Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

“Peran LSM dan Lembaga Donor dalam pemberdayaan masyarakat”

Kelompok 8:

1. Nurafina Lita
2. Nurul Hidayatika
3. Patricia irmawati
4. Raden Mega Rahayuningsih
5. Yudha Prawardana

Poltekkes Kemenkes Pontianak


A. PENGERTIAN LSM

Lembaga swadaya masyarakat (disingkat LSM) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh
perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada
masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya. Jadi
pembentukan LSM ini berdasarkan asas sukarela tanpa adanya harapan untuk memperoleh laba
yang besar. Selain berasaskan sukarela, lembaga swadaya masyarakat juga berdiri diatas asas
Pancasila. Hal ini tentunya karena lembaga swadaya masyarakat hidup dan berkembang di Indonesia
yang menjunjung tinggi Pancasila. Tentunya prinsip-prinsip dalam Pancasila ini senantiasa diterapkan
dalam setiap kegiatan LSM dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Organisasi
ini dalam terjemahan harfiahnya dari Bahasa Inggris dikenal juga sebagai Organisasi non pemerintah
(disingkat ornop atau ONP

(Bahasa Inggris: non-governmental organization; NGO). Organisasi tersebut bukan menjadi bagian
dari pemerintah, birokrasi

ataupun negara. Maka secara garis besar organisasi non pemerintah dapat di lihat dengan ciri
sebagai berikut :
1. Organisasi ini bukan bagian dari pemerintah, birokrasi ataupun Negara.

2. Dalam melakukan kegiatan tidak bertujuan untuk memperoleh keuntungan (nirlaba).

3. Kegiatan dilakukan untuk kepentingan masyarakat umum, tidak hanya untuk kepentingan para
anggota seperti yang di lakukan koperasi ataupun organisasi profesi.

Berdasarkan Undang-undang No.16 tahun 2001 tentang Yayasan, maka secara umum organisasi non
pemerintah di indonesia berbentuk yayasan. Dikalangan masyarakat organisasi/ lembaga swadaya
masyarakat telah tumbuh dan berkembang sebagai tempat berhimpunnya anggota masyarakat
Warga Negara Republik Indonesia secara sukarela yang menyatakan dirinya atau dinyatakan sebagai
Lembaga Swadaya Masyarakat. Istilah Lembaga Swadaya Masyarakat pertama kali dikenal dalam
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan
Hidup dan bergerak dalam hal-hal yang berkaitan dengan Lingkungan Hidup. Kemudian dalam
perkembangannya Lembaga Swadaya Masyarakat tersebut mempunyai lingkup kegiatan yang tidak
terbatas pada lingkungan hidup saja, melainkan mencakup bidang lain sesuai dengan yang diminati

untuk tujuan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat baik rohani maupun jasmani.
Keberadaan dan keleluasan berpartisipasi dan pengembangannya disatu pihak dan untuk
kepentingan masyarakat dan negara di lain pihak memerlukan iklim yang kondusif untuk dapat
mendorong kegairahan, kreativitas dan dinamika masyarakat di segala bidang, agar Lembaga
Swadaya Masyarakat dapat mengembangkan dirinya secara swadaya dan sukarela. Oleh karena itu
Lembaga Swadaya Masyarakat sebagai Mitra Pemerintah, perlu dibina dengan jalan memberikan
bimbingan, pengayoman dan dorongan.

Lembaga swadaya masyarakat yang biasa disingkat menjadi LSM disebut juga di Indonesia sebagai
Organisasi Non-Pemerintah (Ornop). Secara Internasional lembaga ini disebut sebagai Non-
Government Organization (NGO). Laporan PBB tahun 1998 menyatakan terdapat 29.000 NGO
internasional yang kebanyakan dibentuk sejak 30 tahun terakhir. Keberadaan LSM memiliki sejarah
dan latar belakang sendiri, sejalan dengan bentuk dari lembaga tersebut.

B. KEUNGGULAN LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT

Lembaga Swadaya Masyarakat mempunyai banyak kelebihan apabila

dibandingkan dengan jenis organisasi lain. Kelebihannya antara lain :

1) LSM dekat dengan masyarakat menengah ke bawah dan merupakan organisasi yang terbuka
sehingga memudahkan informasi ke atas.
2) LSM mempunyai ektefitas biaya dan bebas dari yang apa namanya korupsi.
3) LSM mempunyai pegawai yang semangat kerja dan motivasinya sangat tinggi.
4) LSM mampu menerima feedback dengan baik.

C. CIRI-CIRI LSM

Banyak yang belum bisa membedakan Lembaga Swadaya Masyarakat dengan organisasi-organisasi
lain yang ada di Indonesia. Ada beberapa ciriciri yang sangat lekat dengan LSM :
1. Bukan bagian dari pemerintah, negara, ataupun birokrasi.

2. Dibuat tidak dengan tujuan untuk mendapatkan uang.

3. Kegiatan yang sering dibuat didasari oleh untuk kepentingan masyarakat.

D. BENTUK ORGANISASI LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT

Secara umum bentuk organisasi dari LSM dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Lembaga Mitra Pemerintah


Lembaga ini bekerja sama dengan pemerintah dalam menjalankan program-program
pemerintah. Dana yang digunakan bisa berasal dari pemerintah atau dari lembaga donor
lainnya. Ibarat simbiosis mutualisme, peran Pemerintah dan LSM disini saling bantu
membantu dan melengkapi satu sama lain. LSM melakukan identifikasi di lapangan yang riil
terhadap kebijakan yang akan dilakukan Pemerintah. Sedangkan Pemerintah atau lembaga
donor lainnya memberikan kucuran dana dan teknis pelaksanaan kepada LSM tersebut.
Sehingga ada balancing policy antara LSM dan Pemerintah. Contoh LSM seperti ini adalah
Lembaga Pangan Independent (LPI) yang biasa menyalurkan pupuk dan benih kepada petani
dan Indonesia.
b. Lembaga Donor
Lembaga yang mengumpulkan dana untuk dapat disalurkan kepada lembaga dan
masyarakat yang membutuhkan. Dalam fungsinya sebagai lembaga donor, LSM
dimungkinkan untuk diberi kepercayaan oleh masyarakat mengemban tugas tertentu.
Seperti tempat penggalangan dana untuk korban bencana alam, penggalangan dana dan
sembako ketika hari raya keagamaan dan lain-lain. Dalam fungsi ini mungkin saja LSM
melakukan kesalahan-kesalahan ataupun penyelewengan. Disinilah dituntut tanggung jawab
dan juga transparansi LSM dalam melakukan tugasnya. Contoh LSM yang berbentuk seperti
ini di Indonesia seperti, Lembaga Pundi Amal, Tali Kasih Indonesia, dan lain-lain.
c. Lembaga Profesional
Lembaga yang bekerja berdasarkan satu isu berkaitan dengan profesi tertentu, misalnya
kesehatan, ekonomi, HAM, kriminalitas, dan lainnya. Lembaga ini punya andil yang besar
dalam mengusut dan juga menginvestigasi kasus-kasus yang berkaitan tentang suatu
permasalahan. Contohnya, ketika kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, dibentuk sebuah
LSM yang bertugas mencari fakta tentang kasus tersebut. Beberapa waktu kemudian LSM ini
diubah fungsinya oleh Pemerintah sehingga menjadi sebuah organisasi independent yang
biayanya ditanggung Pemerintah. Contoh lainnya adalah LSM Peduli Rakyat Lapindo (PRL)
yang dengan sukarela membantu korban bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo, dengan
menggalang dana dan menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat Korban bencana.
d. Lembaga Oposisi
Lembaga yang menjadi oposisi pemerintahan dan mengkritik kebijakan pemerintah dan
menjalankan program berdasarkan kritik tersebut atau alternatif lainnya. LSM semacam bisa
kita ambil contoh seperti ICW (Indonesian Corruption Watch) yang biasa menginvestigasi
dan mengkritik kasus-kasus korupsi yang dilakukan baik oleh birokrat maupun anggota
legislatif (DPR).
E. Salah satu bentuk lembaga donor di Indonesia (Yayasan Insan Sembada)

Program Kesehatan Masyarakat Terpadu

Krisis ekonomi mendalam serta bencana yang beruntun membebani sumber daya dan pelayanan
kesehatan sehingga berdampak pada rendahnya status gizi, menurunnya pelayanan kesehatan dan
rendahnya higienitas masyarakat yang mengakibatkan rendahnya kualitas kesehatan dan tingginya
angka kesakitan dan kematian masyarakat. Hal ini diperparah dengan banyaknya masyarakat yang
berpendidikan dan berpendapatan rendah (miskin), serta kondisi ekonomi makro yang tidak stabil.
Pada kenyataan akhir-akhir ini muncul berbagai penyakit yang diperkirakan sudah tidak ada lagi
sepeti; malaria, TBC, polio dan banyaknya angka kekurangan gizi yang menjangkiti bayi, balita dan
anak-anak. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dengan program-program kesehatan
bagi masyarakat miskin seperti askeskin (asuransi kesehatan masyarakat miskin), JPKM miskin dan
pengobatan dasar gratis bagi masyarakat, serta menghidupkan kembali peran Posyandu di daerah-
derah terpencil.

YIS sebagai salah satu LSM yang bergerak dalam bidang kesehatan pada awal berdirinya dan tetap
berkecimpung dalam bidang kesehatan hingga saat ini berupaya mengembangkan berbagai program
dan gagasan untuk sedikit berperan dalam mengupayakan kesehatan masyarakat yang tidak
memiliki akses di bidang kesehatan. Upaya-upaya ini dilakukan untuk melengkapi dan memperkuat
program pemerintah dengan menekankan pada kemandirian dan keberlanjutan kesehatan di tingkat
masyarakat. Berbagai program yang telah dilakukan berupa penguatan lembaga lokal yang bergerak
di sektor kesehatan (posyandu) dan kader kesehatan, pengembangan makanan bergizi dari bahan-
bahan lokal, pengembangan dana sehat, pengembangan dan pengadaan sarana sanitasi keluarga
yang dikelola secara dana pinjaman berputar dalam kelompok, peningkatan kualitas kesehatan ibu
dan anak, peningkatan kapasitas masyarakat dalam bidang kesehatan sebagai upaya peningkatan
kesadaran dan promosi kesehatan, dan pengembangan media komunikasi kesehatan.

Program ini telah dilakukan di berbagai daerah bekerjasama dengan Dinas Kesehatan maupun LSM
lokal, seperti DKI, Banjarnegara, Surakarta, Boyolali, Karanganyar, Sragen, Jember, Semarang,
Polman, Jayapura, Makassar dan Kupang. Berbagai jenis program kesehatan telah dilaksanakan di
berbagai daerah dan di berbagai level (desa/kalurahan sampai provinsi). Ada beberapa program
yang telah diterapkan di tingkat nasional, yaitu : pemakaian KMS untuk Balita, Program Oralit,
Posyandu dan Mawas Diri.

Sejak berdirinya di tahun 1974 sampai pada tahun sekitar 1985, YIS telah menjadikan program
kesehatan menjadi program intinya, sehingga YIS lebih dikenal sebagai LSM yang bergerak dan
berkonsentrasi pada program kesehatan. Baru pada 1985 sampai sekarang program YIS lebih
komprehensif. Disamping Program Kesehatan juga dilaksanakan Program Ekonomi Kerakyatan,
Pelatihan, Pengembangan Institusi, dan lain-lain.

a) Program Dana Sehat

Program Dana Sehat dilaksanakan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan secara swadaya.
Kebiasaan masyarakat bergotong-royong sebagai strategi dasar Program Dana Sehat, yang kuat
membantu yang lemah. Tujuan khusus dari Program Dana Sehat adalah menurunkan angka sakit
pada masyarakat setempat dengan upaya-upaya kuratif dan preventif.
Program Dana Sehat yang pada awalnya hanya dilaksanakan di Solo, kemudian menyebar ke daerah
lain, seperti Bandung, Semarang, Banjarnegara, Sulawesi Tengah (Tentena dan sekitarnya), Sulawesi
Utara (Tomohon dan sekitarnya), dan Sambas (Kalimantan Barat).

b) Program Kesehatan Mayarakat Terpadu

Program ini dirintis YIS bekerjasama dengan Pemda Tingkat II Banjarnegara, dirintis awal 1980 dan
diselenggarakan dengan pendekatan dari bawah melalui upaya pengembangan kesadaran dan
pengembangan kelembagaan dan jaringan kelembagaan masyarakat (Sistim KRING). Pendekatan
kelembagaan ini memungkinkan upaya pengenalan dan pendidikan berbagai aspek kesehatan
masyarakat dapat dilakukan secara masal dan berkelanjutan yang mempunyai fungsi komplementer
kepada program lain, baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun Swasta.

Dengan pendekatan kelembagaan ini dapat pula dikembangkan berbagai prakarsa dan peranserta
masyarakat secara luas dalam bidang sosial ekonomi lainnya yang memberi dampak kepada hasil
pembangunan pedesaan. Kegiatan-kegiatan yang ditangani, di antaranya : Pembangunan Rumah
Secara Arisan, Perbaikan Sanitasi Lingkungan termasuk Pengerasan Jalan Kampung, UKS, Perbaikan
Gizi, dan Peningkatan Ekonomi Masyarakat.

c) Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan

Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan (Comprehensive Health Improvement Program Province


Specific -CHIPPS-) dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pelaksanaan program pelayanan
kesehatan di 3 provinsi yaitu Aceh, Sumatera Barat dan NTT. Tujuan khusus dari proyek ini adalah
meningkatkan tingkat kesehatan dan status gizi masyarakat, menurunkan tingkat kematian bayi,
serta meningkatkan status kesehatan gizi ibu dan anak balita.

Keterlibatan YIS dalam program ini adalah meningkatkan kemampuan aparat kesehatan dalam
pengelolaan program kesehatan yang bertumpu pada permasalahan dan potensi wilayah. Program
ini dilaksanakan pada periode 1988-1990 dengan dibiayai oleh USAID dan Departemen Kesehatan.

d) Program Integrasi KB–Kesehatan

Program ini dilaksanakan di 4 kecamatan atas kerjasama YIS dan Pemda Kabupaten Blitar, khususnya
BKKBN dengan dukungan dana dari ASEAN. Ada dua tujuan yang ingin dicapai yaitu, meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam program KB, melembagakan program KB, serta menjadikan Keluarga
Kecil Bahagia Sejahtera sebagai norma di masyarakat.

Di samping dua tujuan di atas, program ini juga dimaksudkan untuk mengembangkan model
keterpaduan program KB dengan program-program pembangunan sosial ekonomi. Program
integrasi KB/KK terpadu ini pun telah berhasil meningkatkan mutu partisipasi masyarakat untuk
memantabkan program KB dan meningkatkan kesejahteraan keluarga peserta KB. Model ini,
akhirnya dikembangkan juga ke kabupaten lain, salah satunya adalah Kabupaten Jember.
e) Program Bina Sejahtera

Program Bina Sejahtera merupakan program kerjasama antara PKK Tingkat I Jawa Tengah, YIS, dan
Fakultas Kedokteran UNDIP, dengan dukungan dana dari CIDA–Canada. Program ini bertujuan untuk
meningkatkan gizi keluarga terutama ibu dan balita dengan PKK sebagai wadah dari kegiatan ini.

PKK sebagai organisasi yang mempunyai jaringan sampai di tingkat RT dinilai tepat untuk menjadi
wadah dari kegiatan tersebut. Untuk mendukung kegiatan tersebut di tiap-tiap kecamatan direkrut 2
Petugas Lapangan Bina Sejahtera (PLBS) yang berasal dari kader/pengurus PKK, dan di setiap
desa/kelurahan lokasi program direkrut 4 orang tenaga sukarela yang akan menjadi pelaksana dalam
Program Bina Sejahtera. Di dalam pengorganisasiannya, dari di tingkat desa sampai tingkat propinsi
dibentuk tim kerja yang diketuai oleh Ketua PKK di masing-masing level. Tim kerja ini secara teknis
dibentuk BPGD (Badan Perbaikan Gizi Daerah).

f) Program Perbaikan Sanitasi dan Air Bersih

Program ini dilaksanakan di Kabupaten Boyolali dan Wonogiri. Tujuan dari program ini untuk
meningkatkan status kesehatan lingkungan lewat pengadaan fasilitas lingkungan dan perubahan
perilaku masyarakat. Serta untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola kegiatan
perbaikan lingkungan dengan sumber daya yang dimiliki dan bantuan dari sumber daya di luar
masyarakat.

Dalam mencapai tujuan, proses pelaksanaannya dipakai perangkat MAWAS DIRI dan pendekatan
Revolving Fund. Dari aspek fisik, lewat program tersebut jumlah jamban keluarga pun harus
ditambah. Demikian juga telah terbangun saluran pembuangan air limbah (SPAL). Kebiasaan buang
hajad di sungai juga menurun drastis. Setiap keluarga yang membuat rumah diharuskan untuk
membuat jamban keluarga.

g) Program KIP (Kampung Improvement Project)

Pengalaman YIS dalam program ini yaitu ikut terlibat sebagai Pengembang Masyarakat dalam Proyek
MHT III DKI Jakarta dalam rangka penanganan permukiman kumuh dan miskin di DKI Jakarta dari
tahun 1989-1999. Dalam pelaksanaannya, program ini menggunakan pendekatan sebagai berikut :

 Community Based
 Integrated Tribina (Sosial, Ekonomi, Fisik)
 Community Development (CD) and Community Organization Economic Development (COED)
 Adanya LSM sebagai advokasi warga masyarakat dan pendamping
 Tahapan Program : Pengorganisasian, Stabilisasi, dan Alih Kelola

Tujuan proyek ini adalah untuk terentasnya warga pemukiman kumuh di 75 kelurahan pada tahun
1989 sampai dengan 1999 berdasarkan aspirasi warga masyarakat setempat (community based)
dengan mengerahkan sumber daya masyarakat, swasta, dan pemerintah; sehingga sejajar dengan
warga Jakarta di wilayah lainnya.

h) Proyek Pengembangan Pemukiman Kumuh di Perkotaan

Proyek ini dilaksanakan berdasarkan atas pengalaman YIS menjalankan program di Kota Solo yang
pernah dijalin kerjasamanya dengan pihak Pemerintah Daerah setempat di waktu sebelumnya.

Program yang telah dilaksanakan di samping Dana Sehat juga Sanitasi Lingkungan yang berupa
pembangunan sarana jamban keluarga dengan pendekatan arisan. Pada tahun 1997 kerjasama
program dengan entry point kesehatan dengan Pemerintah Surakarta dilanjutkan dengan kegiatan
utama Perbaikan Pemukiman Kumuh di daerah urban.

Pencapaian hasil ditunjang dengan strategi berikut :

o Semua kegiatan yang dilaksanakan bertumpu pada potensi dan permasalahan yang ada di
masyarakat.
o Memanfaatkan wadah dan struktur yang ada di masyarakat, termasuk nilai-nilai budaya dan
sosial yang berlaku.
o Peningkatan kemampuan sumber-daya manusia dari berbagai level melalui pelatihan.
o Peningkatan kemampuan dan fungsi lembaga di masyarakat, juga sebagai media kegiatan
dan pendampingan.
o Penerapan metode-metode partisipatip dalam setiap tahap pelaksanaan.

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain :

 Pelatihan-pelatihan bagi masyarakat sasaran program, aparat tingkat kelurahan, kecamatan


serta tingkat kotamadya.
 Pengembangan sistem manajemen pada pembangunan daerah sehat.
 Pembangunan sarana sanitasi dengan pendekatan dana berputar.
 Peningkatan usaha-usaha produktif.

i) Program Kesehatan Terpadu untuk Golongan Rawan

Program ini dilaksanakan di Polewali Mamasa, Sulawesi Selatan. Latar belakang kebijakan
pelaksanaan program ini didasarkan pada masih tingginya angka kematian ibu bersalin, bayi dan
kematian anak balita. Disamping itu masih sangat memprihatinkannya kesadaran masyarakat akan
perilaku hidup bersih dan sehat. Diperburuk lagi keadaan-keadaan tersebut dengan krisis moneter
yang melanda Indonesia yang berdampak pada masyarakat bawah.

Sasaran dari program ini adalah masyarakat golongan rawan gizi (ibu hamil, ibu menyusui, dan anak
balita) dan masyarakat yang mempunyai kegiatan kesehatan dengan media kelompok sebagai
wadahnya.

Beberapa strategi yang digunakan dalam pencapaian tujuan, di antaranya :


 Pemanfaatan struktur/dan pranata-pranata/nilai norma dan budaya setempat ada di
masyarakat.
 Memperkenalkan model peningkatan gizi keluarga lewat pemberian tepung M3 (Mudah–
Murah–Mumpuni), tepung dari bij-bijian lokal yang bisa diproduksi oleh masyarakat sendiri.
 Pendekatan partisipatif dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan, dengan peningkatan
kualitas sumber daya manusia melalui pelbagai pelatihan.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk peningkatan kualitas SDM dengan pelatihan di
tingkat Kelompok Swadaya Manusia, pelatihan untuk aparat sampai dengan tingkat kecamatan dan
kabupaten, perbaikan gizi keluarga lewat pemberian Tepung M3, pembangunan sarana kesehatan
yang berupa jamban keluarga dengan sistim dana bergulir.

Pada pelaksanaan kegiatan di tingkat masyarakat, intensitas YIS ke depan semakin dikurangi dengan
dicapainya transfer of knowledge misi pengembangan masyarakat yang akan diperoleh para mitra
kerja, baik dari staf pemerintah yang langsung terkait dengan program maupun unsur-unsur lain di
tingkat masyarakat sampai dengan tingkat kabupaten.

F. Peran LSM dan Lembaga Donor Dalam Pemberdayaan Masyarakat

Andra L. Corrothers dan Estie W. Suryatna mengidentifikasi empat peranan yang dapat dimainkan
oleh LSM dalam sebuah Negara yaitu:

1) Katalisasi perubahan sistem. Hal ini dilakukan dengan mengangkat sejumlah masalah yang
penting dalam masyarakat, membentuk sebuah kesadaran global, melakukan advokasi demi
perubahan kebijaksanaan negara, mengembangkan kemauan politik rakyat, dan
mengadakan eksperimen yang mendorong inisiatif masyarakat.
2) Memonitor pelaksanaan sistem dan cara penyelenggaraan negara, bahkan bila perlu
melakukan protes. Hal itu dilakukan karena bisa saja terjadi penyalahgunaan kekuasaan,
pelanggaran hukum, terutama yang dilakukan pejabat negara dan kalangan business.
3) Memfasilitasi rekonsiliasi warga negara dengan lembaga peradilan. Hal ini dilakukan karena
tidak jarang warga masyarakat menjadi korban kekerasan itu. Kalangan LSM muncul secara
aktif untuk melakukan pembelaan bagi mereka yang menjadi korban ketidakadilan.
4) Implementasi program pelayanan. LSM dapat menempatkan diri sebagai lembaga yang
mewujudkan sejumlah program dalam masyarakat.

Jadi secara singkat dapat dikategorikan peran LSM menjadi dua kelompok. Pertama, peranan dalam
bidang non politik, yaitu berupa pemberdayaan masyarakat dalam bidang sosial ekonomi. Kedua,
peranan dalam bidang politik, yaitu sebagai wahana untuk menjembatani warga masyarakat dengan
negara atau pemerintah.

Saat ini jumlah lembaga-lembaga donor sudah sangat banyak, baik itu yang sifatnya nasional
maupun internasional. Terlebih jika membicarakan lembaga donor internasional, maka posisi
Indonesia masih dianggap strategis. Hal ini karena lembaga-lembaga donor internasional umumnya
berasal dari negara-negara maju dan menargetkan negara-negara berkembang sebagai penerima.
Seperti negara-negara di daerah Sub-Sahara dan Asia Selatan, termasuk Asia Tenggara. Lembaga-
lembaga donor internasional berperan sebagai penyalur dana-dana negara maju ke negara sedang
berkembang sebagai bentuk pertanggungjawaban kemanusiaan mereka. Oleh karena itu dari tahun
1990 hingga 2015 dibuatlah Millenium Development Goals (MDGs) dibawah pengawasan PBB
sebagai gerakan internasional pengentasan kemiskinan yang menargetkan delapan permasalahan
kunci: kemiskinan, pendidikan, kesetaraan gender, kematian bayi, kesehatan ibu, penyakit,
lingkungan, dan kerjasama global terkait kemanusiaan. Salah satu cara untuk mencapai MDGs
adalah dengan jalur bantuan internasional.

Meski PBB mengklaim bahwa MDGs sebagai gerakan pengentasan kemiskinan paling sukses dalam
sejarah, tetapi pada kenyataannya sebagian besar target yang dicanangkan diawal tidak tercapai.
Hanya area permasalahan kesetaraan gender, lingkungan, dan kerjasama global yang memenuhi
target, sisanya tidak mencapai target meskipun mengalami kemajuan. Kegagalan dalam mencapai
target MDGs menunjukkan bahwa ada banyak faktor penghambat. Salah satunya adalah
permasalahan dalam proses penyaluran bantuan.

Pada Aid Effectiveness High Level Forum (HLF) di Roma tahun 2003 dan Accra, Ghana tahun 2008
disebutkan bahwa permasalahan dalam penyaluran bantuan internasional adalah korupsi,
transparansi, dan akuntabilitas, terutama jika penerima dan pengelola bantuan adalah pihak
pemerintah negara. Jika sebelum tahun 1990an lembaga-lembaga donor tidak terlalu mempedulikan
dengan isu-isu korupsi dan hambatan-hambatan sejenis, baru sejak pertengahan 1990an mulai
diperhatikan. Karena hambatan-hambatan hanya membuat dana-dana donor terbuang sia-sia dan
tidak mencapai target.

Permasalahan tentang dana memang selalu menjadi isu serius, terutama di negara-negara
berkembang yang urusan birokrasi masih jauh dari kata mapan. Tetapi dengan permasalahan seperti
yang disebutkan diatas bukan berarti dana-dana donor harus dikurangi atau diberhentikan. Bantuan-
bantuan tersebut tetap perlu disalurkan ke negara-negara yang membutuhkan. Hal ini karena pada
dasarnya bantuan-bantuan tersebut ketika disalurkan dan melalui proses-proses yang bermasalah,
tetap akan memberikan perubahan meski kecil kepada pihak penerima.

Yang perlu diperhatikan oleh lembaga-lembaga donor saat ini adalah memperluas hubungan dengan
lembaga-lembaga non-pemerintah yang akan menjadi perantara penyaluran bantuan kepada target.
Hal ini akan mengurangi biaya birokrasi dan resiko-resiko di dalamnya. Revolusi IT juga harus
dicanangkan dalam setiap proses bantuan. Dengan begitu proses pengawasan menjadi lebih mudah
dan resiko penyalahgunaan dapat ditekan. Selain itu pendonor harus lebih selektif terhadap
program-program yang merupakan bentuk implementasi bantuan. Jika perlu dari pihak pemberi
donor sudah merancang terlebih dahulu kriteria-kriteria program sedetail mungkin. Sehingga
prediksi biaya dapat disusun lebih awal.

Oleh karena itu, jika berbicara tentang evaluasi efektifitas lembaga donor dalam pembangunan
manusia di negara-negara berkembang dan menemukan banyak target yang meleset, bukan berarti
lembaga-lembaga tersebut harus berhenti menyalurkan donor. Mereka harus menyiapkan strategi
baru sekaligus memperkuat pengawasan agar sesuai target, sehingga proses pembangunan manusia
di dunia terus berjalan. Karena kerja lembaga donor sudah seharusnya untuk kemanusiaan.

Anda mungkin juga menyukai