Bagaimana cara melakukan critical appraisal?

1) menyiapkan sesi analisi kritis


2) baca keseluruhan artikel tanpa mencatat untuk memahami gagasan dan tujuan
penulisan serta topic utama dari artikel tersebut
3) menggarisbawahi gagasan-gagasan utama dan membuat catatan lengkapnya
4) mengoreksi tujuan utama, metode yang digunakan, hasil penelitian dan
kesimpulan dari hasil analisis
5) menyusun CA sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah yaitu introduction, body
dan conclusion
liliana sugiharto, bagian anatomi FK unika atma jaya
Baca dengan singkat meliputi: judul, nama penulis, pendahuluan, sub bahasan,
hasil penelitian dan kesimpulan.
Baca secara keseluruhan untuk mendapatkan tujuan, topik utama serta
kepahaman terhadap informasi tersebut
Analisis secara kritis mengenai gagasan utama dan topik utama informasi
tersebut (dengan mencatat)
Telitilah catatan ringkas anda sehingga memuat: Topik/gagasan utama, Tujuan
utama untuk menjelaskan, menganalisis, mengevaluasi, sharing, diskusi pendapat yang
berbeda
www.criticalappraisal.com/gostudy/deepinformation.htm
11. Apa kelebihan dan kekurangan critical appraisal?

KELEBIHAN
a. Dapat mengembangkan pemikiran menurut akses informasi yang valid,relevan
dan berguna sesuai dengan hasil publikasi riset pengetahuan
b. Keterampilan CA tidak sulit untuk dikembangkan
c. CA melakukan pendekatan dengan peralatan yang nyaman dan memadai
d. Bersama dengan kemampuan menunjukkan dalam menemukan bukti penelitin
dan perubahan pelatihan sebagai hasil penelitian,CA adalah jalan penutup dari gabungan
antara peneliti dan pelatihan sebagai kontribusi yang penting untuk meningkatkan kualitas
kesehatan
KELEMAHAN
CA tidak dapat berkembang bila pertanyaan hasil analisis yang dihasilkan
terlalu mudah dengan fakta intervensi tidak efektif sesuai dengan bukti
CA ditekankan jika kekurangan bukti informasi yang baik,yang dapat
membuat hasil riset terbatas pada infornasi yang tidak jelas
CA tidak selalu memberikan pembaca dengan kemudahan menjawab atau
menjawab suatu kemungkinan yang diharapkan itu mungkin ditekankan bahwa intervensi
penulis tidak efektif
liliana sugiharto, bagian anatomi FK unika atma jaya
12. Apa hubungan EBM dan critical appraisal?

Critical Appraisal adalah suatu langkah dalam EBM.


Critikal appraisal digunakan untuk mengkaji secara kritis tentang suatu hal yang adaa
di dalam EBM untuk mendapatkan informsi yang relevan dan valid. Ketika dapat mengkritisi
suatu karya ilmiah maka EBM juga dapat terlaksana dgn baik.
Tidak semua penelitian menghasilkan atau mencerminkan penemuan yang
berkualitas. Untuk itulah kalangan medis harus mempunyai kemampuan untuk melakukan
kajian kritis (critical appraisal) berdasarkan prinsip-prinsip EBM terhadap hasil-hasil
penelitian klinis tersebut dan independen dalam menentukan keputusan hasil-hasil. Penelitian
klinis tersebut dan independendalam menentukan keputusan kilinis (clinical decision).
Sumber : (DR. Dr. Anwar Santoso)
13. Apa saja kriteria artikel yang layak untuk dirujuk?
14. Bagaimana agar hasil penelitian pada artikel ilmiah dapat diterapkan pada pasien?

Untuk menilai makalah agar dapat diterapkan pada pasien kita tergantung dari tingkat
penguasaan substansi makalah tersebut. Menilai apakah makalah dapat diterapkan pada
pasien, tidak sesederhana dengan hanya memakai kriteria inklusi dan eksklusi, tetapi juga
perbedaan secara kuantitatif dan kualitatif termasuk juga adanya biologic sense. Seseorang
yang sudah mendalami substansi, akan dengan segera mengetahui bahwa kondisi yang
tertulis di dalam makalah tersebut sama atau berbeda dan kita dapat memprediksikan besaran
perbedaan tersebut. Sehingga apabila kita mengandaikan suatu besaran dengan nilai f, dimana
nilai f (dalam prosentase) menunjukkan perbedaan kondisi pasien kita dengan pasien yang
tertulis di dalam makalah. Jadi besarnya nilai JDD pasien kita ( untuk makalah aspek terapi)
adalah : JDD (makalah)/nilai f, sehingga kita melihat bahwa selain diperlukan pengetahuan
tentang ketentuan-ketentuan EBM, juga sangat diperlukan penguasaan substansi dalam
mengkaji setiap makalah ilmiah.
Sumber : Kajian Kritis.
15. Bagaimana penerapan hasil penelitian terapi?

Things should be considered:


1. Apakah pasien kita terdapat perbedaan dengan subjek pada penelitian.

2. Apakah terapi tersebut mungkin untuk diterapkan pada pasien kita (dengan setting
kita)

3. Apakah pasien kita mempunyai potensi yang menguntungkan atau merugikan jika
terapi tersebut diterapkan?

4. Apakah nilai dan pengharapan pasien kita bila hasil penelitian tersebut kita tawarkan
untuk mengobati

5. Apakah terapi baru tersebut tersedia?

Sumber : Guyatt G. Evidence based medicine has come a long way, The second decade will